1.
Prinsip-Prinsip Penyusunan Materi Ajar PAI
Penyusunan materi ajar dalam Pendidikan Agama Islam (PAI) tidak bisa dilakukan secara
asal-asalan. Materi yang diajarkan harus benar-benar disiapkan dengan pertimbangan yang
matang, agar tujuan pembelajaran bisa tercapai secara maksimal. Untuk itu, perlu dipahami
prinsip-prinsip dasar yang menjadi acuan dalam penyusunannya. Menurut Syarifuddin
(2018), ada tiga prinsip penting yang harus diperhatikan dalam menyusun materi ajar, yaitu:
1. Prinsip Relevansi
2. Prinsip Konsistensi
3. Prinsip Adekuasi
Ketiga prinsip ini tidak berdiri sendiri, tetapi saling berhubungan dan saling melengkapi satu
sama lain. Berikut penjelasan lebih lengkap dari masing-masing prinsip:
A. Prinsip Relevansi
Relevansi berarti kesesuaian atau keterkaitan antara materi ajar dengan kompetensi dasar
(KD) yang ditetapkan dalam kurikulum, serta dengan realitas kehidupan peserta didik.
Dengan kata lain, materi yang disampaikan harus ada hubungannya dengan kebutuhan siswa,
situasi sosial budaya, serta kondisi lingkungan di mana siswa berada.
Materi yang relevan akan lebih mudah dipahami dan dirasakan manfaatnya oleh siswa.
Mereka tidak merasa sedang belajar sesuatu yang asing atau tidak berguna. Sebaliknya, jika
materi terlalu teoritis dan tidak ada kaitan dengan kehidupan nyata, maka siswa akan cepat
bosan dan kehilangan motivasi.
Contoh penerapan prinsip relevansi:
Dalam pembelajaran tentang tajwid, misalnya materi "hukum bacaan nun mati atau tanwin",
sebaiknya tidak hanya diajarkan sebagai teori. Guru bisa langsung mengaitkannya dengan
praktik membaca Al-Qur’an yang sering dilakukan siswa saat salat, tadarus, atau kegiatan
keagamaan lainnya. Dengan begitu, siswa akan lebih semangat dan merasa bahwa ilmu yang
dipelajari memang mereka butuhkan dalam kehidupan sehari-hari.
Relevansi juga bisa dilihat dari sudut perkembangan zaman. Misalnya, materi tentang
akhlak perlu disesuaikan dengan fenomena saat ini seperti cara berperilaku di media sosial,
etika dalam grup WhatsApp keluarga, atau adab berbicara di platform digital. Dengan
pendekatan kontekstual, siswa merasa bahwa ajaran Islam tidak hanya untuk masa lalu, tapi
sangat dibutuhkan untuk kehidupan modern.
B. Prinsip Konsistensi
Konsistensi berarti ada keselarasan dan keterpaduan antara tujuan pembelajaran, isi materi
ajar, metode pembelajaran, dan alat evaluasi. Semua komponen dalam pembelajaran harus
berjalan dalam satu arah, tidak bertentangan satu sama lain.
Jika tujuan pembelajarannya adalah untuk membuat siswa paham dan bisa mengamalkan
nilai-nilai akhlak, maka isi materinya harus menjelaskan nilai-nilai tersebut dengan jelas dan
mudah dipahami. Metode yang digunakan juga harus mendukung, misalnya melalui diskusi,
simulasi, atau studi kasus. Evaluasinya pun tidak cukup dengan tes pilihan ganda, tetapi bisa
berupa proyek atau observasi sikap.
Contoh penerapan prinsip konsistensi:
Jika dalam RPP disebutkan bahwa tujuan pembelajaran adalah agar siswa mampu
menunjukkan sikap jujur dan amanah dalam kehidupan sehari-hari, maka materi yang
diberikan tidak boleh melenceng ke tema yang tidak berhubungan. Jangan sampai tujuan
bicara tentang kejujuran, tapi isinya malah lebih banyak membahas hukum waris.
Ketidaksesuaian seperti ini akan membuat pembelajaran menjadi tidak efektif.
Konsistensi juga menyangkut urutan logis dari penyampaian materi. Materi disusun dari hal
yang mudah ke yang sulit, dari yang sederhana ke yang kompleks. Jika urutannya tidak logis,
siswa bisa merasa kebingungan dan akhirnya kesulitan memahami pelajaran.
C. Prinsip Adekuasi
Adekuasi atau kecukupan berarti bahwa materi yang diajarkan harus cukup untuk
mencapai kompetensi yang dituju. Tidak boleh terlalu sedikit sehingga tidak mencukupi,
tapi juga jangan terlalu banyak sampai membuat siswa kewalahan.
Materi yang terlalu sedikit bisa membuat siswa tidak paham secara mendalam, karena
penjelasannya tidak lengkap. Akibatnya, tujuan pembelajaran tidak tercapai. Di sisi lain, jika
materinya terlalu padat atau terlalu banyak detail yang tidak penting, siswa bisa merasa
bingung, bosan, atau tidak sempat mempelajari semuanya dalam waktu yang terbatas.
Contoh penerapan prinsip adekuasi:
Dalam pembelajaran tentang puasa, materi yang diberikan harus mencakup pengertian puasa,
dalilnya, syarat dan rukun, hal-hal yang membatalkan puasa, dan hikmah puasa. Jangan
sampai hanya membahas definisinya saja, sementara aspek praktik dan spiritualnya tidak
dibahas. Tapi juga jangan sampai materi diperluas terlalu jauh, misalnya membahas puasa
sunah dan khilafiyah mazhab secara mendalam kepada siswa SD—itu tidak sesuai dengan
kemampuan mereka.
Jadi, dalam prinsip adekuasi ini, guru harus pintar memilih dan memilah mana materi yang
paling esensial, mana yang bisa ditambahkan sebagai pelengkap, dan mana yang sebaiknya
disimpan untuk jenjang pendidikan berikutnya.
2. Langkah Sistematis PengembanganPengembangan materi ajar tidak dapat dilakukan
secara sembarangan. Diperlukan langkah-langkah sistematis yang mencakup lima
tahapan utama: analisis, perancangan, pengembangan, implementasi, dan evaluasi (Olis,
2024; Maksum, 2024).
Tahap analisis mencakup pemetaan kurikulum, analisis kebutuhan peserta didik, dan
identifikasi karakteristik siswa. Langkah ini penting untuk memastikan bahwa materi yang
disusun tidak bersifat generik, melainkan responsif terhadap kondisi nyata di [Link]
perancangan mencakup perumusan tujuan pembelajaran yang terukur, pengembangan
peta konsep, dan struktur materi yang sistematis. Materi disusun secara bertahap dari
yang sederhana ke kompleks. Tahap ini juga mencakup pemilihan media dan pendekatan
pembelajaran yang sesuai, termasuk integrasi teknologi digital bila
[Link] pengembangan melibatkan penyusunan bahan ajar menjadi
produk konkret, seperti modul, LKS, atau multimedia pembelajaran. Tahap implementasi
adalah proses uji coba bahan ajar dalam skala terbatas untuk menilai kelayakan dan
efektivitasnya. Sedangkan tahap evaluasi dilakukan untuk menilai keberhasilan
pembelajaran dan mengevaluasi kekuatan dan kelemahan materi ajar yang telah digunakan.
[Link] dalam Pengembangan Materi Ajar PAI
Tantangan meliputi keterbatasan guru dalam teknologi pembelajaran, rendahnya
Meskipun secara teoritis langkah-langkah pengembangan materi ajar telah dirumuskan
dengan baik, implementasinya di lapangan sering menemui berbagai kendala. Salah
satu tantangan utama adalah keterbatasan kompetensi guru, terutama dalam
memanfaatkan teknologi pembelajaran yang kini menjadi kebutuhan mendesak di era digital.
Banyak guru PAI belum mendapatkan pelatihan yang memadai dalam hal ini (Prayetno,
2025).Selain itu, rendahnya motivasi belajar siswa terhadap PAI juga menjadi
penghambat keberhasilan implementasi materi ajar. Mata pelajaran PAI seringkali
dianggap kurang penting karena tidak termasuk dalam mata pelajaran yang diujikan secara
nasional. Hal ini berdampak pada minimnya perhatian siswa terhadap pembelajaran
[Link] budaya populer dan globalisasi juga tidak dapat diabaikan. Nilai-
nilai yang ditanamkan melalui media sosial, musik, film, dan platform digital lainnya
sering kali bertentangan dengan nilai-nilai Islam. Dalam situasi seperti ini, materi ajar
harus mampu menanamkan nilai keislaman melalui pendekatan yang kontekstual dan
relevan dengan realitas kehidupan peserta [Link] samping itu, keterbatasan fasilitas dan
dukungan institusional, terutama di wilayah terpencil, membuat pengembangan dan
distribusi bahan ajar berkualitas menjadi tidak merata. Guru di daerah 3T kerap
kesulitan mengakses bahan ajar digital, pelatihan, dan sarana pembelajaran [Link]
karena itu, pengembangan materi ajar PAI membutuhkan pendekatan kolaboratif, di mana
guru, sekolah, pemerintah, dan masyarakat harus bekerja sama untuk menghadirkan bahan
ajar yang tidak hanya berkualitas secara akademis, tetapi juga kontekstual, inklusif, dan
adaptif terhadap dinamika sosial yang terjadi.
DAFTAR PUSTAKA
Syarifuddin, K. (2018). Inovasi Baru Kurikulum 2013 PAI dan Budi Pekerti. Deepublish.
Maksum, M. (2024). Prosedur Pengembangan Bahan Ajar PAI. Al Mikraj –Jurnal Studi
Islam.
Prayetno, I. (2025). Tantangan dan Solusi Dalam Pembelajaran PAI. Jurnal Kajian
Islam dan Sosial Keagamaan.