PENGARUH ART THERAPY MENGGAMBAR TERHADAP RESIKO
PERILAKU KEKERASAN PADA KLIEN SKIZOFERNIA
DI RUANG MURAI A RUMAH SAKIT KHUSUS JIWA
SOEPRAPTO BENGKULU
PROPOSAL
Proposal Ini Diajukan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh Gelar Sarjana
Keperawatan ([Link])
Disusun Oleh
KATH MANILA
NIM :2212614039
PROGRAM STUDI KEPERAWATAN
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN (STIKES)
BHAKTI HUSADA BENGKULU JALAN KINIBALU 8 KEBUN TEBENG
TAHUN 2025
i
PERNYATAAN PERSETUJUAN
Proposal Ini Telah Disetujui Dan Diperiksa Untuk Dipertahankan
Dihadapan Tim Penguji Proposal
Program Studi Keperawatan Stikes Bhakti Husada
Bengkulu, Juli 2025
Komisi pembimbing
Pembimbing I Pembimbing II
[Link], [Link]., MS Ns. Ardiana Podesta [Link]., M. Kep
NUPN: 9990051313 NIDN: 0209067601
ii
PERNYATAAN KEASLIAN PENELITIAN
Dengan ini saya menyatakan bahwa:
1. Skripsi ini adalah asli dan belum pernah diajukan untuk mendapatkan gelar
akademik (sarjana), baik di STIKes Bhakti Husada, maupun diperguruan tinggi
lainnya;
2. Skripsi ini murni gagasan, rumusan, dan hasil penelitian saya sendiri, yang
disusun tanpa bantuan dari pihak lain, kecuali arahan dari tim pembimbing;
3. Dalam skripsi ini tidak terdapat karya atau pendapat yang telah ditulis atau
dipublikasikan orang lain, kecuali secara tertulis dengan jelas dicantumkan
sebagai acuan dalam naskah dengan disebutkan nama pengarang dan
dicantumkan dalam daftar pustaka;
4. Pernyataan ini saya buat dengan sebenarnya dan apabila dikemudian hari dapat
dibuktikan adanya kekeliruan dan ketidak benaran dalam pernyataan ini, maka
saya bersedia untuk menerima sanksi akademik berupa pencabutan gelar
akademik yang telah diperoleh dari karya tulis ini, serta sanksi lainnya sesuai
dengan norma yang berlaku di STIKes Bhakti Husada Bengkulu.
Bengkulu, Juli 2025
Yang Membuat Pernyataan
Materai 10000
Kath Manila
NIM :2212614039
iii
PENGARUH ART THERAPY MENGGAMBAR TERHADAP
RESIKO PERILAKU KEKERASAN PADA PASIEN
SKIZOFERNIA DIRUMAH SAKIT KHUSUS
JIWA SOEPRAPTO BENGKULU
Kath Manila
Program Studi Keperawatan
Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (STIKES) Bhakti Husada Bengkulu xiii + 63
halaman, 2 bagan, 5 tabel, 9 lampiran
ABSTRAK
Resiko perilaku kekerasan adalah respondari stressor yang dialami seseorang dengan
menunjukkan perubahan perilaku seperti mengancam, gaduh, tidak bisa diam,
mondar- mandir, gelisah, intonasi suara keras, ekspresi tegang, bicara dengan
semangat, agresif, nada suara tinggi dan bergembira secara berlebihan yang dapat
merugikan diri sendiri dan orang lain. salah satu terapi yang bertujuan untuk menurunkan
resiko perilaku kekeraan pada pasien skizofernia adalah dengan Art Terapi menggambar.
Tujuan penelitian adalah diketahui pengaruh Art therapymenggambar terhadap resiko
perilaku kekerasan pada pasien skizofernia di rumah sakit khusus jiwa soeprapto
Bengkulu. Penelitian ini menggunakan pre eksperimental design menggunakan pre
dan post test design. Populasi dalam penelitian ini berjumlah 29 orang. Sampel dalam
penelitian ini berjumlah 10 orang. Data yang digunakan adalah data primer dan data
sekunder. Analisis yang digunakan adalah analisis univariat dan analisis bivariat, uji
statistik yang digunakan ujiT Hasil analisis univariat didapatkan nilai rata-rata Resiko
perilaku kekerasan responden sebelum dan dilakukan Art therapymenggambar adalah
27,80 dan 41,50. Hasil analisis bivariat didapatkan nila ip=0,000. Disimpulkan ada
pengaruh Art therapy menggambar terhadap resiko perilaku kekerasan pada pasien
skizofernia di rumah sakit khusus jiwa soeprapto Bengkulu. Diharapkan hasil
penelitian ini perawat dapat menerapkan Art therapy menggambar di ruang perawatan
jiwa secara terprogram disetiap institusi pelayanan keperawatan. Selain itu perlu
dibuat prosedur tetap dan jadwal latihan Art Therapy menggambar secara jelas,
misalnya dengan frekuensi 2 kali/minggu.
KataKunci: Resiko Perilaku Kekerasan, Skizofernia, Art therapy menggambar
iv
THE INFLUENCE OF ART AL THERAPY ON THE RISK OF VIOLENCE IN
SCHIZOPHERNIA PATIENTS AT SOEPRAPTO BENGKULU SPECIAL
MENTAL HOSPITAL
Kath Manila
Nursing Study Program
Husada Bengkulu College of Health Sciences (STIKES).
Xiii +63pages, 2 charts, 5 tables, 9 appendices
ABSTRACT
Risk behavior violence is response from the stressors experienced somebody with
show change behavior like threatening, rowdy, no can besilent, pacing, restless,
intonation voice hard, expression tense, talk with Spirit, aggressive, tone voice tall
And happy in a way excessive which can harm self yourself and others Wrong One
purposeful therapy For lower risk behavior violence in patients schizophrenia is with
Therapy Art draw. Research purposes is is known influence Therapy Art draw to risk
behavior violence against patients schizophrenia at home Sick special soul Soeprapto
Bengkulu. Study This use pre experimental design using pre and post test design.
Population in study This totaling 29 people. Deep sample study This totaling 10
people. Data used are primary data and secondary data. Analysis used is analysis
univariate and analysis bivariate, the statistical test used is the t test. Analysis results
univariate obtained average risk value behavior violence respondents before and
done Therapy Art draw are 27.80 and 41.50. Analysis results bivariate obtained p
value = 0.000. Concluded There isi nfluence Therapy Art draw to risk behavior
violence against patients schizophrenia at home Sick special soul soeprapto
Bengkulu. Expected results study This nurse can apply Therapy Art drawing in space
maintenance soul in a way programmed at each institutionservice nursing. Besides
that need made procedure fixedand scheduled exercise therapy Relaxation muscle
progressive in a way clear , for example with frequency 2 times/ week.
Keywords: Risk of Violent Behavior, Schizophrenia, Art therapyDrawing
v
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penulis panjatkan kehadiran Tuhan Yang Maha Esa atas kasih
dan rahmat yang diberikan sehingga penyusunan usulan penelitian ini yang berjudul
“pengaruh Art Therapy menggambar terhadap Resiko perilaku kekerasan pada
Klien skizofernia dirumah sakit khusus jiwa soeprapto bengkulu” ini dapat
selesai tepat pada waktunya.
Dalam kesempatan ini penulis menyampaikan mengucapkan banyak terima
kasih kepada kedua orang tua, sahabat, teman-teman dan pembimbing saya atas
bimbingan, saran, dan kritik yang tiada henti-hentinya dalam penyusunan Proposal
ini. Ucapan terima kasih dan penghargaan penulis disampaikan kepada :
1. Ibu Dr. Hj. Nurhasanah, SKM, Mkes, selaku ketua Yayasan Persada Raflesia
Bengkulu.
2. Bapak H. Rusiandy. SKM, MS, Selaku Ketua Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan
(STIKes) Bhakti Husada Bengkulu. Dan juga selaku pembimbing I yang
banyak memberikan bimbingan, arahan dan masukan dalam pembuatan
proposal ini.
3. Ibu Ns. Feny Marlena, [Link].,[Link], selaku Ketua Program Studi
Keperawatan Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (STIKes) Bhakti Husada
Bengkulu.
4. Seluruh dosen dan staf Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Bhakti Husada
Bengkulu
5. Direktur Rumah Sakit Khusus Jiwa Soeprapto Bengkulu Beserta Staf Yang
Memberikan Bantuan Kepada Penulis Dalam Proses Pengambilan Data.
6. Kedua orangtua dan keluargaku yang telah memberi banyak dukungan,
motivasi, dan perhatian dan bantuan dengan berbagai bentuk baik materi
maupun non materi dalam pembuatan proposal ini.
7. Teman seperjuangan STIKes Bhakti Husada.
Penulis menyadari bahwa dalam penyusunan proposal ini masih banyak
terdapat kekurangan, baik dari isi maupun cara penulisannya. Oleh karena itu, penulis
vi
mengharapkan saran dan kritik yang bersifat membangun guna perbaikan dan
peningkatan kualitas di masa yang akan datang.
Atas segala bantuan yang diberikan, penulis mengucapkan terima ksaih
semoga Tuhan Yang Maha Esa memberikan berkat-Nya yang berlimpah kepada kita
semua.
Bengkulu, Maret 2025
Penulis
vii
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL................................................................................................i
PERNYATAAN PERSETUJUAN..........................................................................ii
PERNYATAAN PENGESAHAN...........................................................................iii
KATA PENGANTAR..............................................................................................iv
DAFTAR ISI.............................................................................................................vi
DAFTAR BAGAN....................................................................................................viii
BAB I PENDAHULUAN.........................................................................................1
A. Latar Belakang.............................................................................................1
B. Rumusan Masalah........................................................................................5
C. Pertanyaan penelitian...................................................................................5
D. TujuanPenelitian...........................................................................................5
E. Manfaat Penelitian........................................................................................6
F. Keaslian Penelitian.......................................................................................6
BAB II TINJAUAN PUSTAKA..............................................................................9
A. Art Therapy..................................................................................................9
1. Defenisi...............................................................................................9
2. Tahapan..............................................................................................13
3. Manfaat Art Therapy Aktivitas Menggambar...............................................17
4. Pelaksanaan Art therapy..............................................................................20
5. Tujuan dan Kegiatan dalam Art therapy..............................................22
B. Skizofrenia...................................................................................................23
1. Defenisi Skizofrenia............................................................................23
2. Epidemiologi Skizofrenia...................................................................23
3. Etiologi Skizofrenia............................................................................24
4. Manifestasi Klinis Skizofrenia............................................................25
5. Fase Terjadinya Skizofrenia...............................................................26
6. Jenis Skizofrenia.................................................................................28
7. Pemeriksaan Penunjang Skizofrenia...................................................29
viii
8. Tatalaksana Skizofrenia......................................................................30
C. Resiko Perilaku Kekerasan...........................................................................32
1. Defenisi Resiko Perilaku Kekerasan...................................................32
2. Faktor Penyebab terjadinya Resiko Prilaku kekerasan.......................33
3. Tanda dan Gejala................................................................................35
4. Rentang Respon Resiko Prilaku Kekerasan.........................................36
5. Penatalaksanaan Resiko Prilaku Kekerasan.......................................36
6. Indikator Pengukuran Resiko Prilaku Kekerasan...............................38
7. Mekanisme Terjadinya Resiko Prilaku Kekerasan..............................40
8. Etiologi................................................................................................42
D. Pengaruh Art therapy menggambar terhadap Resiko perilaku kekerasan pada
Klien Skizofrenia.........................................................................................51
E. Kerangka Konsep.........................................................................................58
F. Hipotesis.......................................................................................................58
BAB III METODE PENELITIAN.........................................................................59
A. Desain Penelitian..........................................................................................59
B. Kerangka Penelitian.....................................................................................59
C. Definisi Operasional.....................................................................................60
D. Tempat Dan Waktu Penelitian.....................................................................61
E. Populasi Dan Sampel...................................................................................61
F. Metode Pengumpulan Dan Pengolahan Data...............................................62
G. Analisis Data................................................................................................65
BAB IV HASIL PENENLITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Hasil Penelitian.............................................................................................63
B. Pembahasan..................................................................................................66
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN...................................................................63
A. Simpulan.......................................................................................................63
B. Saran.............................................................................................................67
DAFTAR PUSTAKA...............................................................................................69
LAMPIRAN..............................................................................................................70
ix
DAFTAR BAGAN
Halaman
Bagan 1 Kerangka konsep..........................................................................................58
Bagan 2 Kerangka Penelitian.....................................................................................59
x
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Skizofrenia merupakan suatu kondisi gangguan psikotik yang ditandai
dengan gangguan utama dalam pikiran, emosi dan perilaku yang terganggu,
dimana berbagai pemikiran tidak saling berhubungan secara logis, persepsi dan
perhatian yang keliru, afek yang datar atau tidak sesuai dengan berbagai
gangguan aktivitas motoric. (Kunter,2009 didalam Makhruzah, 2021)
Skizofrenia merupakan suatu penyakit yang mempengaruhi otak, dan
menyebabkan timbulnya pikiran, persepsi, [Link] dan gejala yang
timbul akibat skizofrenia berupa gejala positif dan negatif seperti perilaku
kekerasan. Resikoperilaku kekerasan merupakan salah satu respon marah yang
diespresikan dengan melakukan ancaman, mencederai diri sendiri maupun orang
lain. Pada aspek fisik tekanan darah meningkat, denyut nadi dan pernapasan
meningkat, marah, mudah tersinggung, mengamuk dan bisa mencederai diri
sendiri. Perubahan pada fungsi kognitif, fisiologis, afektif, hingga perilaku dan
sosial hingga menyebabkan Resikoperilaku kekerasan (Pardede, 2020)
World Health Organization (WHO) pada tahun 2023, prevalensi
gangguan jiwa terdapat sekitar 970 juta penduduk dunia yang hidup mengalami
skizofrenia dengan perbandingan penderita berjenis kelamin perempuan lebih
banyak sekitar 52,4% dibandingan dengan jenis kelamin laki-laki sekitar 47,6%
(WHO,2023)
Menurut data Kementerian Kesehatan pada tahun 2022 menunjukkan
1
bahwa prevalensi skizofrenia psikosis di Indonesia sebanyak 1,8 per mil ART
(Anggota Rumah Tangga) dengan gangguan jiwa. Persentase ART dengan
gangguan jiwa di Indonesia adalah 6,7%atau sekitar 282.654 RT. Data tersebut
menunjukan bahwa dari 1000 rumah tangga hampir terdapat 0 rumah tangga
yang mempunyai 2 ART dengan gangguan jiwa sedangkan Sumatera Barat
menduduki posisi keempat tertinggi yaitu 9,1 per mil 1000 rumah tangga dan
kota Padang7,0 per mil 1000 rumah tangga. (Kemenkes RI,2023)
Di Indonesia sendiri menurut Kementerian Kesehatan (2023), dijumpai
prevalensi penderita skizofrenia sebesar 1.7%, dengan prevalensi tertinggi di
DIYogyakarta (2.7%0), Aceh (2.7%0), Sulawesi Selatan (2.6%0), Bali (2.3 %0),
dan Jawa Tengah (2.3 %0), sedangkan di Jawa Timur prevalensinya sebanyak
2.2 % yang sebelumnya hanya 1.4% (Kemenkes RI, 2023).
Tingginya angka kejadian serta buruknya dampak dari resiko perilaku
kekerasan diperlukan intervensi yang tepat dengan resiko perilaku kekerasan.
Intervensi secara umum yang dilakukan pada Klien dengan perilaku
agresif/Resikoperilaku kekerasan bervariasi yang berada dalam rentang
preventive strategies, Anticipatory Strategies, dan Containment Strategies
(Stuart & Laraia, 2020).
Berdasarkan studi pendahuluan yang di lakukan pada Desember tahun
2024 di Rumah Sakit Khusus Jiwa Soeprapto Bengkulu di dapatkan data Total
Klien Skizofernia pada 3 tahun terkahir: pada tahun 2022 terdapat sebanyak
Klien dan Resiko perilaku kekerasan sebanyak 90 Klien, pada tahun 2023
terdapat Resikoperilaku kekerasan sebanyak 94 Klien, sedangkan pada tahun
2
2024 terdapat Klien dengan Resiko perilaku kekerasan sebanyak 29 Klien. Di
mana berdasarkan data 3 tahun terkahir di dapatkan kasus Klien dengan Resiko
perilaku kekerasan merupakan kasus dengan urutan ke-2 terbanyak di Rumah
Sakit Khusus Jiwa Soeprapto Bengkulu. Saat melakukan survey awal di ruangan
rawat inap Rumah Sakit Khusus Jiwa Soeprapto Bengkulu didapatkan bahwa
alasan masuk keluarga dan penanggung jawab membawa klien untuk dirawat
inap adalah karena mengamuk dan tidak bisa dikendalikan oleh anggota keluarga
maupun lingkungan sekitar.
Berdasarkan Hasil observasi awal di ruang murai A terhadap 6 orang
klien yang dirawat di ruang ranap 4 orang klien tampak agresif seperti muka
merah dan tegang, pandangan tajam, jalan mondar-mandir dan 2 orang lainnya
tampak muka merah dan tegang, mengapkan tangan, bicara kasar suara tinggi
menjerit dan berteriak.
Asuhan keperawatan dasar yang meliputi penerapan strategi pengendalian
resiko perilaku kekerasan merupakan bagian dari tugas perawat dalam
penanganannya di rumah sakit. Metode pelaksanaan meliputi terapi latihan,
mengajarkan keluarga cara merawat Klien yang mengalami resiko perilaku
kekeraan, dan menerapkan standar asuhan keperawatan terjadwal yang diberikan
kepada Klien dengan tujuan menurunkan masalah keperawatan jiwa yang
dihadapinya. (Maulana., 2021).
Pemilihan Terapi Art therapy yang diterapkan mampu menjadi salah satu
terapi untuk penelitian sebagai bentuk intervensi yang di berikan pada Klien
Resiko perilaku kekerasan karena Art therapy merupakan bentuk psikoterapi
3
media yang digunakan berupa pensil,buku gambar, Pensil warna, cat, dan
Penghapus (Adriani & Satiadarma, 2019). Terapi menggambar selain untuk
penyembuhan juga dapat untuk meningkatkan kreativitas Klien.
Art therapy menggambar telah banyak di lingkungan medis, salah satunya
untuk pengobatan penyakit gangguan jiwa seperti Klien dengan resiko perilaku
kekerasan. Melalui terapi ini Klien dapat melepaskan emosi, mengekspresikan
diri melalui cara- cara non verbal dan membangun komunikasi yang baik.
Berdasarkan uraian di atas maka penulis tertarik melakukan peneltiian
tentang “Pengaruh Art Therapy Menggambar terhadap Resiko perilaku kekerasan
pada Klien Skizofernia di Ruang Murai A Rumah Sakit Khusus Jiwa Soeprapto
Bengkulu”
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, maka rumusan masalah masih adanya
Klien Skizofernia dengan Resiko perilaku kekerasan di Rumah Sakit Khusus Jiwa
Soeprapto Bengkulu
C. Pertanyaan penelitian
Apakah ada Pengaruh Art Therapy Menggambar terhadap Resiko
perilaku kekerasan pada Klien Skizofernia di Ruang Murai A Rumah Sakit
Khusus Jiwa Soeprapto Bengkulu.
D. TujuanPenelitian
1. Tujuan Umum
Tujuan penelitiaan ini adalah Untuk Mengatahui ada Pengaruh Art Therapy
Menggambar terhadap Resikoperilaku kekerasan pada Klien Skizofernia di
4
Ruang Murai A Rumah Sakit Khusus Jiwa Soeprapto Bengkulu.
2. Tujuan Khusus
a) Untuk Mengetahui nilai rata-rata sebelum di berikan Art Therapy
Menggambar Klien Skizofernia dengan resiko prilaku kekerasan
b) Untuk Mengetahui nilai rata-rata setelah di berikan Art Therapy
Menggambar Klien Skizofernia dengan resiko prilaku kekerasan
c) Untuk mengetahui Pengaruh Art Therapy Menggambar terhadap Resiko
perilaku kekerasan pada Klien Skizofernia di Ruang Murai A Rumah
Sakit Khusus Jiwa Soeprapto Bengkulu.
E. Manfaat Penelitian
1. Manfaat Teoritis
Diharapkan penelitian ini dapat menambah pengetahuan dan wawasan
bagi mahasiswa dan khususnya untuk dosen mata kuliah keperawatan jiwa
dapat dijadikan refensi dalam mengajar keperawatan jiwa.
2. Manfaat Praktis
Hasil penelitian ini khususnya bagian komite keperawatan bisa
mengaplikasikan ini diruangan murai A sehingga perawat disana bisa
menerapkan Art therapy ini untuk Pasien Skizofrenia dengan Resiko
perilaku kekerasan.
F. KeaslianPenelitian
Berdasarkan penelusuran peneliti adapun penelitian serupa yang pernah di
teliti oleh :
1. (NurZahra,2023). Analisis intervensi Art therapy menggambar pada Klien
5
Resiko Prilaku Kekerasan dirumah sakit jiwa Dr. Soeharto heerdjan Jakarta
Penelitian bertujuan mengetahui Analisis Intervensi Art therapy Menggambar
di Rumah Sakit Dr. Soeharto Heerdjan Jakarta. Metode penelitian yang
digunakan dalam penelitian ini adalah studi kasus .Hasil penelitian ini
menunjukan bahwa intervensi Art therapy Menggambar untuk menurunkan
tingkat Resiko Prilaku Kekerasan pada Pasien Skizofrenia .Sehingga dapat
disimpulkan bahwa Art therapy Menggambar berpengaruh terhadap
penurunan tanda dan gejala Resiko Prilaku Kekerasan.
2. (Fatihah,2021). Pengaruh Art therapy menggambar terhadap perubahan tanda
dan gejala pada Klien Resiko Prilaku Kekerasan. Metode: Desain Penulisan
ini menggunakan metode literature review yaitu mencari artikel dari Google
cendikia dan Semantik dengan rentang tahun 2011 - 2021 berdasarkan kata
kunci yang ditetapkan. Hasil: Dengan kata kunci Art therapy menggambar,
dan gejala Resiko Prilaku Kekerasan didapatkan artikel terbitan tahun2011-
2021 dalam bahasa Indonesia di dapatkan 243 artikel dan bahasa Inggris di
dapatkan 2. Setelah dilakukan penapisan melalui kriteria inklusi dan eklusi di
dapatkan 10 artikel penelitian dengan topik pembahasan. Hasil telaah
literature pada 10 artikel manyatakan terapi okupasi, dapat megontrol Resiko
Prilaku Kekerasan dan perununan tanda dan gejala dengan hasil penelitian
dari uji Wilcoxon sign rank test didapatkan p=0,000< p=0,010, dapat
merangsang aspek kognitif untuk menurunkan gejala Resiko Prilaku
Kekerasan. Simpulan: aktivitas menggambar efektif untuk mengontrol gejala
Resiko Prilaku Kekerasan karena dapat mengalihkan perhatian Klien dari
6
Resiko Prilaku Kekerasan.
3. (I Wayan candra, 2019) Art therapy aktivitas menggambar terhadap
perubahan Resiko Prilaku Kekerasan pada Klien Skizofrenia Penelitian ini
bertujuan untuk mengetahui pengaruh Art therapy aktivitas menggambar
terhadap perubahan Resiko Prilaku Kekerasan pada Klien skizofrenia.
Jenispenelitian ini adalah Quasy eksperiment pendekatan One-group Pretest-
posttest Design. Teknik sampling dengan non probability sampling Quota
Sampling. Jumlah sampel 30 orang. Setelah dilakukan pengamatan
didapatkan hasil gejala Resiko Prilaku Kekerasan yang dialami Klien
skizofrenia sebelum diberikan Art therapy aktivitas menggambar terbanyak
dalam katagori sedang yaitu 15 orang (50%). Setelah diberikan Art therapy
aktivitas menggambar terbanyak dalam katagori ringan yaitu 21 orang (70%).
Hasil uji Wilcoxon Sign Rank Test didapatkan p = 0,000p < 0,010 yang
berarti ada pengaruh yang sangat signifikan Pemberian Art therapy aktivitas
menggambar terhadap perubahan gejala Resiko Prilaku Kekerasan pada Klien
skizofrenia
7
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Art Therapy
1. Defenisi
Art therapy adalah bentuk layanan kesehatan kepada masyarakat atau
Klien yang mengalami gangguan fisik atau mental dengan menggunakan
latian/aktivitas mengerjakan sasaran yang terseleksi untuk meningkatkan
kemandirian (World Federation of Art Therapy, 2020). Terapi menggambar
adalah bentuk psiko terapi yan gmenggunakan media seni untuk
berkomunikasi. Media seni dapat berupa pensil, buku gambar, pensil warna,
penghapus. (Adriani & Satiadarma, 2021).
Art Therapy merupakan bentuk psikoterapi yang menggunakan
pembuatan karya seni seperti menggambar, mematung, dan lain lain sebagai
proses terapinya. Proses seni merupakan tindakan dalam diri seseorang yang
merefleksikan perasaan dan konflik yang tidak disadarinya secara nyata atau
simbolik. Hasil karya seni ini dapat mengintrepetasikan efektivitas terapi
untuk meningkatkan kesadaran, reality testing, dan pemecahan masalah,
dengan melibatkan pikiran, perasaan, dan tindakan. (Hovland dalam Rifa
Hidayah,2020) mengatakan bahwa art therapy adalah salah satu teknik Klien
dengan seni menggambar. Melalui gambar, individul bisa mendeskripsikan
dan menilai keadaan dirinya sehingga dapat meningkatkan konsep diri
individu. Sedangkan (British Association of Art Therapy dalam Sinta
Natalial,2020) mendefinisikan art therapy merupakan proses psikoterapi
8
yang dilakukan dengan menggunakan media seni.
Art Therapy menurut (American Art Therapy Association,2022)
merupakan profesi dalam bidang klinis yang berfokus dengan pembuatan
seni, yang diterapkan bersama dengan teori psikologis dan pengalaman
manusia dalam psikoterapi. Aktivitas ini terbagi berdasarkan kebutuhan
Klien seperti tenang atau ramai dan aktif atau pasif. Art Therapy merupakan
salah satu teknik terapi dalam konseling yang menggunakan seni sebagai
media utamanya untuk menghasilkan produk yang mencerminkan kondisi,
perkembangan, kepribadian, minat, atau masalah yang sedang dialami oleh
seorang individu,Untuk bisa memahami pesan yang tersirat dari sebuah
terapi seni, membutuhkan perhatian, pemahaman, dan penerimaan dalam
prosesnya. Seseorang bisa menggunakan Art Therapy sebagai media untuk
meluapkan ekspresi dan perasaannya ketika bisa memperhatikan,
memahami, dan menerima seni sebagai terapinya. Art Therapy mampu
mendorong seseorang untuk meluapkan perasaannya melalui penekanan
terhadap seni seperti menggambar, bermain peran, dan lain sebagainya.
Terapi ini menggabungkan psikologi dengan seni yang bisa mengungkap
suatu masalah yang dihadapi oleh klien dengan proses kreatif yang
menyenangkan menggunakan berbagai bahan yang beragam. Art Therapy
bisa menambah kreativitas serta menstabilkan emosi klien bahkan bisa
membantu penyembuhan penyakit mental dan pembentukan karakter
seorang individu. (Menurut Malchiodi,2020)
Art Therapy merupakan salah satu teknik Klien terapi yang ampuh
9
untuk digunakan sebagai sarana untuk berkomunikasi dengan klien, Sampai
saat ini, Art Therapy sudah diakui secara luas mampu mempermudah
komunikasi klien untuk menyampaikan pikiran dan perasaan trauma yang
terlalu menyakitkan sehingga sulit untuk diucapkan dengan kata-kata. Judith
A. Rubin dalam bukunya mengatakan bahwa Art Therapy merupakan salah
satu sarana terapi yang tepat digunakan ketika konselor berhadapan dengan
kelompok individu tertentu khususnya mereka yang kurang aktif secara
verbal atau kata-kata. Seni menjadi media yang lebih nyaman bagi Klien
untuk mengekspresikan dirinya. (Margaret Naumburg dan Edith
Kramer,2020) memiliki pandangan yang berbeda melihat seni dalam art
therapy seni sebagai bentuk ungkapan simbolis, datang dari alam bawah
sadar seperti mimpi, untuk ditimbulkan secara spontan dan dipahami melalui
asosiasi [Link] karena itu, pembuatan karya seni, menjadi dikenal di
bidang Art Therapy sebagai pendekatan yang berfokus pada "produk", dan
disebut sebagai "seni dalam terapi" atau terapi psikoterapis yang berbeda
dengan proses", atau “seni sebagai terapi”, yang menekankan proses kreatif
itu sendiri sebagai penyembuhan. (Edith Kramer,2022) melihat seni sebagai
bentuk sublimasi, yaitu cara menyatukan perasaan dan dorongan yang saling
bertentangan dalam sebuah bentuk estetis melalui proses kreatif. Dalam art
therapy, terapis membantu klien untuk menyalurkan emosi melalui
pengalaman proses pembuatan karya seni. (Freud dalam Feist dan
Feist,2022) mengatakan bahwa sublimasi merupakan penyaluran emosi
melalui hal-hal yang bisa diterima, baik secara kultural ataupun sosial. dia
10
mengatakan bahwa karya seni Michaelangelo merupakan contoh dari
sublimasi.
Art Therapy ini menyajikan serangkaian tahap yang bersifat
teraupetik dengan menggunakan seni sebagai media terapinya. Tahapan
terapi dari pengenalan sampai akhir dan hasil dari keseniannya dapat
digunakan sebagai komunikasi non verbal yang memudahkan klien untuk
mengungkapkan apa yang terpendam pada dirinya. Sehingga pemaknaan
dari karya seni klien ini bisa digunakan dalam pencarian solusi dari masalah
klien Sejatinya, Art Therapy ini sesuai dengan bakat atau nilai-nilai seni
yang dimiliki oleh Klien Seorang konselor hanya membantu dan
mendorong klien agar bisa membuat sebuah karya seni yang bisa digunakan
dan sesuai untuk mengekspresikan kepribadian dan emosinya secara
mendalam. Teknik, peralatan, dan jenis kesenian yang akan digunakan
disesuaikan dengan tujuan klien, usianya, dan perkembangan dirinya
kemudian konselor mengamati dan menanggapi hasil latar belakang klinis.
Terapi ini memang dilakukan sesuai dengan kondisi Klien, namun
pada dasarnya terapi ini tergolong dalam dua jenis yaitu Art Therapy
terstruktur dan Art Therapy tidak terstruktur. Art Therapy terstruktur
merupakan jenis Art Therapy dengan media seni yang sudah disiapkan oleh
konselor yang harus diikuti oleh Klien. Sedangkan pada jenis terapi yang
tidak terstruktur konselor belum menyiapkan media seni yang akan
digunakan.
2. Tahapan
11
Dalam art therapy, konselor memegang kerangka terapi,
merumuskan tujuan dari terapi tersebut, serta menawarkan suatu hubungan
teraupetik yang bertujuan untuk memulihkan kondisi klien. Beberapa hal
penting yang harus dipersiapkan dalam terapi ini adalah persiapkan dalam
terapi ini adalah menentukan media seni yang akan digunakan, proses
pembuatan atau penggunaan seni sebagai terapinya, dan refleksi makna seni
dari sisi [Link], dan refleksi makna seni dari sisi klinisnya.
(Alvina Wong dan Woro Kurnianingrum, 2022) menyebutkan Art
Therapy dilakukan dalam beberapa intervensi sesuai dengan keperluan.
Dalam satu intervensinya terdapat 5 sesi diantaranya adalah warm-up,
recalling event, emotional express and issue, restitution, dan termination.
a. Pemanasan (Warm Up)
Dalam tahap ini, konselor dan klien perlu menciptakan
komunikasi yang nyaman sehingga mempermudah dalam proses
terapi di tahapan berikutnya. Bagian terpentingnya adalah konselor
membangun kenyamanan dan rasa percaya klien atas kerahasiaan
seluruh data selama terapi berlangsung. Konselor juga menjelaskan
beberapa teknis yang perlu dilalui dalam terapi tersebut. Pemanasan
biasanya dilakukan dengan perkenalan, berimajinasi, menggambar
abstrak, dan lain sebagainya.
b. Penggambaran Peristiwa Kembali (Recalling Event)
Pada tahap kedua, klien diminta untuk menggambarkan
12
peristiwa yang telah dilalui sebelumnya. Peristiwa ini terdiri dari
peristiwa menyenangkan (positif) dan peristiwa buruk (negatif) yang
meninggalkan trauma pada dirinya. Penggambaran peristiwa dapat
melalui beberapa media seperti menggambar, bermain peran,
menyanyi, dan lain sebagainya.
c. Mengekspresikan Perasaan dan Masalah yang Dialami (Emotional
Express And Issues)
Klien akan diminta untuk mengungkapkan semua perasaan
yang ada dalam dirinya seperti perasaan marah, sedih, bahagia,
kecewa, dll. Pengungkapan ini juga dapat dilakukan dengan
menggambar, mewarnai, menyusun karya seni, dan lain sebagainya.
d. Restitution
Pada restitusi, konselor mengajak klien untuk menyadari segala
permasalahan yang ada pada dirinya, dan menerima kondisi tersebut.
Kemudian mengajak klien untuk menemukan jalan keluar atau
penyembuhan dari masalah tersebut.
e. Termination
Setelah beberapa tahapan diatas selesai, selanjutnya adalah
terminasi. Dalam tahapan ini merupakan penutup dari sesi terapi.
Dilakukan dengan evaluasi dan diskusi ringan yang dilakukan antara
konselor dan klien. Seharusnya dalam tahap ini klien akan
menceritakan kembali kondisinya dengan nyaman dan menemukan
perubahan emosi yang ada pada dirinya. Menurut Barbara Ganim
13
dalam Mario dkk, art therapy memiliki empat tahapan dasar yaitu
expressing your emmotions, healing the mind, healing the body, dan
transformation of spirit :
(1) Expressing Your Emmotions
Pada tahap ini, klien diminta untuk menjelaskan atau
mendeskripsikan perasaan dan masalah yang sedang dirasakan,
dan menunjukan bagaimana dia menangani masalah tersebut.
(2) Healing The Mind
Konselor akan mengarahkan dan mengajak klien untuk
menemukan jalan keluar atas masalah yang sedang dialaminya.
(3) Healing The Body
Setelah klien menemukan pemecahan atas masalah
yang sedang dialaminya, konselor akan mengarakhan klien
untuk menyadari hal-hal positif yang ada pada dirinya agar
bisa bersyukur dan lebih tenang dalam menjalani kehidupan.
(4) Transformation Of Spirit
Tahapan ini menjadi penutup dari sesi-sesi sebelumnya.
Konselor akan mengajak klien untuk mengevaluasi proses
terapi yang telah dilakukan sebelumnya dan mengekspresikan
perubahan-perubahan positif yang terjadi setelah melakukan
terapi. Vera Maulida, dkk menyebutkan tahapan dari Art
Therapyterdiri dalam 7 tahapan yaitu proses screening,
informed consent, expressing your emotions, healing the mind,
14
healing the body, transformation of the spirit, serta terminasi
dan evaluasi :
a) Screening
Pada sesi ini, konselor melakukan wawancara
kepada klien dengan beberapa kategori pertanyaan.
b) Informed Consent
Di tahap ini, konselor akan menjelaskan tentang
Art Therapydan bagaimana teknis pelaksanaanya serta
manfaat dari terapi ini. Dalam tahap ini, juga bisa diisi
dengan melakukan beberapa pre-test yang bertujuan
untuk mengetahui kondisi klien.
c) Expressing Your Emotions
Konselor akan meminta klien untuk
mencurahkan segala perasaan dan masalah yang sedang
dirasakannya secara bebas dalam media seni gambar.
d) Healing The Mind
Dalam tahap ini klien akan diajak untuk
menemukan jalan keluar dari masalah dan perasaan
buruk yang sedang dialaminya.
e) Healing The Body
Setelah menemukan jalan keluar dan dalam ini
memecahkan masalahnya, klien akan dituntun untuk
mengetahui sisi-sisi positif yang ada pada dirinya untuk
15
terus digali sehingga klien bisa lebih mencintai dirinya.
f) Transformation The Spirit
Setelah semua tahapan diatas dilewati,
selanjutnya klien diminta untuk mengekspresikan
perubahan-perubahan positif yang terjadi pada dirinya
setelah mengikuti serangkaian tahapan terapi seni.
g) Terminasi dan Evaluasi
Penutup dari seluruh tahapan terapi ini adalah
konselor mengajak klien untuk berdiskusi dan
mengevaluasi bagaimana jalannya Art Therapydan apa
penngaruh positif yang terjadi pada diri klien.
3. Manfaat Art Therapy Aktifitas Menggambar
Menurut The British Association of Art Therapyst (2018)
mendefinisikan Art therapy sebagai suatu bentuk psikoterapi yang
menggunakan media sebagai cara utama ekspresi dan komunikasi. Art
therapy atau terapi menggambar telah banyak di lingkungan medis, salah
satunya untuk pengobatan penyakit gangguan jiwa seperti Klien dengan
Resiko perilaku kekerasan Manfaat terapi menggambar pada dasarnya adalah
salah satu penyembuhan. Terapi menggambar ini bermanfaat bagi Klien agar Klien
dapat melepaskan emosi, mengekspresikan diri, mengurangi stress, media untuk
membangun komunikasi serta meningkatkan aktivitas pada Klien gangguan jiwa.
Menurut The British Association of Art Therapyst (2022) Manfaat Art Therapy
sebgai berikut :
16
a) Penyembuhan pribadi. Art Therapybisa membantu memahami
perasaan pribadi dengan mengenali dan mengatasi kemarahan,
kekesalan dan emosi-emosi lainnya. Terapi ini bisa membantu
menyegarkan kembali semangat Klien.
b) Pencapaian pribadi. Menciptakan sebuah karya seni bisa membangun
rasa percaya diri dan memelihara rasa cinta dan menghargai diri
sendiri.
c) Menguatkan Art Therapybisa membantu menggambarkan emosi dan
ketakutan yang tidak bisaan dan ungkap kandengan kata-kata.
Dengan cara ini, Klien lebih bisa mengontrol perasaan-perasaan.
d) Relaksasi dan meredakan stres. Stres kronis bisa membahayakan baik
tubuh maupun pikiran. terapi menggambar bisa digunakan sebagai
penanganan tunggal atau dipadukan dengan teknik relaksasi lainnya
untuk meredakan stres dan kecemasan.
e) Meredakan sakit Art Therapy juga bisa membantu Anda mengatasi
rasa sakit.
f) Terapi ini bisa digunakan sebagai terapi pelengkap untuk
mengobatiKlienyang sakit.
g) Mengeluarkan Hormon
Hipotolamus pada otak. hormon tersebut dikeluarkan oleh
kelenjar pituitari yang terletak di dasar otak. Dampak oksitosin pada
tingkah laku dan respon emosi juga terlihat dalam membangun
ketenangan, kepercayaan, dan stabilitas psikologi. oksitosin juga
17
dianggap sebagai obat ajaib yang dapat membantu meningkatkan
perasaan positif serta kecakapan sosial. Cara supaya hormone
oksitosin dapat meningkat adalah melakukan kegiatan, karena
oksitosin dalam darah akan meningkat yang juga akan bermanfaat
bagi seluruh kesehatan tubuh. dengan melakukan kegiatan , Klien
Resiko Prilaku Kekerasan diharapkan akan mengurangi gejala dari
Resiko Prilaku Kekerasan tersebut.
4. Pelaksanaan Art therapy
Menurut Wahyu (2020) tahapan Art therapy antara lain :
Standar Operasional Prosedur Art Therapy
(SOP)
Tujuan 1. Klien mampumengekspresikan perasaan melalui gambar
2. Klien dapat memberi makna gambar
3. Klien dapat melakukan aktivitas terjadwal untuk mengurangi Resiko
perilaku kekerasan
Setting 1. Terapis dan Klien duduk Bersama
2. Ruangan nyaman dan tenang
Alat 1. Buku gambar
2. Pensil
3. Pensil warna
4. Penghapus
Metode Metode pelaksanaan dapat dilakukan secara individu atau kelompok
Persiapan Ruangan/ tempat yang nyaman.
Langkah Kegiatan 3. Persiapan
a. Memilih Klien yang sesuai dengan indikasi.
b. Membuat kontrak dengan Klien
c. Mempersiapkan alat dan tempat pertemuan
4. Orientasi
a. Salam terapeutik
1) Salam dari terapis kepada Klien
2) Klien dan terapis menggunakan papan nama
5. Evaluasi/validasi
a. Menanyakan perasaan Klien saat ini
18
b. Tanyakan apakah kegiatan art therapy aktivitas
menggambar sudah dilakukan
6. Kontrak
a. Menjelaskan tujuan kegiatan, yaitu mengurangi terjadi
Resiko perilaku kekerasan.
b. Menjelaskan aturan main seperti jika Klien ingin
meninggalkan kelompokmaka harus memintaizin
kepada terapis, lama kegiatan 35 menit, setiap Klien
mengikuti kegiatan dari awal sampai akhir.
7. TahapKerja
a. Persiapan alat seperti, buku gambar, pensil, dan pensil
warna
b. Membagikan kertas, pensil, pensil warna, krayon
kepada klien
c. Menjelaskan tema gambar yaitu menggambar sesuatu
yang disukai atau perasaan saat ini
d. Setelah selesai menggambar terapis mempinta klien
untuk menjelaskan gambar apa dan makna gambar
yang telah dibuat
e. Terapis memberikan pujian kepada klien setelah klien
selesai menjelaskan isi gambarnya
8. Terminasi
a. Evaluasi
1) Menanyakan perasaan klien setelah melakukan
tindakan, terapis memberikan pujian pada klien.
2) Rencana tindak lanjut: terapis menuliskan kegiatan
menggambar pada tindakan harian klien.
3) Kontrak yang akan datang
4) Menyepakati tindakan terapi menggambar yang akan
dating
5) Menyepakatiwaktudan tempat
6) Berpamitan dan mengucapkan salam
Evaluasi Evaluasi dilakukan saat proses Art therapy Aktivitas
Menggambar berlangsung khususnya pada tahap kerja. Aspek
yang dievaluasi adalah kemampuan Klien sesuai dengan
tujuan Art therapy Aktivitas Menggambar, kemampuan yang
diharapkan adalah mampu mengekspresikan perasaan
melaluigambar, memberimakn gambar, dan mengurangi
Resikoperilaku kekerasan (nama Klien, eksperikan perasaan
melalui gambar, makna gambar, mengurangi
RPK)
Dokumentasi Dokumentasikan kemampuan yang dimiliki pada catatan
proses keperawatan tiap Klien. Contoh Klien mengikuti, Art
therapy Aktivitas Menggambar. Klien mampu
19
mengekspresikan perasaan melalui gambar, memberi makna
gambar,dan mengurangi rpk.
Sumber: Ni Putu Sukma Pratiwi (2020)
5. Tujuan dan Kegiatan dalam Art Therapy
Art therapy merupakan salah satu jenis terapi yang menggunakan
seni sebagai medianya. Seni disini bisa berupa gambar, bermain peran, olah
suara, dan lain sebagainya. Dalam prosesnya klien akan diarahkan untuk
membuat suatu produk seni, menggunakan, atau hanya menikmatinya.
Tujuannya adalah untuk membantu klien memahami betul mengenai
pribadinya, membantu untuk mengekspresikan emosi yang terpendam,
mengurangi stres, dan memberi ketenangan dalam hidupnya karena kesenian
dapat menjadikan sesuatu yang sulit atau menyakitkan dapat terlihat tanpa
dinyatakan dengan kata-kata. Terapi ini juga bisa digunakan untuk proses
healing. Karena dengan terapi ini seseorang dapat mengetahui apa yang
menjadi penyebab stresnya,dan menemukan ketenangan dan kenyamanan
ketika membuat atau menyaksikan sebuah produk seni. Tujuan dari terapi ini
bukan hanya untuk menonjolkan bakat seni dari konseli, melainkan untuk
media komunikasi yang bebas antara konselor dan Klien melalui media seni.
Kegiatan dari art therapy meliputi beberapa kegiatan kesenian seperti
menggambar, bermain peran, drama, bermain music, menempel, seni
membentuk dengan plastisin, dll.
B. Skizofrenia
20
1. Defenisi
Skizofrenia adalah gangguan mental kronis yang ditandai adanya
distorsi dalam berpikir, persepsi, emosi, bahasa, dan perilaku sehingga
sangat mempengaruhi aktivitas individu sehari- hari (Hany, 2022).
Skizofrenia suatu kondisi gangguan psikotik yang ditandai dengan
gangguan utama dalam pikiran, emosi dan perilaku yang terganggu, dimana
berbagai pemikiran tidak saling berhubungan secara logis, persepsi dan
perhatian yang keliru, efek yang datar atau tidak sesuai dengan berbagai
gangguan aktivitas motorik (Viana & Gati, 2023).Tanda dan gejala yang
timbul akibat skizofrenia berupa gejala negatif seperti Pikiran negatif. (Rita
Untari, 2023).
2. Epidemiologi Skizofrenia
Skizofrenia adalah masalah kesehatan masyarakat yang
memengaruhi populasi dunia secara global. Meskipun prevalensi penyakit
ini bervariasi secara global, diperkirakan skizofrenia mempengaruhi sekitar
3% orang dewasa dan prevalensi di Sulawesi Selatan adalah 9,5%
(kementrian kesehatan republik indonesia, 2019). Beberapa riset
menunjukkan bahwa kejadian skizofrenia pada laki-laki lebih besar
dibandingkan pada perempuan tetapi tidak semua kasus di dunia
menunjukkan halserupa. kejadian tahunan mencapai angka 15,2% per
100.000 penduduk, kejadian pada imigran juga lebih besar dibanding
penduduk asli. Sebanyak 70% Klien yang dirawat dibagian psikiatri adalah
karena skizofrenia (Zahnia & Sumekar, 2016).
21
3. Etiologi Skizofrenia
a) Gender dan Usia
Prevalensi skizofrenia setara pada laki-laki dan perempuan
namun awitan dan perjalanan penyakitnya berbeda pada pria awitan
terjadi lebih dini. Usia puncak awitan pada pria adalah 8 hingga 25
tahun dan 25 hingga 35 tahun untuk perempuan. Kurang lebih terdapat 3
hingga 10 persen Perempuan yang mengalami awitan diatas usia 40
tahun. beberapa studi menunjukkan bahwa pria cenderung mengalami
hendaya akibat gejala negatif dibandingkan pada perempuan dan
perempuan lebih cenderung memiliki kemampuan fungsi sosial yang
lebih baik daripada laki-laki sebelum awitan penyakit (Sadlock &
Sadlock, 2014).
b) Genetik
Beberapa studi membuktikan adanya hubungan antara genetik
dan kejadian skizofrenia. Orang tua yang menderita skizofrenia
membuat anak merekaberpeluang 40% menderita penyakit yang sama.
Padakembar dizigot, risikoinilebih rendah yaitusekitar 12- 14%
(Sadlock & Sadlock, 2014).
c) Biokimia
Beberapa penelitian menyatakan bahwa perkembangan
skizofrenia berawal dari kelainan pada neurotransmitter seperti
hiperaktivitas dopamin, serotonin, norepinefrin, dan hipoaktivitas asam
gamma aminobutirat yang disingkat GABA (Charlotte Wells, 2020).
22
d) Faktor sosio ekonomi dan kultural
Skizofrenia digambarkan terdapat pada semua kebudayaan dan
kelompok status. di negara maju, jumlah Klien skizofrenia yang tidak
seimbang berada pada kelompok sosio-ekonomi lemah. Mereka
menyatakan bahwa stress yang dialami anggota kelompok
sosioekonomi lemah berperan dalam timbulnya skizofrenia (Parandangi,
2021).
e) Faktor populasi
Kepadatan populasi tempat tinggal individu memiliki korelasi
dengan angka skizofrenia. Semakin besar dan padat suatu populasi
maka prevalensi kejadian skizofrenia juga lebih besar. hal ini juga lebih
berpengaruh pada mereka yang memiliki faktor risiko lain (Sadlock &
Sadlock, 2020).
f) Penyalah gunaan obat-obatan
Mengonsumsi obat-obatan secara tidak bertanggung jawab
seperti kokain, amfetamin, dan metamfemtamin utamanya pada usia
remaja dapat meningkatkan prevalensi terjadinya skizofrenia.
Mengonsumsi alkohol ataupun merokok juga menunjukkan hasil yang
kurang lebih sama (Sadlock & Sadlock, 2020).
4. Manifestasi Klinis Skizofrenia
a) Gangguan proses pikir: asosiasi longgar (berbicara tak nyambung),
intrusi berlebihan, klang asosiasi (pengucapan kata yang memiliki
persamaan tidakd iketahui), alogia (tidak responsif karena kurang kosa
23
kata), neologisme (membuat perkataan atau symbol baru yang tak
diketahui umum).
b) Gangguan isi pikir: waham, adalah keadaan di mana seseorang mempercayai
sesuatu yang salah terlepas dari banyaknya bukti yang mengatakan bahwa
pemikirannya keliru.
c) Gangguan persepsi; ilusi, depersonalisasi dan derealisasi.
d) Gangguan emosi; ada tiga afek dasar yang sering diperlihatkan oleh penderita
skizofrenia (tetapi tidak patognomonik)
e) Gangguan perilaku: perilaku yang unik atau aneh, dapat terlihat seperti
gerakan tubuh yang tak karuan dan menyeringai, perilaku ritual, di luar nalar,
dan agresif serta perilaku seksual yang takpantas.
f) Gangguan motivasi : suatu keadaan dimana seseorang tidak memiliki motif
untuk mencapai tujuannya. misalnya, kehilangan kemauan dan menurunnya
aktivitas.
g) Gangguan neurokognitif; terdapat gangguan atensi, menurunnya kemampuan
untuk menyelesaikan masalah, gangguan memori (misalnya, memori kerja,
spasial dan verbal) serta fungsi eksekutif (Kementrian Kesehatan Republik
Indonesia, 2020).
5. Fase Terjadinya Skizofrenia
a) Fasepremorbid
Fase ini ditandai dengan munculnya ketidak normalan fungsi yang
bisa saja dianggap terjadi sebagai akibat dari efek penyakit tertentu.
Indikator premorbid di antaranya adalah riwayat psikiatri keluarga,
priawat prenatal, komplikasi obstetrik, dan defisit neurologis. Faktor
24
lainnya dapat berupa sikap pemalu dan menarik diri, hubungan sosial
yang kurang baik, dan menunjukkan perilaku antisosial (Chand, Kuckel,
& Huecker, 2022).
b) Faseprodromal
Pada fase ini biasanya timbul gejala Resiko Prilaku Kekerasan yang
onsetnya bermacam- macam mulai dari minggu, bulan, bahkan lebih dari satu
tahun sebelum psikotik menjadi jelas. Semakin tinggi intensitasnya maka
penderita pun akan semakin menarik diri dari lingkungan (Chand, Kuckel, &
Huecker, 2022)
c) Faseaktif
Pada fase aktif, penderita skizofrenia mengalami Resiko Prilaku
Kekerasan, berbagai jenis waham dengan intensitas yang tidak bisa
dikendalikan. bahkan aktivitas sehari-hari pun sudah sangat terganggu
pada fase ini. biasanya, penderita baru mau berobat ketika sudah
memasuki fase aktif (Chand, Kuckel, & Huecker, 2022)
d) Fase residual
Fase ini merupakan tahap terakhir dan paling parah dari skizofrenia di
mana penderita merasa mendengar suara-suara negatif yang membuatnya
terdorong untuk melakukan tindakan yang tidak diinginkan seperti
menyakiti diri sendiri atau bunuh diri (Chand, Kuckel, & Huecker, 2022).
6. Jenis Skizofrenia
a) Skizofrenia paranoid. Salah satu jenis skizofrenia dimana penderitanya
mengalami delusi bahwa orang lain ingin melawan dirinya atau anggota
25
keluarganya. Penderita umumnya juga merasa lebih superior dan
berkuasa dibandingkan musuh-musuh khayalannya. Skizofrenia jenis ini
disebabkan oleh kinerja otak yang terganggu karena faktor genetik dan
lingkungan yang dipicu oleh adanya stress dan trauma (Jain & Mitra,
2022).
b) Skizofrenia disorganisasi (hebefrenik). Skizofrenia ini merupakan jenis yang
ditandai dengan Klien yang memiliki tingkah laku dan ucapan yang sulit untuk
dipahami. Terkadang mereka membuat kata-kata baruyang tidak memiliki arti,
tertawa tanpa alasan yang jelas, atau sibuk dengan dunia mereka sendiri (Jain &
Mitra, 2022).
c) Skizofrenia katatonik. skizofrenia yang ditandai dengan adanya gangguan
pergerakan. Klien biasanya cenderung tak dapat menggerakkan tubuhnya atau
malah bertingkah hiperaktif. pada beberapa kasus juga ditemukan Klienyang
tidak mau berbicara sama sekali atau bisu (Jain& Mitra, 2022).
d) Skizofrenia takterinci. Klien yang menderita skizofrenia jenis ini akan
mengalami Resiko Prilaku Kekerasan, waham dan gejala psikosis aktif yang
menonjol, seperti kebingungan dan/atau inkoheren atau memenuhi kriteria
skizofrenia tetapi tidak dapat digolongkan pada tipe paranoid, katatonik,
hebefrenik, residual dan depresi pasca Skizofrenia (Jain&Mitra, 2022).
e) Skizofrenia residual. skizofrenia ini biasanya tidak menunjukkan gejala umum
layaknya skizofrenia tipe lainnya seperti berkhayal, Resiko Prilaku Kekerasan,
berbicara dan berperilaku yang tidak teratur skizofrenia jenis ini biasanya baru
bisa didiagnosis ketika terjadi sedikitnya satu episode psikotik yang jelas dan
gejala yang berkembang ke arah negatif terlihat menonjol. Klien biasanya
26
bersikap eksentrik dan menarik diri dari lingkungan sosial (Jain & Mitra, 2022).
f) Skizofrenia taktergolongkan. Skizofrenia jenis ini memiliki gambaran klinisnya
berupa waham, Resiko Prilaku Kekerasan, inkoherensi atau tingkat kacau yang
cukup jelas untuk dikenali. Terkadang terdapat gejala lain seperti gangguan
pikiran, afek, dan perilaku (Zahnia&Sumekar,2016).
7. Pemeriksaan Penunjang Skizofrenia
a) Pemeriksaan berat badan (Body Mass Index/BMI), pemeriksaan lingkar
pinggang, dan pemeriksaan tekanan darah.
b) Pemeriksaan laboratorium seperti pemeriksaan darah tepi, pemeriksaan fungsi
hati dan ginjal, profil lipid juga pemeriksaan glukosa sewaktu.
c) PANSS (Positive and Negative Syndrome Scale) adalah instrumen yang
digunakan untuk mengevaluasi Klien dengan perilaku agresif yang hasilnya bisa
digunakan untuk menentukan pendekatan terapi pada Klien (Kementrian
KesehatanRepublikIndonesia,2020).
8. Tatalaksana Skizofrenia
a) Fase akut
Pada fase ini, terapi dilakukan untuk mencegah Klien melukai dirinya
atau orang lain, mengendalikan perilaku yang merusak, mengurangi beratnya
gejala psikotik Klien dan gejala terkait lainnya misalnya agitasi, agresi
dangaduh gelisah (Kementrian Kesehatan Republik Indonesia, 2020). Terapi
diawali dengan berbicara kepada Klien dan memberinya ketenangan. Setelah
Klien sudah tenang, maka selanjutnya dilakukan pemberian obat. Obat bisa
diberikan dalam bentuk oral maupun injeksi namun obat injeksi cenderung
mendapatkan awitan kerja yang lebih cepat. Bila Klien berbahaya, maka perlu
27
dilakukan isolasi atau pengikatan selama 2-4 jam sebelum diberikan obat
(Kementrian Kesehatan Republik Indonesia, 2020). Obat yang diberikan dapat
berupa golongan anti psikotik generasi kedua seperti olanzapine (dosis 10
mg/injeksi intramuskulus, dapat diulang setiap 2 jam dengan dosis maksimal
30 mg/hari) dan aripriprazol (dosis 9,75 mg/injeksi intramuskulus dan dosis
maksimal 29,25 mg/hari). Kemudian ada obat antipsikotika seperti haloperidol
yang bisa diberikan dengan dosis 5 mg/injeksi intramuskulus, dapat diberi
setiap setengah jam dengan mempertimbangkan dosis maksimal 20 mg/hari
(Kementrian Kesehatan Republik Indonesia, 2020) Selain obat-obatan, dapat
dilakukan pula psikoedukasi yang tujuannya mengurangi stimulus berlebih dan
stresor lingkungan. Komunikasi yang baik, adanya lingkungan yang nyaman,
dukungan atau harapan dapat membuat Klien menjadi lebih tenang. adapun
ECT(terapi kejang listrik) juga adalah salah satu terapi lainnya yang biasanya
dilakukan pada Klien skizofrenia kata tonik dan skizofrenia refrakter
(Kementrian Kesehatan Republik Indonesia, 2020).
b) Fase stabilisasi
Fase stabilisasi bertujuan untuk mengontrol remisi gejala,
mengurangi risiko atau kekambuhan serta memaksimalkan proses
penyembuhan yang efektif. Obat- obatan diberikan sesuai dengan dosis
optimal Klien, dilakukan selama 8-10 minggu sebelum masuk ke fase
selanjutnya (Kementrian Kesehatan Republik Indonesia, 2020).
psikoedukasi dilakukan dengan tujuan agar Klien dan keluarga dapat
mengelola gejala skizofrenia yang ada, dapat merawat diri, dan
meningkatkan kepatuhan menjalani pengobatan (Kementrian Kesehatan
28
Republik Indonesia,2020).
c) Fase rumatan
Pada fase ini, dosis obat-obatan mulai diturunkan secara bertahap
hingga dosis minimal namun masih mampu untuk mencegah terjadinya
kekambuhan. Apabila kekambuhan masih terjadi, maka terapi ini
dijalankan selama dua hingga lima tahun tergantung intensitas dan lama
kekambuhan (Kementrian Kesehatan Republik Indonesia, 2020).
Sementara itu, psiko edukasi juga dilakukan pada tahap ini di mana
Klien dipersiapkan untuk kembali pada kehidupan masyarakat. terapi
yang diberikan juga spesifik seperti pelatihan keterampilan sosial,
terapivokal, dan remediasi kognitif. keluarga dan Klien juga diedukasi
agar dapat mengenali dan mengelola gejala prodromal sehingga dapat
mencegah bila muncul kekambuhan (Kementrian Kesehatan Republik
Indonesia, 2020).
C. Resiko Perilaku Kekerasan
1. Defenisi
Resiko perilaku kekerasan merupakan suatu bentuk perilaku yang
bertujuan untuk melukai seseorang secara fisik maupun psikologis.
Berdasarkan definisi tersebut maka Resiko perilaku kekerasan dapat
dilakukan secara verbal dan non verbal, diarahkan pada diri sendiri, orang
lain, dan lingkungan. Resiko perilaku kekerasan pada orang lain adalah
tindak anagresif yang ditujukan untuk melukai atau membunuh orang lain.
Resiko perilaku kekerasan pada lingkungan dapat berupa perilaku merusak
29
lingkungan, melempar kaca, genting dan semua yang ada di lingkungan
(Wulansari dan Sholihah 2021).
Resiko perilaku kekerasan merupakan respon terhadap stressor yang
di hadapi oleh seseorang, yang ditunjukan dengan perlaku aktual melakukan
kekerasan, baik pada diri sendiri, orang lain maupun lingkungan,
secaraverbal maupun nonverbal, bertujuan untuk melukai orang lain secara
visik maupun psikologi. (Berkowitz, 2020)
2. Faktor Penyebab terjadinya Resiko Prilaku kekerasan
Faktor penyebab terjadinya kekerasan sebagai berikut (Direja, 2019):
a) Faktor psikologi
1) Terjadi asumsi, seseorang untuk mencapai suatu tujuan mengalami
hambatan akan timbul dorongan agresif yang memotivasi perilaku
kekerasan.
2) Berdasarkan pengunaan mekanisme koping individu dan masa kecil
yang tidak menyenangkan dan frustasi.
3) Adanya kekerasan rumah tangga, keluarga, dan lingkungan.
b) Faktor Biologis Berdasarkan teori biologi, ada beberapa yang
mempengaruhi Resiko perilaku kekerasan:
1) Beragam komponen sistem neurologis mempunyai implikasi dalam
menfasilitasi dan menghambat impuls agresif.
2) Peningkatan hormon adrogen dan norefineprin serta penurunan
serotin pada cairan serebro spinal merupakan faktor predisposisi
penting menyebabkan timbulnya perilaku agresif seseorang.
30
3) Pengaruh genetik, menurut penelitian perilaku agresif sangat erat
kaitannya dengan genetic termasuk genetik tipe kariotipe XYY,
yang umumnya dimiliki oleh penghuni penjara atau tindak criminal.
4) Gangguan otak, sindrom otak genetik berhubungan dengan
berbagai gangguan serebral, tumor otak (khususnya pada limbic
dan lobus temporal), kerusakan organ otak, retardasi terbukti
berpengaruh terhadap perilaku agresif dan perilaku kekerasan.
c) Faktor Sosial Budaya Norma merupakan kontrol masyarakat pada
kekerasan. Hal ini mendefinisikan ekspresi perilaku kekerasan yang
diterima atau tidak diterima akan menimbulkan sanksi. Budaya
dimasyarakat dapat mempengaruhi perilaku kekerasan.
d) Faktor Presipitasi
Secara umum seseorang akan marah jika dirinya merasa terancam,
baik berupa injuri secara fisik, psikis atau ancaman konsep diri.
Beberapa faktor perilaku kekerasan sebagai berikut:
1) Klien: kelemahan fisik, keputusasaan, ketidak berdayaan,
kehidupan yang penuh agresif, dan masa lalu yang tidak
menyenangkan
2) Interaksi: penghinaan, kekerasan, kehilangan orang yang berarti,
merasa terancam baik internal maupun eksternal.
3) Lingkungan: panas, padat, dan bising.
3. Tanda dan Gejala
Perawat dapat mengidentifikasi dan mengobservasi tanda dan gejala
31
Resiko perilaku kekerasan: (Vahurina dan Rahayu ,2021)
a. Fisik: muka merah dan tegang, atau pandangan tajam, tangan
mengepal, postur tubuh kaku, jalan mondar mandir.
b. Verbal: bicara kasar, suara tinggi, membentak atau berteriak,
mengancam secara fisik, mengumpat dengan kata-kata kotor.
c. Perilaku: melempar atau memukul benda pada orang lain, menyerang
orang lain atau melukai diri sendiri, merusak lingkungan, amuk atau
agresif.
d. Emosi: tidak ade kuat, dendam dan jengkel, tidak berdaya,
bermusuhan, mengamuk, menyalahkan dan menuntut.
e. Intelaktual: cerewet, kasar, berdebat, meremehkan.
f. Spiritual: merasa berkuasa, merasa benar sendiri, mengkritik
pendapat orang lain, menyinggung perasan orang lain, tidak peduli
dan kasar
g. Sosial: menarik diri, penolakan, ejekan, sindiran.
4. Rentang Respon Resiko Prilaku Kekerasan
Adaptif Maladaptif
Bagan 2. 1 Rentang Respon
Asertif Frustasi Pasif Agresif Amuk
a) Asertif : Kemarahan yang diungkapkan tanpa menyakiti orang lain.
b) Frustasi : Kegagalan mencapai tujuan karena tidak realistis atau
terhambat.
32
c) Pasif : Respons lanjutan dimana Klien tidak dapat mengungkapkan
perasaannya.
d) Agresif : Perilaku destruktif tapi masih dapat dikontrol. Orang agresif
biasanya tidak mau mengetahui hak orang lain. Dia berpendapat bahwa
setiap orang harus bertarung untuk mendapatkan kepentingan sendiri
dan mengharapkan perlakuan yang sama dari orang lain.
e) Amuk : perilaku destruktif dan tidak terkontrol. Yaitu rasa marah dan
bermusuhan yang kuat disertai kehilangan control diri. Pada keadaaan
ini individu dapat merusak dirinya sendiri maupun orang lain.
5. Penatalaksanaan Resiko Prilaku Kekerasan
Penatalaksanaan Resiko prilaku Kekerasan menurut (Harwde,2022):
a) Farmakologi
Klien dengan ekspresi marah perlu perawatan dan pengobatan yang
tepat. Adapun pengobatan dengan neuroleptika yang mempunyai dosis
efektif tinggi contohnya: clorpromazine HCL yang digunakan
mengendalikan psikomotornya. Bila tidak ada dapat dipergunakan dosis
efektif rendah, contoh: Trifluoperasine estelasine, bila tidak ada 13 juga
maka dapat digunakan transquelillzer bukan obat anti psikotik seperti
neuroleptika, tetapi meskipun demikian keduannya mempunyai efek anti
tegang, anti cemas, dan anti agitasi.
b) Terapi Okupasi
Terapi ini sering diterjemahkan dengan terapi kerja, terapi ini
33
bukan pemberian pekerjaan atau kegiatan itu sebagai media untuk
melakukan kegiatan dan mengembalikan maupun berkomunikasi, karena
itu didalam terapi ini tidak harus diberikan pekerjaan terapi sebagai
bentuk kegiatan membaca koran, main catur, setelah mereka melakukan
kegiatan itu diajak berdialog atau berdiskusi tentang pengalaman dan arti
kegiatan itu bagi dirinya.
c) Terapi Somatik
terapi somatic terapi yang diberikan kepada Klien dengan gangguan
jiwa dengan tujuan mengubah perilaku tindakan yang ditujukan pada
kondisi fisik Klien, tetapi target terpai adalah perilaku Klien (Prabowo,
2014).
d) Peran serta keluarga Keluarga
Merupakan sistem pendukung utama yang memberikan perawatan
langsung pada setiap keadaan Klien. Perawat membantu keluarga agar
dapat melakukan lima tugas kesehatan yaitu, mengenal masalah
kesehatan, membuat keputusan kesehatan, memberi perawatan pada
anggota keluarga, menciptakan lingkungan keluarga yang sehat, dan
menggunakan sumber daya pada masyarakat. Keluarga yang mempunyai
kemampuan mengatasi masalah akan dapat mencegah perilaku
maladaptive (primer), mengulangi perilaku maladaptive (sekunder) dan
memulihkan perilaku maladaptive dan adaptive sehingga derajat
kesehatan Klien dan keliuarga dapat ditingkatkan secara optimal.
34
6. Indikator Pengukuran Resiko Prilaku Kekerasan
Kuesioner yang digunakan untuk mengukur Penilai Resiko Prilaku
kekerasan merupakan kuesioner yang pernah di guanakan oleh Kadji Tahun
2020 yang terdiri dari 17 pertanyaan yang telah teruji tingkat validitas
reabilitasnya. Penilaian kusioner dengan 2-Skala Guttman Keterangan
Penilaian (Pemberian Skor): Nilai 3, jika klien tidak pernah (T) melakukan
Resiko perilaku kekerasan Nilai 2, jika klien kadang-kadang (K) melakukan
perilaku kekerasan sebanyak 1-2 kali sehari Nilai 1, jika klien sering (S)
melakukan perilaku kekerasan lebih dari 3 kali per hari. Lembar observasi
untuk mengukur kemampuan mengendalikan responden ini, dilakukan
selama 8 kali pertemuan sehingga didapatkan nilai minimal 55 dan nilai
maksimal 100 dengan kategori: Tidak membahayakan diri sendiri dan orang
lain: 56-100, membahayakan diri sendiri dan orang lain : 1-55
Kategor
No Perilaku Klien Pengamatan I Pengamatan II
i
1 Klien mengeluarkan nada T
suara tinggi,menjerit atau S
beteriak K
2 klien mengancam secara T
verbal atau fisik S
K
3 Klien tidak memiliki T
kemampuan merusak S
benda/fasilitas di dalam K
rumah (meja, kursi, tempat
tidur dan lain- lain)
4 Klien berjalan mondar- T
mandir dengan muka S
35
merah dan tegang serta K
pandangan tajam.
5 Klien terlihat dalam kontak T
fisik dengan orang lain S
tanpa melukainya K
(mendorong/ menarik
orang lain)
6 Klien melukai dirinya T
sendiri dan berakibat S
cedera yang serius K
(melukai tubuh)
7 Klien mengancam untuk T
merusak barang/ benda tanpa S
ada rencana untuk K
melakukannya
8 Klien melukai secara fisik T
terhadap orang lain yang S
mengakibatkan cedera ringan K
9 Klien mengungkapkan T
keinginannya pada orang lain S
(keluarga/teman) untuk K
mencederai dirinya
10 Dengan kata-kata, klien T
mengancam orang lain S
(keluarga, tetangga atau K
teman) tanpa ada rencana
untuk melakukannya
11 Klien menggunakan T
benda/fasilitas dengan kasar/ S
membahayakan dengan ada K
niat untuk merusak benda/
fasilitas tersebut (menutup
pintu dengan keras, menaruh
alat makan ke meja dengan
kasar, menata kursi dengan
kasar)
12 Klien terlibat permusuhan T
dengan teman/ siapa saja dan S
melakuan ancaman akan K
melukainya disertai rencana
untuk melakukannya
13 Klien melakukan tindakan T
mencederai diri dan S
mengakibatkan cedera ringan K
(memukul kepalanya atau
membenturkan kepalanya ke
tembok, memukul bagian
36
tubuhnya yang lain seperti
tangan dan kaki)
14 Dengan kata-kata, klien T
membantah nasehat yang S
diberikan K
15 Klien mengancam untuk T
mencederai orang lain dan S
disertai rencana untuk K
melakukannya
16 Klien mengancam akan T
mencederai dirinya sendiri S
tanpa ada rencana untuk K
melakukannya
17 Klien mengancam melakukan T
perusakan kepada benda/ S
fasilitas dalam rumah atau K
luar rumah (fasilitas umum)
dan disertai rencana untuk
melakukannya
(Sumber: Kadji, 2020)
7. Mekanisme Terjadinya Resiko Prilaku Kekerasan
Menurut Prastya, & Arum (2019). Perawat perlu mengidentifikasi
mekanisme koping klien, sehingga dapat membantu klien untuk mengembangkan
koping yang konstruktif dalam mengekpresikan kemarahannya. Mekanisme koping
yang umum digunakan adalah mekanisme pertahan anego seperti displacement,
sublimasi, proyeksi, represif, denialdan reaksi formasi. Perilaku yang berkaitan
dengan risiko perilaku kekerasan antara lain :
a) Menyerang atau menghindar pada keadaan ini respon fisiologis
timbul karena kegiatan system syaraf otonom bereaksi terhadap
sekresi epinefrin yang menyebabkan tekanan darah meningkat,
takikardi,wajah marah, pupil melebar, mual, sekresi HCL meningkat,
peristaltik gaster menurun, kewaspadaan juga meningkat, tangan
37
mengepal,tubuh menjadi kaku dan disertai reflek yang cepat.
b) Menyatakan secara asertif perilaku yang sering ditampilkan individu
dalam mengekspresikan kemarahannya yaitu dengan perilaku pasif,
agresif dan perilaku asertif adalah cara yang terbaik, individu dapat
mengekspresikan rasa marahnya tanpa menyakiti orang lain secara
fisik maupun psikologis dan dengan perilaku tersebut individu juga
dapat mengembangkan diri.
c) Memberontak perilaku muncul biasanya disertai kekerasan akibat
konflik perilaku untuk menarik perhatian orang lain.
d) Resiko perilaku kekerasan tindakan kekerasan atau amuk yang
ditujukan akibat konflik perilaku untuk menarik perhatian orang lain
8. Etiologi
Resiko perilaku kekerasan atau amuk dapat disebabkan oleh frustasi,
takut, intimidasi atau manipulasi. Resiko perilaku kekerasan merupakan
hasil konflik emosional yang belum dapat diselesaikan. Resiko perilaku
kekerasan juga menggambarkan rasa tidak aman, kebutuhan akan perhatian
dan ketergantungan pada orang lain. pada Klien gangguan jiwa Resiko
perilaku kekerasan bisa disebabkan adanya perubahan sensorik persepsi
berupa Resiko Prilaku Kekerasan, baik dengar, visual maupun lainnya. Klien
merasa diperintah olehsuara suara atau bayangan yang dilihatnya untuk
melakukan kekerasan atau Klien merasa marah terhadap suara-suara atau
bayangan yang mengejeknya (Wulansari and Sholihah 2021). menurut
Keliat (2016 dalam (Wulansari and Sholihah 2021) penyebab terjadinya
38
Resiko perilaku kekerasan dapat dijelaskan dengan menggunakan konsep
stres adaptasi. Struart yang meliputi faktor predisposisi (faktor yang
melatarbelakangi) dan faktor presipitasi (faktor yang memicu adanya
masalah).
a) Faktor Predisposisi
Menurut Mafasari (2020) hal-hal yang dapat mempengaruhi
terjadinya Resiko perilaku kekerasan meliputi:
1) Faktor Biologis:
Hal yang dikaji pada faktor biologismeliputiadanya
faktor herediter yaitu adanya anggota keluarga yang sering
memperlihatkan atau melakukan perilaku kekerasan, adanya
anggota keluarga yang mengalami gangguan jiwa, adanya
riwayat penyakit atau trauma kepala, dan riwayat penggunaan
NAPZA (Putri, N, and Fitrianti 2018).
a) Teori dorongan naluri (Instinctual drive theory) Teori
ini menyatakan bahwa Resiko perilaku kekerasan
disebabkan oleh suatu dorongan kebutuhan dasar yang
kuat. penelitian neurobiologi mendapatkan bahwa
adanyapemberian stimulus elektris ringan pada
hipotalamus (yang berada ditengah sistem limbik)
binatang ternyata menimbulkan perilaku agresif.
b) Teori psikomatik (Psycomatic theory) pengalaman
marah dapat diakibatkan oleh respon psikologi terhadap
39
stimulus eskternal maupuninternal. Sehingga sistem
limbic memiliki peran sebagai pusat untuk
mengekspresikan maupun menghambat rasa marah.
2) Faktor Psikologi
Kondisi Klien yang tidak diterima oleh lingkungan
sekitar sebagai salah satu penyebab Klien melakukan
tindakan resiko perilaku kekerasan. Senada dengan Teori
psikoanalitik, teori ini menjelaskan tidak terpenuhinya
kepuasan dan rasaaman dapat mengakibatkan tidak
berkembangnya ego dan membuat konsep diri yang rendah.
agresif dan kekerasan dapat memberikan kekuatan dan
meningkatkan citra diri (Triyani, Dwidiyanti, and Suerni
2019)
3) Faktor Sosial Budaya
Faktor sosial budaya yang mempengaruhi partisipan
mengalami Resiko perilaku kekerasan yaitu, pekerjaan dan
pernikahan (Triyani, Dwidiyanti, and Suerni 2019).
4) Teori lingkungan social
Teori lingkungan sosial (social environment theory)
menyatakan bahwa lingkungan sosial sangat mempengaruhi
sikap individu dalam mengekspresikan marah. Norma budaya
dapat mendukung individu untuk berespon asertif atau
agresif. Resiko perilaku kekerasan dapat dipelajari secara
40
langsung melalui proses sosialisasi (Social learning theory).
Social learning theory menerjemahkan bahwa agresi tidak
berbeda dengan respon-respon yang lain. agresi dapat
dipelajari melalui observasi atau imitasi, dan semakin sering
mendapatkan penguatan maka semakin besar kemungkinan
untuk terjadi. Sehingga seseorang akan beres pon terhadap
keterbangkitan emosionalnya secara agresif sesuai dengan
respon yang dipelajarinya. pembelajaran tersebut bisa internal
maupun eksternal. contoh internal : orang yang mengalami
keterbangkitan seksual karena menonton film erotis menjadi
lebih agresif dibandingkan mereka yang tidak menonton film
tersebut; seorang anak yangmarah karena tidak boleh beli es
krim kemudian ibunya memberinya es agar si anak berhenti
marah, anak tersebut akan belajar bahwa bila amarah maka ia
akan mendapat kanapa yang ia inginkan. contoh eksternal:
seorang anak menunjukan perilaku agresif setelah melihat
seorang dewasa mengekspresikan berbagai bentuk perilaku
agresif terhadap sebuah boneka. Kultural dapat pula
mempengaruhi perilaku kekerasan. Adanya norma dapat
membantu mendefinisikan ekspresi agresif mana yang dapat
diterimaatau tidak dapat diterima. Sehingga dapat membantu
individu untuk mengekspresikan marah dengan cara yang
aserif (Triyani, Dwidiyanti, and Suerni 2019).
41
b) Faktor Presipitasi
Faktor presipitasi Resiko perilaku kekerasan pada seiap individu
bersifat unik, berbeda satu orang dengan yang lain. faktor ini berhubungan
dengan pengaruh stressor yang mencetuskan Resiko perilaku kekerasan
bagi setiap individu. waktu atau lamanya terpapar stessor akan berdampak
terhadap adanya keterlambatan dalam mencapai kemampuan dalam
kemandirian Klien (Giawa 2021). faktor yang dapat menjadi pencetus
terjadinya Resiko perilaku kekerasan antara lain : klien merasakan
kelemahan fisik, keputusan, ketidak berdayaan, kurang percaya diri, dan
lingkungan (ribut, kehilangan orang atau objek yang berharga, konflik
interaksi sosial) (Hulu et al. 2021). kepatuhan pengobatan merupakan
tantangan utama dalam perawatanKlien dengan skizofrenia sehingga dapat
mengurangi kejadian masuk rumah sakit. Stresor tersebut dapat merupakan
penyebab yang berasal dari dalam maupun dari luar individu. Stresor dari
dalam berupa kehilangan relasi atau hubungan dengan orang yang dicintai
atau berarti seperti kehilangan keluarga, sahabat yang dicintai, kehilangan
rasa cinta, kekhawatiran terhadap penyakit, fisik dan lain- lain. Sedangkan
stresor dari luar berupa serangan fisik (Wulansari dan Sholihah, 2021).
Beberapa faktor yang mempengaruhi faktor presipitasi menurut
Triyani, Dwidiyanti dan Suerni (2019) adalah :
a) FaktorPsikologi
1) Frustationaggresion theory
Bilau saha seseorang untuk mencapai suatu tujuan mengalami
hambatan maka akan timbul dorongan agresif yang pada gilirannya
42
akan memotivasi perilaku yang dirancang untuk melukai orang atau
objek. Hal ini dapat terjadi apabila keinginan individu untuk
mencapai sesuatu gagal atau terhambat. keadaan frustasi dapat
mendorong individu untuk berperilaku agresif karena perasaan
frustasi akan berkurang melalui perilaku kekerasan. lingkungan
baru dan tinggal bersama-sama dengan santri lain dalam satu
tempat yang memiliki latar belakang budaya berbeda-beda
memicu tejadinya kesalah pahaman, padatnya jadwal kegiatan
yang membuat mereka merasa tertekan sehingga banyak santri
yang melanggar tata tertib pondok. Aktualisasi diri agar dapat
diterima dan diakui oleh teman sebaya mereka dengan
melakukan tindakan agresif untuk mendapat perhatian
(Damanik and Laia 2022).
2) Teori Perilaku (Behaviororal theory)
Kemarahan merupakan bagian dari proses belajar. hal ini
dapat dicapai apabila tersedia fasilitas atau situasi yang
mendukung reinforcement yang diterima saat melakukan
kesalahan sering menimbulkan kekerasan didalam maupun di
luar rumah (Putri, N, and Fitrianti 2018)
3) Teori Eksistensi (Existential theory)
Salah satu kebutuhan dasar manusia adalah bertindak
sesuai perilaku. apabila kebutuhan tersebut tidak dipenuhi
melalui perilaku konstruktif, maka individu akan memenuhi
43
kebutuhannya melalui perilaku destruktif (Sutejo, 2017).
a. Faktor Sosial Budaya
Teori lingkungan sosial (social lenviron ment
theory) menyatakan bahwa lingkungan sosial sangat
mempengaruhi sikap individu dalam mengekspresikan
marah. Norma budaya dapat mendukung individu untuk
berespon asertif atau agresif. Resiko perilaku kekerasan
dapat dipelajari secara langsung melalui proses sosialisasi
(Social learning theory). Social learning theory
menerjemahkan bahwa agresi tidak berbeda dengan
respon-respon yang lain. agresi dapat dipelajari melalui
observasi atau imitasi, dan semakin sering
mendapatkanpenguatan maka semakin besar kemungkinan
untuk terjadi. Sehingga seseorang akan berespon terhadap
keterbangkitan emosionalnya secara agresif sesuai dengan
respon yang dipelajarinya. Pembelajaran tersebut bisa
internal maupun eksternal. contoh internal : orang yang
mengalami keterbangkitan seksual karena menonton film
erotis menjadi lebih agresif dibandingkan mereka yang
tidak menonton film tersebut. seorang anak yang marah
karena tidak boleh beli es krim kemudian ibunya
memberinya es agar si anak berhenti marah, anak tersebut
akan belajar bahwa bila ia marah maka ia akan
44
mendapatkan apa yang ia inginkan. contoh eksternal :
seorang anak menunjukan perilaku agresif setelah melihat
seorang dewasa mengekspresikan berbagai bentuk perilaku
agresif terhadap sebuah boneka. kultural dapat pula
mempengaruhi perilaku kekerasan. adanya norma dapat
membantu mendefinisikan ekspresi agresif mana yang
dapat diterima atau tidak dapat diterima. Sehingga dapat
membantu individu untuk mengekspresikan marah dengan
cara yang asertif.
b. Faktor Resiko
Menurut Nanda (dalam Sutejo 2017) menyatakan
faktor- faktor risiko dari risiko Resiko perilaku kekerasan
terhadap diri sendiri (risk for self-directedviolence) dan
risiko Resiko perilaku kekerasan terhadaporang lain (risk
for otherdirected violence). Risiko Resiko perilaku
kekerasan terhadap diri sendiri (risk for self- directed
violence).
4) Mekanisme Koping
Menurut Prastya, & Arum (2017). Penulis perlu
mengidentifikasi mekanisme koping klien, sehingga dapat
membantu klien untuk mengembangkan koping yang
konstruktif dalam mengekpresikan kemarahannya. mekanisme
koping yang umum digunakan adalah mekanisme pertahanan
45
ego seperti displacement, sublimasi, proyeksi, represif, denial
dan reaksi formasi. perilaku yang berkaitan dengan risiko
Resiko perilaku kekerasan antara lain :
a. Menyerang atau menghindar
Pada keadaan ini respon fisiologis timbul karena
kegiatan system syaraf otonom bereaksi terhadap sekresi
epinefrin yang menyebabkan tekanan darah meningkat,
takikardi, wajah marah, pupil melebar, mual, sekresi HCL
meningkat, peristaltik gaster menurun, kewaspadaan juga
meningkat, tangan mengepal, tubuh menjadi kaku dan
disertai reflek yang cepat.
b. Menyatakan secara asertif
Perilaku yang sering ditampilkan individu dalam
mengekspresikan kemarahannya yaitu dengan perilaku
pasif, agresif dan perilaku asertif adalah cara yang terbaik,
individu dapat mengekspresikan rasa marahnya tanpa
menyakiti orang lain secara fisik maupun psikologis dan
dengan perilaku tersebut individu juga dapat
mengembangkan diri.
c. Memberontak
Perilaku muncul biasanya disertai kekerasana kibat
konflik perilaku untuk menarik perhatian orang lain. d.
Resiko perilaku kekerasan tindakan kekerasan atau amuk
46
yang ditujukan akibat konflik perilaku untuk menarik
perhatian orang lain
5) Manifestasi Klinis
Menurut Keliat (2016 dalam (Damanik and Laia2022)
tanda dan gejala Resiko perilaku kekerasan sebagai berikut
a. Kognitif
Mempunyai pikiran negatif dalam menghadapi
stressor, mendominasi, bawel, sarkasme, berdebat,
meremehkan keputusan, flight of idea, gangguan berbicara,
perubahan isi pikir, konsentrasi menurun
b. Afektif
Mudah tersinggung, tidak sabar, frustasi, ekspresi
wajah Nampak tegang, merasa tidak nyaman, merasa tak
berdaya, jengkel, dendam, ingin memukul orang lain,
menyalahkan dan menuntut.
c. Fisiologis
Tekanan darah meningkat, nadi dan pernafasan
meningkat, pupil dilatasi, tonus otot meningkat, mual,
frekuensi buang air besar meningkat, kadang-kadang
konstipasi, reflek tendon maningkat, peristaltic gaster
menurun, pengeluaran urine dan saliva meningkat,
kewaspadaan meningkat disertai ketegangan otot seperti
rahang terkatup, tangan dikepal, tubuh jadi kaku, dan
47
desertai refleks yang cepat.
d. Curiga
Mengamuk, ada suara keras dan kasar, perilaku
yang berkaitan dengan kekerasan antara lain menyerang,
menghindar (fight or flight), menyatakan secara asertif
(asertiveness), memberontak (acting out).
6) Penatalaksanaan
a. Medis
a) Nozinan, yaitu sebagai pengontrol perilaku psikososial.
b) Halloperidol, yaitu mengontrol psikosis dan prilaku
merusak diri.
c) Thrihexiphenidil, yaitu mengontrol perilaku merusak
diri dan menenangkan hiperaktivitas.
d) ECT(Elektro Convulsive Therapy),yaitu menenangkan
klien bila mengarah pada keadaan amuk.
b. Penatalaksanaan keperawatan
a) Psiko terapeutik
Psiko terapeutik adalah terapi bicara karena
didasarkan pada percakapan yang dilakukan dengan
psikoterapis, psikiater, terapis atau konselor terlatih. dalam
suasana membina hubungan saling percaya dan terjaga
kerahasiaannya, Klien menceritakan bagian- bagian hidup
yang pernah dialami yang masih teringat jelas dalam
48
ingatannya. berikut Strategi pelaksanaan pada Klien
Skizofrenia dengan Resikoperilaku kekerasan : SP1:
membina hubungan saling percaya (BHSP), membangtu
Klien mengidentifikasi resiko perilaku kekerasannya,
menjelaskan cara mengenal dan mengontrol Resiko
perilaku kekerasan dengan cara nafas dalam dan pukul
bantal. SP 2: melatih Klien mengontrol Resiko perilaku
kekerasan dengan cara: patuh minum obat. SP 3: melatih
Klien mengontrol Resiko perilaku kekerasan dengan cara
verbal. SP 4: melatih Klien mengontrol Resiko perilaku
kekerasan dengan cara spiritual: berdzikir (Siambaton
2020).
b) Lingkungan Terapieutik
Lingkungan terapeutik adalah fasilitas pelayanan
kesehatan untuk Klien dengan Resikoperilaku kekerasan
diharapkan dapat meningkatkan derajat kesehatan,
keamanan, dan hubungan sosial yang normal. Desain
lingkungan yang terapeutik diperlukan untuk Klien
dilingkungan rumah sakit. berikut Strategi Pelaksanaan
pada Klien Skizofrenia dengan resiko perilaku kekerasaan:
SP 1: membina hubungan saling percaya (BHSP),
membangtu Klien mengidentifikasi resiko perilaku
kekerasannya, menjelaskan cara mengenal dan mengontrol
49
Resikoperilaku kekerasan dengan cara nafas dalam dan
pukul bantal.
SP 2: Melatih Klien mengontrol Resiko perilaku kekerasan
dengan cara: patuh minum obat.
SP 3: Melatih Klien mengontrol Resiko perilaku kekerasan
dengan cara verbal.
SP 4: melatih Klien mengontrol Resiko perilaku kekerasan
dengan cara piritual: berdzikir. (Siambaton 2020).
c) Kegiatan hidup sehari-hari (ADL)
Kegiatan hidup sehari-hari merupakan suatu aktifitas
harian Klien yang terjadwal dengan baik dan komperhensif
dimana pada jadwal kegiatan terdapat aspek peningkatan
kesembuhan pada Klien. dalam pelaksanaan kegiatan
sehari-hari pada Klienskizofrenia dengan Resikoperilaku
kekerasan yaitu (SP 1-SP 4) terdiri dari :
1. SP-1 : Membina hubungan saling percaya (BHSP),
membantu Klien mengidentifikasi resikoperilaku
kekerasannya, menjelaskan cara mengenal dan
mengontrol Resikoperilaku kekerasan dengan cara
nafas dalam dan pukul bantal.
2. SP–2 : Melatih Klien mengontrol Resiko perilaku
kekerasan dengan cara: patuh minum obat.
3. SP–3 : Melatih Klien mengontrol Resiko perilaku
50
kekerasan dengan cara verbal.
4. SP–4 Melatih Klien mengontrol Resiko perilaku
kekerasan dengan cara spiritual : berdzikir (Siambaton
2020).
d) Pendidikan Kesehatan
Menurut Notoatmodjo, 2010 pendidikan kesehatan
adalah upaya dalam pembelajaran kepada masyarakat agar
melakukan tindakan- tindakan (praktek) untuk mengatasi
masalah dimasyarakat, kegiatan ini dapat meningkatkan
kesehatannya. perubahan atau tindakan pemeliharaan dan
peningkatan kesehatan yang di hasilkan oleh pendidikan
kesehatan ini didasarkan kepada pengetahuan dan
kesadarannya melalui proses pembelajaran. Sehingga
prilaku tersebut diharapkan akan berlangsung lama dan
menetap (arianti and gusmiati 2018). terapi generalis (SP
1-4) pada Klien dengan Resikoperilaku kekerasan yaitu SP
1 : membina hubungan saling percaya (BHSP),
membangtu Klien mengidentifikasi resiko perilaku
kekerasannya, menjelaskan cara mengenal dan mengontrol
Resikoperilaku kekerasan dengan cara nafas dalam dan
pukul bantal.SP2: melatih Klien mengontrol Resiko
perilaku kekerasan dengan cara: patuh minum obat. SP 3:
melatih Klien mengontrol Resiko perilaku kekerasan
51
dengan cara verbal. SP-4: melatih Klien mengontrol
Resiko perilaku kekerasan dengan cara spiritual : berdzikir
(Siambaton 2020).
D. Pengaruh Art therapy menggambar terhadap Resiko perilaku kekerasan
pada Klien Skizofernia
Art therapy menggambar bermanfaat untuk Klien gangguan jiwa salah
satunya pada Klien skizofernia. Art therapy meggambar dilakukan pada Klien
skizofernia agar dapat melepaskan emosi, mengekspresikan diri, mengurangi
stress, media untuk membangun komunikasi serta meningkatkan aktivitas pada
Klien. Aktivitas menggambar merupakan kegiatan yang dapat membantu
menyampaikan dan mengekspresikan emosi dan pikiran yang mempengaruhi
perilaku yang tidak disadari oleh Klien, selain itu aktivitas menggambar juga
dapat memberikan kegembiraan dan hiburan, serta menarik perhatian Klien
untuk berpartisipasi dalam aktivitas kelompok (Kamariyah, e t a l 2021).
Pemberian Art therapy Menggambar berpengaruh terhadap kemampuan
mengontrol Resiko perilaku kekerasan disebabkan karena saat pelaksanaan Art
therapy Menggambar Klien diajari melalui tuntunan baik oleh fasilitator maupun
pemimpin Art therapy untuk melakukan tindakan menggambar sebagai ekspresi
dari perasaan yang sedang dialami oleh Klien sehingga Klien mampu belajar
mengekspresikan stimulus dengan positif.
Hal ini sesuai dengan teori Purwaningsih (2009) yaitu pemimpin dan
fasilitator dalam Art therapy Menggambar, menjadi motivaror dan memberikan
52
stimulus pada anggota kelompok lain dapat mengikuti jalannya [Link]
penelitian yang menunjukkan ada pengaruh Art therapy Menggambar terhadap
kemampuan mengontrol Resiko perilaku kekerasan menurut pendapat peneliti
dapat disebabkan karena pada saat pelaksanaan Art therapy Menggambar
diberikan reinforcement positif atau penguatan positif yang salah satunya melalui
pujian pada tugas-tugas yang telah berhasil Klien lakukan seperti Klien mampu
mengontrol terhadap musik, mengontrol terhadap gambar, mengontrol terhadap
tontonan, sehingga Klien merasa dihargai karena dapat menyelesaikan suatu
tugas yang diberikan oleh perawat dan punya keinginan kuat untuk mengurangi
perilaku tersebut sehingga terjadi perubahan perilaku yaitu terjadi peningkatan
kemampuan mengontrol perilaku kekerasan.
Hal ini sesuai dengan yang diungkapkan oleh Nasution (2009) bahwa
metode penguatan positif atau reinforcement positif memiliki pengaruh berarti
terhadap pengulangan perilaku. Penguatan positif memiliki kekuatan yang
mengesankan sebagai alat pembentuk perilaku. hasil penelitian ini sesuai dengan
penelitian Tri Wahyuni (2010) tentang Pengaruh Terapi aktivitas kelompok
stimulasi persepsi terhadap kemampuan mengontrol Resiko perilaku kekerasan
pada Klien resiko perilaku kekerasan. hasil analisis menunjukkan ada pengaruh
terapi aktivitas kelompok stimulasi persepsi terhadap kemampuan mengontrol
Resiko perilaku kekerasan pada Klien Resikoperilaku kekerasan dengan hasil (p
= 0,004). Selanjutnya penelitian Candra (2013) yang meneliti tentang pengaruh
terapi kelompok suportif terhadap kemampuan mengatasi Resiko perilaku
53
kekerasan pada klien skizofrenia. hasil analisis menunjukkan ada pengaruh terapi
kelompok suportif terhadap kemampuan mengatasi Resiko perilaku kekerasan
pada klien skizofrenia dengan hasil (p = 0,000). menurut pendapat peneliti
pemberian Stimulasi Sensori efektif dalam mengontrol perilaku kekerasan. Hal
ini disebabkan karena Klien bisa menstimulasi semua panca indra (sensori) agar
dapat mengontrol Resiko perilaku kekerasan yang adekuat setelah mendengar
musik, gambar yang dibuat dan terhadap tontonan TV/Video. dari 10 responden
kelompok perlakuan yang diberikan Stimulasi Sensori 100% mampu mengontrol
perilaku kekerasan. Sedangkan10 responden kelompok kontrol yang mampu
mengontrol perilaku kekerasan.
E. KerangkaKonsep
Art Therapy ResikoPerilakuKekerasan
menggambar pada pasien Skizofernia
Bagan 1 KerangkaKonsep
F. Hipotesis
Ada Pengaruh Art therapy menggambar terhadap Resiko perilaku kekerasan pada
54
Klien Skizofernia di Ruang Murai A Rumah Sakit Khusus Jiwa Soeprapto
Bengkulu
55
BAB III
METODE PENELITIAN
A. Desain Penelitian
Jenis penelitian ini menggunakan metode penelitian kuantitatif dengan desain
penelitian Pra eksperimental one group prestest-posttest. Pada sebuah penelitian
terdapat tes awal sebelum diberikan perlakuan dan juga dilakukan tes akhir
setelah perlakuan, dikarenakan hasil perlakuan dapat diketahui lebih akurat
karena dapat membandingkan dengan keadaan sebelum diberikan
perlakuan(Sugiyono,2018). Penelitianini adalah Art therapy menggambar
terhadap Resiko perilaku kekerasan pada Klien Skizofernia di Ruang Murai A
Rumah Sakit Khusus Jiwa Soeprapto Bengkulu
B. Kerangka Penelitian
O1 X O2
Bagan 2 KerangkaPenelitian
Keterangan:
O1: Resiko perilaku kekerasan pada Klien Skizofernia sebelum diberikan Art
therapy menggambar
X: Intervensi pemberian Art Therapy Menggambar
O2: Resikoperilaku kekerasan pada Klien Skizofernia setelah diberikan Art
therapy menggambar
C. Definisi Operasional
Tabel2. Definisi Operasional
56
No Variablel Definisi Caraukur Alat Hasilukur Skala
ukur ukur
Independen:
1 Art therapy Pelaksanaan art Intervensi SOP Dilakukan sesuai -
menggambar therapy menggambar Dilakukan SOP
yang di berikan sesuaiSOP
sebanyak 2 kali
setiap minggu
selamaminggu pada
Klien resiko perilaku
kekerasan.
Dependen:
2 resiko Respondari Lembar Tidak Interval
Perilaku Stressor yang Cheklist Observasi membahayakan
Kekerasan Dialami diri sendiri dan
Seseorang orang lain:
Dengan 56 -100
Menunjukkan
Membahayan diri
Perubahan sendiri dan orang
Perilaku seperti lain :
Muka merah, 1-55
Pandangan
tajam ,mengatupkan
rahang dengan
kuat,mengepalkan
tangan.
jalan mondar-
mandir,bicara kasar ,
Intonasi suara
Tinggi menjerit atau
beteriak,mengancam
secara verbal atau
fisik
D. Tempat Dan Waktu Penelitian
Penelitian ini di rencanakan akan dilaksanakan di Ruang Murai A Rumah
Sakit Khusus Jiwa Soeprapto Bengkulu, pada bulan April -Mei 2025.
57
E. Populasi Dan Sampel
1. Populasi
Populasi merupakan keseluruhan jumlah objek penelitian yang akan
diteliti (Notoadmodjo, 2018). Apabila seseorang ingin meneliti semua
elemen yang diwilayah penelitian, maka penelitiannya merupakan penelitian
populasi. Populasi dalam penelitian ini adalah jumlah Klien Skizofernia
yang yang mengalami resiko perilaku kekerasan di Ruang Murai A Rumah
Sakit Khusus Jiwa Soeprapto Bengkulu yaitu berjumlah 29 Orang .
2. Sampel Penelitian
Sampel adalah sebagian dari populasi yang diambil dari objek yang
akan diteliti dan dianggap mewakili keseluruhan dari populasi (Notoadmojo,
2018). Sampel adalah sekumpulan pengamanat secara individu yang dipilih
dengan sebuah prosedur khusus .Adapun Teknik yang digunakan pada
penelitian ini adalah purposive sampling adalah teknik pengambilan data
dengan menentukan sampel yang sudah dipertimbangkan. Teknik ini
dilakukan berdasarkan pertimbangan tertentu, bukan berdasarkan strata atau
daerah, melainkan berdasarkan tujuan penelitian. Sugiyono, (2019)
menyatakan bahwa jumlah sampel pada penelitian sederhana berkisaran10-
20 orang. Jumlah sampel pada penelitian ini adalah 10 orang klien dengan
resiko perilaku kekerasan.
Notoatmodjo (2018), mengemukakan agar karekteristik sampel tidak
menyimpang dari populasinya, maka sebelum dilakukan pengambilan
sampel perlu ditentukan kriteria inklusi maupun eksklusi.
58
Adapun sampel yang di ambil menggunakan kriteria sebagai berikut :
a. Dengan kriteria inklusi penelitian adalah:
1) Klien Resiko perilaku kekerasan
2) Klien Resiko perilaku kekerasan yang telah menjalani pengobatan
di ruangan murai A di rumah sakit jiwa Soeprapto kota bengkulu
3) Klien kooperatif
4) Klien yang bersedia menjadi responden
5) Klienyang Berusia 25-30 Tahun
6) Pasien Skizofrenia
b. Kriteria eksklusi penelitian adalah:
1) Klien skizofernia yang tidak mau ikut dalam penelitan.
2) Klien yang meninggalkan tempat penelitian.
F. Metode Pengumpulan Dan Pengolahan Data
1. Pengumpulan Data
Penelitian ini jenis data yang digunakan data premier dan data
sekunder. Data premier adalah data yang didapatkan langsung dari subyek
penelitian. Peneliti melakukan observasi terlebih dahulu pada Klien
Skizofernia dengan resiko perilaku kekerasan. Teknik pengumpulan data
dalam penelitian ini terbagi menjadi tiga bagian yaitu pretest, perlakuan (Art
therapy menggambar) dan post tes, sebelum Diberikan intervensi
keperawatan (Art therapy menggambar terlebih dahulu subyek yang akan
diteliti dilakukan penilaian Resikoperilaku kekerasan dalam lembar
penilaian Kadji tahun 2020. Selanjutnya, subyek yang akan diteliti diberikan
59
intervensi keperawatan Art therapy menggambar.
Sedangkan data sekunder yaitu data yang diperoleh dari dokumen
atau rekam medis Rumah Sakit Khusus Jiwa Soeprapto Bengkulu meliputi
jumlah data yang akan diteliti, yaitu jumlah Klien yang sedang dirawat
dengan resiku perilaku kekerasan.
Beberapa langkah-langkah yang dilakukan peneliti dalam
pengumpulan data sebagai berikut:
a. Mengurus surat izin penelitian dengan membawa surat dari STIKes
Bhakti Husada Bengkulu untuk ditujukan kepada bagian Manajemen
Rumah Sakit Khusus Jiwa Soeprapto Bengkulu
b. Menemui responden yang memenuhi criteria inklusi
c. Melakukan kordinasi dengan perawat ruangan terkait dengan proses
penelitian yang akan di lakukan
d. Meminta bantuan pada perawat ruang terkait dengan proses
penelitian yang akan di lakukan.
e. Memperkenalkan diri, maksud dan tujuan penelitian
f. Meminta Klien menandatangani lembar informedconsent bagi
responden yang bersedia
g. Menjelaskan cara pengisian kuesioner pada responden
h. Mengkaji Resikoperilaku kekerasan menggunakan penilaian Kadji
tahun 2020 sebelum memberikan intervensi.
i. Memberikan intervensi Art therapy menggambar.
j. Mengkaji Resikoperilaku kekerasan menggunakan penilaian Kadji
60
tahun 2020 setelah diberikan intervensi.
2. Pengelolaan Data
Notoatmodjo (2018), mengemukakan bahwa kegiatan dalam proses
pengelolaan data meliputi:
a) Editing (pemeriksaan)
Dalam penelitian ini memastikan kembali kelengkapan data yang
diperoleh kemudian untuk memudahkan pengecekan kelengkapan
data yang diperlukan untuk mencapai tujuan penelitian dilakukan
pengelompokkan dan penyusunan data. Data ini dikelompokkan
berdasarkan pertimbangan peneliti sendiri dengan maksud untuk
memudahkan pengelolaan data.
b) Coding(pengodeandata)
Coding merupakan kegiatan mengubah data bentuk huruf menjadi
data/bilangandenganmemberikankode-kodesetiapvariabeldengan
maksud untuk mempermudah pengelolaan data tahapan ini
memudahkan peneliti dalam mengelompokkan data yang didapat.
c) Processing(memproses)
Selanjutnya setelah semua isi format pengumpulan data diperiksa dan
melewati pengkodean, maka langka selanjutnya dan memproses agar
dapat di analisis dengan cara memasukan data format pengumpulan
data ke komputer.
d) Tabulating
Menganalisi data yang telah di ambil dimasukkan dalam bentuk
61
variabel penelitian agar lebih mudah dalam pembacaan.
e) Entrydata
Data yang didapatkan kemudian dimasukan ke dalam program
komputer untuk selanjutnya dilakukan analisa data.
f) Clearningdata
Tahap ini untuk memeriksa kembali data yang ada di program
computer dalam bentuk table distrubusi frekuensi untuk memastikan
bahwa tidak ada kesalahan dalam entry data.
G. Analisis Data
1. Analisis Univariat
Analisis data univariat adalah analisa yang bertujuan untuk
menjelaskan atau karakteristik masing-masing variabel yang diteliti
(Notoatmodjo, 2018). Variabel yang berbentuk kategorik (jenis kelamin)
disajikan dalam bentuk proporsi, sedangkan variabel yang berbentuk
numerik (perbedaan perilaku agresife sebelum dan sesudah diberikan
perlakuan) berupa nilai disajikan dalam bentuk mean, minimal dan
maksimum, standar deviasi. Analisis penelitian ini dilakukan dengan
komputerisasi dengan menggunakan SPSS untuk melihat Art therapy
menggambar terhadap Resikoperilaku kekerasan pada Klien Skizofernia di
Rumah Sakit Khusus Jiwa Soeprapto Bengkulu. Dan nilai tersebut di nilai
berdasarkan kuantitas diolah dengan rumus mean/rerata menggunakan
SPSS.
62
2. Analisis Bivariat
Analisis bivariat adalah analisa untuk menguji hubungan signifikan
antara dua variabel (dependent dan independen) atau bisa juga untuk
mengetahui apakah ada perbedaan yang signifikan antara dua atau lebih
kelompok (Notoatmodjo,2018). Uji normalitas dilakukan untuk melihat data
berdistribusi normal atau tidak. Sebelum dilakukan uji hipotesis penelitian
melakukan uji normalitas menggunakan uji Shapiro-Wilk, untuk menentukan
jenis uji hipotesis yang digunakan didapatkan nilai p>0,05 yang artinya
berdistribusi normal. Uji t digunakan untuk menguji beda dari mean dari 2
hasil pengukuran kelompok yang sama (misalnya beda mean pretest dan
posttest) jika asumsi tidak terpenuhi (data tidak berdistribusi normal)
(Kelana, 2016). Penelitian ini dalam proses pengelolahan data menggunakan
sistem computerisasi dengan program SPSS.
63
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Hasil Penelitian
Penelitian ini dilakukan pada tanggal 07 Juli – 6 Agustus diRumah Sakit
Khusus Jiwa Soeprapto Bengkulu, dengan jumlah sampel sebanyak 10 orang.
Pengumpulan data menggunakan data primer, yakni data hasil pengukuran
Resiko Perilaku Kekerasan pada pasien skizofernia yang diperoleh dari
pengukuran secara langsung menggunakan alat ukur penilaian Resiko Perilaku
Kekerasan sebelum dan sesudah dilakukan Arth Therapy menggambar. Dan data
sekunder, yakni data pasien skizofernia yang diperoleh dari medical record
Rumah Sakit Khusus Jiwa Soeprapto Bengkulu.
Kegiatan ini dilakukan selama 2 minggu ( 2 kali pertemuan / minggu
untuk melakukan Arth Therapymenggambar pada setiap pasien, Dimana setiap
pasien diberikan total Arth Therapymenggambar sebanyak 4 kali selama 2
minggu ) selama 35menit. Pada waktu pengukuran Resiko Perilaku Kekerasan
pada pasien skizofernia yang di rawat di Rumah Sakit Khusus Jiwa Soeprapto
Bengkulu sebelum dilakukan Arth Therapy menggambar, dilakukan pada
pertemuan pertama penelitian dan pengukuran Resiko Perilaku Kekerasan pada
pasien skizofernia yang di rawat di Rumah Sakit Khusus Jiwa Soeprapto
Bengkulu sesudah dilakukan Arth Therapymenggambar pada pertemuan ke
empat penelitian. Hasilnya kemudian dikelompokkan kedalam masing-masing
variabel.
Setelah itu data diolah dengan menggunakan komputer (Program SPSS),
64
yang dianalisis secara univariat dan bivariat dengan menggunakan uji T. Data
yang telah dikumpulkan dianalisis sebagai berikut:
1. Analisis Univariat
Analisis ini dilakukan untuk mengetahui yakni nilai rata-rata
Resiko Perilaku Kekerasan pada pasien skizofernia Rumah Sakit Khusus
Jiwa Soeprapto Bengkulu sebelum dan sesudah diberikan Arth
Therapymenggambar
Tabel 4
Nilai Rata-Rata Resiko Perilaku Kekerasan pada pasien skizofernia
Sebelum Diberikan Arth Therapymenggambar Di Rumah Sakit
Khusus Jiwa Soeprapto Bengkulu
Variabel N Mean Std. 95% CI Min-
Devias Lower Upper Max
i
Nilai rata-rata Resiko Perilaku 10 27,80 0,91 27,14 28,45 26-29
Kekerasan pada pasien
skizofernia sebelum diberikan
Terapi Okupasi
menggambar
Berdasarkan tabel 4 diatas, Resiko Perilaku Kekerasan pada pasien
skizofernia Sebelum Diberikan Terapi Arth Therapymenggambar
terendah adalah 26 dan tertinggi 29 dengan nilai rata-rata Resiko Perilaku
Kekerasan responden sebelum dilakukan Art Therapy menggambar
adalah 27,80 dengan standar deviasi 0,91 pada Confidence Interval
(95%CI) 27,14 sampai 28,45.
65
Tabel 5.
Nilai Rata-Rata Resiko Perilaku Kekerasan pada pasien skizofernia
Sesudah Diberikan Arth Therapy menggambar Di Rumah Sakit
Khusus Jiwa Soeprapto Bengkulu
Variabel N Mean Std. 95% CI Min-
Devias Lower Upper Max
i
Nilai rata-rata Resiko Perilaku 10 41,50 1,26 40,59 42,40 40-43
Kekerasan pada pasien
skizofernia sesudah diberikan
Terapi Okupasi
menggambar
Berdasarkan tabel 5 diatas, Resiko Perilaku Kekerasan pada pasien
skizofernia Sebelum Diberikan Arth Therapymenggambar terendah
Adalah 40 dan tertinggi 43 dengan nilai rata-rata Resiko Perilaku
Kekerasan responden sebelum dilakukan Arth Therapymenggambar
adalah 41,50 dengan standar deviasi 1,26 pada Confidence Interval
(95%CI) 40,59 sampai 42,40.
2. Analisis Bivariat
Analisis ini dilakukan untuk mengetahui Pengaruh terapi Arth
Therapymenggambar terhadap Resiko Perilaku Kekerasan pada pasien
skizofernia di Rumah Sakit Khusus Jiwa Soeprapto Bengkulu. Sebelum
dilakukan analisis bivariat, terlebih dahulu dilakukan uji normalitas
menggunakan shapiro-walk. Hal ini untuk membuktikan bahwa nilai
tersebut berdistribusi normal, dan bisa dilanjutkan menggunakan uji-t.
66
Tabel.6
Uji Normalitas PengaruhArth Therapymenggambar terhadap
Resiko Perilaku Kekerasan pada pasien skizofernia di Rumah Sakit
khsusus jiwa Soeprapto Bengkulu
Variabel N Statistic Df Sig
Nilai rata-rata Resiko Perilaku 10 0,885 10 0,146
Kekerasan pada pasien
skizofernia sebelum diberikan
Arth Therapymenggambar
Nilai rata-rata Resiko Perilaku 10 0,852 10 0,061
Kekerasan pada pasien
skizofernia sesudah diberikan
Arth Therapymenggambar
Berdasarkan tabel 6 diatas didapatkan nilai shapiro-walk
ResikoPerilaku Kekerasan pre 0,146 dan Resiko Perilaku Kekerasan post
0,061, yang berarti > 0,05. Hal ini membuktikan bahwa nilai tersebut
berdistribusi normal dan bisa dilanjutkan menggunakan uji paired sampel
t- tes.
Tabel 7.
Pengaruh Arth Therapymenggambar terhadap Resiko Perilaku
Kekerasan pada pasien skizofernia di Rumah Sakit khsusus jiwa
Soeprapto Bengkulu
Variabel Mean Std. SE t Pvalue
Deviasi
Resiko Perilaku Kekerasan 1,37 1,15 0,366 37,36 0,000
pada pasien skizofernia
sebelum dan sesudah diberikan
Arth Therapymenggambar
Berdasarkan tabel 7 diatas diperoleh hasil uji statistik menggunakan
67
uji-t 37, 36 dengan nilai pvalue 0,000, berarti < 0,05 (α), sehingga dapat
disimpulkan bahwa ada pengaruh Arth Therapymenggambar terhadap
Resiko Perilaku Kekerasan pada pasien skizofernia di Rumah Sakit
Khusus Jiwa Soeprapto Bengkulu.
B. Pembahasan
1. Nilai Rata-Rata Resiko Perilaku Kekerasan pada Pasien Skizofernia
Sebelum diberikan Arth Therapymenggambar
Hasil analisis univariat didapatkan data nilai rata-rata Skor tanda dan
gejala pasien Resiko perilaku kekerasan sebelum diberikan Arth
Therapymenggambar nilai rata-rata 27,80. Berdasarkan hasil observasi
penenliti dari sebelum diberikan Arth Therapymenggambar responden
menunjukan respon menentang dan mengancam, mengamuk,merusak
lingkungan (barang), bicara kasar, intonasi tinggi, menuntut, berdebat, labil,
mudah tersinggung, marah- marah, dengan jumlah skor respon perilaku
mengancam, menentang, mengamuk, merusak lingkungan, berdebat,
menuntut, menghina oranglain, Berdasarkan data yang didapat dengan teori
jurnal yang digunakan strategi pelaksanaan dengan terapi Arth
Therapymenggambar didapatkan hasil memberikan penurunan pada tingkat
resiko perilaku kekerasan pada pasien gangguan jiwa. Penerapan yang
dilakukan selama 7 hari pada penelitian ini, sebelum dilakukan Arth
Therapymenggambar.
Hal ini sejalan dengan penelitian kariana (2022) yang menyebutkan
68
bahwa hasil kemampuan mengontrol perilaku kekerasan sebelum terapi
stimulasi sensori menunjukkan bahwa responden pada kelompok perlakuan
sebelum diberikan terapi Arth Therapymenggambar semuanya (90%) tidak
mampu mengontrol perilaku kekerasan dan hanya (10%) yang mampu
mengontrol perilaku kekerasan.
Sedangkan pada kelompok kontrol yang tidak diberikan terapi Arth
Therapymenggambar semuanya (90%) tidak mampu mengontrol perilaku
kekerasan dan hanya (10%) yang mampu mengontrol perilaku kekerasan.
Kondisi tersebut terlihat saat dilakukan observasi pasien dengan
perilaku kekerasan tidak mampu mengontrol baik secara verbal non verbal
terhadapgambar seperti pasien tidak menyelesaikan gambar saat diminta
untuk mengambar tidak mampu menyebutkan gambar yang dibuat serta tidak
mampu menceritakan gambar yang dibuat.
Pasien juga tidak mampu mengontrol baik secara verbal non verbal
pada gambar yang di berikan untuk bisa mengontrol perilaku. Resiko perilaku
kekerasan pada saat menggambar misalnya tersenyum, sedih, dangembira,
pasien juga tidak mampu saat diminta untuk menceritakan cerita dalam
gambar serta menceritakan perasaan setelah menggambar. Hasil penelitian
yang didapat didukung oleh teori Stuart and Laraia (2019) pasien memiliki
perasaan negatif terhadap diri sendiri serta merasa dirinya tidak berharga lagi
sehingga merasa tidak aman dalam berhubungan dengan orang lain sehingga
69
menyebabkan pasien tidak dapat melibatkan diri dalam situasi yang baru. Ia
berusaha mendapatkan rasa aman tetapi hidup itu sendiri begitu menyakitkan
dan menyulitkan sehingga rasa aman itu tidak tercapai. Hal ini
menyebabkan ia mengembangkan rasionalisasi dan mengaburkan
realitas daripada mencari penyebab kesulitan serta menyesuaikan diri dengan
kenyataan. Semakin pasien menjauhi kenyataan akan mengakibatkan pasien
semakin kesulitan dalam mengembangkan hubungan dengan orang sehingga
hal tersebut akan mempengaruhi kemampuan pasien mengontrol perilaku
kekerasan terhadap lingkungannya. Konsep atau cara pandang inilah yang
diaktualisasikan oleh responden sehingga kebanyakan pasien dengan perilaku
kekerasan tidak mampu mengontrol perilaku kekerasan sebelum diberikan
terapi okuopasi menggambar.
Rentang usia dewasa merupakan kematangan individu harus dicapai,
semakin dewasa seseorang maka semakin lebih baik cara berpikirnya.
Usia dewasa adalah usia dimana individu dapat mengaktualisasikan
dirinya di masyarakat, apabila terjadi kegagalan maka menunjukkan
penurunan motivasi untuk melakukan aktivitas dan merasa kurang mampu
atau tidak percaya diri. tempat bagi individu berespon dengan lingkungan
sehingga individu menjadi rendah diri (Desi Pramujiwati, 2013).
Stuart, 2019 menyatakan bahwa usia merupakan aspek sosial budaya
terjadinya gangguan jiwa dengan risiko frekuensi tertinggi mengalami
70
gangguan jiwa yaitu pada usia dewasa. Pasien dengan perilaku kekerasan
pada penelitian ini tidak mampu mengontrol perilaku kekerasan, sejalan
dengan hasil penelitian Ruspawan (2020) yang meneliti tentang pengaruh
terapi aktivitas kelompok stimulasi sensori menggambar terhadap kemampuan
mengekspresikan perasaan pasien RPK di Rumah Sakit Jiwa Provinsi Bali.
Hasil penelitian ini menunjukkan kemampuan mengekspresikan perasaan
pada pasien RPK sebelum diberikan Terapi Olkupasi Menggambar
menunjukkan hasil dari 12 orang (100%) responden pasien RPK tidak ada
yang mampu mengekspresikan perasaan.
Peneliti berpendapat bahwa pasien dengan perilaku kekerasan
mengalami kesulitandalam berespon terhadap Gambar, disebabkan karena
pada pasien perilaku kekerasan lapang persepsinya menyempit dimana pasien
mempertahankan keyakinan yang salah mengenai diri sendiri dan orang lain,
sehingga pasien mengalami kesulitan memikirkan segala sesuatu walaupun
mengenai hal yang kecil. Pasien juga kesulitan menangkap informasi dan
memberikan respon terhadap informasi yang diterima. Ketidak mampuan
pasien dengan perilaku kekerasan dalam berespon terhadap gambar dan
tontonan dapat disebabkan karena pasien perilaku kekerasan memiliki
pandangan yang negatif terhadap diri sendiri, hilangnya motivasi sehingga
mengakibatkan pasien cenderung apatis, Abulia (kemauan yang lemah) yaitu
keadaan inaktivitas sebagai akibat ketidak sanggupan dalam memulai suatu
kegiatan dan ketidak sanggupan dalam bertindak. Gangguan kemauan juga
71
ditandai dengan negativisme yaitu suatu pertahanan psikologik dengan
melawan atau menentang terhadap apa yang disuruh atau tidak melaksanakan
apa yang diperintahkan.
2. Nilai Rata-Rata Resiko Perilaku Kekerasan pada Pasien Skizofernia
Sesudah diberikan Arth Therapy menggambar.
Hasil analisis univariat didapatkan data nilai rata-rata Resiko Perilaku
Kekerasan responden Sebelum diberikan Arth Therapy Menggambar adalah
41,50. Hasil penelitian kariana dan prihatiningsih (2022) juga menunjukkan
bahwa responden pada kelompok perlakuan setelah diberikan Arth
Therapymenggambar 100% mampu mengontrol perilaku kekerasan
sedangkan pada kelompok kontrol sebagian besar 8 orang (80%) tidak mampu
mengontrol perilaku kekerasan. Pasien juga mampu mengontrol baik secara
verbal non verbal terhadap gambar seperti pasien mampu membuat gambar
sesuai dengan keinginannya, pasien mampu menyebutkan gambar yang dibuat
kemudian menceritakan gambar yang dibuat. Pasien juga mampu mengontrol
baik secara verbal non verbal terhadap gambar yang dibuat pasien tersenyum
saat ada adegan lucu dan menampilkan raut muka sedih saat ada cerita yang
menyedihkan, pasien juga mampu saat diminta untuk menceritakan cerita
dalam gambar serta menceritakan perasaan setelah menggambar walau masih
dibimbing oleh fasilitator. Dengan demikian terapi dapat meningkatkan
hubungan perawat dan pasien sehingga dapat membantu pasien untuk
mengontrol emosi sehingga menurunkan resiko perilaku kekerasan
72
Terjadinya peningkatan kemampuan pasien dengan perilaku kekerasan
terhadap stimulus yang diberikan dapat disebabkan karena pemberian Arth
Therapymenggambar yang merupakan salah satu penatalaksanaan psikoterapi
yang dikembangkan dalam proses perawatan pasien dengan gangguan jiwa.
Arth Therapy menggambar dapat meningkatkan kemampuan mengontrol
perilaku kekerasan sebagai upaya menstimulus semua panca indra (sensori)
agar mengontrol yang adekuat melalui pemberian Arth Therapy menggambar.
Stimulasi sensori dengan baik dan benar akan mendorong atau mempengaruhi
pasien lain untuk bisa mengikuti teman sekelompoknya untuk mengontrol
stimulus yang diberikan oleh terapis, sehingga menyebabkan kemampuan
mengontrol perilaku kekerasan pasien semakin meningkat. Hal ini sesuai
dengan yang diungkapkan Keliat dan Akemat (2019) menyatakan bahwa
salah satu peran kelompok adalah sebagai pendorong (encourager) yang
berfungsi sebagai pemberi pengaruh positif pada kelompok. Pasien yang
mampu mengontrol perilaku kekerasan terhadap stimulus dengan baik dan
benarakan mendorong atau mempengaruhi pasien lain untuk bisa mengontrol
Stimulus yang diberikan oleh terapis.
Hasil penelitian yang didapat juga sesuai dengan teori Purwa ningsih
dan Karlina (2019) pemberian stimulasi sensori akan menghasilkan
kemampuan mengontrol yang lebih baik karena aktivitas stimulasi sensori
merangsang atau menstimulasikan pasien melalui kegiatan yang disukainya
dan mendiskusikan aktivitas yang telah dilakukan semakin sering dilakukan
73
maka dapat menyebabkan kemampuan mengontrol pasien.
Hasil penelitian ini sesuai dengan hasil penelitian Ruspawan (2020)
yang meneliti tentang pengaruh terapi aktivitas kelompok stimulasi sensori
menggambar terhadap kemampuan mengekspresikan perasaan pasien RPK di
Rumah Sakit Jiwa Provinsi Bali. Hasil penelitian ini menunjukkan
kemampuan mengekspresikan perasaan pada pasien dengan RPK setelah
diberikan Stimulasi Sensori Menggambar sebanyak 10 orang (83,3%)
responden pasien harga diri rendah mampu mengekspresikan perasaan.
Menurut pendapat peneliti pemberian aktivitas berupa kegiatan
menggambar pada masing-masing sesi stimulasi sensori akan menghasilkan
kemampuan mengontrol yang lebih baik karena aktivitas stimulasi sensori
merangsang atau menstimulasikan pasien melalui kegiatan yang disukainya
dan mendiskusikan aktivitas yang telah dilakukan semakin sering dilakukan
maka dapat menyebabkan kemampuan mengontrol pasien menjadi adekuat.
Dengan demikian kenapa kelompok perlakuan yang diberikan stimulasi
sensori pada pasien dengan perilaku kekerasan terjadi peningkatan
kemampuan mengontrol dapat dipahami.
3. Pengaruh Arth Therapy menggambar terhadap Resiko Perilaku
Kekerasan pada pasien skizofernia di Rumah Sakit Khusus Jiwa
Soeprapto Bengkulu
Berdasarkan hasil uji statistik diperolehnilai p value 0,000, berarti <
74
0,05(α), sehingga dapat disimpulkan bahwa ada Pengaruh Arth Therapy
menggambar terhadap Resiko Perilaku Kekerasan pada pasien skizofernia di
Rumah Sakit Khusus Jiwa Soeprapto Bengkulu. Hal ini sesuai dengan jurnal
(Makhruzah,2021) bahwa pada pasien resiko perilaku kekerasan jika
diabaikan akan berdampak buruk, akibat yang ditimbulkan pun berbahaya,
baik bagi penderita itu sendiri maupun orang disekitarnya. Perilaku yang
terganggu pada penderita dengan resiko perilaku kekerasan salah satunya bisa
berupa kecenderungan untuk melakukan kekerasan.
Penatalaksanaan yang dapat dilakukan kepada pasien Resiko perilaku
kekerasan adalah psikoterapi. Psikoterapi yang dapat diberikan perawat salah
satunya yaitu dengan strategi pelaksanaan yang terbagi menjadi 4 bagian. Hal
ini juga sejalan dengan penelitian Putri (2019) yang menyimpulkan bahwa
pasien dengan resiko perilaku kekerasan setelah diberikan strategi
pelaksanaan menggunakan komunikasi terapeutik mengalami perkembangan
yang lebih baik dari sebelum diberikan strategi pelaksanaan menggunakan
terapi menggambar.
Berdasarkan hasil dari sebelum penerapan, selama penerapan dan
sesudah penerapan perbandingan didapatkan: sebelum dilakukan penerapan
pasien menunjukan respon perilaku menentang dan mengancam, mengamuk,
merusaklingkungan(barang),bicarakasar,intonasitinggi,menuntut,berdebat,
emosi labil, mudah tersinggung, marah-marah, sehingga pasien perlu diberi
terapi menggambar, Selama 2 kali / minggu untuk diberikan Arth
75
Therapymenggambar, peneliti memberikan strategi pelaksanaan dengan
menggunakan komunikasi terapeutik. Dengan hasil pasien cukup kooperatif
karena sudah hapal dengan strategi pelaksanaan yang diberikan dan
menunjukan perubahan dari semua aspek.
Sesudah penerapan didapatkan hasil menunjukan perilaku pasien yang
mampu mengendalikan marah dengan cara verbal (menolak dengan baik,
meminta dengan baik) dan tetap meminum obat secara teratur. Sesuai dengan
hasil yang didapat sebelum dan setelah penerapan, hal ini sejalan dengan
penelitian yang dilakukan oleh (Putri,2019) bahwa didalam penelitiannya
menghasilkan perbandingan yang signifikan. Dimana sebelum dilakukan
strategi pelaksanaan menggunakan terapi komunikasi terapeutik, pasien
dengan RPK terlihat acuh dengan apa yang disampaikan oleh perawat, ada
yang mengobrol dengan temannya dan ada yang memilih menyendiri. Tetapi
setelah diberikan stratgegi pelaksanaan dengan menggunakan terapi stimulasi
sensori. Sehingga sebelum dan selama satu minggu penerapan lalu setelah
penerapan, kondisi pasien RPK menghasilkan skor perbandingan yang
lumayan signifikan. Berdasarkan semua uraian diatas dapat disimpulkan
bahwa tahap strategi pelaksanaan dengan menggunakan komunikasi
terapeutik dalam melaksanakan terapi menggambar dapat menurunkan resiko
perilaku kekerasan pada pasien gangguan jiwa dengan RPK. hal ini bisa
menjadi salah satu cara untuk mengendalikan emosi sehingga dapat
menurunkan resiko perilaku kekerasan. Dan diharapkan perawat lebih
76
meningkatkan berkomunikasi dalam melaksanakan terapi menggambar secara
terapeutik kepada pasien supaya pasien dengan resiko perilaku kekerasan
mengalami perubahan perilaku maupun sikap yang lebih baik.
Pemberian Arth Therapy menggambar berpengaruh terhadap
kemampuan mengontrol perilaku kekerasan disebabkan karena saat
pelaksanaan Arth Therapymenggambar pasien diajari melalui tuntunan baik
oleh fasilitator maupun pemimpin Arth Therapymenggambar untuk
melakukan tindakan seperti menggambar sebagai ekspresi dari perasaan yang
sedang dialami oleh pasien sehingga pasien mampu belajar mengekspresikan
stimulus dengan positif. Hal ini sesuai dengan teori Purwa ningsih (2019)
yaitu pemimpin dan fasilitator dalam, menjadi motivaror dan memberikan
stimulus pada anggota kelompok lain dapat mengikuti jalannya kegiatan.
Hasil penelitian yang menunjukkan ada pengaruh Arth Therapy menggambar
terhadap kemampuan mengontrol perilaku kekerasan menurut pendapat
peneliti dapat disebabkan karena pada saat pelaksanaan Arth Therapy
menggambar diberikan reinforcement positif atau penguatan positif yang
salah satunya melalui pujian pada tugas-tugas yang telah berhasil pasien
lakukan seperti pasien mampu mengontrol terhadap gambar, sehingga pasien
merasa dihargai karena dapat menyelesaikan suatu tugas yang diberikan oleh
perawat dan punya keinginan kuat untuk mengulangi perilaku tersebut
sehingga terjadi perubahan perilaku yaitu terjadi peningkatan kemampuan
mengontrol perilakuke kerasan. Hal ini sesuai dengan yang diungkapkan oleh
77
Nasution (2019) bahwa metode penguatan positif atau reinforcement positif
memiliki pengaruh berarti terhadap
Pengulangan perilaku. Penguatan positif memiliki kekuatan yang
mengesankan sebagai alat pembentuk perilaku.
Hasil penelitian ini sesuai dengan penelitian Tri Wahyuni (2020)
tentang Pengaruh Terapi Aktivitas Kelompok Stimulasi Persepsi Terhadap
Kemampuan Mengontrol Perilaku Kekerasan Pada Pasien Resiko Perilaku
Kekerasan. Hasil analisis menunjukkan ada pengaruh terapi aktivitas
kelompok stimulasi persepsi terhadap kemampuan Mengontrol Perilaku
Kekerasan Pada Pasien Resiko Perilaku Kekerasandengan hasil (p = 0,004).
Selanjutnya penelitian Candra (2019) yang meneliti tentang Pengaruh Terapi
Kelompok Suportif Terhadap Kemampuan Mengatasi Perilaku Kekerasan
Pada Klien Skizofrenia. Hasil analisis menunjukkan ada pengaruh terapi
kelompok suportif terhadap kemampuan mengatasi perilaku kekerasan pada
klien skizofrenia dengan hasil (p = 0,000).
Menurut pendapat peneliti pemberian Arth Therapy menggambar
efektif dalam mengontrol perilaku kekerasan. Hal ini disebabkan karena
pasien bisa menstimulasi semua panca indra (sensori) agar dapat mengontrol
perilaku kekerasan yang adekuat setelah menggambar yang dibuat perlakuan
yang diberikan Arth Therapymenggambar responden mampu mengontrol
perilaku kekerasan. Jadi dapat peneliti simpulkan ada Pengaruh Terapi Arth
78
Therapy menggambar Terhadap Kemampuan Pasien Mengontrol Perilaku
Kekerasan Pada Pasien Skizofrenia dengan p value 0,000 < α = 0,05.
Arth Therapy menggambar bermanfaat untuk pasien gangguan jiwa
salah satunya pada pasien skizofernia. Arth Therapy meggambar dilakukan
pada pasien skizofernia agar dapat melepaskan emosi, mengekspresikan diri,
mengurangi stress, media untuk membangun komunikasi serta meningkatkan
aktivitas pada pasien. Aktivitas menggambar merupakan kegiatan yang dapat
membantu menyampaikan dan mengekspresikan emosi dan pikiran yang
mempengaruhi perilaku yang tidak disadari oleh pasien, selain itu aktivitas
menggambar juga dapat memberikan kegembiraan dan hiburan, serta menarik
perhatian pasien untuk berpartisipasi dalam aktivitas kelompok (Kamariyah, e
t a l 2021).
79
BAB V
SIMPULAN DAN SARAN
A. Simpulan
Berdasarkan hasil penelitian tentang Pengaruh Arth Therapy
Menggambar terhadap Resiko Perilaku Kekerasan pada pasien Skizofernia di
Rumah Sakit Khusus Jiwa Soeprapto Bengkulu, disimpulkan:
1. Nilai rata-rata Resiko Perilaku Kekerasan responden sebelum dilakukan
Arth Therapy Menggambar Pasien Skizofernia di Rumah Sakit Khusus
Jiwa Soeprapto Bengkulu adalah 27,80.
2. Nilai rata-rata Resiko Perilaku Kekerasan responden sesudah dilakukan
Arth Therapy Menggambar Pasien Skizofernia di Rumah Sakit Khusus
Jiwa Soeprapto Bengkulu adalah 41,50
3. Ada Pengaruh Arth Therapy Menggambar terhadap Resiko Perilaku
Kekerasan pada pasien Skizofernia di Rumah Sakit Khusus Jiwa
Soeprapto Bengkulu (p = 0,000).
B. Saran
1. Teoritis
Peneliti berharap hasil penelitian ini dapat meningkatkan wawasan dan
keterampilan pembaca dalam memberikan asuhan keperawatan jiwa pada
pasien dengan Resiko Perilaku Kekerasan yang mengalami resiko perilaku
kekerasan, yaitu salah satunya dengan melakukan Arth Therapy
menggambar secara rutin. Untuk peneliti selanjutnya diharapkan untuk
80
melanjutkan penelitian dengan memperluas cakupan dari Batasan penelitian,
seperti prosedur dan langkah-langkah menggunakan terapi non farmakologi
lainnya.
2. Praktis
Diharapkan hasil penelitian ini perawat dapat menerapkan Arth
Therapy menggambar di ruang perawatan jiwa khususnya ruangan murai I
A secara terprogram disetiap institusi pelayanan keperawatan. Selain itu
perlu dibuat prosedur tetap dan jadwal Arth Therapy menggambar secara
jelas, misalnya dengan frekuensi 2 kali/minggu.
81
82
LAMPIRAN 1
LEMBAR PERMOHONAN MENJADI RESPONDEN
Kepada Yth.
Calon Responden
DiTempat
Dengan hormat,
Saya yang bertanda tangan di bawah ini adalah mahasiswa Progam Studi Ilmu
Keperawatan STIKES Bhakti Husada Bengkulu:
Nama : Kath Manila
NIM : 2202614121
Bermaksud melakukan penelitian tentang “Pengaruh Arth Therapy menggambar
terhadap Resiko Perilaku Kekerasan pada pasien Skizofernia di Rumah Sakit Khusus
Jiwa Soeprapto Bengkulu”
Sehubungan dengan ini, saya mohon kesediaan saudara untuk bersedia menjadi
responden dalam penelitian yang akan saya lakukan. Kerahasiaan data pribadi
saudara akan sangat kami jaga dan informasi yang akan saya gunakan untuk
kepentingan penelitian.
Demikian permohonan saya, atas perhatian dan kesediaan saudara saya
ucapkan terimakasih.
Bengkulu, Juli 2024
Kath Manila
2202614121
83
LEMBAR PERSETUJUAN MENJADI RESPONDEN
(InformedConsent)
Yang bertanda tangan dibawah ini:
Nama:
Umur :
Alamat:
Setelah saya mendapatkan penjelasan mengenai tujuan, manfaat, jaminan
kerahasiaan dan tidak adanya resiko dalam penelitian yang akan dilakukan oleh
mahasiswa Program Studi Keperawatan STIKES Bhakti Husada Bengkulu yang
bernama Novia R. Putri Pertiwi mengenai judul tentang “Pengaruh Arth
Therapymenggambar terhadap Resiko Perilaku Kekerasan pada pasien Skizofernia di
Rumah Sakit KhususJiwa Soeprapto Bengkulu”. Saya mengetahui bahwa informasi
yang akan saya berikan ini sangat bermanfaat bagi pengetahuan keperawatan di
Indonesia. Untuk itu saya akanmemberikan data yang diperlukan dengan sebenar-
benarnya. Demikianpernyataan ini saya buat untuk dipergunakan sesuai keperluan.
Bengkulu, Juli 2024
Responden
84
Kuesioner Penilaian Resiko Perilaku Kekerasan PadaPasien Skizofernia
Dengan Menggunakan Skala RUFA
Petunjuk: berilah tanda(√) jika “YA” dan (-) jika“TIDAK”
Keterangan Kriteria Alat Ukur RUFA :
No Indikator No Perilaku Kekerasan Perilaian Skore
RUFA Pertanyaan YA(1) TIDAK(2)
1 Perilaku 1 Melukai diri sendiri, orang
Lain dan lingkungan
2 Mengamuk
3 Menentang
4 Mengancam
5 Mata Melotot
2 Verbal 6 Pasien Berbicara Kasar
7 Pasien Berbicara dengan
Intonasi Tinggi
8 Pasien berbicara dengan
Intonasi Sedang
9 PasienMenghina OrangLain
10 PasienMenuntut sesuatu
11 Pasien tampak Berdebat
Dengan temannya/perawat
3 Emosi 12 Labil
13 MudahTersinggung
14 Eakspresi Tegang
15 Marah-Marah
16 Dendam
4 Fisik 18 Muka merah
19 Pandangan tajam
20 Nafas pendek
21 Berkeringat
22 Tekanan darah meningkat
23 Tekanan darah menurun
Jumlah
LAMPIRAN 4
STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR (SOP)
85
PENGARUHARTH THERAPYMENGGAMBAR TERHADAP
RESIKOPERILAKUKEKERASANPADAPASIEN
SKIZOFERNIA DIRUMAH SAKIT KHUSUS
JIWA SOEPRAPTO BENGKULU
STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR (SOP)
ARTH THERAPYAKTIVITAS MENGGAMBAR
Pengertian Arth Therapymenggambar merupakan salah satu bentuk
psikoterapi yang menggunakan media seni untuk
berkomunikasi. Media menggambar dapat berupa pensil ,
kapur bewarna, warna, cat, potongan- potongan kertas, alat
mewarnai Terapi menggambar juga merupakan
terapi yang mendorong seseorang mengekspresikan,
memahami emosi melalui ekspresi artistik, dan melalui
proses kreatif sehingga dapat memperbaiki fungsi kognitif,
afektif dan psikomotorik.
Tujuan 4. Pasien mampumengekspresikan perasaan melalui
gambar
5. Pasien dapat memberi makna gambar
6. Pasiendapat melakukan aktivitas terjadwal untuk
mengurangi Resiko perilaku kekerasan
Setting 3. Terapis dan pasien duduk bersama
4. Ruangan nyaman dan tenang
Alat 5. Buku gambar
6. Pensil
7. Pensil warna
Metode Metodepelaksanaan dapat dilakukan secara individu atau
kelompok
Persiapan 1. Ruangan/ tempat yang nyaman.
86
Langkah Kegiatan 1. Persiapan
a. Memilih pasien yang sesuai dengan indikasi.
b. Membuat kontrakdengan pasien
c. Mempersiapkan alat dan tempat pertemuan
2. Orientasi
a. Salam terapeutik
1) Salam dari terapis kepada pasien
2) Pasien dan terapis menggunakan papan nama
b. Evaluasi/validasi
1) Menanyakan perasaan pasien saat ini
2) Tanyakan apakah kegiatan terapi okupasiaktivitas
menggambar sudah dilakukan
c. Kontrak
1) Menjelaskan tujuan kegiatan, yaitu mengurangi
terjadi Resiko perilaku kekerasan.
2) Menjelaskan aturan main seperti jika pasien ingin
meninggalkan kelompokmaka harus memintaizin
kepada terapis, lama kegiatan 35 menit, setiap
pasien mengikuti kegiatan dari awal sampai akhir.
9. TahapKerja
a. Pe rsiapan alat seperti, buku gambar, pensil, dan
pensil warna
b. Membagikan kertas, pensil, pensil warna, krayon
kepada klien
c. Menjelaskan tema gambar yaitu menggambar
sesuatu yang disukai atau perasaan saat ini
d. Setelah selesai menggambar terapis mempinta klien
untuk menjelaskan gambar apa dan makna gambar
yang telah dibuat
e. Terapis memberikan pujian kepada klien setelah
klien selesai menjelaskan isi gambarnya
10. Terminasi
a. Evaluasi
1) Menanyakan perasaan klien setelah melakukan
tindakan, terapis memberikan pujian pada klien.
2) Rencana tindak lanjut: terapis menuliskan kegiatan
menggambar pada tindakan harian klien.
3) Kontrak yang akan datang
4) Menyepakati tindakan terapi menggambar yang
akan dating
5) Menyepakatiwaktudan tempat
6) Berpamitan dan mengucapkan salam
87
Evaluasi Evaluasi dilakukan saat proses Arth TherapyAktivitas
Menggambar berlangsung khususnya pada tahap kerja.
Aspek yang dievaluasi adalah kemampuan pasien sesuai
dengan tujuan Arth TherapyAktivitas Menggambar,
kemampuan yang
diharapkan adalah mampu mengekspresikan perasaan
melaluigambar,memberimaknagambar,danmengurangi
Resiko perilaku kekerasan (nama pasien, eksperikan
perasaan melalui gambar, makna gambar, mengurangi
RPK)
Dokumentasi Dokumentasikan kemampuan yang dimiliki pada catatan
proses keperawatan tiap pasien. Contoh pasien mengikuti,
Arth TherapyAktivitas Menggambar. Pasien mampu
mengekspresikan perasaan melalui gambar, memberi makna
gambar,dan mengurangi rpk.
Sumber:NiPutuSukmaPratiwi(2020)
88
HASIL TABULASI SPSS
PENGARUH ART THERAPY MENGGAMBAR TERHADAP
RESIKO PERILAKU KEKERASAN PADA PASIEN SKIZOFERNIA
DI RUANG MURAI I A DIRUMAH SAKIT KHUSUS JIWA
SOEPRAPTO
BENGKULU
KeteranganMasterTabel
Skore Keterangan
1 Ya
2 Tidak
HASIL TABULASI SPSS
CaseProcessing Summary
Cases
Valid Missing Total
N Percent N Percent N Percent
Pre_Post 10 100.0% 0 .0% 10 100.0%
Post_Tes 10 100.0% 0 .0% 10 100.0%
Descriptives
Statistic [Link]
Pre_Post Mean 27.8000 .29059
95% Confidence LowerBound 27.1426
IntervalforMean UpperBound 28.4574
5% TrimmedMean 27.8333
Median 28.0000
Variance .844
[Link] .91894
Minimum 26.00
Maximum 29.00
Range 3.00
InterquartileRange 1.25
Skewness -.601 .687
Kurtosis .396 1.334
Post_Tes Mean 41.5000 .40139
95% Confidence LowerBound 40.5920
IntervalforMean UpperBound 42.4080
5% TrimmedMean 41.5000
Median 41.5000
Variance 1.611
[Link] 1.26930
Minimum 40.00
Maximum 43.00
Range 3.00
InterquartileRange 3.00
Skewness .000 .687
HASIL TABULASI SPSS
Kurtosis -1.764 1.334
TestsofNormality
Shapiro-Wilk
Statistic df Sig.
Pre_Post .885 10 .149
Post_Tes .852 10 .061
[Link] Correction
*.Thisisa lower boundof the truesignificance.
PairedSamples Statistics
Std. [Link] Mean
Mean N Deviation
P Pre_Post 27.8000 10 .91894 .29059
a
i
r
1
Post_Tes 41.5000 10 1.26930 .40139
PairedSamples Correlations
N Correlation Sig.
Pair 1 Pre_Post&Post_Tes
10 .476 .164
PairedSamplesTest
Sig.(2-
PairedDifferences tailed)
95%ConfidenceInterv
Std. [Link] al of the
Mean Deviation Mean Difference t df
Lower Upper
Pair 1 Pre_Post-
Post_Tes 1.3700 1.15950 .36667 14.52946 12.87054 37.36 9 .000
0 4
HASIL TABULASI SPSS
HASIL TABULASI SPSS
DAFTAR PUSTAKA
Ade Apriliana, H. N. (2021). Stigma Masyarakat Terhadap Gangguan Jiwa. Seminar
Nasnal Kesehatan, 207-215.
Anggraini, N., & Gyatri, F. (2021). Pengaruh Penerapan Strategi Pelaksanaan 1 Pada
Klien Resiko perilaku kekerasan Terhadap Mengontrol Marah. Jurnal
Kesehatandan Pembangunan, 11(22), 53-60. Diakses
Anisa, D. L., Budi, A. S., & Suyanta, S. (2021). Asuhan Keperawatan Jiwa: Klien
Resiko Perilaku Kekerasan. Jendela Nursing Journal, 5(2), 106–110.
Arikunto,S.(2020).[Link]:Rineka cipta.
Cahyono, E. (2019). Pengaruh Citra Merek, Harga dan Promosi terhadap Keputusan
Pembelian Handpond Merek OPPO Di Sleman Daerah Istimewa Yogyakarta.
JBMA, 5, 61-63.
Damayanti, E. (2021). Asuhan Keperawatan Jiwa Dengan Resikoperilaku kekerasan
Di Desa Kedung Malang 04/03 Kec. Kedung Kab. Jepara Provinsi Jawa
Tengah. Karya Tulis Ilmiah .
Depkes RI. (2019). Riset Kesehatan Dasar 2018. Jakarta. Badan Penelitian dan
Pengembangan Kesehatan Republik Indonesia
Elis. (2021). Terapi Aktivitas Kelompok Stimulasi Persepsi Pada Klien Resiko
Prilaku Kekerasan Di Yayasan Pemenang Jiwa Sioumatera. Jurnal Kesehatan,
18.
Estika Mei Wulansari, E. (2021). Asuhan Keperawatan Jiwa Pada Klien Dengan
Resikoperilaku kekerasan Dirumah Sakit Daerah Dr Arif Zainuddin Surakarta.
Universitas Kusuma Husada Surakarta
Farid Bastian, D. F. (2021). Gambaran Pengetahuan dan Sikap Perawat Pelaksana
Tentang Penerapan Komunikasi Terapeutik pada Klien Resiko Prilaku
Kekerasan Di Instalasi Rawat Inap Rumah Sakit JiwaAceh. Jurnal Sains Riset
(JSR), 11,315-323.
Hafifah, N. (2019). Komunikasi Terapeutik Islami Dalam Pelayanan Kesehatan Klien
Di Rumah Sakit Al-Huda Genteng. Indonesian Journal Of Islamic
HASIL TABULASI SPSS
Communication, 2, 61-84.
Resiko Prilaku Kekerasan Di Rumah Sakit Umum Daerah Banyumas. Jurnal
Keperawatan
I Dewa Gd Putra Jatmika, K.Y. (2020). Hubungan Komunikasi Terapeutik dan Risiko
Resiko perilaku kekerasan Pada Klien Skizofrenia di Rumah Sakit Jiwa
Provinsi Bali. Jurnal Keperawatan Raflesia, 2, 1-9.
Iyus, Y. (2020). Buku Ajar Keperawatan Jiwa. Yogyakarta : Refika Aditama
Jatinandya, M.P.A., & Purwito, D. (2020). Art therapyPada Klien.
Kamariyah, K., &Yuliana,Y. (2021). Pengaruh Terapi Aktivitas Kelompok Stimulasi
Sensori: Menggambar terhadap Perubahan Tingkat Resiko Prilaku Kekerasan
pada Klien
Kariana, I. K., & Prihatiningsih, D. (2022). Pengaruh Terapi Aktivitas Kelompok
Stimulasi Sensori Terhadap Kemampuan Klien Mengontrol Resiko perilaku
kekerasan Pada Klien Skizofrenia Di Rsj Provinsi Bali. Bali Medika Jurnal,
9(1), 38–51.
Kunter. 2019. Skizofrenia. Dalam jurnal kesehatan. http//[Link]. 22 Desember
2022
Makhruzah, S., Putri, V. S., & Yanti, R. D. (2021). Pengaruh Penerapan Strategi
Pelaksanaan Resiko perilaku kekerasan terhadap Tanda Gejala Klien
Skizofrenia di RumahSakit Jiwa Daerah Provinsi Jambi. Jurnal Akademika
Baiturrahim Jambi, 10(1), 3946.
Makhruzah, S., Putri, V.S., & Yanti, R.D. 2021. Pengaruh Penerapan Strategi
Pelaksanaan Resiko perilaku kekerasan Terhadap Tanda Gejala Klien
Skizofrenia Di Rumah Sakit Jiwa Daerah Provinsi Jambi. Jurnal Akademika
Baiturrahim Jambi, 10(1), 39.
Masdum, S. (2021) Buku Ajar Asuhan Keperawatan Skizofrenia. 1 stedn. Editedby
N. Kholis dan M. B. Muvid. Surabaya: CV. Global Aksara Pres.
Muhammadiyah, 0 (September), 295–301.
Musmini, S. (2019). Asuhan Keperawatan Jiwa Pada Klien Risiko Perilaku
Narindrianisa, C.S., & Widodo A. (2019). Kemampuan Perawat Melakukan
HASIL TABULASI SPSS
Tindakan Restrain pada Klien Amuk di Unit Gawat Darurat RSJD [Link] zainudin
Surakarta (Doctoral dissertation, Universitas Muhammadiyah Surakarta).
Nazara, R., & Pardede, J. A. (2023) Application of Generalist Therapy in Providing
MentalNursing Care Among Schizophrenic Patients with Violent Behavior
Risk Problems: ACase [Link]:// [Link]/q6fv7
Nisaa, C., Masruroh, F., & Pratikto, H. (2022). Expressive Writing Therapy Untuk
Meningkatkan Kemampuan Pengungkapan Diri (Self Disclosure) pada Klien
Skizofrenia Paranoid. Ar-Risalah: Media Keislaman, Pendidikan Dan Hukum
Islam, 20(1), 196–207.
Notoatmodjo, S. 2019. Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta: Rineka Cipta.
Oktavianthi, Novianti, D., Tobing, E., & Lumban, D. (2019). Pengaruh Terapi
KREASI SENI TERHADAP HARGA DIRI KLIEN SKIZOFRENIA DI
PANTI BINA.
Rohmah, L.F., & Pratikto, H. (2019). Expressive Writing Therapy Sebagai Media
Untuk Meningkatkan Kemampuan Pengungkapan Diri (Self Disclosure) Pada
Klien Skizofrenia Hebefrenik. Psibernetika, 12 (1), 20–28.
Rusdi, & Kholifah, S. (2021). Expressive Writing Therapy and Disclosure Emotional
Skill son the Improvement of Mental Disorder Patients Control
Hallucinations. Advances in Health Sciences Research, 39 (SeSICNiMPH),
71–76.
Siti Makhruzah, V. S. (2021). Pengaruh Penerapan Strategi Pelaksanaan Resiko
perilaku kekerasan terhadap Tanda dan Gejala Klien Skizofrenia di Rumah
Sakit Jiwa Daerah Provinsi Jambi. Jurnal Akademia Baiturrahim Jambi, 10,
39- 40.
Sujarwo, L. P. (2019). Studi Fenomenologi : Strategi Pelaksanaan yang Efektif Untuk
Mengontrol Resiko perilaku kekerasan Menurut Klien di Ruang Rawat Inap
Laki- laki. Jurnal Keperawatan, 6, 29-35.
Utami, A. A. A. R. S., Ibrahim, M., & Purnama, H. (2021). The Effect Of Assertive
Training For Reducing Violence Behavior In Skizofrenia Patients: Literature
Review Jurnal Keperawatan Komprehensif (Comprehensive Nursing
HASIL TABULASI SPSS
Journal), 7 (Special Edition).9095.
Vevi Suryenti Putri, R. M. (2019, September ). Pengaruh Strategi Pelaksanaan
Komunikasi Terapeutik Terhadap Resiko Perilaku Kkekerasan Pada Klien
Gangguan Jiwa Di Rumah Sakit Proivinsi Jambi. Jurnal Akademika
Baiturrahim Jambi, Vol.7 , 139-140.
Videbeck, S.L (2014). Buku Ajar Keperawatan Jiwa. Jakarta: Buku Kedokteran EGC
WHO (World Health Organisation). (2022). Schizoprenia.
Yosep, I. (2019). Buku Ajar Keperawatan Jiwa Ed 7. Bandung: Refika Aditama.
Yusuf, Ah. (2020). Buku Ajar Keperawatan Kesehatan Jiwa. Jakarta: Salemba
Medika.
Zainuri, Imam (2019). Buku Ajar Keperawatan Kesehatan Kesehatan Jiwa Teori Dan
Aplikasi Praktik Klinik. Yogyakarta : Indomedia Pustaka
HASIL TABULASI SPSS
LAMPIRAN 1
LEMBAR PERMOHONAN MENJADI RESPONDEN
Kepada Yth.
Calon Responden
DiTempat
Dengan hormat,
Saya yang bertanda tangan di bawah ini adalah mahasiswa Progam Studi Ilmu
Keperawatan STIKES Bhakti Husada Bengkulu :
Nama:Kath Manila
NIM: 2212614039
Bermaksud melakukan penelitian tentang “Pengaruh Art therapy menggambar
terhadap Resikoperilaku kekerasan pada Klien Skizofernia di Rumah Sakit Khusus
Jiwa Soeprapto Bengkulu” Sehubungan dengan ini,saya mohon kesediaan saudara
untuk bersedia menjadi responden dalam penelitian yang akan saya lakukan.
Kerahasiaan data pribadi saudara akan sangat kami jaga dan informasi yang akan
saya gunakan untuk kepentingan penelitian.
Demikian permohonan saya, atas perhatian dan kesediaan saudara saya
ucapkan terimakasih.
Bengkulu, Maret 2025
HASIL TABULASI SPSS
LEMBAR PERSETUJUAN
MENJADI RESPONDEN (Informed Consent)
Yang bertanda tangan dibawah ini:
Nama:
Umur :
Alamat:
Setelah saya mendapatkan penjelasan mengenai tujuan, manfaat, jaminan
kerahasiaan dan tidak adanya resiko dalam penelitian yang akan dilakukan oleh
mahasiswa Program Studi Keperawatan STIKES Bhakti Husada Bengkulu yang
bernama Kath Manila mengenai judul tentang “Pengaruh Art therapy menggambar
terhadap Resikoperilaku kekerasan pada Klien Skizofernia di Rumah Sakit Khusus
Jiwa Soeprapto Bengkulu”. Saya mengetahui bahwa informasi yang akan saya
berikan ini sangat bermanfaat bagi pengetahuan keperawatan di Indonesia. Untuk itu
saya akan memberikan data yang diperlukan dengan sebenar-benarnya. Demikian
pernyataan ini saya buat untuk dipergunakan sesuai keperluan.
Bengkulu, Maret 2025
Responden
HASIL TABULASI SPSS
Kuesioner Penilaian
Resiko perilaku kekerasan PadaKlien Skizofernia
Lampiran 3
KISI-KISI
(Sumber : Kadji, 2020)
Variabel Indikator No Item
Kemampuan mengontrol Perilaku kekerasan verbal 1
Resiko Prilaku Kekerasan 10
Pada Klien Skizofrenia
15
16
Perilaku kekerasan terhadap 3
benda/lingkungan 7
11
14
Perilaku kekerasan terhadap 2
diri sendiri 6
9
13
17
Perilaku kekerasan terhadap 4
orang lain 5
8
12
HASIL TABULASI SPSS
LEMBAR OBSERVASI
RISIKO PERILAKU KEKERASAN PADA KLIEN SKIZOFRENIA
1. Nomor Responden : ……………..
2. Nama / Inisial : ……………..
3. Umur : ……………..
Petunjuk Pengisian :
1. Pengisian dengan menggunakan tanda ceklis (V)
2. Berilah tanda V pada kolom T (tidak pernah), jika klien tidak
pernah melakukan
3. Berilah tanda V pada kolom K (kadang-kadang), jika melakukan
perilaku kekerasan sebanyak lebh dari 1-2 kali per hari
4. Berilah tanda V pada kolom S (sering), jika melakukan perilaku
kekerasan sebanyak lebh dari 3 kali per hari
Pengamatan Pengamatan
No Perilaku Klien Kategori
I II
Klien mengutarakan kata-kata penghinaan T
1 ejekan atau ancaman terhadap orang lain K
dengan nada yang keras S
Dengan kata-kata, klien mengancam, T
2 melukai diri sendiri, dan mempunyai K
rancana untuk melakukannya S
Klien merusak benda/fasilitas di dalam T
3 rumah (meja, kursi, tempat tidur dan lain- K
lain) S
Klien melukai secara fisik terhadap orang T
lain (kelarga/tetangga/teman) yang
4 mengakibatkan cedera serius K
(membutuhkan penanganan medis: jahitan
dan pengobatan) S
Klien terlihat dalam kontak fisik dengan T
5 orang lain tanpa melukainya (mendorong/ K
menarik orang lain) S
Klien melukai dirinya sendiri dan berakibat T
K
HASIL TABULASI SPSS
6 cedera yang serius (melukai tubuh) S
Pengamatan Pengamatan
No Perilaku Klien Kategori
I II
Klien mengancam untuk merusak barang/ T
7 benda tanpa ada rencana untuk K
melakukannya S
T
Klien melukai secara fisik terhadap orang K
8
lain yang mengakibatkan cedera ringan S
Klien mengungkapkan keinginannya pada T
9 orang lain (keluarga/teman) untuk K
mengakhiri hidupnya S
Dengan kata-kata, klien mengancam orang T
10 lain (keluarga, tetangga atau teman) tanpa K
ada rencana untuk melakukannya S
Klien menggunakan benda/fasilitas dengan T
kasar/ membahayakan dengan ada niat
untuk merusak benda/ fasilitas tersebut K
11
(menutup pintu dengan keras, menaruh alat
makan ke meja dengan kasar, menata kursi S
dengan kasar)
Klien terlibat permusuhan dengan teman/ T
siapa saja dan melakuan ancaman akan K
12
melukainya disertai rencana untuk
melakukannya S
Klien melakukan tindakan mencederai diri
T
dan mengakibatkan cedera ringan
(memukul kepalanya atau membenturkan
13 K
kepalanya ke tembok, memukul bagian
tubuhnya yang lain seperti tangan dan kaki)
S
Klien mengancam melakukan perusakan T
kepada benda/ fasilitas dalam rumah atau
14 K
luar rumah (fasilitas umum) dan disertai
rencana untuk melakukannya S
T
Dengan kata-kata, klien membantah nasehat
15
yang diberikan
K
S
Klien mengancam untuk mencederai orang T
16 lain dan disertai rencana untuk K
melakukannya S
HASIL TABULASI SPSS
Klien mengancam akan mencederai dirinya T
17 sendiri tanpa ada rencana untuk K
melakukannya S
(Sumber : Kadji, 2020)
Keterangan Penilaian (Pemberian Skor):
1. Nilai 3, jika klien tidak pernah (T) melakukan perilaku kekerasan
2. Nilai 2, jika klien kadang-kadang (K) melakukan perilaku kekerasan
sebanyak 1-2 kali sehari
3. Nilai 1, jika klien sering (S) melakukan perilaku kekerasan lebih dari 3 kali
per hari.
Lembar observasi untuk mengukur kemampuan mengendalikan responden ini,
dilakukan selama 1 Bulan sehingga didapatkan nilai minimal > 55 dan nilai
maksimal 100 dengan kategori:
1. Tidak membahayakan diri sendiri dan orang lain jika 56-100
2. Membahayakan diri sendiri dan orang lain 1-55
HASIL TABULASI SPSS
LAMPIRAN 4
STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR (SOP)
PENGARUH ART THERAPY MENGGAMBAR TERHADAP
RESIKOPERILAKUKEKERASANPADAKLIEN
SKIZOFERNIA DIRUMAH SAKIT KHUSUS
JIWA SOEPRAPTO BENGKULU
STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR (SOP)
ART THERAPY AKTIVITAS MENGGAMBAR
Defenisi Art therapy adalah media seni untuk mengeksplorasi perasaan
sehingga membuat pasien menjadi damai.
Penatalaksanaan Art Therapy dilakukan 2 kali dalam satu
minggu selama 4 minggu.
Tujuan 1. Klien mampumengekspresikan perasaan melalui gambar
2. Klien dapat melakukan aktivitas terjadwal untuk
mengurangi Resiko perilaku kekerasan
Setting 1. Terapis dan Klien duduk bersama
2. Ruangan nyaman dan tenang
Alat 1. Buku gambar
2. Pensil
3. Pensil warna
4. Penghapus
Metode Metode pelaksanaan dapat dilakukan secara individu atau
kelompok
Persiapan 2. Ruangan/ tempat yang nyaman.
Langkah Kegiatan 3. Persiapan
a. Memilih Klien yang sesuai dengan indikasi.
b. Membuat kontrak dengan Klien
c. Mempersiapkan alat dan tempat pertemuan
4. Orientasi
a. Salam terapeutik
HASIL TABULASI SPSS
1) Salam dari terapis kepada Klien
2) Klien dan terapis menggunakan papan nama
c. Evaluasi/validasi
1) Menanyakan perasaan Klien saat ini
2) Tanyakan apakah kegiatan art therapy aktivitas
menggambar sudah dilakukan
d. Kontrak
1) Menjelaskan tujuan kegiatan, yaitu mengurangi
terjadi Resiko perilaku kekerasan.
2) Menjelaskan aturan main seperti jika Klien ingin
meninggalkan kelompokmaka harus memintaizin
kepada terapis, lama kegiatan 35 menit, setiap Klien
mengikuti kegiatan dari awal sampai akhir.
11. TahapKerja
a. Persiapan alat seperti, buku gambar, pensil, dan
pensil warna
b. Membagikan kertas, pensil, pensil warna, krayon
kepada klien
c. Menjelaskan tema gambar yaitu menggambar
sesuatu yang disukai atau perasaan saat ini
d. Setelah selesai menggambar terapis mempinta klien
untuk menjelaskan gambar apa dan makna gambar
yang telah dibuat
e. Terapis memberikan pujian kepada klien setelah
klien selesai menjelaskan isi gambarnya
12. Terminasi
a. Evaluasi
1) Menanyakan perasaan klien setelah melakukan
tindakan, terapis memberikan pujian pada klien.
2) Rencana tindak lanjut: terapis menuliskan kegiatan
menggambar pada tindakan harian klien.
7) Kontrak yang akan datang
8) Menyepakati tindakan terapi menggambar yang
akan dating
9) Menyepakatiwaktudan tempat
10) Berpamitan dan mengucapkan salam
HASIL TABULASI SPSS
Evaluasi Evaluasi dilakukan saat proses Art therapy Aktivitas
Menggambar berlangsung khususnya pada tahap kerja.
Aspek yang dievaluasi adalah kemampuan Klien sesuai
dengan tujuan Art therapy Aktivitas Menggambar,
kemampuan yang
diharapkan adalah mampu mengekspresikan perasaan
melaluigambar,memberimaknagambar,danmengurangi
Resikoperilaku kekerasan (nama Klien, eksperikan perasaan
melalui gambar, makna gambar, mengurangi
RPK)
Dokumentasi Dokumentasikan kemampuan yang dimiliki pada catatan
proses keperawatan tiap Klien. Contoh Klien mengikuti,
Art therapy Aktivitas Menggambar. Klien mampu
mengekspresikan perasaan melalui gambar, memberi makna
gambar,dan mengurangi rpk.
Sumber:NiPutuSukmaPratiwi(2020)