SKENARIO FILM PENDEK
Skenario Film Pendek: "Restu di Balik Mahar”
Tema: Cinta, keluarga, dan adat Bugis-Makassar
Setting:
Rumah keluarga perempuan (suasana Makassar, nuansa adat).
Rumah keluarga laki-laki.
Kampus/fakultas farmasi (singkat).
Kampus/fakultas kedokteran (singkat)
Acara Mappettuada di rumah perempuan.
Alur Cerita
Awal
Setting SMA Angkasa : Andi Nur Aisyah (perempuan – dokter muda) dan (laki-laki
– masih kuliah) pacaran sejak SMA. Mereka berjanji akan serius, tapi belum ada
kepastian.
Keluarga cowok datang melamar secara sederhana dengan membawa uang 50 juta.
Namun keluarga Andi menolak, bukan karena nominal, tapi karena merasa anaknya
seorang dokter, dan calon suami belum jelas masa depannya.
Terjadi perdebatan antara Mama cowok dan keluarga perempuan.
Konflik
Andi menuntut kepastian:
“Mau ma ini sumpah dokter, tapi belum pi ada ancang-ancang mu lamar ka? Serius ki ini
sama hubungan ta kah?”
Si cowok berusaha meyakinkan, tapi masih kuliah:
“Sabar ki dek, tunggu ki saya selesai kuliah.”
Andi khawatir dijodohkan keluarga.
Perkembangan Konflik
Si cowok akhirnya lulus S1 Farmasi, ingin lanjut profesi apoteker.
Andi makin kecewa karena harus menunggu lagi.
“OOH, tunggumi ada undanganku kalau begitu.”
Hubungan mereka hampir putus.
Klimaks
SKENARIO FILM PENDEK
Setelah berdiskusi dengan keluarganya, si cowok sadar jika hanya cinta saja tidak
cukup tanpa keseriusan adat.
Si cowok dan keluarganya akhirnya memutuskan mengikuti tradisi Bugis
Mappettuada.
Penyelesaian
Prosesi Mappettuada: keluarga si cowok datang ke rumah Andi dengan membawa
mahar, uang belanja, seserahan, dan barang-barang sesuai adat.
Kedua keluarga duduk bersama, membicarakan mahar, tanggal pernikahan, dan
kesepakatan lainnya.
Akhir cerita ditutup dengan senyum bahagia Andi dan si cowok, serta pesan moral
bahwa cinta harus dimantapkan lewat adat dan restu keluarga.
Skrip Dialog
Scene 1 – Rumah Andi (Awal Perdebatan)
Mama si cowok :
“Cuma itu ji yang bisa kami siapkan dulu, lima puluh juta. Si cowok masih kuliah juga, Bu.”
Mama Andi:
“Bukan masalah jumlah uangnya, Bu. Tapi bagaimana masa depan anak ta kalau si cowok
belum jelas kerjaannya? Anak saya dokter, tentu kami mau yang terbaik.”
(Suasana tegang, Andi hanya terdiam. Si cowok menunduk.)
Scene 2 – Perdebatan Andi & si cowok
Andi (emosi):
“Mau ma ini sumpah dokter, tapi belum pi ada ancang-ancang mu lamar ka? Serius ki ini
sama hubungan ta kah?”
Si cowok (berusaha tenang):
“Sabar ki dek, masih kuliah ka. Tunggu ki selesai baru saya datang.”
Andi:
“Kalau sampai dijodohkan ka mace ku? Mau mih diapa ini beb?”
Si cowok :
“Dehh kodong jangki begitu. Percayaka sama saya.”
Scene 3 – Beberapa Bulan Kemudian
(si cowok lulus S1, bicara dengan Andi.)
SKENARIO FILM PENDEK
Si cowok :
“Dek, sebentar ji lagi, mauka lanjut profesi apoteker. Tunggu ka lagi dua tahun, kejar gelar
profesiku.”
Andi (kesal):
“OOH! Tunggumi ada undanganku kalau begitu. Ndak mungkin saya tunggu terus sementara
tidak jelas kepastianta!”
(Andi pergi meninggalkan Aji.)
Scene 4
(si cowok curhat ke orang tuanya.)
Si cowok :
“Ma, kalau begini terus, Andi bisa-bisa dijodohkan orang lain. Saya cinta betul sama dia.”
Mama si cowok :
“Kalau begitu, ikutki adat. Kita mappettuada sama keluarganya. Jangan ditunda lagi.”
Scene 5 – Prosesi Mappettuada (Puncak)
(Di rumah keluarga Andi, hadir keluarga besar. Seserahan dibawa: mahar, uang belanja,
dan simbol adat Bugis.)
Tetua keluarga si cowok :
“Assalamualaikum, kami datang untuk memantapkan niat anak kami, Aji, dengan Andi.
Kami siap menerima syarat adat yang berlaku.”
Tetua keluarga Andi:
“Waalaikum salam. Kalau begitu mari kita sepakati bersama. Mahar, uang belanja, dan hari
pernikahan harus jelas.”
(Dialog adat berlanjut, hingga dicapai kesepakatan. Semua tersenyum.)
Scene 6 – Penutup
(si cowok menatap Andi setelah acara selesai.)
Si cowok :
“Alhamdulillah, akhirnya resmi sudah. Terima kasih sudah sabar menunggu.”
Andi (tersenyum haru):
“Baru sekarang saya percaya, kalau cinta ta bukan cuma janji.”
Narator :
“Dalam adat Bugis, cinta tidak cukup hanya kata-kata. Harus dimantapkan lewat
Mappettuada – kesepakataAjian keluarga, restu orang tua, dan adat yang mengikat.”