BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Diabetes Mellitus
1. Definisi
Diabetes Mellitus merupakan salah satu penyakit berbahaya yang
dikenal oleh masyarakat Indonesia dengan nama penyakit kencing manis.
Diabetes melitus (DM) adalah suatu kelompok penyakit metabolik dengan
karakteristik hiperglikemia yang terjadi karena kelainan sekresi insulin,
kerja insulin atau keduanya7. Definisi lain dari diabetes melitus adalah
kumpulan gejala yang timbul pada seseorang akibat kadar glukosa darah
yang tinggi (hiperglicemia), kadar glukosa darah tinggi disebabkan jumlah
hormon insulin yang kurang atau jumlah insulin cukup tetapi kurang efektif
(resistensi insulin) sehingga kadar glukosa darah yang tinggi dalam tubuh
tidak dapat diserap semua dan tidak dapat dipergunakan sebagai bahan
energi/tenaga dalam sel tubuh terutama sel otot. Akibatnya seseorang akan
kekurangan energi sehingga mudah lelah, banyak makan tetapi berat badan
terus menurun, sering buang air kecil dan banyak minum 13. Diabetes
mellitus ditandai dengan kadar glukosa dalam darah melebihi batas normal
dan gangguan metabolisme karbohidrat, lemak dan protein ditimbulkan
karena kadar insulin secara relatif. Pemeriksaan Glukosa Darah Sewaktu
(GDS) ≥ 200 mg/dl dan hasil pemeriksaan Glukosa Darah Puasa (GDP)≥
126 mg/dl juga dapat digunakan untuk pedoman diagnosis DM 22 .
Sementara glukosa setelah 2 jam makan (2 jam pp) adalah > 200 mg/dl 14
2. Klasifikasi Diabetes Mellitus
Organisasi profesi yang berhubungan dengan DM seperti American
Diabetes Association (ADA) telah membagi jenis DM berdasarkan
penyebabnya. PERKENI dan IDAI sebagai organisasi yang sama di
Indonesia menggunakan klasifikasi dengan dasar yang sama seperti
klasifikasi yang dibuat oleh organisasi yang lainnya 7
Klasifikasi DM berdasarkan etiologi menurut Perkeni (2019) adalah
sebagai berikut :
a. Diabetes Mellitus Tipe 1
DM yang terjadi karena kerusakan atau destruksi sel beta di
pankreas. Kerusakan ini berakibat pada keadaan defisiensi insulin
yang terjadi secara absolut. Penyebab dari kerusakan sel beta antara
lain autoimun dan idiopatik.
b. Diebets Mellitus Tipe 2
DM tipe 2 adalah jenis DM yang paling umum diderita oleh
penduduk di Indonesia. Kombinasi faktor risiko, resistensi insulin
dan sel-sel tidak menggunakan insulin secara efektif menyebabkan
DM tipe 215. Penyebab DM tipe 2 seperti yang diketahui adalah
resistensi insulin. Insulin dalam jumlah yang cukup tetapi tidak
dapat bekerja secara optimal sehingga menyebabkan kadar gula
darah tinggi di dalam tubuh. Defisiensi insulin juga dapat terjadi
secara relatif pada penderita DM tipe 2 dan sangat mungkin untuk
menjadi defisiensi insulin absolut. Gejala pada DM tipe ini secara
perlahan-lahan bahkan asimptomatik. Dengan pola hidup sehat,
yaitu mengonsumsi makanan bergizi seimbang dan olah raga secara
teratur biasanya penderita brangsur pulih. Penderita juga harus
mampu mepertahannkan berat badan yang normal. Namun pada
penerita stadium akhir kemungkinan akan diberikan suntik insulin 16.
c. Diabetes Mellitus Tipe Lain
Penyebab DM tipe lain sangat bervariasi. DM tipe ini dapat
disebabkan oleh defek genetik fungsi sel beta, defek genetik kerja
insulin, penyakit eksokrin pankreas, endokrinopati pankreas, obat,
zat kimia, infeksi, kelainan imunologi dan sindrom genetik lain yang
berkaitan dengan DM.
d. Diabetes Gestasional
Diabetes melitus gestasional (DMG) merupakan intoleransi
glukosa pada waktu kehamilan, pada wanita normal atau yang
mempunyai gangguan toleransi glukosa setelah terminasi
kehamilan.
3. Faktor Resiko DM
a. Gaya Hidup
Dengan kemajuan zaman, membuat manusia semakin
terdorong dengan gaya hidup modern yang tidak sehat. Kesibukan
mereka membuat tidak ada waktu untuk berolahraga, akibatnya,
sirkulasi darah dalam tubuh tidak normal. Selain itu, mereka yang
terbiasa mengonsumsi makanan instan atau makanan cepat saji yang
banyak mengandung garam dan penyedap rasa. Kandungan ini bila
di konsumsi rutin dan tidak diimbangi dengan pola hidup yang sehat,
akan menyebabkan terganggunya kesehatan, seperti kegemukan,
kolesterol,dan lain-lain. Inilah yang memicu terganngunya
metabolisme dalam tubuh, termasuk sensivitas insulin yang
menyebabkan DM17.
Gaya hidup menentukan besar kecilnya risiko seseorang
untuk terkena diabetes. Selain pola makan, aktivitas yang dilakukan
oleh seseorang juga merupakan gaya hidup. Gaya hidup yang salah
akan memberikan dampak negatif bagi kesehatan termasuk juga
aktivitas yang kurang18.
b. Obesitas
Obesitas atau kelebihan berat badan disebabkan oleh
timbunan lemak yang tidak positif bagi tubuh. Seperti kolesterol,
lemak juga akan menyerap produksi insulin pankreas secara habis-
habisan sehingga tubuh tidak kebagian insulin untuk di produksi
sebagai energi19.
c. Usia
Faktor usia merupakan faktor yang tidak dapat dimodifikasi
atau direkayasa. Orang dengan usia 40 tahun mulai memiliki risiko
terkena diabetes. Semakin bertambahnya usia, maka semakin besar
pula risiko seseorang mengalami diabetes melitus tipe 2. Menua
merupakan proses menghilangnya secara perlahan-lahan
kemampuan jaringan untuk memperbaiki, mengganti diri, dan
mempertahankan struktur dan fungsi normalnya. Menua ditandai
dengan kehilangan secara progresif jaringan aktif tubuh yang sudah
dimulai sejak usia 40 tahun disertai dengan menurunnya
metabolisme basal sebesar 2% setiap tahunnya yang disertai dengan
perubahan di semua sistem di dalam tubuh manusia20.
d. Riwayat Keluarga
Diabetes merupakan penyakit yang memiliki faktor risiko
genetik. Memiliki riwayat diabetes dalam keluarga, maka risiko
seseorang untuk terkena penyakit Glukosa darah menjadi lebih
tinggi jika dibandingkan dengan orang yang tidak memiliki riwayat
kencing manis dalam keluarga20.
e. Riwayat DM pada Kehamilan
Seorang ibu yang hamil akan menambah konsumsi
makanannya, sehingga berat badannya mengalami peningkatan 7-10
kg, saat makanan ibu ditambah konsumsinya tetapi produksi insulin
kurang mencukupi maka akan terjadi DM21. Memiliki riwayat
diabetes gestational pada ibu yang sedang hamil dapat
meningkatkan resiko DM22.
4. Pencegahan Diabetes Mellitus
Menurut Noor (2002) terdapat beberapa tingkat pencegahan
diabetes mellitus, yaitu sebagai berikut 23
a) Pencegahan Tingkat Dasar
Pencegahan tingkat dasar (primordial prevention) adalah usaha
mencegah terjadinya resiko atau mempertahankan keadaan resiko
rendah dalam masyarakat terhadap penyakit secara umum.
Pencegahan ini meliputi usaha memelihara dan mempertahankan
kebiasaan atau perilaku hidup sehat yang dapat mencegah atau
mengurangi tingkat resiko terhadap suatu penyakit tertentu. Sasaran
pencegahan tingkat dasar ini terutama pada kelompok masyarakat
berusia muda dan remaja dengan tidak mengabaikan orang dewasa
dan kelompok manual.
b) Pencegahan Tingkat Pertama
Pencegahan tingkat pertama (primary prevention) adalah upaya
mencegah agar tidak timbul penyakit diabetes mellitus. Tindakan
yang dilakukan untuk pencegahan primer meliputi penyuluhan
mengenai perlunya pengaturan gaya hidup sehat sedini mungkin
seperti mempertahankan perilaku makan seharihari yang sehat dan
seimbang, Mempertahankan berat badan normal sesuai dengan umur
dan tinggi badan, melakukan kegiatan jasmani yang cukup sesuai
dengan umur dan kemampuan.
c) Pencegahan Tingkat Kedua
Upaya pencegahan tingkat kedua pada penyakit diabetes adalah
dimulai dengan mendeteksi dini pengidap diabetes. Karena itu
dianjurkan untuk pada setiap kesempatan, terutama untuk mereka
yang beresiko tinggi agar dilakukan pemeriksaan penyaringan glukosa
darah.
d) Pencegahan Tingkat Ketiga
Pencegahan tingkat ketiga (tertiary prevention) merupakan
pencegahan dengan sasaran utamanya adalah penderita penyakit
diabetes mellitus. Tujuan utama adalah mencegah proses penyakit
lebih lanjut, seperti perawatan dan pengobatan khusus pada penderita
diabetes mellitus.
B. Empat Pilar Penatalaksanaan Diabetes Mellitus
1. Terapi Nutrisi Medis (TNM)
Terapi nutrisi medis termasuk dalam salah satu dari empat pilar
penanganan DM. prinsip pengaturan makan pada penyandang DM
hampir sama dengan anjuran makan untuk masyarakat umum, yaitu
makanan yang seimbang dan sesuai dengan kebutuhan kalori dan zat
gizi masing-masing individu. Penyandang DM perlu diberikan
penekanan mengenai pentingnya keteraturan jadwal makan, jenis dan
jumlah kandungan kalori, terutama pada mereka yang menggunakan
obat yang meningkatkan sekresi insulin atau terapi insulin itu sendiri 7.
a. Diet Diabetes Mellitus tipe 2
1) Karbohidrat
a) Karbohidrat yang dianjurkan sebesar 45-65% total asupan
energi. Terutama karbohidrat yang berserat tinggi.
b) Pembatasan karbohidrat total <130 g/hari tidak dianjurkan.
c) Glukosa dalam bumbu diperbolehkan sehingga penyandang
diabetes dapat makan sama dengan makanan keluarga yang
lain.
d) Sukrosa tidak boleh lebih dari 5% total asupan energi.
e) Dianjurkan makan tiga kali sehari dan bila perlu dapat
diberikan makanan selingan seperti buah atau makanan lain
sebagai bagian dari kebutuhan kalori sehari.
2) Lemak
a) Asupan lemak dianjurkan sekitar 20-25% kebutuhan kalori,
dan tidak diperkenankan melebihi 30% total asupan energi.
b) Komposisi yang dianjurkan, lemak jenuh < 7 % kebutuhan
kalori, lemak tidak jenuh ganda < 10 %, selebihnya dari
lemak tidak jenuh tunggal sebanyak 12-15%. Rekomendasi
perbandingan lemak jenuh : lemak tidak jenuh tunggal :
lemak tidak jenuh ganda yaitu 0,8 : 1,2 : 1.
c) Bahan makanan yang perlu dibatasi adalah yang banyak
mengandung lemak jenuh dan lemak trans antara lain: daging
berlemak dan susu fullcream,
d) Konsumsi kolesterol dianjurkan <200 mg/hari.
3) Protein
a) Kebutuhan protein sebesar 10 – 20% total asupan energi.
b) Pada pasien dengan nefropati diabetik perlu penurunan
asupan protein menjadi 0,8 g/kg BB perhari atau 10% dari
kebutuhan energi, dengan 65% diantaranya bernilai biologik
tinggi.
c) Penyandang DM yang sudah menjalani hemodialisis asupan
protein menjadi 1-1,2 g/kg BB perhari.
d) Sumber protein yang baik adalah ikan, udang, cumi, daging
tanpa lemak, ayam tanpa kulit, produk susu rendah lemak,
kacang-kacangan, tahu dan tempe.
4) Natrium
a) Anjuran asupan natrium untuk penyandang DM sama
dengan orang sehat yaitu <1500 mg/hari. Penyandang DM
yang juga menderita hipertensi perlu dilakukan pengurangan
natrium secara individual.
b) Pada upaya pembatasan asupan natrium ini, perlu juga
memperhatikan bahan makanan yang mengandung tinggi
natrium antara lain mgaram dapur, monosodium glutamate
(vetsin), soda, dan bahan pengawet seperti natrium benzoat
dan natrium nitrit.
5) Serat
a) Penyandang DM dianjurkan mengonsumsi serat dari kacang-
kacangan, buah dan sayuran serta sumber karbohidrat yang
tinggi serat.
b) Jumlah konsumsi serat yang disarankan adalah 14 gr/1000
kal atau 20-35 gram/hari.
6) Pemanis Alternatif
a) Pemanis alternatif aman digunakan sepanjang tidak melebihi
batas aman (Accepted Daily Intake/ADI). Pemanis alternatif
dikelompokkan menjadi pemanis berkalori dan pemanis tak
berkalori.
b) Pemanis berkalori perlu diperhitungkan kandungan kalorinya
sebagai bagian dari kebutuhan kalori, seperti glukosa alkohol
dan fruktosa. Glukosa alkohol antara lain isomalt, lactitol,
maltitol, mannitol, sorbitol dan xylitol.
c) Pemanis tak berkalori termasuk: aspartam, sakarin,
acesulfame potassium, sukralose, neotame.
2. Edukasi
Edukasi yang diberikan adalah pemahaman tentang perjalanan
penyakit, pentingnya pengendalian penyakit, komplikasi yang timbul
dan resikonya, pentingnya intervensi obat dan pemantauan glukosa
darah, cara mengatasi hipoglikemia, perlunya latihan fisik yang teratur,
dan cara mempergunakan fasilitas kesehatan. Mendidik pasien
bertujuan agar pasien dapat mengontrol gula darah, mengurangi
komplikasi dan meningkatkan kemampuan merawat diri sendiri24.
3. Latihan Fisik
Latihan fisik merupakan salah satu pilar dalam pengelolaan DM tipe
2. Program latihan fisik secara teratur dilakukan 3-5 hari seminggu
selama sekitar 30-45 menit dengan total 150 menit per minggu, dengan
jeda antar latihan tidak lebih dari 2 hari berturut-turut. Latihan fisik
selain untuk menjaga kebugaran juga dapat menurunkan berat badan
dan memperbaiki sensitivitas insulin, sehingga akan memperbaiki
kendali glukosa darah7. Keuntungan latihan fisik dapat memberikan
kesegaran tubuh, glukosa darah lebih terkontrol, mengurangi kebutuhan
obat atau insulin, mencegah terjadinya DM dini, menurunkan tekanan
arah tinggi, mengurangi resistensi insulin pada orang yang kegemukan,
dan memperbaiki profil lemak darah terganggu25.
4. Farmakologi
Terapi farmakologi diberikan bersama dengan pengaturan makan
dan latihan fisik (gaya hidup sehat). Terapi farmakologis terdiri dari
obat oral dan bentuk suntikan7.
C. Kepatuhan Diet
1. Definisi
Kepatuhan diet adalah kesesuaian perilaku yang dilakukan oleh
seseorang berdasarkan rekomendasi yang diberikan oleh tenaga
Kesehatan26. Kepatuhan diet pasien DM sangat berperan penting untuk
menstabilkan kadar glukosa darah, sedangkan kepatuhan itu sendiri
merupakan suatu hal yang penting untuk dapat mengembangkan
rutinitas (kebiasaan) yang dapat membantu penderita dalam mengikuti
jadwal diet. Pasien yang tidak patuh dalam menjalankan terapi diet
menyebabkan kadar gula yang tidak terkendali 27.
2. Faktor yang Mempengaruhi Kepatuhan Diet
Menurut Green (dalam Notoatmodjo, 2011) menjelaskan bahwa
perilaku seseorang dipengaruhi oleh tiga faktor pokok, yaitu28
a. Faktor Predisposisi
Faktor predisposisi (predisposing factors) adalah faktor-
faktor yang mempermudah terjadinya perilaku seseorang, antara lain
pengetahuan, sikap, keyakinan, kepercayaan, nilai-nilai, tradisi, dan
sebagainya.
b. Faktor Pemungkin
Faktor pemungkin (enabling factors) adalah faktor-faktor
yang memungkinkan atau yang memfasilitasi perilaku seseorang.
Contohnya adalah sarana prasarana kesehatan, misalnya Puskesmas,
Posyandu, Rumah Sakit, uang untuk berobat, tempat sampah.
c. Faktor Pendorong
Faktor penguat (reinforcing factors) adalah faktor yang
menguatkan seseorang untuk berperilaku sehat ataupun berperilaku
sakit, mendorong atau memperkuat terjadinya perilaku seperti
dorongan dari orang tua, tokoh masyarakat, dan perilaku teman
sebaya yang menjadi panutan.
3. Kepatuhan Diet 3J (Jumlah, Jenis, Jadwal)
a. Tepat Jumlah
Terdapat beberapa cara untuk menentukan jumlah kalori
yang dibutuhkan pasien DM saat memulai perencanaan makan,
diantaranya adalah dengan memperhitungkan kebutuhan kalori
basal yang besarnya 25- 30 kalori/kgBB ideal, lalu ditambah atau
dikurangi bergantung pada beberapa faktor seperti jenis kelamin,
umur, aktivitas dan status gizi29.
1) Jumlah kalori untuk IMT kurus 2300-2500 kalori, normal 1700-
2100 dan gemuk 1300-1500 kalori. Komposisi energi sebagai
berikut.
2) 45-65% dari karbohidrat, pembatasan karbohidrat total <130
g/hari tidak dianjurkan, sukrosa <5% total energi dan serat
dianjurkan sekitar 25 gram/1000 kalori per hari.
3) 10- 20% dari protein, pada penderita DM dengan nefropati
perlu penurunan protein menjadi 0,8 g/kgBB/hari (65% dari
protein bernilai biologis tinggi).
4) 20-25% dari lemak, dengan asam lemak jenuh <7% dan
kandungan kolesterol <300 mg/hari.
Kebutuhan kalori sesuai untuk mencapai dan mempertahankan
berat badan ideal yaitu berat badan sesuai dengan tinggi badan titik
berat badan ideal dapat dihitung berdasarkan rumus Brocca yang
dimodifikasi sebagai berikut7.
BBI = 90% (Tinggi badan (cm) – 100) x 1 kg
Bagi pria dengan tinggi badan di bawah 160 cm dan wanita di
bawah 150 cm, rumus yang digunakan menjadi:
BBI = (Tinggi badan (cm) – 100) x 1 kg
Perhitungan berat badan ideal menurut Indeks Massa Tubuh
(IMT). Indeks massa tubuh dapat dihitung dengan rumus:
𝐵𝐵 (𝑘𝑔)
IMT =
𝑇𝐵2 (𝑐𝑚)
Tabel 1. Klasifikasi IMT menurut Kriteria Asia Pasifik
Klasifikasi Indeks Massa Tubuh
Underweight <18,5
Normal 18,5–22,9
Overweight (Berisiko) 23-24,9
Obes I 25-29,9
Obes II ≥30
Sumber : WPR/IASO/IOTF dalam The Asia-Pacific
Faktor-faktor yang menentukan kebutuhan kalori antara lain 7:
1) Jenis Kelamin
Kebutuhan kalori basal perhari untuk wanita lebih kecil
dibandingkan pria, energi basal pada wanita yaitu 25
kkal/kgBB/hari dan pada pria 30 kkal/kgBB/hari.
2) Umur
a) Pasien usia diatas 40 tahun, kebutuhan kalori dikurangi 5%
untuk setiap dekade antara 40 dan 59 tahun.
b) Pasien usia diantara 60 dan 69 tahun, dikurangi 10%
c) Pasien usia diatas 70 tahun dikurangi 20%
3) Aktivitas Fisik atau Pekerjaan
a) Keadaan istirahat kebutuhan kalori basal +10%
b) Aktifitas fisik ringan seperti pegawai kantor, pegawai toko,
guru, ahli hukum, ibu rumah tangga, dll kebutuhan kalori
basal +20%
c) Aktifitas fisik sedang seperti pegawai di industri ringan,
mahasiswa, militer yang sedang tidak perang, dll kebutuhan
kalori basal +30%
d) Aktifitas fisik berat seperti petani, buruh, ,militer dalam
keadaan latihan, penari, atlit, dll kebutuhan kalori basal
+40%
e) Aktifitas fisik sangat berat seperti tukang becak, tukang gali,
dll kebutuhan kalori basal +50%
4) Adanya Komplikasi
Infeksi, trauma, atau operasi yang menyebabkan kenaikan
suhu memerlukan tambahan kalori sebesar 13% untuk tiap
kenaikan 1 derajat celsius.
5) Berat Badan
Bila kegemukan atau terlalu kurus, dikurangi atau ditambah
sekitar 20-30% bergantung pada tingkat kegemukan atau
kekurusannya.
b. Tepat Jenis
Penderita DM dianjurkan memilih jenis bahan makanan
maupun makanan yang tidak cepat meningkatkan kadar glukosa
darah. Bahan makanan atau makanan yang cepat meningkatkan
kadar glukosa darah dikarenakan memiliki indeks glikemik (IG)
tinggi. konsep indeks glikemik dikembang untuk mengurutkan
makanan berdasarkan kemampuannya dalam meningkatkan kadar
glukosa darah setelah dbandingkan dengan makanan standar30.
Selain dari bahan makanan yang memiliki indeks glikemik
tinggi, perlu pula cara pemgolahan makanan, karena terdapat
beberapa pengolahan dapat meningkatkan indeks glikemik, yaitu
merebus/mengukus dan menghaluskan bahan (bubur, juice, dll).
persentase protein dan lemak akan menurunkan indeks glikemik
termasuk serta dan zat anti gizi (tanin dan fitat). Oleh karena itu
kandungan karbohidrat total makanan dan sumbangan masing-
masing pangan terhadap karbohidrat total harus diketahui 30.
Gula dan produk-produk lain dari gula dikurangi.
Penggunaan gula pada bumbu diperbolehklan tetapi jumlahnya
hanya sedikit. Anjuran pnggunaan gula tidak lebih dari 5% dari total
kebutuhan kalori. Penggunaan pemanis diabetes, aman digunakan
asal tidak melebihi batas aman (accepted daily intake). Misalnya
fruktosa <50 g/hari, jika berlebih akan menyebabkan diare. Sorbitol
<30 g/hari jika berlebih akan menimbulkan kembung dan diare,
manitol <20 g/hari, sakarin 1g/hari, siklamat 11 mg/kgbb/hr30.
Penggunaan sukrosa sebagai bagian dari perencanaan makan
tidak memperburuk kontrol glukosa darah pada individu dengan DM
tipe 1 dan 2. Sukrosa dari makanan harus diperhitungkan sebagai
pengganti karbohidrat makanan lain dan tidak hanya dengan
menambahkannya pada perencanaan makanan. Melakukan
substitusi ini kandungan zat gizi dari makanan-makann manis yang
pekat dan kandungan zat gizi lain dari makanan yang mengandung
sukrosa harus dipertimbangkan, seperti lemak yang selalu ada
bersama sukrosa dalam makanan30.
Bahan makanan tinggi asam lemak tidak jenuh seperti pada
kacang, alpukat dan minyak zaitun, baik digunakan dalam
perencanaan makan bagi penderita DM. Tambahan suplemen
vitamin dan mineral pada penderita DM yang asupan gizinya cukup
tidak diperlukan30.
c. Tepat Jadwal
Makan dalam porsi kecil tapi sering dapat membantu
menurukan kadar glukosa darah. Makan teratur (makan pagi, makan
siang dan makan malam serta selingan diantara waktu makan) akan
memungkinkan glukosa darah turun sebelum makan berikutnya.
Pada penelitian Toharin (2015) menunjukkan bahwa ada
hubungan antara aturan jadwal makan dengan kadar gula darah pada
penderita DM tipe 231. Sebaliknya, pada penelitian Idris (2014)
menunjukkan tidak ada hubungan antara jadwal makan terhadap
status kadar gula darah. Tidak adanya hubungan tersebut mungkin
dipengaruhi oleh banyak faktor seperti pekerjaan atau aktivitas yang
dilakukan sehingga sulit untuk mengikuti sesuai jadwal yang
dianjurkan32.
D. Konseling Gizi
1. Definisi
Konseling merupakan salah satu upaya meningkatkan pengetahuan
dan kemampuan individu atau keluarga melalui pendekatan untuk
memperoleh pengertian yang lebih baik tentang dirinya serta
permasalahan yang dihadapi. Dalam proses konseling, seseorang yang
membutuhkan pertolongan (klien) dan seseorang yang memberikan
bantuan dan dukungan (konselor) akan bertatap muka dan berbicara
sedemikian rupa sehingga klien mampu untuk memecahkan masalah
yang dihadapinya. Oleh karenanya, keterampilan komunikasi dan
hubungan antar manusia sangat dibutuhkan33. Tahap konseling gizi
terdiri dari 4 diantaranya yaitu tahap 1 assessment, tahap 2 diagnosis,
tahap 3 intervensi dan tahap 4 monitoring dan evaluasi34.
2. Langkah-langkah Konseling Gizi
Langkah-langkah konseling menurut Cornelia dkk (2016) yaitu sebagai
berikut33.
a. Langkah 1 : Membangun Dasar-dasar Konseling
Pada saat bertemu klien gunakanlah keterampilan
komunikasi dan konseling. Sambutlah klien dengan ramah,
tersenyum dan berikan salam. Selanjutnya, persilakan klien untuk
duduk dan upayakan klien merasa nyaman. Ciptakan hubungan yang
positif berdasarkan rasa percaya, keterbukaan dan kejujuran
berekspresi. Konselor harus dapat menunjukkan bahwa dirinya
dapat dipercaya dan seorang yang kompeten untuk membantu
kliennya. Sampaikan tujuan dari konseling yang dilakukan.
b. Langkah 2 : Menggali Permasalahan dengan Pengkajian Gizi
Konseling gizi merupakan suatu proses pengumpulan,
verifikasi dan interpretasi data yang sistematis dalam upaya
mengidentifikasi masalah gizi serta penyebabnya. Tujuan kegiatan
ini adalah untuk mendapatkan informasi atau data yang lengkap dan
sesuai dengan upaya identifikasi masalah gizi terkait dengan
masalah asupan gizi atau faktor lain yang dapat menimbulkan
masalah gizi. Perubahan status dapat terdeteksi dengan
menggunakan komponen pengkajian gizi, meliputi pengukuran
antropometri, pemeriksaan klinis dan fisik, biokimia, Riwayat
makan, serta Riwayat personal.
c. Langkah 3 : Menegakkan Diagnosis Gizi
Langkah ini merupakan langkah kritis yang menjembatani
pengkajian gizi dan intervensi gizi. Diagnosa gizi adalah kegiatan
mengidentifikasi dan memberi nama masalah gizi aktual, dan atau
beresiko menyebabkan masalah gizi. Diagnosisi diuraikan
berdasarkan komponen masalah gizi (problem), penyebab masalah
gizi (etiologi) dan tanda serta gejala adanya masalah gizi (sign
symptom).
d. Langkah 4 : Intervensi Gizi
Intervensi gizi dalam konseling meliputi serangkaian
aktivitas atau tindakan terencana yang secara khusus dengan tujuan
untuk mengatasi masalah gizi melalui perubahan perilaku makan
guna memenuhikebutuhan gizi klien shingga mendapatkan
kesehatan yang optimal. Ada tiga langkah dalam melakukan
intervensi gizi yaitu menghitung kebutuhan energi dan zat gizi,
menetapkan preskripsi diet dan melakukan konseling gizi.
e. Langkah 5 : Monitoring dan Evaluasi
Langkah terakhir konseling gizi yaitu monitoring evaluasi,
yaitu melakukan penilaian kembali terhadap kemajuan konselor
maupun kliennya. Langkah ini dilakukan untuk mengetahui respon
klien terhadap intervensi dan tingkat keberhasilannya. Sebagian
besar pertanyaan yang ada pada tahap pengkajian dapat digunakan
lagi pada tahap ini, tetapi difokuskan pada tujuan yang diinginkan
dan apakah tujuan tersebut dapat dicapai.
f. Langkah 6 : Mengakhiri Konseling (Terminasi)
Terminasi dilakukan pada tahap terakhir konseling.
Konselor dapat mempersiapkan klien melaui ucapan-ucapan bahwa
konseling berakhir. Konselor menyiapkan leflet, brosur, booklet dan
lain-lain. Konselor tetap membuka kesempatan kepada klien untuk
kunjungan berikutnya (bila memerlukan kunjungan ulang).
E. Media
1. Definisi Media
Kata media berasal dari bahasa Latin medius yang secara
harfiah berarti ‘tengah’,’perantara’ atau ‘pengantar’. Dalam bahasa
Arab, media adalah perantara wasaail atau pengantar pesan dari
pengirim kepada penerima pesan35. Media merupakan sesuatu yang
bersifat menyalurkan pesan dan dapat merangsang pikiran, perasaan
dan kemauan audien sehingga dapat mendorong terjadinya proses
memahami pada penerima pesan36.
Media promosi kesehatan adalah semua sarana atau upaya untuk
menampilkan pesan atau informasi yang tersedia yang ingin
disampaikan oleh komunikator, baik itu melalui media cetak, elektronik
dan media luar ruang, sehingga sasaran dapat meningkat
pengetahuannya yang akhirnya diharapkan adanya perubahan perilaku
ke arah positif atau lebih baik37. Alat peraga merupakan salah satu
sarana penting dalam proses pendidikan dan konsultasi gizi. Peran
media atau alat peraga ini sangat strategis untuk memperjelas pesan dan
meningkatkan efektivitas proses konseling gizi. Oleh sebab itu, seorang
penyuluh dan konselor gizi harus dapat mengenal, memilih,
menggunakan dan menilai berbagai alat peraga yang paling sesuai
dengan tujuan, sasaran, dan situasi tempat pendidikan dan konseling
gizi dilakukan38.
2. Manfaat Media
Media memiliki banyak sekali manfaat terutama dalam pelaksanaan
konseling gizi. Beberapa manfaat dari penggunaan media dalam
konseling gizi yaitu menumbuhkan minat pasien untuk konseling,
membantu pasien untuk mengerti lebih baik informasi yang diberikan,
membantu pasien untuk dapat mengingat lebih baik lebih baik informasi
yang diberikan, membantu pasien untuk meneruskan informasi
diperoleh kepada orang lain, membantu pasien untuk menambah dan
membina sikap baru dan memotivasi pasien untuk melakukan anjuran
ahli gizi39.
3. Jenis Media
Menurut fungsi sebagai saluran pesan, media dapat dikelompokkan
atas media cetak, media elektronik dan media papan (billboard).
Beberapa media cetak dikenal antara lain booklet, leaflet, selebaran
(flyer), lembar balik (flip chart), artikel atau rubrik, poster dan foto.
Media elektronik dapat berupa televisi, radio, video, slide, film strip,
web (internet) dan aplikasi berbasis android. Alat peraga yang
dipergunakan dalam pendidikan kesehatan dapat berupa alat bantu lihat
(visual), alat bantu dengar (audio) atau kombinasi audio visual 40.
4. Aplikasi Berbasis Android (e-Nutri Diabetic Pocket)
a. Aplikasi
Aplikasi merupakan penerapan, menyimpan sesuatu hal,
data, permasalahan, pekerjaan kedalam suatu sarana atau media
yang dapat digunakan untuk menerapkan atau
mengimplementasikan hal atau permasalahan yang ada sehingga
berubah menjadi suatu bentuk yang baru tanpa menghilangkan nilai-
nilai dasar dari hal data, permasalahan, dan pekerjaan itu sendiri.
Aplikasi juga diartikan sebagai penggunaan atau penerapan suatu
konsep yang menjadi pokok pembahasan atau sebagai program
komputer yang dibuat untuk menolong manusia dalam
melaksanakan tugas tertentu41.
b. Android
Android merupakan salah satu sistem operasi yang telah
banyak digunakan di dalam perangkat mobile. Dengan sistem
operasi yang berbasis linux, android bertujuan untuk
mengembangkan inovasi perangkat mobile agar pengguna dapat
mengembangkan kemampuan-nya dan menambah
pengalamannya42.
Berikut merupakan 4 komponen utama yang dapat digunakan
dalam aplikasi Android43.
1) Aktivitas (Activities)
Aktivitas adalah titik masuk untuk berinteraksi dengan
pengguna. Ini mewakili satu layar dengan antarmuka pengguna.
Aktivitas mempermudah interaksi penting di antara sistem dan
aplikasi yaitu tetap memantau apa yang penting bagi pengguna
saat ini (apa yang ada di layar) untuk memastikan bahwa sistem
tetap menjalankan proses yang menjadi host aktivitas,
memahami proses yang digunakan sebelumnya berisi sesuatu
yang dapat dikembalikan pengguna (aktivitas yang dihentikan),
jadi lebih memprioritaskan mempertahankan proses tersebut,
membantu menangani aplikasi menghentikan prosesnya
sehingga pengguna dapat kembali ke aktivitas dengan status
sebelumnya yang dipulihkan, Memberikan cara bagi aplikasi
untuk menerapkan alur antar pengguna, dan bagi sistem untuk
mengoordinasikan alur.
2) Layanan (service)
Layanan adalah titik masuk serbaguna untuk menjaga
aplikasi tetap berjalan di latar belakang bagi semua jenis alasan.
Ini adalah komponen yang berjalan di latar belakang untuk
melakukan operasi yang berjalan lama atau untuk melakukan
pekerjaan bagi proses jarak jauh. Layanan tidak menyediakan
antarmuka pengguna.
3) Penerima Siaran (Broadcast Receiver)
Penerima siaran adalah komponen yang memungkinkan
sistem menyampaikan kejadian di luar alur pengguna regular,
menjadikan aplikasi tersebut dapat merespons pengumuman
siaran seluruh sistem. Oleh karena penerima siaran adalah entri
yang didefinisikan dengan baik ke dalam aplikasi, sistem dapat
mengirimkan siaran meskipun ke aplikasi yang saat ini tidak
berjalan. Jadi, misalnya, suatu aplikasi dapat menjadwalkan
alarm atau pengingat untuk mengirimkan notifikasi agar
pengguna tahu tentang acara yang akan datang dan dengan
mengirimkan alarm atau pengingat tersebut ke penerima siaran
aplikasi, aplikasi tersebut tidak perlu untuk tetap berjalan hingga
alarm mati.
4) Penyedia Materi (Content Provider)
Penyedia materi mengelola set data aplikasi secara bersama-
sama, yang dapat Anda simpan di sistem file, di database
SQLite, di web, atau di lokasi penyimpanan persisten lain yang
dapat diakses aplikasi Anda. Melalui penyedia materi, aplikasi
lain bisa melakukan kueri atau memodifikasi data jika penyedia
materi mengizinkannya. Karenanya, setiap aplikasi dengan izin
yang sesuai bisa melakukan kueri mengenai bagian dari
penyedia materi.
c. e-Nutri Diabetic Pocket
e-Nutri Diabetic Pocket adalah aplikasi berbasis android
yang dirancang khusus untuk membantu penyandang DM dalam
penerapan diet DM dirumah serta meningkatkan pemahaman
penyandang DM mengenai diet DM. Aplikasi ini berisikan materi
tentang diet DM, tata cara menghitung kebutuhan sehari, recall
makan sehari untuk mengontrol asupan penderita DM sesuai
kebutuhan masing masing. Dalam aplikasi ini disediakan beberapa
fitur seperti materi-materi tentang diet DM, menghitung status gizi,
alarm atau pengingat jadwal makan, menghitung asupan sehari,
catatan kadar gula darah setiap kali kontrol, dll.
Pada pembuatan aplikasi e-Nutri Diabetic Pocket, peneliti
bekerja sama dengan ahli teknologi informatika untuk merancang
aplikasi tersebut sesuai dengan konsep/desain yang telah ditentukan.
e-Nutri Diabetic Pocket bisa digunakan di hampir semua jenis
android yang ada. Tetapi aplikasi ini belum bisa digunakan di
perangkat PC. Aplikasi ini secara keseluruhan dapat digunakan
secara offline, namun terdapat satu menu yang membutuhkan
jaringan internet untuk mengaksesnya. Pengoperasian aplikasi
cukup mudah, karena sengaja dibuat dengan sasaran pengguna usia
dewasa yaitu 18-65 tahun. Aplikasi ini seperti aplikasi android pada
umumnya, tetapi aplikasi ini belum tersedia secara online di
playstore ataupun di website penyedia aplikasi android lainya. e-
Nutri Diabetic Pocket dapat digunakan kapan saja dan dimana saja.
F. Metode Penilaian Konsumsi Makanan
1. Food Recall 24 Jam
a. Definisi
Food recall 24 jam adalah metode survey konsumsi pangan
yang fokusnya pada kemampuan mengingat subjek terhadap seluruh
makanan dan minuman yang telah dikonsumsinya selama 24 jam
terakhir44.
b. Langkah-langkah Metode Food Recall 24 jam
Menurut Sirajuddin (2015) terdapat 5 langkah dalam
melakukan food recall 24 jam, yaitu45
1) Quick List (Daftar Makanan)
Quick list atau disebut juga daftar makanan dan
minuman yang dikonsumsi dalam 24 jam terakhir. Enumerator
pada langkah ini tidak boleh langsung menanyakan bahan
makanan, tetapi hanya wajib menanyakan nama hidangan saja.
Tidak lebih dari itu, kesalahan yang sering terjadi adalah
enumerator langsung menanyakan bahan makanan. Ini tidak
dianjurkan karena akan merusak ingatan responden. Ingat
metode food recall poin pentingnya adalah daya ingat. Tujuan
pokok dari quick list adalah membangun konsep besar ingatan
responden akan peta makanan dan minuman yang telah ia
konsumsi satu hari yang lalu. Jika responden sudah
menyebutkan semua nama hidangan makanan dan minuman,
maka langkah pertama dari lima langkah sudah selesai.
2) Review Quick List (Forgotten Food)
Pada tahap kedua, ingatan respoden itu dikalibrasi atau
di validasi dengan cara mereview atau menanyakan ulang daftar
itu. Catatan tambahan adalah memastikan bahwa tidak ada lagi
nama hidangan yang dilupakan atau dilewatkan. Teknik yang
digunakan adalah menghubungkan waktu dan aktivitas
respoden. Jika pada pengakuran responden ia masih memiliki
makanan dan atau minman yang lupa ia sebut dilangkah
pertama, maka segera diperbaiki catatan quick list dengan
menambahkan makanan dan minuman [Link]
dilakukan perbaikan maka daftar makanan dan minuman dibaca
ulang dan di perdengarkan kepada responden. Lalu ditanyakan
bahwa ini adalah daftar makanan yang ia makan satu hari yang
lalu. Jika ia kemudian membenarkan, maka langkah kedua
sudah selesai.
3) Uraikan bahan makanan (Describe the Food)
Langkah ke tiga adalah, menguraikan komponen
penyusun setiap hidangan. Uraian ini berada pada kolom ke tiga
dsalam formulir recall konsumsi. Pada tahap ini setiap nama
hidangan yang sudah ditulis pada langkah pertama, kemudian
diuraikan seluruh bahan penyusunnya. Pada saat menguraikan
bahan makanan tidak boleh pindah kepada jumlahnya, akan
tetapi pada tahap ini hanya sebatas mengurai semua bahan
penyusun untuk masing-masing hidangan. Jika satu hidangan
sudah selesai diuraikan, maka selanjutnya pindah kepada
hidangan kedua sesuai urutan dalam urutan waktu makan.
Jangan lupa bahwa penulisan nama hidangan pada kolom ketiga
sudah dihubungkan dengan waktu makan. Maksudnya adalah
bahwa hidangan yang dimakan sebagaimana daftar nama
hidangan ditempatkan menurut waktu makan pada kolom
ketiga. Jika ada hidangan yang dimakan di dua waktu makan
maka tetap ditulis sebagaimana mestinya.
4) Tuliskan jumlah makanan (amount the food)
Jumlah makanan yang dikonsumsi, adalah dicatat pada
kolom keempat. Jumlah makanan disetiap porsi makanan.
Jumlah bahan makanan untuk satu porsi yang dimakan oleh
subjek.
5) Mengulas kembali seluruh makanan dan minuman (Final
Probe)
Mengulas kembali seluruh makanan dan minuman,
adalah langkah kelima dalam tahapan food recall. Tahapan ini
merangkum dan memastikan bahwa semua makanan
danminuman, yang telah disebut adalah tepat. Caranya adalah
membaca semua makanandan minuman beserta porsi dan
beratnya mulai dari pagi hingga makan malam terakhir.
c. Kelebihan dan Kelemahan Metode Food Recall 24 jam
Menurut Hardinsyah & Supariasa (2016) metode food
recall 24 jam memiliki kelebihan dan kelemahan, yaitu46.
1). Kelebihan
- Mudah melaksanakannya serta tidak terlalu membebani
responden
- Biaya relatif murah, karena tidak memerlukan peralatan
khusus dan tempat yang luas untuk wawancara
- Cepat, sehingga dapat mencakup banyak responden
- Dapat digunakan untuk responden yang buta huruf
- Dapat memberikan gambaran nyata yang benar-benar
dikonsumsi individu sehingga dapat dihitung intake zat gizi
sehari
- Lebih objektif dibandingkan dengan metode food dietary
history
- Baik digunakan di klinik
2) Kelemahan
- Ketepatannya sangat tergantung pada daya ingat responden.
Oleh karena itu, responden harus mempunyai daya ingat
yang baik.
- Sering terjadi kesalahan dalam memperkirakan ukuran porsi
yang dikonsumsi sehingga menyebabkan over atau
underestimate.
- Membutuhkan tenaga atau petugas yang terlatih dan terampil
dalam menggunakan alat-alat bantu URT dan ketepatan alat
bantu yang dipakai menurut kebiasaan masyarakat.
- Tidak dapat menggambarkan asupan makanan sehari-hari
bila hanya dilakukan recall satu hari
2. Food Frequency Questionnaire (FFQ)
a. Definisi
Metode FFQ merupakan metode untuk mengukur kebiasaan
makan individua tau keluarga sehari-hari sehingga diperoleh
gambaran pola konsumsi bahan/makanan secara kualitatif. Metode
ini mengandalkan daya ingat, baik untuk yang ditanya/individu
sampel maupun yang menanya/pewawancara. Oleh sebab itu,
pewawancara disyaratkan harus mempunyai keahlian dan
kemampuan yang tinggi dalam mengapersepsi segala sesuatu yang
disampaikan oleh narasumber, tentang tingkat keseringan
narasumber dalam mengonsumsi bahan makanan tertentu dalam
hari, minggu, bulan dan tahun. Kuesioner frekuensi makanan
memuat tentang daftar bahan/makanan dan frekuensi penggunaan
makanan tersebut pada periode tertentu46.
b. Langkah-langkah Metode Food Frequency Questionnaire
(FFQ)
Menurut Hardinsyah & Supariasa (2016) terdapat 4 langkah
dalam melakukan food frequency questionnaire (FFQ), yaitu 46
1) Terlebih dahulu harus disiapkan daftar bahan/makanan yang
akan diukur.
2) Responden diminta untuk memberi tanda pada daftar makanan
yang tersedia pada kuesioner mengenai frekuensi penggunaan
bahan/makanan yang sering dikonsumsinya, di kolom yang
disediakan.
3) Lakukan penghitungan terhadap data yang di dapatkan.
4) Bandingkan/rujuk ke kategori yang berlaku untuk menentukan
hasil akhirnya.
c. Kelebihan dan Kelemahan Metode Food Frequency
Questionnaire (FFQ)
1) Kelebihan
Kelebihan pada metode FFQ menurut Hardinsyah &
Supariasa (2016), antara lain46
a) Relatif murah dan sederhana
b) Dapat dilakukan sendiri oleh responden
c) Tidak membutuhkan latihan khusus
d) Dapat membantu dalam menjelaskan hubungan antara
penyakit dan kebiasaan makan
2) Kelemahan
Kelemahan pada metode FFQ menurut Hardinsyah &
Supariasa (2016), antara lain46
a) Tidak dapat untuk menghitung asupan zat gizi sehari
b) Sulit mengembangkan kuesioner pengumpulan data
c) Cukup menjemukan bagi pewawancara
d) Perlu percobaan pendahuluan untuk menentukan jenis
bahan makanan yang akan masuk dalam daftar kuesioner
e) Responden harus jujur dan mempunyai motivasi tinggi.
5. Kerangka Teori
4 Pilar Penatalaksanaan Diabetes Mellitus
Terapi Nutrisi Medis Edukasi Latihan Fisik Terapi Farmakologis
Prinsip Diet Diabetes Aplikasi e-Nutri
Mellitus tipe 2 Faktor yang
Diabetic Pocket
mempengaruhi kepatuhan
Konseling Gizi
1. Tepat Jadwal diet 3J
2. Tepat Jumlah 1. Faktor Predisposisi
3. Tepat Jenis 2. Faktor Pemungkin
Kepatuhan Diet 3J
3. Faktor Penguat
Gambar 1. Kerangka Teori 4 Pilar Penatalaksanaan Diet Diabetes Mellitus
Sumber: Perkeni 2019
6. Kerangka Konsep
Aplikasi e-Nutri
Diabetic Pocket
Konseling Gizi
Kepatuhan Diet 3J
Gambar 2. Kerangka Konsep
7. Hipotesis
a. Ada perbedaan tingkat kepatuhan diet DM tipe 2 sebelum dan setelah
menggunakan aplikasi e-Nutri Diabetic Pocket.
b. Ada perbedaan tingkat kepatuhan diet DM tipe 2 yang menggunakan aplikasi e-
Nutri Diabetic Pocket dan yang tidak menggunakan aplikasi e-Nutri Diabetic
Pocket.