BAB II
PEMBAHASAN
2.1. Metode Pembelajaran dalam IPA
A. Pengertian metode pembelajaran
Metode sering diartikan cara yang digunakan oleh guru untuk mengaplikasikan strategi
belajar yang sudah ditentukan untuk mencapai tujuan pembelajaran yang telah
ditetapkan.
Metode pembelajaran adalah cara atau tahapan yang digunakan dalam interaksi antara
peserta didik dan pendidik untuk mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan
sesuai dengan materi dan mekanisme metode pembelajaran. Yang di maksud dengan
mekanisme metode pembelajaran iyalah Mekanisme metode pembelajaran menjelaskan
langkah-langkah teknis pelaksanaan metode tersebut di kelas, agar dapat dijalankan
secara tertib, terarah, dan mencapai hasil belajar yang optimal. Muhamad Afandi, [Link].,
[Link] dan kwn”
Sedangkan metode pembelajaran menurut Djamarah,SB.(2006: 46)”suatu cara yang
dipergunakan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan’. Dalam kegiatan belajar
mengajar, metode diperlukan oleh guru agar penggunaanya bervariasi sesuai yang ingin
dicapai setelahpengajaran berakhir.
B. Macam-Macam metode yang dapat digunakan dalam Pembelajaran IPA SD
1. Metode Diskusi
Menurut Syaiful Bahri Djamarah, 2000: 28 (dalam Kumala, 2016), metode diskusi
adalah metode dimana guru membagi siswa dalam beberapa kelompok, kemudian
memberikan suatu persoalan atau masalah untuk dipecahkan secara bersama-sama
dengan teman satu kelompoknya. Ciri-ciri metode ini adalah:
1) Siswa dibagi dalam beberapa kelompok
2) Ada permasalahan yang sedang dicarikan solusinya,
3) Ada yang menjadi pemimpin,
4) Ada proses tukar pendapat, dan
5) Ada hasil diskusi
Menurut Syaiful Bahri Djamarah, 2000: 28 (dalam Kumala, 2016) kelebihan
metode diskusi yaitu sebagai berikut:
1) Menyadarkan anak didik bahwa masalah dapat dipecahkan dengan berbagai
jalan dan bukan satu jalan (satu jawaban saja).
2) Menyadarkan anak didik bahwa dengan berdiskusi mereka saling
mengemukakan pendapat secara konstruktif
3) Membiasakan anak didik untuk mendengarkan pendapat orang lain sekalipun
berbeda dengan pendapatnya sendiri.
Menurut Syaiful Bahri Djamarah, 2000: 28 (dalam Kumala, 2016), kekurangan
metodediskusi yaitu sebagai berikut
1) Tidak dapat dipakai pada kelompok yang besar.
2) Peserta diskusi mendapat informasi yang terbatas.
3) Dapat dikuasai oleh orang-orang yang suka berbicara.
4) Biasanya orang menghendaki pendekatan yang lebih formal
2. Metode Demonstrasi
Menurut Syaiful Bahri Djamarah, 2000: 28 (dalam Kumala, 2016), metode
demonstrasi adalah metode mengajar yang digunakan guru dengan menggunakan
peragaan untuk memperjelas suatu pengertian ataupun konsep-konsep IPA kepada
siswa. Metode mengajar yang seperti ini sangat disukai oleh siswa karena adanya
pergerakan pada proses belajar-mengajar Langkah-langkah melakukan metode
demonstrasi:
1) Guru menyiapkan bahan demonstrasi yang akan dilakukan dan harus sesuai
dengan tujuan pembelajaran.
2) Guru mencoba alat terlebih dahulu.
3) Guru memberi penjelasan serta ilustrasi kepada siswa tentang demonstrasi yang
dilakukan.
4) Kegiatan demonstrasi ditindak lanjuti dengan berdiskusi antar siswa dan
kemudian siswa mencobakan alat demonstras.
Menurut Syaiful Bahri Djamarah, 2008:211 (dalam Gopur, 2017) kelebihan
metode demonstrasi adalah sebagai berikut
1) Perhatian siswa dapat dipusatkan pada hal-hal yang dianggap penting oleh
guru sehingga hal yang penting itu dapat diamati secara teliti. Di samping itu,
perhatian siswa pun lebih mudah dipusatkan kepada proses belajar mengajar
dan tidak kepada yang lainya.
2) Dapat membimbing siswa ke arah berpikir yang sama dalam satu saluran
pikiran yang sama
3) Ekonomis dalam jam pelajaran di sekolah dan ekonomis dalam waktu yang
panjang dapat diperlihatkan melalui demonstrasi dengan waktu yang pendek.
4) Dapat mengurangi kesalahan-kesalahan bila dibandingkan dengan hanya
membaca atau mendengarkan, karena murid mendapatkan gambaran yang
jelas dari hasil pengamatannya.
5) Karena gerakan dan proses dipertunjukan maka tidak memerlukan keterangan-
keterangan yang banyak.
6) Beberapa persoalan yang menimbulkan petanyaan atau keraguan dapat
diperjelas waktu proses demonstrasi.
Menurut Syaiful Bahri Djamarah, 2008:211 (dalam Gopur, 2017), kekurangan
metode demonstrasi adalah sebagai berikut:
1) Visibilitasnya kurang, peserta didik tidak dapat melihat atau mengamati
keseluruhan benda atau peristiwa yang didemonstrasikan, kadang-kadang
terjadi perubahan yang tidak terkontrol.
2) Untuk mengadakan demonstrasi digunakan ala-alat yang khusus, kadang-
kadang alat itu susah didapat. Demonstrasi merupakan metode yang tidak
wajar bila alat yang didemonstrasikan tidak dapat diamati secara seksama.
3) Dalam mengadakan pengamatan terhadap hal-hal yang didemonstrasikan
diperlukan pemusatan perhatian. Dalam hal ini banyak diabaikan oleh peserta
didik
4) Tidak semua hal dapat didemonstrasikan di kelas,
5) Memerlukan banyak waku sedangkan hasilnya kadang-kadang sangat
minimum.
6) Kadang-kadang hal yang didemonstrasikan di kelas akan berbeda jika proses
itu didemonstrasikan dalam situasi nyata atau sebenarnya.
7) Agar demonstrasi mendapatkan hasıl yang baik diperlukan ketelitian dan
kesabaran.
3. Metode Tanya Jawab
Menurut Hendayat Soctopo (dalam Khakam, 2013), metode tanya jawab adalah cara
penyajian bahan ajar dalam bentuk pertanyaan-pertanyaan yang memerlukan jawaban
untuk mencapai tujuan yang diharapkan.
Menurut Hendayat Soctopo (dalam Khakam, 2013) keunggulan atau keuntungan
dari metode tanya jawab, yaitu:
1) Lebih mengaktifkan siswa2. Memberikan kesempatan kepada untuk
mengemukakan hal-hal yang belum jelas
2) Dapat mengetahui perbedaan pendapat siswa, sehingga bisa dicari titik
temunya.
3) Dapat mengurangi verbalisme.
4) Memberikan kesempatan pada guru untuk menjelaskan kembali konsep yang
masih belum jelas.
Menurut Abu Ahmadi dan Joko Tri Prasetya (dalam Khakam, 2013) kelemahan
metode tanya jawab ini adalah:
1) Apabila terjadi perbedaan pendapat akan sulit untuk menyelesaikannya.
2) Kemungkinan akan terjadi penyimpangan perhatian siswa, terutama apabila
terdapat jawaban-jawaban yang kebetulan menarik perhatiannya, tetapi bukan
sasaran yang dituju.
3) Dapat menghambat cara berpikir, apabila guru kurang pandai dalam penyajian
materi pelajaran
4) Situasi persaingan bisa timbul, apabila guru kurang pandai menguasai teknik
pemakaian metode ini
4. Metode Ceramah
Metode ceramah merupakan cara mengajar yang paling tradisional dan tidak asing
lagi dan telah lama dijalankan dalam sejarah pendidikan. Cara ini kadang
membosankan, maka dalam pelaksanaannya memerlukan keterampilan tertentu, agar
penyajiannya tidak membosankan dan dapat menarik perhatian siswa.
Menurut Wina Sanjaya, 2006: 148 (dalam Andrean Perdana Yuwono Putra: 2014)
kelebihan metode ceramah diantaranya:
1) Ceramah merupakan metode yang murah dan mudah, murah maksudnya
ceramah tidak memerlukan peralatan yang lengkap, sedangkan mudah karena
ceramah hanya mengandalkan suara guru dan tidak memerlukan persiapan
yang rumit.
2) Ceramah dapat menyajikan materi pelajaran yang luas, artinya materi
pelajaran yang banyak dapat dijelaskan pokok-pokoknya saja oleh guru.
3) Ceramah dapat memberikan pokok-pokok materi yang perlu ditonjolkan,
artinya guru dapat mengatur pokok-pokok materi yang perlu ditekankan
sesuai kebutuhan dan tujuan yang ingin dicapai.
4) Ceramah membantu guru dalam mengontrol keadaan kelas, karena kelas
merupakan tanggung jawab guru yang ceramah.
5) Organisasi kelas dengan menggunakan ceramah dapat diatur menjadi lebih
sederhana.
Kelemahan metode ceramah menurut Wina Sanjaya, 2006:148 (dalam Andrean
Perdana Yuwono Putra, 2014) adalah
1) Materı yang dikuasai siswa dari hasil ceramah akan terbatas pada yang
dikuasai guru.
2) Ceramah yang tidak disertai peragaan dapat mengakibatkan terjadinya
verbalisme
3) Guru yang kurang memiliki kemampuan bertutur yang baik, ceramah sering
dianggap sebagai metode yang membosankan.
4) Melalui ceramah, sangat sulit untuk mengetahui apakah seluruh siswa sudah
mengerti apa yang dijelaskan atau belum
5. Metode Eskperimen
Metode pembelajaran eksperimen adalah cara pengelolaan pembelajaran dimana
siswa melakukan aktivitas percobaan dengan mengalami dan membuktikan sendiri
konsep IPA yang dipelajarinya. Langkah-langkah melakukan metode eksperimen:
1) Guru menyiapkan alat untuk percobaan, dan harus sesuai dengan tujuan.
2) Sebelumnya guru menguji coba alat yang akan digunakan.
3) Guru memberikan lembar kegiatan siswa, dan menjelaskan apa yang harus
dilakukan oleh siswa.
4) Guru membantu dan membimbing siswa saat melakukan percobaan
5) Percobaan ditindak lanjuti dengan diskusi antar siswa.
Menurut Roestiyah, 2012:82 (dalam Elli Kurniatiningsih, 2016) teknik
eksperimen kerapkalı digunakan karena memiliki keunggulan sebagai berikut
1) Dengan eksperimen siswa terlatih menggunakan metode ilmiah dalam
menghadapi segala masalah, sehingga tidak mudah percaya pada sesuatu yang
belum pasti kebenarannya.
2) Mereka lebih aktif berpikir dan berbuat, hal mana itu sangat dikehendaki oleh
kegiatan mengajar belajar yang modern, di mana siswa lebih banyak aktif
belajar sendiri dengan bimbingan guru.
3) Siswa dalam melaksanakan proses eksperimen di samping memperoleh ilmu
pengetahuan, juga menemukan pengalaman praktis serta keterampilan dalam
menggunakan alat-alat percobaan.
4) Dengan eksperimen siswa membuktikan sendiri kebenaran siuatu teori,
sehingga akan mengubah sikap mereka yang takhayul, ialah peristiwa-
peristiwa yang tidak masuk akal.
Menurut Sagala, 2012: 221 (dalam Elli Kurniatiningsih, 2016) metode
eksperimen ini memiliki kekurangan sebagai berikut:
1) Pelaksanaan metode ini sering memerlukan berbagai fasillitas peralatan dan
bahan yang tidak selalu mudah diperoleh dan murah
2) Setiap eksperimen tidak selalu memberikan hasil yang diharapkan karena
mungkin ada faktor-faktor tertentu yang berada di luar jangkauan kemampuan
atau pengendalian.
3) Sangat menuntut penguasaan perkembangan materi, fasilitas pralatan dan
bahan mutakhir. Sering terjadi siswa lebih dulu mengenal dan menggunakn
alat bahan tertentu dari pada guru
D. Implementasi metode dalam kegiatan pembelajaran IPA
Implementasi metode dalam pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) sangat penting
untuk mencapai tujuan pembelajaran yang aktif, inovatif, kreatif, efektif, dan
menyenangkan. Guru perlu memilih metode yang sesuai dengan karakteristik materi,
kebutuhan siswa, serta kondisi pembelajaran agar hasil belajar optimal.
Beberapa metode yang umum diimplementasikan dalam pembelajaran IPA di
antaranya:
1) Ceramah: Digunakan untuk menyampaikan materi dalam jumlah banyak secara
efisien. Keunggulannya adalah dapat menghemat waktu dan tidak membutuhkan
banyak alat, namun kelemahannya adalah siswa cenderung pasif jika tidak
diimbangi dengan aktivitas lain.
2) Demonstrasi: Guru memperagakan suatu proses atau fenomena IPA di depan
kelas. Metode ini efektif jika alat atau bahan terbatas, atau jika praktik langsung
berisiko. Demonstrasi dapat berupa demonstrasi proses (memperlihatkan langkah-
langkah) atau hasil (memperlihatkan hasil akhir suatu proses).
3) Eksperimen: Siswa melakukan percobaan secara langsung untuk membuktikan
konsep IPA. Metode ini meningkatkan keterampilan proses sains dan pemahaman
konsep, namun membutuhkan fasilitas dan waktu yang cukup
4) Diskusi: Siswa berdiskusi dalam kelompok untuk memecahkan masalah atau
menganalisis fenomena IPA. Metode ini melatih keterampilan berpikir kritis dan
komunikasi.
5) Simulasi: Menciptakan situasi nyata dalam bentuk tiruan untuk mengembangkan
keterampilan tertentu, seperti simulasi gerhana atau tsunami dengan alat
sederhana.
6) Permainan (Games): Digunakan untuk membangun suasana belajar yang
menyenangkan dan meningkatkan motivasi siswa.
7) Project Based Learning (PjBL): Siswa bekerja dalam kelompok untuk membuat
proyek yang berkaitan dengan materi IPA. Metode ini terbukti meningkatkan
penguasaan konsep dan keterampilan berpikir kritis.
8) Problem Based Learning (PBL): Siswa dihadapkan pada masalah nyata yang
harus dipecahkan menggunakan konsep IPA. Metode ini menumbuhkan
kemampuan analisis dan pemecahan masalah.
2.2. Model Pembelajaran dalam IPA
A. Pengertian model pembelajaran
Model pembelajaran adalah kerangka konseptual yang digunakan sebagai pedoman
dalam melakukan pembelajaran yang disusun secara sistematis untuk mencapai tujuan
belajar yang menyangkut sintaksis atau aturan tata bahasa dalam suatu bahasa yang
menentukan bagaimana kata-kata dan kalimat disusun untuk membentuk makna, sistem
sosial atau Sistem sosial adalah suatu struktur yang terdiri dari berbagai kelompok dan
institusi dalam masyarakat, yang saling berinteraksi dan mempengaruhi satu sama lain,
prinsip reaksi dan sistem pendukung Prinsip reaksi adalah konsep yang menjelaskan
bagaimana suatu sistem (misalnya, sistem kimia atau biologis) bereaksi terhadap
perubahan kondisi atau rangsangan (Joice&Wells).
Sedangkan menurut Arends dalam Trianto, mengatakan “model pembelajaran adalah
suatu perencanaan atau suatu pola yang digunakan sebagai pedoman dalam
merencanakan pembelajaran di kelas.
Model pembelajaran adalah suatu pola belajar yang diterapkan oleh guru mulai dari awal
pembelajaran sampai akhir pembelajaran (dalam Ayu, 2016). penerapan model
pembelajaran di SD agar pola atau struktur pembelajaran lebih terarah dan tak melenceng
dari tujuan pembelajaran, ada begitu banyak model pembelajaran yang biasa diterapkan
oleh guru dalam mendidik dan mengajar siswanya termasuk siswa sekolah dasar (SD)
(Rijal, 2016)
B. Fungsi model dalam pembelajaran IPA
1) Membimbing pencapaian tujuan pembelajaran. Model pembelajaran membantu guru
dan siswa untuk fokus pada tujuan yang ingin dicapai dalam setiap proses
pembelajaran IPA.
2) Mengembangkan kurikulum. Model pembelajaran menjadi acuan dalam merancang
dan mengembangkan kurikulum IPA agar lebih terstruktur dan sistematis.
3) Menentukan materi pelajaran. Model berperan dalam pemilihan dan penyesuaian
materi yang relevan dengan kebutuhan dan karakteristik siswa.
4) Meningkatkan efektivitas mengajar. Dengan model pembelajaran yang tepat, proses
belajar mengajar menjadi lebih efektif, efisien, dan bermakna bagi siswa.
C. Macam-macam model yang dapat digunakan dalam Pembelajaran IPA SD
1. Model Pembelajaran Somatic Auditory Visual Intelectual (SAVI)
Somatic Auditory Visual Intelectual (SAVI) menurut Dewiyani 2012 (dalam Rijal,
2016) berasal dari bahasa Yunani yaitu soma yang berarti tubuh. Jika dikaitkan
dengan belajar maka dapat diartikan belajar dengan indera peraba, kinestetik, praktis
melibatkan fisik dan menggunakan serta mengerakkan tubuh ketika belajar atau
bergerak dan berbuat langkah- langkah model pembelajaran Somatic Auditory Visual
Intelectual (SAVI) memiliki empat tahap yaitu:
a) Persiapan. Tujuan tahap persiapan adalah menimbulkan minat peserta didik,
memberi mereka perasaan positif mengenai pengalaman belajar yang akan datang,
dan menempatkan mereka dalam situasi optimal untuk belajar.
b) Penyampaian Tujuan Tahapan ini adalah membentuk peserta didik menentukan
materi belajar yang baru dengan cara yang menarik, menyenangkan, relevan dan
melibatkan pancaindera
c) Pelatihan. Tujuan tahap ini untuk membantu peserta didik mengintagrasikan dan
menyerap pengetahuan serta ketempilan baru dengan berbagai cara.
d) Penampilan hasil. Tujuan tahap ini, membentuk peserta didik menerapkan dan
memperluas pengetahuan atau keterampilan baru mereka pada pekerjaan,
sehingga hasil belajar akan melekat dan terus meningkat.
2. Model Pembelajaran Kontekstual Kata kontekstual (contextual) berasal dari kata
context yang berarti "hubungan, konteks, suasana dan keadaan. Sehingga contextual
diartikan yang berhubungan dengan suasana (konteks). Jadi, dapat diartikan sebagai
suatu pendekatan pembelajaran yang berhubungan dengan suasana tertentu (Legawa,
2001 dalam Durg, 2014). Pendekatan Contextual Teaching and Learning menurut
Depdiknas (2003:5 dalam Durg, 2014) adalah konsep belajar yang membantu guru
mengaitkan antara materi yang diajarkan dengan situasi dunia nyata dan mendorong
siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan perencanaan
dalam kehidupan mereka sehari-hari.
3. Model Pembelajaran Kolaboratif Menurut Rijal, 2016 Ciri-ciri dari Model
Pembelajaran Kolaboratif yaitu adanya kerja sama dua orang atau lebih, memecahkan
masalah bersama, serta mencapai tujuan tertentu. Bentuk Belajar Kolaboratif dapat
berupa Student Teams Achievement Divisions (STAD) yang mencakup: 1) Sajian
Guru 2) Diskusi Kelompok siswa 3) Tes/Kuis/Silang tanya antar kelompok 4)
Penguatan Guru
4. Model Pembelajaran Kooperatif Menurut Scott B. Watson dari School of Education,
Faculty Publications and Presentations Liberty University dalam makalahnya yang
berjudul The Essential Elements of Cooperative Learning, 1992 (dalam Alfi 2014)
menyatakan bahwa pembelajaran kooperatif adalah lingkungan belajar kelas yang
memungkinkan siswa bekerja sama untuk mengerjakan tugas-tugas akademiknya
dalam suatu kelompok kecil heterogen (Rijal, 2016).
5. Model Pembelajaran Quantum Teaching Porter dan Hernacki (2001 dalam Agus,
2010) berpendapat bahwa Model Pembelajaran Kuantum adalah model pembelajaran
yang memungkinkan siswa untuk belajar yang meriah dengan segala nuansanya, yang
menyertakan segala kaitan, interaksi dan perbedaan yang memaksimalkan momen
belajar serta berfokus pada hubungan yang dinamis dalam lingkungan kelas, interaksi
yang mendirikan landasan dalam kerangka untuk belajar. Dengan demikian, Model
Pembelajaran Kuantum dapat dipandang sebagai sebuah cara baru yang memudahkan
proses belajar dan memadukan unsur seni dan pencapaian yang terarah dalam
pembelajaran.
6. Model Pembelajaran Tematik
Pembelajaran tematik adalah pembelajaran berdasarkan tema untuk mempelajari
suatu materi guna mencapai kompetensi tertentu. Menurut Rusman (2015: 92 dalam
Rijal 2015) beberapa kelebihan pendekatan pembelajaran tematik, diantaranya:
a) Pengalaman dan kegiatan belajar peserta didik akan selalu relevan dengan tingkat
perkembangan anak.
b) Kegiatan yang dipilih dapat disesuaikan dengan minat dan kebutuhan peserta
didik.
c) Seluruh kegiatan belajar lebih bermakna bagi peserta didik sehingga hasil belajar
akan dapat bertahan lebih lama.
d) Pembelajaran terpadu menumbuhkembangkan keterampilan berpikir dan sosial
anak.
e) Pembelajaran terpadu menyajikan kegiatan yang bersifat pragmatis. Dengan
permasalahan yang sering ditemui dalam kehidupan/lingkungan riil peserta didik.
f) Jika pembelajaran terpadu dirancang bersama dapat meningkatkan kerja sama
antar guru bidang kajian terkait, guru dengan peserta didik, peserta didik dengan
peserta didik, peserta didik/guru dengan narasumber sehingga belajar lebih
menyenangkan, belajar dalam situasi nyata, dan dalam konteks yang lebih
bermakna.
7. Model Pembelajaran Konstruktivisme
Menurut pandangan konstruktivisme keberhasilan belajar bergantung bukan hanya
pada lingkungan atau kondisi belajar, tetapi juga pada pengetahuan awal siswa.
Belajar melibatkan pembentukan "makna" oleh siswa dari apa yang mereka lakukan,
lihat, dạn dengar (West & Pines, 1985 dalam Febria, 2013). Dalam belajar sains/IPA
menurut Piaget (Dahar, 1996 dalam Febria, 2013) merupakanh proses konstruktif
yang menghendaki partisipasi aktif dari siswa sehingga peran guru berubah, dari
sumber dan pemberi informasi menjadi pendiagonsis dan fasilitator belajar siswa.
8. Model Pembelajaran Berbasis Pengalaman (Experimential Learning)
Model Experimential Learning adalah suatu model proses belajar mengajar yang
mengaktifkan pembelajar untuk membangun pengetahuan dan keterampilan melalui
pengalamannya secara langsung. Dalam hal ini. Experimential Learning
menggunakan pengalaman sebagai katalisator untuk menolong pembelajar
mengembangkan kapasitas dan kemampuannya dalam proses pembelajaran. Prosedur
pembelajaran dalam experiential learning terdiri dari 4 tahapan, yaitu; 1) tahapan
pengalaman nyata, 2) tahap observasi refleksi, 3) tahap konseptualisasi, dan 4) tahap
implementasi. Keempat tahap tersebut oleh David Kolb (1984. dalam Rijal, 2016).
9. Model Pembelajaran Siklus Belajar (Learning Cycle)
Siklus belajar (learning cycle) merupakan model pembelajaran yang berorientasi pada
teori Piaget dan teori pembelajaran kognitif serta aplikasi model pembelajaran
konstruktivis. Model ini dikembangkan oleh Robert Karplus dan koleganya dalam
rangka memperbaiki kurikulum sains SCIS (Science Curriculum Improvement Study)
dengan tahapan-tahapannya exploration, invention dan discovery, namun kemudian
dikembangkan oleh Charles R. Barman dengan tahapan-tahapannya: exploration
phase, concept introduction, dan concept application. Selanjutnya model ini kemudian
dikembangkan lagi dan dewasa ini lebih dikenal dengan model siklus belajar sains 4-
E (4- E science learning cycle), dengan tahapan-tahapan exploration phase
(penyelidikan). explanation phase (pengenalan), expansion phase (perluasan),
evaluation phase (evaluasi) (Carin 1993:87 dalam Rijal, 2016).
10. Model Pembelajaran Mind Mapping.
Mind mapping atau peta pikiran adalah suatu tekhnik pembuatan catatan-catatan yang
dapat digunakan pada situasi, kondisi tertentu, seperti dalam pembuatan perencanaan,
penyelesaian masalah, membuat ringkasan, membuat struktur, pengumpulan ide-ide,
untuk membuat catatan, kuliah, rapat, debat dan wawancara. (Svantesson, 2004: 1
dalam Rijal, 2016).
2.3. Strategi Pembelajaran dalam IPA
A. Pengertian strategi pembelajaran
Dalam dunia pendidikan, strategi pembelajaran dapat diartikan sebagai pola umum atau
perencanaan yang berisi tentang rangkaian kegiatan yang didesain untuk mencapai tujuan
pendidikan tertentu. Sebelum menentukan strategi pembelajaran, perlu dirumuskan tujuan
yang jelas yang dapat diukur keberhasilannya. Namun, kita perlu mengingat bahwa tidak
semua strategi pembelajaran cocok digunakan untuk mencapai semua tujuan dan semua
keadaan (dalam Nurjannah, 2015).
B. Macam-Macam Strategi yang dapat digunakan dalam Pembelajaran IPA SD
1. Strategi Pembelajaran Langsung
Strategi ini yang paling banyak digunakan oleh guru. Strategi ini efektif untuk
menentukan informasi atau membangun keterampilan tahap demi tahap. Kelebihan
strategi ipi adalah mudah untuk direncanakan dan digunakan oleh guru. Sedangkan
keiemahannya adalah siswa dituntut memiliki sikap yang diperlukan untuk pemikiran
kritis (dalam Nurjannah, 2015).
2. Strategi Pembelajaran Tak Langsung
Strategi ini berlawanan dengan strategi pembelajaran langsung. Strategi pembelajaran
tak langsung biasanya berpusat pada siswa. Pada strategi ini guru berperan sebagai
fasilitator, yang mengelola lingkungan belajar dan memberikan kesempatan kepada
siswa untuk terlibat langsung dalam pembelajaran. Kelebihan strategi ini adalah
mendorong kreativitas dan pengembangan keterampilan interpersonai dan
memberikan pemahaman yang lebih baik kepada siswa. Sedangkan kelemahannya
adalah memerlukan waktu yang panjang dalam penerapannya (dalam Nurjannah,
2015).
3. Strategi Pembelajaran Interaktif
Strategi ini menekankan pada diskusi dan sharing diantara peserta didik. Kegiatan
seperti ini memberikan kesempatan kepada siswa untuk dapat saling berbagi
pengalaman yang mereka miliki dalam mengerjakan suatu tugas. Kelebihan strategi
ini adalah siswa dapat belajar dari temannya dan gurunya dan belajar menghargai
pendapat temannya. Sedangkan kekurangannya adalah bahwa pembelajaran sangat
bergantung pada kecakapan guru dalam menyusun dan mengembangkan dinamika
kelompok (dalam Nurjannah, 2015).
4. Strategi Pembelajaran Empirik
Strategi ini berpusat pada siswa dan berbasis aktivitas. Kelebihan strategi ini adalah
meningkatkan partisipasi siswa, meningkatkan sifat kritis siswa. Sedangkan
kelemahannya adalah penekanan hanya pada proses bukan pada produk dan
memerlukan waktu yang panjang (dalam Nurjannah, 2015).
5. Strategi Pembelajaran Mandiri
Strategi ini bertujuan untuk membangun inisiatif individu, kemandirian, dan
peningkatan diri. Stratgi ini kurang cocok sebenarnya untuk anak SD tapi tidak salah
apabila digunakan. Kelebihan strategi ini adalah membentuk peserta didik yang
mandiri dan bertanggungjawab. Sedangkan kelemahannya adalah memerlukan
pemikiran yang kritis dan pemikiran yang dewasa, sehingga sulit menggunakannya
untuk anak usia SD (dalam Nurjannah, 2015).
C. Strategi pembelajaran aktif dalam IPA
Strategi pembelajaran aktif dalam Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) bertujuan untuk
mengaktifkan peran siswa secara maksimal dalam proses belajar, sehingga siswa tidak
hanya menjadi penerima informasi, tetapi juga terlibat langsung dalam membangun
pengetahuan, keterampilan, dan sikap ilmiah. Berikut adalah penjelasan mengenai
konsep, contoh strategi, dan langkah penerapan pembelajaran aktif dalam IPA.
Konsep Pembelajaran Aktif dalam IPA
1) Pembelajaran aktif menempatkan siswa sebagai subjek utama yang terlibat dalam
setiap tahapan pembelajaran, sementara guru berperan sebagai fasilitator dan
motivator.
2) Siswa didorong untuk mencari, menemukan, dan memecahkan masalah secara
mandiri atau kelompok, sehingga proses belajar menjadi lebih bermakna dan
menyenangkan.
3) Aktivitas pembelajaran aktif dapat berupa diskusi, eksperimen, tanya jawab,
berbagi pengetahuan, serta aktivitas kolaboratif lainnya yang mendorong interaksi
dan keterlibatan siswa
D. Peran guru dalam memilih dan menerapkan strategi pembelajaran
Guru memegang peranan utama dalam memilih dan menerapkan strategi pembelajaran
karena guru adalah aktor kunci yang menentukan keberhasilan proses belajar mengajar di
kelas. Guru tidak hanya bertugas menyampaikan materi, tetapi juga harus memahami
karakteristik, kebutuhan, dan potensi siswa agar strategi yang dipilih efektif dan sesuai
dengan tujuan pembelajaran.
Peran Guru dalam Memilih Strategi Pembelajaran
1) Menyesuaikan strategi dengan tujuan pembelajaran, karakteristik siswa,
materi, dan kondisi kelas.
2) Memahami berbagai model dan metode pembelajaran, seperti pembelajaran
kooperatif, berbasis masalah, berbasis proyek, blended learning, dan lainnya,
untuk memilih yang paling relevan dengan situasi di kelas.
3) Mengidentifikasi perubahan perilaku dan hasil belajar yang diharapkan dari
siswa, sehingga strategi yang dipilih benar-benar mendukung pencapaian
kompetensi yang ditetapkan.
4) Memanfaatkan teknologi dan inovasi dalam pembelajaran, khususnya untuk
memenuhi tuntutan keterampilan abad 21.
Peran Guru dalam Menerapkan Strategi Pembelajaran
1) Bertindak sebagai fasilitator, pembimbing, motivator, evaluator, dan sumber
belajar selama proses pembelajaran berlangsung.
2) Mengelola kelas dan menciptakan suasana belajar yang aktif, interaktif, dan
kolaboratif, sesuai dengan strategi yang dipilih.
3) Memberikan umpan balik yang konstruktif dan membangun motivasi siswa
untuk terlibat aktif dalam pembelajaran.
4) Menyesuaikan metode, media, dan pendekatan pembelajaran secara fleksibel
sesuai dinamika kelas dan respon siswa.
5) Mengintegrasikan teknologi dan sumber belajar digital untuk meningkatkan
efektivitas dan daya tarik pembelajaran.