BERA
(Brainstem Evoked Response Audiometry)
BERA suatu pemeriksaan untuk menilai fungsi fungsi N. VIII sampai ke batang otak. Merekam potensial listrik yang dikeluarkan oleh akibat rangsang suara selama perjalanannya, mulai dari telinga inti-inti tertentu di batang otak. Dapat memberikan informasi keadaan neurofisiologi dan pusat yang lebih tinggi. Sangat bermanfaat, dapat digunakan pada : bayi anak dengan gangguan sifat dan tingkah laku intelegensia rendah cacat ganda kesadaran menurun pendengaran dan sel-sel kokhlea dalam sampai ke dan neuroanatomi
BERA hanya mengukur ada tidaknya respon elektrik terhadap rangsang bunyi di daerah batang otak, harus selalu dikonfirmasikan dengan pemeriksaan konvensional lainnya (audiogram).
instrumen BERA
1.
Proses penenrusan rangsang suara (Stimulus section), terdiri dari Click waveform generator, callibrated attenuator, earspeaker. 2. Pengerasan/amplifikasi (Low level analog section) : Pre-amplifier, postamplifiers, filters. 3. Proses penghitungan sinyal (Digital section) : A-D Converter, Averager, Storage memory, D-A converter. 4. Penampilan gambar/bagan (display section) : Ossiloscope dan Plotter
Cara Pemeriksaan BERA
Dilakukan di ruangan yang tenang, memakaipendingin ruangan, terlindung dari medan elektrik Pasien tidur telentag, bila perlui beri sedasi Menggunakan elektroda permukaan Rangsang diberikan melalui headphone Intensitas dimulai dengan 80 dB, kemudian diturunkan tiap 10 dB atau sampai tercapai ambang dengar Rangsang suara yang diberikan dalam jumlah 20 per detik Reaksi yang didapat adalah hasil rangsangan 2000 sweep melalui alat averager
Faktor Yang Mengganggu Hasil Pencatatan BERA
1. 2. 3. 4. 5. Energi bising miogenik (pada frekuensi 50-250 Hz) Jenis kelamin Usia Status neurologik Intensitas suara yang diberikan
Parameter Penilaian Hasil BERA
1. 2. 3. 4. 5. Pada orang dewasa tercatat 7 gelombang potensial listrik. Lima gelombang pertama merupakan gelombang terpenting : Gelombang I berasal dari N. VIII Gelombang II dari nukleus kokhlearis Gelombang III dari kompleks olivari superior (Setinggi pons) Gelombang IV dari lemniskus lateralis Gelombang V berasal dari bagian kolikulus inferior setinggi tengah (midbrain)
otak
bagian
KTT-172
Mira Yulianti (01-107)
Gelombang talamokortikal.
VI
dan
VII
diketahui
berasal
dari
setinggi
talamus
dan
1. 2. 3. 4. 5.
Bentuk gelombang dianalisis dan dikelompokkan dengan melihat parameter : Masa laten absolut (absolut latency), yaotu waktu yang diperlukan mulai dari saat pemberian rangsang suara sampai timbul gelombang. Beda masing-masing masa laten antar gelombang (Inter Peak Latency/IPL) antara Gelombang I-III, I-V, dan III-V Beda masa laten absolut telinga kanan dan kiri terutama pada gelombang V Beda masa laten pada penurunan intensitas Rasio amplitudo gelombang V/I, yaitu rasio antara nilai puncak ke puncak gelombang V dan gelombang I
A. Bidang Pediatrik Untuk screening, terutama bayi lahir dengan resiko tinggi Untuk menilai fugnsi pendengaran pada anak dengan gangguan bicara Gelombang yang terlihat hanya : Gelombang I, III dan V Pada bayi prematur sering terdapat kelainan BERA yang akan membaik sesuai dengan bertambahnya usia Sebaiknya dilakukan pemeriksaan ulang jika bayi telah berusia 6 bulan B. Bidang Audiologi dan Otologi Gangguan pendengaran perifer perubahan gambaran BERA Tuli konduktif perlambatan masa laten absolut gelombang ; kurva masa laten-intensitas bergeser ke kanan yang paralel dengan bentuk kurva normal Kerusakan koklea gambaran fenomena rekruitmen Tuli koklea ringan atau sedang gambaran normal pada intensitas tinggi Tuli koklea berat gambaran rekruitmen tak komplit (incomplete recruitment) Pada tuli koklea berat gelombang V masih dapat diidentifikasi meskipun gelombang lainnya tidak terlihat C. Bidang Neurologi Untuk mengevaluasi fungsi batang otak Membantu menemntukan lokasi tumor otak Hambatan hantaran gelombang I-III lesi di regio pons-medula Hambatan hantaran gelombang III-V lesi di otak tengah (midbrain)-pons Sensitivitas 90% mendiagnosis neuroma akustik Massa tumor > 3 cm sensitivitas 100% Membantu mendiagnosis multiple scleroma
Aplikasi Klinik BERA
KTT-172
Mira Yulianti (01-107)