BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Analisis Hidrologi
2.1.1. Uji Konsistensi data hujan
Analisis hidrologi adalah kegiatan awal dalam perencanaan setiap perencanaan
bangunan keairan dimana tingkat keberhasilan suatu bangunan air dipengaruhi ketelitian
dalam analisis ini. Hal ini berarti bahwa informasi dan besaran yang diperoleh dalam
analisis hidrologi merupakan masukan penting dalam analisis selanjutnya.
Analisis hidrologi dimulai dari pengujian data hujan untuk meredusir kesalahan
dalam analisis yang terbawa dari masukan data. Pengujian yang paling penting adalah
pengujian konsistensi data hujan. Pengujian ini dapat dilakukan dengan beberapa cara, dan
salah satunya adalah cara RAPS (Rescaled Adjusted patrial Sums) yang diyakini
memberikan hasil pengujian lebih baik dari metode lain (Sri Harto, 1993) yang dijabarkan
dalam persamaan berikut :
k
Sk ∗ = ∑ (Yi − Y )
i=1 (1)
∗¿
Sk ** =Sk ¿
Dy (2)
n
∑ (Yi − Y )2
i+1
Dy 2 =
n (3)
Dengan :
n = jumlah data hujan
Yi = data curah hujan
Y = rerata curah hujan
Nilai statistik Q adalah maksimum nilai dari | S k**| sedangkan nilai statistik R
adalah nilai maksimum Sk**. Dari nilai statistik hasil perhitungan dengan memakai
persamaan di atas maka dapat dicari nilai Q/√n. Hasil yang didapat dibandingkan dengan
4
nilai kritik yang disajikan dalam tabel 2.1, jika lebih kecil maka data masih dalam batasan
konsisten dan data dapat dipergunakan.
Tabel 2.1 Nilai kritis yang diijinkan untuk metode RAPS
Q/ √ n R/ √ n
N
90% 95% 99% 90% 95% 99%
10 1,05 1,14 1,29 1,21 1,28 1,38
20 1,10 1,22 1,42 1,34 1,43 1,60
30 1,12 1,24 1,46 1,40 1,50 1,70
40 1,13 1,26 1,50 1,42 1,53 1,74
50 1,14 1,27 1,52 1,44 1,55 1,78
100 1,17 1,29 1,55 1,50 1,62 1,86
>100 1,22 1,36 1,53 1,62 1,75 2,00
Sumber : Sri Harto, 1993
2.1.2. Curah hujan Rerata DAS
Beberapa metode yang biasa digunakan untuk menghitung besar hujan rata-rata
DAS, antara lain :
Rata-rata Aljabar
Poligon Thiessen
Isohyet
Dari ketiga cara diatas cara Isohyet adalah yang paling teliti untuk mendapatkan
hujan rata-rata DAS, tapi mempunyai kekurangan yaitu untuk membuat garis-garis Isohyet
memerlukan jaringan stasiun hujan yang relatif padat. Waktu penggambaran garis-garis
Isohyet juga terlalu rumit karena harus memperhatikan pengaruh bukit atau gunung
terhadap distribusi hujan (hujan orografik) (CD. Soemarto,1995). Sehingga Thiessen
dianggap paling reliabel dan memuaskan untuk dipakai sebagai metode perhitungan hujan
rata-rata daerah dengan persamaan sebagai berikut :
5
A 1 R 1 + A 2 R 2 +. .. .+ A n R n (4)
R=
A 1 + A 2 +. . ..+ A n
A 1 R 1 + A 2 R 2 +. .. A n R n (5)
R=
A
R=W 1 R 1 +W 2 R 2 +. . ..+W n R n (6)
dimana :
R = curah hujan daerah (mm)
R1, R2, …., Rn = curah hujan di tiap-tiap titik
pengamatan
A1, A2, …., An = bagian daerah yg mewakili titik-
titik pengamatan
A1 A2 An
W 1 , W 2 , …W n= , ,….
Gambar 2.1. Poligon Thiessen A A A
2.1.3. Hujan Rancangan
Perhitungan curah hujan rancangan diawali dengan pemilihan jenis distribusi data
hujan. Dalam statistik dikenal beberapa jenis distribusi frekuensi, masing-masing
distribusi memiliki sifat khas, sehingga setiap data harus diuji kesesuaiannya dengan sifat
statistik masing-masing distribusi tersebut. Pemilihan agihan yang tidak benar dapat
mengundang kesalahan prakiraan yang cukup besar. Oleh karena itu, pengambilan salah
satu agihan secara sembarang untuk analisis tanpa pengujian data hidrologi sangat tidak
dianjurkan (Sri Harto, 1993).
Parameter-parameter yang digunakan dalam pemilihan jenis distribusi (Sri Harto,
1993):
a. Nilai rerata
n
∑ Xi
i=1
X̄ = (7)
n
b. Standar deviasi
√
n
∑ ( X i − X̄ ) 2
S=
i=1
(8)
n−1
c. Koefisien variasi
S (9)
Cv =
X̄
d. Koefisien kepencengan
n
n ×∑ ( X i − X̄ )3
i=1
Cs = (10)
( n − 1) ( n − 2) S3
6
e. Koefisien kurtosis
n
n2 ×∑ ( X i − X̄ ) 4 (11)
i=1
Ck =
( n−1 ) ( n−2 ) ( n−3 )× S 4
dengan :
S : simpangan baku dari sample
n : jumlah data
Cs : koefisien kepencengan
Cv : koefisien variasi
Ck : koefisien kurtosis
Xi : data curah hujan
X : rerata curah hujan.
Syarat-syarat penentuan agihan, sebagai berikut (Sri Harto, 1993) :
1. Agihan Normal, Cs ≈ 0, Ck = 3
2. Agihan Log Normal, Cs ≈ 3Cv
3. Agihan Gumbel, Cs = 1,14; Ck = 5,4
4. Agihan Log Pearson Tipe III, tidak ada syarat (seluruh nilai di luar ketiga agihan
lainnya).
Besarnya curah hujan rancangan untuk evaluasi ini dapat dihitung dengan
menggunakan persamaan log normal sebagai berikut (Soewarno, 1995):
X
R= + Kt. S (12)
√
n
∑ ( Log X i−Log X )
2
i =1
S= (13)
n−1
dengan :
R : curah hujan rancangan yang dicari
X : logaritma rerata dari curah hujan
S : simpangan baku
Kt : nilai variabel reduksi gauss
2.1.4. Waktu Konsentrasi
7
Perhitungan waktu konsentrasi didasarkan atas waktu yang diperlukan air untuk
mengalir dari bagian terjauh melalui permukaan tanah ke saluran terdekat dan waktu
mengalir di dalam saluran ke tempat yang diukur (Suripin, 2003).
Persamaan yang dapat digunakan untuk menghitung waktu konsentrasi adalah
sebagai berikut (Suripin, 2003):
tc = to + td (14)
to =
[ 2
3
x 3 , 28 xLx
n
√S ] menit (15)
td = Ls / (60V) menit (16)
dengan :
tc : waktu konsentrasi (menit)
to : waktu yang diperlukan air untuk mengalir dari bagian terjauh melalui permukaan
tanah ke saluran terdekat (menit)
td : waktu mengalir di dalam saluran ke tempat yang diukur (menit)
Ls : panjang lintasan aliran di dalam saluran (m)
L : panjang lintasan aliran di atas permukaaan lahan (m)
S : kemiringan lahan
V : kecepatan aliran didalam saluran (m/dt)
2.1.5. Analisis Intensitas Hujan Rancangan
Untuk mengetahui seberapa besar intensitas hujan rancangan yang terjadi, perlu
dilakukan perhitungangan analisa intensitas hujan, dengan menggunakan rumus mononobe
R 24
( )
2
I= 24 3 (17)
24 t
dengan :
I : intensitas hujan (mm/jam),
t : waktu konsentrasi (menit),
R24 : curah hujan maksimum dalam 24 jam.
2.1.6. Metode Rasional
Untuk memperkirakan laju aliran permukaan puncak pada halaman rumah, metode
rasionalisasi ini digunakan karena simpel dan mudah dalam penggunaannya. Goldman
8
[Link] telah membuat persamaan matematik metode rasional yang dinyatakan dalam bentuk
(Suripin, 2003):
Q = 0,002778 C I A (18)
Dengan :
Q : laju aliran permukaan ( debit ) puncak (m3/detik)
C : koefisien aliran permukaan
I : intensitas hujan (mm/jam)
A : luas halaman (ha)
Koefisien pengaliran didefinisikan sebagai rasio antara puncak aliran permukaan
terhadap intensitas hujan. Faktor utama yang menentukan koefisien c ini adalah laju
infiltrasi atau prosentase lahan kedap air, kemiringan lahan, tanamanpenutup tanah dan
intensitas hujan.
Besaran angka koefisien pengaliran (koefisien c) suatu daerah, disajikan dalam
tabel 2.2
Tabel 2.2 Koefisien Pengaliran menurut McGuen
Diskripsi bahan/karakter permukaan Koefisien pengaliran, c
Bussiness
Perkantoran 0.70 – 0.95
Pinggiran 0.90 – 0.70
Perumahan
Rumah tunggal 0.30 – 0.50
Multi unit, terpisah 0.40 – 0.60
Multi unit, tergabung 0.60 – 0.75
Perkampungan 0.25 – 0.40
Apartemen 0.50 – 0.70
Industri
Ringan 0.50 – 0.80
Berat 0.60 – 0.90
Perkerasan
Aspal dan beton 0.70 – 0.95
Batu bata, paving 0.50 – 0.70
Atap 0.75 – 0.95
Halaman tanah berpasir
Datar 2% 0.05 – 0.30
Rata-rata 2 – 7% 0.10 – 0.15
Curam, >7% 0.15 – 0.20
Halaman kereta api 0.10 – 0.35
Taman tempat bermain 0.20 – 0.35
9
Taman, pekuburan 0.10 – 0.25
Hutan
Datar, 0 – 5% 0.10 – 0.40
Bergelombang 5 – 10% 0.25 – 0.50
Berbukit, 10 – 30% 0.30 – 0.60
Sumber : Suripin, 2003
2.2. Perencanaan Sumur Peresapan
Konsep dasar sumur resapan pada hakekatnya adalah memberi kesempatan dan
jalan air hujan yang jatuh di atap atau lahan yang kedap air untuk meresap ke dalam tanah
dengan jalan menampung air tersebut pada suatu sistim resapan. Sumur resapan ini adalah
sumur kosong dengan kapasitas tampungan yang cukup besar sebelum air meresap ke
dalam tanah. Dengan adanya tampungan, maka air hujan mempunyai waktu yang cukup
untuk meresap ke dalam tanah sehingga pengisian air tanah menjadi optimal. (Suripin,
2003)
Berdasarkan konsep tersebut maka ukuran atau dimensi sumur yang diperlukan
untuk suatu lahan (kapling) sangat dipengaruhi oleh beberapa faktor berikut :
1) Luas permukaan penutupan.
Lahan yang airnya akan ditampung dalam sumur resapan, meliputi luas atap, dan
perkerasan-perkerasan lain.
2) Karakteristik hujan.
Meliputi intensitas hujan, lama hujan, selang waktu hujan. Secara umum dapat
dikatakan bahwa makin tinggi hujan, makin lama berlanghsungnya hujan,
membutuhkan volume sumur resapan yang makin besar. Sementara selang waktu
hujan yang besar akan mengurangi volume sumur yang diperlukan.
3) Koefisien permeabilitas tanah.
Kemampuan tanah dalam melewatkan air per satuan waktu. Tanah berpasir
mempunyai angka koefisien permeabilitas yang lebih tinggi dibandingkan tanah
berlempung
4) Tinggi muka air tanah.
Pada kondisi muka air tanah yang dalam, sumur peresapan perlu dibuat secara
besar-besaran karena tanah benar-benar memerlukan pengisian air melalui sumur
peresapan. Sebaliknya pada lahan yang muka airnya dangkal pembuatan sumur
10
peresapan akan kurang efektif, terutama pada daerah pasang surut atau di daerah
rawa dimana air tanahnya sangat dangkal.
Beberapa kegunaan dari sumur resapan diantaranya adalah sebagai berikut:
1. Menyimpan kelebihan air permukaan di dalam tanah.
2. Memperbaiki kualitas air tanah lokal melalui pencampuran dengan pengisian tanah
yang berasal dari air hujan.
3. Pembentukan tabir tekanan (pressure barrier) untuk mencegah intrusi air asin.
4. Meningkatkan produksi air tanah baik untuk minum maupun keperluan lain.
5. Mengurangi biaya operasi pompa dengan meninggikan permukaan air tanah.
6. Mencegah terjadinya penurunan air tanah.
Sumur resapan sangat berperan penting sebagai sarana pensuplai air kedalam tanah,
namun dalam penempatannya tidak dapat dipergunakan di sembarang tempat karena ada
beberapa hal yang menjadi persyaratan. Prinsip kerja sumur resapan adalah menyalurkan
dan menampung air hujan kedalam lubang atau sumur agar dapat memiliki waktu tinggal
di permukaan tanah lebih lama sehingga sedikit demi sedikit air dapat meresap kedalam
tanah.
Faktor persyaratan umum lain yang harus dipenuhi sebuah sumur resapan untuk
lahan pekarangan rumah adalah :
1. Sumur resapan harus berada pada lahan yang datar, tidak pada tanah berlereng,
curam atau labil.
2. Sumur resapan harus dijauhkan dari tempat penimbunan sampah, jauh dari septic
tank (minimum 5 m diukur dari tepi), dan berjarak minimum 1 m dari fondasi
bangunan.
3. Penggalian sumur resapan bisa sampai tanah berpasir atau maksimal 2 m
dibawah permukaan air tanah. Kedalaman muka air (water table) tanah
minimum 1,5 m pada musim hujan.
2.2.1 Tahapan perencanaan sumur peresapan
Menurut SNI 03-2453-2002 Tata Cara Perencanaan Sumur Resapan Untuk Lahan
Pekarangan dan Suripin 2004 memuat berbagai parameter perencanaan di antaranya :
A. Persyaratan
11
Sekalipun sumur resapan banyak mendatangkan manfaat, namun pembuatannya
harus memperhatikan syarat-syarat yang diperlukan untuk mendapatkan hasil yang
optimal. Persyaratan umum:
1. Sumur resapan air hujan harus dibuat pada lahan yang lolos air dan tahan longsor.
2. Sumur resapan air hujan harus bebas kontaminasi/pencemaran limbah.
3. Air yang masuk sumur resapan adalah air hujan.
4. Untuk daerah sanitasi lingkungan buruk, sumur resapan air hujan hanya
menampung air atap dan disalurkan melalui talang
5. Mempertimbangkan aspek hidrologi
B. Pemilihan lokasi
1) Keadaan muka air tanah
Untuk mengatahui kedalaman muka air tanah dilakukan pengukuran/pengamatan
langsung di lapangan. Kedalaman diukur dari permukaan air tanah di sumur
sekitarnya pada musim hujan yaitu ≥1,50 m.
2) Permeabilitas tanah
Permeabilitas tanah yang dapat digunakan untuk sumur resapan di bagi tiga kelas
sebagai berikut:
a. Permeabilitas tanah sedang (lanau, 2,0-6,5 cm/jam)
b. Permeabilitas tanah agak cepat (pasir halus, 6,5-12,5 cm/jam)
c. Permeabilitas tanah cepat (pasir kasar, lebih besar 12,5 cm/jam)
Penempatan sumur resapan sebaiknya memperhatikan persyaratan yang tercantum
dalam tabel di bawah ini:
Tabel 2.3 Jarak minimal pembuatan sumur resapan
No Bangunan atau Objek Jarak Minimal (m)
1 Fondasi Bangunan/rumah 1
2 Sumur untuk air minum 3
3 Septic Tank 5
Sumber: Anonim, 2002
2.2.2. Dimensi sumur
Secara garis besar sumur resapan dapat di artikan sebagai prasarana untuk
menampung dan meresapkan air hujan kedalam tanah. Tujuan utama dari sumur resapan
12
adalah memperbesar masuknya air kedalam akuifer tanah sebagai air resapan (infiltrasi).
Dengan demikian, air akan lebih banyak masuk kedalam tanah dan sedikit yang mengalir
sebagai aliran permukaan (run off). Dengan sumur resapan, maka air hujan dari atap
rumah tidak mengalir ke jalan atau ke saluran drainase. Sumur resapan dapat mengurangi
banjir dan juga mengatasi genangan lokal. Hal itu akan membantu mengurangi beban
saluran drainase. Jalanan yang berubah menjadi sungai saat hujan lebat adalah akibat air
hujan yang berasal dari atap rumah dan permukaan tanah yang sudah tertutup oleh aspal
dan beton langsung mengalir ke jalan.
Sejauh ini telah dikembangkan beberapa metode untuk mendimensi sumur
peresapan, beberapa di antaranya menurut Sunjoto sebagai berikut : (Suripin, 2003)
−f .k .t
Q πR 2
∗( 1−e )
H= f . k (19)
dengan:
H = kedalaman efektif sumur (m)
Q = debit air masuk sumur (m3/detik)
f = faktor geometrik sumur (m)
k = koefisien permeabilitas tanah (m/detik)
t = waktu pengaliran (detik)
R = jari-jari sumur (m)
Faktor geometrik tergantung pada berbagai keadaan sebagai berikut
(Suripin, 2003) :
13
Gambar 2.2 Debit resapan pada sumur dengan berbagai kondisi menurut Bouilliot
(Suripin, 2003 )
Dari gambar 2.3 diatas dipilih 3 jenis sumur resapan, yaitu jenis pada gambar (a),
jenis pada gambar (e) dan jenis pada gambar (f). Persamaan dari 3 jenis kondisi sumur
resapan tersebut dapat disajikan sebagai berikut :
1. Jenis kondisi pertama (Gambar. a) :
Qo = 5,5 R K H (20)
2. Jenis kondisi kedua (Gambar. e) :
Qo = 4 R K H (21)
3. Jenis Kondisi ketiga (Gambar. f ) :
2 π LKH
√ ( )
2
L L
ln ( + 1+
Qo = R R (22)
dengan :
R : jari-jari sumur resapan (m)
K : permeabilitas tanah (m/detik)
H : tinggi muka air dalam sumur (m)
14
L : kedalaman bahan porous (m)
Luas penampang sumur resapan :
π . d2
A= 4 (23)
Keliling penampang sumur resapan :
P = π .d (24)
Jari-jari sumur resapan :
R=½d (25)
2.3. Model Fisik
Pemodelan (modelling) adalah proses peniruan masalah yang ada di prototip
dengan skala yang lebih kecil dan dilakukan dengan cara yang benar. Proses penyelesaian
masalah dalam sebuah model (solving) hanya akan berlaku pada model, dan diperlukan
interpretasi (interpretation) untuk memindahkan hasil penyelesaian masalah yang
dikerjakan di model untuk keperluan pemecahan masalah yang berlaku di prototip (Yusuf,
2012).
Model fisik (hydraulics scale model/physical modeling)dibuat jika fenomena fisik
dari permasalahan yang ada di prototip dapat dibuat dengan skala yang lebih kecil dengan
kesebangunan yang memadai.
Sedangkan tahap pengecekan model meliputi :
1. Kalibrasi, yaitu pengaturan model agar data-data yang ada di prototip sesuai dengan
yang ada di model
2. Verifikasi, yaitu pembuktian bahwa model sudah sesuai dengan yang ada di prototip
tanpa mengubah atau mengatur model lagi.
2.3.1. Skala model
Hubungan antara model dan prototip diturunkan dengan skala, yaitu rasio antara
nilai parameter yang ada di prototip dengan nilai parameter tersebut pada model. Dasar
penyekalaan model adalah membentuk kembali problema yang ada di prototip dalam skala
yang lebih kecil (model) sehingga fenomena yang ada di model tersebut sebangun (mirip)
dengan yang ada di prototip. Kesebangunan tersebut dapat berupa (Yusuf, 2012) :
1. Sebangun geometrik (panjang, lebar dan tinggi).
15
Sebangun geometrik dipenuhi apabila model dan prototip mempunyai bentuk yang
sama tapi berbeda ukuran.
Ada dua macam sebangun geometrik :
Sebangun geometrik sempurna (tanpa distorsi/undistorted model), yaitu jika
skala panjang (arah horizontal) dan skala tinggi (arah vertikal) adalah sama.
Sebangun geometrik terdistorsi (distorted model). Jika skala panjang (arah
horizontal) tidak sama dengan skala tinggi (arah vertikal)
Skala panjang dinotasikan dengan nL dan skala tinggi dengaan notasi nh, dimana :
L p panjang pada prototip
n L= =
Lm panjang pada model
h p tinggi pada prototip
n h= =
hm tinggi pada model
Pada sebangun geometrik sempurna dapat ditentukan :
a. Skala luas
A p (panjang x lebar ) p 2
nA= = =(nL )
A m ( panjang x lebar)m
b. Skala volume
V p ( panjang x lebar x tinggi) p 3
n v= = =(n L )
V m ( panjang x lebar x tinggi)m
Sedangkan pada model sebangun dengan distorsi :
a. Skala luas posisi horizontal
A p (panjang x lebar ) p 2
nA= = =(nL )
A m ( panjang x lebar)m
b. Skala luas posisi vertikal
A p (panjang x tinggi ) p ❑
nA= = =(n L )(nh )
A m ( panjang x tinggi)m
c. Skala volume
V p ( panjang x lebar x tinggi) p 2
n v= = =( nL ) (nh )
V m ( panjang x lebar x tinggi)m
16
2. Sebangun kinematik (kecepatan, debit)
Sebangun kinematik terjadi jika antara prototip dan model sebangun geometric dan
perbandingan kecepatan dan percepatan di dua titik yang bersangkutan pada prototip
dan model pada arah yang sama adalah sama besar.
Pada kesebangunan kinematik ini dapat ditentukan :
a. Skala kecepatan
U p nL nh
nU = = atau
U m nT nT
b. Skala percepatan
a p nL nh
n a= = 2 atau 2
am n T nT
c. Skala debit
3 2
Qp n L n L nh
nQ = = atau
Qm nT nT
3. Sebangun dinamik (berhubungan dengan gaya)
Jika prototip dan model sebangun geometric dan kinematic, dan gaya-gaya yang
bersangkutan pada model dan prototip untuk sleuruh pengaliran pada arah yang sama
adalah sama besar, maka dikatakan bahwa keduanya sebangun dinamik. Yang
dimaksud gaya-gaya tersebut adalah :
a. Gaya inersia
F i=m a=ρ L
3
( TL )=ρ U L
3
2 2
b. Gaya tekanan
2
F p= p A= p L
17
c. Gaya berat
3
F w =m g=ρ L g
d. Gaya gesek (viskositas)
F v =μ ( dudy ) A=μ( UL ) L 2
e. Gaya kenyal
2
F e =E A=E L
f. Gaya tekanan permukaan
F s=σ L
Dipilih gaya-gaya yang berpengaruh dan penting saja dalam menentukan skala model
kesebangunan dinamik.
2.3.2. Bilangan tak berdimensi untuk mendapatkan kesebangunan
Banyak diantara bilangan tak berdimensi dalam analisis hidraulik, sehingga dalam
pemodelan diperlukan penanganan khusus. Diantara bilangan tak berdimensi itu
diantaranya adalah :
1. Bilangana Reynold
UL ℜp U p Lp ϑ m nU nL
ℜ= =n ℜ= = =
ϑ ℜp ϑ m U m Lm nϑ
Bilangan Reynold dapat diekspresikan sebagai ratio antara gaya inersia dengan gaya
gesekan (viskositas)
2
( ρ L3 ) ( U )
du L ρU L U L
τ =μ = = = =ℜ
dy μU 2 μ ϑ
( )L
L
Jika gaya inersia dan gaya gesek sama-sama memegang peranan penting dalam
permasalahan, maka rasio kedua gaya pada model dan prototip harus sama.
nU nL
n ℜ= =1
nϑ
18
Persyaratan ini disebut kriteria sebangun dinamik menurut kondisi Bilangan Reynold.
Syarat ini disebut Scale condition
2.3.3. Analisa Dimensi
Digunakan sistim MLT yaitu penulisan dimensi dengan elemen pokok Massa (M),
panjang (L) dan waktu (T). Dalam pemodelan dilakukan pengecilan dari variabel tersebut
dengan skala (n). Skala dari berbagai variabel/parameter dapat ditentukan berdasarkan
hubungan antar parameter yang diekspresikan dalam bilangan tak berdimensi, misalnya
Reynold, Froude, dan sebagainya.
Tabel 2.4. Sistim penulisan dimensi dengan elemen pokok
massa, panjang, dan waktu
No Variabel/parameter Simbol Dimensi
1 Panjang L L
2 Waktu T, t T
3 Massa M M
4 Luas A L2
5 Volume V L3
6 Kecepatan linier U, V, u, v L/T
7 Kecepatan sudut, frekuensi w, f 1/T
8 Percepatan linier a L/T2
9 Percepatan sudut - 1/T2
10 Debit Q L3/T
11 Debit per satuan lebar q L2/T
12 Viskositas kinematik v L2/T
13 Gaya F ML/T2
14 Rapat massa M/ L3
15 Berat unit w, M/L2/T2
16 Takanan, tegangan gesek p, M/L2/T2
17 Energi E ML2 /T2
18 Energi per satuan massa E’ L2/T2
19 Energi per satuan berat H L
20 Momentum M ML/T
21 Tenaga p, t ML2 /T3
19
22 Viskositas dinamik M/LT
23 Tegangan permukaan M/T2
24 Modulus bulk k M/LT2
20