STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR
ASUHAN KEPERAWATAN PADA KELUARGA BERENCANA
Suratiah, [Link], Ners, [Link]
==================================================================
PERSIAPAN PASIEN UNTUK PEMBERIAN ALAT KONTRASEPSI
==================================================================
Tujuan
• Menyiapkan pasien secara fisik dan psikologis sebelum pemasangan atau
pemberian alat kontrasepsi
• Menjamin keamanan, kenyamanan, dan efektivitas metode kontrasepsi yang
dipilih
• Mencegah komplikasi akibat kontraindikasi medis atau kurangnya informasi
Pengertian
Persiapan pasien adalah langkah-langkah sistematis sebelum melakukan tindakan
pemasangan atau pemberian alat kontrasepsi, baik jangka pendek (pil, suntik, kondom)
maupun jangka panjang (IUD, implan, MOW/MOP).
Indikasi
• Perempuan atau laki-laki usia subur yang ingin menunda, menjarangkan, atau
menghentikan kehamilan
Kontraindikasi Umum (tergantung jenis KB):
• Kehamilan yang sedang berlangsung
• Riwayat penyakit tertentu (trombosis, kanker, infeksi panggul aktif, dll.)
• Alergi terhadap bahan kontrasepsi tertentu
Alat dan Bahan (disesuaikan dengan jenis KB)
• Form informed consent
• Alat kontrasepsi (pil, suntik, kondom, IUD, implan, dll.)
• Alat pemeriksaan fisik dan ginekologi (untuk IUD/implant): spekulum,
handscoon, larutan antiseptik, pinset, kasa, dll.
• Buku KIA atau kartu KB
• Form skrining medis dan riwayat kesehatan
Langkah-Langkah Persiapan Pasien
No Langkah Penjelasan
Jelaskan tujuan dan jenis-jenis Edukasi tentang metode, kelebihan, efek
1
kontrasepsi samping
Pastikan pasien memilih metode secara
2 Lakukan informed consent
sadar dan sukarela
Gunakan MEC WHO Medical Eligibility
3 Lakukan skrining riwayat kesehatan
Criteria
Khusus untuk metode jangka panjang (TD,
4 Lakukan pemeriksaan fisik
BB, status ginekologis)
Gunakan metode “Reasonably Sure Not
5 Pastikan pasien tidak sedang hamil
Pregnant” checklist
Siapkan alat dan lingkungan tindakan
6 Terutama untuk pemasangan IUD/implant
yang bersih dan privat
7 Beri dukungan psikologis dan privasi Kurangi kecemasan pasien
Dokumentasi
• Jenis alat kontrasepsi yang dipilih
• Tanggal pemasangan/pemberian
• Hasil skrining kesehatan
• Tanda tangan pasien & petugas (informed consent)
• Edukasi yang sudah diberikan
Sumber Referensi
1. WHO. (2015). Medical Eligibility Criteria for Contraceptive Use (5th Edition)
2. Kementerian Kesehatan RI. (2017). Panduan Pelayanan Kontrasepsi
3. PPK IBI. (2017). Panduan Praktik Klinik Bidan
4. BKKBN. (2020). Petunjuk Teknis Pelayanan Kontrasepsi
5. Varney’s Midwifery. (6th ed., 2018)
6. Perry & Potter. (2017). Clinical Nursing Skills and Techniques
EDUKASI KELUARGA TENTANG KONTRASEPSI
==================================================================
Tujuan Edukasi
1. Meningkatkan pengetahuan keluarga tentang berbagai jenis metode kontrasepsi.
2. Mendorong keterlibatan suami/keluarga dalam pengambilan keputusan KB.
3. Mengurangi angka kehamilan yang tidak direncanakan.
4. Mendukung keluarga merencanakan jumlah dan jarak kehamilan yang ideal.
Sasaran Edukasi
• Pasangan usia subur (PUS)
• Suami/istri yang baru menikah
• Keluarga dengan anak kecil atau banyak
• Masyarakat umum dalam usia produktif
Materi Edukasi Kontrasepsi
Topik Penjelasan
Upaya untuk mencegah kehamilan, secara sementara
[Link] Kontrasepsi
atau permanen.
• Alami: kalender, coitus interruptus
• Barier: kondom pria & wanita
2. Jenis-Jenis Metode KB • Hormonal: pil, suntik, implan
• IUD (AKDR)
• Sterilisasi: MOW (wanita), MOP (pria)
3. Efektivitas dan Efek
• Dibahas sesuai jenis alat
Samping
• Mencegah kehamilan berisiko
4. Manfaat Kontrasepsi • Menjaga kesehatan ibu dan anak
• Menunjang kesejahteraan keluarga
• Dukungan moral, pemahaman bersama,
5. Peran Suami/Keluarga
komunikasi pasangan
6. Mitos vs Fakta • Meluruskan informasi keliru tentang KB
Metode Penyampaian
• Individu: saat ANC, kunjungan rumah, konsultasi KB
• Kelompok: kelas ibu hamil, kelas keluarga berencana
• Media: leaflet, flipchart, video edukasi, poster
Langkah-langkah Edukasi
1. Bangun hubungan dan komunikasi terbuka dengan klien & pasangan.
2. Identifikasi kebutuhan dan pemahaman awal tentang KB.
3. Berikan penjelasan metode KB dan bantu memilih yang sesuai.
4. Jelaskan keuntungan, efek samping, dan cara pemakaian.
5. Tekankan pentingnya keterlibatan suami dalam keputusan.
6. Tanyakan kembali pemahaman mereka dan beri kesempatan bertanya.
7. Berikan media edukasi tambahan (leaflet, video, dll).
8. Dokumentasikan hasil edukasi di rekam medis/KIA.
Contoh Pesan Utama untuk Disampaikan
• “Kontrasepsi membantu ibu menjaga jarak kehamilan dan tetap sehat.”
• “Metode KB harus disesuaikan dengan kondisi kesehatan dan kenyamanan
pasangan.”
• “Dukungan suami penting untuk keberhasilan program KB.”
Sumber Referensi
1. Kemenkes RI. (2020). Buku Kesehatan Ibu dan Anak (KIA)
2. WHO. (2018). Family Planning: A Global Handbook for Providers
3. BKKBN. (2020). Panduan Pelayanan Keluarga Berencana dan Reproduksi
4. PPK IBI. (2017). Panduan Praktik Klinik Bidan
5. Varney’s Midwifery. (6th ed., 2018)
6. Perry & Potter. (2017). Fundamentals of Nursing
PEMBERIAN KONTRASEPSI PIL
==================================================================
Tujuan
• Memberikan pelayanan kontrasepsi pil secara aman, efektif, dan sesuai indikasi.
• Memberikan edukasi menyeluruh agar klien menggunakan pil KB dengan benar
dan konsisten.
• Mencegah efek samping dan meningkatkan kepatuhan penggunaan.
Pengertian
Kontrasepsi pil adalah metode pencegahan kehamilan dengan cara mengonsumsi
hormon estrogen dan/atau progesteron secara oral yang bekerja mencegah ovulasi,
mempertebal lendir serviks, dan mengubah endometrium.
Indikasi
• Wanita usia subur yang ingin menunda kehamilan
• Tidak ada kontraindikasi medis terhadap hormon
Kontraindikasi
Mengacu pada WHO Medical Eligibility Criteria, antara lain:
• Kehamilan
• Tekanan darah tinggi yang tidak terkontrol
• Riwayat trombosis vena dalam
• Kanker payudara
• Perdarahan uterus yang tidak diketahui sebabnya
• Perokok berat usia >35 tahun
Alat dan Bahan
• Paket pil kombinasi (COC) atau pil progestin (POP)
• Form informed consent
• Alat tulis dan media edukasi
• Alat pengukur tekanan darah, timbangan
• Buku register KB
Prosedur / Langkah Kerja
No Langkah Penjelasan
1 Persiapan Cuci tangan, siapkan alat dan lingkungan yang nyaman
Wawancara & Skrining Tanyakan riwayat kesehatan, menstruasi, alergi, dll.
2
Medis Gunakan formulir skrining WHO MEC
3 Pemeriksaan Fisik Ukur TD, BB, tinggi badan, periksa tanda vital
Pastikan Tidak Gunakan daftar “Reasonably Sure Not Pregnant” atau tes
4
Sedang Hamil kehamilan jika perlu
COC (kombinasi) untuk wanita sehat dengan siklus teratur
5 Tentukan Jenis Pil POP (progestin only) untuk ibu menyusui atau tidak cocok
COC
• Cara minum pil (setiap hari, jam yang sama)
• Mulai minum hari ke-5 haid atau segera jika belum
6 Beri Edukasi aktif seksual
• Efek samping ringan (mual, spotting, pusing)
• Tindakan jika lupa minum pil
• Berikan 1 siklus atau sesuai kebijakan, catat tanggal
Berikan Pil
mulai
• Jenis pil yang diberikan
• Tanggal mulai minum
Dokumentasi
• Efek samping bila ada
• Tanda tangan klien pada informed consent
Dokumentasi
• Buku register KB
• Kartu KB atau Buku KIA
• Form skrining dan informed consent
• Edukasi tercatat di rekam medis
Sumber Referensi
1. WHO. (2015). Medical Eligibility Criteria for Contraceptive Use (5th Edition)
2. Kemenkes RI. (2020). Panduan Pelayanan Kontrasepsi
3. BKKBN. (2020). Petunjuk Teknis Pelayanan Keluarga Berencana
4. PPNI & IBI. (2017). Standar Prosedur Tetap (SOP) Praktik Bidan dan Perawat
5. Varney’s Midwifery. (2018). 6th Edition
6. Perry, A. G., & Potter, P. A. (2017). Clinical Nursing Skills and Techniques
PEMANTAUAN IUD DAN AKBK
==================================================================
Tujuan
• Memastikan keberadaan dan posisi IUD tetap tepat.
• Mendeteksi dini komplikasi, efek samping, dan kegagalan kontrasepsi.
• Memberikan konseling dan edukasi berkelanjutan bagi akseptor AKBK (IUD,
implan, MOW/MOP).
Pengertian
IUD adalah alat kontrasepsi dalam rahim yang bekerja mencegah kehamilan dengan
menghambat fertilisasi dan implantasi.
AKBK (Alat Kontrasepsi Jangka Panjang) meliputi IUD, implan, MOW (Metode
Operasi Wanita), dan MOP (Metode Operasi Pria), dengan masa kerja panjang dan tidak
memerlukan konsumsi harian.
Waktu Pemantauan
• Pasca pemasangan IUD:
o 1 minggu pasca pemasangan
o 1 bulan kemudian
o Setiap 6 bulan atau sesuai keluhan
• Pemantauan AKBK lainnya (Implan, MOW, MOP):
o 1 minggu – 1 bulan setelah pemasangan
o Lanjutkan 1 kali per tahun atau bila ada keluhan
Alat dan Bahan
• Sarung tangan bersih/steril
• Spekulum steril
• Lampu periksa
• Alat penghapus lendir serviks
• Buku register KB
• Form pemantauan dan edukasi
Prosedur Pemantauan IUD
Langkah Penjelasan
Cuci tangan, siapkan alat dan ruangan periksa yang nyaman dan
1. Persiapan
privat
Tanyakan: nyeri perut, keputihan, perdarahan, tali IUD terasa
2. Wawancara Klien
atau tidak
3. Pemeriksaan Fisik Pemeriksaan abdomen bawah, tanda infeksi, atau nyeri tekan
4. Pemeriksaan
Gunakan spekulum: amati posisi serviks, panjang tali IUD
Dalam
Posisi baik: tali terlihat ±2–3 cm
5. Tentukan Kondisi
Jika tali tidak terlihat: evaluasi risiko pelepasan spontan atau
IUD
perforasi |
Rujuk bila ada infeksi, perdarahan, atau IUD tidak ditemukan
6. Tindak Lanjut
Edukasi ulang cara deteksi dini tanda bahaya
Catat hasil pemeriksaan, keluhan, tindakan, dan edukasi di
7. Dokumentasi
register KB dan rekam medis
Pemantauan AKBK Lainnya
• Implan:
o Amati lokasi bekas insisi, raba batang implan
o Tanyakan efek samping: spotting, amenorea
o Rujuk jika batang tidak teraba atau terjadi reaksi inflamasi
• MOW/MOP:
o Evaluasi luka operasi, edukasi tentang keefektifan pasca 3 bulan
o Pantau infeksi, nyeri, dan edukasi penggunaan kontrasepsi sementara bila
diperlukan
Poin Edukasi kepada Klien
• Cek tali IUD sebulan sekali setelah menstruasi
• Laporkan tanda bahaya: demam, nyeri panggul hebat, keputihan berbau,
perdarahan banyak
• Jadwal kontrol berkala sesuai jenis AKBK
• Jangan mencabut atau memanipulasi sendiri alat kontrasepsi
Sumber Referensi
1. Kemenkes RI (2020). Panduan Praktis Pelayanan Kontrasepsi
2. WHO (2015). Medical Eligibility Criteria for Contraceptive Use (5th edition)
3. BKKBN (2021). Pedoman Teknis Pelayanan Kontrasepsi Jangka Panjang
4. Varney’s Midwifery (2018). 6th Edition
5. PPK IBI (2017). Standar Praktik Klinik Bidan
RUJUKAN PELAYANAN KELUARGA BERENCANA (KB)
==================================================================
Tujuan Rujukan
• Memberikan pelayanan KB yang aman dan efektif bila tidak dapat ditangani di
fasilitas awal.
• Menangani komplikasi atau kondisi medis yang memerlukan pemeriksaan atau
tindakan lanjutan.
• Memastikan keberlangsungan metode kontrasepsi sesuai kebutuhan dan kondisi
klien.
Indikasi Rujukan KB
1. Rujukan medis:
o Reaksi alergi berat terhadap kontrasepsi
o Efek samping serius (tromboemboli, perdarahan berat, infeksi)
o Komplikasi pemasangan IUD/implan (perforasi, implan tidak teraba)
o Kehamilan saat menggunakan kontrasepsi
2. Rujukan metode:
o Permintaan kontrasepsi jangka panjang (MOW/MOP)
o Alat atau tenaga tidak tersedia di fasilitas primer
o Kebutuhan evaluasi ginekologis sebelum pemasangan alat tertentu
3. Rujukan administratif/logistik:
o Fasilitas kehabisan stok alat/obat kontrasepsi
o Keterbatasan tenaga ahli terlatih (misalnya untuk MOP/MOW)
4. Rujukan psikososial:
o Klien ragu-ragu, memerlukan konseling mendalam oleh tim multidisiplin
o Adanya KDRT atau tekanan dari pasangan terkait pilihan kontrasepsi
Alur Rujukan Pelayanan KB
1. Identifikasi kebutuhan rujukan →
2. Komunikasi awal ke tempat rujukan (RS, klinik, bidan terlatih) →
3. Persiapkan dokumen rujukan:
o Resume pelayanan KB
o Riwayat penggunaan kontrasepsi
o Pemeriksaan penunjang jika ada
4. Edukasi klien dan keluarga →
5. Lakukan pencatatan dan pelaporan rujukan
Contoh Tempat Rujukan KB
• Fasilitas rujukan primer:
o Puskesmas PONED / Klinik Pratama dengan layanan AKBK
• Fasilitas rujukan lanjutan:
o Rumah Sakit Umum / RS Tipe B atau C dengan layanan KB komprehensif
o Klinik KB MOW/MOP BKKBN
Sumber Referensi
1. Kementerian Kesehatan RI. (2020). Panduan Pelayanan Keluarga Berencana
Komprehensif dan Berkualitas.
2. BKKBN. (2021). Pedoman Teknis Pelayanan Keluarga Berencana dan Kesehatan
Reproduksi.
3. WHO. (2018). Family Planning: A Global Handbook for Providers.
4. PPK IBI. (2017). Standar Praktik Klinik Bidan.
5. Permenkes No. 28 Tahun 2017 tentang Izin dan Penyelenggaraan Praktik Bidan
(termasuk alur rujukan).