0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
8 tayangan35 halaman

Panduan Diabetes Mellitus: Definisi & Pencegahan

Diabetes Mellitus adalah penyakit metabolik yang ditandai dengan hiperglikemia akibat kelainan sekresi atau kerja insulin. Klasifikasi diabetes melitus meliputi Tipe 1, Tipe 2, tipe lain, dan diabetes gestasional, dengan faktor risiko seperti gaya hidup, obesitas, usia, dan riwayat keluarga. Pencegahan dan penatalaksanaan diabetes melitus melibatkan terapi nutrisi, edukasi, latihan fisik, dan farmakologi untuk mengontrol kadar glukosa darah.

Diunggah oleh

Wahyudi Hidayat
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
8 tayangan35 halaman

Panduan Diabetes Mellitus: Definisi & Pencegahan

Diabetes Mellitus adalah penyakit metabolik yang ditandai dengan hiperglikemia akibat kelainan sekresi atau kerja insulin. Klasifikasi diabetes melitus meliputi Tipe 1, Tipe 2, tipe lain, dan diabetes gestasional, dengan faktor risiko seperti gaya hidup, obesitas, usia, dan riwayat keluarga. Pencegahan dan penatalaksanaan diabetes melitus melibatkan terapi nutrisi, edukasi, latihan fisik, dan farmakologi untuk mengontrol kadar glukosa darah.

Diunggah oleh

Wahyudi Hidayat
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Diabetes Mellitus

1. Definisi

Diabetes Mellitus merupakan salah satu penyakit berbahaya yang

dikenal oleh masyarakat Indonesia dengan nama penyakit kencing manis.

Diabetes melitus (DM) adalah suatu kelompok penyakit metabolik dengan

karakteristik hiperglikemia yang terjadi karena kelainan sekresi insulin,

kerja insulin atau keduanya7. Definisi lain dari diabetes melitus adalah

kumpulan gejala yang timbul pada seseorang akibat kadar glukosa darah

yang tinggi (hiperglicemia), kadar glukosa darah tinggi disebabkan jumlah

hormon insulin yang kurang atau jumlah insulin cukup tetapi kurang efektif

(resistensi insulin) sehingga kadar glukosa darah yang tinggi dalam tubuh

tidak dapat diserap semua dan tidak dapat dipergunakan sebagai bahan

energi/tenaga dalam sel tubuh terutama sel otot. Akibatnya seseorang akan

kekurangan energi sehingga mudah lelah, banyak makan tetapi berat badan

terus menurun, sering buang air kecil dan banyak minum 13. Diabetes

mellitus ditandai dengan kadar glukosa dalam darah melebihi batas normal

dan gangguan metabolisme karbohidrat, lemak dan protein ditimbulkan

karena kadar insulin secara relatif. Pemeriksaan Glukosa Darah Sewaktu

(GDS) ≥ 200 mg/dl dan hasil pemeriksaan Glukosa Darah Puasa (GDP)≥

126 mg/dl juga dapat digunakan untuk pedoman diagnosis DM 22 .

Sementara glukosa setelah 2 jam makan (2 jam pp) adalah > 200 mg/dl 14
2. Klasifikasi Diabetes Mellitus

Organisasi profesi yang berhubungan dengan DM seperti American

Diabetes Association (ADA) telah membagi jenis DM berdasarkan

penyebabnya. PERKENI dan IDAI sebagai organisasi yang sama di

Indonesia menggunakan klasifikasi dengan dasar yang sama seperti

klasifikasi yang dibuat oleh organisasi yang lainnya 7

Klasifikasi DM berdasarkan etiologi menurut Perkeni (2019) adalah

sebagai berikut :

a. Diabetes Mellitus Tipe 1

DM yang terjadi karena kerusakan atau destruksi sel beta di

pankreas. Kerusakan ini berakibat pada keadaan defisiensi insulin

yang terjadi secara absolut. Penyebab dari kerusakan sel beta antara

lain autoimun dan idiopatik.

b. Diebets Mellitus Tipe 2

DM tipe 2 adalah jenis DM yang paling umum diderita oleh

penduduk di Indonesia. Kombinasi faktor risiko, resistensi insulin

dan sel-sel tidak menggunakan insulin secara efektif menyebabkan

DM tipe 215. Penyebab DM tipe 2 seperti yang diketahui adalah

resistensi insulin. Insulin dalam jumlah yang cukup tetapi tidak

dapat bekerja secara optimal sehingga menyebabkan kadar gula

darah tinggi di dalam tubuh. Defisiensi insulin juga dapat terjadi

secara relatif pada penderita DM tipe 2 dan sangat mungkin untuk

menjadi defisiensi insulin absolut. Gejala pada DM tipe ini secara


perlahan-lahan bahkan asimptomatik. Dengan pola hidup sehat,

yaitu mengonsumsi makanan bergizi seimbang dan olah raga secara

teratur biasanya penderita brangsur pulih. Penderita juga harus

mampu mepertahannkan berat badan yang normal. Namun pada

penerita stadium akhir kemungkinan akan diberikan suntik insulin 16.

c. Diabetes Mellitus Tipe Lain

Penyebab DM tipe lain sangat bervariasi. DM tipe ini dapat

disebabkan oleh defek genetik fungsi sel beta, defek genetik kerja

insulin, penyakit eksokrin pankreas, endokrinopati pankreas, obat,

zat kimia, infeksi, kelainan imunologi dan sindrom genetik lain yang

berkaitan dengan DM.

d. Diabetes Gestasional

Diabetes melitus gestasional (DMG) merupakan intoleransi

glukosa pada waktu kehamilan, pada wanita normal atau yang

mempunyai gangguan toleransi glukosa setelah terminasi

kehamilan.

3. Faktor Resiko DM

a. Gaya Hidup

Dengan kemajuan zaman, membuat manusia semakin

terdorong dengan gaya hidup modern yang tidak sehat. Kesibukan

mereka membuat tidak ada waktu untuk berolahraga, akibatnya,

sirkulasi darah dalam tubuh tidak normal. Selain itu, mereka yang

terbiasa mengonsumsi makanan instan atau makanan cepat saji yang


banyak mengandung garam dan penyedap rasa. Kandungan ini bila

di konsumsi rutin dan tidak diimbangi dengan pola hidup yang sehat,

akan menyebabkan terganggunya kesehatan, seperti kegemukan,

kolesterol,dan lain-lain. Inilah yang memicu terganngunya

metabolisme dalam tubuh, termasuk sensivitas insulin yang

menyebabkan DM17.

Gaya hidup menentukan besar kecilnya risiko seseorang

untuk terkena diabetes. Selain pola makan, aktivitas yang dilakukan

oleh seseorang juga merupakan gaya hidup. Gaya hidup yang salah

akan memberikan dampak negatif bagi kesehatan termasuk juga

aktivitas yang kurang18.

b. Obesitas

Obesitas atau kelebihan berat badan disebabkan oleh

timbunan lemak yang tidak positif bagi tubuh. Seperti kolesterol,

lemak juga akan menyerap produksi insulin pankreas secara habis-

habisan sehingga tubuh tidak kebagian insulin untuk di produksi

sebagai energi19.

c. Usia

Faktor usia merupakan faktor yang tidak dapat dimodifikasi

atau direkayasa. Orang dengan usia 40 tahun mulai memiliki risiko

terkena diabetes. Semakin bertambahnya usia, maka semakin besar

pula risiko seseorang mengalami diabetes melitus tipe 2. Menua

merupakan proses menghilangnya secara perlahan-lahan


kemampuan jaringan untuk memperbaiki, mengganti diri, dan

mempertahankan struktur dan fungsi normalnya. Menua ditandai

dengan kehilangan secara progresif jaringan aktif tubuh yang sudah

dimulai sejak usia 40 tahun disertai dengan menurunnya

metabolisme basal sebesar 2% setiap tahunnya yang disertai dengan

perubahan di semua sistem di dalam tubuh manusia20.

d. Riwayat Keluarga

Diabetes merupakan penyakit yang memiliki faktor risiko

genetik. Memiliki riwayat diabetes dalam keluarga, maka risiko

seseorang untuk terkena penyakit Glukosa darah menjadi lebih

tinggi jika dibandingkan dengan orang yang tidak memiliki riwayat

kencing manis dalam keluarga20.

e. Riwayat DM pada Kehamilan

Seorang ibu yang hamil akan menambah konsumsi

makanannya, sehingga berat badannya mengalami peningkatan 7-10

kg, saat makanan ibu ditambah konsumsinya tetapi produksi insulin

kurang mencukupi maka akan terjadi DM21. Memiliki riwayat

diabetes gestational pada ibu yang sedang hamil dapat

meningkatkan resiko DM22.

4. Pencegahan Diabetes Mellitus

Menurut Noor (2002) terdapat beberapa tingkat pencegahan

diabetes mellitus, yaitu sebagai berikut 23

a) Pencegahan Tingkat Dasar


Pencegahan tingkat dasar (primordial prevention) adalah usaha

mencegah terjadinya resiko atau mempertahankan keadaan resiko

rendah dalam masyarakat terhadap penyakit secara umum.

Pencegahan ini meliputi usaha memelihara dan mempertahankan

kebiasaan atau perilaku hidup sehat yang dapat mencegah atau

mengurangi tingkat resiko terhadap suatu penyakit tertentu. Sasaran

pencegahan tingkat dasar ini terutama pada kelompok masyarakat

berusia muda dan remaja dengan tidak mengabaikan orang dewasa

dan kelompok manual.

b) Pencegahan Tingkat Pertama

Pencegahan tingkat pertama (primary prevention) adalah upaya

mencegah agar tidak timbul penyakit diabetes mellitus. Tindakan

yang dilakukan untuk pencegahan primer meliputi penyuluhan

mengenai perlunya pengaturan gaya hidup sehat sedini mungkin

seperti mempertahankan perilaku makan seharihari yang sehat dan

seimbang, Mempertahankan berat badan normal sesuai dengan umur

dan tinggi badan, melakukan kegiatan jasmani yang cukup sesuai

dengan umur dan kemampuan.

c) Pencegahan Tingkat Kedua

Upaya pencegahan tingkat kedua pada penyakit diabetes adalah

dimulai dengan mendeteksi dini pengidap diabetes. Karena itu

dianjurkan untuk pada setiap kesempatan, terutama untuk mereka

yang beresiko tinggi agar dilakukan pemeriksaan penyaringan glukosa


darah.

d) Pencegahan Tingkat Ketiga

Pencegahan tingkat ketiga (tertiary prevention) merupakan

pencegahan dengan sasaran utamanya adalah penderita penyakit

diabetes mellitus. Tujuan utama adalah mencegah proses penyakit

lebih lanjut, seperti perawatan dan pengobatan khusus pada penderita

diabetes mellitus.

B. Empat Pilar Penatalaksanaan Diabetes Mellitus

1. Terapi Nutrisi Medis (TNM)

Terapi nutrisi medis termasuk dalam salah satu dari empat pilar

penanganan DM. prinsip pengaturan makan pada penyandang DM

hampir sama dengan anjuran makan untuk masyarakat umum, yaitu

makanan yang seimbang dan sesuai dengan kebutuhan kalori dan zat

gizi masing-masing individu. Penyandang DM perlu diberikan

penekanan mengenai pentingnya keteraturan jadwal makan, jenis dan

jumlah kandungan kalori, terutama pada mereka yang menggunakan

obat yang meningkatkan sekresi insulin atau terapi insulin itu sendiri 7.

a. Diet Diabetes Mellitus tipe 2

1) Karbohidrat

a) Karbohidrat yang dianjurkan sebesar 45-65% total asupan

energi. Terutama karbohidrat yang berserat tinggi.

b) Pembatasan karbohidrat total <130 g/hari tidak dianjurkan.

c) Glukosa dalam bumbu diperbolehkan sehingga penyandang


diabetes dapat makan sama dengan makanan keluarga yang

lain.

d) Sukrosa tidak boleh lebih dari 5% total asupan energi.

e) Dianjurkan makan tiga kali sehari dan bila perlu dapat

diberikan makanan selingan seperti buah atau makanan lain

sebagai bagian dari kebutuhan kalori sehari.

2) Lemak

a) Asupan lemak dianjurkan sekitar 20-25% kebutuhan kalori,

dan tidak diperkenankan melebihi 30% total asupan energi.

b) Komposisi yang dianjurkan, lemak jenuh < 7 % kebutuhan

kalori, lemak tidak jenuh ganda < 10 %, selebihnya dari

lemak tidak jenuh tunggal sebanyak 12-15%. Rekomendasi

perbandingan lemak jenuh : lemak tidak jenuh tunggal :

lemak tidak jenuh ganda yaitu 0,8 : 1,2 : 1.

c) Bahan makanan yang perlu dibatasi adalah yang banyak

mengandung lemak jenuh dan lemak trans antara lain: daging

berlemak dan susu fullcream,

d) Konsumsi kolesterol dianjurkan <200 mg/hari.

3) Protein

a) Kebutuhan protein sebesar 10 – 20% total asupan energi.

b) Pada pasien dengan nefropati diabetik perlu penurunan


asupan protein menjadi 0,8 g/kg BB perhari atau 10% dari

kebutuhan energi, dengan 65% diantaranya bernilai biologik

tinggi.

c) Penyandang DM yang sudah menjalani hemodialisis asupan

protein menjadi 1-1,2 g/kg BB perhari.

d) Sumber protein yang baik adalah ikan, udang, cumi, daging

tanpa lemak, ayam tanpa kulit, produk susu rendah lemak,

kacang-kacangan, tahu dan tempe.

4) Natrium

a) Anjuran asupan natrium untuk penyandang DM sama

dengan orang sehat yaitu <1500 mg/hari. Penyandang DM

yang juga menderita hipertensi perlu dilakukan pengurangan

natrium secara individual.

b) Pada upaya pembatasan asupan natrium ini, perlu juga

memperhatikan bahan makanan yang mengandung tinggi

natrium antara lain mgaram dapur, monosodium glutamate

(vetsin), soda, dan bahan pengawet seperti natrium benzoat

dan natrium nitrit.

5) Serat

a) Penyandang DM dianjurkan mengonsumsi serat dari kacang-

kacangan, buah dan sayuran serta sumber karbohidrat yang

tinggi serat.
b) Jumlah konsumsi serat yang disarankan adalah 14 gr/1000

kal atau 20-35 gram/hari.

6) Pemanis Alternatif

a) Pemanis alternatif aman digunakan sepanjang tidak melebihi

batas aman (Accepted Daily Intake/ADI). Pemanis alternatif

dikelompokkan menjadi pemanis berkalori dan pemanis tak

berkalori.

b) Pemanis berkalori perlu diperhitungkan kandungan kalorinya

sebagai bagian dari kebutuhan kalori, seperti glukosa alkohol

dan fruktosa. Glukosa alkohol antara lain isomalt, lactitol,

maltitol, mannitol, sorbitol dan xylitol.

c) Pemanis tak berkalori termasuk: aspartam, sakarin,

acesulfame potassium, sukralose, neotame.

2. Edukasi

Edukasi yang diberikan adalah pemahaman tentang perjalanan

penyakit, pentingnya pengendalian penyakit, komplikasi yang timbul

dan resikonya, pentingnya intervensi obat dan pemantauan glukosa

darah, cara mengatasi hipoglikemia, perlunya latihan fisik yang teratur,

dan cara mempergunakan fasilitas kesehatan. Mendidik pasien

bertujuan agar pasien dapat mengontrol gula darah, mengurangi

komplikasi dan meningkatkan kemampuan merawat diri sendiri24.

3. Latihan Fisik

Latihan fisik merupakan salah satu pilar dalam pengelolaan DM tipe


2. Program latihan fisik secara teratur dilakukan 3-5 hari seminggu

selama sekitar 30-45 menit dengan total 150 menit per minggu, dengan

jeda antar latihan tidak lebih dari 2 hari berturut-turut. Latihan fisik

selain untuk menjaga kebugaran juga dapat menurunkan berat badan

dan memperbaiki sensitivitas insulin, sehingga akan memperbaiki

kendali glukosa darah7. Keuntungan latihan fisik dapat memberikan

kesegaran tubuh, glukosa darah lebih terkontrol, mengurangi kebutuhan

obat atau insulin, mencegah terjadinya DM dini, menurunkan tekanan

arah tinggi, mengurangi resistensi insulin pada orang yang kegemukan,

dan memperbaiki profil lemak darah terganggu25.

4. Farmakologi

Terapi farmakologi diberikan bersama dengan pengaturan makan

dan latihan fisik (gaya hidup sehat). Terapi farmakologis terdiri dari

obat oral dan bentuk suntikan7.

C. Kepatuhan Diet

1. Definisi

Kepatuhan diet adalah kesesuaian perilaku yang dilakukan oleh

seseorang berdasarkan rekomendasi yang diberikan oleh tenaga

Kesehatan26. Kepatuhan diet pasien DM sangat berperan penting untuk

menstabilkan kadar glukosa darah, sedangkan kepatuhan itu sendiri

merupakan suatu hal yang penting untuk dapat mengembangkan

rutinitas (kebiasaan) yang dapat membantu penderita dalam mengikuti

jadwal diet. Pasien yang tidak patuh dalam menjalankan terapi diet
menyebabkan kadar gula yang tidak terkendali 27.

2. Faktor yang Mempengaruhi Kepatuhan Diet

Menurut Green (dalam Notoatmodjo, 2011) menjelaskan bahwa

perilaku seseorang dipengaruhi oleh tiga faktor pokok, yaitu28

a. Faktor Predisposisi

Faktor predisposisi (predisposing factors) adalah faktor-

faktor yang mempermudah terjadinya perilaku seseorang, antara lain

pengetahuan, sikap, keyakinan, kepercayaan, nilai-nilai, tradisi, dan

sebagainya.

b. Faktor Pemungkin

Faktor pemungkin (enabling factors) adalah faktor-faktor

yang memungkinkan atau yang memfasilitasi perilaku seseorang.

Contohnya adalah sarana prasarana kesehatan, misalnya Puskesmas,

Posyandu, Rumah Sakit, uang untuk berobat, tempat sampah.

c. Faktor Pendorong

Faktor penguat (reinforcing factors) adalah faktor yang

menguatkan seseorang untuk berperilaku sehat ataupun berperilaku

sakit, mendorong atau memperkuat terjadinya perilaku seperti

dorongan dari orang tua, tokoh masyarakat, dan perilaku teman

sebaya yang menjadi panutan.


3. Kepatuhan Diet 3J (Jumlah, Jenis, Jadwal)

a. Tepat Jumlah

Terdapat beberapa cara untuk menentukan jumlah kalori

yang dibutuhkan pasien DM saat memulai perencanaan makan,

diantaranya adalah dengan memperhitungkan kebutuhan kalori

basal yang besarnya 25- 30 kalori/kgBB ideal, lalu ditambah atau

dikurangi bergantung pada beberapa faktor seperti jenis kelamin,

umur, aktivitas dan status gizi29.

1) Jumlah kalori untuk IMT kurus 2300-2500 kalori, normal 1700-

2100 dan gemuk 1300-1500 kalori. Komposisi energi sebagai

berikut.

2) 45-65% dari karbohidrat, pembatasan karbohidrat total <130

g/hari tidak dianjurkan, sukrosa <5% total energi dan serat

dianjurkan sekitar 25 gram/1000 kalori per hari.

3) 10- 20% dari protein, pada penderita DM dengan nefropati

perlu penurunan protein menjadi 0,8 g/kgBB/hari (65% dari

protein bernilai biologis tinggi).

4) 20-25% dari lemak, dengan asam lemak jenuh <7% dan

kandungan kolesterol <300 mg/hari.

Kebutuhan kalori sesuai untuk mencapai dan mempertahankan

berat badan ideal yaitu berat badan sesuai dengan tinggi badan titik

berat badan ideal dapat dihitung berdasarkan rumus Brocca yang

dimodifikasi sebagai berikut7.


BBI = 90% (Tinggi badan (cm) – 100) x 1 kg

Bagi pria dengan tinggi badan di bawah 160 cm dan wanita di

bawah 150 cm, rumus yang digunakan menjadi:

BBI = (Tinggi badan (cm) – 100) x 1 kg

Perhitungan berat badan ideal menurut Indeks Massa Tubuh

(IMT). Indeks massa tubuh dapat dihitung dengan rumus:

𝐵𝐵 (𝑘𝑔)
IMT =
𝑇𝐵2 (𝑐𝑚)

Tabel 1. Klasifikasi IMT menurut Kriteria Asia Pasifik

Klasifikasi Indeks Massa Tubuh


Underweight <18,5
Normal 18,5–22,9
Overweight (Berisiko) 23-24,9
Obes I 25-29,9
Obes II ≥30
Sumber : WPR/IASO/IOTF dalam The Asia-Pacific

Faktor-faktor yang menentukan kebutuhan kalori antara lain 7:

1) Jenis Kelamin

Kebutuhan kalori basal perhari untuk wanita lebih kecil

dibandingkan pria, energi basal pada wanita yaitu 25

kkal/kgBB/hari dan pada pria 30 kkal/kgBB/hari.

2) Umur

a) Pasien usia diatas 40 tahun, kebutuhan kalori dikurangi 5%

untuk setiap dekade antara 40 dan 59 tahun.

b) Pasien usia diantara 60 dan 69 tahun, dikurangi 10%

c) Pasien usia diatas 70 tahun dikurangi 20%


3) Aktivitas Fisik atau Pekerjaan

a) Keadaan istirahat kebutuhan kalori basal +10%

b) Aktifitas fisik ringan seperti pegawai kantor, pegawai toko,

guru, ahli hukum, ibu rumah tangga, dll kebutuhan kalori

basal +20%

c) Aktifitas fisik sedang seperti pegawai di industri ringan,

mahasiswa, militer yang sedang tidak perang, dll kebutuhan

kalori basal +30%

d) Aktifitas fisik berat seperti petani, buruh, ,militer dalam

keadaan latihan, penari, atlit, dll kebutuhan kalori basal

+40%

e) Aktifitas fisik sangat berat seperti tukang becak, tukang gali,

dll kebutuhan kalori basal +50%

4) Adanya Komplikasi

Infeksi, trauma, atau operasi yang menyebabkan kenaikan

suhu memerlukan tambahan kalori sebesar 13% untuk tiap

kenaikan 1 derajat celsius.

5) Berat Badan

Bila kegemukan atau terlalu kurus, dikurangi atau ditambah

sekitar 20-30% bergantung pada tingkat kegemukan atau

kekurusannya.
b. Tepat Jenis

Penderita DM dianjurkan memilih jenis bahan makanan

maupun makanan yang tidak cepat meningkatkan kadar glukosa

darah. Bahan makanan atau makanan yang cepat meningkatkan

kadar glukosa darah dikarenakan memiliki indeks glikemik (IG)

tinggi. konsep indeks glikemik dikembang untuk mengurutkan

makanan berdasarkan kemampuannya dalam meningkatkan kadar

glukosa darah setelah dbandingkan dengan makanan standar30.

Selain dari bahan makanan yang memiliki indeks glikemik

tinggi, perlu pula cara pemgolahan makanan, karena terdapat

beberapa pengolahan dapat meningkatkan indeks glikemik, yaitu

merebus/mengukus dan menghaluskan bahan (bubur, juice, dll).

persentase protein dan lemak akan menurunkan indeks glikemik

termasuk serta dan zat anti gizi (tanin dan fitat). Oleh karena itu

kandungan karbohidrat total makanan dan sumbangan masing-

masing pangan terhadap karbohidrat total harus diketahui 30.

Gula dan produk-produk lain dari gula dikurangi.

Penggunaan gula pada bumbu diperbolehklan tetapi jumlahnya

hanya sedikit. Anjuran pnggunaan gula tidak lebih dari 5% dari total

kebutuhan kalori. Penggunaan pemanis diabetes, aman digunakan

asal tidak melebihi batas aman (accepted daily intake). Misalnya

fruktosa <50 g/hari, jika berlebih akan menyebabkan diare. Sorbitol

<30 g/hari jika berlebih akan menimbulkan kembung dan diare,


manitol <20 g/hari, sakarin 1g/hari, siklamat 11 mg/kgbb/hr30.

Penggunaan sukrosa sebagai bagian dari perencanaan makan

tidak memperburuk kontrol glukosa darah pada individu dengan DM

tipe 1 dan 2. Sukrosa dari makanan harus diperhitungkan sebagai

pengganti karbohidrat makanan lain dan tidak hanya dengan

menambahkannya pada perencanaan makanan. Melakukan

substitusi ini kandungan zat gizi dari makanan-makann manis yang

pekat dan kandungan zat gizi lain dari makanan yang mengandung

sukrosa harus dipertimbangkan, seperti lemak yang selalu ada

bersama sukrosa dalam makanan30.

Bahan makanan tinggi asam lemak tidak jenuh seperti pada

kacang, alpukat dan minyak zaitun, baik digunakan dalam

perencanaan makan bagi penderita DM. Tambahan suplemen

vitamin dan mineral pada penderita DM yang asupan gizinya cukup

tidak diperlukan30.

c. Tepat Jadwal

Makan dalam porsi kecil tapi sering dapat membantu

menurukan kadar glukosa darah. Makan teratur (makan pagi, makan

siang dan makan malam serta selingan diantara waktu makan) akan

memungkinkan glukosa darah turun sebelum makan berikutnya.

Pada penelitian Toharin (2015) menunjukkan bahwa ada

hubungan antara aturan jadwal makan dengan kadar gula darah pada

penderita DM tipe 231. Sebaliknya, pada penelitian Idris (2014)


menunjukkan tidak ada hubungan antara jadwal makan terhadap

status kadar gula darah. Tidak adanya hubungan tersebut mungkin

dipengaruhi oleh banyak faktor seperti pekerjaan atau aktivitas yang

dilakukan sehingga sulit untuk mengikuti sesuai jadwal yang

dianjurkan32.

D. Konseling Gizi

1. Definisi

Konseling merupakan salah satu upaya meningkatkan pengetahuan

dan kemampuan individu atau keluarga melalui pendekatan untuk

memperoleh pengertian yang lebih baik tentang dirinya serta

permasalahan yang dihadapi. Dalam proses konseling, seseorang yang

membutuhkan pertolongan (klien) dan seseorang yang memberikan

bantuan dan dukungan (konselor) akan bertatap muka dan berbicara

sedemikian rupa sehingga klien mampu untuk memecahkan masalah

yang dihadapinya. Oleh karenanya, keterampilan komunikasi dan

hubungan antar manusia sangat dibutuhkan33. Tahap konseling gizi

terdiri dari 4 diantaranya yaitu tahap 1 assessment, tahap 2 diagnosis,

tahap 3 intervensi dan tahap 4 monitoring dan evaluasi34.

2. Langkah-langkah Konseling Gizi

Langkah-langkah konseling menurut Cornelia dkk (2016) yaitu sebagai

berikut33.

a. Langkah 1 : Membangun Dasar-dasar Konseling

Pada saat bertemu klien gunakanlah keterampilan


komunikasi dan konseling. Sambutlah klien dengan ramah,

tersenyum dan berikan salam. Selanjutnya, persilakan klien untuk

duduk dan upayakan klien merasa nyaman. Ciptakan hubungan yang

positif berdasarkan rasa percaya, keterbukaan dan kejujuran

berekspresi. Konselor harus dapat menunjukkan bahwa dirinya

dapat dipercaya dan seorang yang kompeten untuk membantu

kliennya. Sampaikan tujuan dari konseling yang dilakukan.

b. Langkah 2 : Menggali Permasalahan dengan Pengkajian Gizi

Konseling gizi merupakan suatu proses pengumpulan,

verifikasi dan interpretasi data yang sistematis dalam upaya

mengidentifikasi masalah gizi serta penyebabnya. Tujuan kegiatan

ini adalah untuk mendapatkan informasi atau data yang lengkap dan

sesuai dengan upaya identifikasi masalah gizi terkait dengan

masalah asupan gizi atau faktor lain yang dapat menimbulkan

masalah gizi. Perubahan status dapat terdeteksi dengan

menggunakan komponen pengkajian gizi, meliputi pengukuran

antropometri, pemeriksaan klinis dan fisik, biokimia, Riwayat

makan, serta Riwayat personal.

c. Langkah 3 : Menegakkan Diagnosis Gizi

Langkah ini merupakan langkah kritis yang menjembatani

pengkajian gizi dan intervensi gizi. Diagnosa gizi adalah kegiatan

mengidentifikasi dan memberi nama masalah gizi aktual, dan atau

beresiko menyebabkan masalah gizi. Diagnosisi diuraikan


berdasarkan komponen masalah gizi (problem), penyebab masalah

gizi (etiologi) dan tanda serta gejala adanya masalah gizi (sign

symptom).

d. Langkah 4 : Intervensi Gizi

Intervensi gizi dalam konseling meliputi serangkaian

aktivitas atau tindakan terencana yang secara khusus dengan tujuan

untuk mengatasi masalah gizi melalui perubahan perilaku makan

guna memenuhikebutuhan gizi klien shingga mendapatkan

kesehatan yang optimal. Ada tiga langkah dalam melakukan

intervensi gizi yaitu menghitung kebutuhan energi dan zat gizi,

menetapkan preskripsi diet dan melakukan konseling gizi.

e. Langkah 5 : Monitoring dan Evaluasi

Langkah terakhir konseling gizi yaitu monitoring evaluasi,

yaitu melakukan penilaian kembali terhadap kemajuan konselor

maupun kliennya. Langkah ini dilakukan untuk mengetahui respon

klien terhadap intervensi dan tingkat keberhasilannya. Sebagian

besar pertanyaan yang ada pada tahap pengkajian dapat digunakan

lagi pada tahap ini, tetapi difokuskan pada tujuan yang diinginkan

dan apakah tujuan tersebut dapat dicapai.

f. Langkah 6 : Mengakhiri Konseling (Terminasi)

Terminasi dilakukan pada tahap terakhir konseling.

Konselor dapat mempersiapkan klien melaui ucapan-ucapan bahwa

konseling berakhir. Konselor menyiapkan leflet, brosur, booklet dan


lain-lain. Konselor tetap membuka kesempatan kepada klien untuk

kunjungan berikutnya (bila memerlukan kunjungan ulang).

E. Media

1. Definisi Media

Kata media berasal dari bahasa Latin medius yang secara

harfiah berarti ‘tengah’,’perantara’ atau ‘pengantar’. Dalam bahasa

Arab, media adalah perantara wasaail atau pengantar pesan dari

pengirim kepada penerima pesan35. Media merupakan sesuatu yang

bersifat menyalurkan pesan dan dapat merangsang pikiran, perasaan

dan kemauan audien sehingga dapat mendorong terjadinya proses

memahami pada penerima pesan36.

Media promosi kesehatan adalah semua sarana atau upaya untuk

menampilkan pesan atau informasi yang tersedia yang ingin

disampaikan oleh komunikator, baik itu melalui media cetak, elektronik

dan media luar ruang, sehingga sasaran dapat meningkat

pengetahuannya yang akhirnya diharapkan adanya perubahan perilaku

ke arah positif atau lebih baik37. Alat peraga merupakan salah satu

sarana penting dalam proses pendidikan dan konsultasi gizi. Peran

media atau alat peraga ini sangat strategis untuk memperjelas pesan dan

meningkatkan efektivitas proses konseling gizi. Oleh sebab itu, seorang

penyuluh dan konselor gizi harus dapat mengenal, memilih,

menggunakan dan menilai berbagai alat peraga yang paling sesuai


dengan tujuan, sasaran, dan situasi tempat pendidikan dan konseling

gizi dilakukan38.

2. Manfaat Media

Media memiliki banyak sekali manfaat terutama dalam pelaksanaan

konseling gizi. Beberapa manfaat dari penggunaan media dalam

konseling gizi yaitu menumbuhkan minat pasien untuk konseling,

membantu pasien untuk mengerti lebih baik informasi yang diberikan,

membantu pasien untuk dapat mengingat lebih baik lebih baik informasi

yang diberikan, membantu pasien untuk meneruskan informasi

diperoleh kepada orang lain, membantu pasien untuk menambah dan

membina sikap baru dan memotivasi pasien untuk melakukan anjuran

ahli gizi39.

3. Jenis Media

Menurut fungsi sebagai saluran pesan, media dapat dikelompokkan

atas media cetak, media elektronik dan media papan (billboard).

Beberapa media cetak dikenal antara lain booklet, leaflet, selebaran

(flyer), lembar balik (flip chart), artikel atau rubrik, poster dan foto.

Media elektronik dapat berupa televisi, radio, video, slide, film strip,

web (internet) dan aplikasi berbasis android. Alat peraga yang

dipergunakan dalam pendidikan kesehatan dapat berupa alat bantu lihat

(visual), alat bantu dengar (audio) atau kombinasi audio visual 40.
4. Aplikasi Berbasis Android (e-Nutri Diabetic Pocket)

a. Aplikasi

Aplikasi merupakan penerapan, menyimpan sesuatu hal,

data, permasalahan, pekerjaan kedalam suatu sarana atau media

yang dapat digunakan untuk menerapkan atau

mengimplementasikan hal atau permasalahan yang ada sehingga

berubah menjadi suatu bentuk yang baru tanpa menghilangkan nilai-

nilai dasar dari hal data, permasalahan, dan pekerjaan itu sendiri.

Aplikasi juga diartikan sebagai penggunaan atau penerapan suatu

konsep yang menjadi pokok pembahasan atau sebagai program

komputer yang dibuat untuk menolong manusia dalam

melaksanakan tugas tertentu41.

b. Android

Android merupakan salah satu sistem operasi yang telah

banyak digunakan di dalam perangkat mobile. Dengan sistem

operasi yang berbasis linux, android bertujuan untuk

mengembangkan inovasi perangkat mobile agar pengguna dapat

mengembangkan kemampuan-nya dan menambah

pengalamannya42.

Berikut merupakan 4 komponen utama yang dapat digunakan

dalam aplikasi Android43.

1) Aktivitas (Activities)

Aktivitas adalah titik masuk untuk berinteraksi dengan


pengguna. Ini mewakili satu layar dengan antarmuka pengguna.

Aktivitas mempermudah interaksi penting di antara sistem dan

aplikasi yaitu tetap memantau apa yang penting bagi pengguna

saat ini (apa yang ada di layar) untuk memastikan bahwa sistem

tetap menjalankan proses yang menjadi host aktivitas,

memahami proses yang digunakan sebelumnya berisi sesuatu

yang dapat dikembalikan pengguna (aktivitas yang dihentikan),

jadi lebih memprioritaskan mempertahankan proses tersebut,

membantu menangani aplikasi menghentikan prosesnya

sehingga pengguna dapat kembali ke aktivitas dengan status

sebelumnya yang dipulihkan, Memberikan cara bagi aplikasi

untuk menerapkan alur antar pengguna, dan bagi sistem untuk

mengoordinasikan alur.

2) Layanan (service)

Layanan adalah titik masuk serbaguna untuk menjaga

aplikasi tetap berjalan di latar belakang bagi semua jenis alasan.

Ini adalah komponen yang berjalan di latar belakang untuk

melakukan operasi yang berjalan lama atau untuk melakukan

pekerjaan bagi proses jarak jauh. Layanan tidak menyediakan

antarmuka pengguna.

3) Penerima Siaran (Broadcast Receiver)

Penerima siaran adalah komponen yang memungkinkan

sistem menyampaikan kejadian di luar alur pengguna regular,


menjadikan aplikasi tersebut dapat merespons pengumuman

siaran seluruh sistem. Oleh karena penerima siaran adalah entri

yang didefinisikan dengan baik ke dalam aplikasi, sistem dapat

mengirimkan siaran meskipun ke aplikasi yang saat ini tidak

berjalan. Jadi, misalnya, suatu aplikasi dapat menjadwalkan

alarm atau pengingat untuk mengirimkan notifikasi agar

pengguna tahu tentang acara yang akan datang dan dengan

mengirimkan alarm atau pengingat tersebut ke penerima siaran

aplikasi, aplikasi tersebut tidak perlu untuk tetap berjalan hingga

alarm mati.

4) Penyedia Materi (Content Provider)

Penyedia materi mengelola set data aplikasi secara bersama-

sama, yang dapat Anda simpan di sistem file, di database

SQLite, di web, atau di lokasi penyimpanan persisten lain yang

dapat diakses aplikasi Anda. Melalui penyedia materi, aplikasi

lain bisa melakukan kueri atau memodifikasi data jika penyedia

materi mengizinkannya. Karenanya, setiap aplikasi dengan izin

yang sesuai bisa melakukan kueri mengenai bagian dari

penyedia materi.

c. e-Nutri Diabetic Pocket

e-Nutri Diabetic Pocket adalah aplikasi berbasis android

yang dirancang khusus untuk membantu penyandang DM dalam

penerapan diet DM dirumah serta meningkatkan pemahaman


penyandang DM mengenai diet DM. Aplikasi ini berisikan materi

tentang diet DM, tata cara menghitung kebutuhan sehari, recall

makan sehari untuk mengontrol asupan penderita DM sesuai

kebutuhan masing masing. Dalam aplikasi ini disediakan beberapa

fitur seperti materi-materi tentang diet DM, menghitung status gizi,

alarm atau pengingat jadwal makan, menghitung asupan sehari,

catatan kadar gula darah setiap kali kontrol, dll.

Pada pembuatan aplikasi e-Nutri Diabetic Pocket, peneliti

bekerja sama dengan ahli teknologi informatika untuk merancang

aplikasi tersebut sesuai dengan konsep/desain yang telah ditentukan.

e-Nutri Diabetic Pocket bisa digunakan di hampir semua jenis

android yang ada. Tetapi aplikasi ini belum bisa digunakan di

perangkat PC. Aplikasi ini secara keseluruhan dapat digunakan

secara offline, namun terdapat satu menu yang membutuhkan

jaringan internet untuk mengaksesnya. Pengoperasian aplikasi

cukup mudah, karena sengaja dibuat dengan sasaran pengguna usia

dewasa yaitu 18-65 tahun. Aplikasi ini seperti aplikasi android pada

umumnya, tetapi aplikasi ini belum tersedia secara online di

playstore ataupun di website penyedia aplikasi android lainya. e-

Nutri Diabetic Pocket dapat digunakan kapan saja dan dimana saja.
F. Metode Penilaian Konsumsi Makanan

1. Food Recall 24 Jam

a. Definisi

Food recall 24 jam adalah metode survey konsumsi pangan

yang fokusnya pada kemampuan mengingat subjek terhadap seluruh

makanan dan minuman yang telah dikonsumsinya selama 24 jam

terakhir44.

b. Langkah-langkah Metode Food Recall 24 jam

Menurut Sirajuddin (2015) terdapat 5 langkah dalam

melakukan food recall 24 jam, yaitu45

1) Quick List (Daftar Makanan)

Quick list atau disebut juga daftar makanan dan

minuman yang dikonsumsi dalam 24 jam terakhir. Enumerator

pada langkah ini tidak boleh langsung menanyakan bahan

makanan, tetapi hanya wajib menanyakan nama hidangan saja.

Tidak lebih dari itu, kesalahan yang sering terjadi adalah

enumerator langsung menanyakan bahan makanan. Ini tidak

dianjurkan karena akan merusak ingatan responden. Ingat

metode food recall poin pentingnya adalah daya ingat. Tujuan

pokok dari quick list adalah membangun konsep besar ingatan

responden akan peta makanan dan minuman yang telah ia

konsumsi satu hari yang lalu. Jika responden sudah


menyebutkan semua nama hidangan makanan dan minuman,

maka langkah pertama dari lima langkah sudah selesai.

2) Review Quick List (Forgotten Food)

Pada tahap kedua, ingatan respoden itu dikalibrasi atau

di validasi dengan cara mereview atau menanyakan ulang daftar

itu. Catatan tambahan adalah memastikan bahwa tidak ada lagi

nama hidangan yang dilupakan atau dilewatkan. Teknik yang

digunakan adalah menghubungkan waktu dan aktivitas

respoden. Jika pada pengakuran responden ia masih memiliki

makanan dan atau minman yang lupa ia sebut dilangkah

pertama, maka segera diperbaiki catatan quick list dengan

menambahkan makanan dan minuman [Link]

dilakukan perbaikan maka daftar makanan dan minuman dibaca

ulang dan di perdengarkan kepada responden. Lalu ditanyakan

bahwa ini adalah daftar makanan yang ia makan satu hari yang

lalu. Jika ia kemudian membenarkan, maka langkah kedua

sudah selesai.

3) Uraikan bahan makanan (Describe the Food)

Langkah ke tiga adalah, menguraikan komponen

penyusun setiap hidangan. Uraian ini berada pada kolom ke tiga

dsalam formulir recall konsumsi. Pada tahap ini setiap nama

hidangan yang sudah ditulis pada langkah pertama, kemudian

diuraikan seluruh bahan penyusunnya. Pada saat menguraikan


bahan makanan tidak boleh pindah kepada jumlahnya, akan

tetapi pada tahap ini hanya sebatas mengurai semua bahan

penyusun untuk masing-masing hidangan. Jika satu hidangan

sudah selesai diuraikan, maka selanjutnya pindah kepada

hidangan kedua sesuai urutan dalam urutan waktu makan.

Jangan lupa bahwa penulisan nama hidangan pada kolom ketiga

sudah dihubungkan dengan waktu makan. Maksudnya adalah

bahwa hidangan yang dimakan sebagaimana daftar nama

hidangan ditempatkan menurut waktu makan pada kolom

ketiga. Jika ada hidangan yang dimakan di dua waktu makan

maka tetap ditulis sebagaimana mestinya.

4) Tuliskan jumlah makanan (amount the food)

Jumlah makanan yang dikonsumsi, adalah dicatat pada

kolom keempat. Jumlah makanan disetiap porsi makanan.

Jumlah bahan makanan untuk satu porsi yang dimakan oleh

subjek.

5) Mengulas kembali seluruh makanan dan minuman (Final

Probe)

Mengulas kembali seluruh makanan dan minuman,

adalah langkah kelima dalam tahapan food recall. Tahapan ini

merangkum dan memastikan bahwa semua makanan

danminuman, yang telah disebut adalah tepat. Caranya adalah


membaca semua makanandan minuman beserta porsi dan

beratnya mulai dari pagi hingga makan malam terakhir.

c. Kelebihan dan Kelemahan Metode Food Recall 24 jam

Menurut Hardinsyah & Supariasa (2016) metode food

recall 24 jam memiliki kelebihan dan kelemahan, yaitu46.

1). Kelebihan

- Mudah melaksanakannya serta tidak terlalu membebani

responden

- Biaya relatif murah, karena tidak memerlukan peralatan

khusus dan tempat yang luas untuk wawancara

- Cepat, sehingga dapat mencakup banyak responden

- Dapat digunakan untuk responden yang buta huruf

- Dapat memberikan gambaran nyata yang benar-benar

dikonsumsi individu sehingga dapat dihitung intake zat gizi

sehari

- Lebih objektif dibandingkan dengan metode food dietary

history

- Baik digunakan di klinik

2) Kelemahan

- Ketepatannya sangat tergantung pada daya ingat responden.

Oleh karena itu, responden harus mempunyai daya ingat

yang baik.
- Sering terjadi kesalahan dalam memperkirakan ukuran porsi

yang dikonsumsi sehingga menyebabkan over atau

underestimate.

- Membutuhkan tenaga atau petugas yang terlatih dan terampil

dalam menggunakan alat-alat bantu URT dan ketepatan alat

bantu yang dipakai menurut kebiasaan masyarakat.

- Tidak dapat menggambarkan asupan makanan sehari-hari

bila hanya dilakukan recall satu hari

2. Food Frequency Questionnaire (FFQ)

a. Definisi

Metode FFQ merupakan metode untuk mengukur kebiasaan


makan individua tau keluarga sehari-hari sehingga diperoleh
gambaran pola konsumsi bahan/makanan secara kualitatif. Metode
ini mengandalkan daya ingat, baik untuk yang ditanya/individu
sampel maupun yang menanya/pewawancara. Oleh sebab itu,
pewawancara disyaratkan harus mempunyai keahlian dan
kemampuan yang tinggi dalam mengapersepsi segala sesuatu yang
disampaikan oleh narasumber, tentang tingkat keseringan
narasumber dalam mengonsumsi bahan makanan tertentu dalam
hari, minggu, bulan dan tahun. Kuesioner frekuensi makanan
memuat tentang daftar bahan/makanan dan frekuensi penggunaan
makanan tersebut pada periode tertentu46.

b. Langkah-langkah Metode Food Frequency Questionnaire

(FFQ)

Menurut Hardinsyah & Supariasa (2016) terdapat 4 langkah

dalam melakukan food frequency questionnaire (FFQ), yaitu 46


1) Terlebih dahulu harus disiapkan daftar bahan/makanan yang

akan diukur.

2) Responden diminta untuk memberi tanda pada daftar makanan

yang tersedia pada kuesioner mengenai frekuensi penggunaan

bahan/makanan yang sering dikonsumsinya, di kolom yang

disediakan.

3) Lakukan penghitungan terhadap data yang di dapatkan.

4) Bandingkan/rujuk ke kategori yang berlaku untuk menentukan

hasil akhirnya.

c. Kelebihan dan Kelemahan Metode Food Frequency

Questionnaire (FFQ)

1) Kelebihan

Kelebihan pada metode FFQ menurut Hardinsyah &

Supariasa (2016), antara lain46

a) Relatif murah dan sederhana

b) Dapat dilakukan sendiri oleh responden

c) Tidak membutuhkan latihan khusus

d) Dapat membantu dalam menjelaskan hubungan antara

penyakit dan kebiasaan makan

2) Kelemahan

Kelemahan pada metode FFQ menurut Hardinsyah &

Supariasa (2016), antara lain46

a) Tidak dapat untuk menghitung asupan zat gizi sehari


b) Sulit mengembangkan kuesioner pengumpulan data

c) Cukup menjemukan bagi pewawancara

d) Perlu percobaan pendahuluan untuk menentukan jenis

bahan makanan yang akan masuk dalam daftar kuesioner

e) Responden harus jujur dan mempunyai motivasi tinggi.


5. Kerangka Teori

4 Pilar Penatalaksanaan Diabetes Mellitus

Terapi Nutrisi Medis Edukasi Latihan Fisik Terapi Farmakologis

Prinsip Diet Diabetes Aplikasi e-Nutri


Mellitus tipe 2 Faktor yang
Diabetic Pocket
mempengaruhi kepatuhan
Konseling Gizi
1. Tepat Jadwal diet 3J

2. Tepat Jumlah 1. Faktor Predisposisi

3. Tepat Jenis 2. Faktor Pemungkin


Kepatuhan Diet 3J
3. Faktor Penguat

Gambar 1. Kerangka Teori 4 Pilar Penatalaksanaan Diet Diabetes Mellitus

Sumber: Perkeni 2019


6. Kerangka Konsep

Aplikasi e-Nutri
Diabetic Pocket
Konseling Gizi

Kepatuhan Diet 3J

Gambar 2. Kerangka Konsep

7. Hipotesis

a. Ada perbedaan tingkat kepatuhan diet DM tipe 2 sebelum dan setelah

menggunakan aplikasi e-Nutri Diabetic Pocket.

b. Ada perbedaan tingkat kepatuhan diet DM tipe 2 yang menggunakan aplikasi e-

Nutri Diabetic Pocket dan yang tidak menggunakan aplikasi e-Nutri Diabetic

Pocket.

Anda mungkin juga menyukai