Manajemen Self Care Stroke dan Kualitas Hidup
Manajemen Self Care Stroke dan Kualitas Hidup
ABSTRAK
Stroke adalah gangguan sistem syaraf, disebabkan oleh gangguan peredaran darah di otak yang
disebabkan pecahnya atau tersumbatnya pembuluh darah. Pada penderita stroke akan mengakibatkan
penurunan kualitas hidupnya. Kualitas hidup pasien pasca stroke mengalami gangguan, tetapi jika
melakukan self care dengan baik akan meningkatkan kualitas [Link] penelitian ini untuk
mengetahui management self care stroke terhadap kualitas hidup pasien pasca stroke di Rumah Sakit
Bakti Timah Pangkalpinang. Penelitian ini adalah penelitian kuantitatif dengan metode cross-
sectional untuk mengetahui sebab akibat hubungan antara variabel independet dan dependent.
Variabel independet kepatuhan berobat, nutrisi, tingkat stres, dan dukungan keluarga,sedangkan
variabel dependent kualitas hidup pasien pasca stroke. Jumlah sampel sebanyak 65 orang dengan
teknik purposive sampling. Menggunakan uji chi square dengan derajat kepercayaan 95% (a =0,05).
Hasil penelitian ini diketahui hasil statistik pada management self care stroke terhadap kualitas hidup
pasien pasca stroke yang terdiri dari Kepatuhan berobat didapatkan nilai p value = 0,000, Nutrisi
didapatkan nilai p value = 0,000, Tingkat stres didapatkan nilai p value = 0,000 dan Dukungan
keluarga didapatkan nilai p value = 0,000 yang bearti ada hubungan terhadap kualitas hidup pasien
pasca stroke.
Kata kunci: dukungan keluarga; kepatuhan berobat; nutrisi; stroke; tingkat stres
ABSTRACT
Stroke is a disorder of the nervous system, caused by blood circulation disorders in the brain caused
by rupture or blockage of blood vessels. In stroke patients, it will result in a decrease in the quality of
life. The quality of life of post-stroke patients is impaired, but if self-care is carried out properly it will
improve the quality of life. The aim of this study was to determine stroke self-care management on the
quality of life of post-stroke patients at Bakti Timah Hospital Pangkalpinang. This research is a
quantitative study with a cross-sectional method to determine the causal relationship between the
independent and dependent variables. The independent variables were medication adherence,
nutrition, stress levels, and family support, while the dependent variable was the quality of life of post-
stroke patients. The number of samples is 65 people with purposive sampling technique. Using the chi
square test with a degree of confidence of 95% (a = 0.05). The results of this study show that the
statistical results of stroke self-care management on the quality of life of post-stroke patients
consisting of adherence to treatment obtained a p-value = 0.000, nutrition obtained a p-value =
0.000, stress level obtained a p-value = 0.000 and family support obtained a value p value = 0.000
which means there is a relationship to the quality of life of post-stroke patients.
261
Jurnal Penelitian Perawat Profesional, Volume 6 No 1, Februari 2024
Global Health Science Group
PENDAHULUAN
Stroke adalah gangguan sistem saraf yang disebabkan oleh gangguan peredaran darah di otak
yang disebabkan oleh pecahnya pembuluh darah atau tersumbatnya pembuluh darah di otak
(Maria, 2021). Stroke penyebab kematian kedua di dunia dan kematian keenam bagi
penyandang disabilitas, stroke disebabkan oleh kerusakan pembuluh darah atau kegagalan
vaskularisasi jaringan otak, yang dapat mempengaruhi fungsi motorik, fungsi sensorik, saraf
kranial (Katan & Luft 2018). Prevalensi pasien pasca stroke di seluruh dunia menurut data
WHO (World Health Organization) mendata kejadian stroke sebanyak 13,7 juta kasus orang
di seluruh dunia, dan menyebabkan lebih dari 5 juta kematian. pada tahun 2020, sekitar 11%
dari total kematian atau sekitar 6 juta kasus dari 55,4 juta kematian diseluruh dunia. Dan
sekitar 70% stroke, 87% kematian dan kecacatan terkait stroke terjadi di negara
berpenghasilan rendah. dan di negara berpenghasilan menengah dibandingkan dengan negara
berpenghasilan tinggi, stroke di China mencapai 1,8% di pedesaan dan 9,4% di perkotaan.
Seluruh dunia, China merupakan negara dengan kejadian stroke yang tinggi, dengan 19,9%
dari seluruh kematian di China dan negara-negara di Afrika dan Amerika Utara (Mutiarasari,
2019).
Data berdasarkan hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas), angka kejadian stroke di
Indonesia pada tahun 2013 berdasarkan diagnosis medis diperkirakan sebesar 7%, Sedangkan
angka kejadian stroke berdasarkan diagnosis medis pada tahun 2018 sebesar 12,4%. Data
stroke berdasarkan diagnosis medis pada tahun 2013 meningkat 5,4% pada tahun 2018.
Berdasarkan Data menurut usia stroke angka tertinggi adalah pada usia di atas 75 tahun
sebesar 50, 2%, pada usia 65-74 tahun sebesar 45,3%, pada usia 55-64 tahun sebesar 45,3%,
pada usia 45-54 tahun sebesar 14,2%, pada usia 35-44 tahun sebesar 3,7%, pada usia 25-34
sebesar 1,4%, pada usia 15-24 sebesar 0,6%. Selain itu, mayoritas penderita stroke tinggal di
perkotaan sebesar 63,9%, sedangkan 36,1% tinggal di pedesaan. Prevalensi stroke di Provinsi
Kepulauan Bangka Belitung berada ke 9 di indonesia yaitu sebesar 12,6% ( Riskesdas, 2018).
Dinas Kesehatan Provinsi Bangka Belitung menunjukkan data sepuluh besar, dan data
tersebut menunjukkan bahwa stroke menempati urutan keenam, Pada tahun 2020 penderita
stroke iskemik sebanyak 171 orang, sedangkan penderita stroke hemoragik sebanyak 403
orang. Pada tahun 2021 pasien stroke iskemik menurun sebanyak 29 orang, sedangkan pasien
stroke hemoragik sebanyak 44 orang (Dinkes Provinsi Babel, 2021). Sedangkan data di
Pangkalpinang pada tahun 2020 penderita stroke iskemik 48 orang, sedangkan penderita
stroke hemoragik sebanyak 60 orang. Pada tahun 2021 penderita stroke iskemik menurun
sebanyak 3 orang, sedangkan penderita stroke hemoragik sebanyak 17 orang (Dinkes Provinsi
Babel, 2021). Data prevalensi Rumah Sakit Bakti Timah Pangkalpinang, pada tahun 2020
jumlah penderita stroke iskemik sebanyak 55 orang, sedangkan jumlah penderita stroke
hemoragik sebanyak 184 orang. Pada tahun 2021 jumlah penderita stroke iskemik bertambah
sebanyak 66 orang, sedangkan jumlah penderita stroke hemoragik menurun sebanyak 119
orang. Pada tahun 2022 stroke iskemik bertambah sebanyak 68 orang, sedangkan stroke
hemoragik menurun sebanyak 115 orang (Rekmed RSBT, 2022).
Stroke merupakan penyebab utama kecacatan pada pasien stroke, sebagian besar disabilitas
stroke disebabkan oleh perubahan pada jaringan otak, yang membuat sulit untuk melakukan
aktivitas sehari-hari, menyebabkan gangguan mental dan emosional, menurunkan
produktivitas, dan menurunkan kualitas hidup (Carodartal dan Egido, 2014). Kualitas hidup
adalah persepsi seseorang tentang posisi hidupnya dalam kaitannya konteks budaya, sistem
nilai di mana individu hidup, sementara kaitannya dengan harapan, tujuan dan standar
ditetapkan oleh individu. Kualitas hidup yang berhubungan kesehatan seseorang terhadap
262
Jurnal Penelitian Perawat Profesional, Volume 6 No 1, Februari 2024
Global Health Science Group
aktivitas dan persepsi kesehatan mereka di berbagai bidang kehidupan (Zhu & Jiang, 2018).
Menurut Hariandja (2013), Penderita stroke dapat membuat mereka bergantung satu sama lain
untuk melakukan aktivitas sehari-hari seperti makan, minum, mandi, berpakaian dan lainnya.
Hilangnya kemandirian dan mobilitas pada pasien stroke dapat mempengaruhi kualitas hidup
mereka.
Self care merupakan kemampuan seseorang untuk meningkatkan kualitas hidup dan
menurunkan kekambuhan, Tujuan dari management self care adalah mengubah kebiasaan
perilaku pasien untuk meningkatkan kualitas hidup. Kualitas hidup merupakan ukuran
konseptual dan dipergunakan pada penyakit kronis menjadi cara untuk mengevaluasi efek
pengobatan bagi individu (Pletcher, 2015). Menurut hasil survei awal yang telah dilakukan
peneliti pada hari senin tanggal 06 februari 2023 yang di lakukan di RSBT Pangkalpinang
melalui wawancara singkat terhadap perawat diruang Syofa, di dapatkan bahwa masih tinggi
yang mengalami pasca stroke terhadap pola makan yang tidak teratur, dan pasien mengalami
kesulitan dalam melakukan aktifitas tidak seperti biasanya terhadap penyakit stroke, yang
menyebabkan menurunnya kualitas hidup pasien pasca stroke. Berdasarkan latar belakang di
atas ,peneliti merumuskan masalah pene;itian yaitu “ Apakah ada hubungan management self
care stroke terhadapkualitas hidup pasien pasca stroke di rumah sakit bakti timah
pangkalpinang tahun 2023?”. Adapun tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui
hubungan management self care stroke terhadap kualitas hidup pasien pasca stroke di rumah
sakit bakti timah pangkalpinang tahun 2023.
METODE
Jenis penelitian ini adalah penelitian yang di lakukan pada penelitian ini adalah penelitian
kuantitatif dengan pendekatan cross-sectional yaitu jenis penelitian yang cara pendekatan
dengan pengumpulan data sekaligus dalam suatu saat, artinya subjek penelitian hanya
diobservasi sekali saja (Nursalam, 2018). Variabel dependent kualitas hidup pasien pasca
stroke sedangkan variabel independent adalah tingkat kepatuhan berobat, nutrisi, tingkat stres
dan dukungan keluarga. Sehingga peneliti ingin melihat apakah ada hubungan dari kedua
variabel. Sampel yang digunakan yaitu pasien pasca stroke yang memenuhi kriteria untuk
dijadikan sampel, jumlah sampel dalam penelitian ini adalah 65 orang dengan menggunakan
Teknik penarikan sampel yaitu teknik purposive sampling yaitu pengambilan sampel dengan
teknik penentuan sampel dengan pertimbangan tertentu oleh peneliti di rumah sakit bakti
timah pangkalpinang tahun 2023.
HASIL
Tabel 1.
Distribusi Frekuensi Karakteristik Demografi Responden Berdasarkan Jenis Kelamin (n=65)
Jenis Kelamin f %
Laki-laki 31 47,7
Perempuan 34 52,3
Tabel 1 menunjukan bahwa responden berjenis kelamin perempuan berjumlah 34 orang
(52,3%) lebih banyak dibandingkan dengan pasien berjenis kelamin laki-laki dengan jumlah
31 orang (47,7 %).
Tabel 2
Distribusi Frekuensi Karakteristik Demografi Responden Berdasarkan Usia (n=65)
Usia f %
Dewasa ( 15-45 tahun) 13 80,0
Lansia ( >45 tahun) 52 20,0
263
Jurnal Penelitian Perawat Profesional, Volume 6 No 1, Februari 2024
Global Health Science Group
Tabel 2 menunjukan bahwa responden lansia berjumlah 52 orang (20,0%) lebih banyak
dibandingkan dengan dewasa berjumlah 13 orang (80,0%).
Tabel 3.
Distribusi Frekuensi responden berdasarkan kepatuhan berobat (n=65)
Kepatuhan Berobat f %
Tidak Patuh 35 53,8
Patuh 30 47,7
Tabel 3 menunjukan bahwa responden dengan kepatuhan berobat yang tidak patuh berjumlah
35 orang (53,8 %) lebih banyak dibandingkan dengan kepatuhan berobat yang patuh
berjumlah 30 orang (47,7%).
Tabel 4.
Distribusi Frekuensi responden berdasarkan nutrisi (n=65)
Nutrisi f %
Kurang Baik 34 52,3
Baik 31 47,7
Tabel 4 menunjukan bahwa responden dengan nutrisi yang kurang baik berjumlah 34 orang
(52,3 %) lebih banyak dibandingkan dengan nutrisi yang baik berjumlah 31 orang (47,7%).
Tabel 5.
Distribusi Frekuensi responden berdasarkan tingkat stres (n=65)
Tingkat Stres f %
Kurang Baik 34 52,3
Baik 31 47,7
Tabel 6 menunjukan bahwa responden dengan tingkat stres yang kurang baik berjumlah 34
orang (52,3 %) lebih banyak dibandingkan dengan tingkat stres yang baik berjumlah 31 orang
(47,7%).
Tabel 6.
Distribusi Frekuensi responden berdasarkan dukungan keluarga (n=65)
Dukungan Keluarga f %
Kurang Baik 37 56,9
Baik 28 43,1
Tabel 6 menunjukan bahwa responden dengan dukungan keluarga yang kurang baik
berjumlah 37 orang (56,9 %) lebih banyak dibandingkan dengan dukungan keluarga yang
baik berjumlah 28 orang (43,1%).
Tabel 7.
Distribusi Frekuensi responden berdasarkan dukungan keluarga (n=65)
Kualitas Hidup f %
Kurang Baik 37 56,9
Baik 28 43,1
Tabel 7 menunjukan bahwa responden dengan kualitas hidup yang kurang baik berjumlah 37
orang (56,9 %) lebih banyak dibandingkan dengan kualitas hidup yang baik berjumlah 28
orang (43,1%).
264
Jurnal Penelitian Perawat Profesional, Volume 6 No 1, Februari 2024
Global Health Science Group
Tabel 8
Hubungan Antara Kepatuhan Berobat terhadap kualitas hidup pasien pasca stroke (n=65)
Kualitas Hidup
Kepatuhan Kurang baik Baik Jumlah P POR
Berobat f % f % f % (95% CI)
Tidak Patuh 32 91,4 3 8,6 35 100 0,000 53,333(11,618-
Patuh 5 16,7 25 83,3 30 100 244,822)
Tabel 8 diketahui bahwa pada pasien pasca stroke yang memiliki kualitas hidup yang kurang
baik dengan kepatuhan berobat yang tidak patuh berjumlah 32 orang (91,4%), lebih banyak
dibandingkan dengan kepatuhan berobat yang patuh. Sedangkan pada pasien pasca stroke
yang memiliki kualitas hidup baik dengan kepatuhan berobat yang patuh berjumlah 25 orang
(83,3%), lebih banyak dibandingkan dengan kepatuhan berobat yang tidak patuh. Dari hasil
uji statistik Chi Square antara kepatuhan berobat dengan kualitas hidup pasien pasca stroke
didapatkan nilai p-value (0,000) < a (0,05), sehingga dapat disimpulkan ada hubungan antara
kepatuhan berobat terhadap kualitas hidup pasien pasca stroke di rumah sakit bakti timah
Pangkalpinang tahun [Link] analisa lebih lanjut didapatkan hasil POR= 53,333 (95%CI=
11,618-244,822) yang bearti pasien pasca stroke dengan kepatuhan berobat yang tidak patuh
memiliki kecenderungan sebesar 53,333 kali memiliki kualitas hidup yang kurang baik
dibandingkan pasien pasca stroke dengan kepatuhan berobat yang patuh.
Tabel 9.
Hubungan antara nutrisi terhadap kualitas hidup pasien pasca stroke (n=65)
Kualitas Hidup
Nutrisi Kurang baik Baik Jumlah P POR
f % f % f % (95% CI)
Kurang Baik 32 91,4 2 5,9 34 100 0,000 83,200(14,905-
Baik 5 16,7 26 83,9 31 100 464,419)
Tabel 9 diketahui bahwa pada pasien pasca stroke yang memiliki kualitas hidup yang kurang
baik dengan nutrisi yang kurang baik berjumlah 32 orang (94,1%), lebih banyak
dibandingkan dengan nutrisi yang baik. Sedangkan pada pasien pasca stroke yang memiliki
kualitas hidup baik dengan nutrisi yang baik berjumlah 26 orang (83,9%), lebih banyak
dibandingkan dengan nutrisi yang kurang baik. Dari hasil uji statistik Chi Square antara
nutrisi terhadap kualitas hidup pasien pasca stroke didapatkan nilai p-value (0,000) < a (0,05),
sehingga dapat disimpulkan ada hubungan antara nutrisi terhadap kualitas hidup pasien pasca
stroke di rumah sakit bakti timah Pangkalpinang tahun 2023. Hasil analisa lebih lanjut
didapatkan hasil POR= 83,200 (95%CI= 14,905-464,419) yang bearti pasien pasca stroke
dengan nutrisi buruk memiliki kecenderungan sebesar 83,200 kali memiliki kualitas hidup
yang kurang baik dibandingkan pasien pasca stroke dengan nutrisi yang baik.
Tabel 10.
Hubungan antara tingkat stres terhadap kualitas hidup pasien pasca stroke di Rumah Sakit
Bakti Timah Pangkalpinang Tahun 2023 (n=65)
Kualitas Hidup
Tingkat stres Kurang baik Baik Jumlah P POR
f % f % f % (95% CI)
Kurang Baik 32 94,1 2 5,9 34 100 0,000 83,200(14,905
Baik 5 16,1 26 83,9 31 100 -464,419)
Tabel 10 Diketahui bahwa pada pasien pasca stroke yang memiliki kualitas hidup yang
kurang baik dengan tingkat stres yang kurang baik berjumlah 32 orang (94,1%), lebih banyak
265
Jurnal Penelitian Perawat Profesional, Volume 6 No 1, Februari 2024
Global Health Science Group
dibandingkan dengan tingkat stres yang baik. Sedangkan pada pasien pasca stroke yang
memiliki kualitas hidup baik dengan tingkat stres yang baik berjumlah 26 orang (83,9%),
lebih banyak dibandingkan dengan tingkat stres yang kurang baik. Dari hasil uji statistik Chi
Square antara tingkat stres terhadap kualitas hidup pasien pasca stroke didapatkan nilai p-
value (0,000) < a (0,05), sehingga dapat disimpulkan ada hubungan antara tingkat stres
terhadap kualitas hidup pasien pasca stroke di rumah sakit bakti timah Pangkalpinang tahun
[Link] analisa lebih lanjut didapatkan hasil POR= 83,200 (95%CI= 14,905-464,419)
yang bearti pasien pasca stroke dengan tingkat stres kurang baik memiliki kecenderungan
sebesar 83,200 kali memiliki kualitas hidup yang kurang baik dibandingkan pasien pasca
stroke dengan tingkat stres yang baik.
Tabel 11.
Hubungan antara dukungan keluarga terhadap kualitas hidup pasien pasca stroke (n=65)
Kualitas Hidup
Dukungan Kurang baik Baik Jumlah P POR
Keluarga f % f % f % (95% CI)
Kurang Baik 29 85,3 5 14,7 34 100 0,000 16,675(4,8
Baik 8 25,8 23 74,2 31 100 05-57,863)
Tabel 11 diketahui bahwa pada pasien pasca stroke yang memiliki kualitas hidup yang kurang
baik dengan dukungan keluarga yang kurang baik berjumlah 29 orang (85,3%), lebih banyak
dibandingkan dengan dukungan keluarga yang baik. Sedangkan pada pasien pasca stroke
yang memiliki kualitas hidup baik dengan dukungan keluarga yang baik berjumlah 23 orang
(74,2%), lebih banyak dibandingkan dengan dukungan keluarga yang kurang baik. Dari hasil
uji statistik Chi Square antara dukungan keluarga terhadap kualitas hidup pasien pasca stroke
didapatkan nilai p-value (0,000) < a (0,05), sehingga dapat disimpulkan ada hubungan antara
dukungan keluarga terhadap kualitas hidup pasien pasca stroke di rumah sakit bakti timah
Pangkalpinang tahun 2023. Hasil analisa lebih lanjut didapatkan hasil POR= 16,675 (95%CI=
4,805-57,863) yang bearti pasien pasca stroke dengan dukungan keluarga kurang baik
memiliki kecenderungan sebesar 16,675 kali memiliki kualitas hidup yang kurang baik
dibandingkan pasien pasca stroke dengan dukungan keluarga yang baik.
PEMBAHASAN
Hubungan Kepatuhan Berobat terhadap Kualitas Hidup Pasien Pasca Stroke
Kepatuhan berobat merupakan suatu hal yang penting agar dapat mengembangkan rutinitas
(kebiasaan) yang dapat membantu dalam mengikuti jadwal yang kadang kala rumit dalam
kegiatan sehari-hari. Kepatuhan membutuhkan dukungan agar menjadi biasa dengan
perubahan. Dengan mengatur, meluangkan waktu dan kesempatan yang dibutuhkan untuk
menyesuaikan diri. Kepatuhan terjadi bila aturan berobat yang telah dianjurkan diikuti dengan
baik (Siregar, 2016). Hubungan kepatuhan berobat terhadap kualitas hidup pasien pasca
stroke di rumah sakit bakti timah pangkalpinang didapatkan hasil penelitian menunjukkan
bahwa nilai p-value 0,000 dengan nilai koefisien korelasi sebesar 53,333. Hasil ini
menunjukkan bahwa ada hubungan yang signifikan antara kepatuhan berobat terhadap
kualitas hidup pasien pasca stroke di rumah sakit bakti timah pangkalpinang tahun 2023.
Hasil penelitian ini sejalan dengan dengan penelitian yang dilakukan oleh Hidayati (2021)
yang menunjukkan adanya hubungan kepatuhan berobat terhadap kualitas hidup pasien pasca
stroke (p-value = 0,000). Hasil penelitian ini juga di dukung oleh penelitian yang dilakukan
oleh Cahyani (2018) dimana hasil yang di peroleh setelah di lakukan analisis adalah p value
0,000 yang mengatakan kepatuhan berobat menjadi hal penting bagi pasien pasca stroke
266
Jurnal Penelitian Perawat Profesional, Volume 6 No 1, Februari 2024
Global Health Science Group
Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Ramadhani (2015) yang
menunjukkan bahwa nilai p-value = 0,003< a 0,05 dapat disimpulkan adanya hubungan
signifikan antara nutrisi terhadap kualitas hidup pasien pasca stroke. Nutrisi memegang peran
penting bagi penderita stroke,bagi pasien yang tidak bisa mengatur pola makan dengan baik.
Hasil penelitian ini juga di dukung oleh penelitian yang dilakukan oleh Wulandari (2020)
hubungan nutrisi terhadap kualitas hidup pasien pasca stroke di RSUD Ahmad Yani Kota
Metro. Hasil analisa yang diperoleh menunjukkan bahwa nilai p-value = 0,004 < 0,05 dapat
disimpulkan ada hubungan signifikan antara nutrisi terhadap kualitas hidup pasien pasca. Hal
ini menunjukkan faktor makanan juga merupakan faktor utama yang bertanggung jawab
sebagai penyebab stroke, banyak makanan yang mengandung garam dalam bahan makanan
dapat memicu hipertensi. Selain itu, makanan yang kandungan lemak yang berlebihan dalam
darah dapat menyebabkan kolesterol pada dinding pembuluh darah.
Berdasarkan hasil penelitian dan teori-teori terkait,dapat disimpulkan bahwa nutrisi sangat
mempengaruhi seseorang yang mengalami stroke. Apabila seseorang yang tidak pernah
mengatur nutrisi terutama pada asupan garam maka dapat menyebabkan tekanan darah yang
tidak normal. Jika keadaan ini dibiarkan terus-menerus tanpa adanya tindakan yang dapat
menurunkan tekanan darah seperti mengurangi komsumsi garam yang berlebihan dan
menghindari makanan yang berlemak tinggi maka akan menyebabkan peningkatan tekanan
267
Jurnal Penelitian Perawat Profesional, Volume 6 No 1, Februari 2024
Global Health Science Group
darah dan akhirnya akan terjadinya stroke. Nutrisi yang baik untuk menjaga kesehatan
sebaiknya mengkonsumsi protein dari ikan, dan konsumsi buah-buahan serta sayuran yang
berserat untuk meningkatkan metabolisme, hal ini berpengaruh besar terhadap kualitas hidup
pasien stroke.
Penelitian ini juga sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Hartanti (2018) tentang
hubungan antara tingkat stres dengan kualitas hidup pasien stroke penelitian dilakukan di
wilayah kerja puskesmas wonopringgo. Hasil analisa yang diperoleh menunjukkan bahwa
nilai p-value = 0,001 < 0,05 dapat disimpulkan ada hubungan signifikan antara tingkat stres
terhadap kualitas hidup pasien pasca. Tingkat stres merupakan salah satu faktor yang
menyebabkan rendahnya kualitas hidup pasien pasca stroke, depresi pasca stroke
berhubungan dengan peningkatan kecacatan dan hasil fungsional dan kognitif yang buruk
sehingga memiliki dampak negatif pada proses rehabilitasi dan dapat mempengaruhi kualitas
hidup pasien pasca stroke. Berdasarkan hasil penelitian dan teori-teori terkait,dapat
disimpulkan bahwa tingkat stres sangat mempengaruhi kesehatan, dampak dari tingkat stres
pasien pasca stroke yang ditimbulkan menurunnya kualitas hidup karena merasa tidak
berguna dimana semua pemenuhan kebutuhan hidupnya tergantung pada orang lain. Pasien
pasca stroke mengalami stres akibat perburukan kondisi dan kecacatan yang dialami, sehingga
munculnya perasaan cemas, depresi terhadap kondisinya. Oleh karena itu,dengan adanya stres
pada diri pasien stroke bisa menurunkan kualitas hidup, pada penderita yang tidak mengalami
stres, pasien mengetahui cara manajemen stres sederhana, seperti istirahat yang cukup, sering
mengontrol tekanan darah. Hal ini cukup membantu pasien sroke dalam meningkatkan
kualitas hidupnya.
268
Jurnal Penelitian Perawat Profesional, Volume 6 No 1, Februari 2024
Global Health Science Group
pangkalpinang didapatkan hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai p-value 0,000 dengan
nilai koefisien korelasi sebesar 16,675. Hasil ini menunjukkan bahwa ada hubungan yang
signifikan antara dukungan keluarga terhadap kualitas hidup pasien pasca stroke di rumah
sakit bakti timah pangkalpinang tahun 2023.
Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Helmaging (2017) yang
menunjukkan bahwa nilai p-value = 0,000< a 0,05 dapat disimpulkan adanya hubungan
signifikan antara dukungan keluarga terhadap kualitas hidup pasien pasca stroke. Penelitian
ini juga sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Ludiana (2020) tentang hubungan
dukungan keluarga terhadap kualitas hidup pasien pasca stroke di wilayah kerja puskesmas
banjarsari metro. Hasil analisa yang diperoleh menunjukkan bahwa nilai p-value = 0,000 <
0,05 hasil korelasi pearson didapatkan nilai sebesar 0,774 menggunakan uji person product
moment dapat disimpulkan ada hubungan signifikan antara dukungan keluarga terhadap
kualitas hidup pasien pasca stroke. Keluarga merupakan orang terdekat yang berinteraksi
dengan pasien pasca stroke sehingga dukungan keluarga sangat penting dalam upaya
memberikan berbagai dukungan untuk menciptakan rasa aman dalam aktivitas sehari-hari
dalam meningkatkan kualitas hidup.
SIMPULAN
Ada hubungan antara kepatuhan berobat, nutrisi, tingkat stres, dukungan keluarga terhadap
kualitas hidup pasca stroke dirumah sakit bakti timah Pangkalpinang tahun 2023
DAFTAR PUSTAKA
Ainal, M., & Junaidi Iskandar. (2019). Incidence And 10-Year Survival Of Intracerebral
Hemorrhage In A Population-Based Registry,Stroke.
Arwani dkk. (2015). Kualitas Hidup Penderita Strok Fase Rehabititasi di Semarang.
Http://[Link].
Afandi, A. T. & E. H. K. (2017). Efektivitas Self Efficacy Terhadap Kualitas Hidup Klien
dengan Diagnosa Penyakit Kronik. 23–30. Retrieved from
[Link]
Azizah, R., & Hartanti, R. D. (2016). Hubungan Antara Tingkat Stress dengan Kualitas Hidup
pasien stroke Di Wilayah Kerja Puskesmas Wonopringgo Pekalongan. Jurnal
Universyty Reseach Coloquium, 261–278.
Amir, N (2017). Luaran (Outcome) Terapi pada Gangguan Depresi Mayor. CDK-190 Vol. 39
No.2:92- 96
Balitbangkes. (2018). Hasil Utama RIDKESDAS 2018. In Kementrian Kesehatan Republik
269
Jurnal Penelitian Perawat Profesional, Volume 6 No 1, Februari 2024
Global Health Science Group
270
Jurnal Penelitian Perawat Profesional, Volume 6 No 1, Februari 2024
Global Health Science Group
271
Jurnal Penelitian Perawat Profesional, Volume 6 No 1, Februari 2024
Global Health Science Group
272