BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Landasan teori
1. Air Bersih
Air adalah senyawa kimia yang sangat penting bagi kehidupan manusia
dan makhluk lainnya. Air merupakan unsur penting dalam kehidupan yang
hampir seluruh kehidupan di dunia tidak lepas dari adanya air. Air bersih
merupakan air sehat yang digunakan untuk kegiatan manusia dan harus
bebas dari kuman-kuman penyabab penyakit dan zat-zat yang membuat air
tersebut tidak layak untuk dikonsumsi oleh manusia. Air dapat dikatakan
sebagai air bersih apabila telah memenuhi persyaratan kualitas air bersih.
Menurut Permenkes No. 32/Menkes/Per/IX/2017, yaitu air yang digunakan
untuk keperluan sehari-hari yang kualitasnya memenuhi syarat kesehatan
dan dapat langsung diminum apabila telah dimasak. (Permenkes, 2017).
2. Sumber Air
Berdasarkan siklus hidrologi maka sumber air yang dapat digunakan
secara langsung oleh manusia adalah air hujan, air tanah dan air permukaan.
a. Air hujan
Air hujan adalah air yang terjadi karena proses evaporasi dari air
yang berada di permukaan bumi karena energi dari sinar
[Link] air hujan dipengaruhi oleh keadaan kandungan yang
berada di atmosfer seperti gas-gas maupun debu, pada umumnya
kualitas air hujan relatif baik hanya kurang mengandung mineral.
10
Adapun sifat-sifat air hujan bersifat lunak (soft water) karena kurang
mengandung mineral-mineral sehingga rasanya kurang segar dan
bersifat korosif karena banyak mengandung gas-gas. Air hujan
merupakan sumber air yang berkualitas tinggi dimana akan tersedia
pada musim hujan dan berpotensi untuk mengurangi kebutuhan
terhadap penggunaan sumber air bersih (fresh water sources) (Indah
Ameliana Beza, Yohanna Lilis H, 2016).
b. Air Tanah
Air tanah adalah sebagai air yang berada dan berasal dari lapisan
tanah, baik air yang berada pada lapisan tanah tak jenuh maupun air
yang berada pada lapisan tanah jenuh (Pemerintah Provinsi Jawa
Tengah, 2018).
Dasarnya semua air tanah berasal dari air hujan yang mengalami
proses infiltrasi ke bagian lapisan tanah yang berpori selanjutnya akan
bergerak dalam tanah. Keadaan air tanah sangat dipengaruhi oleh
keadaan lapisan batuan dan daerah alirannya selama dalam
perjalanannya ke dalam tanah. Selama perjalanannya air berkontak
dengan berbagai macam zat dalam lapisan batuan yang mengandung
bahan organik maupun anorganik. Keadaan kualitas bakteriologi air
tanah pada umumnya baik jika dibandingkan dengan air permukaan
karena proses peresapan air ke dalam lapisan batuan terjadi proses
11
penyerapan terhadap bakteri maupun mikroorganisme yang lain (C.
Totok Sutrisno, 2006).
Air tanah yang mengandung zat Besi (Fe) dan Mangan (Mn)
cukup tinggi apabila digunakan untuk mencuci pakaian dan peralatan
yang berwarna putih akan mengalami perubahan warna kuning
kecoklatan pada benda yang dicuci, selain itu juga menimbulkan
endapan pada bak penampung air (Febrina dan Astrid, 2014).
c. Air Permukaan
Air permukaan ini berada di permukaan tanah yang berasal dari
air hujan, air lempasan permukaan (surface run off) maupun air tanah
yang keluar ke permukaan bumi sebagai mata air (interflow). Air
permukaan lebih mudah di peroleh dengan kuantitas besar, tetapi pada
umumnya air permukaan mudah terkontaminasi sehingga relative kotor
dan banyak mengandung bakteri-bakteri maupun zat kimia. Kualitas air
permukaan di pengaruhi oleh beberapa factor seperti daerah alirannya,
tempat dan sumber pencemarannya (C. Totok Sutrisno, 2006).
3. Kuantitas Air
Persyaratan air bersih dari segi kuantitas artinya bahwa jumlah air yang
digunakan sesuai dengan kebutuhan sehari-hari untuk setiap oragng.
Persyaratan kebutuhan jumlah air untuk setiap orang berbeda-beda
tergantung dari tingkat kehidupannya. Pertambahan penduduk yang begitu
12
pesat baik di pedesaan maupun perkotaan membawa dampak negatif
terhadap sumber daya air baik kuantitas maupun kualitasnya (Rachmawati,
Joko dan Dewanti, 2016).
4. Kualitas Air
Persyaratan kualitas air terdiri dari beberapa persyaratan yaitu
persyaratan fisik, kimia, bakteriologi dan radioaktif. Persyaratan fisik air
bersih harus jernih, tidak berbau, tidak berasa dan tidak keruh (Menteri
Kesehatan Republik Indonesia, 2017).
Tabel 1. Parameter fisik dalam Standar Baku Mutu Air
No Parameter Wajib Unit Kadar Maksimum
1 Kekeruhan NTU 25
2 Warna TCU 50
3 Zat padat terlarut Mg/L 1000
4 Suhu ˚C Suhu udara = 3
5 Rasa Tidak berasa
6 Bau Tidak berbau
Sumber : Permenkes RI No. 32 Tahun 2017.
Tabel 2. Parameter biologi Standar Baku Mutu Air
No Parameter Wajib Unit Kadar Maksimum
1 Total coliform CFU/100ml 50
2 E. coli CFU/100ml 0
Sumber : Permenkes RI No. 32 Tahun 2017.
13
Tabel 3. Parameter kimia dalam Standar Baku Mutu Air
No Parameter Wajib Unit Kadar Maksimum
Wajib
1 pH mg/L 6,5-8,5
2 Besi mg/L 1
3 Flourida mg/L 1,5
4 Kesadahan (CaCO3) mg/L 500
5 Mangan mg/L 0,5
6 Nitrat, sebagai N mg/L 10
7 Nitrit, sebagai N mg/L 1
8 Sianida mg/L 0,1
9 Diterjen mg/L 0,05
10 Pestisida total mg/L 0,1
Tambahan
1 Air raksa mg/L 0,001
2 Arsen mg/L 0,05
3 Kadmium mg/L 0,005
4 Kromium mg/L 0,05
5 Selenium mg/L 0,01
6 Seng mg/L 15
7 Sulfur mg/L 400
8 Timbal mg/L 0,05
9 Benzene mg/L 0,01
10 Zat organic (KMNO4) mg/L 10
Sumber : Permenkes RI No. 32 Tahun 2017.
5. Besi (Fe) Dalam Air
Adanya Besi (Fe) dalam air karena proses reduksi yang terjadi dalam
keadaan anaerob pada umumnya, unsur Besi (Fe) sering dijumpai dalam air
yang berasal dari air tanah karena kandungan air dalam tanah bersifat
anaerob. Kandungan Besi (Fe) dalam air mempunyai bentuk oksidasi yaitu
besi dalam bentuk valensi dua (Fe2+) dan bentuk valensi tiga (Fe3+).
Didalam air tanah yang jernih, unsur besi yang terkandung didalamnya pada
umumnya bervalensi dua dalam bentuk karbonat Fe (HCO3)2. Bentuk ini
14
dalam air tidak menimbulkan warna karena masih larut dalam air, Apabila
air tersebut kontak dengan oksigen (O2), maka besi yang bervalensi dua
akan berubah menjadi besi yang bervalensi tiga dengan reaksi (Nindya
Yusniartanti, 2002).
Adapun rekasinya sebagai berikut :
4Fe2+ + 3O2 + 6H2O 4 Fe(OH)3
Besi yang bervalensi tiga dalam bentuk Fe(OH)3 ini akan bersifat tidak
larut dalam air. Akibatnya air akan berwarna merah kecoklatan. Kosentrasi
kadar besi dalam air tanah yang bersifat asam atau pH nya reaksi basanya
lebih tinggi bila dibandingkan dangan air tanah yang pH asamnya tinggi.
Kadar besi dalam air tanah selain disebabkan karena proses oksidasi, juga
di sebabkan karena adanya bakteri besi dalam air. Bakteri besi dalam
mempertahankan hidupnya memerlukan kadar besi dan oksigen seperti
bakteri Creonothinx.
Kadar Besi (Fe) dalam air juga bisa terjadi karena terlarutnya logam
(corrosis) seperti pada pipa-pipa saluran air dan pipa-pipa saluran lainnya.
Proses terjadinya korosi pada pipa disebabkan karena keadaan pH dan
proses oksidasi sehingga teroksidasi besi dalam bentuk Fe(OH)3 keadaan
pH air yang rendah sehingga dapat menyebabkan terjadinya proses korosi.
2H2CO3 + Fe Fe(HCO3)2 + H2O
4Fe(HCo3)2 + 2H2O + O2 4Fe(OH)3 + Co2
Kadar besi yang berlebihan dalam air tanah akan menyebabkan ganguan
teknis dan ekonomi yaitu :
a. Meninggalkan noda dalam pakaian berwarna kuning kecoklatan.
b. Mengotori plambing fixture (kloset, washtafel, bak mandi, dll).
c. Membantu perkembangbiakan bakteri.
15
6. Filtrasi
Dalam air biasanya terlarut dalam bentuk senyawa atau garam
bikarbonat, garam sulfat, hidroksida dan juga dalam bentuk kolloid atau
dalam keadaan bergabung dengan senyawa organik. Oleh karena itu cara
pengolahannyapun harus disesuaikan dengan bentuk senyawa Besi (Fe) dan
Mangan (Mn) dalam air yang akan diolah.
Digunakannya media filter atau saringan karena merupakan alat filtrasi
atau penyaringan, memisahkan campuran solida dengan media porous atau
material porous lainnya guna memisahkan sebanyak mungkin padatan
tersuspensi yang paling halus. Penyaringan ini merupakan proses
pemisahan antara padatan atau koloid dengan cairan, dimana prosesnya bisa
dijadikan sebagai proses awal (primary treatment).
Filtrasi adalah proses pemisahan solid liquid dengan cara melewatkan
liquid melalui media berpori atau bahan-bahan berpori untuk menyisihkan
atau menghilangkan sebanyak-banyaknya butiran-butiran halus zat padat
tersuspensi dari liquida (Widyastuti dan Sari, 2011). Filtrasi adalah proses
penyaringan air secara fisik, kimia dan biologi, filtrasi ini bertujuan untuk
memisahkan atau menyaring partikel-partikel yang tidak dapat mengendap.
Proses filtrasi ini merupakan pengolahan air dengan cara mengalirkan air
pada suatu alat dengan melewati media filtrasi yang tersusun dari berbagai
macam bahan dengan diameter dan ketebalan tertentu. Filtrasi merupakan
proses pengolahan air yang dapat menurunkan kadar kontaminasi seperti
bakteri, warna, rasa, bau, dan Fe sehingga air yang telah terkontaminasi
dapat memenuhi standar kualitas air bersih.
7. Tempurung Kemiri
Pohon kemiri merupakan jenis pohon serbaguna, hampir seluruh
bagiannya dapat dimanfaatkan dengan produk utama kemiri isi. Limbah
yang dihasilkan dari proses pemecahan biji kemiri berupa tempurung kemiri
selama ini belum dimanfaatkan secara optimal. Berat tempurung kemiri
16
mencapai dua per tiga dari berat biji kemiri utuh dan yang sepertiganya
adalah inti (karnel) dari buah kemiri. Limbah ini tentunya akan sangat
berpotensi bagi masyarakat apabila dimanfaatkan menjadi produk yang
mempunyai nilai jual, diantaranya adalah sebagai produk arang aktif. Arang
aktif yang terbuat dari tempurung kemiri ini dapat digunakan dalam
menurunkan kadar besi dalam air, karena memiliki kandungan lig-
noselulosa (lignin, selulosa, dan hemiselulosa).
Pada penelitian Ronny (2016) dengan judul “Kemampuan Arang aktif
Tempurung Kemiri Untuk Menurunkan Kadar Besi (Fe) Pada Air Sumur
Gali”, penggunaan arang tempurung kemiri dengan ketebalan 80cm dan
diameter Catridge 3” serta waktu kontak selama 30 menit dapat
menurunkan kadar Fe dari 2,15mg/L menjadi 0,66mg/L atau sebesar
69,30%. Dari hasil tersebut menunjukkan bahwa arang aktif tempurung
kemiri dengan ketebalan 80cm dan waktu kontak selama 30 menit mampu
menurunkan kadar besi (Fe) dan sesuai dengan standard Permenkes nomor
416/MENKES/PER/IX/1990 tentang syarat-syarat dan pengawasan kuaitas
air, bahwa kadar maksimum besi yang diperbolehkan untuk air bersih
adalah 1,0 mg/L.
Gambar 1. Tempurung Kemiri
17
8. Limbah Produksi Genteng
Genteng terbuat dari tanah liat pracetak press dengan tekanan tertentu,
setelah kering dibakar dengan suhu tinggi sehingga mempunyai kekerasan
yang tinggi. Genteng dari tanah liat banyak diproduksi oleh masyarakat
yang digunakan sebagai penutup atap rumah. Genteng utuh mempunyai
ukuran bervariasi namun yang umum digunakan oleh masyarakat adalah
dengan panjang 230-240 m dan lebar 150-160. (MARYANI, 2014).
Pecahan genteng merupakan genteng pecah hasil produksi genteng yang
tidak dapat digunakan sebagai atap rumah. Tanah liat yang biasa digunakan
untuk produksi genteng adalah Earthenware Clay (tanah bata merah).
Tanah ini terdapat dimana-mana dan sukar dibakar padat bila tidak
tercampur bahan lainnya. Juga termasuk tanah sekunder dan banyak
mengandung oksidasi besi.(Aloysius Oktavius Sari, 2015).
Karakteristik pecahan genteng adalah memiliki berat jenis 1,723 kg/l
dan serapan air sebesar 11,394 % (Endroyo, 2010). Pecahan genteng
termasuk ke dalam agregat ringan buatan. Menurut SNI S-16-1990-F,
agregat ringan buatan adalah agregat yang dibuat dengan membengkakan
atau memanaskan bahan-bahan seperti terak dari peleburan besi, tanah liat,
abu terbang, tanah serpih, batu tulis, dan lempung.
Pada penelitian Fitri Maryani (2014) dengan judul “Efektifitas Variasi
Ketebalan Zeolit dan Pecahan Genteng Dalam Menurunkan Kadar Fe dan
Mn Air Sumur Gali Dusun Waru Rangkang Sapen Manisrenggo Klaten”,
penggunaan zeolit dan pecahan genteng dengan ketebalan 80cm dan 40cm
dan diameter Catridge 4” serta waktu kontak selama 20 menit dapat
menurunkan kadar Fe dari 5,06mg/L menjadi 0,47mg/L atau sebesar
85,51%. Dari hasil tersebut menunjukkan bahwa zeolit dan pecahan
genteng dengan ketebalan 80cm dan 40cm dan waktu kontak selama 20
menit mampu menurunkan kadar besi (Fe) dan sesuai dengan standard
Permenkes nomor 416/MENKES/PER/IX/1990 tentang syarat-syarat dan
18
pengawasan kuaitas air, bahwa kadar maksimum besi yang diperbolehkan
untuk air bersih adalah 1,0 mg/L.
Gambar 2. Pecahan Genteng
19
B. Kerangka Konsep
Kadar Besi (Fe) air sumur tinggi
Diolah Tidak diolah
Diolah dengan metode penyaringan Kadar Besi (Fe)
Filter dengan media Arang tidak turun
Tempurung Kemiri dan Limbah
Industri Genteng
1. Tidak dapat dikonsumsi
2. Kerugian bagi kesehatan
Penurunan Kadar Besi 3. Kerugian secara teknik
(Fe) 4. Kerugian ekonomi
5. Kerugian secara fisik
Memenuhi syarat
(Permenkes RI No. 32 Keterangan :
Tahun 2017)
________ = Diolah/diteliti
------------- = Tidak diolah/tidak diteliti
Aman untuk
digunakan/dikonsumsi
Gambar 3. Kerangka Konsep
20
C. Hipotesis
1. Hipotesis Mayor
Ada pengaruh variasi ketebalan media filter arang tempurung kemiri dan
limbah industri genteng terhadap penurunkan kadar besi (Fe) pada air
sumur gali.
2. Hipotesis minor
Ada filter dengan variasi ketebalan arang tempurung kemiri dan limbah
industri genteng yang efektif untuk menurunkan kadar besi (Fe) pada air
sumur gali.
21