PDRB dan Pendapatan Sragen 2017-2022
PDRB dan Pendapatan Sragen 2017-2022
1
Tabel 2. PDRB Atas Dasar Harga Konstan Menurut Lapangan Usaha Kabupaten
Sragen (Juta Rupiah)
[Seri 2010] PDRB Atas Dasar Harga Konstan Menurut
Kategori
Lapangan Usaha Kabupaten Sragen (Juta Rupiah)
Lapangan Usaha
2020 2021 2022
Pertanian,
3887150.39
Kehutanan, dan 3760556.34 3821991.83
Perikanan
Pertambangan
621560.69 643576.08 617367.73
dan Penggalian
Industri
9374927.81 9796784.01 10426712.92
Pengolahan
Pengadaan
41412.29 43476.84 45359.89
Listrik dan Gas
19844.63
18699.13 19623.77
Pengadaan Air
Konstruksi dan
1701979.00 1824125.68 1863924.71
Bangunan
Perdagangan 5332568.75 5576758.52 5836078.05
Transportasi dan
544494.48 557804.83 903728.93
Pergudangan
Informasi dan
612042.39 647641.09 655656.63
Komunikasi
Jasa Keuangan
739340.41 745965.88 751200.83
dan Asuransi
Jasa Pendidikan 1118540.13 1119963.15 1141841.49
Jasa Kesehatan
dan Kegiatan 229477.32 230050.45 236874.89
Sosial
Jasa Lainnya 458452.97 461636.95 519242.99
PDRB 26367261.24 27355145.96 28929808.57
2
Berdasarkan Tabel 3 dan 4, dapat dilihat bahwa besarnya nilai
PDRB sektor pertanian Kabupaten Sragen tahun 2017-2022 selalu
menunjukkan angka peningkatan. Sampai saat ini sektor pertanian masih
merupakan faktor yang cukup dominan di perekonomian kabupaten
Sragen khususnya dalam memberikan sumbangannya terhadap PDRB, hal
ini terlihat dari cerminan indeks distribusi. Sektor pertanian yang terdiri
dari beberapa sub sektor, yakni sub sektor tanaman bahan makanan,
perkebunan, peternakan, kehutanan dan sub sektor perikanan, pada tahun
2017, menyumbangkan Rp. 3.595.363,26 atau dengan andil sebesar
14,99% terhadap perekonomian Kabupaten Sragen dan selalu mengalami
peningkatan hingga tahun 2022 sebesar Rp. 3.887.150,39 dengan andil
sebesar 13,43% terhadap perekonomian Kabupaten Sragen. Peningkatan
nilai PDRB sektor pertanian tidak diiringi dengan andilnya terhadap total
PDRB Kabupaten Sragen, penurunan andil terlihat mulai pada tahun 2017-
2022 yaitu masing-masing sebesar 14,99% pada tahun 2017, 14,48% pada
tahun 2018, 13,95% pada tahun 2019, 14,26% pada tahun 2020, 13,97%
pada tahun 2021,dan 13,43% pada tahun 2022. Penurunan pada sektor
pertanian ini sejalan dengan pesatnya perekonomian daerah serta
meningkatnya infrastruktur telah berpengaruh terhadap struktur
perekonomian daerah ke industri.
Dari distribusi antar sektor terlihat bahwa selama enam tahun
terakhir memperlihatkan adanya fluktuasi angka distribusi dari waktu ke
waktu terhadap total PDRB. Kondisi seperti ini adalah wajar mengingat
dinamika usaha perekonomian yang selalu menyesuaikan kondisi pasar
mempertahankan pangsa pasarnya, misalnya kebijakan pemerintah
kabupaten Sragen yang giat meningkatkan sektor industri khususnya
industri kecil dan rumah tangga tentu saja akan berdampak positif terhadap
kinerja sektor perindustrian secara menyeluruh. penurunan yang terjadi
pada sektor pertanian ini adalah sejalan dengan pesatnya perekonomian
daerah serta meningkatnya infrastruktur telah berpengaruh terhadap
struktur perekonomian daerah dari pertanian ke industri.
3
Dalam periode waktu enam tahun terakhir, sektor industry
pengolahan, sektor perdagangan, dan sektor pertanian, kehutanan, dan
perikanan masih merupakan andalan terbesar bagi kabupaten Sragen, hal
ini terlihat dari indeks distribusi PDRB. Untuk tahun 2022 dari diperoleh
gambaran bahwa sumbangan terbesar untuk PDRB atas dasar harga
konstan tahun 2022 adalah dari sektor industry pengolahan sebesar
36,04% kemudian sektor perdagangan 20,17% dan sektor pertanian,
kehutanan, dan perikanan memberikan andil sebesar 13,43%. Sedangkan
sumbangan terkecil adalah dari Pengadaan air yakni sebesar 0,06%
distribusi prosentase.
b. Pendapatan per Kapita
Pendapatan per kapita merupakan besarnya pendapatan rata-
rata penduduk di suatu wilayah pada suatu tahun. Pendapatan
perkapita didapatkan dari hasil pembagian PDRB dengan jumlah
penduduk negara tersebut. Pendapatan perkapita sering digunakan
sebagai tolak ukur kemakmuran dan tingkat pembangunan sebuah
wilayah semakin besar pendapatan perkapitanya. Pendapatan per
kapita Kabupaten Sragen Tahun 2017-2022 dapat dilihat pada tabel
berikut.
Tabel 3. Pendapatan Perkapita Kabupaten Sragen Atas Dasar Harga Konstan
Tahun 2017-2022
Uraian 2017 2018 2019 2020 2021 2022
PDRB(jutaan
rupiah) 26.367.261,24 27.355.145,96 28.929.808,57 26.367.261,24 27.355.145,96 28.929.808,57
4
Dari Tabel 4 dapat diketahui bahwa pendapatan per kapita
Kabupaten Sragen mengalami peningkatan dari tahun 2017-2022.
Pada tahun 2017 senilai Rp. 29.789.408,96 meningkat pada tahun
2018 sebesar Rp. 30.809.195,69 kemudian meningkat lagi pada
tahun 2019 sebesar Rp. 32.486.495,01. Merujuk dari hal diatas,
maka hal ini menandakan bahwa pembangunan daerah khususnya
pembangunan perekonomian telah dapat meningkatkan
kesejahteraan penduduk Kabupaten Sragen.
4.1.2 Keadaan Sektor Pertanian
a. Subsektor Tanaman Bahan Makanan
Ini membahas segala kegiatan ekonomi yang menghasilkan
produk makanan. Termasuk di dalamnya adalah komoditas dari
pertanian makanan seperti padi, palawija (jagung, kedelai, kacang
tanah, kacang hijau, ubi jalar, ubi kayu, serta berbagai palawija
lainnya seperti talas, ganyong, irut, gembili, dan lain-lain), serta
tanaman serealia lainnya seperti sorgum, cantel, jawawut, jelai,
gandum, dan sejenisnya. Semua komoditas ini masuk dalam kategori
tanaman semusim, yang menghasilkan produksi saat panen atau
bentuk produksi mentah lainnya yang terkait dengan pertanian.
Misalnya, produksi padi dapat berupa Gabah Kering Giling (GKG),
jagung dalam bentuk pipilan kering, atau ubi kayu dalam bentuk
umbi basah.
Data mengenai produksi padi dan palawija diperoleh dari
Subdit Statistik Tanaman Pangan BPS, sementara data harga
produsen berasal dari Subdit Statistik Harga Perdesaan BPS. Untuk
data indikator harga, seperti Indeks Harga Produsen dan Indeks
Biaya Produksi yang dikeluarkan petani, diperoleh dari Subdit
Statistik Harga Produsen BPS dan Subdit Statistik Harga Perdesaan
BPS. Informasi tentang struktur biaya kegiatan pertanian makanan
didapatkan melalui Sensus Pertanian dan Survei Struktur Ongkos
5
Usaha Tani (SOUT) yang dilakukan oleh Subdit Statistik Tanaman
Pangan BPS.
b. Subsektor Perkebunan
Kategori Tanaman Perkebunan meliputi tanaman yang dapat
tumbuh dalam jangka waktu tertentu dan tahunan, baik diusahakan
oleh individu maupun perusahaan perkebunan, baik swasta maupun
milik negara. Aktivitas dalam bidang perkebunan mencakup
berbagai tahap mulai dari persiapan lahan, penanaman,
pemeliharaan, hingga panen yang merupakan rangkaian kegiatan
terpadu. Tanaman perkebunan menghasilkan beragam komoditas
seperti tebu, tembakau, nilam, jarak, wijen, berbagai jenis tanaman
serat (seperti kapas, rosela, rami, yute, agave, abaca, kenaf, dan lain-
lain), kelapa, kelapa sawit, karet, kopi, teh, kakao, lada, pala, kayu
manis, cengkeh, jambu mete, dan sebagainya.
Informasi mengenai produksi komoditas dari sektor
perkebunan diperoleh dari Ditjen Perkebunan Kementerian
Pertanian. Data harga dari produsen berasal dari Subdit Statistik
Harga Perdesaan BPS. Untuk indikator harga, seperti Indeks Harga
Produsen dan Indeks Biaya Produksi yang dibayar petani untuk
tanaman perkebunan, diperoleh dari Subdit Statistik Harga Produsen
BPS dan Subdit Statistik Harga Perdesaan BPS. Detail mengenai
struktur biaya kegiatan dalam sektor perkebunan diperoleh melalui
hasil Sensus Pertanian.
c. Subsektor Peternakan
Subkategori Peternakan melibatkan semua kegiatan dalam
bidang peternakan yang mencakup pemeliharaan serta
pengembangbiakan berbagai jenis ternak dan unggas, baik oleh
individu maupun perusahaan peternakan. Kegiatan ini bertujuan
untuk pemuliaan, pembesaran, pemotongan, serta pengambilan
hasilnya. Subkategori ini juga mencakup usaha budidaya ternak dan
6
unggas yang secara berulang menghasilkan produk seperti susu dan
telur.
Hasil dari kegiatan peternakan ini mencakup sapi potong,
kerbau, kambing, domba, babi, kuda, ayam lokal (buras), ayam ras
pedaging, ayam ras petelur, itik manila, itik, telur ayam ras, telur
ayam lokal, telur itik, susu segar, dan lain sebagainya.
Data mengenai produksi komoditas dari sektor peternakan
diperoleh dari Ditjen Peternakan & Kesehatan Hewan Kementerian
Pertanian. Sementara itu, data harga dari produsen berasal dari
Subdit Statistik Harga Perdesaan BPS. Informasi mengenai indikator
harga, seperti Indeks Harga Produsen dan Indeks Biaya Produksi
yang dibayar oleh peternak untuk kegiatan peternakan, diperoleh dari
Subdit Statistik Harga Produsen BPS dan Subdit Statistik Harga
Perdesaan BPS. Detail terkait struktur biaya kegiatan peternakan
diperoleh melalui hasil Sensus Pertanian dan survei yang melibatkan
perusahaan peternakan, seperti Ternak Besar dan Kecil, Ternak
Unggas, dan Sapi Perah, yang dilakukan oleh Subdit Statistik
Peternakan BPS.
d. Subsektor Kehutanan
Subkategori ini mencakup aktivitas seperti penebangan
berbagai jenis kayu, pengambilan daun, getah, serta akar dari hutan,
termasuk pula layanan yang mendukung kegiatan kehutanan melalui
sistem balas jasa atau kontrak. Hasil dari kegiatan kehutanan ini
melibatkan kayu gelondongan (baik dari hutan alam maupun hutan
budidaya), kayu bakar, rotan, bambu, dan produk hutan lainnya.
Dalam lingkup kegiatan kehutanan ini juga terdapat layanan yang
mendukung aktivitas kehutanan dengan basis balas jasa (fee) atau
melalui kontrak, termasuk kegiatan penanaman kembali (reboisasi)
hutan yang dilakukan berdasarkan kontrak.
Data mengenai produksi kayu bulat dan hasil hutan lainnya
diperoleh dari lembaga seperti Perum Perhutani, Ditjen Pengelolaan
7
Hutan Produksi Lestari Kementerian Lingkungan Hidup dan
Kehutanan, serta Subdit Statistik Kehutanan BPS. Data harga dari
produsen berasal dari Subdit Statistik Kehutanan BPS. Indikator
harga seperti Indeks Harga Produsen diperoleh dari Subdit Statistik
Harga Produsen BPS. Informasi terkait struktur biaya kegiatan
kehutanan diperoleh melalui hasil Sensus Pertanian dan survei yang
melibatkan perusahaan kehutanan, termasuk Hak Pengusahaan
Hutan dan Pembudidaya Tanaman Kehutanan, yang dilakukan oleh
Subdit Statistik Kehutanan BPS.
e. Subsektor Perikanan
Subkategori ini mencakup semua kegiatan terkait
penangkapan, pembenihan, dan budidaya berbagai jenis ikan dan
organisme air lainnya, baik yang hidup di perairan tawar, payau,
maupun di laut. Kegiatan perikanan menghasilkan beragam
komoditas seperti ikan, crustacea, mollusca, rumput laut, dan
organisme air lainnya yang diperoleh melalui penangkapan di laut
dan perairan umum, serta melalui budidaya di lautan, tambak,
karamba, jaring apung, kolam, dan sawah. Selain itu, dalam lingkup
kegiatan perikanan ini juga termasuk layanan yang mendukung
kegiatan perikanan melalui sistem balas jasa (fee) atau kontrak.
Data mengenai produksi komoditas dari sektor perikanan
diperoleh dari Ditjen Perikanan Tangkap dan Ditjen Perikanan
Budidaya Kementerian Kelautan dan Perikanan. Sementara itu, data
harga dari produsen berasal dari Subdit Statistik Harga Perdesaan
BPS. Informasi mengenai indikator harga, seperti Indeks Harga
Produsen dan Indeks Biaya Produksi yang dibayar oleh kelompok
perikanan, diperoleh dari Subdit Statistik Harga Produsen BPS dan
Subdit Statistik Harga Perdesaan BPS. Detail terkait struktur biaya
kegiatan perikanan diperoleh melalui hasil Sensus Pertanian dan
survei perusahaan perikanan yang dilakukan oleh Subdit Statistik
Perikanan BPS.
8
4.2 Keragaan Pembangunan Sektoral
4.2.1 Sektor Perekonomian
Dengan metode LQ (Location Quotien) maka dapat diketahui
posisi suatu sektor dalam suatu perekonomian apakah basis atau
tidak. Metode ini membandingkan antara pangsa relatif pendapatan
sektor i pada tingkat wilayah terhadap pendapatan total wilayah
dengan pangsa relatif pendapatan sektor i pada tingkat nasional
terhadap pendapatan total nasional. Apabila dalam perekonomian
wilayah, nilai LQ suatu sektor perekonomian lebih atau sama
dengan satu, maka sektor tersebut merupakan sektor basis.
Sedangkan bila nilai LQ suatu sektor perekonomian kurang dari
satu, berarti sektor perekonomian tersebut merupakan sektor non
basis.
Perekonomian di Kabupaten Sragen didukung oleh sembilan
sektor yang meliputi sektor Pertanian, sektor Pertambangan dan
penggalian, sektor Listrik, gas dan air bersih, sektor Bangunan,
sektor Perdagangan, Hotel dan Restoran, sektor Angkutan dan
komunikasi, sektor Keuangan, persewaan, dan jasa perusahaan dan
sektor jasa-jasa. Hasil dari analisis Location Quotient untuk sektor
perekonomian di Kabupaten Sragen tahun 2006-2010 dapat dilihat
dalam Tabel 7.
9
Tabel 4. Nilai LQ Sektor Pertanian dan Sektor Perekonomian Lainnya di
Kabupaten Sragen Tahun 2018-2022
Rata-
Ket
No. Lapangan Usaha 2018 2019 2020 2021 2022 rata
4 Pengadaan Listrik dan Gas 1.35 1.23 1.13 1.08 1.04 1.17 B
7 Perdagangan Besar dan Eceran; 1.26 1.25 1.25 1.22 1.22 1.24 B
Reparasi Mobil dan Sepeda
Motor
8 Transportasi dan Pergudangan 0.67 0.66 0.73 0.73 0.69 0.70 NB
11 Jasa Keuangan dan Asuransi 1.06 1.06 1.02 1.03 1.07 1.05 B
16 Jasa Kesehatan dan Kegiatan 0.87 0.86 0.88 0.87 0.84 0.86 NB
Sosial
17 Jasa Lainnya 0.94 0.93 0.95 0.94 0.93 0.94 NB
Keterangan: B : Basis
NB : Non Basis
10
Berdasarkan hasil nilai rata-rata Location Quotient diketahui
bahwa delapan dari tujuh belas sektor perekonomian tersebut selama
tahun 2018-2022 merupakan sektor basis di Kabupaten Sragen, yaitu
sektor pertanian, sektor pertambangan dan galian, sektor industri
pengolahan, sektor pengadaan listrik dan gas, perdagangan besar dan
eceran, sektor jasa keuangan, sektor jasa perusahaan, dan sektor jasa
pendidikan dengan nilai rata-rata LQ ≥ 1, artinya sektor
perekonomian tersebut selain dapat memenuhi kebutuhan wilayah
sendiri juga dapat mengekpor produknya ke luar wilayah. Sedangkan
untuk sembilan sektor perekonomian yang lain merupakan sektor
non basis di Kabupaten Sragen dengan nilai rata-rata LQ <1, artinya
sektor perekonomian tersebut hanya mampu memenuhi kebutuhan
wilayah sendiri dan belum mampu mengekspor produknya ke luar
wilayah.
Sektor pertanian di Kabupaten Sragen selama kurun waktu
2018- 2022 selalu menjadi sektor basis dalam perekonomian
Kabupaten Sragen. Nilai LQ mengalami fluktuatif dari tahun ke
tahunnya. Nilai rata-rata LQ pada tahun penelitian adalah 1.16,
artinya sektor pertanian mampu menghasilkan produk dan memenuhi
kebutuhan di dalam Kabupaten Sragen dan juga mampu mengekspor
ke daerah lainnya.
Tingginya nilai LQ pada sektor pertanian dikarenakan sektor
pertanian didukung oleh lima sub sektor yaitu sub sektor tanaman
bahan makanan, sub sektor perkebunan, sub sektor peternakan, sub
sektor kehutanan dan sub sektor perikanan. Dari setiap sub sektor
tersebut memiliki patensi dan keunggulan masing-masing sehingga
mampu memberikan kontribusi yang besar terhadap pertanian.
Misalkan saja untuk sub sektor tanaman bahan makanan, pada tahun
penelitian di Kabupaten Sragen mulai dibentuk Kawasan Rumah
Pangan Lestari (KRPL) yaitu suatu kawasan yang dikembangkan
untuk meningkatkan hasil pertanian serta mengajarkan kepada
11
masyarakat mengenai pengolahan hasil pertanian misalnya
pengolahan pisang menjadi sale yang merupakan makanan khas dari
Sragen, pengolahan ubi kayu menjadi kolong dan tiwul instan. Hal
ini mampu meningkatkan produksi dan kualitas hasil pertanian
terutama untuk sub sektor tanaman bahan makanan, sehingga
mampu memenuhi kebutuhan masyarakat dan mampu menjual ke
luar daerah Kabupaten Sragen.
Sub sektor perkebunan juga mampu memberikan kontribusi
yang besar terhadap pertanian, dimana Kabupaten Sragen merupakan
wilayah pantai yang sangat potensial untuk perkebunan kelapa. Hasil
yang potensial tersebut mampu memenuhi daerah Kabupaten Sragen
serta mampu mengekspor ke daerah lain. Selain itu sub sektor
perikanan juga memberikan kontribusi yang besar pula terhadap
pertanian karena Kabupaten Sragen merupakan wilayah pesisir.
Sektor pertanian merupakan sektor yang sangat berperanan
penting dalam perekonomian di dukung pula oleh posisinya yang
merupakan basis. Sektor lain yang merupakan sektor basis di
Kabupaten Sragen adalah sektor bangunan, pertambangan dan
galian, sektor keuangan, persewaan dan jasa perusahaan, serta sektor
jasa dan pemerintahan. Sektor bangunan di Kabupaten Sragen
memiliki nilai LQ paling tinggi diantara sektor yang lainnya
dikarenakan banyaknya terjadi alih fungsi lahan di kabupaten Sragen
terutama dari pertanian beralih ke bangunan-bangunan seperti hotel
dan restoran, gedung-gedung untuk perkantoran serta bangunan
penunjang sarana pariwisata di Kabupaten Sragen. Bangunan hotel
dan restoran selalu mengalami peningkatan setiap tahunnya hingga
tahun 2022 jumlah restoran adalah 259 dan hotel berjumlah 15.
Sektor pertambangan dan penggalian wilayah Kabupaten
Sragen antara lain, batuan marmer yang berlokasi di Kecamatan
Tulakan, Kecamatan Kebonagung, dan Kecamatan Sudimoro. Bahan
galian batu marmer ini digunakan untuk pembuatan kaca, gelas,
12
isolator dan industri batu hias. Selain galian batuan marmer juga
masih banyak tambang- tambang lainnya seperti batu bara, mineral
logam, mineral non logam dan batuan lainnya.
Selanjutnya sektor keuangan, persewaan dan jasa perusahaan
yang mempunyai nilai LQ rata-rata adalah 1,05. Sektor ini terdiri
dari beberapa sub sektor yakni, sub sektor bank, sub sektor jasa
penunjang keuangan, sub sektor sewa bangunan dan sub sektor jasa
perusahaan. Nilai LQ ≥1, membuktikan makin membaiknya roda
perekonomian di Kabupaten Sragen yang terlihat dari besaran kredit
yang dikeluarkan oleh perbankan selalu meningkat.
Perekonomian daerah sangat didukung oleh sektor-sektor
ekonomi di daerah tersebut, pertumbuhan dari sektor-sektor ekonomi
tersebut sangat dipengaruhi oleh komponen pertumbuhan ekonomi
baik secara sektoral maupun total. Dalam analisis Shift-Share
komponen-komponen yang dimaksudkan adalah Pertumbuhan
Nasional (PN), Pertumbuhan Proporsional (PP) dan Pertumbuhan
Pangsa Wilayah (PPW). Komponen pertumbuhan PN, PP, dan PPW
serta PB (Pergeseran Bersih) Kabupaten Sragen dapat dilihat pada
tabel 8 berikut:
13
Tabel 8. Kompomen Pertumbuhan Nasional (PN) dan Pertumbuhan Proporsional
(PP)
Lapangan Usaha PNij PPij
PDRB 58,565,760 -
14
2. Komponen Pertumbuhan Proporsional (PP)
Komponen ini sebenarnya menunjukan perbandingan antara
pertumbuhan tiap sektor ekonomi dengan pertumbuhan total
ditingkat Provinsi dan dampaknya terhadap pertumbuhan sektor-
sektor ekonomi. Ada enam sektor ekonomi yang bertanda negatif
(PPij < 0) atau pertumbuhannya lamban yaitu sektor pertanian,
tanaman bahan pangan, tanaman perkebunan, kehutanan,
pertambangan dan penggalian, sektor industri pengolahan, serta jasa
keuangan dan asuransi. Hal ini terjadi karena ditingkat Provinsi
pertumbuhan sektor-sektor tersebut mengalami perlambanan
sehingga memberikan dampak pertumbuhan yang lamban terhadap
sector-sektor yang sama di Kabupaten Sragen, dan sebaliknya tujuh
sektor yang lain menunjukan pertumbuhan yang positif sehingga
memberikan efek pertumbuhan yang cepat terhadap sektor-sektor
yang sama di Kabupaten Sragen (PPij > 0).
15
Tabel 9. Kompomen Pertumbuhan Pangsa Wilayah (PPW) dan Pergeseran Bersih
(PB)
Lapangan Usaha PPWij PBij
Pertanian 571,543 346768.7064
PDRB 6,162,056
16
tidak memiliki daya saing terhadap sektor-sektor yang sama di
Provinsi Jawa Tengah.
Komponen Pergeseran Bersih (PBij) ini bertujuan untuk
mendapatkan sektor dengan pertumbuhan yang progresif, artinya
benar-benar memiliki pertumbuhan yang positif (+) yang didapat
dari penjumlahan komponen PPij dengan PPWij. Dari hasil
perhitungan ada 11 sektor ekonomi yang bertanda positif (+) atau
PBij > 0. sebaliknya ada 11 Sektor ekonomi yang memiliki tanda
negatif (-) PBij < 0 artinya sektor-sektor ekonomi tersebut memiliki
pertumbuhan yang lamban.
17
Tabel 10 menunjukkan bahwa lapangan usaha Industri
Pengolahan yang menjadi penopang utama perekonomian Kabupaten
Sragen ternyata memiliki laju pertumbuhan yang cukup baik.
Sedangkan Transportasi dan Pergudangan cenderung melambat.
Mencermati kondisi tersebut, ingin diketahui kategori lapangan
usaha yang memiliki keunggulan dan potensi untuk dapat
berkembang berdasarkan alat analisis LQ dan Klassen. Hasil analisis
diharapkan bermanfaat bagi pengambil keputusan dalam
menentukan kebijakan strategis di bidang perekonomian.
18
Pada tabel 11 menunjukkan bahwa terdapat empat kategori
lapangan usaha dengan laju pertumbuhan yang melampaui laju
pertumbuhan dominan penopang utama perekonomian Kabupaten
Sragen. Kategori lapangan usaha tersebut adalah Industri
Pengolahan; Jasa-jasa; Jasa Keuangan dan Asuransi serta
Konstruksi. Dimana penopang utama perekonomian Kabupaten
Sragen adalah Transportasi dan Pergudangan yang memiliki laju
pertumbuhana yang cukup baik. Kategori lapangan usaha Industri
Pengolahan tumbuh dengan laju yang melampaui seluruh kategori
lainnya.
4.2.2 Subsektor Pertanian
Dengan metode LQ (Location Quotien) maka dapat diketahui
posisi suatu sektor dalam suatu pertanian apakah basis atau tidak.
Nilai LQ suatu sektor pertanian lebih atau sama dengan satu, maka
sektor tersebut merupakan sektor basis. Sedangkan bila nilai LQ
suatu sektor pertanian kurang dari satu, berarti sektor
perekonomian tersebut merupakan sektor non basis.
Pertanian di Kabupaten Sragen didukung oleh lima sektor yang
meliputi sektor Tanaman Pangan, Tanaman Holtikultura, Tanaman
Perkebunan, Peternakan, Jasa Pertanian dan Perburuan. Hasil dari
analisis Location Quotient untuk sektor pertanian di Kabupaten
Sragen tahun 2018-2022 dapat dilihat dalam Tabel 12.
19
Tabel 11. Nilai LQ Sektor Pertanian dan Sektor Perekonomian Lainnya di
Kabupaten Sragen Tahun 2018-2022
NILAI LQ SEKTOR PERTANIAN
Pertanian,
Kehutanan, LQ RATA-
Perikanan 2018 2019 2020 2021 2022 RATA B/NB
a. Pertanian,
Peternakan,
Perburuan dan
Jasa Pertanian 1 1 1 1 1 1 NB
1) Tanaman
Pangan 0.846179183 0.843484178 0.846521146 0.241031723 0.255813953 0.606606037 NB
2) Tanaman
Hortikultura 0.064700877 0.067360717 0.057220885 0.188571172 0.157049439 0.106980618 NB
3) Tanaman
Perkebunan 0.291065701 0.273883523 0.258936749 0.597514736 0.508310239 0.38594219 NB
4) Peternakan 0.006133497 0.005955303 0.005416334 0.25337932 0.242846314 0.102746154 NB
5) Jasa Pertanian
dan Perburuan 0.221845537 0.209007937 0.194530607 3.431999574 3.811801639 1.573837059 B
Sumber : Analisis Data Sekunder Tahun 2023
20
a. Kontribusi (untuk Tipologi Klassen)
Tabel 12. Kontribusi PDRB Sektor Pertanian Kabupaten Sragen Atas Dasar
Harga Konstan Tahun 2010 Tahun 2018-2022 (%)
Lapangan Rata-
No Usaha 2018 2019 2020 2021 2022 rata Rerata
Tanaman Bahan
1 Makanan 84.62 84.35 84.65 24.10 25.58 60.66 2.36
Tanaman
2 Perkebunan 4.84 5.24 5.12 16.66 14.77 9.33
Peternakan dan
3 Hasil-hasilnya 8.79 8.71 8.56 19.40 16.94 12.48
4 Kehutanan 0.36 0.37 0.34 16.53 16.28 6.78
5 Perikanan 1.38 1.33 1.33 23.30 26.43 10.75
Jumlah 100.00 100.00 100.00 100.00 100.00 100.00
Sumber : Analisis Data Sekunder Tahun 2023
21
Pada tabel 13 menunjukkan bahwa terdapat dua kategori
lapangan usaha dengan laju pertumbuhan yang melampaui laju
pertumbuhan dominan penopang utama perekonomian Kabupaten
Sragen. Kategori lapangan usaha tersebut adalah perikanan dan
tanaman perkebunan. Dimana penopang utama perekonomian
Kabupaten Sragen adalah kehutanan yang memiliki laju
pertumbuhana yang cukup baik. Kategori lapangan usaha
perikanan tumbuh dengan laju yang melampaui seluruh kategori
lainnya.
4.3 Perencanaan Strategis Pembangunan Sektoral di Daerah
4.3.1 Sektor Perekonomian
a. Klasifikasi (untuk Tipologi Klassen)
b. Strategi Pengembangan (Untuk semua 3 alat analisis)
4.3.2 Subsektor Pertanian
a. Kontribusi (untuk Tipologi Klassen)
b. Strategi Pengembangan (Untuk semua 3 alat analisis)
22