LAPORAN KEGIATAN PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT
ANEMIA PADA IBU HAMIL DI PKM BONTOMARANNU
OLEH:
KELOMPOK D
Sri Wahyuni Rahmadana 70900124033
Niky Puspita Sari 70900124047
Andi Sistawati 70900124045
Ike Nur Hepy 70900124043
PROGRAM STUDI KEPERAWATAN DAN NERS
FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI ALAUDDIN MAKASSAR
TAHUN 2025
ANEMIA PADA IBU HAMIL
A. Latar Belakang
Anemia khususnya pada ibu hamil sepertinya masih merupakan masalah klasik yang
tidak pernah bisa ditangani dan memiliki dampak yang serius pada ibu dan bayi. Anemia
dalam kehamilan adalah kondisi ibu hamil dengan kadar hemoglobin (Hb) < 11g/dl pada
trimester I dan III, sedangkan pada trimester II kadar Hb < 10,5g/dl (Kemenkes RI, 2013).
Sebagian besar penyebab anemia pada ibu hamil di Indonesia adalah kekurangan zat besi.
Kebutuhan yang meningkat pada masa kehamilan, rendahnya asupan zat besi merupakan
salah satu faktor penyebab terjadinya anemia defisiensi besi. Volume darah pada saat
hamil meningkat 50%, karena kebutuhan meningkat untuk mensuplai oksigen dan
makanan bagi pertumbuhan janin (Hidayanti 2020)
Anemia dalam kehamilan merupakan masalah yang perlu mendapat penanganan
khusus oleh karena prevalensinya yang masih tinggi. Berbagai negara termasuk Indonesia
melaporkan angka prevalensi anemia pada wanita hamil masih tinggi. Badan Kesehatan
Dunia (World Health Organizatin/WHO) melaporkan bahwa prevalensi ibu-ibu hamil yang
mengalami anemia sekitar 35-75% serta semakin meningkat seiring dengan bertambahnya
usia kehamilan. Kemenkes RI (2020), melaporkan bahwa menurut laporan Riskesdas 2018
sebanyak 48,9% ibu hamil di Indonesia mengalami anemia dan persentase ini mengalami
peningkatan dibandingkan dengan data Riskesdas tahun 2013 yaitu 37,1%. Angka
kejadian anemia di Provinsi Bali tahun 2019 adalah 5,07% (Dinas Kesehatan Provinsi
Bali, 2020) meningkat menjadi 5,78% pada tahun 2020. Sementara itu angka kejadian
anemia di Kota Denpasar sebesar 4,7% meningkat menjadi 7,55% pada tahun 2020
dengan angka tertinggi ada di Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Puskesmas II Dinas
Kesehatan Kecamatan Denpasar Utara yaitu 10,11% tahun 2019 dan meningkat menjadi
16,46% pada tahun 2020.
Kejadian anemia yang tidak ditindaklanjuti dengan baik kemungkinan besar akan
berdampak semakin buruk pada kesehatan ibu dan bayi serta meningkatkan angka
kematian ibu dan bayi. Berdasarkan Supas tahun 2015 Angka Kematian Ibu (AKI) di
Indonesia pada tahun 2015 adalah 305 per 100.000 kelahiran hidup. Sementara pada tahun
2019 kematian ibu di Indonesia sebanyak 4221 orang dari 4.778.621 kelahiran hidup atau
angka kematian ibu 88,33 per 100.000 kelahiran hidup. Perdarahan merupakan penyebab
2
kematian ibu terbanyak yaitu 1280 kasus (30,32%), hipertensi dalam kehamilan 1066
kasus (25,2%) dan 207 kasus (4,9%) disebabkan oleh karena infeksi (Kemenkes RI, 2020).
Angka kematian ibu di Provinsi Bali tahun 2019 adalah 67,6 per 100.000 kelahiran hidup
dan 26,09% disebabkan oleh karena perdarahan (Rochmawati 2021)
Dampak yang mungkin timbul pada ibu hamil dengan anemia adalah abortus.
Penelitian (Rosadi et al., 2019) menyatakan bahwa ada hubungan antara ibu hamil anemia
dengan kejadian abortus, sebesar 65,2% ibu hamil dengan anemia mengalami abortus. Ibu
hamil dengan anemia dapat mengalami perpanjangan kala I atau terjadi partus lama. Hasil
penelitian (Latifa et al., 2014) menunjukkan bahwa ibu bersalin yang anemia dan terjadi
kala I lama sebanyak 68,4%. Anemia juga merupakan salah satu penyebab terjadinya
perdarahan post partum. Penelitian (Satriyandari & Hariyati, 2017) menyatakan sebagian
besar ibu hamil dengan anemia mengalami perdarahan postpartum yaitu sebanyak 77,8%.
Ibu dengan anemia memiliki peluang 4,8 kali mengalami perdarahan postpartum
dibanding ibu yang tidak anemia. Anemia pada wanita hamil juga berdampak pada
beratnya infeksi selama kehamilan (Rosadi et al., 2019).
Dampak awal yang terjadi pada janin adalah gangguan pertumbuhan janin dan partus
prematurus yaitu bayi lahir sebelum waktunya yang dapat menimbulkan masalah pada
bayi seperti Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) yang berujung pada kematian bayi.
Menurut Profil Kesehatan Indonesia tahun 2019 Angka Kematian Neonatal (AKN) adalah
4,44 per 1000 kelahiran hidup dengan penyebab utama BBLR sebanyak 14,9% kelahiran
hidup. Dinas Kesehatan Provinsi Bali (2020) melaporkan bahwa Angka Kematian
Neonatal (AKN) adalah 3,5 per 1000 kelahiran hidup dengan BBLR menjadi penyebab
utama sebesar 42%.
Penerapan standar pelayanan antenatal yang sesuai standar diharapkan dapat
menurunkan kejadian anemia pada ibu hamil. Standar pelayanan khususnya dalam upaya
pencegahan anemia pada ibu hamil diantaranya adalah pemeriksaan hemoglobin,
pemberian Tablet Tambah Darah (TTD) dan kegiatan temu wicara yang membahas materi
tentang anemia. Konsumsi TTD secara teratur pada ibu hamil dengan anemia yang
disebabkan oleh defisiensi besi akan meningkatkan kadar Hb dalam sebulan setelah
konsumsi TTD (Kementerian Kesehatan, 2020). Catatan ketiga indikator diatas tertulis di
dalam buku Kesehatan Ibu Dan Anak (KIA) sehingga kepemilikan buku KIA menjadi
sangat penting bagi semua ibu hamil (Rosadi et al., 2019).
3
B. Rumusan Masalah
Bagaimana meningkatkan pengetahuan ibu hamil tentang anemia dan cara pencegahannya
melalui kegiatan penyuluhan?
C. Tujuan Pengabdian Kepada Masyarakat
1. Tujuan Umum
Meningkatkan pengetahuan dan kesadaran ibu hamil tentang anemia dan dampak pada
kehamilan
2. Tujuan Khusus
Memberikan informasi tentang penyebab anemia pada ibu hamil
Menjelaskan tanda dan gejala anemia
Memberikan edukasi mengenai pencegahan anemia, termasuk nutrisi yang tepat dan
konsumsi tablet tambah darah
Mendorong ibu hamil untuk melakukan pemeriksaan kehamilan secara rutin
D. Kajian Terdahulu yang Relevan
Anemia pada ibu hamil merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat yang
serius di Indonesia, termasuk di Provinsi Sulawesi Selatan. Berdasarkan data Riskesdas
(Riset Kesehatan Dasar) tahun 2018, prevalensi anemia pada ibu hamil di Indonesia
mencapai sekitar 48,9%, yang berarti hampir setengah dari ibu hamil mengalami kondisi
kekurangan hemoglobin. Di Sulawesi Selatan, angka kejadian anemia pada ibu hamil
masih tergolong tinggi dan menjadi salah satu indikator buruknya status gizi dan
kesehatan ibu hamil di wilayah ini.
Faktor penyebab tingginya angka anemia di Sulawesi Selatan meliputi kurangnya
asupan zat besi dan nutrisi, rendahnya tingkat pendidikan dan pengetahuan tentang
kesehatan kehamilan, serta rendahnya kepatuhan ibu hamil dalam mengonsumsi tablet
tambah darah (TTD). Selain itu, masalah sosial ekonomi dan akses pelayanan kesehatan
yang tidak merata di beberapa daerah juga turut memperburuk kondisi ini (Rochmawati
2021)
Anemia pada kehamilan dapat menimbulkan berbagai dampak buruk, baik bagi ibu
maupun janin. Dampaknya antara lain risiko perdarahan saat melahirkan, kelahiran
prematur, bayi lahir dengan berat badan rendah (BBLR), hingga kematian ibu dan bayi.
4
Oleh karena itu, intervensi melalui edukasi dan penyuluhan kepada ibu hamil menjadi
sangat penting sebagai upaya pencegahan (Hidayanti 2020)
Melalui kegiatan pengabdian masyarakat ini, diharapkan dapat meningkatkan
pemahaman ibu hamil tentang bahaya anemia, pentingnya konsumsi makanan bergizi, dan
kepatuhan dalam mengonsumsi tablet tambah darah. Kegiatan ini juga menjadi bentuk
kontribusi tenaga kesehatan dalam menurunkan angka kejadian anemia pada ibu hamil di
Sulawesi Selatan
E. Konsep atau Teori yang relevan
1. Defenisi
Center for deases control and prevention (CDC) mendefenisikan anemia sebagai
kadar hemoglobin lebih rendah dari 11 g/dl pada trimester pertama dan ketiga, dan
kurang dari 10,5 d/dL pada trimester kedua(Leveno,2009). Berdasarkan WHO,
anemia pada ibu hamil adalah bila Hb kurang dari 11 gr% . Anemia dalam kehamilan
adalah kondisi ibu dengan kadar hemoglobin di bawah 11 gr% pada trimester I dan III
atau kadar hemoglobin < 10,5 gr% pada trimester II ( Depkes RI, 2009 ). Anemia
adalah kondisi dimana sel darah merah menurun atau menurunnya hemoglobin,
sehingga kapasitas daya angkut oksigen untuk kebutuhan organ-organ vital pada ibu
dan janin menjadi berkurang. Selama kehamilan, indikasi anemia adalah jika
konsentrasi hemoglobin kurang dari 10,50 sampai dengan 11,00 gr/dl (Varney, 2006 ).
Hemoglobin ( Hb ) yaitu komponen sel darah merah yang berfungsi menyalurkan
oksigen ke seluruh tubuh, jika Hb berkurang, jaringan tubuh kekurangan oksigen.
Oksigen diperlukan tubuh untuk bahan bakar proses metabolisme. (Abidah 2019)
2. Etiologi Anemia Pada Ibu Hamil
a. Perdarahan (jelas atau samar). Perdarahan yang jelas(dari perdarahan pervagina,
epistaksis dan sebagainya) menjadi penyebab/ keterangan yang nyata untuk anemia.
Perdarahan samar dapat karena perdarahan gastrointestinal yang diperiksa melalui
feses.
b. Defesiensi gizi(factor nutrisi). Akibat kurangnya jumlah besi total dalam makanan
atau kualitas besi yang tidak baik( makanan yang mengandung serat, rendah vitamin
C. dan rendah daging)
c. Kebutuhan zat besi yang meningkat untuk prematuritas janin.
d. Gangguan absorbs zat besi seperti gastrektomi, colitis kronis.
e. Ketidaksanggupan sum-sum tulang membentuk sel- sel darah.
5
f. Kelainan darah.
3. Tanda dan Anemia Pada Ibu Hamil
a. Mengeluh cepat lelah
b. Pusing
c. Mata berkunang- kunang
d. Malaise
e. Lidah luka
f. Nafsu makan turun(anoreksia)
g. Konsentrasi hilang
h. Nafas pendek(pada anemia parah)
i. Keluhan mual muntah lebih hebat pada hamil muda ( Hidayanti 2020)
4. Penatalaksanaan dan penegahan anemia pada ibu hamil
Penatalaksanaan dan pencegahan yang umum dilakukan adalah dengan
pemberian suplemen zat besi sedikitnya 1 tablet selama 90 hari berturut-turut selama masa
kehamilan. Pemeriksaan kadar Hb semua ibu hamil dilakukan pada kunjungan ANC
pertama dan pada minggu ke-28. Apabila ditemukan ibu hamil dengan anemia berikan
tablet Fe 2-3 kali 1 tablet perhari dan disarankan untuk tetap minum tablet zat F. besi
sampai 4-6 bulan setelah persalinan. Pada ibu hamil trimester 3 dengan anemia perlu
diberi zat besi dan asam folat secara IM dan disarankan untuk bersalin di rumah sakit.
Pencegahan juga bisa dilakukan secara mandiri dengan mengkonsumsi
makanan yang mengandung gizi seimbang (4 sehat 5 sempurna) dan memperbanyak
konsumsi makanan-makanan yang kaya akan zat besi seperti hati ayam (disarankan
hati
ayam kampung) ataupun sapi, sayur bayam dan juga buah-buahan (disarankan hati
hewan, sayur dan buah organik). Dengan mengkonsumsi semua makanan tersebut, zat
besi yang sangat diperlukan oleh sel-sel darah merah dapat terpenuhi secara maksimal
dan dapat terhindar dari. Periksakan sedini mungkin apabila terdapat tanda-tanda
anemia, agar langkah-langkah antisipasi bisa segera dilakukan (Abidah 2019).
F. Metode Pengabdian Kepada Masyarakat
1. Metode dan teknik Metode yang digunakan pada pengabdian masyarakat ini adalah
penyuluhan dengan media poster. Pengabdian masyarakat diikuti oleh ibu hamil dan
keluarga yang mendampingi, dilakukan oleh dosen dan mahasiswa profesi Ners 26
6
UIN Alauddin Makassar. Pada pengabdian ini diberikan materi tentang pencegahan
anemia pada ibu hamil, dilanjutkan sesi diskusi dan tanya jawab yang interaktif.
Terakhir, dilakuakn evaluasi terhadap peserta terkait materi yang telah diberikan. Pada
pengabdian ini diberikan instrumen untuk mengukur tingkat pengetahuan anemia
pada ibu hamil sebelum dan sesudah pemberian materi
2. Lokasi dan Waktu Pelaksanaan Pengabdian dilakukan di Puskesmas Bontomarannu
[Link] ruang KIA pada hari Rabu tanggal 18 Juni 2025.
G. Hasil dan Pembahasan
Kegiatan pengabdian masyarakat dengan judul “Edukasi anemia pada ibu hamil”
dilaksanakan mulai pukul 09.00-10.00 wita di Puskesmas Bontomarannu [Link].
Kegiatan diawali dengan pembukaan dilanjutkan dengan pemaparan materi dan
pembagian kuesioner pre test dan leafleat tentang definisi anemia, penyebab, tanda dan
gejala, dampak, hingga pencegahan anemia kehamilan. Berdasarkan hasil evaluasi
kuesioner diberikan adanya peningkatan pengetahuan terkait anemia pada ibu hamil
sebelum dan sesudah pemberian materi. Langsung mi sambung dimana ibu hamil sangat
antusias dengan materi yang diberikan, terlihat dari para peserta menyimak dengan penuh
perhatian dan aktif bertanya terkait hal-hal yang masih perlu penjelasan berkaitan dengan
materi yang diberikan. Semua pelaksana berpartisipasi aktif demikian pula peserta, secara
keseluruhan rangkaian kegiatan berjalan lancar, sebelum menutup kegiatan dilanjutkan
dengan memberikan koesioner post test untuk mengukur pengetahuan ibu hamil mengenai
anemia setelah dilakukan penyuluhan anemia pada ibu hamil.
H. Kesimpulan
Edukasi sejak masa kehamilan merupakan upaya yang efektif dalam mencegah stunting.
Ibu hmil mendapatkan informasi mulai dari pemberian nutrisi efektif dan seimbang,
aktivitas fisik yang sesuai, istirahat yang efektif, pemeriksaan kehamilan yang cukup 6
kali selama kehamilan, dan senantiasa mencari informasi pada media yang tepat, sehingga
ibu menjadi sehat dan dapat mencegah stunting sejak kehamilan. Dari pengabdian
masyarakat ini 80% ibu mengetahui isi materi yang diberikan.
7
DAFTAR PUSTAKA
Abidah SN, dan Anggasari Y. 2019. Analisis faktor-faktor yang berhubungan dengan
kejadian anemia pada ibu hamil trimester III di BPM Kusmawati Surabaya. Jurnal Ilmiah
Kesehatan (Journal of Health Sciences). 12(2): 99-108.
Barbara, Stright. 2019. Panduan Belajar Keperawatan Ibu-Bayi baru lahir. Jakarta: EGC
Bothamley, judy dan Maureen boyle. 2020. Patofisiologi Dalam Kebidanan. Jakarta: EGC
Handayani, Wiwik. 2019. Asuhan keperawatan pada klien dengan Gangguan Sistem
Hematologi. Jakarta. Salemba medika.
Hidayanti L, Rahfiludin MZ. Dampak Anemi Defisiensi Besi Pada Kehamilan : Literature
Review. J Gaster. 2020;18(1):50–64. Wibowo N, Irwinda R, Hiksas R. Anemia
Defisiensi Besi Pada Kehamilan. Jakarta: UI Publishing; 2021.
Rochmawati L, Kuswanti I, Prabawati S. Efektivitas Media Promosi Kesehatan Video
Dengan Leaflet Terhadap Pengetahuan Ibu Hamil Tentang Pencegahan Penularan Hiv
Dari Ibu Ke Anak. J Kebidanan Indones. 2021;12(2).
Tim Pokja SDKI DPP PPNI, (2016), Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia (SDKI),
Edisi 1, Jakarta, PersatuanPerawat Indonesia
Tim Pokja SIKI DPP PPNI, (2018), Standar Intervensi Keperawatan Indonesia (SIKI), Edisi
1, Jakarta, Persatuan Perawat Indonesia
Tim Pokja SLKI DPP PPNI, (2018), Standar Luaran Keperawatan Indonesia (SLKI), Edisi 1,
Jakarta, Persatuan Perawat Indonesia
8
Lampiran 1
KUESIONER PRE TEST
9
Lampiran 2
KUESIONER POST TEST
10
Lampiran 3
DOKUMENTASI KEGIATAN
11
Lampiran 4
POSTER
12
13