0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
8 tayangan8 halaman

Asuhan Keperawatan Ibu Post Partum Primipara

Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
8 tayangan8 halaman

Asuhan Keperawatan Ibu Post Partum Primipara

Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Post partum primipara adalah wanita yang hamil pertama kali dan

melahirkan bayi pertama kali (Indriyani, 2020). Ibu post partum primipara

merupakan seorang wanita atau ibu melahirkan anak pertamanya. Ibu mulai

menyesuaikan diri dengan perubahan fisik dan psikologis yang terjadi selama

tahap ini. Ibu yang baru pertama kali menyusui bayi memiliki pengalaman yang

lebih sedikit dibandingkan dengan ibu yang sudah memiliki pengalaman

menyusui anak sebelumnya. Pengalaman ibu yang baru pertama kali

melahirkan tentang cara memberikan ASI yang tepat dan benar kemungkinan

besar akan menimbulkan masalah atau kesulitan dalam menyusui bayinya

(Ginting et al., 2021).

Pada post partum ibu akan mengalami beberapa perubahan, salah satunya

pada payudara. Payudara ibu post partum akan berubah lebih besar, keras dan

disekitar puting menghitam. Kondisi tersebut merupakan tanda di mulainya

proses menyusui. Menyusui merupakan cara terbaik ibu untuk memenuhi

nutrisi bayi selama 6 bulan. Selain itu, menyusui juga akan membentuk jalinan

kasih sayang antara ibu dan bayi. Pada proses menyusui seringkali terjadi

masalah pada sebagian ibu sehingga tidak memberikan ASI eksklusif dengan

alasan ASlnya tidak keluar atau keluar sedikit. Hal ini menimbulkan masalah

menyusui tidak efektif (Maryunani, 2015).

Menyusui tidak efektif merupakan kondisi dimana ibu dan bayi

mengalami ketidakpuasan atau kesukaran pada proses menyusui. Penyebab

lain dari menyusui tidak efektif adalah ketidakadekuatan suplai ASI, hambatan

1
pada neonatus (prematuitas, sumbing), anomali payudara (putting yang masuk

kedalam), ketidakadekuatan reflek oksitosin, ketidakadekuatan reflek

menghisap bayi, payudara bengkak, riwayat operasi payudara, kelahiran

kembar, tidak rawat gabung. kurang terpapar informasi tentang pentingnya ASI

(Tim Pokja SDKI DPP PPNI, 2018).

Berdasarkan informasi United Nations International Children’s Education

Found (UNICEF) menyatakan bahwa terdapat 17.230.142 juta ibu yang

mengalami masalah menyusui di dunia, terdiri dari 56,4% puting lecet, 21,12%

payudara yang membesar, 15% payudara tersumbat dan mastitis 7,5%

(Andriani et al., 2021). Menurut penelitian Jacqueline, et. al (2016) diketahui

bahwa 58% ibu mengalami masalah menyusui dalam 2 minggu pertama

membuat kurangnya kepercayaan diri ibu untuk menyusui bayinya. Jika suplai

ASI benar-benar tidak memadai maka suplemen tambahan diperlukan. Jika

pemberian makanan tambahan diberikan sebagai pengganti ASI maka akan

berdampak negatif pada persediaan ASI itu sendiri. Sehingga semakin sering

ASI diberikan kepada bayi maka produksi ASI pun akan semakin lancar dan

kebutuhan bayi akan nutrisi yang berasal dari ASI pun juga terpenuhi.

Berdasarkan data Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Utara, terdapat

87,24% ibu melahirkan bayi nya yang pertama kali pada tahun 2019

(Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2020). Berdasarkan data yang di

dapatkan dari Rumah Sakit Umum Daerah Pandan Kabupaten Tapanuli Tengah

2024 bahwa data Ibu post partum primipara pada tahun 2022 sebanyak 48

orang, dan tahun 2023 sebanyak 107 orang (Rekam Medik RSUD Pandan

Kabupaten Tapanuli Tengah, 2024).

2
Menurut Kementerian Kesehatan (2021), dari 2,3 juta bayi di bawah

usia 6 bulan di Indonesia, hanya separuhnya yang mendapat ASI eksklusif,

yaitu 52,5%. Organisasi Kesehatan Dunia (2019) merekomendasikan agar

para ibu di seluruh dunia memberikan ASI eksklusif kepada bayinya selama

6 bulan pertama kehidupannya untuk pertumbuhan, perkembangan, dan

kesehatan yang optimal. Hal ini diatur oleh Kementerian Kesehatan RI.

450/Menkes/SK/IV/2004 menetapkan target 80% pemberian ASI eksklusif

selama 6 bulan. Pemberian ASI eksklusif pada usia 0 hingga 6 bulan dinilai

sangat strategis karena kondisi bayi pada usia tersebut masih sangat labil dan

rentan sakit. ASI dianjurkan untuk bayi karena kandungannya sangat spesifik.

Boquien (2018) menemukan bahwa ASI mengandung 87% air, 1% protein, 4%

lipid atau lemak, dan 7% karbohidrat, termasuk 1-2,4% oligosakarida atau

karbohidrat rantai pendek yang berperan sebagai prebiotik, termasuk di

dalamnya.

Pemberian ASI eksklusif dipengaruhi oleh berbagai macam faktor, antara

lain ASI yang tidak mencukupi setelah melahirkan, suplai ASI yang tidak

mencukupi, rasa percaya diri ibu yang kurang, puting ibu yang tidak didukung,

pekerjaan ibu dan pengaruh promosi pengganti ASI (Julizar et al, 2022).

Dampak dari jarangnya pemberian ASI eksklusif pada bayi usia 0–6 bulan

dapat mengakibatkan penyakit seperti ISPA dan Diare, selain dari ISPA dan

Diare dapat mengakibatkan gizi buruk, pertumbuhan fisik lebih lambat,

kerentanan terhadap penyakit, kecerdasan anak berkurang, serta gizi buruk

yang parah dapat menyebabkan kematian anak (Juniar et al., 2023).

3
Intervensi yang dapat diberikan pada ibu post partum primipara untuk

mempengaruhi kelancaran produksi ASI diantaranya adalah pemijatan,

perawatan payudara, dan mengonsumsi makanan khusus yang dapat

meningkatkan pasokan ASI (Astutik, 2017). Pemijatan yang berasal dari kata

pijat adalah aktivitas memberi tekanan pada anggota tubuh, terutama kulit,

otot, dan urat dengan teknik atau metode tertentu. Pijat oksitosin merupakan

salah satu teknik pijat yang banyak dilakukan pada ibu pasca bersalin. Pijat ini

diyakini mampu memberi stimulasi pada puting dan meningkatkan produksi

ASI.

Menurut Rahayu (2016), pijat oksitosin adalah pemijatan pada sepanjang

tulang belakang (vertebrae) sampai tulang costae kelima – keenam yang dapat

merangsang hormon oksitosin dan prolaktin setelah melahirkan. Pijat oksitosin

dapat dilakukan dengan mudah karena gerakannya tidak terlalu banyak untuk

dan waktu yang dibutuhkan relatif singkat. Pijat oksitosin ini dapat

memberikan ibu rasa lebih nyaman dan rileks Yusari, (2017). Pijat oksitosin

pada tulang belakang akan menyebabkan neurotransmitter merangsang

medulla oblongata dan langsung mengirimkan pesan ke hipotalamus hipofise

posterior untuk mengeluarkan oksitosin yang menyebabkan payudara

mengeluarkan air susunya.

Hasil penelitian Asih (2017) tentang Pengaruh Pijat Oksitosin terhadap

Produksi ASI pada Ibu Nifas di BPM Lia Maria Sukarame Bandar Lampung

menunjukkan bahwa ada pengaruh yang signifikan antara pijat oksitosin

terhadap produksi ASI pada ibu nifas dengan value 0,037. Hal ini dibuktikan

dengan ibu yang mendapatkan pijat oksitosin 93,8% memiliki produksi ASI

4
yang cukup, sedangkan pada ibu yang tidak mendapatkan pijat oksitosin 56,2%

memiliki produksi ASI yang cukup. Pemberian pijat oksitosin merupakan salah

satu tugas perawat sebagai care giver dalam memberikan asuhan keperawatan

dari yang mudah sampai yang kompleks. Perawat memberi dukungan dan rasa

nyaman pada ibu postpartum melalui tindakan pijat oksitosin, sehingga dapat

meningkatkan produksi ASI dan meningkatkan efektivitas menyusui. Perawat

juga memberikan pendidikan kesehatan sekaligus mendemonstrasikan teknik

pijat oksitosin yang benar kepada suami atau keluarga klien.

Di Indonesia, tingkat pemberian ASI eksklusif masih sebesar 37%,

Menurut data survei kesehatan tahun 2018 (UNICEF, 2020). Menurut

Kementerian Kesehatan (2021), dari 2,3 juta bayi di bawah usia 6 bulan di

Indonesia, hanya separuhnya yang mendapat ASI eksklusif, yaitu 52,5%.

Menurut Organisasi Kesehatan Dunia hanya 44 bayi berusia 0 hingga 5 bulan

yang mendapat ASI eksklusif.

Penatalaksanaan keperawatan pada pasien post partum primipara yang

mengalami menyusui tidak efektif dilakukan dengan Standar Intervensi

Keperawatan Indonesia (SIKI) yaitu Edukasi menyusui. Edukasi menyusui

antara lain dengan identifikasi kesiapan dan kemampuan menerima

informasi,identifikasi tujuan atau keinginan menyusui, sediakan materi dan

media pendidikan kesehatan, jadwalkan pendidikan kesehatan sesuai

kesepakatan, dukung ibu meningkatkan kepercayaan diri dalam menyusui,

libatkan sistem pendukung : suami, keluarga, tenaga kesehatan dan

masyarakat, jelaskan manfaat menyusui bagi ibu dan bayi, ajarkan 4 ( empat

) posisi menyusui dan perlekatan ( lacth on ) dengan benar SIKI, (2017)

5
Berdasarkan uraian data tersebut, penulis tertarik untuk mengangkat kasus

ini sebagai Karya Tulis Ilmiah dengan judul “ Asuhan Keperawatan Pada Ibu

Post Partum Primipara Dengan Masalah Keperawatan Menyusui Tidak Efektif

di RSUD Pandan Kabupaten Tapanuli Tengah”.

1.2 Batasan Masalah

Masalah pada studi kasus ini dibatasi pada Asuhan Keperawatan Pada

Ibu Post Partum Primipara Dengan Masalah Keperawatan Menyusui

Tidak Efektif di RSUD Pandan Kabupaten Tapanuli Tengah.

1.3 Rumusan Masalah

Bagaimanakah Asuhan Keperawatan Pada Ibu Post Partum

Primipara Dengan Masalah Keperawatan Menyusui Tidak Efektif di

RSUD Pandan Kabupaten Tapanuli Tengah?

1.4 Tujuan

1.4.1 Tujuan Umum

Tujuan umum dilakukannya penulisan Karya Tulis Ilmiah ini untuk

melaksanakan Asuhan Keperawatan Pada Ibu Post Partum Primipara

Dengan Masalah Keperawatan Menyusui Tidak Efektif di RSUD Pandan

Kabupaten Tapanuli Tengah. 2024

1.4.2 Tujuan Khusus

Adapun tujuan khusus penulisan karya ilmiah ini untuk :

1. Melakukan pengkajian keperawatan pada Ibu Post Partum

Primipara yang mengalami Menyusui Tidak Efektif di RSUD

Pandan Kabupaten Tapanuli Tengah

2. Menetapkan diagnosis keperawatan pada Ibu Post Partum Primipara

6
yang mengalami Menyusui Tidak Efektif di RSUD Pandan

Kabupaten Tapanuli Tengah

3. Menyusun perencanaan keperawatan pada Ibu Post Partum

Primipara yang mengalami Menyusui Tidak Efektif di RSUD

Pandan Kabupaten Tapanuli Tengah

4. Melaksanakan tindakan keperawatan pada Ibu Post Partum

Primipara yang mengalami Menyusui Tidak Efektif di RSUD

Pandan Kabupaten Tapanuli Tengah

5. Melakukan evaluasi pada Ibu Post Partum Primipara yang

mengalami Menyusui Tidak Efektif di RSUD Pandan Kabupaten

Tapanuli Tengah

1.3 Manfaat

1.3.1 Manfaat Teoritis

Manfaat teoritis studi kasus ini adalah untuk pengembangan

ilmukeperawatan terkait Asuhan Keperawatan Pada Ibu Post Partum

Primipara Dengan Masalah Keperawatan Menyusui Tidak Efektif.

1.3.2 Manfaat Praktis

Karya Tulis Ilmiah yang disusun oleh penulis diharapkan dapat

bermanfaat bagi beberapa pihak terkait, antara lain :

1. Bagi Klien dan Keluarga Klien

Dapat digunakan untuk meningkatkan pengetahuan, peran serta

keluarga dan sebagai sumber informasi mengenai faktor-faktor

yang mempengaruhi Menyusui Tidak Efektif

7
2. Bagi Perawat

Dapat digunakan untuk menambah wawasan perawat serta dapat

menentukan asuhan keperawatan yang tepat pada klien Ibu Post

Partum Primipara yang mengalami Menyusui Tidak Efektif.

3. Rumah Sakit Umum Pandan

Manfaat penulisan Karya Tulis Ilmiah diharapkan Rumah Sakit

bisa mendapatkan manfaat positif dari diadakannya Studi Kasus

terhadap asuhan keperawatan pada klien yang mengalami post

partum primipara dengan masalah keperawatan menyusui tidak

efektif

4. Bagi Instansi Pendidikan (Dosen)

Dapat digunakan sebagai referensi untuk mengembangkan

pendidikan.

Anda mungkin juga menyukai