0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
4 tayangan12 halaman

Jigsaw Kooperatif Tingkatkan Hasil Belajar

Penelitian ini mengkaji implementasi model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw untuk meningkatkan hasil belajar Bahasa Indonesia siswa Kelas I di SD Negeri 1 Kerobokan Kaja. Hasil penelitian menunjukkan peningkatan signifikan pada hasil belajar siswa dari prasiklus ke siklus I dan II, dengan peningkatan total mencapai 13,35 poin. Penelitian ini menyimpulkan bahwa penerapan model jigsaw efektif dalam meningkatkan hasil belajar siswa.

Diunggah oleh

roslianamarbun372
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
4 tayangan12 halaman

Jigsaw Kooperatif Tingkatkan Hasil Belajar

Penelitian ini mengkaji implementasi model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw untuk meningkatkan hasil belajar Bahasa Indonesia siswa Kelas I di SD Negeri 1 Kerobokan Kaja. Hasil penelitian menunjukkan peningkatan signifikan pada hasil belajar siswa dari prasiklus ke siklus I dan II, dengan peningkatan total mencapai 13,35 poin. Penelitian ini menyimpulkan bahwa penerapan model jigsaw efektif dalam meningkatkan hasil belajar siswa.

Diunggah oleh

roslianamarbun372
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

IMPLEMENTASI MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE

JIGSAW DALAM MENINGKATKAN HASIL BELAJAR BAHASA


INDONESIA SISWA KELAS I SD NEGERI 1 KEROBOKAN KAJA
Oleh: Ni Ketut Asryani1

Abstrak
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui Implementasi model
pembelajaran kooperatiftipe jigsaw dalam meningkatkan hasil belajar
Bahasa Indonesia siswa Kelas I semester ganjil di SD Negeri 1 Kerobokan
Kaja tahun Pelajaran 2016/2017. Jenis penelitian ini adalah penelitian
tindakan kelas yang terdiri dari dua siklus. Setiap siklus terdiri dari 4 tahap
yaitu tahap perencanaan, tindakan, observasi/evaluasi, dan refleksi. Subjek
penelitian ini adalah siswa Kelas I semester ganjil SD Negeri 1 Kerobokan
Kaja Kecamatan Kuta Utara tahun Pelajaran 2016/2017 sebanyak 20 orang.
Data hasil belajar siswa dikumpulkan dengan tes pilihan ganda. Data hasil
belajar siswa yang terkumpul dianalisis secara deskriptif kuantitatif. Hasil
penelitian menunjukkan bahwa penerapan model pembelajaran kooperatif
tipe jigsaw dapat meningkatkan hasil belajar Bahasa Indonesia siswa Kelas I
semester ganjil di SD Negeri 1 Kerobokan Kaja Kecamatan Kuta Utara. Hasil
belajar Bahasa Indonesia siswa mengalami peningkatan dari prasiklus ke
siklus I sebanyak 2,90 poin, dari prasiklus ke siklus II sebanyak 13,35 poin,
dan dari siklus I ke silus II meningkat sebanyak 10,45 poin. Hasil analisis data
tersebut menunjukkan penerapan model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw
dapat meningkatkan hasil belajar Bahasa Indonesia siswa Kelas I di SD
Negeri 1 Kerobokan Kaja. Dengan demikian penelitian ini dapat disimpulkan
bahwa penerapan model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw dapat
meningkatkan hasil belajar Bahasa Indonesia siswa.
Kata kunci: Model Jigsaw dan Hasil Belajar

Abstract
This study aimed at determining the implementation of the jigsaw type
cooperative learning model in improving students’ learning outcomes in the
subject of Bahasa Indonesia in the first semester grade I at SD Negeri 1
Kerobokan Kaja in the Academic Year 2016/2017. This type of research is a
classroom action research consisting of two cycles. Each cycle consisted of 4
stages: planning, action, observation / evaluation, and reflection. The subjects
of this research were grade I students at SD Negeri 1 Kerobokan Kaja in the
Academic Year 2016/2017 as many as 20 people. Student learning outcomes
data were collected by multiple choice tests. The data collected were analyzed
using quantitative method. Research results showed that the application of
cooperative learning models particularly jigsaw type can increase students’
learning outcomes in Bahasa Indonesian subject. Compared to the score in
pre-cycle, students’ learning outcomes increased 2,90 points in the first cycle
and 13,25 points in the second cycle. It increased 10,45 from first cycle to the
second cycle. From the data analysis, it was found that students’ learning
outcomes can be increased through the use of cooperative learning model of
jigsaw type.
Keywords: Jigsaw Model and Learning Outcomes

1
Ni Ketut Asryani adalah SD Negeri 1 Kerobokan Kaja Kecamatan Kuta Utara

DAIWI WIDYA Jurnal Pendidikan Vol.06 No.2 Edisi Khusus 2019 28


PENDAHULUAN
Berdasarkan data yang ada, hasil belajar Bahasa Indonesia siswa SD Negeri
1 Kerobokan Kaja tergolong rendah walaupun berbagai upaya telah dilakukan
pemerintah untuk meningkatkan hasil belajar dalam mata pelajaran Bahasa
Indonesia, seperti melalui penyempurnaan kurikulum, mengadakan penataran bagi
staf pengajar, mensuplai buku-buku yang relevan, program Academic Staff
Deployment (ASD), dan memberi kesempatan bagi staf pengajar untuk menempuh
pendidikan pada jenjang yang lebih tinggi. Namun semua usaha ini belum
memberikan hasil yang diharapkan. Hal ini terbukti dari perolehan hasil belajar
Bahasa Indonesia siswa kelas I pada tes prasiklus yang dibandingkan dengan KKM
yang ditetapkan yaitu 75, sebanyak 5 siswa memperoleh skor Bahasa Indonesia
memenuhi KKM dan 20 siswa memperoleh skor Bahasa Indonesia yang tidak
memenuhi KKM.
Rendahnya hasil belajar SD Negeri 1 Kerobokan Kaja merupakan
tanggungjawab kita bersama untuk mengupayakan supaya hasil belajar Bahasa
Indonesia siswa SD di masa yang akan datang dapat ditingkatkan. Bila prestasi
belajar siswa SD dalam bidang studi Bahasa Indonesia rendah, dapat diestimasi
bagaimana minat belajar generasi muda yang akan datang. Kemungkinan di masa
yang akan datang, manusia kita lebih mendahulukan IPTEK dari pada belajar
ketrampilan dalam menghadapi segala tuntutan di era globalisasi.
Beberapa faktor yang dapat diidentifikasi sebagai penyebab rendahnya hasil
belajar Bahasa Indonesia siswa SD adalah pendekatan guru dalam mengajar selalu
berorientasi pada soal, model mengajar yang diterapkan bersifat konvensional,
kurang mengadopsi model belajar konstruktivis, guru tidak memakai literatur yang
relevan dan berlaku secara general, tidak melakukan pengkonkretan konsep
sebelum proses belajar-mengajar dimulai, dan siswa kurang dilatih berpikir kritis
menurut aturan-aturan logika.
Sehubungan dengan penggunaan metode pembelajaran, seorang guru harus
jeli (prigel) di dalam memilih metode pembelajaran yang akan diterapkan di kelas.
Walaupun dalam dunia pendidikan terdapat banyak metode pembelajaran, namun
tidak semua metode ampuh untuk mencapai tujuan pembelajaran pada setiap pokok
bahasan. Suatu metode pembelajaran hanya ampuh untuk suatu pokok bahasan
tertentu, namun di lain pihak kurang ampuh untuk mencapai tujuan pembelajaran
pada pokok bahasan yang lainnya. Hal ini sesuai dengan pernyataan yang

DAIWI WIDYA Jurnal Pendidikan Vol.06 No.2 Edisi Khusus 2019 29


dikemukakan oleh Soetomo (1993: 144) bahwasannya metode yang tepat untuk
salah satu tujuan pengajaran (pembelajaran), atau bahan pengajaran belum tentu
tepat untuk tujuan dan bahan pengajaran yang berbeda. Sehingga pemilihan metode
mengajar merupakan spesifik pada belajar mengajar tertentu.
Menurut Puger (2004: 14), untuk meningkatkan hasil belajar siswa diperlukan
strategi dan metode pembelajaran yang dapat mengembangkan penanaman konsep,
penalaran, dan memotivasi kegiatan belajar siswa. Salah satu metode pembelajaran
yang dapat menumbuhkan pemahaman, penalaran, dan memotivasi kegiatan belajar
siswa adalah dengan menggunakan metode belajar kooperatif (cooperative
learning). Dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif, maka
pengungkapan konsep-konsep dalam suatu bidang studi dapat diwujudkan melalui
cara-cara yang rasional, komunikatif, edukatif, dan kekeluargaan.
Belajar kooperatif merupakan suatu struktur organisasional yang mana satu
kelompok siswa mengejar tujuan akademik melalui usaha bersama dalam kelompok
kecil, menarik kekuatan masing-masing yang lainnya, dan bantuan masing-masing
yang lainnya dalam melengkapi tugas. Metode ini menganjurkan hubungan yang
saling menunjang, keterampilan komunikasi yang baik, dan kemampuan berpikir
pada tingkatan yang lebih tinggi.
Lebih lanjut dikatakan, belajar kooperatif tipe jigsaw yang dikembangkan
pertama kali oleh Elliot Aronson sebetulnya menggunakan spesialisasi tugas.
Masing-masing siswa mempunyai sebuah tugas yang berkontribusi untuk
keseluruhan tujuan kelompok. Masing-masing siswa bekerja secara bebas untuk
menjadi ahli terhadap bagian pelajaran tersebut dan dapat bertanggungjawab untuk
mengajarkan informasi kepada yang lainnya dalam kelompok dan juga menguasai
informasi anggota kelompok lainnya yang telah ditetapkan.
Pembelajaran kooperatif tipe jigsaw merupakan pembelajaran yang
kegiatannya lebih terpusat pada siswa, siswa dibagi dalam kelompok-kelompok
kecil yang terdiri atas 4-6 orang. Dalam kelompok kemampuan siswa harus
heterogen. Setiap siswa dalam kelompok akan mendapat tugas yang berbeda, dan
siswa-siswa dari kelompok lain mendapat tugas sama akan membahas bersama
tugas-tugas tersebut pada kelompok ahli, kemudian hasilnya akan dikonfirmasikan
kembali dalam kelompok asalnya. Di sini, guru hanya berperan sebagai fasilitator
dan moderator dalam mengambil simpulan pada saat diskusi berlangsung. Dengan
mempelajari sendiri, mendiskusikan, menemukan, dan menghayati sendiri konsep-

DAIWI WIDYA Jurnal Pendidikan Vol.06 No.2 Edisi Khusus 2019 30


konsep penting yang terkandung dalam materi yang dibahas, diharapkan dapat
meningkatkan pemahaman siswa dan menumbuhkan rasa percaya diri, serta
keterampilan sosial mereka, di samping peningkatan hasil belajar siswa itu sendiri
(Wartawan, 2004: 59-60). Apa yang diungkap oleh Wartawan tersebut, sebetulnya
merupakan implikasi lanjut dari pendapat Slavin (1995: 12), yang menyatakan
model pembelajaran kooperatif memiliki pengaruh yang positif dalam memperbaiki
hubungan antar-kelompok dan rasa percaya diri siswa, sehingga tumbuh motivasi
dalam diri siswa untuk mengulang kegiatan tersebut. Metode pembelajaran ini
sangat sesuai jika diterapkan pada kelas yang memiliki kemampuan heterogen,
karena siswa yang kemampuannya kurang akan dibantu oleh siswa yang memiliki
kemampuan baik pada saat kerja kelompok.
Pada hakikatnya, metode pembelajaran kooperatif tipe jigsaw memberikan
kesempatan pada siswa untuk berdiskusi dalam dua tempat, yakni pada kelompok
ahli dan pada kelompok dasar. Dengan memahami satu tugas saja pada kelompok
ahli, akhirnya setiap siswa setelah kembali ke kelompok dasar akan memperoleh
semua potongan tugas. Model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw ini diharapkan
dapat meningkatkan hasil belajar Bahasa Indonesia siswa kelas I pada setiap siklus.
Berdasarkan masalah-masalah yang muncul, maka masalah yang perlu dicari
solusinya melalui penelitian ini adalah Apakah Implementasi model pembelajaran
kooperatif tipe jigsaw dapat meningkatkan hasil belajar Bahasa Indonesia Siswa
Kelas I Semester Ganjil di SD Negeri 1 Kerobokan Kaja Tahun Pelajaran
2016/2017?
Model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw merupakan model pembelajaran
di mana siswa dibagi menjadi kelompok dasar yang terdiri atas 4-6 siswa dengan
kemampuan Bahasa Indonesia yang heterogen. Kemudian masing-masing siswa
pada kelompok dasar memperoleh potongan tugas yang berbeda. Siswa pada setiap
kelompok dasar yang memperoleh potongan tugas yang sama akan berkumpul dan
memecahkan tugas tersebut pada kelompok ahli. Hasil pemecahan tugas pada
kelompok ahli ini, kemudian dipertukarkan pada kelompok dasar, sampai masing-
masing siswa memperoleh semua potongan tugas. Dengan menggunakan model
pembelajaran ini, diharapkan hasil belajar Bahasa Indonesia siswa pada setiap
siklus meningkat secara signifikan.

DAIWI WIDYA Jurnal Pendidikan Vol.06 No.2 Edisi Khusus 2019 31


METODOLOGI PENELITIAN
Penelitian ini termasuk jenis penelitian tindakan kelas (classroom action
research). PTK merupakan kegiatan ilmiah yakni proses berpikir yang sistematis
dan empiris dalam upaya memecahkan masalah yaitu masalah proses pembelajaran
yang dihadapi oleh guru itu sendiri dalam melaksanakan tugas utamanya, yaitu
mengajar (Sanjaya, 2012).
PTK merupakan bagian dari penelitian tindakan (action research). Menurut
Gall et al. (2003), penelitian tindakan dalam pendidikan merupakan bentuk
penelitian terapan yang tujuan utamanya adalah memperbaiki praktik profesional
pendidikan yang selayaknya. Kita menggunakan istilah penelitian tindakan
termasuk apa yang kadang-kadang disebut penelitian praktisioner, penelitian guru,
penelitian orang-dalam, dan penelitian studi-diri (biasanya ketika dilakukan oleh
guru pendidik pada kelayakan praktiknya). Guru-guru melaksanakan banyak
penelitian tindakan dalam pendidikan, dan bagian ini kadang-kadang berkenaan
secara khusus untuk penelitian tindakan dalam menjelaskan karakteristik dari
penelitian tindakan.
Bahkan Reason dan Breadburry (dalam Kunandar, 2010) menyatakan
penelitian tindakan sebagai proses partisipatori, demokratis berkenaan dengan
pengetahuan praktis untuk mencapai tujuan-tujuan mulia manusia, berlandaskan
pandangan dunia partisipatori yang muncul pada momentum histori sekarang ini.
Ia berusaha memadukan tindakan dengan refleksi, teori dengan praktik, dengan
menyertakan pihak-pihak lain, usaha menemukan solusi praktis terhadap persoalan-
persoalan yang menyesakkan, dan lebih umum lagi demi pengembangan individu-
individu bersama komunitasnya.
Dari definisi penelitian tindakan di atas, dapat disimpulkan tiga prinsip,
yakni: 1) adanya partisipasi dari peneliti dalam suatu program atau kegiatan, 2)
adanya tujuan untuk meningkatkan kualitas suatu program atau kegiatan melalui
penelitian tindakan tersebut, dan 3) adanya tindakan untuk meningkatkan kualitas
suatu program atau kegiatan. Mengacu pada prinsip di atas, penelitian tindakan
kelas dapat didefinisikan sebagai suatu penelitian tindakan yang dilakukan oleh
guru yang sekaligus sebagai peneliti di kelasnya atau bersama-sama dengan orang
lain (kolaborasi) dengan jalan merancang, melaksanakan, dan merefleksikan
tindakan secara kolaboratif dan partisipatif yang bertujuan untuk memperbaiki atau

DAIWI WIDYA Jurnal Pendidikan Vol.06 No.2 Edisi Khusus 2019 32


meningkatkan mutu proses pembelajaran di kelasnya melalui suatu tindakan
tertentu dalam suatu siklus (Kunandar, 2010).
Penelitian tindakan kelas pada hakikatnya menggunakan desain dalam bentuk
siklustis. Menurut Kemmis dan McTaggart (1988), dalam suatu siklus PTK terdiri
atas tahapan-tahapan, yakni perencanaan, pelaksanaan tindakan, pengamatan
(observasi), dan refleksi. Karena penelitian tindakan kelas ini dilaksanakan dalam
dua siklus, maka desainnya dapat digambarkan sebagai berikut.
Rencana Tindakan

Refleksi

Observasi
Siklus I

Pelaksanaan Tindakan

Rencana Tindakan
(Revisi)
Refleksi

Observasi Siklus II

Pelaksanaan Tindakan
?
Gambar 01. Langkah-Langkah PTK Model Kemmis dan McTaggart.

Sebagaimana sudah dijelaskan pada bagian latar belakang masalah, fokus


pelaksanaan penelitian ini adalah siswa kelas I. Siswa kelas I berjumlah 25 siswa,
yang terdiri dari 10 siswa perempuan dan 15 siswa laki-laki. Setelah mengikuti
metode pembelajaran konvensional, hasil belajar Bahasa Indonesia siswa dapat
dikategorikan menjadi dua bagian, yakni: skor siswa yang memenuhi KKM
sebanyak 5 siswa, dan skor siswa yang tidak memenuhi KKM sebanyak 20 siswa.
Mengingat tujuan dari penelitian tindakan kelas ini adalah untuk membantu
siswa yang skor belajarnya berada di bawah KKM menjadi memenuhi KKM, maka
subjek penelitian ini adalah siswa yang hasil belajar Bahasa Indonesianya berada di
bawah KKM yang berjumlah 20 siswa.
Objek penelitian merupakan hasil atau output yang diperlihatkan oleh subjek
penelitian sebagai akibat dari penerapan tindakan yang diimplementasikan, yang
dalam hal ini berupa model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw. Dengan demikian,

DAIWI WIDYA Jurnal Pendidikan Vol.06 No.2 Edisi Khusus 2019 33


objek dari penelitian ini adalah hasil belajar Bahasa Indonesia siswa yang diukur
pada prasiklus, siklus I, dan siklus II.
Definisi konseptual dari hasil belajar adalah hasil maksimum yang dicapai
siswa setelah menerima pengalaman belajar. Pengalaman belajar yang
dimaksudkan adalah proses pembelajaran yang dilakukan oleh seorang guru kepada
sejumlah siswa dalam kurun waktu tertentu mengenai pokok bahasan tertentu
dalam bidang studi Bahasa Indonesia.
Sedangkan definisi operasional dari hasil belajar adalah hasil maksimum
yang dicapai oleh seorang siswa setelah mengalami proses pembelajaran dalam
kurun waktu dan dalam pokok bahasan Bahasa Indonesia tertentu, yang diukur
dengan menggunakan tes hasil belajar Bahasa Indonesia. Data yang dikumpulkan
berupa skala interval pada pra-siklus dan setiap siklus.

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN


A. Hasil Penelitian
Pembelajaran Bahasa Indonesia pada prasiklus dilaksanakan dengan
menggunakan pedoman berupa Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang
disusun peneliti . Materi ajar yang dikomunikasikan pada prasiklus adalah Tema
Kegiatan Pada Pagi Hari.
Model pembelajaran yang diterapkan pada prasiklus adalah model
konvensional dengan metode ceramah berbantuan potongan tugas mengenai Teks
Bacaan.
Untuk mengukur hasil belajar Bahasa Indonesia siswa digunakan instrumen
berupa tes hasil belajar Bahasa Indonesia pada Sub Tema Kegiatan Pada Pagi Hari.
Tes hasil belajar Bahasa Indonesia yang digunakan untuk mengumpulkan data,
dapat dikaji pada lampiran.
Setelah data terkumpul, yang dalam hal ini berupa skor hasil belajar Bahasa
Indonesia pada Tema Kegiatan Pada Pagi Hari dibuat deskripsinya. Deskripsi data
yang dimaksudkan meliputi: rerata ( Y ) = 75,00 standar deviasi (SD) = 12,91,
Median (Me) = 73,00, Modus (Mo) = 73,00, banyak kelas (k) = 6, skor maksimum
(Ymaks) = 93,00, skor minimum (Ymin) = 47,00, rentangan (r) = 46,00, dan interval
(i) = 7,71. Dari data memperlihatkan bahwa sebanyak 44,00% siswa memperoleh
skor sekitar rata-rata dalam hasil belajar Bahasa Indonesia, sebanyak 36,00% siswa

DAIWI WIDYA Jurnal Pendidikan Vol.06 No.2 Edisi Khusus 2019 34


memperoleh skor di bawah rata-rata, dan sebanyak 20,00% siswa memperoleh skor
di atas rata-rata.
Pembicaraan pada siklus I, pertelaannya dibagi menjadi 4 tahapan, yakni
tahap perencanaan, tahap pelaksanaan tindakan, tahap observasi dan pengukuran,
dan tahap refleksi. Setelah data terkumpul, yang dalam hal ini berupa skor hasil
belajar Bahasa Indonesia pada sub-pokok bahasan Cerita anak selanjutnya dibuat
deskripsinya. Deskripsi data yang dimaksudkan meliputi: rerata ( Y ) = 77,90,
standar deviasi (SD) = 12,09, Median (Me) = 73,00, Modus (Mo) = 73,00, banyak
kelas (k) = 6, skor maksimum (Ymaks) = 93,00, skor minimum (Ymin) = 60,00,
rentangan (r) = 33,00, dan interval (i) = 5,50.
Dari data memperlihatkan bahwa sebanyak 00,00% siswa memperoleh skor
sekitar rata-rata dalam hasil belajar Bahasa Indonesia, sebanyak 55,00% siswa
memperoleh skor di bawah rata-rata, dan sebanyak 45,00% siswa memperoleh skor
di atas rata-rata.
Di samping dikemukakan deskripsi data, juga dicari kategori (termasuk
tinggi, sedang, atau rendah) skor dan rerata skor menurut aturan penilaian acuan
kriteria (criterion referenced). Berpijak atas aturan criterion referenced dapat
dikemukakan bahwa sebanyak 4 (20,00%) skor termasuk kategori sedang (B3), dan
sebanyak 16 (80,00%) skor termasuk kategori tinggi (B1). Rerata skor pada siklus I
termasuk kategori tinggi (B1).
Dari data tersebut dapat dikatakan sebanyak 4 siswa atau 20,00% skor hasil
belajar siswa berada di bawah KKM dan baru 16 siswa atau 80% yang mencapai
KKM. Hal ini berarti, indikator keberhasilan belum tercapai atau pelaksanaan
penelitian tindakan kelas ini dilanjutkan pada siklus II.
Siswa yang tidak tuntas pada siklus I, terutama pada materi Mengamati
Suasana melalui Teks dan Gambar diberikan program remidial di luar penelitian
tindakan kelas, sampai siswa yang bersangkutan skor hasil belajar Bahasa
Indonesianya memenuhi KKM. Remidial diberikan dengan memberikan ulang
potongan tugas pada sub-pokok bahasan Mengamati Suasana melalui Teks dan
Gambar dan menuntun dengan pelan-pelan di dalam mencari penyelesaian tugas
yang bersangkutan. Setelah itu, diberikan tes hasil belajar Bahasa Indonesia pada
sub-pokok bahasan Mengamati Suasana melalui Teks dan Gambar.
Demikian juga bila kita perbandingkan kategori skor pada prasiklus
(sebanyak 12,50% termasuk kategori sedang (B3) dan 87,50% termasuk kategori

DAIWI WIDYA Jurnal Pendidikan Vol.06 No.2 Edisi Khusus 2019 35


tinggi (B1)) dengan siklus I (sebanyak 20,00% termasuk kategori sedang (B3) dan
80,00% termasuk kategori tinggi (B1)), dapat dikatakan terjadi peningkatan kategori
skor dari kategori sedang prasiklus (B3) ke kategori sedang siklus I (B3) sebesar
7,50%.
Dari perbandingan deskripsi data, kategori skor, dan rerata skor pada
prasiklus dan siklus I dapat dikatakan penerapan model pembelajaran kooperatif
tipe jigsaw dapat meningkatkan hasil belajar Bahasa Indonesia siswa. Namun
demikian, karena indikator keberhasilan belum terpenuhi maka penelitian tindakan
kelas ini dilanjutkan pada siklus II. Tidak terpenuhinya indikator keberhasilan pada
siklus I disebabkan oleh dua hal, yakni masih didominasinya pelaksanaan diskusi
pada kelompok ahli oleh siswa yang memiliki kemampuan tinggi dan siswa saat
menyampaikan hasil tugasnya pada kelompok dasar tidak percaya diri.
Data memperlihatkan bahwa sebanyak 45,00% siswa memperoleh skor
sekitar rata-rata dalam hasil belajar Bahasa Indonesia, sebanyak 10,00% siswa
memperoleh skor di bawah rata-rata, dan sebanyak 45,00% siswa memperoleh skor
di atas rata-rata.
Di samping dikemukakan deskripsi data, juga dicari kategori (termasuk
tinggi, sedang, atau rendah) skor dan rerata skor menurut aturan penilaian acuan
kriteria (criterion referenced). Berpijak atas aturan criterion referenced dapat
dikemukakan bahwa sebanyak 0 (0,00%) skor termasuk kategori sedang (B3), dan
sebanyak 20 (100,00%) skor termasuk kategori tinggi (B1). Rerata skor pada siklus
II termasuk kategori tinggi (B1).
Siswa yang tidak tuntas pada siklus II, terutama pada materi ajar Teks Iklan
diberikan program remidial di luar penelitian tindakan kelas, sampai skor hasil
belajarnya memenuhi KKM. Remidial diberikan dengan memberikan ulang
potongan tugas pada bahasan Bernyanyi dan bercerita tentang kebiasaan pada pagi
hari, Mengurutkan gambar berseri dan menggambar tentang kegiatan pagi hari di
rumah dan menuntun dengan pelan-pelan di dalam mencari penyelesaian tugas
yang bersangkutan. Setelah itu, diberikan tes hasil belajar Bahasa Indonesia pada
sub-pokok bahasan Bernyanyi dan bercerita tentang kebiasaan pada pagi hari,
Mengurutkan gambar berseri dan menggambar tentang kegiatan pagi hari di rumah.
Bila dikaji dari rerata skor hasil belajar Bahasa Indonesia siswa dari prasiklus
(sebesar 75,00) ke siklus II (sebesar 88,35), ternyata terjadi peningkatan rerata
sebesar 13,35 poin. Dari sini dapat dikatakan bahwa telah terjadi pengurangan

DAIWI WIDYA Jurnal Pendidikan Vol.06 No.2 Edisi Khusus 2019 36


miskonsepsi siswa atau terjadi peningkatan kemampuan siswa di dalam memahami
konsep Bahasa Indonesia secara holistik sebesar 13,35 poin.
Demikian juga, jika dikaji dari rerata skor hasil belajar Bahasa Indonesia
siswa dari siklus I (sebesar 77,90) ke siklus II (sebesar 88,35), ternyata terjadi
peningkatan rerata sebesar 10,45 poin. Dari sini dapat dikatakan bahwa telah terjadi
pengurangan miskonsepsi siswa atau terjadi peningkatan kemampuan siswa di
dalam memahami konsep Bahasa Indonesia secara holistik sebesar 10,45 poin.
Dari perbandingan deskripsi data, kategori skor, dan rerata skor pada
prasiklus ke siklus II, dan siklus I ke siklus II dapat dikatakan penerapan model
pembelajaran kooperatif tipe jigsaw dapat meningkatkan hasil belajar Bahasa
Indonesia siswa. Pada siklus II ini, indikator keberhasilan sudah terpenuhi sehingga
penelitian tindakan kelas ini tidak dilanjutkan pada siklus berikutnya. Terpenuhinya
indikator keberhasilan pada siklus II disebabkan oleh dua hal yang vital, yakni
kolaborasi siswa yang intens saat pelaksanaan diskusi pada kelompok ahli dan
siswa saat menyampaikan hasil tugasnya pada kelompok dasar penuh percaya diri.

B. Pembahasan
Hasil analisis data menunjukkan implementasi model pembelajaran
kooperatif tipe Jigsaw dapat meningkatkan hasil belajar Bahasa Indonesia siswa.
Hal ini dapat dibuktikan dengan terjadinya peningkatan rerata yakni dari prasiklus
ke siklus I, dari prasiklus ke siklus II, dan dari siklus I ke siklus II secara berurut
sebesar 2,90 poin, 13,35 poin, dan 10,45 poin.
Hal ini disebabkan oleh bidang studi Bahasa Indonesia merupakan bidang
studi yang unik, karena untuk memahami konsep secara holistik harus mulai dulu
memahami konsep dari yang konkret menuju ke abstrak. Bilamana seorang guru
bisa mengemas pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran yang
menuntut pemahaman konsep secara konkret dan abstrak dapat menghindarkan
siswa dari peristiwa miskonsepsi. Hal ini sejalan dengan pernyataan Tirta (1994:
5), yang mengungkapkan pembelajaran dengan bantuan media yang diperoleh di
alam lebih bermakna bila dibandingkan hanya mengomunikasikan materi ajar
secara simbul verbal.
Salah satu model pembelajaran yang bisa diterapkan dalam rangka
memahami konsep secara konkret dan abstrak adalah model pembelajaran
kooperatif tipe jigsaw. Pada saat siswa yang memperoleh potongan tugas yang sama

DAIWI WIDYA Jurnal Pendidikan Vol.06 No.2 Edisi Khusus 2019 37


berdiskusi pada kelompok ahli, didahului dengan mengamati media gambar bagian-
bagian materi. Dengan mengamati gambar bagian-bagian materi, seorang siswa
dapat secara langsung mengetahui objek dari suatu konsep. Pengamatan gambar
bagian materi pada kehidupan nyata pada kelompok ahli merupakan dasar dari
pemahaman konsep secara konkret. Selanjutnya, siswa diwajibkan membaca
literatur yang dirujuk oleh peneliti sebelum menjawab potongan tugas yang menjadi
tanggungjawab kelompok ahli. Pemahaman konsep terdefinisi pada buku-buku
Bahasa Indonesia merupakan dasar dari pemahaman konsep secara abstrak.
Pemahaman konsep-konsep Bahasa Indonesia secara holistik ini dapat
meningkatkan hasil belajar Bahasa Indonesia siswa.
Temuan dalam penelitian ini sangat sejalan dengan pendapat Puger (2004:
14), yang pada hakikatnya menyatakan dengan menggunakan model pembelajaran
kooperatif tipe jigsaw dapat menciptakan proses pembelajaran menjadi lebih
rasional, komunikatif, edukatif, dan penuh kekeluargaan. Pembelajaran yang
menyenangkan siswa akan lebih mudah memahami konsep-konsep secara terpadu
bila dibandingkan dengan pembelajaran yang mencekam siswa. Demikian juga
Slavin (1995: 12) menyatakan model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw memiliki
pengaruh yang positif dalam memperbaiki hubungan antar-kelompok dan rasa
percaya diri siswa, sehingga tumbuh motivasi dalam diri siswa untuk mengulang
kegiatan tersebut. Model pembelajaran ini sangat sesuai jika diterapkan pada kelas
yang memiliki kemampuan heterogen, karena siswa yang kemampuannya kurang
akan dibantu oleh siswa yang memiliki kemampuan baik pada saat kerja kelompok.
Hasil penelitian ini juga sejalan dengan temuan Wartawan (2004: 62) yang
menyatakan penerapan model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw dalam
pembelajaran fisika di kelas II SMA Negeri 2 Singaraja ternyata dapat
meningkatkan hasil belajar dan motivasi belajar siswa. Demikian juga temuan
Haetami (2011: 4) menyatakan penerapan model pembelajaran kooperatif tipe
jigsaw dapat meningkatkan hasil belajar kimia siswa, ditandai adanya peningkatan
rerata dari siklus I (rerata = 65,10) ke Siklus II (rerata = 89,00)

SIMPULAN
Berpijak atas hasil analisis data pada Bab IV dapat disimpulkan bahwa
Implementasi Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Jigsaw dapat Meningkatkan
Hasil Belajar Bahasa Indonesia Siswa Kelas I Semester Ganjil di SD Negeri 1

DAIWI WIDYA Jurnal Pendidikan Vol.06 No.2 Edisi Khusus 2019 38


Kerobokan Kaja Tahun Pelajaran 2016/2017. Hal ini ditunjang oleh perbandingan
rerata skor dari prasiklus ke siklus I meningkat sebesar 2,90 poin, dari prasilus ke
siklus II meningkat sebesar 13,35 poin, dari siklus I ke siklus II meningkat sebesar
10,45 poin.

DAFTAR PUSTAKA
Gall, Meredith D. et al. 2003. Educational Research An Introduction. Seventh
Edition. New York: Pearson Education, Inc
Kemmis, S. and R. McTaggart. 1988. The Action Research Planner. Victoria:
Deakin University Press.
Kunandar. 2010. Langkah Mudah Penelitian Tindakan Kelas Sebagai Sarana
Pengembangan Profesi Guru. Jakarta: Rajawali Pers.
Puger, I Gusti Ngurah. 2004. Mengaplikasikan Metode Pembelajaran Kooperatif
Learning. Makalah yang Disampaikan pada Seminar Rutin Unipas, Tanggal
24 Maret 2004.
Sanjaya. 2012. Pengertian definisi hasil belajar. Tersedia pada
[Link]
html/ diakses pada tanggal 1 Januari 2014.
Slavin, Robert E. 1995. Cooperative Learning: Theory, Research, and Practice.
Boston: Allyn and Bacon.
Soetomo. 1993. Dasar-Dasar Interaksi Belajar Mengajar. Surabaya: Usaha
Nasional.
Wartawan, I Wayan. 2004. “Pembinaan Kualitas Pembelajaran Fisika Melalui
Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Jigsaw dalam Upaya
Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Kelas II SMU Negeri 2 Singaraja”. Dalam
Jurnal IKA, Vol. 2 No. 1 Mei 2004. Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan
Negeri Singaraja.

DAIWI WIDYA Jurnal Pendidikan Vol.06 No.2 Edisi Khusus 2019 39

Anda mungkin juga menyukai