0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
3 tayangan19 halaman

Pemahaman Hipertensi: Definisi dan Faktor Risiko

Dokumen ini membahas hipertensi, termasuk definisi, epidemiologi, klasifikasi, etiologi, patofisiologi, manifestasi, diagnosis, tatalaksana, dan komplikasi. Hipertensi merupakan kondisi serius yang dapat menyebabkan berbagai komplikasi kesehatan, dan prevalensinya meningkat seiring bertambahnya usia. Penanganan hipertensi melibatkan pendekatan non-farmakologis dan farmakologis untuk mengontrol tekanan darah dan mencegah komplikasi lebih lanjut.

Diunggah oleh

miselcantiks071
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
3 tayangan19 halaman

Pemahaman Hipertensi: Definisi dan Faktor Risiko

Dokumen ini membahas hipertensi, termasuk definisi, epidemiologi, klasifikasi, etiologi, patofisiologi, manifestasi, diagnosis, tatalaksana, dan komplikasi. Hipertensi merupakan kondisi serius yang dapat menyebabkan berbagai komplikasi kesehatan, dan prevalensinya meningkat seiring bertambahnya usia. Penanganan hipertensi melibatkan pendekatan non-farmakologis dan farmakologis untuk mengontrol tekanan darah dan mencegah komplikasi lebih lanjut.

Diunggah oleh

miselcantiks071
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Tinjauan Teoritis

1. Hipertensi
a. Definisi.
Hipertensi atau biasa dikenal dengan darah tinggi merupakan suatu
keadaan dimana tekanan pada pembuluh darah terlalu tinggi, yaitu 140/90
mmHg atau lebih tinggi. Apabila penyakit ini dibiarkan terlalu lama, dapat
menjadi serius sampai menimbulkan komplikasi. (WHO, 2023).
Hipertensi merupakan kondisi dimana tekanan darah berada di atas
ambang normal yaitu, >140 mmHg untuk tekanan sistolik dan >90 mmHg
untuk tekanan diastolik (Kemenkes 2020). Hipertensi sering disebut dengan
julukan silent killer disease karena tidak memberikan gejala apapun pada
penderitanya hinggap berkembang menjadi penyakit lebih serius (Sulistyono
and Modjo 2022).
b. Epidemiologi
Hipertensi merupakan penyebab utama kematian dini di seluruh dunia.
Secara global, diperkirakan lebih dari 1 miliar orang mengalami peningkatan
tekanan darah yang masuk kriteria hipertensi. Prevalensi hipertensi yang
tinggi ini konsisten di seluruh kelompok sosialekonomi, dan prevalensinya
meningkat seiring bertambahnya usia. Prevalensi hipertensi mencapai 60%
pada populasi berusia di atas 60 tahun. Jumlah penderita hipertensi di
seluruh dunia diperkirakan meningkat sekitar 15-20% menjadi 1,5 miliar
pada tahun 2025. (WHO, 2022).
Dari data yang diperoleh peniliti melalui survei pendahuluan dari
Dinas Kesehatan Kota Batam pada tahun 2024, kasus Hipertensi di Kota
Batam berjumlah 185.189 Sedangkan di Puskesmas Sei Langkai didapat
jumlah data penderita Hipertensi sebanyak 19.796 pasien pada tahun 2024
dan pada tahun 2025 Periode Januari – Agustus terdapat penderita Hipertensi
sebanyak 1494 Pasien.
c. Klasifikasi Hipertensi
Menurut The Seventh Report of The Joint National Committee on
Prevention, Detection, Evaluation, and Treatment of High Blood Pressure
(2014), hipertensi dibagi dalam tiga klasifikasi berdasarkan tekanan
darahnya yakni normal, pre-hipertensi, hipertensi tingkat 1, dan hipertensi
tingkat 2. Klasifikasi ini didasarkan pada perhitungan dari nilai rata-rata dua
atau lebih pengukuran tekanan darah yang baik, dimana dalam
pemeriksaannya dilakukan pada posisi duduk dalam setiap kunjungan
berobat.

Tabel 2.1 Klasfikasi Tekanan Darah


Kategori Tekanan Darah Tekanan Darah
Sistol (mmHg) Diastol (mmHg)

Normal < 120 < 80

Pre Hipertensi 120 – 139 80 – 89

Hipertensi Stage 1 140 – 159 90 – 99

Hipertensi Stage 2 > 160 > 100

d. Etiologi dan Faktor Resiko Hipertensi

Kebanyakan hipertensi bersifat idiopatik dan disebut hipertensi primer


(esensial). Hipertensi primer merupakan suatu hipertensi yang penyebab
pastinya tidak diketahui. Biasa terjadi pada orang-orang yang mengalami
obesitas, riwayat keturunan, ataupun diet tidak sehat. Satu diantara faktor
yang menjelaskan berkembangnya hipertensi esensial adalah kemampuan
tubuh pasien dalam merespon kadar garam. Sekitar 50-60% pasien sensitif
terhadap garam sehingga menderita tekanan darah tinggi. (Iqbal et al, 2023).

Menurut Gibran Wirayudha et al 2024 hipertensi terjadi akibat dari


berbagai faktor risiko yang dikelompokkan kedalam dua jenis yaitu faktor
risiko yang dapat dimodifikasi dan tidak dapat di modifikasi antara lain :

1) Yang dapat dimodifikasi

a) Pola makan berperan besar dalam perkembangan hipertensi.


Konsumsi makanan tinggi natrium (garam), lemak jenuh, dan
kolesterol dapat meningkatkan tekanan darah. Sebaliknya, pola
makan yang sehat dapat membantu menurunkan dan mengontrol
tekanan darah. (Sunarto Kadir, 2019)
b) Gaya hidup yang tidak sehat seperti kurang aktivitas fisik, stres
berkepanjangan, merokok, dan konsumsi alkohol berlebihan dapat
memperburuk kondisi tekanan darah. (Awin Lakoro et al, 2023)
2) Yang tidak dapat dimodifikasi
a) Usia merupakan salah satu faktor utama yang berkontribusi terhadap
peningkatan tekanan darah. Seiring bertambahnya usia, elastisitas
pembuluh darah menurun, menyebabkan peningkatan resistensi
vaskular dan tekanan darah. Selain itu, fungsi ginjal yang menurun
pada usia lanjut turut memengaruhi regulasi cairan dan elektrolit
dalam tubuh, yang berdampak pada tekanan darah. Berdasarkan
berbagai studi epidemiologis, prevalensi hipertensi meningkat secara
signifikan pada kelompok usia di atas 40 tahun, dan lebih tinggi lagi
pada lansia. Oleh karena itu, kelompok usia lanjut perlu mendapatkan
perhatian khusus dalam upaya pencegahan dan pengendalian
hipertensi. (Andry Ariyanto et al 2023)
b) Jenis kelamin juga memengaruhi risiko terjadinya hipertensi. Pada
umumnya, pria memiliki risiko lebih tinggi mengalami hipertensi
pada usia muda hingga paruh baya dibandingkan wanita. Hal ini
diduga berkaitan dengan gaya hidup yang lebih berisiko serta
pengaruh hormon testosteron terhadap sistem kardiovaskular.
Sementara itu, wanita memiliki perlindungan hormonal dari estrogen
sebelum menopause, yang membantu menjaga elastisitas pembuluh
darah dan metabolisme lipid. Namun, setelah menopause, kadar
estrogen menurun secara signifikan, sehingga risiko hipertensi pada
wanita meningkat dan bahkan dapat melebihi pria. Perubahan
hormonal ini menjadi salah satu alasan penting mengapa wanita
pasca-menopause perlu mendapatkan pemantauan tekanan darah
secara rutin. (Andry Ariyanto et al 2023)
c) Riwayat keluarga : Anak-anak dari orang tua dengan hipertensi lebih
mungkin untuk mendapatkan kondisi itu sendiri. Akibatnya, seorang
anak berisiko lebih tinggi terkena hipertensi jika kedua orang tuanya
memiliki kondisi tersebut dan jika anak tersebut terkena faktor risiko
tambahan, seperti merokok, minum alkohol, makan makanan tinggi
lemak, dan menjalani gaya hidup yang tidak banyak bergerak. ( Eny
Qurniyawati et al 2025 )
e. Patofisiologi
Menurut Dewati et al, (2023). Hipertensi umumnya dipahami sebagai

peningkatan tekanan darah yang bisa memicu munculnya penyakit lain.

Kondisi ini ditandai dengan tekanan darah di atas 140/90 mmHg dan

disebabkan oleh penebalan serta hilangnya elastisitas dinding arteri.

Akibatnya, jantung mungkin harus memompa darah lebih cepat untuk

mengatasi resistensi perifer yang lebih tinggi. Dari mereka yang mengalami

hipertensi, 95% kemungkinan akan menderita tekanan darah tinggi di masa


depan atau mewariskan kondisi ini kepada keturunannya, sementara 5%

lainnya berisiko terkena penyakit seperti stroke, penyakit kardiovaskular,

dan penyakit ginjal. Beberapa organ penting yang terlibat dalam peningkatan

hipertensi antara lain sebagai berikut.

1) Curah Jantung Dan Resistensi

Curah jantung dan resistensi perifer adalah faktor utama dalam

penentuan tekanan darah, dengan resistensi perifer memberikan

kontribusi penting. Curah jantung berperan dalam mengatur aliran

darah ke pembuluh perifer dan otak, yang mempengaruhi tekanan

darah serta dapat mengganggu fungsi fisiologis jantung. Berbagai

faktor, baik genetik maupun lingkungan, berperan dalam peningkatan

curah jantung dan resistensi perifer. Selain itu, curah jantung juga

berhubungan dengan peningkatan obesitas dan volume plasma.

2) Renin-Angiostensin – Aldosterone

Sistem renin-vasodilator-aldosteron (RAAS) mengatur tekanan

darah melalui berbagai mekanisme. Berdasarkan RAAS (angiotensin

II), hipertensi menunjukkan perbedaan spesifik berdasarkan gender,

dengan sebagian besar kasus hipertensi terjadi pada laki-laki. Otak,

yang berfungsi sebagai pusat kendali tubuh, juga berperan dalam

pengaturan sirkulasi darah. Penelitian menunjukkan bahwa RAAS di

otak berperan lebih aktif


dibandingkan RAS perifer. Angiotensin II memiliki peran penting

dalam sistem ini dan berfungsi sebagai neuropeptida dalam pengaturan

tekanan darah. Reseptor RAAS, yaitu AT1a dan AT1b, terletak di

bagian penting otak, dengan salah satu tujuannya adalah mengurangi

aliran darah ke ginjal dan menurunkan tekanan darah. 3. Perubahan

Pembuluh Darah Mikro

Penurunan kadar oksida nitrat berperan dalam peningkatan

radikal oksigen yang dapat memicu tekanan darah tinggi. Pori-pori

kecil pada arteriol menyebabkan perubahan pada pembuluh darah,

yang mengurangi aliran darah ke organ akibat tekanan yang ada.

Akibatnya, kondisi ini bisa menyebabkan iskemia dan pecahnya

pembuluh darah, yang kemudian berpotensi merusak organ.

4. Inflamasi

Peradangan yang parah dapat menyebabkan perubahan struktural

pada pembuluh darah dan memicu aktivasi serta proliferasi sel otot

polos, sel endotel, dan fibroblas, yang berkontribusi pada terjadinya

hipertensi. Gejala hipertensi melibatkan mediator inflamasi seperti

sitokin, kemokin, dan PGE2, yang meningkatkan tekanan darah

dengan menebalkan dinding pembuluh darah.

5. Insulin Sensitif

Perubahan pola makan dan relaksasi mikrovaskular dapat

menyebabkan suplai glukosa ke jaringan menjadi tidak memadai, yang


juga mengganggu fungsi hormon insulin dan menurunkan kadar oksida

nitrat endotel. Akibatnya, kondisi ini dapat memicu peradangan dan

stres oksidatif. Hal ini sering terjadi pada pasien yang mengalami

obesitas dan diabetes (Dewati et al., 2023).

f. Manifestasi Hipertensi

Menurut Yusuf dan Boy (2023), manifestasi klinis pada pasien


hipertensi urgensi umumnya bersifat ringan dan tidak spesifik. Dalam studi
kasus yang mereka laporkan, pasien dengan tekanan darah mencapai
180/120 mmHg tidak menunjukkan gejala khas hipertensi. Gejala yang
muncul hanya berupa pusing ringan dan sakit kepala yang terjadi sesekali,
terutama saat pasien mengalami stres atau kurang istirahat. Hal ini
menunjukkan bahwa hipertensi dapat berkembang tanpa disertai keluhan
yang jelas, sehingga pemeriksaan tekanan darah secara berkala sangat
penting untuk deteksi dini.

g. Diagnosis
1) Identifikasi Hipertensi
Langkah kunci dalam mendiagnosis hipertensi resisten adalah
memastikan bahwa kenaikan TD benar-benar konsisten. Pseudo-resistensi
harus dieliminasi dengan riwayat dan tinjauan obat yang cermat, diikuti
dengan pengukuran TD dengan teknik yang tepat. Dengan asumsi perancu
ini tidak ada dan terapi obat standar telah gagal, maka diagnosis hipertensi
resisten dapat ditegakkan (Viera AJ, 2012)
Setiap pasien dengan hipertensi resisten memerlukan setidaknya beberapa
pemeriksaan untuk penyebab sekunder. Obstructive Sleep Apnea (OSA),
penyakit ginjal kronis, dan hiperaldosteronisme primer adalah komorbiditas
yang paling sering terjadi. Evaluasi penyebab sekunder harus mencakup
riwayat dan pemeriksaan fisik komprehensif untuk mencari petunjuk adanya
penyebab lain yang mendasari (Viera AJ, 2012).
2) Evaluasi terhadap Kepatuhan Minum Obat
Ketidakpatuhan terhadap pengobatan merupakan langkah pertama
yang harus dilakukan saat mendiagnosis hipertensi resisten palsu. Kepatuhan
terhadap pengobatan sangat bervariasi selama perjalanan pengobatan dan
umumnya menurun seiring waktu. Menurut WHO, hambatan dan faktor yang
memengaruhi ketaatan terhadap pengobatan dapat dibagi menjadi lima
kategori berikut :
(1) Sosiodemografis
Usia, etnis, tingkat pendapatan dan literasi, status sosial dan
dukungan sosial
(2) Sistem perawatan kesehatan
Hubungan pasien-dokter dan jaminan kesehatan.
(3) Hubungan dengan Terapi
Peningkatan jumlah obat antihipertensi yang diresepkan, pilihan
kelas obat dan profil efek sampingnya, yaitu diuretik atau kombinasi
obat dengan dosis tetap yang mengandung diuretik berhubungan
dengan tingkat ketidakpatuhan yang lebih tinggi (Perhimpunan
Dokter Hipertensi Indonesia, 2022).
(4) Hubungan dengan kondisi klinis lainnya
Gangguan psikiatrik, ketergantungan obat atau alkohol, demensia
yang terkait dengan usia, dan disabilitas ditambah polifarmasi dapat
secara negatif memengaruhi ketaatan terhadap pengobatan, kontrol
TD, dan hasil klinis (Taitel M et al, 2012).
(5) Hubungan dengan pasien
Ketidakpahaman pasien tentang diagnosis atau penyebabnya;
kurangnya pengetahuan tentang penyakit dengan persepsi yang tidak
akurat tentang keparahan penyakit yang tidak bergejala dan efikasi
pengobatan; atau ketakutan terhadap efek samping dan
ketergantungan obat. Semua ini dapat menyebabkan penolakan
penyakit, penggunaan terapi alternatif, dan tindak lanjut yang buruk,
meningkatkan risiko ketidakpatuhan terhadap pengobatan dan
mengancam hasil kesehatan individu (Holt EW et al, 2010).
h. Tatalaksana
1) Non-farmakologis
Berdasarkan Joint National Committeeon Detection, Evaluation
and Treatment of High Blood Pressure (2014), penderita hipertensi
dianjurkan melakukan hal sebagai berikut.
a) Pemberian kalum dalam bentuk makanan (sayur dan buah).
b) Menurunkan berat badan pada obesitas
c) Mengurangi alkohol
d) Diit rendah lemak jenuh
e) Membatasi konsumsi garam dapur
f) Menghentikan rokok
g) Olahraga teratur
2) Farmakologis
Yang umum diberikan lebih dahul adalah jenis-jenis diuretika (obat
untuk mengurangi stres karena rangsangan ion natrium dan air),
setelah itu beta blocker (obat untuk mengurangi denyut jantung dan
keluaran darah). Yang lebih mutakhir adalah vasodilator atau inhibitor
enzim (atau blocker reseptor) yang mempengaruhi kerja hormon
pengatur tekanan darah. Obat lain yang juga digunakan adalah
inhibitor saraf simpatik atau calcium channel blocker dan alpha
blocker yang menghambat produksi adrenalin untuk menurunkan
tekanan darah. (Sulistiyowati, 2014)
i. Komplikasi
Hipertensi atau penyakit tekanan darah tinggi menjadi faktor utama
terjadinya berbagai komplikasi penyakit lain seperti gagal ginjal, otak, gagal
jantung, dan penglihatan. Peningkatan tekanan darah berbanding lurus
dengan meningkatnya risiko tersebut. Jika pengobatan telah mengalami
kendala, hipertensi bisa menyebar pada penyakit lainnya sehingga mortilitas
meningkat (Masenga et al, 2023).
1) Stroke
Manifestasi klinis akut akibat disfungsi neurologis pada otak,
medulla spinalis, dan retina baik sebagian atau menyeluruh yang
menetap selama lebih dari 24 jam atau menimbulkan kematian
akibat pembuluh darah.
2) Gangguan Jantung
Terjadinya penyumbatan (aterosklerosis) pada arteri koroner
dapat menyebabkan infark miokard. Bila tanpa penanganan bisa
menyebabkan iskemia jantung karena kebutuhan oksigen yang tidak
terpenuhi.
3) Penyakit Ginjal

Terjadi karena adanya kerusakan pada kapiler-kapiler ginjal

akibat tekanan darah tinggi yang berujung kepada kerusakan secara

progresif. Kerusakan ini dapat menyebar sampai pada membran

glomerulus, menyebabkan keluarnya protein melalui urin akibat

tekanan osmotic koloid plasma yang terganggu. Biasa dijumpai

pada penderita dengan hipertensi kronik.


j. Prognosis

Prognosisnya bergantung pada bagaimana penderita mengontrol


hipertensinya sendiri. Tanpa penanggulangan, hipertensi akan terus berlanjut
dan terus menyerang organ yang sesuai. (Sulistiyowati, 2014)
1) Etiologi hipertensi: pada hipertensi sekunder, semakin cepat
ditemukan penyebabnya, semakin baik prognosisnya.
2) Jenis kelamin: pria cenderung lebih rentan terhadap tekanan darah
tinggi dibanding wanita.
3) Suku/Ras: orang kulit putih mempunyai prognosis yang lebih baik
dari kulit hitam.
4) Komplikasi dan komorbid: banyaknya jenis komplikasi berpengaruh
pada prognsis.

k. Pencegahan Hipertensi
Menurut (World Health Organization, 2023) terdapat beberapa cara
pencegahan yaitu :
1) Olahraga teratur setidaknya mininmal 30 menit setiap hari atau 150
menit per minggu. Olahraga yang dapat dilakukan seperti senam
aerobik, jalan atau berlari, bersepeda, serta berenang .
2) Menjaga berat badan ideal dengan menjalani gaya hidup sehat dan
mengatur pola makan atau menurunkan berat badan pada kondisi
kelebihan berat badan atau obesitas.
3) Pola makan yang sehat dengan konsumsi makanan seimbang,
menghindari makanan tinggi garam, lemak jenuh dan kolesterol.
Membatasi konsumsi garam tidak melebihi 1 sendok teh per hari.
Memperhatikan atau membatasi makanan cepat saji juga perlu
dilakukan, karena makanan cepat saji umumnya memiliki kandungan
garam yang cukup tinggi
4) Konsumsi buah – buahan segar, sayuran, ikan, serta penggunaan
minyak olive juga disarankan. Konsumsi kopi tanpa gula, teh hijau
atau teh hitam juga dapat dilakukan
5) Menghindari kebiasaan merokok serta paparan terhadap asap rokok
6) Menghindari konsumsi alkohol.

2. Kepatuhan minum obat

a. Definisi
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, patuh adalah suka menurut
perintah, taat pada perintah, sedangkan kepatuhan adalah perilaku sesuai
aturan dan berdisiplin. Segala sesuatu yang harus dilakukan untuk mencapai
tujuan Minum Obat, salah satunya adalah kepatuhan minum obat (Haswan &
Pinatih, 2022).
Menurut Wahyudi et al (2022) Minum obat dengan benar juga melibatkan
lebih dari sekedar membaca "petunjuk pada botol". Kepatuhan yang tepat
untuk rejimen Minum Obat melibatkan 6 faktor kunci meliputi:
1) minum obat yang tepat
2) minum dosis obat dengan tepat
3) minum obat pada waktu yang tepat,
4) mengikuti jadwal yang tepat
5) minum obat pada kondisi yang tepat, misalnya, obat harus diminum
pada saat perui kosong
6) minum obat dengan tindakan pencegahan yang tepat
b. Jenis - Jenis kepatuhan
Kepatuhan dibagi menjadi 2 bagian (Srikartika et al., 2021), yaitu
kepatuhan penuh (Total Compliance) yang pada keadaan ini,penderita tidak
hanya berobat secara teratur sesuai batas waktu yang dietapkan melainkan
juga patuh meminum obat secara teratur sesuai petunjuk. Bagian kedua
adalah sama sekali tidak patuh (Non Compliance) yang pada keadaan ini,
pasien berada pada kondisi putus obat atau tidak mengkonsumsi obat sama
sekali.
c. Cara mengukur Kepatuhan
Menurut penelitian Nurmainah et al (2024) untuk mengukur kepatuhan
adalah dengan memberikan kuisioner tentang kepatuhan. Kuisioner terdiri
dari 8 item pertanyaan, dengan skor jika menjawab benar skor 1, dan jika
menjawab salah skor 0. Total skor MMAS-8 dapat berkisar dari 0-8 dan
dapat dikategorikan kedalam tiga tingkat kepatuhan:
1) Kepatuhan Rendah : Total Skor <6
2) Kepatuhan Sedang : Total Skor 6 – 7
3) Kepatuhan Tinggi : Total Skor 8
d. Faktor-Faktor Yang mempengaruhi kepatuhan
Menurut Siswati et al 2023, antara lain:
1) Demografis: Usia dan jenis kelamin dapat mempengaruhi kepatuhan.
Pasien usia lanjut cenderung lebih patuh karena lebih memerlukan
kontrol kesehatan. Pendidikan yang lebih tinggi juga berkontribusi
positif terhadap kepatuhan karena pemahaman pasien akan
pentingnya pengobatan lebih baik.
2) Pengetahuan dan Motivasi: Pemahaman tentang penyakit hipertensi
dan konsekuensi jika tidak minum obat secara rutin sangat
mempengaruhi motivasi pasien untuk patuh
3) Dukungan Sosial dan Keluarga: Dukungan dari keluarga terbukti
meningkatkan kepatuhan, karena keluarga membantu mengingatkan
dan memberi dukungan moral serta bantuan praktis dalam
mengonsumsi obat.
4) Hubungan dengan Tenaga Kesehatan: Komunikasi yang baik antara
pasien dan tenaga kesehatan, serta edukasi yang memadai,
membantu pasien memahami pentingnya terapi obat dan cara
penggunaan obat yang benar.
5) Penyakit Penyerta (Komorbiditas): Pasien dengan penyakit penyerta
yang membutuhkan obat lebih banyak kadang mengalami kesulitan
dalam kepatuhan karena kompleksitas pengobatan.
6) Faktor Ekonomi dan Akses Obat: Ketersediaan obat, biaya obat, dan
akses ke fasilitas kesehatan juga berpengaruh terhadap kepatuhan
3. Pencapaian Target Tekanan Darah
Menurut the Eighth Join National Committee (JNC 8), target tekanan
darah dapat dibagi berdasarkan usia pasien. Pada pasien dengan usia <60
tahun dan pada pasien segala usia dengan hipertensi target tekanan darah
yang disarankan adalah <140/90mmHg. Namun pada pasien usia lanjut >60
tahun, target tekanan darah disarankan lebih tinggi yaitu <150/90mmHg.
Sementara itu, panduan dari European Society of Cardiology (ESC) dan
European Society of Hypertension (ESH) menyarankan target tekanan darah
pada seluruh pasien sejumlah<140/90 mmHg. Namun, pasien berusia <65
tahun lebih disarankan untuk memiliki tekanan sistolik antara 120-129
mmHg. Pasien berusia ≥65 tahun disarankan untuk memilikitekanan sistolik
antara 130139 mmHg.
4. Hubungan Kepatuhan Makan Obat dengan Pencapaian Target Tekanan
Darah
Keberhasilan terapi pengobatan dapat dipengaruhi oleh kepatuhan
pasien terhadap mengkonsumsi obat antihipertensi. Ketidakpatuhan dalam
mengonsumsi obat anti hipertensi dapat menyebabkan efek samping negatif
seperti komplikasi. Salah satu faktor yang mempengaruhi keseimbangan
tekanan darah adalah kepatuhan terhadap mengkonsumsi obat. Kepatuhan
terhadap terapi pengobatan merupakan komponen penting dalam
kesejahteraan pasien hipertensi. ( I. N. Wirakhmi and I. Purnawan, 2021 )

Menurut penelitian di Rumah Sakit Harapan Keluarga Mataram


menunjukkan bahwa pasien yang patuh minum obat antihipertensi memiliki
kemungkinan lebih kecil mengalami kekambuhan hipertensi. Kepatuhan
yang tinggi berkontribusi terhadap penurunan tekanan darah dan
pengendalian hipertensi yang lebih efektif (p < 0,05). Hal ini sejalan dengan
penelitian yang dilakukan oleh Rini et al 2024 yang menunjukkan pasien
dengan kepatuhan tinggi lebih mungkin berada dalam kategori tekanan darah
normal dibandingkan dengan pasien yang kepatuhannya rendah atau sedang.
B. Penelitian Terkait
Tabel 2.3 Penelitian Terkait
No Peneliti Judul Penelitian Desain Penelitian Hasil Penelitian
1. Intan sugandi Hubungan tingkat Studi analitik Hasil penelitian diperoleh tingkat kepatuhan
kepatuhan obat dan menggunakan penggunaan obat antihipertensi dengan kategori
keberhasilan terapi tinggi 52,9%, sedang 38,6%, dan rendah 8,6%.
pada pasien hipertensi metode cross Pasien yang mencapai keberhasilan terapi
sectional dengan 74,3% dan tidak mencapai keberhasilan terapi
25,7%. Hasil analisis menunjukkan bahwa
menggunakan kuesioner
terdapat hubungan yang signifikan antara
MMAS-8 kepatuhan penggunaan obat terhadap
keberhasilan terapi pada pasien hipertensi
dengan nilai pvalue 0,000 < 0,05.

2. Alifatul muna Hubungan Kepatuhan menggunakan metode Tidak ada hubungan antara pola makan terhadap
konsumsi obat Kuesioner sampel tekanan darah dimana
terhadap tekanan darah menggunakan teknik P-value > 0,05 dengan tingkat Correlation
pada pasien hipertensi accidental sampling. Uji Coefficient sedang dan searah.
di puskesmas data menggunakan uji Kemudian tidak ada hubungan antara kepatuhan
korelasi rank spearman
semarang periode konsumsi obat terhadap tekanan darah dimana P-
februari 2023 value > 0,05 dengan Correlation
Coefficient tidak searah.
3 Luh Made Wulan Hubungan Antar menggunakan metode
Roslandari Dukungan Keluarga penelitian observasional
Dengan Tingkat analitik dengan desain
Kepatuhan Pengobatan penelitian korelasional Hasil penelitian diuji dengan Pearson product
Pasien Hipertensi dan menggunakan moment untuk mengetahui hubungan antara
kedua variabel didapatkan nilai signifikansi
Rawat Jalan Pada kuesioner dukungan sebesar 0,000 (p<0,05) menunjukkan adanya
Program Pengelolaan keluarga yang terdiri hubungan yang signifikan antara kedua variabel
dan nilai korelasi pearson yang diperoleh 0,751
Penyakit Kronis dari dukungan
yang menunjukkan adanya hubungan kuat yang
instrumental, penilaian, signifikan antara dukungan keluarga dengan
informasional tingkat kepatuhan pasien Hipertensi
C. Kerangka teori

Faktor resiko

Tidak dapat terkontrol


Dapat dikontrol
1. Pola makan
1. Usia
2. Gaya hidup
2. Jenis kelamin
3. Riwayat keluarga

Hipertensi

Kepatuhan Pencapaian
makan obat tekanan darah

Faktor yang mempengaruhi


kepatuhan
1. Demografis
Tercapai Tidak tercapai
2. Pengetahuan dan
Motivasi
3. Dukungan Sosial
dan Keluarga
4. Hubungan dengan
Tenaga Kesehatan
5. Penyakit Penyerta
(Komorbiditas)
6. Faktor Ekonomi dan
Akses Obat
D. Hipotesis Kerja
Hipotesis kerja adalah rumusan masalah hipotesis dengan tujuan untuk
membuat prediksi tentang peristiwa yang akan terjadi pada saat terjadinya suatu
gejala (Notoadmojo, 2018).
Hipotesis kerja pada penelitian ini adalah “Terdapat hubungan antara
kepatuhan makan obat dengan pencapaian target tekanan darah pada penderita
hipertensi di puskesmas sei langkai pada tahun 2025”

Anda mungkin juga menyukai