0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
4 tayangan14 halaman

PBL dan Kemampuan Pemecahan Masalah Matematis

Diunggah oleh

diah amanda
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
4 tayangan14 halaman

PBL dan Kemampuan Pemecahan Masalah Matematis

Diunggah oleh

diah amanda
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

JPSP: Jurnal Penelitian Sains dan Pendidikan

[Link]

Pengaruh Model Problem Based Learning (PBL) Berbantuan Media


Dividend and Divisor Terhadap Peningkatan Kemampuan Pemecahan
Masalah Matematis Siswa SD Kelas VI

Viola Handayani*, Fariha Nadhira Luthfia, Nurfadillah Hasan, Sabrina Shafa Aulia, Friseza Nayla
Ariba Zahra, Annisa Salsabila Nurista. Afridha Laily Alindra

Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Universitas Pendidikan Indonesia, Indonesia

*Email: Violahandayani@[Link]

Abstrak
Model Probel Based Learning (PBL) adalah model pembelajaran yang menitikberatkan kepada siswa sebagai
pembelajar serta menghadapkan mereka pada permasalahan yang otentik atau relevan yang akan dipecahkan
dengan menggunakan seluruh pengetahuan yang dimilikinya atau dari sumber-sumber lainnya. Penelitian ini
bertujuan untuk mengetahui pengaruh Model Problem Based Learning (PBL) Berbantuan Media Dividend and
Divisor terhadap Meningkatkan Kemampuan Pemecahan Masalah Matematis Siswa SD Kelas VI di SDN 3
Nagrikaler. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitaif dengan menggunakan desain penelitian one group pre-
test dan post-test. Adapun teknik pengumpulan data yaitu dengan teknik observasi, tes, dan dokumentasi.
Penelitian ini terdiri dari pelaksanaan tes awal (pre-test) sebelum diberikan perlakuan, dan dilanjutkan dengan tes
akhir (post-test). Data yang dianalisis yaitu uji normalitas, uji homogenitas, dan uji Inferensia. Hasil penelitian ini
dianalisis menggunakan uji Inferensia pada kemampuan memecahkan masalah matematis dalam bentuk soal cerita
diperoleh Tolak H0, karena p-value (sig.) < 0,05 dengan taraf signifikansi 5%. Maka dapat disimpulkan bahwa
model Problem Based Learning (PBL) berpengaruh terhadap kemampuan pemecahan masalah matematis dalam
bentuk soal cerita pada siswa SDN 3 Nagrikaler tahun pelajaran 2024/2025

Kata Kunci: Dividend and Divisor, Pemecahan Masalah Matematis, Problem Based Learning.

Abstract
The Problem Based Learning (PBL) model is a learning model that emphasizes students as learners and confronts
them with authentic or relevant problems that will be solved using all the knowledge they have or from other
sources. This study aims to determine the effect of the Problem Based Learning (PBL) Model Assisted by Dividend
and Divisor Media on Improving the Mathematical Problem Solving Ability of Students of SDN 3 Nagrikaler.
This study uses a one group pre-test and post-test design, where the type of research is quantitative. The data
collection techniques are observation, testing, and documentation techniques. This study consists of implementing
an initial test (pre-test) before being given treatment, and continued with a final test (post-test). The data analyzed
are normality test, homogeneity test, and Inference test. The results of this study were analyzed using the Inference
test on the ability to solve mathematical problems in the form of story problems obtained Reject H0, because the
p-value (sig.) <0.05 with a significance level of 5%. So it can be concluded that the Problem Based Learning
(PBL) model has an effect on the ability to solve mathematical problems in the form of story problems in students
of SDN 3 Nagrikaler in the 2024/2025 academic year.

Keywords: Problem Based Learning, Mathematical Problem Solving, Dividend and Divisor.

JPSP Volume 5 Nomor 1 Tahun 2025 Page | 134


JPSP: Jurnal Penelitian Sains dan Pendidikan
[Link]

PENDAHULUAN
Pendidikan merupakan suatu usaha sadar dan terencana dalam mewujudkan suasana belajar
dalam proses pembelajaran, dengan begitu siswa dapat aktif dalam mengembangkan potensi dirinya
untuk meningkatkan kecerdasan mereka, guru dan siswa berperan penting dalam berlangsungnya
pendidikan. Menurut Harefa (2020) pendidikan merupakan proses membantu orang dalam
mengembangkan kapasitas untuk belajar bagaimana menghubungkan kesulitan mereka dengan teka-
teki yang berguna untuk membentuk masalah. Melalui Pendidikan, siswa dapat belajar untuk
mengembangkan potensi dirinya, menurut (Harefa & Talembanua, 2020) mengemukakan bahwa belajar
adalah proses mental yang terjadi dalam diri seseorang, sehingga menyebabkan munculnya perubahan
perilaku. Adanya proses pembelajaran akan mendukung siswa untuk berkembang, melalui proses
pembelajaran guru dapat memilih mengenai model pembelajaran yang dapat diterapkan pada saat
proses pembelajaran berlangsung, dengan begitu model tersebut menjadi daya dukung dalam
tercapainya suatu tujuan pembelajaran. Dalam proses belajar guru sebagai peran utama dalam
pembelajaran, menurut Fathurrohman (2015) model mengajar adalah cara-cara menyajikan bahan
pelajaran kepada peserta didik untuk tercapainya tujuan yang telah di tetapkan. Kemampuan guru dalam
memilih model pembelajaran akan membantu guru dalam mengaktifkan proses belajar siswa dikelas.
Salah satu model pembelajaran yang dapat digunakan yakni Problem Based Learning (PBL)
pembelajaran yang menitik beratkan kepada siswa sebagai pembelajar serta terhadap permasalahan
yang otentik atau relevan yang akan dipecahkan dengan menggunakan seluruh pengetahuan yang
dimilikinya atau dari sumber-sumber lainnya (Fauzia, 2018). Pembelajaran berbasis masalah
merupakan metode pembelajaran yang diawali dengan masalah untuk mengumpulkan dan
mengintegrasikan pengetahuan baru (Fathurrohman, 2015). Namun pada kenyataannya masih banyak
pada proses pembelajaran yang dilakukan guru belum sepenuhnya berjalan dengan baik khususnya pada
mata pelajaran matematika, cenderung masih banyak siswa yang kurang dalam kemampuan pemecahan
suatu permasalahan, pemecahan masalah merupakan bagian yang penting dalam pembelajaran
matematika. Salah satu penyebabnya karena cara mengajar guru yang masih konvensional, siswa
cenderung merasa kesulitan ketika memecahkan masalah pada materi, hasil nilai yang diperolehnya pun
kurang maksimal dan masih jauh dari capaian awal.
Permasalahan yang dihadapi oleh siswa Kelas VI SD Negeri 3 Nagrikaler adalah rendahnya
kemampuan pemecahan masalah matematis dalam mengerjakan soal cerita pada konsep perbandingan.
Kondisi ini menyebabkan pembelajaran matematika menjadi kurang efektif dan tidak menyenangkan
bagi siswa. Siswa kesulitan memahami konsep perbandingan dan mengerjakan soal cerita yang
memerlukan kemampuan analisis dan pemecahan masalah yang lebih tinggi. Untuk mengatasi masalah
ini, perlu diterapkan model pembelajaran yang tepat dan media pembelajaran yang konkret untuk

JPSP Volume 5 Nomor 1 Tahun 2025 Page | 135


JPSP: Jurnal Penelitian Sains dan Pendidikan
[Link]

meningkatkan kemampuan pemecahan masalah matematis siswa. Salah satu solusi yang dapat
dilakukan adalah menerapkan model pembelajaran Problem Based Learning (PBL) berbantuan media
pembelajaran konkret, seperti Papan Pintar. Model PBL dapat membantu siswa mengembangkan
kemampuan pemecahan masalah matematis dengan lebih baik, sementara media pembelajaran konkret
seperti Papan Pintar dapat membantu siswa memahami konsep perbandingan dengan lebih mudah dan
menyenangkan. Dengan demikian, penerapan model PBL berbantuan media pembelajaran konkret
diharapkan dapat meningkatkan kemampuan pemecahan masalah matematis siswa Kelas VI SD Negeri
3 Nagrikaler dan membuat pembelajaran matematika menjadi lebih efektif dan menyenangkan.
Materi pada mata pelajaran matematika merupakan konsep yang bersifat abstrak, sedangkan
pada proses belajar guru cenderung mengajar dengan metode biasa saja, hal ini menyebabkan siswa
sulit memecahkan kemampuan matematis pada sebuah materi rasio, dengan metode ceramah saja sangat
kurang dalam menyampaikan konsep matematika membuat siswa sulit memahami materi, hal ini
membuat matematika dianggap sebagai mata pelajaran yang sulit karena capaian siswa yang masih
kurang. Menurut Ariswati (2018) bahwa pemilikan kemampuan pemecahan masalah membantu siswa
berpikir analitik dalam mengambil keputusan dalam kehidupan sehari-hari dan membantu
meningkatkan kemampuan berpikir kritis dalam menghadapi situasi baru. Dalam hal ini solusi dari
pemecahan masalah matematis siswa sekolah dasar khususnya pada materi rasio, guru bisa
menggunakan model yang berbeda, seperti halnya menggunakan model Problem Based Learning yang
dapat memotivasi siswa untuk belahar dengan berkolaborasi dengan sesama teman, model pembelajaran
ini menjadikan sebuah permasalahan dalam pembelajaran yang bertujuan agar siswa mampu
meyelesaikan masalah tersebut, sehingga siswa terlatih untuk berpikir kritis dan berpikir tingkat tinggi
(Kurnia et al., 2015). Selain itu guru dapat menggunakan media seperti media dividend and divisior
sebagai komponen pendukung dalam pembelajaran
Terdapat beberapa kelebihan mengapa, Problem Based Learning ini dapat dikatakan cocok
dalam mengatasi permasalahan matematis pada siswa - siswi gen alpha ini. Yaitu: senantiasa siswa akan
mendapat tantangan, dan merasa puas ketika berhasil menemukan pengetahuan yang baru,
meningkatnya motivasi siswa, sampai aktivitas pembelajaran, memahami masalah yang ada didunia
nyata, siswa dapat bertanggung jawab dalam pembelajaran yang dilakukan, lalu mengembangkan
kemampuan berpikir kritis siswa sehingga cepat beradaptasi dengan pengetahuan baru, dan beberapa
hal lainnya (Rohmatulloh et al., 2024). Tak luput dari kelebihan, model pembelajaran Problem Based
Learning pun tetap memiliki kekurangan, yang dapat dijadikan bahan pertimbangan dalam
penggunaannya. Seperti, ketika siswa tidak memiliki niat maupun tidak kepercayaan bahwa masalah
yang sedang mereka pelajari itu sulit untuk dipecahkan, kebanyakan dari mereka akan merasa enggan
untuk mencobanya, atau jika sebagian siswa beranggapan bahwa tanpa pemahaman materi yang

JPSP Volume 5 Nomor 1 Tahun 2025 Page | 136


JPSP: Jurnal Penelitian Sains dan Pendidikan
[Link]

diperlukan untuk menyelesaikan masalah mengapa mereka harus berusaha untuk memecahkan masalah
yang sedang dipelajari, maka mereka hanya akan belajar apa yang ingin mereka pelajari saja.
Materi matematika yang membutuhkan pemecahan masalah salah satunya adalah materi pecahan
berupa soal cerita. Pecahan merupakan salah satu materi yang dipelajari pada mata pelajaran
matematika. Terdapat langkah-langkah sistematis pemecahan masalah yang dapat dilakukan, yaitu:
understanding the problem (memahami masalah), Devising a plan (membuat rencana), Carrying out
the plan (melaksanakan rencana), dan Looking Back (memeriksa kembali) (Ariswati, 2018). Menurut
Saputra (2017) menyebutkan, jika bahwa proses pemecahan masalah berpikir siswa yang terencana
sesuai dengan tahapan atau langkah - langkah untuk memecahkan masalah matematika, maka kita akan
dapat menentukan solusi terhadap apa yang dihadapinya. Karena matematika merupakan salah satu
disiplin ilmu, sehingga dapat meningkatkan kemampuan berpikir dan berargumentasi siswa, kontribusi
akan terjalin dalam penyelesaian sebuah masalah yang terjadi dalam sehari-hari maupun dunia kerja,
serta memberikan dukungan dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Maka dapat
dikatakan, kemampuan pemecahan masalah merupakan sebuah usaha untuk menemukan solusi dari
masalah yang didasarkan pada struktur kognitif yang dimiliki siswa sehingga mencapai tujuan yang
diinginkan.

METODE PENELITIAN
Metode dalam penelitian ini menggunakan desain one group pre-test post-test, di mana
jenis penelitiannya adalah kuantitatif untuk menganalisis data dan menguji hipotesis melalui
serangkaian uji statistik. Teknik Pengumpulan data dalam penelitian ini dengan menggunakan
Observasi, Tes dan Dokumentasi. Lokasi dan waktu penelitian ini belangsung di SDN 3
Nagrikaler Kecamatan Purwakarta, Kabupaten Purwakarta. Penelitian ini berlangsung pada
semester genap tahun pelajaran 2024/2025 dengan jumlah siswa 20 orang dari kelas VI.
Pemilihan populasi penelitian didasarkan pada analisis dan observasi proses pembelajaran yang
dilakukan, sehingga terpilihnya kelas VI di SDN 3 Nagrikaler yang sesuai dengan penelitian
ini. Observasi dilaksanakan untuk mengetahui keadaan atau situasi yang ada dikelas kelas VI
SDN 3 Nagrikaler. Tes digunakan untuk mengukur kemampuan peserta didik dalam
meyelesaikan soal cerita dalam mata pelajaran matematika khususnya pada materi Rasio. Tes
dilakukan sebanyak dua kali, yaitu pre-test dan post test. Pre-test dilakukan sebelum diberikan
perlakuan dengan tujuan untuk mengetahui kemampuan awal peserta didik dalam memecahkan
masalah matematis dalam bentuk soal cerita. Setelah diterapkan perlakuan, maka dilakukan

JPSP Volume 5 Nomor 1 Tahun 2025 Page | 137


JPSP: Jurnal Penelitian Sains dan Pendidikan
[Link]

post-test guna mengetahui kemampuan akhir peserta didik dalam menyelesaikan soal
matematika dalam bentuk cerita pada mata pelajaran Rasio. Dokumentasi berupa dokumen
pendukung data penelitian yang berupa hasil nilai siswa dalam menyelesaikan soal cerita,
penggunaan media pembelajaran dan gambar pelaksanaan pembelajaran. Adapun teknik
analisis data dalam penelitian ini diantaranya:
1) Uji Normalitas
Uji normalitas dilakukan dalam penelitian ini menggunakan kolmogorof-Smirnov dan Shapiro-
Wilk untuk memastikan bahwa data mengikuti distribusi normal. Uji kolmogorof-Smirnov
mengukur perbedaan anatara distribusi kumulatif dan distribusi norma, sedangkan uji Shapiro-
Wilk lebih sensitif terhadap ukuran sampel kecil dan memberikan informasi lebih akurat
tentang normalitas data. Apabila hasil dari kedua uji menunjukkan bahwa data tidak
berdistribusi norma, maka langkah selanjutnya adalah melakukan uji homogenitas varians
(Usmadi, 2020).
2) Uji Homogenitas
Uji Homogenitas dalam penelitian ini menggunakan uji Mann-Whitney U, uji ini digunakan
untuk membandingkan dua kelompok independen ketika data tidak memenuhi asumsi
normalitas. Dalam pengujian ini dilakukan terhadap data hasil pre-test dan post-test pada kelas
kontrol dan eksperimen. Uji homogenitas dimasksudkan untuk mengetahui apakah sampel
yang diambil mempunyai varian yang sama dan tidak menunjukkan perbedaan yang signifikan
satu sama lain. Berdasarkan pendapat Sugiyono (2011) yang mengatakan bahwa uji Mann-
Whitney U digunakan untuk menguji signifikasnsi hipotesis komparatif dua sampel
independen ketika data berbentuk interval atau ordinal tetapi tidak memenuhi asumsi
normalitas.
3) Uji Inferensia untuk Mengetahui Pengaruh
Setelah memastikan data memenuhi asumsi yang dibutuhkan, maka uji Inferensia digunakan
untuk mengetahui pengaruh variabel independen terhadap variabel dependen. Dalam uji ini
dapat menggunakan analisis varians (ANOVA) atau analisi regresi, tergantung pada jumlah
kelompok yang dibandingkan. Menurut Sugiyono (2011) mengatakan bahwa pemilihan
metode analisi yang tepat itu sangat penting agar menghasilkan sutu kesimpulan yang valid
dan dapat diandalkan dalam penelitian kuantitatif.

JPSP Volume 5 Nomor 1 Tahun 2025 Page | 138


JPSP: Jurnal Penelitian Sains dan Pendidikan
[Link]

HASIL PENELITIAN
Adapun data dalam penelitian ini diambil melalui pre-test dan post-test. Dalam memberikan pre-
test dan post-test disajikan melalui soal-soal yang sama tentang rasio yang berjumlah 5 soal. Uji pertama
yang dilakukan adalah uji normalitas, kemudian dilanjutkan dengan uji homogenitas Man-Whitney U
karena data tidak berdistribusi normal. Hasil penelitian tersebut diolah menggunakan uji inferensia
untuk menguji perbedaan antara kelompok eksperimen dan kelompok kontrol.
Data hasil Pre-test dan Post-test Kelompok Kontrol dan Eksperimen
Tabel 1. Data Pre-test dan Post-test kelompok kontrol dan eksperimen
Kelas Kontrol Kelas Eksperimen
No
Pre-test Post-test Pre-test Post-test
1 50 60 60 70
2 50 50 60 70
3 50 60 60 60
4 50 60 70 60
5 50 70 70 80
6 60 50 70 80
7 60 60 70 80
8 60 70 70 90
9 60 50 70 80
10 60 60 70 70
11 60 50 70 80
12 70 60 80 80
13 70 70 80 100
14 70 80 80 100
15 80 70 80 100
16 80 60 80 100
17 90 80 90 100
18 90 80 100 100
19 100 90 100 100

1) Uji Normalitas
Dasar pengambilan hasil uji atau keputusan menggunakan Kolmogorov smirnov
Hipotesis:
H0 : Data berdistribusi normal
H1 : Data tidak berdistribusi normal
Kriteria uji:
Tolak H0 apabila p-value < 0,05
Berikut hasil uji normalitas data:

JPSP Volume 5 Nomor 1 Tahun 2025 Page | 139


JPSP: Jurnal Penelitian Sains dan Pendidikan
[Link]

Tabel 2. Uji Normalitas Data Pretest Posttest

Kolmogorov-Smirnova Shapiro-Wilk
Kelompok Statistic df Sig. Statistic df Sig.
Pretest Kontrol .239 19 .006 .881 19 .002
Eksperimen .252 19 .002 .869 19 .014
Posttest Kontrol .240 19 .005 .887 19 .028
Eksperimen .234 19 .007 .885 19 .008
a. Lilliefors Significance Correction

Pada hasil uji normalitas pre-test kelompok kontrol mendapatkan nilai signifikansi sebesar
0,022 < 0,05, uji normalitas pre-test kelompok ekdperimen mendapat nilai signifikansi sebesar 0,014 <
0,05, uji normalitas post-test kelompok eksperimen mendapatkan nilai signifikansi sebesar 0,028 <
0,05, uji normalitas post-test kelompok kontrol mendapat hasil sebesar 0,008 < 0,05. Dari hasil uji
normalitas pre-test post-test kelompok kontrol dan eksperimen dapat diambil keputusa tolak H0, karena
tidak ada p-value (signifikansi) yang lebih dari 0,05. Dengan tingkat signifikansi 5% dan data sampel
yang digunakan, maka dapat dibuktikan bahwa data tidak berdistribusi normal.
2) Uji Homogenitas (Man-Whitney U)
Dasar pengambilan keputusan ini menggunakan uji Man-Whitney U, karena data tidak berdistribusi
normal.
Hipotesis:
H0 : Data bervariansi sama atau homogen
H1 : Data bervariansi tidak sama atau heterogen
Kriteria uji:
Tolak H0, apabila p-value < 0,05
Berikut hasil uji homogenitas
Tabel 3. Uji Homogenitas
Ranks
Sum of Ranks
Kelompok N Mean Rank

Pretest Kontrol 19 15.68 298.00


Eksperimen 19 23.32 443.00
Total 38
Posttest Kontrol 19 13.16 250.00
Eksperimen 19 25.84 491.00
Total 38

JPSP Volume 5 Nomor 1 Tahun 2025 Page | 140


JPSP: Jurnal Penelitian Sains dan Pendidikan
[Link]

Test Statisticsa
Pretest Posttest
Mann-Whitney U 108.000 60.000
Wilxocon W 298.000 250.000
Z -2.167 -3.583
Asymp. Sig. (2-talled) .030 .000
Exact Sig. [2*(1-talled sig.)] .34b .000 b
a. Grouping Variable: Kelompok
b. Not corrected for ties.

Hasil uji homogenitas post-test kelompok eksperimen dan kontrol mendapatkan nilai
signifikansi sebesar 0,000 < 0,05. Dari hasil uji tersebut, dapat diambil keputusan tolak H0, karena
signifikansi < 0,05 dan sapat disimpulkan bahwa skor post-test kelompok kontrol dan eksperimen
memiliki varian yang tidak sama atau heterogen.
3) Uji Inferensia
Dasar pengambilan keputusan ini menggunakan uji inferensia untuk mengetahui adanya pengaruh
dan perbedaaan antara post-test dan pre-test serta kelompok kontrol dan kelompok eksperimen.
a. Uji Inferensia pre-test dan post-test
Hipotesis:
H0 : Distribusi skor pre-test dan post-test sama
H1 : Distribusi skor pre-test dan post-test tidak sama
Kriteria Uji:
Tolak H0, apabila p-value < 0,05
Berikut hasil uji inferensi pre-test dan post-test
Tabel 4. Uji Inferensi Pre-Test dan Post-Test
Ranks
N Mean Rank Sum of Ranks
Posttest-Pretest Negative Ranks 9a 12.56 113.00
Positive Rank 19 b 15.42 293.00
Ties 10 c
Total 38
a. Posttest ≤ Pretest
b. Posttest ≥ Pretest
c. Posttest = Pretest
Test Statisticsa
Posttest-Pretest
Z -2.164 b
Asymp. Sig. (2-talled) .030
a. Wilcoxon Signed Ranks Test
b. Based on negative ranks.

JPSP Volume 5 Nomor 1 Tahun 2025 Page | 141


JPSP: Jurnal Penelitian Sains dan Pendidikan
[Link]

Hasil uji inferensia pre-test dan post-test menunjukkan nilai signifikansi 0,030 < 0,05. Dari
hasil uji tersebut, maka dapat diambil keputusan bahwa tolak H0, karena p-value (signifikansi) < 0,05
dan ditarik kesimpulan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan antara skor pre-test dan post-test
kelompok kontrol dan eksperimen.

b. Uji Inferensia kelompok kontrol dan kelompok eksperimen


Hipotesis:
H0 : Tidak ada perbedaan pada perubahan skor pre-test dan post-test antara kelompok kontrol dan
kelompok eksperimen.
H1 : Terdapat perbedaan pada perubahan skor pre-test dan post-test antara kelompok kontrol dan
kelompok eksperimen
Kriteria uji:
Tolak H0, apabila p-value < 0,05
Berikut hasi uji inferesia
Tabel 5. Uji Inferensia kelompok kontrol dan kelompok eksperimen
Ranks
Sum of Ranks
Kelompok N Mean Rank

Delta_skor Kontrol 19 14.61 277.50


Eksperimen 19 23.32 463.50
Total 38

Test Statisticsa
Delta_skor
Mann-Whitney U 87.000
Wilxocon W 277.500
Z -2.817
Asymp. Sig. (2-talled) .005
Exact Sig. [2*(1-talled sig.)] .006b
a. Grouping Variable: Kelompok
b. Not corrected for ties.

Hasil uji inferensia pre-test dan post-test menunjukkan nilai signifikansi 0,005 < 0,05. Dari hasil
uji tersebut, maka dapat diambil keputusan bahwa tolak H0, karena p-value (signifikansi) < 0,05 dan
ditarik kesimpulan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan pada perbedaan skor pre-test dan post-
test antara kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Selain itu, ditemukan bahwa mean rank
kelompok eksperimen lebih besar dari mean rank kelompok kontrol, sehingga dapat disimpulkan bahwa

JPSP Volume 5 Nomor 1 Tahun 2025 Page | 142


JPSP: Jurnal Penelitian Sains dan Pendidikan
[Link]

perbedaan antara skor pre-test dan post-test lebih tinggi pada kelompok eksperimen daripada kelompok
kontrol.

PEMBAHASAN
Penelitian ini dilaksanakan di SD Negri 3 Nagrikaler yang bertempat di Jl. Veteran Nagrikaler
Purwakarta dengan subjek penelitian siswa SD Negri 3 Nagrikaler Purwakarta. Dari seluruh jumlah
siswa Kelas VI yang berada pada daerah Kabupaten Purwakarta, peneliti memilih siswa Kelas VI yang
terdapat di SD Negri 3 Nagrikaler yang berjumlah sebanyak 20 siswa yang dijadikan sebagai objek
penelitian. Permasalahan yang terjadi ketika peneliti melakukan observasi serta wawancara sebelum
penerapan pembelajaran ini, siswa Kelas VI tersebut mengalami kesulitan dalam pemecahan masalah
matematis yang berbentuk soal cerita. Menurut Widyastuti dan Airlanda (2021) dalam pemecahan
masalah matematis setiap siswa harus dapat melewati langkah-langkah diantaranya; 1) memahami
permasalahan; (2) merancang strategi penyelesaian; (3) melaksanakan strategi tersebut; dan (4)
melakukan pengecekan kembali terhadap hasil yang telah dikerjakan. Namun, ketika menerapkan
langkah-langkah tersebut pada siswa Kelas VI SD Negeri 3 Nagrikaler ini masih mengalami kesulitan
dalam memahami soal, merancang penyelesaian, melaksanakan rencana serta menyelesaikan dan
menarik kesimpulan berdasarkan hasil analisis.
Dengan demikian untuk meningkatkan kemampuan pemecahan masalah matematis siswa
dengan menerapkan langkah-langkah tersebut harus didukung oleh suatu model pembelajaran Problem
Based Learning (PBL) supaya tujuan pembelajarannya dapat tercapai. Dalam studi literatur yang
dikemukakan oleh Rahmawati, et al (2023) setiap tahapan dalam model Problem Based Learning (PBL)
dapat mendorong siswa untuk aktif terlibat dalam proses pemecahan masalah, yang pada gilirannya
mendukung peningkatan kemampuan mereka dalam menyelesaikan masalah. Efektivitas setiap fase
PBL dalam meningkatkan kemampuan pemecahan masalah matematis siswa akan lebih optimal jika
didukung oleh penggunaan media pembelajaran. Pemilihan media pembelajaran sebaiknya disesuaikan
dengan karakteristik siswa, agar dapat meningkatkan motivasi dan antusiasme belajar mereka, serta
membantu dalam memahami dan menyelesaikan permasalahan yang diberikan oleh guru.
Untuk meningkatkan kemampuan pemecahan masalah matematis siswa ini harus didukung
oleh suatu model pembelajaran yang tepat dan efektif supaya tujuan pembelajarannya dapat tercapai.
Dengan diberikannya treatment berupa model pembelajaran Problem Based Learning (PBL) ini adanya
peningkatan secara signifikan pada kemampuan pemecahan masalah matematis siswa kelas VI SD
Negri 3 Nagrikaler. Pembelajaran berbasis masalah ini mempunyai peran yang besar terhadap
peningkatan pemecahan masalah matematis siswa pada kelas eksperimen yang diterapkan kepada
siswa.

JPSP Volume 5 Nomor 1 Tahun 2025 Page | 143


JPSP: Jurnal Penelitian Sains dan Pendidikan
[Link]

Pada hari pertama saat peneliti datang ke sekolah untuk mengobservasi, siswa di kelas VI
sebelum menerapkan treatment ini merasa kesulitan ketika mengerjakan soal cerita mengenai konsep
perbandingan. Hal tersebut dilihat ketika siswa diberi soal pre-test, siswanya selalu menanyakan secara
berulang mengenai soal yang sama akan tetapi dengan konsep soal yang berbeda, sehingga membuat
siswanya kebingungan ketika mengerjakan soal cerita yang dituangkan dalam perbandingan. Ketika
diberi soal pre-test ini juga ada beberapa siswa yang mengerjakan secara bersama dengan temannya.
Selain itu guru yang mengajar di kelas VI ini belum menggunakan media pembelajaran yang konkret
untuk membantu pemahaman siswanya mengenai materi rasio.

Gambar 1. Lembar observasi pembelajaran

Dengan demikian pada pertemuan selanjutnya peneliti menerapkan pembelajaran berbasis


masalah dengan berbantuan media pembelajaran konkret supaya pemahaman materi tentang rasio
perbandingan meningkat serta dapat mengatasi pemecahan masalah matematis siswanya. Pada saat
penjelasan materi dengan penayangan media digital yang interaktif ini membuat siswanya antusias
mengikuti pembelajaran. Guru memberikan soal-soal rasio berbentuk cerita lalu siswanya menjawab

JPSP Volume 5 Nomor 1 Tahun 2025 Page | 144


JPSP: Jurnal Penelitian Sains dan Pendidikan
[Link]

menggunakan media konkret tersebut, dengan adanya media konkret ini membuat siswanya tertarik
untuk mencobanya. Sehingga pembelajaran rasio ini yang mulanya siswa merasa kesulitan setelah
penerapan model pembelajaran dengan bantuan media konkret ini menciptakan pembelajaran
matematika yang lebih mudah dipahami siswa serta memberikan kesan pembelajaran yang
menyenangkan sesuai dengan hasil observasi pada Gambar 1.
Hasil post-test yang dikerjakan siswa juga menunjukkan adanya peningkatan dari soal-soal
pretest sebelumnya. Dengan adanya media ini selain membuat pembelajaran menjadi menyenangkan
namun juga membuat siswa lebih fokus karena mereka memecahkan masalah secara nyata. Siswa juga
diajarkan memecahkan soal rasio dengan berbagai cara dan dikaitkan dengan kehidupan sehari-hari,
sehingga mereka bisa dan cepat untuk memecahkan soal cerita yang berbeda dari yang diajarkan. Hal
ini dapat diartikan bahwa model pembelajaran Problem Based Learning (PBL) berbantuan Media Papan
Pintar memberikan pengaruh yang signifikan terhadap kemampuan pemecahan matematis siswa. Media
dan model ini juga dapat menjadi inspirasi dan dihubungkan dengan pembelajaran lainnya seperti FPB,
KPK, dan sebagainya.

SIMPULAN
Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan maka dapat disimpulkan bahwa terdapat pengaruh
yang signifikan penggunaan model Probel Based Learning (PBL) terhadap kemampuan pemecahan
masalah matematis siswa kelas VI SD Negri 3 Nagrikaler Tahun Pembelajaran 2024/2025. Dengan
hasil Uji Inferensia diperoleh hasil nilai signifikansi 0,005 < 0,05. Dari hasil uji tersebut, maka dapat
diambil keputusan bahwa tolak H0, karena p-value (signifikansi) < 0,05 dan ditarik kesimpulan bahwa
terdapat perbedaan yang signifikan pada perbedaan skor pre-test dan post-test antara kelompok kontrol
dan kelompok eksperimen. Hal tersebut berarti model Probel Based Learning (PBL) berpengaruh
terhadap kemampuan pemecahan masalah matematis siswa, khusunya dalam memecahkan soal cerita
pada materi rasio.

DAFTAR PUSTAKA
Amalia, I. (2019). Kemampuan Pemecahan Masalah Matematika Materi Bangun Datar Dalam
Pembelajaran Model RME Berbantu Media Roda Pintar Kelas IV SDN 2 Karanganyar
Todanan. Widyasari Press
Ariswati, N. P. E. A. (2018). Pengaruh Model Pembelajaran Problem based learning Terhadap
Hasil Belajar Matematika Siswa Kelas V SD Negeri Nanggulan. Mimbar PGSD
Undiksha, 6 (4) , 51-62.

JPSP Volume 5 Nomor 1 Tahun 2025 Page | 145


JPSP: Jurnal Penelitian Sains dan Pendidikan
[Link]

Fauzia, H. A. (2018). Penerapan model pembelajaran Problem Based Learning untuk


meningkatkan hasil belajar matematika SD. Jurnal Primary. 7(1), 40-47.
Harefa, D., (2020). Penerapan Model Pembelajaran Cooperatifve Script Untuk Meningkatkan
Hasil Belajar Matematika. JKPM (Jurnal Kajian Pendidikan Matematika), 6(1), 13–
26.
Harefa, D., Telaumbanua, T. (2020). Belajar Berpikir dan Bertindak Secara Praktis Dalam
Dunia Pendidikan kajian untuk Akademis. Jakarta: CV. Insan Cendekia Mandiri.
Haryanti, Yuyun Dwi. (2017). Model Problem Based Learning Membangun Kemampuan
Berpikir Kritis Siswa Sekolah Dasar. Jurnal Cakrawala Pendas. 3(2), 57-66.
Nafiah, Y. N., & Suyanto, W. (2014). Penerapan model problem-based learning untuk
meningkatkan keterampilan berpikir kritis dan hasil belajar siswa. Jurnal Pendidikan
Vokasi, 4(1), 125-143.
Rahmawati, A., Setiawan, E., Finanda, R, P & Susilo, B, E. (2024). Kajian Literatur:
Peningkatan Kemampuan Pemecahan Masalah Matematis Siswa melalui Model
Problem Based Learning (PBL) berbantuan Media Camtasia Studio. PRISMA,
Prosiding Seminar Nasional Matematika 7, 510-516
Rohmatulloh, F., Susilo, H.,& Ruslina E. (2024). Penerapan Model Pembelajaran Problem
Based Learning (PBL) Dipadu Two Stay Two Stray (TSTS) untuk Meningkatkan
Motivasi Belajar Siswa Kelas X SMA. Jurnal Penelitian Sains dan Pendidikan, 4(2),
189-199.
Saputra, O. (2017). Analisis Proses Pemecahan Masalah Siswa SMP dalam menyelesaikan
Soal Cerita Materi Segiempat dan Segitiga Kelas VII. Universitas Muhammadiyah
Malang.
Sumartini, T. (2016). Peningkatan Kemampuan Pemecahan Masalah Matematis Siswa melalui
Pembelajaran Berbasis Masalah. Pendidikan Matematika: STKIP Garut
Susetyo, B. (2010). Statistika untuk Analisis Data Penelitian. Bandung: PT Refika Aditama.
Sugiyono. (2011). Statiktika Untuk Penelitian. Bandung:Alfabeta.
Tarigan, E. B., Simarmata, E. J., Abi, A. R., & Tanjung, D. S. (2021). Peningkatan Hasil Belajar
Siswa dengan Menggunakan Model Problem Based Learning pada Pembelajaran
Tematik.. Edukatif: Jurnal Ilmu Pendidikan.

JPSP Volume 5 Nomor 1 Tahun 2025 Page | 146


JPSP: Jurnal Penelitian Sains dan Pendidikan
[Link]

Usmadi, U. (2020). Pengujian Persyaratan Analisis (Uji Homogenitas Dan Uji Normalitas).
Inovasi Pendidikan, 7(2), 50-62.
Widyastuti, R. T. & Airlanda, G. S. (2021). Efektivitas Model Problem Based Learning
terhadap Kemampuan Pemecahan Masalah Matematika Siswa Sekolah Dasar. J.
Basicedu, 5(3), 1120–1129.

JPSP Volume 5 Nomor 1 Tahun 2025 Page | 147

Anda mungkin juga menyukai