SSN: 2614-6754 (print) Halaman 11257-11265
ISSN: 2614-3097(online) Volume 8 Nomor 1 Tahun 2024
Aplikasi Sistem Informasi Geografi Dalam Pembuatan Peta
Zona Genangan Banjir Berbasis Respon Masyarakat di Daerah
Aliran Sungai Batang Kandis Kota Padang
Farid Al Khairi1, Iswandi U2
12
Program Studi Geografi, Fakutas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Padang
e-mail : faridalkhairi86@[Link]
Abstrak
Penelitian ini bertujuan untuk : 1) mengetahui pembuatan peta zona genangan banjir
berbasis respon masyarakat di DAS Batang Kandis. 2) mengetahui kerentanan sosial
dan ekonomi yang diakibatkan bencana banjir di Kecamatan Koto Tangah. Peneltian
ini merupakan penelitian kuantitatif. Penelitian ini menggunakan analisis Inverse
Distance Weighting (IDW) untuk mengetahui persebaran antara titik genangan banjir
dan ketinggian banjir berbasis data respon masyarakat dengan teknik pengambilan
sampel yaitu sistematik sampling yang menyesuaikan lokasi sampel dengan keadaan
sebenarnya. DAS Batang Kandis mengalami banjir dengan ketinggian 120 cm, 60 cm,
30 cm dan 0 cm. Kecamatan Koto Tangah memiliki 13 kelurahan, dengan daerah yang
mengalami kerentanan ekonomi rendah terdapat di 10 kelurahan, dan kerentanan
ekonomi sedang di 3 kelurahan. Sedangkan daerah yang mengalami kerentanan sosial
rendah terdapat di 2 kelurahan, kerentanan sosial sedang di 3 kelurahan, dan
kerentanan sosial tinggi di 8 kelurahan.
Kata Kunci: Banjir, IDW, Kerentanan
Abstract
This research aims to: 1) determine the creation of flood inundation zone maps based
on community responses in the Batang Kandis watershed. 2) knowing the social and
economic vulnerabilities caused by the flood disaster in Koto Tangah District. This
research is a quantitative research. This research uses Inverse Distance Weighting
(IDW) analysis to determine the distribution between flood inundation points and flood
heights based on community response data using a sampling technique, namely
systematic sampling which adjusts the sample location to the actual situation. The
Batang Kandis watershed experienced flooding with heights of 120 cm, 60 cm, 30 cm
and 0 cm. Koto Tangah District has 13 sub-districts, with areas experiencing low
economic vulnerability found in 10 sub-districts, and moderate economic vulnerability in
3 sub-districts. Meanwhile, areas experiencing low social vulnerability are in 2 sub-
Jurnal Pendidikan Tambusai 11257
SSN: 2614-6754 (print) Halaman 11257-11265
ISSN: 2614-3097(online) Volume 8 Nomor 1 Tahun 2024
districts, moderate social vulnerability in 3 sub-districts, and high social vulnerability in
8 sub-districts.
Keywords: Flood, IDW, Vulnerability
PENDAHULUAN
Menurut Undang-undang Nomor 24 Tahun 2007 Tentang Penanggulangan
Bencana, pengertian dari bencana adalah peristiwa atau rangkaian peristiwa yang
mengancam dan mengganggu kehidupan dan penghidupan masyarakat, yang
penybabnya dari faktor alam maupun faktor non-alam serta faktor manusia yang
mengakibatkan timbulnya korban jiwa manusia, kerusakan lingkungan, kerugian harta
benda, dan dampak psikologis. Salah satu bencana alam yang sering terjadi di
Indonesia yaitu bencana banjir. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB)
mencatat, bencana alam yang melanda Indonesia dari 1 Januari sampai 18 Juni 2021
dengan total 1.441 kali. Bencana alam yang terbanyak adalah bencana banjir dengan
599 kejadian.
Di Provinsi Sumatera Barat, bencana banjir sering terjadi di salah satu daerahnya
yaitu Kota Padang, karena terdapat sungai-sungai yang bermuara di pesisir Kota
Padang. Jika musim hujan tiba dengan intensitas yang tinggi dan dengan jangka waktu
yang cukup lama, maka sebagian wilayah akan mengalami banjir dan meluapnya air
sungai. Menurut Detik News (1/10/2021), bencana banjir terjadi pada tanggal 30
September 2021 di Kelurahan Lubuk Buaya, Kecamatan Koto Tangah, Kota Padang.
Hal ini diakibatkan oleh luapan air sungai yang merendam permukiman masyarakat.
“Saat terjadinya banjir, tinggi permukaan genangan air sekitar 50-150 cm, sehingga
kesiapsiagaan pengevakuasian masyarakat dapat dilakukan oleh tim gabungan di
lapangan. Sebanyak 418 orang warga telah dievakuasi ke tempat yang aman”, kata Plt
Kapusdatinkom Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari. Dari penyataan tersebut dapat
dilihat bahwa permasalahan banjir harus ditanggulangi dengan segera. Dari kutipan
beritas diatas, daerah yang mengalami genangan banjir di Kota Padang berada di
Kelurahan Lubuk Buaya, Kecamatan Koto Tangah atau tepatnya pada DAS Batang
Kandis pada Agustus tahun 2021. Akibatnya beberapa permukiman terendam air
dikarenakan meluapnya air sungai. Bencana banjir juga mengakibatkan kerentanan
sosial dan ekonomi di Kecamatan Koto Tangah.
Dari pernyataan diatas, salah satu cara dalam penanggulangan bencana banjir
adalah pembuatan peta zona banjir (genangan). Dengan mengetahui zona genangan
banjir ini, beberapa tindakan pencegahan banjir dapat dilakukan seperti pengungsian
penduduk dari daerah rawan banjir, pembersihan lingkungan dan sungai dari sampah,
dan berbagai tindakan lainnya. Pembuatan peta ini dilakukan dengan menggunakan
program Sistem Informasi Geografi berdasarkan respon dari masyarakat terhadap
kejadian bencana banjir. Selanjutnya, mengetahui bagaimana tingkat kerentanan
sosial dan ekonomi yang ditimbulkan oleh bencana banjir untuk mengantisipasi
kejadian ini terjadi kembali di masa yang akan datang.
Jurnal Pendidikan Tambusai 11258
SSN: 2614-6754 (print) Halaman 11257-11265
ISSN: 2614-3097(online) Volume 8 Nomor 1 Tahun 2024
Berdasarkan permasalahan yang dijabarkan diatas, judul dari penelitian ini
adalah “Aplikasi Sistem Informasi Geografi dalam Pembuatan Peta Zona Genangan
Banjir Berbasis Respon Masyarakat di DAS Batang Kandis”.
METODE
Metode penelitian yang digunakan pada penelitian ini adalah penelitian kuantitatif
dengan tujuan mengetahui dan menggambarkan pengaplikasian Sistem Informasi
Geografi dalam pembuatan peta zona banjir berbasis respon masyarakat di DAS
Batang Kandis Kota Padang.
Penelitian ini menggunakan analisis Inverse Distance Weighting (IDW) untuk
mengetahui persebaran antara titik genangan banjir dan ketinggian banjir yang
diperoleh dari data respon masyarakat dengan teknik pengambilan sampel yaitu
sistematik sampling yang menyesuaikan lokasi sampel dengan keadaan sebenarnya
dan parameter analisis yang digunakan sebagai berikut : a) Selutut orang dewasa yaitu
30 cm, b) Sepinggang orang dewasa yaitu 60 cm, c) Sedada orang dewasa yaitu 120
cm, d) Setinggi orang dewasa yaitu >150 cm. Serta untuk mengetahui tingkat
kerentanan ekonomi dan sosial akibat bencana banjir dianalisis menggunakan
parameter yang terdapat pada Peraturan Kepala Badan Nasional Penanggulangan
Bencana Nomor 2 Tahun 2012 tentang Pedoman Umum Pengkajian Risiko Bencana.
HASIL DAN PEMBAHASAN
1. Peta Zona Banjir
Peta zona banjir merupakan peta yang menyajikan informasi daerah mana saja
yang berpotensi rawan banjir atau genangan. Sehingga pembuatan peta zona banjir
sangat perlu dilakukan untuk mengetahui seberapa ketinggian genangan banjir yang
terjadi di lokasi penelitian. Berikut ini merupakan tabel ketinggian genangan banjir yang
diperoleh dari lokasi responden di lapangan.
Tabel 1. Ketinggian Genangan Banjir
Ketinggian
Jumlah
No Genangan
Titik
(cm)
1 0 5
2 30 13
3 60 12
4 120 5
Jumlah 35
Sumber: Analisis Data, 2023
Dari tabel ketinggian genangan banjir diatas dapat dilihat pada DAS Batang
Kandis terdapat ketinggian genangan banjir yang terjadi di lokasi penelitian yaitu 0 cm,
30 cm, 60 cm, dan 120 cm dengan jumlah sampel 35 titik yang berada di 500 meter
dari bibir sungai. Untuk titik pada daerah 0 cm tidak dapat diambil koordinatnya, karena
berada di daerah hutan. Dari 35 titik, terdapat 30 responden yang berada di titik
Jurnal Pendidikan Tambusai 11259
SSN: 2614-6754 (print) Halaman 11257-11265
ISSN: 2614-3097(online) Volume 8 Nomor 1 Tahun 2024
sampel yang telah disesuaikan dengan kondisi sebenarnya menggunakan GPS. Untuk
mengetahui zona genangan banjir, dapat dilihat melalui analisis interpolasi titik
ketinggian genangan yaitu analisis Inverse Distance Weighting. Hasil interpolasi
menggunakan IDW akan menunjukkan dimana saja daerah dengan berbagai tinggi
genangan yang terjadi saat banjir di DAS Batang Kandis seperti pada peta berikut ini :
Gambar 1. Peta Zona Genangan Banjir
Dari peta diatas dapat dilihat bahwa saat terjadi banjir, pada daerah berwarna
merah atau daerah yang dekat dengan muara dan pantai mengalami genangan
setinggi sekitar 120 cm yakni setinggi dada orang dewasa. Hal ini dikarenakan, daerah
tersebut berada di wilayah yang elevasinya rendah dan terdapat banyak bangunan.
Kemudian tekstur tanah yang cenderung berpasir, sehingga menyulitkan air untuk
terikat di dalam tanah dan mengakibatkan genangan air menjadi tinggi ketika hujan
terjadi.
Pada daerah berwarna kuning ketinggian genangan sekitar 60 cm yakni setinggi
pinggang orang dewasa. Hal ini diakibatkan karena banyak sampah-sampah yang
berserakan di selokan atau sejenisnya. Sehingga menyebabkan air tidak dapat
mengalir dengan baik dan ketika hujan dengan waktu yang cukup lama, dan air mulai
menggenang di sekitar selokan dan mengakibatkan terjadinya banjir.
Pada daerah berwarna hijau muda ketinggian genangan banjir yang terjadi
sekitar 30 cm yakni setinggi lutut orang dewasa. Hal ini diakibatkan karena hilangnya
bentuk dari selokan karena penyumbatan oleh material seperti kerikil dan tanah serta
terdapat sampah yang menyumbat aliran selokan, sehingga air tidak mengalir dengan
semestinya dan menimbulkan genangan air. Jika hujan terjadi dalam waktu yang lama
beberapa daerah akan terjadi banjir.
Kemudian pada warna hijau atau di sekitaran hutan tidak terdapat genangan
banjir (0 cm). Hal ini dikarenakan wilayah ini berada di hutan dan perbukitan sehingga
Jurnal Pendidikan Tambusai 11260
SSN: 2614-6754 (print) Halaman 11257-11265
ISSN: 2614-3097(online) Volume 8 Nomor 1 Tahun 2024
air tidak akan tergenang dan penyerapan air sangat baik yang diakibatkan tumbuhan
(vegetasi) yang sangat banyak dan rapat.
Akibat dari genangan air tersebut dapat merusak struktur bangunan atau rumah,
karena bekas genangan tersebut membuat tembok menjadi lembab dan tumbuhnya
lumut, sehingga dapat membuat struktur bangunan menjadi lapuk atau keropos.
2. Kerentanan Bencana Banjir
a. Kerentanan Ekonomi
Parameter yang digunakan untuk mengetahui tingkat kerentanan ekonomi yakni
lahan produktif dan Produk Domestik Regional Bruto. Berdasarkan hasil penelitian
diketahui PDRB Kecamatan Koto Tangah pada tahun 2022 atas dasar harga berlaku
sebesar Rp. 24.381.920, sedangkan nilai lahan produktifnya sebesar Rp. 3.737.690.
Dalam hasil perhitungan kerentanan ekonomi di Kecamatan Koto Tangah per
Kecamatan dapat dilihat pada tabel dan peta berikut ini.
Tabel 1. Kerentanan Ekonomi Kecamatan Koto Tangah
Lahan
PDRB Total Kelas
No. Kelurahan Produktif
(Rp) Skor Kerentanan
(Rp)
Dadok Tunggul
1 3.1729 20.6976 1 Rendah
Hitam
2 Air Pacah 2.5392 16.5637 1 Rendah
Lubuk Minturun
3 1.6048 10.4688 1 Rendah
Sungai Lareh
4 Bungo Pasang 11.2581 73.4391 1.4 Sedang
Parupuk
5 3.9720 25.9105 1 Rendah
Tabing
Batang Kabung
6 11.2581 73.4391 1.4 Sedang
Ganting
7 Lubuk Buaya 10.1844 66.4354 1.4 Sedang
8 Padang Sarai 2.8230 18.4152 1 Rendah
Koto Panjang
9 4.5693 29.8066 1 Rendah
Ikua Koto
10 Pasir Nan Tigo 2.5653 16.7342 1 Rendah
11 Koto Pulai 6.7589 44.0900 1 Rendah
12 Balai Gadang 0.3496 2.2808 1 Rendah
Batipuh
13 2.6101 17.0264 1 Rendah
Panjang
Sumber: Pengolahan Data Sekunder, 2023
Berdasarkan tabel diatas, kerentanan ekonomi Kecamatan Koto Tangah terdapat
dua kelas yaitu rendah dan sedang di 13 kelurahan, dimana kelurahan yang
mengalami kerentanan ekonomi rendah berada pada 10 kelurahan yaitu Dadok
Tunggul Hitam, Air Pacah, Lubuk Minturun, Parupuk Tabing, Padang Sarai, Koto
Jurnal Pendidikan Tambusai 11261
SSN: 2614-6754 (print) Halaman 11257-11265
ISSN: 2614-3097(online) Volume 8 Nomor 1 Tahun 2024
Panjang Ikur Koto, Pasir Nan Tigo, Koto Pulai, Balai Gadang dan Batipuh Panjang.
Sedangkan kelurahan yang mengalami kerentanan ekonomi sedang berada pada 3
kelurahan yaitu Bungo Pasang, Batang Kabung Ganting dan Lubuk Buaya. Berikut ini
merupakan peta kerentanan ekonomi Kecamatan Koto Tangah :
Gambar 2. Peta Kerentanan Ekonomi Kecamatan Koto Tangah.
b. Kerentanan Sosial
Tinggi rendahnya nilai kerentanan sosial ini dipengaruhi oleh faktor kepadatan
penduduk, rasio kemiskinan, rasio penduduk cacat, rasio kelompok umur dan rasio
jenis kelamin. Nilai total kerentanan sosial diperoleh melalui penjumlahan hasil
pemberian skor dan bobot. Nilai kelas kerentanan dibedakan menjadi tiga yaitu rendah
dengan nilai <0,7 – 1,4, sedang dengan nilai 1,4 – 2,2, dan tinggi dengan nilai >2.2.
Jumlah penduduk kecamatan Koto Tangah pada tahun 2022 adalah 197.647 jiwa
dengan luas wilayah 232,25 km2, dan kepadatan penduduknya yaitu 851 jiwa/km 2.
Berdasarkan hasil perhitungan kerentanan sosial di Kecamatan Koto Tangah per
Kecamatan dalam bencana banjir, dapat dilihat pada tabel berikut ini.
Tabel 2. Kerentanan Sosial Kecamatan Koto Tangah
Rasio
Kepadatan Rasio Rasio Rasio
Jenis Total Kelas
No Kelurahan Penduduk Kemiskinan Penduduk Kelompok
Kelamin Skor Kerentanan
(KM²) (%) Cacat (%) Umur (%)
(%)
Dadok
1 Tunggul 1795 0.19 0.012 49.43 100.37 2.8 Tinggi
Hitam
2 Air Pacah 799 0.18 0.018 51.81 100.19 2.1 Sedang
Jurnal Pendidikan Tambusai 11262
SSN: 2614-6754 (print) Halaman 11257-11265
ISSN: 2614-3097(online) Volume 8 Nomor 1 Tahun 2024
Lubuk
Minturun
3 485 0.18 0.023 50.92 100.15 1.4 Rendah
Sungai
Lareh
Bungo
4 4540 2.4 0.052 51.26 100.57 2.8 Tinggi
Pasang
Parupuk
5 2058 1.63 0.011 50.22 100.48 2.8 Tinggi
Tabing
Batang
6 Kabung 3816 3.31 0.022 47.25 100.23 2.8 Tinggi
Ganting
Lubuk
7 6127 3.95 0.039 50.48 100.67 2.8 Tinggi
Buaya
Padang
8 1756 0.29 0.025 49.73 100.42 2.7 Tinggi
Sarai
Koto
51.03
9 Panjang 1667 0.28 0.024 100.1 2.7 Tinggi
Ikua Koto
Pasir Nan
10 800 0.16 0.014 50.04 99.89 2 Sedang
Tigo
11 Koto Pulai 525 0.19 0.008 53.05 100.17 2 Sedang
Balai
12 181 0.12 0.014 52.6 100.08 1.4 Rendah
Gadang
Batipuh
13 1096 0.21 0.02 51.19 100.41 2.7 Tinggi
Panjang
Sumber: Pengolahan Data Sekunder, 2023
Berdasarkan tabel diatas, kerentanan sosial Kecamatan Koto Tangah terdapat
tiga kelas yaitu rendah, sedang dan tinggi pada 13 kelurahan, dimana kelurahan yang
mengalami kerentanan sosial rendah terdapat pada 2 kelurahan yaitu Lubuk Minturun
dan Balai Gadang. Kelurahan yang mengalami kerentanan sosial sedang terdapat
pada 3 kelurahan yaitu Air Pacah, Pasir Nan Tigo dan Koto Pulai. Sedangkan
kelurahan yang mengalami kerentanan sosial tinggi terdapat pada 8 kelurahan yaitu
Dadok Tunggul Hitam, Bungo Pasang, Parupuk Tabing, Batang Kabung Ganting,
Lubuk Buaya, Padang Sarai, Koto Panjang Ikur Koto dan Batipuh Panjang. Berikut ini
merupakan peta kerentanan sosial Kecamatan Koto Tangah :
Jurnal Pendidikan Tambusai 11263
SSN: 2614-6754 (print) Halaman 11257-11265
ISSN: 2614-3097(online) Volume 8 Nomor 1 Tahun 2024
Gambar 3. Peta Kerentanan Sosial Kecamatan Koto Tangah
KESIMPULAN
Berdasarkan uraian di atas disimpulkan bahwa Zona rawan banjir di DAS Batang
Kandis, terdapat tiga ketinggian genangan banjir sebagai berikut. Ketinggian 0 cm
(tidak mengalami banjir), ketinggian genangan 30 cm yaitu setinggi lutut orang dewasa,
ketinggian genangan 60 cm yaitu setinggi pinggang orang dewasa, dan ketinggian
genangan 120 cm yaitu setinggi dada orang dewasa. Kecamatan Koto Tangah
memiliki 13 kelurahan, dimana daerah yang mengalami kerentanan ekonomi rendah
terdapat pada 10 kelurahan, dan kerentanan ekonomi sedang pada 3 kelurahan.
Sedangkan daerah yang mengalami kerentanan sosial rendah terdapat pada 2
kelurahan, kerentanan sosial sedang pada 3 kelurahan, dan kerentanan tinggi pada 8
kelurahan.
DAFTAR PUSTAKA
Ashari, I. A., dkk. (2023). Penerapan Internet of Things (IoT) dengan Pendekatan
Metode Inverse Distance Weight (IDW). Purwokerto : UHB Press.
BNPB. (2017). Definisi Bencana. Retrieved from Badan Nasional Penanggulangan
Bencana: [Link]
(2012) Peraturan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana Nomor 12
Tahun 2012 Tentang Pedoman Umum Pengkajian Risiko Bencana. Jakarta.
Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa (2021). Kamus Besar Bahasa
Indonesia Edisi Ke- 6. (Pengertian Respon dan Masyaraka)t. Jakarta.
Badan Pusat Statistik Kecamatan Koto Tangah Dalam Angka Tahun 2023
Badan Pusat Statistik Kota Padang Dalam Angka Tahun 2023
Databoks. (2021, Juni 18). BNPB: Ada 1.441 Bencana Alam yang Melanda Indonesia
Hingga Juni 2021. Diakses pada 25 Oktober 2021, dari
Jurnal Pendidikan Tambusai 11264
SSN: 2614-6754 (print) Halaman 11257-11265
ISSN: 2614-3097(online) Volume 8 Nomor 1 Tahun 2024
[Link]
mengguncang-indonesia-hingga-18-juni-2021
DetikNews. (2021, Oktober 1). 8 Kecamatan di Kota Padang Terendam Banjir, 418
Warga Dievakuasi. Diakses pada 22 Oktober 2021, dari
[Link]
banjir-418-warga-dievakuasi
Lestari, M., Mira, Prasetyo, S. Y., & Fibriani, C. (2018). Analisis Daerah Rawan Banjir
Pada Daerah Aliran Sungai Tuntang Menggunakan Skoring dan Inverse Distance
Weighted. Indonesian Journal of Computing and Modeling Vol. 4 No.1, 1-9.
Pahleviannur, M. R., dkk. (2023). Kerentanan Sosial Ekonomi terhadap Bencana Banjir
di Hilir DAS Citanduy Bagian Barat Kabupaten Pangandaran Jawa Barat. Jurnal
MKG Vol. 24, No. 2, Desember 2023 (189 – 205).
Republik Indonesia. (2007). Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007 Tentang
Penanggulangan Bencana. Jakarta.
Riyanto, E. A. (2014). Analisis Kerentanan Sosial dan Ekonomi dalam Bencana
Kebakaran Hutan dan Lahan Gambut di Kabupaten Bengkalis Provinsi Riau.
Jurnal Dialog Penanggulangan Bencana Vol. 5, 128-140.
Sitorus, I. H., Bioresita, F., & Hayati, N. (2021). Analisa Tingkat Rawan Banjir di
Daerah Kabupaten Bandung Menggunakan Pembobotan dan Scoring. Jurnal
Teknik ITS Vol. 10 No.1, C14-C19.
Jurnal Pendidikan Tambusai 11265