0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
3 tayangan8 halaman

Hukum Islam dan Wanita Karir BMT NU

Diunggah oleh

achmadsr95
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
3 tayangan8 halaman

Hukum Islam dan Wanita Karir BMT NU

Diunggah oleh

achmadsr95
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

TINJAUAN HUKUM ISLAM TERHADAP WANITA KARIR

(Studi Kasus Pegawai BMT NU Cermee)

PROPOSAL SKRIPSI
Diajukan Untuk Program
Strata 1 (S-1) Sekolah Tinggi Ilmu Syariah Darul Falah
Bondowoso
Guna menyusun Skripsi

Dosen Pembimbing

Oleh
SYAIFUR RA’UF
NIM: 201818933015

PROGRAM STUDI HUKUM KELUARGA ISLAM


SEKOLAH TINGGI ILMU SYARIAH DARUL FALAH
BONDOWOSO
2022
PERSETUJUAN

Proposal Skripsi dengan judul “TINJAUAN HUKUM ISLAM

TERHADAP WANITA KARIR (Studi Kasus Pegawai BMT NU


Cermee)” yang ditulis oleh Syafur Ra’uf ini, telah disetujui untuk diuji
dalam forum seminar proposal skripsi.

Bondowoso,
Pembimbing I

Usman, [Link]., M.H.


NIP. 2111018706

Bondowoso,
Pembimbing II

Musram Doso, S.H., M.H.


NIP.
PENGESAHAN

Proposal Skripsi dengan judul “TINJAUAN HUKUM ISLAM

TERHADAP WANITA KARIR (Studi Kasus Pegawai BMT NU


Cermee)” yang ditulis oleh Syaifur Ra’uf, telah diseminarkan dan
disetujui untuk dijadikan acuan pelaksanaan penelitian dalam rangka
menyusun skripsi.

Bondowoso,
Pembimbing I

Usman, [Link]., M.H.


NIP. 2111018706

Bondowoso,
Pembimbing II

Musram Doso, S.H., M.H.


NIP.
DAFTAR ISI

HALAMAN SAMPUL......................................................................................................i
HALAMAN JUDUL..........................................................................................................i
PERSETUJUAN...............................................................................................................ii
PENGESAHAN...............................................................................................................iii
ABSTRAK.......................................................................................................................iv
DAFTAR ISI.....................................................................................................................v
A. JUDUL PENELITIAN...........................................................................................1
B. KONTEKS PENELITIAN.....................................................................................1
C. FOKUS KAJIAN....................................................................................................4
D. TUJUAN KAJIAN.................................................................................................5
E. MANFAAT KAJIAN.............................................................................................5
F. DEFINISI ISTILAH...............................................................................................6
G. KAJIAN PUSTAKA..............................................................................................7
1. Penelitian Terdahulu...........................................................................................7
2. Kajian Teori......................................................................................................10
3. Kerangka Konseptual........................................................................................35
H. Metode Penelitian.................................................................................................35
I. SISTEMATIKA PENULISAN............................................................................37
DAFTAR RUJUKAN.....................................................................................................39
A. JUDUL PENELITIAN
TINJAUAN HUKUM ISLAM TERHADAP WANITA KARIR ( Studi Kasus Pegawai
BMT NU Cermee)

B. KONTEKS PENELITIAN
Salah satu prinsip dasar ajaran Islam adalah persamaan manusia, baik laki-laki
maupun perempuan, kebangsaan, kebangsaan dan asal usul. Perbedaan mereka di hadapan
Tuhan Yang Maha Esa hanya terletak pada nilai ketakwaan dan ketakwaan mereka. 1
Banyak ayat Al-Qur'an yang menunjukkan bahwa laki-laki dan perempuan setara sebagai
manusia, terutama secara spiritual.

Toha Husein dalam bukunya al-Fitnatu al-Kubra menjelaskan tiga prinsip dasar yang
dibawa oleh Nabi Muhammad SAW, yaitu keadilan (al-bahwa Islam sangat menjunjung
tinggi nilai-nilai keadilan dan kesetaraan dalam menjaga status wanita. Allah SWT. . suami
malas adalah pemimpin dalam rumah, untuk istri dan anak-anaknya, karena Allah swt.
menjadikannya pemimpin yang bijaksana karena Tuhan memberikan prioritas dan
suaminya adalah pencari nafkah. Oleh karena itu, laki-laki memiliki beberapa hak atas
perempuan yang harus selalu dijaga dan dipenuhinya. Allah SWT diriwayatkan oleh Q.S
an-Nisa (4)/3

‫َو ٰا ُتوا ال ِّن َس ۤا َء َص ُد ٰق ِت ِه َّن ِن ْح َل ًة ۗ َف ِا ْن ِط ْب َن َل ُك ْم َع ْن َش ْي ٍء ِّم ْن ُه َن ْف ًسا َف ُك ُل ْو ُه َه ِن ْۤي ًٔـا َّم ِر ْۤي ًٔـا‬

Dan berikanlah maskawin (mahar) kepada perempuan (yang kamu nikahi) sebagai
pemberian yang penuh kerelaan. Kemudian, jika mereka menyerahkan kepada kamu
sebagian dari (maskawin) itu dengan senang hati, maka terimalah dan nikmatilah
pemberian itu dengan senang hati. Q.S an-Nisa (4)/34:

Pada dasarnya, Islam menjunjung tinggi harkat dan martabat perempuan,


menempatkannya sejajar dengan laki-laki. merujuk pada laki-laki dan perempuan secara
tidak seimbang, dan bahwa lebih mengutamakan laki-laki daripada perempuan. Khusus
dalam masalah hukum laki-laki mendapat hak yang lebih banyak dari perempuan, seperti
warisan, wali, sertifikasi dan imam shalat.

Didasarkan pada pemahaman teks-teks hadits, termasuk asal-usul penciptaan wanita


kapasitas intelektual dan spiritual wanita yang lemah, Pada dasarnya, Islam menjunjung
tinggi harkat dan martabat perempuan, menempatkannya sejajar dengan laki-laki. Tetapi
komunitas Muslim memahami bahwa ayat merujuk pada laki-laki dan perempuan secara
tidak seimbang, dan bahwa lebih mengutamakan laki-laki daripada perempuan. Khusus
dalam masalah hukum, laki-laki mendapat hak yang lebih banyak dari perempuan, seperti
warisan, wali, sertifikasi dan imam shalat. didasarkan pada pemahaman teks-teks hadits,
termasuk asal-usul penciptaan wanita, kapasitas intelektual dan spiritual wanita yang
lemah. Seiring dengan berubahnya cara pandang masyarakat terhadap peran dan posisi
kaum wanita di tengah-tengah masyarakat, maka kini sebagaimana kaum pria banyak kaum
wanita yang berkarir, baik di kantor pemerintah maupun swasta bahkan ada yang berkarir
di bidang kemiliteran dan kepolisian, sebagaimana pria. Dalam kehidupan modern banyak
wanita dapat bekerja dan berkarir dimana saja selagi ada kesempatan. Ada yang berkarir
dalam hukum dan jaksa. Ada yang terjun di bidang ekonomi, seperti menjadi pengusaha,
pedagang, kontraktor dan sebagainya. Ada pula yang bergerak di bidang sosial budaya dan
pendidikan, seperti menjadi dokter, arsitek, artis, penyanyi, sutradara, guru, dan lain-lain.

Informasi di atas menunjukkan besarnya peran perempuan dalam dunia kerja namun
dunia kerja sangat tidak ramah terhadap perempuan, salah satunya menempatkan mereka
pada posisi kedua, misalnya pabrik sepatu, dimana perempuan hanya harus meletakkan.
pada sepatu dalam kotak. Tugas utama atau penting perusahaan selalu berada di tangan
laki-laki.

Perempuan ditempatkan pada posisi sekunder karena dianggap perempuan pada


umumnya lebih pasif dan memiliki kemampuan intelektual yang lebih lemah dibandingkan
laki-laki. Hasilnya adalah pekerjaan yang hanya membutuhkan perawatan, ketelitian dan
kebersihan, dan biasanya hanya satu jenis pekerjaan yang dikerjakan setiap hari selama
bertahun-tahun.

Pandangan yang merendahkan perempuan banyak mempengaruhi mereka dalam


kehidupan kerja mereka, misalnya harus menanggung pelecehan seksual ketika mereka
bekerja dengan rekan kerja atau atasan, gaji rendah yang mereka peroleh di karenakan
wanita mengalami haid, hamil, melahirkan, sehingga tidak bisa bergerak sebanyak
mungkin. Perusahaan tidak menyediakan asuransi kesehatan yang memadai bagi
perempuan, bahkan jika ada, tidak semua perempuan mendapatkannya. Ada yang harus
bekerja untuk menambah penghasilan keluarga atau bahkan menjadi tulang punggung
keluarga atau sekedar untuk menunjukkan eksistensinya. Terakhir memahami, bisa
melakukan apa saja yang dilakukan pria. Dalihnya, kesetaraan jender.
Fenomena perempuan bekerja sebenarnya bukan hal baru di masyarakat. Di Indonesia
sebagai negara berkembang sebenarnya terdapat wanita yang bekerja untuk memenuhi
kebutuhan rumah tangga, baik itu merawat sawah, membuka warung di rumah atau usaha
lainnya. Namun, kebanyakan orang percaya bahwa wanita pada posisi di atas tidak
termasuk dalam kategori wanita bekerja atau karir. Alasannya karena pemahaman
masyarakat kita tentang kerja atau karir identik dengan kerja kantoran. Bahkan, di mana
dan kapan orang ini bekerja, Anda dapat menelepon bahwa mereka memiliki pekerjaan
atau karier, dan pekerjaan itu harus tetap dihargai, bukan hanya dari berapa gaji dan berapa
penghasilannya. Dengan berjalannya waktu dan modernisasi di bidang yang berbeda,
banyak terjadi perubahan model bisnis dan aktivitas perempuan dan juga mempengaruhi
ideologi dan pemikiran serta pandangan perempuan tentang peran yang mereka miliki di
masa lalu. Padahal sebelumnya perempuan hanya hidup di rumah dan hanya melakukan
Sekarang banyak dari wanita berada di tangga karir dan mandiri secara ekonomi. Tentu
saja peran daerah asal tidak lagi harus diselaraskan, karena perempuan saat ini lebih kritis
dalam menuntut dan menuntut haknya, termasuk hak untuk berpartisipasi aktif dalam
kegiatan politik.

Bahkan hingga kini, posisi perempuan dalam kancah politik sudah cukup mendapat
pengakuan di masyarakat. Bahkan banyak wanita yang mengenyam pendidikan tinggi dan
menduduki jabatan-jabatan yang srategis dalam [Link] banyak hak
perempuan yang dilindungi oleh UU No. 13 dari pekerja sejak tahun 2003, sebagian besar
kurang memperhatikan masalah khusus pekerja perempuan formal. Masalah umum bagi
perempuan di sektor publik adalah kecenderungan perempuan untuk terdegradasi ke
pekerjaan dengan upah rendah, kondisi kerja yang buruk dan tidak ada keamanan kerja.
Meskipun isu perempuan bekerja bukanlah fenomena baru, tampaknya perdebatan masih
berlangsung. Namun masyarakat masih memandang keluarga ideal sebagai laki-laki yang
bekerja di luar rumah dan perempuan di rumah, berbagi pekerjaan di rumah

Menurut MA Ahmad Zahra Al-Hasany, Islam memiliki aturan yang jelas bagi laki-
laki dan perempuan. Islam telah memberikan hak kepada perempuan dan laki-laki. Selain
membolehkan wanita untuk mengelola pertanian, industri dan perdagangan, mereka juga
mengelola dan mengembangkan bisnis mereka [Link] memungkinkan wanita untuk
berpartisipasi dalam tuntutan hukum, memilih penguasa, berpartisipasi dalam politik,
ekonomi, dll. . Namun Islam tidak mengabaikan peran wanita sebagai ibu dari keluarga
dan bahwa mereka bertanggung jawab atas apa dan siapa yang ada di dalam rumah.

Mereka ikut bekerja dengan giat, baik untuk mendapatkan imbalan maupun karena
tuntutan profesinya demi mencapai kemajuan dalam jabatan meskipun kadangkala tidak
diimbangi dengan peningkatan upah. Mereka sadar bahwa dalam pembangunan dan
mereka wujudkan partisipasi itu dengan bekerja. Saat ini dikenal ada tiga tipe wanita yang
dikenal di sektor publik, yaitu wanita bekerja atau pekerja wanita, tenaga kerja wanita, dan
wanita karir yang mengembangkan bakat dan potensinya. Ketiga tipe wanita tersebut sibuk
bekerja menghabiskan waktunya dengan pekerjaan walaupun walaupun tujuan dan caranya
kadangkala berbeda.
Wanita bekerja/wanita pekerja orientasi kerjanya untuk mendapatkan imbalan atau
upah kadangkala tidak, tenaga kerja wanita adalah wanita yang mampu melakukan
pekerjaan di dalam maupun di luar hubungan kerja untuk memenuhi kebutuhan
masyarakat. sedangkan wanita karir orientasi kerjanya demi mendapatkan perbaikan dalam
bidang kerja walaupun kadangkala tidak dibarengi dengan penambahan penghasilan yang
terpenting ada kenaikan jabatan
Berdasarkan observasi awal yang dilakukan di Kecamatan Rappocini Kota Makassar,
ditemukan sebagian besar masyarakat wanitanya bekerja sebagai wanita karir sebut saja
seperti dokter, dosen, guru dan lain-lain. Mereka bekerja seakan tidak ada waktu yang
pasti.
Berdasarkan fenomena di atas, peneliti tertarik untuk mengkaji perempuan karir yang
tidak akan pernah lepas dari pembicaraan mengenai wanita dan kedudukannya. Sedangkan
kajian tentang wanita Karir dalam Islam termasuk hal yang sangat urgen dan sensitif;
dimana persoalan wanita termasuk persoalan dalam masyarakat, sedang persoalan
masyarakat adalah juga persoalan umat dan Negara.

Anda mungkin juga menyukai