0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
7 tayangan13 halaman

Teori Akuntansi: Landasan dan Perkembangannya

Makalah ini membahas teori akuntansi sebagai landasan penting dalam praktik akuntansi yang membantu menyusun standar dan meningkatkan transparansi laporan keuangan. Teori akuntansi berkembang seiring dengan perubahan sosial, ekonomi, dan teknologi, serta berfungsi sebagai alat untuk verifikasi dan prediksi praktik akuntansi. Terdapat berbagai metode dan pendekatan dalam merumuskan teori akuntansi yang disesuaikan dengan konteks dan kebutuhan pengguna laporan keuangan.

Diunggah oleh

bugisanrawa
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
7 tayangan13 halaman

Teori Akuntansi: Landasan dan Perkembangannya

Makalah ini membahas teori akuntansi sebagai landasan penting dalam praktik akuntansi yang membantu menyusun standar dan meningkatkan transparansi laporan keuangan. Teori akuntansi berkembang seiring dengan perubahan sosial, ekonomi, dan teknologi, serta berfungsi sebagai alat untuk verifikasi dan prediksi praktik akuntansi. Terdapat berbagai metode dan pendekatan dalam merumuskan teori akuntansi yang disesuaikan dengan konteks dan kebutuhan pengguna laporan keuangan.

Diunggah oleh

bugisanrawa
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

MAKALAH TEORI AKUNTANSI

TEORI AKUNTANSI - DAN PERUMUSANNYA

Dosen Pengampu :

Dr. Dra. Ec Siti Sundari, [Link]., CFA

Disusun Oleh : (Kelompok 2)

1.​ Silva Norma Alisyah ​(22013010023)

2.​ Linda Agustina ​ ​ (22013010024)

3.​ Cici Wulan ​ ​ ​ (22013010031)

4.​ Meydi Silviana Dewi​ ​ (22013010034)

5.​ Dinda Windy A.M​ ​ (22013010040)

6.​ Hendra Sutarto Septiawan ​ (22013010047)

7.​ Sahrul Anam ​ ​ (22013010054)

UPN “VETERAN” JAWA TIMUR

FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS

PROGRAM STUDI AKUNTANSI

KELAS E013
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Akuntansi sebagai bahasa bisnis terus berkembang mengikuti kebutuhan


masyarakat, dunia usaha, serta perkembangan ekonomi global. Pada masa awal, praktik
akuntansi belum memiliki landasan teori yang jelas sehingga setiap pihak menggunakan
metode pencatatan yang berbeda-beda. Kondisi tersebut menimbulkan ketidakpastian dan
kesulitan dalam memahami laporan keuangan, baik bagi manajemen, investor, maupun
pihak eksternal lainnya. Oleh karena itu, dibutuhkan suatu teori akuntansi yang dapat
menjadi pedoman agar praktik akuntansi memiliki arah yang lebih terstruktur serta
mampu menjawab permasalahan yang muncul dalam penerapannya.

Teori akuntansi tidak hanya berfungsi sebagai dasar dalam penyusunan standar,
tetapi juga menjadi acuan untuk menilai, mengembangkan, dan memperbaiki prosedur
akuntansi yang ada. Dengan adanya teori, laporan keuangan dapat disajikan secara
konsisten, dapat diperbandingkan antar entitas, serta dipercaya oleh para pengguna
laporan. Lebih jauh, teori akuntansi memberikan kerangka berpikir yang logis dan
sistematis dalam menghadapi perubahan sosial, politik, dan ekonomi. Kehadiran teori
akuntansi menjadikan praktik akuntansi lebih adaptif terhadap perkembangan zaman,
termasuk dalam merespons teknologi, globalisasi, serta tuntutan transparansi dan
akuntabilitas di era modern.

Selain itu, teori akuntansi juga menjadi dasar dalam proses verifikasi ilmiah
terhadap praktik akuntansi yang sudah ada. Melalui teori, suatu metode pencatatan dapat
diuji kebenaran, relevansi, dan kegunaannya bagi pemakai laporan keuangan. Teori yang
sesuai dengan kondisi nyata akan dipertahankan, sedangkan teori yang tidak relevan perlu
dimodifikasi atau diganti. Dengan demikian, teori akuntansi tidak hanya menjelaskan
fenomena yang terjadi, tetapi juga berfungsi sebagai alat prediksi terhadap praktik
akuntansi di masa depan, sehingga setiap negara perlu mengembangkan teorinya sesuai
dengan konteks ekonomi dan sosial yang dimiliki.
1.2 Rumusan Masalah

1.​ Apa yang dimaksud dengan teori akuntansi dan bagaimana perannya dalam praktik
akuntansi?
2.​ Faktor apa saja yang memengaruhi perumusan teori akuntansi?
3.​ Bagaimana hubungan teori akuntansi dengan penyusunan standar dan kebijakan
akuntansi?
4.​ Mengapa teori akuntansi perlu terus dikembangkan sesuai perubahan ekonomi, sosial,
dan teknologi?

1.3 Tujuan Penulisan

1.​ Untuk menjelaskan pengertian serta fungsi teori akuntansi dalam dunia bisnis dan praktik
akuntansi.
2.​ Untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi perumusan teori akuntansi.
3.​ Untuk menganalisis hubungan antara teori akuntansi dengan penyusunan standar dan
kebijakan akuntansi.
4.​ Untuk memahami pentingnya pengembangan teori akuntansi agar tetap relevan dengan
dinamika lingkungan ekonomi, sosial, dan teknologi modern.​
BAB II

KAJIAN PUSTAKA

(cc)

2.1 A Statement of Basic Accounting Theory (ASOBAT)

A Statement of Basic Accounting Theory (ASOBAT) merupakan suatu dokumen penting


yang berfungsi sebagai kerangka dasar dalam pengembangan teori akuntansi (Adillah S. et al.,
2023). ASOBAT dirancang untuk memberikan landasan konseptual yang jelas mengenai
prinsip-prinsip fundamental akuntansi yang menjadi pedoman dalam penyusunan dan penyajian
laporan keuangan. Dalam ASOBAT, dijelaskan berbagai konsep utama seperti pengakuan
pendapatan, pengukuran aset dan kewajiban, serta penyajian informasi keuangan yang harus
memenuhi kriteria relevansi dan keandalan. ASOBAT juga menekankan pentingnya konsistensi
dalam penerapan prinsip akuntansi agar laporan keuangan dapat dibandingkan antar periode dan
antar entitas. Selain itu, dokumen ini menggarisbawahi perlunya keterbukaan dan transparansi
dalam pelaporan keuangan untuk memenuhi kebutuhan berbagai pemangku kepentingan, seperti
investor, kreditor, dan regulator. Dengan demikian, ASOBAT tidak hanya berperan sebagai
pedoman teoritis, tetapi juga sebagai dasar dalam pengembangan standar akuntansi yang berlaku
secara luas, sehingga membantu meningkatkan kualitas dan kredibilitas laporan keuangan yang
dihasilkan oleh entitas bisnis.

2.2 Teori Akuntansi (Hendra)

​ Teori akuntansi adalah landasan konseptual berupa prinsip, konsep, dan metode yang
digunakan untuk memahami, merancang, dan mengevaluasi praktik akuntansi serta memandu
pengambilan keputusan dan pengembangan regulasi keuangan (Desina at al., 2025). Teori ini
berperan penting dalam memberikan kerangka kerja yang koheren, sehingga praktik akuntansi
tidak sekadar berdasarkan kebiasaan, tetapi memiliki dasar yang kuat dan rasional. Dengan
memahami teori akuntansi, para akuntan dan pengguna laporan keuangan dapat menganalisis
mengapa suatu transaksi dicatat dengan cara tertentu dan bagaimana informasi tersebut dapat
diinterpretasikan secara efektif. Pada akhirnya, teori ini membantu memastikan bahwa informasi
keuangan yang disajikan relevan, andal, dan dapat diperbandingkan, yang sangat krusial bagi
investor, kreditor, dan pihak berkepentingan lainnya dalam membuat keputusan ekonomi yang
tepat.

BAB III

PEMBAHASAN

3.1​ Teori Akuntansi

Pada awal praktik akuntansi belum ada teori yang jelas sehingga banyak metode
pencatatan digunakan secara permisif dan menimbulkan kebingungan. Teori akuntansi
kemudian lahir untuk memberikan kerangka acuan dalam penyusunan standar,
penyelesaian masalah, penentuan judgment, peningkatan pemahaman, serta kualitas
laporan keuangan.

Secara umum, teori adalah susunan konsep, hipotesis, dan prinsip yang sistematis
untuk menjelaskan serta meramalkan fenomena (Webster, McDonald, Kohler, Most).
Dalam konteks akuntansi, teori terdiri dari postulat, definisi, tujuan, prinsip, dan metode
yang menjadi dasar menilai praktik, mengembangkan prosedur baru, serta memperbaiki
pemahaman praktik yang ada.

Teori akuntansi juga memiliki dimensi: reductionism (berangkat dari asumsi


dasar), instrumentalism (alat untuk menjelaskan dan meramalkan), dan realism (proposisi
kebenaran tentang fenomena nyata). Menurut Godfrey et al. (1992), suatu teori diterima
jika mampu menjelaskan praktik, memprediksi realitas, dan menjadi dasar
pengembangan.

Teori lahir dari penelitian ilmiah dengan asumsi bahwa alam teratur, kebenaran
berasal dari fenomena, dan ilmu pengetahuan berdasar pengalaman serta bukti objektif.
Sue (2003) menyebutkan teori memiliki tingkatan, mulai dari teori metafora, diferensiasi,
konseptualisasi, pengaturan, hingga teori agung yang bersifat abstrak dan bebas konteks.

3.2​ Teori dan Pembuat Kebijakan Akuntansi (slv)

Teori akuntansi berperan penting dalam penyusunan kebijakan akuntansi yang dipengaruhi oleh
teori akuntansi, faktor politik, dan kondisi ekonomi. Kebijakan yang dihasilkan menjadi dasar
praktik akuntansi dan diawasi melalui audit agar sesuai dengan prinsip akuntansi. Seiring
perkembangan masyarakat, akuntansi bersifat dinamis dan terus berevolusi, baik dalam konsep,
postulat, prinsip dasar, maupun teknik pencatatan. Prinsip akuntansi (GAAP) pun berubah
sebagai respons terhadap kondisi ekonomi, sosial, teknologi, serta kebutuhan informasi
pengguna laporan keuangan, namun tetap harus berada dalam kerangka teori akuntansi melalui
proses verification theory.

Teori akuntansi tidak hanya berfungsi sebagai aturan teknis, tetapi juga sebagai alat untuk
menjelaskan dan meramalkan praktik akuntansi. Teori ini membantu memahami alasan di balik
perbedaan penerapan metode akuntansi antar perusahaan, seperti metode depresiasi atau
penggunaan LIFO dan FIFO. Dengan metode ilmiah, teori akuntansi berkembang dari normatif
ke positif hingga interpretatif, membuktikan bahwa akuntansi merupakan disiplin ilmu yang
terus menyesuaikan diri dengan dinamika ekonomi dan sosial.

3.3​ Sifat dan Teori Akuntansi (Hendra)

Teori akuntansi adalah susunan konsep, definisi, dalil yang menyajikan secara
sistematis gambaran fenomena akuntansi yang menjelaskan hubungan antara variabel
dengan variabel lainnya dalam struktur akuntansi dengan maksud dapat menjelaskan dan
meramalkan fenomena yang mungkin akan muncul. Hendriksen menilai teori akuntansi
sebagai satu susunan prinsip umum akan dapat:
1.​ Memberikan kerangka acuan yang umum dari mana praktik akuntansi dinilai
2.​ teori akuntansi yang dirumuskan tidak akan mampu mengikuti perkembangan
ekonomi, sosial, teknologi, dan ilmu pengetahuan yang demikian cepat

3.4​ Periodisasi Teori Akuntansi (hendra)

Godfrey et al (1992) membuat periodisasi teori akuntansi sebagai berikut.

1.​ Pre-theory period (1492-1800)

Peragallo mengemukakan bahwa tidak ada teori akuntansi yang dirumuskan sejak
Pacioli sampai pada awal abad ke-19. Kalaupun ada, saran-saran atau
pernyataan-pernyataan belum dapat digolongkan sebagai teori atau pernyataan
yang sistematis.

2.​ General scientific period (1800-1955)

Dalam periode ini sudah ada pengimbangan teori yang penekanan-nya baru
berupa penjelasan terhadap praktik akuntansi. Di sini sudah ada kerangka kerja
untuk menjelaskan dan mengembangkan praktik akuntansi. Akuntansi
dikembangkan berdasarkan metode empiris yang mengutamakan pengamatan atas
kenyataan sehari-hari atau realitas bukan didasarkan pada logika. Laporan AAA
"A Tentative Statement of Accounting Principles Affecting Corporate Reports
pada tahun 1938 serta laporan AICPA tentang A Statement of Accounting
Principle (Sanders, Hatfield dan Moore) merupakan dua contoh perumusan teori
akuntansi berdasarkan metode empiris atau disebut era general scientific ini.

3.​ Normative period (1956-1970)

Dalam periode ini perumus teori akuntansi mencoba merumuskan "norma-norma"


atau "praktik akuntansi yang baik." Kalau dalam periode sebelumnya menekankan
kepada "APA" yang terjadi dalam periode ini "Bagaimana seharusnya" dilakukan,
What should be. Pada periode ini muncul kritik terhadap konsep historical cost
dan pendukung adanya conceptual framework. Beberapa terbitan laporan pada era
ini adalah: An Inquiry into the Nature of Accounting oleh Goldberg yang
diterbitkan pada tahun 1965, AAA menerbitkan A Statement of Basic Accounting
Theory.

4.​ Specific Scientific Period (1970- sekarang)

Periode ini disebut juga positive era. Disini teori akuntansi tidak cukup hanya
dengan sifat normatif, tetapi harus bisa diuji kebenarannya. Norma dinilai
subjektif jadi harus diuji secara positif.

3.5​ Metode Perumusan (Konstruksi) Teori (mey)

Dalam literatur akuntansi, terdapat berbagai metode untuk merumuskan teori


akuntansi. Menurut Belkaoui dan Godfrey, metode tersebut mencakup:

1.​ Metode Deskriptif (Pragmatic)(mey)

Metode ini berfokus untuk menjawab pertanyaan “APA”, yaitu


menggambarkan praktik akuntansi yang sedang berlaku tanpa memberikan
penilaian normatif. Dalam pendekatan ini, akuntansi dipandang sebagai seni yang
bersifat praktis sehingga teori yang dirumuskan bertujuan untuk menjelaskan dan
menganalisis praktik yang diterima saat ini. Metode ini sering disebut sebagai
descriptive accounting atau descriptive theory accounting. Contoh penerapan
metode ini dapat ditemukan pada karya Paul Grady dalam Inventory of General
Accepted Accounting Principle for Business Enterprises serta APB Statement.

2.​ Metode Psyhological Pragmatic(mey)

Metode ini mengamati terkait reaksi pengguna laporan keuangan terhadap


output akuntansi yang disusun sesuai aturan, standar, atau pedoman tertentu. Jika
pengguna memberikan respons positif, hal tersebut menunjukan bahwa informasi
akuntansi yang dihasilkan relevan dan bermanfaat. Pendekatan ini dikenal sebagai
behavioral accounting, yang menekankan pada aspek perilaku dan psikoloho
pengguna.

3.​ Metode Normatif (1950-1960)(mey)


Metode ini berkembang pada era 1950-1960, dimana metode ini berusaha
menjawab pertanyaan “APA YANG SEMESTINYA”. Dalam pendekatan ini,
akuntansi dipandang sebagai seperangkat norma atau aturan ideal yang harus
diikuti, tanpa mempertimbangkan apakah praktik tersebut telah diterapkan atau
belum. Metode ini banyak digunakan untuk membahas isu seperti true income dan
decision usefulness.

4.​ Metode Positive (1970-an)(mey)

Metode ini mulai berkembang pada tahun 1970-an. Metode positive


dimulai dari suatu teori atau model ilmiah yang sudah berlaku, kemudian
digunakan untuk mengamati fenomena nyata yang belum dapat dijelaskan oleh
teori yang ada. Metode ini sering disebut sebagai scientific research atau
quantitative research, karena berbasis data empiris dan bersifat objektif. Namun,
metode ini juga mendapat kritik karena dianggap terlalu kaku dan kurang
memperyimbangkan aspek kontekstual.

3.6​ Pendekatan dalam Perumusan Teori

Teori adalah rumusan yang direduksi dari kenyataan atau praktik. Menurut
Godfrey [Link] (1992) dalam mengaitkan antara teori dan kenyataan.

1.​ Syntactis (mey)

Syntactis adalah hubungan teori dan kenyataan yang dirumuskan dalam


hubungan logis melalui aturan bahasa atau matematika. Menggunakan
silogisme, teori hanya menggambarkan hubungan logis, bukan kebenaran.
Contohnya seperti:

a.​ Premis 1​ : Semua aktiva bersaldo debit


b.​ Premis 2​ : Biaya sewa bersaldo debit
c.​ Kesimpulan​ : Biaya sewa adalah aktiva
2.​ Semantic (sahrul)
3.​ Pragmatic (sahrul)
​ 4. Sosiologis (cc)

Dalam pendekatan ini, yang menjadi perhatian utama dalam perumusan


teori akuntansi adalah dampak sosial dari teknik akuntansi. Jadi yang menjadi
perhatian bukan pemakai langsung akuntansi, tetapi juga masyarakat secara
keseluruhan. Pendekatan inilah sebagai embrio socio economic accounting atau
social responsibility accounting. Pendekatan ini seolah merupakan perluasan dari
konsep etik di mana yang menjadi fokus perhatian adalah kesejahteraan seluruh
masyarakat bukan saja pemilik

​ 5. Makro Ekonomi

Pendekatan ekonomi dalam perumusan teori akuntansi menekankan pada


kontrol perilaku indikator makro ekonomi atau general economic welfare yang
menghasilkan perumusan teknik akuntansi. Dengan demikian, dalam pemilihan
teknik akuntansi didasarkan pada dampaknya pada ekonomi nasional. Misalnya
teknik LIFO lebih menarik daripada FIFO pada masa inflasi.
6. Eklektif
Jika dalam perumusan teori akuntansi digunakan tidak hanya satu
pendekatan, tetapi berbagai kombinasi pendekatan maka disebut eklektif. Dari
literatur lain kita mengenal pendekatan komunikatif (communication theory)
dalam perumusan teori akuntansi. Pendekatan ini dikembangkan oleh Bedford dan
Baldouni yang menganggap bahwa akuntansi adalah sebagai suatu sistem yang
terpadu dalam proses komunikasi. Di sini dirumuskan informasi apa yang perlu
dan disajikan oleh perusahaan kepada para pembaca agar mereka dapat
menggunakannya dalam proses pengambilan keputusan.

3.7​ Perumusan Teori Akuntansi di Indonesia

Sampai saat ini Indonesia masih belum berupaya secara intensif untuk
merumuskan teori maupun standar akuntansinya sendiri. Kita masih tetap menggunakan
teori atau standar akuntansi Amerika atau terakhir dari IASC (International Accounting
Standard Committee) atau IFRS sebagai dasar pengembangan akuntansi di Tanah Air.
Standar Akuntansi Keuangan maupun Pernyataan standar pemeriksaan masih
mengadopsi atau menerjemahkan standar atau pedoman dari Amerika atau IASC dengan
berbagai modifikasi minor. Upaya yang baru dilakukan oleh profesi akuntansi adalah
perumusan prinsip akuntansi Indonesia, namun belum Baja (1991), Belkaoui
menganjurkan agar setiap negara memiliki teori menyentuh dasar teori akuntansinya.

Kriteria atau Pihak atau Sumber yang Memiliki Wewenang Menentukan


Kebenaran

1.​ Dogmatic
Suatu pernyataan atau teori dapat kita sebut benar jika pihak yang menyampaikannya
memiliki wewenang untuk menyampaikan kebenaran itu dan ini tak perlu diuji lagi
2.​ Self Evident
Di sini kebenaran dibuktikan oleh pengetahuan umum pengamatan dan pengalaman.
misalnya disebutkan bahwa akuntansi menggunakan nilai uang atau ukuran moneter.
pernyataan ini rasanya tidak perlu lagi diuji kebenarannya karena sudah terbukti sendiri
berdasarkan pengetahuan pengalaman dan pengamatan kita.
3.​ Scientific
Di sini kebenaran itu dibuktikan oleh suatu metode ilmiah. teori dirumuskan, diuji, dan
seterusnya berulang secara terus-menerus. metode ilmiah ini sangat beragam dan sangat
menarik untuk dibahas.

Perumusan Teori Akuntansi


Dalam bab ini terdapat penjelasan dari belkaoui tentang pendekatan dalam perumusan
teori akuntansi sebagai berikut :
Pendekatan informal yang terbagi dalam
Pragmatis, Praktis, Non-teoris

1.​ Pendekatan Pragmatis, Praktis dan Non Teoritis


Dalam metode ini perumusan teori akuntansi didasarkan pada keadaan dan praktik di
lapangan
2.​ Pendekatan Otoriter
dalam metode ini yang merumuskan teori akuntansi adalah organisasi profesi yang
mengeluarkan pernyataan-pernyataan yang mengatur praktik akuntansi

1.​ Deduktif
Dalam metode ini perumusan teori dimulai dari perumusan dalil dasar akuntansi dan
selanjutnya dari perumusan dasar ini diambil kesimpulan logis tentang teori akuntansi
mengenai hal yang dipersoalkan
2.​ Induktif
Dalam metodenya penyusunan teori akuntansi didasarkan pada beberapa arsiprasi dan
pengukuran khusus dan akhirnya dari berbagai sampel dirumuskan fenomena yang
seragam atau berulang dan diambil kesimpulan umum. apa yang dilalui adalah :
Mengumpulkan semua observasi analisis dan golongkan observasi berdasarkan hubungan
yang berulang-ulang. ditarik kesimpulan dan prinsip akuntansi yang menggambarkan
hubungan yang berulang-ulang kesimpulan umum diuji kebenarannya
3.​ Etik
Dalam pendekatan perumusan teori akuntansi ini digunakan konsep kewajaran, keadilan,
kepemilikan, dan kebenaran. jadi sebenarnya dimensi yang ditanyakan dalam perumusan
teori itu diutamakan dari sudut etikanya tanpa menyebut bahwa pendekatan lain tidak
beretika.

DAFTAR PUSTAKA
Adillah S., Ardyanti C., & Nurlaila N. (2023). Implementasi Teori Akuntansi Dalam Perumusan
Standar Akuntansi Pelaporan Keuangan. Jurnal Riset Akuntansi, 1(2), 199-211.
Desnia, D., Sinaga, D. A., Marpaung, G. S., Marpaung, S. A., & Darma, J. (2025). Teori
Akuntansi dan Perumusannya: Sebuah Kajian Literatur. Jurnal Ilmiah Manajemen, Ekonomi dan
Akuntansi, 5(2), 220-232.

Anda mungkin juga menyukai