MODUL AJAR DEEP LEARNING
MATA PELAJARAN : PENDIDIKAN PANCASILA
BAB: 1 (BER-PANCASILA DALAM KESEHARIAN DI MASYARAKAT)
A. IDENTITAS MODUL
Nama Sekolah : SMA Negeri 1 Pantar
Nama Penyusun : Maria Y. Olang, [Link]
Mata Pelajaran : Pendidikan Pancasila
Fase / Kelas /Semester : F / XII / Ganjil
Alokasi Waktu : 2 Pertemuan (4 x 45 menit)
Tahun Pelajaran : 2024 / 2025
B. IDENTIFIKASI KESIAPAN PESERTA DIDIK
Peserta didik kelas XII telah memiliki pengetahuan dasar tentang nilai-nilai Pancasila
yang didapatkan dari jenjang pendidikan sebelumnya. Mereka juga memiliki pengalaman
interaksi sosial di berbagai lingkungan (sekolah, keluarga, masyarakat, media sosial).
Minat peserta didik pada topik ini cenderung tinggi jika dikaitkan dengan isu-isu aktual
yang mereka alami atau amati di lingkungan sekitar. Latar belakang sosial dan budaya
peserta didik sangat beragam, yang dapat menjadi kekayaan dalam diskusi tetapi juga
potensi tantangan dalam mencapai kesepahaman. Kebutuhan belajar mereka mencakup
pemahaman mendalam tentang implementasi Pancasila, kemampuan menganalisis kasus
pelanggaran nilai Pancasila, serta praktik nyata dalam mengamalkan Pancasila.
C. KARAKTERISTIK MATERI PELAJARAN
Materi "Ber-Pancasila dalam Keseharian di Masyarakat" adalah jenis pengetahuan
konseptual, prosedural, dan afektif. Pengetahuan konseptual meliputi pemahaman
mendalam tentang setiap sila Pancasila dan implementasinya dalam konteks masyarakat
multikultural. Pengetahuan prosedural mencakup langkah-langkah dalam menganalisis
kasus pelanggaran Pancasila, merumuskan solusi, dan mempraktikkan nilai-nilai
Pancasila dalam interaksi sosial. Pengetahuan afektif berfokus pada penanaman sikap
toleransi, gotong royong, musyawarah, dan rasa cinta tanah air. Materi ini sangat relevan
dengan kehidupan nyata peserta didik sebagai bagian dari masyarakat Indonesia yang
majemuk, di mana mereka dituntut untuk mampu hidup berdampingan secara harmonis.
Tingkat kesulitan materi moderat, dengan penekanan pada analisis kasus dan
internalisasi nilai. Struktur materi tersusun dari pengenalan kembali nilai Pancasila,
analisis kasus, hingga praktik pengamalan. Materi ini secara eksplisit mengintegrasikan
nilai-nilai karakter seperti gotong royong, mandiri, bertanggung jawab, toleran, dan
beriman kepada Tuhan Yang Maha Esa.
D DIMENSI LULUSAN PEMBELAJARAN
● Kewargaan: Murid mampu memiliki kesadaran sebagai warga negara Indonesia
yang mengamalkan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa,
dan bernegara.
● Kolaborasi: Peserta didik mampu bekerja sama secara efektif dan menghargai
perbedaan dalam mencapai tujuan bersama berdasarkan nilai-nilai Pancasila.
● Penalaran Kritis: Peserta didik mampu menganalisis kasus-kasus yang berkaitan
dengan pengamalan Pancasila, mengidentifikasi akar masalah, dan merumuskan
solusi yang relevan.
● Keimanan dan Ketakwaan terhadap Tuhan: Peserta didik menunjukkan
keyakinan dan sikap beriman serta bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa yang
terefleksi dalam toleransi dan keadilan social
DESAIN PEMBELAJARAN
A. CAPAIAN PEMBELAJARAN (CP) (Nomor : 042 Tahun 2025)
Pada fase ini, Murid Mempraktikkan dan membiasakan berperilaku sesuai sila-sila
Pancasila di lingkungan satuan pendidikan, rumah dan masyarakat (toleransi, tolong
menolong, bersatu, musyawarah, menyatakan pendapat, empati, dan lainnya).
Mengenal lambang negara Garuda Pancasila dan hari lahir Pancasila. Mempraktikkan
dan membiasakan menerima pemenuhan hak, melaksanakan kewajiban serta perilaku
sesuai aturan di lingkungan alam dan sosial sekitar sebagai warga negara.
Membiasakan menjaga diri dari perundungan dan kekerasan seksual sebagai hak
warga satuan pendidikan, rumah, masyarakat, dan negara. Mengidentifikasi dan
menghargai keberagaman suku, agama dan kepercayaan, di lingkungan, satuan
pendidikan, rumah dan masyarakat. Mengenal semboyan Bhinneka Tunggal Ika;
Menyanyikan Lagu Kebangsaan Indonesia Raya dan lagu wajib nasional.
Membiasakan berperilaku hormat kepada bendera merah putih. Membiasakan
berbahasa Indonesia di lingkungan satuan pendidikan, rumah, dan masyarakat.
Mempraktikkan sikap dan perilaku gotong royong, menjaga lingkungan satuan
pendidikan, rumah, dan masyarakat untuk keutuhan wilayah Negara Kesatuan
Republik Indonesia. Menunjukkan sikap cinta tanah air di wilayahnya dalam konteks
kabupaten/kota dan provinsi. Mengenal hari kemerdekaan Republik Indonesia, pulau-
pulau besar di Indonesia, dan proklamator.
Capaian Pembelajaran setiap elemen mata pelajaran Pendidikan Pancasila adalah
sebagai berikut.
Elemen Capaian Pembelajaran
Pancasila Murid mampu mempraktikkan dan membiasakan berperilaku
sesuai sila-sila Pancasila di lingkungan satuan pendidikan,
rumah dan masyarakat (toleransi, tolong menolong, bersatu,
musyawarah, menyatakan pendapat, empati, dan lainnya).
Mengenal lambang negara Garuda Pancasila dan hari lahir
Pancasila.
Undang-Undang Murid mampu mempraktikkan dan membiasakan menerima
Dasar Negara pemenuhan hak, melaksanakan kewajiban serta perilaku sesuai
Republik Indonesia aturan di lingkungan alam dan sosial sekitar sebagai warga
Tahun 1945 negara. Membiasakan menjaga diri dari perundungan dan
kekerasan seksual sebagai hak warga satuan pendidikan, rumah,
masyarakat, dan negara.
Bhinneka Tunggal Murid mampu mempraktikkan dan menghargai keberagaman
Ika suku, agama dan kepercayaan, di lingkungan, satuan
pendidikan, rumah dan masyarakat. Mengenal semboyan
Bhinneka Tunggal Ika
Negara Kesatuan Murid mampu mempraktikkan Lagu Kebangsaan Indonesia
Republik Indonesia Raya dan lagu wajib nasional. Membiasakan berperilaku hormat
kepada bendera merah putih. Membiasakan berbahasa Indonesia
di lingkungan satuan pendidikan, rumah, dan masyarakat.
Mempraktikkan sikap dan perilaku gotong royong, menjaga
lingkungan satuan pendidikan, rumah, dan masyarakat untuk
keutuhan wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Menunjukkan sikap cinta tanah air di wilayahnya dalam konteks
kabupaten/kota dan provinsi. Mengenal hari kemerdekaan
Republik Indonesia, pulau-pulau besar di Indonesia, dan
proklamator
B. LINTAS DISIPLIN ILMU
Disiplin ilmu yang relevan dengan materi ini antara lain:
● Sosiologi: Analisis interaksi sosial, konflik sosial, dan integrasi masyarakat.
● Sejarah: Memahami konteks sejarah perumusan Pancasila dan relevansinya hingga
kini.
● Pendidikan Agama (Islam/Kristen/Katolik/Hindu/Buddha/Konghucu):
Penanaman nilai-nilai keagamaan yang sejalan dengan sila pertama Pancasila
(Ketuhanan Yang Maha Esa) dan penerapannya dalam kehidupan sosial.
● Bahasa Indonesia: Keterampilan berkomunikasi secara efektif, berargumen, dan
menyajikan gagasan tentang pengamalan Pancasila.
C. TUJUAN PEMBELAJARAN
Pertemuan 1 (2 x 45 menit): Memahami Nilai-Nilai Pancasila dalam Konteks
Kehidupan Masyarakat
● Melalui diskusi kelompok dan analisis berita, murid mampu mengidentifikasi esensi
nilai-nilai Pancasila (Ketuhanan, Kemanusiaan, Persatuan, Kerakyatan, Keadilan)
dalam berbagai konteks kehidupan masyarakat dengan benar.
● Setelah menyimak studi kasus, murid mampu menganalisis implikasi pengamalan
atau pelanggaran nilai-nilai Pancasila terhadap kehidupan sosial di masyarakat
dengan kritis.
● Dengan berpartisipasi aktif dalam kegiatan "role-playing" sederhana, murid dapat
mengemukakan contoh penerapan nilai-nilai Pancasila dalam situasi sehari-hari di
lingkungan mereka.
Pertemuan 2 (2 x 45 menit): Mempraktikkan Sikap dan Perilaku Ber-Pancasila
dalam Keseharian
● Melalui kolaborasi dalam proyek sederhana, murid mampu merencanakan dan
menyusun kampanye/aksi mini yang mengampanyekan nilai-nilai Pancasila dalam
kehidupan masyarakat secara kreatif.
● Setelah melaksanakan proyek, murid mampu menunjukkan sikap kolaboratif dan
bertanggung jawab dalam mengimplementasikan nilai-nilai Pancasila di lingkungan
sekitar.
● Dengan presentasi hasil proyek, murid dapat merefleksikan pengalaman ber-
Pancasila dan dampak yang ditimbulkan terhadap diri dan lingkungan masyarakat
secara jujur.
D. TOPIK PEMBELAJARAN KONTEKSTUAL
Topik pembelajaran kontekstual untuk bab ini mencakup:
● Kasus-kasus intoleransi atau diskriminasi di masyarakat.
● Gerakan gotong royong di lingkungan sekitar (misalnya, kerja bakti, penanganan
bencana).
● Proses musyawarah dalam pengambilan keputusan di tingkat RT/RW atau organisasi
kepemudaan.
● Peran pemuda dalam menjaga persatuan dan kesatuan bangsa.
● Fenomena kesenjangan sosial dan upaya mewujudkan keadilan sosial.
● Pentingnya etika bermedia sosial berdasarkan nilai Pancasila.
E. KERANGKA PEMBELAJARAN
PRAKTIK PEDAGOGIK:
● Model Pembelajaran: Discovery Learning (untuk menemukan esensi nilai
Pancasila) dan Project-Based Learning (untuk mempraktikkan pengamalan
Pancasila).
● Strategi Pembelajaran: Kooperatif (diskusi kelompok, simulasi), inkuiri
(penelusuran kasus), dan reflektif.
● Metode Pembelajaran: Diskusi, tanya jawab, studi kasus, role-playing, proyek mini
(kampanye/aksi sosial sederhana), presentasi.
KEMITRAAN PEMBELAJARAN:
● Lingkungan Sekolah: Kolaborasi dengan guru mata pelajaran lain (Sejarah,
Sosiologi, Agama) untuk integrasi materi. Pemanfaatan mading sekolah atau
platform media sosial sekolah untuk publikasi hasil proyek.
● Lingkungan Luar Sekolah/Masyarakat: Mengajak tokoh masyarakat (ketua
RT/RW, tokoh agama, aktivis pemuda) sebagai narasumber atau mentor proyek.
Mengamati kegiatan sosial di lingkungan sekitar sebagai referensi.
LINGKUNGAN BELAJAR:
● Ruang Fisik: Kelas yang nyaman untuk diskusi kelompok, dengan penataan yang
fleksibel. Jika memungkinkan, penggunaan area sekolah (misalnya aula, lapangan)
untuk simulasi atau presentasi proyek.
● Ruang Virtual: Pemanfaatan Google Classroom untuk berbagi materi, pengumpulan
tugas, dan forum diskusi. Penggunaan platform media sosial (terbatas dan diawasi)
untuk menyebarkan kampanye proyek.
● Budaya Belajar: Mendorong budaya toleransi, saling menghargai pendapat, berani
berargumen dengan sopan, dan bertanggung jawab terhadap lingkungan sosial.
Membangun lingkungan yang memungkinkan peserta didik merasakan langsung
dampak positif pengamalan Pancasila.
PEMANFAATAN DIGITAL:
● Perpustakaan Digital: Mengakses artikel, jurnal, atau berita online tentang isu-isu
sosial yang relevan dengan Pancasila.
● Forum Diskusi Daring: Diskusi asinkron melalui Google Classroom untuk
membahas kasus-kasus atau berbagi ide proyek.
● Kahoot/Mentimeter: Digunakan untuk asesmen formatif (kuis interaktif) atau
mengumpulkan opini peserta didik tentang isu-isu Pancasila.
● Google Classroom: Sebagai platform utama pengelolaan pembelajaran, tempat
materi diunggah, tugas diberikan, dan kolaborasi tim proyek.
● Aplikasi Desain Grafis (Canva/PosterMyWall) atau Video Editing
(InShot/CapCut): Digunakan untuk pembuatan materi kampanye proyek
(infografis, poster, video pendek).
F. LANGKAH-LANGKAH PEMBELAJARAN BERDIFERENSIASI
PERTEMUAN 1:
MEMAHAMI NILAI-NILAI PANCASILA DALAM KONTEKS KEHIDUPAN
MASYARAKAT (MINDFUL LEARNING & MEANINGFUL LEARNING)
KEGIATAN PENDAHULUAN (15 MENIT) - BERKESADARAN (MINDFUL
LEARNING):
● Pembukaan: Guru mengucapkan salam, berdoa bersama, dan melakukan presensi.
(Fokus: Menyadari kehadiran dan mempersiapkan diri).
● Apersepsi: Guru menampilkan sebuah video singkat atau gambar yang
menggambarkan interaksi sosial yang menunjukkan nilai-nilai Pancasila (misalnya,
gotong royong, musyawarah, kerukunan antarumat beragama) atau sebaliknya
(misalnya, konflik akibat intoleransi). murid diminta untuk mengamati dan
menyampaikan kesan pertama mereka. Guru memantik pertanyaan: "Apa yang kalian
lihat dan rasakan dari video/gambar ini? Mengapa hal ini bisa terjadi di masyarakat
kita?" (Fokus: Menghadirkan kesadaran akan realitas sosial dan relevansi Pancasila).
● Ice Breaking (Joyful Learning): Permainan "Tebak Sila Pancasila" dari deskripsi
singkat perilaku atau kasus. (Fokus: Membangun suasana ceria dan mengaktifkan
pengetahuan awal).
● Penyampaian Tujuan: Guru menyampaikan tujuan pembelajaran hari ini dan
bagaimana hal ini akan membantu mereka memahami peran Pancasila dalam
keseharian. (Fokus: Membangun makna belajar).
KEGIATAN INTI (60 MENIT) - MEMAHAMI, MENGAPLIKASI,
MEREFLEKSI:
Stimulasi & Identifikasi Masalah (Memahami & Mengaplikasi):
● Guru membagi murid menjadi beberapa kelompok (diferensiasi kelompok
berdasarkan minat pada isu tertentu atau gaya belajar).
● Setiap kelompok diberikan satu studi kasus atau artikel berita tentang suatu
fenomena sosial di masyarakat (misalnya, kasus intoleransi di suatu daerah, aksi
gotong royong warga, musyawarah desa, atau demonstrasi menuntut keadilan).
(Diferensiasi Konten: Variasi studi kasus sesuai tingkat kesulitan dan jenis sila yang
dominan).
● murid diminta untuk membaca studi kasus, mengidentifikasi masalah, dan
merumuskan pertanyaan-pertanyaan awal terkait implementasi Pancasila.
Pengumpulan Data & Pembuktian (Mengaplikasi):
● Setiap kelompok berdiskusi untuk menganalisis studi kasus, mengidentifikasi nilai-
nilai Pancasila yang terkandung atau dilanggar dalam kasus tersebut.
● murid diminta untuk merujuk pada buku teks Pendidikan Pancasila (halaman relevan
tentang makna setiap sila dan implementasinya) atau melakukan penelusuran singkat
di internet untuk memperdalam pemahaman mereka.
● Guru membimbing kelompok untuk mengaitkan kasus dengan esensi nilai-nilai
Pancasila. (Diferensiasi Proses: Guru memberikan lembar kerja terstruktur dengan
pertanyaan panduan bagi kelompok yang membutuhkan dukungan, dan membiarkan
kelompok lain bereksplorasi lebih dalam).
Pengembangan & Presentasi (Mengaplikasi):
● Setiap kelompok merumuskan hasil analisis mereka tentang studi kasus, menjelaskan
implikasi pengamalan/pelanggaran Pancasila, dan memberikan contoh penerapan
nilai-nilai Pancasila dalam situasi sehari-hari yang relevan.
● Beberapa kelompok mempresentasikan hasil diskusi mereka di depan kelas.
Analisis & Evaluasi (Merefleksi):
● Kelompok lain memberikan tanggapan dan pertanyaan. Guru memfasilitasi diskusi
dan mengklarifikasi konsep.
● Guru memberikan penguatan terhadap pemahaman nilai-nilai Pancasila dan
urgensinya dalam kehidupan masyarakat, serta memberikan contoh-contoh nyata
pengamalan Pancasila.
KEGIATAN PENUTUP (15 MENIT) - UMPAN BALIK & PERENCANAAN
SELANJUTNYA (MEANINGFUL LEARNING & JOYFUL LEARNING):
● Refleksi Diri (Meaningful Learning): Guru meminta murid menuliskan satu
kalimat refleksi singkat tentang "Bagaimana saya dapat berkontribusi mewujudkan
nilai Pancasila di lingkungan saya?" (Umpan balik konstruktif).
● Penyimpulan Pembelajaran: Guru bersama murid menyimpulkan poin-poin
penting tentang nilai-nilai Pancasila dalam konteks kehidupan masyarakat.
● Tindak Lanjut & Perencanaan (Joyful Learning): Guru memberikan pengantar
untuk pertemuan berikutnya yang akan fokus pada praktik nyata ber-Pancasila. Guru
juga memberikan tugas mandiri (misalnya, mengidentifikasi satu masalah di
lingkungan sekitar yang dapat diselesaikan dengan pendekatan Pancasila) dan
mengajak peserta didik untuk memikirkan ide proyek mini.
PERTEMUAN 2:
MEMPRAKTIKKAN SIKAP DAN PERILAKU BER-PANCASILA DALAM
KESEHARIAN (MEANINGFUL LEARNING & JOYFUL LEARNING)
KEGIATAN PENDAHULUAN (15 MENIT) - BERKESADARAN (MINDFUL
LEARNING):
● Pembukaan: Guru mengucapkan salam, berdoa, dan presensi.
● Apersepsi: Guru menampilkan video pendek tentang "hero-hero" lokal yang
mengamalkan Pancasila dalam keseharian (misalnya, penggerak toleransi, relawan
sosial, atau pemuda yang berhasil membangun kebersamaan di lingkungannya). Guru
bertanya: "Apa yang kalian rasakan saat melihat mereka? Apakah kita bisa
melakukan hal serupa?" (Fokus: Membangun kesadaran akan potensi diri dan
inspirasi).
● Koneksi (Meaningful Learning): Guru meminta beberapa murid berbagi hasil tugas
mandiri mereka tentang masalah yang bisa diselesaikan dengan Pancasila. (Fokus:
Mengaitkan pengalaman pribadi dengan materi).
● Penyampaian Tujuan: Guru menyampaikan tujuan pembelajaran hari ini.
KEGIATAN INTI (60 MENIT) - MEMAHAMI, MENGAPLIKASI,
MEREFLEKSI:
Eksplorasi & Perencanaan Proyek (Memahami & Mengaplikasi):
● Guru membagi murid ke dalam kelompok. Setiap kelompok diminta untuk
merumuskan ide proyek mini berupa kampanye atau aksi sederhana yang
mengampanyekan atau mengimplementasikan salah satu atau beberapa nilai
Pancasila dalam konteks kehidupan sehari-hari di masyarakat. Contoh: pembuatan
poster digital tentang toleransi, video pendek tentang gotong royong, simulasi
musyawarah kelas, atau kegiatan penggalangan dana sederhana untuk isu sosial.
● murid menggunakan buku teks dan sumber digital untuk merancang kampanye/aksi
mereka, termasuk target audiens, pesan kunci, media yang digunakan, dan langkah-
langkah pelaksanaannya. (Diferensiasi Proses: Guru memberikan pilihan format
proyek yang beragam agar sesuai dengan minat dan keterampilan peserta didik -
visual, audio, kinestetik).
Pembuktian & Pelaksanaan Proyek (Mengaplikasi & Joyful Learning):
● murid melaksanakan proyek mini mereka secara kolaboratif. Guru berperan sebagai
fasilitator dan mentor, memberikan bimbingan sesuai kebutuhan. (Diferensiasi
Produk: Fleksibilitas dalam produk akhir, misalnya ada yang fokus pada poster, ada
yang pada video, ada yang pada simulasi langsung).
● Dokumentasi proses dan hasil proyek (foto, video, catatan).
Karya & Presentasi (Mengaplikasi & Joyful Learning):
● Setiap kelompok mempresentasikan hasil proyek mereka di depan kelas,
menjelaskan tujuan, proses, tantangan, dan dampak yang diharapkan/terjadi.
● Guru dan murid lain memberikan umpan balik konstruktif terhadap proyek yang
dipresentasikan.
Analisis & Refleksi (Merefleksi):
● Guru memfasilitasi diskusi tentang pengalaman selama proyek, bagaimana nilai-nilai
Pancasila diterapkan, dan tantangan yang dihadapi.
● Guru menguatkan pemahaman tentang pentingnya tindakan nyata dalam
mengamalkan Pancasila dan dampak positifnya bagi masyarakat.
KEGIATAN PENUTUP (15 MENIT) - UMPAN BALIK & PERENCANAAN
SELANJUTNYA (MEANINGFUL LEARNING & JOYFUL LEARNING):
● Refleksi & Apresiasi (Meaningful Learning): Guru meminta murid untuk
menuliskan satu kalimat tentang "Dampak kecil yang bisa saya ciptakan dengan ber-
Pancasila" atau "Satu hal yang akan saya lakukan selanjutnya untuk mengamalkan
Pancasila". Guru mengapresiasi upaya dan hasil kerja peserta didik. (Umpan balik
konstruktif dan membangun semangat).
● Penyimpulan Pembelajaran: Guru bersama murid merangkum inti materi tentang
pentingnya praktik nyata pengamalan Pancasila dalam keseharian.
● Tindak Lanjut & Perencanaan (Joyful Learning): Guru memberikan motivasi
untuk terus menjadi agen perubahan yang positif di masyarakat dengan berlandaskan
Pancasila. Guru mengajak murid untuk mengidentifikasi area lain dalam hidup
mereka di mana mereka bisa lebih mengamalkan Pancasila dan berpartisipasi dalam
perencanaan kegiatan sekolah yang terkait dengan nilai-nilai kebangsaan.
G. ASESMEN PEMBELAJARAN
A. ASESMEN AWAL PEMBELAJARAN (DIAGNOSTIK)
● Format: Tes Lisan / Survei singkat tertulis / Polling interaktif (Mentimeter).
● Tujuan: Mengukur pengetahuan awal peserta didik tentang nilai-nilai Pancasila
dan pemahaman mereka tentang relevansinya dalam kehidupan sehari-hari.
Pertanyaan Contoh:
● "Menurut kalian, apa arti 'gotong royong' dalam kehidupan sehari-hari?"
● "Sebutkan 3 contoh permasalahan sosial di sekitar kalian yang menurut kalian
bisa diselesaikan dengan nilai Pancasila!"
● "Bagaimana cara kalian menunjukkan rasa hormat kepada teman yang berbeda
agama/suku?"
● "Apa tantangan terbesar dalam mengamalkan Pancasila di era sekarang?"
B. ASESMEN PROSES PEMBELAJARAN (FORMATIF)
● Format: Observasi (saat diskusi kelompok, role-playing, pelaksanaan proyek),
Penilaian Diri, Penilaian Antarteman, Lembar Kerja Analisis Kasus.
● Tujuan: Memantau pemahaman peserta didik selama proses pembelajaran,
mengidentifikasi kesulitan, dan memberikan umpan balik.
Pertanyaan/Tugas Contoh:
● Observasi Diskusi Kelompok: Catatan guru tentang partisipasi aktif,
kemampuan menganalisis kasus, dan kolaborasi dalam kelompok.
● Lembar Kerja Analisis Kasus (Pertemuan 1): Peserta didik mengisi tabel:
Kasus, Nilai Pancasila yang Relevan (Sila ke berapa?), Implikasi Positif/Negatif,
Solusi yang ditawarkan.
● Penilaian Diri (Pertemuan 2): "Sejauh mana saya telah berkontribusi dalam tim
proyek untuk mengamalkan Pancasila?" (Skala: Sangat Baik, Baik, Cukup,
Kurang).
● Penilaian Antarteman (Proyek): "Berikan 2 pujian dan 1 saran untuk kerja
sama kelompok [Nama Kelompok] dalam proyek ini."
C. ASESMEN AKHIR PEMBELAJARAN (SUMATIF)
● Format: Penilaian Proyek (Kampanye/Aksi Mini) dan Presentasi.
● Tujuan: Mengukur pencapaian tujuan pembelajaran secara keseluruhan,
terutama kemampuan mengimplementasikan nilai-nilai Pancasila.
Tugas Contoh:
● Tugas Proyek (Kampanye/Aksi Mini):
● "Rencanakan dan laksanakan sebuah kampanye/aksi mini (misalnya, pembuatan
infografis/poster/video pendek, simulasi musyawarah, aksi kecil gotong royong
di lingkungan sekolah/kelas) yang mengampanyekan atau mempraktikkan salah
satu nilai Pancasila (misalnya, toleransi beragama, gotong royong, keadilan
sosial) di lingkungan sekolah atau masyarakat terdekat. Dokumentasikan proses
dan hasilnya."
Kriteria Penilaian Proyek:
● Relevansi proyek dengan nilai Pancasila yang dipilih.
● Kreativitas dan orisinalitas ide proyek.
● Perencanaan dan pelaksanaan yang sistematis.
● Efektivitas pesan/dampak yang dihasilkan.
● Sikap kolaboratif dan tanggung jawab dalam tim.
● Kualitas dokumentasi dan penyajian.
Presentasi Proyek:
● "Presentasikan hasil proyek kalian di depan kelas. Jelaskan tujuan proyek,
bagaimana kalian menerapkan nilai Pancasila, tantangan yang dihadapi, dan apa
dampak yang kalian rasakan dari proyek tersebut. Sertakan dokumentasi visual."
Kriteria Penilaian Presentasi:
● Kejelasan dan kelancaran penyampaian.
● Kemampuan menjelaskan implementasi Pancasila.
● Sikap percaya diri dan reflektif.
● Kualitas visual pendukung presentasi.
Mengetahui, Kabir, 19 Juli 2025
Kepala Sekolah Guru Mata Pelajaran
IMANUEL E. LAKAFEL, [Link] MARIA Y Olang, [Link]
NIP. 19780116 200604 1 003 NIP. 19890326 202521 2 038
MODUL AJAR DEEP LEARNING
MATA PELAJARAN : PENDIDIKAN PANCASILA
BAB: 2 BER-PANCASILA DALAM KEHIDUPAN GLOBAL
A. IDENTITAS MODUL
Nama Sekolah : SMA Negeri 1Pantar
Nama Penyusun : Maria Y Olang, [Link]
Mata Pelajaran : Pendidikan Pancasila
Fase / Kelas /Semester : F / XII / Ganjil
Alokasi Waktu : 2 Pertemuan (2 x 3 JP @ 45)
Tahun Pelajaran : 2025 / 2026
B. IDENTIFIKASI KESIAPAN PESERTA DIDIK
Murid kelas XII umumnya telah memiliki pengetahuan dasar tentang Pancasila dari
jenjang sebelumnya. Mereka juga mulai memiliki kesadaran akan isu-isu global dan
tantangan masa depan. Minat mereka bervariasi, ada yang antusias terhadap isu sosial-
politik, ada pula yang lebih tertarik pada aplikasi praktis nilai-nilai. Latar belakang sosial
dan budaya murid akan memengaruhi perspektif mereka dalam memahami kehidupan
global. Kebutuhan belajar mereka meliputi pemahaman mendalam tentang nilai-nilai
Pancasila, kemampuan menganalisis isu global dari perspektif Pancasila, serta
mengembangkan sikap toleransi, kritis, dan kolaboratif. Beberapa murid mungkin lebih
suka belajar melalui diskusi intensif, sementara yang lain lebih nyaman dengan tugas
proyek yang melibatkan riset dan kreativitas.
C. KARAKTERISTIK MATERI PELAJARAN
Materi "Ber-Pancasila dalam Kehidupan Global" termasuk jenis pengetahuan konseptual,
prosedural, dan sangat menekankan pada pengembangan sikap. Relevansinya sangat
tinggi dengan kehidupan nyata murid sebagai calon warga negara yang akan
berkontribusi di era global. Materi ini membahas bagaimana nilai-nilai Pancasila dapat
menjadi pedoman dalam menghadapi tantangan dan peluang di kancah internasional,
serta mencegah dampak negatif globalisasi. Tingkat kesulitan materi ini moderat hingga
tinggi, karena membutuhkan kemampuan berpikir kritis, analisis multidimensional, dan
sintesis. Struktur materi mencakup pemahaman konsep globalisasi, tantangan dan
peluang, peran Pancasila sebagai panduan, serta implementasi nilai-nilai Pancasila dalam
berbagai dimensi kehidupan global. Integrasi nilai dan karakter akan ditekankan pada
nasionalisme, patriotisme, toleransi, demokrasi, keadilan, dan kesatuan dalam
keberagaman global.
D DIMENSI LULUSAN PEMBELAJARAN
Berdasarkan tujuan pembelajaran dan karakteristik materi, dimensi profil lulusan yang
akan dicapai adalah:
Kewargaan: murid mampu menunjukkan perilaku sebagai warga negara Indonesia
yang berpancasila dalam konteks kehidupan global, menghargai keberagaman, dan
berkontribusi positif.
3) Penalaran Kritis: murid mampu menganalisis isu-isu global dari perspektif nilai-
nilai Pancasila, mengidentifikasi tantangan, dan merumuskan solusi.
4) Kreativitas: murid mampu merumuskan ide-ide inovatif atau skenario
penyelesaian masalah global dengan pendekatan Pancasila.
5) Kolaborasi: murid mampu bekerja sama secara efektif dalam kelompok untuk
menganalisis isu, merumuskan ide, dan mempresentasikan hasil.
8) Komunikasi: murid mampu mengkomunikasikan pandangan, analisis, dan solusi
mereka terkait isu global berdasarkan Pancasila secara jelas dan persuasif, baik lisan
maupun tulisan.
DESAIN PEMBELAJARAN
A. CAPAIAN PEMBELAJARAN (CP) (Nomor : 042 Tahun 2025)
Pada fase ini, Murid Mempraktikkan dan membiasakan berperilaku sesuai sila-sila
Pancasila di lingkungan satuan pendidikan, rumah dan masyarakat (toleransi, tolong
menolong, bersatu, musyawarah, menyatakan pendapat, empati, dan lainnya).
Mengenal lambang negara Garuda Pancasila dan hari lahir Pancasila. Mempraktikkan
dan membiasakan menerima pemenuhan hak, melaksanakan kewajiban serta perilaku
sesuai aturan di lingkungan alam dan sosial sekitar sebagai warga negara.
Membiasakan menjaga diri dari perundungan dan kekerasan seksual sebagai hak
warga satuan pendidikan, rumah, masyarakat, dan negara. Mengidentifikasi dan
menghargai keberagaman suku, agama dan kepercayaan, di lingkungan, satuan
pendidikan, rumah dan masyarakat. Mengenal semboyan Bhinneka Tunggal Ika;
Menyanyikan Lagu Kebangsaan Indonesia Raya dan lagu wajib nasional.
Membiasakan berperilaku hormat kepada bendera merah putih. Membiasakan
berbahasa Indonesia di lingkungan satuan pendidikan, rumah, dan masyarakat.
Mempraktikkan sikap dan perilaku gotong royong, menjaga lingkungan satuan
pendidikan, rumah, dan masyarakat untuk keutuhan wilayah Negara Kesatuan
Republik Indonesia. Menunjukkan sikap cinta tanah air di wilayahnya dalam konteks
kabupaten/kota dan provinsi. Mengenal hari kemerdekaan Republik Indonesia, pulau-
pulau besar di Indonesia, dan proklamator.
Capaian Pembelajaran setiap elemen mata pelajaran Pendidikan Pancasila adalah
sebagai berikut.
Elemen Capaian Pembelajaran
Pancasila Murid mampu mempraktikkan dan membiasakan berperilaku
sesuai sila-sila Pancasila di lingkungan satuan pendidikan,
rumah dan masyarakat (toleransi, tolong menolong, bersatu,
musyawarah, menyatakan pendapat, empati, dan lainnya).
Mengenal lambang negara Garuda Pancasila dan hari lahir
Pancasila.
Undang-Undang Murid mampu mempraktikkan dan membiasakan menerima
Dasar Negara pemenuhan hak, melaksanakan kewajiban serta perilaku sesuai
Republik Indonesia aturan di lingkungan alam dan sosial sekitar sebagai warga
Tahun 1945 negara. Membiasakan menjaga diri dari perundungan dan
kekerasan seksual sebagai hak warga satuan pendidikan, rumah,
masyarakat, dan negara.
Bhinneka Tunggal Murid mampu mempraktikkan dan menghargai keberagaman
Ika suku, agama dan kepercayaan, di lingkungan, satuan
pendidikan, rumah dan masyarakat. Mengenal semboyan
Bhinneka Tunggal Ika
Negara Kesatuan Murid mampu mempraktikkan Lagu Kebangsaan Indonesia
Republik Indonesia Raya dan lagu wajib nasional. Membiasakan berperilaku hormat
kepada bendera merah putih. Membiasakan berbahasa Indonesia
di lingkungan satuan pendidikan, rumah, dan masyarakat.
Mempraktikkan sikap dan perilaku gotong royong, menjaga
lingkungan satuan pendidikan, rumah, dan masyarakat untuk
keutuhan wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Menunjukkan sikap cinta tanah air di wilayahnya dalam konteks
kabupaten/kota dan provinsi. Mengenal hari kemerdekaan
Republik Indonesia, pulau-pulau besar di Indonesia, dan
proklamator
B. LINTAS DISIPLIN ILMU
Sosiologi/Antropologi: Memahami dinamika masyarakat global, budaya lintas batas,
dan isu-isu sosial.
Sejarah: Memahami konteks historis perkembangan hubungan internasional dan
globalisasi.
Ekonomi: Menganalisis dampak ekonomi globalisasi dan peran Indonesia dalam
perekonomian dunia.
Ilmu Politik/Hubungan Internasional: Memahami struktur dan dinamika politik
global, diplomasi, dan peran negara.
Geografi: Memahami konektivitas global dan isu-isu lingkungan.
Bahasa Indonesia/Seni Budaya: Keterampilan komunikasi, penulisan esai,
presentasi, dan apresiasi terhadap keragaman budaya.
C. TUJUAN PEMBELAJARAN
Pertemuan 1: Pancasila dan Tantangan Kehidupan Global (3 JP)
Menjelaskan makna dan hakikat globalisasi serta tantangan yang ditimbulkannya
bagi nilai-nilai Pancasila.
Menganalisis isu-isu global kontemporer (misalnya, perubahan iklim, konflik
internasional, ketidakadilan ekonomi, hoaks) dari perspektif Pancasila.
terhadap berbagai pandangan dalam menghadapi isu-isu global.
Pertemuan 2: Peran Pancasila sebagai Pedoman dalam Kehidupan Global (3 JP)
Merumuskan peran strategis Pancasila sebagai pedoman hidup dalam menghadapi
dinamika kehidupan global.
Mengaplikasikan nilai-nilai Pancasila dalam menyelesaikan masalah global secara
kolaboratif.
Mempresentasikan hasil analisis dan solusi berbasis Pancasila secara persuasif.
D. TOPIK PEMBELAJARAN KONTEKSTUAL
Memahami Globalisasi: Hakikat, karakteristik, dan dampaknya (positif & negatif)
terhadap bangsa Indonesia.
Tantangan Global bagi Pancasila: Isu-isu lingkungan, krisis kemanusiaan,
radikalisme, ketimpangan global, perkembangan teknologi, dan pergeseran nilai.
Peluang Indonesia di Kancah Global: Diplomasi, kerja sama internasional, peran
dalam organisasi global.
Pancasila sebagai Filter dan Pedoman: Implementasi nilai-nilai Ketuhanan,
Kemanusiaan, Persatuan, Kerakyatan, dan Keadilan dalam menyikapi isu global.
Peran Aktif Warga Negara Berpancasila di Era Global: Literasi digital, toleransi
antarbudaya, advokasi perdamaian, dan kontribusi nyata.
E. KERANGKA PEMBELAJARAN
PRAKTIK PEDAGOGIK:
Model: Problem-Based Learning (PBL) untuk mendorong murid menganalisis dan
mencari solusi terhadap isu global, serta Collaborative Learning untuk membangun
keterampilan kerja sama.
Strategi: Pembelajaran berbasis kasus, inkuiri terbimbing, diskusi partisipatif,
presentasi interaktif.
Metode: Diskusi kelompok, studi kasus, analisis dokumen/berita, simulasi, proyek,
presentasi.
○ Pendekatan Deep Learning:
Mindful Learning: Mengajak murid merenungkan posisi diri dan Indonesia dalam
kehidupan global, serta menumbuhkan kesadaran akan tanggung jawab sebagai
warga negara. Penggunaan pertanyaan reflektif dan jeda refleksi.
Meaningful Learning: Menghubungkan konsep Pancasila dengan isu-isu nyata dan
relevan yang mereka temui dalam berita atau pengalaman pribadi. Membangun
jembatan antara teori dan praktik.
Joyful Learning: Menciptakan suasana belajar yang dinamis dan menarik melalui
debat mini, simulasi peran, atau penggunaan media interaktif yang relevan dengan
isu-isu global.
KEMITRAAN PEMBELAJARAN:
Lingkungan Sekolah: Guru mata pelajaran lain (Sejarah, Sosiologi, Geografi,
Bahasa Indonesia) dapat diajak berkolaborasi untuk memperkaya perspektif
antarilmu. Pustakawan sekolah dapat membantu penyediaan sumber bacaan.
Lingkungan Luar Sekolah: Mengundang praktisi/akademisi yang bergerak di
bidang hubungan internasional, diplomat, atau aktivis NGO lokal/internasional (jika
memungkinkan) untuk berbagi pengalaman.
Masyarakat: Menggali contoh-contoh bagaimana masyarakat lokal menghadapi
dampak globalisasi atau berpartisipasi dalam isu global.
LINGKUNGAN BELAJAR:
Ruang Fisik: Kelas yang dapat diatur fleksibel untuk diskusi kelompok besar
maupun kecil, serta area untuk presentasi. Tersedia akses ke perpustakaan sekolah.
Ruang Virtual: Pemanfaatan Learning Management System (LMS) seperti Google
Classroom untuk berbagi materi, tugas, forum diskusi, dan pengumpulan proyek.
Budaya Belajar: Mendorong budaya berdiskusi yang kritis namun santun,
kolaboratif, inisiatif, dan berani mengemukakan pendapat dengan argumentasi yang
kuat. Guru berperan sebagai fasilitator dan motivator.
PEMANFAATAN DIGITAL:
Google Classroom: Untuk distribusi materi, penugasan, pengumpulan tugas, dan
forum diskusi daring.
Berita Daring/Media Massa Digital: Sebagai sumber studi kasus isu-isu global
kontemporer.
YouTube/Video Dokumenter: Menampilkan video tentang isu global atau peran
Indonesia di kancah internasional.
Mentimeter/Kahoot: Untuk kuis interaktif atau survei pendapat singkat di
awal/akhir pembelajaran.
Canva/Infogram: Untuk membuat infografis atau presentasi visual yang menarik.
Google Docs/Slides: Untuk kolaborasi dalam menyusun laporan atau materi
presentasi proyek.
F. LANGKAH-LANGKAH PEMBELAJARAN BERDIFERENSIASI
PERTEMUAN 1:
PANCASILA DAN TANTANGAN KEHIDUPAN GLOBAL
KEGIATAN PENDAHULUAN (15 MENIT)
Pembelajaran Berkesadaran (Mindful Learning): Guru memulai dengan tayangan
singkat (video atau gambar) yang menampilkan fenomena globalisasi (misal:
penggunaan teknologi lintas negara, pertukaran budaya, berita konflik). Guru
meminta murid untuk mengamati sejenak dan menanyakan, "Apa yang kalian
rasakan saat melihat hal-hal ini? Bagaimana ini memengaruhi kehidupan kita?" Guru
memberikan waktu refleksi singkat.
Pembelajaran Bermakna (Meaningful Learning): Guru mengaitkan tayangan
dengan tema "Ber-Pancasila dalam Kehidupan Global". Guru menjelaskan bahwa
Pancasila bukan hanya untuk di dalam negeri, tetapi juga relevan dalam menghadapi
dunia yang semakin terhubung. Guru menyampaikan tujuan pembelajaran hari ini.
Pembelajaran Menggembirakan (Joyful Learning): Guru dapat menggunakan
Mentimeter untuk membuat "word cloud" singkat tentang kata-kata yang terlintas
saat mendengar "globalisasi" atau "Pancasila". Ini menciptakan suasana interaktif
dan menyenangkan.
KEGIATAN INTI (110 MENIT)
Fase 1: Identifikasi dan Analisis Tantangan Global (Memahami)
Guru membagi murid menjadi beberapa kelompok (diferensiasi proses: berdasarkan
preferensi topik isu global, atau secara heterogen untuk mendorong pertukaran ide).
Setiap kelompok diberikan satu atau dua artikel berita/studi kasus (diferensiasi
konten: artikel dengan tingkat kompleksitas bacaan yang berbeda) yang
menggambarkan isu global kontemporer (misal: perubahan iklim, krisis pengungsi,
penyebaran hoaks/radikalisme, ketidakadilan ekonomi global).
Murid diminta untuk mengidentifikasi tantangan yang terkandung dalam isu tersebut
dan memetakan bagaimana isu tersebut berpotensi memengaruhi nilai-nilai
Pancasila.
Fase 2: Diskusi dan Keterkaitan Pancasila (Mengaplikasi)
Setiap kelompok mendiskusikan hasil analisis mereka, mencoba menghubungkan isu
global dengan sila-sila Pancasila mana yang paling relevan.
Mereka diminta untuk merumuskan pertanyaan kritis terkait isu tersebut dari
perspektif Pancasila.
Diferensiasi Produk: Kelompok dapat memilih format untuk menyajikan hasil
analisis awal mereka: daftar poin-poin penting, bagan alir, atau "sketsa ide" singkat.
Fase 3: Pleno dan Refleksi Awal (Merefleksi)
Setiap kelompok mempresentasikan temuan analisis dan pertanyaan kritis mereka
secara singkat di depan kelas.
Guru memfasilitasi diskusi umum, mendorong murid untuk saling memberikan
tanggapan dan masukan.
Guru mengarahkan diskusi untuk menyoroti urgensi peran Pancasila dalam
menghadapi tantangan global.
KEGIATAN PENUTUP (15 MENIT)
Umpan Balik Konstruktif: Guru memberikan umpan balik umum mengenai
kedalaman analisis dan partisipasi aktif peserta didik. Mengapresiasi kemampuan
murid dalam mengaitkan isu global dengan Pancasila.
Menyimpulkan Pembelajaran: Guru bersama murid menyimpulkan pemahaman
tentang globalisasi dan tantangan yang dihadapi Pancasila.
Perencanaan Pembelajaran Selanjutnya: Guru menyampaikan bahwa pertemuan
berikutnya akan fokus pada perumusan solusi berbasis Pancasila dan memberikan
pengantar tugas proyek simulasi. Peserta didik diminta untuk mulai memikirkan ide-
ide solusi.
Jurnal Refleksi Singkat: murid menulis satu kalimat tentang "Satu hal yang paling
menarik dari isu global yang saya pelajari hari ini adalah..."
PERTEMUAN 2:
PERAN PANCASILA SEBAGAI PEDOMAN DALAM KEHIDUPAN GLOBAL
KEGIATAN PENDAHULUAN (15 MENIT)
Pembelajaran Berkesadaran (Mindful Learning): Guru meminta murid untuk
kembali mengingat isu global yang telah mereka analisis di pertemuan sebelumnya.
Guru dapat meminta mereka menyebutkan satu tantangan terbesar yang menurut
mereka perlu diatasi.
Pembelajaran Bermakna (Meaningful Learning): Guru mengaitkan bahwa
Pancasila bukan hanya alat analisis, tetapi juga pedoman untuk bertindak. Guru
menegaskan pentingnya peran aktif mereka sebagai warga negara global yang
berpancasila. Guru menyampaikan tujuan pembelajaran dan proyek hari ini.
Pembelajaran Menggembirakan (Joyful Learning): Guru menampilkan beberapa
kutipan inspiratif dari tokoh nasional atau global tentang pentingnya persatuan,
toleransi, atau keadilan. Guru meminta murid memilih satu kutipan yang paling
berkesan dan menjelaskan alasannya.
KEGIATAN INTI (110 MENIT)
Fase 1: Perencanaan Proyek Solusi (Memahami)
Murid kembali ke kelompoknya masing-masing.
Guru memberikan tugas proyek simulasi: "Bagaimana kelompok Anda, sebagai
perwakilan Indonesia, akan merumuskan solusi atau sikap berbasis Pancasila untuk
mengatasi isu global yang telah dianalisis sebelumnya?"
Kelompok merencanakan proyek mereka: menentukan fokus solusi, bagaimana nilai
Pancasila diimplementasikan, dan bagaimana mereka akan mempresentasikan ide
mereka (misal: simulasi pidato diplomatik, kampanye media sosial, proposal
kebijakan).
Diferensiasi Proses: Guru dapat memberikan bimbingan lebih intensif kepada
kelompok yang kesulitan dalam merumuskan ide atau membantu mereka
menemukan sumber daya yang relevan.
Fase 2: Pengerjaan Proyek dan Pengembangan Ide (Mengaplikasi)
Murid bekerja dalam kelompok untuk mengembangkan solusi atau sikap berbasis
Pancasila. Mereka diminta untuk menggunakan sumber informasi yang relevan dan
memastikan nilai-nilai Pancasila terintegrasi dalam setiap langkah solusi.
Guru berperan sebagai fasilitator, memberikan masukan, dan memastikan proyek
sesuai dengan tujuan pembelajaran.
didorong untuk memanfaatkan alat digital untuk kolaborasi dan visualisasi proyek
mereka.
Fase 3: Presentasi dan Umpan Balik (Merefleksi)
Setiap kelompok mempresentasikan hasil proyek mereka di depan kelas. Mereka
harus menunjukkan bagaimana Pancasila menjadi dasar pemikiran dan tindakan
mereka dalam menghadapi isu global.
Setelah presentasi, guru dan peserta didik lain memberikan umpan balik konstruktif
dan pertanyaan untuk memperdalam pemahaman.
Guru memfasilitasi refleksi bersama tentang keberhasilan dan tantangan dalam
mengaplikasikan nilai-nilai Pancasila di kancah global.
KEGIATAN PENUTUP (15 MENIT)
Umpan Balik Konstruktif: Guru memberikan apresiasi atas kreativitas dan
kedalaman analisis dalam proyek. Guru memberikan saran untuk pengembangan
lebih lanjut.
Menyimpulkan Pembelajaran: Guru bersama murid menyimpulkan pentingnya
Pancasila sebagai pedoman dalam kehidupan global dan peran aktif mereka sebagai
warga negara yang berpancasila.
Perencanaan Pembelajaran Selanjutnya: Guru memberikan pengantar untuk bab
berikutnya atau meminta murid untuk menuliskan satu komitmen pribadi tentang
bagaimana mereka akan menerapkan nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari
sebagai bagian dari warga global.
Jurnal Refleksi Akhir: murid diminta menulis refleksi akhir tentang seluruh
pembelajaran di Bab 2, termasuk pelajaran terpenting yang mereka dapatkan dan
bagaimana hal itu mengubah cara pandang mereka terhadap Pancasila dan dunia.
G. ASESMEN PEMBELAJARAN
A. ASESMEN AWAL PEMBELAJARAN (DIAGNOSTIK)
● Format: Brainstorming lisan atau kuis singkat (melalui Kahoot/Mentimeter)
tentang isu-isu global yang mereka ketahui atau sejauh mana mereka mengaitkan
Pancasila dengan dunia internasional.
Contoh Pertanyaan:
● "Sebutkan 3 isu global yang paling sering kamu dengar akhir-akhir ini."
● "Menurutmu, apakah Pancasila relevan untuk menyelesaikan masalah di tingkat
global?"
● "Apa yang kamu harapkan dari pembelajaran tentang Pancasila di era global
ini?"
B. ASESMEN PROSES PEMBELAJARAN (FORMATIF)
● Observasi: Guru mengamati keterlibatan murid dalam diskusi kelompok,
kemampuan berargumen, dan kolaborasi saat mengerjakan proyek.
Menggunakan rubrik observasi.
● Penilaian Diri dan Penilaian Antar Teman: Formulir penilaian diri dan antar
teman untuk menilai kontribusi individu dalam kelompok.
● Presentasi Mini (Pertemuan 1): Penilaian singkat terhadap kemampuan
kelompok mengidentifikasi tantangan dan menghubungkan dengan Pancasila.
● Jurnal Refleksi: Membaca jurnal refleksi peserta didik untuk memahami
pemahaman konsep, tantangan belajar, dan perkembangan sikap.
Contoh Pertanyaan/Tugas:
● "Bagaimana kelompokmu menghubungkan sila [sebutkan sila] dengan isu
[sebutkan isu global]?" (Saat membimbing kelompok)
● "Apa yang kamu pelajari dari diskusi kelompok hari ini tentang pentingnya
toleransi dalam isu global?" (Jurnal refleksi)
C. ASESMEN AKHIR PEMBELAJARAN (SUMATIF)
● Penilaian Proyek Simulasi/Presentasi: Penilaian terhadap kualitas proyek
akhir (misalnya, simulasi pidato diplomatik, kampanye digital, atau proposal
kebijakan) dan presentasi kelompoknya.
Format: Rubrik penilaian proyek yang mencakup kriteria:
● Relevansi dan Kedalaman Analisis: Sejauh mana isu global dianalisis secara
mendalam dan relevan dengan Pancasila.
● Kreativitas Solusi: Keaslian dan kelayakan ide solusi berbasis Pancasila.
● Integrasi Pancasila: Seberapa baik nilai-nilai Pancasila diimplementasikan
dalam solusi.
● Kolaborasi: Efektivitas kerja tim dalam proyek.
● Kualitas Komunikasi/Presentasi: Kejelasan, persuasif, dan kemampuan
menjawab pertanyaan.
Tes Tertulis (Esai Analitis):
● Format: Tes tertulis berbentuk esai untuk menguji kemampuan penalaran kritis
dan aplikasi konsep.
Contoh Pertanyaan:
● "Pilihlah satu isu global kontemporer (misalnya, polarisasi politik global, krisis
lingkungan, atau penyebaran ideologi ekstrem). Analisislah isu tersebut dari
perspektif nilai-nilai Pancasila. Jelaskan bagaimana Pancasila dapat menjadi
pedoman bagi bangsa Indonesia untuk mengatasi tantangan tersebut dan
berkontribusi pada solusi global."
● "Sebagai warga negara Indonesia yang berpancasila di era global, sebutkan 3
perilaku konkret yang dapat Anda lakukan untuk mewujudkan nilai-nilai
Pancasila dalam kehidupan sehari-hari, baik di lingkungan daring maupun luring.
Jelaskan alasannya."
Mengetahui, Kabir, 19 Juli 2025
Kepala Sekolah Guru Mata Pelajaran
IMANUEL E. LAKAFEL, [Link] MARIA Y Olang, [Link]
NIP. 19780116 200604 1 003 NIP. 19890326 202521 2 038
MODUL AJAR DEEP LEARNING
MATA PELAJARAN : PENDIDIKAN PANCASILA
BAB: 3. KESADARAN WARGA NEGARA DALAM MENGHADAPI KASUS
PELANGGARAN HAK DAN PENGINGKARAN KEWAJIBAN
A. IDENTITAS MODUL
Nama Sekolah : SMA Negeri 1 Pantar
Nama Penyusun : Maria Y Olang, [Link]
Mata Pelajaran : Pendidikan Pancasila
Fase / Kelas /Semester : F / XII / Ganjil
Alokasi Waktu : 8 Jam Pelajaran (4 x pertemuan @2 JP)
Tahun Pelajaran : 2025 / 2026
B. IDENTIFIKASI KESIAPAN PESERTA DIDIK
Murid kelas XII telah memiliki pengetahuan dasar tentang hak dan kewajiban warga
negara dari jenjang sebelumnya. Mereka berada pada fase perkembangan kognitif yang
memungkinkan pemikiran abstrak dan kritis, serta mulai memiliki kepedulian terhadap
isu-isu sosial dan kebangsaan. Minat belajar mereka akan sangat dipengaruhi oleh
relevansi materi dengan kehidupan sehari-hari, fenomena sosial, dan isu-isu aktual yang
mereka alami atau saksikan. Latar belakang sosial dan ekonomi murid bisa beragam,
yang mungkin memengaruhi pemahaman mereka terhadap jenis-jenis pelanggaran hak
dan pengingkaran kewajiban. Kebutuhan belajar meliputi pemahaman mendalam tentang
konsep, identifikasi kasus nyata, analisis penyebab dan dampak, serta pengembangan
sikap proaktif dalam menjaga hak dan melaksanakan kewajiban.
C. KARAKTERISTIK MATERI PELAJARAN
Materi "Kesadaran Warga Negara dalam Menghadapi Kasus Pelanggaran Hak dan
Pengingkaran Kewajiban" adalah jenis pengetahuan konseptual (konsep hak, kewajiban,
pelanggaran, pengingkaran), prosedural (langkah-langkah penyelesaian), dan
metakognitif (strategi untuk menjadi warga negara yang sadar). Materi ini sangat relevan
dengan kehidupan nyata peserta didik karena fenomena pelanggaran hak dan
pengingkaran kewajiban sering terjadi di sekitar mereka. Tingkat kesulitan materi sedang
hingga tinggi, karena memerlukan kemampuan analisis kritis, empati, dan pengambilan
keputusan berdasarkan nilai-nilai Pancasila. Struktur materi akan meliputi hak dan
kewajiban warga negara, jenis-jenis pelanggaran hak dan pengingkaran kewajiban, faktor
penyebab, upaya penanganan, serta pentingnya kesadaran warga negara. Materi ini
mengintegrasikan nilai-nilai Pancasila seperti keadilan, kemanusiaan, persatuan,
kerakyatan, dan ketuhanan, serta membentuk karakter peduli, bertanggung jawab, dan
berjiwa Pancasila.
D. DIMENSI PROFIL LULUSAN PEMBELAJARAN
Dalam pembelajaran Bab 3 ini, dimensi profil lulusan yang akan dicapai adalah:
● Kewargaan: murid memiliki kesadaran akan hak dan kewajiban sebagai warga
negara yang baik, serta berperan aktif dalam mengatasi permasalahan sosial.
● Penalaran Kritis: murid mampu menganalisis kasus-kasus pelanggaran hak dan
pengingkaran kewajiban, mengidentifikasi akar masalah, serta merumuskan solusi
yang relevan.
● Kolaborasi: murid bekerja sama dalam kelompok untuk mengidentifikasi,
menganalisis, dan menyajikan solusi terhadap kasus-kasus nyata.
● Komunikasi: murid mampu menyampaikan gagasan, hasil analisis, dan argumen
mereka secara efektif dan bertanggung jawab.
DESAIN PEMBELAJARAN
A. CAPAIAN PEMBELAJARAN (CP) (Nomor : 042 Tahun 2025)
Pada fase ini, Murid Mempraktikkan dan membiasakan berperilaku sesuai sila-sila
Pancasila di lingkungan satuan pendidikan, rumah dan masyarakat (toleransi, tolong
menolong, bersatu, musyawarah, menyatakan pendapat, empati, dan lainnya).
Mengenal lambang negara Garuda Pancasila dan hari lahir Pancasila. Mempraktikkan
dan membiasakan menerima pemenuhan hak, melaksanakan kewajiban serta perilaku
sesuai aturan di lingkungan alam dan sosial sekitar sebagai warga negara.
Membiasakan menjaga diri dari perundungan dan kekerasan seksual sebagai hak
warga satuan pendidikan, rumah, masyarakat, dan negara. Mengidentifikasi dan
menghargai keberagaman suku, agama dan kepercayaan, di lingkungan, satuan
pendidikan, rumah dan masyarakat. Mengenal semboyan Bhinneka Tunggal Ika;
Menyanyikan Lagu Kebangsaan Indonesia Raya dan lagu wajib nasional.
Membiasakan berperilaku hormat kepada bendera merah putih. Membiasakan
berbahasa Indonesia di lingkungan satuan pendidikan, rumah, dan masyarakat.
Mempraktikkan sikap dan perilaku gotong royong, menjaga lingkungan satuan
pendidikan, rumah, dan masyarakat untuk keutuhan wilayah Negara Kesatuan
Republik Indonesia. Menunjukkan sikap cinta tanah air di wilayahnya dalam konteks
kabupaten/kota dan provinsi. Mengenal hari kemerdekaan Republik Indonesia, pulau-
pulau besar di Indonesia, dan proklamator.
Capaian Pembelajaran setiap elemen mata pelajaran Pendidikan Pancasila adalah
sebagai berikut.
Elemen Capaian Pembelajaran
Pancasila Murid mampu mempraktikkan dan membiasakan berperilaku
sesuai sila-sila Pancasila di lingkungan satuan pendidikan,
rumah dan masyarakat (toleransi, tolong menolong, bersatu,
musyawarah, menyatakan pendapat, empati, dan lainnya).
Mengenal lambang negara Garuda Pancasila dan hari lahir
Pancasila.
Undang-Undang Murid mampu mempraktikkan dan membiasakan menerima
Dasar Negara pemenuhan hak, melaksanakan kewajiban serta perilaku sesuai
Republik Indonesia aturan di lingkungan alam dan sosial sekitar sebagai warga
Tahun 1945 negara. Membiasakan menjaga diri dari perundungan dan
kekerasan seksual sebagai hak warga satuan pendidikan, rumah,
masyarakat, dan negara.
Bhinneka Tunggal Murid mampu mempraktikkan dan menghargai keberagaman
Ika suku, agama dan kepercayaan, di lingkungan, satuan
pendidikan, rumah dan masyarakat. Mengenal semboyan
Bhinneka Tunggal Ika
Negara Kesatuan Murid mampu mempraktikkan Lagu Kebangsaan Indonesia
Republik Indonesia Raya dan lagu wajib nasional. Membiasakan berperilaku hormat
kepada bendera merah putih. Membiasakan berbahasa Indonesia
di lingkungan satuan pendidikan, rumah, dan masyarakat.
Mempraktikkan sikap dan perilaku gotong royong, menjaga
lingkungan satuan pendidikan, rumah, dan masyarakat untuk
keutuhan wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Menunjukkan sikap cinta tanah air di wilayahnya dalam konteks
kabupaten/kota dan provinsi. Mengenal hari kemerdekaan
Republik Indonesia, pulau-pulau besar di Indonesia, dan
proklamator
B. LINTAS DISIPLIN ILMU
● Sosiologi: Memahami fenomena sosial yang mendasari pelanggaran hak dan
pengingkaran kewajiban, struktur sosial, dan peran lembaga sosial.
● Hukum: Memahami dasar hukum hak asasi manusia, hak dan kewajiban warga
negara dalam UUD NRI Tahun 1945, serta sistem peradilan di Indonesia.
● Ekonomi: Memahami dampak ekonomi dari pelanggaran hak (misalnya, hak buruh)
atau pengingkaran kewajiban (misalnya, penggelapan pajak).
● Sejarah: Memahami konteks historis perjuangan penegakan HAM di Indonesia dan
dunia.
C. TUJUAN PEMBELAJARAN
Pertemuan 1: Hak dan Kewajiban Warga Negara serta Konsep Pelanggaran dan
Pengingkaran (Alokasi waktu: 2 JP)
● Mengidentifikasi hak dan kewajiban warga negara yang diatur dalam UUD NRI
Tahun 1945 dengan benar.
● Menganalisis perbedaan antara pelanggaran hak warga negara dan pengingkaran
kewajiban warga negara berdasarkan contoh kasus yang relevan.
● Merumuskan definisi operasional pelanggaran hak dan pengingkaran kewajiban
berdasarkan pemahaman yang komprehensif.
Pertemuan 2: Faktor Penyebab Pelanggaran Hak dan Pengingkaran Kewajiban
(Alokasi waktu: 2 JP)
● Mengidentifikasi faktor-faktor internal dan eksternal penyebab terjadinya
pelanggaran hak dan pengingkaran kewajiban warga negara dengan akurat.
● Menganalisis keterkaitan antara faktor penyebab dengan jenis-jenis pelanggaran hak
dan pengingkaran kewajiban yang sering terjadi di Indonesia.
● Menyusun peta pikiran (mind map) yang menggambarkan hubungan antar faktor
penyebab secara sistematis.
Pertemuan 3: Kasus-kasus Pelanggaran Hak dan Pengingkaran Kewajiban serta
Dampaknya (Alokasi waktu: 2 JP)
● Menentukan contoh-contoh kasus nyata pelanggaran hak dan pengingkaran
kewajiban yang terjadi di lingkungan sekitar atau tingkat nasional.
● Menganalisis dampak yang timbul akibat kasus-kasus pelanggaran hak dan
pengingkaran kewajiban bagi individu, masyarakat, dan negara dengan kritis.
● Mengevaluasi peran pemerintah dan masyarakat dalam mencegah dan menangani
kasus-kasus tersebut.
Pertemuan 4: Upaya Penanganan dan Peningkatan Kesadaran Warga Negara
(Alokasi waktu: 2 JP)
● Menyusun rencana tindakan atau kampanye sederhana untuk meningkatkan
kesadaran warga negara dalam pemenuhan hak dan pelaksanaan kewajiban.
● Mengembangkan sikap proaktif dan bertanggung jawab sebagai warga negara dalam
menjaga dan menegakkan hak serta menjalankan kewajiban.
● Mempresentasikan hasil proyek atau gagasan solusi terhadap permasalahan
pelanggaran hak dan pengingkaran kewajiban dengan percaya diri.
D. TOPIK PEMBELAJARAN KONTEKSTUAL
● Kasus-kasus pelanggaran hak warga negara (misal: kasus kekerasan, diskriminasi,
kebebasan berekspresi).
● Kasus-kasus pengingkaran kewajiban warga negara (misal: tidak membayar pajak,
tidak mematuhi peraturan lalu lintas, membuang sampah sembarangan).
● Peran media sosial dalam penyebaran informasi dan kesadaran tentang hak dan
kewajiban.
● Gerakan masyarakat sipil dalam advokasi hak-hak warga negara.
● Dilema hak dan kewajiban di era digital (misalnya, hak privasi vs. kewajiban
menjaga keamanan siber).
E. KERANGKA PEMBELAJARAN
PRAKTIK PEDAGOGIK:
● Model Pembelajaran: Problem-Based Learning (PBL) untuk mendorong analisis
kritis terhadap masalah nyata, dan Project-Based Learning (PjBL) untuk
menghasilkan solusi konkret.
● Strategi Pembelajaran: Diskusi kelompok, studi kasus, simulasi/role play,
brainstorming, presentasi, kampanye sosial sederhana.
● Metode Pembelajaran: Tanya jawab, curah pendapat, Gallery Walk, debat singkat,
pembuatan infografis/video edukasi.
KEMITRAAN PEMBELAJARAN:
● Lingkungan Sekolah: Guru BK untuk mendukung pemahaman aspek psikologis
kepatuhan, guru Sejarah/Sosiologi/Ekonomi untuk lintas disiplin.
● Lingkungan Luar Sekolah/Masyarakat: Mengundang narasumber dari kepolisian,
aktivis HAM, atau lembaga swadaya masyarakat (LSM) yang bergerak di bidang
hukum/sosial untuk berbagi pengalaman dan wawasan.
LINGKUNGAN BELAJAR:
● Ruang Fisik: Kelas yang fleksibel untuk diskusi kelompok, area pajang (misalnya,
mading kelas) untuk hasil proyek.
● Ruang Virtual: Pemanfaatan Google Classroom sebagai pusat informasi dan
pengumpulan tugas, Google Docs/Slides untuk kolaborasi proyek, YouTube untuk
video berita/dokumenter terkait kasus, platform berita daring, dan media sosial (untuk
analisis kasus).
● Budaya Belajar: Mendorong budaya toleransi, empati, partisipasi aktif, berpikir
kritis, dan mencari solusi konstruktif terhadap permasalahan sosial.
PEMANFAATAN DIGITAL:
● Perpustakaan Digital: Akses berita daring, artikel jurnal, atau laporan terkait kasus
pelanggaran hak dan pengingkaran kewajiban.
● Forum Diskusi Daring: Diskusi asinkron di Google Classroom atau platform lain
untuk berbagi pandangan tentang isu-isu sensitif.
● Kahoot/Mentimeter: Kuis interaktif untuk asesmen formatif atau pemanasan.
● Google Classroom: Pengelolaan materi, penugasan, dan pengumpulan tugas proyek.
● Canva/PowerPoint: Untuk pembuatan infografis atau presentasi proyek.
F. LANGKAH-LANGKAH PEMBELAJARAN BERDIFERENSIASI
PERTEMUAN 1:
HAK DAN KEWAJIBAN WARGA NEGARA SERTA KONSEP
PELANGGARAN DAN PENGINGKARAN
KEGIATAN PENDAHULUAN (MINDFUL LEARNING, JOYFUL LEARNING -
15 MENIT):
● Guru memulai dengan sapaan, doa, dan menanyakan kabar murid.
● Apersepsi: Guru menayangkan video singkat atau gambar/berita utama di media
massa tentang kasus pelanggaran hak (misalnya, anak putus sekolah karena tidak
punya akta lahir) atau pengingkaran kewajiban (misalnya, aksi corat-coret fasilitas
umum). Guru meminta murid menuliskan satu kata atau frase yang menggambarkan
perasaan/pikiran mereka tentang tayangan tersebut di Mentimeter (Joyful Learning,
Mindful Learning - memusatkan perhatian).
● Motivasi: Guru mengaitkan fenomena tersebut dengan pentingnya memahami hak
dan kewajiban sebagai warga negara yang sadar, serta dampaknya bagi kehidupan
bersama. (Meaningful Learning - mengaitkan dengan kehidupan nyata).
● Guru menyampaikan tujuan pembelajaran.
KEGIATAN INTI (UNDERSTANDING, APPLYING, REFLECTING - 60
MENIT):
Mengidentifikasi dan Memahami (Understanding):
● Guru meminta murid membuka UUD NRI Tahun 1945 (bisa melalui aplikasi digital
atau buku teks).
● Murid secara individu atau berpasangan mengidentifikasi pasal-pasal yang mengatur
tentang hak dan kewajiban warga negara.
● Guru memfasilitasi diskusi kelas untuk mengklarifikasi pemahaman tentang hak dan
kewajiban.
Mengaplikasikan (Applying):
● Guru menampilkan beberapa "kartu kasus" (masing-masing berisi deskripsi singkat
kasus, misal: "Seorang pengendara motor tidak memakai helm" atau "Seorang anak
tidak diizinkan sekolah karena berasal dari keluarga miskin").
● Secara berkelompok, murid mengategorikan apakah kasus tersebut termasuk
pelanggaran hak atau pengingkaran kewajiban, dan mengapa.
● Kelompok berdiskusi untuk merumuskan definisi mereka sendiri tentang pelanggaran
hak dan pengingkaran kewajiban.
Merefleksi (Reflecting):
● Setiap kelompok berbagi hasil kategorisasi dan definisi mereka.
● Guru memberikan penguatan dan meluruskan konsep jika ada miskonsepsi.
● Murid diminta menuliskan 3 poin penting yang mereka pelajari hari ini di buku
catatan mereka.
KEGIATAN PENUTUP (FEEDBACK, SUMMARIZING, PLANNING - 15
MENIT):
● Umpan Balik: Guru memberikan umpan balik positif atas partisipasi aktif murid
dalam mengidentifikasi dan mengategorikan kasus.
● Menyimpulkan: Bersama murid, guru menyimpulkan konsep dasar hak dan
kewajiban, serta perbedaan antara pelanggaran hak dan pengingkaran kewajiban.
● Perencanaan Selanjutnya: Guru memberikan tugas rumah untuk mencari 2 contoh
kasus nyata pelanggaran hak dan 2 contoh kasus nyata pengingkaran kewajiban yang
pernah terjadi di Indonesia, sebagai persiapan untuk pertemuan berikutnya.
Pertemuan 2, 3, dan 4: Pola kegiatan inti dapat mengikuti skema "Understanding,
Applying, Reflecting" dengan penyesuaian pada topik, jenis kasus, dan output proyek
yang dihasilkan.
G. ASESMEN PEMBELAJARAN
A. ASESMEN AWAL PEMBELAJARAN (DIAGNOSTIK)
● Format: Polling interaktif menggunakan Mentimeter atau kuis singkat lisan.
● Tujuan: Mengukur pengetahuan awal peserta didik tentang hak dan kewajiban
warga negara, serta isu-isu pelanggaran/pengingkaran yang pernah mereka
dengar/lihat.
● Contoh Pertanyaan/Tugas:
○ "Menurut kalian, apa hak paling dasar yang harus dimiliki setiap warga
negara?" (Mentimeter Word Cloud).
○ "Apakah kalian pernah melihat/mendengar kasus di mana hak seseorang
dilanggar atau seseorang tidak menjalankan kewajibannya? Berikan satu
contoh singkat." (Pertanyaan lisan).
○ "Seberapa pentingkah bagi kalian untuk memahami hak dan kewajiban
sebagai warga negara?" (Skala 1-5 di Mentimeter).
B. ASESMEN PROSES PEMBELAJARAN (FORMATIF)
● Format:
○ Observasi: Guru mengamati keterlibatan murid dalam diskusi kelompok,
kemampuan analisis, kemampuan berargumen, dan kerja sama.
(Menggunakan rubrik observasi).
○ Penilaian Diri dan Antar Teman: Menggunakan lembar observasi
partisipasi kelompok yang diisi oleh murid sendiri dan teman
sekelompoknya.
○ Presentasi Mini/Jurnal Belajar: Penilaian singkat terhadap kemampuan
murid dalam memaparkan hasil analisis kasus atau menuliskan refleksi
pemahaman mereka.
○ Diskusi Daring: Penilaian keaktifan dan kualitas kontribusi dalam forum
diskusi di Google Classroom.
● Tujuan: Memantau pemahaman dan keterampilan murid selama proses
pembelajaran, memberikan umpan balik berkelanjutan, dan memfasilitasi
perbaikan.
● Contoh Pertanyaan/Tugas:
○ "Bagaimana cara kelompok kalian memastikan semua anggota memahami
kasus yang sedang dibahas?" (Untuk penilaian diri/antar teman).
○ "Tuliskan satu hal baru yang kalian pelajari tentang faktor penyebab
pelanggaran hak hari ini dan mengapa hal itu penting bagi kalian." (Untuk
jurnal belajar).
○ "Sumbangkan satu ide kreatif untuk mengatasi kasus pelanggaran hak di
media sosial yang sering kalian temui." (Untuk diskusi daring).
C. ASESMEN AKHIR PEMBELAJARAN (SUMATIF)
● Format:
○ Tes Tertulis (Studi Kasus Analitis): Menguji kemampuan analisis,
identifikasi solusi, dan keterkaitan dengan nilai-nilai Pancasila.
○ Penilaian Proyek (Produk Digital): Membuat infografis, poster digital,
atau video pendek tentang kampanye kesadaran hak dan kewajiban warga
negara.
○ Presentasi (Kelompok): Mempresentasikan proyek atau hasil investigasi
kasus nyata secara komprehensif.
● Tujuan: Mengukur pencapaian tujuan pembelajaran secara komprehensif dan
kemampuan murid dalam menerapkan pengetahuan dan keterampilan.
● Contoh Pertanyaan/Tugas:
○ Tes Tertulis (Esai Analitis):
1. "Pemerintah baru-baru ini mengeluarkan kebijakan baru mengenai
[sebutkan kebijakan aktual, misal: kenaikan pajak kendaraan bermotor].
Analisislah kebijakan ini dari perspektif hak dan kewajiban warga
negara. Apakah kebijakan ini berpotensi melanggar hak atau
menimbulkan pengingkaran kewajiban? Berikan argumen kalian
berdasarkan nilai-nilai Pancasila."
2. "Identifikasi minimal tiga faktor internal dan tiga faktor eksternal yang
dapat menyebabkan maraknya kasus bullying di sekolah. Bagaimana
peran kesadaran warga negara, khususnya siswa dan guru, dalam
mencegah dan mengatasi kasus tersebut?"
3. "Mengapa kesadaran warga negara sangat penting dalam upaya
penegakan hak asasi manusia di Indonesia? Berikan contoh konkret
bagaimana kesadaran ini dapat diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari."
○ Tugas Proyek:
1. "Buatlah kampanye digital (berupa seri infografis di Instagram, video
pendek di TikTok/YouTube, atau poster interaktif) yang mengajak warga
negara, khususnya kaum muda, untuk lebih sadar akan hak dan
kewajibannya dalam mencegah pelanggaran hak dan pengingkaran
kewajiban. Kampanye harus mengandung unsur edukasi, inspirasi, dan
ajakan bertindak. Presentasikan hasil karya kelompok kalian."
"Pilih satu kasus pelanggaran hak atau pengingkaran kewajiban yang sering terjadi di
lingkungan sekolah atau masyarakat kalian. Lakukan investigasi sederhana (melalui
wawancara dengan narasumber atau observasi) dan analisis mengapa kasus tersebut terjadi.
Kemudian, rumuskan minimal tiga rekomendasi solusi yang dapat diterapkan oleh
siswa/sekolah/masyarakat,
Mengetahui, Kabir, 19 Juli 2025
Kepala Sekolah Guru Mata Pelajaran
IMANUEL E. LAKAFEL, [Link] MARIA Y. OLANG, [Link]
NIP. 19780116 200604 1 003 NIP. 19890326 202521 2 038
MODUL AJAR DEEP LEARNING
MATA PELAJARAN : PENDIDIKAN PANCASILA
BAB: 4 GENERASI SOLUTIF MENGATASI PELANGGARAN HAK DAN
PENGINGKARAN KEWAJIBAN
A. IDENTITAS MODUL
Nama Sekolah : SMA Negeri 1Pantar
Nama Penyusun : Maria Y Olang, [Link]
Mata Pelajaran : Pendidikan Pancasila
Fase / Kelas /Semester : F / XII / Genap
Alokasi Waktu : 8 x 45 menit (4 Pertemuan)
Tahun Pelajaran : 2025 / 2026
B. IDENTIFIKASI KESIAPAN PESERTA DIDIK
Murid kelas XII diharapkan memiliki pemahaman dasar tentang konsep hak asasi
manusia dan kewajiban warga negara dari jenjang pendidikan sebelumnya, serta konsep
dasar Pancasila. Mereka juga mungkin sudah memiliki kesadaran terhadap berbagai isu
sosial terkait pelanggaran hak dan pengingkaran kewajiban di lingkungan sekitar atau
melalui media massa. Minat terhadap isu keadilan sosial dan peran aktif sebagai warga
negara cenderung bervariasi. Latar belakang sosial dan pengalaman hidup dapat
memengaruhi perspektif mereka. Kebutuhan belajar akan difokuskan pada analisis
mendalam tentang pelanggaran hak dan pengingkaran kewajiban, identifikasi solusi
berbasis nilai Pancasila, serta pengembangan sikap proaktif dan bertanggung jawab
sebagai agen perubahan.
C. KARAKTERISTIK MATERI PELAJARAN
Materi "Generasi Solutif Mengatasi Pelanggaran Hak dan Pengingkaran Kewajiban"
mencakup jenis pengetahuan konseptual (konsep HAM, kewajiban dasar, jenis
pelanggaran, penyebab, upaya penegakan), prosedural (analisis kasus, perumusan solusi,
strategi advokasi), dan metakognitif (merefleksikan peran individu dalam menjaga
harmoni sosial dan menegakkan keadilan). Relevansinya dengan kehidupan nyata sangat
tinggi karena isu pelanggaran hak dan pengingkaran kewajiban adalah bagian tak
terpisahkan dari dinamika masyarakat. Tingkat kesulitan materi berjenjang dari
identifikasi kasus hingga perumusan solusi kompleks dan aksi nyata. Struktur materi
melibatkan pemahaman konsep, identifikasi masalah, analisis faktor, perumusan solusi,
dan implementasi aksi. Integrasi nilai dan karakter akan ditekankan pada keimanan dan
ketakwaan (kepedulian terhadap sesama), kewargaan (keadilan, toleransi, tanggung
jawab), penalaran kritis, kolaborasi, dan kemandirian.
D DIMENSI LULUSAN PEMBELAJARAN
Dalam pembelajaran Bab 4 ini, dimensi profil lulusan yang akan dicapai adalah:
● Kewargaan: murid memiliki kesadaran akan hak dan kewajiban sebagai warga negara,
serta bertanggung jawab untuk aktif mengatasi pelanggaran hak dan pengingkaran
kewajiban.
● Penalaran Kritis: murid mampu menganalisis secara mendalam berbagai kasus
pelanggaran hak dan pengingkaran kewajiban, mengidentifikasi akar masalah, serta
merumuskan solusi yang tepat berdasarkan nilai-nilai Pancasila.
● Kolaborasi: murid dapat bekerja sama dalam kelompok untuk mengumpulkan
informasi, menganalisis kasus, dan merancang proyek solusi.
● Komunikasi: murid mampu menyampaikan analisis dan solusi secara lisan dan tertulis
dengan jelas, argumentatif, dan persuasif.
● Kemandirian: murid memiliki inisiatif dan kemampuan untuk mengambil peran aktif
dalam upaya penegakan hak dan pemenuhan kewajiban di lingkungan mereka.
DESAIN PEMBELAJARAN
A. CAPAIAN PEMBELAJARAN (CP) (Nomor : 042 Tahun 2025)
Pada fase ini, Murid Mempraktikkan dan membiasakan berperilaku sesuai sila-sila
Pancasila di lingkungan satuan pendidikan, rumah dan masyarakat (toleransi, tolong
menolong, bersatu, musyawarah, menyatakan pendapat, empati, dan lainnya).
Mengenal lambang negara Garuda Pancasila dan hari lahir Pancasila. Mempraktikkan
dan membiasakan menerima pemenuhan hak, melaksanakan kewajiban serta perilaku
sesuai aturan di lingkungan alam dan sosial sekitar sebagai warga negara.
Membiasakan menjaga diri dari perundungan dan kekerasan seksual sebagai hak
warga satuan pendidikan, rumah, masyarakat, dan negara. Mengidentifikasi dan
menghargai keberagaman suku, agama dan kepercayaan, di lingkungan, satuan
pendidikan, rumah dan masyarakat. Mengenal semboyan Bhinneka Tunggal Ika;
Menyanyikan Lagu Kebangsaan Indonesia Raya dan lagu wajib nasional.
Membiasakan berperilaku hormat kepada bendera merah putih. Membiasakan
berbahasa Indonesia di lingkungan satuan pendidikan, rumah, dan masyarakat.
Mempraktikkan sikap dan perilaku gotong royong, menjaga lingkungan satuan
pendidikan, rumah, dan masyarakat untuk keutuhan wilayah Negara Kesatuan
Republik Indonesia. Menunjukkan sikap cinta tanah air di wilayahnya dalam konteks
kabupaten/kota dan provinsi. Mengenal hari kemerdekaan Republik Indonesia, pulau-
pulau besar di Indonesia, dan proklamator.
Capaian Pembelajaran setiap elemen mata pelajaran Pendidikan Pancasila adalah
sebagai berikut.
Elemen Capaian Pembelajaran
Pancasila Murid mampu mempraktikkan dan membiasakan berperilaku
sesuai sila-sila Pancasila di lingkungan satuan pendidikan,
rumah dan masyarakat (toleransi, tolong menolong, bersatu,
musyawarah, menyatakan pendapat, empati, dan lainnya).
Mengenal lambang negara Garuda Pancasila dan hari lahir
Pancasila.
Undang-Undang Murid mampu mempraktikkan dan membiasakan menerima
Dasar Negara pemenuhan hak, melaksanakan kewajiban serta perilaku sesuai
Republik Indonesia aturan di lingkungan alam dan sosial sekitar sebagai warga
Tahun 1945 negara. Membiasakan menjaga diri dari perundungan dan
kekerasan seksual sebagai hak warga satuan pendidikan, rumah,
masyarakat, dan negara.
Bhinneka Tunggal Murid mampu mempraktikkan dan menghargai keberagaman
Ika suku, agama dan kepercayaan, di lingkungan, satuan
pendidikan, rumah dan masyarakat. Mengenal semboyan
Bhinneka Tunggal Ika
Negara Kesatuan Murid mampu mempraktikkan Lagu Kebangsaan Indonesia
Republik Indonesia Raya dan lagu wajib nasional. Membiasakan berperilaku hormat
kepada bendera merah putih. Membiasakan berbahasa Indonesia
di lingkungan satuan pendidikan, rumah, dan masyarakat.
Mempraktikkan sikap dan perilaku gotong royong, menjaga
lingkungan satuan pendidikan, rumah, dan masyarakat untuk
keutuhan wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Menunjukkan sikap cinta tanah air di wilayahnya dalam konteks
kabupaten/kota dan provinsi. Mengenal hari kemerdekaan
Republik Indonesia, pulau-pulau besar di Indonesia, dan
proklamator
B. LINTAS DISIPLIN ILMU
● Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn): Konsep dasar HAM, hak
dan kewajiban warga negara, norma hukum, sistem pemerintahan, demokrasi, hak
asasi manusia.
● Sosiologi: Struktur sosial, masalah sosial, ketimpangan sosial, stratifikasi sosial,
peran lembaga sosial.
● Hukum: Konsep hukum, penegakan hukum, keadilan, lembaga peradilan, hak-hak
hukum warga negara.
● Sejarah: Sejarah perjuangan HAM, perkembangan demokrasi di Indonesia.
● Bahasa Indonesia: Kemampuan analisis teks, penulisan esai argumentatif,
keterampilan berbicara di depan umum.
● Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK): Pemanfaatan data digital, media
sosial untuk kampanye sosial, riset daring.
C. TUJUAN PEMBELAJARAN
Pertemuan 1 (2 x 45 menit): Memahami Konsep Pelanggaran Hak dan
Pengingkaran Kewajiban
● Murid dapat menjelaskan pengertian pelanggaran hak dan pengingkaran kewajiban
warga negara dengan tepat.
● Muridu mengidentifikasi minimal 3 contoh kasus pelanggaran hak dan pengingkaran
kewajiban yang relevan dengan kehidupan sehari-hari.
● Murid menunjukkan sikap peduli dan empati terhadap korban pelanggaran hak.
Pertemuan 2 (2 x 45 menit): Menganalisis Penyebab dan Upaya Penegakan Hak
dan Kebajikan
● Murid mampu menganalisis minimal 3 faktor penyebab terjadinya pelanggaran hak
dan pengingkaran kewajiban.
● Murid dapat mengidentifikasi upaya-upaya penegakan hak dan kewajiban oleh
pemerintah dan masyarakat berdasarkan nilai Pancasila.
● Murid menunjukkan penalaran kritis dalam menganalisis masalah sosial.
Pertemuan 3 (2 x 45 menit): Merancang Solusi Kreatif untuk Mengatasi
Pelanggaran Hak dan Pengingkaran Kewajiban
● Murid mampu merancang ide solusi kreatif dan inovatif untuk mengatasi kasus
pelanggaran hak atau pengingkaran kewajiban di lingkungan sekolah atau
masyarakat.
● Murid dapat menyusun rencana aksi sederhana (misalnya, kampanye, poster edukasi,
simulasi mediasi) sebagai bagian dari solusi.
● Murid menunjukkan kreativitas dan kolaborasi dalam merumuskan gagasan.
Pertemuan 4 (2 x 45 menit): Mempresentasikan Solusi dan Refleksi Peran Generasi
Solutif
● Murid mampu mempresentasikan rancangan solusi mereka secara lisan dengan jelas,
percaya diri, dan persuasif.
● Murid dapat mengevaluasi dan merefleksikan peran mereka sebagai "Generasi
Solutif" dalam mengatasi pelanggaran hak dan pengingkaran kewajiban.
● Murid menunjukkan kemampuan komunikasi, kemandirian, dan komitmen untuk
menjadi agen perubahan.
D. TOPIK PEMBELAJARAN KONTEKSTUAL
Topik pembelajaran kontekstual adalah "Bukan Hanya Mengenal, Tapi Bergerak:
Membangun Masyarakat Adil dengan Solusi Nyata". Peserta didik akan diajak untuk
tidak hanya memahami teori tentang hak dan kewajiban, tetapi juga mengidentifikasi
masalah di sekitar mereka dan secara proaktif mencari serta mengimplementasikan solusi
yang berlandaskan Pancasila. Konteksnya dapat diambil dari isu-isu lokal, nasional, atau
global yang relevan.
E. KERANGKA PEMBELAJARAN
PRAKTIK PEDAGOGIK:
● Model Pembelajaran: Problem-Based Learning (analisis kasus pelanggaran
hak/pengingkaran kewajiban), Project-Based Learning (perancangan dan presentasi
solusi), Collaborative Learning.
● Strategi Pembelajaran: Diskusi Kelompok, Studi Kasus, Brainstorming, Debat
Sederhana, Simulasi, Presentasi.
● Metode Pembelajaran: Analisis Dokumen/Berita, Curah Pendapat, Merancang
Proyek, Berbicara Persuasif.
● Pendekatan: Deep Learning (Mindful Learning, Meaningful Learning, Joyful
Learning).
KEMITRAAN PEMBELAJARAN:
● Lingkungan Sekolah: Guru BK (untuk kasus di sekolah), guru Bahasa Indonesia
(untuk keterampilan presentasi), OSIS/MPK, teman sebaya.
● Lingkungan Luar Sekolah/Masyarakat: Kepolisian (untuk informasi penegakan
hukum), aktivis HAM lokal/LSM terkait, tokoh masyarakat, perwakilan lembaga
bantuan hukum (jika memungkinkan), pemerintah daerah (untuk kebijakan publik).
LINGKUNGAN BELAJAR:
● Ruang Fisik: Ruang kelas yang fleksibel untuk diskusi kelompok dan presentasi.
Area untuk menempel ide-ide solusi atau mind map.
● Ruang Virtual: Google Classroom/platform LMS lainnya untuk berbagi artikel
berita, video dokumenter, data statistik, forum diskusi daring, dan pengumpulan
tugas. Pemanfaatan platform media sosial untuk riset kasus atau ide kampanye sosial.
● Budaya Belajar: Lingkungan yang mendorong keterbukaan, keberanian
menyuarakan kebenaran, empati, keadilan, kolaborasi, dan tanggung jawab sosial.
PEMANFAATAN DIGITAL:
● Pemanfaatan perpustakaan digital/sumber daya online: Mencari berita, laporan,
data statistik tentang pelanggaran hak dan pengingkaran kewajiban (misalnya dari
Komnas HAM, Komnas Perlindungan Anak).
● Forum diskusi daring (Google Classroom/Jamboard/Padlet): Berdiskusi tentang
akar masalah, berbagi ide solusi, atau memberikan umpan balik terhadap rancangan
teman.
● Canva/PowerPoint: Untuk membuat desain infografis, poster kampanye, atau slide
presentasi.
● Google Docs/Slides: Untuk menyusun laporan studi kasus atau teks presentasi.
● YouTube/TikTok: Mencari video kasus pelanggaran hak, kampanye sosial, atau
wawancara dengan korban/pejuang HAM.
F. LANGKAH-LANGKAH PEMBELAJARAN BERDIFERENSIASI
KEGIATAN PENDAHULUAN (PRINSIP PEMBELAJARAN BERKESADARAN,
BERMAKNA, MENGGEMBIRAKAN)
● Mindful Learning: Guru memulai dengan aktivitas "Cermin Hak dan Kewajiban":
meminta peserta didik untuk merenung sejenak, "Apa hak yang paling penting
bagiku?" dan "Apa kewajiban yang paling sulit bagiku untuk dilakukan?". Ini
membangun kesadaran personal akan konsep hak dan kewajiban.
● Joyful Learning: Menampilkan ilustrasi atau komik pendek tentang situasi di mana
hak dilanggar atau kewajiban diabaikan, lalu meminta peserta didik untuk menebak
dampaknya. Mengadakan quick poll (Mentimeter/Kahoot) tentang isu pelanggaran
hak yang paling sering mereka lihat.
● Meaningful Learning: Guru mengajukan pertanyaan pemantik: "Mengapa masih
banyak pelanggaran hak di negara kita, padahal sudah dijamin undang-undang?" atau
"Apa yang bisa kita sebagai generasi muda lakukan untuk membuat Indonesia lebih
adil?". Ini mengaitkan materi dengan realitas sosial dan peran pribadi.
KEGIATAN INTI (PRINSIP PEMBELAJARAN MEMAHAMI,
MENGAPLIKASI, MEREFLEKSI)
Memahami (Perception & Comprehension):
● Diferensiasi Konten: Guru menyediakan berbagai studi kasus pelanggaran hak atau
pengingkaran kewajiban dalam bentuk yang berbeda (artikel berita, video wawancara
korban, infografis data statistik). Peserta didik dapat memilih kasus yang paling
menarik atau relevan bagi mereka.
● Guru memfasilitasi diskusi mendalam tentang penyebab, dampak, dan upaya
penegakan hak/kewajiban berdasarkan dalil Pancasila.
● Mengundang narasumber (misalnya, pegiat HAM atau perwakilan lembaga terkait)
untuk berbagi pengalaman dan wawasan.
Mengaplikasi (Application):
Diferensiasi Proses:
● Kelompok Berdasarkan Isu Prioritas: Peserta didik membentuk kelompok
berdasarkan isu pelanggaran hak/pengingkaran kewajiban yang paling mereka
pedulikan (misalnya, hak anak, hak perempuan, kewajiban membayar pajak,
kewajiban menjaga lingkungan).
● Pilihan Format Solusi: Peserta didik diberikan kebebasan untuk merancang solusi
dalam berbagai format: presentasi kampanye sosial, simulasi mediasi konflik, video
edukasi, podcast wawancara dengan ahli, atau proposal proyek komunitas sederhana.
● Scaffolding dalam Perancangan Solusi: Guru menyediakan panduan langkah demi
langkah untuk analisis kasus dan perancangan solusi, serta memberikan bimbingan
individual untuk memastikan solusi berbasis Pancasila dan realistis.
● Joyful Learning: Mengadakan "Solusi Challenge" di mana kelompok berlomba
merumuskan ide solusi paling kreatif dan berdampak. Mengadakan "Debat Solusi
Konstruktif" tentang ide-ide yang diusulkan.
● Meaningful Learning: Mendorong peserta didik untuk menerapkan sikap proaktif
dalam kehidupan sehari-hari, misalnya dengan melaporkan bullying di sekolah, atau
memastikan mereka sendiri memenuhi kewajiban sebagai siswa dan warga negara.
Merefleksi (Reflection):
Diferensiasi Produk:
● Jurnal Refleksi: Peserta didik menuliskan jurnal tentang pengalaman mereka dalam
menganalisis kasus, merumuskan solusi, tantangan kolaborasi, dan perubahan
pandangannya tentang peran "Generasi Solutif".
● Sesi Umpan Balik Teman Sebaya: Setelah presentasi, teman sebaya memberikan
umpan balik konstruktif tentang kelayakan solusi dan kekuatan argumen.
● Peta Konsep/Infografis Akhir: Membuat peta konsep atau infografis yang
merangkum pemahaman mereka tentang pelanggaran hak dan pengingkaran
kewajiban, beserta solusi-solusi yang mungkin.
● Mindful Learning: Setelah presentasi solusi, guru mengajak peserta didik
merenungkan tanggung jawab mereka sebagai generasi muda untuk mewujudkan
keadilan sosial dan menjaga nilai-nilai Pancasila.
KEGIATAN PENUTUP (UMPAN BALIK, KESIMPULAN, PERENCANAAN
LANJUTAN)
● Umpan Balik Konstruktif: Guru memberikan umpan balik spesifik tentang kualitas
analisis, orisinalitas solusi, dan efektivitas presentasi. "Analisis kalian tentang akar
masalah korupsi sangat tajam, didukung data yang relevan." atau "Ide kampanye
kalian sangat kreatif, mungkin bisa dipertimbangkan target audiens yang lebih
spesifik."
● Kesimpulan Pembelajaran: Guru dan peserta didik bersama-sama menyimpulkan
bahwa pelanggaran hak dan pengingkaran kewajiban adalah masalah yang kompleks,
namun dengan penalaran kritis dan kolaborasi, generasi muda dapat menjadi bagian
dari solusi yang bermartabat dan berlandaskan Pancasila.
Perencanaan Pembelajaran Selanjutnya:
● Guru meminta peserta didik untuk mengidentifikasi satu isu di lingkungan sekolah
atau masyarakat yang ingin mereka advokasi atau coba pecahkan secara nyata.
● Memberikan "tantangan" kecil: "Cari tahu tentang satu gerakan sosial atau organisasi
yang berjuang untuk hak-hak tertentu di Indonesia dan ceritakan tentang
aktivitasnya." atau "Diskusikan dengan keluargamu tentang satu hak yang
menurutmu paling sering dilanggar di lingkungan sekitar dan bagaimana solusinya."
G. ASESMEN PEMBELAJARAN
A. ASESMEN AWAL PEMBELAJARAN (DIAGNOSTIK)
● Format: Diskusi Kelas dan Pre-Test Singkat (lisan atau tulis).
● Tujuan: Mengidentifikasi pengetahuan awal peserta didik tentang HAM,
kewajiban, dan isu-isu pelanggaran/pengingkaran di Indonesia.
● Pertanyaan/Tugas:
1. "Menurutmu, apa bedanya hak dan kewajiban?"
2. "Sebutkan 3 contoh hak yang seharusnya dimiliki semua warga negara."
3. "Berikan 1 contoh kasus di mana seseorang tidak memenuhi kewajibannya."
4. "Apa yang kamu ketahui tentang upaya penegakan HAM di Indonesia?"
B. ASESMEN PROSES PEMBELAJARAN (FORMATIF)
● Format: Observasi Partisipasi Kelompok, Lembar Kerja Analisis Kasus, dan
Peer Assessment (penilaian teman sejawat) saat diskusi/perancangan solusi.
● Tujuan: Memantau kemajuan peserta didik dalam menganalisis kasus,
merumuskan argumen, dan berkolaborasi dalam kelompok.
● Pertanyaan/Tugas:
○ Observasi Guru: Guru menggunakan ceklis untuk mengamati: keaktifan
dalam diskusi kelompok, kemampuan mengidentifikasi penyebab masalah,
kontribusi dalam merumuskan ide solusi, dan sikap kolaboratif.
○ Lembar Kerja Analisis Kasus: Kelompok diberi kasus pelanggaran
hak/pengingkaran kewajiban (misalnya, dari berita), lalu diminta:
"Identifikasi hak yang dilanggar/kewajiban yang diingkari.", "Sebutkan
minimal 2 penyebab masalah tersebut.", "Bagaimana kasus ini seharusnya
diselesaikan berdasarkan Pancasila?".
○ Peer Assessment (saat perancangan solusi): Setiap anggota kelompok
menilai kontribusi rekan kelompoknya dalam proses brainstorming dan
perumusan solusi (skala 1-5).
C. ASESMEN AKHIR PEMBELAJARAN (SUMATIF)
● Format: Penilaian Proyek (Rancangan Solusi dan Presentasi) dan Tes Tulis
(Analisis Studi Kasus Lanjutan & Esai Singkat).
● Tujuan: Mengukur pencapaian tujuan pembelajaran secara keseluruhan,
kemampuan peserta didik dalam berpikir kritis, merancang solusi, dan
berkomunikasi.
● Pertanyaan/Tugas:
○ Penilaian Proyek (Rancangan Solusi dan Presentasi Kelompok):
■ Tugas: Setiap kelompok menyerahkan proposal rancangan solusi
(misalnya, desain kampanye, skrip video edukasi, rencana program
kecil) untuk mengatasi pelanggaran hak atau pengingkaran kewajiban.
Kemudian, mereka mempresentasikan proposal tersebut di depan kelas
(durasi 7-10 menit).
■ Rubrik Penilaian Proyek:
1. Kualitas Analisis Masalah: Kedalaman pemahaman terhadap kasus
yang dipilih, identifikasi akar masalah (skala 1-4).
2. Kreativitas & Orisinalitas Solusi: Inovasi dan kelayakan ide solusi
(skala 1-4).
3. Relevansi dengan Pancasila: Keterkaitan solusi dengan nilai-nilai
Pancasila (skala 1-4).
4. Keterampilan Komunikasi & Presentasi: Kejelasan, kepercayaan diri,
argumentasi, visualisasi materi (skala 1-4).
5. Kolaborasi & Tanggung Jawab: Bukti kerja sama dan pembagian
peran dalam kelompok (skala 1-4).
○ Tes Tulis (Analisis Studi Kasus Lanjutan & Esai Singkat):
■ Tugas: Diberikan studi kasus yang lebih kompleks tentang pelanggaran
hak atau pengingkaran kewajiban di Indonesia (misalnya, terkait
lingkungan, kesehatan, atau hak digital). Peserta didik diminta untuk:
1. "Identifikasi hak dan kewajiban yang dilanggar/diingkari dalam kasus
ini, serta aktor-aktor yang terlibat."
2. "Menurut analisis Anda, apa penyebab utama kasus ini terjadi?"
"Sebagai generasi solutif, rumuskan 2-3 langkah konkret yang dapat Anda dan teman-teman
Anda lakukan untuk berkontribusi menyelesaikan masalah ini atau mencegahnya terjadi di
masa depan, berdasarkan nilai-nilai
Mengetahui, Kabir, 19 Juli 2025
Kepala Sekolah Guru Mata Pelajaran
IMANUEL E. LAKAFEL, [Link] MARIA Y OLANG, [Link]
NIP. 19780116 200604 1 003 NIP. 19890326 202521 2 038
MODUL AJAR DEEP LEARNING
MATA PELAJARAN : PENDIDIKAN PANCASILA
BAB: 5. PRAKTIK GOTONG ROYONG DALAM KEHIDUPAN MASYARAKAT
INDONESIA
A. IDENTITAS MODUL
Nama Sekolah : SMA Negeri 1 Pantar
Nama Penyusun : Maria Y Olang, [Link]
Mata Pelajaran : Pendidikan Pancasila
Fase / Kelas /Semester : F / XII / Genap
Alokasi Waktu : 4 Pertemuan (8 x 45 menit)
Tahun Pelajaran : 2025 / 2026
B. IDENTIFIKASI KESIAPAN PESERTA DIDIK
Murid kelas XII umumnya telah memiliki pemahaman dasar tentang nilai-nilai
Pancasila, termasuk gotong royong, yang telah dipelajari di jenjang sebelumnya. Mereka
juga mungkin memiliki pengalaman pribadi atau observasi tentang praktik gotong
royong di lingkungan keluarga, sekolah, atau masyarakat. Minat peserta didik akan
bervariasi; sebagian mungkin sangat antusias untuk berpartisipasi dalam kegiatan sosial,
sementara yang lain mungkin lebih cenderung pada aspek teoritis atau belum melihat
relevansi gotong royong di era modern. Latar belakang sosial-ekonomi dan lingkungan
tempat tinggal (pedesaan/perkotaan) juga dapat memengaruhi pengalaman mereka
dengan gotong royong. Kebutuhan belajar akan mencakup pendalaman makna filosofis
gotong royong, identifikasi bentuk-bentuk praktiknya, analisis tantangan dan peluang,
serta pengembangan sikap partisipatif dalam kehidupan bermasyarakat.
C. KARAKTERISTIK MATERI PELAJARAN
Materi "Praktik Gotong Royong dalam Kehidupan Masyarakat Indonesia" mencakup
jenis pengetahuan konseptual (filosofi gotong royong, nilai-nilai yang terkandung),
faktual (contoh-contoh praktik gotong royong), dan prosedural (langkah-langkah
partisipasi dalam gotong royong). Relevansinya dengan kehidupan nyata sangat tinggi
karena gotong royong merupakan salah satu pilar kehidupan bermasyarakat Indonesia
dan esensi dari sila ketiga Pancasila. Kemampuan bergotong royong sangat penting
untuk membangun kohesi sosial, menyelesaikan masalah bersama, dan mencapai tujuan
kolektif. Tingkat kesulitan materi ini moderat, karena membutuhkan kemampuan
menganalisis konsep, mengaitkannya dengan realitas sosial, dan merefleksikan peran
diri. Struktur materi akan disusun dari pemahaman konsep, eksplorasi bentuk-bentuk
gotong royong, analisis tantangan, hingga perancangan aksi partisipasi. Integrasi nilai
dan karakter akan ditekankan pada kebersamaan, persatuan, rela berkorban, tolong-
menolong, musyawarah, kepedulian sosial, tanggung jawab, dan kemandirian.
D. DIMENSI PROFIL LULUSAN PEMBELAJARAN
Dalam pembelajaran Bab 5 ini, dimensi profil lulusan yang akan dicapai adalah:
● Kewargaan: murid mampu menghargai dan mempraktikkan nilai gotong royong
sebagai identitas bangsa Indonesia.
● Penalaran Kritis: murid mampu menganalisis tantangan dan peluang penerapan gotong
royong di era modern.
● Kolaborasi: murid mampu bekerja sama secara efektif dalam kegiatan yang
membutuhkan gotong royong.
● Kemandirian: murid memiliki inisiatif untuk berpartisipasi dan berkontribusi dalam
kegiatan gotong royong.
● Komunikasi: murid mampu mengkomunikasikan ide-ide dan pengalaman terkait gotong
royong dengan jelas dan persuasif.
DESAIN PEMBELAJARAN
A. CAPAIAN PEMBELAJARAN (CP) (Nomor : 042 Tahun 2025)
Pada fase ini, Murid Mempraktikkan dan membiasakan berperilaku sesuai sila-sila
Pancasila di lingkungan satuan pendidikan, rumah dan masyarakat (toleransi, tolong
menolong, bersatu, musyawarah, menyatakan pendapat, empati, dan lainnya).
Mengenal lambang negara Garuda Pancasila dan hari lahir Pancasila. Mempraktikkan
dan membiasakan menerima pemenuhan hak, melaksanakan kewajiban serta perilaku
sesuai aturan di lingkungan alam dan sosial sekitar sebagai warga negara.
Membiasakan menjaga diri dari perundungan dan kekerasan seksual sebagai hak
warga satuan pendidikan, rumah, masyarakat, dan negara. Mengidentifikasi dan
menghargai keberagaman suku, agama dan kepercayaan, di lingkungan, satuan
pendidikan, rumah dan masyarakat. Mengenal semboyan Bhinneka Tunggal Ika;
Menyanyikan Lagu Kebangsaan Indonesia Raya dan lagu wajib nasional.
Membiasakan berperilaku hormat kepada bendera merah putih. Membiasakan
berbahasa Indonesia di lingkungan satuan pendidikan, rumah, dan masyarakat.
Mempraktikkan sikap dan perilaku gotong royong, menjaga lingkungan satuan
pendidikan, rumah, dan masyarakat untuk keutuhan wilayah Negara Kesatuan
Republik Indonesia. Menunjukkan sikap cinta tanah air di wilayahnya dalam konteks
kabupaten/kota dan provinsi. Mengenal hari kemerdekaan Republik Indonesia, pulau-
pulau besar di Indonesia, dan proklamator.
Capaian Pembelajaran setiap elemen mata pelajaran Pendidikan Pancasila adalah
sebagai berikut.
Elemen Capaian Pembelajaran
Pancasila Murid mampu mempraktikkan dan membiasakan berperilaku
sesuai sila-sila Pancasila di lingkungan satuan pendidikan,
rumah dan masyarakat (toleransi, tolong menolong, bersatu,
musyawarah, menyatakan pendapat, empati, dan lainnya).
Mengenal lambang negara Garuda Pancasila dan hari lahir
Pancasila.
Undang-Undang Murid mampu mempraktikkan dan membiasakan menerima
Dasar Negara pemenuhan hak, melaksanakan kewajiban serta perilaku sesuai
Republik Indonesia aturan di lingkungan alam dan sosial sekitar sebagai warga
Tahun 1945 negara. Membiasakan menjaga diri dari perundungan dan
kekerasan seksual sebagai hak warga satuan pendidikan, rumah,
masyarakat, dan negara.
Bhinneka Tunggal Murid mampu mempraktikkan dan menghargai keberagaman
Ika suku, agama dan kepercayaan, di lingkungan, satuan
pendidikan, rumah dan masyarakat. Mengenal semboyan
Bhinneka Tunggal Ika
Negara Kesatuan Murid mampu mempraktikkan Lagu Kebangsaan Indonesia
Republik Indonesia Raya dan lagu wajib nasional. Membiasakan berperilaku hormat
kepada bendera merah putih. Membiasakan berbahasa Indonesia
di lingkungan satuan pendidikan, rumah, dan masyarakat.
Mempraktikkan sikap dan perilaku gotong royong, menjaga
lingkungan satuan pendidikan, rumah, dan masyarakat untuk
keutuhan wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Menunjukkan sikap cinta tanah air di wilayahnya dalam konteks
kabupaten/kota dan provinsi. Mengenal hari kemerdekaan
Republik Indonesia, pulau-pulau besar di Indonesia, dan
proklamator
B. LINTAS DISIPLIN ILMU
● Sosiologi/Antropologi: Mengkaji gotong royong sebagai fenomena sosial dan
budaya, serta peranannya dalam struktur masyarakat.
● Sejarah: Memahami akar sejarah gotong royong dalam masyarakat adat dan
perjuangan bangsa Indonesia.
● Ekonomi: Menganalisis manfaat gotong royong dalam pembangunan ekonomi lokal
dan kemandirian masyarakat.
● Bahasa Indonesia: Keterampilan berkomunikasi efektif dalam diskusi dan
menyusun laporan kegiatan gotong royong.
C. TUJUAN PEMBELAJARAN
Pertemuan 1: Memahami Esensi dan Nilai Gotong Royong
● Murid dapat menjelaskan pengertian dan ciri-ciri gotong royong menurut pandangan
para ahli dan nilai-nilai Pancasila.
● Murid dapat mengidentifikasi nilai-nilai luhur yang terkandung dalam praktik gotong
royong (misalnya, kebersamaan, persatuan, tolong-menolong, rela berkorban).
● Murid dapat menunjukkan apresiasi terhadap gotong royong sebagai jati diri bangsa
Indonesia melalui diskusi aktif.
Pertemuan 2: Mengeksplorasi Bentuk-Bentuk dan Tantangan Gotong Royong
● Murid dapat mengklasifikasikan berbagai bentuk praktik gotong royong yang ada di
lingkungan sekolah, masyarakat, dan berbagai daerah di Indonesia.
● Murid dapat menganalisis faktor-faktor yang menjadi tantangan dalam melestarikan
dan mengembangkan gotong royong di era modern.
● Murid dapat membedakan antara gotong royong yang otentik dengan praktik yang
menyerupai tetapi berlandaskan motivasi lain.
Pertemuan 3: Merancang Proyek Partisipasi Gotong Royong
● Murid dapat mengidentifikasi masalah atau kebutuhan di lingkungan sekitar
(sekolah/masyarakat) yang dapat diselesaikan dengan semangat gotong royong.
● Murid dapat merancang sebuah proyek sederhana berbasis gotong royong untuk
mengatasi masalah atau memenuhi kebutuhan tersebut.
● Murid dapat menyusun rencana aksi proyek (tujuan, langkah-langkah, pembagian
peran, sumber daya) dengan kolaboratif.
Pertemuan 4: Melaksanakan dan Merefleksikan Proyek Gotong Royong
● Murid dapat melaksanakan proyek gotong royong yang telah direncanakan dengan
penuh tanggung jawab dan kerja sama.
● Murid dapat merefleksikan pengalaman bergotong royong, mengidentifikasi
keberhasilan, tantangan, dan pembelajaran yang diperoleh.
● Peserta didik dapat menyajikan laporan atau portofolio proyek gotong royong dengan
jelas dan persuasif.
D. TOPIK PEMBELAJARAN KONTEKSTUAL
● Gotong Royong dalam Tradisi Lokal: Mengkaji praktik gotong royong di berbagai
suku di Indonesia (misalnya, subak di Bali, mapalus di Minahasa, manunggal di
Jawa, sasi di Maluku).
● Gotong Royong di Era Digital: Bagaimana semangat gotong royong dapat
diwujudkan melalui platform daring atau kampanye sosial digital.
● Gotong Royong dalam Penanganan Bencana: Peran gotong royong masyarakat
dalam menghadapi bencana alam dan membantu korban.
● Gotong Royong di Lingkungan Sekolah: Inisiatif siswa dalam menjaga kebersihan,
membantu teman, atau mengelola kegiatan ekstrakurikuler.
E. KERANGKA PEMBELAJARAN
PRAKTIK PEDAGOGIK:
● Model Pembelajaran: Project-Based Learning (melalui proyek gotong royong),
Problem-Based Learning (mengidentifikasi dan menyelesaikan masalah bersama),
Discovery Learning (menemukan esensi gotong royong).
● Strategi Pembelajaran: Kolaboratif (diskusi kelompok, kerja sama proyek), Inkuiri
(mencari informasi), Reflektif (evaluasi diri dan kelompok).
● Metode Pembelajaran: Diskusi kelompok, Studi Kasus, Brainstorming, Kunjungan
Lapangan (jika memungkinkan), Simulasi, Presentasi, Penulisan Jurnal Refleksi.
KEMITRAAN PEMBELAJARAN:
● Lingkungan Sekolah: Bekerja sama dengan OSIS/MPK, guru lain (misalnya guru
BK untuk proyek sosial), atau staf sekolah untuk proyek gotong royong di lingkungan
sekolah.
● Lingkungan Luar Sekolah: Berkolaborasi dengan RT/RW setempat, karang taruna,
lembaga swadaya masyarakat (LSM), atau tokoh masyarakat untuk proyek gotong
royong di luar sekolah. Mengundang narasumber dari komunitas lokal yang aktif
dalam gotong royong.
● Masyarakat: Mengamati atau berpartisipasi dalam kegiatan gotong royong di
lingkungan tempat tinggal (misalnya kerja bakti, penggalangan dana, kegiatan sosial).
LINGKUNGAN BELAJAR:
● Ruang Fisik: Kelas yang dapat diatur untuk diskusi kelompok dan presentasi. Area
yang relevan di sekolah atau masyarakat untuk pelaksanaan proyek gotong royong.
● Ruang Virtual: Google Classroom untuk berbagi materi (artikel, video, contoh
proyek), mengunggah laporan, dan forum diskusi daring. Platform kolaborasi daring
(misalnya Google Docs/Slides) untuk perencanaan proyek.
● Budaya Belajar: Budaya saling menghargai, kepedulian sosial, inisiatif, bertanggung
jawab, mampu bekerja sama, dan semangat untuk berkontribusi positif bagi
lingkungan.
PEMANFAATAN DIGITAL:
● Perpustakaan Digital/Internet: Mencari informasi tentang bentuk-bentuk gotong
royong di berbagai daerah, berita atau studi kasus tentang gotong royong.
● YouTube/Platform Video: Menonton video dokumenter tentang praktik gotong
royong atau kampanye sosial yang relevan.
● Google Docs/Slides/Forms: Untuk perencanaan proyek, penyusunan laporan, atau
survei kebutuhan masyarakat.
● Media Sosial: Jika relevan, digunakan untuk kampanye kesadaran atau dokumentasi
proyek (dengan pengawasan guru).
● Aplikasi Perekam Video/Foto: Untuk mendokumentasikan proses dan hasil proyek
gotong royong.
F. LANGKAH-LANGKAH PEMBELAJARAN BERDIFERENSIASI
KEGIATAN PENDAHULUAN (MINDFUL LEARNING, JOYFUL LEARNING)
Pembukaan (5 menit):
● Guru menyapa peserta didik dengan antusias.
● Guru memimpin doa bersama.
● Guru mengecek kehadiran dan kesiapan belajar peserta didik.
Apersepsi & Motivasi (10 menit):
● Joyful Learning: Guru menampilkan foto atau video singkat (1-2 menit) yang
menunjukkan praktik gotong royong yang inspiratif di berbagai daerah Indonesia
(misalnya, membangun rumah, membersihkan lingkungan, membantu korban
bencana). Guru bisa bertanya: "Apa yang kalian rasakan saat melihat gambar/video
ini?"
● Mindful Learning: Guru meminta siswa untuk berbagi satu pengalaman pribadi
mereka (atau yang mereka saksikan) tentang membantu orang lain atau bekerja sama
dalam kelompok. Guru bisa bertanya: "Bagaimana perasaan kalian setelah melakukan
itu?"
● Guru mengaitkan pengalaman tersebut dengan nilai gotong royong sebagai karakter
bangsa.
Pengaitan Materi & Tujuan (5 menit):
● Guru mengaitkan gotong royong dengan nilai-nilai Pancasila yang telah dipelajari.
● Guru menyampaikan tujuan pembelajaran, menekankan bahwa mereka akan tidak
hanya memahami gotong royong tetapi juga mempraktikkannya.
KEGIATAN INTI (MEANINGFUL LEARNING, MINDFUL LEARNING)
PERTEMUAN 1:
MEMAHAMI ESENSI DAN NILAI GOTONG ROYONG
Diskusi Konsep Gotong Royong (20 menit):
● Guru memandu diskusi tentang pengertian gotong royong dari berbagai sudut
pandang (KBBI, pandangan ahli, nilai Pancasila).
● Meaningful Learning: Guru mengajukan pertanyaan: "Apa bedanya gotong royong
dengan kerja bakti biasa?" "Mengapa gotong royong menjadi ciri khas bangsa
Indonesia?"
● Berdiferensiasi Konten: Guru dapat menyediakan definisi gotong royong dari
berbagai sumber (teks, infografis) untuk dibaca siswa.
Identifikasi Nilai-Nilai (25 menit):
● Peserta didik dalam kelompok menganalisis studi kasus singkat (teks atau video)
tentang praktik gotong royong.
● Penalaran Kritis: Mereka mengidentifikasi nilai-nilai luhur (misalnya, kebersamaan,
persatuan, tolong-menolong) yang terkandung dalam studi kasus tersebut dan
mencatatkannya.
● Kolaborasi: Guru berkeliling memberikan bimbingan dan umpan balik pada setiap
kelompok.
Presentasi dan Penguatan (20 menit):
● Setiap kelompok mempresentasikan hasil analisis nilai-nilai yang ditemukan.
● Guru menguatkan pemahaman tentang esensi dan nilai gotong royong sebagai pilar
kehidupan bermasyarakat.
PERTEMUAN 2:
MENGEKSPLORASI BENTUK-BENTUK DAN TANTANGAN GOTONG
ROYONG
Eksplorasi Bentuk Gotong Royong (25 menit):
● Guru memberikan tugas kepada setiap kelompok untuk mencari informasi tentang
bentuk-bentuk gotong royong yang ada di daerah mereka masing-masing atau di
berbagai daerah di Indonesia.
● Berdiferensiasi Proses: Siswa dapat mencari informasi melalui wawancara singkat
dengan orang tua/tokoh masyarakat, searching internet, atau membaca buku.
● Joyful Learning: Mendorong siswa untuk berbagi kisah-kisah unik dari daerah
mereka.
Analisis Tantangan (25 menit):
● Guru memandu diskusi tentang tantangan yang dihadapi gotong royong di era
modern (misalnya, individualisme, kesibukan, teknologi, kurangnya komunikasi
langsung).
● Penalaran Kritis: Peserta didik menganalisis bagaimana tantangan tersebut
memengaruhi praktik gotong royong.
● Meaningful Learning: Mengaitkan tantangan dengan realitas kehidupan mereka.
Curah Pendapat Solusi (15 menit):
● Peserta didik secara berkelompok mencurahkan ide-ide solusi untuk mengatasi
tantangan dan melestarikan gotong royong.
PERTEMUAN 3:
MERANCANG PROYEK PARTISIPASI GOTONG ROYONG
Identifikasi Masalah & Kebutuhan (20 menit):
● Mindful Learning: Guru meminta siswa untuk merenungkan dan mengidentifikasi
masalah atau kebutuhan di lingkungan sekolah atau masyarakat sekitar yang dapat
diselesaikan dengan semangat gotong royong (misalnya, kebersihan kelas/kantin,
taman sekolah, penggalangan buku bekas untuk perpustakaan, membantu masyarakat
yang membutuhkan).
● Berdiferensiasi Konten: Guru dapat memberikan daftar masalah umum yang dapat
diidentifikasi sebagai referensi.
Perancangan Proyek (40 menit):
● Peserta didik dalam kelompok merancang sebuah proyek gotong royong sederhana.
Proyek harus memiliki:
Tujuan yang jelas.
Target partisipan.
Langkah-langkah pelaksanaan.
Pembagian peran anggota kelompok.
Estimasi sumber daya (waktu, alat, bahan).
● Kolaborasi: Setiap anggota kelompok harus memiliki peran yang jelas.
● Meaningful Learning: Merancang proyek yang memiliki dampak nyata.
● Berdiferensiasi Produk: Rencana proyek dapat disajikan dalam bentuk proposal
mini, presentasi singkat, atau poster.
Presentasi Rencana Proyek (10 menit):
● Setiap kelompok mempresentasikan rencana proyek mereka untuk mendapatkan
masukan dari guru dan kelompok lain.
PERTEMUAN 4:
MELAKSANAKAN DAN MEREFLEKSIKAN PROYEK GOTONG ROYONG
Pelaksanaan Proyek (60 menit) - Bisa dilanjutkan di luar jam pelajaran:
● Murid melaksanakan proyek gotong royong yang telah direncanakan di lingkungan
sekolah atau area yang disepakati (dengan pengawasan guru jika di luar jam
pelajaran).
● Kemandirian & Kolaborasi: Melatih siswa untuk mengambil inisiatif dan bekerja
sama secara mandiri.
● Joyful Learning: Ciptakan suasana kerja yang positif dan menyenangkan.
Refleksi Pasca Proyek (20 menit):
● Setelah proyek selesai, peserta didik secara individu menulis jurnal refleksi tentang
pengalaman mereka bergotong royong. Pertanyaan panduan: "Apa yang berhasil
dalam proyek ini?", "Apa tantangan yang dihadapi?", "Bagaimana cara
mengatasinya?", "Apa yang saya pelajari tentang diri sendiri dan gotong royong?",
"Bagaimana perasaan saya setelah bergotong royong?"
● Mindful Learning: Menggali hikmah dari pengalaman nyata.
Presentasi Hasil dan Laporan (15 menit):
● Setiap kelompok menyajikan laporan atau portofolio proyek (foto, video singkat,
narasi pengalaman) di depan kelas.
● Komunikasi: Melatih kemampuan presentasi dan pertanggungjawaban.
KEGIATAN PENUTUP (MEANINGFUL LEARNING, MINDFUL LEARNING,
JOYFUL LEARNING)
Refleksi & Kesimpulan (10 menit):
● Guru meminta peserta didik untuk berbagi satu kata kunci yang menggambarkan
pembelajaran mereka tentang gotong royong.
● Meaningful Learning: Guru dan peserta didik bersama-sama menyimpulkan
pentingnya gotong royong sebagai fondasi persatuan bangsa dan kekuatan dalam
menghadapi tantangan.
Umpan Balik Konstruktif dari Guru (5 menit):
● Guru memberikan apresiasi atas partisipasi, inisiatif, dan kerja keras peserta didik
dalam proyek gotong royong.
● Guru menekankan bahwa gotong royong bukan hanya materi pelajaran, tetapi gaya
hidup.
Perencanaan Pembelajaran Selanjutnya (5 menit):
● Guru menginformasikan tentang materi untuk bab selanjutnya.
● Guru dapat memberikan tantangan kepada siswa untuk terus mencari peluang
bergotong royong di kehidupan sehari-hari.
Doa dan Penutup (5 menit):
● Guru memimpin doa penutup.
● Guru menutup pembelajaran dengan salam.
G. ASESMEN PEMBELAJARAN
A. ASESMEN AWAL PEMBELAJARAN (DIAGNOSTIK)
● Format: Pertanyaan Lisan Singkat atau Peta Konsep Awal.
● Tujuan: Mengidentifikasi pengetahuan awal peserta didik tentang gotong
royong dan pengalaman mereka.
● Pertanyaan/Tugas:
○ "Menurut kalian, apa itu gotong royong?"
○ "Berikan contoh gotong royong yang pernah kalian lihat atau ikuti!"
○ "Mengapa gotong royong itu penting bagi bangsa Indonesia?"
B. ASESMEN PROSES PEMBELAJARAN (FORMATIF)
● Format: Observasi Partisipasi Diskusi Kelompok, Penilaian Rencana Proyek,
Observasi Kinerja (saat pelaksanaan proyek).
● Tujuan: Memantau pemahaman peserta didik tentang konsep gotong royong,
kemampuan merancang proyek, dan kerja sama dalam pelaksanaan.
● Pertanyaan/Tugas:
○ Observasi: Pengamatan keaktifan dalam diskusi, kemampuan memberikan
ide, dan sikap kolaboratif saat merancang proyek.
○ Penilaian Rencana Proyek: Guru menilai kelengkapan, kejelasan, dan
kelayakan rencana proyek yang dibuat kelompok.
○ Observasi Kinerja: Guru mengamati partisipasi aktif, tanggung jawab, dan
kerja sama setiap anggota kelompok selama pelaksanaan proyek.
C. ASESMEN AKHIR PEMBELAJARAN (SUMATIF)
● Format: Penilaian Proyek (Laporan/Portofolio Proyek Gotong Royong),
Penilaian Jurnal Refleksi Individu.
● Tujuan: Mengukur pencapaian tujuan pembelajaran secara keseluruhan,
termasuk kemampuan merencanakan, melaksanakan, dan merefleksikan gotong
royong.
● Pertanyaan/Tugas:
○ Penilaian Proyek (Laporan/Portofolio Proyek Gotong Royong):
■ Tugas: "Sajikan laporan atau portofolio proyek gotong royong
kelompok Anda. Laporan harus mencakup: a) Latar Belakang dan
Tujuan Proyek, b) Rencana Pelaksanaan, c) Dokumentasi Kegiatan
(foto/video), d) Hasil yang Dicapai, e) Refleksi Kelompok (tantangan,
solusi, pembelajaran), f) Saran Tindak Lanjut."
■ Rubrik Penilaian Proyek:
■ Aspek: Relevansi Proyek dengan Masalah, Ketepatan Perencanaan,
Kualitas Pelaksanaan, Kelengkapan Dokumentasi, Kedalaman
Refleksi, Kebersamaan/Kolaborasi.
■ Skala: Sangat Baik, Baik, Cukup, Kurang.
○ Penilaian Jurnal Refleksi Individu:
■ Tugas: "Buatlah jurnal refleksi pribadi tentang pengalaman Anda dalam
proyek gotong royong. Jelaskan apa yang Anda rasakan, apa yang Anda
pelajari, dan bagaimana Anda akan menerapkan nilai gotong royong
dalam kehidupan sehari-hari."
■ Rubrik Penilaian Jurnal Refleksi:
■ Aspek: Kedalaman Refleksi (pemikiran mendalam), Kejujuran,
Keterkaitan dengan Nilai Gotong Royong, Kejelasan Penulisan.
Mengetahui, Kabir, 05 Januari 2026
Kepala Sekolah Guru Mata Pelajaran
IMANUEL E. LAKAFEL, [Link] MARIA Y. OLANG, [Link]
NIP. 19780116 200604 1 003 NIP. 19890326 202521 2 038
MODUL AJAR DEEP LEARNING
MATA PELAJARAN : PENDIDIKAN PANCASILA
BAB: 6 (MENELUSUR LEMBAGA NEGARA)
A. IDENTITAS MODUL
Nama Sekolah : SMA Negeri 1 Pantar
Nama Penyusun : Maria Y Olang, [Link]
Mata Pelajaran : Pendidikan Pancasila
Fase / Kelas /Semester : F / XII / Genap
Alokasi Waktu : 8 x 45 menit (4 pertemuan)
Tahun Pelajaran : 2025 / 2026
B. IDENTIFIKASI KESIAPAN PESERTA DIDIK
● Pengetahuan Awal: Murid diharapkan telah memiliki pemahaman dasar tentang
sistem pemerintahan Indonesia, UUD NRI Tahun 1945, serta pembagian kekuasaan
(eksekutif, legislatif, yudikatif) yang mungkin telah dipelajari di jenjang sebelumnya
(misalnya, Bab 3 Kelas X tentang Kekuasaan Negara). Mereka juga kemungkinan
sudah mengenal beberapa lembaga negara seperti Presiden, DPR, atau Mahkamah
Agung dari berita atau media massa.
● Minat: Minat murid mungkin bervariasi. Beberapa mungkin tertarik pada isu-isu
politik dan kenegaraan, sementara yang lain mungkin merasa materi ini kering.
Penting untuk mengaitkan fungsi lembaga negara dengan dampaknya pada kehidupan
sehari-hari mereka.
● Latar Belakang: Latar belakang pengetahuan murid tentang lembaga negara akan
berbeda-beda, tergantung pada paparan informasi dan minat pribadi mereka. Ada
yang mungkin aktif mengikuti perkembangan politik, ada pula yang kurang.
● Kebutuhan Belajar: Beberapa murid mungkin membutuhkan penjelasan lebih detail
tentang struktur dan kewenangan setiap lembaga, sementara yang lain lebih tertarik
pada analisis kasus atau studi perbandingan. Ada yang lebih suka belajar melalui
diskusi, ada yang melalui presentasi, dan ada yang melalui proyek penelitian.
C. KARAKTERISTIK MATERI PELAJARAN
● Jenis Pengetahuan: Materi ini mencakup pengetahuan konseptual (konsep lembaga
negara, sistem ketatanegaraan Indonesia, hierarki peraturan perundang-undangan),
pengetahuan prosedural (bagaimana lembaga negara bekerja, alur pengambilan
keputusan), dan pengetahuan afektif (penghayatan nilai-nilai demokrasi, supremasi
hukum, dan partisipasi warga negara).
● Relevansi dengan Kehidupan Nyata: Memahami lembaga negara sangat relevan
karena setiap keputusan dan kebijakan yang diambil oleh lembaga-lembaga ini
berdampak langsung pada kehidupan peserta didik sebagai warga negara (misalnya,
undang-undang, anggaran pendidikan, layanan publik). Pemahaman ini juga esensial
untuk partisipasi warga negara yang cerdas dan bertanggung jawab.
● Tingkat Kesulitan: Tingkat kesulitan materi ini moderat. Memahami struktur dan
kewenangan yang kompleks antarlembaga, serta menganalisis fungsi masing-masing,
bisa menjadi tantangan. Namun, dengan pendekatan yang kontekstual, dapat dibuat
lebih mudah dicerna.
● Struktur Materi: Materi ini distrukturkan berdasarkan cabang-cabang kekuasaan
negara (legislatif, eksekutif, yudikatif) dan lembaga-lembaga independen lainnya.
Akan dijelaskan fungsi, tugas, dan wewenang masing-masing lembaga serta
hubungannya satu sama lain.
● Integrasi Nilai dan Karakter: Materi ini mengintegrasikan nilai-nilai Pancasila
seperti demokrasi, kedaulatan rakyat, keadilan sosial, persamaan di muka hukum,
tanggung jawab, integritas, dan partisipasi aktif sebagai warga negara.
D DIMENSI LULUSAN PEMBELAJARAN
Berdasarkan tujuan pembelajaran, dimensi profil lulusan yang akan dicapai adalah:
● Kewargaan: Murid mampu memahami peran dan fungsi lembaga negara sebagai
wujud kedaulatan rakyat dan landasan partisipasi warga negara yang bertanggung
jawab.
● Penalaran Kritis: Murid mampu menganalisis tugas, fungsi, dan kewenangan
lembaga negara, serta mengevaluasi kinerja dan dampaknya terhadap kehidupan
masyarakat.
● Kolaborasi: Murid mampu bekerja sama dalam kelompok untuk mengumpulkan
informasi, menganalisis, dan mempresentasikan hasil kajian tentang lembaga negara.
● Komunikasi: Murid mampu menyampaikan informasi dan gagasan tentang lembaga
negara secara jelas dan persuasif.
● Kemandirian: Murid memiliki inisiatif untuk mencari informasi dan memperdalam
pemahaman tentang lembaga negara secara mandiri.
DESAIN PEMBELAJARAN
A. CAPAIAN PEMBELAJARAN (CP) (Nomor : 042 Tahun 2025)
Pada fase ini, Murid Mempraktikkan dan membiasakan berperilaku sesuai sila-sila
Pancasila di lingkungan satuan pendidikan, rumah dan masyarakat (toleransi, tolong
menolong, bersatu, musyawarah, menyatakan pendapat, empati, dan lainnya).
Mengenal lambang negara Garuda Pancasila dan hari lahir Pancasila. Mempraktikkan
dan membiasakan menerima pemenuhan hak, melaksanakan kewajiban serta perilaku
sesuai aturan di lingkungan alam dan sosial sekitar sebagai warga negara.
Membiasakan menjaga diri dari perundungan dan kekerasan seksual sebagai hak
warga satuan pendidikan, rumah, masyarakat, dan negara. Mengidentifikasi dan
menghargai keberagaman suku, agama dan kepercayaan, di lingkungan, satuan
pendidikan, rumah dan masyarakat. Mengenal semboyan Bhinneka Tunggal Ika;
Menyanyikan Lagu Kebangsaan Indonesia Raya dan lagu wajib nasional.
Membiasakan berperilaku hormat kepada bendera merah putih. Membiasakan
berbahasa Indonesia di lingkungan satuan pendidikan, rumah, dan masyarakat.
Mempraktikkan sikap dan perilaku gotong royong, menjaga lingkungan satuan
pendidikan, rumah, dan masyarakat untuk keutuhan wilayah Negara Kesatuan
Republik Indonesia. Menunjukkan sikap cinta tanah air di wilayahnya dalam konteks
kabupaten/kota dan provinsi. Mengenal hari kemerdekaan Republik Indonesia, pulau-
pulau besar di Indonesia, dan proklamator.
Capaian Pembelajaran setiap elemen mata pelajaran Pendidikan Pancasila adalah
sebagai berikut.
Elemen Capaian Pembelajaran
Pancasila Murid mampu mempraktikkan dan membiasakan berperilaku
sesuai sila-sila Pancasila di lingkungan satuan pendidikan,
rumah dan masyarakat (toleransi, tolong menolong, bersatu,
musyawarah, menyatakan pendapat, empati, dan lainnya).
Mengenal lambang negara Garuda Pancasila dan hari lahir
Pancasila.
Undang-Undang Murid mampu mempraktikkan dan membiasakan menerima
Dasar Negara pemenuhan hak, melaksanakan kewajiban serta perilaku sesuai
Republik Indonesia aturan di lingkungan alam dan sosial sekitar sebagai warga
Tahun 1945 negara. Membiasakan menjaga diri dari perundungan dan
kekerasan seksual sebagai hak warga satuan pendidikan, rumah,
masyarakat, dan negara.
Bhinneka Tunggal Murid mampu mempraktikkan dan menghargai keberagaman
Ika suku, agama dan kepercayaan, di lingkungan, satuan
pendidikan, rumah dan masyarakat. Mengenal semboyan
Bhinneka Tunggal Ika
Negara Kesatuan Murid mampu mempraktikkan Lagu Kebangsaan Indonesia
Republik Indonesia Raya dan lagu wajib nasional. Membiasakan berperilaku hormat
kepada bendera merah putih. Membiasakan berbahasa Indonesia
di lingkungan satuan pendidikan, rumah, dan masyarakat.
Mempraktikkan sikap dan perilaku gotong royong, menjaga
lingkungan satuan pendidikan, rumah, dan masyarakat untuk
keutuhan wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Menunjukkan sikap cinta tanah air di wilayahnya dalam konteks
kabupaten/kota dan provinsi. Mengenal hari kemerdekaan
Republik Indonesia, pulau-pulau besar di Indonesia, dan
proklamator
B. LINTAS DISIPLIN ILMU
● Sejarah: Perkembangan sistem ketatanegaraan Indonesia, sejarah pembentukan
lembaga-lembaga negara.
● Sosiologi: Hubungan antara lembaga negara dan masyarakat, partisipasi politik, dan
isu-isu sosial yang diatur oleh kebijakan negara.
● Ekonomi: Pengelolaan anggaran negara, peran lembaga negara dalam perekonomian.
● Bahasa Indonesia: Kemampuan menelaah teks undang-undang/peraturan, menulis
laporan, dan menyampaikan presentasi.
● Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK): Pemanfaatan internet untuk mencari
informasi, presentasi digital, dan simulasi e-government.
C. TUJUAN PEMBELAJARAN
Pertemuan 1 (2 x 45 menit): Memahami Konsep dan Klasifikasi Lembaga Negara
● Murid dapat menganalisis konsep lembaga negara dan sistem pembagian kekuasaan
di Indonesia berdasarkan UUD NRI Tahun 1945 dengan benar.
● Murid dapat mengidentifikasi lembaga-lembaga negara yang termasuk dalam
kekuasaan legislatif, eksekutif, yudikatif, dan lembaga independen lainnya dengan
tepat.
● Murid dapat membedakan tugas dan wewenang umum masing-masing cabang
kekuasaan.
Pertemuan 2 (2 x 45 menit): Menelusuri Lembaga Legislatif dan Eksekutif
● Murid dapat menganalisis tugas, fungsi, dan wewenang MPR, DPR, dan DPD
berdasarkan UUD NRI Tahun 1945 dengan kritis.
● Murid dapat menganalisis tugas, fungsi, dan wewenang Presiden dan Wakil Presiden
sebagai pemegang kekuasaan eksekutif dengan kritis.
● Murid dapat mengidentifikasi hubungan dan mekanisme kerja antarlembaga legislatif
dan eksekutif (misalnya, dalam pembentukan undang-undang dan pengawasan).
Pertemuan 3 (2 x 45 menit): Menelusuri Lembaga Yudikatif dan Lembaga
Independen Lainnya
● Murid dapat menganalisis tugas, fungsi, dan wewenang Mahkamah Agung (MA),
Mahkamah Konstitusi (MK), dan Komisi Yudisial (KY) dengan kritis.
● Murid dapat menganalisis tugas, fungsi, dan wewenang lembaga negara independen
lainnya (misalnya, BPK, KPU, Komnas HAM) dengan kritis.
● Murid dapat mengidentifikasi peran lembaga yudikatif dan independen dalam
menjaga checks and balances serta penegakan hukum di Indonesia.
Pertemuan 4 (2 x 45 menit): Proyek Analisis Lembaga Negara dan Partisipasi
Warga Negara
● Murid dapat memilih salah satu lembaga negara dan menganalisis peran serta
dampaknya terhadap kehidupan bermasyarakat dengan kritis.
● Murid dapat merumuskan bentuk-bentuk partisipasi warga negara dalam mendukung
fungsi lembaga negara yang efektif dan bertanggung jawab.
● Murid dapat mempresentasikan hasil analisis dan rumusan partisipasi warga negara
dengan percaya diri dan komunikatif.
D. TOPIK PEMBELAJARAN KONTEKSTUAL
● Studi Kasus: Proses pembentukan undang-undang yang sedang hangat dibicarakan
di media massa, atau kasus-kasus hukum yang melibatkan lembaga yudikatif.
● Simulasi: Simulasi sidang DPR mini atau rapat kabinet sederhana untuk memahami
alur kerja lembaga.
● Kunjungan Virtual/Actual: Mengunjungi situs web resmi lembaga negara, atau jika
memungkinkan, kunjungan fisik ke gedung pemerintahan lokal (misalnya, DPRD
kota/kabupaten).
● Peran Pemuda: Bagaimana pemuda dapat berkontribusi dalam mengawasi kinerja
lembaga negara dan berpartisipasi dalam pengambilan kebijakan.
E. KERANGKA PEMBELAJARAN
PRAKTIK PEDAGOGIK:
● Model Pembelajaran: Problem-Based Learning (PBL) atau Inquiry-Based Learning
yang diintegrasikan dengan pendekatan Deep Learning.
● Strategi: Diferensiasi konten (menyediakan berbagai sumber informasi), proses
(memberikan pilihan metode riset dan diskusi), dan produk (memberikan kebebasan
dalam format presentasi hasil). Strategi Think-Pair-Share dan diskusi kelompok.
● Metode: Diskusi panel, studi kasus, riset kelompok, presentasi, debat ringan,
wawancara sederhana (virtual/simulasi).
KEMITRAAN PEMBELAJARAN:
● Lingkungan Sekolah: Guru Pendidikan Pancasila sebagai fasilitator, guru mata
pelajaran lain (misalnya, Guru Sejarah, Guru Sosiologi, Guru Bahasa Indonesia)
untuk kolaborasi lintas disiplin, perpustakaan sekolah.
● Lingkungan Luar Sekolah: Mengundang praktisi hukum/politik/anggota legislatif
lokal sebagai narasumber (via daring/luring). Mengajak peserta didik untuk
mengamati berita dan informasi dari media massa terpercaya.
● Masyarakat: Mendorong murid untuk melihat relevansi lembaga negara dengan isu-
isu yang ada di komunitas mereka (misalnya, kebijakan RT/RW, kelurahan).
LINGKUNGAN BELAJAR:
● Ruang Fisik: Ruang kelas yang diatur untuk diskusi kelompok dan presentasi.
Dinding kelas dapat digunakan untuk memajang peta konsep lembaga negara atau
hasil riset awal.
● Ruang Virtual: Pemanfaatan Google Classroom/LMS sekolah untuk berbagi materi
(artikel berita, tautan website resmi lembaga negara, video edukasi), forum diskusi
daring, dan pengumpulan tugas. Pemanfaatan platform presentasi digital (misalnya,
Google Slides, Canva).
● Budaya Belajar: Mendorong budaya berpikir kritis, bertanya, berargumentasi secara
logis, menghargai perbedaan pandangan, dan partisipasi aktif dalam diskusi.
Menciptakan suasana yang aman untuk menyampaikan opini.
PEMANFAATAN DIGITAL:
● Perpustakaan Digital: Mengakses e-book atau jurnal tentang sistem ketatanegaraan
Indonesia.
● Website Resmi Lembaga Negara: Mengunjungi situs web DPR, Presiden, MA,
MK, BPK, KPU, dll., untuk mencari informasi terkini tentang tugas, fungsi, dan
produk hukum mereka.
● Forum Diskusi Daring: Melalui Google Classroom atau platform lain untuk
berdiskusi tentang studi kasus atau isu-isu terkini terkait lembaga negara.
● Video Dokumenter/Berita: Menonton video tentang proses kerja lembaga negara
atau wawancara dengan pejabat negara.
● Google Forms/Mentimeter: Untuk survei singkat tentang pemahaman awal atau
pengumpulan ide-ide partisipasi.
F. LANGKAH-LANGKAH PEMBELAJARAN BERDIFERENSIASI
PERTEMUAN 1:
MEMAHAMI KONSEP DAN KLASIFIKASI LEMBAGA NEGARA
KEGIATAN PENDAHULUAN (MINDFUL LEARNING, JOYFUL LEARNING) -
(15 MENIT)
● Pembukaan: Guru menyapa murid dengan hangat, memulai dengan salam Pancasila.
Mengajak peserta didik melakukan mindful check-in: "Bagaimana perasaan kalian
hari ini? Apa yang paling kalian harapkan dari pembelajaran tentang negara ini?"
● Apersepsi (Meaningful Learning): Guru menampilkan gambar gedung-gedung
lembaga negara (Istana Negara, Gedung DPR, Mahkamah Agung) atau kliping berita
tentang kebijakan pemerintah. Guru bertanya: "Siapa yang bekerja di gedung-gedung
ini? Mengapa mereka penting bagi kita?"
● Motivasi (Joyful Learning): Menayangkan video singkat atau infografis animasi
tentang "Negara Kita: Siapa Melakukan Apa?" yang menunjukkan gambaran umum
fungsi lembaga negara.
● Tujuan Pembelajaran: Guru menyampaikan tujuan pembelajaran hari ini dengan
jelas dan mengaitkannya dengan peran peserta didik sebagai warga negara di masa
depan.
● Asesmen Diagnostik Singkat: Guru bisa meminta murid menuliskan 3-5 nama
lembaga negara yang mereka ketahui dan tugas utamanya di sticky notes/aplikasi
digital.
KEGIATAN INTI (MEMAHAMI, MENGAPLIKASI, MEREFLEKSI) - (65
MENIT)
Stimulasi & Identifikasi Masalah (Memahami - Diferensiasi Konten):
● Guru membagi peserta didik ke dalam kelompok kecil (4-5 orang). Setiap kelompok
diberikan "kartu peran" yang berisi nama salah satu lembaga negara (misalnya, DPR,
Presiden, MA, BPK).
● Guru meminta setiap kelompok untuk mendiskusikan: "Apa yang kalian ketahui
tentang lembaga ini? Apa tugas utamanya?"
● Guru menyediakan sumber referensi (buku teks, ringkasan UUD NRI 1945 Pasal-
Pasal terkait, infografis pembagian kekuasaan) bagi kelompok yang membutuhkan.
Pengumpulan Data (Mengaplikasi - Diferensiasi Proses):
● Guru menjelaskan konsep pembagian kekuasaan (legislatif, eksekutif, yudikatif) dan
lembaga independen.
● Peserta didik dalam kelompok mencari informasi lebih lanjut tentang lembaga yang
ada di kartu peran mereka, fokus pada dasar hukum, tugas, dan wewenang. Mereka
dapat menggunakan buku teks atau mencari di internet.
● Guru berkeliling, membimbing, dan memberikan klarifikasi. Mendorong peserta
didik untuk mengaitkan informasi dengan kehidupan sehari-hari.
Pengolahan Data & Pembuktian (Merefleksi - Diferensiasi Produk):
● Setiap kelompok membuat "peta konsep" sederhana atau "tabel perbandingan" yang
mengklasifikasikan lembaga-lembaga negara berdasarkan cabang kekuasaan dan
tugas umum mereka.
● Setiap kelompok mempresentasikan hasil klasifikasi dan pemahaman awal mereka
tentang lembaga yang ditugaskan. Guru memfasilitasi diskusi dan umpan balik antar
kelompok.
KEGIATAN PENUTUP (UMPAN BALIK, MENYIMPULKAN,
PERENCANAAN) - (10 MENIT)
● Umpan Balik Konstruktif (Meaningful Learning): Guru memberikan umpan balik
umum tentang pemahaman konsep dan partisipasi murid. Menekankan bahwa setiap
lembaga memiliki peran vital dalam menjalankan roda pemerintahan.
● Menyimpulkan Pembelajaran: Murid secara bergiliran menyebutkan satu hal baru
yang mereka pelajari tentang lembaga negara hari ini.
● Perencanaan Pembelajaran Selanjutnya: Guru menyampaikan bahwa pertemuan
berikutnya akan fokus pada menelusuri lebih dalam lembaga legislatif dan eksekutif.
murid diminta untuk merenungkan, "Bagaimana undang-undang dibuat dan
bagaimana presiden menjalankan tugasnya?"
PERTEMUAN 2:
MENELUSURI LEMBAGA LEGISLATIF DAN EKSEKUTIF
KEGIATAN PENDAHULUAN (MINDFUL LEARNING, JOYFUL LEARNING) -
(15 MENIT)
● Pembukaan: Guru menyapa, membangun suasana antusias.
● Apersepsi (Meaningful Learning): Mengajak murid mengingat kembali berita atau
kebijakan yang sedang dibahas di DPR atau yang dikeluarkan oleh Presiden. "Siapa
yang memutuskan kebijakan ini? Bagaimana mereka bekerja?"
● Motivasi (Joyful Learning): Menayangkan video singkat tentang sidang paripurna
DPR atau pidato kenegaraan Presiden.
● Tujuan Pembelajaran: Menyampaikan tujuan pembelajaran hari ini.
KEGIATAN INTI (MEMAHAMI, MENGAPLIKASI, MEREFLEKSI) - (65
MENIT)
Stimulasi & Identifikasi Masalah (Memahami - Diferensiasi Konten):
● Guru menampilkan studi kasus sederhana tentang sebuah rancangan undang-undang
(RUU) atau kebijakan pemerintah.
● Guru membagi murid ke dalam kelompok (misalnya, Kelompok DPR, Kelompok
DPD, Kelompok Presiden). Setiap kelompok menganalisis RUU/kebijakan dari
perspektif lembaga yang mereka perankan.
● Guru menyediakan sumber (Pasal-pasal UUD terkait MPR, DPR, DPD, Presiden;
infografis alur legislasi).
Pengumpulan Data (Mengaplikasi - Diferensiasi Proses):
● Murid dalam kelompok melakukan riset mendalam tentang tugas, fungsi, dan
wewenang lembaga legislatif (MPR, DPR, DPD) dan eksekutif (Presiden dan Wakil
Presiden).
● Mereka juga mempelajari hubungan dan mekanisme kerja antara legislatif dan
eksekutif (misalnya, proses pembentukan UU, persetujuan anggaran).
● Guru memfasilitasi dengan sesi tanya jawab interaktif dan memberikan contoh-
contoh nyata.
● Diferensiasi: Guru dapat memberikan materi tambahan (artikel analisis politik) bagi
yang ingin mendalami. Bagi yang kesulitan, guru membimbing dengan pertanyaan-
pertanyaan terarah.
Pengolahan Data & Pembuktian (Merefleksi - Diferensiasi Produk):
● Setiap kelompok menyajikan hasil riset mereka dalam bentuk presentasi singkat (bisa
power point, infografis digital, atau poster).
● Guru dapat memfasilitasi "simulasi mini" tentang proses pembentukan undang-
undang, di mana kelompok-kelompok berinteraksi sesuai peran masing-masing.
● Murid diminta untuk menulis "Catatan Kritis" tentang satu kebijakan yang
dikeluarkan oleh Presiden/DPR dan dampaknya bagi mereka.
KEGIATAN PENUTUP (UMPAN BALIK, MENYIMPULKAN,
PERENCANAAN) - (10 MENIT)
● Umpan Balik Konstruktif (Meaningful Learning): Guru mengapresiasi analisis
kritis dan pemahaman peserta didik tentang peran legislatif dan eksekutif.
Menekankan pentingnya pengawasan publik.
● Menyimpulkan Pembelajaran: Peserta didik menyebutkan satu interaksi penting
antara lembaga legislatif dan eksekutif yang mereka pelajari.
● Perencanaan Pembelajaran Selanjutnya: Guru menyampaikan bahwa pertemuan
berikutnya akan membahas lembaga yudikatif dan lembaga independen lainnya.
Peserta didik diminta untuk merenungkan, "Siapa yang mengawasi kekuasaan
negara?"
PERTEMUAN 3:
MENELUSURI LEMBAGA YUDIKATIF DAN LEMBAGA INDEPENDEN
LAINNYA
KEGIATAN PENDAHULUAN (MINDFUL LEARNING, JOYFUL LEARNING) -
(15 MENIT)
● Pembukaan: Guru menyapa, memulai dengan ice breaking ringan yang mengasah
fokus.
● Apersepsi (Meaningful Learning): Menampilkan berita atau kasus hukum yang
sedang ramai. Guru bertanya: "Siapa yang memutuskan kasus ini? Mengapa keadilan
itu penting?"
● Motivasi (Joyful Learning): Memutarkan video singkat tentang gedung Mahkamah
Konstitusi atau proses sidang yang inspiratif (misalnya, kasus penting).
● Tujuan Pembelajaran: Menyampaikan tujuan pembelajaran hari ini.
KEGIATAN INTI (MEMAHAMI, MENGAPLIKASI, MEREFLEKSI) - (65
MENIT)
Stimulasi & Identifikasi Masalah (Memahami - Diferensiasi Konten):
● Guru memberikan beberapa skenario (studi kasus) yang melibatkan masalah hukum
atau pelanggaran HAM.
● Guru membagi peserta didik ke dalam kelompok. Setiap kelompok diberikan tugas
untuk mengidentifikasi lembaga yudikatif (MA, MK, KY) atau lembaga independen
(BPK, KPU, Komnas HAM) yang relevan dengan skenario tersebut dan merumuskan
peran lembaga dalam menyelesaikan masalah.
● Guru menyediakan sumber (Pasal-pasal UUD terkait MA, MK, KY; informasi
tentang BPK, KPU, Komnas HAM).
Pengumpulan Data (Mengaplikasi - Diferensiasi Proses):
● Setiap kelompok melakukan riset tentang tugas, fungsi, dan wewenang lembaga
yudikatif dan lembaga independen lainnya.
● Mereka juga menganalisis bagaimana lembaga-lembaga ini menjaga prinsip checks
and balances dan penegakan hukum.
● Guru memberikan bimbingan, menjelaskan konsep-konsep hukum yang kompleks
dengan bahasa yang mudah dipahami.
● Diferensiasi: Bagi peserta didik yang tertarik hukum, dapat diberi tantangan untuk
mencari contoh putusan penting dari MA/MK. Bagi yang lain, dapat fokus pada
peran lembaga dalam kehidupan sehari-hari.
Pengolahan Data & Pembuktian (Merefleksi - Diferensiasi Produk):
● Setiap kelompok mempresentasikan hasil analisis mereka tentang peran lembaga
yudikatif atau independen dalam skenario yang diberikan.
● Guru dapat memfasilitasi "debat ringan" tentang pentingnya independensi lembaga
peradilan.
● Murid diminta untuk membuat "Infografis Mini" yang merangkum peran satu
lembaga yang paling menarik bagi mereka.
KEGIATAN PENUTUP (UMPAN BALIK, MENYIMPULKAN,
PERENCANAAN) - (10 MENIT)
● Umpan Balik Konstruktif (Meaningful Learning): Guru mengapresiasi analisis
mendalam murid tentang peran lembaga yudikatif dan independen. Menekankan
pentingnya supremasi hukum.
● Menyimpulkan Pembelajaran: Murid menyebutkan satu fungsi lembaga
yudikatif/independen yang paling penting bagi keadilan.
● Perencanaan Pembelajaran Selanjutnya: Guru menyampaikan bahwa pertemuan
terakhir akan fokus pada proyek analisis lembaga negara dan bagaimana warga
negara dapat berpartisipasi.
PERTEMUAN 4:
PROYEK ANALISIS LEMBAGA NEGARA DAN PARTISIPASI WARGA
NEGARA
KEGIATAN PENDAHULUAN (MINDFUL LEARNING, JOYFUL LEARNING) -
(15 MENIT)
● Pembukaan: Guru menyapa, membangun semangat untuk "membuat dampak."
● Apersepsi (Meaningful Learning): Guru bertanya: "Setelah kita menelusuri semua
lembaga negara, apa yang bisa kita lakukan sebagai warga negara untuk memastikan
mereka bekerja dengan baik? Bagaimana kita bisa berkontribusi?"
● Motivasi (Joyful Learning): Menayangkan video tentang kampanye partisipasi
pemuda dalam politik atau gerakan sosial yang berdampak.
● Tujuan Pembelajaran: Menyampaikan tujuan pembelajaran hari ini.
KEGIATAN INTI (MEMAHAMI, MENGAPLIKASI, MEREFLEKSI) - (65
MENIT)
Stimulasi & Identifikasi Masalah (Memahami - Diferensiasi Konten):
● Guru menampilkan beberapa isu atau masalah aktual di masyarakat yang berkaitan
dengan kinerja lembaga negara (misalnya, lambatnya pelayanan publik, korupsi,
implementasi kebijakan yang kurang optimal).
● Guru memandu diskusi tentang bagaimana warga negara dapat berperan dalam
mengatasi masalah ini.
Pengumpulan Data (Mengaplikasi - Diferensiasi Proses):
● Proyek Individu/Kelompok: Setiap murid (atau kelompok kecil) memilih satu
lembaga negara yang paling menarik minat mereka. Mereka melakukan riset
mendalam tentang:
Fungsi dan peran utama lembaga tersebut.
Contoh kinerja positif dan tantangan yang dihadapi.
Bagaimana lembaga tersebut berdampak pada kehidupan masyarakat.
Bentuk partisipasi warga negara yang bisa dilakukan untuk mendukung fungsi
lembaga tersebut.
● Diferensiasi: Guru dapat memberikan pilihan format proyek (misalnya, esai analitis,
presentasi digital, video dokumenter mini, infografis interaktif). Bagi yang kesulitan
riset, guru dapat menyediakan daftar sumber terpercaya.
Pengolahan Data & Pembuktian (Merefleksi - Diferensiasi Produk):
● Murid mempresentasikan hasil proyek analisis mereka. Presentasi harus mencakup
analisis lembaga dan ide partisipasi warga negara yang konkret.
● Sesi tanya jawab dan diskusi akan diikuti setelah setiap presentasi. Guru mendorong
peer feedback yang konstruktif.
● Murid diminta untuk membuat "Rencana Aksi Pribadi" singkat tentang satu bentuk
partisipasi warga negara yang akan mereka mulai lakukan (misalnya, lebih aktif
mencari informasi, menyuarakan pendapat secara konstruktif, mengikuti kegiatan
sosial).
KEGIATAN PENUTUP (UMPAN BALIK, MENYIMPULKAN,
PERENCANAAN) - (10 MENIT)
● Umpan Balik Konstruktif (Meaningful Learning): Guru memberikan apresiasi
atas analisis yang mendalam dan ide-ide partisipasi yang dihasilkan. Menekankan
bahwa setiap warga negara, termasuk pemuda, memiliki kekuatan untuk
berkontribusi pada kemajuan bangsa.
● Menyimpulkan Pembelajaran: Murid secara sukarela mengungkapkan "satu
tindakan kecil yang akan saya lakukan untuk menjadi warga negara yang lebih baik
setelah mempelajari bab ini."
● Perencanaan Pembelajaran Selanjutnya: Guru memberikan motivasi untuk terus
belajar, kritis, dan berpartisipasi aktif dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Guru juga memperkenalkan topik bab selanjutnya.
G. ASESMEN PEMBELAJARAN
A. ASESMEN AWAL PEMBELAJARAN (DIAGNOSTIK)
○ Format: Pertanyaan lisan, kuesioner singkat.
○ Pertanyaan/Tugas:
■ "Sebutkan 3 lembaga negara yang Anda ketahui dan apa tugas utamanya?"
(Lisan)
■ "Apa peran Presiden Republik Indonesia menurut Anda?" (Lisan)
■ "Menurut Anda, mengapa penting bagi warga negara untuk mengetahui
tentang lembaga negara?" (Kuesioner singkat)
■ Tujuan: Memetakan pengetahuan awal peserta didik tentang lembaga
negara, tingkat pemahaman mereka tentang fungsi pemerintahan, dan minat
mereka terhadap isu-isu kenegaraan.
B. ASESMEN PROSES PEMBELAJARAN (FORMATIF)
○ Format: Observasi, jurnal refleksi, lembar kerja kelompok, presentasi mini.
○ Pertanyaan/Tugas:
■ Observasi (selama diskusi dan presentasi kelompok):
■ "Bagaimana murid berpartisipasi aktif dalam diskusi kelompok?"
■ "Apakah murid menunjukkan kemampuan berpikir kritis saat
menganalisis fungsi lembaga?"
■ "Apakah murid dapat bekerja sama secara efektif dengan anggota
kelompoknya?"
■ "Apakah murid menyampaikan idenya dengan jelas dan menghargai
pendapat orang lain?"
■ Jurnal Refleksi (setiap akhir pertemuan):
■ "Apa konsep lembaga negara yang paling menantang untuk saya pahami
hari ini dan mengapa?"
■ "Bagaimana pemahaman saya tentang peran saya sebagai warga negara
berubah setelah mempelajari lembaga ini?"
■ "Satu hal yang akan saya cari tahu lebih lanjut tentang lembaga negara."
■ Lembar Kerja Kelompok (misalnya, Peta Konsep/Tabel Perbandingan
Lembaga):
■ "Apakah klasifikasi lembaga sudah tepat dan lengkap?"
■ "Apakah tugas dan wewenang yang dicantumkan akurat?"
■ Presentasi Mini (Analisis Studi Kasus):
■ "Seberapa baik kelompok mengidentifikasi lembaga yang relevan
dengan skenario?"
■ "Apakah solusi yang ditawarkan logis dan berdasarkan fungsi
lembaga?"
■ Tujuan: Memantau pemahaman konsep, kemampuan analisis, keterampilan
kolaborasi dan komunikasi, serta sikap kritis peserta didik selama proses
pembelajaran, serta memberikan umpan balik berkelanjutan.
C. ASESMEN AKHIR PEMBELAJARAN (SUMATIF)
○ Format: Penilaian proyek (analisis lembaga negara dan partisipasi), tes tulis
(esai/uraian).
○ Pertanyaan/Tugas:
■ Penilaian Proyek (Analisis Lembaga Negara dan Partisipasi Warga
Negara):
■ Tugas: "Pilih salah satu lembaga negara (selain yang menjadi fokus
utama di kelompok Anda sebelumnya). Lakukan analisis mendalam
tentang: (a) Dasar hukum, tugas, dan wewenang lembaga tersebut; (b)
Contoh kasus atau kebijakan terbaru yang ditangani lembaga tersebut
dan dampaknya bagi masyarakat; (c) Rumuskan minimal 3 bentuk
partisipasi konkret yang dapat dilakukan warga negara (khususnya
siswa) untuk mendukung kinerja lembaga tersebut agar lebih efektif dan
akuntabel. Sajikan dalam format yang kreatif (presentasi digital,
infografis, video singkat, atau esai)."
■ Rubrik Penilaian: Kedalaman analisis, kelengkapan informasi,
kemampuan mengaitkan konsep dengan isu nyata, kreativitas presentasi,
dan relevansi ide partisipasi.
■ Tes Tulis (Esai/Uraian):
■ "Jelaskan konsep checks and balances dalam sistem pemerintahan
Indonesia dan berikan contoh konkret bagaimana lembaga legislatif dan
yudikatif saling mengawasi."
■ "Mengapa partisipasi warga negara sangat penting dalam menjamin
akurasi dan akuntabilitas kinerja lembaga negara? Berikan contoh
bentuk partisipasi yang paling efektif menurut Anda."
■ "Bayangkan Anda adalah seorang anggota DPR. Kebijakan penting apa
yang akan Anda perjuangkan demi kemajuan bangsa dan bagaimana
Anda akan melaksanakannya sesuai dengan tugas dan wewenang DPR?"
■ Tujuan: Mengukur pencapaian kompetensi peserta didik secara menyeluruh
(pengetahuan, keterampilan analisis, dan sikap partisipatif) setelah
menyelesaikan Bab 6, serta kesiapan mereka untuk menjadi warga negara
yang cerdas dan bertanggung jawab.
Mengetahui, Kabir, 05 Januari 2026
Kepala Sekolah Guru Mata Pelajaran
IMANUEL E. LAKAFEL, [Link] MARIA Y. OLANG, [Link]
NIP. 19780116 200604 1 003 NIP. 19890326 202521 2 038
MODUL AJAR DEEP LEARNING
MATA PELAJARAN : PENDIDIKAN PANCASILA
BAB: 7 MENJADI PELOPOR PEMILIH PEMULA DALAM DEMOKRASI
INDONESIA
A. IDENTITAS MODUL
Nama Sekolah : SMA Negeri 1 Pantar
Nama Penyusun : Maria Y Olang, [Link]
Mata Pelajaran : Pendidikan Pancasila
Fase / Kelas /Semester : F / XII / Genap
Alokasi Waktu : 4 x 45 menit (2 Pertemuan)
Tahun Pelajaran : 2025 / 2026
B. IDENTIFIKASI KESIAPAN PESERTA DIDIK
Murid kelas XII berada pada transisi menuju dewasa dan sebagian besar akan menjadi
pemilih pemula dalam pemilihan umum berikutnya. Mereka mungkin memiliki
pengetahuan awal tentang demokrasi dan Pemilu dari media massa atau obrolan
keluarga, namun seringkali pemahaman mereka belum mendalam tentang hak dan
kewajiban sebagai warga negara, serta urgensi partisipasi dalam demokrasi. Minat
mereka bisa bervariasi, dari yang sudah memiliki kesadaran politik hingga yang apatis.
Latar belakang sosial-ekonomi dan lingkungan informasi yang mereka akses juga
memengaruhi pandangan mereka terhadap politik. Kebutuhan belajar yang teridentifikasi
adalah memberikan pemahaman yang komprehensif, kritis, dan aplikatif tentang peran
pemilih pemula, serta menumbuhkan rasa tanggung jawab dan keberanian untuk menjadi
pelopor dalam demokrasi.
C. KARAKTERISTIK MATERI PELAJARAN
Materi "Menjadi Pelopor Pemilih Pemula dalam Demokrasi Indonesia" ini mencakup
jenis pengetahuan konseptual (tentang demokrasi, Pemilu, hak dan kewajiban warga
negara), prosedural (tahapan Pemilu, cara menggunakan hak pilih), dan sangat kuat
dalam aspek pembentukan sikap (partisipasi aktif, kritis, bertanggung jawab, anti-hoaks).
Relevansi dengan kehidupan nyata peserta didik sangat tinggi karena mereka akan segera
terlibat langsung dalam proses demokrasi. Tingkat kesulitan materi ini bersifat moderat
secara konsep, namun menantang dalam aspek pembentukan kesadaran kritis dan sikap
partisipatif yang bertanggung jawab. Struktur materi akan diawali dengan pemahaman
konsep demokrasi dan pemilu, kemudian peran pemilih pemula, hingga strategi menjadi
pelopor. Integrasi nilai dan karakter ditekankan pada nilai-nilai Pancasila, tanggung
jawab, kritis, kolaborasi, dan nasionalisme.
D DIMENSI LULUSAN PEMBELAJARAN
Dalam pembelajaran ini, dimensi profil lulusan yang akan dicapai adalah:
● Kewargaan: Murid mampu memahami dan menginternalisasi hak dan kewajiban
sebagai warga negara yang baik, serta berperan aktif dan bertanggung jawab sebagai
pemilih pemula dalam demokrasi Indonesia.
● Penalaran Kritis: Murid mampu menganalisis informasi terkait Pemilu dan isu-isu
politik dengan kritis, mengidentifikasi hoaks, dan membuat keputusan yang rasional
berdasarkan informasi yang valid.
● Kreativitas: Murid mampu mengembangkan ide-ide inovatif untuk
mengampanyekan pentingnya partisipasi pemilih pemula secara positif dan
konstruktif.
● Kolaborasi: Murid mampu bekerja sama dalam kelompok untuk menyusun proyek-
proyek edukasi bagi pemilih pemula lainnya.
● Komunikasi: Murid mampu menyampaikan gagasan, informasi, dan ajakan untuk
berpartisipasi dalam demokrasi secara efektif dan persuasif, baik lisan maupun
tulisan.
DESAIN PEMBELAJARAN
A. CAPAIAN PEMBELAJARAN (CP) (Nomor : 042 Tahun 2025)
Pada fase ini, Murid Mempraktikkan dan membiasakan berperilaku sesuai sila-sila
Pancasila di lingkungan satuan pendidikan, rumah dan masyarakat (toleransi, tolong
menolong, bersatu, musyawarah, menyatakan pendapat, empati, dan lainnya).
Mengenal lambang negara Garuda Pancasila dan hari lahir Pancasila. Mempraktikkan
dan membiasakan menerima pemenuhan hak, melaksanakan kewajiban serta perilaku
sesuai aturan di lingkungan alam dan sosial sekitar sebagai warga negara.
Membiasakan menjaga diri dari perundungan dan kekerasan seksual sebagai hak
warga satuan pendidikan, rumah, masyarakat, dan negara. Mengidentifikasi dan
menghargai keberagaman suku, agama dan kepercayaan, di lingkungan, satuan
pendidikan, rumah dan masyarakat. Mengenal semboyan Bhinneka Tunggal Ika;
Menyanyikan Lagu Kebangsaan Indonesia Raya dan lagu wajib nasional.
Membiasakan berperilaku hormat kepada bendera merah putih. Membiasakan
berbahasa Indonesia di lingkungan satuan pendidikan, rumah, dan masyarakat.
Mempraktikkan sikap dan perilaku gotong royong, menjaga lingkungan satuan
pendidikan, rumah, dan masyarakat untuk keutuhan wilayah Negara Kesatuan
Republik Indonesia. Menunjukkan sikap cinta tanah air di wilayahnya dalam konteks
kabupaten/kota dan provinsi. Mengenal hari kemerdekaan Republik Indonesia, pulau-
pulau besar di Indonesia, dan proklamator.
Capaian Pembelajaran setiap elemen mata pelajaran Pendidikan Pancasila adalah
sebagai berikut.
Elemen Capaian Pembelajaran
Pancasila Murid mampu mempraktikkan dan membiasakan berperilaku
sesuai sila-sila Pancasila di lingkungan satuan pendidikan,
rumah dan masyarakat (toleransi, tolong menolong, bersatu,
musyawarah, menyatakan pendapat, empati, dan lainnya).
Mengenal lambang negara Garuda Pancasila dan hari lahir
Pancasila.
Undang-Undang Murid mampu mempraktikkan dan membiasakan menerima
Dasar Negara pemenuhan hak, melaksanakan kewajiban serta perilaku sesuai
Republik Indonesia aturan di lingkungan alam dan sosial sekitar sebagai warga
Tahun 1945 negara. Membiasakan menjaga diri dari perundungan dan
kekerasan seksual sebagai hak warga satuan pendidikan, rumah,
masyarakat, dan negara.
Bhinneka Tunggal Murid mampu mempraktikkan dan menghargai keberagaman
Ika suku, agama dan kepercayaan, di lingkungan, satuan
pendidikan, rumah dan masyarakat. Mengenal semboyan
Bhinneka Tunggal Ika
Negara Kesatuan Murid mampu mempraktikkan Lagu Kebangsaan Indonesia
Republik Indonesia Raya dan lagu wajib nasional. Membiasakan berperilaku hormat
kepada bendera merah putih. Membiasakan berbahasa Indonesia
di lingkungan satuan pendidikan, rumah, dan masyarakat.
Mempraktikkan sikap dan perilaku gotong royong, menjaga
lingkungan satuan pendidikan, rumah, dan masyarakat untuk
keutuhan wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Menunjukkan sikap cinta tanah air di wilayahnya dalam konteks
kabupaten/kota dan provinsi. Mengenal hari kemerdekaan
Republik Indonesia, pulau-pulau besar di Indonesia, dan
proklamator
B. LINTAS DISIPLIN ILMU
● Sejarah Indonesia: Memahami sejarah demokrasi di Indonesia, peran pemuda dalam
perubahan sosial-politik.
● Sosiologi: Analisis partisipasi politik masyarakat, pengaruh kelompok sosial terhadap
pilihan politik.
● Ekonomi: Dampak kebijakan politik terhadap perekonomian, peran pemerintah
dalam kesejahteraan rakyat.
● Bahasa Indonesia: Kemampuan menelaah teks informasi politik, menyusun
argumen, dan membuat konten edukasi yang efektif.
● Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK): Pemanfaatan media digital untuk
kampanye edukasi dan mencari informasi yang akurat.
C. TUJUAN PEMBELAJARAN
Pertemuan 1 (2 x 45 menit): Memahami Peran Pemilih Pemula dalam Demokrasi
● Menjelaskan konsep demokrasi, pemilihan umum, serta hak dan kewajiban warga
negara sebagai pemilih pemula dengan tepat, melalui studi literatur dan diskusi
interaktif, sehingga memiliki pemahaman dasar yang kuat.
● Menganalisis urgensi dan dampak partisipasi aktif pemilih pemula dalam
menentukan arah kebijakan publik dengan kritis, melalui studi kasus simulasi
pemilihan dan identifikasi isu-isu lokal, sehingga menumbuhkan kesadaran akan
tanggung jawab.
● Mengidentifikasi potensi tantangan dan hoaks yang dihadapi pemilih pemula serta
cara mengatasinya dengan bijak, melalui analisis contoh berita dan diskusi
kelompok, sehingga mampu mengembangkan penalaran kritis.
Pertemuan 2 (2 x 45 menit): Menjadi Pelopor Pemilih Pemula
● Merumuskan strategi kampanye edukasi yang kreatif dan persuasif untuk mengajak
pemilih pemula lainnya berpartisipasi dalam Pemilu dengan inovatif, melalui
brainstorming dan perancangan proyek, sehingga mampu berpikir di luar kebiasaan.
● Mendesain produk media kampanye (misal: infografis, poster digital, video singkat)
yang menarik dan informatif untuk pemilih pemula dengan kolaboratif, melalui kerja
kelompok dan pemanfaatan alat digital, sehingga menunjukkan keterampilan praktis.
● Menyajikan ide kampanye dan produk media kepada publik mini (kelas/sekolah)
dengan percaya diri dan efektif, sehingga mampu mengomunikasikan gagasan
secara persuasif dan menjadi agen perubahan.
D. TOPIK PEMBELAJARAN KONTEKSTUAL
● Pentingnya satu suara bagi masa depan bangsa.
● Bagaimana membedakan informasi Pemilu yang benar dari hoaks/misinformasi.
● Peran generasi muda dalam mengawal demokrasi.
● Studi kasus Pemilu di tingkat lokal (Pemilihan Kepala Daerah, Pemilihan Ketua
OSIS) sebagai gambaran proses demokrasi.
● Debat kandidat dan pentingnya memahami visi-misi calon.
E. KERANGKA PEMBELAJARAN
1. PRAKTIK PEDAGOGIK:
● Model Pembelajaran: Problem-Based Learning (PBL) dan Project-Based Learning
(PjBL).
● Strategi Pembelajaran: Diskusi panel, studi kasus, simulasi, proyek kolaboratif, dan
presentasi.
● Metode Pembelajaran: Brainstorming, think-pair-share, debat ringan, role-play
(simulasi mencoblos), dan peer teaching.
● Pendekatan Deep Learning:
● Mindful Learning: Mengajak murid untuk merenungkan tanggung jawab mereka
sebagai warga negara, menyadari dampak pilihan politik, dan mengenali bias
informasi yang mungkin mereka miliki.
● Meaningful Learning: Menghubungkan teori demokrasi dengan pengalaman nyata
Pemilu, isu-isu terkini, dan peran langsung mereka sebagai calon pemilih. Membahas
studi kasus yang relevan dengan kehidupan remaja.
● Joyful Learning: Menciptakan suasana belajar yang interaktif, penuh energi, dan
menginspirasi. Menggunakan permainan peran, kuis interaktif, dan proyek kreatif
yang menantang sekaligus menyenangkan.
2. KEMITRAAN PEMBELAJARAN:
● Lingkungan Sekolah: OSIS (khususnya seksi kesiswaan atau debat), guru mata
pelajaran lain (Sejarah, Bahasa Indonesia, TIK) untuk integrasi materi dan dukungan
proyek.
● Lingkungan Luar Sekolah: Komisi Pemilihan Umum (KPU) setempat atau Badan
Pengawas Pemilu (Bawaslu) sebagai narasumber tamu (jika memungkinkan) atau
sumber informasi resmi; Organisasi kepemudaan/mahasiswa yang peduli demokrasi;
Orang tua untuk diskusi di rumah tentang pengalaman Pemilu.
● Masyarakat: Mengajak murid untuk mengamati (secara daring atau dari berita)
dinamika Pemilu di masyarakat sekitar, termasuk kampanye dan isu-isu yang
berkembang.
3. LINGKUNGAN BELAJAR:
● Ruang Fisik: Kelas yang fleksibel untuk diskusi kelompok dan presentasi,
dilengkapi proyektor, papan tulis interaktif (jika ada), dan area untuk simulasi TPS
mini.
● Ruang Virtual: Pemanfaatan Google Classroom sebagai hub utama untuk berbagi
materi, tautan berita, penugasan, forum diskusi, dan pengumpulan proyek.
● Budaya Belajar: Mendorong budaya kritis, partisipatif, toleransi terhadap perbedaan
pendapat, menghargai fakta, dan berani menyuarakan kebenaran. Menciptakan ruang
aman untuk ekspresi diri dan bertanya.
4. PEMANFAATAN DIGITAL:
● Google Classroom: Sebagai platform manajemen pembelajaran, untuk berbagi
materi ajar, artikel berita, tautan video, penugasan, dan pengumpulan proyek.
● YouTube/Video Edukasi: Menayangkan video simulasi Pemilu, liputan berita
tentang partisipasi pemilih pemula, atau video kampanye yang inspiratif dari Pemilu
sebelumnya.
● Mentimeter/Google Forms: Untuk polling pendapat awal, quick check pemahaman,
atau pengumpulan data survei sederhana tentang isu Pemilu.
● Kahoot/Quizizz: Untuk kuis interaktif yang menguji pemahaman konsep-konsep
demokrasi dan Pemilu.
● Aplikasi Desain Grafis (Canva, Piktochart): Untuk proyek pembuatan infografis
atau poster digital.
● Aplikasi Edit Video Sederhana (CapCut, InShot): Untuk proyek pembuatan video
kampanye singkat.
● Media Sosial (opsional, dengan pengawasan): Untuk membagikan hasil proyek
kampanye edukasi kepada audiens yang lebih luas.
F. LANGKAH-LANGKAH PEMBELAJARAN BERDIFERENSIASI
PERTEMUAN 1:
MEMAHAMI PERAN PEMILIH PEMULA DALAM DEMOKRASI
KEGIATAN PENDAHULUAN (15 MENIT)
Pembelajaran Berkesadaran (Mindful Learning):
● Guru memulai dengan sapaan dan ice breaking "Jika Saya Jadi..." (misal: "Jika saya
jadi Presiden/Gubernur/Walikota, hal pertama yang akan saya lakukan adalah...").
Minta beberapa murid untuk berbagi secara singkat, lalu kaitkan dengan pentingnya
pemimpin dan pilihan rakyat.
● Guru mengajak murid untuk merenungkan: "Apa yang membuat saya merasa peduli
atau tidak peduli dengan kondisi negara ini?" Minta mereka menuliskan satu
kata/frasa di sticky note tanpa nama.
Pembelajaran Bermakna (Meaningful Learning):
● Guru mengumpulkan sticky note dan membaca beberapa di antaranya. Kaitkan
dengan pentingnya peran warga negara, terutama pemilih pemula, dalam demokrasi.
● Guru menyampaikan tujuan pembelajaran yang akan dicapai pada pertemuan ini.
Pembelajaran Menggembirakan (Joyful Learning):
● Guru memutarkan video klip singkat (1-2 menit) tentang suasana Pemilu yang meriah
atau campaign Pemilu yang inspiratif.
● Guru mengajukan pertanyaan "Apa yang kamu rasakan atau pikirkan saat melihat
video ini?" dan meminta peserta didik berbagi kesan singkat.
KEGIATAN INTI (60 MENIT)
Memahami (Understanding) - Diferensiasi Konten:
● Guru menyajikan materi tentang pengertian demokrasi (secara umum dan di
Indonesia), prinsip-prinsip Pemilu Luber Jurdil, serta hak dan kewajiban warga
negara sebagai pemilih (menggunakan presentasi visual, infografis, atau handout
ringkas). (Diferensiasi: Guru dapat menyediakan tautan ke video animasi explain
tentang demokrasi atau artikel ilmiah singkat untuk peserta didik yang ingin
mendalami).
● Guru membagi peserta didik ke dalam kelompok. Setiap kelompok diberikan topik
berbeda: "Hak Pemilih," "Kewajiban Pemilih," "Prinsip Luber Jurdil," "Tantangan
Pemilih Pemula."
● Setiap kelompok melakukan kajian singkat dari buku siswa atau sumber digital yang
disediakan.
Mengaplikasi (Applying) - Diferensiasi Proses:
● Guru menampilkan beberapa skenario atau studi kasus (misal: "Seorang teman
mengajak golput," "Mendapat berita hoaks tentang salah satu calon," "Bingung
memilih karena semua calon terlihat sama").
● Setiap kelompok memilih satu skenario dan berdiskusi:
"Bagaimana kalian menganalisis skenario ini berdasarkan konsep demokrasi dan
hak/kewajiban pemilih?"
"Apa dampak dari tindakan yang diambil dalam skenario tersebut?"
"Bagaimana kalian akan mengatasi tantangan atau hoaks dalam skenario ini?"
(Diferensiasi: Guru dapat menyediakan lembar kerja dengan pertanyaan pemantik
yang disesuaikan dengan tingkat kompleksitas kasus).
● Guru membimbing diskusi, mendorong penalaran kritis, dan memberikan contoh
nyata dari pengalaman Pemilu sebelumnya.
Merefleksi (Reflecting) - Diferensiasi Produk:
● Setiap kelompok mempresentasikan hasil analisis skenario dan solusi yang mereka
rumuskan.
● Setelah presentasi, guru memfasilitasi sesi feedback dari kelompok lain.
● Guru memandu refleksi kelas: "Apa peran paling penting yang bisa saya lakukan
sebagai pemilih pemula?" "Bagaimana saya bisa memastikan suara saya berarti?"
KEGIATAN PENUTUP (15 MENIT)
Umpan Balik Konstruktif:
● Guru memberikan umpan balik umum terhadap diskusi dan presentasi, mengapresiasi
partisipasi dan analisis kritis murid.
● Guru menguatkan pemahaman tentang pentingnya partisipasi aktif dan bertanggung
jawab sebagai pemilih pemula.
Menyimpulkan Pembelajaran:
● Guru bersama murid menyimpulkan poin-poin penting tentang urgensi partisipasi
pemilih pemula dan cara mengatasi tantangan di era digital.
● Guru menekankan bahwa "satu suara menentukan masa depan."
Perencanaan Pembelajaran Selanjutnya:
● Guru memberikan tugas rumah untuk mencari contoh-contoh kampanye Pemilu yang
menarik (baik yang positif maupun yang perlu dikritisi).
● Guru menginformasikan tentang proyek kelompok untuk pertemuan berikutnya:
"Membuat Kampanye Edukasi Pemilih Pemula."
PERTEMUAN 2:
MENJADI PELOPOR PEMILIH PEMULA
KEGIATAN PENDAHULUAN (15 MENIT)
Pembelajaran Berkesadaran (Mindful Learning):
● Guru memulai dengan salam dan doa.
● Guru menampilkan beberapa quotes atau video pendek inspiratif tentang "agent of
change" atau "suara anak muda."
● Guru bertanya: "Bagaimana perasaan kalian jika kalian bisa menjadi bagian dari
perubahan positif di lingkungan atau negara ini?" Ajak murid untuk menuliskan satu
kalimat harapan.
Pembelajaran Bermakna (Meaningful Learning):
● Guru mengaitkan harapan murid dengan peran mereka sebagai pelopor pemilih
pemula yang dapat memengaruhi lingkungan sekitar.
● Guru me-review singkat hasil diskusi pertemuan sebelumnya dan menyampaikan
tujuan pembelajaran pada pertemuan ini, yaitu merancang kampanye edukasi.
Pembelajaran Menggembirakan (Joyful Learning):
● Guru memutarkan jingle atau lagu bertema nasionalisme atau Pemilu yang
membangkitkan semangat.
● Guru melakukan quick survey menggunakan Mentimeter: "Menurutmu, metode
kampanye apa yang paling efektif untuk remaja sepertimu?" (Pilihan: Poster, Video,
Diskusi, Media Sosial, dll.). Hasilnya digunakan untuk memantik diskusi tentang ide
kampanye.
KEGIATAN INTI (60 MENIT)
Memahami (Understanding) - Diferensiasi Konten:
● Guru menyediakan contoh-contoh media kampanye Pemilu yang baik dan kurang
baik (misal: poster yang informatif vs. provokatif, video edukasi vs. hoaks).
● Guru menjelaskan karakteristik kampanye edukasi yang efektif dan etis, serta
pentingnya validitas informasi. (Diferensiasi: Guru dapat menyediakan checklist
kriteria kampanye yang baik untuk kelompok).
Mengaplikasi (Applying) - Diferensiasi Proses:
● Murid bekerja dalam kelompok yang sama dari pertemuan sebelumnya. Setiap
kelompok diberikan tugas proyek untuk merancang "Kampanye Edukasi Pemilih
Pemula."
● Kelompok mendiskusikan:
Target audiens (misal: teman sebaya di sekolah, adik kelas, komunitas).
Pesan utama yang ingin disampaikan.
Bentuk media kampanye (infografis, poster digital, video singkat, jingle, podcast
mini, drama pendek, dll.).
Strategi penyebaran (di kelas, mading sekolah, media sosial).
● Guru berperan sebagai fasilitator dan mentor, memberikan panduan teknis dan
substantif. (Diferensiasi: Guru memberikan dukungan lebih intensif kepada kelompok
yang membutuhkan bantuan dalam penggunaan alat digital atau pengembangan ide).
Merefleksi (Reflecting) - Diferensiasi Produk:
● Setiap kelompok mempresentasikan ide kampanye dan produk media awal mereka
(dapat berupa mock-up, storyboard, atau draf kasar).
● Sesi peer review dan feedback antar kelompok. Minta setiap kelompok memberikan
dua pujian dan satu saran perbaikan kepada kelompok lain.
● Guru memandu refleksi: "Apa yang paling menantang dalam merancang kampanye
ini?" "Bagaimana kampanye ini dapat memengaruhi pemilih pemula lainnya?"
KEGIATAN PENUTUP (15 MENIT)
Umpan Balik Konstruktif:
● Guru memberikan umpan balik menyeluruh terhadap kreativitas, kolaborasi, dan
potensi dampak dari ide-ide kampanye.
● Guru memberikan apresiasi atas semangat peserta didik menjadi pelopor.
Menyimpulkan Pembelajaran:
● Guru bersama peserta didik menyimpulkan pentingnya peran aktif, kritis, dan
kolaboratif pemilih pemula dalam menjaga dan memajukan demokrasi Indonesia.
● Guru menekankan bahwa menjadi pelopor berarti memberikan contoh dan inspirasi
positif.
Perencanaan Pembelajaran Selanjutnya:
● Guru memberikan tugas lanjutan untuk menyempurnakan proyek kampanye edukasi
mereka di luar jam pelajaran, dengan target untuk disajikan pada acara sekolah
(misal: mading digital, sosial media sekolah) atau pada pertemuan berikutnya.
● Guru mendorong peserta didik untuk benar-benar mengaplikasikan ide kampanye
mereka di lingkungan terdekat.
● Guru menutup pembelajaran dengan doa dan motivasi untuk menjadi warga negara
yang bertanggung jawab.
G. ASESMEN PEMBELAJARAN
A. ASESMEN AWAL PEMBELAJARAN (DIAGNOSTIK)
● Format Asesmen: Ice breaking "Jika Saya Jadi...", sticky note "Apa yang
membuat saya peduli/tidak peduli...", quick survey Mentimeter.
● Pertanyaan/Tugas:
○ Ice breaking lisan: "Jika saya jadi Presiden/Gubernur/Walikota, hal pertama
yang akan saya lakukan adalah..."
○ Sticky note: "Apa yang kamu rasakan/pikirkan tentang kondisi negara ini?"
○ Mentimeter: "Menurutmu, metode kampanye apa yang paling efektif untuk
remaja?"
● Tujuan: Mengidentifikasi pengetahuan awal, gap pemahaman, minat, dan
pandangan awal peserta didik terhadap isu demokrasi dan Pemilu.
B. ASESMEN PROSES PEMBELAJARAN (FORMATIF)
● Format Asesmen: Observasi partisipasi aktif dalam diskusi kelompok, kualitas
analisis studi kasus, kemampuan kolaborasi, dan kemandirian dalam
merumuskan solusi. Penilaian draf/ide proyek kampanye.
● Pertanyaan/Tugas:
○ Observasi: Guru menggunakan lembar observasi untuk mencatat:
1. "Apakah murid aktif bertanya, berpendapat, dan mendengarkan dalam
diskusi kelompok?"
2. "Apakah murid mampu menganalisis skenario dengan kritis dan logis?"
3. "Apakah murid berkontribusi aktif dalam merancang ide kampanye?"
○ Penilaian Draf/Ide Proyek: Rubrik penilaian untuk ide kampanye (misal:
kejelasan pesan, relevansi dengan audiens, potensi dampak, kreativitas).
● Tujuan: Memantau kemajuan belajar murid, memberikan umpan balik secara
berkelanjutan, dan memandu mereka dalam mengembangkan gagasan.
C. ASESMEN AKHIR PEMBELAJARAN (SUMATIF)
● Format Asesmen: Presentasi kelompok proyek "Kampanye Edukasi Pemilih
Pemula" (penilaian produk media dan presentasi).
● Pertanyaan/Tugas:
○ Presentasi Kelompok:
1. "Presentasikan media kampanye yang telah kelompok Anda buat
(infografis/poster/video/dll.)!"
2. "Jelaskan mengapa Anda memilih pesan dan format kampanye ini!"
3. "Bagaimana kampanye ini dapat mendorong pemilih pemula untuk
berpartisipasi aktif dan bertanggung jawab?"
4. "Tantangan apa yang kalian hadapi dalam proses pengerjaan proyek ini
dan bagaimana kalian mengatasinya?"
● Tujuan: Mengukur pencapaian tujuan pembelajaran secara menyeluruh,
terutama kemampuan murid dalam menganalisis, merancang,
mengomunikasikan, dan berkolaborasi sebagai pelopor demokrasi.
Mengetahui, Kabir, 05 Januari 2026
Kepala Sekolah Guru Mata Pelajaran
IMANUEL E. LAKAFEL, [Link] MARIA Y. OLANG, [Link]
NIP. 19780116 200604 1 003 NIP. 19890326 202521 2 038