Pembukaan Presentasi
“Baik teman-teman! Disini saya akan membahas poin yang pertama, yaitu fraud atau
kecurangan. Tapi sebelum itu,Saya mau tanya dulu, siapa di sini yang berpikir kalau
tugas utama auditor itu untuk mendeteksi kecurangan?
Okay Mungkin sebagian besar dari kita langsung mengira begitu. Tapi, apa benar tugas
utama auditor itu menemukan semua kecurangan?
Nah, mungkin mengejutkan bagi kita, tapi sesuai dengan standar audit yang disebut ISA
240, tanggung jawab utama untuk mencegah dan mendeteksi kecurangan sebenarnya
ada di tangan manajemen, bukan di auditor. Kenapa begitu? Karena manajemen adalah
pihak yang punya kontrol langsung atas operasional dan sistem perusahaan.
Fraud itu sendiri bisa terjadi oleh banyak pihak—bukan hanya oleh karyawan, tapi juga
manajemen, atau bahkan pihak luar. Sebelum kita lanjut, kita akan memahami dulu
apa yang menyebabkan seseorang tergoda untuk melakukan fraud. Di sini, ada konsep
penting yang disebut Segitiga Fraud.”
Penjelasan Segitiga Fraud
“Jadi, dalam konsep Segitiga Fraud ini, ada tiga alasan utama yang biasanya membuat
seseorang merasa terdorong untuk melakukan kecurangan. Tiga faktor ini adalah:
Tekanan, Peluang, dan Rasionalisasi.
1. Faktor yang pertama adalah Tekanan
Ada yang tau gk Kenapa Tekanan ini membuat seseorang merasa terdorong untuk
melakukan kecurangan?
Tekanan adalah situasi di mana seseorang merasa terpaksa atau terdesak untuk
melakukan fraud. Tekanan ini bisa dari kebutuhan finansial, seperti harus membayar
utang, atau karena ada target kerja yang sangat tinggi. Misalnya, jika seorang manajer
merasa masa depannya tergantung pada pencapaian target laba, dia mungkin tergoda
untuk mengubah data keuangan supaya kelihatan bagus. Jadi, tekanan ini seperti
dorongan kuat dari dalam diri atau kondisi sekitar.
2. Faktor yang kedua adalah Peluang
Peluang disini artinya adanya kesempatan atau celah yang membuat fraud bisa
dilakukan. Misalnya, kalau kontrol internal di perusahaan lemah, atau kalau ada bagian
yang jarang diawasi, maka ini menjadi kesempatan bagi seseorang untuk melakukan
fraud tanpa ketahuan. Jadi, kalau ada sistem pengawasan yang lemah, kemungkinan
fraud jadi lebih besar karena orang merasa ada celah aman untuk bertindak curang.
3. Lalu faktor yang terahir ada Rasionalisasi
Rasionalisasi adalah upaya seseorang untuk membenarkan tindakannya, seolah-olah
apa yang dilakukan itu bukan kesalahan. Misalnya, pelaku fraud mungkin berpikir,
“Perusahaan kan untung besar, masa saya nggak boleh ambil sedikit untuk diri sendiri?”
Dengan memahami Segitiga Fraud ini, kita bisa melihat bahwa kecurangan sering terjadi
bukan Cuma karena niat buruk, tapi ada tekanan, kesempatan, dan pembenaran yang
mendorong seseorang untuk melakukan tindakan curang.”
Penutup untuk Slide Pertama
“Sampai sini, kita sudah paham bahwa, fraud itu bukan Cuma soal niat buruk, tapi juga
ada kondisi yang mendorong orang untuk tergoda melakukannya. Untuk poin berikutnya
akan di jelaskan oleh, rekan saya Terimakasih.