Pembelajaran Berbasis Masalah dan Proyek
Pembelajaran Berbasis Masalah dan Proyek
PEDAGOGIK
TOPIK 1
Penulis:
Subtopik Bahasan
A. Definisi Pembelajaran Berbasis Masalah (problem-based learning)
Pembelajaran berbasis masalah adalah pendekatan yang mengakui bahwa peserta didik harus
mengembangkan keterampilan metakognitif dan dengan demikian diharapkan bahwa peserta didik menggunakan
kemampuan penalaran untuk mengelola atau memecahkan masalah yang kompleks (Baden & Major, 2004). Menurut
Arends (2012) yang dikutip Muis (2019), pembelajaran berbasis masalah adalah model pembelajaran yang
berlandasakan konstruktivisme dan mengakomodasi keterlibatan siswa dalam belajar serta terlibat dalam pemecahan
masalah dimana masalah tersebut dialami atau merupakan pengalaman sehari-hari siswa. Savery dan Duffy (1995)
mengemukakan bahwa PBL didasarkan pada teori konstruktivisme, di mana pembelajaran terjadi ketika siswa aktif
dalam mengkonstruksi pengetahuan baru melalui pengalaman mereka. Siswa belajar melalui interaksi dengan
masalah, menciptakan solusi, dan bekerja secara kolaboratif.
Hmelo-Silver (2004) mengemukakan bahwa PBL adalah strategi pembelajaran yang menggunakan masalah
kompleks sebagai pemicu pembelajaran untuk meningkatkan keterampilan berpikir kritis, kolaborasi, dan penguasaan
konsep. Siswa belajar dengan cara mengidentifikasi, menganalisis, dan menyelesaikan masalah. Fogarty (1997)
mengatakan bahwa PBL dirancang untuk memberikan siswa pengalaman belajar yang melibatkan penyelesaian
masalah nyata, yang memotivasi siswa untuk berpikir secara mendalam dan kreatif, serta bekerja dalam tim untuk
menemukan solusi terbaik. Arends (2012) memandang bahwa PBL mendorong siswa untuk bekerja dalam kelompok
kecil guna memecahkan masalah bermakna, merangsang pengembangan keterampilan sosial, komunikasi, dan
berpikir tingkat tinggi. Demikian juga Margetson (1997) yang melihat PBL dengan tujuan untuk mendidik siswa dengan
melibatkan mereka dalam proses pembelajaran mandiri dan kolaboratif, memberikan mereka kesempatan untuk
mengintegrasikan teori dan praktik secara efektif.
Menurut Hung, Jonassen, & Liu, (2008) pembelajaran berbasis masalah adalah suatu metode pengajaran yang
mengawali pembelajaran siswa dengan menciptakan kebutuhan untuk melakukannya memecahkan masalah otentik.
Selama proses pemecahan masalah, siswa membangun pengetahuan konten dan juga mengembangkan
keterampilan pemecahan masalah keterampilan belajar mandiri sambil berupaya untuk memecahkan masalah
tersebut. Sebagaimana dikemukakan oleh Hmelo-Silver, (2004) bahwa dalam PBL, siswa bekerja dalam kelompok
kolaboratif kecil dan mempelajari apa yang perlu mereka ketahui untuk memecahkan suatu masalah. Guru berperan
sebagai fasilitator yang membimbing belajar siswa melalui siklus pembelajaran. .... Hal ini dirancang untuk membantu
siswa 1) membangun basis pengetahuan yang luas dan fleksibel; 2) mengembangkan keterampilan pemecahan
masalah yang efektif; 3) mengembangkan keterampilan belajar mandiri sepanjang hayat; 4) menjadi kolaborator yang
efektif; dan 5) menjadi termotivasi secara intrinsik untuk belajar.
Senada dengan definisi di atas, Sumartini, (2015) mengemukakan bahwa pembelajaran berbasis masalah
merupakan pembelajaran yang menuntut aktivitas mental siswa secara optimal dalam belajar berpikir kritis,
keterampilan pemecahan masalah, dan memperoleh pengetahuan mengenai esensi dari materi pelajaran dalam
memahami suatu konsep, prinsip, dan keterampilan siswa berbentuk ill-stucture atau open-ended melalui stimulus.
Demikian juga Saputra, (2021) mengemukakan bahwa pembelajaran berbasis masalah adalah pembelajaran yang
menggunakan masalah nyata (autentik) yang tidak terstruktur dan bersifat terbuka sebagai konteks bagi peserta didik
untuk mengembangkan keterampilan menyelesaikan masalah dan berfikir kritis serta sekaligus membangun
pengetahuan baru. Berbeda dengan pembelajaran konvensional yang menjadikan masalah nyata sebagai penerapan
2
konsep, pembelajaran berbasis masalah menjadikan masalah nyata sebagai pemicu bagi proses belajar peserta didik
sebelum mereka mengatahui konsep formal.
Peserta didik secara kritis mengidentifikasi informasi dan strategi yang relevan serta melakukan penyelidikan
untuk menyelesaikan masalah tersebut. Dengan menyelesaikan masalah tersebut, peserta didik memperoleh atau
membangun pengetahuan tertentu dan sekaligus mengembangkan kemampuan berpikir kritis dan keterampilan
menyelesaikan masalah. Mungkin pengetahuan yang diproleh peserta didik tersebut masih bersifat informal. Namun,
melalui proses diskusi, pengetahuan tersebut dapat dikonsolidasikan sehingga menjadi pengetahuan formal yang
terjalin dengan pengetahuan-pengetahuan yang telah dimiliki peserta didik (Saputra, 2021). Dilanjutkan Saputra,
(2021) bahwa model ini bercirikan penggunaan masalah kehidupan nyata sebagai sesuatu yang harus dipelajari siswa
untuk melatih dan meningkatkan keterampilan berfikir kritis dan pemecahan masalah serta mendapatkan pengetahuan
konsep-konsep penting, di mana tugas guru harus memfokuskan diri untuk membantu siswa mencapai keterampilan
mengarahkan diri. Pembelajaran berbasis masalah, penggunaannya di dalam tingkat berfikir yang lebih tinggi, dalam
situasi berorientasi pada masalah, termasuk bagaimana belajar. Model pembelajaran berbasis masalah meliputi
pengajuan pertanyaan atau masalah, memusatkan pada keterkaitan antardisiplin, penyelidikan autentik, kerja sama
dan menghasilkan karya serta peragaan. Pembelajaran berbasis masalah tidak dirancang untuk membantu guru
memberikan informasi sebanyak-banyaknya pada siswa.
Dari beberapa definisi yang dikemukakan di atas, maka dapat disimpulkan bahwa pembelajaran berbasis
masalah (problem based learning) adalah suatu pendekatan yang menawarkan kemandirian siswa dalam
memecahkan berbagai masalah aktual yang ditemui sehari-hari. Melalui teknik investigasi mendalam, setiap siswa
mengemukakan masalah-masalah faktual, kemudian mendiskusikan di dalam kelas bersama teman sejawat, sehingga
membentuk kemampuan mereka untuk berpikir kritis dan membangun konsep-konsep atau pengetahuan baru. Dalam
proses ini, guru bertindak sebagai fasilitator untuk mendinamisasi mekanisme kerja kelompok diskusi sehinga terjalin
aktivitas kolaborasi antar siswa di dalam kelas. Sebagai suatu pendekatan pembelajaran, maka PBL bertumpuh pada
kemandirian siswa untuk berpikir, menganalisa, dan menawarkan solusi serta menemukan gagasan-gagasan baru
dalam memecahkan permasalahan nyata yang dihadapi siswa dalam hidup mereka sehari-hari.
4
mungkin. Jika masalah ditempatkan dalam konteks di mana siswa akrab, yang pernah mereka alami, mereka
akan merasa bahwa mereka memiliki kepentingan dalam memecahkan masalah.
b) Masalah yang baik kadang-kadang memerlukan siswa untuk membuat Keputusan atau penilaian berdasarkan
fakta, informasi, logika, dan atau rasionalisasi. Dalam masalah seperti ini, siswa akan diminta untuk membenarkan
keputusan dan penalaran mereka berdasarkan prinsip-prinsip yang dipelajari.
c) Masalah yang baik harus cukup kompleks, memuat beberapa konsep untuk menyelesaikannya sehingga yang
menuntut kerja sama dari semua anggota kelompok dalam rangka berbagi untuk secara efektif bekerja menuju
Solusi.
d) Masalah harus terbuka, mempunyai beberapa alternatif penyelesaian sehingga menjadikan siswa tertarik untuk
mendebatkan atau mendiskusikan atas masalah tersebut berdasarkan pengetahuan yang dipelajari sebelunya.
e) Masalah harus memenuhi tujuan-tujuan pembelajaran suatu mata pelajaran, menghubungkan pengetahuan
sebelumnya ke konsep-konsep baru, dan menghubungkan pengetahuan baru dengan konsep-konsep dalam
materi-materi pelajaran lain.
Arends (2012) sebagai dikutip Muis (2019) mengemukakan bahwa ada lima karakteristik pembelajaran berbasis
masalah, yakni:
a) Pengajuan masalah atau pertanyaan, yaitu mengorganisasikan pengajaran di sekitar pertanyaan dan masalah
yang penting secara sosial dan secara pribadi bermakna untuk siswa. Mereka menghadapi berbagai situasi
kehidupan nyata yang tidak dapat diberi jawaban-jawaban sederhana dan ada berbagai Solusi yang kompetitif
untuk menyelesaikannya.
b) Berfokus pada keterkaitan antar disiplin, yaitu memungkinkan berpusat pada beberapa materi Pelajaran.
c) Penyelidikan autentik, yaitu melakukan penyelidikan untuk mencari penyelesaian nyata terhadap masalah nyata.
Mereka harus me nganalisis, mendefinisikan masalah, mengembangkan hipotesis, dan membuat ramalan,
mengumpulkan dan menganalisis informasi, dan merumuskan Kesimpulan.
d) Menghasilkan produk dan memamerkannya, yaitu menuntut siswa untuk menghasilkan produk tertentu dalam
bentuk karya nyata atau artefak dan peragaan yang menjelaskan atau mewakili bentuk penyelesaian masalah
yang mereka tentukan.
e) Kolaborasi, yaitu dicirikan oleh siswa yang bekerja sama satu dengan lainnya, paling sering berpasangan atau
dalam kelompok kecil.
Muis, (2019) dalam kesimpulannya mengemukakan beberapa tujuan utama mengenai pembelajaran berbasis
masalah. Pertama; membiasakan siswa melakukan penyelidikan dan mendorong dialog bersama melalui
permasalahan autentik, siswa akan terlatih dalam hal berpikir dan memecahkan masalah pembelajaran. Kedua;
melibatkan siswa dalam pengalaman nyata atau simulasi (pemodelan orang dewasa), membantu siswa untuk
berkinerja dalam situasi kehidupan nyata dan belajar melakukan peran orang dewasa. Ketiga; membantu siswa
menjadi pembelajar yang mandiri, dan meyakini kemampuan intelektualnya sendiri. Dengan cara berulang-ulang guru
membimbing dan mendorong serta mengarahkan siswa untuk mengajukan pertanyaan, mencari penyelesaian
terhadap masalah nyata oleh mereka sendiri.
Barrows & Tamblyn (1980) telah memetakan model pembelajaran berbasis masalah lima karakteristik utama,
yaitu: (1) situasi dunia nyata yang kompleks yang tidak memiliki satu jawaban yang benar merupakan fokus
pengorganisasian pembelajaran; (2) siswa bekerja dalam tim untuk menghadapi masalah, mengidentifikasi
kesenjangan pembelajaran, dan mengembangkan solusi yang layak; (3) siswa memperoleh informasi baru melalui
pembelajaran mandiri; (4) guru bertindak sebagai fasilitator; dan (5) masalah mengarah pada pengembangan
kemampuan pemecahan masalah.
5
Boud (1985) seperti dikutip Baden & Major (2004) mengemukakan 8 karakteristik pembelajaran berbasis
masalah yakni: (1) pengakuan atas dasar pengalaman siswa; (2) penekanan pada siswa yang mengambil
tanggungjawab atas pembelajaran mereka sendiri; (3) melintasi batas antar disiplin ilmu; (4) jalinan antara teori dan
praktik; (5) fokus pada proses dari pada produk perolehan pengetahuan; (6) perubahan peran tutor dan instruktur
menjadi fasilitator; (7) perubahan fokus dari penilaian tutor terhadap hasil belajar menjadi penilaian diri siswa dan
penilaian teman sejawat; dan (8) fokus pada keterampilan komunikasi dan interpersonal sehingga siswa memahami
bahwa untuk menghubungkan pengetahuannya, mereka memerlukan keterampilan untuk berkomunikasi dengan
orang lain, keterampilan yang melampaui bidang keahlian teknis mereka.
Pembelajaran berbasis dalam masalah gagasan Hung, Jonassen, & Liu, (2008) adalah sebuah metodologi
pembelajaran; yaitu, sebagai solusi instruksional untuk pembelajaran masalah. Tujuan utama PBL adalah untuk
meningkatkan pembelajaran dengan mengharuskan peserta didik memecahkan masalah. Metodologinya mempunyai
ciri-ciri sebagai berikut:
a) Fokusnya pada masalah, sehingga peserta didik mulai belajar dengan mengatasi simulasi masalah yang autentik
dan tidak terstruktur. Itu konten dan keterampilan yang akan dipelajari diatur seputar masalah, bukan sebagai
daftar hierarki topik, jadi hubungan timbal balik ada antara pengetahuan dan masalah. Pembangunan
pengetahuan dirangsang oleh masalah dan diterapkan kembali pada masalah tersebut.
b) Hal ini berpusat pada siswa, karena itu sekolah tidak bisa mendikte pembelajaran.
c) Hal ini bersifat mandiri, sehingga siswa secara individu dan kolaboratif memikul tanggung jawab untuk
menghasilkan isu-isu pembelajaran dan proses melalui penilaian diri dan penilaian rekan dan mengakses materi
pembelajaran mereka sendiri.
Pada umumnya konsep pembelajaran berbasis masalah (problem-based learning) yang dikemukakan di atas,
mengacu pada teori-teori yang dikembangkan oleh para ahli sebelumnya. Ada kesepahaman Bersama, bahwa PBL
mengacu pada teori konstruktivisme Dalam gagasan Barrows & Tamblyn (1980), PBL adalah metode pendidikan yang
berpusat pada siswa, menggunakan masalah dunia nyata sebagai katalis untuk mengembangkan keterampilan
berpikir kritis, pemecahan masalah, dan pembelajaran mandiri.
6
pendekatan di mana siswa secara aktif terlibat dalam memecahkan masalah dan menjawab pertanyaan terbuka
melalui proses kolaboratif, menghasilkan produk konkret atau abstrak yang menunjukkan pemahaman mendalam.
Disimpulkan bahwa pembelajaran berbasis projek (PjBL) adalah suatu pendekatan pembelajaran dengan
memberikan tantangan bagi siswa dalam kurun waktu tertentu menyelesaikan projek penyelidikan terhadap suatu
masalah yang kompleks dan aktual dan akhirnya menghasilkan produk nyata maupun akbstrak. Melalui PjBL, siswa
dapat berkolaborasi, menemukan makna, konsep, dan pengetahuan baru melalui kemampuan berpikir kritis. PjBL
mendorong siswa baik secara mandiri maupun kelompok agar kreatif dan mampu menciptakan produk pembelajaran
yang memecahkan masalah tertentu.
7
7. Larmer & Mergendoller (2010)
PjBL dirancang untuk mendorong siswa mempelajari keterampilan abad ke-21, seperti berpikir kritis,
komunikasi, dan kolaborasi, melalui proyek yang kompleks dan menantang. Pembelajaran berorientasi proses
investigasi yang mendalam.
Mengacu pada teori-teori yang kemukakan di atas, maka menurut Trianto (2009), PjBL adalah model
pembelajaran inovatif yang berpusat pada siswa, yang memberikan pengalaman belajar melalui proyek tertentu. Siswa
dituntut untuk bekerja secara mandiri atau berkelompok dalam waktu tertentu untuk menghasilkan produk yang dapat
dipamerkan atau dipublikasikan. Ciri Utama PjBL adalah (1) pembelajaran berbasis masalah nyata; (2) proses
pembelajaran interaktif; dan (3) hasil pembelajaran berupa produk konkret. Konsep PjBL menurut Suprijono (2013)
adalah model pembelajaran yang berorientasi pada pemecahan masalah nyata melalui proyek. Siswa tidak hanya
belajar tentang konsep, tetapi juga terlibat dalam praktik nyata yang relevan dengan dunia mereka. Langkah-
langkahnya adalah; (1) menentukan masalah proyek; (2) merencanakan langkah-langkah kerja; (3) melaksanakan
proyek secara kolaboratif; dan (4) mempresentasikan hasil kerja.
Hosnan (2014) berpendapat bahwa PjBL adalah pendekatan pembelajaran yang melibatkan siswa dalam tugas
proyek yang dirancang untuk menyelesaikan masalah tertentu, sehingga mereka dapat mengintegrasikan
pengetahuan dan keterampilan. Metode ini juga mendorong siswa untuk berpikir kritis, kreatif, dan bekerja dalam tim.
Ciri-cirinya adalah (1) keterkaitan pembelajaran dengan dunia nyata; (2) mendorong siswa berpikir kritis dan kreatif;
dan (3) kolaborasi sebagai bagian penting. Mulyasa (2013) menambahkkan bahwa PjBL adalah model pembelajaran
yang mengintegrasikan proses belajar dengan kehidupan nyata melalui penyelesaian proyek. Proses ini melibatkan
siswa secara aktif dalam penelitian, analisis, dan penciptaan produk. Dengan tahapan (1) perencanaan proyek; (2)
pelaksanaan dan pengumpulan data; (3) pembuatan dan presentasi hasil; dan (4) evaluasi proses dan produk.
Zaini et al. (2008) menyimpulkan bahwa PjBL adalah model pembelajaran aktif yang memusatkan pembelajaran
pada proyek yang dirancang untuk meningkatkan pemahaman siswa melalui pengalaman langsung. Pembelajaran ini
mencakup investigasi dan eksperimen yang berorientasi pada pengembangan keterampilan abad ke-21. Selanjutnya,
Wena (2014) menegaskan bahwa PjBL adalah pendekatan pembelajaran yang memberikan siswa pengalaman belajar
melalui pelaksanaan proyek tertentu yang bertujuan untuk mengatasi masalah nyata atau tantangan tertentu. Metode
ini dirancang untuk melatih keterampilan problem solving, komunikasi, dan kerja tim. Langkah-langkahnya yaitu (1)
mengidentifikasi tujuan proyek; (2) menyusun langkah-langkah kerja; (3) melaksanakan proyek; dan (4) mengevaluasi
hasil dan proses.
8
▪ Memberikan panduan awal untuk
memahami masalah.
2. Organisasi ▪ Membantu siswa mengorganisasi Membentuk kelompok, mendiskusikan Suprijono (2013),
Belajar tugas dan kelompok belajar. masalah, dan merencanakan langkah Mulyasa (2013)
▪ Menjelaskan tujuan pembelajaran dan penyelesaian masalah.
langkah-langkah kerja.
3. Investigasi ▪ Membimbing siswa dalam proses Melakukan pencarian informasi, Wena (2014), Zaini
Mandiri investigasi tanpa memberikan membaca literatur, menganalisis data, et al. (2008)
jawaban langsung. atau melakukan eksperimen.
▪ Menyediakan sumber daya yang
diperlukan.
4. Penyusunan ▪ Memfasilitasi siswa dalam menyusun Berdiskusi dalam kelompok, Hosnan (2014),
Solusi solusi berdasarkan data yang merumuskan solusi, dan menyusun Trianto (2009)
diperoleh. laporan hasil kerja.
▪ Mendorong siswa untuk
mengelaborasi ide-ide mereka.
5. Presentasi ▪ Mengorganisasi presentasi hasil Memaparkan hasil kerja, menjawab Suprijono (2013),
Solusi kerja kelompok. pertanyaan dari kelompok lain, dan Mulyasa (2013)
▪ Memberikan umpan balik terhadap menerima masukan.
presentasi siswa.
6. Analisis dan ▪ Memimpin sesi diskusi dan refleksi Menganalisis proses yang telah Wena (2014),
Refleksi untuk mengevaluasi proses dilakukan, mengevaluasi hasil, dan Hosnan (2014)
pembelajaran. merefleksikan pembelajaran.
▪ Memberikan umpan balik akhir dan
motivasi.
Penjelasan:
1. Tahap 1 (Orientasi Masalah): Guru bertugas memperkenalkan masalah, sementara siswa mulai memahami
konteks masalah.
2. Tahap 2 (Organisasi Belajar): Guru berperan sebagai fasilitator yang mengorganisasi pembelajaran, sedangkan
siswa mulai berkolaborasi.
3. Tahap 3 (Investigasi Mandiri): Siswa aktif mencari solusi dengan bimbingan minimal dari guru.
4. Tahap 4 (Penyusunan Solusi): Hasil investigasi dirumuskan menjadi solusi atau produk.
5. Tahap 5 (Presentasi Solusi): Siswa memaparkan hasil kepada audiens untuk mendapatkan umpan balik.
6. Tahap 6 (Refleksi): Evaluasi dan refleksi membantu siswa memperbaiki pemahaman dan kinerja di masa depan.
Menurut Schwartz, (2013), biasanya dalam PBL, siswa bekerja dalam kelompok kecil dengan pendidik yang
bertindak sebagai fasilitator diskusi dan pembelajaran, bukan sebagai sumber langsung informasi. Selama
mengerjakan suatu masalah, siswa: (1) pertama kali menghadapi masalah 'dingin', tanpa melakukan studi persiapan
apa pun bidang permasalahannya; (2) berinteraksi satu sama lain untuk menggali pengetahuan yang ada kaitannya
dengan masalahnya; (3) membentuk dan menguji hipotesis tentang mekanisme mendasar yang mungkin terjadi
memperhitungkan masalahnya (sampai tingkat pengetahuan mereka saat ini); (4) mengidentifikasi kebutuhan
pembelajaran lebih lanjut untuk mencapai kemajuan dalam mengatasi masalah; (5) melakukan belajar mandiri di sela-
sela pertemuan kelompok untuk memuaskan apa kebutuhan belajar yang telah diidentifikasi; (6) kembali ke kelompok
untuk mengintegrasikan pengetahuan yang baru diperoleh dan menerapkannya untuk masalah tersebut; (7) ulangi
langkah 3 sampai 6 seperlunya; dan (8) merefleksikan proses dan isi yang telah dipelajari. Proses pembelajaran PBL
menurut Hung, Jonassen, & Liu, (2008) biasanya melibatkan langkah-langkah berikut:
a) Siswa dalam kelompok yang terdiri dari lima sampai delapan orang bertemu dan bernalar melalui masalah
tersebut. Mereka mencoba untuk mendefinisikan dan mengikat masalah dan menetapkan tujuan pembelajaran
9
dengan mengidentifikasi apa tujuan tersebut sudah tahu, hipotesis atau dugaan apa yang dapat mereka pikirkan,
apa yang perlu mereka lakukan belajar untuk lebih memahami dimensi masalahnya, dan apa kegiatan
pembelajarannya diperlukan dan siapa yang akan melaksanakannya.
b) Selama belajar mandiri, setiap siswa menyelesaikan tugas belajar mereka. Mereka mengumpulkan dan
mempelajari sumber daya dan mempersiapkannya melaporkan kepada kelompoknya.
c) Siswa berbagi pembelajarannya dengan kelompok dan meninjau kembali masalahnya, menghasilkan hipotesis
tambahan dan menolak hipotesis lain pada pembelajaran mereka.
d) Pada akhir periode pembelajaran (biasanya satu minggu), siswa merangkum dan mengintegrasikan pembelajaran
mereka.
Pendekatan PBL dalam suatu kurikulum biasanya mencakup karakteristik berikut sebagaimana dikemukakan
(Tan, 2002c):
a) Masalah adalah titik awal pembelajaran;
b) Permasalahan biasanya merupakan permasalahan dunia nyata yang muncul tidak terstruktur. Jika ini adalah
masalah yang disimulasikan, maka dimaksudkan sebagai seotentik mungkin;
c) Permasalahan ini membutuhkan berbagai perspektif. Penggunaan pengetahuan lintas disiplin merupakan fitur
utama dalam banyak kurikulum PBL. Di dalam Bagaimanapun, PBL mendorong penyelesaian masalah dengan
mengambil pertimbangan pengetahuan dari berbagai mata pelajaran dan topik;
d) Masalahnya menantang pengetahuan dan sikap siswa saat ini dan kompetensi, sehingga memerlukan identifikasi
pembelajaran kebutuhan dan bidang pembelajaran baru;
e) Pembelajaran mandiri adalah hal yang utama. Dengan demikian, siswa menganggap bertanggung jawab untuk
memperoleh informasi dan pengetahuan;
f) Memanfaatkan berbagai sumber pengetahuan dan penggunaan serta evaluasi sumber informasi adalah yang
penting dalam proses PBL;
g) Pembelajaran bersifat kolaboratif, komunikatif dan kooperatif. Siswa bekerja dalam kelompok kecil dengan tingkat
interaksi yang tinggi untuk pembelajaran sejawat, pengajaran sejawat, dan presentasi kelompok.
h) Pengembangan keterampilan penyelidikan dan pemecahan masalah juga sama pentingnya sebagai perolehan
pengetahuan konten untuk solusi masalah. Tutor PBL dengan demikian memfasilitasi dan melatih bertanya dan
pembinaan kognitif.
i) Penutupan dalam proses PBL meliputi sintesis dan integrasi sedang belajar.
j) PBL juga diakhiri dengan evaluasi dan peninjauan kembali pengalaman pembelajar dan proses pembelajaran.
Sumber
Tahap Aktivitas Guru Aktivitas Siswa
Rujukan
▪ Memformulasikan pertanyaan atau
masalah utama yang menarik dan Mendengarkan penjelasan guru dan
1. Menentukan Trianto (2009),
relevan. memahami pertanyaan esensial
Pertanyaan Esensial Hosnan (2014)
▪ Menjelaskan tujuan proyek yang serta tujuan proyek.
akan dilakukan.
10
Sumber
Tahap Aktivitas Guru Aktivitas Siswa
Rujukan
▪ Membimbing siswa merencanakan
langkah-langkah penyelesaian Membentuk kelompok,
Mulyasa (2013),
2. Merencanakan Proyek proyek. mendiskusikan rencana kerja, dan
Suprijono (2013)
▪ Menyediakan sumber daya atau membagi tugas dalam tim.
referensi awal.
▪ Mengawasi dan membimbing siswa
Mengumpulkan data, melakukan
3. Melaksanakan selama proses penyelidikan tanpa Wena (2014), Zaini
riset, wawancara, eksperimen, atau
Penyelidikan mendominasi. et al. (2008)
observasi sesuai rencana.
▪ Memberikan arahan jika diperlukan.
▪ Membimbing siswa saat menyusun
produk berdasarkan hasil Bekerja dalam kelompok untuk
4. Mengembangkan Hosnan (2014),
penyelidikan. menghasilkan produk, laporan, atau
Produk Trianto (2009)
▪ Menyediakan umpan balik selama solusi.
proses.
▪ Memfasilitasi presentasi proyek
siswa kepada audiens (kelas, Menyampaikan hasil proyek,
5. Mempresen-tasikan Suprijono (2013),
komunitas, atau lainnya). menjawab pertanyaan audiens, dan
Hasil Mulyasa (2013)
▪ Memberikan umpan balik terhadap menerima masukan.
presentasi.
▪ Memimpin evaluasi untuk menilai Merefleksikan pengalaman belajar,
proses dan hasil proyek. mengevaluasi produk, dan Wena (2014),
6. Mengevaluasi Proyek
▪ Mendorong siswa melakukan mendiskusikan hal yang dapat Hosnan (2014)
refleksi. ditingkatkan.
G. Kesimpulan
Pembelajaran berbasis masalah (PBL) adalah pendekatan pembelajaran yang berpusat pada siswa, di mana
siswa diberikan masalah nyata atau kontekstual sebagai stimulus untuk belajar. Dalam PBL, siswa aktif
mengeksplorasi, merumuskan hipotesis, dan mencari solusi melalui proses pembelajaran mandiri dan kolaboratif. PBL
adalah pendekatan inovatif yang mempersiapkan siswa untuk menghadapi tantangan dunia nyata dengan
12
keterampilan berpikir kritis, kreatif, dan kolaboratif. Pendekatan ini mendorong pembelajaran bermakna, berorientasi
pada proses, dan relevan dengan kebutuhan masa depan.
Pembelajaran berbasis proyek (PjBL) adalah pendekatan pembelajaran yang mengintegrasikan proses
belajar dengan pelaksanaan proyek nyata untuk menyelesaikan masalah atau tantangan. PjBL menekankan
keterlibatan aktif siswa dalam proses pembelajaran yang berpusat pada pengalaman langsung, investigasi mendalam,
dan penciptaan produk nyata yang relevan. PjBL adalah pendekatan pembelajaran inovatif yang mempersiapkan
siswa untuk menghadapi tantangan nyata melalui proses kolaborasi, investigasi mendalam, dan penciptaan produk.
Dengan PjBL, siswa tidak hanya memahami konsep secara teoritis tetapi juga mengembangkan keterampilan penting
untuk kehidupan dan pekerjaan di masa depan.
H. Daftar Pustaka
Arends, R. I. (2012). Learning to Teach. McGraw-Hill Education.
Baden, M. S., & Major, C. H. (2004). Foundations of problem-based learning. McGraw-hill education (UK).
Barrows, H. S., & Tamblyn, R. M. (1980). Problem-Based Learning: An Approach to Medical Education. Springer
Publishing Company.
Bell, S. (2010). Project-Based Learning for the 21st Century: Skills for the Future. The Clearing House, 83(2), 39-43.
Blumenfeld, P. C., et al. (1991). Motivating Project-Based Learning: Sustaining the Doing, Supporting the Learning.
Educational Psychologist, 26(3-4), 369-398.
Dewey, J. (1938). Experience and Education.
Erawanto, U. (2016). Pengembangan modul pembelajaran berbasis masalah untuk membantu meningkatkan berfikir
kreatif mahasiswa. JINoP (Jurnal Inovasi Pembelajaran), 2(2), 427-436.
Fogarty, R. (1997). Problem-Based Learning and Other Curriculum Models for the Multiple Intelligences Classroom.
Corwin Press.
Hosnan. (2014). Pendekatan Saintifik dan Kontekstual dalam Pembelajaran Abad 21. Bogor: Ghalia Indonesia.
Hung, W., Jonassen, D. H., & Liu, R. (2008). Problem-based learning. In Handbook of research on educational
communications and technology (pp. 485-506). Routledge.
Hmelo-Silver, C. E. (2004). Problem-based learning: What and how do students learn? Educational psychology
review, 16, 235-266.
Krajcik, J. S., & Czerniak, C. M. (2007). Teaching Science in Elementary and Middle School: A Project-Based
Approach. Routledge.
Larmer, J., & Mergendoller, J. R. (2010). Seven Essentials for Project-Based Learning. Educational Leadership, 68(1),
34-37.
Margetson, D. (1997). Why is Problem-Based Learning a Challenge? In Boud, D., & Feletti, G. (Eds.), The Challenge
of Problem-Based Learning (pp. 36-44). Routledge.
Markham, T. (2011). Project-Based Learning: A Bridge Just Far Enough. Teacher Librarian, 39(2), 38-42.
Mulyasa, E. (2013). Pengembangan dan Implementasi Kurikulum 2013. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Muis, M. (2019). Model Pembelajaran Berbasis Masalah: Teori dan Penerapannya. Gresik; Caremedia
Communication.
Piaget, J. (1952). The Origins of Intelligence in Children.
Saputra, H. (2021). Pembelajaran berbasis masalah (problem based learning). Jurnal Pendidikan Inovatif, 5(3), 1-9.
Sari, D. T., Aula, A. W., Nugraheni, V. A., Dina, Z. K., & Romdhoni, W. (2022, December). Penerapan pembelajaran
berbasis masalah pada siswa SD untuk menumbuhkan kemampuan berpikir kritis. In Prosiding Seminar
Nasional Pendidikan Guru Sekolah Dasar (Vol. 2, No. 1, pp. 82-96).
Savery, J. R., & Duffy, T. M. (1995). Problem Based Learning: An Instructional Model and Its Constructivist Framework.
Educational Technology, 35(5), 31-38.
Schwartz, P. (2013). Problem-based learning. Routledge.
13
Sumartini, T. S. (2015). Peningkatan kemampuan penalaran matematis siswa melalui pembelajaran berbasis
masalah. Mosharafa: Jurnal Pendidikan Matematika, 4(1), 1-10.
Suprijono, A. (2013). Cooperative Learning: Teori dan Aplikasi Paikem. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Tan, O. S. (2021). Problem-based learning innovation: Using problems to power learning in the 21st century. Gale
Cengage Learning.
Tan, O.S. (2000c). Reflecting on innovating the academic architecture for the 21st century. Educational
Developments, 1, 8–11.
Thomas, J. W. (2000). A Review of Research on Project-Based Learning. Autodesk Foundation
Trianto. (2009). Mendesain Model Pembelajaran Inovatif-Progresif: Konsep, Landasan, dan Implementasinya pada
Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Jakarta: Kencana Prenada Media.
Vygotsky, L. S. (1978). Mind in Society: The Development of Higher Psychological Processes.
Wena, M. (2014). Strategi Pembelajaran Inovatif Kontemporer: Suatu Tinjauan Konseptual Operasional. Jakarta: Bumi
Aksara.
Zaini, H., et al. (2008). Strategi Pembelajaran Aktif. Yogyakarta: Pustaka Insan Madani.
14
MODUL AJAR
PEDAGOGIK
TOPIK 2
Penulis:
i
KEGIATAN BELAJAR 2
PENDEKATAN PEMBELAJARAN BERBASIS DIFERENSIASI
(DIFFERENTIATION BASED LEARING)
Subtopik Bahasan
A. Definisi Pembelajaran Berbasis Diferensiasi
Konsep pembelajaran berdiferensiasi merupakan konsep yang bagus dan ideal, tapi menjadi
tantangan guru untuk kreatif. Dengan pembelajaran itu, potensi peserta didik dikembangkan
sesuai dengan kebutuhan, karakteristik, dan tingkat pencapaiannya. Namun untuk mencapai
pembelajaran yang sesuai dengan konsep itu, guru harus berjuang menjadi fasilitator andal, perlu
perjuangan dan kerja keras guru. Pembelajaran berdiferensiasi dengan segala tantangan dan
problematikanya menyebabkan banyak kekhawatiran tersendiri dalam dunia pendidikan.
Capaian hasil pendidikan dalam kurikulum dan pendidikan karakter serta pembelajaran
berdiferensiasi merupakan capaian ideal, menjadi pertanyaan pendidik apakah hal ini mungkin
bisa diwujudkan dan bagaimana cara mewujudkanya? (Purnawanto, 2023).
Pembelajaran berdiferensiasi adalah upaya guru untuk merespons kebutuhan belajar
individu siswa dengan cara memodifikasi konten, proses, produk, atau lingkungan pembelajaran
agar sesuai dengan kesiapan, minat, dan profil belajar siswa (Tomlinson, 2001). Pendekatan
diferensiasi dalam pembelajaran adalah strategi yang diterapkan untuk mencocokkan gaya
belajar siswa, potensi, dan kemampuan individual sehingga setiap siswa dapat mencapai hasil
belajar yang optimal (Santrock, 2011). Pembelajaran berdiferensiasi adalah filosofi pengajaran
yang mengakui keragaman siswa dalam hal kebutuhan belajar dan mengintegrasikan berbagai
metode pengajaran untuk mengakomodasi kebutuhan tersebut (Subban, 2006). Diferensiasi
pembelajaran adalah pendekatan fleksibel dalam pengajaran yang dirancang untuk
mengakomodasi variasi dalam kesiapan, minat, dan gaya belajar siswa melalui berbagai strategi
dan materi (Hall, ., Strangman, & Meyer, (2003). Menurut Suparno (2007), dalam konteks
Indonesia, pembelajaran berdiferensiasi adalah cara mengajar yang menghormati keunikan
siswa dengan menyesuaikan pendekatan pengajaran pada kebutuhan spesifik mereka untuk
mencapai hasil belajar yang optimal.
Menurut Purnawanto, (2023) konsep pembelajaran yang mengakomodasi
keanekaragaman kondisi peserta didik (pembelajaran berdiferensiasi) sebenarnya juga telah
menjadi perhatian pedagogis sejak lama. Konsep itu menyatakan tiap peserta didik itu unik,
karena tidak ada yang sama persis dalam segala kondisi. Semua peserta didik berbeda baik
dalam kondisi fisik maupun psikisnya. Begitu pula di dalam pedagogis juga selalu ditekankan,
peserta didik memiliki ciri individual yang membedakan antara peserta didik satu dan yang lain.
Pembelajaran berdiferensiasi adalah proses atau filosofi untuk pengajaran efektif dengan
memberikan beragam cara untuk memahami informasi baru untuk semua siswa dalam komunitas
1
ruang kelasnya yang beraneka ragam, termasuk cara untuk: mendapatkan konten; mengolah,
membangun, atau menalar gagasan; dan mengembangkan produk pembelajaran dan ukuran
penilaian sehingga semua siswa di dalam suatu ruang kelas yang memiliki latar belakang
kemampuan beragam bisa belajar dengan efektif. Proses mendiferensiasikan pelajaran
dilakukan untuk menjawab kebutuhan, gaya, atau minat belajar dari masing-masing siswa
(Amalia., Rasyad, & Gunawan, 2023).
Pembelajaran berdiferensiasi merupakan salah satu strategi pembelajaran yang
berorientasi kepada kebutuhan belajar peserta didik. Arti dari diferensiasi adalah proses belajar
mengajar untuk memenuhi kebutuhan belajar peserta didik dalam memahami materi
pembelajaran berdasarkan karakteristik, kemampuan, minat, gaya belajar, dan kekuatan mereka
sehingga sukses dalam proses pembelajarannya. Guru diharapkan mampu menanggapi atau
merespon kebutuhan belajar tiap peserta didik, menciptakan lingkungan belajar, manajemen
kelas yang efektif, dan penilaian berkelanjutan sesuai dengan profil belajar mereka. Dalam
pembelajaran berdiferensiasi terdapat empat aspek yang dapat dikendalikan oleh guru yaitu
konten, proses, produk, dan lingkungan atau iklim pembelajaran di kelas. Guru dapat
mengkategorikan kebutuhan belajar peserta didik berdasarkan tiga aspek yaitu kesiapan belajar,
minat, dan profil belajar peserta didik (Naibaho, 2023).
Pembelajaran berbasis diferensiasi adalah pendekatan pendidikan yang dirancang untuk
memenuhi kebutuhan belajar individu siswa dengan memodifikasi konten, proses, produk, atau
lingkungan belajar. Pendekatan ini didasarkan pada prinsip bahwa setiap siswa memiliki minat,
kebutuhan, gaya belajar, dan tingkat kesiapan yang unik, sehingga strategi pengajaran harus
disesuaikan untuk mendukung keberhasilan belajar masing-masing siswa. Pendekatan
pembelajaran berbasis diferensiasi adalah strategi yang relevan untuk mendukung keberagaman
siswa di dalam kelas. Dengan mengakomodasi kebutuhan, minat, dan gaya belajar siswa,
pendekatan ini tidak hanya meningkatkan kualitas pembelajaran tetapi juga membantu siswa
mencapai potensi maksimal mereka.
Pembelajaran diferensiasi adalah pendekatan yang menyesuaikan proses belajar-
mengajar dengan kebutuhan, minat, dan profil belajar setiap siswa. Di Indonesia, konsep ini telah
diadaptasi dan dikembangkan oleh berbagai ahli dan praktisi pendidikan. Di era kurikulum
merdeka maupun pengembangan pembelajaraan deep learning. Pembelajaran diferensiasi
merupakan salah satu pendekatan yang diutamakan dalam Kurikulum Merdeka untuk
memberikan pengalaman belajar yang bermakna dan relevan bagi setiap siswa. Pendekatan ini
bertujuan untuk mengakomodasi keberagaman siswa, baik dari segi kemampuan, minat, gaya
belajar, maupun latar belakang mereka.
Prinsip Pendekatan Pembelajaran Diferensiasi dalam Kurikulum Merdeka, bertumpu pada
3 aspek utama (1) berpusat pada Siswa: proses pembelajaran dirancang dengan memperhatikan
kebutuhan individual siswa, sehingga mereka dapat belajar sesuai dengan potensi dan
kemampuannya masing-masing; (2) Menghargai Keberagaman: Pembelajaran diferensiasi
2
menyesuaikan dengan profil siswa yang meliputi kesiapan belajar, minat, dan profil belajar; dan
(3) Fleksibilitas dalam Pembelajaran: Guru memiliki kebebasan untuk menyesuaikan materi,
strategi pembelajaran, dan evaluasi sesuai dengan kebutuhan siswa.
Dalam pendekatan ini, terdapat tiga dimensi utama dalam pembelajaran diferensiasi: (1)
Diferensiasi Konten: Apa yang Dipelajari: Materi pelajaran dapat disesuaikan dengan tingkat
kesiapan siswa. Misalnya, siswa dengan pemahaman dasar yang kuat diberikan tugas
eksplorasi, sementara siswa yang memerlukan pemahaman dasar diberikan materi penguatan;
(2) Diferensiasi Proses: Bagaimana Pembelajaran Terjadi: Strategi pembelajaran diubah sesuai
gaya belajar siswa, seperti penggunaan media visual, audio, atau pengalaman langsung. Selain
itu, tingkat kesulitan kegiatan belajar dapat divariasikan; dan (3) Diferensiasi Produk: Hasil
Belajar yang Ditunjukkan: Siswa diberikan kebebasan untuk menunjukkan pemahamannya
melalui produk yang berbeda, seperti tulisan, presentasi, video, atau proyek kreatif lainnya.
Dengan demikian, garis besar pembelajaran berdiferensi menitikberatkan keaktifan guru
sebagai pelaksana pembelajaran yang mampu menganalisis situasi dan kebutuhan siswa di
sekolah. Peran pedagogi guru tentu sangatlah berpengaruh, sebagai tenaga profesional
hendaknya para guru mampu memenuhi kebutuhan siswa melalui pembelajaran berdiferensiasi
(Faiz, Pratama, & Kurniawaty, 2022). Pembelajaran berdiferensiasi merupakan salah satu bagian
dari kebijakan penerapan Kurikulum Merdeka Belajar di sekolah. Pola pembelajaran ini
menekankan pada pengelolaan pendidikan di kelas yang heterogen. Guru dalam konteks
pembelajaran ini, dituntut untuk dapat merancang kegiatan pembelajaran yang dapat
mengakomodir perbedaan karakteristik dan latar belakang siswa. Implementasi pembelajaran
yang berdiferensiasi tanpa pendampingan bagi guru di sekolah, tentu tidak mudah (Marantika,
Tomasouw, & Wenno, 2023).
Dari beberapa definisi dan pandangan yang dikemukakan di atas, maka disimpulkan bahwa
pendekatan pembelajaran berdiferensiasi menekankan pentingnya memahami keragaman siswa
di kelas. Dengan menyesuaikan metode pengajaran pada kebutuhan individu, pendekatan ini
membantu memastikan bahwa setiap siswa memiliki kesempatan yang sama untuk berhasil.
6
Sumber
Tahap Aktivitas Guru Aktivitas Siswa
Rujukan
▪ Menilai efektivitas
pembelajaran berdiferensiasi
Siswa merefleksikan
dan menyesuaikan strategi Hall, Strangman,
6. Refleksi pengalaman belajar mereka,
untuk pembelajaran & Meyer (2003),
Pembelajaran mengidentifikasi kekuatan dan
berikutnya. Suparno (2007)
area yang perlu diperbaiki.
▪ Memfasilitasi diskusi reflektif
di kelas.
7
daerah untuk menciptakan pengalaman belajar yang lebih relevan, bermakna, dan mendukung
pelestarian budaya setempat. Berikut adalah cara-cara untuk mengkontekstualisasikan
pembelajaran berdiferensiasi dengan memanfaatkan kearifan lokal (contoh di daerah Maluku):
2. Proses
o Kelompok Belajar Fleksibel: Membagi siswa ke dalam kelompok yang mempelajari
aspek tertentu dari budaya Maluku, seperti tradisi berburu di hutan, adat istiadat, atau
seni kuliner.
o Pembelajaran Berbasis Proyek: Memberikan tugas kepada siswa untuk membuat
produk yang merepresentasikan budaya Maluku, seperti miniatur rumah adat Baileo
atau video dokumentasi tradisi lokal.
Guru membagi siswa berdasarkan 3 gaya belajar di atas, kemudian setiap kelompok
mempresentasikan hasilnya di depan kelas. Kelompok siswa dengan gaya visual
menggambar orang yang sedang berburu di hutan dengan hasil tangkapan. Bisa juga
menggambar sorang ibu yang sedang membuat adonan sagu menjadi makanan papeda
khas Maluku.
8
Siswa dengan gaya belajar auditori menyaksikan tayangan video singkat proses adat
panas pela antar negeri, dan menyimpulkan maknanya serta mampu menghubungkannya
dengan materi pembelajaran PAK.
Siswa dengan gaya belajar kinestetik menceritakan bagaimana proses adat panas pela
antar negeri, membuat simulasi ritual panas pela, menjelaskan jenis-jenis dan contoh alat-
alat musik tradisonal dan cara memainkannya di depan kelas. Menunjukkan cara
menuangkan adonan sagu dengan air panas sampai menjadi papeda yang siap disantap
menggunakan gerak tubuh.
3. Produk
o Tugas Berjenjang: Menyesuaikan tugas akhir berdasarkan tingkat kemampuan siswa,
seperti menggambar peta budaya sederhana untuk siswa pemula, atau membuat esai
tentang peran pela gandong dalam menjaga perdamaian untuk siswa lebih mahir.
o Produk Kolaboratif: Mendorong siswa menciptakan tarian atau musik tradisional yang
diadaptasi ke dalam konteks modern sebagai hasil belajar.
Siswa dengan gaya visual mengumpulkan gambar atau lukisan mengenai proses panas
pela antar negeri; aktivitas berburu di hutan dengan hasil tangkapan; dan sagu yang
sudah diproses menjadi papeda.
Siswa dengan gaya belajar auditori menyampaikan beberapa penggalan kalimat dalam
bahasa daerah mengenai kegiatan panas pela antar negeri. Menceritakan ulang sejarah
panas pela antar negeri. Mengumpulkan hasil diskusi mengenai makna panas pela dan
hubungan gandong antar kelompok di negeri-negeri di Maluku dan menghubungkannya
dengan konteks membangun harmoni antar sesama manusia dalam pembelajaran PAK.
Siswa dengan gaya belajar kinestetik mendemonstrarikan keterampilan memainkan alat-
alat musik tradisional seperti, suling bambu, tifa, totobuang, gamelan, tarian cakalele,
seka, pantun adat, bambu gila, katreji, dll.
9
o Tugas Proyek: Siswa membuat kampanye kesadaran lingkungan dengan
memanfaatkan nilai-nilai adat sasi.
3. Tradisi Seni dan Budaya
o Mata Pelajaran PAK: Mengenalkan alat musik tradisional tifa dan mengajak siswa
memainkan alat musik tersebut sebagai bentuk penghargaan terhadap budaya lokal.
o Produk Kreatif: Siswa membuat pentas seni dengan tema budaya Maluku yang
dikaitkan dengan mata pelajaran bahasa atau seni.
c. Tujuan Kontekstualisasi
• Meningkatkan Relevansi: Membuat pembelajaran lebih relevan dengan kehidupan
sehari-hari siswa di Maluku.
• Melestarikan Budaya: Membangun kesadaran siswa tentang pentingnya menjaga
kearifan lokal sebagai warisan budaya.
• Mengembangkan Potensi Individu: Memanfaatkan minat dan potensi siswa terhadap
aspek tertentu dari kearifan lokal untuk mendukung keberhasilan belajar mereka.
• Mengajarkan Nilai Sosial: Meningkatkan pemahaman siswa tentang nilai-nilai seperti
gotong royong, solidaritas, dan perdamaian yang melekat dalam budaya Maluku.
Kontekstualisasi ini membantu pembelajaran berdiferensiasi tidak hanya menjadi alat
pendidikan yang efektif tetapi juga berfungsi sebagai media pelestarian budaya lokal Maluku.
Guru berperan penting dalam merancang pengalaman belajar yang memadukan tradisi lokal
dengan kebutuhan siswa.
E. Kesimpulan
Pendekatan pembelajaran berdiferensiasi bertujuan untuk memenuhi kebutuhan belajar
individu siswa dengan memodifikasi berbagai elemen pembelajaran, seperti konten, proses,
produk, dan lingkungan. Dengan pendekatan ini, guru dapat menciptakan pengalaman belajar
yang lebih inklusif dan efektif bagi semua siswa, meningkatkan motivasi dan keterlibatan mereka
dalam proses pembelajaran. Pembelajaran berdiferensiasi berfokus pada pengakuan terhadap
keragaman siswa dalam kelas dan berusaha untuk menciptakan pengalaman belajar yang lebih
inklusif dengan menyesuaikan berbagai aspek pengajaran. Konsep-konsep utama dalam
pembelajaran berdiferensiasi meliputi penyesuaian konten, proses, produk, dan lingkungan
belajar, dengan tujuan untuk memenuhi kebutuhan, minat, dan gaya belajar siswa yang berbeda-
beda. Pendekatan ini menekankan fleksibilitas dan keterlibatan aktif siswa dalam proses
pembelajaran, serta menyediakan berbagai pilihan untuk mencapai tujuan pembelajaran yang
lebih mendalam dan bermakna.
10
F. Daftar Pustaka
Amalia, K., Rasyad, I., & Gunawan, A. (2023). Pembelajaran berdiferensiasi sebagai inovasi
pembelajaran. Journal Of Education And Teaching Learning (JETL), 5(2), 185-193.
Faiz, A., Pratama, A., & Kurniawaty, I. (2022). Pembelajaran berdiferensiasi dalam program guru
penggerak pada modul 2.1. Jurnal basicedu, 6(2), 2846-2853.
Hall, T., Strangman, N., & Meyer, A. (2003). Differentiated instruction and implications for UDL
implementation. National Center on Accessing the General Curriculum.
Marantika, J. E., Tomasouw, J., & Wenno, E. C. (2023). Implementasi pembelajaran
berdiferensiasi di kelas. German für Gesellschaft (J-Gefüge), 2(1), 1-8.
Naibaho, D. P. (2023). Strategi pembelajaran berdiferensiasi mampu meningkatkan pemahaman
belajar peserta didik. Journal of Creative Student Research, 1(2), 81-91.
Purnawanto, A. T. (2023). Pembelajaran berdiferensiasi. Jurnal Pedagogy, 16(1), 34-54.
Santrock, J. W. (2011). Educational Psychology. New York: McGraw-Hill.
Safarati, N., & Zuhra, F. (2023). Literature review: Pembelajaran berdiferensiasi di sekolah
menengah. Jurnal genta mulia, 14(1).
Subban, P. (2006). Differentiated instruction: A research basis. International Education Journal,
7(7), 935-947.
Suparno, P. (2007). Filsafat Konstruktivisme dalam Pendidikan. Yogyakarta: Kanisius.
Tomlinson, C. A. (2001). How to Differentiate Instruction in Mixed-Ability Classrooms. Alexandria,
VA: ASCD.
Tomlinson, C. A., Callahan, C. M., & Lanouette, S. (2006). Differentiation in Practice: A Resource
Guide for Differentiating Curriculum, Grades 5-9. ASCD.
Vygotsky, L. S. (1978). Mind in Society: The Development of Higher Psychological Processes.
Harvard University Press.
11
KEGIATAN BELAJAR 3
PENDEKATAN PEMBELAJARAN BERBASIS INTEGRASI MATERI PEDAGOGIK DAN TEKNOLOGI
(TECHNOLOGICAL PEDAGOGICAL CONTENT KNOWLEDGE) ATAU TPACK
Subtopik Bahasan
A. Definisi
Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di abad ke-21 menuntut setiap individu untuk memiliki
keterampilan yang relevan dalam menghadapi tantangan dan kesulitan yang kompleks. Menurut Goes et al.,
keterampilan abad ke-21 mencakup tiga domain utama, yaitu kognitif, intrapersonal, dan interpersonal selain itu Hasse
(2017) menekankan bahwa literasi teknologi juga merupakan salah satu keterampilan esensial yang harus dikuasai
oleh individu di era ini. Penguasaan terhadap keterampilan tersebut memungkinkan penguasaan terhadap
keterampilan dan kompetensi lain yang diperlukan untuk keberhasilan kehidupan di abad ke-21 (Nugroho Yanuarto et
al., 2021). Dalam konteks pendidikan, penggunaan teknologi menjadi semakin penting untuk menunjang pembelajaran
yang efektif dan relevan (Malik, 2018). Guru sebagai ujung tombak pendidikan diharapkan mampu mengintegrasikan
teknologi secara efektif ke dalam proses pembelajaran. Hal ini bertujuan untuk menghasilkan output pembelajaran
yang mampu bersaing dengan tuntutan keterampilan abad ke-21 (Jhurree, 2005; Ammade et al., 2020; Durdu & Dag,
2017). Oleh karena itu, pengembangan proses pembelajaran yang menarik dan inovatif sangat diperlukan untuk
mendorong keterampilan siswa, terutama dengan memanfaatkan teknologi secara optimal.
Dalam rangka menciptakan pembelajaran yang efektif, konsep Technological Pedagogical Content Knowledge
(TPACK) menjadi semakin relevan. Kohler dan Mishra (2005) mengemukakan bahwa keberhasilan pembelajaran tidak
hanya ditentukan oleh penguasaan materi ajar dan pedagogi, tetapi juga oleh kemampuan guru dalam memanfaatkan
teknologi secara tepat. Teori Pedagogical Content Knowledge (PCK) yang sebelumnya diperkenalkan oleh Shulman
pada tahun 1986. TPACK mengintegrasikan tiga elemen penting, yaitu teknologi, pedagogi, dan konten pembelajaran,
untuk memastikan bahwa pengajaran dapat berlangsung secara holistik dan adaptif terhadap kebutuhan zaman
(Durdu & Dag, 2017; Esposito & Moroney, 2020; Koehler & Mishra, 2006). Seorang guru abad ke-21 tidak hanya
dituntut untuk memiliki penguasaan yang baik terhadap materi dan metode pengajaran, tetapi juga keahlian dalam
memanfaatkan teknologi untuk meningkatkan pengalaman belajar siswa (Ammade et al., 2020).
Kerangka TPACK berangkat dari kesadaran bahwa penguasaan terhadap satu aspek saja, seperti teknologi
tanpa memahami konten atau pedagogi, tidak cukup untuk menciptakan pembelajaran yang efektif. Guru perlu
memahami materi pelajaran yang mereka ajarkan secara mendalam, menguasai teknik-teknik pengajaran yang
relevan, dan mampu memanfaatkan teknologi untuk mendukung proses tersebut. Oleh karena itu, TPACK memberikan
panduan bagi guru untuk mengintegrasikan elemen-elemen secara sinergis untuk mempersiapkan siswa agar memiliki
keterampilan berpikir kritis, kreatif, dan adaptif terhadap perkembangan teknologi. Pendekatan ini mendorong guru
untuk mengadopsi teknologi secara efektif tanpa mengorbankan aspek pedagogis dan substansi materi pelajaran.
Sebagai kerangka yang holistik, TPACK memberikan landasan untuk menciptakan pengalaman belajar yang interaktif,
inovatif, dan relevan dengan kehidupan siswa. Misalnya, teknologi seperti perangkat lunak simulasi sains dapat
digunakan untuk memperjelas konsep-konsep kompleks, sementara pedagogi yang tepat dapat membantu siswa
mengembangkan keterampilan kolaboratif selama pembelajaran berlangsung. Semua ini memungkinkan pengalaman
belajar yang mendalam dan menarik.
B. Konsep dan Teori
TPACK adalah sebuah kerangka kerja yang menggabungkan tiga aspek penting dalam pendidikan, yaitu
teknologi, pedagogi, dan konten. Kerangka ini didasarkan pada pemahaman bahwa ketiga aspek tersebut tidak dapat
berdiri sendiri, melainkan harus terintegrasi secara harmonis untuk menciptakan pembelajaran yang efektif dan
bermakna. Menurut Fatma Sukmawati dan rekan-rekannya, TPACK dibagi menjadi tujuh jenis interaksi yang saling
berkaitan. Berikut adalah gambaran lengkap dari framework PACK:
Dalam framework ini, terdapat beberapa komponen utama yang mendukung dan menjadi inti dari TPACK, yaitu: pengetahuan teknologi
(TK), pengetahuan konten (CK), pengetahuan pedagogik (PK), pengetahuan konten pedagogik (PCK), pengetahuan pedagogis
teknologi (TPK), dan pengetahuan konten teknologi (TCK):
F. Kesimpulan
Pendekatan TPACK adalah kerangka konseptual yang mengintegrasikan teknologi, pedagogi, dan konten untuk
menciptakan pembelajaran yang relevan, interaktif, dan bermakna, terutama dalam menjawab kebutuhan abad ke-21.
Dengan memadukan tiga elemen utama—pengetahuan teknologi (TK), pengetahuan konten (CK), dan pengetahuan
pedagogik (PK)—TPACK membantu guru merancang pembelajaran adaptif yang kontekstual. Komponen-komponen
TPACK: (a) TK (Technological Knowledge): Guru memanfaatkan teknologi seperti aplikasi, multimedia, atau platform
digital untuk mendukung pembelajaran yang inovatif; (b) CK (Content Knowledge): Penguasaan konten dilakukan
dengan pendekatan yang relevan, seperti menghubungkan materi ajaran dengan konteks lokal atau kebutuhan siswa;
(c) PK (Pedagogical Knowledge): Guru menerapkan strategi pengajaran yang sesuai, misalnya melalui proyek, diskusi,
atau simulasi yang mendukung pembelajaran aktif;
Integrasi Elemen TPACK: (a) TPK (Technological Pedagogical Knowledge): Teknologi mendukung strategi
pembelajaran, seperti video animasi untuk menjelaskan konsep; (b) PCK (Pedagogical Content Knowledge): Strategi
pengajaran diadaptasi untuk menyampaikan materi secara efektif; dan (c) TCK (Technological Content Knowledge):
Teknologi digunakan untuk menyajikan konten secara menarik.
Tahapan Sintak TPACK: (a) Analisis Kebutuhan: Guru merancang pembelajaran berdasarkan tujuan,
karakteristik siswa, dan kesiapan teknologi; (b) Implementasi: Teknologi diterapkan untuk meningkatkan pengalaman
belajar, seperti diskusi daring atau simulasi interaktif; (c) Evaluasi: Keberhasilan pembelajaran diukur dengan alat
evaluasi berbasis teknologi, seperti kuis online atau proyek multimedia; dan (d) Refleksi dan Revisi: Guru mengevaluasi
efektivitas metode, mengidentifikasi kekurangan, dan melakukan perbaikan.
Kontekstualisasi TPACK dalam Pendidikan Agama Kristen berbasis kearifan lokal: Menggunakan teknologi untuk
menghubungkan tradisi lokal dengan nilai-nilai agama, misalnya video dokumenter gotong-royong,
G. Daftar Pustaka
Buku
Koehler, M. J., & Mishra, P. (2006). Technological Pedagogical Content Knowledge (TPACK): A Framework for
Teacher Knowledge. Routledge.
Langer, E. J. (2007). The Power of Mindful Learning. Addison-Wesley.
Piaget, J. (1952). The Origins of Intelligence in Children. Norton.
Vygotsky, L. S. (1978). Mind in Society: The Development of Higher Psychological Processes. Harvard University
Press.
Shulman, L. S. (1986). Those Who Understand: Knowledge Growth in Teaching. Stanford University Press.
Artikel
Ammade, S., et al. (2020). Integrasi teknologi dalam pembelajaran abad ke-21. Jurnal Teknologi Pendidikan, 18(2),
123-140.
Durdu, L., & Dag, F. (2017). Implementation of TPACK framework in teacher education. Educational Technology &
Society, 20(1), 25-36.
Esposito, J., & Moroney, M. (2020). Rethinking Pedagogical Approaches through TPACK. Journal of Educational
Research, 15(3), 87-102.
Jhurree, V. (2005). Technology Integration in Education. International Journal of Educational Research, 23(4), 299-
312.
Malik, A. (2018). Pembelajaran berbasis teknologi untuk meningkatkan efektivitas pengajaran. Jurnal Inovasi
Pendidikan, 22(1), 45-60.
Nugroho, Y., et al. (2021). Evaluasi keterampilan abad ke-21 dalam kurikulum berbasis teknologi. Jurnal Kurikulum
dan Pembelajaran, 19(3), 77-92.
Wahyuningtyas, R. S., et al. (2017). Sintaks TPACK dalam pengajaran berbasis digital. Jurnal Pendidikan Digital,
10(2), 56-72.
Wahyuningtyas, R., et al. (2022). Integrasi Pedagogical Content Knowledge dalam Pengajaran. Jurnal Ilmu
Pendidikan, 12(4), 110-128.
Nurmatin, T., & Purwianingsih, D. (2017). Penerapan PCK dalam pembelajaran berbasis konteks. Jurnal Pendidikan
Guru, 5(1), 31-49.
KEGIATAN BELAJAR 4
PENDEKATAN PEMBELAJARAN BERBASIS DEEP LEARNING (MINDFULL LEARNING,
MEANINGFULL LEARNING, JOYFUlL LEARNING)
Subtopik Bahasan
A. Definisi
Pembelajaran adalah proses yang kompleks dan melibatkan berbagai faktor, baik dari sisi siswa maupun
pengajaran itu sendiri. Setiap individu memiliki cara yang berbeda dalam memahami informasi dan mengembangkan
pengetahuan. Beberapa mungkin lebih nyaman dengan pendekatan yang menekankan pada hafalan dan
pengulangan, sementara yang lainnya berusaha memahami makna lebih dalam dan menghubungkannya dengan
pengetahuan yang sudah ada sebelumnya. Berbagai pendekatan ini, pada gilirannya, akan mempengaruhi seberapa
efektif proses pembelajaran tersebut. Penelitian dalam bidang pendidikan telah mengidentifikasi dua pola utama dalam
cara siswa belajar: pendekatan permukaan dan pendekatan mendalam. Pendekatan permukaan cenderung berfokus
pada hafalan tanpa pemahaman yang mendalam (Dolmans,etc, (2016) Dinsmore, D. L., & Alexander, P. A. (2012).,
sementara pendekatan mendalam melibatkan pemrosesan informasi yang lebih kritis, reflektif, dan terhubung dengan
pengetahuan yang sudah ada. Pembelajaran yang lebih mendalam membantu siswa tidak hanya memahami informasi,
tetapi juga mampu mengaitkan pengetahuan baru dengan pengalaman sebelumnya, sehingga menciptakan
pemahaman yang lebih kuat dan relevan.
Di sinilah konsep Deep Learning dalam pendidikan menjadi sangat penting. Deep Learning lebih dari sekadar
menghafal fakta atau informasi. Konsep ini menekankan pentingnya siswa untuk terlibat secara aktif dalam proses
belajar, berpikir kritis, menganalisis, dan menghubungkan informasi dengan cara yang lebih holistik dan aplikatif,
Dinsmore, D. L., & Alexander, P. A. (2012). Dengan pendekatan ini, siswa tidak hanya mengingat informasi, tetapi juga
mengintegrasikannya dengan pengetahuan yang mereka miliki, menciptakan hubungan yang lebih mendalam dan
[Link] satu karakteristik penting dari Deep Learning adalah kemampuan siswa untuk berkolaborasi, berbagi
ide, dan memecahkan masalah bersama-sama Baeten, M., Kyndt, E., Struyven, K., & Dochy, F. (2010. Hal ini
mendorong pembelajaran yang lebih interaktif dan berbasis pada kolaborasi sosial, yang juga memperkaya
pemahaman siswa terhadap materi yang diajarkan. Dengan demikian, Deep Learning tidak hanya berfokus pada hasil
akademik, tetapi juga pada pembentukan keterampilan sosial dan karakter siswa.
Pendekatan Pembelajaran Berbasis Deep Learning juga menekankan pentingnya pembelajaran yang
menyenangkan, aktif, dan kontekstual. Pembelajaran tidak hanya dilakukan dengan cara yang menyenangkan dan
menarik bagi siswa, tetapi juga relevan dengan kehidupan nyata mereka. Melalui pendekatan ini, siswa diajak untuk
menemukan makna dari apa yang mereka pelajari dan menghubungkannya dengan pengalaman mereka sendiri di
dunia nyata. Dalam pembelajaran semacam ini, guru bertindak sebagai fasilitator yang menciptakan lingkungan belajar
yang mendukung eksplorasi ide-ide baru dan mendorong siswa untuk bertanya, berdiskusi, dan menguji hipotesis
mereka sendiri.
Deep Learning tidak hanya meningkatkan kemampuan siswa untuk berpikir kritis dan memecahkan masalah,
tetapi juga mengajarkan mereka untuk menjadi pembelajar yang mandiri dan berkelanjutan. Pendekatan ini mendorong
siswa untuk terus belajar sepanjang hidup, mengembangkan keterampilan metakognitif, serta meningkatkan
kesadaran mereka tentang cara belajar yang efektif. Seiring dengan perkembangan Deep Learning, tiga aspek penting
muncul sebagai bagian integral dari pendekatan ini: MindfullLearning, Meaningful Learning, dan Joyful Learning.
Aspek-aspek ini saling melengkapi dan menciptakan pengalaman belajar yang tidak hanya mendalam tetapi juga
menyenangkan dan relevan. MindfullLearning mengajarkan siswa untuk hadir sepenuhnya dalam proses belajar,
mengarahkan perhatian mereka dengan sadar pada materi yang sedang dipelajari. Meaningful Learning mendorong
siswa untuk menghubungkan pengetahuan baru dengan pengetahuan yang sudah ada, menciptakan pemahaman
yang lebih dalam dan aplikatif. Sementara itu, Joyful Learning berfokus pada penciptaan suasana yang menyenangkan
dan memotivasi siswa untuk terlibat aktif dalam proses belajar.
3. Fakta Sosial
Pendekatan Joyful Learning juga memiliki dampak yang signifikan dalam konteks sosial pendidikan:
a) Peningkatan Hubungan Guru dan Siswa: Dengan suasana pembelajaran yang positif, Joyful Learning
membangun hubungan yang lebih harmonis antara guru dan siswa, menciptakan rasa saling percaya dan
menghargai.
b) Meningkatkan Inklusi Sosial: Joyful Learning mendorong siswa untuk bekerja sama dan saling menghormati,
sehingga menciptakan lingkungan belajar yang inklusif dan mendukung semua siswa, termasuk mereka yang
memiliki kebutuhan khusus.
c) Tantangan Implementasi: Guru memerlukan kreativitas tinggi untuk menerapkan pendekatan ini, karena
penggunaan metode yang monoton dapat membuat siswa kehilangan minat. Selain itu, guru harus menguasai
berbagai teknik dan media pembelajaran untuk mengakomodasi kebutuhan siswa yang beragam.
Artikel:
Aharony, N. (2006). The use of deep and surface learning strategies among students learning English as a
foreign language in an Internet environment. British Journal of Educational Psychology, 76(4), 851–866.
[Link]
Baeten, M., Kyndt, E., Struyven, K., & Dochy, F. (2010). Using student-centered learning environments to stimulate
deep approaches to learning: Factors encouraging and discouraging their effectiveness. Educational Research
Review, 5, 243–260. doi:10.1016/[Link].2010.06.001.
Bakosh, L., Snow, R., Tobias, M., Houlihan, J., & Barbosa-Leiker, C. (2016). Mindfulness and emotional well-being: A
study of elementary school students. Mindfulness Journal, 7(1), 3-12.
Decaprio, J. (2013). Meaningful learning and its impact on student cognitive engagement. Educational Psychology
Review, 25(4), 523-540.
Diana H. J. M. Dolmans, etc (2016) Deep and surface learning in problem-based learning: a review of the literature
Dinsmore, D. L., & Alexander, P. A. (2012). A critical discussion of deep and surface processing: What it means, how
it is measured, the role of context, and model specification. Educational Psychology Review, 24(4), 499–567.
[Link]
Masitoh, S., & Dewi, R. (2009). Pengaruh pendekatan joyful learning terhadap hasil belajar siswa. Jurnal Pendidikan
Dasar, 8(2), 127-139.
Marlina, A. (2018). Implementasi pendekatan mindfulllearning dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam. Jurnal
Studi Islam dan Pendidikan, 12(1), 45-58.
Nuha, M., Halim, A., & Hasan, M. (2015). Model pembelajaran berbasis meaningful learning di laboratorium. Jurnal
Pendidikan Sains, 6(3), 214-229.
Sitopu, J., et al. (2020). Penerapan mindfulllearning dalam meningkatkan kemampuan analitis siswa. Jurnal Pendidikan
Karakter, 9(1), 75-88.
Tejawati, D. (2016). Pendekatan mindfulllearning dalam pembelajaran matematika di sekolah dasar. Jurnal Matematika
dan Pendidikan Matematika, 5(2), 88-103.
Wahono, R. S. (2012). Joyful learning sebagai strategi dalam meningkatkan motivasi belajar siswa. Jurnal Inovasi
Pendidikan, 10(3), 58-72.
Yuwentin, R., et al. (2020). Penerapan meaningful learning dalam pembelajaran sains berbasis eksperimen. Jurnal
Pendidikan IPA Indonesia, 8(2), 202-215.
Zahrah, R., Halim, A., & Hasan, M. (2017). Pendekatan meaningful learning dan dampaknya terhadap kemampuan
berpikir kritis siswa. Jurnal Pendidikan Ilmu Sosial, 14(4), 310-329.
Sumber Internet:
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia. (2021). Pedoman Implementasi Kurikulum Merdeka
Belajar. Diakses pada 10 Januari 2024, dari [Link]
UNESCO. (2020). The future of education: Learning to become. Diakses pada 15 Januari 2024, dari
[Link]
1
MODUL PEDAGOGIK
TOPIK 5
A. Definisi
Materi yang akan dipelajari oleh mahasiswa pada kegiatan sehubungan peran guru sebagai seorang
konselor yang melaksanakan layanan bimbingan dan konseling bagi para peserta didik. Selain itu juga cara guru
meningkatkan kualitas pembelajaran melalui kegiatan evaluasi dan refleksi melalui supervise klinis baik yang
dilakukan oleh rekan sejawat maupun kepala sekolah. Peran guru selain sebagai pendidik, guru juga berperan
sebagai konselor yang akan mendampingi dan melayani peserta didik dengan segala permasalahan yang dihadapi.
Di sisi lain, guru juga harus tetap meningkatkan kualitas pembelajarannya berbasiskan refleksi baik yang dilakukan
oleh diri sendiri, rekan kerja, peserta didik maupun kepala sekolah melalui kegiatan supervisi klinis.
Melalui topik 5 ini diharapkan semakin meningkat pengetahuan dan keterampilan guru dalam melaksanakan
bimbingan dan konseling serta melaksanakan pembelajaran yang semakin berkualitas yang berdampak pada
meningkatkan hasil belajar peserta didik. Pada kegiatan belajar 5 ini materi yang akan dipelajari mencakup (1)
konsep dasar bimbingan dan konseling, (2) Hakikat supervise klinis, (3) pendekatan dan strategi bimbingan dan
konseling, dan (4) Pendekatan dan strategi supervisi klinis.
2
dengan kemampuan, kesempatan, dan sistim nilai, serta (d) melakukan pilihan dan mengambil keputusan atas
tanggung jawab sendiri.
Secara etimogi kata konseling berasal dari kata Latin consilium yang berarti dengan atau bersama,
menerima atau memahami. Dan dari bahasa Anglo-Saxon dari kata Sellan yang artinya menyerahkan atau
menyampaikan. (Prayitno &Erman Anti; 2003:105). Sedangkan menurut Winkel (2004:34) kata konseling berasal
dari kata bahasa Inggris counseling yang dikaitkan dengan kata counsel yang berarti nasihat, ajnuran dan
pembicaraan. Robinson dalam M. Surya dan Rohman M. (1986: 25) mengartikan konseling sebagai semua bentuk
hubungan antara dua orang, di mana seseorang adalah klien yang dibantu untuk mampu menyesuaikan diri secara
efektif dengan dirinya sendiri dan lingkungannya.
Dengan demikian konseling merupakan bentuk hubungan yang bersifat membantu. Sehingga tugas orang
yang membantu atau konselor adalah menciptakan kondisi-kondisi yang diperlukan bagi perkembangan klien. Hal
ini ditekankan juga oleh Mortense seperti dikutip Moh. Surya bahwa konseling adalah proses antar pribadi, di mana
satu orang dibantu oleh orang lain untuk meningkatkan pemahaman dan kecakapan serta menemukan
masalahnya. (2003:1). Jika dikaitkan dengan sekolah, maka konseling menurut A. Juntika Nurihsan adalah proses
belajar yang bertujuan agar konseli (peserta didik) dapat mengenal diri sendiri, menerima diri sendiri secara realistis
dalam proses penyesuaian dengan lingkungannya.
Bimbingan dan konseling menurut Zainal Agib (2021:1-2) merupakan pelayanan bantuan untuk peserta
didik, baik secara perorangan maupun kelompok, agar mampu mandiri dan berkembang secara optimal dalam
bimbingan pribadi, bimbingan sosial, bimbingan belajar dan bimbingan karir, melalui berbagai layanan dan kegiatan
pendukung sesuai norma yang berlaku. Makna bimbingan selalu berdampingan dengan makna konseling, dan
tidak dapat dipisahkan satu dengan yang lain. Menurut Jones dalam Sutirna (2013) bahwa bimbingan dan
konseling tidak dapat dipisahkan, namun yang perlu diingat bahwa setiap bimbingan belum tentu dapat dikatakan
ada konseling, tetapi setiap konseling pasti ada bimbingan. Dan menurut Wildan Zulkarnain (2018:7), bimbingan
tanpa konseling bagaikan pendidian tanpa pengajaran atau perawatan tanpa pengobatan. Pelayanan bimbingan
dan konseling adalah pemberian bantuan kepada individu dalam memecahkan masalah yang dihadapinya dalam
suatu pertalian hubungan tatap muka.
3
Sedangkan fungsi bimbingan dan konseling menurut Zainal Agib (2021:8-9) sebagai berikut: (a) fungsi
pemahaman: menghasilkan pemahaman pihak tertentu untuk mengembangkan dan memecahkan masalah
peserta didik, yang meliputi (1) pemahaman diri dan kondisi peserta didik, orang tua. (2) lingkungan peserta didik
termasuk lingkungan sekolah, (3) lingkungan yang lebih luas, informasi pendidikan, pekerjaan/jabatan, sosial
budaya/nilai-nilai terutama oleh peserta didik; (b) Fungsi pencegahan: menghasilkan tercegahnya atau
terhindarnya peserta didik dari berbagai permasalahan yang timbul dan menghambat proses perkembangannya;
(c) Fungsi pengentasan: menghasilkan terentasnya atau teratasinya berbagai permasalahan yang dialami peserta
didik; dan (d) Fungsi pemeliharaan dan pengembangan: terpelihara dan terkembangnya berbagai potensi dan
kondisi positif peserta didik dalam rangka pengembangan dirinya secara mantap dan berkelanjutan.
5
b) Pendekatan remedial; upaya bimbingan yang diarahkan kepada individu yang mengalami kesulitan, dengan
tujuan untuk memperbaiki kesulitan yang dialami individu. Pada pendekatan ini, konselor memfokuskan pada
kelemahan-kelemahan individu yang selanjutnya berupaya memperbaikinya.
c) Pendekatan preventif; upaya bimbingan yang diarahkan untuk mengantisipasi masalah-masalah umum individu
dan mencoba mencegah terjadinya masalah tersebut. Pada pendekatan ini, konselor berupaya mengajarkan
pengetahuan dan keterampilan untuk mencegah masalah tersebut.
d) Pendekatan perkembangan; visi bimbingan dan konseling adalah edukatif, pengembangan dan outreach.
Edukatif karena titik berat bimbingan dan konseling terletak pada pencegahan dan perkembangan.
Pengembangan karena titik berat pada perkembangan optimal dan strateginya adalah dengan memberikan
kemudahan perkembangan bagi individu melalui perekayasaan lingkungan perkembangan. Outreach, karena
target populasi bimbingan dan konseling bukan hanya berlaku pada individu bermasalah dan dilakukan secara
individu tetapi layanan ini meliputi berbagai dimensi (masalah, target intervensi, setting, metode, lama waktu
layanan) dalam rentang yang cukup lebar. Teknik yang digunakan dalam layanan adalah pembelajaran,
pertukaran informasi, tutorial dan konseling.
Sedangkan menurut Abin Syamsudin Makmun (2004:106 &110) , ada dua sistim pendekatan yakni: (a)
Pendekatan direktif; biimbingan yang bersifat counselor-centered, di mana pihak pembimbing memegang peranan
utama dalam proses interaksi layanan bimbingan. Pembimbing harus berusaha mencari dan menemukan
permasalahan kliennya; dan (b) Pendekatan non direktif; bimbingan yang bersifat client-centered , di mana pihak
terbimbing memegang peranan utama dalam bidang interaksi layanan bimbingan dan konselor hanya sebagai
pendorong.
Selain itu, Zainal Agib dengan mengutip Tohati Mustamar (2021: 66-71) memberikan gambaran tentang
pendekatan bimbingan dan konseling sebagai berikut:
a) Pendekatan tradisonal, yang menaruh perhatian kepada siswa-siswa yang mengalami krisis. Berpusat pada
masalah, dengan pendekatan secara klinik, diagnostik dan pemberian treatment. Pada penderkatan ini, guru/
pembimbing mengumpulkan data tentang siswa, mengadakan scoring dan memasukkan dalam record.
Kemudian melakukan konseling dengan siswa bahkan orang tua siswa yang bermasalah.
b) Pendekatan development. Fokus perhatian dari pendekatan ini adalah seluruh siswa dan pertumbuhannya. Di
mana pembimbing melakukan pembimbingan dalam proses perkembangan dan pendidikan. Memusatkan diri
pada anak yang normal dan usaha penciptaan suasana belajar yang efektif, sehat dan segar. Dalam konseling
lebih digunakan konseling kelompok. Guru merupakan penanggung jawab utama dan pembimbing sifatnya
membantu.
c) Pendekatan neo tradisionalisme. Pada pendekatan ini pembimbing sering terlibat pada kegiatan konseling
individu, testing, dll.
Pada jenis layanan bimbingan dan konseling Zainal Agib (2021:103-104) mengemukakan sebagai berikut;
a) Layanan orientasi. Layanan yang dilakukan untuk memberikan pemahaman tentang lingkungan sekolah yang
baru dimasuki.
b) Layanan informasi. Layanan untuk memberikan informasi kepada peserta didik untuk menjadi pertimbangan
dalam mengambil keputusan.
c) Layanan penempatan dan penyaluran. Layanan yang dilakukan agar peserta didik mendapatkan penempatan
dan penyaluran yang tepat sesuai potensi, bakat dan minat, serta kondisi pribadi.
d) Layanan pembelajaran. Layanan bagi peserta didik untuk mengembangkan diri sesuai sikap dan kebiasaan
belajar serta kesulitan belajar yang dihadapi.
e) Layanan konseling perorangan. Layanan di mana peserta didik mendapatkan layanan tatap muka secara
perorangan dengan guru atau pembimbig untuk pembahasan dan pengentasan masalah yang dihadapi.
f) Layanan bimbingan kelompok. Layanan yang dilakukan untuk sekelompok peserta didik dengan topik tertentu
yang mendukung pemahaman peserta didik untuk menjalani kehidupan sehari-hari.
6
g) Layanan konseling kelompok. Layanan yang diberikan kepada peserta didik untuk pembahasan dan
pengentasan permasalahan yang dialami melalui dinamika kelompok.
7
i) Supervisi merupakan suatu proses memberi dan menerima yang dinamis. Dalam hal ini supervisor dan guru
merupakan teman sejawat dan mencari pengertian bersama yang berhubungan dengan pendidikan.
j) Proses supervisi klinis terutama berpusat pada interaksi verbal mengenai analisis jalannya pengajaran.
k) Tiap guru mempunyai kebebasan maupun tanggung jawab untuk mengemukakan pokok persoalan,
mengajarnya sendiri, dan mengembangkan gaya mengajarnya.
l) Supervisor mempunyai kebebasan dan tanggung jawab untuk menganalisis maupun mengevaluasi cara
supervisinya sendiri dengan caranya yang sama seperti menganalisis dan mengevaluasi cara mengajar guru.
Sedangkan tujuan umum dari pelaksanaan supervisi klinis yang dikemukan oleh Moch. Nurcolid sebagai
berikut: (1) Menciptakan kesadaran guru tentang tanggung jawabnya terhadap pelaksanaan kualitas proses
pembelajaran; (2) Membantu guru untuk senantiasa memperbaiki dan meningkatkan kualitas proses pembelajaran;
(3) Membantu guru untuk mengidentifikasi dan menganalisis masalah yang muncul dalam proses pembelajaran;
(4) Membantu guru untuk dapat menemukan cara pemecahan masalah yang ditemukan dalam proses
pembelajaran; dan (5) Membantu guru untuk mengembangkan sikap positif dalam mengembangkan diri secara
berkelanjutan.
8
C. Langkah-Langkah Bimbingan dan Konseling serta Supervisi Klinis
1. Langkah-Langkah Bimbingan dan Konseling
a. Bimbingan dan konseling individu
Pelaksanaan
•Identifikasi •Pengumpulan data
kebutuhan Tindak lanjut
•Pertemuan awal •Evaluasi kemajuan
•Pengumpulan
data •Pengembangan hubungan •Pengembangan
rencana baru •Pengawasan kemajuan
•Pembuatan •Pengidentifikasian masalah
•Pengembangan
rencana •Pengembangan strategi rencana jangka
•Pengimplementasian panjang
Persiapan strategi •Pengakhiran bimbinga
Evalusai dan konseling
Penjelasan tahapan:
1. Tahapan persiapan :
▪ Identifikasi masalah. Mengidentifikasi kebutuhan peserta didik yang memerlukan bimbingan dan konseling;
▪ Pengumpulan data. Mengumpulkan data tentang peserta didik, termasuk latar belakang, kemampuan dan
masalah yang dihadapi;
▪ Pembuatan rencana. Membuat rencana bimbingan dan konseling yang sesuai dengan kebutuhan peserta
didik.
2. Tahapan pelaksanaan :
▪ Pertemuan awal. Melakukan perrtemuan awal dengan peserta didik untuk membangunu hubungan dan
memahami kebutuhan peserta didik;
▪ Pengembangan hubungan. Mengembangkan hubungan yang positif dan percaya diri dengan peserta didik;
▪ Pengidentifikasian masalah. Mengidentifikasi masalah yang dihadapi perserta didik dan membantu peserta
didik memahami masalah tersebut;
▪ Pengembangan strategi. Mengembangkan strategi untuk mengatasi masalah yang dihadapi peserta didik;
▪ Pengimplementasian strategi. Mengimplementasikan strategi yang telah dikembangkan.
3. Tahapan evaluasi :
▪ Pengumpulan data. Mengumpulkan data tentang kemajuan peserta didik dan efektivitas strategi yang telah
diimplementasikan;
▪ Evaluasi kemajuan. Mengevaluasi kemajuan peserta didik dan menentukan apakah strategi yang telah
diimplementasikan efektif;
▪ Pengembangan rencana baru. Mengembangkan rencana baru jika strategi yang telah diimplementasikan
tidak efektif.
4. Tahapan tindak lanjut :
▪ Pengawasan kemajuan. Mengawasi kemajuan peserta didik dan memastikan bahwa strategi yang telah
diimplementasikan tetap efektif;
▪ Pengembangan rencana jangka panjang. Mengembangkan rencana jangka panjang untuk membantu
peserta didik mencapai tujuan yang telah ditetapkan;
▪ Pengakhiran bimbingan dan konseling. Mengakhiri bimbingan dan konseling jika peserta didik telah mencapai
tujuan yang ditetapkan.
9
b. Bimbingan dan konseling kelompok (untuk pendidikan karakter)
No Tahap Kegiatan yang dilaksanakan Karakter yang dimunculkan
1 Pembentukan ▪ Guru pendamping /BK menerima seluruh anggota dengan ▪ Sopan, menghormati guru
bersalaman. ▪ Religius, peduli
▪ Berdoa bersama, mengucap kan salam ▪ Berpikir kritis
▪ Menjelaskan perngertian, tujuan, tata cara kegiatan konseling
kelompok, asas, menegaskan kesanggupan menaati asas
kerahasiaan dalam konseling kelompok.
2 Peralihan ▪ Menanyakaan kesiapan anggota kelompok ▪ Disiplin
▪ Memberikan contoh masalah pribadi yang akan dibahas dalam
kegiatan konseling kelompok ▪ Berpikir kritis, peduli
3 Kegiatan ▪ Setiap peserta mengungkap kan masalah pribadi yang dihadapi ▪ Perhatian kepada teman
▪ Memilih bahan yang akan dibahas ▪ Rela berkorban, menghargai
▪ Membahas masalah yang sudah dipilih dengan tanya jawab pendapat orang lain, perhatian
antara yang mempunyai masalah dengan anggota kelompok dan berpikir kritis
4 Pengakhiran ▪ Menjelaskan konseling pada kelompok akan diakhiri ▪ Iklas
▪ Menanyakan manfaat konseling kelompok ▪ Berpikir kritis
▪ Membahas kegiatan lanjutan ▪ Berpikir logis
▪ Menanyakan kesan dan pesan kepada anggota kelompk ▪ Sopan
▪ Guru pendamping mengucap kan terima kasih kepada seluruh ▪ Religius
anggota atas terlaksananya konseling kelompok ▪ Sopan, peduli
▪ Berdoa
▪ Salam penutup dan berjabat tangan, dan semua anggota
kelompok meninggalkan ruangan.
Tabel 5.1 Bimbingan Konseling Kelompok
Pertemuan sebelum
Umpan balik
observasi
Supervisor mengobservasi
guru
Pertemuan setelah
observasi
1) Pertemuan sebelum observasi. Pada tahap ini dilakukan pembicaraan antara kepala sekolah dan guru yang
akan disupervisi agar terjadi kesepahaman.
10
2) Supervisor mengobservasi guru. Supervisor mengumpulkan sejumlah informasi tentang perilaku guru dalam
mengajar.
3) Analisis dan strategi. Supervisor menganalisis data awal yang sudah ada dan menentukan strategi yang akan
dilakukan untuk membantu guru, dengan mempertimbangkan kontrak yang telah disepakati bersama, evaluasi
selama guru mengajar, kualitas hubungan interpersonal antara guru dengan kepala sekolah, kompetensi dan
pengetahuan guru.
4) Pertemuan setelah observasi. Pada tahap ini dibahas hasil observasi supervisor terhadap guru yang sedang
mengajar.
5) Analisis kegiatan setelah observasi. Langkah ini dilakukan untuk menyepakati tindakan lanjutan yang perlu
dilakukan pada waktu berikutnya.
D. Kontekstualisasi
Mutu suatu lembaga pendidikan bukan hanya dilihat dari kecerdasan akademik para lulusannya, tetapi juga
pada kualitas moral dan kemampuan menghadapi tantangan hidup baik saat menjalani proses pendidikan maupun
di tengah masyarakat dalam juang menggapai masa depan. Sekolah sebagai lembaga pendidikan yang
bertanggung jawab mencerdaskan peserta didik dalam segala bidang baik intelektual, sosial, emosional, spiritual
tidak hanya menyelenggarakan proses pembelajaran tetapi juga layanan bimbingan dan konseling, yang
memberikan bantuan kepada peserta didik baik secara perorangan maupun individu. Layanan bimbingan dan
konseling bertujuan agar peserta didik mandiri dan berkembang secara optimal berdasarkan norma-norma yang
berlaku. Untuk itu para pendidik harus dapat memahami dengan baik pelaksanaan layanan bimbingan dan
konseling agar dapat melayani peserta didik secara efisien dan efektif guna mencapai tujuan yang diharapkan.
Pengenalan akan karakteristik, latar belakang, kebutuhan setiap peserta didik sangat penting guna
mengembangkan perangkat pembelajaran, melaksanakan pembelajaran maupun melakukan asesmen serta
melakukan pendampingan yang tepat ketika peserta didik menghadapi masalah baik yang berhubungan dengan
pembelajaran, keluarga maupun hubungan dengan sesama, dan lain sebagainya.
Di sisi lain, para pendidik dituntut untuk terus meningkatkan kualitas pembelajaran berdasarkan hasil
evaluasi dan refleksi yang dilakukan secara rutin. Evaluasi dapat dilaksanakan berdasarkan penilaian hasil belajar
peserta didik. Sedangak refleksi dilakukan baik oleh peserta didik di setiap akhir proses pembelajaran, oleh rekan
kerja dan juga kepala sekolah. Karena itu sekolah harus meningkatkan kegiatan refleksi, salah satunya melalui
ssupervisi klinis yang dilakukan kepala sekolah untuk menilai kegiatan pembelajaran yang dilakukan oleh tiap guru.
Melaksanakan penilaian melalui supervisi, menyampaikan hasil penilaian kepada setiap guru dan menindaklanjuti
dengan meningkatkan kualitas pembelajaran melalui pengembangan profesional berkelanjutan.
E. Kesimpulan
a) Pelayanan bimbingan dan konseling adalah pemberian bantuan kepada individu dalam memecahkan
masalah yang dihadapinya dalam suatu pertalian hubungan tatap muka.
b) Tujuan bimbingan dan konseling adalah a) mengembangkan potensi peserta didik secara optimal, b)
membantu peserta didik mengatasi kesulitan dalam memahami dirinya, tetapi juga yang berhubungan
dengan keluarga c) membantu peserta didik yang mengalami kesulitan dalam belajar, d) mengatasi
kesulitan peserta didik dalam menyalurkan bakat dan minatnya, dan e) mengikutisertakan pihak lain untuk
membantu mengatasi kesulitan peserta didik yang tidak dapat dipecahkan oleh pihak sekolah.
c) Fungsi dari bimbingan dan konseling mencakup fungsi pemahaman, pencegahan, pengentasan serta
pemeliharaan dan pengembangan.
d) Prinsip bimbingan dan konseling adalah membangun inklusivitas, merupakan bagian integral dari proses
pendidikan, peserta didik mencapai perkembangan yang optimal, semua peserta didik berhak
mendapatkan layanan bimbingan dan konseling, memberikan dorongan kepada peserta didik untuk
11
mengambildan merealisasikan keputusan secara bertanggung jawab sesuai dengan situasinya, bersifat
fleksibel dan adaptif sesuai kebutuhan.
e) Pendekatan bimbingan dan konseling meliputi pendekatan krisis, remedial, preventif dan perkembangan.
f) Jenis layanan bimbingan dan konseling adalah jenis orientasi, informasi, penempatan dan penyaluran,
pembelajaran, perorangan, kelompok.
g) Supervisi klinis adalah supervisi yg dilakukan oleh rekan sejawab maupun kepala sekolah dalam melihat
proses pembelajaran yang dilakukan guru untuk mendapatkan kelemahan guna mencari usaha perbaikan
bagi peningkatan kualitas pembelajaran.
h) Karakteristik supervisi klinis antara lain perbaikan pembelajaran, fungsi utama adalah mengajarkan
keterampilan mengajar kepada guru, fokus pada perbaikan [Link].
i) Prinsip supervisi klinis mencakup terpusat pada guru, hubungan guru dan [Link] bersifat
interaktif, adanya komunikasi dan keterbukaan, membuat umpan balik sesuai perencanaan.
j) Tiga pendekatan supervisi klinis pendekatan preskriptif, kolaboratif dan keagamaan.
k) Langkah-langkah proses supervisi klinis : a) pertemuan sebelum observasi, b) supervisor mengobservasi
guru, c) analisis dan strategi, d) pertemuan setelah observasi, dan e) analisis kegiatan setelah observasi.
F. Daftar Pustaka
Aqib Zainal, 2021, Bimbingan dan Konseling di Sekolah dan Perguruan Tinggi; Teori dan Aplikasi, Yogyakarta,
ANDI
Juntika Nurihsan, Ahmad, 2002, Pengantar Bimbingan dan Konseling, Bandung, Universitas Pendidikan Indonesia
Kartadinata, Sunaryo, 1998, Bimbingan di Sekolah Dasar, Bandung, Maulana
M. Ngalim Purwanto, 2006, Administrasi dan Supervisi Pendidikan , Bandung, Remaja Rosdakarya
Mahmud H., 2012, Bimbingan dan Konseling, Jakarta, Rineka Cipta
Natawidjaja,Rohman, 1987, Peranan Guru dalam Bimbingan di Sekolah, Bandung, Abandin
Pariansa Donni, Juni, 2018, Manajemen & Supervisi Pendidikan, Bandung, CV Pustaka Setia
Prayitno dan Amti,Erman, 2003, Dasar-Dasar Bimbingan dan Konseling, Jakarta, Depdikbud
Sahertian Piet A., 2000, Konsep Dasar dan Tekhnik Supervisi Pendidikan dalam Rangka Pengembangan Sumber
Daya Manusia, Jakarta: Rineka Cipta
W.S Winkel, 2004, Bimbingan dan Konseling di Institusi Pendidikan, Jakarta, Grasindo
Yusuf, Syamsu dan Nurihsan,Juntika 2016, Landasan Bimbingan dan Konseling, Bandung, PT Remaja
Rosdakarya
Zulkarnain Wildan, 2018, Supervisi Klinis dalam Bimbingan dan Konseling. Bandung: Alfabeta
Sanasintani Sanasintani, Pengembangan Profesional Guru Pendidikan Agama Kristen Melalui Supervisi Klinis
Jurnal Teologi Pelita Hidup [Link]
Fatsul Fausi, peningkatan Profesionalisme Guru melalui Supervisi Klinis, Edusiana,.
[Link]
Reni Setiati, Rugaiyah Rugaiyah, Implementasi Supervisi Klinis Terhadap Kualitas Pembelajaran yang berpusat
pada murid, Jurnal Ilmiaah Ilmu Pendidikan
[Link]
Azizudin Azizudin, Peningkatan Kompetensi Guru dalam Proses Pembelajaran Melalui Supervisi Klinis di SMP
Negeri 6 Mataram, Jurnal paedagosik [Link]
Abdul Khafid Anriso dkk, Implementasi Supervisi Klinis dalam Penerapan Kurikulum Merdeka di Sekolah Dasar,
Jurnal Basicedu. [Link]
12
Risnita Risnita, Penerapan Supervisi Klinis Teman Sejawat untuk Meningkatgkan Kompetensi Pedagigik dan
Kompetensi Profesional Guru SMA Negeri 1 Pangkalan Kerinci, Junal Majamath
[Link]
13
MODUL PEDAGOGIK
TOPIK 6
2
TOPIK 6
PENDIDIKAN INKLUSI BAGI ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS
A. Definisi
Keberadaan anak berkebutuhan khusus (ABK) bukan hanya meembawa konsekuensi bagi orang tua tetapi
juga pendidik di lembaga pendidikan formal dalam hal pola pengasuhan dan sistim pembelajaran yang dapat
menjawab kebutuhan para ABK. ABK harus dapat dipandang baik oleh orang tua dan para pendidik sebagai
anugerah dari Tuhan dan mereka juga berhak mendapatkan pengasuhan dan pendidikan yang layak sehingga
mereka dapat berkembang secara optimal sebagaimana anak-anak yang normal. Melalui topik ini diharapkan para
pendidik semakin memahami cara penanganan ABK dan memiliki keterampilan dalam merancang dan
melaksanakan kegiatan pembelajaran yang sesuai dengan kondisi khusus dari ABK yang ada di lembaga
pendidikan.
Penjelasan gambar :
1. Peserta didik dengan hambatan penglihatan (tuna netra)
Karakteristik peserta didik dengan gangguan penglihatan antara lain mata juling, sering berkedip, menyipitkan
mata, mata merah, mata infeksi, gerekan mata tak beraturan dan cepat, mata selalu berarir, mata gatal, sering
merasa pusing atau sakit kepala, penglihatan kabur atau ganda.
6
2. Peserta didik dengan hambatan pendengaran (tuna rungu)
Peserta didik dengan hambatan pendengaran apabila diukur dengan menggunakan audiometer menghasilkan
skor 91 dB atau lebih besar, disebut tuli, dan apabila menghasilkan 27 - 90 db disebut kurang dengar (hard of
hearing).
Sumber [Link]
Karakteristik peserta didik dengan hambatan pendengaran dapat dikemukakan sebagai berikut :
Tabel 6.1 Karakteristik hambatan pendengaran
Berdasarkan aspek sosial emosional Berdasarkan aspek fisik/ kesehatan
1. Pergaulan terbatas dengan sesama peserta didik dengan hambatan 1. Jalannya kaku dan agak membungkuk,
pendengaran, 2. Gerak matanya lebih cepat,
2. Sifat ego-sentris yang melebihi anak normal, 3. Gerakan tangannya cepat/ lincah, dan
3. Perasaan takut (khawatir) terhadap lingkungan sekitar, 4. Pernafasannya pendek.
4. Perhatian anak Peserta didik dengan hambatan pendengaran sukar
dialihkan;
5. Memiliki sifat polos, dan
6. Cepat marah dan mudah tersinggung
7
▪ Masalah perilaku, seperti amukan yang meledak-ledak;
▪ Kesulitan dengan pemecahan masalah atau pemikiran logis.
Peserta didik dengan hambatan fisik motorik/tunadaksan memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
a. Anggota gerak tubuh kaku lemah/lumpuh;
b. Kesulitan dalam gerakan;
c. Terdapat bagian anggota gerak yang tidak lengkap/tidak sempurna;
d. Hiperaktif/tidak dapat tenang;
e. Jari tangan kaku dan tidak dapat menggenggam;
f. Kesulitan pada saat berdiri, berjalan/duduk.
5. Peserta didik dengan hambatan emosi dan perilaku
Menurut IDEA, peserta didik dengan hambatan emosi dan perilaku memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
a. ketidakmampuan belajar tetapi tidak terkait dengan masalah intelektual, sensori, atau faktor kesehatan;
b. ketidakmampuan membangun hubungan interpersonal yang baik dengan teman sebaya maupun guru;
c. ketidakselarasan pola perilaku maupun perasaan dalam situasi normal;
d. menunjukkan ketidakbahagiaan dan depresi;
e. cenderung menunjukkan tanda kecemasan yang berkaitan dengan masalah personal maupun problem
sekolah.
Salah satu dari peserta didik berkesulitan belajar spesifik yakni diskalkulia, yaitu sukar memahami
matematika. Diskalkulia menurut Learner dalam Abdurrachman (2003) ada beberapa karakteristik peserta didik
diskalkulia sebagai berikut:
1. Mengalami gangguan dalam hubungan keruangan, yakni dalam membedakan atas dan bawah, tinggi dan
rendah, jauh dan dekat. Hal ini menyebabkan mereka tidak mampu mengidentifikasi misalnya jika angka 7
lebih dekat ke 6 daripada ke 4,
2. Mengalami gangguan dalam persepsi visual, di mana peserta didik mengalami kesulitan melihat berbagai
objek dalam suatu kelompok. Ini menyebabkan mereka mengalami kesulitan menjumlahkan dua kelompok
benda yang terdiri dari beberapa anggota,
3. Mengalami gangguan asosiasi visul-motor. Hal ini menyebabkan peserta didik ini tidak dapat menghitung
benda-benda secara berurutan sambil menyebutkan bilangannya,
4. Mengalami gangguan perhatian, yang membuat peserta didik ini cenderung melekat pada suatu objek
dalam waktu yang lama,
5. Mengalami kesulitan dalam mengenal dan memahami simbol. Peserta didik ini mengalami kesulitan dalam
mengenal dan menggunakan simbol-simbol matematika seperti +,-,=,>,<, dan sebagainya.
Beberapa penanganan yang dapat dilakukan pendidik bagi peserta didik yang mengalami diskalkulia
menurut Abdurrachman, antara lain :
1. Melakukan asesemen untuk mengetahui sejauhmana kemampuan peserta didik dalam matematika.
Asesmen dapat dilakukan secara formal dan informal. Asesmen infromal dengan melakukan observasi
9
terhadap perilaku peserta didik sehari-hari dalam bidang matematika. Asesmen formal dilakukan dengan
menggunakan tes kelompok baku dan tes klinis individual.
2. Melakukan pengajaran remedial matematika. Hal ini dapat dilakukan dengan menggunakan metode tutorial
yang membutuhkan pendampingan dary spesialis berkomppten. Menggunakan metode visual, yang
menjelaskan mulai dari hal-hal yang konkrit ke abstrak. Selain itu juga dapat menyediakan kesempatan
kepada peserta didik untuk berlatih dan mengulang
Selain ini peserta didik dalam jenis ini juga ada yang dikenal dengan istilah disleksia yang berarti kesulitan
dalam mengolah kata-kata. Disleksia merupakan kelainan dengan dasar kelainan neurobiologia dan ditandai
dengan kesulitan dalam mengenal kata dengan tepat atau akurat dalam pengejaan dan dalam kemampuan
mengode simbol. Menurut Mencer seperti dikutip Mubiar (2011:55) ada empat kelompok karakteristik kesulitan
belajar membaca yakni yang berkenan dengan, (1) kebiasaan membaca, (2) kekeliruan mengenal kata, (3)
kekeliruan pemahaman, dan (4) gejala-gejala serbaneka. Peserta didik yang mengalami disleksia
memperlihatkan kebiasaan membaca yang tidak wajar. Saat membaca ada gerakan-gerakan yang penuh
ketegangan, gelisah, irama suara meninggi, merasa tidak aman atau menolak membaca dengan manangis
atau melawan pendidik.
Peserta didik yang berkesulitan belajar disleksia mengalami berbagai kesalahan dalam membaca sebagai
berikut (1) penghilangan kata atau huruf, (2) penyelipan kata, (3)penggantian kata, (4) pengucapan kata salah
dan makna berbeda, (5) pengucapan salah tapi makna sama, (6) pembalikan kata, (7) pembalikkan huruf, dan
sebagainya. Pembalikkan huruf terjadi karena peserta didik ini bingung posisi kiri-kanan, atau atas bawah.
Pembalikkan terjadi pada huruf-huruf yang hampir sama misalnya b dengan d,p,q, g, atau m dengan n, atau w.
Salah satu metode yang dapat digunakan sekolah atau pendidik kepada peserta didik yang disleksi adalah
metode Fernald yakni suatu metode pembelajaran membaca multisensors yang sering dikenal dengan metode
VAKT (visual, audiotory, kinesthetif, and tactile). Metode ini menggunakan materi bacaan yang dipilih dari kata-
kata yang diucapkan oleh peserta didik, dan tiap kata diajarkan utuh. Ada empat tahapan dalam metode ini,
yakni :
1. Pendidik menulis kata yang hendak dipelajari di atas kertas dan krayon. Selanjutnya peserta didik
menelusuri tulisan tersebut, melihat tulisan (visual), mengucapkannya dengan keras (audiotory). Dan ini
dilakukan berulang-ulang sampai peserta didik dapat menulis kata tersebut dengan benar,
2. Peserta didik tidak terlalu lama diminta untuk menelusuri tulisan-tulisan dengan jari, tetapi mempelajari
tulisan pendidik dengan melihat pendidik menulis, sambil mengucapkannya,
3. Tulisan di papan tulis dengan tulisan cetak, dan mengucapkan kata-kata sebelum menulis. Pada tahap ini
peserta didik mulai membaca tulisan dari buku,
4. Peserta didik mampu mengingat kata-kata yang dicetak atau bagian-bagian dari kata-kata yang telah
dipelajari.
10
9. Peserta didik autistic spectrum disorders (ASD)
Autisme merupakan sebuah hambatan perkembangan yang dialami seseorang dalam masa pertumbuhan dan
perkembangan di mana penyandangnya memiliki kekhasan utama, yaitu hambatan interaksi, komunikasi, dan
perilaku. Ciri utama dari peserta didik kategori ini adalah mengalami hambatan sebagai berikut: (a) interaksi
sosial secara resiprokal/ berbalasan; (b) komunikasi baik verbal maupun nonverbal, termasuk di dalamnya
permasalahan dalam aktivitas imajinasi; dan (c) perilaku, termasuk di dalamnya keterbatasan dalam
serangkaian aktivitas dan minat.
Hambatan-hambatan tersebut mengakibatkan peserta didik tersebut berperilaku tidak sesuai dengan situasi
sosial yang sedang berlangsung, tidak adanya kontak mata, permasalahan pada pemusatan perhatian, tidak
hadirnya gesture untuk menjembatani komunikasi, dan kesulitan menginterpretasikan gesture orang lain.
10. Peserta didik attention deficit hyperactivity disorder (ADHD)
Istilah attention deficit hyperactivity disorder (ADHD) menunjuk kepada peserta didik yang mengalami
gangguan emosi dan perilaku yang biasanya ditandai dengan satu atau lebih dari tiga ciri berikut:
a. kesulitan melakukan konsentrasi atau mencurahkan perhatian dalam waktu yang relatif lama;
b. adanya gerakan yang berlebihan atau kesulitan untuk diam;
c. perilaku impulsif, yaitu kecenderungan untuk bertindak sekehendak hatinya.
Karakteristik dari peserta didik yang mengalami ADHD sebagai berikut:
a. Selalu bergerak.
b. Impulsive atau bertindak tanpa berpikir.
c. Tidak dapat menahan amarah.
d. Suka mengganggu
e. Tidak dapat menghadapi kekecewaan.
f. Tidak dapat memusatkan perhatian pada sasaran yang akan dicapai.
g. Sebagian waktunya dihabiskan untuk melakukan kegiatan yang salah.
h. Tidak mampu menyelesaikan tugas walaupun tugas tersebut sangat mudah dan dapat diselesaikan dalam
waktu singkat.
Gambar 6.6
Program Pendidikan Individual
12
D. Kesimpulan
Berdasarkan uraian konsep dan teori di atas untuk topik 6 maka kesimpulan yang dapat dikemukakan sebagai
berikut :
1. Kebijakan pelaksanaan pendidikan inklusif mencakup Undang-Undang Dasar 1945 pasal 28, Undang-
Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistim Pendidikan Nasional, Permendiknas nomor 70 tahun 2009
tentang Pendidikan Inklusif dan Undang-Undang nomor 8 tahun 2016 penyandang disabilitas.
2. Pendidikan inklusif merupakan upaya pendidikan untuk memberikan kesempatan bagi anak berkebutuhan
khusus maupun anak-anak normal untuk belajar secara bersama-sama dalam keberagaman kebutuhan
pada satu kelas yang sama untuk saling melengkapi dan menghargai perbedaan yang ada.
3. Prinsip pendidik inklusi mencakup prinsip pemerataan dan peningkatan mutu, kebutuhan individu,
kebermaknaan, keberlanjutan, keterlibatan. Sedangkan tujuan dari pendidikan inklusi adalah menghapus
diskriminasi, kesetaraan, mengintergrasian peserta didik, mendorong kolaborasi, mempersiapkan
kehidupan yang lebih baik, penciptaan masyarakat yang inklisif, memenuhi HAM dan perbaikan kualitas
pendidikan.
4. Anak berkebutuhan khusus adalah anak yang memiliki penyimpangan perkembangan dan pertumbuhan
dari segi fisik, mental, sosial, emosi maupun intelektual yang berbeda dengan teman sebayanya.
5. Jenis-jenis anak berkebutuhan khusus antara lain peserta didi dengan hambatan pendengaran, hambatan
penglihatan, hambatan intelktual, hambatan fisik motorik, autistic spectrum disordes, cerdas istimewa
bakat istimewa, lambat belajar, dll.
6. Langkah-langkah pelaksanaan pendidikan inklusi meliputi a) masa transisi, b) penerimaan peserta didik
baru, c) identifikasi dan asesmen, d) penyusunan profil belajar peserta didik, d) perencanaan
pembelajaran, e) proses pembelajaran, f) penilaian dan evaluasi, dan g) laporan hasil belajar.
E. Daftar Pustaka
Diajeng Tyas Pinru Phytanza, dkk, 2023, Pendidikan Inklusif; Konsep, Implementasi dan Tujuan, Batam, CV Rey
Media Grafika.
Farrah Ariani, dkk, 2022, Panduan Pelaksanaan Pendidikan Inklusi, Jakarta, Badan Standar, Kurikulum dan
Asesmen Pendidikan, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi Republik Indonesia
Jati Rinakri Atmaja, 2017, “Pendidikan Dan Bimbingan Anak Berkebutuhan Khusus” Bandung, PT REMAJA
ROSDAKARYA,
Mohammad Takdir Ilahi. (2013). Pendidikan Inklusi: Konsep dan Aplikasi. Jogjakarta: ArRuzz Media
Asyharinur Ayuning Putriana Pitaloka dkk, KOnsep dasar anak berkebutuhan khusus, jurnal Masalio,
[Link]
Tetty Silitonga, dkk, Karakteristik Anak Berkebutuhan Khusus, jurnal Pediaqu:Jurnal Pendidikan Sosial dan
Humaniora, [Link]
Ilona Aulia Nur Syafarana, Assyifa Chairani, Pelaksanaan Pembelajaran Anak Berkebutuhan Khusus pada Masa
Pandemi Covid – 19 di Sekolah Inklusif SDN 12 Gedong, jurnaal Ortopedagogik
[Link]
Maya Aprilia Saputri, dk, Ragam Anak Berkebutuhan Khusus, CHILDHOOD EDUCATION: Jurnal Pendidikan Anak
Usia Dini
Https://[Link]/tapalkuda/[Link]/CEJ/article/view/4986/3501
Pristian Hadi Putra, dkk. (2021). Pendidikan Islam untuk Anak Berkebutuhan Khusus (Kajian tentang Konsep,
Tanggung Jawab dan Strategi Implementasinya). Fitrah: Journal of Islamic Education, Vol. 2, No. 1. Hal.
80-95.
Pradipta, R. F., & Andajani, S. J. (2017). Motion Development Program for Parents of Child with Cerebral Palsy.
Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pendidikan Luar Biasa, 4(2), 160-164.
Aisyah Layyinah, dkk. Pengertian Anak Berkebutuhan Khusus dan Klasifikasi Anak Berkebutuhan Khusus,
[Link]
Nandiyah Abdullah, Mengenal Anak Berkebutuhan Khusus, Jurnal Magistra No. 86 Th. XXV Desember 2013 1
ISSN 0215-9511.
13
[Link]
Dewi Nugraheni, dkk, Pendidikan Inklusi Bagi Anak Berkebutuhan Khusus, Proceding Of Lambung Mangkurat
Medical Seminar,
[Link]
14
MODUL AJAR
PEDAGOGIK
TOPIK 7
Penulis:
2
kurang bersosialisasi, kurang daya kreativitas dan bersikap individualis. Generasi alpha menginginkan hal-hal yang
instan dan kurang menghargai proses. Keasyikan mereka dengan gadget membuat mereka teralienasi (terasing)
secara social (Ishak Fadlurrohim dkk, 2019)
Selain persamaan yang dikemukakan di atas, ternyata dapat ditemukan juga beberapa perbedaan mendasar
diantara kedua generasi ini, sebagai ditampilkan pada tabel berikut ini.
Tabel 7.1 Generasi Z dan Generasi Alfa
Aspek Generasi Z (1997–2012) Generasi Alfa (2013–2025)
Teknologi Awal Tumbuh dengan teknologi seperti smartphone Lahir di tengah teknologi canggih seperti AI, VR,
dan media sosial. dan IoT (Internet of Things).
Kemandirian Lebih mandiri dalam belajar secara daring. Lebih mengandalkan personalisasi teknologi
untuk belajar.
Fokus Pembelajaran Menggunakan teknologi untuk mencari informasi. Menggunakan teknologi untuk menciptakan
pengalaman belajar yang lebih mendalam
(immersive learning).
Interaksi Sosial Cenderung aktif di media sosial, membangun Lebih banyak berinteraksi melalui platform
hubungan daring dan luring. digital dan teknologi berbasis avatar atau VR.
Adaptasi Terhadap Adaptif terhadap teknologi tetapi masih Lebih cepat beradaptasi dengan teknologi baru
Perubahan membutuhkan bimbingan dalam perubahan dan sistem digital otomatis.
besar.
Preferensi Media Suka video pendek di platform seperti YouTube Lebih tertarik dengan teknologi interaktif seperti
dan TikTok. AR, VR, dan platform berbasis AI.
Cara Berpikir Berpikir logis dan kritis, sering kali Memiliki pola pikir yang lebih intuitif dan
mempertanyakan otoritas tradisional. berbasis pengalaman digital langsung.
Perhatian (Attention Cenderung memiliki rentang perhatian yang Rentang perhatian lebih pendek, tetapi lebih
Span) pendek dan mudah terdistraksi. fokus jika konten bersifat interaktif.
Nilai Kultural Masih terhubung dengan nilai-nilai tradisional Cenderung memiliki hubungan yang lebih lemah
melalui pendidikan keluarga dan sekolah. dengan tradisi dan budaya lokal, kecuali jika
diintegrasikan dalam teknologi
3
Dengan demikan maka dapat disimpulkan bahwa: (1) Persamaan: Kedua generasi sangat bergantung pada
teknologi dalam kehidupan sehari-hari dan proses pembelajaran. Mereka memiliki pola pikir kritis, fleksibilitas
dalam belajar, serta kesadaran terhadap isu global dan lingkungan; dan (2) Perbedaan: Generasi Z lebih fokus
pada penggunaan teknologi untuk mencari informasi dan bekerja dalam tim, sementara Generasi Alfa lebih
condong pada pengalaman belajar yang personal, interaktif, dan didukung oleh kecerdasan buatan (AI).
4
Generasi Z (lahir antara 1990 – 2012) tumbuh dalam era digital yang serba cepat, dengan teknologi canggih yang
menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari mereka. Hal ini mempengaruhi cara mereka berpikir, berkomunikasi,
dan belajar. Berikut adalah tujuh karakteristik utama gaya belajar Generasi Z:
1) Berbasis Teknologi Digital: Generasi Z dikenal sebagai "Digital Natives," yang berarti mereka tumbuh dengan
teknologi digital seperti smartphone, tablet, dan internet. Teknologi bukan sekadar alat bantu, tetapi menjadi
bagian dari cara mereka memproses informasi. Implikasi dalam Pembelajaran: Penggunaan platform digital
seperti Google Classroom, Zoom, Kahoot, atau aplikasi e-learning sangat efektif untuk mereka. Contoh
Aktivitas Belajar: Video edukasi, simulasi virtual, aplikasi kuis interaktif.
2) Visual dan Interaktif. Generasi Z lebih menyukai materi pembelajaran yang bersifat visual, seperti video,
infografis, gambar, dan animasi dibandingkan teks panjang. Mereka juga lebih memahami informasi yang
disampaikan secara interaktif. Implikasi dalam Pembelajaran: Guru dapat memanfaatkan video pembelajaran,
presentasi visual, dan aktivitas berbasis permainan (gamification) untuk menarik perhatian mereka. Contoh
Aktivitas Belajar: Menonton video penjelasan di YouTube, belajar dengan infografis interaktif.
3) Cepat dan Instan: Generasi Z terbiasa dengan kecepatan internet dan teknologi yang memberikan hasil
instan. Mereka tidak sabar dengan proses yang panjang dan lebih suka mendapatkan umpan balik dengan
cepat. Implikasi dalam Pembelajaran: Berikan umpan balik langsung dalam bentuk komentar atau penilaian
instan. Gunakan alat seperti Kahoot! atau Google Forms untuk evaluasi cepat. Contoh Aktivitas Belajar: Kuis
online dengan skor langsung, umpan balik otomatis melalui aplikasi pembelajaran.
4) Belajar Mandiri (Self-Directed Learning). Lebih suka mengeksplorasi pengetahuan melalui platform seperti
YouTube, Google, dan media sosial. Generasi Z cenderung lebih mandiri dalam belajar. Mereka terbiasa
mencari informasi dan pengetahuan sendiri melalui mesin pencari seperti Google, YouTube, atau platform
belajar mandiri. Implikasi dalam Pembelajaran: Guru perlu memberikan ruang untuk pembelajaran berbasis
proyek (Project-Based Learning) atau riset mandiri. Contoh Aktivitas Belajar: Tugas penelitian mandiri,
eksplorasi topik dengan panduan dari guru.
5) Fleksibel/sosial dan Kolaboratif: Generasi Z lebih suka bekerja dalam tim dan berkolaborasi dengan teman
sebaya. Mereka terbiasa menggunakan platform daring untuk berkomunikasi dan bekerja sama. Implikasi
dalam Pembelajaran: Aktivitas berbasis kolaborasi seperti diskusi kelompok, proyek tim, atau platform
kolaboratif digital dapat meningkatkan efektivitas belajar. Contoh Aktivitas Belajar: Proyek berbasis tim
menggunakan Google Docs atau Trello, diskusi di forum online.
6) Multitasking dalam Belajar. Generasi Z mahir melakukan beberapa aktivitas sekaligus (multitasking). Mereka
dapat belajar sambil mendengarkan musik, menjelajahi media sosial, atau mengerjakan tugas lainnya.
Implikasi dalam Pembelajaran: Aktivitas belajar sebaiknya bervariasi untuk menghindari kebosanan. Metode
blended learning atau flipped classroom bisa menjadi pilihan efektif. Contoh Aktivitas Belajar: Belajar dengan
menggunakan perangkat ganda (laptop dan tablet), tugas kelompok daring.
7) Berorientasi pada Tujuan dan Makna (Goal-Oriented). Generasi Z cenderung berfokus pada tujuan yang jelas
dalam pembelajaran. Mereka ingin memahami "Mengapa saya harus belajar ini?" dan bagaimana pelajaran
tersebut dapat membantu mereka di masa depan. Implikasi dalam Pembelajaran: Guru harus menjelaskan
relevansi materi dengan kehidupan nyata dan memberikan tujuan yang jelas dalam setiap pembelajaran.
Contoh Aktivitas Belajar: Studi kasus berbasis kehidupan nyata, proyek yang memiliki dampak langsung bagi
komunitas. Kritis dan Analitis: Generasi Z memiliki keterampilan berpikir kritis karena terbiasa memilah
informasi dari berbagai sumber digital dan mampu memfilter informasi yang akurat (Bonus). Implikasi dalam
Pembelajaran: Dorong mereka untuk mengevaluasi sumber informasi dan membuat kesimpulan berdasarkan
data yang akurat. Contoh Aktivitas Belajar: Debat berbasis isu aktual, analisis artikel berita.
Generasi Z memiliki gaya belajar yang unik yang dipengaruhi oleh teknologi dan paparan digital sejak dini. Ciri
khas mereka meliputi ketergantungan pada teknologi, preferensi visual, kemandirian dalam belajar, multitasking,
orientasi pada hasil cepat, kecenderungan kolaborasi, dan fokus pada tujuan yang jelas. Dari penjelsan ini Para
pendidik dapat melakukan Integrasikan teknologi dalam pembelajaran, gunakan materi visual dan interaktif, berikan
5
umpan balik yang cepat, Fokus pada tujuan yang jelas dan relevan serta dorong aktivitas kolaboratif dalam
lingkungan digital.
6
8) Berpikir Kritis dan Pemecahan Masalah (Problem-Solving). Generasi Alfa terbiasa memecahkan masalah
dengan bantuan teknologi. Mereka memiliki keterampilan berpikir kritis yang kuat dan mampu mencari solusi
kreatif dengan cepat. Implikasi dalam Pembelajaran: Guru harus mendorong aktivitas pemecahan masalah
yang kreatif dan praktis, serta melibatkan siswa dalam skenario dunia nyata. Contoh Aktivitas Belajar:
Tantangan pemecahan masalah menggunakan aplikasi simulasi seperti Minecraft Education Edition.
Disimpulkan bahwa Generasi Alfa memiliki gaya belajar yang sangat dipengaruhi oleh teknologi,
personalisasi, dan visualisasi konten pembelajaran. Mereka tidak hanya cepat beradaptasi dengan perangkat baru
tetapi juga membutuhkan pendekatan belajar yang fleksibel, menarik, dan relevan dengan dunia nyata.
Berdasarkan hal ini maka para pendidik perlu memperhatikan beberapa hal:
▪ Integrasi Teknologi: Gunakan AI, VR, dan aplikasi digital dalam proses belajar.
▪ Personalisasi Pembelajaran: Rancang kurikulum yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan setiap siswa.
▪ Konten Visual dan Interaktif: Gunakan video pendek, infografis, dan game edukatif.
▪ Aktivitas Kolaboratif: Dorong proyek lintas negara atau lintas sekolah melalui platform digital.
▪ Sesi Belajar Singkat dan Efektif: Gunakan metode microlearning untuk menghindari kebosanan.
▪ Fokus pada Pemecahan Masalah: Dorong siswa berpikir kritis dan mencari solusi kreatif.
▪ Evaluasi Real-Time: Berikan umpan balik cepat menggunakan alat digital.
Dengan memahami 7 karakteristik gaya belajar Generasi Alfa, guru dan institusi pendidikan dapat
menciptakan lingkungan belajar yang relevan, efektif, dan menarik untuk generasi masa depan ini.
D. Kontekstualisasi Karakteristik dan Gaya Belajar Generasi Z dan Generasi Alfa dengan Model Kearifan
Lokal di Maluku
Generasi Z di Maluku, seperti di wilayah lain, tumbuh dalam era digital yang sangat dipengaruhi oleh
teknologi. Namun, dalam konteks Maluku, karakteristik mereka juga diperkaya oleh nilai-nilai budaya dan kearifan
lokal yang khas, seperti pela-gandong, tradisi gotong royong, dan kehidupan komunitas yang erat. Untuk
memahami dan mengadaptasi gaya belajar Generasi Z di Maluku, penting untuk menghubungkan teknologi
modern dengan kearifan lokal, sehingga pembelajaran menjadi lebih relevan dan bermakna. Karakteristik Generasi
Z dalam Konteks Maluku antara lain:
a) Berorientasi Digital dengan Sentuhan Lokal. Generasi Z di Maluku tumbuh dalam lingkungan yang semakin
terkoneksi secara digital. Mereka terbiasa dengan penggunaan smartphone, media sosial, dan aplikasi
pembelajaran daring. Namun, kehidupan mereka tetap dipengaruhi oleh nilai-nilai tradisional seperti
menghormati orang tua, tokoh adat, dan nilai religius yang kuat.
b) Visual dan Interaktif, namun Tetap Menghargai Budaya Lisan. Generasi Z cenderung memiliki gaya belajar
visual dan interaktif. Di Maluku, pendekatan ini dapat diperkaya dengan tradisi budaya lisan, seperti tutur adat
atau cerita rakyat, yang dapat disampaikan melalui media visual modern, seperti video animasi atau infografis
digital.
c) Kolaboratif dengan Pola Komunal. Generasi Z di Maluku menunjukkan kecenderungan untuk bekerja secara
kolaboratif, baik secara daring maupun langsung. Hal ini selaras dengan semangat pela-gandong, yang
menekankan solidaritas dan kerja sama lintas komunitas.
Model Kearifan Lokal dalam Pembelajaran Generasi Z di Maluku:
a) Pembelajaran Berbasis Pela-Gandong
Dalam konteks pendidikan, semangat pela-gandong dapat diterapkan dengan mendorong kolaborasi lintas
kelompok belajar. Misalnya, siswa dari berbagai latar belakang budaya atau agama di Maluku dapat diajak
untuk bekerja sama dalam proyek berbasis komunitas yang memanfaatkan teknologi digital, seperti
pembuatan dokumentasi budaya menggunakan video atau aplikasi.
b) Penggunaan Media Digital untuk Menceritakan Tutur Adat
7
Tradisi tutur adat yang kaya dengan nilai-nilai kehidupan dapat dikontekstualisasikan ke dalam media digital
yang disukai Generasi Z. Guru dapat menggunakan platform seperti YouTube atau Instagram untuk
menghidupkan kembali cerita rakyat Maluku dengan format modern, seperti animasi pendek atau video
interaktif.
c) Gamifikasi dengan Tema Lokal
Pembelajaran berbasis permainan (gamifikasi) dapat dirancang dengan tema lokal, seperti permainan digital
yang melibatkan cerita sejarah Maluku, ekosistem laut dan pulau-pulau, atau tantangan berbasis tradisi adat.
Hal ini dapat memotivasi siswa untuk belajar sambil memperdalam identitas lokal mereka.
d) Pembelajaran Berbasis Proyek untuk Melestarikan Budaya
Generasi Z di Maluku dapat diajak untuk membuat proyek digital yang mendokumentasikan kearifan lokal,
seperti pembuatan e-book tentang alat musik tradisional, atau pengembangan aplikasi interaktif yang
memperkenalkan tarian adat dan bahasa daerah.
e) Pemanfaatan Teknologi untuk Diskusi Antar-Komunitas
Dengan platform digital seperti Zoom atau Google Meet, siswa dapat diajak berdialog dengan komunitas adat
atau tokoh masyarakat untuk memahami nilai-nilai lokal. Kegiatan ini memperkuat kemampuan kolaborasi dan
kesadaran budaya.
Disimpulkan bahwa kontekstualisasi gaya belajar Generasi Z di Maluku harus mengintegrasikan kemajuan
teknologi dengan kearifan lokal, sehingga pembelajaran tidak hanya memenuhi kebutuhan era digital tetapi juga
memperkuat identitas budaya dan nilai-nilai tradisional. Dengan menghubungkan teknologi dengan semangat
budaya Maluku seperti pela-gandong, pembelajaran dapat menjadi lebih relevan, bermakna, dan mendukung
generasi muda untuk memahami akar budaya mereka sambil tetap bersaing di dunia global.
2. Kontekstualisasi Karakteristik dan Gaya Belajar Generasi Alfa dengan Model Kearifan Lokal di Maluku
Generasi Alfa, yang lahir setelah tahun 2013, merupakan generasi pertama yang tumbuh sepenuhnya dalam
era teknologi canggih seperti kecerdasan buatan (AI), realitas virtual (VR), dan perangkat pintar. Namun, di Maluku,
generasi ini juga dibentuk oleh nilai-nilai budaya lokal yang kuat, seperti semangat pela-gandong, kehidupan
komunal, tradisi lisan, dan harmoni dengan alam. Oleh karena itu, pembelajaran bagi Generasi Alfa di Maluku
harus mengintegrasikan teknologi modern dengan kearifan lokal, sehingga mendukung perkembangan karakter
mereka tanpa kehilangan identitas budaya. Karakteristik Generasi Alfa dalam Konteks Maluku:
a) Digital-Native dengan Kepekaan Lokal. Generasi Alfa di Maluku akrab dengan teknologi sejak usia dini.
Mereka menggunakan tablet, aplikasi edukasi, dan game interaktif untuk belajar. Namun, kepekaan terhadap
nilai-nilai budaya lokal, seperti menghormati tradisi dan hubungan sosial, tetap menjadi bagian penting dari
kehidupan mereka.
b) Cenderung Visual dan Imersif dengan Warisan Budaya. Gaya belajar Generasi Alfa sangat visual, berbasis
pengalaman, dan imersif. Di Maluku, gaya ini dapat dihubungkan dengan tradisi lokal seperti seni ukir, tarian
adat, dan cerita rakyat, yang divisualisasikan menggunakan teknologi seperti augmented reality (AR) atau
video interaktif.
c) Personal dan Fleksibel namun Berorientasi Komunal. Generasi Alfa menikmati pembelajaran yang
dipersonalisasi melalui aplikasi dan algoritma AI, tetapi mereka juga tumbuh dalam lingkungan komunal khas
Maluku, di mana nilai-nilai kolektif seperti gotong royong dan solidaritas menjadi pusat kehidupan sosial.
Model Kearifan Lokal untuk Pembelajaran Generasi Alfa di Maluku:
a) Penggunaan Teknologi untuk Menghidupkan Tradisi Adat. Teknologi seperti AR dan VR dapat digunakan
untuk menciptakan pengalaman belajar yang imersif berbasis budaya lokal. Misalnya, Generasi Alfa dapat
"mengalami" cerita rakyat Maluku atau tradisi pela-gandong melalui simulasi VR, menjadikan pembelajaran
lebih menarik dan relevan.
8
b) Gamifikasi Berbasis Budaya Lokal. Permainan edukasi dapat dirancang dengan tema lokal, seperti mengenal
flora dan fauna khas Maluku, belajar tentang sejarah Kapitan Pattimura, atau memahami filosofi pela-gandong.
Elemen gamifikasi ini dapat memotivasi Generasi Alfa untuk belajar sambil memperdalam identitas budaya
mereka.
c) Proyek Berbasis Komunitas Digital. Generasi Alfa dapat diajak untuk berkontribusi dalam proyek-proyek
berbasis komunitas yang menghubungkan mereka dengan budaya lokal melalui platform digital. Contohnya
adalah membuat vlog tentang kehidupan nelayan tradisional, membuat dokumentasi digital tentang alat musik
khas seperti tifa, atau menciptakan aplikasi pembelajaran bahasa daerah Maluku.
d) Pembelajaran Visual dan Interaktif dengan Media Lokal. Guru dapat memanfaatkan video, infografis, dan
animasi untuk mengajarkan nilai-nilai budaya lokal. Misalnya, cerita tentang tutur adat atau kisah-kisah
kepahlawanan Maluku dapat diubah menjadi video animasi pendek yang menarik bagi Generasi Alfa.
e) Kolaborasi Antar-Komunitas Melalui Teknologi. Dengan semangat pela-gandong, Generasi Alfa dapat diajak
untuk belajar bekerja sama lintas budaya melalui platform daring. Proyek kolaboratif seperti pembuatan materi
digital tentang budaya Maluku untuk dipromosikan ke generasi global dapat menjadi sarana pembelajaran
yang bermakna.
f) Integrasi Alam dan Teknologi dalam Pembelajaran. Maluku yang kaya dengan keindahan alam dapat menjadi
sumber pembelajaran bagi Generasi Alfa. Dengan menggunakan teknologi seperti drone atau aplikasi AR,
mereka dapat mempelajari ekosistem lokal, praktik keberlanjutan, atau tradisi nelayan dan petani yang
menghormati alam.
Disimpulkan bahwa kontekstualisasi gaya belajar Generasi Alfa di Maluku memerlukan perpaduan antara
teknologi modern dan kearifan lokal untuk menciptakan pembelajaran yang relevan, menarik, dan bermakna.
Dengan memanfaatkan teknologi untuk memperkuat identitas budaya dan nilai-nilai lokal, generasi ini dapat
tumbuh sebagai individu yang kompeten secara global namun tetap menghormati dan melestarikan warisan
budaya Maluku. Pendekatan ini tidak hanya membentuk pengetahuan, tetapi juga memperkuat karakter,
spiritualitas, dan rasa solidaritas khas Maluku.
E. Sintaks Pembelajaran
1) Sintaks Pembelajaran dengan Tema "Allah Pemelihara" untuk Siswa Kelas 6 SD dengan Karakteristik dan
Gaya Belajar Generasi Z melalui Pendekatan Problem-Based Learning (PBL)
9
Guru membimbing siswa untuk Setiap kelompok diminta untuk mendiskusikan dan merumuskan
memahami masalah yang ada dan pertanyaan terkait tema: "Apa saja cara Allah memelihara manusia di
mengorganisasi kelompok belajar Alkitab?" atau "Bagaimana cara kita merasakan pemeliharaan Allah hari
ini?"
Media: Siswa menggunakan aplikasi kolaboratif seperti Google Jamboard
untuk mencatat ide-ide mereka.
3 Membimbing Penyelidikan Mandiri Kegiatan:
atau Kelompok Siswa mencari cerita-cerita Alkitab yang menunjukkan pemeliharaan Allah,
seperti kisah Elia dan burung gagak (1 Raja-raja 17:4-6) atau Yesus
Guru memberikan kesempatan memberi makan 5.000 orang (Matius 14:13-21).
kepada siswa untuk mencari Guru menyediakan akses ke sumber belajar digital, seperti e-Bible atau
informasi yang relevan. video animasi Alkitab.
III Penilaian (Assessment) 1. Proses Kolaborasi: Guru menilai partisipasi siswa dalam diskusi
kelompok.
2. Produk Akhir: Poster digital, video, atau presentasi kreatif yang
menunjukkan pemahaman siswa tentang tema.
3. Refleksi Individu: Tulisan atau respons siswa tentang penerapan tema
dalam kehidupan nyata
2) Sintaks Pembelajaran dengan Tema "Allah Pemelihara" untuk Siswa Kelas 6 SD dengan Karakteristik
dan Gaya Belajar Generasi Alfa melalui Pendekatan Project-Based Learning (PJBL)
10
2 Merancang Perencanaan Proyek Kegiatan:
Guru dan siswa bersama-sama ▪ Siswa dibagi ke dalam kelompok kecil (4–5 orang).
merancang langkah-langkah untuk ▪ Setiap kelompok memilih proyek yang akan dibuat, seperti video
menyelesaikan proyek. pendek, buku cerita digital, atau poster kreatif bertema "Allah
Pemelihara."
▪ Guru membimbing siswa untuk menyusun jadwal dan membagi tugas
dalam kelompok.
Media: Siswa menggunakan aplikasi manajemen proyek sederhana, seperti
Trello atau Google Tasks, untuk mengatur tugas mereka.
3 Melakukan Penyelidikan dan Kegiatan:
Pengumpulan Informasi ▪ Siswa membaca cerita-cerita Alkitab yang relevan, seperti Elia diberi
Siswa mencari informasi yang makan burung gagak (1 Raja-raja 17:4-6) atau Manna di padang gurun
relevan untuk mendukung proyek (Keluaran 16:4-15).
mereka. ▪ Mereka mencari inspirasi dari pengalaman sehari-hari tentang
pemeliharaan Allah, seperti lingkungan, makanan, atau keluarga.
▪ Guru menyediakan akses ke aplikasi Alkitab, video edukasi, atau situs web
Kristen yang ramah anak.
Tujuan: Meningkatkan pemahaman siswa melalui eksplorasi mandiri.
4 Menyusun dan Mengembangkan Kegiatan:
Proyek • Kelompok yang memilih video membuat storyboard dan merekam video
Siswa mulai membuat produk proyek menggunakan kamera ponsel atau aplikasi sederhana seperti Canva Video
sesuai rencana mereka. atau CapCut.
• Kelompok yang memilih buku cerita digital menggunakan platform seperti
Book Creator untuk merancang cerita interaktif tentang "Allah Pemelihara."
• Kelompok yang membuat poster kreatif menggunakan aplikasi desain
seperti Canva Kids atau Microsoft Paint.
Tujuan: Memberikan ruang bagi siswa untuk berkreasi sesuai dengan gaya
belajar visual, interaktif, dan kolaboratif Generasi Alfa.
5 Mempresentasikan Hasil Proyek Kegiatan:
Setiap kelompok mempresentasikan • Siswa menampilkan hasil karya mereka, seperti video, buku digital, atau
hasil proyek mereka kepada kelas. poster.
• Presentasi dilakukan dengan cara yang menarik, seperti menayangkan
video di kelas atau berbagi tautan buku digital untuk dibaca bersama.
• Guru memberikan kesempatan bagi siswa lain untuk memberikan apresiasi
dan pertanyaan.
Media: Presentasi dilakukan dengan bantuan perangkat seperti proyektor atau
layar interaktif.
6 Mengevaluasi Proyek dan Proses Kegiatan:
Pembelajaran ▪ Guru memfasilitasi diskusi tentang apa yang telah dipelajari dari proyek,
Guru dan siswa bersama-sama baik secara spiritual maupun keterampilan.
merefleksikan hasil dan proses ▪ Siswa mengisi lembar refleksi sederhana, menjawab pertanyaan seperti:
pembelajaran. "Apa yang saya pelajari tentang Allah sebagai Pemelihara?" dan
"Bagaimana saya dapat merasakan pemeliharaan Allah setiap hari?"
▪ Guru memberikan umpan balik terhadap karya dan partisipasi siswa.
Tujuan: Menanamkan pemahaman mendalam dan kesadaran spiritual tentang
tema.
III Penilaian (Assessment) 1. Proses Kerja Kolaboratif: Guru menilai kontribusi setiap anggota kelompok
dalam menyelesaikan proyek.
2. Produk Akhir: Kualitas video, buku cerita, atau poster yang dibuat siswa,
dinilai berdasarkan kreativitas, kejelasan pesan, dan relevansi dengan
tema.
3. Refleksi Individu: Tulisan atau respons siswa tentang makna "Allah
Pemelihara" dalam hidup mereka.
F. Kesimpulan
Disimpulkan bahwa Generasi Z dan Alfa merupakan generasi yang tumbuh dengan teknologi sebagai
bagian integral dalam kehidupan mereka. Generasi Z lebih mengandalkan akses instan ke informasi, fleksibilitas
dalam belajar, dan pendekatan kolaboratif. Sementara itu, Generasi Alfa cenderung lebih adaptif dengan teknologi
11
baru seperti AI dan VR, serta memiliki preferensi pembelajaran yang lebih personal dan interaktif. Dalam konteks
pendidikan, penting untuk memahami karakteristik gaya belajar kedua generasi ini dan mengaitkannya dengan
kearifan lokal. Pendekatan ini dapat memastikan bahwa teknologi bukan hanya alat pembelajaran, tetapi juga
sarana untuk melestarikan nilai-nilai budaya lokal dan membangun karakter yang kuat pada peserta didik.
Pendidikan masa depan perlu menjadi ruang yang inklusif, dinamis, dan kontekstual, di mana teknologi dan
kearifan lokal berjalan beriringan dalam menciptakan generasi yang berkarakter, cerdas, dan siap menghadapi
tantangan global.
G. Daftar Pustaka
Kolb, David A. (1984). Experiential Learning: Experience as the Source of Learning and Development. Englewood
Cliffs, NJ: Prentice Hall.
Prensky, Marc. (2001). Digital Natives, Digital Immigrants. On the Horizon, 9(5), 1-6.
Gardner, Howard. (1983). Frames of Mind: The Theory of Multiple Intelligences. New York: Basic Books.
Tapscott, Don. (2009). Grown Up Digital: How the Net Generation is Changing Your World. New York: McGraw-
Hill.
McCrindle, Mark & Fell, Ashley. (2021). Generation Alpha: Understanding Our Children and Helping Them Thrive.
Sydney: Hachette Australia.
Seemiller, Corey & Grace, Meghan. (2016). Generation Z Goes to College. San Francisco: Jossey-Bass.
Howe, Neil & Strauss, William. (2000). Millennials Rising: The Next Great Generation. New York: Vintage Books.
Bennett, Sue, Maton, Karl, & Kervin, Lisa. (2008). The ‘Digital Natives’ Debate: A Critical Review of the Evidence.
British Journal of Educational Technology, 39(5), 775–786.
Siagian, Sondang P. (2018). Teori Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: Rajawali Pers.
Trilling, Bernie & Fadel, Charles. (2009). 21st Century Skills: Learning for Life in Our Times. San Francisco: Jossey-
Bass.
Selwyn, Neil. (2016). Education and Technology: Key Issues and Debates. London: Bloomsbury Academic.
Wahyudi, Agus. (2020). Teknologi Pendidikan dalam Konteks Budaya Lokal. Bandung: Alfabeta.
UNESCO. (2021). Education in a Post-COVID World: Nine Ideas for Public Action. Paris: UNESCO Publishing.
Suyanto, Slamet. (2019). Belajar dan Pembelajaran Teori dan Praktik. Yogyakarta: Graha Ilmu.
Tirtarahardja, Umar & La Sulo, S. (2010). Pengantar Pendidikan. Jakarta: Rineka Cipta.
Ishak Fadlurrohim, dkk ( 2029), Memahami Perkembangan Anak Generasi Alfa Di Era Industri 4.0, Jurnal
Pekerjaan Sosial, Vol [Link]. 2, hal.176-186
Dian Ratna Sawitri,dkk (2020) memahami perkembangan anak generasi alfa di era industri 4.0
([Link]
%[Link]
Dewa Made Alit1*, Ni Luh Putu Tejawati (2023) Smart Classroom : Digital Learning Generasi Z Dan Alpha,
Anderson, T., & Dron, J. (2011). Three generations of distance education pedagogy. The International Review of
Research in Open and Distributed Learning, 12(3), 80-97. (Fokus: Teori pedagogi dalam pendidikan digital)
Selwyn, N. (2016). Education and Technology: Key Issues and Debates. Bloomsbury Publishing. (Fokus: Isu-isu
kunci dalam pendidikan digital dan implikasi teknologi dalam proses belajar-mengajar)
Siemens, G. (2005). Connectivism: A Learning Theory for the Digital Age. International Journal of Instructional
Technology and Distance Learning, 2(1), 3-10. Fokus: Teori konektivisme dalam pembelajaran digital.
Brown-Martin, G. (2014). Learning {Re}imagined: How the Connected Society is Transforming Learning.
Bloomsbury Publishing. Fokus: Transformasi pendidikan melalui konektivitas dan teknologi digital.
Luckin, R., Holmes, W., Griffiths, M., & Forcier, L. B. (2016). Intelligence Unleashed: An argument for AI in
education. UCL Institute of Education Press. Fokus: Peran kecerdasan buatan dalam pendidikan.
12
Redecker, C., & Punie, Y. (2017). European Framework for the Digital Competence of Educators: DigCompEdu.
Publications Office of the European Union. Fokus: Kompetensi digital yang harus dimiliki guru di era
modern.
Fullan, M., & Langworthy, M. (2014). A Rich Seam: How New Pedagogies Find Deep Learning. Pearson. Fokus:
Pengembangan pembelajaran mendalam dengan teknologi baru.
Brynjolfsson, E., & McAfee, A. (2014). The Second Machine Age: Work, Progress, and Prosperity in a Time of
Brilliant Technologies. W.W. Norton & Company. Fokus: Dampak teknologi dan AI pada pendidikan dan
keterampilan kerja.
Mishra, P., & Koehler, M. J. (2006). Technological Pedagogical Content Knowledge: A Framework for Teacher
Knowledge. Teachers College Record, 108(6), 1017-1054. Fokus: Integrasi teknologi, pedagogi, dan
konten dalam pengajaran.
Trilling, B., & Fadel, C. (2009). 21st Century Skills: Learning for Life in Our Times. Jossey-Bass. Fokus:
Keterampilan abad ke-21 untuk guru dan siswa di era digital.
Warschauer, M., & Matuchniak, T. (2010). New Technology and Digital Worlds: Analyzing Evidence of Equity in
Access, Use, and Outcomes. Review of Research in Education, 34, 179-225. Fokus: Kesetaraan akses
dan hasil dalam pendidikan digital.
OECD (2019). Artificial Intelligence in Education: Challenges and Opportunities for Sustainable Development.
OECD Publishing. Fokus: Peluang dan tantangan implementasi AI dalam pendidikan.
Jenkins, H., Purushotma, R., Weigel, M., Clinton, K., & Robison, A. J. (2009). Confronting the Challenges of
Participatory Culture: Media Education for the 21st Century. MIT Press. Fokus: Literasi digital dan
pendidikan abad ke-21.
Bawden, D. (2008). Origins and Concepts of Digital Literacy. In L. A. Lankshear & M. Knobel (Eds.), Digital
Literacies: Concepts, Policies and Practices (pp. 17-32). Peter Lang. Fokus: Literasi digital dalam konteks
pendidikan.
Eady, M. J., & Lockyer, L. (2013). Tools for Learning: Technology and Teaching Strategies. Learning to Teach in
the Primary School, 71-89. Fokus: Strategi integrasi teknologi dalam pengajaran.
Popenici, S. A. D., & Kerr, S. (2017). Exploring the Impact of Artificial Intelligence on Teaching and Learning in
Higher Education. Research and Practice in Technology Enhanced Learning, 12(1), 1-13. Fokus: Dampak
AI pada pembelajaran di pendidikan tinggi.
Hargreaves, A., & Fullan, M. (2012). Professional Capital: Transforming Teaching in Every School. Teachers
College Press. Fokus: Modal profesional guru dalam konteks modern.
Prensky, M. (2010). Teaching Digital Natives: Partnering for Real Learning. Corwin Press. Fokus: Pendekatan guru
dalam mengajar generasi digital.
Tapscott, D. (2009). Grown Up Digital: How the Net Generation is Changing Your World. [Link]:
Dampak generasi digital terhadap pendidikan.
Rosenberg, M. J. (2001). E-Learning: Strategies for Delivering Knowledge in the Digital Age. McGraw-Hill
[Link]: Strategi e-learning untuk pendidikan di era digital.
13
MODUL AJAR
PEDAGOGIK
TOPIK 8
Penulis:
Prof. Dr. Christiana D.W. Sahertian, [Link]
A. Definisi
Guru profesional adalah pendidik yang memiliki kompetensi dan keterampilan yang diakui secara formal
melalui pendidikan, pelatihan, dan sertifikasi, serta mampu menjalankan perannya secara bertanggung jawab, etis,
dan berorientasi pada pengembangan peserta didik. Guru profesional tidak hanya menguasai materi ajar tetapi
juga memiliki kemampuan pedagogis, sosial, kepribadian, dan profesionalisme yang terintegrasi dalam aktivitas
pengajaran. Menurut Undang-Undang Guru dan Dosen No. 14 Tahun 2005 Pasal 1 Ayat 1: "Guru profesional
adalah pendidik dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan
mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan
pendidikan menengah." Sedangkan Era Digital dan Artificial Intelligence (AI). 1) Era Digital: Ditandai dengan
pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) secara luas dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk
pendidikan. Perangkat digital, seperti komputer, tablet, dan internet, menjadi alat utama dalam proses
pembelajaran. 2) Artificial Intelligence (AI): Mengacu pada teknologi yang memungkinkan mesin atau sistem
komputer untuk melakukan tugas-tugas yang biasanya membutuhkan kecerdasan manusia, seperti pemrosesan
data besar (big data), analisis prediktif, dan pembelajaran mesin (machine learning).
Berdasarkan hal ini maka Guru profesional di era digital adalah pendidik yang memiliki kompetensi
pedagogik, profesional, sosial, dan kepribadian dalam mengajar serta mampu mengintegrasikan teknologi digital
secara efektif untuk meningkatkan kualitas pembelajaran (Mishra & Koehler, 2006). Mishra & Koehler (2006) dalam
model TPACK, seorang guru profesional di era digital harus memiliki keseimbangan antara penguasaan teknologi,
strategi pembelajaran, dan materi ajar. Guru profesional di era digital adalah pendidik yang tidak hanya menguasai
kompetensi dasar keguruan (pedagogik, profesional, sosial, dan kepribadian), tetapi juga memiliki keterampilan
dalam memanfaatkan teknologi digital untuk meningkatkan efektivitas pembelajaran, mengembangkan metode
pengajaran inovatif, serta membangun interaksi yang lebih dinamis dengan peserta didik melalui berbagai platform
digital (UNESCO, 2018). Menurut Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI (2020), guru profesional di era
digital adalah individu yang mampu menggunakan teknologi informasi dan komunikasi secara optimal dalam
perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi pembelajaran guna meningkatkan kualitas pendidikan.
Guru profesional di era Artificial Intelligence (AI) adalah pendidik yang memiliki keterampilan dalam
memanfaatkan teknologi berbasis kecerdasan buatan untuk meningkatkan efektivitas pengajaran, personalisasi
pembelajaran, dan pengembangan strategi pembelajaran inovatif (Luckin, 2018). Guru profesional di era Artificial
Intelligence (AI) adalah pendidik yang memiliki kemampuan untuk mengintegrasikan teknologi kecerdasan buatan
dalam pembelajaran guna meningkatkan pengalaman belajar yang lebih personal, adaptif, dan berbasis data,
tanpa menghilangkan peran utama sebagai fasilitator, motivator, dan mentor bagi peserta didik (Luckin, 2018).
Menurut Luckin (2018), peran guru tidak dapat sepenuhnya digantikan oleh AI, karena kecerdasan buatan hanya
mampu mengotomatisasi aspek-aspek tertentu dalam pengajaran. Oleh karena itu, guru profesional di era AI harus
mampu berkolaborasi dengan teknologi untuk mengoptimalkan pengajaran, meningkatkan kreativitas peserta didik,
dan memberikan bimbingan yang lebih mendalam terkait aspek sosial-emosional. Menurut Holmes et al. (2019),
guru profesional di era AI adalah mereka yang mampu memahami dan menerapkan teknologi kecerdasan buatan
seperti adaptive learning, chatbot edukatif, intelligent tutoring system (ITS), dan analitik pembelajaran untuk
menciptakan proses belajar yang lebih efektif dan efisien.
Berdasarkan hal di atas maka Guru Profesional di Era Digital dan AI adalah pendidik yang: a) Menguasai
Kompetensi Digital: Mampu menggunakan teknologi digital dan kecerdasan buatan untuk merancang,
2
melaksanakan, dan mengevaluasi pembelajaran. Mengintegrasikan teknologi dalam proses pembelajaran untuk
menciptakan pengalaman belajar yang menarik dan relevan. b) Adaptif dan Responsif Terhadap Perubahan
Teknologi: Mampu beradaptasi dengan cepat terhadap perkembangan teknologi dan platform digital.
Memanfaatkan kecerdasan buatan untuk mendukung analisis data siswa dan peningkatan efektivitas
pembelajaran. c)Menerapkan Literasi Digital dan Etika Teknologi: Memahami dan mengajarkan keamanan
siber, etika digital, serta cara memilah informasi yang kredibel di era banjir informasi. Mendorong siswa untuk
menggunakan teknologi secara bertanggung jawab. d)Berperan Sebagai Fasilitator Pembelajaran:
Memposisikan diri bukan hanya sebagai sumber pengetahuan, tetapi juga sebagai fasilitator yang membantu siswa
mengakses, mengevaluasi, dan menerapkan pengetahuan dari berbagai sumber digital. Membangun lingkungan
belajar yang kolaboratif dengan memanfaatkan platform digital. e) Berorientasi pada Pengembangan
Berkelanjutan (Lifelong Learning): Selalu meningkatkan kompetensi melalui pelatihan digital, workshop, atau
platform pembelajaran daring. Terbuka terhadap inovasi dan pendekatan baru dalam pembelajaran. Perbedaan
dan Persamaan Karakteristik Guru Profesional di Era Digital dan Artificial Intelligence (AI).
Perkembangan teknologi digital dan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) telah membawa
perubahan signifikan dalam dunia pendidikan. Guru profesional di era ini harus mampu beradaptasi dengan
perubahan teknologi agar dapat mengajar secara efektif. Namun, terdapat beberapa persamaan dan perbedaan
karakteristik antara guru profesional di era digital dan era AI. Ditinjau dari segi persamaan, maka karakteristik
Karakteristik Guru Profesional di Era Digital dan AI yaitu:
a) Penguasaan Teknologi dalam Pembelajaran.
▪ Baik di era digital maupun era AI, guru harus memanfaatkan teknologi dalam proses pembelajaran.
▪ Di era digital, guru menggunakan perangkat seperti Learning Management System (LMS), e-book, dan
media interaktif.
▪ Di era AI, guru juga menggunakan chatbot pendidikan, analisis data AI, dan pembelajaran adaptif untuk
meningkatkan efektivitas pengajaran.
b) Adaptasi terhadap Perubahan Teknologi.
▪ Guru di kedua era ini harus mampu beradaptasi dengan teknologi baru agar tetap relevan dalam dunia
pendidikan.
▪ Mereka perlu mengikuti pelatihan terkait literasi digital dan AI dalam Pendidikan.
c) Berperan sebagai Fasilitator Pembelajaran.
▪ Di era digital, guru tidak lagi menjadi satu-satunya sumber informasi karena siswa dapat mengakses
berbagai materi melalui internet.
▪ Di era AI, guru berperan lebih sebagai fasilitator yang memandu dan mengarahkan siswa dalam
menggunakan teknologi secara efektif.
d) Meningkatkan Keterampilan Kritis dan Kolaboratif.
▪ Guru harus mendorong siswa untuk berpikir kritis dan kreatif dalam menggunakan teknologi.
▪ Penggunaan teknologi, baik digital maupun AI, memfasilitasi pembelajaran berbasis proyek dan kolaborasi
dalam skala global.
e) Etika dan Keamanan dalam Penggunaan Teknologi.
▪ Guru di kedua era ini harus memahami privasi digital, keamanan data siswa, dan etika dalam penggunaan
teknologi.
▪ Mereka bertanggung jawab dalam memberikan pemahaman kepada siswa mengenai penggunaan teknologi
secara etis dan bertanggung jawab.
Selain persamaan karakteristik yang dikemukakan di atas, maka pada bagian ini dikemukakan perbedaan
Karakteristik Guru Profesional di Era Digital dan AI sebagaimana dikemukakan pada tabel berikut ini.
3
Tabel 8.1 Perbedaan Karakteristik Guru Profesional di Era Digital dan AI
Guru Profesional di Era Artificial
No Aspek Guru Profesional di Era Digital
Intelligence (AI)
Teknologi berbasis AI seperti chatbot
Teknologi yang Teknologi berbasis internet, seperti e-
1 pembelajaran, analisis data otomatis, dan
Digunakan learning, multimedia, dan aplikasi interaktif.
personalisasi pembelajaran.
2 Peran Guru Masih menjadi pengajar utama dengan Lebih berperan sebagai fasilitator karena AI
menggunakan teknologi digital sebagai alat dapat memberikan materi dan umpan balik
bantu. otomatis kepada siswa
3 Metode Pembelajaran Berbasis teknologi digital seperti video, Berbasis pembelajaran adaptif, di mana AI
presentasi interaktif, dan LMS. Guru masih menyesuaikan materi berdasarkan
melakukan pengontrolan. kemampuan/ sesuai kebutuhan siswa.
4 Evaluasi Pembelajaran AI dapat melakukan evaluasi secara
Guru melakukan evaluasi secara manual
otomatis, menganalisis kesulitan siswa, dan
dengan bantuan digital, seperti kuis online
memberikan rekomendasi pembelajaran
dan tes berbasis komputer.
personalisasi.
5 Interaksi dengan Siswa AI dapat menjadi asisten pembelajaran
Guru masih menjadi pusat interaksi dalam
dalam bentuk chatbot atau tutor virtual yang
kelas digital, meskipun menggunakan alat
memberikan penjelasan mandiri kepada
teknologi
siswa.
AI menganalisis pola belajar siswa secara
Data digunakan dalam bentuk sederhana,
6 Penggunaan Data mendalam untuk memberikan rekomendasi
seperti rekam jejak digital siswa di LMS.
personalisasi.
7 Perencanaan Guru menyusun kurikulum dan materi AI dapat membantu dalam menyusun
Pembelajaran pembelajaran secara manual dengan kurikulum berdasarkan kebutuhan dan
bantuan teknologi digital. tingkat kesulitan siswa.
8 Tantangan Kesulitan dalam menguasai dan Perlu memahami machine learning, data
mengadaptasi teknologi digital. analytics, dan etika AI dalam pendidikan
Guru profesional di era digital dan era AI memiliki persamaan dalam penguasaan teknologi, peran sebagai
fasilitator, serta adaptasi terhadap perubahan teknologi. Namun, terdapat perbedaan dalam metode pengajaran,
penggunaan data, dan evaluasi pembelajaran. Di era digital, guru masih menjadi pengajar utama, sedangkan di
era AI, guru lebih berperan sebagai fasilitator yang mengelola pembelajaran berbasis AI. Oleh karena itu, guru
harus terus meningkatkan kompetensinya dalam literasi digital dan AI agar tetap relevan di dunia pendidikan yang
terus berkembang.
Namun demikian, guru profesional di era digital dan AI menghadapi tantangan yang serius sebagai dampak
dari perkembangan ilmu dan teknologi. Kemajuan teknologi digital dan AI membawa berbagai tantangan bagi guru,
di antaranya: a) Perubahan Metode Pembelajaran: Pembelajaran berbasis digital menuntut guru untuk menguasai
teknologi, seperti Learning Management System (LMS), media interaktif, dan alat berbasis AI; b) Kesiapan Literasi
Digital: Banyak guru yang belum memiliki keterampilan literasi digital yang memadai untuk memanfaatkan teknologi
dalam pembelajaran; c) Persaingan dengan AI: AI telah mampu menggantikan beberapa peran tradisional guru,
seperti memberikan umpan balik otomatis, menjelaskan materi dengan chatbot, dan memberikan analisis data
siswa. d)Tantangan Etika dan Keamanan Data: Guru harus memahami etika dalam penggunaan AI dan menjaga
keamanan data siswa dalam pembelajaran berbasis digital.
Selain tantangan yang dikemukakan, ada juga peluang Guru Profesional di Era Digital dan AI antara lain:
a) Personalisasi Pembelajaran: AI dapat membantu guru dalam menyesuaikan metode pengajaran sesuai
dengan kebutuhan setiap siswa berdasarkan analisis data.
b) Sumber Belajar yang Luas: Guru dapat mengakses berbagai sumber belajar berbasis digital, seperti kursus
online, webinar, dan forum diskusi akademik.
c) Efisiensi dan Inovasi dalam Pembelajaran: AI dapat digunakan untuk otomatisasi tugas administratif,
sehingga guru dapat lebih fokus pada pengajaran dan interaksi dengan siswa.
4
d) Kolaborasi dan Pengembangan Diri: Platform digital memungkinkan guru untuk berkolaborasi dengan
pendidik lain di seluruh dunia serta mengembangkan keterampilan mereka melalui berbagai pelatihan online.
2. Teori Pendidikan Sebagai Rujukan Guru Profesional di Era Digital dan Artificial Intelligence (AI)
a) Teori Konektivisme (George Siemens & Stephen Downes).
Teori konektivisme menekankan pentingnya jaringan pengetahuan dalam era digital. Pengetahuan bukan
lagi terbatas pada buku atau guru, tetapi tersebar dalam jaringan teknologi, termasuk internet, media sosial, dan
platform pembelajaran digital. Teori Konektivisme dikemukakan oleh George Siemens dan Stephen Downes
sebagai respons terhadap perkembangan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) yang pesat dan pengaruhnya
terhadap pembelajaran di era digital. Siemens pertama kali memperkenalkan teori ini dalam esainya yang berjudul
"Connectivism: A Learning Theory for the Digital Age" (2005). Inti Pemikiran Teori Konektivisme: Pengetahuan
tersebar: Pengetahuan tidak hanya berada di dalam pikiran individu, tetapi juga di berbagai perangkat digital,
jaringan, dan lingkungan teknologi. Belajar melalui koneksi: Pembelajaran terjadi melalui pembuatan dan
5
pemeliharaan koneksi antar sumber informasi dan orang. Peran teknologi: Teknologi bukan sekadar alat bantu,
melainkan bagian integral dari proses pembelajaran itu sendiri. Kemampuan memilah informasi: Di era digital,
kemampuan untuk memilah, memahami, dan mengevaluasi informasi dari berbagai sumber adalah keterampilan
penting. Prinsip-prinsip dasar teori Konektivisme, antara lain: (a) belajar adalah proses membentuk koneksi antar
simpul (nodes): Simpul ini bisa berupa orang, organisasi, teknologi, atau sumber daya digital; (b) kemampuan untuk
melihat koneksi antar bidang, ide, dan konsep adalah keterampilan inti. Pemeliharaan koneksi sangat penting untuk
pembelajaran berkelanjutan; (c) akurasi dan relevansi informasi sangat penting dalam proses pembelajaran; dan
(d) keputusan dalam pembelajaran sering didasarkan pada informasi yang terus berubah. Profesionalisme Guru
dalam Perspektif Teori Konektivisme, yaitu:
Guru sebagai Fasilitator Jaringan Pengetahuan. Guru tidak lagi hanya menjadi satu-satunya sumber
pengetahuan, tetapi bertindak sebagai fasilitator yang membantu siswa membangun koneksi antar informasi
yang relevan. Guru perlu memandu siswa untuk mengakses, menganalisis, dan memvalidasi informasi dari
berbagai platform digital.
Literasi Digital sebagai Kompetensi Inti Guru. Guru harus memiliki keterampilan literasi digital yang mencakup
pemahaman teknologi, evaluasi sumber informasi, dan etika digital. Keterampilan literasi digital
memungkinkan guru untuk membantu siswa memilah dan menggunakan informasi yang kredibel di dunia
maya.
Pembelajaran Berbasis Jaringan (Network-Based Learning). Guru harus mampu memanfaatkan teknologi
seperti Learning Management Systems (LMS), platform pembelajaran online, dan media sosial sebagai sarana
untuk membangun pembelajaran kolaboratif. Pembelajaran berbasis jaringan mendorong kolaborasi antar
siswa dan guru di berbagai lokasi geografis.
Adaptasi Terhadap Perubahan Teknologi. Guru di era AI harus mampu beradaptasi dengan cepat terhadap
perkembangan teknologi baru yang memengaruhi metode dan strategi pengajaran. AI dapat digunakan oleh
guru untuk mempersonalisasi pengalaman belajar siswa berdasarkan kebutuhan dan kemampuan mereka.
Penekanan pada "Belajar Sepanjang Hayat" (Lifelong Learning). Guru profesional di era digital dan AI harus
menjadi pembelajar sepanjang hayat untuk mengikuti perkembangan teknologi dan pedagogi. Mereka harus
terus memperbarui pengetahuan dan keterampilan mereka melalui platform pembelajaran online dan
komunitas profesional digital.
Implementasi Teori Konektivisme dalam Praktik Guru Profesional di Era Digital dan AI, antara lain:
Penggunaan Platform Pembelajaran Digital: Guru dapat memanfaatkan platform seperti Google Classroom,
Moodle, atau Kahoot! untuk membangun konektivitas antara siswa dan sumber belajar.
Kolaborasi Digital: Guru dapat mengajak siswa untuk berkolaborasi melalui platform seperti Padlet, Trello, atau
Zoom. Pembelajaran kolaboratif ini memperluas koneksi antar siswa dan guru lintas daerah bahkan negara.
Analisis Data dengan AI: Guru menggunakan sistem AI untuk menganalisis performa siswa dalam
pembelajaran daring dan memberikan umpan balik yang lebih spesifik.
Pengembangan Konten Digital: Guru dapat membuat materi pembelajaran digital seperti video edukatif,
podcast, atau modul interaktif untuk disebarkan melalui platform online.
Mendorong Siswa Membangun Jejaring Belajar Sendiri: Guru dapat membimbing siswa untuk memanfaatkan
platform seperti LinkedIn Learning atau Coursera untuk belajar secara mandiri.
Tantangan dalam Mengadopsi Teori Konektivisme dalam Profesionalisme Guru
Kesenjangan Teknologi: Tidak semua guru memiliki akses ke teknologi yang memadai.
Kurangnya Literasi Digital di Kalangan Guru: Banyak guru yang belum memiliki keterampilan literasi digital
yang memadai.
Ketergantungan pada Teknologi: Guru mungkin terlalu bergantung pada teknologi, mengabaikan aspek
kemanusiaan dalam pengajaran.
Kualitas Informasi Digital: Tantangan dalam memilah informasi yang valid dan dapat dipercaya.
6
Terhadap hal ini ada beberapa Solusi, antara lain:
1) Pelatihan guru secara berkala terkait literasi digital dan keterampilan teknologi.
2) Penyediaan infrastruktur teknologi yang memadai di sekolah.
3) Pengembangan kurikulum yang mengintegrasikan teori konektivisme dengan praktik di kelas.
7
7) Technological Pedagogical Content Knowledge (TPACK): 1) Integrasi antara pengetahuan konten,
pedagogi, dan teknologi secara harmonis. 2) Guru memahami bagaimana memilih teknologi yang tepat untuk
konten tertentu dan menyampaikannya dengan metode pengajaran yang efektif. Contoh: Menggunakan
perangkat lunak simulasi kimia untuk menjelaskan reaksi kimia dengan metode berbasis proyek.
Pentingnya TPACK untuk Guru Profesional di Era Digital dan AI: (1) Integrasi Teknologi yang Efektif:
Guru dapat memadukan teknologi dengan konten dan metode pengajaran secara seimbang; (2) Peningkatan
Kualitas Pembelajaran: Proses belajar menjadi lebih menarik, efektif, dan relevan dengan kebutuhan siswa; (3)
Personalisasi Pembelajaran: Teknologi memungkinkan guru menyesuaikan pembelajaran dengan kebutuhan
spesifik setiap siswa; (4) Kesiapan Menghadapi Era AI: Guru dapat memanfaatkan AI untuk analisis data hasil
belajar siswa dan memberikan umpan balik yang lebih spesifik; dan (5) Peningkatan Kolaborasi dan Kreativitas:
Teknologi mendukung pembelajaran kolaboratif dan inovatif. Sementara itu, tantangan Implementasi TPACK di
Sekolah, antara lain:
1) Keterbatasan Infrastruktur Teknologi: Tidak semua sekolah memiliki perangkat teknologi yang
memadai.
2) Kesenjangan Literasi Digital Guru: Tidak semua guru siap dan mampu mengintegrasikan teknologi ke
dalam pembelajaran.
3) Ketergantungan pada Teknologi: Guru mungkin cenderung mengandalkan teknologi tanpa
memperhatikan aspek pedagogis dan konten.
4) Kurangnya Pelatihan dan Dukungan Teknis: Guru memerlukan pelatihan yang berkelanjutan tentang
penggunaan teknologi dalam pengajaran.
5) Solusi untuk hal ini adalah: 1) Pelatihan guru yang berkelanjutan tentang TPACK. 2) Penyediaan
infrastruktur teknologi yang memadai. 3) Pengembangan kurikulum yang terintegrasi dengan teknologi.
Disimpulkan bahwa 1) TPACK adalah kerangka yang membantu guru memahami hubungan antara
konten, pedagogi, dan teknologi dalam pengajaran. 2) Guru di era digital dan AI harus mampu mengintegrasikan
ketiga elemen ini untuk menciptakan lingkungan belajar yang efektif, inklusif, dan inovatif. 3) Implementasi TPACK
memerlukan pelatihan berkelanjutan, infrastruktur yang memadai, dan dukungan kebijakan pendidikan yang
progresif. 4) TPACK bukan hanya tentang teknologi, tetapi tentang bagaimana teknologi dapat memperkaya
praktik pedagogis dan meningkatkan efektivitas penyampaian konten pendidikan.
2. Konsep Pembelajaran Guru Profesional di Era Digital dan Artificial Intelligence (AI)
Transformasi pendidikan di era digital dan kemunculan Artificial Intelligence (AI) telah membawa
perubahan mendasar dalam dunia pendidikan. Guru profesional di era ini tidak lagi sekadar menjadi pemberi
informasi, tetapi juga sebagai fasilitator pembelajaran, inovator pendidikan, dan pengelola lingkungan belajar
berbasis teknologi. Konsep pembelajaran yang efektif di era digital dan AI mengharuskan guru untuk
mengintegrasikan teknologi digital dan AI dengan pendekatan pedagogis yang sesuai.
a) Pembelajaran Berbasis Teknologi Digital
▪ Menggunakan Learning Management System (LMS) sebagai platform utama dalam penyampaian
materi, diskusi, dan evaluasi.
▪ Integrasi perangkat digital seperti tablet, laptop, atau smartphone untuk mendukung proses belajar.
▪ Penggunaan konten multimedia untuk meningkatkan daya tarik pembelajaran.
Contoh Praktik: Guru menggunakan Google Classroom untuk membagikan materi, memberikan tugas, dan
menilai hasil pekerjaan siswa.
b) Pembelajaran Adaptif Berbasis AI (Adaptive Learning)
▪ Sistem AI menyesuaikan konten, kecepatan, dan pendekatan pembelajaran berdasarkan kebutuhan
setiap siswa.
8
▪ Guru memanfaatkan Learning Analytics untuk memahami perkembangan dan kesulitan siswa secara
individual.
▪ Penggunaan chatbot atau asisten virtual untuk membantu siswa memahami materi di luar jam pelajaran.
Contoh Praktik: Platform seperti Khan Academy dan Duolingo menggunakan AI untuk menyesuaikan tingkat
kesulitan materi sesuai kemampuan siswa.
c) Pembelajaran Kolaboratif Digital (Collaborative Learning)
▪ Siswa bekerja dalam kelompok menggunakan alat digital seperti Padlet, Trello, atau Zoom.
▪ Membangun keterampilan komunikasi, kerja tim, dan pemecahan masalah dengan bantuan teknologi.
Contoh Praktik: Siswa menggunakan Padlet untuk berbagi ide dalam proyek kelompok dan mendiskusikan solusi
bersama.
d) Pembelajaran Berbasis Proyek (Project-Based Learning)
▪ Siswa belajar dengan cara memecahkan masalah nyata menggunakan teknologi digital.
▪ Guru membimbing siswa untuk memanfaatkan AI dalam penelitian dan analisis data.
Contoh Praktik:Siswa merancang proyek lingkungan menggunakan perangkat lunak analisis data dan menyusun
laporan digital.
e) Peran AI Dalam Mendukung Guru Profesional
▪ Pembelajaran Adaptif: AI menyesuaikan materi sesuai dengan kecepatan belajar siswa.
▪ Analisis Data Pembelajaran: Guru dapat memantau perkembangan siswa secara lebih mendalam
dengan bantuan AI.
▪ Asisten Virtual: Chatbot AI dapat membantu siswa dalam menjawab pertanyaan mendasar tentang
tugas atau materi.
▪ Penilaian Otomatis: AI dapat membantu dalam penilaian kuis atau tugas yang bersifat objektif.
▪ Pembuatan Konten Digital: Guru dapat menggunakan AI untuk membuat materi ajar yang lebih
menarik dan interaktif.
9
b) Teknologi digital dan AI bukan pengganti peran guru, tetapi alat yang dapat meningkatkan kualitas
pembelajaran.
c) Pembelajaran adaptif, kolaboratif, dan berbasis proyek adalah pendekatan utama dalam pendidikan
era digital.
d) Tantangan seperti kesenjangan digital dan keamanan data harus diatasi melalui pelatihan yang
berkelanjutan dan kebijakan pendidikan yang bijak.
5. Guru sebagai fasilitator, mediator, dan inovator dalam pembelajaran berbasis teknologi dan AI
6.1 Fakta Literatur
Perkembangan teknologi digital dan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) telah merevolusi dunia
pendidikan, terutama dalam cara guru mendidik dan siswa belajar. Guru profesional di era ini dihadapkan pada
tuntutan untuk tidak hanya menguasai materi ajar dan metode pengajaran, tetapi juga memiliki kompetensi digital
dan pemahaman yang mendalam tentang AI. Teori belajar modern menekankan bahwa teknologi bukan
sekadar alat bantu, tetapi ekosistem yang terintegrasi dalam proses pembelajaran. Guru profesional dituntut
untuk menjadi fasilitator, inovator, dan mediator yang mampu mengelola lingkungan belajar berbasis teknologi
dengan baik. Fakta Literatur tentang Pendekatan Guru Profesional di Era Digital dan AI, yaitu dengan
pendekatan beberapa teori pembelajaran yang telah dijelaskan di atas, antara lain:
a) Teori Konektivisme (George Siemens & Stephen Downes). Dasar atau Inti Teori adalah Pengetahuan
dibangun melalui koneksi antar simpul (node) informasi di lingkungan digital. Dalam teori ini Peran Guru:
Sebagai fasilitator yang membantu siswa membangun jaringan pengetahuan melalui sumber digital.
Implementasinya Menggunakan Learning Management Systems (LMS) seperti Google Classroom dan
Moodle. Referensi: Siemens, G. (2005). Connectivism: A Learning Theory for the Digital Age.
b) Teori Teknologi Pedagogi Konten (TPACK - Technological Pedagogical Content Knowledge) Inti Teori:
Integrasi antara pengetahuan teknologi, pedagogi, dan konten untuk menciptakan pengalaman belajar yang
efektif. Peran Guru: Memilih dan menggunakan teknologi yang sesuai dengan materi pelajaran dan strategi
pedagogis. Implementasi: Menggunakan aplikasi pembelajaran berbasis AI untuk mengajarkan materi
spesifik. Referensi: Mishra, P., & Koehler, M. J. (2006). Technological Pedagogical Content Knowledge: A
Framework for Teacher Knowledge.
c) Teori Pembelajaran Adaptif (Adaptive Learning Theory) Inti Teori: Teknologi AI digunakan untuk
menyesuaikan konten, kecepatan, dan metode pembelajaran sesuai dengan kemampuan dan kebutuhan
individu siswa. Peran Guru: Menggunakan data analitik untuk memahami pola belajar siswa dan memberikan
bimbingan yang dipersonalisasi. Implementasi: Platform seperti Khan Academy dan DreamBox Learning.
Referensi: Luckin, R., Holmes, W., Griffiths, M., & Forcier, L. B. (2016). Intelligence Unleashed: An argument
for AI in education.
d) Teori Konstruktivisme (Jean Piaget & Lev Vygotsky). Inti Teori: Pembelajaran terjadi ketika siswa
membangun pengetahuan melalui pengalaman langsung dan interaksi sosial. Peran Guru: Fasilitator yang
menciptakan lingkungan belajar yang mendorong eksplorasi dan diskusi aktif. Implementasi: Menggunakan
alat kolaborasi digital seperti Padlet dan Trello. Referensi: Vygotsky, L. S. (1978). Mind in Society: The
Development of Higher Psychological Processes.
10
e) Literasi Digital (Paul Gilster, 1997). Inti Teori: Literasi digital adalah kemampuan berpikir kritis dalam
memahami, mengevaluasi, dan menggunakan informasi digital secara bertanggung jawab. Peran Guru:
Mengajarkan siswa cara memilah informasi yang kredibel dan menggunakan teknologi secara etis.
Implementasi: Membangun kesadaran keamanan digital, etika digital, dan penggunaan media sosial yang
bertanggung jawab. Referensi: Gilster, P. (1997). Digital Literacy.
Kesimpulan Fakta Literatur:
1) Guru profesional di era digital dan AI harus mengintegrasikan teknologi, pedagogi, dan konten secara
efektif (TPACK).
2) Teori konektivisme, konstruktivisme, dan literasi digital adalah fondasi penting dalam pendidikan modern.
3) Pembelajaran adaptif dengan AI dapat meningkatkan personalized learning dan efektivitas pendidikan.
4) Tantangan seperti kesenjangan teknologi, keamanan data, dan kesiapan guru harus diatasi dengan
pelatihan dan kebijakan yang tepat.
5) Guru tidak hanya sebagai pendidik, tetapi juga sebagai fasilitator, inovator, dan mediator pembelajaran
berbasis teknologi.
Metode Pembelajaran:
▪ Blended Learning (Kombinasi Tatap Muka & Digital)
▪ Diskusi Kelompok
▪ Pembelajaran Berbasis Proyek (Project-Based Learning)
11
▪ Digital Interactive Learning
4 Konfirmasi & Refleksi 1. Guru menyimpulkan materi dengan - Google Docs / Google Forms untuk
(15 Menit) menekankan bahwa Allah selalu memelihara refleksi individu.
orang yang percaya kepada-Nya. - Quizizz atau Edmodo untuk tes formatif
2. Siswa menuliskan refleksi pribadi: singkat.
"Bagaimana saya mengalami pemeliharaan
Allah dalam hidup saya?"
3. Guru menutup dengan doa dan memberikan
tantangan kepada siswa untuk mencatat berkat
harian sebagai bukti pemeliharaan Allah selama
seminggu ke depan.
Asesmen Pembelajaran
1. Asesmen Diagnostik:
▪ Melakukan diskusi awal tentang pengalaman siswa dalam menghadapi kekhawatiran.
2. Asesmen Formatif:
▪ Kahoot Quiz tentang Mazmur 23 dan Matius 6:25-34.
▪ Poster/video refleksi tentang pemeliharaan Allah.
3. Asesmen Sumatif
▪ Tes tertulis tentang pemeliharaan Allah dalam kehidupan berdasarkan Alkitab dan pengalaman pribadi.
Rancangan sintaks pembelajaran ini mengombinasikan teknologi digital dengan pengalaman iman untuk
membantu siswa memahami dan mengalami Allah sebagai Pemelihara dalam kehidupan mereka. Dengan metode
blended learning, siswa dapat lebih aktif, reflektif, dan kreatif dalam pembelajaran Pendidikan Agama Kristen.
12
Rancangan Sintaks Pembelajaran Pendidikan Agama Kristen di Era AI
Tujuan Pembelajaran:
Setelah mengikuti pembelajaran ini, siswa mampu:
1) Memahami konsep Allah sebagai Pemelihara berdasarkan Mazmur 23 dan Matius 6:25-34.
2) Menganalisis pemeliharaan Allah dalam kehidupan nyata menggunakan teknologi AI sebagai alat bantu
eksplorasi.
3) Menerapkan nilai iman dalam kehidupan sehari-hari dengan membuat refleksi digital tentang pemeliharaan
Allah.
13
Tabel 8.4 Asesmen Pembelajaran Berbasis AI
TEKNOLOGI AI YANG
JENIS ASESMEN INSTRUMEN
DIGUNAKAN
Kuis awal untuk mengetahui pemahaman awal siswa Quizizz AI / Kahoot AI untuk kuis
Asesmen Diagnostik
tentang Allah sebagai Pemelihara. berbasis AI.
Diskusi interaktif berbasis AI chatbot untuk mengukur AI Chatbot for Learning untuk
Asesmen Formatif
pemahaman ayat Alkitab. membantu siswa berdiskusi.
Video proyek refleksi tentang pemeliharaan Allah dalam Canva AI / Synthesia AI untuk
Asesmen Sumatif
kehidupan sehari-hari. editing video refleksi siswa.
D. Kesimpulan
Sebagai guru profesional di era AI, pembelajaran Pendidikan Agama Kristen harus mengintegrasikan teknologi
digital secara bijaksana, tanpa kehilangan esensi iman, nilai spiritual, dan refleksi pribadi. Rancangan sintaks ini
memungkinkan siswa untuk mengalami pemeliharaan Allah melalui pembelajaran berbasis AI dan refleksi pribadi,
sekaligus memperkuat literasi teknologi dan etika dalam kehidupan sehari-hari.
E. Referensi
Hwang, G. J., Xie, H., Wah, B. W., & Gašević, D. (2020). Artificial Intelligence in Education: From Theories to
Practices.
Mishra, P., & Koehler, M. J. (2006). Technological Pedagogical Content Knowledge: A Framework for Teacher
Knowledge.
Puentedura, R. R. (2013). SAMR Model: A Guide for Bringing Technology into Education.
Selwyn, N. (2019). Should Robots Replace Teachers? AI and the Future of Education.
UNESCO (2022). Artificial Intelligence and Education: Guidance for Policy Makers. Referensi
Mishra, P., & Koehler, M. J. (2006). Technological Pedagogical Content Knowledge: A Framework for Teacher
Knowledge. Teachers College Record, 108(6), 1017-1054.
Puentedura, R. R. (2013). SAMR Model: A Guide for Bringing Technology into Education. EdTech Journal.
Hwang, G. J., Xie, H., Wah, B. W., & Gašević, D. (2020). Artificial Intelligence in Education: From Theories to
Practices. Computers & Education: Artificial Intelligence.
UNESCO. (2022). Artificial Intelligence and Education: Guidance for Policy Makers.
Selwyn, N. (2019). Should Robots Replace Teachers? AI and the Future of Education. Polity Press.
14