0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
6 tayangan8 halaman

ASI Eksklusif dan Pneumonia Balita Jabar

Diunggah oleh

Rika Nuraini
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
6 tayangan8 halaman

ASI Eksklusif dan Pneumonia Balita Jabar

Diunggah oleh

Rika Nuraini
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

Volume 6, Nomor 2, Juni 2025 ISSN : 2774-5848 (Online)

ISSN : 2777-0524 (Cetak)

HUBUNGAN ASI EKSKLUSIF DAN STATUS GIZI KURANG


TERHADAP KEJADIAN PNEUMONIA BALITA DI PROVINSI JAWA
BARAT TAHUN 2022-2024

Nabilah Puteri Arifin1*


Departemen Epidemiologi, Biostatiska Kependudukan dan Promosi Kesehatan, Fakultas Kesehatan
Masyarakat, Universitas Airlangga, Indonesia1
*Corresponding Author : nabilaharifin23@[Link]

ABSTRAK
Pneumonia adalah penyebab utama kematian akibat infeksi terbesar pada anak-anak di seluruh dunia.
Prevalensi kejadian pneumonia pada balita di Indonesia pada tahun 2023 yaitu sebesar 416.435 kasus
lebih besar dari tahun sebelumnya yaitu 386.724 kasus dan 522 kasus diantaranya mengalami kematian.
Tujuan penelitian ini adalah menggambarkan distribusi kejadian pneumonia pada balita di Provinsi
Jawa Barat dengan memetakan dan menganalisis hubungan antara ASI eksklusif dan status gizi kurang
terhadap kejadian pneumonia balita di 27 kabupaten/kota di Jawa Barat dari tahun 2022 hingga 2024.
Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan desain studi korelasi populasi menggunakan uji
statistik korelasi Spearman. Data sekunder dari Profil Kesehatan Jawa Barat tahun 2022, 2023, dan
2024 digunakan dalam penelitian ini. Dua puluh tujuh kabupaten/kota di provinsi Jawa Barat menjadi
populasi penelitian ini. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat korelasi positif dengan
hubungan kuat antara ASI eksklusif pada tahun 2022 (p = <0,001; r = 0,630); 2023 (p = 0,007; r =
0,505); 2024 (p = 0,006; r = 0,511) dan status gizi kurang pada tahun 2022 (p = 0,003; r = 0,522); 2023
(p = 0,006; r = 0,518); 2024 (p = 0,006; r = 0,517) dengan kejadian pneumonia balita. Korelasi antara
ASI eksklusif dan status gizi kurang dengan kejadian Pneumonia balita pada tahun 2022, 2023, dan
2024 bernilai positif dengan kekuatan yang kuat.

Kata kunci : ASI eksklusif, gizi kurang, pneumonia balita

ABSTRACT
Pneumonia is the leading cause of death from the largest infection in children worldwide. The
prevalence of pneumonias in children under five in Indonesia in 2023 was 416,435 cases, higher than
the previous 386,724 cases and 522 of them [Link] study aims to describe the distribution of
pneumonia incidence among under-fives in West Java Province by mapping and analysing the
association between exclusive breastfeeding and under-nutrition status on pneumonia incidence among
under-fives in 27 districts/cities in West Java from 2022 to 2024. This study was a descriptive research
with a population correlation study design using the Spearman correlation statistical test. Secondary
data from the West Java Health Profile in 2022, 2023, and 2024 were used in this study. Twenty-seven
districts/cities in West Java province became the population of this study. The results of this study
showed that there was a positive correlation with a strong relationship between exclusive breastfeeding
in 2022 (p = = <0.001; r = 0.630); 2023 (p = 0.007; r = 0.505); 2024 (p = 0.006; r = 0.511) and
undernutrition status in 2022 (p = 0.003; r = 0.522); 2023 (p = 0.006; r = 0.518); 2024 (p = 0.006; r
= 0.517) with the incidence of under-five pneumonia. The correlation between exclusive breastfeeding
and undernutrition status with the incidence of under-five pneumonia in 2022, 2023, and 2024 was
positive with a strong strength

Keywords : exclusive breastfeeding, under-nutrition, under-five pneumonia

PENDAHULUAN

Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA) adalah penyakit yang umum dan rentan terjadi
pada balita atau anak-anak. ISPA merupakan salah satu dari tiga penyakit teratas di negara
berkembang, termasuk Indonesia. Di Indonesia, kejadian ISPA pada balita mencapai 3-6 kali
dalam setahun, dengan 10-20% di antaranya merupakan kasus pneumonia (Himawati & Fitria,

JURNAL KESEHATAN TAMBUSAI 6536


Volume 6, Nomor 2, Juni 2025 ISSN : 2774-5848 (Online)
ISSN : 2777-0524 (Cetak)
2020). Pneumonia adalah suatu bentuk infeksi saluran pernapasan akut yang menyerang paru-
paru. Paru-paru terdiri dari kantung-kantung kecil yang disebut alveoli, yang terisi udara ketika
orang sehat bernapas. Ketika seseorang menderita pneumonia, alveoli terisi nanah dan cairan,
yang membuat bernapas terasa menyakitkan dan membatasi asupan oksigen (WHO, 2022).
Pneumonia adalah penyebab tunggal kematian akibat infeksi terbesar pada anak-anak di
seluruh dunia. Pneumonia menewaskan 740.180 anak di bawah usia 5 tahun pada tahun 2019,
menyumbang 14% dari semua kematian anak di bawah 5 tahun, tetapi 22% dari semua
kematian pada anak usia 1 hingga 5 tahun. (WHO, 2022). Insiden pneumonia secara global
mencapai lebih dari 1.400 kasus per 100.000 anak, atau setara dengan 1 kasus untuk setiap 71
anak setiap tahunnya. Wilayah dengan prevalensi tertinggi adalah Asia Selatan, dengan 2.500
kasus per 100.000 anak, dan Afrika Barat dan Tengah, dengan 1.620 kasus per 100.000 anak
(UNICEF, 2024). Di Indonesia, Pneumonia, penyakit bawaan, dan diare merupakan penyebab
kematian terbanyak pada anak usia dini – yang masing-masing menyebabkan 36, 13, dan 10
persen dari seluruh kematian anak di bawah lima tahun – serta komplikasi neonatal, cedera,
serta campak dan malaria di daerah endemis (UNICEF, n.d). Prevalensi kejadian pneumonia
pada balita di Indonesia pada tahun 2023 yaitu sebesar 416.435 kasus lebih besar dari tahu
sebelumnya yaitu 386.724 kasus dan 522 kasus diantaranya mengalami kematian (Kemenkes
RI, 2024).
Menurut Profil Kesehatan Indonesia Tahun 2022 sampai 2024, Provinsi Jawa Barat
memiliki peningkatan kasus pneumonia pada balita yang signifikan. Pada tahun 2022, Jawa
Barat menempati posisi pertama dengan kasus pneumonia terbanyak di Indonesia, dengan
jumlah kasus pneumonia balita ditemukan sebesar 101.967 kasus dan meningkat pada tahun
2023 sebanyak 102.576 kasus (Kemenkes RI, 2023; Kemenkes RI, 2024). Pada tahun 2024,
kejadian pneumonia balita meningkat kembali menjadi sebanyak 133.926 kasus (Dinkes Prov.
Jabar, 2025). Terdapat beberapa faktor risiko yang dapat menyebabkan pneumonia pada balita,
salah satunya yaitu anak-anak yang sistem kekebalan tubuhnya terganggu. Balita memiliki
mekanisme pertahanan tubuh yang masih lemah dan imunitas yang belum sepenuhnya
berkembang jika dibandingkan dengan orang dewasa (Rigustia et al., 2019). Jika status
kesehatan balita tersebut rendah, maka risiko untuk terkena pneumonia akan meningkat. Sistem
kekebalan tubuh anak dapat melemah akibat kekurangan gizi atau malnutrisi, terutama pada
bayi yang tidak mendapatkan ASI eksklusif (WHO, 2022).
Hal itu dikarenakan bayi dengan riwayat pemberian ASI eksklusif seharusnya dapat
terhindar dari pneumonia, karena ASI memiliki banyak kandungan seperti vitamin, mineral,
lemak, karbohidrat dan protein yang memiliki peran penting untuk melindungi anak dari
penyakit infeksi seperti pneumonia (Rahima et al., 2022). Selain itu, terdapat juga faktor risiko
lingkungan seperti kondisi fisik rumah dan lingkungan sosial keluarga, termasuk perilaku
merokok anggota keluarga. Kondisi fisik rumah berhubungan erat dengan pertumbuhan agen
penyebab pneumonia, sementara lingkungan yang tidak memenuhi standar kesehatan dapat
meningkatkan risiko penularan pneumonia (Prajadiva & Ardillah, 2019). Selain itu, paparan
asap rokok juga merupakan salah satu penyebab pneumonia pada anak (Larasati & Hargono,
2019).
Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan distribusi kejadian pneumonia pada balita
di Provinsi Jawa Barat dengan memetakan dan menganalisis hubungan antara ASI eksklusif
dan status gizi kurang terhadap kejadian pneumonia balita di 27 kabupaten/kota di Jawa Barat
dari tahun 2022 hingga 2024.

METODE

Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif dengan desain studi korelasi populasi.
Data sekunder yang digunakan dalam penelitian ini bersumber dari Profil Kesehatan Jawa

JURNAL KESEHATAN TAMBUSAI 6537


Volume 6, Nomor 2, Juni 2025 ISSN : 2774-5848 (Online)
ISSN : 2777-0524 (Cetak)
Barat tahun 2022, 2023, dan 2024. Populasi dan sampel dalam penelitian ini adalah 27
kabupaten/kota di Provinsi Jawa Barat. Variabel independen dari penelitian ini yaitu ASI
eksklusif dan status gizi kurang. Kemudian, untuk variabel dependennya yaitu jumlah kasus
pneumonia pada balita kabupaten/ kota di Jawa Barat dalam rentang tahun 2022 hingga
2024. Data yang didapat kemudian akan dianalisis secara deskriptif berupa gambar peta dan
analitik mengenai korelasi jumlah kasus pneumonia pada balita dengan ASI ekslusif dan status
gizi kurang. Teknik analisis data yang digunakan adalah uji spearman menggunakan aplikasi
SPSS 27 dan penggambaran peta menggunakan perangkat lunak pemetaan Quantum
Geographic Information System (QGIS) Dekstop 3.38.1.

HASIL

Distribusi Kasus Pneumonia pada Balita di Provinsi Jawa Barat pada Tahun 2022-2024

Gambar 1. Peta Distribusi Kasus Pneumonia Balita di Provinsi Jawa Barat pada Tahun 2022-2024

Berdasarkan gambar 1. pada tahun 2023, terdapat 17 (62,9%) kabupaten/kota dari 27


kabupaten/kota yang ada di Provinsi Jawa Barat mengalami peningkatan kasus yaitu,
Kabupaten Bandung, Kabupaten Bandung Barat, Kabupaten Bekasi, Kabupaten Cianjur,
Kabupaten Cirebon, Kota Bekasi, Kota Bogor, Kota Cimahi, Kota Cirebon, Kota Sukabumi,
Kota Tasikmalaya, Kabupaten Kuningan, Kabupaten Majalengka, Kabupaten Pangandaran,
Kabupaten Sumedang dan Kabupaten Tasikmalaya. Sedangkan pada tahun 2024, terdapat 3
(11,1%) kabupaten/kota dari 27 kabupaten/kota yang ada di Provinsi Jawa Barat mengalami
penurunan jumlah kasus yaitu, Kota Cimahi, Kota Cirebon dan Kabupaten Sumedang.
Sebanyak 14 (51,8%) kabupaten/kota dari 27 kabupaten/kota yang ada di Provinsi Jawa Barat
dari tahun 2022-2024 mengalami peningkatan jumlah kasus Pneumonia pada balita dari tahun
ke tahun sehingga menjadi isu kesehatan yang serius pada kabupaten/kota tersebut.

Korelasi ASI Eksklusif dan Status Gizi Kurang dengan Pneumonia di Provinsi Jawa
Barat pada Tahun 2022-2024

Tabel 1. Hubungan ASI Eksklusif dan Status Gizi Kurang dengan Pneumonia Balita di
Provinsi Jawa Barat pada Tahun 2022-2024
Variabel p-value Korelasi koefisien Keterangan
2022
ASI Eksklusif <0,001 0.630 Hubungan kuat

JURNAL KESEHATAN TAMBUSAI 6538


Volume 6, Nomor 2, Juni 2025 ISSN : 2774-5848 (Online)
ISSN : 2777-0524 (Cetak)
Status Gizi Kurang 0,003 0.552 Hubungan kuat
2023
ASI Eksklusif 0,007 0.505 Hubungan kuat
Status Gizi Kurang 0,006 0.518 Hubungan kuat
2024
ASI Eksklusif 0,006 0.511 Hubungan kuat
Status Gizi Kurang 0,006 0.517 Hubungan kuat

Distribusi dan Hubungan ASI Eksklusif dengan Pneumonia Balita di Provinsi Jawa
Barat pada Tahun 2022-2024

Gambar 2. Peta Distribusi ASI Eksklusif dengan Kasus Pneumonia Balita di Provinsi Jawa Barat
pada Tahun 2022-2024

Berdasarkan gambar 2, pada tahun 2023, terdapat 12 (44,4%) kabupaten/kota dari 27


kabupaten/kota yang ada di Provinsi Jawa Barat mengalami penurunan ASI Eksklusif yaitu,
Kabupaten Bekasi, Kabupaten Ciamis, Kabupaten Kuningan, Kabupaten Pangandaran,
K
a
b
u
p
a
t
e
n Hasil penelitian yang di dapat dari penelitian ini yaitu terdapat hubungan antara riwayat
ASI eksklusif dengan kejadian pneumonia balita pada tahun 2022, 2023, dan 2024 dengan p-
S
value < 0,05 dengan arah hubungan yang kuat antara ASI eksklusif dengan kasus pneumonia
u
yang meningkat dari tahun ke tahun. Hasil ini menunjukkan bahwa peningkatan ASI
m
eksklusif di kabupaten/kota di Jawa Barat diikuti dengan peningkatan kasus pneumonia balita
e
pada tahun 2022, 2023, dan 2024.
d
a
n
g
,

dan Kota Depok. Bersamaan dengan penurunan ASI Eksklusif pada tahun 2023, kejadian
JURNAL KESEHATAN TAMBUSAI 6539
pneumonia balita pada tahun tersebut juga meningkat menjadi 102.576 kasus dibanding tahun
2022 sebanyak 101.968 kasus. Sedangkan sebanyak 6 (22,2%) kabupaten/kota dari 27
kabupaten/kota yang ada di Provinsi Jawa Barat dari tahun 2022-2024 mengalami penurunan
Volume 6, Nomor 2, Juni 2025 ISSN : 2774-5848 (Online)
ISSN : 2777-0524 (Cetak)
Distribusi dan Hubungan Status Gizi Kurang dengan Pneumonia Balita di Provinsi Jawa
Barat pada Tahun 2022-2024

Gambar 3. Peta Distribusi Status Gizi Kurang dengan Kasus Pneumonia Balita di Provinsi Jawa Barat pada Tahun
2022-2024

Status Gizi kurang merupakan salah satu faktor risiko terjadinya pneumonia pada balita.
Angka kejadian pneumonia balita pada tahun 2024 sebanyak 133.926 kasus, meningkat dari
tahun sebelumnya yang hanya 102.576 kasus. Pada tahun 2024, sebanyak 19 kabupaten/kota
mengalami peningkatan status gizi kurang. Dari 19 kabupaten/kota tersebut, terdapat 16
(84,2%) kabupaten/kota yang mengalami peningkatan status gizi kurang yang diikuti dengan
peningkatan kasus pneumonia balita. Ke-16 kabupaten/kota tersebut adalah bupaten Bandung,
Kabupaten Bandung Barat, Kabupaten Cirebon, Kabupaten Karawang, Kabupaten Kuningan,
Kabupaten Majalengka, Kabupaten Pangandaran, Kabupaten Purwakarta, Kabupaten Subang,
Kabupaten Sukabumi, Kabupaten Tasikmalaya, Kota Banjar, Kota Bekasi, Kota Depok, Kota
Sukabumi, Kota Tasikmalaya.
Hasil penelitian yang di dapat dari penelitian ini yaitu terdapat hubungan antara status gizi
kurang dengan kejadian pneumonia balita pada tahun 2022, 2023, dan 2024 dengan p-value <
0,05 dengan arah hubungan yang kuat antara status gizi kurang dengan kasus pneumonia yang
meningkat dari tahun ke tahun. Hasil ini menunjukkan bahwa peningkatan status gizi kurang
di kabupaten/kota di Jawa Barat diikuti dengan peningkatan kasus pneumonia balita pada tahun
2022, 2023, dan 2024.

PEMBAHASAN

Hubungan ASI Eksklusif dengan Pneumonia pada Balita


ASI eksklusif merupakan salah satu faktor resiko pada pneumonia balita. Hal itu
dikarenakan Balita dengan riwayat pemberian ASI eksklusif seharusnya dapat terhindar dari
pneumonia, karena ASI memiliki banyak kandungan seperti vitamin, mineral,
lemak, karbohidrat dan protein yang memiliki peran penting untuk melindungi anak
dari penyakit infeksi seperti pneumonia (Rahima et al., 2022). Hasil penelitian ini
membuktikan bahwa terdapat korelasi ASI eksklusif dengan kejadian pneumonia balita dari
tahun 2022, 2023, dan 2024 dimana p-value : <0,001; 0,006; 0,007 (p<0,05). Hal ini sejalan

JURNAL KESEHATAN TAMBUSAI 6540


Volume 6, Nomor 2, Juni 2025 ISSN : 2774-5848 (Online)
ISSN : 2777-0524 (Cetak)
dengan penelitian oleh (Melynia et al., 2024) yang didapatkan hasil bahwa terdapat hubungan
bermakna antara ASI eksklusif dengan kejadian pneumonia balita dengan p-value 0,000
(p<0,05) dan ditemukan banyak orang tua tidak memberikan ASI eksklusif selama enam bulan
yang dipengaruhi oleh kurangnya pengetahuan dan faktor pekerjaan ibu. Penelitian oleh
(Banhae et al., 2023) juga sejalan dengan penelitian ini, dengan nilai p-value 0,000 (p<0,05).
Sedangkan penelitian ini tidak sejalan dengan (Rahima et al., 2022) didapatkan hasil p-value
sebesar 0,223 yang menunjukan bahwa tidak terdapat hubungan antara faktor status pemberian
ASI ekslusif dengan kejadian pneumonia pada balita di wilayah kerja Puskesmas Cigondewah.

Hubungan Status Gizi Kurang dengan Kasus Pneumonia pada Balita


Status gizi adalah indikator keberhasilan dalam memenuhi kebutuhan nutrisi anak, yang
diukur melalui berat badan dan tinggi badan sesuai usia. Ketika terjadi malnutrisi, sistem imun
anak akan terganggu, membuatnya lebih rentan terhadap infeksi. Terdapat hubungan yang erat
antara status gizi dan pneumonia pada balita; jika status gizi anak kurang baik atau
menunjukkan tanda-tanda malnutrisi dalam jangka waktu lama, hal ini dapat mengakibatkan
gangguan pada pertahanan mekanik dan penurunan imunitas. Akibatnya, anak menjadi lebih
mudah terpapar pneumonia, baik yang ringan maupun berat (Amru et al., 2021).Hasil
penelitian ini membuktikan bahwa terdapat korelasi status gizi kurang dengan kejadian
pneumonia balita dari tahun 2022, 2023, dan 2024 dimana p-value : 0,003; 0,006; 0,006
(p<0,05).
Hal ini sejalan dengan penelitian oleh (Kusparlina & Wasito, 2022) yang menjelaskan
bahwa terdapat hubungan bermakna antara status gizi kurang dengan kejadian pneumonia
balita dengan p-value 0,013. Penelitian oleh (Dwik Putra Nickontara et al., 2024) setelah
dilakukan uji chi square dengan p-value 0,001 (p<0,05), yang menunjukkan terdapat hubungan
status gizi kurang dengan kejadian pneumonia. Sedangkan penelitian ini tidak sejalan dengan
(Husna et al., 2022), yang menyatakan bahwa status gizi didapatkan bahwa tidak ada hubungan
yang bermakna dengan kejadian pneumonia dengan p-value 0,311 (p<0,05). Hasil analisis
statistik pada tahun 2022, 2023, dan 2024 menunjukkan adanya korelasi positif (berbanding
lurus). Ini berarti bahwa peningkatan cakupan ASI eksklusif dan status gizi kurang akan
diiringi dengan peningkatan kasus pneumonia pada balita, serta sebaliknya. Hal itu dapat
terjadi apabila terdapat faktor karakteristik lainnya seperti BBLR, cakupan imunisasi,
pemberian vitamin A, dan jenis kelamin (Caniago et al., 2022; Novarianti et al., 2021; Afriani
& Oktavia, 2021). Selain itu faktor lingkungan juga dapat memengaruhi kejadian pneumonia
pada balita, seperti paparan asap rokok, kondisi fisik rumah, lingkungan yang tidak memenuhi
standar kesehatan dan kepadatan hunian (Prajadiva & Ardillah, 2019; Larasati & Hargono,
2019; Anjaswanti et al., 2022).

KESIMPULAN

Pneumonia adalah infeksi saluran pernapasan akut yang menyerang paru-paru, di mana
alveoli terisi nanah dan cairan, menyebabkan nyeri saat bernapas dan mengurangi asupan
oksigen. Jumlah kasus dan prevalensi pneumonia pada balita di kabupaten/kota menunjukkan
tren peningkatan dari tahun 2022 hingga 2024. Setiap kabupaten/kota memiliki tren yang
berbeda-beda, dengan sebagian besar wilayah mengalami kenaikan prevalensi pneumonia pada
balita, sementara 3 wilayah lain menunjukkan penurunan pada tahun 2024.
ASI eksklusif dan status gizi kurang merupakan salah satu faktor risiko yang berhubungan
dengan kejadian pneumonia pada balita di Provinsi Jawa Barat. Hasil analisis data
menunjukkan adanya korelasi antara status gizi kurang dengan kejadian pneumonia balita pada
tahun 2022, 2023, dan 2024 bernilai positif dengan kekuatan yang kuat. Dengan demikian,
semakin tinggi status gizi kurang pada balita, maka semakin tinggi pula kejadian pneumonia

JURNAL KESEHATAN TAMBUSAI 6541


Volume 6, Nomor 2, Juni 2025 ISSN : 2774-5848 (Online)
ISSN : 2777-0524 (Cetak)
balita. Selain itu, terdapat korelasi positif yang kuat pada tahun 2022, 2023, dan 2024 antara
cakupan ASI eksklusif dengan kejadian pneumonia balita. Hal ini menunjukkan bahwa
semakin besar cakupan ASI eksklusif, maka semakin besar pula kejadian pneumonia balita.
Hal tersebut tidak sesuai dengan teori yang ada, sehingga dibutuhkan penelitian lebih lanjut
mengenai faktor lainnya seperti faktor lingkungan dan karakteristik lainnya.

UCAPAN TERIMAKASIH

Terimakasih kepada dosen di Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Airlangga yang


telah memberikan dukungan dan bimbingan dalam menyelesaikan penelitian ini, serta kepada
Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat yang telah menyediakan data sekunder untuk penelitian
ini.

DAFTAR PUSTAKA

Afriani, B., & Oktavia, L. (2021). Faktor Risiko Kejadian Pneumonia Pada Bayi. Babul Ilmi
Jurnal Ilmiah Multi Science Kesehatan, 13(2). [Link]
Amru, D. E., Devi Putri, Y., & Selvia, A. (2021). Hubungan Status Gizi Dengan Kejadian
Pneumonia Pada Balita. Jurnal Keperawatan ’Aisyiyah, 8(1), 1–6.
[Link]
Anjaswanti, R. N., Azizah, R., & Leonita, A. (2022). Studi Meta-Analisis: Faktor Risiko
Kejadian Pneumonia Pada Balita Di Indonesia Tahun 2016-2021. Journal of Community
Mental Health and Public Policy, 4(2), 56–70. [Link]
Banhae, Y. K., Abanit, Y. M., & Namuwali, D. (2023). Faktor Risiko yang Berhubungan
dengan Kejadian Pneumonia pada Balita di Kota Kupang. Jurnal Ilmiah Permas: Jurnal
Ilmiah STIKES Kendal, 13(3), 1099–1106. [Link]
Caniago, O., Utami, T. A., & Surianto, F. (2022). Faktor Yang Mempengaruhi Kejadian Ispa
Pada Balita. JOMIS (Journal of Midwifery Science), 6(2), 175–184.
[Link]
Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat. (2023). Profil Kesehatan Provinsi Jawa Barat Tahun
2022.
Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat. (2024). Profil Kesehatan Provinsi Jawa Barat Tahun
2023.
Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat. (2025). Profil Kesehatan Provinsi Jawa Barat Tahun
2024.
Dwik Putra Nickontara, Sahrun, Nyoman Cahyadi Tri Setiawan, & I Gusti Putu Winangun.
(2024). Hubungan Berat Badan Lahir, Status Gizi, Dan Usia Terhadap Kejadian
Pneumonia Pada Balita Di Rsud Praya. Cakrawala Medika: Journal of Health Sciences,
2(2), 147–153. [Link]
Himawati, E. H., & Fitria, L. (2020). Hubungan Infeksi Saluran Pernapasan Atas dengan
Kejadian Stunting pada Anak Usia di Bawah 5 Tahun di Sampang. Jurnal Kesehatan
Masyarakat Indonesia, 15(1), 1. [Link]
Husna, M., Dewi Pertiwi, F., & Saputra Nasution, A. (2022). Faktor-Faktor Yang Berhubungan
Dengan Kejadian Pneumonia Pada Balita Di Puskesmas Semplak Kota Bogor 2020.
Promotor, 5(3), 273–280. [Link]
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2023). Profil Kesehatan Indonesia Tahun 2022.
Jakarta: Kementerian Kesehatan
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2024). Profil Kesehatan Indonesia Tahun 2023.
Jakarta: Kementerian Kesehatan
Kusparlina, E. P., & Wasito, E. (2022). Faktor Intrinsik dan Extrinsik yang Berhubungan

JURNAL KESEHATAN TAMBUSAI 6542


Volume 6, Nomor 2, Juni 2025 ISSN : 2774-5848 (Online)
ISSN : 2777-0524 (Cetak)
dengan Kejadian Pneumonia. Global Health Science, 7(1), 149–155.
[Link]
Larasati, F., & Hargono, A. (2019). Perbedaan Risiko Pneumonia Berdasarkan Pola Asuh dan
Paparan Asap Rokok. Jurnal PROMKES, 7(2), 163.
[Link]
Melynia, P., Wayan, N., Parwati, M., Putu, N., & Kurnia, R. (2024). Analisis Faktor-Faktor
Intrinsik Yang Berhubungan Dengan Kejadian Pneumonia Pada Balita Di Puskesmas I
Denpasar Selatan. 7, 49–58. [Link]
Novarianti, W., Syukri, M., Izhar, M. D., Ridwan, M., & Faisal, F. (2021). Status Gizi dan
Pemberian Kapsul Vitamin A sebagai Faktor Risiko Pneumonia Balita Usia 18-59 Bulan.
Jurnal Bidan Cerdas, 3(2), 47–54. [Link]
Prajadiva, G., & Ardillah, Y. (2019). Determinan Lingkungan Fisik Rumah Terhadap
Pneumonia pada Balita di Pinggiran Sungai Musi. Jurnal Kesehatan, 7621(1), 1–11.
[Link]
Rahima, P., Hayati, S., Hartinah, N., Adhirajasa, U., Sanjaya, R., Adhirajasa, U., Sanjaya, R.,
Adhirajasa, U., Sanjaya, R., Adhirajasa, U., & Sanjaya, R. (2022). Hubungan kejadian
pneumonia dengan pemberian asi eksklusif pada balita. 10(1), 122–129.
[Link]
Rigustia, R., Zeffira, L., & Vani, A. T. (2019). Faktor Risiko yang Berhubungan dengan
Kejadian Pneumonia pada Balita di Puskesmas Ikur Koto Kota Padang. Health & Medical
Journal, 1(1), 22–29. [Link]
UNICEF. (2024). Pneumonia.
UNICEF. (n.d). Health. [Link]
World Health Organitation. (2022). Pneumonia in children. [Link]
room/fact-sheets/detail/pneumonia

JURNAL KESEHATAN TAMBUSAI 6543

Anda mungkin juga menyukai