0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
6 tayangan115 halaman

Art Therapy dan Risiko Kekerasan Skizofrenia

Proposal ini membahas pengaruh Art Therapy menggambar terhadap risiko perilaku kekerasan pada pasien skizofrenia di Rumah Sakit Khusus Jiwa Soeprapto Bengkulu. Penelitian menunjukkan bahwa Art Therapy dapat menurunkan risiko perilaku kekerasan, dengan hasil analisis bivariat menunjukkan nilai p=0,000. Diharapkan perawat dapat menerapkan Art Therapy secara terprogram dalam perawatan jiwa.

Diunggah oleh

Kath Manila
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
6 tayangan115 halaman

Art Therapy dan Risiko Kekerasan Skizofrenia

Proposal ini membahas pengaruh Art Therapy menggambar terhadap risiko perilaku kekerasan pada pasien skizofrenia di Rumah Sakit Khusus Jiwa Soeprapto Bengkulu. Penelitian menunjukkan bahwa Art Therapy dapat menurunkan risiko perilaku kekerasan, dengan hasil analisis bivariat menunjukkan nilai p=0,000. Diharapkan perawat dapat menerapkan Art Therapy secara terprogram dalam perawatan jiwa.

Diunggah oleh

Kath Manila
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

PENGARUH ART THERAPY MENGGAMBAR TERHADAP RESIKO

PERILAKU KEKERASAN PADA KLIEN SKIZOFERNIA


DI RUANG MURAI A RUMAH SAKIT KHUSUS JIWA
SOEPRAPTO BENGKULU

PROPOSAL
Proposal Ini Diajukan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh Gelar Sarjana
Keperawatan ([Link])

Disusun Oleh
KATH MANILA
NIM :2212614039

PROGRAM STUDI KEPERAWATAN


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN (STIKES)
BHAKTI HUSADA BENGKULU JALAN KINIBALU 8 KEBUN TEBENG
TAHUN 2025

i
PERNYATAAN PERSETUJUAN

Proposal Ini Telah Disetujui Dan Diperiksa Untuk Dipertahankan


Dihadapan Tim Penguji Proposal
Program Studi Keperawatan Stikes Bhakti Husada

Bengkulu, Juli 2025

Komisi pembimbing

Pembimbing I Pembimbing II

[Link], [Link]., MS Ns. Ardiana Podesta [Link]., M. Kep


NUPN: 9990051313 NIDN: 0209067601

ii
PERNYATAAN KEASLIAN PENELITIAN

Dengan ini saya menyatakan bahwa:

1. Skripsi ini adalah asli dan belum pernah diajukan untuk mendapatkan gelar
akademik (sarjana), baik di STIKes Bhakti Husada, maupun diperguruan tinggi
lainnya;
2. Skripsi ini murni gagasan, rumusan, dan hasil penelitian saya sendiri, yang
disusun tanpa bantuan dari pihak lain, kecuali arahan dari tim pembimbing;
3. Dalam skripsi ini tidak terdapat karya atau pendapat yang telah ditulis atau
dipublikasikan orang lain, kecuali secara tertulis dengan jelas dicantumkan
sebagai acuan dalam naskah dengan disebutkan nama pengarang dan
dicantumkan dalam daftar pustaka;
4. Pernyataan ini saya buat dengan sebenarnya dan apabila dikemudian hari dapat
dibuktikan adanya kekeliruan dan ketidak benaran dalam pernyataan ini, maka
saya bersedia untuk menerima sanksi akademik berupa pencabutan gelar
akademik yang telah diperoleh dari karya tulis ini, serta sanksi lainnya sesuai
dengan norma yang berlaku di STIKes Bhakti Husada Bengkulu.

Bengkulu, Juli 2025


Yang Membuat Pernyataan

Materai 10000

Kath Manila
NIM :2212614039

iii
PENGARUH ART THERAPY MENGGAMBAR TERHADAP
RESIKO PERILAKU KEKERASAN PADA PASIEN
SKIZOFERNIA DIRUMAH SAKIT KHUSUS
JIWA SOEPRAPTO BENGKULU

Kath Manila
Program Studi Keperawatan
Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (STIKES) Bhakti Husada Bengkulu xiii + 63
halaman, 2 bagan, 5 tabel, 9 lampiran

ABSTRAK
Resiko perilaku kekerasan adalah respondari stressor yang dialami seseorang dengan
menunjukkan perubahan perilaku seperti mengancam, gaduh, tidak bisa diam,
mondar- mandir, gelisah, intonasi suara keras, ekspresi tegang, bicara dengan
semangat, agresif, nada suara tinggi dan bergembira secara berlebihan yang dapat
merugikan diri sendiri dan orang lain. salah satu terapi yang bertujuan untuk menurunkan
resiko perilaku kekeraan pada pasien skizofernia adalah dengan Art Terapi menggambar.
Tujuan penelitian adalah diketahui pengaruh Art therapymenggambar terhadap resiko
perilaku kekerasan pada pasien skizofernia di rumah sakit khusus jiwa soeprapto
Bengkulu. Penelitian ini menggunakan pre eksperimental design menggunakan pre
dan post test design. Populasi dalam penelitian ini berjumlah 29 orang. Sampel dalam
penelitian ini berjumlah 10 orang. Data yang digunakan adalah data primer dan data
sekunder. Analisis yang digunakan adalah analisis univariat dan analisis bivariat, uji
statistik yang digunakan ujiT Hasil analisis univariat didapatkan nilai rata-rata Resiko
perilaku kekerasan responden sebelum dan dilakukan Art therapymenggambar adalah
27,80 dan 41,50. Hasil analisis bivariat didapatkan nila ip=0,000. Disimpulkan ada
pengaruh Art therapy menggambar terhadap resiko perilaku kekerasan pada pasien
skizofernia di rumah sakit khusus jiwa soeprapto Bengkulu. Diharapkan hasil
penelitian ini perawat dapat menerapkan Art therapy menggambar di ruang perawatan
jiwa secara terprogram disetiap institusi pelayanan keperawatan. Selain itu perlu
dibuat prosedur tetap dan jadwal latihan Art Therapy menggambar secara jelas,
misalnya dengan frekuensi 2 kali/minggu.
KataKunci: Resiko Perilaku Kekerasan, Skizofernia, Art therapy menggambar

iv
THE INFLUENCE OF ART AL THERAPY ON THE RISK OF VIOLENCE IN
SCHIZOPHERNIA PATIENTS AT SOEPRAPTO BENGKULU SPECIAL
MENTAL HOSPITAL
Kath Manila

Nursing Study Program


Husada Bengkulu College of Health Sciences (STIKES).
Xiii +63pages, 2 charts, 5 tables, 9 appendices

ABSTRACT
Risk behavior violence is response from the stressors experienced somebody with
show change behavior like threatening, rowdy, no can besilent, pacing, restless,
intonation voice hard, expression tense, talk with Spirit, aggressive, tone voice tall
And happy in a way excessive which can harm self yourself and others Wrong One
purposeful therapy For lower risk behavior violence in patients schizophrenia is with
Therapy Art draw. Research purposes is is known influence Therapy Art draw to risk
behavior violence against patients schizophrenia at home Sick special soul Soeprapto
Bengkulu. Study This use pre experimental design using pre and post test design.
Population in study This totaling 29 people. Deep sample study This totaling 10
people. Data used are primary data and secondary data. Analysis used is analysis
univariate and analysis bivariate, the statistical test used is the t test. Analysis results
univariate obtained average risk value behavior violence respondents before and
done Therapy Art draw are 27.80 and 41.50. Analysis results bivariate obtained p
value = 0.000. Concluded There isi nfluence Therapy Art draw to risk behavior
violence against patients schizophrenia at home Sick special soul soeprapto
Bengkulu. Expected results study This nurse can apply Therapy Art drawing in space
maintenance soul in a way programmed at each institutionservice nursing. Besides
that need made procedure fixedand scheduled exercise therapy Relaxation muscle
progressive in a way clear , for example with frequency 2 times/ week.

Keywords: Risk of Violent Behavior, Schizophrenia, Art therapyDrawing

v
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan kehadiran Tuhan Yang Maha Esa atas kasih
dan rahmat yang diberikan sehingga penyusunan usulan penelitian ini yang berjudul
“pengaruh Art Therapy menggambar terhadap Resiko perilaku kekerasan pada
Klien skizofernia dirumah sakit khusus jiwa soeprapto bengkulu” ini dapat
selesai tepat pada waktunya.

Dalam kesempatan ini penulis menyampaikan mengucapkan banyak terima


kasih kepada kedua orang tua, sahabat, teman-teman dan pembimbing saya atas
bimbingan, saran, dan kritik yang tiada henti-hentinya dalam penyusunan Proposal
ini. Ucapan terima kasih dan penghargaan penulis disampaikan kepada :
1. Ibu Dr. Hj. Nurhasanah, SKM, Mkes, selaku ketua Yayasan Persada Raflesia
Bengkulu.
2. Bapak H. Rusiandy. SKM, MS, Selaku Ketua Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan
(STIKes) Bhakti Husada Bengkulu. Dan juga selaku pembimbing I yang
banyak memberikan bimbingan, arahan dan masukan dalam pembuatan
proposal ini.
3. Ibu Ns. Feny Marlena, [Link].,[Link], selaku Ketua Program Studi
Keperawatan Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (STIKes) Bhakti Husada
Bengkulu.
4. Seluruh dosen dan staf Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Bhakti Husada
Bengkulu
5. Direktur Rumah Sakit Khusus Jiwa Soeprapto Bengkulu Beserta Staf Yang
Memberikan Bantuan Kepada Penulis Dalam Proses Pengambilan Data.
6. Kedua orangtua dan keluargaku yang telah memberi banyak dukungan,
motivasi, dan perhatian dan bantuan dengan berbagai bentuk baik materi
maupun non materi dalam pembuatan proposal ini.
7. Teman seperjuangan STIKes Bhakti Husada.
Penulis menyadari bahwa dalam penyusunan proposal ini masih banyak
terdapat kekurangan, baik dari isi maupun cara penulisannya. Oleh karena itu, penulis

vi
mengharapkan saran dan kritik yang bersifat membangun guna perbaikan dan
peningkatan kualitas di masa yang akan datang.
Atas segala bantuan yang diberikan, penulis mengucapkan terima ksaih
semoga Tuhan Yang Maha Esa memberikan berkat-Nya yang berlimpah kepada kita
semua.

Bengkulu, Maret 2025

Penulis

vii
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL................................................................................................i
PERNYATAAN PERSETUJUAN..........................................................................ii
PERNYATAAN PENGESAHAN...........................................................................iii
KATA PENGANTAR..............................................................................................iv
DAFTAR ISI.............................................................................................................vi
DAFTAR BAGAN....................................................................................................viii
BAB I PENDAHULUAN.........................................................................................1
A. Latar Belakang.............................................................................................1
B. Rumusan Masalah........................................................................................5
C. Pertanyaan penelitian...................................................................................5
D. TujuanPenelitian...........................................................................................5
E. Manfaat Penelitian........................................................................................6
F. Keaslian Penelitian.......................................................................................6
BAB II TINJAUAN PUSTAKA..............................................................................9
A. Art Therapy..................................................................................................9
1. Defenisi...............................................................................................9
2. Tahapan..............................................................................................13
3. Manfaat Art Therapy Aktivitas Menggambar...............................................17
4. Pelaksanaan Art therapy..............................................................................20
5. Tujuan dan Kegiatan dalam Art therapy..............................................22
B. Skizofrenia...................................................................................................23
1. Defenisi Skizofrenia............................................................................23
2. Epidemiologi Skizofrenia...................................................................23
3. Etiologi Skizofrenia............................................................................24
4. Manifestasi Klinis Skizofrenia............................................................25
5. Fase Terjadinya Skizofrenia...............................................................26
6. Jenis Skizofrenia.................................................................................28
7. Pemeriksaan Penunjang Skizofrenia...................................................29

viii
8. Tatalaksana Skizofrenia......................................................................30
C. Resiko Perilaku Kekerasan...........................................................................32
1. Defenisi Resiko Perilaku Kekerasan...................................................32
2. Faktor Penyebab terjadinya Resiko Prilaku kekerasan.......................33
3. Tanda dan Gejala................................................................................35
4. Rentang Respon Resiko Prilaku Kekerasan.........................................36
5. Penatalaksanaan Resiko Prilaku Kekerasan.......................................36
6. Indikator Pengukuran Resiko Prilaku Kekerasan...............................38
7. Mekanisme Terjadinya Resiko Prilaku Kekerasan..............................40
8. Etiologi................................................................................................42
D. Pengaruh Art therapy menggambar terhadap Resiko perilaku kekerasan pada
Klien Skizofrenia.........................................................................................51
E. Kerangka Konsep.........................................................................................58
F. Hipotesis.......................................................................................................58
BAB III METODE PENELITIAN.........................................................................59
A. Desain Penelitian..........................................................................................59
B. Kerangka Penelitian.....................................................................................59
C. Definisi Operasional.....................................................................................60
D. Tempat Dan Waktu Penelitian.....................................................................61
E. Populasi Dan Sampel...................................................................................61
F. Metode Pengumpulan Dan Pengolahan Data...............................................62
G. Analisis Data................................................................................................65
BAB IV HASIL PENENLITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Hasil Penelitian.............................................................................................63
B. Pembahasan..................................................................................................66
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN...................................................................63
A. Simpulan.......................................................................................................63
B. Saran.............................................................................................................67
DAFTAR PUSTAKA...............................................................................................69
LAMPIRAN..............................................................................................................70

ix
DAFTAR BAGAN

Halaman
Bagan 1 Kerangka konsep..........................................................................................58
Bagan 2 Kerangka Penelitian.....................................................................................59

x
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Skizofrenia merupakan suatu kondisi gangguan psikotik yang ditandai

dengan gangguan utama dalam pikiran, emosi dan perilaku yang terganggu,

dimana berbagai pemikiran tidak saling berhubungan secara logis, persepsi dan

perhatian yang keliru, afek yang datar atau tidak sesuai dengan berbagai

gangguan aktivitas motoric. (Kunter,2009 didalam Makhruzah, 2021)

Skizofrenia merupakan suatu penyakit yang mempengaruhi otak, dan

menyebabkan timbulnya pikiran, persepsi, [Link] dan gejala yang

timbul akibat skizofrenia berupa gejala positif dan negatif seperti perilaku

kekerasan. Resikoperilaku kekerasan merupakan salah satu respon marah yang

diespresikan dengan melakukan ancaman, mencederai diri sendiri maupun orang

lain. Pada aspek fisik tekanan darah meningkat, denyut nadi dan pernapasan

meningkat, marah, mudah tersinggung, mengamuk dan bisa mencederai diri

sendiri. Perubahan pada fungsi kognitif, fisiologis, afektif, hingga perilaku dan

sosial hingga menyebabkan Resikoperilaku kekerasan (Pardede, 2020)

World Health Organization (WHO) pada tahun 2023, prevalensi

gangguan jiwa terdapat sekitar 970 juta penduduk dunia yang hidup mengalami

skizofrenia dengan perbandingan penderita berjenis kelamin perempuan lebih

banyak sekitar 52,4% dibandingan dengan jenis kelamin laki-laki sekitar 47,6%

(WHO,2023)

Menurut data Kementerian Kesehatan pada tahun 2022 menunjukkan

1
bahwa prevalensi skizofrenia psikosis di Indonesia sebanyak 1,8 per mil ART

(Anggota Rumah Tangga) dengan gangguan jiwa. Persentase ART dengan

gangguan jiwa di Indonesia adalah 6,7%atau sekitar 282.654 RT. Data tersebut

menunjukan bahwa dari 1000 rumah tangga hampir terdapat 0 rumah tangga

yang mempunyai 2 ART dengan gangguan jiwa sedangkan Sumatera Barat

menduduki posisi keempat tertinggi yaitu 9,1 per mil 1000 rumah tangga dan

kota Padang7,0 per mil 1000 rumah tangga. (Kemenkes RI,2023)

Di Indonesia sendiri menurut Kementerian Kesehatan (2023), dijumpai

prevalensi penderita skizofrenia sebesar 1.7%, dengan prevalensi tertinggi di

DIYogyakarta (2.7%0), Aceh (2.7%0), Sulawesi Selatan (2.6%0), Bali (2.3 %0),

dan Jawa Tengah (2.3 %0), sedangkan di Jawa Timur prevalensinya sebanyak

2.2 % yang sebelumnya hanya 1.4% (Kemenkes RI, 2023).

Tingginya angka kejadian serta buruknya dampak dari resiko perilaku

kekerasan diperlukan intervensi yang tepat dengan resiko perilaku kekerasan.

Intervensi secara umum yang dilakukan pada Klien dengan perilaku

agresif/Resikoperilaku kekerasan bervariasi yang berada dalam rentang

preventive strategies, Anticipatory Strategies, dan Containment Strategies

(Stuart & Laraia, 2020).

Berdasarkan studi pendahuluan yang di lakukan pada Desember tahun

2024 di Rumah Sakit Khusus Jiwa Soeprapto Bengkulu di dapatkan data Total

Klien Skizofernia pada 3 tahun terkahir: pada tahun 2022 terdapat sebanyak

Klien dan Resiko perilaku kekerasan sebanyak 90 Klien, pada tahun 2023

terdapat Resikoperilaku kekerasan sebanyak 94 Klien, sedangkan pada tahun

2
2024 terdapat Klien dengan Resiko perilaku kekerasan sebanyak 29 Klien. Di

mana berdasarkan data 3 tahun terkahir di dapatkan kasus Klien dengan Resiko

perilaku kekerasan merupakan kasus dengan urutan ke-2 terbanyak di Rumah

Sakit Khusus Jiwa Soeprapto Bengkulu. Saat melakukan survey awal di ruangan

rawat inap Rumah Sakit Khusus Jiwa Soeprapto Bengkulu didapatkan bahwa

alasan masuk keluarga dan penanggung jawab membawa klien untuk dirawat

inap adalah karena mengamuk dan tidak bisa dikendalikan oleh anggota keluarga

maupun lingkungan sekitar.

Berdasarkan Hasil observasi awal di ruang murai A terhadap 6 orang

klien yang dirawat di ruang ranap 4 orang klien tampak agresif seperti muka

merah dan tegang, pandangan tajam, jalan mondar-mandir dan 2 orang lainnya

tampak muka merah dan tegang, mengapkan tangan, bicara kasar suara tinggi

menjerit dan berteriak.

Asuhan keperawatan dasar yang meliputi penerapan strategi pengendalian

resiko perilaku kekerasan merupakan bagian dari tugas perawat dalam

penanganannya di rumah sakit. Metode pelaksanaan meliputi terapi latihan,

mengajarkan keluarga cara merawat Klien yang mengalami resiko perilaku

kekeraan, dan menerapkan standar asuhan keperawatan terjadwal yang diberikan

kepada Klien dengan tujuan menurunkan masalah keperawatan jiwa yang

dihadapinya. (Maulana., 2021).

Pemilihan Terapi Art therapy yang diterapkan mampu menjadi salah satu

terapi untuk penelitian sebagai bentuk intervensi yang di berikan pada Klien

Resiko perilaku kekerasan karena Art therapy merupakan bentuk psikoterapi

3
media yang digunakan berupa pensil,buku gambar, Pensil warna, cat, dan

Penghapus (Adriani & Satiadarma, 2019). Terapi menggambar selain untuk

penyembuhan juga dapat untuk meningkatkan kreativitas Klien.

Art therapy menggambar telah banyak di lingkungan medis, salah satunya

untuk pengobatan penyakit gangguan jiwa seperti Klien dengan resiko perilaku

kekerasan. Melalui terapi ini Klien dapat melepaskan emosi, mengekspresikan

diri melalui cara- cara non verbal dan membangun komunikasi yang baik.

Berdasarkan uraian di atas maka penulis tertarik melakukan peneltiian

tentang “Pengaruh Art Therapy Menggambar terhadap Resiko perilaku kekerasan

pada Klien Skizofernia di Ruang Murai A Rumah Sakit Khusus Jiwa Soeprapto

Bengkulu”

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas, maka rumusan masalah masih adanya

Klien Skizofernia dengan Resiko perilaku kekerasan di Rumah Sakit Khusus Jiwa

Soeprapto Bengkulu

C. Pertanyaan penelitian

Apakah ada Pengaruh Art Therapy Menggambar terhadap Resiko

perilaku kekerasan pada Klien Skizofernia di Ruang Murai A Rumah Sakit

Khusus Jiwa Soeprapto Bengkulu.

D. TujuanPenelitian

1. Tujuan Umum

Tujuan penelitiaan ini adalah Untuk Mengatahui ada Pengaruh Art Therapy

Menggambar terhadap Resikoperilaku kekerasan pada Klien Skizofernia di

4
Ruang Murai A Rumah Sakit Khusus Jiwa Soeprapto Bengkulu.

2. Tujuan Khusus

a) Untuk Mengetahui nilai rata-rata sebelum di berikan Art Therapy

Menggambar Klien Skizofernia dengan resiko prilaku kekerasan

b) Untuk Mengetahui nilai rata-rata setelah di berikan Art Therapy

Menggambar Klien Skizofernia dengan resiko prilaku kekerasan

c) Untuk mengetahui Pengaruh Art Therapy Menggambar terhadap Resiko

perilaku kekerasan pada Klien Skizofernia di Ruang Murai A Rumah

Sakit Khusus Jiwa Soeprapto Bengkulu.

E. Manfaat Penelitian

1. Manfaat Teoritis

Diharapkan penelitian ini dapat menambah pengetahuan dan wawasan

bagi mahasiswa dan khususnya untuk dosen mata kuliah keperawatan jiwa

dapat dijadikan refensi dalam mengajar keperawatan jiwa.

2. Manfaat Praktis

Hasil penelitian ini khususnya bagian komite keperawatan bisa

mengaplikasikan ini diruangan murai A sehingga perawat disana bisa

menerapkan Art therapy ini untuk Pasien Skizofrenia dengan Resiko

perilaku kekerasan.

F. KeaslianPenelitian

Berdasarkan penelusuran peneliti adapun penelitian serupa yang pernah di

teliti oleh :

1. (NurZahra,2023). Analisis intervensi Art therapy menggambar pada Klien

5
Resiko Prilaku Kekerasan dirumah sakit jiwa Dr. Soeharto heerdjan Jakarta

Penelitian bertujuan mengetahui Analisis Intervensi Art therapy Menggambar

di Rumah Sakit Dr. Soeharto Heerdjan Jakarta. Metode penelitian yang

digunakan dalam penelitian ini adalah studi kasus .Hasil penelitian ini

menunjukan bahwa intervensi Art therapy Menggambar untuk menurunkan

tingkat Resiko Prilaku Kekerasan pada Pasien Skizofrenia .Sehingga dapat

disimpulkan bahwa Art therapy Menggambar berpengaruh terhadap

penurunan tanda dan gejala Resiko Prilaku Kekerasan.

2. (Fatihah,2021). Pengaruh Art therapy menggambar terhadap perubahan tanda

dan gejala pada Klien Resiko Prilaku Kekerasan. Metode: Desain Penulisan

ini menggunakan metode literature review yaitu mencari artikel dari Google

cendikia dan Semantik dengan rentang tahun 2011 - 2021 berdasarkan kata

kunci yang ditetapkan. Hasil: Dengan kata kunci Art therapy menggambar,

dan gejala Resiko Prilaku Kekerasan didapatkan artikel terbitan tahun2011-

2021 dalam bahasa Indonesia di dapatkan 243 artikel dan bahasa Inggris di

dapatkan 2. Setelah dilakukan penapisan melalui kriteria inklusi dan eklusi di

dapatkan 10 artikel penelitian dengan topik pembahasan. Hasil telaah

literature pada 10 artikel manyatakan terapi okupasi, dapat megontrol Resiko

Prilaku Kekerasan dan perununan tanda dan gejala dengan hasil penelitian

dari uji Wilcoxon sign rank test didapatkan p=0,000< p=0,010, dapat

merangsang aspek kognitif untuk menurunkan gejala Resiko Prilaku

Kekerasan. Simpulan: aktivitas menggambar efektif untuk mengontrol gejala

Resiko Prilaku Kekerasan karena dapat mengalihkan perhatian Klien dari

6
Resiko Prilaku Kekerasan.

3. (I Wayan candra, 2019) Art therapy aktivitas menggambar terhadap

perubahan Resiko Prilaku Kekerasan pada Klien Skizofrenia Penelitian ini

bertujuan untuk mengetahui pengaruh Art therapy aktivitas menggambar

terhadap perubahan Resiko Prilaku Kekerasan pada Klien skizofrenia.

Jenispenelitian ini adalah Quasy eksperiment pendekatan One-group Pretest-

posttest Design. Teknik sampling dengan non probability sampling Quota

Sampling. Jumlah sampel 30 orang. Setelah dilakukan pengamatan

didapatkan hasil gejala Resiko Prilaku Kekerasan yang dialami Klien

skizofrenia sebelum diberikan Art therapy aktivitas menggambar terbanyak

dalam katagori sedang yaitu 15 orang (50%). Setelah diberikan Art therapy

aktivitas menggambar terbanyak dalam katagori ringan yaitu 21 orang (70%).

Hasil uji Wilcoxon Sign Rank Test didapatkan p = 0,000p < 0,010 yang

berarti ada pengaruh yang sangat signifikan Pemberian Art therapy aktivitas

menggambar terhadap perubahan gejala Resiko Prilaku Kekerasan pada Klien

skizofrenia

7
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Art Therapy

1. Defenisi

Art therapy adalah bentuk layanan kesehatan kepada masyarakat atau

Klien yang mengalami gangguan fisik atau mental dengan menggunakan

latian/aktivitas mengerjakan sasaran yang terseleksi untuk meningkatkan

kemandirian (World Federation of Art Therapy, 2020). Terapi menggambar

adalah bentuk psiko terapi yan gmenggunakan media seni untuk

berkomunikasi. Media seni dapat berupa pensil, buku gambar, pensil warna,

penghapus. (Adriani & Satiadarma, 2021).

Art Therapy merupakan bentuk psikoterapi yang menggunakan

pembuatan karya seni seperti menggambar, mematung, dan lain lain sebagai

proses terapinya. Proses seni merupakan tindakan dalam diri seseorang yang

merefleksikan perasaan dan konflik yang tidak disadarinya secara nyata atau

simbolik. Hasil karya seni ini dapat mengintrepetasikan efektivitas terapi

untuk meningkatkan kesadaran, reality testing, dan pemecahan masalah,

dengan melibatkan pikiran, perasaan, dan tindakan. (Hovland dalam Rifa

Hidayah,2020) mengatakan bahwa art therapy adalah salah satu teknik Klien

dengan seni menggambar. Melalui gambar, individul bisa mendeskripsikan

dan menilai keadaan dirinya sehingga dapat meningkatkan konsep diri

individu. Sedangkan (British Association of Art Therapy dalam Sinta

Natalial,2020) mendefinisikan art therapy merupakan proses psikoterapi

8
yang dilakukan dengan menggunakan media seni.

Art Therapy menurut (American Art Therapy Association,2022)

merupakan profesi dalam bidang klinis yang berfokus dengan pembuatan

seni, yang diterapkan bersama dengan teori psikologis dan pengalaman

manusia dalam psikoterapi. Aktivitas ini terbagi berdasarkan kebutuhan

Klien seperti tenang atau ramai dan aktif atau pasif. Art Therapy merupakan

salah satu teknik terapi dalam konseling yang menggunakan seni sebagai

media utamanya untuk menghasilkan produk yang mencerminkan kondisi,

perkembangan, kepribadian, minat, atau masalah yang sedang dialami oleh

seorang individu,Untuk bisa memahami pesan yang tersirat dari sebuah

terapi seni, membutuhkan perhatian, pemahaman, dan penerimaan dalam

prosesnya. Seseorang bisa menggunakan Art Therapy sebagai media untuk

meluapkan ekspresi dan perasaannya ketika bisa memperhatikan,

memahami, dan menerima seni sebagai terapinya. Art Therapy mampu

mendorong seseorang untuk meluapkan perasaannya melalui penekanan

terhadap seni seperti menggambar, bermain peran, dan lain sebagainya.

Terapi ini menggabungkan psikologi dengan seni yang bisa mengungkap

suatu masalah yang dihadapi oleh klien dengan proses kreatif yang

menyenangkan menggunakan berbagai bahan yang beragam. Art Therapy

bisa menambah kreativitas serta menstabilkan emosi klien bahkan bisa

membantu penyembuhan penyakit mental dan pembentukan karakter

seorang individu. (Menurut Malchiodi,2020)

Art Therapy merupakan salah satu teknik Klien terapi yang ampuh

9
untuk digunakan sebagai sarana untuk berkomunikasi dengan klien, Sampai

saat ini, Art Therapy sudah diakui secara luas mampu mempermudah

komunikasi klien untuk menyampaikan pikiran dan perasaan trauma yang

terlalu menyakitkan sehingga sulit untuk diucapkan dengan kata-kata. Judith

A. Rubin dalam bukunya mengatakan bahwa Art Therapy merupakan salah

satu sarana terapi yang tepat digunakan ketika konselor berhadapan dengan

kelompok individu tertentu khususnya mereka yang kurang aktif secara

verbal atau kata-kata. Seni menjadi media yang lebih nyaman bagi Klien

untuk mengekspresikan dirinya. (Margaret Naumburg dan Edith

Kramer,2020) memiliki pandangan yang berbeda melihat seni dalam art

therapy seni sebagai bentuk ungkapan simbolis, datang dari alam bawah

sadar seperti mimpi, untuk ditimbulkan secara spontan dan dipahami melalui

asosiasi [Link] karena itu, pembuatan karya seni, menjadi dikenal di

bidang Art Therapy sebagai pendekatan yang berfokus pada "produk", dan

disebut sebagai "seni dalam terapi" atau terapi psikoterapis yang berbeda

dengan proses", atau “seni sebagai terapi”, yang menekankan proses kreatif

itu sendiri sebagai penyembuhan. (Edith Kramer,2022) melihat seni sebagai

bentuk sublimasi, yaitu cara menyatukan perasaan dan dorongan yang saling

bertentangan dalam sebuah bentuk estetis melalui proses kreatif. Dalam art

therapy, terapis membantu klien untuk menyalurkan emosi melalui

pengalaman proses pembuatan karya seni. (Freud dalam Feist dan

Feist,2022) mengatakan bahwa sublimasi merupakan penyaluran emosi

melalui hal-hal yang bisa diterima, baik secara kultural ataupun sosial. dia

10
mengatakan bahwa karya seni Michaelangelo merupakan contoh dari

sublimasi.

Art Therapy ini menyajikan serangkaian tahap yang bersifat

teraupetik dengan menggunakan seni sebagai media terapinya. Tahapan

terapi dari pengenalan sampai akhir dan hasil dari keseniannya dapat

digunakan sebagai komunikasi non verbal yang memudahkan klien untuk

mengungkapkan apa yang terpendam pada dirinya. Sehingga pemaknaan

dari karya seni klien ini bisa digunakan dalam pencarian solusi dari masalah

klien Sejatinya, Art Therapy ini sesuai dengan bakat atau nilai-nilai seni

yang dimiliki oleh Klien Seorang konselor hanya membantu dan

mendorong klien agar bisa membuat sebuah karya seni yang bisa digunakan

dan sesuai untuk mengekspresikan kepribadian dan emosinya secara

mendalam. Teknik, peralatan, dan jenis kesenian yang akan digunakan

disesuaikan dengan tujuan klien, usianya, dan perkembangan dirinya

kemudian konselor mengamati dan menanggapi hasil latar belakang klinis.

Terapi ini memang dilakukan sesuai dengan kondisi Klien, namun

pada dasarnya terapi ini tergolong dalam dua jenis yaitu Art Therapy

terstruktur dan Art Therapy tidak terstruktur. Art Therapy terstruktur

merupakan jenis Art Therapy dengan media seni yang sudah disiapkan oleh

konselor yang harus diikuti oleh Klien. Sedangkan pada jenis terapi yang

tidak terstruktur konselor belum menyiapkan media seni yang akan

digunakan.

2. Tahapan

11
Dalam art therapy, konselor memegang kerangka terapi,

merumuskan tujuan dari terapi tersebut, serta menawarkan suatu hubungan

teraupetik yang bertujuan untuk memulihkan kondisi klien. Beberapa hal

penting yang harus dipersiapkan dalam terapi ini adalah persiapkan dalam

terapi ini adalah menentukan media seni yang akan digunakan, proses

pembuatan atau penggunaan seni sebagai terapinya, dan refleksi makna seni

dari sisi [Link], dan refleksi makna seni dari sisi klinisnya.

(Alvina Wong dan Woro Kurnianingrum, 2022) menyebutkan Art

Therapy dilakukan dalam beberapa intervensi sesuai dengan keperluan.

Dalam satu intervensinya terdapat 5 sesi diantaranya adalah warm-up,

recalling event, emotional express and issue, restitution, dan termination.

a. Pemanasan (Warm Up)

Dalam tahap ini, konselor dan klien perlu menciptakan

komunikasi yang nyaman sehingga mempermudah dalam proses

terapi di tahapan berikutnya. Bagian terpentingnya adalah konselor

membangun kenyamanan dan rasa percaya klien atas kerahasiaan

seluruh data selama terapi berlangsung. Konselor juga menjelaskan

beberapa teknis yang perlu dilalui dalam terapi tersebut. Pemanasan

biasanya dilakukan dengan perkenalan, berimajinasi, menggambar

abstrak, dan lain sebagainya.

b. Penggambaran Peristiwa Kembali (Recalling Event)

Pada tahap kedua, klien diminta untuk menggambarkan

12
peristiwa yang telah dilalui sebelumnya. Peristiwa ini terdiri dari

peristiwa menyenangkan (positif) dan peristiwa buruk (negatif) yang

meninggalkan trauma pada dirinya. Penggambaran peristiwa dapat

melalui beberapa media seperti menggambar, bermain peran,

menyanyi, dan lain sebagainya.

c. Mengekspresikan Perasaan dan Masalah yang Dialami (Emotional

Express And Issues)

Klien akan diminta untuk mengungkapkan semua perasaan

yang ada dalam dirinya seperti perasaan marah, sedih, bahagia,

kecewa, dll. Pengungkapan ini juga dapat dilakukan dengan

menggambar, mewarnai, menyusun karya seni, dan lain sebagainya.

d. Restitution

Pada restitusi, konselor mengajak klien untuk menyadari segala

permasalahan yang ada pada dirinya, dan menerima kondisi tersebut.

Kemudian mengajak klien untuk menemukan jalan keluar atau

penyembuhan dari masalah tersebut.

e. Termination

Setelah beberapa tahapan diatas selesai, selanjutnya adalah

terminasi. Dalam tahapan ini merupakan penutup dari sesi terapi.

Dilakukan dengan evaluasi dan diskusi ringan yang dilakukan antara

konselor dan klien. Seharusnya dalam tahap ini klien akan

menceritakan kembali kondisinya dengan nyaman dan menemukan

perubahan emosi yang ada pada dirinya. Menurut Barbara Ganim

13
dalam Mario dkk, art therapy memiliki empat tahapan dasar yaitu

expressing your emmotions, healing the mind, healing the body, dan

transformation of spirit :

(1) Expressing Your Emmotions

Pada tahap ini, klien diminta untuk menjelaskan atau

mendeskripsikan perasaan dan masalah yang sedang dirasakan,

dan menunjukan bagaimana dia menangani masalah tersebut.

(2) Healing The Mind

Konselor akan mengarahkan dan mengajak klien untuk

menemukan jalan keluar atas masalah yang sedang dialaminya.

(3) Healing The Body

Setelah klien menemukan pemecahan atas masalah

yang sedang dialaminya, konselor akan mengarakhan klien

untuk menyadari hal-hal positif yang ada pada dirinya agar

bisa bersyukur dan lebih tenang dalam menjalani kehidupan.

(4) Transformation Of Spirit

Tahapan ini menjadi penutup dari sesi-sesi sebelumnya.

Konselor akan mengajak klien untuk mengevaluasi proses

terapi yang telah dilakukan sebelumnya dan mengekspresikan

perubahan-perubahan positif yang terjadi setelah melakukan

terapi. Vera Maulida, dkk menyebutkan tahapan dari Art

Therapyterdiri dalam 7 tahapan yaitu proses screening,

informed consent, expressing your emotions, healing the mind,

14
healing the body, transformation of the spirit, serta terminasi

dan evaluasi :

a) Screening

Pada sesi ini, konselor melakukan wawancara

kepada klien dengan beberapa kategori pertanyaan.

b) Informed Consent

Di tahap ini, konselor akan menjelaskan tentang

Art Therapydan bagaimana teknis pelaksanaanya serta

manfaat dari terapi ini. Dalam tahap ini, juga bisa diisi

dengan melakukan beberapa pre-test yang bertujuan

untuk mengetahui kondisi klien.

c) Expressing Your Emotions

Konselor akan meminta klien untuk

mencurahkan segala perasaan dan masalah yang sedang

dirasakannya secara bebas dalam media seni gambar.

d) Healing The Mind

Dalam tahap ini klien akan diajak untuk

menemukan jalan keluar dari masalah dan perasaan

buruk yang sedang dialaminya.

e) Healing The Body

Setelah menemukan jalan keluar dan dalam ini

memecahkan masalahnya, klien akan dituntun untuk

mengetahui sisi-sisi positif yang ada pada dirinya untuk

15
terus digali sehingga klien bisa lebih mencintai dirinya.

f) Transformation The Spirit

Setelah semua tahapan diatas dilewati,

selanjutnya klien diminta untuk mengekspresikan

perubahan-perubahan positif yang terjadi pada dirinya

setelah mengikuti serangkaian tahapan terapi seni.

g) Terminasi dan Evaluasi

Penutup dari seluruh tahapan terapi ini adalah

konselor mengajak klien untuk berdiskusi dan

mengevaluasi bagaimana jalannya Art Therapydan apa

penngaruh positif yang terjadi pada diri klien.

3. Manfaat Art Therapy Aktifitas Menggambar

Menurut The British Association of Art Therapyst (2018)

mendefinisikan Art therapy sebagai suatu bentuk psikoterapi yang

menggunakan media sebagai cara utama ekspresi dan komunikasi. Art

therapy atau terapi menggambar telah banyak di lingkungan medis, salah

satunya untuk pengobatan penyakit gangguan jiwa seperti Klien dengan

Resiko perilaku kekerasan Manfaat terapi menggambar pada dasarnya adalah

salah satu penyembuhan. Terapi menggambar ini bermanfaat bagi Klien agar Klien

dapat melepaskan emosi, mengekspresikan diri, mengurangi stress, media untuk

membangun komunikasi serta meningkatkan aktivitas pada Klien gangguan jiwa.

Menurut The British Association of Art Therapyst (2022) Manfaat Art Therapy

sebgai berikut :

16
a) Penyembuhan pribadi. Art Therapybisa membantu memahami

perasaan pribadi dengan mengenali dan mengatasi kemarahan,

kekesalan dan emosi-emosi lainnya. Terapi ini bisa membantu

menyegarkan kembali semangat Klien.

b) Pencapaian pribadi. Menciptakan sebuah karya seni bisa membangun

rasa percaya diri dan memelihara rasa cinta dan menghargai diri

sendiri.

c) Menguatkan Art Therapybisa membantu menggambarkan emosi dan

ketakutan yang tidak bisaan dan ungkap kandengan kata-kata.

Dengan cara ini, Klien lebih bisa mengontrol perasaan-perasaan.

d) Relaksasi dan meredakan stres. Stres kronis bisa membahayakan baik

tubuh maupun pikiran. terapi menggambar bisa digunakan sebagai

penanganan tunggal atau dipadukan dengan teknik relaksasi lainnya

untuk meredakan stres dan kecemasan.

e) Meredakan sakit Art Therapy juga bisa membantu Anda mengatasi

rasa sakit.

f) Terapi ini bisa digunakan sebagai terapi pelengkap untuk

mengobatiKlienyang sakit.

g) Mengeluarkan Hormon

Hipotolamus pada otak. hormon tersebut dikeluarkan oleh

kelenjar pituitari yang terletak di dasar otak. Dampak oksitosin pada

tingkah laku dan respon emosi juga terlihat dalam membangun

ketenangan, kepercayaan, dan stabilitas psikologi. oksitosin juga

17
dianggap sebagai obat ajaib yang dapat membantu meningkatkan

perasaan positif serta kecakapan sosial. Cara supaya hormone

oksitosin dapat meningkat adalah melakukan kegiatan, karena

oksitosin dalam darah akan meningkat yang juga akan bermanfaat

bagi seluruh kesehatan tubuh. dengan melakukan kegiatan , Klien

Resiko Prilaku Kekerasan diharapkan akan mengurangi gejala dari

Resiko Prilaku Kekerasan tersebut.

4. Pelaksanaan Art therapy

Menurut Wahyu (2020) tahapan Art therapy antara lain :

Standar Operasional Prosedur Art Therapy


(SOP)

Tujuan 1. Klien mampumengekspresikan perasaan melalui gambar


2. Klien dapat memberi makna gambar
3. Klien dapat melakukan aktivitas terjadwal untuk mengurangi Resiko
perilaku kekerasan
Setting 1. Terapis dan Klien duduk Bersama
2. Ruangan nyaman dan tenang
Alat 1. Buku gambar
2. Pensil
3. Pensil warna
4. Penghapus

Metode Metode pelaksanaan dapat dilakukan secara individu atau kelompok

Persiapan Ruangan/ tempat yang nyaman.


Langkah Kegiatan 3. Persiapan
a. Memilih Klien yang sesuai dengan indikasi.
b. Membuat kontrak dengan Klien
c. Mempersiapkan alat dan tempat pertemuan
4. Orientasi
a. Salam terapeutik
1) Salam dari terapis kepada Klien
2) Klien dan terapis menggunakan papan nama
5. Evaluasi/validasi
a. Menanyakan perasaan Klien saat ini

18
b. Tanyakan apakah kegiatan art therapy aktivitas
menggambar sudah dilakukan
6. Kontrak
a. Menjelaskan tujuan kegiatan, yaitu mengurangi terjadi
Resiko perilaku kekerasan.
b. Menjelaskan aturan main seperti jika Klien ingin
meninggalkan kelompokmaka harus memintaizin
kepada terapis, lama kegiatan 35 menit, setiap Klien
mengikuti kegiatan dari awal sampai akhir.
7. TahapKerja
a. Persiapan alat seperti, buku gambar, pensil, dan pensil
warna
b. Membagikan kertas, pensil, pensil warna, krayon
kepada klien
c. Menjelaskan tema gambar yaitu menggambar sesuatu
yang disukai atau perasaan saat ini
d. Setelah selesai menggambar terapis mempinta klien
untuk menjelaskan gambar apa dan makna gambar
yang telah dibuat
e. Terapis memberikan pujian kepada klien setelah klien
selesai menjelaskan isi gambarnya
8. Terminasi
a. Evaluasi
1) Menanyakan perasaan klien setelah melakukan
tindakan, terapis memberikan pujian pada klien.
2) Rencana tindak lanjut: terapis menuliskan kegiatan
menggambar pada tindakan harian klien.
3) Kontrak yang akan datang
4) Menyepakati tindakan terapi menggambar yang akan
dating
5) Menyepakatiwaktudan tempat
6) Berpamitan dan mengucapkan salam
Evaluasi Evaluasi dilakukan saat proses Art therapy Aktivitas
Menggambar berlangsung khususnya pada tahap kerja. Aspek
yang dievaluasi adalah kemampuan Klien sesuai dengan
tujuan Art therapy Aktivitas Menggambar, kemampuan yang
diharapkan adalah mampu mengekspresikan perasaan
melaluigambar, memberimakn gambar, dan mengurangi
Resikoperilaku kekerasan (nama Klien, eksperikan perasaan
melalui gambar, makna gambar, mengurangi
RPK)
Dokumentasi Dokumentasikan kemampuan yang dimiliki pada catatan
proses keperawatan tiap Klien. Contoh Klien mengikuti, Art
therapy Aktivitas Menggambar. Klien mampu

19
mengekspresikan perasaan melalui gambar, memberi makna
gambar,dan mengurangi rpk.
Sumber: Ni Putu Sukma Pratiwi (2020)

5. Tujuan dan Kegiatan dalam Art Therapy

Art therapy merupakan salah satu jenis terapi yang menggunakan

seni sebagai medianya. Seni disini bisa berupa gambar, bermain peran, olah

suara, dan lain sebagainya. Dalam prosesnya klien akan diarahkan untuk

membuat suatu produk seni, menggunakan, atau hanya menikmatinya.

Tujuannya adalah untuk membantu klien memahami betul mengenai

pribadinya, membantu untuk mengekspresikan emosi yang terpendam,

mengurangi stres, dan memberi ketenangan dalam hidupnya karena kesenian

dapat menjadikan sesuatu yang sulit atau menyakitkan dapat terlihat tanpa

dinyatakan dengan kata-kata. Terapi ini juga bisa digunakan untuk proses

healing. Karena dengan terapi ini seseorang dapat mengetahui apa yang

menjadi penyebab stresnya,dan menemukan ketenangan dan kenyamanan

ketika membuat atau menyaksikan sebuah produk seni. Tujuan dari terapi ini

bukan hanya untuk menonjolkan bakat seni dari konseli, melainkan untuk

media komunikasi yang bebas antara konselor dan Klien melalui media seni.

Kegiatan dari art therapy meliputi beberapa kegiatan kesenian seperti

menggambar, bermain peran, drama, bermain music, menempel, seni

membentuk dengan plastisin, dll.

B. Skizofrenia

20
1. Defenisi

Skizofrenia adalah gangguan mental kronis yang ditandai adanya

distorsi dalam berpikir, persepsi, emosi, bahasa, dan perilaku sehingga

sangat mempengaruhi aktivitas individu sehari- hari (Hany, 2022).

Skizofrenia suatu kondisi gangguan psikotik yang ditandai dengan

gangguan utama dalam pikiran, emosi dan perilaku yang terganggu, dimana

berbagai pemikiran tidak saling berhubungan secara logis, persepsi dan

perhatian yang keliru, efek yang datar atau tidak sesuai dengan berbagai

gangguan aktivitas motorik (Viana & Gati, 2023).Tanda dan gejala yang

timbul akibat skizofrenia berupa gejala negatif seperti Pikiran negatif. (Rita

Untari, 2023).

2. Epidemiologi Skizofrenia

Skizofrenia adalah masalah kesehatan masyarakat yang

memengaruhi populasi dunia secara global. Meskipun prevalensi penyakit

ini bervariasi secara global, diperkirakan skizofrenia mempengaruhi sekitar

3% orang dewasa dan prevalensi di Sulawesi Selatan adalah 9,5%

(kementrian kesehatan republik indonesia, 2019). Beberapa riset

menunjukkan bahwa kejadian skizofrenia pada laki-laki lebih besar

dibandingkan pada perempuan tetapi tidak semua kasus di dunia

menunjukkan halserupa. kejadian tahunan mencapai angka 15,2% per

100.000 penduduk, kejadian pada imigran juga lebih besar dibanding

penduduk asli. Sebanyak 70% Klien yang dirawat dibagian psikiatri adalah

karena skizofrenia (Zahnia & Sumekar, 2016).

21
3. Etiologi Skizofrenia

a) Gender dan Usia

Prevalensi skizofrenia setara pada laki-laki dan perempuan

namun awitan dan perjalanan penyakitnya berbeda pada pria awitan

terjadi lebih dini. Usia puncak awitan pada pria adalah 8 hingga 25

tahun dan 25 hingga 35 tahun untuk perempuan. Kurang lebih terdapat 3

hingga 10 persen Perempuan yang mengalami awitan diatas usia 40

tahun. beberapa studi menunjukkan bahwa pria cenderung mengalami

hendaya akibat gejala negatif dibandingkan pada perempuan dan

perempuan lebih cenderung memiliki kemampuan fungsi sosial yang

lebih baik daripada laki-laki sebelum awitan penyakit (Sadlock &

Sadlock, 2014).

b) Genetik

Beberapa studi membuktikan adanya hubungan antara genetik

dan kejadian skizofrenia. Orang tua yang menderita skizofrenia

membuat anak merekaberpeluang 40% menderita penyakit yang sama.

Padakembar dizigot, risikoinilebih rendah yaitusekitar 12- 14%

(Sadlock & Sadlock, 2014).

c) Biokimia

Beberapa penelitian menyatakan bahwa perkembangan

skizofrenia berawal dari kelainan pada neurotransmitter seperti

hiperaktivitas dopamin, serotonin, norepinefrin, dan hipoaktivitas asam

gamma aminobutirat yang disingkat GABA (Charlotte Wells, 2020).

22
d) Faktor sosio ekonomi dan kultural

Skizofrenia digambarkan terdapat pada semua kebudayaan dan

kelompok status. di negara maju, jumlah Klien skizofrenia yang tidak

seimbang berada pada kelompok sosio-ekonomi lemah. Mereka

menyatakan bahwa stress yang dialami anggota kelompok

sosioekonomi lemah berperan dalam timbulnya skizofrenia (Parandangi,

2021).

e) Faktor populasi

Kepadatan populasi tempat tinggal individu memiliki korelasi

dengan angka skizofrenia. Semakin besar dan padat suatu populasi

maka prevalensi kejadian skizofrenia juga lebih besar. hal ini juga lebih

berpengaruh pada mereka yang memiliki faktor risiko lain (Sadlock &

Sadlock, 2020).

f) Penyalah gunaan obat-obatan

Mengonsumsi obat-obatan secara tidak bertanggung jawab

seperti kokain, amfetamin, dan metamfemtamin utamanya pada usia

remaja dapat meningkatkan prevalensi terjadinya skizofrenia.

Mengonsumsi alkohol ataupun merokok juga menunjukkan hasil yang

kurang lebih sama (Sadlock & Sadlock, 2020).

4. Manifestasi Klinis Skizofrenia

a) Gangguan proses pikir: asosiasi longgar (berbicara tak nyambung),

intrusi berlebihan, klang asosiasi (pengucapan kata yang memiliki

persamaan tidakd iketahui), alogia (tidak responsif karena kurang kosa

23
kata), neologisme (membuat perkataan atau symbol baru yang tak

diketahui umum).

b) Gangguan isi pikir: waham, adalah keadaan di mana seseorang mempercayai

sesuatu yang salah terlepas dari banyaknya bukti yang mengatakan bahwa

pemikirannya keliru.

c) Gangguan persepsi; ilusi, depersonalisasi dan derealisasi.

d) Gangguan emosi; ada tiga afek dasar yang sering diperlihatkan oleh penderita

skizofrenia (tetapi tidak patognomonik)

e) Gangguan perilaku: perilaku yang unik atau aneh, dapat terlihat seperti

gerakan tubuh yang tak karuan dan menyeringai, perilaku ritual, di luar nalar,

dan agresif serta perilaku seksual yang takpantas.

f) Gangguan motivasi : suatu keadaan dimana seseorang tidak memiliki motif

untuk mencapai tujuannya. misalnya, kehilangan kemauan dan menurunnya

aktivitas.

g) Gangguan neurokognitif; terdapat gangguan atensi, menurunnya kemampuan

untuk menyelesaikan masalah, gangguan memori (misalnya, memori kerja,

spasial dan verbal) serta fungsi eksekutif (Kementrian Kesehatan Republik

Indonesia, 2020).

5. Fase Terjadinya Skizofrenia

a) Fasepremorbid

Fase ini ditandai dengan munculnya ketidak normalan fungsi yang

bisa saja dianggap terjadi sebagai akibat dari efek penyakit tertentu.

Indikator premorbid di antaranya adalah riwayat psikiatri keluarga,

priawat prenatal, komplikasi obstetrik, dan defisit neurologis. Faktor

24
lainnya dapat berupa sikap pemalu dan menarik diri, hubungan sosial

yang kurang baik, dan menunjukkan perilaku antisosial (Chand, Kuckel,

& Huecker, 2022).

b) Faseprodromal

Pada fase ini biasanya timbul gejala Resiko Prilaku Kekerasan yang

onsetnya bermacam- macam mulai dari minggu, bulan, bahkan lebih dari satu

tahun sebelum psikotik menjadi jelas. Semakin tinggi intensitasnya maka

penderita pun akan semakin menarik diri dari lingkungan (Chand, Kuckel, &

Huecker, 2022)

c) Faseaktif

Pada fase aktif, penderita skizofrenia mengalami Resiko Prilaku

Kekerasan, berbagai jenis waham dengan intensitas yang tidak bisa

dikendalikan. bahkan aktivitas sehari-hari pun sudah sangat terganggu

pada fase ini. biasanya, penderita baru mau berobat ketika sudah

memasuki fase aktif (Chand, Kuckel, & Huecker, 2022)

d) Fase residual

Fase ini merupakan tahap terakhir dan paling parah dari skizofrenia di

mana penderita merasa mendengar suara-suara negatif yang membuatnya

terdorong untuk melakukan tindakan yang tidak diinginkan seperti

menyakiti diri sendiri atau bunuh diri (Chand, Kuckel, & Huecker, 2022).

6. Jenis Skizofrenia

a) Skizofrenia paranoid. Salah satu jenis skizofrenia dimana penderitanya

mengalami delusi bahwa orang lain ingin melawan dirinya atau anggota

25
keluarganya. Penderita umumnya juga merasa lebih superior dan

berkuasa dibandingkan musuh-musuh khayalannya. Skizofrenia jenis ini

disebabkan oleh kinerja otak yang terganggu karena faktor genetik dan

lingkungan yang dipicu oleh adanya stress dan trauma (Jain & Mitra,

2022).

b) Skizofrenia disorganisasi (hebefrenik). Skizofrenia ini merupakan jenis yang

ditandai dengan Klien yang memiliki tingkah laku dan ucapan yang sulit untuk

dipahami. Terkadang mereka membuat kata-kata baruyang tidak memiliki arti,

tertawa tanpa alasan yang jelas, atau sibuk dengan dunia mereka sendiri (Jain &

Mitra, 2022).

c) Skizofrenia katatonik. skizofrenia yang ditandai dengan adanya gangguan

pergerakan. Klien biasanya cenderung tak dapat menggerakkan tubuhnya atau

malah bertingkah hiperaktif. pada beberapa kasus juga ditemukan Klienyang

tidak mau berbicara sama sekali atau bisu (Jain& Mitra, 2022).

d) Skizofrenia takterinci. Klien yang menderita skizofrenia jenis ini akan

mengalami Resiko Prilaku Kekerasan, waham dan gejala psikosis aktif yang

menonjol, seperti kebingungan dan/atau inkoheren atau memenuhi kriteria

skizofrenia tetapi tidak dapat digolongkan pada tipe paranoid, katatonik,

hebefrenik, residual dan depresi pasca Skizofrenia (Jain&Mitra, 2022).

e) Skizofrenia residual. skizofrenia ini biasanya tidak menunjukkan gejala umum

layaknya skizofrenia tipe lainnya seperti berkhayal, Resiko Prilaku Kekerasan,

berbicara dan berperilaku yang tidak teratur skizofrenia jenis ini biasanya baru

bisa didiagnosis ketika terjadi sedikitnya satu episode psikotik yang jelas dan

gejala yang berkembang ke arah negatif terlihat menonjol. Klien biasanya

26
bersikap eksentrik dan menarik diri dari lingkungan sosial (Jain & Mitra, 2022).

f) Skizofrenia taktergolongkan. Skizofrenia jenis ini memiliki gambaran klinisnya

berupa waham, Resiko Prilaku Kekerasan, inkoherensi atau tingkat kacau yang

cukup jelas untuk dikenali. Terkadang terdapat gejala lain seperti gangguan

pikiran, afek, dan perilaku (Zahnia&Sumekar,2016).

7. Pemeriksaan Penunjang Skizofrenia

a) Pemeriksaan berat badan (Body Mass Index/BMI), pemeriksaan lingkar

pinggang, dan pemeriksaan tekanan darah.

b) Pemeriksaan laboratorium seperti pemeriksaan darah tepi, pemeriksaan fungsi

hati dan ginjal, profil lipid juga pemeriksaan glukosa sewaktu.

c) PANSS (Positive and Negative Syndrome Scale) adalah instrumen yang

digunakan untuk mengevaluasi Klien dengan perilaku agresif yang hasilnya bisa

digunakan untuk menentukan pendekatan terapi pada Klien (Kementrian

KesehatanRepublikIndonesia,2020).

8. Tatalaksana Skizofrenia

a) Fase akut

Pada fase ini, terapi dilakukan untuk mencegah Klien melukai dirinya

atau orang lain, mengendalikan perilaku yang merusak, mengurangi beratnya

gejala psikotik Klien dan gejala terkait lainnya misalnya agitasi, agresi

dangaduh gelisah (Kementrian Kesehatan Republik Indonesia, 2020). Terapi

diawali dengan berbicara kepada Klien dan memberinya ketenangan. Setelah

Klien sudah tenang, maka selanjutnya dilakukan pemberian obat. Obat bisa

diberikan dalam bentuk oral maupun injeksi namun obat injeksi cenderung

mendapatkan awitan kerja yang lebih cepat. Bila Klien berbahaya, maka perlu

27
dilakukan isolasi atau pengikatan selama 2-4 jam sebelum diberikan obat

(Kementrian Kesehatan Republik Indonesia, 2020). Obat yang diberikan dapat

berupa golongan anti psikotik generasi kedua seperti olanzapine (dosis 10

mg/injeksi intramuskulus, dapat diulang setiap 2 jam dengan dosis maksimal

30 mg/hari) dan aripriprazol (dosis 9,75 mg/injeksi intramuskulus dan dosis

maksimal 29,25 mg/hari). Kemudian ada obat antipsikotika seperti haloperidol

yang bisa diberikan dengan dosis 5 mg/injeksi intramuskulus, dapat diberi

setiap setengah jam dengan mempertimbangkan dosis maksimal 20 mg/hari

(Kementrian Kesehatan Republik Indonesia, 2020) Selain obat-obatan, dapat

dilakukan pula psikoedukasi yang tujuannya mengurangi stimulus berlebih dan

stresor lingkungan. Komunikasi yang baik, adanya lingkungan yang nyaman,

dukungan atau harapan dapat membuat Klien menjadi lebih tenang. adapun

ECT(terapi kejang listrik) juga adalah salah satu terapi lainnya yang biasanya

dilakukan pada Klien skizofrenia kata tonik dan skizofrenia refrakter

(Kementrian Kesehatan Republik Indonesia, 2020).

b) Fase stabilisasi

Fase stabilisasi bertujuan untuk mengontrol remisi gejala,

mengurangi risiko atau kekambuhan serta memaksimalkan proses

penyembuhan yang efektif. Obat- obatan diberikan sesuai dengan dosis

optimal Klien, dilakukan selama 8-10 minggu sebelum masuk ke fase

selanjutnya (Kementrian Kesehatan Republik Indonesia, 2020).

psikoedukasi dilakukan dengan tujuan agar Klien dan keluarga dapat

mengelola gejala skizofrenia yang ada, dapat merawat diri, dan

meningkatkan kepatuhan menjalani pengobatan (Kementrian Kesehatan

28
Republik Indonesia,2020).

c) Fase rumatan

Pada fase ini, dosis obat-obatan mulai diturunkan secara bertahap

hingga dosis minimal namun masih mampu untuk mencegah terjadinya

kekambuhan. Apabila kekambuhan masih terjadi, maka terapi ini

dijalankan selama dua hingga lima tahun tergantung intensitas dan lama

kekambuhan (Kementrian Kesehatan Republik Indonesia, 2020).

Sementara itu, psiko edukasi juga dilakukan pada tahap ini di mana

Klien dipersiapkan untuk kembali pada kehidupan masyarakat. terapi

yang diberikan juga spesifik seperti pelatihan keterampilan sosial,

terapivokal, dan remediasi kognitif. keluarga dan Klien juga diedukasi

agar dapat mengenali dan mengelola gejala prodromal sehingga dapat

mencegah bila muncul kekambuhan (Kementrian Kesehatan Republik

Indonesia, 2020).

C. Resiko Perilaku Kekerasan

1. Defenisi

Resiko perilaku kekerasan merupakan suatu bentuk perilaku yang

bertujuan untuk melukai seseorang secara fisik maupun psikologis.

Berdasarkan definisi tersebut maka Resiko perilaku kekerasan dapat

dilakukan secara verbal dan non verbal, diarahkan pada diri sendiri, orang

lain, dan lingkungan. Resiko perilaku kekerasan pada orang lain adalah

tindak anagresif yang ditujukan untuk melukai atau membunuh orang lain.

Resiko perilaku kekerasan pada lingkungan dapat berupa perilaku merusak

29
lingkungan, melempar kaca, genting dan semua yang ada di lingkungan

(Wulansari dan Sholihah 2021).

Resiko perilaku kekerasan merupakan respon terhadap stressor yang

di hadapi oleh seseorang, yang ditunjukan dengan perlaku aktual melakukan

kekerasan, baik pada diri sendiri, orang lain maupun lingkungan,

secaraverbal maupun nonverbal, bertujuan untuk melukai orang lain secara

visik maupun psikologi. (Berkowitz, 2020)

2. Faktor Penyebab terjadinya Resiko Prilaku kekerasan

Faktor penyebab terjadinya kekerasan sebagai berikut (Direja, 2019):

a) Faktor psikologi

1) Terjadi asumsi, seseorang untuk mencapai suatu tujuan mengalami

hambatan akan timbul dorongan agresif yang memotivasi perilaku

kekerasan.

2) Berdasarkan pengunaan mekanisme koping individu dan masa kecil

yang tidak menyenangkan dan frustasi.

3) Adanya kekerasan rumah tangga, keluarga, dan lingkungan.

b) Faktor Biologis Berdasarkan teori biologi, ada beberapa yang

mempengaruhi Resiko perilaku kekerasan:

1) Beragam komponen sistem neurologis mempunyai implikasi dalam

menfasilitasi dan menghambat impuls agresif.

2) Peningkatan hormon adrogen dan norefineprin serta penurunan

serotin pada cairan serebro spinal merupakan faktor predisposisi

penting menyebabkan timbulnya perilaku agresif seseorang.

30
3) Pengaruh genetik, menurut penelitian perilaku agresif sangat erat

kaitannya dengan genetic termasuk genetik tipe kariotipe XYY,

yang umumnya dimiliki oleh penghuni penjara atau tindak criminal.

4) Gangguan otak, sindrom otak genetik berhubungan dengan

berbagai gangguan serebral, tumor otak (khususnya pada limbic

dan lobus temporal), kerusakan organ otak, retardasi terbukti

berpengaruh terhadap perilaku agresif dan perilaku kekerasan.

c) Faktor Sosial Budaya Norma merupakan kontrol masyarakat pada

kekerasan. Hal ini mendefinisikan ekspresi perilaku kekerasan yang

diterima atau tidak diterima akan menimbulkan sanksi. Budaya

dimasyarakat dapat mempengaruhi perilaku kekerasan.

d) Faktor Presipitasi

Secara umum seseorang akan marah jika dirinya merasa terancam,

baik berupa injuri secara fisik, psikis atau ancaman konsep diri.

Beberapa faktor perilaku kekerasan sebagai berikut:

1) Klien: kelemahan fisik, keputusasaan, ketidak berdayaan,

kehidupan yang penuh agresif, dan masa lalu yang tidak

menyenangkan

2) Interaksi: penghinaan, kekerasan, kehilangan orang yang berarti,

merasa terancam baik internal maupun eksternal.

3) Lingkungan: panas, padat, dan bising.

3. Tanda dan Gejala

Perawat dapat mengidentifikasi dan mengobservasi tanda dan gejala

31
Resiko perilaku kekerasan: (Vahurina dan Rahayu ,2021)

a. Fisik: muka merah dan tegang, atau pandangan tajam, tangan

mengepal, postur tubuh kaku, jalan mondar mandir.

b. Verbal: bicara kasar, suara tinggi, membentak atau berteriak,

mengancam secara fisik, mengumpat dengan kata-kata kotor.

c. Perilaku: melempar atau memukul benda pada orang lain, menyerang

orang lain atau melukai diri sendiri, merusak lingkungan, amuk atau

agresif.

d. Emosi: tidak ade kuat, dendam dan jengkel, tidak berdaya,

bermusuhan, mengamuk, menyalahkan dan menuntut.

e. Intelaktual: cerewet, kasar, berdebat, meremehkan.

f. Spiritual: merasa berkuasa, merasa benar sendiri, mengkritik

pendapat orang lain, menyinggung perasan orang lain, tidak peduli

dan kasar

g. Sosial: menarik diri, penolakan, ejekan, sindiran.

4. Rentang Respon Resiko Prilaku Kekerasan

Adaptif Maladaptif

Bagan 2. 1 Rentang Respon

Asertif Frustasi Pasif Agresif Amuk

a) Asertif : Kemarahan yang diungkapkan tanpa menyakiti orang lain.

b) Frustasi : Kegagalan mencapai tujuan karena tidak realistis atau

terhambat.

32
c) Pasif : Respons lanjutan dimana Klien tidak dapat mengungkapkan

perasaannya.

d) Agresif : Perilaku destruktif tapi masih dapat dikontrol. Orang agresif

biasanya tidak mau mengetahui hak orang lain. Dia berpendapat bahwa

setiap orang harus bertarung untuk mendapatkan kepentingan sendiri

dan mengharapkan perlakuan yang sama dari orang lain.

e) Amuk : perilaku destruktif dan tidak terkontrol. Yaitu rasa marah dan

bermusuhan yang kuat disertai kehilangan control diri. Pada keadaaan

ini individu dapat merusak dirinya sendiri maupun orang lain.

5. Penatalaksanaan Resiko Prilaku Kekerasan

Penatalaksanaan Resiko prilaku Kekerasan menurut (Harwde,2022):

a) Farmakologi

Klien dengan ekspresi marah perlu perawatan dan pengobatan yang

tepat. Adapun pengobatan dengan neuroleptika yang mempunyai dosis

efektif tinggi contohnya: clorpromazine HCL yang digunakan

mengendalikan psikomotornya. Bila tidak ada dapat dipergunakan dosis

efektif rendah, contoh: Trifluoperasine estelasine, bila tidak ada 13 juga

maka dapat digunakan transquelillzer bukan obat anti psikotik seperti

neuroleptika, tetapi meskipun demikian keduannya mempunyai efek anti

tegang, anti cemas, dan anti agitasi.

b) Terapi Okupasi

Terapi ini sering diterjemahkan dengan terapi kerja, terapi ini

33
bukan pemberian pekerjaan atau kegiatan itu sebagai media untuk

melakukan kegiatan dan mengembalikan maupun berkomunikasi, karena

itu didalam terapi ini tidak harus diberikan pekerjaan terapi sebagai

bentuk kegiatan membaca koran, main catur, setelah mereka melakukan

kegiatan itu diajak berdialog atau berdiskusi tentang pengalaman dan arti

kegiatan itu bagi dirinya.

c) Terapi Somatik

terapi somatic terapi yang diberikan kepada Klien dengan gangguan

jiwa dengan tujuan mengubah perilaku tindakan yang ditujukan pada

kondisi fisik Klien, tetapi target terpai adalah perilaku Klien (Prabowo,

2014).

d) Peran serta keluarga Keluarga

Merupakan sistem pendukung utama yang memberikan perawatan

langsung pada setiap keadaan Klien. Perawat membantu keluarga agar

dapat melakukan lima tugas kesehatan yaitu, mengenal masalah

kesehatan, membuat keputusan kesehatan, memberi perawatan pada

anggota keluarga, menciptakan lingkungan keluarga yang sehat, dan

menggunakan sumber daya pada masyarakat. Keluarga yang mempunyai

kemampuan mengatasi masalah akan dapat mencegah perilaku

maladaptive (primer), mengulangi perilaku maladaptive (sekunder) dan

memulihkan perilaku maladaptive dan adaptive sehingga derajat

kesehatan Klien dan keliuarga dapat ditingkatkan secara optimal.

34
6. Indikator Pengukuran Resiko Prilaku Kekerasan

Kuesioner yang digunakan untuk mengukur Penilai Resiko Prilaku

kekerasan merupakan kuesioner yang pernah di guanakan oleh Kadji Tahun

2020 yang terdiri dari 17 pertanyaan yang telah teruji tingkat validitas

reabilitasnya. Penilaian kusioner dengan 2-Skala Guttman Keterangan

Penilaian (Pemberian Skor): Nilai 3, jika klien tidak pernah (T) melakukan

Resiko perilaku kekerasan Nilai 2, jika klien kadang-kadang (K) melakukan

perilaku kekerasan sebanyak 1-2 kali sehari Nilai 1, jika klien sering (S)

melakukan perilaku kekerasan lebih dari 3 kali per hari. Lembar observasi

untuk mengukur kemampuan mengendalikan responden ini, dilakukan

selama 8 kali pertemuan sehingga didapatkan nilai minimal 55 dan nilai

maksimal 100 dengan kategori: Tidak membahayakan diri sendiri dan orang

lain: 56-100, membahayakan diri sendiri dan orang lain : 1-55

Kategor
No Perilaku Klien Pengamatan I Pengamatan II
i

1 Klien mengeluarkan nada T


suara tinggi,menjerit atau S
beteriak K
2 klien mengancam secara T
verbal atau fisik S
K
3 Klien tidak memiliki T
kemampuan merusak S
benda/fasilitas di dalam K
rumah (meja, kursi, tempat
tidur dan lain- lain)
4 Klien berjalan mondar- T
mandir dengan muka S

35
merah dan tegang serta K
pandangan tajam.
5 Klien terlihat dalam kontak T
fisik dengan orang lain S
tanpa melukainya K
(mendorong/ menarik
orang lain)
6 Klien melukai dirinya T
sendiri dan berakibat S
cedera yang serius K
(melukai tubuh)
7 Klien mengancam untuk T
merusak barang/ benda tanpa S
ada rencana untuk K
melakukannya
8 Klien melukai secara fisik T
terhadap orang lain yang S
mengakibatkan cedera ringan K
9 Klien mengungkapkan T
keinginannya pada orang lain S
(keluarga/teman) untuk K
mencederai dirinya
10 Dengan kata-kata, klien T
mengancam orang lain S
(keluarga, tetangga atau K
teman) tanpa ada rencana
untuk melakukannya
11 Klien menggunakan T
benda/fasilitas dengan kasar/ S
membahayakan dengan ada K
niat untuk merusak benda/
fasilitas tersebut (menutup
pintu dengan keras, menaruh
alat makan ke meja dengan
kasar, menata kursi dengan
kasar)
12 Klien terlibat permusuhan T
dengan teman/ siapa saja dan S
melakuan ancaman akan K
melukainya disertai rencana
untuk melakukannya
13 Klien melakukan tindakan T
mencederai diri dan S
mengakibatkan cedera ringan K
(memukul kepalanya atau
membenturkan kepalanya ke
tembok, memukul bagian

36
tubuhnya yang lain seperti
tangan dan kaki)
14 Dengan kata-kata, klien T
membantah nasehat yang S
diberikan K
15 Klien mengancam untuk T
mencederai orang lain dan S
disertai rencana untuk K
melakukannya
16 Klien mengancam akan T
mencederai dirinya sendiri S
tanpa ada rencana untuk K
melakukannya
17 Klien mengancam melakukan T
perusakan kepada benda/ S
fasilitas dalam rumah atau K
luar rumah (fasilitas umum)
dan disertai rencana untuk
melakukannya

(Sumber: Kadji, 2020)

7. Mekanisme Terjadinya Resiko Prilaku Kekerasan

Menurut Prastya, & Arum (2019). Perawat perlu mengidentifikasi

mekanisme koping klien, sehingga dapat membantu klien untuk mengembangkan

koping yang konstruktif dalam mengekpresikan kemarahannya. Mekanisme koping

yang umum digunakan adalah mekanisme pertahan anego seperti displacement,

sublimasi, proyeksi, represif, denialdan reaksi formasi. Perilaku yang berkaitan

dengan risiko perilaku kekerasan antara lain :

a) Menyerang atau menghindar pada keadaan ini respon fisiologis

timbul karena kegiatan system syaraf otonom bereaksi terhadap

sekresi epinefrin yang menyebabkan tekanan darah meningkat,

takikardi,wajah marah, pupil melebar, mual, sekresi HCL meningkat,

peristaltik gaster menurun, kewaspadaan juga meningkat, tangan

37
mengepal,tubuh menjadi kaku dan disertai reflek yang cepat.

b) Menyatakan secara asertif perilaku yang sering ditampilkan individu

dalam mengekspresikan kemarahannya yaitu dengan perilaku pasif,

agresif dan perilaku asertif adalah cara yang terbaik, individu dapat

mengekspresikan rasa marahnya tanpa menyakiti orang lain secara

fisik maupun psikologis dan dengan perilaku tersebut individu juga

dapat mengembangkan diri.

c) Memberontak perilaku muncul biasanya disertai kekerasan akibat

konflik perilaku untuk menarik perhatian orang lain.

d) Resiko perilaku kekerasan tindakan kekerasan atau amuk yang

ditujukan akibat konflik perilaku untuk menarik perhatian orang lain

8. Etiologi

Resiko perilaku kekerasan atau amuk dapat disebabkan oleh frustasi,

takut, intimidasi atau manipulasi. Resiko perilaku kekerasan merupakan

hasil konflik emosional yang belum dapat diselesaikan. Resiko perilaku

kekerasan juga menggambarkan rasa tidak aman, kebutuhan akan perhatian

dan ketergantungan pada orang lain. pada Klien gangguan jiwa Resiko

perilaku kekerasan bisa disebabkan adanya perubahan sensorik persepsi

berupa Resiko Prilaku Kekerasan, baik dengar, visual maupun lainnya. Klien

merasa diperintah olehsuara suara atau bayangan yang dilihatnya untuk

melakukan kekerasan atau Klien merasa marah terhadap suara-suara atau

bayangan yang mengejeknya (Wulansari and Sholihah 2021). menurut

Keliat (2016 dalam (Wulansari and Sholihah 2021) penyebab terjadinya

38
Resiko perilaku kekerasan dapat dijelaskan dengan menggunakan konsep

stres adaptasi. Struart yang meliputi faktor predisposisi (faktor yang

melatarbelakangi) dan faktor presipitasi (faktor yang memicu adanya

masalah).

a) Faktor Predisposisi

Menurut Mafasari (2020) hal-hal yang dapat mempengaruhi

terjadinya Resiko perilaku kekerasan meliputi:

1) Faktor Biologis:

Hal yang dikaji pada faktor biologismeliputiadanya

faktor herediter yaitu adanya anggota keluarga yang sering

memperlihatkan atau melakukan perilaku kekerasan, adanya

anggota keluarga yang mengalami gangguan jiwa, adanya

riwayat penyakit atau trauma kepala, dan riwayat penggunaan

NAPZA (Putri, N, and Fitrianti 2018).

a) Teori dorongan naluri (Instinctual drive theory) Teori

ini menyatakan bahwa Resiko perilaku kekerasan

disebabkan oleh suatu dorongan kebutuhan dasar yang

kuat. penelitian neurobiologi mendapatkan bahwa

adanyapemberian stimulus elektris ringan pada

hipotalamus (yang berada ditengah sistem limbik)

binatang ternyata menimbulkan perilaku agresif.

b) Teori psikomatik (Psycomatic theory) pengalaman

marah dapat diakibatkan oleh respon psikologi terhadap

39
stimulus eskternal maupuninternal. Sehingga sistem

limbic memiliki peran sebagai pusat untuk

mengekspresikan maupun menghambat rasa marah.

2) Faktor Psikologi

Kondisi Klien yang tidak diterima oleh lingkungan

sekitar sebagai salah satu penyebab Klien melakukan

tindakan resiko perilaku kekerasan. Senada dengan Teori

psikoanalitik, teori ini menjelaskan tidak terpenuhinya

kepuasan dan rasaaman dapat mengakibatkan tidak

berkembangnya ego dan membuat konsep diri yang rendah.

agresif dan kekerasan dapat memberikan kekuatan dan

meningkatkan citra diri (Triyani, Dwidiyanti, and Suerni

2019)

3) Faktor Sosial Budaya

Faktor sosial budaya yang mempengaruhi partisipan

mengalami Resiko perilaku kekerasan yaitu, pekerjaan dan

pernikahan (Triyani, Dwidiyanti, and Suerni 2019).

4) Teori lingkungan social

Teori lingkungan sosial (social environment theory)

menyatakan bahwa lingkungan sosial sangat mempengaruhi

sikap individu dalam mengekspresikan marah. Norma budaya

dapat mendukung individu untuk berespon asertif atau

agresif. Resiko perilaku kekerasan dapat dipelajari secara

40
langsung melalui proses sosialisasi (Social learning theory).

Social learning theory menerjemahkan bahwa agresi tidak

berbeda dengan respon-respon yang lain. agresi dapat

dipelajari melalui observasi atau imitasi, dan semakin sering

mendapatkan penguatan maka semakin besar kemungkinan

untuk terjadi. Sehingga seseorang akan beres pon terhadap

keterbangkitan emosionalnya secara agresif sesuai dengan

respon yang dipelajarinya. pembelajaran tersebut bisa internal

maupun eksternal. contoh internal : orang yang mengalami

keterbangkitan seksual karena menonton film erotis menjadi

lebih agresif dibandingkan mereka yang tidak menonton film

tersebut; seorang anak yangmarah karena tidak boleh beli es

krim kemudian ibunya memberinya es agar si anak berhenti

marah, anak tersebut akan belajar bahwa bila amarah maka ia

akan mendapat kanapa yang ia inginkan. contoh eksternal:

seorang anak menunjukan perilaku agresif setelah melihat

seorang dewasa mengekspresikan berbagai bentuk perilaku

agresif terhadap sebuah boneka. Kultural dapat pula

mempengaruhi perilaku kekerasan. Adanya norma dapat

membantu mendefinisikan ekspresi agresif mana yang dapat

diterimaatau tidak dapat diterima. Sehingga dapat membantu

individu untuk mengekspresikan marah dengan cara yang

aserif (Triyani, Dwidiyanti, and Suerni 2019).

41
b) Faktor Presipitasi

Faktor presipitasi Resiko perilaku kekerasan pada seiap individu

bersifat unik, berbeda satu orang dengan yang lain. faktor ini berhubungan

dengan pengaruh stressor yang mencetuskan Resiko perilaku kekerasan

bagi setiap individu. waktu atau lamanya terpapar stessor akan berdampak

terhadap adanya keterlambatan dalam mencapai kemampuan dalam

kemandirian Klien (Giawa 2021). faktor yang dapat menjadi pencetus

terjadinya Resiko perilaku kekerasan antara lain : klien merasakan

kelemahan fisik, keputusan, ketidak berdayaan, kurang percaya diri, dan

lingkungan (ribut, kehilangan orang atau objek yang berharga, konflik

interaksi sosial) (Hulu et al. 2021). kepatuhan pengobatan merupakan

tantangan utama dalam perawatanKlien dengan skizofrenia sehingga dapat

mengurangi kejadian masuk rumah sakit. Stresor tersebut dapat merupakan

penyebab yang berasal dari dalam maupun dari luar individu. Stresor dari

dalam berupa kehilangan relasi atau hubungan dengan orang yang dicintai

atau berarti seperti kehilangan keluarga, sahabat yang dicintai, kehilangan

rasa cinta, kekhawatiran terhadap penyakit, fisik dan lain- lain. Sedangkan

stresor dari luar berupa serangan fisik (Wulansari dan Sholihah, 2021).

Beberapa faktor yang mempengaruhi faktor presipitasi menurut

Triyani, Dwidiyanti dan Suerni (2019) adalah :

a) FaktorPsikologi

1) Frustationaggresion theory

Bilau saha seseorang untuk mencapai suatu tujuan mengalami

hambatan maka akan timbul dorongan agresif yang pada gilirannya

42
akan memotivasi perilaku yang dirancang untuk melukai orang atau

objek. Hal ini dapat terjadi apabila keinginan individu untuk

mencapai sesuatu gagal atau terhambat. keadaan frustasi dapat

mendorong individu untuk berperilaku agresif karena perasaan

frustasi akan berkurang melalui perilaku kekerasan. lingkungan

baru dan tinggal bersama-sama dengan santri lain dalam satu

tempat yang memiliki latar belakang budaya berbeda-beda

memicu tejadinya kesalah pahaman, padatnya jadwal kegiatan

yang membuat mereka merasa tertekan sehingga banyak santri

yang melanggar tata tertib pondok. Aktualisasi diri agar dapat

diterima dan diakui oleh teman sebaya mereka dengan

melakukan tindakan agresif untuk mendapat perhatian

(Damanik and Laia 2022).

2) Teori Perilaku (Behaviororal theory)

Kemarahan merupakan bagian dari proses belajar. hal ini

dapat dicapai apabila tersedia fasilitas atau situasi yang

mendukung reinforcement yang diterima saat melakukan

kesalahan sering menimbulkan kekerasan didalam maupun di

luar rumah (Putri, N, and Fitrianti 2018)

3) Teori Eksistensi (Existential theory)

Salah satu kebutuhan dasar manusia adalah bertindak

sesuai perilaku. apabila kebutuhan tersebut tidak dipenuhi

melalui perilaku konstruktif, maka individu akan memenuhi

43
kebutuhannya melalui perilaku destruktif (Sutejo, 2017).

a. Faktor Sosial Budaya

Teori lingkungan sosial (social lenviron ment

theory) menyatakan bahwa lingkungan sosial sangat

mempengaruhi sikap individu dalam mengekspresikan

marah. Norma budaya dapat mendukung individu untuk

berespon asertif atau agresif. Resiko perilaku kekerasan

dapat dipelajari secara langsung melalui proses sosialisasi

(Social learning theory). Social learning theory

menerjemahkan bahwa agresi tidak berbeda dengan

respon-respon yang lain. agresi dapat dipelajari melalui

observasi atau imitasi, dan semakin sering

mendapatkanpenguatan maka semakin besar kemungkinan

untuk terjadi. Sehingga seseorang akan berespon terhadap

keterbangkitan emosionalnya secara agresif sesuai dengan

respon yang dipelajarinya. Pembelajaran tersebut bisa

internal maupun eksternal. contoh internal : orang yang

mengalami keterbangkitan seksual karena menonton film

erotis menjadi lebih agresif dibandingkan mereka yang

tidak menonton film tersebut. seorang anak yang marah

karena tidak boleh beli es krim kemudian ibunya

memberinya es agar si anak berhenti marah, anak tersebut

akan belajar bahwa bila ia marah maka ia akan

44
mendapatkan apa yang ia inginkan. contoh eksternal :

seorang anak menunjukan perilaku agresif setelah melihat

seorang dewasa mengekspresikan berbagai bentuk perilaku

agresif terhadap sebuah boneka. kultural dapat pula

mempengaruhi perilaku kekerasan. adanya norma dapat

membantu mendefinisikan ekspresi agresif mana yang

dapat diterima atau tidak dapat diterima. Sehingga dapat

membantu individu untuk mengekspresikan marah dengan

cara yang asertif.

b. Faktor Resiko

Menurut Nanda (dalam Sutejo 2017) menyatakan

faktor- faktor risiko dari risiko Resiko perilaku kekerasan

terhadap diri sendiri (risk for self-directedviolence) dan

risiko Resiko perilaku kekerasan terhadaporang lain (risk

for otherdirected violence). Risiko Resiko perilaku

kekerasan terhadap diri sendiri (risk for self- directed

violence).

4) Mekanisme Koping

Menurut Prastya, & Arum (2017). Penulis perlu

mengidentifikasi mekanisme koping klien, sehingga dapat

membantu klien untuk mengembangkan koping yang

konstruktif dalam mengekpresikan kemarahannya. mekanisme

koping yang umum digunakan adalah mekanisme pertahanan

45
ego seperti displacement, sublimasi, proyeksi, represif, denial

dan reaksi formasi. perilaku yang berkaitan dengan risiko

Resiko perilaku kekerasan antara lain :

a. Menyerang atau menghindar

Pada keadaan ini respon fisiologis timbul karena

kegiatan system syaraf otonom bereaksi terhadap sekresi

epinefrin yang menyebabkan tekanan darah meningkat,

takikardi, wajah marah, pupil melebar, mual, sekresi HCL

meningkat, peristaltik gaster menurun, kewaspadaan juga

meningkat, tangan mengepal, tubuh menjadi kaku dan

disertai reflek yang cepat.

b. Menyatakan secara asertif

Perilaku yang sering ditampilkan individu dalam

mengekspresikan kemarahannya yaitu dengan perilaku

pasif, agresif dan perilaku asertif adalah cara yang terbaik,

individu dapat mengekspresikan rasa marahnya tanpa

menyakiti orang lain secara fisik maupun psikologis dan

dengan perilaku tersebut individu juga dapat

mengembangkan diri.

c. Memberontak

Perilaku muncul biasanya disertai kekerasana kibat

konflik perilaku untuk menarik perhatian orang lain. d.

Resiko perilaku kekerasan tindakan kekerasan atau amuk

46
yang ditujukan akibat konflik perilaku untuk menarik

perhatian orang lain

5) Manifestasi Klinis

Menurut Keliat (2016 dalam (Damanik and Laia2022)

tanda dan gejala Resiko perilaku kekerasan sebagai berikut

a. Kognitif

Mempunyai pikiran negatif dalam menghadapi

stressor, mendominasi, bawel, sarkasme, berdebat,

meremehkan keputusan, flight of idea, gangguan berbicara,

perubahan isi pikir, konsentrasi menurun

b. Afektif

Mudah tersinggung, tidak sabar, frustasi, ekspresi

wajah Nampak tegang, merasa tidak nyaman, merasa tak

berdaya, jengkel, dendam, ingin memukul orang lain,

menyalahkan dan menuntut.

c. Fisiologis

Tekanan darah meningkat, nadi dan pernafasan

meningkat, pupil dilatasi, tonus otot meningkat, mual,

frekuensi buang air besar meningkat, kadang-kadang

konstipasi, reflek tendon maningkat, peristaltic gaster

menurun, pengeluaran urine dan saliva meningkat,

kewaspadaan meningkat disertai ketegangan otot seperti

rahang terkatup, tangan dikepal, tubuh jadi kaku, dan

47
desertai refleks yang cepat.

d. Curiga

Mengamuk, ada suara keras dan kasar, perilaku

yang berkaitan dengan kekerasan antara lain menyerang,

menghindar (fight or flight), menyatakan secara asertif

(asertiveness), memberontak (acting out).

6) Penatalaksanaan

a. Medis

a) Nozinan, yaitu sebagai pengontrol perilaku psikososial.

b) Halloperidol, yaitu mengontrol psikosis dan prilaku

merusak diri.

c) Thrihexiphenidil, yaitu mengontrol perilaku merusak

diri dan menenangkan hiperaktivitas.

d) ECT(Elektro Convulsive Therapy),yaitu menenangkan

klien bila mengarah pada keadaan amuk.

b. Penatalaksanaan keperawatan

a) Psiko terapeutik

Psiko terapeutik adalah terapi bicara karena

didasarkan pada percakapan yang dilakukan dengan

psikoterapis, psikiater, terapis atau konselor terlatih. dalam

suasana membina hubungan saling percaya dan terjaga

kerahasiaannya, Klien menceritakan bagian- bagian hidup

yang pernah dialami yang masih teringat jelas dalam

48
ingatannya. berikut Strategi pelaksanaan pada Klien

Skizofrenia dengan Resikoperilaku kekerasan : SP1:

membina hubungan saling percaya (BHSP), membangtu

Klien mengidentifikasi resiko perilaku kekerasannya,

menjelaskan cara mengenal dan mengontrol Resiko

perilaku kekerasan dengan cara nafas dalam dan pukul

bantal. SP 2: melatih Klien mengontrol Resiko perilaku

kekerasan dengan cara: patuh minum obat. SP 3: melatih

Klien mengontrol Resiko perilaku kekerasan dengan cara

verbal. SP 4: melatih Klien mengontrol Resiko perilaku

kekerasan dengan cara spiritual: berdzikir (Siambaton

2020).

b) Lingkungan Terapieutik

Lingkungan terapeutik adalah fasilitas pelayanan

kesehatan untuk Klien dengan Resikoperilaku kekerasan

diharapkan dapat meningkatkan derajat kesehatan,

keamanan, dan hubungan sosial yang normal. Desain

lingkungan yang terapeutik diperlukan untuk Klien

dilingkungan rumah sakit. berikut Strategi Pelaksanaan

pada Klien Skizofrenia dengan resiko perilaku kekerasaan:

SP 1: membina hubungan saling percaya (BHSP),

membangtu Klien mengidentifikasi resiko perilaku

kekerasannya, menjelaskan cara mengenal dan mengontrol

49
Resikoperilaku kekerasan dengan cara nafas dalam dan

pukul bantal.

SP 2: Melatih Klien mengontrol Resiko perilaku kekerasan

dengan cara: patuh minum obat.

SP 3: Melatih Klien mengontrol Resiko perilaku kekerasan

dengan cara verbal.

SP 4: melatih Klien mengontrol Resiko perilaku kekerasan

dengan cara piritual: berdzikir. (Siambaton 2020).

c) Kegiatan hidup sehari-hari (ADL)

Kegiatan hidup sehari-hari merupakan suatu aktifitas

harian Klien yang terjadwal dengan baik dan komperhensif

dimana pada jadwal kegiatan terdapat aspek peningkatan

kesembuhan pada Klien. dalam pelaksanaan kegiatan

sehari-hari pada Klienskizofrenia dengan Resikoperilaku

kekerasan yaitu (SP 1-SP 4) terdiri dari :

1. SP-1 : Membina hubungan saling percaya (BHSP),

membantu Klien mengidentifikasi resikoperilaku

kekerasannya, menjelaskan cara mengenal dan

mengontrol Resikoperilaku kekerasan dengan cara

nafas dalam dan pukul bantal.

2. SP–2 : Melatih Klien mengontrol Resiko perilaku

kekerasan dengan cara: patuh minum obat.

3. SP–3 : Melatih Klien mengontrol Resiko perilaku

50
kekerasan dengan cara verbal.

4. SP–4 Melatih Klien mengontrol Resiko perilaku

kekerasan dengan cara spiritual : berdzikir (Siambaton

2020).

d) Pendidikan Kesehatan

Menurut Notoatmodjo, 2010 pendidikan kesehatan

adalah upaya dalam pembelajaran kepada masyarakat agar

melakukan tindakan- tindakan (praktek) untuk mengatasi

masalah dimasyarakat, kegiatan ini dapat meningkatkan

kesehatannya. perubahan atau tindakan pemeliharaan dan

peningkatan kesehatan yang di hasilkan oleh pendidikan

kesehatan ini didasarkan kepada pengetahuan dan

kesadarannya melalui proses pembelajaran. Sehingga

prilaku tersebut diharapkan akan berlangsung lama dan

menetap (arianti and gusmiati 2018). terapi generalis (SP

1-4) pada Klien dengan Resikoperilaku kekerasan yaitu SP

1 : membina hubungan saling percaya (BHSP),

membangtu Klien mengidentifikasi resiko perilaku

kekerasannya, menjelaskan cara mengenal dan mengontrol

Resikoperilaku kekerasan dengan cara nafas dalam dan

pukul bantal.SP2: melatih Klien mengontrol Resiko

perilaku kekerasan dengan cara: patuh minum obat. SP 3:

melatih Klien mengontrol Resiko perilaku kekerasan

51
dengan cara verbal. SP-4: melatih Klien mengontrol

Resiko perilaku kekerasan dengan cara spiritual : berdzikir

(Siambaton 2020).

D. Pengaruh Art therapy menggambar terhadap Resiko perilaku kekerasan

pada Klien Skizofernia

Art therapy menggambar bermanfaat untuk Klien gangguan jiwa salah

satunya pada Klien skizofernia. Art therapy meggambar dilakukan pada Klien

skizofernia agar dapat melepaskan emosi, mengekspresikan diri, mengurangi

stress, media untuk membangun komunikasi serta meningkatkan aktivitas pada

Klien. Aktivitas menggambar merupakan kegiatan yang dapat membantu

menyampaikan dan mengekspresikan emosi dan pikiran yang mempengaruhi

perilaku yang tidak disadari oleh Klien, selain itu aktivitas menggambar juga

dapat memberikan kegembiraan dan hiburan, serta menarik perhatian Klien

untuk berpartisipasi dalam aktivitas kelompok (Kamariyah, e t a l 2021).

Pemberian Art therapy Menggambar berpengaruh terhadap kemampuan

mengontrol Resiko perilaku kekerasan disebabkan karena saat pelaksanaan Art

therapy Menggambar Klien diajari melalui tuntunan baik oleh fasilitator maupun

pemimpin Art therapy untuk melakukan tindakan menggambar sebagai ekspresi

dari perasaan yang sedang dialami oleh Klien sehingga Klien mampu belajar

mengekspresikan stimulus dengan positif.

Hal ini sesuai dengan teori Purwaningsih (2009) yaitu pemimpin dan

fasilitator dalam Art therapy Menggambar, menjadi motivaror dan memberikan

52
stimulus pada anggota kelompok lain dapat mengikuti jalannya [Link]

penelitian yang menunjukkan ada pengaruh Art therapy Menggambar terhadap

kemampuan mengontrol Resiko perilaku kekerasan menurut pendapat peneliti

dapat disebabkan karena pada saat pelaksanaan Art therapy Menggambar

diberikan reinforcement positif atau penguatan positif yang salah satunya melalui

pujian pada tugas-tugas yang telah berhasil Klien lakukan seperti Klien mampu

mengontrol terhadap musik, mengontrol terhadap gambar, mengontrol terhadap

tontonan, sehingga Klien merasa dihargai karena dapat menyelesaikan suatu

tugas yang diberikan oleh perawat dan punya keinginan kuat untuk mengurangi

perilaku tersebut sehingga terjadi perubahan perilaku yaitu terjadi peningkatan

kemampuan mengontrol perilaku kekerasan.

Hal ini sesuai dengan yang diungkapkan oleh Nasution (2009) bahwa

metode penguatan positif atau reinforcement positif memiliki pengaruh berarti

terhadap pengulangan perilaku. Penguatan positif memiliki kekuatan yang

mengesankan sebagai alat pembentuk perilaku. hasil penelitian ini sesuai dengan

penelitian Tri Wahyuni (2010) tentang Pengaruh Terapi aktivitas kelompok

stimulasi persepsi terhadap kemampuan mengontrol Resiko perilaku kekerasan

pada Klien resiko perilaku kekerasan. hasil analisis menunjukkan ada pengaruh

terapi aktivitas kelompok stimulasi persepsi terhadap kemampuan mengontrol

Resiko perilaku kekerasan pada Klien Resikoperilaku kekerasan dengan hasil (p

= 0,004). Selanjutnya penelitian Candra (2013) yang meneliti tentang pengaruh

terapi kelompok suportif terhadap kemampuan mengatasi Resiko perilaku

53
kekerasan pada klien skizofrenia. hasil analisis menunjukkan ada pengaruh terapi

kelompok suportif terhadap kemampuan mengatasi Resiko perilaku kekerasan

pada klien skizofrenia dengan hasil (p = 0,000). menurut pendapat peneliti

pemberian Stimulasi Sensori efektif dalam mengontrol perilaku kekerasan. Hal

ini disebabkan karena Klien bisa menstimulasi semua panca indra (sensori) agar

dapat mengontrol Resiko perilaku kekerasan yang adekuat setelah mendengar

musik, gambar yang dibuat dan terhadap tontonan TV/Video. dari 10 responden

kelompok perlakuan yang diberikan Stimulasi Sensori 100% mampu mengontrol

perilaku kekerasan. Sedangkan10 responden kelompok kontrol yang mampu

mengontrol perilaku kekerasan.

E. KerangkaKonsep

Art Therapy ResikoPerilakuKekerasan


menggambar pada pasien Skizofernia

Bagan 1 KerangkaKonsep

F. Hipotesis

Ada Pengaruh Art therapy menggambar terhadap Resiko perilaku kekerasan pada

54
Klien Skizofernia di Ruang Murai A Rumah Sakit Khusus Jiwa Soeprapto

Bengkulu

55
BAB III
METODE PENELITIAN

A. Desain Penelitian

Jenis penelitian ini menggunakan metode penelitian kuantitatif dengan desain

penelitian Pra eksperimental one group prestest-posttest. Pada sebuah penelitian

terdapat tes awal sebelum diberikan perlakuan dan juga dilakukan tes akhir

setelah perlakuan, dikarenakan hasil perlakuan dapat diketahui lebih akurat

karena dapat membandingkan dengan keadaan sebelum diberikan

perlakuan(Sugiyono,2018). Penelitianini adalah Art therapy menggambar

terhadap Resiko perilaku kekerasan pada Klien Skizofernia di Ruang Murai A

Rumah Sakit Khusus Jiwa Soeprapto Bengkulu

B. Kerangka Penelitian

O1 X O2

Bagan 2 KerangkaPenelitian

Keterangan:

O1: Resiko perilaku kekerasan pada Klien Skizofernia sebelum diberikan Art

therapy menggambar

X: Intervensi pemberian Art Therapy Menggambar

O2: Resikoperilaku kekerasan pada Klien Skizofernia setelah diberikan Art

therapy menggambar

C. Definisi Operasional

Tabel2. Definisi Operasional

56
No Variablel Definisi Caraukur Alat Hasilukur Skala
ukur ukur
Independen:
1 Art therapy Pelaksanaan art Intervensi SOP Dilakukan sesuai -
menggambar therapy menggambar Dilakukan SOP
yang di berikan sesuaiSOP
sebanyak 2 kali
setiap minggu
selamaminggu pada
Klien resiko perilaku
kekerasan.

Dependen:
2 resiko Respondari Lembar Tidak Interval
Perilaku Stressor yang Cheklist Observasi membahayakan
Kekerasan Dialami diri sendiri dan
Seseorang orang lain:
Dengan 56 -100
Menunjukkan
Membahayan diri
Perubahan sendiri dan orang
Perilaku seperti lain :
Muka merah, 1-55
Pandangan
tajam ,mengatupkan
rahang dengan
kuat,mengepalkan
tangan.
jalan mondar-
mandir,bicara kasar ,
Intonasi suara
Tinggi menjerit atau
beteriak,mengancam
secara verbal atau
fisik
D. Tempat Dan Waktu Penelitian

Penelitian ini di rencanakan akan dilaksanakan di Ruang Murai A Rumah

Sakit Khusus Jiwa Soeprapto Bengkulu, pada bulan April -Mei 2025.

57
E. Populasi Dan Sampel

1. Populasi

Populasi merupakan keseluruhan jumlah objek penelitian yang akan

diteliti (Notoadmodjo, 2018). Apabila seseorang ingin meneliti semua

elemen yang diwilayah penelitian, maka penelitiannya merupakan penelitian

populasi. Populasi dalam penelitian ini adalah jumlah Klien Skizofernia

yang yang mengalami resiko perilaku kekerasan di Ruang Murai A Rumah

Sakit Khusus Jiwa Soeprapto Bengkulu yaitu berjumlah 29 Orang .

2. Sampel Penelitian

Sampel adalah sebagian dari populasi yang diambil dari objek yang

akan diteliti dan dianggap mewakili keseluruhan dari populasi (Notoadmojo,

2018). Sampel adalah sekumpulan pengamanat secara individu yang dipilih

dengan sebuah prosedur khusus .Adapun Teknik yang digunakan pada

penelitian ini adalah purposive sampling adalah teknik pengambilan data

dengan menentukan sampel yang sudah dipertimbangkan. Teknik ini

dilakukan berdasarkan pertimbangan tertentu, bukan berdasarkan strata atau

daerah, melainkan berdasarkan tujuan penelitian. Sugiyono, (2019)

menyatakan bahwa jumlah sampel pada penelitian sederhana berkisaran10-

20 orang. Jumlah sampel pada penelitian ini adalah 10 orang klien dengan

resiko perilaku kekerasan.

Notoatmodjo (2018), mengemukakan agar karekteristik sampel tidak

menyimpang dari populasinya, maka sebelum dilakukan pengambilan

sampel perlu ditentukan kriteria inklusi maupun eksklusi.

58
Adapun sampel yang di ambil menggunakan kriteria sebagai berikut :

a. Dengan kriteria inklusi penelitian adalah:

1) Klien Resiko perilaku kekerasan

2) Klien Resiko perilaku kekerasan yang telah menjalani pengobatan

di ruangan murai A di rumah sakit jiwa Soeprapto kota bengkulu

3) Klien kooperatif

4) Klien yang bersedia menjadi responden

5) Klienyang Berusia 25-30 Tahun

6) Pasien Skizofrenia

b. Kriteria eksklusi penelitian adalah:

1) Klien skizofernia yang tidak mau ikut dalam penelitan.

2) Klien yang meninggalkan tempat penelitian.

F. Metode Pengumpulan Dan Pengolahan Data

1. Pengumpulan Data

Penelitian ini jenis data yang digunakan data premier dan data

sekunder. Data premier adalah data yang didapatkan langsung dari subyek

penelitian. Peneliti melakukan observasi terlebih dahulu pada Klien

Skizofernia dengan resiko perilaku kekerasan. Teknik pengumpulan data

dalam penelitian ini terbagi menjadi tiga bagian yaitu pretest, perlakuan (Art

therapy menggambar) dan post tes, sebelum Diberikan intervensi

keperawatan (Art therapy menggambar terlebih dahulu subyek yang akan

diteliti dilakukan penilaian Resikoperilaku kekerasan dalam lembar

penilaian Kadji tahun 2020. Selanjutnya, subyek yang akan diteliti diberikan

59
intervensi keperawatan Art therapy menggambar.

Sedangkan data sekunder yaitu data yang diperoleh dari dokumen

atau rekam medis Rumah Sakit Khusus Jiwa Soeprapto Bengkulu meliputi

jumlah data yang akan diteliti, yaitu jumlah Klien yang sedang dirawat

dengan resiku perilaku kekerasan.

Beberapa langkah-langkah yang dilakukan peneliti dalam

pengumpulan data sebagai berikut:

a. Mengurus surat izin penelitian dengan membawa surat dari STIKes

Bhakti Husada Bengkulu untuk ditujukan kepada bagian Manajemen

Rumah Sakit Khusus Jiwa Soeprapto Bengkulu

b. Menemui responden yang memenuhi criteria inklusi

c. Melakukan kordinasi dengan perawat ruangan terkait dengan proses

penelitian yang akan di lakukan

d. Meminta bantuan pada perawat ruang terkait dengan proses

penelitian yang akan di lakukan.

e. Memperkenalkan diri, maksud dan tujuan penelitian

f. Meminta Klien menandatangani lembar informedconsent bagi

responden yang bersedia

g. Menjelaskan cara pengisian kuesioner pada responden

h. Mengkaji Resikoperilaku kekerasan menggunakan penilaian Kadji

tahun 2020 sebelum memberikan intervensi.

i. Memberikan intervensi Art therapy menggambar.

j. Mengkaji Resikoperilaku kekerasan menggunakan penilaian Kadji

60
tahun 2020 setelah diberikan intervensi.

2. Pengelolaan Data

Notoatmodjo (2018), mengemukakan bahwa kegiatan dalam proses

pengelolaan data meliputi:

a) Editing (pemeriksaan)

Dalam penelitian ini memastikan kembali kelengkapan data yang

diperoleh kemudian untuk memudahkan pengecekan kelengkapan

data yang diperlukan untuk mencapai tujuan penelitian dilakukan

pengelompokkan dan penyusunan data. Data ini dikelompokkan

berdasarkan pertimbangan peneliti sendiri dengan maksud untuk

memudahkan pengelolaan data.

b) Coding(pengodeandata)

Coding merupakan kegiatan mengubah data bentuk huruf menjadi

data/bilangandenganmemberikankode-kodesetiapvariabeldengan

maksud untuk mempermudah pengelolaan data tahapan ini

memudahkan peneliti dalam mengelompokkan data yang didapat.

c) Processing(memproses)

Selanjutnya setelah semua isi format pengumpulan data diperiksa dan

melewati pengkodean, maka langka selanjutnya dan memproses agar

dapat di analisis dengan cara memasukan data format pengumpulan

data ke komputer.

d) Tabulating

Menganalisi data yang telah di ambil dimasukkan dalam bentuk

61
variabel penelitian agar lebih mudah dalam pembacaan.

e) Entrydata

Data yang didapatkan kemudian dimasukan ke dalam program

komputer untuk selanjutnya dilakukan analisa data.

f) Clearningdata

Tahap ini untuk memeriksa kembali data yang ada di program

computer dalam bentuk table distrubusi frekuensi untuk memastikan

bahwa tidak ada kesalahan dalam entry data.

G. Analisis Data

1. Analisis Univariat

Analisis data univariat adalah analisa yang bertujuan untuk

menjelaskan atau karakteristik masing-masing variabel yang diteliti

(Notoatmodjo, 2018). Variabel yang berbentuk kategorik (jenis kelamin)

disajikan dalam bentuk proporsi, sedangkan variabel yang berbentuk

numerik (perbedaan perilaku agresife sebelum dan sesudah diberikan

perlakuan) berupa nilai disajikan dalam bentuk mean, minimal dan

maksimum, standar deviasi. Analisis penelitian ini dilakukan dengan

komputerisasi dengan menggunakan SPSS untuk melihat Art therapy

menggambar terhadap Resikoperilaku kekerasan pada Klien Skizofernia di

Rumah Sakit Khusus Jiwa Soeprapto Bengkulu. Dan nilai tersebut di nilai

berdasarkan kuantitas diolah dengan rumus mean/rerata menggunakan

SPSS.

62
2. Analisis Bivariat

Analisis bivariat adalah analisa untuk menguji hubungan signifikan

antara dua variabel (dependent dan independen) atau bisa juga untuk

mengetahui apakah ada perbedaan yang signifikan antara dua atau lebih

kelompok (Notoatmodjo,2018). Uji normalitas dilakukan untuk melihat data

berdistribusi normal atau tidak. Sebelum dilakukan uji hipotesis penelitian

melakukan uji normalitas menggunakan uji Shapiro-Wilk, untuk menentukan

jenis uji hipotesis yang digunakan didapatkan nilai p>0,05 yang artinya

berdistribusi normal. Uji t digunakan untuk menguji beda dari mean dari 2

hasil pengukuran kelompok yang sama (misalnya beda mean pretest dan

posttest) jika asumsi tidak terpenuhi (data tidak berdistribusi normal)

(Kelana, 2016). Penelitian ini dalam proses pengelolahan data menggunakan

sistem computerisasi dengan program SPSS.

63
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Penelitian

Penelitian ini dilakukan pada tanggal 07 Juli – 6 Agustus diRumah Sakit

Khusus Jiwa Soeprapto Bengkulu, dengan jumlah sampel sebanyak 10 orang.

Pengumpulan data menggunakan data primer, yakni data hasil pengukuran

Resiko Perilaku Kekerasan pada pasien skizofernia yang diperoleh dari

pengukuran secara langsung menggunakan alat ukur penilaian Resiko Perilaku

Kekerasan sebelum dan sesudah dilakukan Arth Therapy menggambar. Dan data

sekunder, yakni data pasien skizofernia yang diperoleh dari medical record

Rumah Sakit Khusus Jiwa Soeprapto Bengkulu.

Kegiatan ini dilakukan selama 2 minggu ( 2 kali pertemuan / minggu

untuk melakukan Arth Therapymenggambar pada setiap pasien, Dimana setiap

pasien diberikan total Arth Therapymenggambar sebanyak 4 kali selama 2

minggu ) selama 35menit. Pada waktu pengukuran Resiko Perilaku Kekerasan

pada pasien skizofernia yang di rawat di Rumah Sakit Khusus Jiwa Soeprapto

Bengkulu sebelum dilakukan Arth Therapy menggambar, dilakukan pada

pertemuan pertama penelitian dan pengukuran Resiko Perilaku Kekerasan pada

pasien skizofernia yang di rawat di Rumah Sakit Khusus Jiwa Soeprapto

Bengkulu sesudah dilakukan Arth Therapymenggambar pada pertemuan ke

empat penelitian. Hasilnya kemudian dikelompokkan kedalam masing-masing

variabel.

Setelah itu data diolah dengan menggunakan komputer (Program SPSS),

64
yang dianalisis secara univariat dan bivariat dengan menggunakan uji T. Data

yang telah dikumpulkan dianalisis sebagai berikut:

1. Analisis Univariat

Analisis ini dilakukan untuk mengetahui yakni nilai rata-rata

Resiko Perilaku Kekerasan pada pasien skizofernia Rumah Sakit Khusus

Jiwa Soeprapto Bengkulu sebelum dan sesudah diberikan Arth

Therapymenggambar

Tabel 4
Nilai Rata-Rata Resiko Perilaku Kekerasan pada pasien skizofernia
Sebelum Diberikan Arth Therapymenggambar Di Rumah Sakit
Khusus Jiwa Soeprapto Bengkulu

Variabel N Mean Std. 95% CI Min-


Devias Lower Upper Max
i
Nilai rata-rata Resiko Perilaku 10 27,80 0,91 27,14 28,45 26-29
Kekerasan pada pasien
skizofernia sebelum diberikan
Terapi Okupasi
menggambar

Berdasarkan tabel 4 diatas, Resiko Perilaku Kekerasan pada pasien

skizofernia Sebelum Diberikan Terapi Arth Therapymenggambar

terendah adalah 26 dan tertinggi 29 dengan nilai rata-rata Resiko Perilaku

Kekerasan responden sebelum dilakukan Art Therapy menggambar

adalah 27,80 dengan standar deviasi 0,91 pada Confidence Interval

(95%CI) 27,14 sampai 28,45.

65
Tabel 5.
Nilai Rata-Rata Resiko Perilaku Kekerasan pada pasien skizofernia
Sesudah Diberikan Arth Therapy menggambar Di Rumah Sakit
Khusus Jiwa Soeprapto Bengkulu

Variabel N Mean Std. 95% CI Min-


Devias Lower Upper Max
i
Nilai rata-rata Resiko Perilaku 10 41,50 1,26 40,59 42,40 40-43
Kekerasan pada pasien
skizofernia sesudah diberikan
Terapi Okupasi
menggambar

Berdasarkan tabel 5 diatas, Resiko Perilaku Kekerasan pada pasien

skizofernia Sebelum Diberikan Arth Therapymenggambar terendah

Adalah 40 dan tertinggi 43 dengan nilai rata-rata Resiko Perilaku

Kekerasan responden sebelum dilakukan Arth Therapymenggambar

adalah 41,50 dengan standar deviasi 1,26 pada Confidence Interval

(95%CI) 40,59 sampai 42,40.

2. Analisis Bivariat
Analisis ini dilakukan untuk mengetahui Pengaruh terapi Arth

Therapymenggambar terhadap Resiko Perilaku Kekerasan pada pasien

skizofernia di Rumah Sakit Khusus Jiwa Soeprapto Bengkulu. Sebelum

dilakukan analisis bivariat, terlebih dahulu dilakukan uji normalitas

menggunakan shapiro-walk. Hal ini untuk membuktikan bahwa nilai

tersebut berdistribusi normal, dan bisa dilanjutkan menggunakan uji-t.

66
Tabel.6
Uji Normalitas PengaruhArth Therapymenggambar terhadap
Resiko Perilaku Kekerasan pada pasien skizofernia di Rumah Sakit
khsusus jiwa Soeprapto Bengkulu

Variabel N Statistic Df Sig

Nilai rata-rata Resiko Perilaku 10 0,885 10 0,146


Kekerasan pada pasien
skizofernia sebelum diberikan
Arth Therapymenggambar
Nilai rata-rata Resiko Perilaku 10 0,852 10 0,061
Kekerasan pada pasien
skizofernia sesudah diberikan
Arth Therapymenggambar

Berdasarkan tabel 6 diatas didapatkan nilai shapiro-walk

ResikoPerilaku Kekerasan pre 0,146 dan Resiko Perilaku Kekerasan post

0,061, yang berarti > 0,05. Hal ini membuktikan bahwa nilai tersebut

berdistribusi normal dan bisa dilanjutkan menggunakan uji paired sampel

t- tes.

Tabel 7.
Pengaruh Arth Therapymenggambar terhadap Resiko Perilaku
Kekerasan pada pasien skizofernia di Rumah Sakit khsusus jiwa
Soeprapto Bengkulu

Variabel Mean Std. SE t Pvalue


Deviasi

Resiko Perilaku Kekerasan 1,37 1,15 0,366 37,36 0,000


pada pasien skizofernia
sebelum dan sesudah diberikan
Arth Therapymenggambar

Berdasarkan tabel 7 diatas diperoleh hasil uji statistik menggunakan

67
uji-t 37, 36 dengan nilai pvalue 0,000, berarti < 0,05 (α), sehingga dapat

disimpulkan bahwa ada pengaruh Arth Therapymenggambar terhadap

Resiko Perilaku Kekerasan pada pasien skizofernia di Rumah Sakit

Khusus Jiwa Soeprapto Bengkulu.

B. Pembahasan
1. Nilai Rata-Rata Resiko Perilaku Kekerasan pada Pasien Skizofernia

Sebelum diberikan Arth Therapymenggambar

Hasil analisis univariat didapatkan data nilai rata-rata Skor tanda dan

gejala pasien Resiko perilaku kekerasan sebelum diberikan Arth

Therapymenggambar nilai rata-rata 27,80. Berdasarkan hasil observasi

penenliti dari sebelum diberikan Arth Therapymenggambar responden

menunjukan respon menentang dan mengancam, mengamuk,merusak

lingkungan (barang), bicara kasar, intonasi tinggi, menuntut, berdebat, labil,

mudah tersinggung, marah- marah, dengan jumlah skor respon perilaku

mengancam, menentang, mengamuk, merusak lingkungan, berdebat,

menuntut, menghina oranglain, Berdasarkan data yang didapat dengan teori

jurnal yang digunakan strategi pelaksanaan dengan terapi Arth

Therapymenggambar didapatkan hasil memberikan penurunan pada tingkat

resiko perilaku kekerasan pada pasien gangguan jiwa. Penerapan yang

dilakukan selama 7 hari pada penelitian ini, sebelum dilakukan Arth

Therapymenggambar.

Hal ini sejalan dengan penelitian kariana (2022) yang menyebutkan

68
bahwa hasil kemampuan mengontrol perilaku kekerasan sebelum terapi

stimulasi sensori menunjukkan bahwa responden pada kelompok perlakuan

sebelum diberikan terapi Arth Therapymenggambar semuanya (90%) tidak

mampu mengontrol perilaku kekerasan dan hanya (10%) yang mampu

mengontrol perilaku kekerasan.

Sedangkan pada kelompok kontrol yang tidak diberikan terapi Arth

Therapymenggambar semuanya (90%) tidak mampu mengontrol perilaku

kekerasan dan hanya (10%) yang mampu mengontrol perilaku kekerasan.

Kondisi tersebut terlihat saat dilakukan observasi pasien dengan

perilaku kekerasan tidak mampu mengontrol baik secara verbal non verbal

terhadapgambar seperti pasien tidak menyelesaikan gambar saat diminta

untuk mengambar tidak mampu menyebutkan gambar yang dibuat serta tidak

mampu menceritakan gambar yang dibuat.

Pasien juga tidak mampu mengontrol baik secara verbal non verbal

pada gambar yang di berikan untuk bisa mengontrol perilaku. Resiko perilaku

kekerasan pada saat menggambar misalnya tersenyum, sedih, dangembira,

pasien juga tidak mampu saat diminta untuk menceritakan cerita dalam

gambar serta menceritakan perasaan setelah menggambar. Hasil penelitian

yang didapat didukung oleh teori Stuart and Laraia (2019) pasien memiliki

perasaan negatif terhadap diri sendiri serta merasa dirinya tidak berharga lagi

sehingga merasa tidak aman dalam berhubungan dengan orang lain sehingga

69
menyebabkan pasien tidak dapat melibatkan diri dalam situasi yang baru. Ia

berusaha mendapatkan rasa aman tetapi hidup itu sendiri begitu menyakitkan

dan menyulitkan sehingga rasa aman itu tidak tercapai. Hal ini

menyebabkan ia mengembangkan rasionalisasi dan mengaburkan

realitas daripada mencari penyebab kesulitan serta menyesuaikan diri dengan

kenyataan. Semakin pasien menjauhi kenyataan akan mengakibatkan pasien

semakin kesulitan dalam mengembangkan hubungan dengan orang sehingga

hal tersebut akan mempengaruhi kemampuan pasien mengontrol perilaku

kekerasan terhadap lingkungannya. Konsep atau cara pandang inilah yang

diaktualisasikan oleh responden sehingga kebanyakan pasien dengan perilaku

kekerasan tidak mampu mengontrol perilaku kekerasan sebelum diberikan

terapi okuopasi menggambar.

Rentang usia dewasa merupakan kematangan individu harus dicapai,

semakin dewasa seseorang maka semakin lebih baik cara berpikirnya.

Usia dewasa adalah usia dimana individu dapat mengaktualisasikan

dirinya di masyarakat, apabila terjadi kegagalan maka menunjukkan

penurunan motivasi untuk melakukan aktivitas dan merasa kurang mampu

atau tidak percaya diri. tempat bagi individu berespon dengan lingkungan

sehingga individu menjadi rendah diri (Desi Pramujiwati, 2013).

Stuart, 2019 menyatakan bahwa usia merupakan aspek sosial budaya

terjadinya gangguan jiwa dengan risiko frekuensi tertinggi mengalami

70
gangguan jiwa yaitu pada usia dewasa. Pasien dengan perilaku kekerasan

pada penelitian ini tidak mampu mengontrol perilaku kekerasan, sejalan

dengan hasil penelitian Ruspawan (2020) yang meneliti tentang pengaruh

terapi aktivitas kelompok stimulasi sensori menggambar terhadap kemampuan

mengekspresikan perasaan pasien RPK di Rumah Sakit Jiwa Provinsi Bali.

Hasil penelitian ini menunjukkan kemampuan mengekspresikan perasaan

pada pasien RPK sebelum diberikan Terapi Olkupasi Menggambar

menunjukkan hasil dari 12 orang (100%) responden pasien RPK tidak ada

yang mampu mengekspresikan perasaan.

Peneliti berpendapat bahwa pasien dengan perilaku kekerasan

mengalami kesulitandalam berespon terhadap Gambar, disebabkan karena

pada pasien perilaku kekerasan lapang persepsinya menyempit dimana pasien

mempertahankan keyakinan yang salah mengenai diri sendiri dan orang lain,

sehingga pasien mengalami kesulitan memikirkan segala sesuatu walaupun

mengenai hal yang kecil. Pasien juga kesulitan menangkap informasi dan

memberikan respon terhadap informasi yang diterima. Ketidak mampuan

pasien dengan perilaku kekerasan dalam berespon terhadap gambar dan

tontonan dapat disebabkan karena pasien perilaku kekerasan memiliki

pandangan yang negatif terhadap diri sendiri, hilangnya motivasi sehingga

mengakibatkan pasien cenderung apatis, Abulia (kemauan yang lemah) yaitu

keadaan inaktivitas sebagai akibat ketidak sanggupan dalam memulai suatu

kegiatan dan ketidak sanggupan dalam bertindak. Gangguan kemauan juga

71
ditandai dengan negativisme yaitu suatu pertahanan psikologik dengan

melawan atau menentang terhadap apa yang disuruh atau tidak melaksanakan

apa yang diperintahkan.

2. Nilai Rata-Rata Resiko Perilaku Kekerasan pada Pasien Skizofernia

Sesudah diberikan Arth Therapy menggambar.

Hasil analisis univariat didapatkan data nilai rata-rata Resiko Perilaku

Kekerasan responden Sebelum diberikan Arth Therapy Menggambar adalah

41,50. Hasil penelitian kariana dan prihatiningsih (2022) juga menunjukkan

bahwa responden pada kelompok perlakuan setelah diberikan Arth

Therapymenggambar 100% mampu mengontrol perilaku kekerasan

sedangkan pada kelompok kontrol sebagian besar 8 orang (80%) tidak mampu

mengontrol perilaku kekerasan. Pasien juga mampu mengontrol baik secara

verbal non verbal terhadap gambar seperti pasien mampu membuat gambar

sesuai dengan keinginannya, pasien mampu menyebutkan gambar yang dibuat

kemudian menceritakan gambar yang dibuat. Pasien juga mampu mengontrol

baik secara verbal non verbal terhadap gambar yang dibuat pasien tersenyum

saat ada adegan lucu dan menampilkan raut muka sedih saat ada cerita yang

menyedihkan, pasien juga mampu saat diminta untuk menceritakan cerita

dalam gambar serta menceritakan perasaan setelah menggambar walau masih

dibimbing oleh fasilitator. Dengan demikian terapi dapat meningkatkan

hubungan perawat dan pasien sehingga dapat membantu pasien untuk

mengontrol emosi sehingga menurunkan resiko perilaku kekerasan

72
Terjadinya peningkatan kemampuan pasien dengan perilaku kekerasan

terhadap stimulus yang diberikan dapat disebabkan karena pemberian Arth

Therapymenggambar yang merupakan salah satu penatalaksanaan psikoterapi

yang dikembangkan dalam proses perawatan pasien dengan gangguan jiwa.

Arth Therapy menggambar dapat meningkatkan kemampuan mengontrol

perilaku kekerasan sebagai upaya menstimulus semua panca indra (sensori)

agar mengontrol yang adekuat melalui pemberian Arth Therapy menggambar.

Stimulasi sensori dengan baik dan benar akan mendorong atau mempengaruhi

pasien lain untuk bisa mengikuti teman sekelompoknya untuk mengontrol

stimulus yang diberikan oleh terapis, sehingga menyebabkan kemampuan

mengontrol perilaku kekerasan pasien semakin meningkat. Hal ini sesuai

dengan yang diungkapkan Keliat dan Akemat (2019) menyatakan bahwa

salah satu peran kelompok adalah sebagai pendorong (encourager) yang

berfungsi sebagai pemberi pengaruh positif pada kelompok. Pasien yang

mampu mengontrol perilaku kekerasan terhadap stimulus dengan baik dan

benarakan mendorong atau mempengaruhi pasien lain untuk bisa mengontrol

Stimulus yang diberikan oleh terapis.

Hasil penelitian yang didapat juga sesuai dengan teori Purwa ningsih

dan Karlina (2019) pemberian stimulasi sensori akan menghasilkan

kemampuan mengontrol yang lebih baik karena aktivitas stimulasi sensori

merangsang atau menstimulasikan pasien melalui kegiatan yang disukainya

dan mendiskusikan aktivitas yang telah dilakukan semakin sering dilakukan

73
maka dapat menyebabkan kemampuan mengontrol pasien.

Hasil penelitian ini sesuai dengan hasil penelitian Ruspawan (2020)

yang meneliti tentang pengaruh terapi aktivitas kelompok stimulasi sensori

menggambar terhadap kemampuan mengekspresikan perasaan pasien RPK di

Rumah Sakit Jiwa Provinsi Bali. Hasil penelitian ini menunjukkan

kemampuan mengekspresikan perasaan pada pasien dengan RPK setelah

diberikan Stimulasi Sensori Menggambar sebanyak 10 orang (83,3%)

responden pasien harga diri rendah mampu mengekspresikan perasaan.

Menurut pendapat peneliti pemberian aktivitas berupa kegiatan

menggambar pada masing-masing sesi stimulasi sensori akan menghasilkan

kemampuan mengontrol yang lebih baik karena aktivitas stimulasi sensori

merangsang atau menstimulasikan pasien melalui kegiatan yang disukainya

dan mendiskusikan aktivitas yang telah dilakukan semakin sering dilakukan

maka dapat menyebabkan kemampuan mengontrol pasien menjadi adekuat.

Dengan demikian kenapa kelompok perlakuan yang diberikan stimulasi

sensori pada pasien dengan perilaku kekerasan terjadi peningkatan

kemampuan mengontrol dapat dipahami.

3. Pengaruh Arth Therapy menggambar terhadap Resiko Perilaku

Kekerasan pada pasien skizofernia di Rumah Sakit Khusus Jiwa

Soeprapto Bengkulu

Berdasarkan hasil uji statistik diperolehnilai p value 0,000, berarti <

74
0,05(α), sehingga dapat disimpulkan bahwa ada Pengaruh Arth Therapy

menggambar terhadap Resiko Perilaku Kekerasan pada pasien skizofernia di

Rumah Sakit Khusus Jiwa Soeprapto Bengkulu. Hal ini sesuai dengan jurnal

(Makhruzah,2021) bahwa pada pasien resiko perilaku kekerasan jika

diabaikan akan berdampak buruk, akibat yang ditimbulkan pun berbahaya,

baik bagi penderita itu sendiri maupun orang disekitarnya. Perilaku yang

terganggu pada penderita dengan resiko perilaku kekerasan salah satunya bisa

berupa kecenderungan untuk melakukan kekerasan.

Penatalaksanaan yang dapat dilakukan kepada pasien Resiko perilaku

kekerasan adalah psikoterapi. Psikoterapi yang dapat diberikan perawat salah

satunya yaitu dengan strategi pelaksanaan yang terbagi menjadi 4 bagian. Hal

ini juga sejalan dengan penelitian Putri (2019) yang menyimpulkan bahwa

pasien dengan resiko perilaku kekerasan setelah diberikan strategi

pelaksanaan menggunakan komunikasi terapeutik mengalami perkembangan

yang lebih baik dari sebelum diberikan strategi pelaksanaan menggunakan

terapi menggambar.

Berdasarkan hasil dari sebelum penerapan, selama penerapan dan

sesudah penerapan perbandingan didapatkan: sebelum dilakukan penerapan

pasien menunjukan respon perilaku menentang dan mengancam, mengamuk,

merusaklingkungan(barang),bicarakasar,intonasitinggi,menuntut,berdebat,

emosi labil, mudah tersinggung, marah-marah, sehingga pasien perlu diberi

terapi menggambar, Selama 2 kali / minggu untuk diberikan Arth

75
Therapymenggambar, peneliti memberikan strategi pelaksanaan dengan

menggunakan komunikasi terapeutik. Dengan hasil pasien cukup kooperatif

karena sudah hapal dengan strategi pelaksanaan yang diberikan dan

menunjukan perubahan dari semua aspek.

Sesudah penerapan didapatkan hasil menunjukan perilaku pasien yang

mampu mengendalikan marah dengan cara verbal (menolak dengan baik,

meminta dengan baik) dan tetap meminum obat secara teratur. Sesuai dengan

hasil yang didapat sebelum dan setelah penerapan, hal ini sejalan dengan

penelitian yang dilakukan oleh (Putri,2019) bahwa didalam penelitiannya

menghasilkan perbandingan yang signifikan. Dimana sebelum dilakukan

strategi pelaksanaan menggunakan terapi komunikasi terapeutik, pasien

dengan RPK terlihat acuh dengan apa yang disampaikan oleh perawat, ada

yang mengobrol dengan temannya dan ada yang memilih menyendiri. Tetapi

setelah diberikan stratgegi pelaksanaan dengan menggunakan terapi stimulasi

sensori. Sehingga sebelum dan selama satu minggu penerapan lalu setelah

penerapan, kondisi pasien RPK menghasilkan skor perbandingan yang

lumayan signifikan. Berdasarkan semua uraian diatas dapat disimpulkan

bahwa tahap strategi pelaksanaan dengan menggunakan komunikasi

terapeutik dalam melaksanakan terapi menggambar dapat menurunkan resiko

perilaku kekerasan pada pasien gangguan jiwa dengan RPK. hal ini bisa

menjadi salah satu cara untuk mengendalikan emosi sehingga dapat

menurunkan resiko perilaku kekerasan. Dan diharapkan perawat lebih

76
meningkatkan berkomunikasi dalam melaksanakan terapi menggambar secara

terapeutik kepada pasien supaya pasien dengan resiko perilaku kekerasan

mengalami perubahan perilaku maupun sikap yang lebih baik.

Pemberian Arth Therapy menggambar berpengaruh terhadap

kemampuan mengontrol perilaku kekerasan disebabkan karena saat

pelaksanaan Arth Therapymenggambar pasien diajari melalui tuntunan baik

oleh fasilitator maupun pemimpin Arth Therapymenggambar untuk

melakukan tindakan seperti menggambar sebagai ekspresi dari perasaan yang

sedang dialami oleh pasien sehingga pasien mampu belajar mengekspresikan

stimulus dengan positif. Hal ini sesuai dengan teori Purwa ningsih (2019)

yaitu pemimpin dan fasilitator dalam, menjadi motivaror dan memberikan

stimulus pada anggota kelompok lain dapat mengikuti jalannya kegiatan.

Hasil penelitian yang menunjukkan ada pengaruh Arth Therapy menggambar

terhadap kemampuan mengontrol perilaku kekerasan menurut pendapat

peneliti dapat disebabkan karena pada saat pelaksanaan Arth Therapy

menggambar diberikan reinforcement positif atau penguatan positif yang

salah satunya melalui pujian pada tugas-tugas yang telah berhasil pasien

lakukan seperti pasien mampu mengontrol terhadap gambar, sehingga pasien

merasa dihargai karena dapat menyelesaikan suatu tugas yang diberikan oleh

perawat dan punya keinginan kuat untuk mengulangi perilaku tersebut

sehingga terjadi perubahan perilaku yaitu terjadi peningkatan kemampuan

mengontrol perilakuke kerasan. Hal ini sesuai dengan yang diungkapkan oleh

77
Nasution (2019) bahwa metode penguatan positif atau reinforcement positif

memiliki pengaruh berarti terhadap

Pengulangan perilaku. Penguatan positif memiliki kekuatan yang

mengesankan sebagai alat pembentuk perilaku.

Hasil penelitian ini sesuai dengan penelitian Tri Wahyuni (2020)

tentang Pengaruh Terapi Aktivitas Kelompok Stimulasi Persepsi Terhadap

Kemampuan Mengontrol Perilaku Kekerasan Pada Pasien Resiko Perilaku

Kekerasan. Hasil analisis menunjukkan ada pengaruh terapi aktivitas

kelompok stimulasi persepsi terhadap kemampuan Mengontrol Perilaku

Kekerasan Pada Pasien Resiko Perilaku Kekerasandengan hasil (p = 0,004).

Selanjutnya penelitian Candra (2019) yang meneliti tentang Pengaruh Terapi

Kelompok Suportif Terhadap Kemampuan Mengatasi Perilaku Kekerasan

Pada Klien Skizofrenia. Hasil analisis menunjukkan ada pengaruh terapi

kelompok suportif terhadap kemampuan mengatasi perilaku kekerasan pada

klien skizofrenia dengan hasil (p = 0,000).

Menurut pendapat peneliti pemberian Arth Therapy menggambar

efektif dalam mengontrol perilaku kekerasan. Hal ini disebabkan karena

pasien bisa menstimulasi semua panca indra (sensori) agar dapat mengontrol

perilaku kekerasan yang adekuat setelah menggambar yang dibuat perlakuan

yang diberikan Arth Therapymenggambar responden mampu mengontrol

perilaku kekerasan. Jadi dapat peneliti simpulkan ada Pengaruh Terapi Arth

78
Therapy menggambar Terhadap Kemampuan Pasien Mengontrol Perilaku

Kekerasan Pada Pasien Skizofrenia dengan p value 0,000 < α = 0,05.

Arth Therapy menggambar bermanfaat untuk pasien gangguan jiwa

salah satunya pada pasien skizofernia. Arth Therapy meggambar dilakukan

pada pasien skizofernia agar dapat melepaskan emosi, mengekspresikan diri,

mengurangi stress, media untuk membangun komunikasi serta meningkatkan

aktivitas pada pasien. Aktivitas menggambar merupakan kegiatan yang dapat

membantu menyampaikan dan mengekspresikan emosi dan pikiran yang

mempengaruhi perilaku yang tidak disadari oleh pasien, selain itu aktivitas

menggambar juga dapat memberikan kegembiraan dan hiburan, serta menarik

perhatian pasien untuk berpartisipasi dalam aktivitas kelompok (Kamariyah, e

t a l 2021).

79
BAB V

SIMPULAN DAN SARAN

A. Simpulan

Berdasarkan hasil penelitian tentang Pengaruh Arth Therapy

Menggambar terhadap Resiko Perilaku Kekerasan pada pasien Skizofernia di

Rumah Sakit Khusus Jiwa Soeprapto Bengkulu, disimpulkan:

1. Nilai rata-rata Resiko Perilaku Kekerasan responden sebelum dilakukan

Arth Therapy Menggambar Pasien Skizofernia di Rumah Sakit Khusus

Jiwa Soeprapto Bengkulu adalah 27,80.

2. Nilai rata-rata Resiko Perilaku Kekerasan responden sesudah dilakukan

Arth Therapy Menggambar Pasien Skizofernia di Rumah Sakit Khusus

Jiwa Soeprapto Bengkulu adalah 41,50

3. Ada Pengaruh Arth Therapy Menggambar terhadap Resiko Perilaku

Kekerasan pada pasien Skizofernia di Rumah Sakit Khusus Jiwa

Soeprapto Bengkulu (p = 0,000).

B. Saran

1. Teoritis

Peneliti berharap hasil penelitian ini dapat meningkatkan wawasan dan

keterampilan pembaca dalam memberikan asuhan keperawatan jiwa pada

pasien dengan Resiko Perilaku Kekerasan yang mengalami resiko perilaku

kekerasan, yaitu salah satunya dengan melakukan Arth Therapy

menggambar secara rutin. Untuk peneliti selanjutnya diharapkan untuk

80
melanjutkan penelitian dengan memperluas cakupan dari Batasan penelitian,

seperti prosedur dan langkah-langkah menggunakan terapi non farmakologi

lainnya.

2. Praktis

Diharapkan hasil penelitian ini perawat dapat menerapkan Arth

Therapy menggambar di ruang perawatan jiwa khususnya ruangan murai I

A secara terprogram disetiap institusi pelayanan keperawatan. Selain itu

perlu dibuat prosedur tetap dan jadwal Arth Therapy menggambar secara

jelas, misalnya dengan frekuensi 2 kali/minggu.

81
82
LAMPIRAN 1
LEMBAR PERMOHONAN MENJADI RESPONDEN

Kepada Yth.
Calon Responden
DiTempat

Dengan hormat,

Saya yang bertanda tangan di bawah ini adalah mahasiswa Progam Studi Ilmu
Keperawatan STIKES Bhakti Husada Bengkulu:
Nama : Kath Manila
NIM : 2202614121
Bermaksud melakukan penelitian tentang “Pengaruh Arth Therapy menggambar
terhadap Resiko Perilaku Kekerasan pada pasien Skizofernia di Rumah Sakit Khusus
Jiwa Soeprapto Bengkulu”
Sehubungan dengan ini, saya mohon kesediaan saudara untuk bersedia menjadi
responden dalam penelitian yang akan saya lakukan. Kerahasiaan data pribadi
saudara akan sangat kami jaga dan informasi yang akan saya gunakan untuk
kepentingan penelitian.
Demikian permohonan saya, atas perhatian dan kesediaan saudara saya
ucapkan terimakasih.

Bengkulu, Juli 2024

Kath Manila
2202614121

83
LEMBAR PERSETUJUAN MENJADI RESPONDEN

(InformedConsent)

Yang bertanda tangan dibawah ini:

Nama:

Umur :

Alamat:

Setelah saya mendapatkan penjelasan mengenai tujuan, manfaat, jaminan


kerahasiaan dan tidak adanya resiko dalam penelitian yang akan dilakukan oleh
mahasiswa Program Studi Keperawatan STIKES Bhakti Husada Bengkulu yang
bernama Novia R. Putri Pertiwi mengenai judul tentang “Pengaruh Arth
Therapymenggambar terhadap Resiko Perilaku Kekerasan pada pasien Skizofernia di
Rumah Sakit KhususJiwa Soeprapto Bengkulu”. Saya mengetahui bahwa informasi
yang akan saya berikan ini sangat bermanfaat bagi pengetahuan keperawatan di
Indonesia. Untuk itu saya akanmemberikan data yang diperlukan dengan sebenar-
benarnya. Demikianpernyataan ini saya buat untuk dipergunakan sesuai keperluan.
Bengkulu, Juli 2024

Responden

84
Kuesioner Penilaian Resiko Perilaku Kekerasan PadaPasien Skizofernia

Dengan Menggunakan Skala RUFA

Petunjuk: berilah tanda(√) jika “YA” dan (-) jika“TIDAK”


Keterangan Kriteria Alat Ukur RUFA :

No Indikator No Perilaku Kekerasan Perilaian Skore


RUFA Pertanyaan YA(1) TIDAK(2)
1 Perilaku 1 Melukai diri sendiri, orang
Lain dan lingkungan
2 Mengamuk
3 Menentang
4 Mengancam
5 Mata Melotot
2 Verbal 6 Pasien Berbicara Kasar
7 Pasien Berbicara dengan
Intonasi Tinggi
8 Pasien berbicara dengan
Intonasi Sedang
9 PasienMenghina OrangLain
10 PasienMenuntut sesuatu
11 Pasien tampak Berdebat
Dengan temannya/perawat
3 Emosi 12 Labil
13 MudahTersinggung
14 Eakspresi Tegang
15 Marah-Marah
16 Dendam

4 Fisik 18 Muka merah


19 Pandangan tajam
20 Nafas pendek
21 Berkeringat
22 Tekanan darah meningkat
23 Tekanan darah menurun
Jumlah
LAMPIRAN 4
STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR (SOP)

85
PENGARUHARTH THERAPYMENGGAMBAR TERHADAP
RESIKOPERILAKUKEKERASANPADAPASIEN
SKIZOFERNIA DIRUMAH SAKIT KHUSUS
JIWA SOEPRAPTO BENGKULU

STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR (SOP)


ARTH THERAPYAKTIVITAS MENGGAMBAR

Pengertian Arth Therapymenggambar merupakan salah satu bentuk


psikoterapi yang menggunakan media seni untuk
berkomunikasi. Media menggambar dapat berupa pensil ,
kapur bewarna, warna, cat, potongan- potongan kertas, alat
mewarnai Terapi menggambar juga merupakan
terapi yang mendorong seseorang mengekspresikan,
memahami emosi melalui ekspresi artistik, dan melalui
proses kreatif sehingga dapat memperbaiki fungsi kognitif,
afektif dan psikomotorik.
Tujuan 4. Pasien mampumengekspresikan perasaan melalui
gambar
5. Pasien dapat memberi makna gambar
6. Pasiendapat melakukan aktivitas terjadwal untuk
mengurangi Resiko perilaku kekerasan
Setting 3. Terapis dan pasien duduk bersama
4. Ruangan nyaman dan tenang
Alat 5. Buku gambar
6. Pensil
7. Pensil warna

Metode Metodepelaksanaan dapat dilakukan secara individu atau


kelompok

Persiapan 1. Ruangan/ tempat yang nyaman.

86
Langkah Kegiatan 1. Persiapan
a. Memilih pasien yang sesuai dengan indikasi.
b. Membuat kontrakdengan pasien
c. Mempersiapkan alat dan tempat pertemuan
2. Orientasi
a. Salam terapeutik
1) Salam dari terapis kepada pasien
2) Pasien dan terapis menggunakan papan nama
b. Evaluasi/validasi
1) Menanyakan perasaan pasien saat ini
2) Tanyakan apakah kegiatan terapi okupasiaktivitas
menggambar sudah dilakukan
c. Kontrak
1) Menjelaskan tujuan kegiatan, yaitu mengurangi
terjadi Resiko perilaku kekerasan.
2) Menjelaskan aturan main seperti jika pasien ingin
meninggalkan kelompokmaka harus memintaizin
kepada terapis, lama kegiatan 35 menit, setiap
pasien mengikuti kegiatan dari awal sampai akhir.
9. TahapKerja
a. Pe rsiapan alat seperti, buku gambar, pensil, dan
pensil warna
b. Membagikan kertas, pensil, pensil warna, krayon
kepada klien
c. Menjelaskan tema gambar yaitu menggambar
sesuatu yang disukai atau perasaan saat ini
d. Setelah selesai menggambar terapis mempinta klien
untuk menjelaskan gambar apa dan makna gambar
yang telah dibuat
e. Terapis memberikan pujian kepada klien setelah
klien selesai menjelaskan isi gambarnya
10. Terminasi
a. Evaluasi
1) Menanyakan perasaan klien setelah melakukan
tindakan, terapis memberikan pujian pada klien.
2) Rencana tindak lanjut: terapis menuliskan kegiatan
menggambar pada tindakan harian klien.

3) Kontrak yang akan datang


4) Menyepakati tindakan terapi menggambar yang
akan dating
5) Menyepakatiwaktudan tempat
6) Berpamitan dan mengucapkan salam

87
Evaluasi Evaluasi dilakukan saat proses Arth TherapyAktivitas
Menggambar berlangsung khususnya pada tahap kerja.
Aspek yang dievaluasi adalah kemampuan pasien sesuai
dengan tujuan Arth TherapyAktivitas Menggambar,
kemampuan yang
diharapkan adalah mampu mengekspresikan perasaan
melaluigambar,memberimaknagambar,danmengurangi
Resiko perilaku kekerasan (nama pasien, eksperikan
perasaan melalui gambar, makna gambar, mengurangi
RPK)
Dokumentasi Dokumentasikan kemampuan yang dimiliki pada catatan
proses keperawatan tiap pasien. Contoh pasien mengikuti,
Arth TherapyAktivitas Menggambar. Pasien mampu
mengekspresikan perasaan melalui gambar, memberi makna
gambar,dan mengurangi rpk.

Sumber:NiPutuSukmaPratiwi(2020)

88
HASIL TABULASI SPSS

PENGARUH ART THERAPY MENGGAMBAR TERHADAP


RESIKO PERILAKU KEKERASAN PADA PASIEN SKIZOFERNIA
DI RUANG MURAI I A DIRUMAH SAKIT KHUSUS JIWA
SOEPRAPTO
BENGKULU

KeteranganMasterTabel
Skore Keterangan
1 Ya
2 Tidak
HASIL TABULASI SPSS

CaseProcessing Summary
Cases
Valid Missing Total
N Percent N Percent N Percent
Pre_Post 10 100.0% 0 .0% 10 100.0%
Post_Tes 10 100.0% 0 .0% 10 100.0%

Descriptives
Statistic [Link]
Pre_Post Mean 27.8000 .29059
95% Confidence LowerBound 27.1426
IntervalforMean UpperBound 28.4574
5% TrimmedMean 27.8333
Median 28.0000
Variance .844
[Link] .91894
Minimum 26.00
Maximum 29.00
Range 3.00
InterquartileRange 1.25
Skewness -.601 .687
Kurtosis .396 1.334
Post_Tes Mean 41.5000 .40139
95% Confidence LowerBound 40.5920
IntervalforMean UpperBound 42.4080
5% TrimmedMean 41.5000
Median 41.5000
Variance 1.611
[Link] 1.26930
Minimum 40.00
Maximum 43.00
Range 3.00
InterquartileRange 3.00
Skewness .000 .687
HASIL TABULASI SPSS

Kurtosis -1.764 1.334

TestsofNormality
Shapiro-Wilk
Statistic df Sig.
Pre_Post .885 10 .149
Post_Tes .852 10 .061
[Link] Correction
*.Thisisa lower boundof the truesignificance.

PairedSamples Statistics
Std. [Link] Mean
Mean N Deviation
P Pre_Post 27.8000 10 .91894 .29059
a
i
r
1
Post_Tes 41.5000 10 1.26930 .40139

PairedSamples Correlations
N Correlation Sig.
Pair 1 Pre_Post&Post_Tes
10 .476 .164

PairedSamplesTest
Sig.(2-
PairedDifferences tailed)
95%ConfidenceInterv
Std. [Link] al of the
Mean Deviation Mean Difference t df
Lower Upper
Pair 1 Pre_Post-
Post_Tes 1.3700 1.15950 .36667 14.52946 12.87054 37.36 9 .000
0 4
HASIL TABULASI SPSS
HASIL TABULASI SPSS

DAFTAR PUSTAKA

Ade Apriliana, H. N. (2021). Stigma Masyarakat Terhadap Gangguan Jiwa. Seminar


Nasnal Kesehatan, 207-215.
Anggraini, N., & Gyatri, F. (2021). Pengaruh Penerapan Strategi Pelaksanaan 1 Pada
Klien Resiko perilaku kekerasan Terhadap Mengontrol Marah. Jurnal
Kesehatandan Pembangunan, 11(22), 53-60. Diakses
Anisa, D. L., Budi, A. S., & Suyanta, S. (2021). Asuhan Keperawatan Jiwa: Klien
Resiko Perilaku Kekerasan. Jendela Nursing Journal, 5(2), 106–110.
Arikunto,S.(2020).[Link]:Rineka cipta.
Cahyono, E. (2019). Pengaruh Citra Merek, Harga dan Promosi terhadap Keputusan
Pembelian Handpond Merek OPPO Di Sleman Daerah Istimewa Yogyakarta.
JBMA, 5, 61-63.
Damayanti, E. (2021). Asuhan Keperawatan Jiwa Dengan Resikoperilaku kekerasan
Di Desa Kedung Malang 04/03 Kec. Kedung Kab. Jepara Provinsi Jawa
Tengah. Karya Tulis Ilmiah .
Depkes RI. (2019). Riset Kesehatan Dasar 2018. Jakarta. Badan Penelitian dan
Pengembangan Kesehatan Republik Indonesia
Elis. (2021). Terapi Aktivitas Kelompok Stimulasi Persepsi Pada Klien Resiko
Prilaku Kekerasan Di Yayasan Pemenang Jiwa Sioumatera. Jurnal Kesehatan,
18.
Estika Mei Wulansari, E. (2021). Asuhan Keperawatan Jiwa Pada Klien Dengan
Resikoperilaku kekerasan Dirumah Sakit Daerah Dr Arif Zainuddin Surakarta.
Universitas Kusuma Husada Surakarta
Farid Bastian, D. F. (2021). Gambaran Pengetahuan dan Sikap Perawat Pelaksana
Tentang Penerapan Komunikasi Terapeutik pada Klien Resiko Prilaku
Kekerasan Di Instalasi Rawat Inap Rumah Sakit JiwaAceh. Jurnal Sains Riset
(JSR), 11,315-323.
Hafifah, N. (2019). Komunikasi Terapeutik Islami Dalam Pelayanan Kesehatan Klien
Di Rumah Sakit Al-Huda Genteng. Indonesian Journal Of Islamic
HASIL TABULASI SPSS

Communication, 2, 61-84.
Resiko Prilaku Kekerasan Di Rumah Sakit Umum Daerah Banyumas. Jurnal
Keperawatan
I Dewa Gd Putra Jatmika, K.Y. (2020). Hubungan Komunikasi Terapeutik dan Risiko
Resiko perilaku kekerasan Pada Klien Skizofrenia di Rumah Sakit Jiwa
Provinsi Bali. Jurnal Keperawatan Raflesia, 2, 1-9.
Iyus, Y. (2020). Buku Ajar Keperawatan Jiwa. Yogyakarta : Refika Aditama
Jatinandya, M.P.A., & Purwito, D. (2020). Art therapyPada Klien.
Kamariyah, K., &Yuliana,Y. (2021). Pengaruh Terapi Aktivitas Kelompok Stimulasi
Sensori: Menggambar terhadap Perubahan Tingkat Resiko Prilaku Kekerasan
pada Klien
Kariana, I. K., & Prihatiningsih, D. (2022). Pengaruh Terapi Aktivitas Kelompok
Stimulasi Sensori Terhadap Kemampuan Klien Mengontrol Resiko perilaku
kekerasan Pada Klien Skizofrenia Di Rsj Provinsi Bali. Bali Medika Jurnal,
9(1), 38–51.
Kunter. 2019. Skizofrenia. Dalam jurnal kesehatan. http//[Link]. 22 Desember
2022
Makhruzah, S., Putri, V. S., & Yanti, R. D. (2021). Pengaruh Penerapan Strategi
Pelaksanaan Resiko perilaku kekerasan terhadap Tanda Gejala Klien
Skizofrenia di RumahSakit Jiwa Daerah Provinsi Jambi. Jurnal Akademika
Baiturrahim Jambi, 10(1), 3946.
Makhruzah, S., Putri, V.S., & Yanti, R.D. 2021. Pengaruh Penerapan Strategi
Pelaksanaan Resiko perilaku kekerasan Terhadap Tanda Gejala Klien
Skizofrenia Di Rumah Sakit Jiwa Daerah Provinsi Jambi. Jurnal Akademika
Baiturrahim Jambi, 10(1), 39.
Masdum, S. (2021) Buku Ajar Asuhan Keperawatan Skizofrenia. 1 stedn. Editedby
N. Kholis dan M. B. Muvid. Surabaya: CV. Global Aksara Pres.
Muhammadiyah, 0 (September), 295–301.
Musmini, S. (2019). Asuhan Keperawatan Jiwa Pada Klien Risiko Perilaku
Narindrianisa, C.S., & Widodo A. (2019). Kemampuan Perawat Melakukan
HASIL TABULASI SPSS

Tindakan Restrain pada Klien Amuk di Unit Gawat Darurat RSJD [Link] zainudin
Surakarta (Doctoral dissertation, Universitas Muhammadiyah Surakarta).
Nazara, R., & Pardede, J. A. (2023) Application of Generalist Therapy in Providing
MentalNursing Care Among Schizophrenic Patients with Violent Behavior
Risk Problems: ACase [Link]:// [Link]/q6fv7
Nisaa, C., Masruroh, F., & Pratikto, H. (2022). Expressive Writing Therapy Untuk
Meningkatkan Kemampuan Pengungkapan Diri (Self Disclosure) pada Klien
Skizofrenia Paranoid. Ar-Risalah: Media Keislaman, Pendidikan Dan Hukum
Islam, 20(1), 196–207.
Notoatmodjo, S. 2019. Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta: Rineka Cipta.
Oktavianthi, Novianti, D., Tobing, E., & Lumban, D. (2019). Pengaruh Terapi
KREASI SENI TERHADAP HARGA DIRI KLIEN SKIZOFRENIA DI
PANTI BINA.
Rohmah, L.F., & Pratikto, H. (2019). Expressive Writing Therapy Sebagai Media
Untuk Meningkatkan Kemampuan Pengungkapan Diri (Self Disclosure) Pada
Klien Skizofrenia Hebefrenik. Psibernetika, 12 (1), 20–28.
Rusdi, & Kholifah, S. (2021). Expressive Writing Therapy and Disclosure Emotional
Skill son the Improvement of Mental Disorder Patients Control
Hallucinations. Advances in Health Sciences Research, 39 (SeSICNiMPH),
71–76.
Siti Makhruzah, V. S. (2021). Pengaruh Penerapan Strategi Pelaksanaan Resiko
perilaku kekerasan terhadap Tanda dan Gejala Klien Skizofrenia di Rumah
Sakit Jiwa Daerah Provinsi Jambi. Jurnal Akademia Baiturrahim Jambi, 10,
39- 40.
Sujarwo, L. P. (2019). Studi Fenomenologi : Strategi Pelaksanaan yang Efektif Untuk
Mengontrol Resiko perilaku kekerasan Menurut Klien di Ruang Rawat Inap
Laki- laki. Jurnal Keperawatan, 6, 29-35.
Utami, A. A. A. R. S., Ibrahim, M., & Purnama, H. (2021). The Effect Of Assertive
Training For Reducing Violence Behavior In Skizofrenia Patients: Literature
Review Jurnal Keperawatan Komprehensif (Comprehensive Nursing
HASIL TABULASI SPSS

Journal), 7 (Special Edition).9095.


Vevi Suryenti Putri, R. M. (2019, September ). Pengaruh Strategi Pelaksanaan
Komunikasi Terapeutik Terhadap Resiko Perilaku Kkekerasan Pada Klien
Gangguan Jiwa Di Rumah Sakit Proivinsi Jambi. Jurnal Akademika
Baiturrahim Jambi, Vol.7 , 139-140.
Videbeck, S.L (2014). Buku Ajar Keperawatan Jiwa. Jakarta: Buku Kedokteran EGC
WHO (World Health Organisation). (2022). Schizoprenia.
Yosep, I. (2019). Buku Ajar Keperawatan Jiwa Ed 7. Bandung: Refika Aditama.
Yusuf, Ah. (2020). Buku Ajar Keperawatan Kesehatan Jiwa. Jakarta: Salemba
Medika.
Zainuri, Imam (2019). Buku Ajar Keperawatan Kesehatan Kesehatan Jiwa Teori Dan
Aplikasi Praktik Klinik. Yogyakarta : Indomedia Pustaka
HASIL TABULASI SPSS

LAMPIRAN 1

LEMBAR PERMOHONAN MENJADI RESPONDEN

Kepada Yth.
Calon Responden
DiTempat

Dengan hormat,

Saya yang bertanda tangan di bawah ini adalah mahasiswa Progam Studi Ilmu
Keperawatan STIKES Bhakti Husada Bengkulu :
Nama:Kath Manila
NIM: 2212614039
Bermaksud melakukan penelitian tentang “Pengaruh Art therapy menggambar
terhadap Resikoperilaku kekerasan pada Klien Skizofernia di Rumah Sakit Khusus
Jiwa Soeprapto Bengkulu” Sehubungan dengan ini,saya mohon kesediaan saudara
untuk bersedia menjadi responden dalam penelitian yang akan saya lakukan.
Kerahasiaan data pribadi saudara akan sangat kami jaga dan informasi yang akan
saya gunakan untuk kepentingan penelitian.
Demikian permohonan saya, atas perhatian dan kesediaan saudara saya
ucapkan terimakasih.

Bengkulu, Maret 2025


HASIL TABULASI SPSS

LEMBAR PERSETUJUAN

MENJADI RESPONDEN (Informed Consent)

Yang bertanda tangan dibawah ini:

Nama:
Umur :
Alamat:

Setelah saya mendapatkan penjelasan mengenai tujuan, manfaat, jaminan


kerahasiaan dan tidak adanya resiko dalam penelitian yang akan dilakukan oleh
mahasiswa Program Studi Keperawatan STIKES Bhakti Husada Bengkulu yang
bernama Kath Manila mengenai judul tentang “Pengaruh Art therapy menggambar
terhadap Resikoperilaku kekerasan pada Klien Skizofernia di Rumah Sakit Khusus
Jiwa Soeprapto Bengkulu”. Saya mengetahui bahwa informasi yang akan saya
berikan ini sangat bermanfaat bagi pengetahuan keperawatan di Indonesia. Untuk itu
saya akan memberikan data yang diperlukan dengan sebenar-benarnya. Demikian
pernyataan ini saya buat untuk dipergunakan sesuai keperluan.

Bengkulu, Maret 2025

Responden
HASIL TABULASI SPSS

Kuesioner Penilaian
Resiko perilaku kekerasan PadaKlien Skizofernia

Lampiran 3

KISI-KISI
(Sumber : Kadji, 2020)

Variabel Indikator No Item


Kemampuan mengontrol Perilaku kekerasan verbal 1
Resiko Prilaku Kekerasan 10
Pada Klien Skizofrenia
15
16
Perilaku kekerasan terhadap 3
benda/lingkungan 7
11
14
Perilaku kekerasan terhadap 2
diri sendiri 6
9
13
17
Perilaku kekerasan terhadap 4
orang lain 5
8
12
HASIL TABULASI SPSS

LEMBAR OBSERVASI

RISIKO PERILAKU KEKERASAN PADA KLIEN SKIZOFRENIA

1. Nomor Responden : ……………..

2. Nama / Inisial : ……………..

3. Umur : ……………..

Petunjuk Pengisian :

1. Pengisian dengan menggunakan tanda ceklis (V)


2. Berilah tanda V pada kolom T (tidak pernah), jika klien tidak
pernah melakukan
3. Berilah tanda V pada kolom K (kadang-kadang), jika melakukan
perilaku kekerasan sebanyak lebh dari 1-2 kali per hari
4. Berilah tanda V pada kolom S (sering), jika melakukan perilaku
kekerasan sebanyak lebh dari 3 kali per hari

Pengamatan Pengamatan
No Perilaku Klien Kategori
I II
Klien mengutarakan kata-kata penghinaan T
1 ejekan atau ancaman terhadap orang lain K
dengan nada yang keras S
Dengan kata-kata, klien mengancam, T
2 melukai diri sendiri, dan mempunyai K
rancana untuk melakukannya S
Klien merusak benda/fasilitas di dalam T
3 rumah (meja, kursi, tempat tidur dan lain- K
lain) S
Klien melukai secara fisik terhadap orang T
lain (kelarga/tetangga/teman) yang
4 mengakibatkan cedera serius K
(membutuhkan penanganan medis: jahitan
dan pengobatan) S
Klien terlihat dalam kontak fisik dengan T
5 orang lain tanpa melukainya (mendorong/ K
menarik orang lain) S
Klien melukai dirinya sendiri dan berakibat T
K
HASIL TABULASI SPSS

6 cedera yang serius (melukai tubuh) S

Pengamatan Pengamatan
No Perilaku Klien Kategori
I II
Klien mengancam untuk merusak barang/ T
7 benda tanpa ada rencana untuk K
melakukannya S
T
Klien melukai secara fisik terhadap orang K
8
lain yang mengakibatkan cedera ringan S
Klien mengungkapkan keinginannya pada T
9 orang lain (keluarga/teman) untuk K
mengakhiri hidupnya S
Dengan kata-kata, klien mengancam orang T
10 lain (keluarga, tetangga atau teman) tanpa K
ada rencana untuk melakukannya S
Klien menggunakan benda/fasilitas dengan T
kasar/ membahayakan dengan ada niat
untuk merusak benda/ fasilitas tersebut K
11
(menutup pintu dengan keras, menaruh alat
makan ke meja dengan kasar, menata kursi S
dengan kasar)
Klien terlibat permusuhan dengan teman/ T
siapa saja dan melakuan ancaman akan K
12
melukainya disertai rencana untuk
melakukannya S
Klien melakukan tindakan mencederai diri
T
dan mengakibatkan cedera ringan
(memukul kepalanya atau membenturkan
13 K
kepalanya ke tembok, memukul bagian
tubuhnya yang lain seperti tangan dan kaki)
S

Klien mengancam melakukan perusakan T


kepada benda/ fasilitas dalam rumah atau
14 K
luar rumah (fasilitas umum) dan disertai
rencana untuk melakukannya S
T
Dengan kata-kata, klien membantah nasehat
15
yang diberikan
K
S
Klien mengancam untuk mencederai orang T
16 lain dan disertai rencana untuk K
melakukannya S
HASIL TABULASI SPSS

Klien mengancam akan mencederai dirinya T


17 sendiri tanpa ada rencana untuk K
melakukannya S
(Sumber : Kadji, 2020)

Keterangan Penilaian (Pemberian Skor):


1. Nilai 3, jika klien tidak pernah (T) melakukan perilaku kekerasan
2. Nilai 2, jika klien kadang-kadang (K) melakukan perilaku kekerasan
sebanyak 1-2 kali sehari
3. Nilai 1, jika klien sering (S) melakukan perilaku kekerasan lebih dari 3 kali
per hari.
Lembar observasi untuk mengukur kemampuan mengendalikan responden ini,
dilakukan selama 1 Bulan sehingga didapatkan nilai minimal > 55 dan nilai
maksimal 100 dengan kategori:
1. Tidak membahayakan diri sendiri dan orang lain jika 56-100
2. Membahayakan diri sendiri dan orang lain 1-55
HASIL TABULASI SPSS

LAMPIRAN 4
STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR (SOP)

PENGARUH ART THERAPY MENGGAMBAR TERHADAP


RESIKOPERILAKUKEKERASANPADAKLIEN
SKIZOFERNIA DIRUMAH SAKIT KHUSUS
JIWA SOEPRAPTO BENGKULU

STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR (SOP)


ART THERAPY AKTIVITAS MENGGAMBAR

Defenisi Art therapy adalah media seni untuk mengeksplorasi perasaan


sehingga membuat pasien menjadi damai.
Penatalaksanaan Art Therapy dilakukan 2 kali dalam satu
minggu selama 4 minggu.

Tujuan 1. Klien mampumengekspresikan perasaan melalui gambar


2. Klien dapat melakukan aktivitas terjadwal untuk
mengurangi Resiko perilaku kekerasan

Setting 1. Terapis dan Klien duduk bersama


2. Ruangan nyaman dan tenang
Alat 1. Buku gambar
2. Pensil
3. Pensil warna
4. Penghapus

Metode Metode pelaksanaan dapat dilakukan secara individu atau


kelompok

Persiapan 2. Ruangan/ tempat yang nyaman.

Langkah Kegiatan 3. Persiapan


a. Memilih Klien yang sesuai dengan indikasi.
b. Membuat kontrak dengan Klien
c. Mempersiapkan alat dan tempat pertemuan
4. Orientasi
a. Salam terapeutik
HASIL TABULASI SPSS

1) Salam dari terapis kepada Klien


2) Klien dan terapis menggunakan papan nama
c. Evaluasi/validasi
1) Menanyakan perasaan Klien saat ini
2) Tanyakan apakah kegiatan art therapy aktivitas
menggambar sudah dilakukan
d. Kontrak
1) Menjelaskan tujuan kegiatan, yaitu mengurangi
terjadi Resiko perilaku kekerasan.
2) Menjelaskan aturan main seperti jika Klien ingin
meninggalkan kelompokmaka harus memintaizin
kepada terapis, lama kegiatan 35 menit, setiap Klien
mengikuti kegiatan dari awal sampai akhir.
11. TahapKerja
a. Persiapan alat seperti, buku gambar, pensil, dan
pensil warna
b. Membagikan kertas, pensil, pensil warna, krayon
kepada klien
c. Menjelaskan tema gambar yaitu menggambar
sesuatu yang disukai atau perasaan saat ini
d. Setelah selesai menggambar terapis mempinta klien
untuk menjelaskan gambar apa dan makna gambar
yang telah dibuat
e. Terapis memberikan pujian kepada klien setelah
klien selesai menjelaskan isi gambarnya
12. Terminasi
a. Evaluasi
1) Menanyakan perasaan klien setelah melakukan
tindakan, terapis memberikan pujian pada klien.
2) Rencana tindak lanjut: terapis menuliskan kegiatan
menggambar pada tindakan harian klien.
7) Kontrak yang akan datang
8) Menyepakati tindakan terapi menggambar yang
akan dating
9) Menyepakatiwaktudan tempat
10) Berpamitan dan mengucapkan salam
HASIL TABULASI SPSS

Evaluasi Evaluasi dilakukan saat proses Art therapy Aktivitas


Menggambar berlangsung khususnya pada tahap kerja.
Aspek yang dievaluasi adalah kemampuan Klien sesuai
dengan tujuan Art therapy Aktivitas Menggambar,
kemampuan yang
diharapkan adalah mampu mengekspresikan perasaan
melaluigambar,memberimaknagambar,danmengurangi
Resikoperilaku kekerasan (nama Klien, eksperikan perasaan
melalui gambar, makna gambar, mengurangi
RPK)
Dokumentasi Dokumentasikan kemampuan yang dimiliki pada catatan
proses keperawatan tiap Klien. Contoh Klien mengikuti,
Art therapy Aktivitas Menggambar. Klien mampu
mengekspresikan perasaan melalui gambar, memberi makna
gambar,dan mengurangi rpk.

Sumber:NiPutuSukmaPratiwi(2020)

Anda mungkin juga menyukai