Berikut penjelasan yang lebih ringan dan mudah dipahami untuk presentasi:
Gerakan Reformasi 1998 di UGM
Menjelang tahun 1997, kondisi gerakan mahasiswa di Universitas Gadjah Mada
(UGM) masih terbilang pasif. Hanya ada sedikit aksi protes, bahkan demonstrasi
pertama hanya diikuti oleh tujuh orang. Sementara itu, di tingkat nasional mulai
bermunculan tokoh-tokoh yang menentang pemerintahan Presiden Soeharto.
Meskipun belum terlalu aktif dalam demonstrasi, mahasiswa UGM lebih banyak
menggelar diskusi-diskusi intelektual yang membahas pentingnya reformasi. Salah
satu tokoh yang sering diundang dalam diskusi ini adalah Amien Rais, yang
kemudian menjadi salah satu pemimpin gerakan reformasi.
Pada tahun 1997, UGM mengadakan Pemilihan Raya (Pemira) Mahasiswa untuk
memilih Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM). Haryo Setyoko terpilih sebagai
Ketua BEM UGM, meskipun ia awalnya hanya mendapat suara kedua terbanyak.
Pemilihannya terjadi karena adanya perselisihan antara dua kandidat lain, sehingga
Haryo dianggap sebagai pilihan netral.
Di bawah kepemimpinan Haryo, mahasiswa UGM semakin aktif menyuarakan
reformasi. Salah satu langkah berani yang mereka lakukan adalah mengadakan
referendum yang menunjukkan bahwa lebih dari 90% mahasiswa UGM ingin
Soeharto turun dari jabatannya.
Pada akhir 1997, Indonesia mengalami krisis moneter yang parah. Hal ini membuat
gerakan mahasiswa semakin besar. Mahasiswa UGM bersama berbagai elemen
masyarakat mulai melakukan demonstrasi menuntut perubahan. Pemerintah
sempat menuduh gerakan ini ditunggangi oleh partai politik tertentu, dan aksi
protes mahasiswa pun berujung pada tindakan represif dari aparat, termasuk
penembakan terhadap seorang mahasiswa.
Pada Maret 1998, gerakan mahasiswa semakin solid. Kelompok-kelompok
mahasiswa yang sebelumnya terpecah, baik yang berbasis Islam seperti Tarbiyah
(yang kemudian membentuk KAMMI) maupun kelompok kiri seperti Partai Rakyat
Demokratik (PRD), mulai bersatu dalam satu tujuan: menjatuhkan Soeharto.
UGM juga memainkan peran penting dalam Reformasi 1998. Rektornya saat itu,
Prof. Ichlasul Amal, adalah satu-satunya rektor yang secara terbuka menentang
Soeharto. Bersama mahasiswa, dosen, alumni, dan bahkan Keraton Yogyakarta,
UGM ikut menggerakkan aksi besar-besaran.
Pada 1 Maret 1998, Sidang Umum Istimewa MPR digelar untuk membahas
pertanggungjawaban Soeharto. Beberapa hari setelahnya, 15 ribu mahasiswa UGM
turun ke jalan menolak kepemimpinan Soeharto. Aksi ini semakin besar, dan pada
12 Maret 1998, sekitar 50 ribu mahasiswa UGM kembali berdemonstrasi dengan
tuntutan reformasi. Mereka menuntut harga kebutuhan pokok yang lebih terjangkau
dan sistem ekonomi yang berpihak pada rakyat.
Gerakan reformasi ini akhirnya berpuncak ketika mahasiswa bersama rakyat
berhasil menduduki gedung MPR/DPR di Jakarta. Tekanan dari berbagai pihak,
termasuk dari tokoh-tokoh seperti Amien Rais, membuat Soeharto akhirnya
mengundurkan diri pada Mei 1998 dan digantikan oleh B.J. Habibie.