0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
11 tayangan21 halaman

Pengembangan Literasi di Sekolah Dasar

bab 2

Diunggah oleh

Suci Muliani
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
11 tayangan21 halaman

Pengembangan Literasi di Sekolah Dasar

bab 2

Diunggah oleh

Suci Muliani
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB II

LANDASAN TEORITIS

A. Pengembangan Budaya Literasi di Sekolah Dasar

Pengembangan budaya literasi di sekolah merupakan suatu upaya


sistematis dan berkelanjutan untuk menumbuhkan minat baca, menulis, dan
berpikir kritis pada seluruh warga sekolah. Ini melibatkan seluruh komponen
sekolah, mulai dari siswa, guru, hingga orang tua, dalam menciptakan
lingkungan yang kondusif untuk kegiatan literasi. Tujuan utama dari
pengembangan budaya literasi adalah untuk menjadikan membaca dan menulis
sebagai bagian integral dari kehidupan sehari-hari siswa, sehingga mereka
dapat menjadi pembelajar sepanjang hayat.

Pengembangan budaya literasi di Sekolah tidak terlepas dari peran kepala


sekolah sebagai pimpinan tertinggi yang memiliki hak dalam mengeluarkan
suatu keputusan atau kebijakan tentang suatu program yang harus
diimplementasikan dalam lingkungan sekolah termasuk tentang pengembangan
budaya literasi di sekolah. Dalam pengembangan budaya literasi di sekolah,
terdapat beberapa tahapan yang dilakukan kepala sekolah,guna untuk
meningkatkan minat membaca siswa. Diantaranya adalah sebagai berikut:

1. Perencanaan Pengembangan Budaya Literasi di Sekolah Dasar.

Perencanaan pengembangan budaya literasi disekolah dasar memiliki


empat aspek utama, yaitu:

a. perumusan tujuan,
b. perumusan program,
c. penyusunan strategi, dan
d. pengelolaan sarana dan prasarana pendukung.
Perencanaan, menurut Uno (2012), adalah upaya menghubungkan
kondisi saat ini dengan kondisi yang diharapkan, yang melibatkan
penentuan tujuan, prioritas, dan program yang sesuai dengan
[Link],tujuan utama pengembangan budaya literasi di adalah
menumbuhkan kebiasaan berpikir kritis, kreatif, dan mandiri pada siswa,
sehingga mereka dapat mencapai kecerdasan intelektual yang optimal.
Tujuan ini dapat dicapai dengan menciptakan lingkungan belajar yang
stimulatif, kreatif, dan menyenangkan.

Kedua,program-program unggulan yang dirancang untuk mencapai


tujuan tersebut antara lain: layanan dongeng, waktu membaca (reading
time), kelompok membaca (reading group), percakapan bahasa Inggris,
percakapan bahasa Jawa (pachelaton), serta pemutaran film pendek bertema
pendidikan.

Ketiga,penyusunan strategi pembelajaran merupakan langkah penting


untuk memastikan bahwa program-program yang dirancang dapat diterima
dengan baik oleh siswa. Sunendar dan Iskandarwassid menyatakan bahwa
strategi yang tepat akan membantu mencapai tujuan pembelajaran secara
efektif dan [Link] pembelajaran yang digunakan di SD bertujuan
untuk meningkatkan minat baca siswa.

Keempat, Pengelolaan sarana dan prasarana pendukung


pengembangan budaya literasi di sekolah dasar dilakukan dengan baik.
Sekolah menyediakan berbagai fasilitas yang lengkap untuk menunjang
kegiatan literasi, seperti perpustakaan, taman baca, pojok baca, dan gerobak
baca. Ketersediaan sumber bacaan pun memadai, baik buku pelajaran
maupun buku nonpelajaran yang telah diseleksi dengan cermat untuk
memastikan relevansi dengan nilai-nilai pendidikan. Keberagaman sarana
dan prasarana ini sangat penting untuk menciptakan lingkungan belajar yang
kondusif dan memotivasi siswa untuk membaca..1

2. Implementasi Pengembangan Budaya Literasi di Sekolah Dasar.

Membaca adalah jendela ilmu. Dengan membaca akan memperoleh


wawasan dan pengetahuan yang luas. Beragam cara dapat dilakukan guna
menumbuhkan minat membaca pada setiap individu. Salah satu program
pemerintah yang mendukung kegiatan membaca adalah gerakan literasi
sekolah. Gerakan literasi sekolah bertujuan untuk menumbuhkan budi
pekerti peserta didik melalui pembudayaan ekosistem literasi sekolah guna
menjadikan peserta didik menjadi memiliki budaya membaca yang tinggi
serta kemampuan menulis.

Sebagaimana tujuan umum Gerakan LiterasiSekolah yaitu


menumbuhkembangkan budi pekerti peserta didik melalui pembudayaan
ekosistem literasi sekolah yang diwujudkan dalam Gerakan Literasi Sekolah
agar mereka menjadi pembelajar sepanjang hayat. Adapun program Gerakan
Literasi Sekolah diterapkan melalui 3 tahapan yaitu tahap pembiasaan, tahap
pengembangan, dan tahap pembelajaran. Beberapa penelitian menunjukkan
bahwa GLS di Indonesia baru mencapai pada tahap pembiasaan.

Dimana yang dimaksud adalah sekolah baru membiasakan siswa untuk


membaca 15 menit sebelum dilakukan proses belajar mengajar (PBM) di
kelas. Pada kegiatan ini kerjasama antara guru dan murid sangat dibutuhkan.
Pernyataan ini relevan dengan penilitian yang dilakukan olehAhmad
Syawaluddin, dkk yang menjelaskan dengan diberlakukannya program
membaca selama 15 menit sebelum PBM maka dapat meningkatkan
kemampuan siswa dalam membaca, memahami dan menganalisis suatu
bacaan yang telah di baca oleh siswa. Tingkat persentase perubahan dari
1
Muhammad,Sadli, & Baiq Arnika Saadati. "Analisis Pengembangan Budaya Literasi
dalam Meningkatkan Minat Membaca Siswa di Sekolah Dasar." Jurnal Pendidikan dan
Pembelajaran Dasar, Vol.6, no. 2 ,2019.
hasil pembiasaan tersebut meningkat 7%.Guna mencapai tujuan dari GLS
fasilitas penunjang dalam pengimplementasian GLS antara lain sumber
bacaan atau buku-buku yang relevan dengan minat baca siswa, perpustakaan
yang memadai merupakan sarana untuk tercapainya tujuan pendidikan di
sekolah.

Berdasarkan enelitian Istikomah, dkk yang menjadi faktor pendukung


keberhasilan GLS adalah relevan dengan buku pegangan yang digunakan
sebagai pendukung program gerakan literasi. Beberapa faktor penunjang
lainnya dari GLS ini adalah fasilitas yang memadai serta insfrastruktur dan
kerjasama antara guru dan siswa guna mensukseskan program Gerakan
Literasi yang ada di sekolah. Perpustakaan juga berperan penting karena
memiliki tujuan menumbuh kembangkan minat baca dan tulis, mengenalkan
teknologi informasi, membiasakan akses informasi secara mandiri,
memupuk bakat dan minat.2

Implementasi pengembangan budaya literasi di sekolah dasar merujuk


pada upaya nyata dalam mewujudkan lingkungan belajar yang kondusif bagi
tumbuh kembangnya minat baca dan menulis pada siswa sejak usia dini.
Proses ini melibatkan berbagai kegiatan, strategi, dan program yang
dirancang untuk membudayakan kebiasaan membaca dan menulis di
kalangan [Link] karena itu, berikut beberapa tahapan/fase dalam
mengembangakan budaya literasi disekolah dasar.

a. Fase Pembiasaan

Fase pembiasaan merupakan langkah paling sederhana dalam


pelaksanaan program literasi. Aktivitas dalam fase pembiasaan ini terbagi
menjadi dua strategi yaitu pembiasaanmembaca buku selama 10–15
menit serta kegiatan lain yang dapat membangun budayaliterasi dan
pengondisian fisik ramah literasi. Pada aktivitas pembiasaan membaca
2
Afrida Emelia,Hanum.”Implementasi Gerakan Literasi DiSekolah Dasar Melalu Program
Membaca Menyenagkan”,Jurnal Inspirasi Manajemen Pendidikan,Vol.9,No.5,2021.
bukuselama 10–15 menit serta kegiatan lain, sasaran utama kegiatan
pembiasaan adalah membacabuku selama 10–15 menit. Dengan
menjalankan kebiasaan membaca buku selama 10–15menit sebelum
pembelajaran terhadap peserta didik, diharapkan kegiatan tersebut dapat
menumbuhkan minat baca mereka, sehingga dapat membentuk karakter
gemar membaca.

Kondisi tersebut sesuai dengan aturan Satgas GLS Kemendikbud


yang menyatakan bahwa pembiasaan membaca buku selama 10–15 menit
bertujuan untuk menumbuhkan minat baca dalam diri warga sekolah.
Ketika minat baca telah tumbuh, maka memunculkan karakter gemar
membaca bukanlah suatu hal yang sulit. Selain kegiatan membaca buku
selama 10–15 menit sebelum pembelajaran, sekolah juga menjalankan
kebiasaan lainnya untuk menumbuhkan minat baca pada peserta didik.
Berbagai kegiatan tersebut yaitu tanya jawab ketika berbaris sebelum
masuk ke dalam kelas, menghafalkan surat pendek dalam Al-
Qur’an,Asma’ul Husna serta Pancasila.

Sejatinya untuk menerapkan minat baca tidaklah harus melalui


kegiatan membaca buku selama 10–15 menit, tetapi juga dapat
diterapkan melalui upaya pembiasaan lainnya seperti kegiatan
menghafal, tanya jawab soal, merangkum dan menceritakan kembali.
Dengan adanya kegiatan tersebut maka dapat mendorong seseorang
untuk membaca, walaupun tidak selama 10 atau 15 menit. Kondisi
tersebut sejalan dengan pendapat Suyatno dkk. Yang mengungkapkan
bahwa untuk menanamkan suatu nilai yang baik maka diperlukan
pembiasaan, dengan demikian mereka akan terbiasa untuk melakukannya
meskipun mereka berada di luar tempat di mana proses pembiasaan
tersebut telah dilakukan.
b. Fase Pengembangan

Fase pengembangan merupakan tindak lanjut dari fase pembiasaan.


Aktifitas dalam fase pengembangan terbagi menjadi dua strategi yaitu
pengembangan kemampuan literasi melalui berbagai kegiatan non
akademis serta pengupayaan lingkungan sosial dan afektif sebagai model
komunikasi dan interaksi literat. Menurut Satgas GLS Kemendikbud
aktivitas pengembangan kemampuan literasi dapat dilakukan melalui
berbagai kegiatan nonakademis seperti menulis sinopsis, berdiskusi
mengenai buku yang telah dibaca, penyelenggaraan ekstrakurikuler dan
jadwal wajib kunjung perpustakaan (jam literasi).3

1) Berbagai Macam Membaca


Pada tahapan pengembangan juga terdapat kegiatan 15 menit
membaca, dalam kegiatan 15 menit membaca sudah berjalan dengan
baik dan dilaksanakan pada awal pelajaran atau sebelum pelajaran.
Hal ini bertentangan dengan Buku Desain GLS Kemendikbud
mengatakan pada tahapan pengembangan seharusnya lima belas menit
membaca setiap hari sebelum jam pelajaran melalui kegiatan
membacakan buku dengan nyaring, membaca dalam hati, membaca
bersama, dan/atau membaca terpandu diikuti kegiatan lain dengan
tagihan non-akademik. Pelaksanaan kegiatan 15 menit membaca pada
kelas II sudah ada kegiatan menanggapi buku pengayaan yang
dilakukan di kelas.
Hal ini didukung dengan panduan desain induk GLS yang disusun
oleh Kemendikbud mengatakan bahwa pengembangan kemampuan
literasi melalui kegiatan di perpustakaan sekolah/perpustakaan

3
Priasti, S., & Suyatno, S.”Penerapan Pendidikan Karakter Gemar Membaca Melalui
Program Literasi di Sekolah Dasar”. Jurnal Kependidikan, Vol.7,No. 2, 2021.
kota/daerah atau taman bacaan masyarakat atau sudut baca kelas
dengan berbagi kegiatan.
2) Koleksi Buku Pengayaan
Koleksi buku pengayaan sudah cukup bervariasi namun buku yang
tersedia tidak pernah ganti, sehingga siswa merasa [Link]
mendownloadkan video yang berisi tentang dongeng rakyat dan
meminta meminjam buku ke perpustakaan. Hal ini sesuai panduan
GLS Kemendikbud mengatakan bahwa Tim Literasi Sekolah (TLS)
mempunyai tanggung jawab dalam memastikan ketersediaan koleksi
buku pengayaan di perpustakaan dan sudut- sudut baca di sekolah.
3) Menanggapi Buku Pengayaan
Pada pelaksanaan 15 menit membaca terdapat kegiatan
menanggapi bacaan guru kelas II dan guru kelas V yaitu membacakan
nyaring interaktif, membaca terpadu, membaca bersama, dan
membaca mandiri. Hal ini sejalan panduan GLS Kemendikbud dalam
salah satu prisip kegiatan pada tahap pengembangan bahwa kegiatan
membaca/membacakan buku di tahap ini dapat diikuti oleh tugas-
tugas menggambar, menulis, kriya, seni gerak dan peran untuk
menanggapi bacaan, yang disesuaikan denganjenjang dan kemampuan
siswa.
4) Mengapresiasi Capaian Literasi Peserta
Didik Pihak sekolah belum mengadakan kegiatan untuk
mengapresiasikan capaian literasi siswa dalam bentuk gelar seperti
duta baca. Hal ini bertentangan dengan pendapat Beers dijelaskan
pada salah satu strategi membangun budaya literasi sekolah yaitu
dapat dikembangkan dengan pengakuan atas capaian siswa sepanjang
tahun. Pemberian penghargaan dapat dilakukan saat upacara bendera
setiap minggu untuk menghargai kemajuan siswa di semua aspek.
Prestasi yang dihargai bukan hanya akademik, tetapi juga sikap dan
upaya siswa.
5) Pembentukan Tim Literasi
Kegiatan Literasi terdapat Tim Literasi Sekolah yang bernama Tim
Minat Baca. Anggota dari Tim Literasi Sekolah semua karyawan yang
ada di sekolah. Hal ini didukung Panduan GLS Kemendikbud bahwa
semua komponen warga sekolah iniberkolaborasi dalam Tim Literasi
Sekolah (TLS) di bawah koordinasi kepala sekolah dan dikuatkan
dengan SK kepala sekolah. TLS bertugas untuk membuat
perencanaan, pelaksanaan, dan asesmen program.

Fase pengembangan merupakan tindak lanjut dari fase pembiasaan.


Aktifitas dalam fase pengembangan terbagi menjadi dua strategi yaitu
pengembangan kemampuan literasi melalui berbagai kegiatan non
akademis serta pengupayaan lingkungan sosial dan afektif sebagai model
komunikasi dan interaksi literat. Menurut Satgas GLS Kemendikbud
aktivitas pengembangan kemampuan literasi dapat dilakukan melalui
berbagai kegiatan nonakademis seperti menulis sinopsis, berdiskusi
mengenai buku yang telah dibaca, penyelenggaraan ekstrakurikuler dan
jadwal wajib kunjung perpustakaan (jam literasi).

Aktivitas pengembangan kemampuan literasi melalui berbagai


kegiatan non akademis melalui berbagai macam kegiatan ekstrakurikuler.
Tidak hanya eksktrakurikuler, dalam melakukan pengembangan
kemampuan literasi sekolah juga dapat mengadakan kegiatan wajib
kunjung perpustakaan. Sekolah juga menjadwalkan kunjungan wajib
keperpustakaan bagi peserta didik. Kegiatan tersebut diharapkan dapat
membantu sekolah dalam menumbuhkan minat baca pada peserta didik.
Tidak dapat dipungkiri, adanya fasilitas perpustakaan memang sangat
membantu dalam menunjang aktivitas pembelajaran di sekolah.
Perpustakaan sekolah juga merupakan sebagai salah satu sarana
pendidikan penunjang kegiatan belajarpeserta didik yang memegang
peranan yang sangat penting dalam dalam memacu tercapainya tujuan
pendidikan di sekolah.

c. Fase Pembelajaran

Fase pembelajaran merupakan langkah yang paling akhir dalam


pelaksanaan program literasi. Sebagai langkah terakhir, fase
pembelajaran merupakan upaya mendalam penanamanpelaksanaan
program literasi. Seperti dua fase sebelumnya, dalam fase pembelajaran
ini jugaterdapat dua strategi yaitu pelaksanaan pembelajaran dengan
beragam strategi literasi dan pengupayaan sekolah sebagai lingkungan
akademis yang literat melalui pengembangan profesional tentang literasi
pada tenaga pendidik di sekolah.

Seperti pada umumnya, strategi literasi merupakan strategi


pembelajaran untuk meningkatkan kemampuan literasi pada peserta
didik. Hal tersebut tercermin dalam buku Strategi Literasi Dalam
Pembelajaran di Sekolah Menengah Pertama (Satgas GLS Kemendikbud,
2018), yang mengungkapkan bahwa penggunaan strategi literasi dalam
pembelajaran bertujuan untuk membangun pemahaman, keterampilan
menulis serta komunikasi.

Beragam strategi tersebut diterapkan melalui beberapa metode


pembelajaran seperti menjelaskan materi, meminta peserta didik untuk
membaca, merangkum,menceritakan kembali mengenai materi yang
telah dibaca, melakukan tanya jawab mengenaimateri yang telah
dipelajari serta memberi video pembelajaran dan tugas membaca pada
peserta didik. Selanjutnya, untuk menunjang kegiatan pembelajaran
dengan baik, guru jugamenggunakan beragam literatur pembelajaran.
Berbagai literatur tersebut yaitu LKPD, bukupaket, BSE/ buku guru dan
peserta didik, ensiklopedia, surat kabar serta artikel dari internet.
Seluruh kondisi tersebut sesuai dengan pernyataan dari Satgas GLS
Kemendikbud yang menyatakan bahwa guru diharapkan menggunakan
berbagai strategi literasi dalammelaksanakan pembelajaran pada semua
mata pelajaran. Pelaksanaan strategi literasi didukung dengan
penggunaan ragam teks (cetak/ visual/ digital) atau informasi lain di luar
buku pelajaran. Selain itu, kegiatan pembelajaran dengan menggunakan
referensi jugamerupakan salah satu indikator keberhasilan penerapan
karakter gemar membaca. Seperti yang dijelaskan oleh Ramly dalam
Perpusnas bahwa indikator keberhasilan penerapanpendidikan karakter
gemar membaca yaitu terdapatnya jadwal wajib kunjung perpustakaan,
saling tukar bacaan, dan pembelajaran yang memotivasi peserta didik

Fase pembelajaran merupakan langkah yang paling akhir dalam


pelaksanaan programliterasi. Sebagai langkah terakhir, fase pembelajaran
merupakan upaya mendalam penanamanpelaksanaan program literasi.
Dalam fase pembelajaran ini juga terdapat dua strategi yaitupelaksanaan
pembelajaran dengan beragam strategi literasi dan pengupayaan sekolah
sebagailingkungan akademis yang literat melalui pengembangan
profesional tentang literasi padatenaga pendidik di sekolah. Pada tahap
ini, sekolah perlu menyelenggarakan berbagaikegiatan untuk membentuk
minat baca dan meningkatkan kecakapan literasi melalui bukubuku
pengayaan dan buku teks pelajaran. Misalnya, kegiatan pembinaan
kemampuanmembaca, menulis cerita, dan mengintegrasikan kegiatan
literasi dalam tahapan pembelajaran4

B, Minat Membaca
1. Pengertian Minat Membaca
Menurut Slameto menyatakan bahwa “Minat adalah kecenderungan
yang tetap untuk memperhatikan dan mengenang beberapa kegiatan”.
Kegiatan yang diminati siswa dilakukan terus-menerus yang disertai rasa

4
Priasti, S., & Suyatno, S.”Penerapan Pendidikan Karakter Gemar Membaca Melalui
Program Literasi di Sekolah Dasar”. Jurnal Kependidikan, Vol.7,No. 2, 2021.
senang dan diperoleh rasa kepuasan. Selanjutnya menurut Khairani
menyatakan bahwa “Minat berbeda dengan bakat, minat timbul bersumber
dari pengenalan dengan lingkungan atau hasil berintraksi dan belajar dengan
lingkungannya”. Bila minat terhadap sesuatu sudah dimiliki seseorang,
maka ia akan menjadi potensi bagi orang yang bersangkutan untuk dapat
meraih sukses dibidang itu. Sebab minat akan melahirkan energi yang luar
biasa untuk berjuang mendapatkan apa yang diminatinya.
Membaca menurut Haryadi merupakan interaksi antara pembaca dan
penulis. Interaksi tersebut tidak langsung, namun bersifat komunikatif.
Komunikasi antara pembaca dan penulis akan semakin baik jika pembaca
mempunyai kemampuan yang lebih baik. Pembaca hanya dapat
berkomunikasi dengan karya tulis yang digunakan oleh pengarang sebagai
media untuk menyampaikan gagasan, perasaan, dan pengalamannya.
Dengan demikian pembaca harus mampu menyusun pengertianpengertian
yang tertuang dalam kalimat-kalimat yang disajikan oleh pengarang sesuai
dengan konsep yang terdapat pada diri pembaca.
Menurut Gondmen menyatakan bahwa membaca suatu kegiatan
memetik makna atau pengertian yang bukan hanya dari deretan kata yang
tersurat (reading the lines), melainkan makna di balik deretan yang diantara
baris (reading between the lines). Aderson dalam Tarigan mengatakan,
bahwa kegiatan membaca merupakan kegiatan mengubah tulisan atau
cetakan menjadi bunyi-bunyi yang bermakna.
Farida Rahim mengemukakan bahwa minat baca ialah keinginan yang
kuat disertai usaha-usaha seseorang untuk membaca. Seseorang yang
mempunyai minat membaca yang kuat akan diwujudkannya dalam
kesediaannya untuk mendapat bahan bacaan dan kemudian membacanya
atas kesadaran sendiri atau tanpa dorongan dari luar.
Herman Wahadaniah minat baca adalah suatu perhatian yang kuat dan
mendalam disertai dengan perasaan senang terhadap kegiatan membaca
sehingga dapat mengarahkan seseorang untuk membaca dengan
kemauannya sendiri atau dorongan dari luar. Minat membaca juga
merupakan perasaan senang seseorang terhadap bacaan karena adanya
pemikiran bahwadengan membaca itu dapat diperoleh kemanfaatan bagi
dirinya.
Dari pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa didalam minat baca
terkandung adanya unsur keinginan, perhatian, kesadaran dan rasa senang
untuk membaca. Minat baca adalah suatu kecenderungan, keinginan dalam
kegiatan membaca yang dilakukan secara terus menerus dan diikuti dengan
rasa senang tanpa paksaan, atas keinginannya sendiri atau dorongan dari
luar sehingga seseorang tersebut mengerti atau memahami yang dibacanya.
Adanya minat baca dalam diri seseorang membuat adanya rasa kurang
dalam dirinya apabila dia tidak melakukan kegiatan membaca.5

2. Faktor Yang Mempengaruhi Minat Membaca Siswa SD


Minat baca seorang dipengaruhi oleh dua faktor, yaitu fakor internal
dan faktor eksternal. Faktor internal yaitu faktor yang berasal dari dalam diri
yang meliputi motivasi, keinginan dan kebutuhan diri. Sedangkan faktor
eksternal yakni faktor yang berasal dari luar, misalnya ketersediaan fasilitas,
lingkungan, serta dorongan dari orang tua, guru dan teman. Dilihat dari
studi kasus diatas adapun faktor yang mempengaruhi minat baca siswa
yaitu:

a. Faktor Internal
Faktor internal adalah adalah faktor-faktor yang berasal dari dalam diri
siswa, yang termasuk dalam faktor internal adalah intelegensi
(kecerdasan), minat, bakat, emosi, fisik, dan sikap .Faktor internal
merupakan faktor yang berasal dari diri siswa yaitu kemampuan membaca,
memahami makna yang terkandung dalam bacaan, kurangnya
membiasakan membaca, membaca buku atas perintah guru, siswa jarang

5
Zelpamailiani. “Upaya Meningkatkan Minat Baca Siswa Sekolah Dasar Gugus IV Di
Kecamatan Koto XI Tarusan”. Workshop Inovasi Pembelajaran di Sekolah Dasar SHEs:
Conference Series, Vol. 3, No.4,2020.
mencari buku atau bahan bacaan sesuai dengan kebutuhannya, siswa yang
menyelesaikan tugas melalui internet tanpa buku.
Faktor internal faktor yang timbul dari diri siswa sendiri diantaranya
yaitu kecerdasan, minat dan perhatian, motivasi, ketekunan, sikap,
kebiasaan membaca, serta kondisi fisik dan kesehatan. Minat baca siswa
tidak akan muncul jika tidak terdapat kemauan, kesehatan, kondisi fisik,
kecerdasan, dan motivasi dari dalam siswa.
Siswa beranggapan bahwa membaca meupakan kegiatan yang tidak
menarik. Siswa yang tingkat kecerdasanya rendah akan sulit untuk
membaca sehingga berpengaruh terhadap kemauan membacanya.
Kesehatan sangat penting diperlukan siswa untuk melakukan suatu
kegiatan. Jika terdapat gangguan kesehatan pada siswa maka sulit siswa
akan membaca atau beraktivitas lain. Kondisi fisik siswa juga berpengaruh
terhadap minat baca siswa. Siswa yang terganggu kondisi fisiknya
misalnya siswa tuna netra akan sulit membaca dengan huruf [Link]
merupakan factor internal,yaitu:
1) Kurangnya kebiasaan membaca
Kurangnya kebiasaan membaca juga menjadi faktor internal
penyebab rendahnya minat membaca pada siswa. Kurangnya kebiasaan
membaca siswa diketahui dari beberapa hal yaitu siswa tidak
meluangkan waktu untuk membaca, siswa hanya membaca atas
perintah guru, siswa jarang mengunjungi perpustakaan untuk membaca
buku, dan siswa belum memiliki insiatif untuk mencari bahan bacaan
yang dibutuhkan. Kurangnya kebiasaan membaca pada siswa ini terjadi
karena dalam diri siswa belum mempunyai kesadaran tentang
pentingnya membaca buku.
2) Tingkat Keterampilan Bahasa
Tingkat keterampilan bahasa siswa juga dapat memengaruhi minat
baca mereka. Jika siswa memiliki keterampilan bahasa yang baik,
mereka mungkin lebih mudah memahami dan menikmati bahan bacaan.
Sebaliknya, jika siswa mengalami kesulitan dalam memahami teks,
mereka mungkin merasa frustrasi dan kurang termotivasi untuk
membaca.
3) Pengalaman Membaca Sebelumnya
Pengalaman membaca sebelumnya juga dapat mempengaruhi
minat baca siswa. Jika siswa telah memiliki pengalaman positif dengan
membaca, seperti menemukan buku yang menarik atau merasa
terhubung dengan cerita tertentu, mereka mungkin lebih termotivasi
untuk terus membaca.6

b. Faktor eksternal
Faktor eksternal merupakan faktor yang berasal dari luar siswa.
Perpustakaan yang seadanya, bahan bacaan yang sudah usang bahkan
beberapa tidak layak pakai, rendahnya dorongan dari guru, tidak dorongan
dari orang tua, orang tua yang tidak memfasilitasi dikarenakan ekonomi
kurang, tidak ada perhatian orang tua terhadap minat membaca anak.
kebanyakan orang tua lebih terfokus pada hasil belajar, pembiasaan
membaca yang tidak didapatkan siswa sejak kecil. Pengaruh lingkungan
dan teman bermain yang tidak terbiasa dengan membaca secara tidak
langsung akan mempengaruhi minat baca siswa. Pengaruh teknologi yang
tidak terkendali. Misalnya pengaruh smartphone atau gadget tidak
digunakan dengan bijak, pengaruh acara televisi sehingga siswa
melupakan tugasnya sebagai siswa. Bermain bersama teman
tidak mengenal waktu.
Faktor-faktor yang mempengaruhi minat membaca siswa disebabkan
oleh 10 faktor,yaitu:
1) Faktor satu diberi nama meniru orang tua, perhatian guru, mengikuti
teman sebaya, ketersediaan bacaan. Penamaan faktor dilakukan sesuai
dengan variabel yang mengelompok. Hal ini sesuai dengan pendapat
Hurlock yang menjelaskan bahwa pada umumnya, minat tumbuh antara

6
Banowati, E. N,dkk,”Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Minat Baca Siswa Kelas II Di SDN
2 Kedungsarimulyo”. Jurnal Inspirasi Pendidikan (ALFIHRIS),Vol. 1,No.4, 2023.
lain karena identifikasi dengan orang lain. Anak-anak mengambil oper
minat orang lain atau orang yang mereka kagumi dan sayangi dan juga
pola perilaku mereka.
2) Faktor dua diberi nama faktor ajakan teman sebaya, situasi kultural,
pengamalan ajaran agama. Penamaan faktor dilakukan sesuai dengan
variabel yang mengelompok. Hal ini sesuai dengan pendapat
Surya,yang menyatakan bahwa minat sesorang dipengaruhi oleh faktor
sosial, budaya, lingkungan dan spiritual.
3) Faktor tiga diberi nama faktor variasi bacaan dari guru, aturan dan
kemudahaan mendapatkan bacaan di rumah dan perintah agama.
Penamaan faktor dilakukan sesuai dengan variable yang mengelompok
Hal ini sesuai dengan yang dijabarkan oleh Purves and Beach bahwa
bahwa minat baca dipengaruhi oleh dua faktor, yaitu Faktor personal,
yaitu faktor yang berasal dari dalam diri anak itu sendiri, antara lain
umur, jenis kelamin, kecerdasan, kemampuan membaca, sikap dan
faktor psikologi anak. Faktor institusional, yaitu faktor yang berasal
dariluar diri anak, antara lain : jenis buku, status sosial, ekonomi
keluarga, teman sebaya, pengaruh guru dan orang tua dan lainnya.
4) Faktor empat diberi nama faktor kemudahaan mendapatkan bacaan.
Penamaan faktor dilakukan sesuai dengan variabel yang mengelompok.
Hal ini sesuai dengan pendapat Crow dan Crow yang menjelaskan
bahwa minat sesorang dipengaruhi oleh salah satunya faktor
lingkungan.
5) Faktor lima diberi nama faktor kelengkapan jenis bacaan dan ajaran
agama. Penamaan faktor dilakukan sesuai dengan variabel yang
mengelompok. Hal ini sesuai dengan pendapat Mohamad Surya,
yangmenyatakan bahwa minat sesorang dipengaruhi oleh faktor sosial,
budaya, lingkungan dan spiritual.
6) Faktor enam diberi nama faktor penyediaan bacaan oleh orang tua dan
ketersediaan tempat membaca. Penamaan faktor dilakukan sesuai
dengan variabel yang mengelompok. Hal ini sesuai dengan yang
dijabarkan oleh Purves and Beach bahwa bahwa minat baca
dipengaruhi oleh dua faktor, yaitu Faktor personal, yaitu faktor yang
berasal dari dalamdiri anak itu sendiri, antara lain umur, jenis kelamin,
kecerdasan, kemampuan membaca, sikap dan faktor psikologi anak.
Faktor institusional, yaitu faktor yang berasal dariluar diri anak, antara
lain : jenis buku, status sosial, ekonomi keluarga, teman sebaya,
pengaruh guru dan orang tua dan lainnya.
7) Faktor tujuh diberi nama faktor tekanan teman sebaya, kultur dan iklim
lingkungan.
8) Faktor delapan diberi nama faktor dorongan dan ketersediaan bacaan
dari guru, intensitas pergaulan dengan teman sebaya.
9) Faktor sembilan diberi nama faktor ketersediaan bacaan di rumah.
10) Faktor sepuluh diberi nama faktor dorongan orang tua. 7

3. Upaya Meningkatkan Minat Baca Siswa SD


Upaya meningkatkan minat baca perlu dibiasakan sejak awal pembelajaran
supaya siswa dapat memahami makna dari isi teks tertulis yang telah dibaca.
Membaca dapat dilakukan asalkan ada keinginan, kemauan dan dorongan
dalam diri individu siswa. Sebagai seorang guru dan orang tua sebaiknya
memberi dukungan. Bahwa kebiasaan membaca harus dimulai sejak awal
tidak??hanya??disekolah tetapi juga dirumah atau lingkungan yang dapat
memberi hal yang positif bagi siswa dan dapat memanfaatkan buku-buku
pembelajaran yang dapat meningkatkan minat baca [Link] adzim
beberapa hal yang dilakukan dalam upaya meningkatkan minat baca
diantaranya:
a. orang tua menjadi figure membaca kepada anak
b. memilih bacaan yang sesuai pada dengan anak
c. buatlah saat membaca saat dengan anak.

7
Amri, F,”Faktor-faktor yang mempengaruhi minat membaca siswa kelas V se-
Kecamatan Pandak Bantul”. Jurnal Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Vol.21,No.8, 2019.
Sedangkan menurut Astuti upaya meningkatkan minabaca dapat
dilakukan sebagai berikut:
a. motivasi orang tua dan guru
b. promosikan gerakan gemar membaca di lingkungan sekolah.
c. memberikan penghargaan untuk anak yang gemar membaca
d. pengemasan buku yang menarik.
Minat baca tidak tumbuh begitu saja namun adanya usaha-usaha tertentu
untuk membina minat baca tersebut menjadi lebih baik lagi. Meningkatkan
minat baca siswa berkaitan erat dengan kerangka tindakan AIDA (Attention,
Interest, Desire dan Action) Rasa keingintahuan atau perhatian (attention)
terhadap suatu objek (buku/teks) yang dibaca dapat menimbulkan rasa
ketertarikan atau menaruh minat padaobjek tersebut (Interest), rasa
ketertarikan akan menimbulkan keinginan dan kemauan (desire) untuk
membaca. Keiinginan tahuan yang tinggi pada diri siswa akan menimbulkan
gairah untuk terus membaca (action) sehingga siswa selalu berusaha untuk
memenuhi kebutuhanya yang dibaca dan mengerti makna dari kata- kata
yang tertulis pada teks atau [Link] Meningkatkan Minat Baca tidak
terlepas dari beberapa faktor:
[Link] Bahan Pengajaran
1) Belajar Memahami Gagasan
2) Memperkaya Kosakata
3) Belajar Menafsirkan dan Mengambil Kesimpulan
4) Memahami tujuan membaca

b. Faktor Penunjang
1) Suasana Belajar
2) Catatan Siswa
3) Kamus
4) Perpustakan sekolah
5) Perpustakaan pribadi
c. Faktor Guru
1) Guru memberikan contoh kepada siswanya bagaimana membaca yang
baik.
2) Guru Memiliki Pengetahuan Membaca yang Baik
3) Guru Membagikan Pengalaman Membacanya
4) Guru Mempersiapkan Diri dengan Baik8
Upaya meningkatkan minat baca perlu dibiasakan sejak awal pembelajaran
supaya siswa dapat memahami makna dari isi teks tertulis yang telah dibaca.
Membaca dapat dilakukan asalkan ada keinginan, kemauan dan dorongan
dalam diri individu siswa, sebagai seorang guru dan orang tua sebaiknya
memberi dukungan. Bahwa kebiasaan membaca harus dimulai sejak awal
tidak hanya disekolah menjadi tempat menumbuhkan minat baca, tetapi juga
dirumah atau lingkungan yang dapat memberi hal yang positif bagi siswa
dan apat memanfaatkan buku-buku pembelajaran yang dapat meningkatkan
minat baca [Link] Yang Berperan Dalam Meningkatkan Minat Baca:
[Link]
Keluarga adalah elemen terkecil dalam Masyarakat. Dilingkungan
keluargalah Pendidikan pertamakali dilakukan. Oleh karena itu, peran
keluarga dalam menumbuh kembangkan minat baca tidak dapat dilupakan.
Memberikan contoh langung adalah cara terbaik dalam menumbuhkan
minat membaca dalam keluarga.
[Link]
Menumbuhkan minat baca dikalangan anak didik (siswa) bukan
hanya menjadi tanggung jawab orang tua di rumah, melainkan juga
menjadi tanggung jawab pihak sekolah, tempat orang tua mempercayakan
putraputrinya untuk di didik oleh para guru dalam sebuah Dalam
menumbuhkan minat baca siswanya, pihak sekolah sebagai Lembaga
penyelenggara Pendidikan, setidaknya harus melakukan beberapa hal:

8
Zelpamailiani. “Upaya Meningkatkan Minat Baca Siswa Sekolah Dasar Gugus IV Di
Kecamatan Koto XI Tarusan”. Workshop Inovasi Pembelajaran di Sekolah Dasar SHEs:
Conference Series, Vol. 3, No.4,2020.
1) Sekolah harus menyediakan buku sebanyakbanyaknya, baik fiksi
maupun nonfiksi. Bagaimanapuns siswa akan terlecut semangatnya
untuk berlomba-lomba menjadi yang terbaik. Pihak sekolah harus
berusaha mendekatkan bukubuku bacaan yang edukatif dan bermutu
dengan siswanya.
2) Memfungsikan perpustakaan. Perpustakaan memegang peranan yang
sangat penting dalam menumbuhkan minat baca. Di perpustakaan,
siswa dapat memperoleh informasi bacaan dan berbagai referensi yang
dibutuhkan dengan cepat dan tepat. Oleh karena itu, peran perpustakaan
tetap tidak dapat dipisahkan dari dunia membaca. berkaitan dengan
peningkatan minat baca, misalnya: lomba-lomba kepenulisan, pameran
dan bedah buku, pelatihan kepenulisan dan lain-lain. Kegiatan-kegiatan
tersebut harus di kemas semenarik mungkin sehingga siswa merasa
tertarik dengan acara tersebut.
[Link]
Pemerintah juga harus ikut mendukung program peningkatan minat baca
siswa antara lain sebagai berikut:
1) Menambah jumlah perpustakaan dan judul buku disekolah.
2) Pemerintah meningkatkan anggaran Pendidikan minimal 25 persen
dari APBN sehingga dapat mewujudkan mutu dan pemerataan
Pendidikan mulai SD hingga perguruan tinggi.
3) Mendukung dan menyelenggarakan kegiatan yang berkaitan dengan
peningkatkan minat baca,misalnya: lomba-lomba
kepenulisan,pameran dan bedah buku.9

Kegiatan meningkatkan kemampuan literasi di semua mata pelajaran


bertujuan untuk mempertahankan minat baca dan kecakapan literasi melalui
buku pengayaan dan buku teks pelajaran. Kegiatan yang dapat dilakukan di
tahap pembelajaran yaitu sebagai berikut:

9
Abdul rahmat,dkk.”Upaya Meningkatkan Minat Baca Siswa SD Negri 31 Usaha
Jaya”,Jurnal Pengabdian dan Pendampingan Masyarakat,Vol.3,No.1,2022.
a. Guru mengembangkan rencana pembelajaran dengan media atau bahan ajar
b. Guru mencari metode pengajaran yang efektif dalam mengembangkan
budaya
literasi siswa (guru melakukan penelitian tindakan kelas)
c. Guru menerapkan strategi membaca (membaca terpadu, nyaring, bersama)
untuk meningkatkan pemahaman siswa terhadap materi pelajaran
d. Guru memaksimalkan pemanfaatan sarana prasarana literasi untuk proses
pembelajaran yang ada di sekolah

Tahapan pembelajaran memiliki prinsip sebagai berikut:


a. Kegiatan membaca bervariasi dengan memberi porsi yang seimbang untuk
kegiatan membaca.
b. Guru memanfaatkan buku- buku pengayaan fiksi dan nonfiksi
c. Kegiatan membaca disesuaikan dengan kemampuan literasi siswa
(kemampuan membaca dan menulis) dan tujuan kegiatan membaca.
d. Belajar berfokus pada proses, bukan hasil.
e. Kegiatan menanggapi bacaan mempertimbangkan gaya belajar siswa.
f. Guru melakukan pendampingan dan pemodelan terhadap siswa.10

10
Intan Milawati,dkk.”Analisis Budaya Sekolah Dalam Pengembangan Literasi Pada Siswa
Kelas III di SDN 2 Kandangan Barat”,Seminar Nasional Bhasa,Ssatra,Seni,dan Pendidikan
Dasar 2 (SENSASEDA),2022.

Anda mungkin juga menyukai