SAMPUL DEPAN
LEMBAR PENGESAHAN
KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
DAFTAR GAMBAR
DAFTAR TABEL
DAFTAR LAMPIRAN
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Makhluk hidup dalam melakukan aktivitasnya sehari-hari sangat
membutuhkan air. Itulah sebabnya air merupakan bagian terpenting dalam
kehidupan sehari-hari. Hampir 71% permukaan bumi terdiri dari air. Air merupakan
unsur yang sangat penting bagi kehidupan karena tanpa air tidak ada kehidupan di
bumi. Hal ini bisa terjadi karena semua makhluk hidup pada umumnya
membutuhkan lebih banyak air. Air merupakan salah satu kebutuhan terpenting
tubuh manusia dan zat terpenting kedua setelah oksigen. Air adalah komponen
utama tubuh, rata-rata orang memiliki 70% air dari beratnya (Mariyam dkk., 2023).
Apabila populasi dunia terus bertambah dan teknologi semakin maju, permintaan
terhadap air meningkat manakala jumlah air yang ada berkurangan. Penduduk dunia
pada tahun 2018 berjumlah 7,7 miliar jiwa dan memerlukan air untuk memenuhi
kebutuhan hidup sehari-hari. Banyaknya penduduk yang membutuhkan air tidak
sebanding dengan ketersediaan air di muka bumi. Hal tersebut mengakibatkan di
beberapa wilayah di dunia mengalami krisis air. sebanyak 2,4 miliar penduduk
dunia mengalami keterbatasan dalam mengakses air bersih (Alfin dkk., 2022).
Air minum merupakan air rumah tangga yang melalui proses pengolahan atau
tanpa proses pengolahan, memenuhi syarat kesehatan dan dapat langsung diminum.
Penyediaan air minum merupakan salah satu kebutuhan dasar dan hak sosial
ekonomi masyarakat yang harus dipenuhi oleh Pemerintah, baik Pemerintah Daerah
maupun Pemerintah Pusat. Ketersediaan air minum merupakan salah satu penentu
peningkatan kesejahteraan masyarakat (Subekti dkk., 2022). Adapun berdasarkan
Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) 2020 dari BPS juga menunjukkan ada
sebesar 90,21% rumah tangga yang memiliki akses air minum layak, meskipun
distribusinya tidak merata. Menurut laporan Riset Kesehatan Dasar Indonesia tahun
2018, masyarakat memperoleh sumber air minum terutama dari PAM (41,96%),
sumur bor atau pompa (15,42%), sumur gali tertutup (21%), sumur gali tidak
tertutup (6,04%), air permukaan (1 ,5%) dan sistem pemanenan air hujan (2 ,4%).
Air permukaan merupakan salah satu sumber yang dapat dipakai untuk
sumber bahan baku air bersih. Akan tetapi, air permukaan rentan terhadap
pencemaran akibat aktivitas manusia. Aktivitas manusia dalam kehidupan sehari-
hari menyebabkan kualitas air menurun. Kondisi air yang demikian disebut dengan
air yang tercemar. Air yang tercemar ini menyebabkan pencemaran dan
mengganggu sumber air lain di lingkungan, yang pada akhirnya membatasi habitat
hidup di lingkungan perairan. Kehadiran zat berbahaya ini merupakan faktor
penting dalam menentukan kualitas air bersih. Kualitas air yang tercemar berperan
besar dalam menularkan berbagai penyakit karena jika air yang terkontaminasi
digunakan oleh manusia dapat menyebabkan gangguan kesehatan jangka pendek
seperti muntah, diare, kolera, tifus atau disentri. Oleh karena itu, agar menjadi
sumber air bersih yang aman digunakan bagi konsumsi, dibutuhkan syarat-syarat
tertentu baik dalam hal pembangunan maupun lokasi penempatannya guna
memastikan bahwa kualitas air di dalam sumur tetap terjaga dan murni (Djana,
2023).
Untuk memperoleh air yang layak dikonsumsi maka perlu sebuah sistem
pengolahan yang baik dan tepat sehingga hasil pengolahan air tersebut sesuai
dengan regulasi dan memenuhi standar yang telah ditetapkan untuk memenuhi
mutu air minum yang tertera pada Permenkes Nomor 2 Tahun 2023. Instalasi
pengolahan air minum (IPAM) merupakan unit produksi sistem penyediaan air
minum. Unit produksi adalah sarana dan prasarana yang dapat digunakan untuk
mengolah air baku menjadi air minum melalui proses fisik, kimiawi dan atau
biologi, meliputi bangunan pengolahan dan perlengkapannya, perangkat
operasional, alat pengukur dan alat pemantauan, serta bangunan penampungan air
minum (Hariono & Marsono, 2022). Perencanaan yang baik dari suatu IPAM
sangat menentukan efektivitas proses pengolahan, efisiensi biaya operasional, serta
keberlanjutan penyediaan air minum bagi masyarakat dalam jangka panjang.
Pengelolaan dan akses air bersih di Indonesia masih membutuhkan
perhatian yang lebih dari pemerintah penyediaan unit sarana pengolah air minum
masih terdapat beberapa masalah utama, antara lain masih adanya sarana pengolah
air minum yang dibangun belum berfungsi secara optimal, dikarenakan kurangnya
keterlibatan masyarakat setempat baik pada perencanaan, konstruksi,
pengoperasian dan pemeliharaan, air masih dianggap sesuatu yang dapat diperoleh
secara gratis, sehingga masyarakat tidak peduli terhadap masalah pembiayaan
untuk kegiatan operasional dan pemeliharaan sarana air minum (Junaedi, 2022).
Sulawesi Selatan merupakan salah satu provinsi dengan jumlah penduduk
besar dan tingkat urbanisasi tinggi, sehingga kebutuhan air minum terus bertambah
setiap tahunnya. Kabupaten Bantaeng sebagai salah satu wilayah di Sulawesi
Selatan juga menghadapi permasalahan serupa. Berdasarkan data dari Laporan
Akses Air Minum Kabupaten Bantaeng terdapat masih adanya masyarakat yang
belum mendapat akses air minum yang layak yaitu sekitar 19,91%. Cakupan
pelayanan yang dicapai oleh Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Kabuptaen
Bantaeng baru mencapai 32,1% dari seluruh jumlah penduduk kabupaten bantaeng
yang pada akhir tahun 2022 telah mencapai 199.399 jiwa, sehingga sebagian
wilayah masih mengalami keterbatasan akses terhadap air minum yang layak dan
berkelanjutan (Nari, 2024). Dua kelurahan di Kecamatan Bantaeng, yaitu
Kelurahan Pallantikang dan Kelurahan Letta, menjadi salah satu contoh wilayah
yang menghadapi keterbatasan layanan air minum. Berdasarkan data dari Laporan
Akses Air Minum Kabupaten Bantaeng menunjukkan bahwa 5,43% tidak terakses
air minum di Kelurahan Pallantikang dan 0,37% tidak terakses air minum di
Kelurahan Letta. Hal ini perlu menjadi perhatian serius pemerintah Kota Makassar
dalam mengatasi kelangkaan air yang dialami masyarakat, terutama pada saat
musim kemarau.
Melalui penyusunan Tugas Besar Perencanaan Bangunan Pengolahan Air
Minum ini, mahasiswa tidak hanya mempelajari aspek teknis perhitungan dan
desain, tetapi juga mengasah kepekaan terhadap permasalahan air minum yang
dihadapi Indonesia. Tugas besar ini menjadi bekal penting dalam menyiapkan calon
tenaga profesional yang mampu merancang sistem penyediaan air minum yang
efektif, efisien, dan berkelanjutan, sehingga dapat memberikan kontribusi nyata
dalam upaya pemenuhan kebutuhan air bersih bagi masyarakat.
1.2 Rumusan Masalah
1. Berapa proyeksi penduduk 10 tahun mendatang untuk wilayah Kelurahan
Pallantikang & Kelurahan Letta, Kecamatan Bantaeng?
2. Berapa besar kebutuhan air bersih untuk wilayah Kelurahan Pallantikang &
Kelurahan Letta?
3. Bagaimana perencanaan instalansi pengolahan air bersih untuk wilayah
Kelurahan Pallantikang & Kelurahan Letta?
4. Bagaimana menghitung dimensi unit dan Detail Engineering Design (DED)
pada instalansi pengolahan air minum untuk wilayah Kelurahan Pallantikang
& Kelurahan Letta?
1.3 Tujuan Perencanaan
1. Untuk mengetahui berapa proyeksi penduduk 10 tahun mendatang untuk
wilayah Kelurahan Pallantikang & Kelurahan Letta?
2. Untuk mengetahui berapa besar kebutuhan air bersih untuk wilayah
Kelurahan Pallantikang & Kelurahan Letta?
3. Untuk mengetahui bagaimana perencanaan instalansi pengolahan air bersih
untuk wilayah Kelurahan Pallantikang & Kelurahan Letta?
4. Untuk mengetahui bagaimana menghitung dimensi unit dan Detail
Engineering Design (DED) pada instalansi pengolahan air minum untuk
wilayah Kelurahan Pallantikang & Kelurahan Letta?
1.4 Ruang Lingkup Perencanaan
1. Daerah perencanaan adalah Kelurahan Pallantikang dan Letta, Kecamatan
Bantaeng, Kabupaten Bantaeng dengan periode desain rencana 10 Tahun
kedepan.
2. Gambaran umum daerah perencanaan berupa sumber air baku, data jumlah
penduduk, fasilitas umum, serta perkembangan penduduk.
3. Merencanakan instalasi pengolahan air minum hingga Detail
Engineering Design (DED).
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Air Bersih
Secara umum, air bersih dapat dipahami sebagai air yang layak digunakan
sebagai air bersih untuk keperluan minum. Sertifikasi ini juga mencakup kelayakan
untuk mandi, mencuci dan toileting. Sebagai air minum, air bersih tidak bisa
diminum begitu saja, jadi harus direbus atau direbus sampai mendidih. Secara
khusus, "Departemen Kesehatan memiliki definisi air bersih." Air bersih adalah air
yang digunakan untuk kebutuhan sehari-hari dan dapat diminum setelah perebusan
awal. Batas air bersih adalah air yang memenuhi persyaratan sistem penyediaan air
minum. Persyaratan yang dimaksud adalah persyaratan kualitas air, meliputi
kualitas fisik, kimia, biologi, dan radiologis, yang tidak menimbulkan efek buruk
pada saat dikonsumsi. Sedangkan menurut Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2023
tentang Pengembangan Sistem Penyediaan Air Minum, pengertian air minum
adalah air minum rumah tangga yang diolah dan tidak diolah. memuaskan Anda
dapat minum langsung dengan kebutuhan anda (Ahmad, 2022).
2.2 Sumber Air
Sumber air adalah merupakan komponen penting dalam penyediaan air bersih
karena tanpa sumber air maka suatu sistem penyediaan air bersih tidak akan
berfungsi. Air baku juga dapat dimanfaatkan sebagai air bersih atau air minum,
dalam memilih sumber air perlu diperhatikan persyaratan lain, yaitu pengolahan air
tersebut. Berikut ini ada beberapa macam sumber air: (Siregar, 2023)
2.2.1 Air atmosfer
Air meterologi dalam keadaan murni, sangat bersih, karena dengan adanya
pengotoran udara yang disebabkan oleh kotoran-kotaran industri/debu dan lain
sebagainya. Maka untuk menjadikan air hujan sebagai air minum hendaknya pada
waktu menampung air hujan jangan dimulai pada saat hujan mulai turun, karena
masih banyak mengandung kotoran.
2.2.2 Air permukaan
Air permukaan adalah air hujan yang mengalir dipermukaan bumi. Pada
umumnya air permukaan ini akan mendapat pengotoran selama pengalirannya,
misalnya oleh lumpur, batang-batang kayu, daun-daun, kotoran indsutri dan
sebagainya. Beberapa pengotoran ini, untuk masing-masing air permukaan akan
berbeda-beda, tergantung pada daerah pengaliran air permukaan ini. Jenis
pengotorannya adalah merupakan kotoran fisik, kimia dan bakteriologi. Setelah
mengalami suatu pengotoran, pada suatu air permukaan itu akan mengalami suatu
proses pembersihan sendiri yang dapat dijelaskan sebagi berikut: udara yang
mengandung Oksigen atau gas O2 akan membantu mengalami proses pembusukan
yang terjadi pada air permukaan yang telah mengalami pengotoran, karena selama
dalam perjalanan, O2 akan meresap ke dalam air permukaan. Air Permukaan terdiri
dari 2 macam, yaitu:
1. Air Sungai
Dalam penggunaanya sebagai air minum, haruslah mengalami suatu
pengolahan yang sempurna, mengingat bahwa air sungai ini pada umumnya
mempunyai derajat pengotoran yang tinggi sekali. Debit yang tersedia untuk
memenuhi kebutuhan akan air minum pada umumnya dapat mencukupi.
2. Danau/Air Rawa
Kebanyakan air rawa ini berwarna yang di sebebabkan oleh adanya zat-zat
organis yang telah membusuk, misalnya asam humus yang larut dalam air yang
menyebabkan warna kuning coklat. Dengan adanya pembusukan kadar zat
organik tinggi, maka kadar Fe dan Mn akan tinggi dan dalam keadaan kelarutan
O2 sangat berkurang (anaerob), maka unsur-unsur Fe dan Mn ini akan larut. Pada
permukaan air akan tumbuh algae (lumut) karena adanya sinar matahari dan O2.
Untuk mengambil air, Sebaiknya pada kedalaman tertentu di tengah rawa/danau,
agar tidak terdapat endapan-endapan Fe dan Mn yang terbawa saat pengambilan.
Demikian juga lumut yang ada pada permukaan rawa/danau.
2.2.3 Air tanah
Air tanah (groundwater) merupakan air yang berada di bawah permukaan
tanah air tanah ditemukan pada afiker. Pergerakan air tanah sangat lambat
kecepatan arus berkisar antara 10-10-10-3 m/detik dipengaruhi oleh porositas,
permeabilitas dari lapisan tanah, dan pengisian kembali air (recharge). Air tanah
memasok sebagian besar kebutuhan air domestik umat manusia, terutama di negara-
negara maju seperti amerika serikat, sebagian besar penduduknya mengambil air
besih dari air tanah, air tanah terbagi atas air tanah dangkal dan air tanah dalam. Air
tanah dangkal terjadi karena adanya daya proses peresapan air dari permukaan
tanah. Air tanah dangkal ini berada pada kedalaman 15,0 m² sebagai sumur air
minum, air dangkal ini ditinjau dari segi kualitas agak baik, segi kuantitas kurang
cukup dan tergantung pada musim. Sedangkan Air tanah dalam terdapat setelah
lapis rapat air tanah dangkal. Pengambilan air tanah dalam tidak semudah air tanah
dangkal katena harus mengguakan bor dan memasukan pipa kedalamnya sehingga
dalam suatu kedalaman biasanya antara 100-300m² (Damayanti, 2023).
2.3 Syarat Kualitas Air Bersih
Karakteristik air dipengaruhi oleh faktor–faktor manusia, sehingga kualitas
air sangat beragam dari satu tempat ke tempat lain. Standar – standar kualitas air
merupakan harga–harga yang ekstrim yang digunakan untuk meningkatkan
tingkat–tingkat air dimana air menjadi ofensif secara estetik, tidak sesuai secara
ekonomik maupun tidak layak secara higienik untuk penggunaan air. Berdasarkan
Permenkes No. 32 Tahun 2017 tentang Standar Baku Mutu Kesehatan Lingkungan
dan Persyaratan Kesehatan untuk keperluan Higiene Sanitasi menunjukkan kualitas
air yang baik adalah: (Lismawati, 2020)
Tabel 1 Standar baku mutu air bersih
Standar Baku Mutu (kadar
Parameter Unit
maksimum)
Kekeruhan NTU 25
Warna TCU 50
Zat padat terlarut (Total
mg/l 1000
Dissolved Solid)
Suhu °C Suhu udara ± 3
Rasa - Tidak berasa
Bau - Tidak berbau
Total coliform CFU/100 ml 50
E. coli CFU/100 ml 0
pH - 6,5 – 8,5
Besi (Fe) mg/l 1
Standar Baku Mutu (kadar
Parameter Unit
maksimum)
Fluorida mg/l 1,5
Kesadahan (CaCO₃) mg/l 500
Mangan mg/l 0,5
Nitrat (sebagai N) mg/l 10
Nitrit (sebagai N) mg/l 1
Sianida mg/l 0,1
Deterjen mg/l 0,05
Pestisida total mg/l 0,1
Sumber: Permenkes No. 32 Tahun 2017
2.4 Air Minum
Air minum ialah air yang telah melalui proses pengelolahan dan telah
memnuhi standar yang telah disesuaikan dengan baku mutu air minum yang telah
diatur dalam undang-undang. Air minum yang baik memenuhi unsur kesehatan dan
kemanana dalam segi konsumsi, yakni sesuai dengan ketentuan yang mengatur
terkait faktor fisik, kimia, bakteriologi serta radioaktivitas air itu sendiri. Yang
mana air minum digunakan sebagai salahsatu sumber kebutuhan asupan
pembangun tubuh (Nasution, 2022).
Air minum merupakan kebutuhan yang sangat penting untuk kehidupan
manusia dan selalu menjadi yang tidak tergantikan oleh senyawa lain. Air juga
merupakan komponen penting dalam bahan makanan karena dapat mempengaruhi
penampakan, tekstur, serta cita rasa makanan kita. Air berperan sebagai pembawa
zat-zat makanan dan sisa metabolisme, sebagai media reaksi yang menstabilkan
pembentukan biopolimer, dan sebagainya. Air yang dapat dikonsumsi untuk
menjadi air minum yaitu apabila air tersebut bebas dari mikroorganisme yang
bersifat patogen dan telah memenuhi syarat-syarat kesehatan. Untuk masyarakat
awam persediaan air minum, mereka mengambil dari sumber air yang sebelum
dikonsumsi air sudah direbus terlebih dahulu. Merebus air sampai mendidih
bertujuan untuk membunuh kuman yang mungkin terkandung didalam air itu.
Sedangkan air minum yang tersedia dipasar berupa air mineral yaitu berasal dari
sumber air pegunungan dan telah mengalami proses penyulingan atau industri
pemurnian besar (Siregar, 2023).
2.5 Syarat Kualitas Air Minum
Menurut Peraturan Menteri Kesehatan No. 492 Tahun 2010 tentang
persyaratan kualitas air minum, menyatakan bahwa air minum yang aman bagi
kesehatan harus memenuhi persyaratan fisik, biologi, dan kimia.
2.5.1 Syarat fisik
Air yang memenuhi syarat fisik adalah air yang tidak berbau, tidak berasa,
tidak berwarna, tidak keruh atau jernih, dan dengan suhu sebaiknya dibawah suhu
udara sedemikian rupa sehingga menimbulkan rasa nyaman dan jumlah zat padat
terlarut (TDS) yang rendah. Berikut standar mutu parameter fisik air minum:
Tabel 2 Standar mutu parameter fisik air minum
Kadar Maksimum yang
Jenis Parameter Satuan
Diperbolehkan
Bau - Tidak berbau
Warna TCU 15
Total zat padat terlarut (TDS) mg/l 500
Kekeruhan NTU 5
Rasa - Tidak berasa
Suhu °C Suhu udara + 3
Sumber: Permenkes No. 492 Tahun 2010
2.5.2 Syarat kimia
Air minum yang baik air yang tidak tercemar berlebihan oleh zat-zat kimia
yang bahaya bagi kesehatan antara lain kesadahan, aluminium (Al), besi (Fe),
mangan (Mn), derajat keasaman (Ph), klorida dan zat-zat kimia lainnya. Kandungan
zat kimia dalam kandungan air minum yang di konsumsi sehari-hari hendaknya
tidak melebihi kadar maksimum yang diperbolehkan seperti yang tercantum dalam
Peraturan Menteri Kesehatan No. 492 Tahun 2010 tentang persyaratan kualitas air
minum dan Standard Nasional Indonesia. Penggunaan air yang mengandung bahan
kimia beracun dan zat-zat kimia yang melebihi kadar maksimum yang di
perbolehkan berakibat tidak baik bagi kesehatan dan material yang digunakan
manusia. Berikut standar mutu parameter kimia air minum:
Tabel 3 Standar mutu parameter kimia air minum
Kadar Maksimum yang
Jenis Parameter Satuan
Diperbolehkan
Aluminium mg/l 0,2
Kadar Maksimum yang
Jenis Parameter Satuan
Diperbolehkan
Besi mg/l 0,3
Kesadahan mg/l 500
Klorida mg/l 250
Mangan mg/l 0,4
pH - 6,5 – 8,5
Seng mg/l 3
Sulfat mg/l 250
Tembaga mg/l 2
Amonia mg/l 1,5
Arsen mg/l 0,01
Fluorida mg/l 1,5
Total Kromium mg/l 0,05
Kadmium mg/l 0,003
Nitrit (sebagai NO₂⁻) mg/l 1,0
Nitrat (sebagai NO₃⁻) mg/l 50
Sianida mg/l 0,07
Selenium mg/l 0,01
Sumber: Permenkes No. 492 Tahun 2010
2.5.3 Syarat biologi
Sumber-sumber air di alam pada umumnya mengandung bakteri, baik air
angkas, air permukaan, maupun air tanah. Jumlah dan jenis bakteri berbeda sesuai
dengan tempat dan kondisi yang mempengaruhinya. Oleh karena itu air yang
dikonsumsi untuk keperluan sehari-hari harus bebas dari bakteri patogen. Bakteri
golongan Coli (Coliform Bacteria) tidak merupakan bakteri patogen, tetapi bakteri
ini merupakan indikator dari pencemaran air oleh bakteri patogen. Berikut standar
mutu parameter biologi air minum:
Tabel 4 Standar mutu parameter biologi air minum
Kadar Maksimum yang
Jenis Parameter Satuan
Diperbolehkan
E. Coli Jumlah per 100 ml sampel 0
Total Bakteri Koliform Jumlah per 100 ml sampel 0
Sumber: Permenkes No. 492 Tahun 2010
2.6 Standar Deviasi
Standar deviasi dapat diartikan sebagai nilai atau standar yang menunjukkan
besar jarak sebaran terhadap nilai rata-rata. Jadi semakin besar nilai standar deviasi,
maka data menjadi kurang akurat. Berikut merupakan rumusan dari perhitungan
standar deviasi:
∑𝑛𝑖=1(𝑋𝑖 − 𝑋)2
𝑆=√
𝑛−1
Keterangan:
𝑆 = standar deviasi
𝑋𝑖 = nilai varian (penduduk proyeksi)
𝑛 = jumlah data
𝑋 = nilai rata-rata
2.7 Koefisien Korelasi
Koefisien korelasi merupakan hubungan antara satu variable dengan variable
lainnya yang menunjukkan kuat atau tidaknya antar dua variabel. Koefisien korelasi
biasanya dilambangkan dengan huruf r dimana nilai r dari -1 sampai +1. Berikut
merupakan rumusan dari perhitungan koefisien korelasi:
𝑛 ∑ 𝑥𝑦 − (∑ 𝑥)(∑ 𝑦)
𝑟=
√{𝑛 ∑ 𝑥2 − (∑ 𝑥)2}{𝑛 ∑ 𝑦2 − (∑ 𝑦)2}
Keterangan:
𝑟 = faktor korelasi
𝑥 = jumlah penduduk dari data yang diketahui
𝑦 = jumlah penduduk pada tahun ke n
2.8 Perhitungan Kebutuhan Air
Menurut Anton, (2021) Kebutuhan air merupakan jumlah air yang di perlukan
oleh untuk memenuhi kebutuhan air bersih yang akan datang. Analisis kebutuhan
air bersih untuk masa yang akan datang menggunakan standar-standar yang telah
ditetapkan. Kebutuhan air untuk fasilitas-fasilitas sosial ekonomi atau non domestik
harus dibedakan dan memperhatikan kapasitas produksi yang ada, tingkat
kebocoran dan pelayanan. Faktor utama dalam menganalisa kebutuhan air bersih
adalah dengan menghitung pertumbuhan penduduk dan penggunaan air
(liter/orang/hari) pada daerah studi. Rumus kebutuhan air rata-rata sebagai berikut:
𝑄𝑟 = 𝑄𝑑 + 𝑄𝑛 + 𝑄𝑎
Keterangan:
𝑄𝑟 = kebutuhan air rata-rata (L/s)
𝑄𝑑 = kebutuhan air domestik (L/s)
𝑄𝑛 = kebutuhan air non domestik (L/s)
𝑄𝑎 = kehilangan air (l/s)
2.8.1 Proyeksi penduduk
Pertumbuhan jumlah penduduk merupakan salah satu faktor penting dalam
perencanaan kebutuhan air. Proyeksi jumlah penduduk digunakan sebagai dasar
untuk menghitung tingkat kebutuhan air bersih di masa yang akan mendatang.
Dengan seiring berkembangnya zaman pertumbuhan penduduk di suatu daerah
semakin meningkat sehingga perhitungan proyeksi penduduk sangat berperan
penting dalam perencanaan air bersih. Pertumbuhan penduduk dapat dihitung
apabila diketahui tingkat pertumbuhan penduduknya. Proyeksi jumlah penduduk di
masa mendatang dapat dilakukan dengan menggunakan beberapa metode yaitu:
(Fathirah, 2022)
1. Metode Aritmatika
Proyeksi penduduk dengan metode aritmatik mengasumsikan bahwa jumlah
penduduk pada masa depan akan bertambah dengan jumlah yang sama setiap
tahun. Jumlah perkembangan penduduk dengan menggunakan metode ini
dirumuskan sebagai berikut:
𝑃𝑛 = 𝑃0 (1 + 𝑟𝑛)
Keterangan:
𝑃𝑛 = jumlah penduduk pada akhir tahun ke-n (jiwa)
𝑃0 = jumlah penduduk pada tahun awal (jiwa)
𝑟 = angka petumbuhan penduduk
𝑛 = periode waktu dalam tahun (tahun)
2. Metode Geometrik
Proyeksi penduduk dengan metode geometrik menggunakan asumsi bahwa
jumlah penduduk akan bertambah secara geometrik menggunakan dasar
perhitungan bunga majemuk. Laju pertumbuhan penduduk (rate of growth)
dianggap sama untuk setiap tahun. Dengan menggunakan metode geometrik,
maka perkembangan penduduk suatu daerah dapat dihitung dengan formula
sebagai berikut:
𝑃𝑛 = 𝑃0 (1 + 𝑟)𝑛
Keterangan:
𝑃𝑛 = jumlah penduduk pada akhir tahun ke-n (jiwa)
𝑃0 = jumlah penduduk pada tahun awal (jiwa)
𝑟 = angka petumbuhan penduduk
𝑛 = periode waktu dalam tahun (tahun)
3. Metode Eksponensial
Metode eksponensial menggambarkan pertambahan penduduk yang terjadi
secara sedikit-sedikit sepanjang tahun, berbeda dengan metode geometrik yang
mengasumsikan bahwa pertambahan penduduk hanya terjadi pada satu saat
selama kurun waktu tertentu. Perkiraan jumlah penduduk berdasarkan metode
eksponensial di dapat dengan persamaan berikut:
𝑃𝑛 = 𝑃0 . 𝑒 𝑟.𝑛
Keterangan:
𝑃𝑛 = jumlah penduduk pada akhir tahun ke-n (jiwa)
𝑃0 = jumlah penduduk pada tahun awal (jiwa)
𝑟 = angka petumbuhan penduduk
𝑛 = periode waktu dalam tahun (tahun)
𝑒 = bilangan logaritma natural (2,7182818)
2.8.2 Proyeksi fasilitas umum
Proyeksi fasilitas umum adalah perhitungan jumlah fasilitas umum
berdasarkan perbandingan jumlah penduduk pada tahun ke-n dan tahun ke-0, yang
selanjutnya dikalikan dengan jumlah fasilitas umum pada tahun ke-0. Persamaan
untum menghitung proyeksi fasilitas umum, yaitu:
𝐹𝑛 = 𝑤 × 𝐹0
Keterangan:
𝐹𝑛 = jumlah fasilitas umum pada tahun ke-n
𝑄 = perbandingan jumlah penduduk pada tahun ken dengan jumlah
penduduk pada tahun ke-0
𝐹0 = jumlah fasilitas umum pada tahun ke-0
2.8.3 Kebutuhan Air
Kebutuhan air merupakan hal yang wajar bagi setiap manusia. Pada
umumnya kebutuhan air ini diperlukan untuk memenuhi kebutuhan sehari – hari.
Besar tidaknya pemakaian air dipengaruhi oleh beberapa faktor, diantaranya tingkat
kehidupan, pendidikan, tingkat ekonomi, dan juga kondisi sosial. Oleh karena itu,
di dalam perencanaan sistem penyediaan air harus diperhitungkan sedetail mungkin
untuk mendapatkan suatu perencanaan yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat
sekitar. Umumnya kebutuhan air dibagi menjadi 2 kelompok yaitu:
1. Kebutuhan domestik
Kebutuhan domestik merupakan kebutuhan air yang digunakan untuk
keperluan rumah tangga dan sambungan kran umum. Besar kebutuhan domestik
yang diperlukan dihitung rerata kebutuhan air per satuan orang perhari.
Kebutuhan air perorang perhari disesuaikan dengan dimana orang tersebut
tinggal. Setiap kategori kota tertentu mempunyai kebutuhan akan air yang
berbeda. Semakin besar kota maka tingkat kebutuhan air juga akan semakin
besar. Untuk kebutuhan air domestik dapat dihitung dengan persamaan berikut:
𝑡𝑖𝑛𝑔𝑘𝑎𝑡 𝑘𝑜𝑛𝑠𝑢𝑚𝑠𝑖 × 𝑃𝑡
𝑄𝑑𝑜𝑚𝑒𝑠𝑡𝑖𝑘 =
86.400
Keterangan:
𝑃𝑡 = jumlah penduduk pada tahun t (jiwa)
Tabel 5 Kebutuhan air berdasarkan kategori kota
Kebutuhan
Kategori
Keterangan Jumlah Penduduk Air
Kota
(ltr/org/hr)
I Kota Metropolitan Di atas 1 juta 190
II Kota Besar 500.000 – 1 juta 170
III Kota Sedang 100.000 – 500.000 150
IV Kota Kecil 20.000 – 100.000 130
V Desa 10.000 – 20.000 100
VI Desa Kecil 3.000 – 10.000 60
Sumber: Departemen Pekerjaan Umum RI Ditjen Cipta Karya
2. Kebutuhan non domestik
Kebutuhan non domestik merupakan kebutuhan air selain untuk keperluan
rumah tangga dan sambungan kran umum, seperti penyediaan air untuk sarana
sosial, tempat ibadah, sekolah, rumah sakit, asrama, dan juga untuk keperluan
komersil seperti industri, hotel, perdagangan, serta untuk pelayanan jasa umum.
𝑄𝑛𝑜𝑛 𝑑𝑜𝑚𝑒𝑠𝑡𝑖𝑘 = 𝑄𝑑𝑜𝑚𝑒𝑠𝑡𝑖𝑘 × 20%
2.9 Instalasi Pengolahan Air Minum
Pada umumnya Instalasi Pengolahan Air Minum merupakan suatu sistem
yang mengkombinsikan proses koagulasi, flokulasi, sedimentasi, filtrasi, dan
disinfeksi serta dilengkapi dengan pengontrolan Proses juga instrumen pengukuran
yang dibutuhkan. Instalasi ini harus didesain untuk menghasilkan air yang layak
yang dikonsumsi masyarakat bagaimanapun kondisi cuaca dan lingkungan. Selain
itu, sistem dan subsistem dalam instalasi yang akan didesain harus sederhana,
efektif, dapat diandalkan, tahan lama, dan murah dalam pembiayaan. Tujuan dari
sitem pengolahan air minum yaitu untuk mengolah sumber air baku menjadi air
minum yang sesuai dengan standar kualitas, kuantitas, dan kontinuitas. Berikut
unit-unit pengolahan air minum adalah: (Borahima, 2020)
2.9.1 Bangunan Penangkap Air
Bangunan penangkap air atau intake merupakan bangunan pengumpul air
yang berfungsi untuk: (Rafly dkk., 2023)
1. Mengumpulkan air baku dari sumber untuk menjaga kuantitas debit air yang
dibutuhkan oleh instalasi.
2. Menyaring benda-benda kasar dengan menggunakan bar screen.
3. Mengambil air baku yang sesuai dengan debit yang diperlukan oleh instalasi
pengolahan yang direncanakan untuk menjaga kontinuitas penyediaan atau
pengambilan air dari sumber.
Bangunan penangkap air atau intake dibagun pada sumber air baku dengan
bertujuan untuk mengambil air baku dari sumbernya yang kemudian akan dialiri
menuju instalasi pengolahan. Kapasitas intake harus dapat memenuhi jumlah
kebutuhan hari maksimum sepanjang periode perencanaan. Pada perencanaan
instalasi pengolahan air minum ini sudah terpasang intake dengan jenis intake gate.
Kontruksi intake gate ini, pada umumnya terdiri dari inlet beton bertulang
berbentuk persegi panjang dan didepannya terdapat penyaring (screen) untuk
mencegah masuknya potongan kayu dan benda-benda terapung lainnya. Beberapa
kriteria yang harus di penuhi dalam pembuatan intake adalah:
1. Tertutup untuk mencegah masuknya snar matahari yang memungkinakan
tumbuhan atau mikroganisme hidup di dalam saluran.
2. Tanah di lokasi intake harus stabil.
3. Intake harus kedap air sehingga agar tidak terjadi kebocoran.
4. Intake harus di desain untuk menghadapi keadaan darurat.
2.9.2 Unit Prasedimentasi
Bangunan yang memiliki fungsi sebagai bak pengendapan disebut juga
dengan prasedimentasi, dimana pada bangunan ini tidak dilakukan penggunaan
bahan kimia dan diproses secara alami. Prasedimentasi adalah suatu proses dimana
partikel diskret atau partikel kasar maupun lumpur diendapkan, sedangkan
pengertian partikel diskret adalah partikel yang tidak mengalami perubahan dari
bentuk maupun ukuran selama mengendap di dalam air (Rina, 2020).
2.9.3 Unit Koagulasi
Koagulasi merupakan proses pencampuran bahan kimia atau koagulan
dengan air baku sehingga homogen. Penambahan koagulan pada air maka akan
terbentuknya flok-flok halus, dimana flok tersebut berfungsi untuk mengikat
kotoran dalam air baku sehingga air lebih jernih. Temperatur merupakan salah satu
faktor yang dapat mempengaruhi proses koagulasi, temperatur dapat diatur agar
hasil yang didapat lebih optimum. Temperatur rendah mempengaruhi proses
flokulasi dan koagulasi yaitu dengan diubahnya solubilitas koagulan, visikositas air
ditingkatkan, dan kinetika reaksi hidrolisis dan flokulasi partikel dapat diperlambat.
Koagulasi proses pengadukan cepat (flash mixing) dengan ditambahkan nya
koagulan ke dalam air baku dengan tujuan untuk mendestabilisasi partikel koloid
dan suspended solid. Kriteria desain untuk unit koagulasi dapat dilihat pada tabel
berikut: (Rina, 2020)
Tabel 6 Kriteria desain unit koagulasi
Aspek Kriteria
Tipe Hidrolis:
- Terjunan
- Saluran bersekat
- Dalam instalasi pengolahan air bersekat
Mekanis:
- Bilah, pedal instalasi pengolahan air
Aspek Kriteria
- Flotasi
Waktu Pengadukan (detik) 1–5
Nilai G/detik > 750
Sumber: SNI 6774:2008
Untuk merencanakan dimensi bak pengaduk cepat (koagulasi) deigunakan
persamaan sebagai berikut: (SNI 6774:2008)
𝑣 = 𝑄. 𝑡𝑑
Keterangan:
𝑣 = volume pengaduk cepat (m3)
𝑄 = debit pengolahan (m3/s)
𝑡𝑑 = gaya gravitasi (m/s2)
Koagulan adalah bahan zat kimia yang berfungsi untuk memperbesar parikel-
partikel agar mudah untuk mengendap. Berikut ini adalah beberapa contoh jenis
koagulan antara lain:
1. Alumunium sulfat atau tawa (Al3(SO4)
2. Feri klorida (FeCl3)
3. Fero klorida (FeCl2)
4. Feri Sulfat (Fe2(SO4)3)
Sedangkan berikut contoh dari koagulan polimer atau sintesis:
1. Poli aluminum klorida (PAC)
2. Sitosan
2.9.4 Unit Flokulasi
Flokulasi berfungsi memepercepat tumbukan antara kolid yang sudah
terdesbilisasi supaya bergabung membentuk mikrofok ataupun mikroflok yang
secara teknis dapat diendapkan. Dari pencampuran zat koagulan dengan air yang
mengandung kekeruhan di bak pengaduk cepat, akan terbentuk kumpulan partikel
yang akan mengendap. Proses flokulasi adalah proses pengadukan lambat dengan
kecepatan rendah, untuk memungkinkan terjadinya flok-flok yang terdesbilisasi
dan bahan kimia (alum) yang ditambahakan sebagai koagulan dalam air baku dapat
mudah terendapkan. Berbeda dengan proses koagulasi dimana faktor kecepatan
tidak menjadi kendala, pada flokulator terdapat batas maksimum kecepatan untuk
mencegah pecahnya flok akibat tekanan yang berlebihan. Untuk pengadukan
flokulasi ini jangka waktu pengadukan selama 30 - 40 menit menurut Standar
Nasional Indonesia 6774:2008. Tenaga yang dibutuhkan untuk pengadukan secara
halus dari air selama flokulasi dapat diberikan secara mekanis maupun hidrolis.
Kriteria desain untuk unit flokulasi dapat dilihat pada tabel berikut: (Rina, 2020)
Tabel 7 Kriteria desain unit flokulasi
Flokulator Mekanik
Flokulator Sumbu Sumbu Flokulator
Kriteria Umum
Hidrolis Horizontal Vertikal Clarifier
dengan Pedal dengan Bilah
60
G (gradien 60 (menurun) 70 (menurun)
(menurun) 100–10
kecepatan) / det 10 10
5–10
Waktu tinggal
30–45 30–40 20–40 20–100
(menit)
Tahap flokulasi
6–10 3–6 2–4 1
(buah)
Pengendalian Bukan Kecepatan Kecepatan
Kecepatan aliran
energi pintu/sekat putaran putaran
Kecepatan aliran
0,9 0,9 1,8–2,7 1,5–0,5
max. (m/det)
Luas bilah/pedal
dibandingkan 5–20 5–20 0,1–0,2 –
luas bak (%)
Tinggi (m) – – – 2–4*
Sumber: SNI 6774:2008
Volume bak flokulasi dapat di hitung menggunakan persamaan sebagai
berikut: (SNI 6774:2008)
𝑣 = 𝑄. 𝑡𝑑
Keterangan:
𝑣 = volume pengaduk cepat (m3)
𝑄 = debit pengolahan (m3/s)
𝑡𝑑 = gaya gravitasi (m/s2)
2.9.5 Unit Sedimentasi
Sedimentasi adalah pemisahan padatan dan cairan dengan menggunakan
pengendapan secara gravitasi untuk memisahkan partikel tersusupensi yang
terdapat dalam cairan tersebut. Proses ini sangat umum digunakan pada instalasi
pengolahan air minum. Aplikasi utama dari sedimentasi pada instalasi pengolahan
air minum adalah: (Rina, 2020)
1. Pengendapan awal dari air permukaan sebelum pengolahan oleh unit saringan
pasir cepat.
2. Pengendapan air yang telah melalui proses koagulasi dan flokulasi sebelum
memasuki unit saringan pasir cepat.
3. Pengendapan air yang telah melalui proses koagulasi dan flokulasi pada
instalasi yang menggunakan sistem pelunakan air oleh kapursoda.
4. Pengendapan air pada instalasi pemisahan besi dan mangan.
Adapula kriteria pada perencanaan sebagai berikut: (SNI 6774:2008)
Tabel 8 Kriteria desain unit sedimentasi
Bak Persegi
Bak Bak
(aliran
Bak Persegi Bundar Bundar
Kriteria vertikal
(aliran (aliran (aliran Clarifier
Umum dengan
horizontal) vertikal- kontak
pelat/tabung
radial) padatan)
pengendap)
Beban
permukaan 0,8–2,5 3,8–2,75* 1,3–1,9 2–3 0,5–1,5
(m³/m²/jam)
Kedalaman (m) 3–6 3–6 3–5 3–6 0,5–1,5
Waktu tinggal
1,5–3 0,07**–1,5 1–3 1–2 2–2,5
(jam)
Lebar/panjang >1/5 - - - -
Beban
pelimpah <11 <11 3,8–1,5 7–15 7,2–10
(m³/m/jam)
Bilangan
<2000 <2000 - - <2000
Reynold
Kecepatan pada
pelat/tabung
- max 0,15 - - -
pengendap
(m/menit)
Bilangan
>10⁻³ >10⁻³ - - >10⁻³
Froude
Kecepatan
vertikal - - - >1 >1
(cm/menit)
Sirkulasi 3–5%
- - - -
lumpur dari input
Kemiringan
dasar bak 45°–60° 45°–60° 45°–60° >60° 45°–60°
(tanpa scraper)
Periode antar
12–
pengurasan 12–24 8–24 12–24 Kontinyu
24***
lumpur (jam)
Kemiringan
30°/60° 30°/60° 30°/60° 30°/60° 30°/60°
tube/plate
Sumber: SNI 6774:2008
Volume bak sedimentasi dapat di hitung menggunakan persamaan sebagai
berikut: (SNI 6774:2008)
𝑣 = 𝑄. 𝑡𝑑
Keterangan:
𝑣 = volume pengaduk cepat (m3)
𝑄 = debit pengolahan (m3/s)
𝑡𝑑 = gaya gravitasi (m/s2)
2.9.6 Unit Filtrasi
Filtrasi adalah proses pemisahan padatan dan larutan, dimana larutan tersebut
dilewatkan melalui suatu media berpori atau materi berpori lainnya untuk
menyisihkan partikel tersuspensi yang sangat halus sebanyak mungkin. Proses ini
digunakan pada instalasi pengolahan air minum untuk menyaring air yang telah
dikoagulasi dan diendapkan untuk menghasilkan air minum dengan kualitas yang
baik. Filtrasi dapat dilakukan dengan menggunakan beberapa jenis filter, antara
lain: saringan pasir lambat, saringan pasir cepat, bahkan dengan menggunakan
teknologi membran. Pada pengolahan air minum umumnya dipergunakan saringan
pasir cepat, karena filter jenis ini memiliki debit pengolahan yang cukup besar,
penggunaan lahan yang tidak terlalu besar, biaya operasi dan pemeliharaan yang
cukup rendah, dan tentunya kemudahan dalam pengoperasian dan pemeliharaan
(Rina, 2020). Adapula kriteria desain unit filtrasi sebagai berikut: (SNI 6774:2008)
Tabel 9 Kriteria desain unit filtrasi
Jenis Saringan
Saringan
Unit Saringan Biasa dengan Saringan
(Gravitasi) Pencucian antar Bertekanan
Saringan
Jumlah bak saringan: N = 12 Q/0,5* Minimum 5 bak -
Kecepatan penyaringan (m/jam) 6–11 6–11 12–33
Pencucian:
Kecepatan (m/jam) 36–50 36–50 72–198
Lama pencucian (menit) 10–15 10–15
Periode antar pencucian (jam) 18–24 18–24
Ekspansi (%) 30–50 30–50 30–50
Media Pasir:
Tebal (mm) 300–700 300–700
Single media (mm) 600–700 600–700
Media ganda (mm) 300–600 300–600
Ukuran efektif, ES (mm) 0,3–0,7 0,3–0,7
Jenis Saringan
Saringan
Unit Saringan Biasa dengan Saringan
(Gravitasi) Pencucian antar Bertekanan
Saringan
Koefisien keseragaman, UC 1,2–1,4 1,2–1,4
Berat jenis (kg/dm³) 2,5–2,65 2,5–2,65
Porositas 0,4 0,4
Kadar SiO₂ ≥95% ≥95%
Media Antrasit:
Tebal (mm) 400–500 400–500 400–500
ES (mm) 1,2–1,8 1,2–1,8 1,2–1,8
UC 1,5 1,5 1,5
Berat jenis (kg/dm³) 1,35 1,35 1,35
Porositas 0,5 0,5 0,5
Filter bottom/dasar saringan:
1. Lapisan penyangga dari atas
ke bawah
Kedalaman (mm) 80–100 80–100
Ukuran butir (mm) 2–5 2–5
Ukuran butir (mm) 80–150 80–150
Ukuran butir (mm) 15–30 15–30
2. Filter Nozel (mm)
Lebar slot nozel (mm) <0,5 <0,5 <0,5
Persentase luas slot nozel
>4% >4% >4%
terhadap luas filter (%)
Sumber: SNI 6774:2008
Perencanaan bak filtrasi menggunakan persamaan sebagai berikut: (SNI
6774:2008)
𝑄
𝐴=
𝑣𝑓
Keterangan:
𝐴 = luas permukaan bak filtrasi (m2)
𝑄 = debit pengolahan (m3/s)
𝑣𝑓 = kecepatan filtrasi (m/s)
2.9.7 Unit Disinfeksi
Desinfeksi adalah proses pengolahan air dengan tujuan membunuh kuman
atau bakteri yang ada didalam air. Proses desinfeksi dilakukan sebelum air
didistribusikan sehingga air menjadi aman untuk dikomsumsi. Pada era modern ini
proses desinfeksi dilakukan berdasarkan beberapa jenis, dapat dijelaskan seperti
berikut: (Borahima, 2020)
1. Jenis-jenis Desinfeksi
a. Desinfeksi Kimiawi
Desinfektan yang paling sering digunakan adalah kaporit (Ca(OCl)2)dan
gas klor (Cl2). Pada proses desinfeksi menggunkan kaporit. Sebagai suatu
proses kimia yang menyangkut reaksi antara biomassa mikroorganisme perlu
dipenuhi dua syarat yaitu dosis yang cukup, waktu kontak yang cukup,
minimum 30 menit. Selain itu diperlukan proses pencampuran yang
sempurna agar desinfektan benar-benar tercampur. Desinfeksi menggunakan
ozon lazim digunkan untuk desinfeksi hasil pengolahan waste water
treatment.
b. Desinfeksi fisik
Desinfeksi menggunkan ultraviolet lebih aman daripada menggunakan
klor yang beresiko membentuk trihalometan yang bersifat karsinogenik,
tetapi jika digunakan ultraviolet sebagai desinfektan maka instalasi distribusi
harus benar-benar aman dan menjamin tidak akan ada kontaminasi setelah
desinfeksi. Apabila kontaminan masuk setelah air didesinfeksi, maka
kontaminan tersebut akan tetap berada dalam air dan sampai ke tangan
konsumen. Selain itu, biaya yang diperlukan juga lebih besar dibandingkan
dengan desinfeksi menggunakan kaporit. Umumnya desinfeksi dilakukan
sesaat sebelum air didistribusikan kepada konsumen.
DAFTAR PUSTAKA
STUDI PEMENUHAN KEBUTUHAN AIR BERSIH KABUPATEN WAJO
PERENCANAANINSTALASI PENGOLAHAN AIR MINUM DI
KECAMATAN PONDOK GEDE, KOTA BEKAS
EVALUASI INSTALASI PENGOLAHAN AIR MINUM (IPA) PRIA LAOT
PADA PDAM TIRTA ANEUK LAOT SABANG
PERENCANAAN INSTALASI PENGOLAHAN AIR BERSIH (IPA) PDAM
KECAMATAN BATULAPPA KABUPATEN PINRANG
Mariyam, D., Devina, F., Wulandari, P., Nursafitri, E., & Syahriansyah, A.
(2023). Rahasia molekul unsur yang terdapat dalam air putih bagi tubuh manusia
dalam pandangan islam. Religion: Jurnal Agama, Sosial, Dan Budaya, 2(3), 96-
109.
Alfin, E., Rahmatulloh, R., & Suendarti, M. (2022). Infrastruktur air dan
tantangan di Indonesia. SENTRI: Jurnal Riset Ilmiah, 1(2), 382-391.
Subekti, S., Prasdiantika, R., Purwaningrum, S. D., Agustin, N. C., & Nizar, F.
(2022). Identifikasi Penyediaan Sarana dan Prasarana Kebutuhan Air Minum
Kabupaten Jepara. Merdeka Indonesia Jurnal International, 2(1), 1-9.
Djana, M. (2023). Analisis Kualitas Air Dalam Pemenuhan Kebutuhan Air Bersih
Di Kecamatan Natar Hajimena Lampung Selatan. Jurnal Redoks, 8(1), 81-87.
Hariono, A. M., & Marsono, B. D. (2022). Uprating instalasi pengolahan air
minum konstruksi baja. Jurnal Teknik ITS, 11(1), D16-D21.
“Sanitasi, Pengelolaan dan Akses Air Bersih Untuk Peningkatan Kesehatan di
Indonesia”
PENGARUH KINERJA PEGAWAI TERHADAPMUTUPELAYANAN
PERUMDA AIR MINUMTIRTAEREMERASA KABUPATEN BANTAENG
Kajian potensi air tanah menggunakan metode resistivitas di daerah margahayu
kota bekasi
ANALISIS KEBUTUHAN AIR BERSIH PDAM TIRTA SILAU PIASA
KECAMATAN KISARAN BARAT
EVALUASI KUALITAS AIR PADA SISTEM PENGELOLAAN AIR BERSIH
BERBASIS MASYARAKAT DI KECAMATAN BUKIT KAB. BENER
MERIAH
HUBUNGAN PENGETAHUAN, SIKAP DAN PELATIHAN KARYAWAN
DEPOT AIR MINUM ISI ULANG DENGAN PENERAPAN HIGIENE
SANITASI DEPOT AIR MINUM ISI ULANG DI WILAYAH KERJA
PUSKESMAS KENALI BESAR TAHUN 2022