Pendekatan Saintifik dalam Pembelajaran
Pendekatan Saintifik dalam Pembelajaran
Abstract
According to the Ministry of Education and Culture, the scientific approach is a model
for student-based learning to be motivated to be more active. The scientific approach is
actually not much different from contextual-based learning activities. The knowledge and
skills acquired by students are not expected to be the result of remembering a set of facts
but are the result of discovering themselves. The scientific approach provides opportunities
for students broadly to explore and elaborate on the material they are learning and
provides opportunities for students to actualize their abilities through learning activities
designed by the teacher. Learning outcomes are conditions that are achieved through
learning. In general, everyone can define learning as an effort to improve the behavior of
students from knowing to knowing, from not being able to being capable and not being
able to be able and so on. From the results of learning can change the behavior and way of
thinking of students better and will be stored, attached and not lost in the long term in the
lives of students.
Keywords: Scientific, Study, Learning
PENDAHULUAN
penalaran, penalaran peserta didik dapat memperhatikan situasi dan kondis kehidupan
lingkungan sosialnya, dan melakukan observasi dan penalaran sehinga pengamatannya
Dari sebagian para siswa lebih senang mengobrol atau bermain dan tidak suka
dengan pembelajaran, sehingga mempengaruhi kemampuan berpikir para siswa dalam
melakukan pembelajaran tematik. Dari faktor ini peserta didik tidak melihan,
memperhatiakan dan memahami mata pelajaran. Dari sekian jumlah peserta didik ada
yang susah diatur dan mempengaruhi pada peserta didik yang lainnya, dalam
pembelajaran yang sudah dirancang sebelumnya menjadi kurang efektif, sebagaimana
harapan dan perencnaan guru dalam proses pemebelajaran.
Pangaruh dari proses pembelajaaran yang kurang efektif dari apa yang dirancang
guru memilki dampak pada hasil belajar siswa, maka dapat menimbulkan semangat
berkurang, kebosanan dan ngantuk karena guru yang lebih mendominasi pada saat
proses pembelajaran peserta didik dapat memahami, memperhatikan dan mendengar
tanpa diberikan kesempatan untuk mengembangkan kemampuan berpikir. Tugas dan
peran penting seorang guru memberikan kemudahan, senmangat dan motiasi agar
peserta didik lebih giat dalam belajar, dan guru memiliki metode, strategi, dan
keterampilan dalam proses belajar mengajar.
Tugas guuru harus lebih kreatif dan tepat dalam melakukan proses pembelajaran
agar peserta didik mampu meningkatkan ketrampilan, dan kemampuan dalam berpikir.
Maka pserta didik lebih paham dan mudah diatur, sehinga peserta didik dengan
sendirinya cepat mengerti dengan materi yang diajarkan oleh guru
Dalam dunia pendidikan pendekatan pembelajaran dengan mengunakan dasar dan
landasan tertentu (Hukum, filosofi, psikilofi dan Ekologis) yang memberilan inspirasi
yang kuat dalam proses belajar. Dalam sebuah perencanaan proses pembelajaran
melakukan rangsangan pada siswa agar lebih aktif, sehingga diperlukan konsep, prinsip,
stratigi pembelajaran, untuk memberikan motivasi agar hasil belajar mememuaskan dan
menyenangkan peserta didik dan stekholder Pendekatan pembelajaran adalah suatu cara
pendekatan pendidikan, pendidik ke peserta didik ketika berlangsung pembelajaran.3
. Pendekatan saintifik dengan langkah-langkah yang dimilikinya sangat mendukung
dalam mencari ide-ide tentang konsep dari suatu pelajaran khususnya pembelajaran
3 Supairoh, Pendekatan Saintifik dan model pembelajaran k-13 (Jurnal Pendidikan Profesional, 2017), hlm. 3
Pendekatan Saintifik
dan Masyarakat pada Peserta didik dengan Kemampuan Awal Berbeda terhadap hasil Belajar kognitif di
SMA Negeri Kota Bengkulu, Jurnal Lependidikan Triadik, 2012 (1) : 33-41
7 Rusman, Pembelajaran Tematik Terpadu, Jakarta : Raja Grafindo Persada 2015,
1. Mengamati (observing)
Obsevasi atau pengamatan akan menjadikan proses pembelajaran menjadi lebih
bermakna (meaningfull learning). Metode ini sangat signifikan untuk menjawab rasa ingin
tahu peserta didik secara langsung dengan mengaktifkan seluruh panca inderanya.
Observasi akan meningkatkan daya ingat yang kuat dalam memahami materi yang telah
mereka terima di ruang kelas karena secara langsung mereka akan menemukan
hubungan antara teori dengan kenyataan, antara obyek yang dianalisis dengan materi
yang telah disajikan oleh guru.
2. Menanya (Questioning)
Menjawab pertanyaan ternyata tidak lebih sulit dari membuat pertanyaan atau
bahkan dapat dikatakan bahwa bertanya lebih sulit dari menjawab pertanyaan. Seringkali
8 Hosnan, M, Pendekatan Saintifik dan Kontenkstual dalam Pembelajaran Abad , Bogor, Ghalia
Indonesia 2014,.
9 Karae , E.E, dan Yenice, N, , The Investigation of scientific process skill lecel of elementary education 8 th
grade students in view of demographic features, Procedia Social nd Behavioral Sciences 2012
10 Daryanto, Pendekatan Pembelajaran Saintifik Kurikulum 2013, Yogyakarta, Penerbit Gava
Media, 2014
guru mengajukan pertanyaan di depan kelas yang disambut oleh acungan tangan banyak
peserta didik secara hampir serentak. Tetapi, pada saat guru meminta para peserta didik
untuk mengajukan pertanyaan, biasanya kelas akan hening beberapa saat lamanya
sebagai tanda bahwa para peserta didik belum seluruhnya siap untuk menyampaikan
pertanyaan.
Untuk mengasah kepekaan terhadap serangkaian proses, maka kurikulum 2013
menekankan agar kegiatan menanya dari peserta didik menjadi bagian dari tradisi
akademik. Peran guru dalam langkah ini adalah membuat pancingan atau rangsangan
kepada peserta didik agar mereka tidak segan untuk bertanya meskipun kalimat yang
dipergunakan tidak terlalu sitematis.
3. Mengumpulkan Informasi
Mengumpulkan informasi adalah tindak lanjut dari bertanya yang dilakukan dengan
menggali dan mengumpulkan informasi dari berbagai sumber melalui berbagai cara
sebagaimana ditetapkan dalam Pemendikbud Nomor 81 tahun 2013 bahwa peserta didik
akan mengumpulkan informasi dengan cara membaca berbagai sumber, memperhatikan
fenomena atau objek secara lebih teliti, atau bahkan melakukan eksperimen
objek/kejadian/aktivitas wawancara dengan narasumber dan sebagainya.
4. Asosiasi
Untuk menggambarkan bahwa guru dan peserta didik merupakan pelaku aktif dalam
kerangka proses pembelajaran dengan pendekatan ilmiah yang dianut dalam kurikulum
2013, maka kegiatan mengasosiasikan/ mengolah informasi dengan kegiatan menalar
menjadi sangat penting. Penalaran yaitu proses berfikir secara logis dan sistematis atas
fakta-fakta emperis yang dapat diobservasi untuk memperoleh simpulan berupa
pengetahuan.
5. Mengkomunikasikan pembelajaran
Kegiatan ini dapat dilakukan melalui menulis dan/atau mempublikasi apa yang
ditemukan dalam kegiatan mencari informasi, mengasosiasikan, dan menemukan pola.
Dengan langkah ini peserta didik diharapkan sudah dapat mempresentasikan hasil
temuannya untuk kemudian ditampilkan di depan khalayak ramai atau melalui media
online maupun offline sehingga memiliki rasa berani dan percaya diri.
Belajar
Belajar merupakan usaha yang dilakukan oleh setiap individu dengan karakter,
pengetahuan yang dimiliki untuk mendapatkan perubahan dengan kebih luas, namun
pada proses pembelajaran peserta didik memiliki kemampuan dan keterampilan
berbeda-beda. Belajar adalah proses perubahan terhadap kepribadian individu yang baru
dari pengalamannya berintraksi dengan sengaja dalam hal-hal kemajuan
Belajar dalam kamus Bahasa inggris terdapat arti belajar ada empat macam yaitu
memperoleh pengetahuan atau menguasai pengetahuan melalui pengalaman,
mengingatm, dan mendapat informasi atau menemukan 12
11 Hosnan, M, Pendekatan Saintifik dan Kontenkstual dalam Pembelajaran Abad , Bogor, Ghalia
Indonesia 2014,
12 Purwa Atmaja Prawira, Psikologi Pendidikan sakam Persprktif baru, Jogjakarta, Ar-Ruzz
Hasil Belajar
Hasil belajar merupakan kondisi yang dicapai melalui belajar. Secara umum setiap
orang dapat mendefinisikan belajar sebagai usaha untuk memperbaiki tingkah laku
peserta didik dari tahu menjadi tahu, dari belum cakap menjadi cakap dan belum mampu
menjadi mampu dan seterusnya. Dari hasil belajar dapat mengubuh peilaku dan cara
berpikir peserta didik lebih baik dan akan tersimpan, melekat dan tidak hilang dalam
jangka watu panjang dalam kehidupan peserta didik
Hasil belajar tidak dapat diukur dari satu sisi karena proses yang menghasilkannya
merupakan satu kesatuan dari dua sisi yakni sisi peserta diidk dan sisi guru. Jika melihat
hasil belajar dari sisi peserta didik, maka hasil belajar adalah tingkat perkembangan
mental yang lebih baik bila dibandingkan dengan saat sebelum belajar14 dan ini akan
diberikan simbol dengan skor nilai yang diperolah.
Lebih sederhana dikatakan bahwa hasil belajar ialah suatu perubahan dari cara
berpikir dan prilaku yang sudah melekat dibandingkan dengan sebelum belajar. Hasil
belajar ini akan menunjukkan perubahan yang signifikan dalam penilaian akhir sehinga
dari kebiasaan memiliki keterampilan, dari belum mengerti memiliki pengetahuan untuk
meningkatkan mentalnya lebih baik menhadapi perkembangan ilmu pengetahuan
Mulyasa menjelaskan hasil belajar sebagai prestasi belajar peserta didik secara
keseluruhan dimana ia merupakan indikator dari kompetensi yang dicapai sekaligus
sebagai derajat peubahan perilaku yang bersangkutan. Hal ini senada dengan apa yang
disampaikan Nana Sudjana bahwa hasil belajar adalah seperangkat kemampuan yang
dicapai oleh peserta didik setelah ia mengikuti serangkaian proses pembelajaran.15
Dengan memahami apa yang dikemukakan oleh Mulyasa dan Nana Sudjana di
atas, maka peneliti memberikan stressing terhadap pengertian hasil belajar dalam
penelitian ini sebagai sebuah perubahan tingkah laku yang meliputi perubahan
pengetahuan (kognisi), perubahan sikap (afeksi) dan perubahan pada domain kecakapan
(psikomotorik). Upaya pembelajaran diperlukan untuk memberikan kematangan sendiri
terhadap peserta didik.
Bukti bahwa seorang telah belajar ialah terjadinya perubahan tingkah laku pa
seorang tersebut misalnya dari tidak tahu menjadi tahu, dan dari tidak mengerti menjadi
mengerti.16
Berhasil atau tidaknya seseorang dalam belajar disebabkan beberapa faktor yang
mempengaruhi pencapaian hasil belajar yakni yang berasal dari dalam peseta didik yang
belajar (faktor internal) dan ada pula yang berasal dari luar peserta didik yang belajar
(faktor eksternal).17
Faktor-faktor yang dapat memberikan pengaruh cukup signifikan terhadap hasil belajar
dapat diuraikan, sebagai berikut:
1. Faktor yang bersumber dari dalam diri yang disebut faktor internal meliputi:
a. Jasmani atau fisik (Pysiologis)
b. rohani atau jiwa (psikologis)
2. Faktor yang datang dari luar diri atau faktor eksternal yang meliputi:
a. Lingkungan keluarga
b. Lingkungan sekolah
c. Lingkungan masyarakat
15 Nana Sudjana, Penilain hasil proses belajar mengajar, Bandung PT Remaja Rosdakarya, 2005
16Hamalik, Prestasi Belajar Mengajar Bandung, Bumi Aksara, 2008, km 30
17 Srisilawati Abd Samad, Faktor-faktor yang mempengaruhi Hasil Belajar (Jurnal Srisilawati Abd
Hasil belajar terbagi ke dalam tiga bentuk domain yakni sebagai berikut:18
1. Domain Kognitif
a. Menghapal
b. Memahami
Berdasarkan makna pengetahun yang dimiliki dari awal memberikan informasi baru
tentang pengetahuan kedalam skerma sebagai kemampuan sendiri dalam memahami.
Peserta didik pada jenjang ini diharapkan mampu memahami prinsip dan konsep
dengan baik
c. Mengaplikasikan
Prosudur dalam menyelesaikan suatu masalah dan mengerjakan bentuk tugas. Dalam
jenjang ini peserta didik dituntut untuk mampu membangun, mencegah, melatih,
menggali dan lain-lain.
d. Menganalisis
e. Mengevaluasi
Kemampuan untuk menilai suatu hal berdasarkan bukti internal dan eksternal dalam
menentukan kebijakan dan keputusan.
18 Ari Widodo, Revisi Taksonomi Bloom dan Pengembangan Butir Soal, Jurnal Penelitian Vol. 4 No.
f. Membuat
2. Domain Afektif
Domain Afektif merupakan domain jiwa yang berhubungan dengan sikap dan
emosi. Dalam hal ini terdapat lima kategori domain afektif yang memiliki kaitan erat
dengan tingkah laku dan sikap secara kompleks, yakni; 1) Penerimaan atau tanggapan, 2)
Responsibilitas, 3) Nilai yang diyakini (nilai diri), 4) Organisasi dan 5) Karakteristik
3. Domain Psikomotorik
Dari apa yang diuraikan di atas, dapat disimpulkan bahwa kegiatan pembelajaran
harus mengunakan penilain kegiatan belajar untuk mengukur ketiga domain ini sebagai
pemberitahuan bahwa peserta didik sudah mampu melakukannya sesuai dengan apa
yang diterima. Ketiga domain tersebut memiliki kaitan satu sama lain karna afektif
sebagai suatu sikap dalam bentuk pengetahuan nantinya akan dapat diimplementasikan
oleh kognitif melalui keterampilan yang sisebut psikomotorik.
Dari hasil belajar telah menunjukkan suatu perubahan yang lebih baik dan
memiliki mamfaat untuk19: (1) Menambah pengetahuan, (2) dari yang belum mengerti
menjadi mengerti sebelumnya. (3) Lebih mengembangkan keterampilannya. (4) Dapat
mengetahui sesuatu yang terbit dengan hal. (5) Dapat menghormati segala hal yang
sudah ada.
19 Nana Sudjana dan Ibrahim, Penelitian dan Penilaian Pendidikan (Bandung : Sinar Biru Algesindo,
2009), hlm. 3
Dari urain diatas maka diambil sebuah kesimpulan hasil belajar adalah suatu usaha
perubahan diri peserta didik untuk dapat melakukan perubahan dengan
mengembangkan kepribadian melalui pengetahuan, sikap dan keterampilan.
Pembelajaran Tematik
1. Bentuk integratife dapat memahami permasalahan yang ada di alam peserta didik
sesuai dengan lingkunagannya
2. Bentuk kegiatan integratife harus memiliki hubungan tertentu dengan proses
pembelajaran tematik.
3. Dalam kegiatan belajar mengajar integratife bahwa belum memiliki metode tentang
kurikulum digunakan dalam kegiatan belajar integratife dfalam melakukan hasil betul-
betul masih untuh dalam proses belajar melalui krikulum yang ada
4. Dalam memberikan tugas belajar pada peserta didik melihat karekternya dan
dipadukan keterampilan, bakat, pengalaman dan ilmu pengatahuan pertama
5. Materi dalam prose pembelajaran terpadu harus terkait lingkungan sehinga merasa
dibebani.
KESIMPULAN
mengerti. Lebih sederhana dikatakan bahwa hasil belajar ialah suatu perubahan dari cara
berpikir dan prilaku yang sudah melekat dibandingkan dengan sebelum belajar. Hasil
belajar ini akan menunjukkan perubahan yang signifikan dalam penilaian akhir sehinga
dari kebiasaan memiliki keterampilan, dari belum mengerti memiliki pengetahuan untuk
meningkatkan mentalnya lebih baik menhadapi perkembangan ilmu pengetahuan.
Pembelajaran tematik juga dapat diartikan sebagai pola pembelajaran mengintegrasikan
pengetahuan, keterampilan, kemahiran, nilai dan sikap pembelajaran dengan
mengunakan tema.
DAFTAR PUSTAKA
Ari Widodo, 2006, Revisi Taksonomi Bloom dan Pengembangan Butir Soal, Jurnal Penelitian
Vol. 4 No. 2. Bandung : FPMIPA UPI.
Dinda Aditya 2018, Pendekatan Saintifik. Lampung : Skripsi Program Studi PGSD:.
H. Udin Saubah, 2016., Implementasi Kurikulum 2013 melalui penerapan pendekatan saintifik.
Edukasi
Hosnan, 2004, Pendekatan saintifik dan kontesktual dalam pembelajaran abad 21. Bogor :
Ghaia Indonesia.
Nana Sudjana dan Ibrahim 2009, Penelitian dan Penilaian Pendidikan. Bandung : Sinar Biru
Algesindo,.
Undang-undang, 2003, Tujuan Pendidikan Nasional. Jakarta.
Supairoh, 2017, Pendekatan Saintifik dan model pembelajaran k-13. Jurnal Pendidikan
Profesional.
Sri silawati Abd Samad, 2015, Faktor-faktor yang mempengaruhi Hasil Belajar. Jurnal
Srisilawati Abd Samad.
Yulia Megawati, 2017, Pengaruh Penerapan Pendekatan. Surabaya : Skripsi Program Studi
Ekonomi Universitas Negeri.
Irwandi, 2012, Pengaruh Pendekatan Kontekstual dalam Pembelajaran Biologi melalui
Strategi Inkuiri dan Masyarakat pada Peserta didik dengan Kemampuan Awal
Berbeda terhadap hasil Belajar kognitif di SMA Negeri Kota Bengkulu, Jurnal
Lependidikan Triadik
Rusman, 2015 Pembelajaran Tematik Terpadu, Jakarta : Raja Grafindo Persada
Karae , E.E, dan Yenice, N, 2012, The Investigation of scientific process skill lecel of elementary
education 8th grade students in view of demographic features, Procedia Social nd Behavioral
Sciences
Daryanto, 2014, Pendekatan Pembelajaran Saintifik Kurikulum 2013, Yogyakarta,
Penerbit Gava Media
Purwa Atmaja Prawira, 2013, Psikologi Pendidikan sakam Persprktif baru, Jogjakarta,
Ar-Ruzz Media
M. Ngalim Purwanto, 1990, Psikologi Pendidikan, Bandung, PT Remaja Rosdakarya
Dimyati dan Mudjiono, 1999, Belajar dan Pembelajaran, Jakarta, Renika Cipta,
Hamalik, 2008, Prestasi Belajar Mengajar Bandung, Bumi Aksara,
Ari Widodo, 2006, Revisi Taksonomi Bloom dan Pengembangan Butir Soal, Jurnal Penelitian
Vol. 4 No. 2(Bandung : FPMIPA UPI,)
Departemen Pendidikan Agama, 2005, Pedoman Pelaksanaan Pembelajaran Tematik, (Dirjen
Kelmbagaan Agama Islam, Jakarta,)
Website
Https://www. Kajianpustaka. Com/2019/05/Pengertian prinsip dan langkah
pendekatan saintifik, diakses tanggal 1 september 2020
Https://id. m. Wikipedia. Org/wiki/Pendekatan saintifik, diakses tanggal 2 september
2020
Htttps://catilmu. Com/Pendekatan saintifik, diakses tanggal 2 september 2020
Https://www. Zonarefrensi. Com/Pengertian belajar, diakses tanggal 3 september 2020
Https://www. Dosenpendidikan. Co. id./Hasil belajar, diakses tanggal 5 september
2020
Https://www. Rijal09. Com/2016/11/Pengertian pembelajaran tematik, diakses tanggal 7
september 2020
Https://www. Wawasanpendidikan. Com/2016/07/Pengertian landasan karakteristik,
langkah dan tahap pelaksanaan pembelajaran tematik, diakses tanggal 8 september 2020