MODUL AJAR
Identitas guru : Fenny Yulinanita
Sekolah : SMAN 4
Kelas/Semester Bojonegoro
BAHASA
Mata pelajaran : XII / Gasal
Alokasi waktu : Bahasa Indonesia
Jumlah siswa : 6 JP
INDONESIA Fase : 36
:F
KOMPETENSI AWAL
Pengetahuan dan/atau Keterampilan atau Kompetensi Prasyarat
Peserta didik memahami kalimat fakta dan opini
PROFIL PELAJAR PANCASILA
1. Mandiri
mempunyai prakarsa atas pengembangan diri dan prestasinya dan didasari pada pengenalan
kekuatan serta keterbatasan dirinya serta situasi yang dihadapi, dan bertanggung jawab atas proses
dan hasilnya
2. Bernalar kritis
mampu menggunakan kemampuan nalar dirinya untuk memproses informasi, mengevaluasinya,
hingga menghasilkan keputusan yang tepat untuk mengatasi berbagai persoalan yang dihadapinya
3. Kreatif
mampu memodifikasi, menghasilkan sesuatu yang orisinal, bermakna, bermanfaat, dan berdampak
untuk mengatasi berbagai persoalan baik untuk dirinya sendiri ataupun untuk lingkungan di
sekitarnya.
4. Gotong royong
mampu berkolaborasi dengan orang lain dan secara proaktif mengupayakan pencapaian
kesejahteraan dan kebahagiaan orang-orang yang ada dalam masyarakatnya.
SARANA PRASARANA
Fasilitas
Teks esai, kritik, dan resensi
Komputer/laptop
LCD
Presentasi teks esai, kritik, dan resensi
Laman di internet
Google form penugasan
Lingkungan Belajar
Kelas
TARGET PESERTA DIDIK
Kelas reguler
MODEL PEMBELAJARAN
Discoveri Learning
TUJUAN PEMBELAJARAN
Pemahaman konseptual dan penalaran Keterampilan
Melalui media presentasi dan video, peserta didik dapat
12.6 Peserta didik mampu mengevaluasi dan merefleksi gagasan dan pandangan berdasarkan
kaidah logika berpikir dari membaca teks prosedur komplekas
12.7 Peserta didik mampu mengapresiasi teks esai, kritik, dan resensi.
12.8 Peserta didik mampu mengaitkan isi teks esai, kritik, dan resensi dengan hal lain di luar
teks.
12.9 Peserta didik mampu menyajikan dan mempertahankan teks esai, kritik, dan resensi,
serta menyimpulkan masukan dari mitra diskusi.
12.10 Peserta didik mampu menulis teks esai, kritik, dan resensi gagasan, pikiran, pandangan,
pengetahuan metakognisi untuk berbagai tujuan secara logis, kritis, dan kreatif.
PEMAHAMAN BERMAKNA
Manfaat yang diperoleh peserta didik
Manusia yang mandiri, kritis, dan kreatif berkolaborasi untuk mengevaluasi, mengkreasi,
mengapresiasi, menyajikan, dan menulis teks esai, kritik, dan resensi
PERTANYAAN PEMANTIK
1. Bagaimana menurut pedaoatmu tentang peraturan yang ada di SMAN 4 saat ini?
2. Adakah peraturan yang menurutmu sudah baik atau belum baik? Jelaskan jawabanmu!
3. Bagaimana peraturan yang baik menurut pendapatmu?
4. Pernahkah kamu menyampaikan pendapat sebelumnya?
5. Bagaimana proses pengambilan keputusan setelah kamu menyampaikan pendapat selama ini?
6. Bagaimanakah menyampaikan teks esai, kritik, dan resensi yang baik?
PERSIAPAN PEMBELAJARAN
1. Guru menyiapkan piranti perangkat lunak (Laptop /computer dan sejenisnya) dengan internet
2. Guru menyediakan teks esai, kritik, dan resensi dari media cetak atau buku pengetahuan umum
3. Guru menyapa peserta didik
4. Guru melakukan apersepsi pembelajaran
5. Guru memberikan asesmen diagnostik awal dengan membagikan tautan di google form
6. Guru memberikan teks esai, kritik, dan resensi berupa teks, infografis, atau video
7. Guru memberikan Lembar Kerja pada peserta didik
8. Guru memfasilitasi peserta didik ketika membaca teks esai, kritik, dan resensi
9. Guru membimbing peserta didik dalam mengevaluasi, mengkreasi, mengapresiasi, menyajikan, dan
menulis teks esai, kritik, dan resensi
10. Guru menyiapkan lembar kerja peserta didik untuk pembelajaran teks esai, kritik, dan resensi
KEGIATAN PEMBELAJARAN
PERTEMUAN 1
A. Pendahuluan
1. Guru menyapa peserta didik
2. Guru memberikan asesmen diagnostik awal dengan membagikan tautan di google form
3. Guru melakukan apersepsi pembelajaran
Siswa diajak melakukan sebuah adegan seakan-akan di luar kelas
Ada 3 anak duduk di depan kelas, kemudian seorang guru berjalan di depannya. (kesadaran
sosial)
Guru melihat apa yang dilakukan 3 anak tersebut pada guru yang lewat
Guru meminta murid lain merefleksikan kejadian tersebut
Guru menanyakan pada murid nilai moral yang ada dalam sketsa tersebut <berempati pada
sesama dan orang yang lebih tua>
4. Guru menyampaikan tujuan pembelajaran
B. Inti
- Meminta izin jika akan memegang atau meminjam barang milik orang lain (manajemen diri
1. Peserta didik bersama guru membuat kesepakatan kelas sebelum pembelajaran dimulai
- Megacungkan tangan sebelum bertanya atau menyampaikan pendapat (manajemen diri dan
dan kesadaran sosial)
- Menghargai orang yang sedang berbicara dengan mendengarkannya (manajemen diri dan
kesadaran sosial)
- Masing-masing kelompok memberikan tanggapan atau umpan balik dengan bahasa yang santun
kesadaran sosial)
(manajemen diri dan kesadaran sosial)
2. Peserta didik diminta membaca contoh teks esai, kritik, dan resensi
Blog guru : [Link] (deferensiasi konten)
3. Peserta didik mengidentifikasi informasi yang terdapat dalam teks esai, kritik, dan resensi (apa,
siapa, kapan, di mana, bagaimana) (L1)
4. Peserta didik mengevaluasi informasi dan ciri yang terdapat dalam teks esai, kritik, dan resensi
5. Peserta didik mencari inferensi (pokok-pokok bahasan) dalam teks esai, kritik, dan resensi (L2)
6. Peserta didik diberikan lembar kerja
2
7. Peserta didik diminta menuliskan hasil identifikasi, evaluasi, dan bagian penting dalam teks esai,
kritik, dan resensi
Peserta didik diizinkan membuat identifikasi dalam bentuk bagan, teks, infpgrafis, gambar, atau
video (deferensiasi produk)
Peserta didik dengan kemampuan identifikasi lambat diberi penjelasan lebih oleh teman atau guru
(deferensiasi proses)
8. Peserta didik bersama guru berdiskusi tentang informasi penting, ciri, dan bagian teks esai, kritik,
dan resensi
9. Peserta didik mendapatkan umpan balik dari guru tentang informasi penting, ciri, dan bagian dalam
teks esai, kritik, dan resensi
10. Peserta didik disiapkan untuk penugasan
11. Peserta didik mengumpulkan hasil identifikasi informasi, ciri, evaluasi, dan bagian teks esai, kritik,
dan resensi
C. Penutup
1. Guru dan peserta didik menyimpulkan isi informasi, ciri, dan bagian teks esai, kritik, dan resensi
2. Guru meminta salah satu peserta didik untuk menyampaikan konklusi dan refleksi pembelajaran
3. Guru mengakhiri pembelajaran
PERTEMUAN 2
A. Pendahuluan
1. Guru menyapa peserta didik
2. Guru melakukan apersepsi pembelajaran
Siswa diajak melakukan sebuah adegan seakan-akan di luar kelas
Ada 3 anak duduk di depan kelas, kemudian seorang guru berjalan di depannya. (kesadaran
sosial)
Guru melihat apa yang dilakukan 3 anak tersebut pada guru yang lewat
Guru meminta murid lain merefleksikan kejadian tersebut
Guru menanyakan pada murid nilai moral yang ada dalam sketsa tersebut <berempati pada
sesama dan orang yang lebih tua>
3. Guru melakukan apersepsi pembelajaran
B. Inti
- Meminta izin jika akan memegang atau meminjam barang milik orang lain (manajemen diri
1. Peserta didik bersama guru membuat kesepakatan kelas sebelum pembelajaran dimulai
- Megacungkan tangan sebelum bertanya atau menyampaikan pendapat (manajemen diri dan
dan kesadaran sosial)
- Menghargai orang yang sedang berbicara dengan mendengarkannya (manajemen diri dan
kesadaran sosial)
- Masing-masing kelompok memberikan tanggapan atau umpan balik dengan bahasa yang santun
kesadaran sosial)
(manajemen diri dan kesadaran sosial)
2. Peserta didik diminta membaca contoh teks esai, kritik, dan resensi yang telah diidentifikasi pada
pertemuan sebelumnya
3. Peserta didik mencari berbagai informasi yang terkait dengan teks esai, kritik, dan resensi di media
elektronik (L1)
4. Peserta didik menilai akurasi dan kualitas teks esai, kritik, dan resensi berdasarkan informasi yang
telah diperoleh (L3)
5. Peserta didik membandingkan beberapa teks esai, kritik, dan resensi deagan tema yang sama (L2)
Peserta didik diizinkan membuat dalam bentuk bagan, teks, infpgrafis, gambar, atau video
(deferensiasi produk)
Peserta didik dengan kemampuan lambat diberi penjelasan lebih oleh teman atau guru
(deferensiasi proses)
6. Peserta didik menyampaikan hasil penialaian akurasi, kualitas, dan perbandingan di depan teman
yang lain
7. Peserta didik menyampaikan pendapat tentang hasil kelompok lain (L3)
8. Peserta didik mendapatkan umpan balik dari guru tentang akurasi, kualitas, dan perbandingan teks
esai, kritik, dan resensi
9. Peserta didik disiapkan untuk penugasan
10. Peserta didik mengumpulkan hasil penilaian akurasi, kualitas, dan perbandingan dalam google form
C. Penutup
1. Guru dan peserta didik menyimpulkan isi akurasi, kualitas, dan perbandingan teks esai, kritik, dan
resensi
2. Guru meminta salah satu peserta didik untuk menyampaikan konklusi dan refleksi pembelajaran
3. Guru mengakhiri pembelajaran
3
PERTEMUAN 3
A. Pendahuluan
1. Guru menyapa peserta didik
2. Guru melakukan apersepsi pembelajaran
Siswa diajak melakukan sebuah adegan seakan-akan di luar kelas
Ada 3 anak duduk di depan kelas, kemudian seorang guru berjalan di depannya. (kesadaran
sosial)
Guru melihat apa yang dilakukan 3 anak tersebut pada guru yang lewat
Guru meminta murid lain merefleksikan kejadian tersebut
Guru menanyakan pada murid nilai moral yang ada dalam sketsa tersebut <berempati pada
sesama dan orang yang lebih tua>
3. Guru melakukan apersepsi pembelajaran
B. Inti
- Meminta izin jika akan memegang atau meminjam barang milik orang lain (manajemen diri
1. Peserta didik bersama guru membuat kesepakatan kelas sebelum pembelajaran dimulai
- Megacungkan tangan sebelum bertanya atau menyampaikan pendapat (manajemen diri dan
dan kesadaran sosial)
- Menghargai orang yang sedang berbicara dengan mendengarkannya (manajemen diri dan
kesadaran sosial)
- Masing-masing kelompok memberikan tanggapan atau umpan balik dengan bahasa yang santun
kesadaran sosial)
(manajemen diri dan kesadaran sosial)
2. Peserta didik diminta membaca contoh teks esai, kritik, dan resensi yang telah diidentifikasi pada
pertemuan sebelumnya
3. Peserta didik menulis teks esai, kritik, dan resensi yang ada sesuai dengan contoh yang telah dibaca
Peserta didik diizinkan membuat dalam bentuk bagan, teks, infografis, gambar, atau video
(deferensiasi produk)
Peserta didik dengan kemampuan lambat diberi penjelasan lebih oleh teman atau guru
(deferensiasi proses)
4. Peserta didik mempresentasikan teks esai, kritik, dan resensi di depan kelas
5. Peserta didik secara bergantian menyampaikan pendapat atas hasil presentasi kelompok lain (L3)
6. Peserta didik mendapatkan umpan balik dari guru terkait tulisan teks esai, kritik, dan resensi yang
telah dibuat
7. Peserta didik disiapkan untuk penugasan
8. Peserta didik mengumpulkan teks esai, kritik, dan resensi dalam google form
C. Penutup
1. Guru dan peserta didik menyimpulkan penulisan teks esai, kritik, dan resensi yang tepat
2. Guru meminta salah satu peserta didik untuk menyampaikan konklusi dan refleksi pembelajaran
3. Guru mengakhiri pembelajaran
ASESMEN
Diagnostik
Lembar observasi dengan instrumen angket daring di Microsoft form
Kesejahteraan psikologis dan sosial emosi siswa
Aktivitas siswa selama belajar sebelumnya
Kondisi keluarga siswa dan pergaulan siswa
Gaya belajar, karakter, serta minat siswa
Formatif
1. Pengetahuan
Bentuk : tes lisan, dan refleksi
2. Keterampilan
Bentuk : unjuk kerja
3. Sikap Profil Pelajar Pancasila
Bentuk : observasi
Sumatif
Tes tulis
Tes unjuk kerjai
Bentuk asesmen
Tes lisan dan refleksi
Esai
4
Unjuk kerja
PENGAYAAN DAN REMIDIAL
PENGAYAAN
Peserta didik dengan pencapaian tinggi diberikan pengayaan berupa kegiatan tambahan membaca
teks esai, kritik, dan resensi
REMIDIAL
Peserta didik yang menemukan kesulitan/sulit memahami konsep dapat diberikan materi tambahan berupa
latihan mandiri dengan guru (dilakukan ketika guru melakukan formatif asesmen, dan peserta didik lainnya
sedang beraktivitas)
Peserta didik diberikan kutipan sebuah teks esai, kritik, dan resensi dan diidentifikasi isi, ciri, dan
bagian untuk berlatih di luar jam pelajaran
Peserta didik diberikan waktu khusus sebelum masuk kelas pelajaran Bahasa Indonesia untuk
mengeksplorasi teks esai, kritik, dan resensi
REFLEKSI PESERTA DIDIK DAN GURU
Apakah kamu suka dengan kegiatan pembelajaran ini?
Adakah hal menarik lainnya?
Cara belajar yang bagaimana yang paling membantumu dalam mempratikkan pembelajaran?
Kesulitan apa saja yang kamu temui dalam belajar teks esai, kritik, dan resensi?
Apakah kamu menemukan kesulitan dalam memahami instruksi/perintah?
Apakah kamu merasa puas dapat menyelesaikan pembelajaran hari ini?
Apakah kamu dapat merefleksikan seluruh kegiatan pembelajaran hari ini dan dapatkah
pembelajaran hari ini digunakan acuan dalam pengembangan kehidupan sehari-hari
BAHAN BACAAN SISWA
Cerdas Cergas Berbahasa dan Bersastra Indonesia untuk SMA/SMK Kelas XII
Blog guru : [Link]
GLOSARIUM
Esai : karangan prosa yang membahas suatu masalah secara sepintas lalu dari sudut pandang pribadi
penulisnya
fakta : sesuatu hal yang benar-benar ada dan terjadi, fakta sering juga disebut dengan kenyataan
opini : pendapat atau pikiran seseorang yang belum tentu benar karena tidak/ belum ada bukti
kebenarannya
teks esai, kritik, dan resensi : digunakan untuk menuangkan ide-ide atau gagasan-gagasan dari
penulis
DAFTAR PUSTAKA
Buku Panduan Guru Cerdas Cergas Berbahasa dan Bersastra Indonesia untuk SMA/SMK Kelas XII
Cerdas Cergas Berbahasa dan Bersastra Indonesia untuk SMA/SMK Kelas XII
Mengetahui, Bojonegoro
Kepala Sekolah Guru Mapel
Shofwan Hidayat, [Link]., M.M Fenny Yulinanita, [Link].
NIP. 19670111 199001 1 001 NIP. 19860714 201101 2 016
5
DAFTAR LAMPIRAN
1. Teks esai, kritik, dan resensi
2. Lembar Materi Ajar
3. LK PD
4. Lembar Observasi Sikap
5. Lembar Asesmen Diagnostik
6. Lembar Asesmen Formatif
7. Lembar Asesmen Sumatif
8. Lembar Rubrik Penilaian Formatif
9. Lembar Rubrik Penilaian Sumatif
10. Lembar Refleksi Pertemuan I
6
LAMPIRAN 1
Teks fungsional
dunia kerja dan
Opini Radar Bojonegoro tanggal 4 Desember 2022
Guru di Era Post-truth
Fenny Yulinanita, [Link].
Guru Bahasa Indonesia SMAN 4 Bojonegoro
Post truth, frasa yang dipopulerkan oleh Steve
Tesich tahun 1992 kini mulai dikenal kembali dan sedang
terjadi di seluruh belahan dunia. Tidak terkecuali Indonesia.
Post truth atau dalam bahasa Indonesia dikenal dengan
pascakebenaran adalah suatu era di mana kebohongan
tampak seperti kebenaran. Cara menampakkan kebohongan
sebagai kebenaran adalah dengan memainkan emosi dan
perasaan netizen.
Apakah Indonesia pernah mengalami era ini? Pernah
dan sedang mengalami. Sejak pilpres tahun 2019, Indonesia
mengalami era post truth. Kebenaran dan kebohongan
tampak samar. Semua tampak sama benar dan tampak sama
bohong. Masyarakat sulit membedakan kebenaran dan kebohongan. Hal itu digunakan dengan sangat baik
oleh mereka yang membutuhkan dukungan.
Apa kaitannya dengan guru?
Tidak dapat dipungkiri, sebagian guru dan semua siswa adalah milenial dan gen Z yang dekat dengan
media sosial. Salah satu alat berkembangnya post truth adalah media sosial. Kenyataan ini memaksa kita
sebagai guru menerima konsekuensi kebenaran yang kita bawa belum tentu diterima oleh siswa. Mereka
lebih dekat dengan media sosial daripada dengan kita.
Tidak jarang kebenaran yang kita bawa hingga berbusa sekadar lewat begitu saja tanpa bermakna.
Materi di kelas tak mereka dengar karena media sosial telah memaparkan banyak hal. Tinggal tik saja,
kebutuhan kita akan keluar di media sosial. Media sosial menyediakan beraneka informasi terkait
pembelajaran. Mereka mampu menjawab soal bukan karena pembelajaran di kelas, tapi karena media sosial
menggelar jawaban atas pertanyaan yang kita berikan.
Apa yang harus dilakukan guru di era post truth?
Menurut data, Indonesia berada di peringkat 10 dunia durasi pengguna media sosial 3 jam 16 menit
perhari. Jumlah pengguna media sosial di Indonesia adalah 191 juta pengguna. Dan kecerdasan rata-rata
orang Indonesia di tahun 2022 adalah 78, 4. Dengan durasi selama itu, jumlah pengguna besar, namun tidak
diimbangi dengan kecerdasan rasional, apa yang akan terjadi pada Indonesia? Tentu saja, berita bohong
(hoaks) akan mudah tersebar dan dipercaya sebagai sebuah kebenaran. Maka tidak mengherankan era post
truth masih berlangsung di negara kita.
Di sinilah posisi guru harus berdiri. Menjadi jembatan siswa dalam memilah informasi di media
sosial. Menghentikan era post truth dan mengembalikan kebenaran pada posisinya. Guru harus mampu
membuka rasional siswa dalam memahami setiap kata dan kalimat dalam media sosial. Lantas, bagaimana
caranya?
Hari ini guru sibuk memaki media sosial. Media sosial dianggap membodohkan murid karena
menyediakan seluruh jawaban materi pembelajaran. Tak jarang murid mendapat hukuman guru karena
jawaban diambil dari media sosial. Menganggap murid kurang kreatif, plagiarisme, atau bahkan tidak mau
menghafalkan materi. Padahal media sosial memang menyuguhkan banyak alternatif informasi lebih dari
yang dikuasai gurunya.
Pembelajaran antigawai adalah pembodohan. Sekolah dan guru tidak bisa lagi memisahkan gawai
dengan pembelajaran. Semakin dipisahkan, ketimpangan pengetahuan dan rasionalitas akan terjadi. Siswa
akan dibiarkan tidak bisa membedakan kebenaran dan kebohongan di media sosial jika pembelajaran
membatasi siswa menggunakan gawai. Di dalam kelas, guru hanya berkutat pada buku. Namun di luar kelas,
siswa mencari semua informasi terkait pertanyaan guru di internet. Lantas, bagaimana guru memahamkan
kebenaran informasi dalam internet jika kita tidak membuka kebohongan di dalam kelas?
Satu-satunya cara mengubah post truth adalah bersahabat dengan gawai. Kita biarkan siswa
berselancar mencari informasi di media sosial. Kemudian kita berikan kesempatan menyampaikan hasilnya
7
dalam pembelajaran. Ketika siswa menyampaikan hasil pencariannya, baru kita refleksikan kebenarannya. Di
sinilah letak guru dalam era post truth. Menjadi penunjuk arah bagi siswa memilah informasi yang benar dan
bohong.
Siswa yang tidak pernah merasa dibohongi media sosial, tidak akan pernah mencari tahu
kebenarannya. Mereka akan cenderung menerima saja semua informasi dari media sosial. Diangap saja
informasi itu benar. Namun, ketika mereka merasakan kebohongan di media sosial, muncullah sikap skeptis.
Sikap tidak mudah percaya pada semua hal yang mereka baca di media sosial. Sikap skeptis adalah salah satu
benteng meminimalisasi post truth.
Seperti kata Ki Hajar Dewantara, tujuan pendidikan adalah menuntun segala kodrat yang ada pada
anak, agar mereka dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya baik sebagai
manusia maupun sebagai anggota masyarakat. Kodrat di sini ada dua macam yaitu kodrat alam dan kodrat
zaman. Kodrat alam adalah bakat yang dimiliki siswa. Sedangkan kodrat zaman adalah era di mana siswa
hidup dan berkehidupan.
Era siswa saat ini berbeda dengan zaman guru sekolah dulu. Ketika guru menjadi siswa, buku dan
guru adalah satu-satunya informasi. Sedangkan sekarang, guru justru menjadi informasi kesekian setelah
media sosial dan lingkungan. Tak jarang informasi guru dibanding-bandingkan dengan informasi di media
sosial. Jika informasi guru berbeda, siswa cederung percaya pada media sosial.
Oleh karena itu, sebagai guru kita harus mampu menyesuaikan diri dengan kodrat zaman. Era post
truth harus kita hadapi dengan kejernihan rasionalitas dan kematangan emosi. Guru yang hebat adalah guru
yang mampu membawa siswanya menjalani hari ini dan menata masa depan lebih baik dari hari ini. Mari
menjadi jembatan bagi siswa dari era post truth menuju era kebenaran. Membawa era kebenaran di tengah
kebohongan berbalut kebenaran.
8
LAMPIRAN 2
Lembar Materi
Pengertian Teks esai, kritik, dan resensi
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), teks esai, kritik, dan resensi merupakan alasan untuk
memperkuat atau menolak suatu pendapat, pendirian, atau gagasan. Teks esai, kritik, dan resensi merupakan
teks yang berisi opini penulis yang disertai alasan dan pembuktian yang didukung oleh fakta, disampaikan
secara logis dan objektif, bertujuan untuk meyakinkan dan mempengaruhi pembaca.
Adapun proses penyusunan teks esai, kritik, dan resensi ini melalui tahapan membaca buku,
melakukan penelitian, wawancara, dan lain-lain agar isi dari teks esai, kritik, dan resensi ini bersifat kritis
dan logis.
Seorang penulis teks esai, kritik, dan resensi menyebut opini sebagai klaim dan fakta sebagai bukti.
Adapun fakta dalam teks esai, kritik, dan resensi biasanya disajikan dengan mencakup alasan, statistik, fakta
yang sudah dikonfirmasi, penelitian ahli dan dalam beberapa kasus bisa diambil dari pengalaman pribadi
seseorang. Selain itu penulis juga harus mencantumkan sumber fakta yang kredibel dan terpercaya.
Secara umum teks esai, kritik, dan resensi adalah teks berisi paragraf dan memiliki tujuan untuk
meyakinkan atau membujuk para pembaca agar memiliki pemikiran yang sama dengan penulis.
Tujuan Teks esai, kritik, dan resensi
Adapun tujuan dari dibuatnya teks esai, kritik, dan resensi ini di antaranya:
1. Untuk mengungkap pandangan atau pendapat penulis. Keberagaman berpikir dalam memandang
suatu permasalahan atau peristiwa diekspresikan dalam bentuk teks esai, kritik, dan resensi
2. Untuk memengaruhi tingkah laku, saat pandangan atau pendapat penulis dituangkan dalam teks
yang jelas, logis, dan berdasar data, maka pembaca dapat menarik kesimpulan dan berpendapat yang
kemudian dapat memengaruhi tingkah laku pembaca terhadap isu yang sedang dibahas.
3. Untuk menarik simpati pembaca. Penulis dapat menarik perhatian pembaca dengan teks yang
meyakinkan dan didapatkan dari penelitian.
4. Untuk membuktikan kebenaran secara logis, sehingga isu yang dibuat dan tersebar di kalangan
masyarakat tidak lagi simpang siur kebenarannya.
Ciri-ciri Teks esai, kritik, dan resensi
Berikut ini adalah ciri-ciri dari teks esai, kritik, dan resensi:
Mampu menunjukkan bukti dan kebenaran dari suatu isu
Menggunakan bahasa denotatif atau bahasa yang sebenarnya dan tegas serta tidak berbelit-belit.
Ditulis berdasarkan analisis rasional atau berdasar fakta
Ditulis secara objektif sehingga dibutuhkan batasan dan menghindari nilai-nilai emosional.
Struktur Teks esai, kritik, dan resensi
1. Pendahuluan
Pada bagian ini berisi penjelasan secara singkat dan padat mengenai isu yang dibahas dengan bahasa
yang menarik agar dapat menarik perhatian pembaca
2. Badan Argumen
Bagian badan argumen berisi data dan fakta hasil riset yang ditulis dengan terstruktur dan tertata
agar mudah dipahami pembaca
3. Kesimpulan
Kesimpulan bisa ditulis dengan menggunakan bahasa yang singkat, padat dan jelas, dan tentu saja
mengutamakan kelogisan dan penalaran yang masuk akal.
Jenis Teks esai, kritik, dan resensi
Sebab Akibat
Teks esai, kritik, dan resensi sebab akibat mengarah pada akibat dari sebab sebelumnya. Tentu saja
jenis teks esai, kritik, dan resensi ini ditulis berdasarkan data yang membuat isu yang sedang dibahas
itu muncul atau lahir.
Teks esai, kritik, dan resensi persamaan
Merupakan teks argumentatif yang ditulis dengan cara mengungkapkan prinsip persamaan sebelum
mengambil kesimpulan. Perlu diperhatikan pula, penarikan kesimpulan dilakukan dengan cara logis
dan menggunakan data yang kuat agar tujuannya tidak disangkal.
Teks esai, kritik, dan resensi Perbandingan
Teks esai, kritik, dan resensi berbentuk deskripsi soal fakta dan data dengan cara melakukan
perbandingan atau teks yang membandingkan argumentatif berdasar anggapan yang mencakup
pengertian terkait data yang kuat atau tidak.
Autoritas
9
Teks esai, kritik, dan resensi ini ditulis berdasarkan pendapat orang terkenal dunia atau tokoh
dengan keahlian tertentu.
Kesaksian
Teks ini ditulis berdasarkan kesaksian seseorang terkait dengan isu yang diangkat dan ditulis secara
deskriptif. Saksi merupakan orang yang merasakan, melihat dan mengalami suatu kejadian dan
sifatnya tidak bisa disangkal.
10
LAMPIRAN 3
Lembar Kerja Peserta
Opini Radar Bojonegoro tanggal 4 Desember 2022
Guru di Era Post-truth
Fenny Yulinanita, [Link].
Guru Bahasa Indonesia SMAN 4 Bojonegoro
Post truth, frasa yang dipopulerkan oleh Steve
Tesich tahun 1992 kini mulai dikenal kembali dan sedang
terjadi di seluruh belahan dunia. Tidak terkecuali Indonesia.
Post truth atau dalam bahasa Indonesia dikenal dengan
pascakebenaran adalah suatu era di mana kebohongan
tampak seperti kebenaran. Cara menampakkan kebohongan
sebagai kebenaran adalah dengan memainkan emosi dan
perasaan netizen.
Apakah Indonesia pernah mengalami era ini? Pernah
dan sedang mengalami. Sejak pilpres tahun 2019, Indonesia
mengalami era post truth. Kebenaran dan kebohongan
tampak samar. Semua tampak sama benar dan tampak sama
bohong. Masyarakat sulit membedakan kebenaran dan kebohongan. Hal itu digunakan dengan sangat baik
oleh mereka yang membutuhkan dukungan.
Apa kaitannya dengan guru?
Tidak dapat dipungkiri, sebagian guru dan semua siswa adalah milenial dan gen Z yang dekat dengan
media sosial. Salah satu alat berkembangnya post truth adalah media sosial. Kenyataan ini memaksa kita
sebagai guru menerima konsekuensi kebenaran yang kita bawa belum tentu diterima oleh siswa. Mereka
lebih dekat dengan media sosial daripada dengan kita.
Tidak jarang kebenaran yang kita bawa hingga berbusa sekadar lewat begitu saja tanpa bermakna.
Materi di kelas tak mereka dengar karena media sosial telah memaparkan banyak hal. Tinggal tik saja,
kebutuhan kita akan keluar di media sosial. Media sosial menyediakan beraneka informasi terkait
pembelajaran. Mereka mampu menjawab soal bukan karena pembelajaran di kelas, tapi karena media sosial
menggelar jawaban atas pertanyaan yang kita berikan.
Apa yang harus dilakukan guru di era post truth?
Menurut data, Indonesia berada di peringkat 10 dunia durasi pengguna media sosial 3 jam 16 menit
perhari. Jumlah pengguna media sosial di Indonesia adalah 191 juta pengguna. Dan kecerdasan rata-rata
orang Indonesia di tahun 2022 adalah 78, 4. Dengan durasi selama itu, jumlah pengguna besar, namun tidak
diimbangi dengan kecerdasan rasional, apa yang akan terjadi pada Indonesia? Tentu saja, berita bohong
(hoaks) akan mudah tersebar dan dipercaya sebagai sebuah kebenaran. Maka tidak mengherankan era post
truth masih berlangsung di negara kita.
Di sinilah posisi guru harus berdiri. Menjadi jembatan siswa dalam memilah informasi di media
sosial. Menghentikan era post truth dan mengembalikan kebenaran pada posisinya. Guru harus mampu
membuka rasional siswa dalam memahami setiap kata dan kalimat dalam media sosial. Lantas, bagaimana
caranya?
Hari ini guru sibuk memaki media sosial. Media sosial dianggap membodohkan murid karena
menyediakan seluruh jawaban materi pembelajaran. Tak jarang murid mendapat hukuman guru karena
jawaban diambil dari media sosial. Menganggap murid kurang kreatif, plagiarisme, atau bahkan tidak mau
menghafalkan materi. Padahal media sosial memang menyuguhkan banyak alternatif informasi lebih dari
yang dikuasai gurunya.
Pembelajaran antigawai adalah pembodohan. Sekolah dan guru tidak bisa lagi memisahkan gawai
dengan pembelajaran. Semakin dipisahkan, ketimpangan pengetahuan dan rasionalitas akan terjadi. Siswa
akan dibiarkan tidak bisa membedakan kebenaran dan kebohongan di media sosial jika pembelajaran
membatasi siswa menggunakan gawai. Di dalam kelas, guru hanya berkutat pada buku. Namun di luar kelas,
siswa mencari semua informasi terkait pertanyaan guru di internet. Lantas, bagaimana guru memahamkan
kebenaran informasi dalam internet jika kita tidak membuka kebohongan di dalam kelas?
Satu-satunya cara mengubah post truth adalah bersahabat dengan gawai. Kita biarkan siswa
berselancar mencari informasi di media sosial. Kemudian kita berikan kesempatan menyampaikan hasilnya
11
dalam pembelajaran. Ketika siswa menyampaikan hasil pencariannya, baru kita refleksikan kebenarannya. Di
sinilah letak guru dalam era post truth. Menjadi penunjuk arah bagi siswa memilah informasi yang benar dan
bohong.
Siswa yang tidak pernah merasa dibohongi media sosial, tidak akan pernah mencari tahu
kebenarannya. Mereka akan cenderung menerima saja semua informasi dari media sosial. Diangap saja
informasi itu benar. Namun, ketika mereka merasakan kebohongan di media sosial, muncullah sikap skeptis.
Sikap tidak mudah percaya pada semua hal yang mereka baca di media sosial. Sikap skeptis adalah salah satu
benteng meminimalisasi post truth.
Seperti kata Ki Hajar Dewantara, tujuan pendidikan adalah menuntun segala kodrat yang ada pada
anak, agar mereka dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya baik sebagai
manusia maupun sebagai anggota masyarakat. Kodrat di sini ada dua macam yaitu kodrat alam dan kodrat
zaman. Kodrat alam adalah bakat yang dimiliki siswa. Sedangkan kodrat zaman adalah era di mana siswa
hidup dan berkehidupan.
Era siswa saat ini berbeda dengan zaman guru sekolah dulu. Ketika guru menjadi siswa, buku dan
guru adalah satu-satunya informasi. Sedangkan sekarang, guru justru menjadi informasi kesekian setelah
media sosial dan lingkungan. Tak jarang informasi guru dibanding-bandingkan dengan informasi di media
sosial. Jika informasi guru berbeda, siswa cederung percaya pada media sosial.
Oleh karena itu, sebagai guru kita harus mampu menyesuaikan diri dengan kodrat zaman. Era post
truth harus kita hadapi dengan kejernihan rasionalitas dan kematangan emosi. Guru yang hebat
adalah guru yang mampu membawa siswanya menjalani hari ini dan menata masa depan lebih baik
dari hari ini. Mari menjadi jembatan bagi siswa dari era post truth menuju era kebenaran.
Membawa era kebenaran di tengah kebohongan berbalut kebenaran.
TUGAS PERTEMUAN 1
1. Identifikasilah ide pokok setiap paragraf dalam teks tersebut!
2. Tulislah 5 kalimat fakta dan 5 kalimat opini yang terdapat dalam teks!
12
3. Tulislah kalimat yang menandakan struktur dalam teks esai, kritik, dan resensi tersebut!
Pendahuluan
Badan argumen
Simpulan
TUGAS PERTEMUAN 2 DAN 3
1. Pilihlah satu masalah yang ada di sekitarmu!
2. Carilah informasi terkait masalah tersebut dari berbagai sumber!
3. Buatlah 3 kalimat pokok sesuai struktur teks esai, kritik, dan resensi!
4. Kembangkan ketiga kalimat tersebut menjadi masing-masing saatu paragraf!
5. Kembangkan paragraf kedua menjadi beberapa paragraf yang berisi data dan fakta penunjang
teks esai, kritik, dan resensimu!
6. Koreksi kembali teks esai, kritik, dan resensi yang telah kamu buat!
13
LAMPIRAN 4
Lembar Observasi
NO KRITERIA TINGKAT KEMAMPUAN
1 2 3
1 Merespon secara Belum menunjukkan Mampu menunjukkan Mampu menunjukkan
verbal/non verbal kemampuan sama hanya salah satu dari pemahaman melalui
sekali bahasa verbal/non bahasa nonverbal, dan
verbal verbal.
2 Memberikan pertanyaan Mampu bertanya dan Mampu bertanya dan Mampu bertanya dan
tentang isi teks menjawab tentang isi menjawab isi dan menjawab isi dan
dan struktur teks struktur teks struktur teks
3 Partisipasi dalam proses peserta didik peserta didik mengikuti peserta didik
kegiatan belajar mengikuti kegiatan semua kegiatan, tetapi mengikuti semua
belajar ada beberapa peserta kegiatan dengan tuntas
yang tidak tuntas
mengerjakan tugasnya.
4 Profil Mandiri : memiliki kesadaran memiliki kesadaran memiliki kesadaran
memiliki kesadaran akan akan diri dan situasi akan diri dan situasi akan diri dan situasi
diri dan situasi yang yang dihadapi serta yang dihadapi namun yang dihadapi namun
dihadapi serta memiliki memiliki regulasi diri. kurang memiliki tidak memiliki
regulasi diri. regulasi diri. regulasi diri.
5 Profil Bernalar Kritis : memperoleh dan memperoleh dan memperoleh dan
memperoleh dan memproses informasi memproses informasi memproses informasi
memproses informasi serta gagasan dengan serta gagasan dengan serta gagasan dengan
serta gagasan dengan baik, baik, lalu menganalisis baik, namun belum baik, namun tidak
lalu menganalisa dan dan mengevaluasinya, menganalisis dan menganalisis dan
mengevaluasinya, kemudian mengevaluasinya, mengevaluasinya,
kemudian merefleksikan merefleksikan kemudian kemudian
pemikiran dan proses pemikiran dan proses merefleksikan merefleksikan
berpikirnya. berpikirnya. pemikiran dan proses pemikiran dan proses
berpikirnya. berpikirnya.
6 Profil Kritis menghasilkan gagasan, menghasilkan gagasan, menghasilkan gagasan,
menghasilkan gagasan, karya dan tindakan karya dan tindakan karya dan tindakan
karya dan tindakan yang yang orisinil, memiliki dengan mengadaptasi yang banyak
orisinil, memiliki keluwesan berpikir serta kurang memiliki dipengaruhi ide yang
keluwesan berpikir dalam dalam mencari keluwesan berpikir sudah ada dan tidak
mencari alternatif solusi alternatif solusi dalam mencari memiliki
permasalahan. permasalahan. alternatif solusi keluwesan berpikir
permasalahan. dalam mencari
alternatif solusi
permasalahan.
Jumlah skor
Penghitungan nilai:
Skor maksimal = 6
NILAI AKHIR = Skor perolehan X 10
Skor maksimal
14
LAMPIRAN 5
Lembar Asesmen
1. Apakah kamu suka dengan kegiatan pembelajaran ini?
2. Adakah hal menarik lainnya?
3. Cara belajar yang bagaimana yang paling membantumu dalam mempratekkan
4. Kesulitan apa saja yang kamu temui dalam pembelajaran ini?
pembelajaran?
5. Apakah kamu menemukan kesulitan dalam memahami instruksi/perintah?
6. Bagaimana kamu dapat terus mempraktikkan keterampilan ini?
7. Dapatkah kamu merefleksikan pembelajaran hari ini dengan pengembangan kehidupan
sehari-hari?
15
LAMPIRAN 6
Lembar Asesmen
Opini Radar Bojonegoro tanggal 4 Desember 2022
Guru di Era Post-truth
Fenny Yulinanita, [Link].
Guru Bahasa Indonesia SMAN 4 Bojonegoro
Post truth, frasa yang dipopulerkan oleh Steve
Tesich tahun 1992 kini mulai dikenal kembali dan sedang
terjadi di seluruh belahan dunia. Tidak terkecuali Indonesia.
Post truth atau dalam bahasa Indonesia dikenal dengan
pascakebenaran adalah suatu era di mana kebohongan
tampak seperti kebenaran. Cara menampakkan kebohongan
sebagai kebenaran adalah dengan memainkan emosi dan
perasaan netizen.
Apakah Indonesia pernah mengalami era ini? Pernah
dan sedang mengalami. Sejak pilpres tahun 2019, Indonesia
mengalami era post truth. Kebenaran dan kebohongan
tampak samar. Semua tampak sama benar dan tampak sama
bohong. Masyarakat sulit membedakan kebenaran dan kebohongan. Hal itu digunakan dengan sangat baik
oleh mereka yang membutuhkan dukungan.
Apa kaitannya dengan guru?
Tidak dapat dipungkiri, sebagian guru dan semua siswa adalah milenial dan gen Z yang dekat dengan
media sosial. Salah satu alat berkembangnya post truth adalah media sosial. Kenyataan ini memaksa kita
sebagai guru menerima konsekuensi kebenaran yang kita bawa belum tentu diterima oleh siswa. Mereka
lebih dekat dengan media sosial daripada dengan kita.
Tidak jarang kebenaran yang kita bawa hingga berbusa sekadar lewat begitu saja tanpa bermakna.
Materi di kelas tak mereka dengar karena media sosial telah memaparkan banyak hal. Tinggal tik saja,
kebutuhan kita akan keluar di media sosial. Media sosial menyediakan beraneka informasi terkait
pembelajaran. Mereka mampu menjawab soal bukan karena pembelajaran di kelas, tapi karena media sosial
menggelar jawaban atas pertanyaan yang kita berikan.
Apa yang harus dilakukan guru di era post truth?
Menurut data, Indonesia berada di peringkat 10 dunia durasi pengguna media sosial 3 jam 16 menit
perhari. Jumlah pengguna media sosial di Indonesia adalah 191 juta pengguna. Dan kecerdasan rata-rata
orang Indonesia di tahun 2022 adalah 78, 4. Dengan durasi selama itu, jumlah pengguna besar, namun tidak
diimbangi dengan kecerdasan rasional, apa yang akan terjadi pada Indonesia? Tentu saja, berita bohong
(hoaks) akan mudah tersebar dan dipercaya sebagai sebuah kebenaran. Maka tidak mengherankan era post
truth masih berlangsung di negara kita.
Di sinilah posisi guru harus berdiri. Menjadi jembatan siswa dalam memilah informasi di media
sosial. Menghentikan era post truth dan mengembalikan kebenaran pada posisinya. Guru harus mampu
membuka rasional siswa dalam memahami setiap kata dan kalimat dalam media sosial. Lantas, bagaimana
caranya?
Hari ini guru sibuk memaki media sosial. Media sosial dianggap membodohkan murid karena
menyediakan seluruh jawaban materi pembelajaran. Tak jarang murid mendapat hukuman guru karena
jawaban diambil dari media sosial. Menganggap murid kurang kreatif, plagiarisme, atau bahkan tidak mau
menghafalkan materi. Padahal media sosial memang menyuguhkan banyak alternatif informasi lebih dari
yang dikuasai gurunya.
Pembelajaran antigawai adalah pembodohan. Sekolah dan guru tidak bisa lagi memisahkan gawai
dengan pembelajaran. Semakin dipisahkan, ketimpangan pengetahuan dan rasionalitas akan terjadi. Siswa
akan dibiarkan tidak bisa membedakan kebenaran dan kebohongan di media sosial jika pembelajaran
membatasi siswa menggunakan gawai. Di dalam kelas, guru hanya berkutat pada buku. Namun di luar kelas,
siswa mencari semua informasi terkait pertanyaan guru di internet. Lantas, bagaimana guru memahamkan
kebenaran informasi dalam internet jika kita tidak membuka kebohongan di dalam kelas?
16
Satu-satunya cara mengubah post truth adalah bersahabat dengan gawai. Kita biarkan siswa
berselancar mencari informasi di media sosial. Kemudian kita berikan kesempatan menyampaikan hasilnya
dalam pembelajaran. Ketika siswa menyampaikan hasil pencariannya, baru kita refleksikan kebenarannya. Di
sinilah letak guru dalam era post truth. Menjadi penunjuk arah bagi siswa memilah informasi yang benar dan
bohong.
Siswa yang tidak pernah merasa dibohongi media sosial, tidak akan pernah mencari tahu
kebenarannya. Mereka akan cenderung menerima saja semua informasi dari media sosial. Diangap saja
informasi itu benar. Namun, ketika mereka merasakan kebohongan di media sosial, muncullah sikap skeptis.
Sikap tidak mudah percaya pada semua hal yang mereka baca di media sosial. Sikap skeptis adalah salah satu
benteng meminimalisasi post truth.
Seperti kata Ki Hajar Dewantara, tujuan pendidikan adalah menuntun segala kodrat yang ada pada
anak, agar mereka dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya baik sebagai
manusia maupun sebagai anggota masyarakat. Kodrat di sini ada dua macam yaitu kodrat alam dan kodrat
zaman. Kodrat alam adalah bakat yang dimiliki siswa. Sedangkan kodrat zaman adalah era di mana siswa
hidup dan berkehidupan.
Era siswa saat ini berbeda dengan zaman guru sekolah dulu. Ketika guru menjadi siswa, buku dan
guru adalah satu-satunya informasi. Sedangkan sekarang, guru justru menjadi informasi kesekian setelah
media sosial dan lingkungan. Tak jarang informasi guru dibanding-bandingkan dengan informasi di media
sosial. Jika informasi guru berbeda, siswa cederung percaya pada media sosial.
Oleh karena itu, sebagai guru kita harus mampu menyesuaikan diri dengan kodrat zaman. Era post
truth harus kita hadapi dengan kejernihan rasionalitas dan kematangan emosi. Guru yang hebat
adalah guru yang mampu membawa siswanya menjalani hari ini dan menata masa depan lebih baik
dari hari ini. Mari menjadi jembatan bagi siswa dari era post truth menuju era kebenaran.
Membawa era kebenaran di tengah kebohongan berbalut kebenaran.
TUGAS PERTEMUAN 1
1. Identifikasilah ide pokok setiap paragraf dalam teks tersebut!
2. Tulislah 5 kalimat fakta dan 5 kalimat opini yang terdapat dalam teks!
17
3. Tulislah kalimat yang menandakan struktur dalam teks esai, kritik, dan resensi tersebut!
Pendahuluan
Badan argumen
Simpulan
18
LAMPIRAN 7
Lembar Asesmen Sumatif
TUGAS PERTEMUAN 2 DAN 3
1. Pilihlah satu masalah yang ada di sekitarmu!
2. Carilah informasi terkait masalah tersebut dari berbagai sumber!
3. Buatlah 3 kalimat pokok sesuai struktur teks esai, kritik, dan resensi!
4. Kembangkan ketiga kalimat tersebut menjadi masing-masing saatu paragraf!
5. Kembangkan paragraf kedua menjadi beberapa paragraf yang berisi data dan fakta penunjang
teks esai, kritik, dan resensimu!
6. Koreksi kembali teks esai, kritik, dan resensi yang telah kamu buat!
19
LAMPIRAN 8
Lembar Rubrik Penilaian
PERTEMUAN 1
Nmr Deskripsi Skor Bobot
1 Indetifikasi ide pokok dalam teks esai, kritik, dan resensi 2,5
Lengkap
Kurang lengkap 3
Tidak lengkap 2
1
2 Indetifikasi kalimat utama dalam teks esai, kritik, dan resensi 2,5
Lengkap
Kurang lengkap 3
Tidak lengkap 2
1
3 Identifikasi struktur teks esai, kritik, dan resensi 2,5
Tepat
Kurang tepat 3
Tidak tepat 2
1
PERTEMUAN 2 DAN 3
Nmr Deskripsi Skor Bobot
1 Membuat topik teks esai, kritik, dan resensi 5
Lengkap
Kurang lengkap 3
Tidak lengkap 2
1
2 Membuat ide pokok 5
Lengkap 3
Kurang lengkap 2
Tidak lengkap 1
3 Mengembangkan ide pokok 5
Lengkap 3
Kurang lengkap 2
Tidak lengkap 1
4 Mengembangkan data dan fakta penunjang teks esai, kritik, dan 5
resensi
Lengkap 3
Kurang lengkap 2
Tidak lengkap 1
20
LAMPIRAN 9
Lembar Rubrik Sumatif
Nm Deskripsi Skor Bobot
r
1 Menulis teks esai, kritik, dan resensi 10
Tulisan sesuai struktur dan kebahasaan 3
Tulisan sesuai struktur namun kebahasaan masih belum sesuai 2
Tulisan struktur dan kebahasaan belum sesuai 1
Skor x bobot X 100
30
21
LAMPIRAN 10
Lembar
a. Apakah kamu suka dengan kegiatan pembelajaran ini?
b. Adakah hal menarik lainnya?
c. Cara belajar yang bagaimana yang paling membantumu dalam mempratekkan
pembelajaran?
d. Apakah kamu menemukan kesulitan dalam memahami instruksi/perintah?
e. Apakah kamu benar-benar sudah memahami tema dan suasana puisi
f. Apakah kamu bisa untuk membuat simpulan keterkaitan tema puisi dengan kehidupan
sehari-hari.
22