0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
7 tayangan22 halaman

Peran dan Fungsi DPD RI dalam Kebijakan

Dewan Perwakilan Daerah (DPD RI) adalah lembaga negara yang mewakili kepentingan daerah dalam kebijakan nasional, dibentuk berdasarkan UUD NRI Tahun 1945. DPD RI memiliki fungsi legislasi, pengawasan, dan pertimbangan anggaran, serta berperan dalam mengakomodasi aspirasi daerah. Susunan keanggotaan DPD RI mencakup perwakilan dari berbagai provinsi dan dilengkapi dengan alat kelengkapan untuk mendukung tugas dan fungsinya.

Diunggah oleh

nasmuh1312
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
7 tayangan22 halaman

Peran dan Fungsi DPD RI dalam Kebijakan

Dewan Perwakilan Daerah (DPD RI) adalah lembaga negara yang mewakili kepentingan daerah dalam kebijakan nasional, dibentuk berdasarkan UUD NRI Tahun 1945. DPD RI memiliki fungsi legislasi, pengawasan, dan pertimbangan anggaran, serta berperan dalam mengakomodasi aspirasi daerah. Susunan keanggotaan DPD RI mencakup perwakilan dari berbagai provinsi dan dilengkapi dengan alat kelengkapan untuk mendukung tugas dan fungsinya.

Diunggah oleh

nasmuh1312
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB II

TENTANG DPD
RI
Dewan Perwakilan Daerah (DPD RI) merupakan lembaga negara yang memiliki
kedudukan sebagai representasi kepentingan daerah. Dengan kedudukan tersebut, DPD RI
diharapkan mampu memperjuangkan kepentingan (aspirasi) rakyat dan daerah dalam
kebijakan-kebijakan nasional. Dengan demikian, yang menjadi gagasan dasar pembentukkan
DPD RI adalah keinginan untuk lebih mengakomodasi aspirasi daerah dan sekaligus memberi
peran yang lebih besar kepada daerah dalam proses pengambilan keputusan politik terutama
dalam hal-hal yang berkaitan langsung dengan daerah.
DPD RI lahir berdasarkan amanat Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia
Tahun 1945 (UUD NRI Tahun 1945) hasil amandemen yang termaktub dalam Pasal 22D, 23E,
dan 23F. Sejalan dengan UU MD3, DPD RI mempunyai fungsi legislasi, fungsi pengawasan
dan fungsi pertimbangan anggaran.
Fungsi legislasi, DPD RI
dapat: (1) mengajukan kepada
DPR RUU yang berkaitan
dengan otonomi daerah,
hubungan pusat dan daerah,
pembentukan dan pemekaran,
serta penggabungan daerah,
pengelolaan sumber daya alam
dan sumber daya ekonomi
lainnya, serta yang berkaitan
dengan perimbangan keuangan
pusat dan daerah; (2) Ikut
membahas RUU yang berkaitan
dengan otonomi daerah,
hubungan pusat dan daerah,
pembentukan, pemekaran, dan
penggabungan daerah,
pengelolaan sumber daya alam
dan sumber daya ekonomi lainnya, serta perimbangan keuangan pusat dan daerah; (3)
Memberikan pertimbangan kepada DPR atas RUU yang berkaitan dengan pajak, pendidikan
dan agama. Fungsi Pertimbangan Anggaran, DPD RI memberikan pertimbangan kepada DPR
atas pembahasan RUU Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RUU APBN) serta
pertimbangan lainnya seperti menindaklanjuti hasil pemeriksaan BPK.
Fungsi pengawasan, DPD RI dapat melakukan pengawasan atas pelaksanaan undang-
undang mengenai otonomi daerah, pembentukan, pemekaran, dan penggabungan daerah,
hubungan pusat dan daerah, pengelolaan sumber daya alam dan sumber daya ekonomi lainnya,
pelaksanaan APBN, pajak, pendidikan dan agama. Terkait pengawasan atas pelaksanaan
APBN, DPD RI memanfaatkan hasil pemeriksaan BPK.
Selanjutnya, sebagaimana ketentuan Pasal 249 ayat (1) huruf j UU MD3, menambah
kewenangan DPD RI yaitu melakukan pemantauan dan evaluasi atas randangan Perda dan
perda. Dalam hal ini kewenangan DPD RI bersifat rekomendasi atas hasil pemantauan dan
evaluasi atas ranperda dan perda. Keseluruhan peran pelaksanaan fungsi tersebut di atas
dilaksanakan dalam kerangka representasi daerah, dimana DPD RI menempatkan daerah
sebagai basis perjuangan dalam proses-proses kebijakan bernegara. Secara ringkas, sejarah
perkembangan dan peran DPD RI sejak awal berdiri hingga saat ini dapat dilihat pada bagan
berikut:
SUSUNAN KEANGGOTAAN DPD RI PERIODE 2019-2024

Pimpinan DPD RI

Ir. H. AA LANYALLA MAHMUD MATTALITTI


B-58
PROVINSI JAWA TIMUR
(Ketua)

(Wakil Ketua I) (Wakil Ketua II) (Wakil Ketua III)


SUSUNAN ANGGOTA DPD RI PERIODE 2019-2024

PROVINSI ACEH

PROVINSI SUMATERA UTARA

PROVINSI SUMATERA BARAT

PROVINSI RIAU

Dr. INTSIAWATI AYUS.,S.H., M.H.


B-13
PROVINSI RIA

PROVINSI JAMBI
PROVINSI SUMATERA SELATAN

PROVINSI BENGKULU

PROVINSI LAMPUNG
PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG

PROVINSI KEPULAUAN RIAU

PROVINSI DKI JAKARTA

PROVINSI JAWA BARAT


PROVINSI JAWA TENGAH

PROVINSI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA

PROVINSI JAWA TIMUR

PROVINSI BANTEN
PROVINSI BALI

PROVINSI NUSA TENGGARA BARAT

PROVINSI NUSA TENGGARA TIMUR

PROVINSI NUSA TENGGARA TIMUR


PROVINSI KALIMANTAN TENGAH

PROVINSI KALIMANTAN SELATAN

PROVINSI KALIMANTAN TIMUR

PROVINSI KALIMANTAN UTARA


PROVINSI SULAWESI UTARA

PROVINSI SULAWESI TENGAH

PROVINSI SULAWESI SELATAN

PROVINSI SULAWESI TENGGARA


PROVINSI GORONTALO

PROVINSI SULAWESI BARAT

PROVINSI MALUKU

PROVINSI MALUKU UTARA


PROVINSI PAPUA

PROVINSI PAPUA BARAT

PENGGANTI ANTAR WAKTU (PAW)

Matheus Stefi Pasimanjeku, S.H


BA – 127
SUSUNAN ALAT KELENGKAPAN DPD RI

TUGAS DAN FUNGSI ALAT KELENGKAPAN


1. PIMPINAN
Susunan Pimpinan DPD RI terdiri atas 1 (satu) orang Ketua dan 3 (tiga) orang
Wakil Ketua meliputi Wakil Ketua I, Wakil Ketua II, dan Wakil Ketua III yang
mencerminkan keseimbangan wilayah dan bersifat kolektif kolegial.

2. PANITIA MUSYAWARAH
Anggota Panitia Musyawarah terdiri atas Ketua alat kelengkapan DPD RI yang
bersifat tetap, serta 1 (satu) Anggota dari setiap provinsi yang belum terwakili
sebagai Ketua alat kelengkapan DPD RI. Pimpinan DPD RI karena jabatannya
menjadi pimpinan Panitia Musyawarah.
3. PANITIA KERJA
Panitia Kerja yang dimaksud adalah Komite yang terdiri dari Komte I, Komite
II, Komite III, dan Komite IV. Keanggotaan Komite terdiri atas 1 (satu) orang
Anggota dari masing-masing provinsi yang mencerminkan keterwakilan provinsi.
Pimpinan Komite dipilih dari dan oleh Anggota Komite.
Secara rinci tugas masing-masing Komite dapat dilihat pada tabel berikut ini.
4. PANITIA PERANCANG UNDANG-UNDANG

Keanggotaan Panitia Perancang Undang-Undang terdiri atas 1 (satu) orang


Anggota dari masing-masing provinsi yang mencerminkan keterwakilan provinsi.
Pimpinan Komite dipilih dari dan oleh Anggota Komite.

5. PANITIA URUSAN RUMAH TANGGA


Keanggotaan Panitia Urusan Rumah Tangga terdiri dari 1 (satu) orang
Anggota dari masing-masing provinsi dan 1 (satu) orang Anggota dari unsur
pimpinan alat kelengkapan yang ditetapkan melalui rapat pleno alat kelengkapan.
6. BADAN KEHORMATAN
Keanggotaan Badan Kehormatan terdiri atas 17 (tujuh belas) orang Anggota
yang mencerminkan keterwakilan wilayah. Susunan pimpinan Badan Kehormatan
terdiri atas 1 (satu) orang Ketua dan 3 (tiga) orang Wakil Ketua meliputi Wakil
Ketua I, Wakil Ketua II, dan Wakil Ketua III yang mencerminkan keseimbangan
wilayah dan bersifat kolektif kolegial.
7. BADAN AKUNTABILITAS PUBLIK
Keanggotaan Badan Akuntabilitas Publik terdiri atas 1 (satu) orang Anggota
dari masing-masing provinsi yang mencerminkan keterwakilan provinsi.

8. BADAN KERJA SAMA PARLEMEN

Keanggotaan Badan Kerja Sama Parlemen terdiri atas 1 (satu) orang Anggota
dari masing-masing provinsi yang mencerminkan keterwakilan provinsi. Susunan
pimpinan Badan Kerja Sama Parlemen terdiri atas 1 (satu) orang Ketua dan 3
(tiga) orang Wakil Ketua meliputi Wakil Ketua I, Wakil Ketua II, dan Wakil Ketua III
yang mencerminkan keseimbangan wilayah dan bersifat kolektif kolegial.

9. BADAN URUSAN LEGISLASI DAERAH


Keanggotaan Badan Urusan Legislasi Daerah terdiri atas 1 (satu) orang
Anggota dari masing-masing provinsi yang mencerminkan keterwakilan provinsi.

10.
K

ELOMPOK DPD RI DI MPR RI


Kelompok DPD RI di MPR dibentuk untuk meningkatkan optimalisasi kinerja
Anggota DPD RI sebagai anggota MPR. Keanggotaan Kelompok DPD RI di MPR
terdiri atas Pimpinan Kelompok DPD RI di MPR dan Anggota Kelompok DPD RI di
MPR. Susunan Pimpinan Kelompok DPD RI di MPR terdiri atas 1 (satu) orang Ketua,
12 (dua belas) orang Wakil Ketua, 1 (satu) orang Sekretaris, 12 (dua belas) orang
Wakil Sekretaris, 1 (satu) orang Bendahara, dan 7 (tujuh) orang Wakil Bendahara
yang mencerminkan keseimbangan wilayah dan bersifat kolektif kolegial.

11. PANITIA KHUSUS


Panitia Khusus merupakan alat
kelengkapan DPD RI yang bersifat
sementara yang dibentuk dalam
sidang paripurna dengan masa kerja
paling lama 6 (enam) bulan dan dapat
diperpanjang 1 (satu) kali 3 (tiga)
bulan.
Keanggotaan Panitia Khusus paling banyak 15 (lima belas) orang Anggota
yang berasal dari perwakilan alat kelengkapan dan/atau kelompok provinsi yang
ditetapkan oleh sidang paripurna.

Anda mungkin juga menyukai