0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
6 tayangan13 halaman

Teori dan Hasil Pembelajaran Siswa

Diunggah oleh

elviraagustina1991
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
6 tayangan13 halaman

Teori dan Hasil Pembelajaran Siswa

Diunggah oleh

elviraagustina1991
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB II

LANDASAN TEORI DAN HIPOTESIS

A. Landasan Teori

1. Pengertian Belajar

Belajar pada hakikatnya adalah proses interaksi terhadap semua situasi

yang ada di sekitar individu. Belajar dapat dipandang sebagai proses yang

diarahkan kepada tujuan dan proses berbuat melalui berbagai pengalaman.

Menurut Hamalik (2001:27) “Belajar adalah modifikasi atau memperteguh

kelakuan melalui pengalaman”. Pengertian tersebut menjelaskan bahwa belajar

merupakan orientasi dari suatu proses, tindakan dan pengalaman.

Selanjutnya ada tafsiran lain tentang belajar yang menyatakan, bahwa

belajar adalah suatu proses perubahan tingkah laku individu melalui interaksi

dengan lingkungannya. Menurut Slameto (2003:2) “Belajar adalah suatu proses

usaha yang

dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang

baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi

dengan lingkungannya”.

Kemudian perubahan yang terjadi dalam diri seseorang tersebut adalah

perubahan dalam arti belajar. Menyangkut proses pembelajaran, Sudjana

(1990:28) menyatakan bahwa “Belajar bukan menghafal dan pula mengingat akan

tetapi belajar adalah suatu proses yang ditandai dengan adanya perubahan pada

diri seseorang”. Kemudilan dalam pembelajaran terdapat dua kegiatan, yaitu

7
8

kegiatan atau proses belajar dan kegiatan atau proses mengajar, kedua kegiatan ini

seolah-olah tidak terpisahkan satu sama lain”.(Sardiman, 2006:1).

Selanjutnya ada anggapan bahwa jika ada kegiatan belajar tentu ada proses

mengajar. Sardiman (2006:1) mengemukakan bahwa: “Tidaklah benar jika

mengajar kita anggap sebagai kegiatan atau proses yang terarah dan rencana yang

mengusahakan agar terjadi proses belajar pada diri seseorang”. Hal ini

dikarenakan proses belajar dapat terjadi kapan saja dan dimana saja terlepas dari

ada yang mengajar atau tidak, dan terjadi karena adanya interaksi antara individu

dengan lingkungannya.

Dengan demikian dapat dikatakan bahwa belajar adalah perubahan tingkah

laku pada individu-individu yang belajar. Perubahan itu tidak hanya berkaitan

dengan penambahan ilmu pengetahuan, tetapi juga berbentuk kecakapan,

keterampilan, sikap, pengertian, harga diri, minat, watak, penyesuaian diri dengan

lingkungannya. Jadi dapat dikatakan bahwa belajar itu sebagai rangkaian kegiatan

jiwa raga yang menuju perkembangan pribadi manusia seutuhnya.

2. Hasil Pembelajaran

Hasil pembelajaran siswa pada hakikatnya adalah perubahan tingkah laku.

Tingkah laku sebagai hasil pembelajaran dalam pengertian yang luas mencakup

bidang kognitif, afektif dan psikomotorik. Kemudian Sudjana (1990:22)

menyatakan bahwa “Hasil pembelajaran adalah kemampuan yang dimiliki siswa

setelah ia menerima pengalaman belajarnya”. Selanjutnya Sudjana (1990:22)

membagi tiga macam hasil belajar, yaitu “(a) keterampilan dan kebiasaan, (b)

pengetahuan dan pengertian, (c) sikap dan cita-cita”. Berdasarkan pengertian


9

tersebut penilaian hasil pembelajaran dapat dilihat dari sejauh mana keefektifan

dan efesiennya dalam mencapai tujuan pembelajaran atau perubahan tingkah laku

siswa.

Selanjutnya Mulyono Abdurrahman (1999:39) mengemukakan bahwa

”Hasil pembelajaran adalah prestasi aktual yang ditampilkan oleh anak”. Lebih

lanjut Mujiono dan Dimyanti (2006:250) menyatakan bahwa:

Hasil pembelajaran merupakan hal yang dapat dipandang dari dua sisi

yaitu sisi siswa dan sisi guru. Dari sisi siswa, hasil pembelajaran merupakan

tingkat perkembangan mental yang lebih baik bila dibandingkan pada saat

sebelum belajar. Tingkat perkembangan mental tersebut terwujud pada jenis ranah

kognitif, afektif, dan psikomotor. Sedangkan dari sisi guru, hasil pembelajaran

merupakan saat terselesaikannya bahan pelajaran.

Bedasarkan kutipan di atas, dapat dikatakan bahwa hasil pembelajaran

adalah kemampuan, keterampilan, dan sikap yang diperoleh siswa setelah ia

menerima perlakuan yang diberikan oleh guru, yang dapat menghasilkan kualitas

pembelajaran siswa yang lebih baik dari sebelum diterapkannya model

pembelajaran. Sehingga dengan kemampuan yang diperolehnya dapat

dimanfaatkan dalam kehidupan sehari-hari.

3. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Hasil atau Proses Pembelajaran

Banyak faktor yang dapat mempengaruhi hasil atau proses pembelajaran

seseorang. Dalam hal ini Slameto (2010:54) mengatakan bahwa “Faktor-faktor

yang mempengaruhi hasil pembelajaran banyak jenisnya, tetapi dapat digolongkan

menjadi dua golongan saja, yaitu faktor internal dan faktor eksternal. Faktor
10

internal adalah faktor yang ada di dalam diri individu yang sedang melakukan

proses pembelajaran, sedangkan faktor eksternal adalah faktor yang ada di luar

diri individu”. Faktor-faktor yang mempengaruhi hasil poses pembelajaran

adalah :

a. Faktor Internal

Faktor internal adalah semua faktor yang berasal dari dalam diri individu

itu sendiri. Faktor internal menurut Hakim (2000:11) ”Terdiri dari faktor biologis

dan faktor psikologis”. Faktor biologis meliputi segala hal yang berhubungan

dengan keadaan fisik atau jasmani individu yang bersangkutan. Keadaan jasmani

yang perlu diperhatikan sehubungan dengan faktor biologis ini diantaranya adalah

kondisi fisik yang normal, dan kondisi kesehatan fisik yang sehat. Kemudian

faktor psikologis yang dapat mempengaruhi keberhasilan proses pembelajaran

merupakan segala hal yang berkaitan dengan kondisi mental seseorang.

b. Faktor eksternal

Menurut Hakim (2000:17) ”Faktor eksternal merupakan faktor yang

bersumber dari luar individu itu sendiri”. Faktor eksternal meliputi faktor

lingkungan keluarga, faktor lingkungan sekolah, faktor lingkungan masyarakat,

dan faktor waktu. Keempat faktor tersebut mempengaruhi hasil proses

pembelajaran siswa di sekolah. Selain itu faktor tersebut perlu diketahui untuk

mengatasi kesulitan atau hambatan dalam proses pembelajaran.

Berdasarkan kutipan di atas dapat dikatakan bahwa bila semua guru

memiliki tugas dan tanggung jawab seperti di dalam kode etik guru maka kondisi
11

proses pembelajaran akan baik. Dengan demikian kondisi seperti itu membuat

siswa memiliki motivasi dalam mengikuti proses pembelajaran.

4. Manfaat Hasil Pembelajaran

Hasil pembelajaran pada hakikatnya adalah perubahan tingkah laku yang

mencakup bidang kognitif, afektif, dan psikomotorik. Pendidikan dan

pembelajaran dikatakan berhasil apabila perubahan-perubahan yang tampak pada

siswa merupakan akibat dari proses pembelajaran yang dialaminya yaitu proses

yang ditempuh melalui program dan kegiatan yang dirancang dan dilaksanakan

oleh pendidik dalam proses pembelajaran. Kemudian Kustiani (dalam Rahmat

2014:15) mengemukakan bahwa:

Hasil pembelajaran harus menunjukkan perubahan keadaan menjadi lebih


baik, sehingga dapat bermanfaat untuk: (a) menambah pengetahuan, (b)
lebih memahami sesuatu yang belum dipahami sebelumnya, (c) lebih
mengembangkan keterampilannya, (d) memiliki pandangan yang baru atas
seuatu hal, (e) lebih menghargai sesuatu daripada sebelumnya.

Berdasarkan kutipan di atas dapat dikatakan bahwa istilah hasil

pembelajaran merupakan perubahan dari peserta didik sehingga terdapat

perubahan dari segi pengetahuan, sikap dan keterampilan, serta memiliki

pandangan sendiri dan lebih menghargai atas sesuatu hal yang baru diketahuinya

dari pada sebelum dia mengikuti proses pembelajaran.

5. Model Pembelajaran
Isjoni (dalam Wheni 2016:3) menyatakan “Model pembelajaran adalah

suatu desain atau yang menggambarkan proses rincian dan pencitaan situasi

lingkungan yang memungkinkan siswa berinteraksi sehingga terjadi perubahan

atau perkembangan pada diri siswa.” Sedangkan menurut Suherman (2010:133),

“Model pembelajaran adalah suatu rencana atau pola yang dapat digunakan untuk
12

membentuk kurikulum (rencana pembelajaran jangka panjang), merancang bahan-

bahan pembelajaran, dan membimbing pembelajaran di kelas atau yang lain”.

Melainkan bisa juga hasil belajar dari siswa lainya, dan sekaligus mempunyai

kesempatan untuk membelajarkan siswa yang lain”.Penerapan model

pembelajaran yang tepat, merupakan salah satu upaya yangdapat dilakukan

seorang guru guna tercapainya tujuan pembelajaran.

Trianto (2009:25) menyeleksi enam model pengajaran yang sering

digunakan guru dalam mengajar, yaitu:

Presentasi, pengajaran langsung, pengajaran konsep, pembelajaran


kooperatif, pengajaran berdasarkan masalah, dan diskusi kelas. Tiap-tiap
model pembelajaran membutuhkan sistem pengolahan dan lingkungan
belajar yang sedikit berbeda. Misalnya, model pembelajaran kooperatif
memerlukan lingkungan belajar yang fleksibel seperti tersedia meja dan
kursi yang mudah dipindahkan. Pada model pembelajaran diskusi pada
siswa duduk di bangku yang disusun secara melingkar atau seperti tapal
kuda. Sedangkan model pmbelajaran langsung, siswa duduk berhadap-
hadapan dengan guru. Pada model pembelajaran kooperatif siswa perlu
berkomunikasi satu sama lain, sedangkan model pembelajaran langsung
siswa harus tenang dan memperhatikan guru.

Berdasarkan penjelasan di atas, maka saya menyimpulkan bahwa model

pembelajaran adalah pola yang digunakan guru dalam merencanakan aktivitas

belajar-mengajar di kelas. Model pembelajaran yang akan peneliti gunakan dalam

penelitian ini yaitu Numbered Heads Together (NHT).

6. Model Pembelajaran Kooperatif

Taniaredja, dkk (2011:56) menyatakan bahwa “ Model kooperatif adalah

model dengan setting kelompok-kelompok kecil dengan memperhatikan

keberagaman anggota kelompok sebagai wadah siswa bekerjasama dan

memecahkan suatu masalah melalui interaksi sosial dengan teman sebayanya,


13

memberikan kesempatan kepada siswa utuk mempelajari sesuatu dengan baik

pada waktu yang bersamaan dan ia menjadi narasumber bagi teman yang lain”.

Djamarah (2010:357) menyatakan bahwa “ Melalui model kooperatif,

siswa bukan hanya belajar dan menerima apa yang disajikan oleh guru dalam

PBM, melainkan bisa juga belajar dari siswa lainya, dan sekaligus mempunyai

kesempatan untuk membelajarkan siswa yang lain”. Menurut Isjoni (2007:20),

terdapat beberapa ciri dari model kooperatif antara lain:

a. Setiap anggota memiliki peran.


b. Terjadi hubungan interaksi langsung antara siswa.
c. Setiap anggota kelompok bertanggung jawab atas belajarnya dan juga
teman-teman sekelompoknya.
d. Gurumembantu mengembangkan keterampilan-keterampilan
interpersonal kelompok.
e. Guru hanya berinteraksi dengan kelompok saat diperlukan.

Menurut Lie (2008:31), untuk mencapai hasil yang maksimal, terdapat

empat unsur model kooperatif yang harus diterapkan, yaitu:

[Link] Ketergatungan Positif

b. Tatap Muka

c. Komunikasi Antar Anggota

d. Evaluasi proses Kelompok.

7. Model Kooperatif Tipe Numbered Head Together

Menurut Lie, (2008:59) menyatakan bahwa model kooperatif tipe

Numbered Head Together adalah memberikan kesempatan kepada siswa untuk

saling membagi ide dan mempertimbangkan jawaban yang paling tepat. Trianto,

(2009:82) merupakan jenis pembelajaran kooperatif yang dirancang untuk


14

mempengaruhi pola interaksi siswa dan sebagai alternatif terhadap struktur kelas

tradisional.

Slavin (2009:256) menyatakan bahwa Numbered Heads Together adalah

sebuah varian dari group discussion, kelompok yang sebelumnya tidak diberitahu

siapa yang akan menjadi wakil kelompok tersebut. Rahayu (dalam Trayana, 20

November 2014) mengemukakan bahwa Numbered Heads Together adalah suatu

model pembelajaran yang lebih mengedepankan kepada kreativitas siswa dalam

mencari, mengolah dan melaporkan informasi dari berbagai sumber yang akhirnya

dipresentasikan di depan kelas.

Berdasarkan pendapat para ahli di atas dapat di simpulkan bahwa model

pembelajaran kooperatif tipe Numbered Heads Together adalah model kegiatan

belajar yang diawali dengan pemberian nomor kepada siswa. Guru membagi kelas

menjadi kelompok-kelompok kecil. Jumlah kelompok sebaiknya

mempertimbangkan jumlah konsep yang dipelajari. Setelah kelompok terbentuk

guru mengajukan beberapa pertanyaan yang harus dijawab oleh tiap-tiap

kelompok. Berikan kesempatan tiap-tiap kelompok menemukan jawaban.

Pada kesempatan ini tiap-tiap kelompok menyatukan kepalanya ”heads

together” berdiskusi memikirkan jawaban atas pertanyaan guru. Guru memanggil

siswa yang memiliki nomor yang sama dari tiap-tiap kelompok. mereka diberi

kesempatan memberikan jawaban atas penyataan yang telah diterima dari guru.

Hal ini dilakukan terus hingga semua siswa mendapat giliran untuk memaparkan

jawaban atas pertanyaan guru. Berdasarkan jawaban-jawaban itu guru dapat


15

mengembangkan diskusi lebih mendalam sehingga siswa dapat menemukan

jawaban pertanyaan itu sebagai pengetahuan yang utuh.

Langkah–langkah Pembelajaran Model Kooperatif Tipe Numbered Heads

Together menurut Suyatno (2009:116) sebagai berikut :

a. Siswa dibagi dalam beberapa kelompok, Setiap siswa dalam kelompok

mendapat nomor.

b. Guru memberikan tugas dan masing-masing kelompok mengerjakannya.

c. Kelompok mendiskusikan jawaban yang benar dan memastikan tiap anggota

kelompok dapat mengerjakannya/mengetahui jawabannya.

d. Guru memanggil salah satu nomor,Siswa dengan nomor yang dipanggil

melaporkan hasil kerja sama mereka.

e. Tanggapan dari teman yang lain, kemudian guru menunjuk nomor yang

lain.

f. Kesimpulan.

Suprijono (2013:92) menyatakan langkah-langkah pembelajaran dengan

model kooperatif tipe Numbered Heads Toegether adalah sebagai berikut :

a. Guru membagi kelas menjadi kelompok-kelompok kecil. Jumlah kelompok

sebaiknya mempertimbangkan jumlah konsep yang dipelajari. Jika jumlah

peserta didik dalam satu kelas terdiri dari 40 orang dan terbagi menjadi 5

kelompok berdasarkan jumlah konsep yang dipelajari, maka tiap

kelompokterdiri dari 8 orang. Tiap-tiap kelompok diberikan nomor 1-8.

b. Setelah kelompok terbentuk guru mengajukan beberapa pertanyaan yang harus

dijawab oleh tiap-tiap kelompok. Berikan kesempatan kepada tiap-tiap


16

kelompok menemukan jawaban. Pada kesempatan ini tiap-tiap kelompok

menyatukan kepalanya “ Heads Together” berdiskusi memikirkan jawaban

atas pertanyaan dari guru.

c. Guru memanggil peserta didik yang memimiliki nomor yang sama dari tiap-

tiap kelompok. Mereka diberi kesempatan memberi jawaban atas pertanyaan

yang telah diterimanya dari guru. Hal itu dilakukan terus hingga semua peserta

didik dengan nomor yang sama dari masing-masing kelompok mendapat

giliran memaparkan jawaban atas pertanyaan guru. Berdasarkan jawaban-

jawaban itu guru dapat mengembangkan diskusi lebih mendalam, sehingga

peserta didik dapat menemukan jawaban pertanyaan itu sebagai pengetahuan

yang utuh.

Berdasarkan langkah-langkah yang dikemukan beberapa ahli di atas, dan

dipadukan dengan langkah-langkah model pembelajaran kooperatif tipe NHT

adalah sebagai berikut:

a. Guru membagi siswa ke dalam kelompok yang beranggotakan 3 sampai 5

siswa, kemudian setiap siswa diberi label nomor 1-5.

b. Guru mengajukan pertanyaan untuk seluruh kelompok.

c. Seluruh siswa dalam kelompoknya masing-masing memikirkan dan

menyatukan pendapat serta memastikan setiap anggota kelompok mengetahui

jawaban dari pertanyaan guru.

d. Guru memanggil satu nomor secara acak, kemudian siswa yang nomornya

sesuai mengacungkan tangannya dan melaporkan hasil kerja sama mereka.

e. Siswa lain menanggapi, kemudian guru menunjuk nomor yang lain.


17

f. Kesimpulan.

7.1. Kelebihan Dan Kekurangan NHT

Adapun kelebihan dan kelemahan dari model pembelajarankooperatif tipe

Numbered Heads Together menurut Hamdani (2008:90) sebagai berikut

1) Kelebihan model pembelajaran Numbered Heads Together :

a) Setiap siswa menjadi siap semua

b) Siswa dapat melakukan diskusi dengan sungguh-sungguh

c) yang Siswa pandai dapat mengajari siswa yang kurang pandai.

2) Kelemahan model pembelajaran Numbered Heads Together :

a) Kemungkinan nomor yang dipanggil, di panggil lagi oleh guru.

b) Tidak semua anggota kelompok dipanggil oleh guru.

B. Penelitian yang Relevan

Beberapa hasil penelitian yang relevan dengan penelitian yang dilakukan

oleh penulis yaitu sebagai berikut:

1. penelitian yang dilakukan oleh Wheni Agustina dari Sekolah Tinggi

Keguruan dan Ilmu Pendidikan Persatuan Guru Republik Indonesia (STKIP-

PGRI) Lubuk Linggau dengan judul “Penerapan Model Kooperatif Tipe

Numbered Head Together Pada Pembelajaran Matematika Siswa Kelas VII

SMP Negeri 9 Lubuk Linggau Tahun Pelajaran 2015/2016”, hasil dari

peneltian ini menunjukkan bahwa hasil belajar matematika siswa kelas VII

SMP Negeri 9 Lubuk Linggau setelah diterapkan model kooperatif tipe


18

Numbered Head Together (NHT) secara signifikan sudah tuntas. Rata-rata

hasil belajar siswa sebesar 52,6 dan persentase jumlah siswa yang tuntas

sebesar 10,00%.

2. penelitian yang dilakukan oleh Winarsih dari PGSD FKIP Universitas

Sebelas Maret dengan judul “Penerapan Teknik Numbered Heads Together

(NHT) dalam Peningkatan Pembelajaran Bilangan Pecahan Siswa Kelas V

SD”, hasil dari peneltian ini menunjukkan bahwa penerapan teknik Numbered

Heads Together dapat meningkatkan pembelajaran Bilangan Pecahan siswa

kelas V SD.

3. penelitian yang dilakukan oleh Nurul Mu’animah dari Program Studi Tradis

Matematika Jurusan Tarbiyah Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN)

Tulungangung dengan judul “Pengaruh Pembelajaran Kooperatif Tipe

Numbered Heads Together (NHT) Terhadap Prestasi Belajar Matematika

Materi Bangun Ruang Siswa Kelas VIII SMPN 1 Ngunut Tulungagung

Semester Genap Tahun Ajaran 2011/2012”, hasil dari peneltian ini

menunjukkan bahwa pembelajaran matematika dengan menggunakan metode

pembelajaran kooperatif tipe Numbered Heads Together (NHT) lebih baik

dibandingkan pembelajaran matematika dengan metode konvensional.

C. Kerangka Berfikir

Sugiono (dalam Nurul 2012:46) menyatakan bahwa Paradigma penelitian

diartikan sebagai pola pikir yang menunjukkan hubungan antara variabel yang

akan diteliti yang sekaligus mencerminkan jenis dan jumlah rumusan masalah
19

yang perlu dijawab melalui penelitian, teori yang digunakan untuk merumuskan

hipotesis, jenis dan jumlah hipotesis, dan teknik analisis ststistik yang akan

digunakan. Untuk memberikan gambaran yang jelas dalam penelitian ini, penulis

menggunakan skema yang digambarkan sebagai berikut:

 Alur penelitian pembelajaran

Penomoran

Pengajuan Pertanyaan
Metode NHT

Berfikir Bersama

Pembelajaran Pemberian Jawaban


matematika
Informasi konsep

Metode Pemberian contoh


konvensional
Latihan / tugas

 Paradigma penelitian
Pembelajaran kooperatif Prestasi
tipe Numbered Head belajar
Together materi sistem matematika
Persamaan dan siswa kelas X
Pertidaksamaan Linear

D. Hipotesis Tindakan

Berdasarkan rumusan masalah dan tujuan dari penelitian ini, maka yang

menjadi hipotesis dalam penelitian ini adalah: “Penerapan Model Pembelajaran

Kooperatif Tipe Numbered Head Together (NHT) dapat meningkatkan hasil

belajar siswa matematika siswa di kelas X SMAN 3 Banda Aceh”.

Anda mungkin juga menyukai