0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
4 tayangan27 halaman

Sifat Mekanis dan Klasifikasi Baja Struktural

Diunggah oleh

Putra Luase
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
4 tayangan27 halaman

Sifat Mekanis dan Klasifikasi Baja Struktural

Diunggah oleh

Putra Luase
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB II

LANDASAN TEORI

2.1. Uraian Umum


Baja mempunyai sifat mekanis yang digunakan dalam perencanaan, harus
memenuhi persyaratan minimum yang diberikan pada tabel 2.1 dibawah ini.
Tabel 2.1 Sifat Mekanis Baja Struktural
Tegangan Putus Minimum, Tengangan Leleh Minimum,
Jenis Baja
Fu (Mpa) Fy (Mpa)
BJ. 33 330 200
BJ. 34 340 210
BJ. 37 370 240
BJ. 41 410 250
BJ. 44 440 280
BJ. 50 550 290
BJ. 52 520 360
3.

(Tata Cara Perencanaan Struktur Baja untuk Bangunan Gedung hal. 11)
Tengangan putus dan leleh untuk perencanaan tidak boleh diambil
melebihi nilai yang ada pada tabel diatas. Sifat – sifat mekanis baja lainnya yang
ditetapkan sebagai berikut :
E (Modulus Elastis) = 200.000 Mpa
G (Modulus Geser) = 80.000 Mpa
M (Nissbah Poisson) = 0,3
α (Koefisien Pemuaian) = 12 x 10-6
Beberapa Keunggulan Baja sebagai material konstruksi antara lain adalah :
1. Mempunyai kekuatan yang tinggi sehingga dapat mengurangi ukuran
struktur serta berat struktur. Hal ini cukup menguntungkan bagi struktur –
struktur jembatan yang panjang, gedung yang tinggi atau juga bangunan –
bangunan yang berada pada kondisi tanah yang buruk.

5
2. Keseragaman dan keawetan yang tinggi, tidak seperti halnya material beton
bertulang yang terdiri dari berbagai macam bahan penyusun, material baja
jauh lebih seragam/homogen serta mempunyai tingkat keawetan yang jauh
lebih tinggi jika prosedur perawatan dilakukan secara semestinya.
3. Sifat elastis baja mempunyai perilaku yang cukup dekat dengan asumsi –
asumsi yang digunakan untuk melakukan analisis, sebab baja dapat
berperilaku elastis hingga tegangan yang cukup tinggi mengikuti Hukum
Hooke. Momen inersial dari suatu profil baja juga dapat dihitung dengan pasti
sehingga memudahkan dalam melakukan proses analisis struktur.
4. Daktilitas baja cukup tinggi. Suatu batang baja yang menerima tegangan tarik
yang tinggi akan mengalami regangan cukup besar sebelum terjadi
keruntuhan.
5. Beberapa keuntungan lain pemakaian baja sebagai material konstruksi adalah
kemudahan penyambungan antar elemen yang stu dengan lainnya
menggunakan alat sambung las atau baut. Pembuatan baja melalui proses
gilas panas mengakibatkan baja menjadi mudah dibentuk menjadi
penampang – penampang yang diinginkan. Kecepatan pelaksanaan
konstruksi baja juga menjadi suatu keunggulan material baja.
2.2. Material Baja
Baja yang digunakan dalam struktur dapat diklasifikasikan menjadi baja
karbon (Carbon Steel), baja paduan rendah mutu tinggi (High Strength – Low
Alloy Steel, HSLA) dan baja paduan (Alloy Steel).
a. Baja karbon (Carbon Steel)
Baja karbon dibagi menjadi 3 kategori tergantung dari presentase kandungan
karbonnya, yaitu baja karbon rendah (C = 0,03 – 0,035%), baja karbon
medium (C = 0,35 – 0,50%) dan baja karbon tinggi (C = 0,55 – 1,70%). Baja
yang sering kali digunakan dalam struktur adalah baja karbon medium,
misalnya BJ 37. Kandungan karbon baja medium bervariasi dari 0,25 – 0,29%
tergantung ketebalan. Selain karbon, unsur lain juga terdapat dalam baja

6
karbon adalan mangan (0,25 – 1,50%), silikon (0,25 – 0,30%), fosfor
(maksimal 0,40%) dan sulfur (0,50%). Baja karbon menunjukan peralihan
leleh yang jelas, seperti pada gambar 2.1 kurva a. Naiknya presentase karbon
meningkatkan tegangan leleh namun menurunkan daktalitas, salah satu
dampaknya adalah membuat pekerjaan las menjadi lebih sulit. Baja karbon
umumnya memiliki tegangan leleh (fy) antara 210 – 250 Mpa.
b. Baja paduan rendah mutu tinggi (High Strenght – Low Alloy Steel, HSLA)
Baja yang termasuk dalam kategori baja paduan rendah mutu tinggi
mempunyai tegangan leleh berkisar antara 290 – 550 Mpa dengan tegangan
putus (fu) antara 415 – 700 Mpa. Titik peralihan leleh dari baja ini nampak
dengan jelas (Gambar 2.1 kurva b). Penambahan bahan – bahan paduan
seperti chormium, columbium, angan, molybden, nikel, fosfor, vanadium atau
zinkonium dapat memperbaiki sifat – sifat mekaniknya. Jika baja karbon
mendapatkan kekuatannya seiring dengan penambahan presentase karbon,
maka bahan – bahan aduan ini mampu memperbaiki sifat mekanik baja
dengan membentuk mikrostruktur dalam bahan baja yang lebih halus.
c. Baja paduan (Alloy Steel)
Baja paduan rendah dapat ditempa dan dipanaskan untuk memperoleh
tegangan antara 550 – 700 Mpa. Titik peralihan leleh tidak tampak dengan
jelas (Gambar 2.1 kurva c). Tegangan leleh dari baja paduan biasanya
ditemukan sebagai tegangan yang terjadi saat timbul regangan pada saat
regangan mencapai 0,5%.

7
Gambar 2.1 Hubungan tegangan – regangan tipikal
(Sumber : Setiawan. A. Perencanaan Struktur Baja dengan Metode LRFD. 2013)

2.3. Type Kuda – kuda Baja


Type kuda – kuda baja bermacam – macam sesuai dengan perkembangan
teknologi serta sesuai dengan segi arsitekturnya. Berikut ini beberapa type kuda
– kuda baja :

Gambar : Type Pratt Gambar : Type Fink

Gambar : Type Howe Gambar : Type Bowstring

8
Gambar : Type Sawtooth Gambar : Type Baja Profil Siku

Gambar : Type Waren Gambar : Type Gabel Profil WF


Gambar 2.1 Type Kuda – kuda Baja

2.4. Tahapan Perencanaan Konstruksi Kuda – kuda Baja


Perencanaan sebuah konstruksi merupakan sebuah sistem yang sebaiknya
dilakukan dengan tahapan – tahapan tertentu agar konstruksi yang dihasilkan
sesuain dengan tujuan yang ingin dicapai. Adapun tahapan – tahapan yang
dimaksud adalah :
1. Tahapan pra-perencanaan
Terdiri dari gambar – gambar atau sketsa dan merupakan outline dari bagian
dan perkiraan biaya bangunan (RAB).
2. Tahapan perencanaan, meliputi :
a. Perencanaan bentuk arsitektur bangunan
b. Perencanaan struktur bangunan
c. Perencanaan Mekanikal Elektrikal, dan fasilitas pendukungnya.
Namun pada laporan akhir ini akan dibatasi hanya pada perncanaan struktur
atap baja.
2.5. Dasar – dasar Perencanaan
Dalam perencanaan bangunan penulis berpedoman pada peraturan –
peraturan yang telah ditetapkan dan berlaku di Indonesia. Peraturan yang
digunakan adalah :

9
1. Perencanaan Struktur Baja dengan Metode LRFD (Berdasarkan SNI 03 – 1729
– 2002) oleh Agus Setiawan. Dalam buku ini menjelaskan contoh perhitungan
struktur baja, mulai dari perhitungan batang tarik, batang tekan, mendesain
serta menentukan dimensi.
2. Tata Cara Perencanaan Sturktur Baja Untuk Bangunan Gedung (SNI 03 –
1729 – 2002).
3. Pedoman Perencanaan Pembebanan Untuk Rumah dan Gedung (SNI 03 –
1727 – 1989).
4. Tabel Profil Konstruksi Baja
2.6. Perencanaan Struktur
2.6.1. Pembebanan
Beban adalah gaya luar yang bekerja pada suatu struktur.
Penentuan secara pasti besarnya beban yang bekerja pada suatu struktur
selama umur layanannya merupakan salah satu pekerjaan yang cukup
sulit. Pada umumnya penentuan besarnya beban hanya merupakan suatu
estimasi saja. Besar beban yang bekerja pada suatu struktur diatur oleh
peraturan pembebanan yang berlaku, sedangkan masalah kombinasi dari
beban-beban yang bekerja telah diatur dalam SNI 03-1729-2002 pasal
6.2.2. Beberapa jenis beban yang sering dijumpai dalam perencanaan
struktur antara lain :
a. Beban Gempa, adalah beban yang bekerja pada suatu struktur akibat
dari pergerakan tanah yang disebabkan karena adanya gempa bumi
(baik itu gempa tektonik atau vulkanik) yang mempengaruhi struktur
tersebut.
b. Beban Mati, adalah berat dari semua bagian suatu gedung / bangunan
yang bersifat tetap selama masa layanan struktur, termasuk unsur-
unsur tambahan, finishing, mesin-mesin serta peralatan tetap yang
merupakan bagian tak terpisahkan dari gedung/bangunan tersebut.

10
c. Beban Hidup, adalah beban gravitasi yang bekerja pada struktur
dalam masa layanannya, dan timbul akibat penggunaan suatu gedung.
Termasuk beban ini adalah berat manusia, perabotan yang dapat
dipindah-pindah, kendaraan, dan barang-barang lain. Karena besar
dan lokasi beban yang senantiasa berubah-ubah, maka penentuan
beban hidup secara pasti adalah merupakan suatu hal yang cukup sulit.
d. Beban Angin, adalah beban yang bekerja pada struktur akibat
tekanantekanan dari Gerakan angin. Beban angin sangat tergantung
dari lokasi dan ketinggian dari struktur.
2.6.2. Kombinasi Pembebanan
Perencanaan struktur baja mengambil kombinasi pembebanan
dalam metode LRFD sebagai berikut (SNI 03 – 1729 – 2002) :
1,4
1 , 2 D+1 , 6 L+ 0 ,5 ( L a atau H )
1 , 2 D+1 , 6 L ( L a atau H ) + ( γ L Latau 0 , 8 W )
1 , 2 D+1 , 3W +γ L L+0 , 5 ( La atau H )
1 , 2 D ± 1, 0 E+ γ L L
0 , 9 D ± ( 1 , 3 W atau 1 , 0 E )
Keterangan :
D = adalah beban mati yang diakibatkan oleh berat konstruksi
permanen, termasuk dinding, lantai, atap, plafon, partisi tetap,
tangga, dan peralatan layan tetap.
L= adalah beban hidup yang ditimbulkan oleh penggunaan gedung,
termasuk kejut, tetapi tidak termasuk beban lingkungan seperti
angin, hujan, dan lain-lain.
La = adalah beban hidup di atap yang ditimbulkan selama perawatan
oleh pekerja, peralatan, dan material, atau selama penggunaan biasa
oleh orang dan benda bergerak

11
H = adalah beban air hujan, tidak termasuk yang diakibatkan genangan
air
W = adalah beban angin.
E = adalah beban gempa, yang ditentukan menurut SNI 03–1726–1989,
atau penggantinya
dengan,
γ L=0 , 5 bila L<5 kPa , dan γ L =1 bila L ≥5 kPa.
Pengecualian: Faktor beban untuk L di dalam kombinasi
pembebanan pada persamaan 2.6-3, 2.6-4, dan 2.6-5 harus sama
dengan 1,0 untuk garasi parkir, daerah yang digunakan untuk
pertemuan umum, dan semua daerah di mana beban hidup lebih
besar daripada 5 kPa.
2.6.3. Perencanaan Batang Tarik
Penggunaan baja structural yang paling efisien adalah sebagai
bahan tarik,yaitu komponen struktur yang memikul gaya tarik antara dua
titik pada [Link] kekuatan batang dapat dimobilisasikan secara
optimal hingga mencapai keruntuhan. Bila batang tersebut harus juga
memikul momen lentur dan gaya tekan (secara bergantian dengan gaya
tarik),maka efisiensi penggunaan kekuatan batang tersebut akan
berkurang.
Komponen sturktur yang memikul gaya tarik aksial terfaktor N u,
harus memenuhi (SNI Baja 03-1729-2002) :
Nu ≤ ϕ Nn
Dengan ϕ N n adalah kuat tarik rencana yang besarnya diambil
sebagai nilai terendah di antara dua perhitungan menggunakan harga-
harga ϕ dan N n dibawah ini (SNI Baja 03-1729-2002) :
ϕ=0 , 9
N n= Ag . fy (untuk kondisi leleh)
dan

12
ϕ=0 ,75
N n= Ae . fu(untuk kondisi fraktur)
Dimana :
Ag = Luas Penampang Kotor (mm2)
Ae = Luas Efektif Penampang (mm2)
fy = Tegangan Leleh (Mpa)
fu = Tegangan Tarik Putus (Mpa)
Luas penampang efektif komponen yang mengalami gaya tarik
ditentukan dengan persamaan sebagai berikut (SNI Baja 03-1729-2002) :
Ae = AU
Dimana :
A adalah luas penampang (mm2)
U adalah faktor reduksi ¿ 1−( x / L ) ≤0 , 9
x adalah eksentrisitas sambungan, jarak tegak lurus arah gaya tarik,
antara titik berat penampang komponen yang disambung dengan bidang
sambungan (mm)
L adalah panjang sambungan dalam arah gaya tarik, yaitu jarak antara
dua baut yang terjauh pada suatu sambungan atau panjang las dalam
arah gaya tarik (mm)

2.6.4. Perencanaan Batang Tekan


Batang tekan merupakan batang dari suatu rangka [Link]
tekan searah panjang batang. Umumnya pada rangka batang, batang tepi
atas adalah batang tekan. Keruntuhan Batang Tekan :
1. Keruntuhan yang diakibatkan tegangan lelehnya dilampaui terjadi
pada batang tekan yang pendek
2. Keruntuhan yang diakibatkan oleh terjadinya tekuk, terjadi pada
batang tekan yang langsing

13
2.6.5. Metode LRFD
Desain struktur haruslah memberikan keamanan yang cukup baik
terhadap kemungkinan kelebihan beban (over load) atau kekurangan
kekuatan. Desain harus memberikan cadangan kekuatan yang diperlukan
akibat kemungkinan kelebihan beban dan kemungkinan kekuatan
material yang rendah. Oleh karena itu LRFD memberikan design factor
resistance (keamanan) dan faktor beban. Persamaan umum LRFD
dituliskan :
ϕ Rn ≥ γ o ∑ γ i .Qi
Dimana :
ϕ = Faktor resistensi
Rn = Kekuatan nominal
γ = Faktor kelebihan beban
Q = Beban (beban mati, beban hidup, beban angin)
Ruas kiri menyatakan kekuatan nominal Rn yang dikalikan oleh
factor pengurangan kapasitas (undercapacity) ϕ , yaitu bilangan yang lebih
kecil dari 1,0 untuk memperhitungkan ketidakpastian dalam besarnya
daya tahan (resistance uncertainties).
Ruas kanan merupakan jumlah hasil kali pengaruh beban Q i dan
factor kelebihan beban (overload) γ i. Jumlah hasil kali ini dikalikan
dengan faktor analisa γ o (bilangan lebih besar rai 1,0) untuk
memperhitungkan ketidakpastian dalam analisa struktur. Sebagai
perbandingan dengan filosofi perencanaan konvensionil, factor ϕ bisa
dipindah ke ruas kanan menjadi penyebut sehingga didapatkan faktor
keamanan. Berikut adalah bebepara faktor resistensi ϕ yang representafit
(SNI Baja 03-1729-2002, Tabel 6.4-2, hal 18 dari 148) :
 Batang Tarik :
ϕt = 0,90 untuk keadaan batas leleh
ϕt = 0,75 untuk keadaan batas retakan

14
 Batang tekan
ϕ c = 0,85
 Balok
ϕ b = 0,90 untuk keadaan batas leleh
 Pengelasan
ϕ = 0,90 sama untuk semua tipe kerja, yakni tarik, lentur dan
sebagainya
 Penyambung
ϕt = 0,90 untuk kekuatan tarik
ϕt = 0,75 untuk kekuatan geser

2.6.6. Perencanaan Balok Lentur


Suatu balok dengan dua tumpuan yang menerima pembebanan
akan mengalami gaya-gaya seperti momen dan geser. Oleh karena itu,
maka suatu balok harus ditinjau dari:
A. Stabilitas terhadap tekuk lateral
B. Stabilitas terhadap tekuk local flens
C. Kekuatan momen nominal
D. Kekuatan geser nominal
E. Stabilitas terhadap gaya tekan tumpu
F. Stabilitas terhadap aksi medan Tarik
G. Kekuatan terhadap interaksi geser dan lentur
A. Stabilitas Terhadap Tekuk Lokal (Local Buckling)
Sebelum memperhitungkan kekuatan momen nominal, suatu balok
harus ditinjau terlebih dahulu kestabilan lateralnya. Desain harus
memperhitungkan fakta bahwa tekuk local flens tekan atau tekuk local
badan dapat terjadi sebelum mencapai regangan tekan yang besar
diperlukan untuk menimbulkan Mp.

15
a. Keadaan Batas Tekuk Lokal

b. Keadaan Batas Tekuk Lokal Badan


Gambar 2.3 Keadaan Batas Lentur
Balok dengan dimensi yang secara lateral stabil disebut Penampang
Kompak syarat Penampang Kompak (SNI Baja 03-1729-2002, Tabel
7.5-1, hal 30 dari 148) :
bf /2
 Perbandingan lebar flens terhadap tebal flens : λ f =
tf
170 65
Tidak memenuhi λ pf = (dalam Mpa) atau λ pf = (dalam ksi)
√ fy √ fy
hw h− (2 tf )
 Perbandingan lebar web terhadap tebal web: λ w = =
tw tw
1680 640
tidak memenuhi λ pw = (dalam Mpa) atau λ pw = (dalam ksi)
√ fy √ fy
Dimana :
tf = Tebal pelat sayap (flens) penampang (cm)
bf = Lebar pelat sayap (flens) penampang (cm)

16
h w = Tinggi bersih pelat penampang (cm)
λf = Rasio kerampingan pada sayap (flens)
λ pf = Rasio kerampingan maksimum pada flens untuk elemen kompak
λ w = Rasio kerampingan pada badan (web)
λ pw = Rasio kerampingan maksimum pada web untuk elemen kompak
f y = Tegangan leleh
B. Stabilitas Terhadap Tekuk Lateral (Lateral Buckling)
Kuat komponen struktur dalam memikul momen lentur tergantung
dari panjang bentang antara dua penggekang lateral yang berdekatan.
Batas-batas bentang pengekang lateral (L) ditentukan sebagai berikut
(SNI Baja 03-1729-2002, Tabel 8.3-2, hal 38 dari 148):
1. Bentang Pendek L < Lp (Zona I)

L p=1 , 76 r y
√ E
fy
( dalam Mpa ) atau L p= 300 r y ( dalam ksi )
√ fy
dengan r y =
√ Iy
A
Untuk komponen struktur yang memenuhi L ≤ L p kuat nominal
komponen struktur terhadap momen lentur adalah M n=M p . Dalam
kasus perhitungan disini mengunakan bentang pendek. Jika L ≤ L p
maka penampang sudah kuat terhadap tekuk lateral. Jika tidak
maka perlu diberikan pengaku antara jarak sama dengan atau
kurang dari LP (SNI Baja 03-1729-2002, hal 38 dari 148).
2. Bentang Menegah L < Lp < Lr (Zona II)
Untuk komponen struktur yang memenuhi Lp < L < Lr, kuat nominal
komponen struktur terhadap lentur adalah :

[
M n=C b Mr+ ( Mp−Mr )
( Lr−L )
( Lr−Lp ) ]≤Mp

12 ,5. Mmax
dengan , C b= ≤ 2 ,3
2 ,5. Mmax+ 3 Ma +4 Mb +3 Mc

17
dimana, Mmax adalah momen maksimum bentang yang ditinjau dan
MA, MB, MC adalah momen ¼ bentang, tengah bentang dan ¾
bentang.
3. Bentang Panjang L > Lr (Zona III)
Jika Lr ≤ L penampang akan menekuk secara elastis sebelum
tercapai tegangan leleh dimanapun. Dengan bertambahnya jarak
sokongan lateral, momen tekuk menjadi lebih kecil. Jika pada balok
ini momen terus ditingkatkan, balok akan berdefleksi secara lateral
hingga mencapai momen kritis M cr . Pada situasi ini penampang
balok akan terpuntir dan flens tertekan akan bergerak secara
lateral. Momen M cr diberikan oleh tahanan torsi dan tahanan
warping balok.
Untuk komponen struktur yang memenuhi Lr ≤ L , kuat nominal
komponen struktur terhadap lentur adalah M n=M cr ≤ M P .
C. Kekuatan Momen Nominal
Persyaratan kekuatan untuk balok pada sesain faktor beban dan
resistensi menurut LRFD dapat dinyatakan sebagai berikut :
ϕb M n ≥ M u
Dimana :
ϕ b = Faktor resistensi (yakni reduksi kekuatan) untuk lentur = 0,90
M n = Kekuatan momen nominal
M u = Momen beban layanan terfaktor
Untuk penampang kompak,
M n=M p=Z . fy
Dimana :
M p = Kekuatan nominal plastic
Z = Modulus plastic
fy = Tegangan leleh yang ditentukan

18
Gambar 2.4 Distribusi Tegangan pada berbagai tahap

Gambar 2.5 Diagram tegangan dan regangan


D. Kekuatan Geser Nominal
Dalam keadaan terlentur, suatu balok akan mengalami gaya geser.
Gaya geser terbesar terjadi pada sumbu balok tersebut.

Gambar 2.6 Perilaku Balok dalam gaya geser


Kuat geser nominal (Vn) pelat badan harus diambil seperti yang
ditentukan dibawah ini (SNI Baja 03-1729-2002, hal 45 dari 148) :

19
 Untuk Zona I : h ≤1 , 10
tw
Kn . E
fy √
Maka kekuatan geser nominal pelat badan, ϕ .V n=0 , 6 fy . A w
Dimana :
V n = Kekuatan nominal dalam geser
A w = Luas badan
fy = Tegangan leleh

 Untuk Zona II : 1 ,10


√ Kn. E h
fy
≤ ≤ 1, 37
tw √
K n. E
fy
Maka kekuatan geser nominal pelat badan,

[ √ ]
ϕ .V n=0 , 6 fy . A w 1 , 10
Kn . E 1
fy ( h/tw )

 Untuk Zona III : 1 ,37


√ Kn . E h
fy

tw
Maka kekuatan geser nominal pelat badan,
0 , 9. A w . K n . E
ϕ .V n= 2
( h/t w )
5
dengan K n =5+
( a/h )2
Dimana :
K n = 5 apabila tidak dipasang pengaku vertikal
h = tinggi balok berdinding penuh (cm)
tw = tebal pelat badan (cm)
a = jarak antara dua pengaku vertikal (cm)
A w = luas pelat badan (cm2)
Dalam perencanaan harus diperhitungkan :
ϕ .V n ≥ V u
Dengan :
ϕ = faktor reduksi (yakni reduksi kekuatan) untuk geser = 0,90
V u = beban geser layanan terfaktor

20
E. Stabilitas terhadap gaya tekan tumpu
Bila beban terpusat dikenakan pada balok yang terletak pada tumpuan
reaksi dari flens balok pada sambungan ke kolom, pelelehan setempat
akan terjadi didekat beban terpusat tersebut dari tegangan tekan yang
tinggi yang diikuti tekuk tak elastic pada daerah badan yang
berdekatan dengan rumit filet.

Gambar 2.7 Balok yang menerima gaya tekan tumpu


F. Stabilitas terhadap aksi medan tarik (tension field action)
Gelagar pelat biasanya didesain dengan disertai pengaku antara
(intermediate stiffener) seperti terlihat pada gambar dibawah ini.
Kedua parameter stabilitas untuk badan gelagar adalah h/tw dan a/h.
Tekuk yang diakibatkan geser dapat dihindari bila parameter-
parameter stabilitas ini dipertahankan cukup rendah atau tegangan
geser dapat dipertahankan dibawah tegangan tekuk kritis τcr. Karena
balok tempa dimiliki rasio h/tw yang rendah, tekuk yang diakibatkan
geser tidak akan terjadi. Bila jarak antar pengaku a membuat a/tw
cukup rendah dan ukurannya cukup memungkinkan, mereka bekerja
sebagai elemen vertical tekan dalam sebuah rangka (truss). Kekuatan
paska tekuk (aksi medan tarik) akan tersedia dan dapat dimanfaatkan
dalam desain.

21
Gambar 2.8 Aksi medan tarik
Jika h /t w ≤260 dan V n ≤C v ( 0 , 6 f y ) . A w maka penggaku tidak diperlukan.
Persamaan diatas logisnya berlaku untuk situasi-situasi dengan dan
tanpa pengaku antara bila sasarannya adalah untuk mencegah tekuk
yang diakibatkan oleh geser (SNI Baja 03-1729-2002, hal 47 dari 148).
Ada 2 kuat tekuk geser (Vn) :
 Kuat tekuk geser elasto – plastis
Kuat tekuk geser elasto-plastis pelat badan :

[
V n=0 ,06. f y . A w C v +
( 1−C v )
1, 15. √ ( 1+ ( a/h ))
2
]
DenganC v =1 , 10.

 Kuat tekuk geser elastis


√ √ K n . E /f y
( h/t w )

Kuat tekuk geser elastis :

[
V n=0 ,06. f y . A w C v +
( 1−C v )
1, 15. √ ( 1+ ( a/h ))
2
]
Kn . E 1
DenganC v =1 , 5. .
f y ( h/t w )2

G. Kekuatan terhadap interaksi geser dan lentur


Menurut peraturan SNI 03-1729-2002, Jika momen lentur dianggap
dipikul oleh seluruh penampang, maka balok harus direncanakan
untuk memikul kombinasi lentur dan geser yaitu :

22
Mu Vu
+0,625 ≤ 1,375
ϕ Mn ϕVn

2.6.7. Sambungan
Sambungan memegang peranan penting pada setiap struktur
baja,baik dalam desain elastic maupun [Link] suatu keruntuhan
struktur lebih sering diakibatkan oleh sambungan dari pada oleh batang
itu sendiri. Dalam desain plastis sambungan harus memungkingkan suatu
struktur untuk mencapai kapasitas momen plastis penampangnya. Dari
uraian sebelumnya, telah kita ketahui bahwa momen plastis sering
terletak pada pertemuan dua batang atau lebih. Hal ini dapat di capai
dengan adanya teknik penyambungan modern, baik dengan
menggunakan las, las sebagian baut, ataupun paku keling.
Selain momen, gaya aksial maupun gaya lintang yang bekerja pada
pelat badan juga perlu ditinjau agar sesuai dengan perencanaan. Pelat
badan ini harus di desain agar dapat memberikan kekuatan yang cukup
terhadap bahaya tekuk akibat, Gaya lintang (shear) : gaya tekan diagonal
yang berasal dari garis gaya geser. Dan thrust : gaya tekan terpusat yang
bekerja di pelat badan pengaku (stiffner) sering diperlukan untuk
menghindari bahaya tekuk semacam ini ataupun untuk menjaga
kontinuitas bagian sayap penampangnya.

Gambar 2.9 Pelat badan sambungan


A. Teori sambungan pada titik simpul
1. Kontrol daerah panel
- Kuat geser nominal pelat badan (Vn)

23
V n=0 ,6. f y . A w (SNI 03-1729-2002,
[Link].8.8.3)
Dimana :
f y = Tegangan leleh baja
A w = Luas kotor pelat badan
- Kuat geser daerah panel harus memenuhi syarat
V u ≤ ϕV n (SNI 03-1729-2002,
[Link].8.8.2)
Dimana :
V u = Tegangan geser terfaktor
ϕ = Faktor reduksi kekuatan
V n = Tegangan geser nominal
2. Perhitungan jumlah baut
- Kuat geser nominal baut
b
ϕR n=ϕ f . r 1 . f u . Ab (SNI 03-1729-2002, [Link].[Link])
Dimana :
r1 = 0,5 untuk baut tanpa ulir pada bidang geser
r1 = 0,4 untuk baut dengan ulir pada bidang geser
ϕf = Faktor reduksi kekuatan untuk fraktur (0,75)
b
f u = Tegangan tarik putus baut
Ab = Luas bruto penampang baut pada daerah berulir
- Kuat nominal baut dalam tarik
b
ϕR n=ϕ f .0 ,75. f u . Ab (SNI 03-1729-2002, [Link].[Link])
Dimana :
ϕf = Faktor reduksi kekuatan untuk fraktur (0,75)
b
f u = Tegangan tarik putus baut
Ab = Luas bruto penampang baut pada daerah berulir

24
- Kuat nominal tumpu baut
ϕR n=2 , 4. ϕ f .d b . t p . f u (SNI 03-1729-2002, [Link].[Link])
Dimana :
d b = Diameter baut nominal pada daerah tak berulir
tp = Tebal bagian yang disambung
f u = Kekuatan tarik dari bahan plat
- Jumlah baut
Dalam kasus ini, jumlah baut kita rencanakan [Link] kita
menentukan jumlah dan susunannya, perlu kita mengontrol
kekuatannya. Ada dua cara yang dipergunakan dalam perhitungan
jumlah baut. Keduanya perlu untuk diketahui perencana.
Jarak baut tepi
1 ,5 d ≤ s ≤ 3 d
Jarak antar baut
2 , 5 d ≤ s ≤7 d
- Kontrol kuat tarik yang terjadi
 Cara plastis

Gambar 2.10 Penentuan jarak baut (cara plastis)


Daerah Tarik (sama dengan daerah tekan) sejarak a dari ujung
Asumsi : 0 < a < (h – d3) cm
Kuat tarik baut
b
Rn =n1 . f u .0 , 75. A b
b 1 2
f y . a . b=n1 . f u .0 ,75. π d . n2
4

25
Dimana :
n1 = Jumlah baut dalam 1 baris
n2 = Jumlah baut dalam kolom
Kontrol a
b 1 2
n1 . f u .0 , 75. π d . n2
4
a=
f y .b
 Cara elastis

Gambar 2.11 Penentuan jarak baut (cara elastis)


Dengan statis momen pada serat atas, diperoleh :

a=
√ ( a+d 1 ) + ( a+d 2 ) + ( a +d 3 )

2
b
. n1 . π . d b 2

a .b
I= + ∑ n1 . A b . d a 2
3
Mu . A b . d a
T=
I
b
Rn =1/2. f u .0 , 75. A b >T
- Tegangan geser gaya geser
Gaya geser yang diterima 1 baut :
Vu
V baut = ≤ ϕR n
n

Tegangan geser yang diterima 1 baut :

26
V baut
f uv = ≤f
A baut v baut
- Kontrol kombinasi geser dan tarik
V u <V d ( ¿ ϕ V n ) (SNI 03-1729-2002, [Link].[Link])
V d =ϕ V n=1 , 13. ϕ . μ .m .T b
Dimana :
ϕ = 1 untuk lubang standar
μ = koefisien gesek = 0,25
m = jumlah bidang geser
T b = gaya tarik baut minimum
Kombinasi geser dan tarik pada sambungan tipe ftriksi :

[
V d =ϕ .V n . 1−
Tu
]
1 , 13.T b
≥Vu (SNI 03-1729-2002, [Link].[Link])

Dimana :
T u = gaya tarik terfaktor
T b = gaya tarik baut minimum

27
FLOWCHART PERENCANAAN GORDING

Gambar 2.12 Flowchart Perencanaan Gording

28
FLOCHART PERENCANAAN KUDA – KUDA

Gambar 2.13 Flowchart Perencanaan Kuda – kuda

29
FLOCHART PERENCANAAN KOLOM

Gambar 2.14 Flowchart Perencanaan Kolom

30
FLOCHART PERENCANAAN SAMBUNGAN

Gambar 2.15 Flowchart Perencanaan Sambungan

31

Anda mungkin juga menyukai