Koleksi Goldy Senior
Raja-raja Gila 1
Koleksi Goldy Senior
Serial Dewa Linglung 01
Raja-Raja Gila
Seorang pendekar. Dia aneh & bertindak seperti orang linglung Para ksatria menyebut
dia Si DEWA LINGLUNG Pendekar sakti yang Digembleng ‘lima’ tokoh aneh.
1
Angin pegunungan bertiup kencang… Awan hitam
bergulung-gulung menebarkan hawa dingin menusuk
ketulang sumsum. Pemuda ini berlari cepat menuju kearah
tebing-tebing curam yang membentang dihadapannya. Dia
seorang laki-laki yang masih muda. Berpakaian lusuh
dengan rambut gondrong tanpa ikat kepala. Sebentar-
sebentar dia menengadah menatap ke langit. Burung-
burung elang itulah yang jadi titik tumpu perhatiannya.
Burung-burung elang yang beterbangan memutari satu
tebing curam, dimana dibawahnya membentang jurang-
jurang dalam yang tak terukur dalamnya. Siapakah adanya
pemuda ini? Dialah yang bernama GINANJAR. Pemuda
yang berasal dari lereng gunung Rogojembangan. Satu
perasaan aneh telah membuat pemuda ini mempercepat
larinya untuk segera tiba di tempat tujuan. Semakin dekat
dengan yang dituju, semakin resah hatinya. Elang-elang itu
menjadi satu pertanda buruk bahwa ada sesuatu yang
telah terjadi di tempat itu. Melewati dua buah bukit, pemuda
ini berhenti berlari. Dihadapannya kini membentang jalan-
jalan licin dan terjal yang harus dilalui untuk mencapai
kearah tebing batu yang paling ujung.
Suara petir yang menggelegar diudara didahului
dengan kilatan-kilatan yang menyambar membuat pemuda
Raja-raja Gila 2
Koleksi Goldy Senior
ini agak terkejut. Tetes air hujan mulai turun. Dan tak lama
hujanpun turun dengan derasnya membasahi bumi.
Sementara elang-elang itu sudah tak memutari ujung
tebing itu, karena mereka telah terbang untuk bertindung
ke bawah tebing dari curahan hujan lebat yang mengguyur
bumi. Pemuda ini kertakan gigi. Tekadnya untuk segera
tiba ditempat tujuan membuat dia tak pedulikan lagl segala
macam rintangan. Dia mulai gerakkan lagi kakinya untuk
segera berlari cepat. Tapi kali ini harus hati-hati. Terpaan
angin keras membuat tubuhnya bergoyang-goyang. Namun
dengan gerakan gesit bagai burung walet, dia terus
melompat dan meniti tebing batu itu. Keberanian pemuda
ini memang luar biasa. Karena salah sedikit saja kakinya
melangkah, tubuhnya bisa tergelincir ke bawah dimana
membentang mulut jurang yang menganga siap
menamatkan hidupnya. Bau busuk mulai terendus hidung.
Wajah pemuda ini semakin memucat. Detak jantungnya
semakin cepat. Batu-batu licin yang d'rterpa hujan itu
sudah sudah tak dihiraukan lagi. Baginya dia ingin lebih
cepat tiba untuk melihat apakah yang telah terjadi.
Akhirnya Ginanjar tiba dimulut sebuah goa yang terietak di
ujung tebing terjal. Goa yang tersembunyi itu akan sukar
ditemukan karena diapit oleh dua jurang di kiri dan
kanannya.
Bau aneh semakin santar menusuk hidung ketika
pemuda itu jejakkan kaki di mulut goa dibibir jurang.
Terperangah dia seketika melihat sesosok tubuh terlentang
tepat dimulut goa. Sosok tubuh yang sudah membusuk dan
dikerumuni lalat. De-ngan sembilan luka di sekujur
tubuhnya. Petir kembali menggelegar menimbulkan kilatan
cahaya berkilatan. Dan bersamaan dengan dentuman petir
itu terdengar suara pemuda itu berteriak. "Guruuu...!?"
Raja-raja Gila 3
Koleksi Goldy Senior
Sepasang kakinya berdiri menggeletar, sedangkan
matanya membelalak memandang sosok tubuh yang
segera dikenalinya. Sekejap dia teiah melompat mendekati
sosok tubuh itu. "Guru...!? OH, apakah yang telah terjadi?
Sipakah yang telah membunuhmu...?" terucap kata-kata
menggeletar dari bibirnya. Pemuda itu duduk bersimpuh di
hadapan jenasah itu. Tampak tubuhnya berguncang-
guncang karena dia telah menangis terisak-isak. Air
matanya bercucuran dengan air hujan yang membasahi
wajah dan pakaiannya. Inilah rupanya pertanda buruk dari
elang-elang yang berterbangan mengitari tebing. "Guru…!
maafkan aku! Maafkan muridmu yang tolol ini. Yang tak
pernah kembali untuk menjengukmu disini," berkata dia
seperti mengajak bicara mayat di hadapannya. Kembali
pemuda itu tenggelam dalam isak tangis yang
menyedihkan.
Siapakah gerangan orang tua yang telah menjadi
mayat yang ditangisi kematiannya oleh pemuda itu? Dialah
yang bernama KI DHARMA TUNGGA. Kakek yang berusia
hampir seratus tahun itu adalah Ketua kaum Rimba Hijau.
Walaupun pemuda yang berasal dari lereng gunung
Rogojembangan itu tak terlalu lama berguru pada kakek ini,
namun dia telah merasa begitu kehilangan dengan
kematian sang guru. Dua tahun dia berguru, lalu
meninggalkannya setelah terjadinya peristiwa dipuncak
Mahameru, dimana lima tokoh yang menamakan dirinya
LIMA SERIGALA MALAIKAT yang diketuai oleh seorang
tokoh golongan hitam bergelar si MATA IBLIS mau
mengangkat diri sebagai Ketua kaum persilatan. Namun
dengan munculnya Ki DHARMA TUNGGA yang dibantu
oleh para pendekar golongan putib, niat busuk mereka
dapat digagalkan. Lima Serigala Malaikat dan si Mata Iblis
Raja-raja Gila 4
Koleksi Goldy Senior
dapat dihancurkan dengan kematian manusia-manusia
jahat itu. (Baca, Serial : Roro Centil berjudul "LIMA WAJAH
1000 DENDAM".)
Sejak itu Ginanjar pergi tak tentu rimbanya. Berkelana
tak menentu. Tapi apakah yang telah didapatkannya?
Melulu cuma kesialan belaka yang lebih banyak dihadapi.
Dan bermacam perbuatan tercela yang telah dilakukan.
Karena Ginanjar kurang memperhatikan wejangan-
wejangan gurunya. Bahkan ilmu-ilmu hebat yang telah
diturunkan guru-gurunya hampir dilupakan. Sejak turun
gunung dari lereng
Rojembangan, Ginanjar telah punya bekal ilmu-ilmu
kedigjayaan dari KI BAYU SHETA yang bergelar si
Pendekar Bayangan. Pada dua puluh lima tahun yang lalu
nama Pendekar Bayangan merupakan sebuah nama yang
harum di mata kaum pendekar. Tapi Ginanjar sebagai
murid tunggalnya tak punya nama secuilpun yang dapat
dibanggakan dimata kaum persilatan. Bahkan pedang
pusaka warisan gurunya dari lereng Rogojembangan
itupun tak ketahuan kemana lenyapnya akibat keteledoran
dan kebodohannya. Kini setelah berguru pada DHARMA
TUNGGA yang punya nama besar bahkan menjadi orang
yang disegani dimata kaum Rimba Hijau. Ternyata
Ginanjarpun bukanlah seorang murid yang utama, yang
menjunjung nama gurunya. Hal itulah yang membuat dia
bersedih setengah mati.
Dalam kisah serial RORO CENTIL, dikisahkan Ginanjar
pernah dijuluki si DEWA LINGLUNG. Julukan itupun
didapati karena entah apa sebabnya hingga sampai-
sampai dia menjadi orang linglung. Bahkan nama gurunya
yang terakhir pun dia lupa. Ilmu-ilmu yang didapati dari
Raja-raja Gila 5
Koleksi Goldy Senior
Dharma Tungga tak satupun yang pernah digunakannya
lagi setelah peristiwa dipuncak Mahameru itu. Ginanjar
cuma mengejar cinta. Dia terlalu mencintai Roro Centil,
hingga lupa segala-galanya. Selain itu tak sedikit pula dia
jatuh ke tangan perempuan-perempuan jalang yang
berilmu tinggi. Yang cuma menjadikan dia sebagai bulan-
bulanan. Sungguh hal ini membuat dia sangat bersedih
setelah menyadari kelalaian serta kebodohannya. Pemuda
itu semakin tenggelam dalam sedu-sedan. Tenggelam
dalam kepedihan hati. Tenggelam dalam kutukannya pada
dirinya sendiri! Sementara hujan semakin deras menyiram
bumi. Diseling sesekali oleh kilatan petir yang menimbulkan
suara dentuman menggelegar merambah alam. Seolah
akan membuat bumi menjadi lautan layaknya....
–––––––––
2
Lama Ginanjar duduk termangu memandangi mayat
gurunya. Dibiarkannya tubuhnya basah kuyup tersiram air
hujan. Akan tetapi selang tak lama kemudian hujanpun
berhenti. Ginanjar baru tersadar dari tercenungnya ketika
telinganya mendengar suara elang-elang yang telah
kembali berputar-putar diatas tebing. "Elang keparat!"
memaki pemuda ini. Lengannya menjuput sebutir batu.
Krrrrk! Batu itu telah diremasnya hingga hancur. Detik
berikutnya lengannya telah bergerak mengayun keatas.
Hebat tenaga luncuran batu itu. Tiga ekor elang yang
terbang agak mendekat bunyikan suara,
"Eaaaak!" Dan ketiganya segera terhempas jatuh
melayang ke dasar jurang. Empat ekor lainnya terbang
Raja-raja Gila 6
Koleksi Goldy Senior
dengan cepat karena terkejut melarikan diri. Namun salah
seekor terbangnya limbung karena sebuah sayapnya
terluka kena sasaran batu. Dengan geram Ginanjar
pandangi elang-elang yang kabur itu hingga lenyap
dibawah tebing. Air mata pemuda ini masih menggenang di
pelupuk mata ketika dia telah selesai mengebumikan
jenazah Ki Dharma Tungga. Dia berdiri tak bergeming
sambil tundukkan kepalanya. Matahari sudah agak
condong kearah barat. Udara cerah tak berawan. Angin
kencang telah menghembus awan-awan hitam itu hingga
membuat langit bersih tak berawan. "Aku harus segera
pergi dari tempat ini!" berkata dia dalam hati seraya
menengadah menatap langit. "Entah siapa dan dimana si
pembunuh keji itu berada. Akan tetapi aku bersumpah
untuk membalaskan dendam ini. Akan kucari dan tetap
kucari selama hayat masih dikandung badan!"
Dipandanginya gundukan tanah basah yang ditimbuni batu-
batu itu dengan mata merah.
"Guru, semoga arwahmu tenang di alam Baka.
Muridmu yang tolol ini akan mencari musuh yang telah
membunuhmu dengan sekeji ini. Aku yakin dia adalah
manusia yang menginginkan Lambang Ketua Rimba
Persilatan ditanganmu. Dengan sepotong pedang yang
tertancap di tubuhmu ini, aku yakin akan menjumpai
manusianya yang telah menyebabkan kematianmu!"
berkata Ginanjar dengan suara menggetar. Di lengannya
tercekal sepotong pedang bagian ujungnya. Hanya benda
itulah yang dapat menunjukkan siapa yang telah
menewaskan Ki Dharma Tungga. Ketika suara elang
kembali terdengar di udara, pemuda itu telah berkelebat
meninggalkan lereng tebing curam itu dengan berlari-lari
cepat. Tak berapa lama dia telah tiba diatas bukit. Berhenti
Raja-raja Gila 7
Koleksi Goldy Senior
sejenak untuk berpaling memandang lagi ke arah tebing
curam yang akan ditinggalkan. Lalu dengan hati remuk
redam pemuda itu segera teruskan berlari menuruni bukit.
Tak lama kemudian sosok tubuh pemuda itupun lenyap. —
00O00— Siang itu udara panas terik. Matahari membinar-
binar membersitkan sinarnya seperti mau membakar bumi
layaknya. Adalah aneh kalau dalam panas demikian terik
justru seorang kakek enak-enakan tiduran terlentang diatas
batu dengan mata meram. Kakek ini bertubuh jangkung
kurus, tanpa memakai baju. Kecuali celana pangsinya yang
kumal dan bertambal-tambal itu yang dipakainya.
Rambutnya gondrong awut-awutan dan sudah hampir
memutih semua.
Lebih aneh lagi didepan si kakek ini tampak sebutir
telur yang amat besar. Telur aneh itu berada disela-sela
batu beralaskan rumput dan
ranting-ranting kayu kering. Keadaan ditempat itu amat
lengang, seperti tempat yang tak pernah dikunjungi
manusia. Hanya bukit-bukit batu terjal dan ranting-anting
kayu kering yang berserakan di sana-sini. Ternyata kakek
ini tengah menggeros tidur dengan nyenyaknya. Entah
berapa saat si kakek meggeros tidur, ketika sesosok tubuh
muncul diujung tebing. Matanya jelalatan kesana kemari
seperti ada yang dicarinya. "Ah, kemana gerangan kakek?
makanan sudah matang tapi ditunggu orangnya tak
muncul!" menggerutu gadis ini. Ternyata dia seorang gadis
berpakaian serba putih yang juga penuh tambalan. Tak
lama dia sudah melompat-lompat dan berlari-lari cepat
menelusuri tempat itu. "Eh!? itu dia..!? teriak gadis ini
girang. Pandangannya segera tertuju pada si kakek
jangkung kurus yang tengah enak-enakkan menggeros
terlentang diatas batu. "Kakek...!" teriak gadis ini
Raja-raja Gila 8
Koleksi Goldy Senior
memanggil. "Bangunlah! makanan sudah kusiapkan.
Apakah kau tak ingin makan sekarang?" ujarnya. Tapi yang
dlpanggil seperti tak mendengar. Bahkan dengkurnya
semakin menjadi-jadi. Gadis ini jadi tak sabar memanggil.
Apalagi di panas terik begitu melihat sikakek terlentang
diatas batu tak bergerak-gerak. Menduga kalau-kalau si
kakek itu telah mati, membuat jantungnya jadi berdebaran.
Mendadak dia telah melompat ke arah sang kakek dengan
hati penasaran.
Ternyata gadis ini punya gerakan melompat yang hebat
dan gerakannya pun indah. Dua kali jejakkan kaki dengan
tubuh melambung dan berjumpalitan diudara. Sesaat dia
telah melayang turun dihadapan si kakek dengan kedua
lengan terentang. Terkejut gadis ini ketika nyaris kakinya
menginjak sebuah benda putih bulat, kalau saja pada saat
itu si kakek yang mendengkur pulas itu tak menguap dan
gerakkan tangan seperti baru mendusin. Akan tetapi
membuat gadis ini dua kali terkejut. Karena detik itu telah
menyambar angin keras yang membuat dia terperangah.
Tak ampun gadis ini berteriak tertahan, karena saat itu juga
tubuhnya terlempar lagi ke udara. Seraya berteriak;
"Haiiiii!?" dia segera lakukan salto yang cepat sekali kalau
tak mau terbanting ke tanah dengan kapala terlebih dulu.
Dan dengan usaha itu dia dapat jejakkan kakinya ditanah
dengan baik. Segera dia telah melihat si kakek gurunya itu
bangkit duduk sambil tertawa cengar-cengir. "Hehehe...
hampir saja kau melenyapkan impianku, muridku yang
manis!" berkata si kakek. "Impian?... impian apakah,
kakek? Dan... telur apakah yang demikian besar itu?"
bertanya sang dara ini dengan kembali melompat
mendekat.
Raja-raja Gila 9
Koleksi Goldy Senior
"Hehehe... aku justru sedang menunggui telur ini, dan
menunggu impian yang kelak bakal datang. Hingga
sampai-sampai aku lupa bahwa aku telah memesan
makanan padamu. Hehehe...
hayo kita pulang!" menyahut sikakek tanpa berikan
penjelasan pada sang murid. ''Tidak! aku tak mau pulang
sebelum guru menjelaskan tentang telur itu. Dan apa
maksud kakek menunggu impian yang kelak bakai
datang?" sungut sigadis dengan cemberut. Lalu duduk
diatas batu sambil membelakangi sikakek. Melihat sikap
muridnya kakek ini jadi tertawa terkekeh-kekeh. "Baik! baik
anak manis! Tapi nantilah dirumah aku ceritakan. Sekarang
kita pulang dulu. Perutku telah keroncongan. Bukankah tadi
kau mengatakan bahwa masakanmu sudah matang?"
berkata si kakek. Tiba-tiba lengan sikakek ini mengibas
kearah sang gadis. Whuuuuk! "Haiii?" teriak gadis ini.
Sekejap tubuhnya telah melompat setinggi lima tombak
untuk menghindari angin keras yang membersit
menghantam ke arahnya. Batu itulah yang jadi korban
sasaran yang tak ampun lagi telah terungkit dan
menggelinding bagai dihernpas angin badai.
Saat tubuh si gadis masih melambung di udara, tubuh
si kakek mendadak telah melesat dari atas batu.
Lengannya terulur menyambar lengan gadis itu. Segera
saja sang gadis rasakan tubuhnya terbetot satu tenaga
yang keras. Sekejap saja dia sudah melayang seperti
terbang melintasi bukit itu. Ternyata si kakek telah
menyambarnya untuk dibawa melesat menuruni bukit batu
dengan perdengarkan suara tertawa terkekeh-
kekeh. Sesaat kedua tubuh itu telah lenyap tak
kelihatan lagi.
Raja-raja Gila 10
Koleksi Goldy Senior
–––––––––
3
Siapakah gerangan kakek aneh dan muridnya itu?
Dialah yang bergelar Raja Pengemis. Dia seorang tokoh
Rimba Hijau yang beradat aneh dan tak mempunyai tempat
tinggal tetap. Gadis itu bernama Ranggaweni. Seorang
gadis periang berusia sekitar enam belas tahun. Selama
lebih dari tiga tahun dia berguru dengan Si Raja Pengemis.
Selama itu Ranggaweni selalu mengikut kemana sang guru
membawanya. Gadis ini seorang yatim piatu, yang pernah
menetap diwilayah Kota Raja. Ayahnya bernama RONGGO
ALIT. Seorang pedagang obat-obatan yang mempunyai
toko besar dan terkenal sebagai tabib ahli obat diwilayah
Kota Raja sebelum dipindahkannya Kerajaan Medang ke
Jawa Timur. Dan berganti nama menjadi Kerajaan
Mataram.
Ibunya telah meninggal sejak dia masih berusia 10
tahun. Ternyata disaat pindahnya Kerajaan Medang baru
berjalan satu bulan. Telah terjadi suatu peristiwa pada
keluarga Ronggo Alit. Yaitu kemunculan segerombolan
perampok yang menyamar sebagai orang dari perusahaan
pengangkut barang. Empat orang itu menawarkan
jasa untuk mengangkut barang-barang Ki Ronggo Alit.
Pada masa itu memang, disetiap tempat di bekas wilayah
Kerajaan Medang, orang-orang banyak yang menyewa
gerobak-gerobak untuk mengangkut barang-baranrgnya.
Karena tidak sediklt rakyat jelata yang juga ikut pindah
kewilayah Kerajaan yang baru. Akan tetapi tidak demikian
halnya dengan Ki Ronggo Alit. Usianya yang sudah
Raja-raja Gila 11
Koleksi Goldy Senior
semakin menua tak memungkinkan dia meninggalkan
tempat kediamannya. Dia akan tetap tinggal disitu. Yang
membuat bersedih dan masygul orang tua itu adalah tak
pernah munculnya Ginanjar ke tempatnya, sejak lebih dari
dua tahun. Seperti pernah diceritakan pada kisah serial :
Roro Centil, Ginanjar tinggal menetap di tempat
kediamannya atas perintah Ki Bayu Sheta alias si
Pendekar Bayangan. Ki Bayu Sheta adalah seorang
sahabatnya yang pernah dikagumi dalam membantu para
pejuang dan Partai Kaum Pengemis mengusir penjajah dan
membasmi perberontak di wilayah Kerajaan Medang pada
lebih dua puluh tahun yang lalu.
Akan tetapi Ginanjar menghilang. Pergi sampai lebih
dua tahun tak pernah kembali. Sejak dia menyuruhnya
mencari bahan obat-obatan. Di tempat kediamannya ada
pula menetap seorang gadis bernama Kasmini. Gadis
suruhan yang setia membantunya selama ini. Namun
Kasmini sendiri ternyata telah dibawa pergi oleh seorang
tokoh wanita bernama Nini Kemuning Wangi. Nini
Kemuning Wangi adalah seorang tokoh persilatan
golongan putih yang masih kakak kandungnya. Nini
Kemuning Wangi datang menyambangi tempat tinggalnya
jauh-jauh dari partai utara. Dia adalah istri dari seorang
saudagar kaya diwilayah selat Madura. Ternyata kehidupan
kakak perempuannya juga tidak bisa dibilang bahagia.
Karena sang suami seorang yang gemar main perempuan.
Demikianlah, Nini Kemuning Wangi telah berpisah dengan
suaminya lantaran tidak betah dengan kehidupan yang
selalu dalam tekanan bathin itu. Ternyata begitu muncul dia
telah menjadi seorang nenek-nenek yang berilmu tinggi.
Tadinya wanita kosen itu penuju dengan anak gadisnya.
Tapi Ronggo Alit merasa kehilangan kalau anak gadis satu-
Raja-raja Gila 12
Koleksi Goldy Senior
satunya itu dibawa pergi. Akhirnya dia menyatakan akan
membawa Kasmini, pembantunya yang setia. Kasmini
memang seorang gadis yang lincah. Juga bertulang baik
untuk dapat mempelajari ilmu-ilmu kedigjayaan. Akhirnya
terpaksa Ronggo Alit tak dapat menolak keinginan sang
kakak perempuan. Kini Ronggo Alit cuma tinggal berdua
dengan anak gadisnya. Itulah sebabnya dia tak akan
pindah saat itu Ranggaweni masih gadis tanggung. Di
samping dia masih mengharapkan kedatangan Ginanjar, si
pemuda asal lereng gunung Rogojembangan itu kembali.
Tentu saja tawaran itu ditolak oleh Ki Ronggo Alit dengan
kata-kata ramah.
Tak dinyana kalau mereka adalah para perampok yang
bernama Empat Setan Gila dari Nusa Kambangan. Melihat
kecantikan Ranggaweni yang masih gadis tanggung itu
membuat mata mereka menjadi berbinar-binar menatap.
Tentu saja sikap mereka yang kurang ajar telah membuat
Ki Ronggo Alit jadi naik pitam. Empat Setan Gila mengekeh
tertawa dan serentak turun tangan untuk memberesi orang
tua itu. Pertarungan tak seimbang segera terjadi. Namun
percuma saja perlawanan Ki Ronggo Alit yang lebih banyak
menekuni perihal obat-obatan daripada ilmu kedigjayaan.
Laki-laki tua itu tewas dengan keadaan mengenaskan.
Ranggaweni menjerit melihat kematian ayahnya. Namun
dengan sebat gadis itu ditotok. Tak lama kemudian Empat
Setan Gila Nusa Kambangan telah membedal kuda
meninggalkan tempat itu dengan membawa harta
rampokan dan menggondol pergi Ranggaweni. Di tengah
perjalanan mereka berpapasan dengan seorang kakek
aneh yang selalu tak pernah memakai baju. Kecuali
selembar celana butut yang penuh tambalan. Dialah si
Raja Pengemis. Orang tua kosen itu berhasil menewaskan
Raja-raja Gila 13
Koleksi Goldy Senior
tiga orang dari Empat Setan Gila Nusa Kambangan, dan
berhasil merebut Ranggaweni dari tangan mereka. Yang
seorang lagi dapat meloloskan diri, dengan mengancam
akan membuat perhitungan kelak pada si Raja Pengemis
kelak.
Demlkianlah, hingga sampai lebih dari tiga tahun
Ranggaweni ikut bersama kakek aneh bergelar Raja
Pengemis itu yang tak pernah mempunyai tempat tinggal
tetap. Hingga kemudian mereka menetap dilereng tebing
yang sunyi dan jauh dari keramaian manusia Seperginya
kedua guru dan murid itu muncul sesosok tubuh dari balik
batu-batu. Ternyata Ginanjar adanya. Pemuda ini secara
kebetulan baru saja merayap naik ke atas tebing. Dua hari
melakukan perjalanan yang tak tentu arah yang dituju telah
mengantarkan dirinya tiba di tempat ini. Justru tempat inilah
yang akan merubah kehidupannya kelak. Tentu saja
Ginanjar tak melihat adanya si kakek Raja Pengemis di situ
karena orangnya telah angkat kaki meninggalkan puncak
tebing sejak sepeminuman teh barusan. "Uh, letih sekali
tubuhku. Baiknya aku beristirahat. Tapi kulihat disini tak
ada tempat meneduh yang baik..." menggumam Ginanjar.
Akan tetapi tiba-tiba matanya terbelalak melihat sebutir
telur besarnya hampir sebesar nyiru (tampah). Benda aneh
itu berada di sela-sela batu karang yang penuh dengan
tumpukan ranting dan rumput kering.
"Walah.. !? telur apakah itu? besar sekali! Baru seumur
hidup ku melihat telur sebesar ini.." berkata Ginanjar sambil
garuk-garuk kepala. Dia berpikir sejenak untuk menduga
telur apakah yang sebesar itu? Akan tetapi dia tak dapat
menerkanya. "Ah, peduli dengan telur apapun.
Raja-raja Gila 14
Koleksi Goldy Senior
Perutku sudah dua hari tak diisi makanan. Tentu telur
ini bisa menangsal perutku yang keroncongan!" berpikir
Ginanjar. Tak ayal dia sudah melompat untuk memeriksa.
Lalu coba mengangkat "Hahaha... cukup berat!" desisnya
sambil tertawa memeluk telur. Sebuah titik putih meluncur
pesat di udara. Makin lama makin dekat. Ternyata seekor
burung Rajawali yang amat besar, menukik tajam ke atas
tebing itu. Terkejut Ginanjar ketika tahu-tahu terdengar
suara mengiyak santar di atasnya. Dalam terkejutnya dia
bergulir dari atas telur. Belum lagi dia sadar apa yang
terjadi, tahu-tahu tubuhnya telah kena di cengkeram
sepasang cakar yang amat kuat. Dan .... sekejap tubuhnya
telah terangkat melayang ke udara. Membelalak mata
pemuda ini mengetahui yang menyambar tubuhnya adalah
seekor burung Rajawali raksasa. "Celaka aku..!? aku
dibawa terbang!" tersentak Ginanjar dengan terperangah.
Hempasan angin keras yang datangnya dari kepakan
sayap burung membuat Ginanjar memeluk erat telur itu.
Tak terduga justru sang Rajawali mencengkeram telur.
Sekejap saja pemuda itu sudah terbawa membumbung
tinggi ke udara.
Dua sosok tubuh berkelebatan ke atas tebing.
Keduanya tak lain dari si Raja Pengemis dan muridnya.
Tentu saja kedua mata kakek itu membelalak melihat
sesosok tubuh manusia yang
memeluk erat telur raksasa telah dibawa terbang oleh
seekor burung Rajawali yang amat besar. Sekejap sang
Rajawali telah melayang jauh, dan lenyap dibalik tebing
yang menjulang kelangit. "Kakek…! itukah burung besar
yang kau ceritakan? Oh dia mencengkeram sesosok tubuh
manusia…!'' teriak Ranggaweni terperanjat. Dengan
belalakkan mata di sisi si Raja Pengemis. "Benar, muridku!
Raja-raja Gila 15
Koleksi Goldy Senior
Kita terlambat datang. Rupanya ada manusia yang mau
mencuri telurku. Dia dicengkeram burung raksasa itu..."
berkata si kakek dengan hati masygul. "Oh, dasar nasibku
yang sial dangkalan! Lenyaplah sudah "impian" ku untuk
memiliki anak burung Rajawali itu, dan menangkap
induknya!" gerutu si Raja Pengemis dengan wajah kecewa.
"Aku yang salah, kakek…! kalau aku tak menyuruhmu
pulang, tentu kau akan berhasil menangkap burung
Rajawali itu. Akupun ingin sekali memiliki anak burung
raksasa itu" tukas Ranggaweni dengan menunduk.
"Hehehe... kau tak bersalah apa-apa muridku! Cuma nasib
kita saja yang sedang sial!". Si kakek Raja Pengemis ini
tertawa gelak-gelak. "Entah siapa manusia yang telah
digondol burung Rajawali itu… !? '' menggumam si Raja
Pengemis. Keduanya masih menatap ketempat lenyapnya
burung raksasa itu, hingga beberapa saat. Tapi tak lama
terdengar suara helaan napas si kakek Raja Pengemis.
Seraya berkata. "Sudahlah, muridku! mari kita pulang..."
Gadis ini menganguk. Dan tak lama kedua guru dan
murid itu telah kembali melesat meninggalkan tebing itu.
Lalu lenyap tak kelihatan lagi.
–––––––––
4
Ginanjar tergantung-gantung di udara melewati bukit,
lembah dan ngarai curam. Sementara burung Rajawali itu
terus membumbung tinggi. Kalau saja Ginanjar tak cepat
menangkap kaki burung raksasa itu dan mencekal erat-
erat, tentu tubuhnya sudah melayang jatuh ke dalam
jurang. Keringat dingin merembes keluar dari sekujur
Raja-raja Gila 16
Koleksi Goldy Senior
tubuh. "Ah, celaka aku. Mau dibawa kemanakah telur ini?"
mendesah suara Ginanjar dalam ketakutan yang amat
sangat. Ketika memandang ke bawah semakin ngeri dia
karena kini dibawanya membentang lautan luas. Entah
beberapa saat dia terapung-apung di udara dalam
kengerian yang luar biasa. Ketika selang beberapa saat
burung Rajawali itu terbang merendah. Lalu hinggap di
atas daratan. Ternyata sebuah pulau yang cukup luas.
Sebuah pulau terpencil di tengah laut.
Burung Rajawali perdengarkan suara mengiyak. Lalu
melepaskan telur dari
cengkeramannya. Ginanjar telah lebih dulu melompat
turun. Dan jejakkan kaki di atas pasir. Akan tetapi sang
Rajawali itu perdengarkan suara mengiyak tiada henti. Lalu
berputar-putar mengitari telurnya. Dengan mengepak-
ngepakkan sayapnya hingga debu dan batu-batu kecil
beterbangan. Tiba-tiba sang Rajawali terbang mengelilingi
Ginanjar. Tentu saja pemuda ini jadi terperanjat ketika
tahu-tahu burung raksasa itu telah menerjangnya. "Hah!
celaka! dia marah...!" sentak Ginanjar. Agaknya sang
Rajawali baru sadar kalau ada manusia yang terbawa
berikut telurnya. Menghadapi terjangan-terjangan itu
Ginanjar melompat-lompat menghindar. Hebat serangan
burung Rajawali ini. Kibasan sayapnya menerbitkan
hempasan angin keras. Dan patukan-patukannya
menyerbu dengan ganas. Terperangah pemuda ini. Tapi
dia tak berhasrat untuk balas menyerang, kecuali gunakan
kegesitan tubuhnya untuk menyelamatkan diri. Pada saat
itulah terdengar suara teriakan keras, berkumandang.
"JABUR! hentikan...!" Dan sesosok dari atas tebing
melayang kedua tangan terpentang. Mirip sekali dengan
gerakan terbang seekor bangau.
Raja-raja Gila 17
Koleksi Goldy Senior
Hinggap di atas batu tepat di hadapan Ginanjar tanpa
timbulkan suara. Kakek ini bermuka lancip. Rambutnya
agak kecoklatan.
Mengenakan jubah serba putih. Berkumis tipis
jenggotnya cuma sejumput kecil mejuntai di bawah dagu.
Mendengar suara bentakan itu sang Rajawali ternyata telah
hentikan serangannya, lalu terbang kembali mendekati
telurnya. "Haih! anak muda! bagaimana sampai kau bisa
berada di tempatku ini?" bertanya si kakek, menatap
Ginanjar dengan sorot mata tajam. Yang menjawab
ternyata si burung Rajawali, dengan perdengarkan suara
mengiyak tiada henti sambil menutupi telur dengan
paruhnya. "Diamlah kau Jabur! aku tak bertanya padamu!"
Tampaknya sang Rajawali itu mengerti bahasa manusia.
Dia telah hentikan suara gaduhnya. "Si... siapakah kakek?"
Ginanjar bertanya karena rasa ingin tahu, seusai berikan
penuturan singkat hingga dia bisa sampai di pulau ini. "Hm,
aku si tua bangka ini dijuluki si RAJA SILUMAN BANGAU!
Yang menjadi penghuni pulau ini!" menyahut si kakek.
Sementara sejak tadi dia memperhatikan sekujur tubuh
pemuda dihadapannya dari kepala sampai ke kaki.
"Kau...kaukah si pemilik burung raksasa ini?" bertanya lagi
Ginanjar. "Benar!" sahut si kakek. "Siapakah namamu
sendiri anak muda?" kakek ini ulangi pertanyaannya
"Namaku NANJAR ! Aku berasal dari lereng gunung
Rogojembangan" sahut Ginanjar
perkenalkan diri seraya menjura menekuk lutut.
Sengaja Ginanjar mempersingkat namanya. Wajah si
kakek ini tampak berubah. Tiba-tiba lengannya mengibas,
seraya membentak. "Bangunlah anak muda! Tak usah
banyak peradatan!" Hebat kibasan lengan si Raja Siluman
Raja-raja Gila 18
Koleksi Goldy Senior
Bangau. Karena saat itu juga bersyiur angin keras
menyambar tubuh Ginanjar. Karena tak menyangka kalau
akan diserang, Ginanjar jadi terperanjat. Dia berusaha
mengelak, tapi sudah terlambat. Tubuh pemuda itu
terlempar bergulingan. Tapi dengan gerakan reflek dia
telah lakukan salto dengan gerakan melompat. Hal itu
membuat dia selamat dari bahaya. Karena nyaris tubuhnya
ter-lempar ke laut. Dan dia berhasil jejakkan kakinya di atas
pasir dengan kuda-kuda kuat. Melotot mata Ginanjar
memandang si kakek. Napasnya memburu. Jantungnya
berdetak lebih cepat. Kejadian tersebut membuat dia
menjadi gusar, akan tetapi juga tak mengerti mengapa
tahu-tahu si kakek menyerangnya ? —00O00— Akan tetapi
belum lagi dia membentak, si kakek telah perdengarkan
suara tertawa terkekeh-kekeh.
"Hehehe...hehehe... kau kurang waspada, anak muda.
Tapi kau punya otak encer, bisa
bertindak cepat merobah keadaan. Siapakah gurumu,
bocah?" "Aku murid si Pendekar Bayangan KI BAYU
SHETA" menyahut Ginanjar. "Hehehe... sudah kuduga.
Bukankah gerakan melompat yang kau lakukan barusan
adalah gerakan Elang Bayangan?" Melengak pemuda ini
mendengar kata-kata si kakek yang mengetahui
gerakannya. "Benar! dari mana kakek bisa mengetahui?"
Diam-diam Ginanjar membathin dalam hati. "Kakek tua ini
pasti ada hubungan dengan guruku almarhum. Hm, aku
harus hati-hati dengan si kakek ini. Apakah dia lawan atau
kawan?" Raja SHuman Bangau kembali perdengarkan
suara tertawanya, seraya berkata. "Apakah gurumu tak
pernah menyebut-nyebut tentang aku?" Ginanjar kerutkan
keningnya, mengingat-ngingat. "Rasanya tidak pernah! Ada
hubungan apakah kau orang tua dengan guruku
Raja-raja Gila 19
Koleksi Goldy Senior
almarhum?" tanya Ginanjar. Pertanyaan itu justru membuat
si Raja Siluman Bangau jadi melompat kaget. "Hah? apa
katamu? Dia sudah mampus?" bentaknya bertanya.
"Benar. Beliau tewas dalam satu pertarungan secara jujur
dengan si DEWA TENGKORAK!" sahut Ginanjar
menegaskan.
"Dewa Tengkorak?" lagi-lagi si Raja Siluman Bangau
membelalak kaget. "Haiiih!
sungguh tak dinyana. Apakah kau yakin pertarungan
itu berjalan dengan jujur? Setahuku si Dewa Tengkorak
adalah seorang pembunuh bayaran berdarah dingin!"
berkata Raja Siluman Bangau. "Aku sendiri kurang
mengetahui. Karena si pembawa berita itu adalah orang
lain. Yaitu orang yang masih terhitung saudara
seperguruanku" "Siapakah dia itu?" tanya Raja Siluman
Bangau. "Dia Roro Centil yang dijuluki orang si Pen-dekar
Wanita Pantai Selatan!" sahut Ginanjar. "Cuma dia
seoranglah yang mengetahui pertarung-an itu, yang
disaksikannya di Bukit Kera pada lebih dari tiga tahun yang
laiu" sambung Ginanjar. Sejenak Raja Siluman Bangau
tercenung sambil mengelus jenggotnya yang cuma
sejumput. "Haiiih! lebih dari sepuluh tahun aku berdiam di
pulau ini, sampai-sampai aku tak tahu keadaan diluaran!"
terdengar dia berkata setelah didahului dengan menghela
napas panjang. "Kakek! kau belum jawab pertanyaanku?"
tiba-tiba Ginanjar menyambar bicara. "Hm, apakah kau
akan menanyakan hubunganku dengan gurumu?" berkata
dia dengan tersenyum. "Ya, begitulah. Karena dari situ aku
bisa mengetahui kau orang tua lawan atau kawan?" ujar
Ginanjar dengan jujur. Mendengar kata-kata itu si kakek
tertawa lagi terkekeh-kekeh, hingga sampai-sampai air
matanya bercucuran.
Raja-raja Gila 20
Koleksi Goldy Senior
"Hehehehe... dibilang lawan, aku adalah lawan. Tapi
dibilang kawan aku adalah kawan. Kau anak muda
berjodoh denganku hingga kau sampai ketempat ini!
Mengenai hubunganku dengan si Bayu Sheta akan
kuceritakan nanti, setelah kau berhasil melewati ujian
penentuan dariku!" "Apa maksudmu sebenarnya, kakek
tua?" berkata Ginanjar kesal. "Hehehe...nasibmu
tergantung dari kau sendiri. Karena kau telah berada di
pulau ini. Yaitu kau harus dapat menghadapi 100 jurus
seranganku. Bila kau mampu bertahan, kau selamat dari
kematian. Akan tetapi bila kau tak mampu, yah! apa boleh
buat terpaksa kau cuma tinggal nama saja di dunia ini!"
berkata Raja Siluman Bangau. "Gila!!" teriak Ginanjar
dengan mata melotot. "Hehehe.. aku yang punya pulau ini,
tentu saja aku bebas membuat peraturan-peraturan gila!"
jawab si kakek seenaknya.
–––––––––
5
Saat itu si burung rajawali bernama JABUR tiba-tiba
perdengarkan suara mengiyak tiada henti, seraya
melayang diudara berputar-putar diatas mereka. Raja
Siluman Bangau kerutkan keningnya, hingga alisnya
bergerak menyatu. Tiba-tiba dia membentak keras. "Jabur!
kau kembalilah kesarangmu: Ingat! Kau tak boleh kemana-
mana! Kau eramilah telurmu sampai menetas. Kalau kau
masih membandel aku akan menghajarmu, biar kau tahu
rasa!" Burung Rajawali raksasa itu mengiyak pelahan.
Tubuhnya menukik melayang turun, lalu menyambar
telurnya. Sekejap dia sudah terbang lagi untuk menuju ke
Raja-raja Gila 21
Koleksi Goldy Senior
puncak bukit tertinggi dipulau itu. "Hehehe... tak lama lagi
kita akan kedatangan tetamu. Aku sudah siap menanti!"
berkata si kakek dengan menatap pada Ginanjar. "Dan kau
anak muda. Nasib penentuan hidup matimu adalah hari
ini!" sambungnya. Ginanjar menatap pada si kakek dengan
tak mengerti. Akan tetapi saat itu telinganya telah
mendengar suara-suara aneh yang berdatangan dari
beberapa arah di sekeliling pulau itu.
"Suara apa pula itu?" sentak Ginanjar berdesis. Diam-
diam keringat dingin telah
membasahi sekujur tubuhnya. Suara-suara aneh yang
tertangkap di telinga Ginanjar adalah seperti suara
harimau, kera, ular, dan entah suara binatang apalagi.
Suara itu semakin lama semakin santar, membuat hati
Ginanjar semakin kebat kebit. "Oh, apakah nasibku harus
mati dipulau ini?" sentak Ginanjar berdesis, seraya
berpaling ke beberapa arah dengan wajah pucat. "Makhluk-
makhluk siluman apalagi yang bakal muncul, yang menjadi
tetamu si Raja Siluman Bangau ini?" berkata Ginanjar
dalam hati. Terperangah Ginanjar ketika mengetahui yang
muncul adalah empat orang kakek tua renta yang
bertampang aneh-aneh. "Bagus! bagus! ternyata kalian
muncul tepat pada waktunya, sobat-sobat yang gagah
perkasa!?" Raja Siluman Bangau telah menyambut
kedatangan mereka ini dengan melompat keatas batu
besar. Lalu perdengarkan suara tertawa terkekeh-kekeh.
"Hihoho.. kita masih belum komplit!" menyambar bicara
seorang kakek bermuka hitam. Kakek muka hitam ini
mencekal sebuah tongkat berkepala ular. "Aku tak melihat
adanya si Raja Siluman Naga! kecuali seorang bocah
ingusan didepanmu! Siapakah dia, sobat Raja Siluman
Bangau?"
Raja-raja Gila 22
Koleksi Goldy Senior
"Benar, sobat Raja Siluman Ular! agaknya dia enggan
datang untuk memperebutkan gelar KETUA Raja-raja Gila
dipulauku ini!" menyahut Raja Siluman Bangau dengan
tersenyum. "Bocah
muda dihadapanku ini adalah seorang bocah yang
kesasar ke pulauku. Menurut katanya dia bernama
NANJAR. Dia murid si Pendekar Bayangan Ki Bayu Sheta
dari lereng gunung Rogojembangan!" jelaskan Raja
Siluman Bangau. "He, anak muda. Apakah kau belum
mengenal mereka ini tetamu-tetamuku yang terhormat?
Mereka adalah si Raja Siluman Kera, Raja Siluman
Biawak, Raja Siluman Harimau dan yang barusan bicara
adalah si Raja Siluman Ular!" berkata sikakek menatap
pada Ginanjar, seraya menunjuk pada orang-orang yang
disebutkannya. "Apa yang kau mau lakukan pada bocah
kesasar ini?" bertanya Raja Siluman Kera seraya melompat
ke depan Ginanjar. Matanya membulat memandang
pemuda itu mengitarinya seperti tengah menaksir barang.
"Heh heh heh ... tampaknya seorang pemuda bertulang
baik. Nguk!... nguk!.. nguk! Dan pantas kalau dia murid si
Bayu Sheta!" Tingkah si Raja Siluman Kera ini memang
benar-benar mirip kera. Hingga hati Ginanjar semakin
kebat-kebit tanpa bisa bicara apa-apa. "Ya! ya grrrr.....dia
bocah yang bertulang baik sempurna! Bagaimana sampai
dia bisa ke sasar ke pulaumu, Raja Siluman Bangau?"
berkata Raja Siluman Harimau seraya melompat. Kakek ini
lebih aneh lagi. Dia mengendus-endus sekujur tubuh
Ginanjar dengan menggereng bagai harimau.
Keringat dingin semakin mengembun ditengkuk
Ginanjar. Sementara si Raja Siluman
Raja-raja Gila 23
Koleksi Goldy Senior
Biawak cuma memilin-milin kumisnya tak beranjak dari
tempat dia berdiri. Tapi dia ikut buka suara. "Benar, Sobat
Raja Siluman Bangau. Ceritakanlah bagaimana sampai
bocah ini datang ke pulaumu. Dan yang ingin kutahu
adalah akan kau apakan bocah ini setelah berada
ditempatmu?" Raja Siluman Bangau segera tuturkan prihal
pemuda itu secara singkat. "Hehehehe... seperti tadi telah
kukatakan pada pemuda ini, penentuan mati hidupnya
adalah pada hari ini. Kalau dia mampu menghadapi
seranganku selama 100 jurus, maka dia boleh menetap di
pulauku, dan terhindar dari kematian! Tapi bila dia ternyata
tak mampu, maka kematianlah yang akan dihadapinya!"
berkata Raja Siluman Bangau dengan tegas. Keempat
kakek itu jadi manggut-manggut menatap Ginanjar seolah
menaksir apakah bocah muda itu mampu menghadapi si
Raja Siluman Bangau sampai 100 jurus?. "Lalu apakah kau
akan undurkan puncak acara kita?" berkata Raja Siluman
Kera dengan garuk-garuk kepala. "Hehehe ... tentu saja!
setelah selesai urusanku dengan pemuda ini, kita akan
memulai adu kesaktian untuk mendapatkan gelar KETUA
dari Raja-Raja gila diantara kita!"
"Baik! aku si Raja Siluman Kera menerima usul-mu!
Tapi bagaimana akan syah gelar Ketua,
kalau si Raja Siluman Naga tidak muncul?" sambar
Raja Siluman Ular. "Orang terakhir yang menang akan
berhadapan dengan Raja Siluman Naga! Dan hal itu dapat
dilakukan kapan saja!" berkata Raja Siluman Bangau.
Semua kakek itu menjadi manggut-manggut. "Nah! kalian
harap menyingkir dulu. Aku akan selesaikan urusanku
dengan anak muda ini!" berkata lagl si kakek. "Baik! baik!"
seraya menyahut, Raja Siluman Kera telah melompat
mendahului untuk menyingkir ke sisi. Segera saja yang lain
Raja-raja Gila 24
Koleksi Goldy Senior
mengikuti. "Hehehe hahaha ... kita akan menonton
pertarungan seru yang jarang terjadi!" berkata Raja
Siluman Harimau sambil mengaum, lalu melompat keatas
batang kayu rebah. Disana dia duduk mendekam dengan
mulut menyeringai. "Baik! aku akan hadapi kau Raja
Siluman Bangau. Tak usah sampai 100 jurus, sampai 1000
juruspun tetap akan aku layani!" tiba-tiba Nanjar telah
berteriak lantang, hingga suaranya berkumandang di
tempat yang lengang itu. Tentu saja kelima orang kosen
yang aneh itu jadi melengak. Terlebih-lebih si Raja Siluman
Bangau. Sepasang matanya jadi mendelik menatap
pemuda itu. "Bocah edan! Belum sampai sepuluh juruspun
aku kira kau sudah mampus. Apakah otakmu telah miring
menantangku demikian rupa?" bentak si Raja Siluman
Bangau.
Akan tetapi kata-kata Nanjar justru mendapat
sambutan hangat dari keempat "Raja" itu. "Hehehe ....
hoho____nguk! nguk! Bagus sekali. Aku mendukungmu,
bocah lereng Rogojembangan! Aku yakin kau pasti
menang!" teriak si Raja Siluman Kera dengan melompat-
lompat. "Walah! Ini pertandingan seru! aku pegang sibocah
edan ini!" teriak pula si Raja Siluman Harimau dengan
menggeram. "Kek ... kek .... kek____aku tak akan bertaruh
sama denganmu" —00O00— "Bocah ini berani sesumbar
tentu punya ilmu tinggi. Bukankah dia murid di Pendekar
Bayangan yang namanya harum diseantero Pulau Jawa?"
berkata si Raja Siluman Biawak. Tapi walaupun demikian
ternyata masing-masing keempat kakek itu punya jalan
pikiran sendiri-sendiri. Ternyata keempatnya diam-diam
amat menyenangi pada pemuda bernama Nanjar itu.
Langit cerah tak berawan. Semilir angin laut menerpa
jubah si Raja Siluman Bangau, yang menatap tajam anak
Raja-raja Gila 25
Koleksi Goldy Senior
muda dihadapannya: Tiba-tiba kakek ini perdengarkan
suara aneh mirip suara bangau. Tubuhnya melesat
keudara setinggi 10 tombak. Hebat gerakan kakek ini,
karena selanjutnya tubuhnya seperti bisa terbang.
Melayang diudara mengitari Nanjar yang berdiri gagah
dengan kuda-kuda yang kokoh. Siap menghadapi segala
kemungkinan. Apakah yang membuat Nanjar nekat
sesumbar? Ternyata semua itu adalah berdasarkan
dukungan keempat kakek.
–––––––––
6
Nanjar sendiri berpendapat tak akan mampu
menghadapi Raja Siluman Bangau. Tapi entah mengapa
dia merasa yakin kalau keempat kakek pendukungnya itu
pasti akan menolongnya bila dia dalam keadaan terdesak,
Hal itulah yang membuat dia menjadi nekat! Disamping
diam-diam dia amat terkejut karena telah berjumpa dengan
orang-orang kosen yang baru didengar namanya di pulau
itu.
Raja Siluman Bangau menerjang dengan hebat.
Sepasang lengannya bagai patuk bangau saja layaknya
telah meluncur deras mematuk. Patukan itu menimbulkan
hawa panas yang menerjang terlebih dulu. Nanjar
tersentak kaget, Barusan dia terperangah melihat tubuh si
Raja Siluman Bangau yang dapat 'terbang" memutarinya.
Tahu-tahu kini diserang secara mendadak. Namun detik itu
dia telah melompat
Raja-raja Gila 26
Koleksi Goldy Senior
menghindar. Tak dinyana gerakan si Raja Siluman
Bangau tidak sampai disitu saja. Kakinya menotol tanah.
Dan tubuhnya kakek itu kembali melambung dan terbang
mengejarnya. Patukan-patukan ganas kembali bertubi-tubl
menerjangnya. Pemuda ini kertak gigi. Dalam keadaan
demikian Nanjar benar-benar memeras otak untuk dapat
bertahan atau menghindar serangan, Kembali dia
berkelebatan melompat menghindar dari terjangan ganas
itu. Hal demikian berlanjut terus sampai sepuluh jurus. Dan
Nanjar selalu dapat menghindari serangan. Keempat kakek
itu ternyata mempunyai tingkah macam-macam. Ada yang
berteriak "Bagus ... !" sambil berjingkrak. Ada yang
bertepuk tangan sambil berteriak-teriak. "Lompat ke kiri,
buang tubuh ke belakang! Merangkak sambil nungging !
Hahaha ... heheh ...bagus!" Yang berteriak-teriak ini tak lain
dari si Raja Siluman Kera. Saat tadi sebenarnya Nanjar
telah terdesak. Tapi mendengar "aba-aba" si Raja Siluman
Kera, tanpa disadari dia menuruti. Disamping heran juga
girang hati Nanjar, karena dia berhasil menghindari
serangan patukan-patukan ganas barusan. Tentu saja
teriakan-teriakan si Raja Siluman Kera membuat si Raja
Siluman Bangau jadi mendelikan mata. Diam-diam dalam
hati dia memaki. "Keparat, kunyuk tua itu. Mengapa dia
mengajari si bocah muda ini?" Desisnya kesal.
"Jaga serangan!" tiba-tiba si Raja Siluman Bangau
membentak. Kali ini dia merubah serangan yang lain dari
serangan sepuluh jurus tadi. Lengannya tidak saja
mematuk, tapi juga mengibas. Kibasan lengan jubahnya
menimbulkan angin santar yang menerjang Nanjar. Tapi
bukan angin biasa. Melainkan angin yang berhawa panas.
Angin panas menderu menerjang pemuda itu. Gerakan si
Raja Siluman Bangau kali ini membuat Nanjar kembali
Raja-raja Gila 27
Koleksi Goldy Senior
terpukau. Karena belum lagi serangan tiba, tubuh kakek itu
telah lenyap entah kemana. Tahu-tahu datang lagi angin
panas dari arah lain yang saling susul menerjang kearah
Nanjar. Kiri, kanan muka belakang seperti telah dibentengi
oleh terpaan angin panas yang menghalangi jalan untuk
melompat. Dalam keadaan terdesak itu, Ginanjar cuma
bisa pejamkan mata. Tapi tiba-tiba terdengar suara
bentakan mendesing ditelinganya. "Lompat keatas, bocah
gendeng! apa kau mau mampus?" Berbareng dengan
membuka kelopak matanya Najar telah turuti bentakan
bernada perintah itu. Terasa angin panas bersiutan
dibawah kakinya. Saat itu terdengar suara bentakan si Raja
Siluman Bangau. "Bagus!" Dan tiba-tiba saja manusianya
telah berada diudara tepat dihadapannya. ''Terimalah
kematianmu, bocah muda!" Dibarengi bentakan patukan
ganas menyambar leher pemuda itu.
Empat butir batu kerikil meluncur pesat ke arah si Raja
Siluman Bangau. Terkejut bukan main kakek ini. Kalau dia
teruskan serangan untuk merenggut jiwa bocah muda itu,
mungkin dia sendiri akan mengalami hal yang sama
dengan nasib pemuda itu. Karena empat butir batu kerikil
itu justru tengah mengancam jiwanya. Raja Siluman
Bangau cepat ambll keputusan. Dia batalkan serangan
dengan segera. Kedua lengannya digunakan untuk
menyampok mental empat batu kerikil itu dengan kibasan
lengan. Tubuhnya sendiri berjumpalitan diudara dengan
gerakan cepat. Dilain saat dia sudah dapat menyelamatkan
diri dari serangan empat batu ke-rikil yang mengandung
maut, dan dikejap lain dia sudah jejakkan kaki kembali ke
tanah. "Setan bangkotan! mengapa kalian merecoki
urusanku?" bentak si Raja Siluman Bangau dengan mata
melotot. Akan tetapi bentakannya disambut dengan suara
Raja-raja Gila 28
Koleksi Goldy Senior
tertawa terkekeh-kekeh. "Hehehe ... hehe... kami terpaksa
merecokimu, tua bangka Raja Siluman Bangau. Karena
kami tak ingin kau membunuh bocah muda itu." berkata
Raja Siluman Ular dengan mendesis. "Benar apa yang
dikatakan sobat kami itu. Akupun menyayangi kalau dia
terbunuh!" menimpali si Raja Siluman Biawak.
"Nguk! ...Nguk! ... betul, sobat Raja Siluman Bangau.
Kukira sebaiknya dia diambil murid. Dan orang pertama
yang akan mengambil
murid adalah aku sendiri" Raja Siluman Kera ikut
bicara dengan melompat-lompat dan garuk-garuk kepala
dengan cengar cengir. "Aku setuju! aku setuju! Grrr...
haummmmm!" sahut si Raja Siluman Harimau sambil
menggeram menyerlngai. Mendengar kata-kata semua
"Raja" itu, Raja Siluman Bangau jadi plototkan matanya
kian melebar. "Baik! baik!'' berkata kakek ini dengan
mendongkol. "Kalau begitu terserah dengan keputusan
kalian. Tetapi dengan persyaratan, bocah itu kelak menjadi
wakil kalian untuk menghadapiku pada pertarungan
perebutan gelar KETUA Raja-Raja Gila yang akan diundur
lagi. Masa pengunduran itu cuma sebatas dua tahun. Jadi
bulan satu dua tahun dimuka kalian tak berhak apa-apa
lagi atau ikut campur urusan pertarungan! Bagaimanakah?"
ujar Raja Siluman Kera dengan suara lantang. Sejenak
tampak ke empat kakek sating pandang dengan kawannya.
Lalu bisik-bisik berunding. Tak lama mereka telah punya
keputusan Raja Siluman Keralah yang buka suara. "Kami
semua telah sepakat untuk menyetujui usulmu, sobat Raja
Siluman Bangau. Akan tetapi juga dengan persyaratan, kau
tak akan mengganggu kami selama satu tahun ini kami
akan berdiam dipulaumu!"
Raja-raja Gila 29
Koleksi Goldy Senior
"Jangan khawatir! Selama kalian bersifat ksatria dan
tak merusak pulau, silahkan kalian
berdiam di tempatku!" Selesai berkata Raja Siluman
Bangau melompat setinggi sepuluh tombak. Dan tubuhnya
berjumpalitan di udara. Kejap berikutnya bagaikan burung
bangau yang bentangkan sayapnya Raja Siluman Bangau
telah melayang ke atas bukit. Selanjutnya lenyap tak
kelihatan lagi. Pulau itu memang luas, dan di daratan pulau
ada terdapat tiga buah bukit yang penuh dengan semak
belukar. Adapun Nanjar yang sejak tadi berdiam diri
mendengarkan pembicaraan, jadi tersentak girang bukan
alang kepaiang. Nasibnya ternyata amat beruntung dapat
berjumpa dengan keempat kakek aneh itu. Tak ayal dia
telah melompat kehadapan mereka seraya menekuk lutut.
"GURU...! murid menghaturkan sembah, dan
mengucapkan terima kasih atas kerelaan hati kalian
mengangkatku menjadi muridmu!" berkata Nanjar dengan
suara tergetar lantang, karena luapan kegembiraannya.
Keempat kakek itu saling pandang sesama kawan. Tiba-
tiba sama-sama perdengarkan suara tertawa gelak-geflak.
Hingga ramailah kesenyapan di pulau itu oleh suara
tertawa terkekeh-kekeh yang ditimpali dengan suara-suara
aneh yang mirip suara ular, kera, harimau dan Biawak yang
mendesis-desis. "Bangunlah, muridku! Mulai hari ini kau
adalah murid si Empat Raja Gila. Dan hari ini pula kau
telah resmi menjadi murid kami!" berkata Raja Siluman
Kera dengan menyeringai dan melompat-lompat.
"Hohoho ... grrrr! betul, bocah! Nasibmu beruntung.
Memang aku telah berniat mengangkat seorang murid.
Grrr.....haummmmmmmm! Nah! sebagai seorang murid
kau harus mentaati setiap perintah gurunya. Untuk
resminya kau menjadi muridku, kau harus mencium dan
Raja-raja Gila 30
Koleksi Goldy Senior
menjilat pantatku! Hayo segera kau Iakukan!" berkata Raja
Siluman Harimau dengan menyeringai. "HAH ... ? mencium
dan menjilat pantat gu ... guru?" terperangah Nanjar
dengan mata membelalak. "Betul. Hayo cepat Iakukan!"
teriak Raja Si-luman Harimau dengan serta merta
membuka celananya. Lalu membelakangi pemuda itu
sambil menunggingkan pantatnya.
–––––––––
7
Seumur hidupnya Nanjar baru mengalami hal itu. Tentu
saja membuat wajah pemuda ini menjadi merah jengah
memandang ke arah pantat bugil si kakek Raja Siluman
Harimau yang menungging di hadapannya.
Nanjar agaknya sudah kepalang untuk mau melakukan
apa saja, asal dia bisa belajar ilmu pada keempat kakek
edan itu. Tiba-tiba dia telah berkata. "Baik, guru... !" Seraya
maju
melangkahkan kaki, Nanjar siap mencium dan menjilat
pantat sikakek yang keriput itu. Tapi tiba-tiba..."Raja
Siluman Harimau tua bangka! Hari ini bukan giliranmu
memberi perin-tah!" WHUUKK... ! Nguk! nguk! ... singkirkan
pantatmu, kakek peot!" Yang berteriak adalah si Raja
Siluman Kera. Dan berbareng dengan kata-kata
hentakannya, mendadak tangan si Raja Siluman Kera
mulur menjadi panjang. Whuttt! Nyaris saja pantat si Raja
Siluman Harimau kena cengkeraman tangan si Raja
Siluman Kera, kalau dia tak segera elakkan diri dengan
melompat. "Grrr!" menggeram Raja Siluman Harimau,
hingga jenggotnya yang lebat itu bergerak dan bergoyang-
Raja-raja Gila 31
Koleksi Goldy Senior
goyang. Namun dia tidak marah dengan sikap si Raja
Siluman Kera, selain buru-buru ikatkan lagi tali kolornya,
dengan bersungut-sungut. Sementara kedua kakek Raja
Siluman Ular dan Raja Siluman Biawak tertawa terkekeh-
kekeh. "Hahaha..... hehehe ...hari ini adalah giliran si Raja
Siluman Kera yang berhak memberi perintah, sobatku! Kau
harus bersabar menunggu giliran!" berkata Raja Siluman
Biawak dengan tergelak-gelak dan leletkan lidahnya.
"Hmmm baik!" menyahut Raja Siluman Harimau. "lalu
kapankah giliranku? Sebaiknya ditentukan sekarang, siapa-
siapa yang menjadi giliran setelah si Raja Siluman Kera...!"
berkata kakek Jembros ini dengan menggeram.
"Ya, ya! itu usul yang bagus. Sebaiknya diadakan
undian untuk menentukan siapa giliran selanjutnya!"
berkata Raja Siluman Ular. Demikianlah! sedikit kericuhan
terjadi diantara keempat kakek dari Raja-Raja Gila itu.
Akan tetapi setelah diadakan undian, merekapun mendapat
masing-masing giliran, juga ditentukan waktu lamanya
menggembleng pemuda itu. Yaitu masing-masing selama
enam bulan. Tak ada rasa gembira yang dialami Nanjar
selain pada waktu itu. Nanjar merasa nasibnya amat
beruntung dapat tiba di pulau itu, dan berjumpa dengan
para Raja aneh yang bakal menjadi gurunya. Dengan
demikian dia akan berhasil menjadi seorang tokoh
persilatan yang kelak mempunyai nama besar di dunia
persilatan. Selain itu pula dia dapat membalaskan
dendamnya pada si pembunuh gurunya Ki Dharma
Tungga. Walau dia belum berterus terang bahwa dia
pernah menjadi murid Ki Dharma Tungga yang menjadi
Ketua kaum Rimba Hijau golongan putih itu. Dan hari itu
juga. Nanjar sudah siap menerima petunjuk dan perintah
apapun dari Raja Siluman Kera untuk mempelajari ilmu-
Raja-raja Gila 32
Koleksi Goldy Senior
ilmu yang bakal diturunkan si kakek aneh mirip kera itu
padanya. Tiga kakek berkelebatan pergi untuk masing-
masing mengundurkan diri sambil menunggu tibanya waktu
giliran mereka masing-masing.
Kemauan keras serta tekad yang bagaikan baja untuk
mengeruk ilmu-ilmu kedigjayaan dari
Empat Rajat Gila, membuat Nanjar menjadi orang yang
cerdas otaknya. Setiap pelajaran dari Raja Siluman Kera
cepat sekali diserapnya. Dan dalam waktu enam bulan, dia
sudah menguasai ilmu silat Kera. Tentu saja si Raja
Siluman Kera amat berbesar hati, dan memuji kecerdasan
otak Nanjar. Hingga dihari terakhir sikakek mirip kera itu
berkata padanya. "Nanjar, muridku. Hari ini adalah hari
terakhir kau berguru padaku. Tiga pukulan sakti yang telah
berhasil kau pelajari tak boleh kau gunakan jika tidak
menghadapi musuh yang ilmunya melebihi di atas tingkat
kepandaianmu. Selain itu kau harus menjaga nama baikku,
dengan menjunjung tinggi kebenaran dalam setiap
tindakan. Setelah ini kau segera akan mempelajari jurus-
jurus ilmu silat ular dari sobatku si Raja Siluman Ular!"
"Terima kasih, guru. Murid akan mentaati apa-apa yang
menjadi pesan dan wejangan guru. Hamba telah siap untuk
mempelajari ilmu silat ular!" sahut Nanjar dengan
menunduk hormat dihadapan gurunya. "Bagus! nguk! nguk!
nguk! hehehe... nah! aku segera akan pergi sementara dari
sini, sampai kelak datang hari pertarungan perebutan gelar
KETUA Raja-Raja Gila!" Selesai berkata si kakek mirip
kera itu melompat ke atas dahan pohon. Dan lenyap dalam
sekejap mata.
Raja-raja Gila 33
Koleksi Goldy Senior
"Ah, guru...! betapa besar budimu menggembleng aku
di pulau ini. Walaupun waktunya amat singkat, tapi serasa
aku tak dapat
berpisah denganmu... " berkata Nanjar menggumam
sendiri. Saat yang dinanti nanti Nanjarpun tiba, dengan
datangnya Raja Siluman Ular yang menjadi giliran kedua.
Nanjar menjura hormat dihadapan kakek kurus tinggi itu
seraya berkata. "Guru! aku telah siap untuk menerima
petunjukmu!" Tertawa menyeringai si Raja Siluman Ular.
Tongkatnya tiba-tiba meluncur ke arah batok kepala
pemuda itu... Gerakan menghantam itu adalah di luar
dugaan Nanjar. Akan tetapi sambaran angin halus terasa
meniup ubun-ubun kepalanya. Membuat dia cepat tersadar
akan ancaman bahaya maut. Seraya berteriak. "Nguk!
nguk! nguk!" Nanjar telah lompat menghindar. Gerakan
melompatnya justru lebih cepat dari sambaran tongkat si
Raja Siluman Ular. Bahkan tahu-tahu dia sudah
menggelinding ke belakang si Raja Siluman Ular.
Mendengus kakek ini. Tiba-tiba... Hsss! hssss! hssss! Tiga
sambaran beruntun menyerangnya. Itulah jurus yang
sangat berbahaya. Tongkat ular si kakek bagaikan bermata
delapan, dapat melihat kemana arah tubuh Nanjar
melompat dan menggelinding. Terkesiap Nanjar melihat
tiga serangan beruntun. Namun lagi-lagi dia berhasil
loloskan diri dari maut, dengan bergerak lincah
menghindari serangan.
Serangan-serangan selanjutnya berdatangan silih
berganti. Nampaknya Nanjar
telah menguasai ilmu melompat yang mahir. Gerakan-
gerakan melompat dari jurus-jurus kera hasil yang dipelajari
dari si Raja Siluman Kera langsung digunakan. Kira-kira
Raja-raja Gila 34
Koleksi Goldy Senior
sepuluh jurus, si kakek Raja Siluman Ular hentikan
serangannya. "Bagus! kau telah mirip dengan si Raja
Siluman Kera, bocah! Cukuplah untuk pembukaan pertama
ini aku mengujimu!" berkata kakek ini. "Hahaha...kukira
guru mau membunuhku!?" berkata Nanjar sambil cengar-
cengir dan garuk-garuk kepala tidak gatal. Lalu
berjingkrakan sambil melompat-lompat. Kelakuan Raja
Siluman Kera itu ternyata benar-benar telah diwarisi
pemuda itu. "Hahaha... hehehe... mari kau ikuti aku,
bocah!" berkata Raja Siluman ular, seraya melom-pat ke
atas dahan pohon kelapa. Lalu dengan gerakan gesit
menggelosor hingga sampai ke puncak pohon. Gerakan
tak ubahnya bagaikan gerakan ular. Nanjar terperangah
melihat. Dia langsung melompat untuk menyusul. Tentu
saja dia gunakan cara gerakan kera untuk memanjat
batang pohon kelapa itu. Akan tetapi terbelalak mata
Nanjar karena batang pohon itu mendadak roboh. Justru
disaat dia sudah berada di atas batang yang paling puncak.
Dilihatnya si Raja Siluman Ular tak kelihatan duduk di
pelepah daun seperti tadi dilihatnya.
"Wuuaaa. !? teriak Nanjar, ketika tubuhnya meluncur
dengan punggung terlebih dulu berikut batang pohon yang
dipeluknya. Nanjar cuma merasa tengkuknya disambar
orang. Selanjutnya dia sudah jejakkan kaki di tanah dengan
perlahan. Ketika itu pandangan matanya tertuju pada
batang pohon kelapa yang baru saja ambruk ke tanah
dengan batang yang hancur dan kulit pohon yang
mengelupas. Ketika dia menoleh kebelakang, yang tampak
adalah si Raja Siluman Ular yang tertawa mendesis
terkekeh-kekeh. "Hsssy... heh heh heh ...nyaris kau
tertimpa batang pohon kelapa itu, bocah! Kalau kau
gunakan jurus Ular Meliuk Menampar Mega, tentu kau
Raja-raja Gila 35
Koleksi Goldy Senior
akan dapat selamatkan diri dengan mudah!" berkata kakek
itu. Membelalak mata pemuda itu. Serta-merta dia sudah
jatuhkan diri bertutut di hadapan si Raja Siluman Ular.
"Guru.. .! oh, ajarilah aku jurus ilmu yang hebat itu!" berkata
Nanjar dengan suara lirih penuh harap.
"Hsssy....hehehe...tentu! tentu, bocah muridku!" ujar kakek
ini dengan tersenyum. Mari! kita berlatih di bukit sebelah
barat itu!" katanya lagi seraya mengangkat bangun Nanjar.
Berkelebatanlah dua sosok tubuh ke arah bukit yang
berada di sisi pantai itu, diiringi suara tertawa si Raja
Siluman Ular yang semakin samar. Sesaat dua sosok
tubuh itu pun lenyap di balik tebing.........................
–––––––––
8
WAKTU berlalu bagaikan anak panah....masa dua
tahun itupun berlalu sudah. Matahari hari itu bersinar terik.
Menyinari air laut yang menggelombang, menimbulkan
pantulan cahaya yang menyilaukan mata. Sebuah perahu
sampan tampak meluncur pesat ketengah laut. Seorang
laki-laki bertudung gunakan dayungnya membantu
mengayuh, hingga perahu kecil itu bagaikan melayang saja
di atas air. Meluncur dengan pesat membelah gelombang.
Di ujung perahu tampak duduk seorang gadis berpakaian
laki-laki. Gadis itu tak mengenakan tudung. Rambutnya
dikepang dua. Menatap ke depan ke arah cakrawala.
Hempasan badan perahu yang melambung-lambung itu tak
membuatnya merasa takut. Bahkan dengan wajah berseri,
sebentar-sebentar dia tertawa. Siapakah gerangan kedua
orang itu? Ternyata mereka tak lain dari si Raja Pengemis
Raja-raja Gila 36
Koleksi Goldy Senior
dan muridnya yang bernama Ranggaweni. Akan ke
manakah tujuannya kedua orang guru dan murid ini?
Marilah kita ikuti pembicaraannya. "Kakek! di depan tak
ada tanda-tanda adanya sebuah pulau. Bagaimana
mungkin kau terus mendayung tanpa belokkan arah.
Apakah kau tak salah arah?" bertanya gadis itu.
"Heheheh...anak manis! aku tak salah arah. Kau
perhatikan saja, tak lama lagi di depanmu akan tersembul
sebuah pulau!" sahut sikakek dengan tertawa mengekeh.
Lengannya tak berhenti mengayuh. "Lho? aneh! apakah
pulau itu bisa timbul dari dalam laut?" bertanya lagi gadis
itu. "Anak manis! tahukah kau bahwa dunia ini bulat?"
tanya sikakek. Gadis itu menggeleng. "Kalau percaya atau
tidak kalau dunia ini bulat?" tanya lagi si Raja Pengemis.
"Aku percaya kalau kau telah membuktikam" menyahut si
gadis. "Haih! Ranggaweni... Ranggaweni! Nah, tatapkan
matamu ke depan. Nanti akan tersembul sebuah pulau.
Pulau itu bukan muncul dari dasar laut, akan tetapi
memang tak kelihatan oleh kita. Karena dunia ini bulat.
Seandainya rata, tentu akan terlihat oleh kita walaupun
berada jauh sekali!" Raja Pengemis berikan penuturan
pada muridnya. Gadis itu tak memberi jawaban, karena
pandangan matanya terus menatap ke arah cakrawala.
Selang tak lama segera tersembul sebuah pulau yang baru
kelihatan ujungnya. Makin lama makin besar. Hingga
akhirnya terlihat keseluruhannya. "Wan! betul, kek! Itu!
lihatlah! sebuah pulau yang amat indah...!" teriak si gadis.
Si Raja Pengemis tersenyum melihat si gadis muridnya
itu berjingkrak kegirangan. Tiba-tiba perahu melaju lebih
cepat. Gadis itu torlonjak
Raja-raja Gila 37
Koleksi Goldy Senior
kaget. Namun cepat-cepat dia berpegangan kuat pada
pinggiran perahu. "Hati-hati kau kecebur, bocah manis!"
mengekeh tertawa sikakek. Sementara perahu meluncur
bagaikan terbang. Sementara itu di pulau yang tengah
ditujunya....
Dua sosok tubuh tengah bertarung seru. Saling pukul
dan saling hantam. Sebentar-sebentar terdengar suara
bentakan dan teriakan tertahan. Batu dan pasir bertaburan.
Tampaknya pertarungan itu bukan pertarungan biasa.
Karena hawa panas dan dingin silih berganti akibat hawa
pukulan yang mengandung tenaga dalam tingkat tinggi.
Yang bertarung seru ternyata adalah seorang kakek
berperawakan jangkung kurus melawan seorang pemuda
berusia sekitar dua puluh tahun lebih. Dialah Nanjar alias
Ginanjar yang bertarung melawan si Raja Siluman Bangau.
Sementara empat orang kakek berdiri mengitari arena
berlaga itu dengan diam terpaku. Mareka adalah Raja
Siluman Kera, Raja Siluman Ular, Raja Siluman Biawak
dan Raja Siluman Harimau.
Keempat kakek ini memperhatikan setiap gerakan
muridnya dengan hati kebat-kebit. Kemenangan dan
kekalahan mereka terletak di tangan si pemuda muridnya
itu untuk memperebutkan gelar Ketua Raja Gila. Enam
puluh jurus telah berlalu. Nanjar kerahkan kekuatan dan
segenap ilmunya untuk merobohkan lawan. Ilmu silat Kera,
Ular, Harimau
telah dipergunakan untuk menangkis dan balas
menyerang. Tapi Raja Siluman Bangau memang berilmu
tinggi, di samping dia dapat "terbang", dan sekali kali
mematuk ganas. Hempasan lengan jubah kakek itu
laksana taufan. Kalau pemuda itu tidak cekatan, dia sudah
Raja-raja Gila 38
Koleksi Goldy Senior
celaka sejak tadi. Pada jurus keseratus, tampak si kakek
Raja Siluman Bangau merubah gerakan serangannya. Kini
dia gunakan gerakan menyambar yang dibarengi dengan
pukulan ganas. Terperangah Nanjar, karena saat itu dia
agak lengah, serta tak menduga lawan robah serangan
dengan cara menyambar. WHUUUKK! "Aiyaa...!" berteriak
pemuda itu. Tubuhnya bergulingan dan berjumpalitan
beberapa kali. Dengan gerakan 1000 Ekor Kera
Mendobrak Gunung dia lakukan serangan menghantam
dengan kedua telapak tangan. Plak! Terdengar suara
benturan keras, ketika kedua telapak tangan beradu. Raja
Siluman Bangau ternyata telah memapakinya.
Terdengarlah teriakan tertahan dari pemuda lereng gunung
Rogojembangan itu. Tubuhnya terlempar ketengah laut.
BYURRRR...! Tak ampun lagi tubuh Nanjar telah tercebur
ke dalam air. Empat kakek itu jadi terperanjat. Masing-
masing terperangah, bahkan si Raja Siluman Kera telah
mengeluh. "Ah, muridku! Nasibmu naas.....Kau pasti
tewas....!"
"Heheheh... Raja Siluman Bangau tetap nomor satu!"
teriak kakek yang baru berhasil mempecundangi lawan
bertarungnya itu. Tiba-tiba tubuhnya meletik ke Udara. Dan
seraya perdengarkan suara mirip bangau, tubuhnya
melayang "terbang" menyusul ke arah terceburnya Nanjar.
Mata kakek ini jelalatan mencari-cari tubuh pemuda itu di
antara alunan ombak. Tiba-tiba air di bawahnya
menyemburat, bersama munculnya sosok tubuh Nanjar
yang meluncur kearahnya. Begitu terkejut si Raja Siluman
Bangau melihat kemunculan pemuda itu secara mendadak,
tahu-tahu kakinya telah kena tersambar lengan pemuda itu.
"Aaah...!?" tersentak kakek ini ketika satu betotan kuat
menarik ke bawah. Dan... BYURRR! Lenyaplah seketika
Raja-raja Gila 39
Koleksi Goldy Senior
tubuh si Raja Siluman Bangau ke dalam laut. Empat kakek
itu sama-sama belalakkan mata, tapi dengan senyum
tersungging di bibir. Keempatnya saling pandang. Dan
serentak mereka telah memburu ke tepi pantai. Air laut
mendadak jadi bergelombang, bergulung-gulung. Pertanda
di bawah air tengah terjadi pertarungan seru antara kedua
tokoh tua sakti dan pemuda itu. Keempat kakek ini tak
lepas menatap ketempat bergolaknya air laut dengan hati
berdebar. Mampukah Nanjar menjatuhkan si Raja Siluman
Bangau?
Raja Siluman Ular, Raja Siluman Kera dan Raja
Siluman Harimau tampak menahan napas untuk melihat
hasil pertarungan. Siapakah yang akan berhasil menjadi
pemenang? Kecuali si Raja Siluman Biawak yang tampak
tenang-tenang saja. Karena dia tahu, kalau Nanjar tengah
gunakan ilmu biawaknya untuk mengadakan pertarungan
di dasar laut. Hal itu menjadi kelemahan si Raja Siluman
Bangau, karena dia tak mungkin dapat bertahan lama di
dalam air. Ternyata Raja Siluman Bangau memang tokoh
yang diakui kehebatannya. Dia berhasil melepaskan
cekalan kuat tangan Nanjar. Dan memberontak untuk
melesat 'terbang" ke luar dari permukaan. Akan tetapi
kakek ini keliru kalau dia telah terbebas dari bahaya,
karena Nanjar telah sambar lagi kaki si kakek. Ketika air
menyemburat ke atas permukaan yang dibarengi
meluncurnya tubuh kakek itu ke udara, Nanjar ikut terbawa
'terbang". Empat kakek terperangah melihat dua manusia
itu melayang-layang di udara. Seolah-olah pemuda itupun
ikut 'terbang" dibelakang si kakek. Akan tetapi pada
putaran kedua di atas permukaan laut itu, Raja Siluman
Bangau Jelah menghantamkan telapak tangannya ke arah
si pemuda Whuuuuuk!
Raja-raja Gila 40
Koleksi Goldy Senior
Angin deras menghantam. Sebelum terkena sasaran,
terpaksa Nanjar lepaskan celakanya. Akibatnya tubuhnya
melambung di udara. Dengan
gerakan gesit Raja Siluman Bangau menukik, dan
mendarat di pasir. "Hahaheheheh.. enak sekali rasanya
terbang...! Hei! Raja Siluman Bangau tua bangka! Ayo
bertarung di udara!" Tersentak kaget orang tua ini, dan
memandang dengan mata membelalak. Karena melihat
bocah muda itu justru bukannya tercebur lagi ke laut, tapi
malah melayang-layang seperti bangau di udara, berputar-
putar di atas permukaan air. "Gila? dari mana dia
mendapatkan ilmu terbangku ?" mendesis si kakek dengan
mata dikucak-kucak tak percaya. Tiba-tiba Nanjar menukik
kearahnya. Lengannya bergerak mematuk dahsyat. Itulah
jurus Patukan Bangau Dewa. Terkejut kakek ini bukan
kepalang, karena jurus itu adalah jurus yang dimilikinya.
Dengan berteriak tertahan dia terpaksa jatuhkan dirinya
bergulingan. Tapi Nanjar terus mencecar dengan patukan-
patukan maut yang tiada hentinya. Tubuhnya menyambar-
nyambar laksana bangau yang mengejar mangsanya.
Tentu saja seketika berubah pias wajah sikakek Raja
Siluman Bangau menghadapi serangan-serangan dan
jurusnya sendiri. Bahkan jurus serangan pemuda itu
dibarengi dengan jurus Kera melompat dan harimau yang
menerkam. Terkadang dengan jurus Ular yang dibarengi
dengan desisan keluar dari mulut pemuda itu.
Menghadapi serangan-serangan ini membuat si kakek
tak berayal lagi untuk sebisanya menyelamatkan diri. Akan
tetapi.. Breet! Breeeet! Dan ... Bhukkk! Terdengar teriakan
parau si kakek Raja SBuman Bangau ketika serangkaian
serangan mendadak itu tak berhasil dihindari. Jubahnya
terkoyak dan dadanya terkena hantaman lengan pemuda
Raja-raja Gila 41
Koleksi Goldy Senior
itu. Terlemparlah tubuh si kakek Raja Siluman Bangau ke
udara. Dan jatuh meluncur ke dalam laut.
–––––––––
9
"KEAAAAAK! KEAAAK...!" Terdengar suara mengiyak
di udara. Sebuah bayangan hitam dan amat besar telah
menyambar tubuh si Raja Siluman bangau sebelum
tubuhnya menyentuh permukaan air. Itulah si burung
Rajawali bernama JABUR. Sepasang kakinya telah
mencengkeram tubuh kakek itu. Lalu dengan keluarkan
suara mengiyak tiada henti, burung raksasa itu meluncur
pesat ke atas bukit tertinggi di pulau itu. "Haih! aku telah
mencelakainya...!" teriak Nanjar yang baru saja jejakkan
kakinya ke atas pasir. Pemuda ini tampaknya seperti
menyesali akan kejadian barusan.
Empat kakek itu belalakan mata memandang Nanjar.
Dan serentak berseru sambil berlompatan menghampiri.
"Horeee! kau menang! kau menang! Kita
menaaang....!" teriak si Raja Siluman Kera seraya
melompat dan berjingkrakan.
"Bagus, muridku, kau berhasil mengalahkannya dan
melenyapkan kesombongannya!" berkata Raja Siluman
Harimau. Raja Siluman Biawak dan Ular cuma tersenyum
sambil acungkan jempolnya. Mereka tampak senang atas
hasil pertarungan yang dimenangkan oleh pemuda murid
mereka itu.
Akan tetapi Nanjar justru tak merasa bangga atas
kemenangannya. Dia amat mengkhawatirkan keselamatan
Raja-raja Gila 42
Koleksi Goldy Senior
si Raja Siluman Bangau yang terkena hantaman telak
pukulannya.
''Terima kasih atas sambutan kalian guru-guruku.
Semua itu adalah atas jasa kalian yang membimbingku
dengan ilmu-ilmu yang kalian berikan padaku... " berkata
Nanjar dengan menjura dihadapan keempat kakek.
''Tapi, dari mana kau dapatkan ilmu "terbang" si Raja
Siluman Bangau?" tanya Raja Siluman Kera dengan
menatap tajam Nanjar.
"Hahahaha… aku telah menirunya. Selama bertarung
aku terus menghapal dan mempelajari jurus-jurus serangan
kakek lawanku itu. Bukankah guru sendiri yang memberi
contoh? Bukankah sifat seekor Kera adalah selalu meniru
tingkah laku orang?" sahut Nanjar sambil tertawa.
Mendengar jawaban pemuda itu, Raja Siluman Kera
jadi garuk-garuk kepala. Tiba-tiba dia melompat-lompat
seraya berteriak kegirangan.
"Nguk! nguk! nguk! hehehe... bocah cerdik! bocah
pintar! kau memang bocah hebat!" puji sikakek dengan
membelalakkan mata. "Apakah kau hapal semua jurus-
jurus yang digunakan si Raja Siluman Bangau?" bertanya
si kakek mirip kera itu.
"Hahaha... nguk!" nguk! ... hampir seratus jurus
gerakan dan pukulan si Raja Siluman Bangau telah hapal
diluar kepala" jawab Nanjar dengan tirukan suara kera
mirip gurunya.
"Hebat! hebat!" memuji Raja Siluman Kera dengan
membelalakkan mata. Lalu mengekeh ter-tawa. Sementara
ketiga kakek Raja Siluman Ular, Biawak dan Harimau cuma
bisa belalakkan mata dan menatap kagum pada Nanjar.
Raja-raja Gila 43
Koleksi Goldy Senior
Saat itu di atas puncak bukit tertinggi di pulau itu
tampak si Rajawali raksasa perdengarkan suara mengiyak
tiada henti, dengan berputar-putar di atas bukit. Sejenak
keempat kakek dan Nanjar memandang ke sana dengan
terpukau.
"Guru! mari kita ke sana!" teriak Nanjar tiba-tiba. Dan
tanpa menunggu jawaban lagi, dia sudah mendahului
berkelebatan kearah sana. Keempat kakek sejenak saling
pandang. Namun satu isyarat dari si Raja Siluman Kera
telah membuat mereka setuju untuk menyusul. Serentak
tubuh mereka berkelebatan dari tempat itu.
Apakah gerangan yang terjadi di atas puncak bukit itu?
Ternyata si Raja Siluman Bangau yang telah terluka dalam
akibat serangan pukulan Nanjar, tengah bertarung dengan
seorang laki-laki tua berjubah gemerlapan seperti sisik ular.
Kakek ini berkepala botak. Kumisnya yang putih terjuntai
panjang bagai misai. Di lengan si kakek botak ini tercekal
sebuah medali yang gemerlapan terkena cahaya rnatahari.
Benda itulah yang tengah diperebutkan oleh kedua kakek.
"Pencuri busuk! kembalikan benda itu!" teriak Raja
Siluman Bangau dengan menggembor marah. Dalam
keadaan terluka dan nampak disela bibirnya masih
meneteskan darah dia menerjang si kakek botak dengan
jurus-jurus patukan ganas.
Akan tetapi si kakek botak jubah bersisik perak itu tak
membiarkan dirinya kena serangan yang bisa mencelakai
jiwanya. Dengan lompatan gesit dia berhasil menghindar.
Tiba-tiba dia telah cabut senjatanya untuk menabas. Itulah
sebuah kebutan bergagang perak. Ujung kebutuhan
membersit menabas leher si Raja Siluman Bangau, disertai
bentakan keras.
Raja-raja Gila 44
Koleksi Goldy Senior
"Berangkatlah kau ke Akhirat!"
Whesss...!
"Kaulah yang harus mampus!" balas membentak si
kakek Raja siluman Bangau. Tubuhnya mendadak
melambung ke atas. Kibasan lengan jubahnya menyambar
tubuh si kakek botak. Terhuyung beberapa tindak kakek ini
karena hempasan keras yang menerpa tubuhnya.
Serangan kebutannya telah lolos dari sasaran. Bahkan
dia kini yang berbalik diserang.
Namun si kakek misai panjang itu bukan tokoh
sembarangan. Dengan tiba-tiba dia putarkan kebutannya.
Menderulah angin keras yang membuat batu-batu kecil
beterbangan.
Sejenak terpaku Raja Siluman Bangau. Pusaran angin
yang menggebu itu membuat tubuhnya bergoyang-goyang.
Jubahnya yang telah sobek itu berkibaran. Sementara
darah semakin banyak menetes dan mengalir dari sela
bibirnya. Diam-diam dia telah menghimpun tenaga dalam di
kedua telapak tangan.
Saat mana si kakek botak telah menerjang dengan
bentakan keras. "Kini sampailah ajalmu, Raja Siluman
Bangau yang bodoh!" Dan kebutan maut ditangannya
meluncur deras djbarengi hantaman telapak tangan kearah
batok kepala kakek itu.
"Whuuk! Wheesss! BHLARR!
Ledakan dahsyat terdengar. Benturan kedua tenaga
dalam telah membuat bukit itu serasa bergetar. Tampak
asap hitam dan putih mengepul dari bekas ledakan yang
menimbulkan suara menggeledek itu.
Raja-raja Gila 45
Koleksi Goldy Senior
Kakek botak berjubah sisik perak itu tampak terhuyung
ke belakang beberapa tindak. Wajahnya pucat bagai mayat
tampak dari sela bibirnya mengalirkan darah. Sedangkan si
Raja Siluman Bangau masih berdiri tegak. Sepasang
kakinya amblas sampal sebatas lutut. Dia masih
berdiri tegak tak bergemlng. Tapi apa yang terlihat?
Ternyata jubah si kakek Raja Siluman Bangau telah
hangus terbakar. Kulit muka dan sekujur tubuhnya berubah
hitam. Kakek sakti itu ternyata telah tewas dengan keadaan
tubuh berubah hangus!
Memandang tubuh lawannya tak bergeming, si kakek
botak misai panjang itu tertawa terkekeh.
"Hehehehe ... hehe ... akhirnya kau harus mengakui
keunggulanku, sobat Raja Siluman Ba-ngau. Dan ...benda
pusaka Lambang Ketua Persilatan ini aku yang berhak
memilikinya! Hahahaha…. Hehehehe…."
Terperangah Nanjar ketika dia tiba di atas bukit.
Dilihatnya Raja Siluman Bangau dalam keadaan amblas
kedua kakinya sebatas lutut, tak bergeming lagi. Tubuhnya
berubah hitam hangus. Menatap pada seorang kakek
berkepala botak berkumis panjang bagai misai yang tengah
berdiri dihadapan si Raja Siluman Bangau, semakin
terkejut dia. Karena melihat orang ini mencekal sebuah
medali yang dikenalnya. Ya! itulah medali lambang Ketua
Persilatan milik gurunya Ki Dharma Tungga.
Bersamaan dengan munculnya Nanjar, keempat kakek
itu telah muncul pula di atas bukit. Mereka sejenak tertegun
memandang kehadapannya. Segera saja mereka telah
tahu siapa adanya kakek botak jubah sisik perak itu.
Raja-raja Gila 46
Koleksi Goldy Senior
"Raja Siluman Naga!" teriak mereka terkejut hampir
berbareng.
"Raja Siluman Bangau... !? ha, dia telah tewas?"
gumam si Raja Siluman Kera dengan mata, membelalak.
Tahulah mereka kalau mereka datang terlambat.
Pertarungan baru saja selesai. Dan Sobat mereka si Raja
Siluman Bangau telah melayang jiwanya.
"Hehehe...aku datang bukan berambisi untuk menjadi
ketua Raja-Raja Gila. Tetapi mengincar benda ini!" berkata
si kakek botak yang ternyata adalah si Raja Siluman Naga
adanya, seraya tunjukkan untaian medali ditangannya.
Mata Nanjar bersinar memandang benda itu.
"Dari mana kau dapatkan Medali itu, Raja Siluman
Naga?" berkata Nanjar dengan isi dadanya serasa
bergolak. Segera dia teringat akan gurunya Ki Dharma
Tungga yang telah tewas. Si pembunuhnya sudah dapat
dipastikan adalah orang yang memiliki Medali itu yang telah
direbut dari tangan gurunya.
"Hahahehehe…, benda ini berada di tangan si Raja
Siluman Bangau. Aku telah mencurinya. Aku tak tahu dia
dapat dari mana!" sahut Raja Siluman Naga
Tiba-tiba terdengar suara mengiyak di udara. Dan
sebuah bayangan besar menyambar ke arah kakek kepala
botak ini. Kibasan sayap burung raksasa itu membuat
tubuh si kakek terhuyung. Tahu-tahu si Raja Siluman Naga
berteriak kaget, karena Medali ditangannya telah disambar
paruh si burung Rajawali raksasa.
"Keparat!" memaki kakek botak ini. Tubuhnya
memdadak melesat bagai terbang mengejar sang Rajawali.
Raja-raja Gila 47
Koleksi Goldy Senior
"Mampuslah kau burung keparat!" bentak si Raja
Siluman Naga.
Whuuuukk!......BUK!
"KEAAAAAAKH!" melengking suara burung raksasa itu
ketika hantaman pukulan si kakek botak mengenai sasaran
telak. Ratusan helai bulu berhamburan. Terbang burung itu
jadi limbung. Dan medali yang terjepit di antara paruhnya
telah jatuh meluncur ke bawah.
Raja Siluman Naga tak berayal untuk segera
memburunya. Akan tetapi si Jabur kembali menukik.
Dengan berteriak marah dia menyambar lagi benda itu.
Ternyata gerakan si Rajawali raksasa lebih cepat.
Sepasang kakinya berhasil mencengkeram Medali.
Whuuuukk! Whuuukk!
Raja Siluman Naga ayunkan beruntun dua pukulan.
Menyambarlah uap merah menerpa si burung Rajawali.
Kali ini burung raksasa itu tak mau kena sasaran.
Sayapnya digunakan untuk mengibas. Tubuhnya segara
melambung tinggi. Serangan itu lolos. Tapi sayap burung
Rajawali itu masih kena terserempet angin pukulan.
–––––––––
10
WHUUUKK! WHUUUKK!
Kembali si Raja Siluman Naga menghantam dengan
pukulan yang mengandung maut. Rajawali mengiyak
kesakitan. Sayapnya mengibas. Tubuh-nya melambung
lagi. Tapi hantaman telak lagi-lagi mengenal sasaran.
Raja-raja Gila 48
Koleksi Goldy Senior
Terbang burung itu jadi semakin limbung. Namun dia
melarikan diri dengan Medali yang tak lepas dari
cengkeramannya.
"Burung edan!" memaki Raja Siluman Naga. Kakek
botak ini enjot tubuhnya untuk melesat, mengejar.
Namun Rajawali sudah melayang ke arah laut. Dengan
geram kakek botak ini berhenti. Tapi tiba-tiba lengannya
terangkat, disertai bentakan.
"Mampuslah kau burung edan!"
Whuuuuuussh!!
Angin pukulan jarak jauh telah dilontarkan.
Membersitlah uap merah menyambar si Jabur. Hebat
serangan kakek botak ini. Karena sejauh itu dia masih
mampu mengantamkan pukulannya dengan telak.
BYUURRRR!
Air laut menyemburat ke udara ketika tubuh si Rajawali
raksasa itu terjungkal dan terjerumus masuk ke dalam laut.
Di atas bukit Nanjar memandang dengan mata
membelalak. Sementara si Raja Siluman Naga
membanting kakinya dengan kesal.
"Burung sialan! lenyaplah sudah Medali itu!" gerutunya.
Burung raksasa itu timbul tenggelam di permukaan air.
Tapi tak lama tak muncul lagi. Tewaslah sudah si Jabur
yang bernasib malang itu terkubur di laut:
"Guru! mari kita lihat ke sana!" berkata Nanjar. Akan
tetapi dia tak melihat adanya empat kakek itu berada di
situ.
Raja-raja Gila 49
Koleksi Goldy Senior
"He? kemanakah kalian?" teriak Nanjar. Tubuh pemuda
ini berkelebatan mencari keempat gurunya.
Bahkan Nanjar gunakan ilmu "terbang" Si Raja Siluman
Bangau untuk mencari keempat kakek itu. Namun tetap
saja Nanjar tak menjumpai.
"Haih, kemanakah mereka? Apakah telah
meninggalkan pulau ini?" desis Nanjar seraja menukik
turun
Baru saja dia jejakkan kakinya ketanah, suara tertawa
terkekeh menyambutnya.
"Hehehe ...heheh ... gendeng! Siapakah na-mamu?"
Entah darimana munculnya si kakek Raja Siluman
Naga telah berdiri disitu. Nanjar mundur selangkah.
Sepasang matanya menatap tajam pada kakek botak jubah
sisik itu.
"Hm, apakah kau perlu mengetahui namaku juga?"
balik bertanya pemuda ini.
"Ya! karena kau adalah pewaris ilmu-ilmu si Empat
Raja Gila. Juga pewaris ilmu si Raja Siluman Bangau!"
tukas kakek botak menyeringai.
"Heh…! keempat kakek itu memang guruku, tapi si
Raja Siluman Bangau bukan guruku. Aku tak merasa
diangkat murid olehnya!" berkata Nanjar dengan nada
tandas.
Kakek ini jadi kerutkan keningnya hingga alisnya
bergerak terjungkat keatas. ''Tapi kau punya ilmu 'terbang"
si Raja Siluman Bangau?" berkata kakek ini dengan nada
heran.
Raja-raja Gila 50
Koleksi Goldy Senior
"Hm, aku hanya mencuri ilmunya saja!" sahut Nanjar.
Sementara diam-diam dia menilai si kakek ini. Hatinya
berkata. "Apakah manusia ini tokoh baik-baik ataukah
tokoh jahat?"
Raja Siluman Naga jadi terbengong mendengar kata-
kata Nanjar.
Tapi tak lama dia perdengarkan suara tertawa
terkekeh-kekeh.
"Hahaha ...hehe he ...kau memang bocah aneh! Baru
aku mendengar ada orang mencuri ilmu. Tak apalah kalau
kau tak mau sebutkan siapa namamu. Tapi ketahuilah,
ilmu-ilmu empat orang gurumu ditambah dengan ilmu si
Raja Siluman Bangau masih belum apa-apa dlbandingkan
kehebatan ilmuku!" ujar si kakek diantara derai tawanya
"Buktinya empat orang gurumu sudah angkat kaki dari
pulau ini. Dan kau lihat sendiri si Raja Siluman Bangau itu
sudah mampus berikut burung raksasa piaraannya!"
berkata si kakek.
"Sayang Medali itupun ikut terkubur di dalam laut!"
gerutu si Raja Siluman Naga dengan men-dongkol.
"Eh, kakek Raja Siluman Naga! kuharap kau berikan
penjelasan yang jujur. Apakah Medali itu si Raja Siluman
Bangau yang memilikinya?"
"Mau apa kau tanyakan tentang Medali itu? Kukira
sudah tak ada gunanya lagi!" tukas si kakek dengan mata
melotot.
"Ketahuilah! Medali itu ada hubungannya dengan
urusanku!" berkata Nanjar dengan suara tegas.
Raja-raja Gila 51
Koleksi Goldy Senior
"Hm, hubungan apakah! Setahuku Medali itu milik Ki
Dharma Tungga, yang menjadi Ketua Kaum Rimba
Persilatan!" ujar si kakek.
"Beliau itu adalah guruku!" Nanjar sambar berkata.
"Apakah kata-katamu bisa dipercaya?" bertanya si
kakek.
"Mengapa aku harus berdusta? Guruku kutemukan
tewas dua tahun yang lalu di tempat kediamannya. Aku tak
tahu siapa yang telah membunuhnya. Dan Medali itu yang
setahuku selalu tak pernah lepas dari saku bajunya, telah
lenyap. Aku cuma jumpai jenazahnya yang keadaannya
sangat mengerikan. Tentu saja aku harus mencari siapa
yang telah membunuh guruku itu, di samping mencari
lambang kekuasaan Ketua Rimba Persilatan yang telah
hilang. Itulah sebabnya aku ingin tahu lebih jelas, apakah
kau mengetahui tentang Medali itu, juga peristiwa
terbunuhnya Ki Dharma Tungga!" tutur Nanjar dengan
singkat.
Kakek Raja Siluman Naga ini jadi manggut-manggut
mendengarkan penuturan Nanjar.
"Namaku Nanjar. Lengkapnya Ginanjar. Aku pernah
menjadi murid Ki Bayu Sheta si Pendekar Bayangan
sebelum berguru pada Ki Dharma Tungga. Aku cuma
menemukan sepotong pedang inilah yang menancap di
tubuh jenazah mendiang Ki Bayu Sheta!" Nanjar
perkenalkan diri tanpa diminta. Seraya menunjukkan
potongan pedang yang selalu diselipkan di balik bajunya.
"Apakah kau mengenali pedang ini milik siapa?" tanya
Nanjar.
Raja-raja Gila 52
Koleksi Goldy Senior
Kakek ini tertegun menatap potongan pedang di tangan
Nanjar.
Kesempatan untuk mengungkapkan misteri si
pembunuh gurunya dimanfaatkan Nanjar dengan
mengorek keterangan dari si Raja Siluman Naga.
Saat itu pandangan mata si kakek menangkap adanya
sebuah perahu layar yang meluncur pesat mendekati
pulau. Itulah perahu si Raja Pengemis. Belum lagi
menjawab pertanyaan Nanjar, si kakek botak jubah sisik itu
telah berkelebat memuruni bukit.
"Heii? mau kemana kau kakek…?!" teriak Nanjar. Tak
ayal dia sudah berkelebat mengejar.
Gerakan tubuh Raja Siluman Naga memang luar biasa
cepatnya. Di samping berlari juga dibarengi dengan
melayang bagai 'terbang". Nanjar menyusul dan kerahkan
ilmu larinya yang juga dibarengi dengan gerakan 'terbang".
Hingga dari kejauhan tampak kedua sosok tubuh itu
bagaikan burung-burung aneh tanpa sayap yang saling
berkejaran menuruni bukit.
Sementara itu, si kakek Raja Pengemis telah lakukan
pendaratan ke pulau itu. Tubuhnya melompat ke atas pasir
menyusul si gadis muridnya yang telah melompat terlebih
dulu begitu ujung perahu menyentuh pasir.
"Kakek? Jadi maksudmu pergi ke pulau ini adalah
mencari jejak burung Rajawali raksasa itu? Ah, sayang
sekali ... burung raksasa itu justru sudah tenggelam di laut!"
berkata si gadis.
''Tebakanmu tak salah, muridku. Burung raksasa itu
sudah lama kuperhatikan selalu menuju ke pulau ini. Aku
menduga dia bersarang di pulau ini. Tapi seperti kita lihat
Raja-raja Gila 53
Koleksi Goldy Senior
tadi, burung raksasa itu mengiyak keras lalu terjungkal
masuk laut. Pasti ada apa-apa yang telah terjadi di pulau
ini!" ujar sikakek Raja Pengemis dengan wajah tegang.
Tampaknya si gadis tak begitu memperhatikan kata-
kata gurunya. Karena dia amat tertarik dengan
pemandangan indah di pulau itu.
"Ah, pulau ini amat indah, kek! Bagaimana kalau kita
menetap saja disini? Kalau tak dapat induknya kukira kita
bisa mendapatkan anak burung Rajawali raksasa itu. Telur
yang dieraminya tentu telah lama menetas!" berkata si
gadis seraya melompat-lompat ketengah pulau.
Tiba-tiba mata gadis ini jadi membelalak karena
dihadapannya telah berdiri sesosok tubuh dari seorang
kakek tinggi besar berkepala botak, berkumis panjang
bagai misai. Mengenakan jubah yang ditaburi sisik
berwarna perak, yang tampak berkilatan kena cahaya
Matahari.
–––––––––
11
Belum lagi sempat si gadis bertanya, lengan kakek
botak itu mengibas. Bersyiurlah angin halus menyambar
tubuhnya. Gadis ini perdengarkan teriakan kaget. Karena
tahu-tahu dia rasakan tubuhnya telah kaku tak dapat
digerakkan.
"Ah ...!?'' terperangah si gadis dengan mata
membelalak.
Saat itu terdengar bentakan keras dibelakangnya.
Raja-raja Gila 54
Koleksi Goldy Senior
"Ilmu totokan jarak jauh yang hebat!" Dan berkelebat
sosok tubuh si Raja Pengemis. Lengannya mengibas. Dan
terasa sambaran angin agak keras ke arah tubuhnya.
Sekejap gadis itu rasakan totokan pada tubuhnya telah
terbuka.
"Guru ...!" teriakan gadis itu girang, seraya melompat
ke arah gurunya. Raja Siluman Naga perdengarkan suara
mendengus. Tapi mulutnya memuji.
"Ilmu pembuka jalan darah yang hebat! Hm, Ilmu
kepandaianmu ternyata makin hebat, pengemis rudin!"
berkata kakek ini. Wajahnya tak menampilkan perubahan.
Masih tetap kaku dengan mata menatap tajam pada si Raja
Pengemis.
"Angin apa yang telah meniupmu ke pulau ini, kakek
bangkotan?"
Sambar lagi si kakek kepala botak ini dengan suara
gereng
"Hehehe.. burung Rajawali raksasa itulah yang telah
mengundangku datang ke pulau ini. Tentu saja aku punya
urusan dengan si pemilik burung Rajawali itu. Dia si Raja
Sluman Bangau!" menyahut si Raja Pengemis.
"Kalau itu yang kau tanyakan, orangnya sudah
berangkat ke akhirat!" berkata Raja Siluman Naga.
"Hm, begitukah? Apakah kau yang telah
membunuhnya?" balik bertanya si Raja Pengemis.
"Benar! Boleh aku tahu ada urusan apakah kau dengan
dia?"
Raja-raja Gila 55
Koleksi Goldy Senior
Raja Pengemis tak menjawab. Tapi sinar matanya
menatap tajam pada wajah orang di hadapannya. Seperti
mau membaca apa isi benak kakek botak itu.
"Hm, urusan Medali!" sahut si kakek kurus ini pendek
"Heheh ...hahah ...sudah kuduga! Kau tentu menduga
Medali itu berada di tanganku, bukan?" tanya si Raja
Siluman Naga.
"'Bagus! kalau kau sudah mengerti, mengapa tak kau
berikan padaku?" sambar si kakek Raja Pengemis.
Mengakak tertawa Raja Siluman Naga. Lalu berkata
dengan suara keras.
"Kau datang terlambat. Medali itu sudah jatuh masuk
laut, bersama burung Rajawali celaka itu!" ujarnya seraya
menunjuk ketengah laut.
"Heh! siapa percaya omonganmu?" bentak si kakek.
"Kau tentu mau mengangkangi benda pusaka itu sendiri.
Hm, jangan harap si Raja Pengemis mau terkecoh oleh
bualanmu?"
"Huh! manusia sombong! apakah kau kira
kepandaianmu sudah setinggi langit hingga begitu
memandang rendah padaku si Raja Siluman Na-ga?" balas
membentak kakek kepala botak ini.
Pertarungan tak dapat dihindarkan lagi, karena kedua
kakek itu sama-sama berwatak keras. Terjadilah saling
terjang di antara keduanya.
"Muridku! kau menyingkirlah yang jauh. Biar
kuremukkan batok kepala si Naga botak ini!" teriak Raja
Pengemis pada muridnya. Tak ayal gadis itu telah
melompat menjauh.
Raja-raja Gila 56
Koleksi Goldy Senior
"Hati-hati, kek! Dia berilmu tinggi!" Masih sempat si
gadis berkata memperingati gurunya. Tampak dia amat
mengkhawatirkan keselamatan si Raja Pengemis, dalam
menghadapi si kakek Raja Siluman Naga yang bertubuh
tinggi besar itu.
Hantaman-hantaman pukulan dan teriakan serta
bentakan menggeledek segera membaur di pulau yang
lenggang itu. Hempasan-hempasan angin pukulan
membuat tempat sekitarnya seperti dilanda angin ribut.
Kedua tokoh tua yang sama-sama memiliki ilmu
kepandaian tinggi itu tengah sama mengadu ilmu.
Sementara itu Nanjar yang memperhatikan dari tempat
ketinggian cuma bisa termangu-mangu sambil
menggendong tangan memandang pertarungan dua kakek,
yang tak ubahnya bagai memperebutkan pepesan kosong.
–––––––––
12
EMPAT PULUH JURUS telah lewat...
Pertarungan semakin menghebat. Hawa panas dan
dingin silih berganti mengembara dan menerpa akibat dari
hawa pukulan yang mengandung tenaga dalam. Kedua
kakek yang masing-masing punya julukan "Raja" itu sama-
sama mempertahankan pamornya untuk membuktikan
siapakah yang lebih unggul diantara mereka.
Nanjar yang berniat mengorek keterangan dari si Raja
Siluman Naga mengenai si pembunuh gurunya Ki Dharma
Tungga, menemui jalan buntu. Karena kedatangan si Raja
Raja-raja Gila 57
Koleksi Goldy Senior
Pengemis telah menunda jawaban kakek itu. Bahkan
manusianya tengah bertarung mengadu jiwa dengan kakek
pendatang itu. Pemuda ini jadi seperti kebingungan dan
serba salah.
Sejak tadi pandangan matanya selain melihat
pertarungan, juga memperhatikan gadis muda murid si
Raja Pengemis. Sepintas Nanjar seperti pernah mengenali
wajah serta perawakan seperti gadis itu.
Dia coba mengingat-ingat ... Akan tetapi sejauh itu
Nanjar tak mampu mengingatnya. Tiba-
tiba Nanjar mendengar suara teriakan panjang
menyayat hati, bersamaan dengan terdengarnya suara
benturan keras yang menggeledek.
Itulah dua pukulah mengandung maut dari kedua kakek
"Raja" itu yang menimbulkan benturan dahsyat.
Terlihat si Raja Pengemis terlempar bergulingan. Dan
si Raja Siluman Naga terhuyung beberapa tindak. Nyata
tenaga dalam Raja Siluman Naga masih diatas setingkat
dari kakek Raja Pengemis.
"Kakeeeeek!" teriakan gadis itu memecah keheningan
tatkala dia berlari dan melompat menghampiri gurunya.
Keadaan si Raja Pengemis memang amat
mengkhawatirkan. Sekujur tubuhnya melepuh. Dari sudut
bibirnya mengalirkan darah berwarna hitam. Terisak-isak si
gadis memeluki tubuh gurunya.
Sementara si Raja Pengemis menatap pada muridnya
dengan pandangan sayu. Bibirnya bergerak mengucapkan
kata-kata
Raja-raja Gila 58
Koleksi Goldy Senior
"Anak manis, ... jangan menangis! Semua manusia tak
luput dari kematian..." ujarnya.
"Aku akan adu jiwa dengan dia, guru!" teriak si gadis,
mendadak dia hentikan tangisnya. Wajahnya berubah
garang. Dan dia telah bangkit berdiri seraya mencabut
pedangnya yang terselip di pinggang.
Pedang gadis ini ternyata sebuah pedang yang telah
putus ujungnya sepertiga bagian.
"Jangan muridku! Simpanlah pedang itu... !" suara si
Raja Pengemis setengah membentak. Membuat semangat
yang menggebu didada si ga-dis kembali luntur. Kembali
dia terduduk menekuk lutut.
"Hm, anak manis! bukankah kau selalu menanyakan
kisah pedang buntung yang kuhadiahkan padamu itu"
berkata lirih si Raja Pengemis.
"Ketahuilah, pedang itu adalah pedang yang telah
membawa maut! Pedang itu adalah pedang pusakaku yang
telah menewaskan orang yang kucintai, tapi paling
kubenci!" Suara si kakek agak tersengal dalam berkata-
kata.
Ranggaweni menatap gurunya dengan tak mengerti.
Sudah lama dia selalu menanyakan riwayat pedang di
tangannya itu. Sang guru selalu mengatakan pedang itu
punya kisah yang menyedihkan, tapi tak mau
menceritakannya. Kini disaat keadaan sang guru dalam
keadaan kritis, justru mau menceritakan.
"Bagaimana kisahnya kek? Siapakah orang yang amat
kau cinta tapi kau amat membencinya itu?" tanya
Ranggaweni. Wajahnya menampakkan rona girang, tapi
juga diliputi kesedihan.
Raja-raja Gila 59
Koleksi Goldy Senior
"Dialah KI DHARMA TUNGGA!" sahut si kakek.
Seketika wajahnya menjadi berubah sedih. Dan setitik air
mata menyembul disudut matanya.
"Dharma Tungga adalah kakak kandungku. Tak
dinyana dia harus tewas oleh pedang pusakaku sendiri.. "
ujar si Raja Pengemis.
"Dimasa muda aku pernah punya seorang kekasih. Dia
seorang gadis yang amat cantik." Raja Pengemis tuturkan
riwayat hidupnya.
"Kami berdua adalah satu perguruan. Lima tahun
kemudian setelah menamatkan pelajaran, aku kembali
pulang. Bukan main rasa girangnya hatiku, karena aku bisa
berjumpa dengan kekasihku yang telah lama kurindu. Kami
memang telah mengikat janji untuk menikah setelah selesai
pelajaranku. Adapun kakang Dharma Tungga telah
menyelesaikan pelajarannya terlebih dulu setahun sebelum
aku menyelesaikan pelajaranku. Akan tetapi betapa
terkejutnya aku mengetahui kekasihku sudah tak ada lagi
di kampung tempat tinggalnya. Dan yang lebih membuat
aku panas adalah aku mendengar kakakku Dharma
Tungga telah menikahi gadis kekasihku itu..."
"Dapat kau bayangkan betapa hancurnya hatiku. Sedih
bercampur dengan menggebu-gebu dalam dadaku. Aku
bersumpah untuk mencari mereka! Berpuluh tahun aku
mencari dan mencari tanpa putus asa. Hingga akhirnya aku
mendengar juga tentang diri kakakku itu. Dia telah menjadi
seorang kosen yang berkepandaian tinggi. Bahkan
diangkat oleh kaum Rimba Hijau menjadi Ketua
Persiiatan. Aku tak munculkan diri. Tapi diam-diam
mencari tahu dimana kekasihku yang telah diperistri
olehnya..."
Raja-raja Gila 60
Koleksi Goldy Senior
"Akhirnya aku berhasil menemui bekas kekasihku itu!
Apa yang kulihat adalah menjadi kenyataan. Kekasihku
telah menjadi seorang yang cacad kaki dan tangannya.
Cacad yang seumur hidup. Dia mengatakan bahwa semua
itu adalah hasil perbuatan kakakku Dharma Tungga!"
Sampai disini napas si Raja Pengemis kembali tersengal.
Namun dengan menahan mengalirnya darah yang mau
tumpah dari mulutnya kembali dia teruskan penuturannya.
"Aku ...aku mencari kakakku dengan kemarahan luar
biasa. Aku sudah seperti kehilangan otak warasku.
Rasanya mau melumatkan saja tubuh kakak kandungku itu
yang telah menganiaya kekasihku hingga demikian
mengenaskan. Dan akupun berhasil menemui saudaraku
itu. Kami bertarung. Tak sedikitpun aku mau mendengar
penjelasan kakakku Dharma Tungga, karena emosiku telah
meluap! Untunglah pertumpahan darah waktu itu tak
terjadi. Dia melarikan diri. Dan lenyap entah kemana.
Sejak saat itu aku tak pernah menjumpainya lagi.
Suatu malam ketika aku tertidur di suatu tempat, aku
terjaga ketika sebuah benda melayang ke arahku. Namun
dengan cepat aku telah menangkapnya. Masih sempat aku
melihat berkelebatnya sesosok tubuh yang lenyap
dikegelapan malam yang gulita.
Benda itu ternyata segulung kertas. Setelah kubuka,
ternyata sepucuk surat yang ditujukan padaku. Si
pengirimnya adalah kakakku sendiri. Surat itu menjelaskan
duduknya persoalan, hingga dia mengawini kekasihku.
Kekasihku didapati dalam keadaan mengandung, tanpa
diketahui siapa yang telah melakukannya. Dia terpaksa
mengawini, karena gadis kekasihku itu mau membunuh
diri. Bahkan gadis kekasihku itu tak mau bertemu dengan
Raja-raja Gila 61
Koleksi Goldy Senior
ku karena merasa malu. Oleh sebab itulah gadis kekasihku
itu mengajak pindah kakakku dari kampung tempat tinggal
kami.
Cacad yang diderita bekas kekasihku itu dia sama
sekali tak mengetahui, karena sudah sejak lama dia
berpisah dengan "istrinya".
Kakakku mengatakan dalam surat, bahwa dia belum
pernah menggauli istrinya satu kalipun..."
"Lalu bagaimana kelanjutannya, kakek?" tanya si gadis.
Karena si Raja Pengemis tampak terdiam agak lama
mengatur napas.
"Hm, aku masih tak percaya agak lama dengan
keterangannya Malam itu juga aku mencari dia. Tapi jejak
kakakku sukar dilacak. Datang dan perginya sukar
diketahui.." ujar si Raja Pengemis.
"Suatu malam yang na'as ketika aku tidur kepulasan
disebuah rumah tua. Aku terkejut ketika mendengar suara
gaduh. Ternyata ada pertarungan yang telah terjadi.
Terkejut aku melihat yang bertarung adalah kakak
kandungku sendiri Ki Dharma Tungga melawan seorang
laki-laki yang mengenakan topeng menutupi wajahnya.
Dan bukan main terkejutku ketika mengetahui seorang
bertopeng itu telah mencuri pedang pu-sakaku! Kakakku
telah memergokinya, dan berusaha merebut pedang itu
sekalian membuka tabir siapakah sebenarnya si orang
bertopeng itu.
Sayang si orang bertopeng itu melarikan diri, dan
kakakku mengejarnya. Sayang aku tak berhasil menyusul
mereka!" ujar si Raja pengemis. Setelah menghela napas
kembali dia teruskan panuturannya.
Raja-raja Gila 62
Koleksi Goldy Senior
"Berbulan-bulan aku mengembara mencari jejak
kakakku juga si Manusia bertopeng, tapi tak menemui jejak
mereka. Hingga aku memutuskan untuk menemui lagi
bekas kekasihku itu. Dia masih hidup dan dalam keadaan
cacad, yaitu lumpuh kedua kaki dan tangannya. Bekas
kekasihku itu akhirnya membuka rahasia. Bahwa si orang
bertopeng itu adalah anaknya sendiri. Anak itu adalah hasil
dari perbuatan serongnya dengan GURUKU sendiri...!"
"Hah? dengan guru kakek sendiri?" sentak
Ranggaweni membelalak.
"Benar! aku sendiri tak menduga kalau guruku sendiri
yang mengingini kekasih muridnya. Adapun Rarasati
kekasihku itu mempunyai dua dendam. Pertama dendam
pada guruku, kedua dendam pada kakakku Dharma
Tungga. Dendam pada guruku karena dialah orang yang
telah merusak kehormatannya, dan
menghancurkan harapan cita-citanya untuk hidup
bersama denganku.
Dendam pada Dharma Tungga, adalah karena kakakku
tak pernah mau menggaulinya walau mereka telah
menikah! Anak laki-laki hasil perbuatan haram itu diambil
murid seorang laki-laki asal Tibet. Laki-laki itulah yang
mendidik anak laki-lakinya hingga berkepandaian tinggi.
Rarasati telah bersumpah untuk membunuh guruku,
dan membunuh Dharma Tungga. Hal itu sudah terlaksana.
Dan dia tunjukkan bukti dengan sepotong pedang yang kau
pegang itu padaku!"
"Apakah kakek yakin akan keterangannya?" tanya
Ranggaweni.
Raja-raja Gila 63
Koleksi Goldy Senior
Raja Pengemis mengangguk. "Ya, aku amat yakin.
Karena selesai berikan keterangan, Rarasati telah
membunuh diri dengan pedang pusaka buntung itu!" ujar si
kakek dengan suara tandas dan tampak pilu.
"Bagaimana dengan si Raja Siluman Bangau? Apakah
dia terlibat dalam urusan Medali itu?"
Pertanyaan ini mengejutkan si kakek dan muridnya.
Karena tahu-tahu Nanjar telah berdiri di situ. Sejak tadi dia
telah terkejut melihat gadis itu mencabut sebuah pedang
yang ujungnya buntung. Lalu dengan seksama turut
mendengarkan penuturan si Raja Pengemis.
"Hehehe ... hehe .... siapakah namamu, bocah gagah?"
bertanya si Raja Pengemis.
Sementara dia melihat Raja Siluman Naga sudah tak
kelihatan lagi dan telah lenyap entah kemana. Cuma
Nanjarlah yang tahu. Karena selang tak lama setelah
terjadi benturan dua tenaga dalam kedua tokoh tua kosen
itu, si Raja Siluman Naga terhuyung-huyung pergi menuju
ke atas puncak bukit tertinggi, di pulau itu. Ginanjar mau
mengejar, tapi matanya tertuju pada pedang buntung yang
dicabut si gadis tadi. Pedang yang sinarnya sama dengan
ujung utusan pedang yang berada di tangannya. Hingga
dia urungkan niatnya, dan memasang telinga lebar-lebar
mendengarkan penuturan si Raja Pengemis, pada
muridnya
Dengan mencuri dengar itu, Nanjar merasa rahasia si
pembunuh Ki Dharma Tungga yang pernah menjadi
gurunya itu mulai tersingkap. Tapi dia amat penasaran
karena kakek- itu tak menyinggung-nyinggung nama si
Raja Siluman Bangau dan Medali Lambang Ketua Kaum
Rimba Hijau.
Raja-raja Gila 64
Koleksi Goldy Senior
Kali ini Nanjar segera menjawab pertanyaan si Raja
Pengemis. Sementara diam-diam dia terus mengingat
siapa adanya gadis murid sikakek itu.
"Namaku Nanjar. Lengkapnya Ginanjar!" sahutnya.
"Ah, nama yang bagus! Kaukah pemuda yang pernah
kulihat dua tahun yang lalu dibawa terbang burung
Rajawali raksasa itu?" tanya sikakek. Sejurus Nanjar
tercenung. Lalu cepat-cepat dia menyahut.
"Benar! tidak salah. Memang aku adanya..." sahut
Nanjar dengan manggut-manggut.
"Kak Nanjar... ? Kau----kau Ginanjar?" sentak sigadis.
"Kau siapakah?" tanya Nanjar. Jantungnya berdetak
keras.
"Aku Ranggaweni, anak Ki Ronggo Alit! Kak Nanjar,
kau sudah tak mengenal adik angkatmu lagi?" tanya gadis
itu cemberut
"Oh ... ah, aku ... aku lupa lagi!" tergagap Nanjar. "ya,
ya ... aku ingat kini. Kau si gadis kecil putri paman Ronggo
Alit itu! Ah, kau sudah sebesar ini. Dan.... sudah jadi
seorang gadis cantik...!" Barulah Nanjar ingat siapa adanya
gadis di hadapannya itu. Ginanjar memang pernah tinggal
bersama Ki Ronggo Alit, ketika dia pertama kali turun
gunung dan membawa surat dari gurunya, Ki Bayu Sheta
untuk menetap dirumah Ki Ronggo Alit yang menjadi
sahabat baik gurunya. (Baca; Serial Roro Centil. Judul:
Empat Iblis Kali Progo.)
"Hehehe ... ternyata kalian saling mengenal! Bagus!
Bagus! kalau begitu aku tak merasa khawatir untuk me….
Raja-raja Gila 65
Koleksi Goldy Senior
meninggalkanmu, muridku ..." berkata Raja Pengemis
dengan napas semakin tersengal.
''Tidak, kakek! kau tak boleh meninggalkan aku! kau
jangan mati, kek! Jangan tinggalkan aku ..." teriak
Ranggaweni yang kembali terisak-isak memeluki tubuh
gurunya.
"Hehehe ... anak bodoh! Kalau Malaikat pencabut
nyawa sudah siap-siap mencabut nyawaku apakah aku
bisa menghalangi?' berkata si Raja Pengemis. Tiba-tiba
kakek ini berpaling pada Nanjar.
"Kau jagalah, dia, bocah gagah!" ujarnya pada Nanjar.
Nanjar cuma bisa mengangguk.
"Hehehe... he ceritaku tadi belum habis. Nah
dengarkanlah baik-baik. Medali itu memang kuketahui
berada di tangan kakak kandungku Ki Dharma Tungga.
Karena sebagai orang penting yang menjadi Ketua Rimba
Hijau, yang patut memegang Medali itu. Tapi waktu itu
Medali itu sudah berada ditangan si Raja Siluman Bangau.
Tentu saja aku mencari dia untuk merebut Medali itu.
Sekalian menanyakan hubungan apa si Raja Siluman
Bangau dengan si manusia bertopeng anak Rarasati bekas
kekasihku itu.
Menurut keterangan si Raja Siluman Bangau, dia
bersahabat baik dengan tokoh dari Tebet itu. Dan medali
itu dihadiahkan padanya. Sedangkan anak si Rarasati itu
telah kembali ke Tebet setelah selesai melakukan
tugasnya. Tentu saja dia tak mengetahui kalau ibunya telah
mati bunuh diri..." Sampai disini si Raja Pengemis hentikan
penuturannya. Wajahnya semakin memucat. Dan, berkali-
kali dia keluarkan darah kental berwarna hitam yang keluar
dari mulutnya. Tak lama dia pingsan.
Raja-raja Gila 66
Koleksi Goldy Senior
Agak lama nyawa si Raja Pengemis itu bertahan.
Hingga selama dua hari dua malam dia masih bisa
bertahan. Tapi di pagi hari yang cerah, dia telah
bembuskan napasnya yang penghabisan, setelah banyak
memberi wejangan dan banyak menuturkan bermacam
peristiwa hidupnya pada Nanjar dan muridnya. Daya upaya
Nanjar untuk memulihkan kesehatan kakek tua itu tak
menemukan hasil. Dan wafatlah si Raja Pengemis dengan
diiringi ratapan sedih Ranggaweni, yang telah menganggap
orang tua itu kakeknya sendiri.
Ternyata setelah penguburan jenazah si Raja
Pengemis, juga jenazah si Raja Siluman Bangau yang
dikebumikan sebagaimana mestinya oleh Nanjar.
Rangaweni tak mau menetap dipulau itu. Alasannya? Ya!
karena dipulau itu masih tinggal si Raja Siluman Naga.
Gadis ini masih amat mendendam pada kakek kepala
botak berkumis bagai misai itu. Apalagi Nanjar menyatakan
akan berguru padanya.
Pada suatu kesempatan, Ranggaweni melarikan diri
dari pulau itu, dengan menggunakan perahu layar yang
digunakan mendiang gurunya ketika datang ke pulau itu.
Ranggaweni pergi dengan dendam kesumat, yang
ketika kelak akan dibalaskannya.
Nanjar baru sadar setelah perahu dan gadis itu lenyap.
Dia cuma bisa menghela napas. Tapi niatnya untuk
berguru pada Raja Siluman Naga tetap akan dilaksanakan.
Karena dia berpendapat belum cukup ilmunya untuk
berpetualang di Rimba Hijau. Apalagi mengingat akan si
pembunuh Ki Dharma Tungga adalah seorang pemuda
yang berilmu tinggi, yang telah berhasil menewaskan tokoh
kosen Rimba
Raja-raja Gila 67
Koleksi Goldy Senior
Persilatan itu. Nanjar berjanji suatu saat akan mencari
laki-laki gagah itu ke Tebet. Dengan menuntut ilmu pada si
Raja Siluman Naga berarti akan menambah ilmu
kedigjayaannya, walaupun dia tak tahu apakah si kakek itu
manusia golongan putih atau hitam.
Hal itulah yang membuat Nanjar tak akan
meninggalkan pulau itu belum dia berhasil mengeruk ilmu
si Raja Siluman Naga. Dipandanginya laut lepas
dihadapannya. Dan bibirnya menggumam... "Ranggaweni...
! kelak aku akan mencarimu. Kau harus kulindungi, demi
pesan si Raja Pengemis!"
"Ah, aku harus segera kembali kepuncak bukit. Kakek
botak Raja Siluman Naga gila itu telah tak sabar
menungguku. Dan anak burung Rajawali itu perlu
rawatanku... !" Sentak Nanjar tersadar dari lamunannya.
Saat itu dikejauhan terdengar suara yang datangnya dari
atas bukit tertinggi dipulau itu.
"Hooooiii! bocah gendeng! sudahlah! jangan kau
hiraukan gadis itu. Kelak kau bisa mencarinya tahun
dimuka, setelah kau keluar dari pulau ini!" itulah suara si
Raja Siluman Naga. Nyengirlah seketika Nanjar. Dan dia
balas berteriak.
"Baik, kakek gendeng! aku segera datang ... Nguk!
nguk! nguk! Kalau aku tinggalkan pulau ini tentu kaupun
akan mampus siang-siang! bukankah alasanmu untuk aku
mempelajari ilmu darimu itu adalah untuk memperpanjang
umurmu? hahaha... hehehe..." Teriak Nanjar sambil
melompat-lompat dengan gaya ilmu Kera.
"Bocah kunyuk gendeng! kalau kau bicara macam itu
lagi anak burung Rajawali ini akan kubikin mampus!"
Raja-raja Gila 68
Koleksi Goldy Senior
terdengar lagi teriakan si Raja Siluman Naga membentak
marah. Pucat seketika wajah Nanjar.
"Wah, wah!? Jangan! haiiih! kakek Raja Siluman Naga
yang gagah dan sakti. Baiklah, aku tak akan bicara macam
itu lagi. Segera aku datang! Hehehe... nguk! nguk! nguk!"
seraya berteriak Nanjar mempercepat larinya dengan
melompat-lompat.
Diam-diam dalam hati dia membathin. " Kakek botak itu
kukira tak lama lagi umurnya. Akibat benturan pukulan
dengan si Raja Pengemis telah membuat luka-luka dalam
yang parah. Dia memang hebat, dengan masih sempat
bertahan. Dia tak ingin ilmunya hilang sia-sia. Itulah
sebabnya dia menginginkan aku mewarisi segenap ilmu
yang dimiiikinya!"
Nanjar semakin mempercepat larinya. Bahkan serasa
ingin lebih cepat lagi dia keluar dari pulau itu. Tentu saja
dengan bekal ilmu-ilmu kedigjayaan yang cukup untuk
bekal dalam pengembaraannya kelak di dunia Rimba
Persilatan.
"Hehehehe….. hahaha….. nguk! nguk! nguk! nguk!
nguk! nguk!...!
––––––––––
SELESAI
Pembuat Ebook :
Scan/Convert/E-book : Abu Keisel
Tukang Edit : Fujidenkikagawa
[Link]
Raja-raja Gila 69