Berikut adalah beberapa peraturan perundang-undangan yang berkaitan dengan pengelolaan
sumber daya air:
1. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2019:
Undang-Undang (UU) Nomor 17 Tahun 2019 tentang Sumber Daya Air (SDA)
masih berlaku:
UU ini merupakan pembaharuan dari UU SDA Nomor 7 Tahun 2004 yang
dibatalkan oleh Mahkamah Konstitusi.
UU ini disusun berdasarkan masukan dari pertimbangan Mahkamah
Konstitusi, praktisi, ahli, dan stakeholder terkait.
UU ini memiliki empat peraturan pemerintah (PP) sebagai aturan
turunannya, yaitu PP Irigasi, PP Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM),
PP Sumber Air, dan PP Pengelolaan Sumber Daya Air.
Pada tahun 2023, ditetapkan Perpres Nomor 37 Tahun 2023 tentang
Kebijakan Nasional Sumber Daya Air (Jaknas SDA) yang didasarkan
pada UU Nomor 17 Tahun 2019.
Pada tahun 2023, Kementerian PUPR juga menargetkan penyelesaian
Rancangan Peraturan Pemerintah UU Sumber Daya Air untuk menjamin
kebutuhan air masyarakat.
2. Peraturan Presiden Nomor 37 Tahun 2023: Menjelaskan kebijakan nasional
pengelolaan sumber daya air (Jaknas SDA). Jaknas SDA merupakan arah dan
tindakan yang diambil pemerintah pusat untuk mencapai tujuan pengelolaan
sumber daya air.
Perpres ini mulai berlaku pada tanggal 16 Juni 2023.
Perpres Nomor 37 Tahun 2023 mencabut dan menyatakan tidak berlaku Perpres
Nomor 33 Tahun 2011 tentang Kebijakan Nasional Pengelolaan Sumber Daya
Air
3. Peraturan Pemerintah Nomor 30 Tahun 2024:
PP ini ditetapkan pada 14 Agustus 2024 dan mulai berlaku pada tanggal yang
sama.
PP ini mengatur pengelolaan sumber daya air secara menyeluruh, terpadu, dan
berwawasan lingkungan hidup. Tujuannya adalah untuk mewujudkan
kemanfaatan sumber daya air yang berkelanjutan
Pengelolaan ini meliputi penyusunan kebijakan, pola pengelolaan, dan rencana
pengelolaan sumber daya air.
TEORI KEILMUAN YANG TERKAID PENGELOLAAN DAN PEMBANGUNAN
INFRASTRUKTUR SDA
Aset sumber daya air berupa infrastruktur yang terdapat di Indonesia antara lain jaringan
irigasi, bendungan, waduk, pintu air, tanggul laut/tanggul sungai, dan tebing jalan
PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR
Pengelolaan sumber daya air adalah upaya merencanakan, melaksanakan, memantau, dan
mengevaluasi penyelenggaraan konservasi, pendayagunaan, dan pengendalian daya rusak
air. Pengelolaan sumber daya air dilakukan secara terpadu, menyeluruh, dan berwawasan
lingkungan hidup.
Beberapa aspek penting dalam pengelolaan sumber daya air adalah:
Pemanfaatan: Aspek yang berkaitan dengan penggunaan air
Pelestarian: Aspek yang berkaitan dengan upaya menjaga kualitas dan
kuantitas sumber daya air
Pengendalian: Aspek yang berkaitan dengan upaya mengendalikan daya rusak
air
Dalam pengelolaan sumber daya air, peran masyarakat sangat penting. Masyarakat dapat
dilibatkan dalam berbagai kegiatan, seperti: Program-program pemerintah, Menjaga kualitas
dan kuantitas sarana dan prasarana sumber daya air, Pendidikan dan pelatihan, Penelitian dan
pengembangan, Pendampingan.
Selain itu, untuk melestarikan sumber daya air, kita juga dapat melakukan beberapa hal
berikut: Menjaga lingkungan, Mengurangi penggunaan air, Membuang sampah pada
tempatnya, Menanam pohon di sepanjang aliran air.
Apa Itu Pengelolaan Sumber Daya Air?
Berdasarkan yang tertera pada undang-Undang No. 7/2004 mengenai sumber daya air,
pengelolaan sumber daya air sendiri merupakan sebuah upaya dalam merencanakan,
melaksanakan, memantau, sekaligus mengevaluasi proses pengadaan konservasi sumber
daya air, penggunaan sumber daya air, hingga pengendalian sumber daya air yang rusak.
Dengan sumber daya air yang memadai tentunya kebutuhan makhluk hidup akan air
baik pada masa ini maupun masa yang akan datang akan terpenuhi. Pengelolaan sumber daya
alam yang satu ini mencakup upaya penatagunaan, penyediaan, penggunaan, pengembangan,
hingga pengupayaan penggunaan sumber daya air dengan optimal supaya berhasil guna
sekaligus berdaya guna sedangkan pengelolaan sumber daya air yang mengalami kerusakan
mencakup upaya yang dilakukan untuk pencegahan, menanggulangi, serta memulihkan
kerusakan yang terletak pada kualitas lingkungan yang diakibatkan oleh daya rusak air.
Pengelola sumberdaya air adalah institusi yang diberi wewenang untuk melaksanakan
pengelolaan sumber daya air. Sesuai dengan pengertian ini, di dalam pengelolaan sumberdaya
air telah dikenalkan terminology pengusahaan air, yang kemudian dijamin lewat pemberian hak
guna usaha air. Dengan semakin bertambahnya jumlah penduduk serta intensitas kegiatan
ekonomi, memicu terjadinya perubahan sumber daya alam yang sangat pesat juga. Mulai dari
pembukaan lahan untuk berbagai keperluan perluasan wilayah pertanian, pemukiman serta
industri, yang tidak terkendali atau diolah dengan baik dalam sebuah kerangka pengembangan
tata ruang, telah menyebabkan munculnya degradasi lahan, erosi, tanah longsor, hingga banjir.
Di Indonesia khususnya pulau Pulau Jawa, yang hanya memiliki 4,5% potensi air tawar secara
nasional, harus memenuhi kebutuhan 60% jumlah penduduk di Indonesia serta hampir 70%
daerah irigasi Indonesia, Selain itu juga harus memenuhi 70% kebutuhan air industri nasional.
Hal tersebut tentunya telah menyebabkan terjadinya peningkatan konflik yang terjadi antara
para pengguna air baik guna keperluan rumah tangga, pertanian maupun industri, mencakup
penggunaan air permukaan serta air bawah tanah di wilayah perkotaan, sedangkan saat ini
sektor pertanian bahkan menggunakan sekitar 80% kebutuhan air total, sedangkan kebutuhan
air untuk keperluan industri serta rumah tangga hanya berkisar di angka 20%. Bahkan kenaikan
akan kebutuhan air untuk keperluan rumah tangga dan industri diperkirakan akan mengalami
kenaikan sebesar 25% – 30% pada tahun 2020.
Selain itu, gradasi yang sangat memprihatinkan terjadi di beberapa daerah aliran sungai yang
berada di Pulau Jawa. Sedangkan erosi yang terjadi secara terus menerus dan berlebihan telah
menyebabkan terjadinya sedimentasi di beberapa waduk di Indonesia seperti yang dibangun di
sungai Brantas, Citarum, Serayu-Bogowonto hingga Bengawan Solo. Oleh sebab itu
pengelolaan sumber daya air menjadi hal yang perlu diterapkan dengan baik. Sedimentasi yang
terjadi akibat erosi tersebut tentunya akan memberikan dampak buruk antara lain mengurangi
usia tampung waduk, di mana usia tampung beberapa waduk tersebut diperkirakan hanya
dapat bertahan untuk memenuhi kebutuhan dalam waktu yang singkat. Pengambilan air tanah
secara terus menerus dan berlebihan tanpa pengelolaan sumber daya air yang baik di
berbagai akuifer di kota-kota besar di Pulau Jawa yakni Jakarta, Semarang, hingga Surabaya
telah menyebabkan terjadi intrusi air laut serta menurunnya elevasi muka tanah. Ketersediaan
sistem sanitasi serta pengolah limbah industri yang masih minim, juga telah memicu terjadinya
pencemaran pada air tanah hingga sungai yang disebabkan oleh buangan air rumah tangga
serta industri, terutama pada musim kemarau.
Aspek Pengelolaan Sumber Daya Air
Secara umum, pengelolaan sumber daya air khususnya air tanah menitik beratkan
hanya dari satu sisi saja yakni bagaimana caranya untuk memanfaatkan serta mendapatkan
keuntungan dari ketersediaan air, namun penting untuk diketahui dan diingat bahwa dari setiap
adanya keuntungan tentunya terdapat pula kerugian. Tiga aspek yang terdapat dalam
pengelolaan sumber daya air bawah tanah yang harus diketahui antara lain adalah aspek
pemanfaatan, aspek pelestarian serta aspek pengendalian.
1. Aspek Pemanfaatan
Aspek pemanfaatan umumnya akan terlintas dalam pikiran manusia apabila
berhubungan dengan air. Sehingga ketika sudah menyebabkan ketidakseimbangan antara air
yang tersedia dan kebutuhan maka manusia akan mulai menyadari aspek yang lainnya.
2. Aspek Pelestarian
Aspek yang selanjutnya adalah aspek pelestarian yang bertujuan agar pemanfaatan
tersebut dapat berkelanjutan, dengan begitu sumber daya air perlu dijaga kelestariannya baik
dari segi kuantitas maupun kualitasnya. Menjaga dan melestarikan daerah tangkapan hujan di
hulu atau daerah lainnya merupakan salah satu upaya dari pengelolaan sumber daya air yang
baik. Dengan begitu, perbedaan debit air saat musim kemarau maupun musim hujan tidak
terlalu besar. Selain itu, menjaga sumber daya air dari pencemaran limbah juga menjadi hal
yang sangat penting.
3. Aspek Pengendalian
Perlu diketahui selain memiliki berbagai manfaat, air juga memiliki daya rusak baik
secara fisik maupun kimiawi yang dapat disebabkan oleh ulah manusia. Oleh sebab itu salah
satu aspek yang tidak boleh terlewatkan adalah pengendalian terhadap kerusakan air seperti
halnya pencemaran air. Terkait dengan program aksi pengelolaan sumber daya air yang
berkelanjutan, Indonesia telah melakukan beberapa hal seperti mengadakan program
penghargaan B20 Sustainability 4.0 Awards yang meliputi berbagai lingkup salah satunya
adalah pengelolaan air bersih dan sanitasi.
(hs/SDA/DPUPKP/2023)
Pengolaan sumber daya air berkelanjutan didasarkan pada strategi yang berupaya untuk
mencapai keseimbangan dan keserasian antara aspek ekonomi, ekologis, dan sosial budaya
sehingga dapat meningkatkan daya guna air, meminimalkan kerugian, serta memperbaiki dan
melakukan konservasi lingkungan. Adapun dasar kebijakan pelaksanaan pengelolaan sumber
daya air yang berkelanjutan data adalah;
a) pembangunan dalam rangka peningkatan ekonomi;
b) pengurangan produksi limbah;
c) penetapan standar mutu lingkungan;
d) kemampuan sumber daya alam; dan
e) peran serta masyarakat.
Sementara prinsip pengelolaan sumber daya air yang dapat dilakukan adalah:
a) pemeliharaan kelangsungan fungsi resapan air;
b) pengendalian pemanfaatan sumber air;
c) pengaturan daerah sempadan sumber air;
d) rehabilitasi hutan dan lahan;
e) penghematan air;
f) pengendalian penggunaan air tanah;
g) pengelolaan kuaslitas air;
h) pengendalian pencemaran air;
i) pendayagunaan sumber daya air;
j) pengendalian daya rusak air;
k) sistem teknologi dan informasi sumber daya air tanah; dan pemberdayaan masyarakat.
PENGELOLAAN SUNGAI
PENGELOLAAN DAERAH PANTAI
PENGELOLAAN DRAINASE UTAMA PERKOTAAN
PENGELOLAAN DAERAH IRIGASI
Pengelolaan daerah irigasi adalah kegiatan yang meliputi operasi, pemeliharaan, pengamanan,
rehabilitasi, dan peningkatan jaringan irigasi. Pengelolaan irigasi dilakukan oleh berbagai pihak,
seperti pemerintah, pemerintah provinsi, pemerintah kabupaten/kota, dan masyarakat petani:
Pemerintah
Bertanggung jawab atas pengawasan pengembangan dan pengelolaan jaringan irigasi.
Pemerintah daerah
Mendorong partisipasi masyarakat petani dalam pengembangan dan pengelolaan
irigasi. Pemerintah daerah juga dapat melakukan pemberdayaan Perkumpulan Petani Pemakai
Air (P3A).
Masyarakat petani
Dapat melaporkan pelanggaran terhadap pelaksanaan kegiatan operasi, pemeliharaan, dan
rehabilitasi jaringan irigasi.
Untuk mewujudkan tertib pengelolaan irigasi, dibentuk kelembagaan pengelolaan irigasi yang
terdiri dari: SKPD yang membidangi irigasi, P3A, Komisi irigasi.
Dalam rangka meningkatkan produktivitas pertanian beririgasi, pemerintah Indonesia
mendorong pembaharuan pengelolaan irigasi. Pembaharuan ini dilakukan secara teknis,
manajerial, maupun kelembagaan, termasuk aspek sumber daya manusianya
PENGELOLAAN DAERAH RAWA
PENGELOLAAN DAERAH AIR TANAH DAN AIR BAKU
PENGELOLAAN BENDUNGAN
Pengelolaan bendungan adalah kegiatan yang dilakukan untuk menjaga agar bendungan tetap
dalam kondisi baik dan berfungsi dengan baik. Pengelolaan bendungan meliputi: Operasi,
Pemeliharaan, Pemantauan, Keamanan.
Unit Pengelola Bendungan (UPB) adalah organisasi yang bertanggung jawab atas pengelolaan
bendungan. UPB biasanya dibentuk oleh pemerintah atau badan tertentu yang memiliki
wewenang untuk mengelola sumber daya air dan infrastruktur bendungan.
Pemilik bendungan dapat berupa pemerintah pusat, pemerintah daerah provinsi, pemerintah
daerah kabupaten/kota, atau badan usaha.
Bendungan berfungsi untuk mengatur aliran sungai dan mengurangi risiko banjir. Bendungan
dapat menahan volume air yang tinggi dan mengontrol aliran air ke daerah hilir. Air yang
ditampung di bendungan dapat dimanfaatkan untuk keperluan pertanian dan berbagai
keperluan lainnya pada saat musim kemarau.
PENGELOLAAN TAMPUNGAN AIR LAINNYA (DANAU,SITU,EMBUNG)
EMBUNG
Pengelolaan tampungan air embung meliputi beberapa hal, seperti:
Desain ketinggian puncak tubuh embung: Tinggi jagaan harus didesain memenuhi standar
sesudah terjadinya penurunan.
Kapasitas pelimpah: Harus cukup untuk melewatkan debit banjir desain yang telah ditentukan.
Konstruksi zona pada tubuh embung: Dilakukan untuk meningkatkan keamanan bendungan,
serta pengendalian rembesan dan retakan.
Ukuran embung: Minimal harus 22,763 m3 volume tinggi jagaan.
Pembangunan embung: Bisa dilakukan secara individu atau berkelompok, tergantung
keperluan dan luas areal tanaman yang akan diairi.
Embung adalah bangunan berbentuk cekung yang berfungsi menampung air hujan dan
mengatasi kekeringan saat kemarau. Embung juga dapat mencegah banjir saat musim hujan.
SITU
Pengelolaan tampungan air situ bertujuan untuk menjaga fungsinya sebagai cadangan air
permukaan dan mengendalikan banjir. Beberapa kegiatan yang dapat dilakukan dalam
pengelolaan situ, di antaranya: Inventarisasi data situ, Rekonsiliasi dan penetapan aset situ,
Penetapan batas kawasan situ.
Beberapa prinsip pengelolaan sumber daya air yang dapat dilakukan, di antaranya:
Pemeliharaan kelangsungan fungsi resapan air
Pengendalian pemanfaatan sumber air
Pengaturan daerah sempadan sumber air
Rehabilitasi hutan dan lahan
Penghematan air
Pengendalian penggunaan air tanah
Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) memiliki tugas untuk mengelola sumber daya air di
wilayah sungai, termasuk situ. Tugas BBWS meliputi penyusunan program, pelaksanaan
konstruksi, operasi, dan pemeliharaan.
Dewan Sumber Daya Air Nasional (DSDA) memiliki tugas untuk mengoordinasikan pengelolaan
sumber daya air di tingkat nasional.
DANAU
Pengelolaan danau sebagai tampungan air dapat dilakukan dengan beberapa cara, di
antaranya:
Mengatur tinggi muka air danau untuk mencegah banjir dan menyediakan air saat musim
kemarau
Menentukan alokasi air untuk berbagai keperluan
Mengatur pemanfaatan energi air danau untuk pembangkit listrik
Pengelolaan danau juga dapat dilakukan dengan memperhatikan kondisi daerah tangkapan air,
karena kondisi danau sangat bergantung pada kondisi daerah tangkapan airnya.
Pengelolaan sumber daya air secara terpadu (IWRM) adalah proses yang dilakukan untuk
mengembangkan dan mengelola air, lahan, dan sumber daya terkait lainnya secara
terkoordinasi. Tujuannya adalah untuk memaksimalkan kesejahteraan ekonomi dan sosial
secara adil tanpa mengorbankan keberlanjutan ekosistem
Beberapa prinsip pengelolaan sumber daya air yang dapat dilakukan, antara lain:
Pemeliharaan kelangsungan fungsi resapan air
Pengendalian pemanfaatan sumber air
Pengaturan daerah sempadan sumber air
Rehabilitasi hutan dan lahan
Penghematan air
Pengendalian penggunaan air tanah