0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
23 tayangan9 halaman

Panduan Lengkap Subnetting Jaringan

routing
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
23 tayangan9 halaman

Panduan Lengkap Subnetting Jaringan

routing
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

Subnetting

Subnetting

Subnetting merupakan teknik memecah network menjadi beberapa subnetwork yang lebih kecil.
Subnetting hanya dapat dilakukan pada IP addres kelas A, IP Address kelas B dan IP Address
kelas C. Dengan subnetting akan menciptakan beberapa network tambahan, tetapi mengurangi
jumlah maksimum host yang ada dalam tiap network tersebut.

Beberapa alasan mengapa kita perlu melakukan subnetting, diantaranya adalah sebagai berikut:

1. Untuk mengefisienkan alokasi IP Address dalam sebuah jaringan supaya bisa


memaksimalkan penggunaan IP Address
2. Mengatasi masalah perbedaan hardware dan media fisik yang digunakan daam suatu
network, karena Router IP hanya dapat mengintegrasikan berbagai network dengan
media fisik yang berbeda jika setiap network memiliki address network yang unik.
3. Meningkatkan security dan mengurangi terjadinya kongesti akibat terlalu banyaknya host
dalam suatu network.

Berikut ini adalah analogi untuk mempermudah subnetting dengan menggunakan analogi sebuah
jalan. Jalan bernama Gatot Subroto terdiri dari beberapa rumah bernomor 01-08, dengan rumah
nomor 08 adalah rumah Ketua RT yang memiliki tugas mengumumkan informasi apapun kepada
seluruh rumah di wilayah Jl. Gatot Subroto.
Jalan

Ketika rumah di wilayah itu makin banyak, tentu kemungkinan menimbulkan keruwetan dan
kemacetan. Karena itulah kemudian diadakan pengaturan lagi, dibuat gang-gang, rumah yang
masuk ke gang diberi nomor rumah baru, masing-masing gang ada Ketua RTnya sendiri-sendiri.
Sehingga ini akan memecahkan kemacetan, efiesiensi dan optimalisasi transportasi, serta setiap
gang memiliki previledge sendiri-sendiri dalam mengelola wilayahnya. Jadilah gambar wilayah
baru seperti di bawah:

Gang

Konsep seperti inilah sebenarnya konsep subnetting itu. Disatu sisi ingin mempermudah
pengelolaan, misalnya suatu kantor ingin membagi kerja menjadi 3 divisi dengan masing-masing
divisi memiliki 15 komputer (host). Disisi lain juga untuk optimalisasi dan efisiensi kerja
jaringan, karena jalur lalu lintas tidak terpusat di satunetwork besar, tapi terbagi ke beberapa
ruas-ruas gang. Yang pertama analogi Jl Gatot Subroto dengan rumah disekitarnya dapat
diterapkan untuk jaringan adalah seperti NETWORK ADDRESS (nama jalan) dan HOST
ADDRESS (nomer rumah). Sedangkan Ketua RT diperankan oleh BROADCAST ADDRESS
([Link]), yang bertugas mengirimkan message ke semua host yang ada di network
tersebut.
Network

Masih mengikuti analogi jalan diatas, kita terapkan ke subnetting jaringan adalah seperti gambar
di bawah. Gang adalah SUBNET, masing-masing subnet memiliki HOST ADDRESS dan
BROADCAST ADDRESS.

Subnet

Subnetmask digunakan untuk membaca bagaimana kita membagi jalan dan gang, atau membagi
network dan hostnya. Address mana saja yang berfungsi sebagai SUBNET, mana yang HOST
dan mana yang BROADCAST. Semua itu bisa kita ketahui dari SUBNET MASKnya. Jl Gatot
Subroto tanpa gang yang saya tampilkan di awal bisa dipahami sebagai menggunakan SUBNET
MASK DEFAULT, atau dengan kata lain bisa disebut juga bahwa Network tersebut tidak
memiliki subnet (Jalan tanpa Gang). SUBNET MASK DEFAULT ini untuk masing-masing
Class IP Address adalah sbb:
CLASS OKTET PERTAMA SUBNET MAS DEFAULT PRIVATE ADDRESS
A 1-127 [Link] [Link]-[Link]
B 128-191 [Link] [Link]-[Link]
C 192-223 [Link] [Link]-[Link]

Host/Subnet Quantities Table

Class B Effective Effective


# bits Mask Subnets Hosts
------- --------------- --------- ---------
1 [Link] 2 32766
2 [Link] 4 16382
3 [Link] 8 8190
4 [Link] 16 4094
5 [Link] 32 2046
6 [Link] 64 1022
7 [Link] 128 510
8 [Link] 256 254
9 [Link] 512 126
10 [Link] 1024 62
11 [Link] 2048 30
12 [Link] 4096 14
13 [Link] 8192 6
14 [Link] 16384 2

Class C Effective Effective


# bits Mask Subnets Hosts
------- --------------- --------- ---------
1 [Link] 2 126
2 [Link] 4 62
3 [Link] 8 30
4 [Link] 16 14
5 [Link] 32 6
6 [Link] 64 2

Konsep subnetting dikenalkan pertama kali oleh IEFT pada tahun 1992 yang diberinama CIDR
(Classless Inter Domain Routing). Untuk mempermudah bisa dilihat pada tabel yang telah saya
buat dibawah ini :
Subnet

Pada hakekatnya semua pertanyaan tentang subnetting akan berkisar di empat masalah: Jumlah
Subnet, Jumlah Host per Subnet, Blok Subnet, dan Alamat Host- Broadcast.

Penulisan IP address umumnya adalah dengan [Link]. Namun adakalanya ditulis dengan
[Link]/24, apa ini artinya? Artinya bahwa IP address [Link] dengan subnet mask
[Link]. Lho kok bisa seperti itu? Ya, /24 diambil dari penghitungan bahwa 24 bit subnet
mask diselubung dengan binari 1. Atau dengan kata lain, subnet masknya adalah:
11111111.11111111.11111111.00000000 ([Link]). Konsep ini yang disebut dengan
CIDR (Classless Inter-Domain Routing) yang diperkenalkan pertama kali tahun 1992 oleh IEFT.

Berikut ini adalah tabel Subnet Mask yang bisa digunakan untuk melakukan subnetting:

Subnet Mask Nilai CIDR Subnet Mask Nilai CIDR


[Link] /9 [Link] /20
[Link] /10 [Link] /21
[Link] /11 [Link] /22
[Link] /12 [Link] /23
[Link] /13 [Link] /24
[Link] /14 [Link] /25
[Link] /15 [Link] /26
[Link] /16 [Link] /27
[Link] /17 [Link] /28
[Link] /18 [Link] /29
[Link] /19 [Link] /30

SUBNETTING PADA IP ADDRESS CLASS C


NETWORK ADDRESS [Link]/26 ?

Analisa: [Link] berarti kelas C dengan Subnet Mask /26 berarti


11111111.11111111.11111111.11000000 ([Link]).

Penghitungan: Seperti sudah saya sebutkan sebelumnya semua pertanyaan tentang subnetting
akan berpusat di 4 hal, jumlah subnet, jumlah host per subnet, blok subnet, alamat host dan
broadcast yang valid. Jadi kita selesaikan dengan urutan seperti itu:

1. Jumlah Subnet = 2x, dimana x adalah banyaknya binari 1 pada oktet terakhir subnet
mask (2 oktet terakhir untuk kelas B, dan 3 oktet terakhir untuk kelas A). Jadi Jumlah
Subnet adalah 22 = 4 subnet
2. Jumlah Host per Subnet = 2y – 2, dimana y adalah adalah kebalikan dari x yaitu
banyaknya binari 0 pada oktet terakhir subnet. Jadi jumlah host per subnet adalah 26 – 2 =
62 host
3. Blok Subnet = 256 – 192 (nilai oktet terakhir subnet mask) = 64. Subnet berikutnya
adalah 64 + 64 = 128, dan 128+64=192. Jadi subnet lengkapnya adalah 0, 64, 128, 192.
4. Bagaimana dengan alamat host dan broadcast yang valid? Kita langsung buat tabelnya.
Sebagai catatan, host pertama adalah 1 angka setelah subnet, dan broadcast adalah 1
angka sebelum subnet berikutnya.

[Link]
Subnet [Link] [Link] [Link]
8
Host [Link]
[Link] [Link] [Link]
Pertama 9
Host [Link] [Link] [Link]
[Link]
Terakhir 2 6 0
[Link] [Link] [Link]
Broadcast [Link]
3 7 1
Subnet Mask Nilai CIDR

[Link] /25

[Link] /26

[Link] /27

[Link] /28

[Link] /29
[Link] /30

SUBNETTING PADA IP ADDRESS CLASS B

” berdasarkan blok subnetnya. CIDR /17 sampai /24 caranya sama persis dengan subnetting
Class C, hanya blok subnetnya kita masukkan langsung ke oktet ketiga, bukan seperti Class C
yang “dimainkan” di oktet keempat. Sedangkan CIDR /25 sampai /30 (kelipatan) blok subnet
kita “mainkan” di oktet keempat, tapi setelah selesai oktet ketiga berjalan maju (coeunter) dari 0,
1, 2, 3, dst.

Subnet Mask Nilai CIDR


[Link] /17 Subnet Mask Nilai CIDR
[Link] /18 [Link] /25
[Link] /19 [Link] /26
[Link] /20 [Link] /27
[Link] /21 [Link] /28
[Link] /22 [Link] /29
[Link] /23 [Link] /30
[Link] /24

Analisa: [Link] berarti kelas B, dengan Subnet Mask /18 berarti


11111111.11111111.11000000.00000000 ([Link]).

Penghitungan:

1. Jumlah Subnet = 2x, dimana x adalah banyaknya binari 1 pada 2 oktet terakhir. Jadi
Jumlah Subnet adalah 22= 4 subnet
2. Jumlah Host per Subnet = 2y – 2, dimana y adalah adalah kebalikan dari x yaitu
banyaknya binari 0 pada 2 oktet terakhir. Jadi jumlah host per subnet adalah 214 – 2 =
16.382 host
3. Blok Subnet = 256 – 192 = 64. Subnet berikutnya adalah 64 + 64 = 128, dan
128+64=192. Jadi subnet lengkapnya adalah 0, 64, 128, 192.
4. Alamat host dan broadcast yang valid?

172.16.128.
Subnet [Link] [Link] [Link]
0
Host 172.16.128.
[Link] [Link] [Link]
Pertama 1
Host
[Link] [Link] [Link] [Link]
Terakhi
54 54 54 54
r
Broadca [Link] [Link] [Link] 172.16..255.2
st 55 55 55 55
Berikutnya kita coba satu lagi untuk Class B khususnya untuk yang menggunakan subnetmask
CIDR /25 sampai /30. Contoh network address [Link]/25.

Analisa: [Link] berarti kelas B, dengan Subnet Mask /25 berarti


11111111.11111111.11111111.10000000 ([Link]).

Penghitungan:

1. Jumlah Subnet = 29 = 512 subnet


2. Jumlah Host per Subnet = 27 – 2 = 126 host
3. Blok Subnet = 256 – 128 = 128. Jadi lengkapnya adalah (0, 128)
4. Alamat host dan broadcast yang valid?

[Link] [Link]
Subnet [Link] [Link] …
8 28
Host [Link] [Link]
[Link] [Link] …
Pertama 9 29
Host [Link] [Link] [Link] [Link]

Terakhir 6 4 6 54
Broadca [Link] [Link] [Link] [Link]

st 7 5 7 55

Masih bingung juga? Ok sebelum masuk ke Class A, coba ulangi lagi dari Class C, dan baca
pelan-pelan

SUBNETTING PADA IP ADDRESS CLASS A


Kalau sudah mantab dan paham, kita lanjut ke Class A. Konsepnya semua sama saja.
Perbedaannya adalah diOKTET mana kita mainkan blok subnet. Kalau Class C di oktet ke 4
(terakhir), kelas B di Oktet 3 dan 4 (2 oktet terakhir), kalau Class A di oktet 2, 3 dan 4 (3 oktet
terakhir). Kemudian subnet mask yang bisa digunakan untuk subnetting class A adalah semua
subnet mask dari CIDR /8 sampai /30.

Kita coba latihan untuk network address [Link]/16.

Analisa: [Link] berarti kelas A, dengan Subnet Mask /16 berarti


11111111.11111111.00000000.00000000 ([Link]).

Penghitungan:

1. Jumlah Subnet = 28 = 256 subnet


2. Jumlah Host per Subnet = 216 – 2 = 65534 host
3. Blok Subnet = 256 – 255 = 1. Jadi subnet lengkapnya: 0,1,2,3,4, etc.
4. Alamat host dan broadcast yang valid?

Subnet [Link] [Link] …[Link] [Link]


Host
[Link] [Link] …[Link] [Link]
Pertama
Host
[Link] [Link] [Link] [Link]
Terakhi …
54 54 54 54
r
Broadca [Link] [Link] [Link] [Link]

st 55 55 55 55

Mudah-mudahan sudah setelah anda membaca paragraf terakhir ini, anda sudah memahami
penghitungan subnetting dengan baik. Kalaupun belum paham juga, anda ulangi terus artikel ini
pelan-pelan dari atas. Untuk teknik hapalan subnetting yang lebih cepat

Catatan: Semua penghitungan subnet diatas berasumsikan bahwa IP Subnet-Zeroes (dan IP


Subnet-Ones) dihitung secara default. Buku versi terbaru Todd Lamle dan juga CCNA setelah
2005 sudah mengakomodasi masalah IP Subnet-Zeroes (dan IP Subnet-Ones) ini. CCNA pre-
2005 tidak memasukkannya secara default (meskipun di kenyataan kita bisa mengaktifkannya
dengan command ip subnet-zeroes), sehingga mungkin dalam beberapa buku tentang CCNA
serta soal-soal test CNAP, anda masih menemukan rumus penghitungan Jumlah Subnet = 2x – 2

Anda mungkin juga menyukai