BAB II
KAJIAN TEORI DAN KERANGKA BERPIKIR
A. Kajian Teori
1. Bahan Ajar
a. Pengertian Bahan Ajar
Bahan ajar merupakan komponen penting dalam kegiatan
pembelajaran, yang dirancang dan disusun secara sistematis untuk
memudahkan peserta didik mencapai tujuan pembelajaran. Prastowo
(2015) mendefinisikan bahan ajar sebagai segala bentuk bahan
berupa informasi, alat, dan teks yang disusun secara sistematis dan
menarik untuk mendukung proses belajar-mengajar.
Sejalan dengan pendapat tersebut, Karunia, Kua & Lawe (2024)
mengungkapkan bahan ajar adalah segala sesuatu yang memudahkan
siswa menemukan materi atau informasi, pengetahuan, dan
keterampilan dalam pembelajaran untuk mencapai kompetensi dasar
dan tujuan pembelajaran yang diharapkan. Bahan ajar adalah sesuatu
yang digunakan oleh guru atau peserta didik untuk memudahkan
proses pembelajaran. Bentuknya bisa berupa buku bacaan, buku
kerja (LKS), maupun tayangan Kosasih,E (2021) Berdasarkan
uraian pendapat tersebut, maka disimpulkan bahwa bahan ajar adalah
segala bentuk materi yang digunakan dalam proses belajar untuk
membantu siswa memahami pengetahuan, sikap dan keterampilan
yang diperlukan untuk mencapai kompetensi dasar dan tujuan
pembelajaran.
b. Fungsi Bahan Ajar
Menurut Mahulae (2023) fungsi bahan ajar dalam pembelajaran
sebagai berikut:
1) Mengkomunikasikan Informasi: Bahan ajar membantu guru atau
instruktur dalam menyampaikan informasi dengan lebih jelas
dan terstruktur kepada peserta didik.
2) Mengilustrasikan Konsep: Bahan ajar dapat mengilustrasikan
konsep atau ide-ide abstrak sehingga peserta didik dapat lebih
mudah memahaminya.
3) Memfasilitasi Pembelajaran Mandiri: Bahan ajar juga digunakan
untuk mendukung pembelajaran mandiri, memungkinkan
peserta didik belajar sendiri tanpa bimbingan langsung.
4) Mengukur Pencapaian Belajar: Bahan ajar juga dapat digunakan
sebagai alat untuk mengukur pemahaman dan pencapaian
belajar peserta didik melalui tes dan tugas.
Dikaji dari pendapat Mahulae tersebut, fungsi bahan ajar adalah
untuk menyampaikan informasi lebih jelas kepada siswa,
memudahkan siswa memahami konsep abstrak, memberi fasilitas
siswa untuk belajar mandiri, dan mengukur pemahaman siswa.
Fungsi bahan ajar pada penelitian ini adalah sebagai sarana
informasi pembelajaran materi Cerita dari Kampung Halaman.
c. Jenis-Jenis Bahan Ajar
Bahan ajar secara umum dapat dibedakan menjadi dua jenis yaitu
bahan ajar cetak dan bahan ajar noncetak.
1) Bahan ajar cetak
Bahan ajar cetak adalah bahan ajar yang tertulis dalam kertas
memuat informasi yang ingin disampaikan kepada pembaca dan
membantu memudahkan pembelajaran. Jenis bahan ajar cetak
antara lain: lembar kerja peserta didik (LKPD), peta, jurnal,
modul, buku, komik, majalah dan handout.
2) Bahan ajar non cetak
Bahan ajar non cetak adalah bahan ajar abstrak yang tidak
termuat dalam kertas dapat berupa tulisan, gambar, audio, dan
video. Jenis bahan ajar noncetak adalah display, video
pembelajaran, realia, audio, dan overhead transparencie.
(Supardi, 2020, h.18-24)
Sementara menurut Mahulae (2023) berbagai jenis bahan ajar yang
dapat digunakan termasuk:
1) Buku Teks: Buku teks adalah sumber informasi yang klasik
dan sering digunakan dalam pembelajaran formal.
2) Materi Digital: Bahan ajar digital dapat berupa presentasi, video
pembelajaran, atau modul interaktif yang dapat diakses secara
online.
3) Aplikasi Edukasi: Aplikasi khusus pembelajaran digunakan
untuk memberikan pengalaman belajar interaktif.
Dikaji berdasarkan pendapat di atas, maka bentuk bahan ajar
dikelompokkan menjadi dua bentuk yaitu cetak dan non cetak, yang
membedakan dari bentuk hasil produk bahan ajarnya. Jika cetak
maka hasil berbentuk nyata di desain sebagaimana layaknya buku
seperti biasa sedangkan bentuk non cetak artinya tidak ada bentuk
cetakan. Berdasarkan bentuk-bentuk bahan ajar, maka peneliti dalam
penelitian ini akan mengembangkan produk berupa bahan ajar dalam
bentuk bahan ajar cetak dalam bentuk buku.
d. Prinsip-Prinsip Penyusunan Bahan Ajar
Prinsip desain bahan ajar yang perlu diperhatikan menurut Mahulae
(2023) antara lain sebagai berikut:
1) Relevansi: Bahan ajar harus relevan dengan tujuan pembelajaran
dan kebutuhan peserta didik.
2) Keterbacaan: Bahan ajar harus ditulis dengan bahasa yang
mudah dipahami oleh peserta didik, menghindari istilah yang
terlalu teknis atau sulit
3) Keragaman Media: Menggunakan beragam media seperti teks,
gambar, audio, dan video untuk mendukung pembelajaran.
4) Interaktivitas: Mendorong peserta didik untuk aktif terlibat
dalam pembelajaran melalui pertanyaan, tugas, dan latihan
(Mahulae, 2023, h.4)
Dikaji dari pendapat Mahulae tersebut, maka desain bahan ajar
harus relevan dengan tujuan pembelajaran, mudah dipahami,
memanfaatkan ragam media, dan interaktif. Sejalan dengan pendapat
tersebut, Kurniawan & Kuswandi (2021) terdapat empat prinsip yang
dapat dipakai untuk menyusun bahan ajar yaitu terdiri dari prinsip
relevansi, prinsip konsistensinya, prinsip kecukupan dan prinsip
keterbacaan.
1) Prinsip relevansi: Bahan ajar sebaiknya relevan dan memiliki
keterkaitan terhadap pencapaian standar kopetensi dan
kompetensi dasar yang sesuai dengan karakteristik
pembelajaran, dan lingkungan pembelajaran.
2) Prinsip konsitensinya: bahan ajar memiliki sifat yang konsisten
antara materi bahan ajar dengan kompetensi dasar yang harus
dikuasai peserta didik.
3) Prinsip kecukupan: bahan ajar yang diberikan mempunyai
kuantitas material yang mencukupi dan memadai dengan tujuan
untuk membantu peserta didik menguasai kompetensi dasar.
4) Prinsip keterbatasan dan kemenarikan: bahan ajar memiliki sifat
praktis, mudah dibawa, dan mudah dibaca. Selain itu mudah
dipahami oleh peserta didik sehingga dapat menimbulkan
dorongan untuk semangat belajar.
e. Syarat Bahan Ajar yang Baik
Menurut Pribadi (2019) bahan ajar berkualitas memiliki beberapa
indikator yaitu:
1) Mampu memfasilitasi proses belajar peserta didik setelah
mempelajari isi atau materi pelajaran
2) Mampu meningkatkan daya ingat atau retensi peserta didik
terhadap isi atau materi yang telah dipelajari
3) Mampu memotivasi peserta didik untuk menguasai kompetensi
4) Mampu mendorong peserta untuk dapat menerapkan pengetahuan
dan keterampilan yang telah dipelajari
Menurut Kurniawan & Kuswandi (2021) ciri-ciri bahan ajar
yang dapat untuk penyusunan bahan ajar yang baik adalah:
1) Bahan ajar memuat penjelasan kompetensi dan tujuan
intruksional yang akan dicapai.
2) Bahan ajar disusun berdasarkan model pembelajaran yang
menarik, kreatif dan inovatif
3) Bahan ajar memiliki struktur bahan ajar yang disesuaikan
dengan kebutuhan siswa dan kompetensi akhir yang akan
dicapai.
4) Bahan ajar memiliki tampilan yang sederhana dan menarik
sehingga dapat mendorong minat belajar peserta didik.
5) Bahan ajar memberi kesempatan peserta didik untuk lebih
mengedepankan pembelajaran mandiri.
6) Bahan ajar dapat mengakomodasi peserta didik untuk lebih
mengedepankan pembelajaran mandiri.
7) Bahan ajar memperhatikan topik terbaru. (h.11)
Dikaji dari pendapat para ahli di atas, bahan ajar yang
berkualitas harus mampu memfasilitasi proses belajar,
meningkatkan retensi dan motivasi peserta didik, serta mendorong
penerapan pengetahuan dan keterampilan. Bahan ajar perlu memuat
kompetensi dan tujuan pembelajaran yang jelas, disusun dengan
model yang kreatif, inovatif, dan menarik, serta memiliki struktur
yang sistematis sesuai kebutuhan siswa. Selain itu, bahan ajar harus
sederhana namun menarik, mendukung pembelajaran mandiri, dan
memuat topik yang relevan dengan perkembangan terkini. Dengan
demikian, bahan ajar dapat berfungsi optimal dalam menunjang
keberhasilan proses pembelajaran.
f. Keunggulan dan Kekurangan Bahan Ajar Cetak
Bahan ajar cetak dapat diartikan sebagai perangkat bahan yang
memuat materi atau isi untuk mencapai tujuan pembelajaran yang
dituangkan dengan menggunakan teknologi cetak. Suatu bahan
pembelajaran cetak memuat materi berupa ide, fakta, konsep,
prinsip, kaidah atau teori yang tercangkup dalam mata pelajaran
sesuai disiplin ilmunya serta informasi lainnya dalam pembelajaran
(Hasanah, Wahab, Nawali & Savika, 2024).
Keunggulan bahan ajar cetak sebagai sarana pembelajaran antara
lain:
1) Kesesuaian untuk digunakan dalam menyajikan semua jenis
informasi dan pengetahuan.
2) Kebebasan pembaca dalam memilih bagian atau materi yang
perlu dipelajari
3) Tidak memerlukan peralatan tambahan untuk
menggunakannya
4) Penggunaan bahan ajar cetak dapat dikombinasikan dengan
media atau bahan ajar lain (Pribadi, 2019, h.2.6)
Selain memiliki keunggulan, menurut Anderson bahan ajar cetak
juga memiliki kelemahan sebagai berikut:
1) Untuk mencetak bahan ajar diperlukan waktu yang cukup lama
2) Mencetak gambar atau berwarna memerlukan biaya yang
mahal
3) Audio visualnya atau gambar bergerak tidak bisa dicetak
4) Pelajaran yang terlalu banyak disajikan dibahan ajar cetak
cenderung membuat siswa merasa malas membaca yang
menyebabkan munculnya rasa bosan
5) Tanpa dirawat dengan baik, bahan ajar cetak cenderung cepat
rusak, dan bisa hilang (Ayu, 2024)
Dikaji dari pendapat di atas, bahan ajar cetak memiliki
keunggulan antara lain kemudahan akses, fleksibilitas menyajikan
informasi, serta kemampuan untuk dikombinasikan dengan media
pembelajaran lainnya. Namun, terdapat kelemahan, seperti
tingginya biaya produksi untuk bahan berwarna, keterbatasan
menyajikan elemen audio-visual, kecenderungan siswa merasa
jenuh jika materi terlalu banyak, serta kerentanan terhadap
kerusakan. Oleh karena itu, penggunaannya perlu dirancang secara
optimal agar mendukung efektivitas pembelajaran.
2. Kearifan Lokal
a. Pengertian kearifan lokal
Kearifan lokal adalah nilai-nilai budaya yang lahir, tumbuh,
dan berkembang dalam suatu masyarakat lokal yang berfungsi
sebagai pedoman dalam berperilaku, menyelesaikan masalah,
serta menjaga hubungan antara manusia dan lingkungannya.
Menurut Haryati Subadio (2016), kearifan lokal merupakan
kekayaan budaya lokal yang mengandung nilai-nilai luhur dan
diwariskan secara turun-temurun sebagai bentuk adaptasi
terhadap lingkungan dan perubahan zaman.
Sementara itu, Zuhairini & Muthmainnah (2021) menyatakan
bahwa kearifan lokal adalah refleksi pengetahuan lokal (local
knowledge) yang berbasis pada pengalaman hidup masyarakat
setempat. Kearifan ini bersifat kontekstual, fleksibel, dan
berakar kuat pada budaya masyarakat yang mendukung
prinsip-prinsip keberlanjutan, baik secara sosial, ekonomi,
maupun ekologis.
b. Kearifan lokal kebudayaan daerah sambas
Kabupaten Sambas sebagai salah satu kabupaten di
Kalimantan Barat, memiliki karakteristik multikultural yang
kuat, didominasi oleh etnis Melayu dengan akulturasi budaya
dari etnis Tionghoa dan Dayak. Budaya Melayu di Sambas
tidak hanya hidup dalam aspek kebahasaan dan seni, tetapi
juga terwujud dalam sistem sosial, religi, dan praktik
kehidupan sehari-hari.
Penelitian Syarif (2020) menunjukkan bahwa keberadaan
Kerajaan Sambas pada masa lalu turut membentuk sistem
nilai masyarakatnya, seperti tata krama, etika dalam
berkomunikasi, dan penghormatan terhadap adat. Hal ini
memperkuat keberadaan nilai-nilai kearifan lokal sebagai
bagian dari identitas masyarakat Melayu Sambas.
c. Bentuk bentuk kebudayaan melayu daerah sambas
Kearifan lokal masyarakat Sambas tercermin dalam berbagai
tradisi yang masih dilestarikan hingga kini. Tradisi-tradisi ini
bukan sekadar rutinitas budaya, tetapi juga menjadi sarana
pembentukan karakter, pelestarian nilai sosial, serta penguatan
identitas etnis Melayu Sambas. Berikut lima bentuk kearifan
lokal yang khas
1) Mulang-mulangkan
2) Antar pakatan
3) Bepapas
4) Tepung tawar
5) Saprahan
d. Fungsi dan makna kebudayaan daerah sambas
3. Materi Cerita dari Kampung Halaman
B. Kerangka Berpikir