BAB II
LANDASAN TEORI
2.1 Teori Kinerja Karyawan
2.1.1 Pengertian Kinerja Karyawan
Kinerja apabila dikaitkan dengan performance sebagai benda (noun),
maka pengertian performance atau kinerja adalah hasil kerja yang dapat dicapai
oleh seseorang atau kelompok orang dalam suatu perusahaaan sesuai dengan
wewenang dan tanggung jawab masing-masing dalam upaya pencapaian tujuan
perusahaan secara ilegal, tidak melnggar hukum dan tidak bertentangan dengan
moral dan etika (Rivai & Basri, 2004: Habsoro 2011).
Pengertian kinerja (prestasi kerja) adalah hasil kerja secara kualitas dan
kuantitas yang dicapai oleh seseorang karyawan dalam melaksanakan fungsinya
seseuai dengan tanggung jawab yang diberikan kepadanya. Performance atau
kinerja merupakan hasil atau keluaran dari suatu proses (Nurlaila, 2010,71)
Menurut pendekatan perilaku dalam manajemen, kinerja adalah kuantitas
atau kualitas sesuatu yang dihasilkan atau jasa yang diberikan oleh seseorang yang
melakukan pekerjaan (Luthans, 2005:165) Kinerja merupakan prestasi kerja, yaitu
perbandingan antara hasil kerja standar yang ditetapkan (Dessler,2006:41).
Kinerja adalah hasil kerja baik secara kualitas maupun kuantitas yang dicapai oleh
seseorang dalam melaksanakan tugas sesuai tanggung jawab yang diberikan
(Mangkunagara, 2008:22)
11
12
Kinerja adalah hasil atau tingkatan keberhasilan seseorang secara
keseluruhan selama periode tertentu dalam melaksanakan tugas dibandingkan
dengan berbagai kemungkinan, seperti standar hasil kerja, target atau sasaran atau
kriteria yang telah ditentukan terlebih dahulu telah disepakati bersama (Rivai dan
Basri, 2005:50), Sedangkan Mathis dan Jackson (2006:65) menyatakan bahwa
kinerja pada dasarnya adalah apa yang dilakukan atau tidak dilakukan karyawan.
Manajemen kinerja adalah keseluruhan kegiatan yang dilakukan untuk
meningkatkan kinerja perusahaan atau organisasi, termasuk kinerja masing-
masing individu dan kelompok kerja di perusahaan tersebut.
Kinerja merupakan hasil kerja dari tingkah laku (Amstrong, 2005:15).
Pengertian kinerja ini mengaitkan antara hasil kerja dengan tingkah laku. Sebagai
tingkah laku, kinerja merupakan aktivitas manusia yang diarahkan pada
pelaksanaan tugas organisasi yang dibebankan [Link] dari sudut
pandang ahli yang lain, kinerja adalah banyak nya upaya yang dikeluarkan
individu pada pekerjaannya (Robbins, 2011). Sementara itu menurut Bernadi &
Russel 2001 (dalam Riani 2011) performasi adalah catatan yang dihasilkan dari
fungsi suatu pekerjaan tertentu atau kegiatan selama periode waktu tertentu.
Menurut Sinambela, dkk (2012) mengemukakan bahwa kinerja karyawan
didefinisikan sebagai kemampuan karyawan dalam melakukan sesuatu keahlian
tertentu. Kinerja karyawan sangatlah perlu, sebab dengan kinerja ini akan
diketahui seberapa jauh kemampuan karyawan dalam melaksanakan tugas yang
dibebankan kepadanya. Untuk di perlukan penentuan kriterian yang jelas dan
terukur serta ditetapkan secara bersama-sama yang dijadikan sebagai acuan
13
Menurut Simamora (2009), kinerja karyawan adalah tingkat terhadap
mana para karyawan mencapai persyaratan-persyaratan pekerjaan. Mutu kerja
karyawan secara langsung mempengaruhi kinerja perusahaan. Guna mendapatkan
kontribusi karyawan yang optimal, manajemn harus memahami secara mendalam
strategi untuk mengelola, mengukur, dan meningkatkan kinerja, yang dimulai
terlebih dahulu dengan menentukan tolak ukur kinerja. Ada beberapa syarat tolak
ukur kinerja yang baik, yaitu :
1. Tolak ukur yang baik, haruslah mampu diukur dengan cara yang dapat
dipercaya
2. Tolak ukur yang baik, harus mampu membedakan individu-individi
sesuai dengan kinerja mereka
3. Tolak ukur yang baik, harus sensitif terhadap masukan dan tindakan-
tindakan dari pemegang jabatan
4. Tolak ukur yang bail, harus dapat diterima oleh individu yang mengetahui
kinerjanya sedang dinilai.
5. Tolak ukur yang baik, harus dapat diterima oleh individu mengetahui
kinerjanya sedang dinilai.
2.1.2 Tujuan Penilaian Kinerja
Dalam kebanyakan perusahaan program penialain dirancang untuk
memberikan pada orang yang dinilai dan orang yang menilai, informasi mengenai
hasil kerja atau dilaksanakan harus ada pengertian antara karyawan dan atasan
mengenai sasaran sistem penilaian ini. Dua tujuan penilaian prestasi adalah untuk
14
mencapai suatu kesimpulan yang evaluative dan memberikan pertimbangan
mengenai nilai hasil kerja.
Perusahaan semakin sadar bahwa para penilai harus mengetahui dengan
jelas tujuan dari program penilaian prestasi kerja. Tujuan pengembangan dan
tujuan memberikan pertimbangan pada pelaksanaan program penilaian ini kadang
dapat dibedakan karena pada dasarnya program penilaian ini dilaksanakan untuk
menilai hasil kerja karyawan secara keseluruhan. Program penilaian hasil kerja
yang dirancang dan dilaksanakan dengan baik untuk dapat memberikan pengaruh
motivasional terhadap karyawan yang dinilai.
Program tersebut dapat merangsang peningkatan, pengembangan rasa
tanggung jawab dan meningkatkan keterikatan pada perusahaan. Penilaian prestasi
kerja ini harus bersifat memberikan motivasi, karena penilaian prestasi kerja dan
memberikan pengertian pada karyawan mengenai apa yang diharapkan dari
mereka. Tujuan lain dari penilaian prestasi kerja adalah meningkatkan pengertian
pimpinan pada bawahannya melalui perilaku bawahan tersebut.
Adapun tujuan penilaian prestasi kerja dapat disimpulkan sebagai berikut :
a. Mempunyai atau memberikan pengaruh sebagai pemberi motivasi
b. Merangsang peningkatan dan pengembangan rasa tanggung jawab
c. Menumbuhkan rasa ketergantungan pada instansi
d. Meningkatkan pengertian antara atasan dan bawahan
e. Mengantisipasi kebutuhan akan pelatihan dan pengembangan karyawan
f. Menghindari pilih kasih manajer terhadap bawahan
15
g. Mengukur sejauh mana peningkatan yang dicapai oleh setiap karyawan
dari waktu ke waktu dengan cara membandingkan penilaian prestasi
sebelumnya dengan sekarang
h. Mengukur keberhasilan kepemimpinan seseorang.
2.1.3 Faktor Yang Mempengaruhi Kinerja
Pelaksanaan penilaian prestasi kerja pada setiap jenjang struktur organisasi
perusahaan harus memberikan batasan yang jelas tentang unsur – unsur yang akan
dinilai. Berdasarkan jenjang struktur perusahaan tersebut harus dibuat patokan
yang jelas dan benar – benar sesuai dengan pekerjaan yang dilaksanakan. Baik
untuk supervisor atau manajer maupun karyawan operasional. Perbedaan ini harus
jelas untuk setiap jenjang tersebut, agar maksud penilaian itu sendiri yakni :
a. Bentuk penilaian harus sesuai dengan jenis pekerjaan yang akan dinilai,
serta dengan jenis – jenis organisasi perusahaan yang mengadakan
penilaian tersebut
b. Dapat dipercaya, bentuk penilaian kinerja yang dilaksanakan dari waktu ke
waktu tidak boleh ada perbedaan
c. Harus dapat menunjukkan secara jelas penilaian prestasi tentang hasil
kerja diantara karyawan
d. Penilaian kinerja dilaksanakan secara bebas oleh lebih dari satu orang
penilai bagi setiap karyawan yang dinilai.
e. Untuk melakukan program penilaian prestasi kerja, penetapan unsur yang
dinilai harus sesuai dengan jenis pekerjaan karyawan, sehingga tidak
16
terjadi rasa ketidak adilan dan ketidak puasan para karyawan yang dinilai.
Biasanya unsur prestasi kerja karyawan dibagi atas dua kelompok yakni
unsur kepada regu ke bawah dan kepala sisi ke atas.
Dari dua kelompok tersebut mempunyai unsur penilaian karena kenyataannya
kemampuan, keahlian, tugas dan tanggung jawab merekapun sangat berbeda.
Penilaian yang bersifat tingkah laku sangat cocok diterapkan untuk pimpinan
tingkat bawah sebab manajer tingkat menengah ke atas sering meninggalkan
pekerjaannya pada waktu jam kerja, karena manajer ini perlu mengadakan
negoisasi keluar instansi.
2.1.4 Metode Penilaian Kinerja
Keharusan yang mengadakan penilaian prestasi kerja secara berkala dan
ketelitian merupakan beban bagi penyedia atau penilai, karena menyangkut
keputusan karyawan, keadaan ini lebih jauh akan menuntut penyedia yang baik
agar menghasilkan penilaian prestasi kerja yang adil untuk semua karyawan.
Sehingga pelaksanaan penilaian prestasi kerja dapat memilih atau menggunakan
beberapa metode yang ada yaitu : Penetapan peningkatan (rangking method),
cecklis yang dibobot (weighed checklis) dan cerita yang menjelaskan (description
essay).
1. Penetapan Peringkat ( Rangking Method )
Bentuk penilaian kerja ini sangat sederhana, yaitu membandingkan sesama
karyawan dalam suatu unit kerja. Hasil perbandingan yang akan diperoleh dengan
metode ini adalah penyusunan peningkatan karyawan secara sederhana. Dalam
17
penyusunan peringkat karyawan ini perusahaan mempunyai kriteria atau unsur
tertentu seperti : kualitas pekerja, disiplin, pengetahuan tentang pekerjaan.
Dengan peringkat inilah perusahaan akan dapat menentukan karyawan
yang mempunyai prestasi kerja yang baik, sehingga akan dapat ditentukan
promosi atau kenaikan gaji karyawan yang berprestasi tersebut. Dalam
penyusunan kriteria ini perusahaan lainnya belum tentu sama, walaupun sama –
sama mempergunakan metode penetapan peringkat atau perusahaan sejenis. Ini
mungkin disebabkan jenis pekerjaan yang berbeda, kualitas karyawan yang
berbeda dan tujuan penilaian bagi perusahaan tersebut.
2. Perbandingan Antara Karyawan (Employ Comparison)
Metode ini dilakukan dengan membandingkan seorang karyawan yang
mempunyai nilai prestasi kerja yang baik, terhadap seluruh karyawannya yang ada
dalam perusahaan atau unit kerja. Dengan adanya seorang karyawan sebagai
pembanding prestasi kerja ini, karyawan yang lain tinggal dicocokan prestasi kerja
terhadap karyawan yang mempunyai prestasi kerja yang sangat baik ini.
Sedangkan untuk mengambil salah satu karyawan yang mempunyai prestasi kerja
yang baik tersebut. Perusahaan menpergunakan kriteria penilaian seperti kualitas
pekerjaan yang baik, kerjasama yang baik dan pengetahuan pekerjaan yang baik
pula.
Setelah ditetapkan unsur – unsur penilaian prestasi kerja dan ditentukan
karyawan pembanding penilaian prestasi ini, karyawan yang lain akan dapat
ditentukan karyawan pembanding penilaian prestasi kerja ini, karyawan yang lain
18
akan ditentukan dengan prestasi kerjanya seperti memuaskan, kualitas kerja yang
baik, memenuhi standar kerja perusahaan, berdisiplin, kemampuan kerjasama
yang baik dan lainnya.
3. Skala Grafik (Grafhic Scala Method)
Merupakan sesuatu metode penilaian prestasi kerja yang paling umum
digunakan, metode ini hampir sama dengan penilaian prestasi kerja perbandingan
antara karyawan dalam metode penilaian ini digunakan unsur-unsur penilaian
yang jelas batasnya, bukan menggunakan perbandingan seorang karyawan yang
berprestasi baik seperti perbandingan antara karyawan ini perbedaan yang
mendasar kedua metode ini. Unsur-unsur penilaian prestasi kerja ini digunakan
untuk menilai karyawan sangat bervariasi penetapan unsur ini disesuaikan dengan
kepentingan perusahaan yang melakukan penilaian.
4. Cheklist Bobot
Penilaian prestasi kerja dengan metode penilaian ini terdiri dari sejumlah
pertanyaan yang menjelaskan aneka ragam, perilaku karyawan dalam melakukan
suatu pekerjaan. Setiap unsur mempunyai bobot atau nilai yang diberikan pada
unsur tersebut, penilaian bagi setiap karyawan dilakukan dengan memberikan
tanda cek untuk setiap unsur penilaian ini, yang dapat menjelaskan perilaku
maupun hasil kerjanya. Metode penilaian checklist dimaksudkan kalimat-kalimat
atau kata-kata yang menggambarkan prestasi kerja dan karakteristik –
karakteristik karyawan. Seperti metode rating scale, penilai biasanya adalah atasan
langsung. Tetapi tanpa diketahui oleh penilai departemen personalia biasanya
19
memberikan bobot pada item – itemnya yang berbeda pada checklist. Pemberian
bobot ini memungkinkan penilaian dapat dikualifikasikan sehingga skor total
dapat ditentukan.
Metode checklist biasa memberikan satu gambaran prestasi kerja secara
akurat, bila daftar penilai berisi item – item yang memadai. Meskipun metode ini
praktis dan standarisasi, penggunaan kalimat-kalimat yang umum mengurangi
karakteristiknya dengan pekerjaan.
5. Cerita yang menjelaskan (Description Essays)
Metode ini untuk penilai prestasi kerja yang mengharuskan penilaian
menguraikan pokok – pokok (unsur – unsur) kekuatan karyawan dalam
melakukan pekerjaannya dan kelemahan – kelemahan dalam melaksanakan
pekerjaannya. Kadang penilaian ini hanya mengharuskan penilai untuk
menjelaskan secara rinci dengan pekerjaan yang dilakukan. Ada juga perusahaan
yang memberikan kebebasan pada penilaian untuk melakukan penilaian unsur –
unsur apa yang cocok menurutnya, sehingga dalam bentuk penilaian prestasi kerja
akan sangat berbeda sekali dalam setiap perusahaan bila dibandingkan dengan
metode lainnya.
Perbedaan penilaian ini dan kekuasaan untuk menilai yang diberikan pada
penilai akan banyak terjadi penilaian yang bersifat subyektif. Disini akan terlihat
siapa karyawan yang disukai dan siapa karyawan yang tidak disukai oleh manajer.
Hal ini yang menyebabkan terjadinya rasa ketidakpuasan karyawan, dan akhirnya
tidak akan mencapai tujuan penilaian itu sendiri.
20
2.2 Teori disiplin kerja
Disiplin merupakan masalah yang penting dan menentukan serta perlu
diperhatikan oleh setiap organisasi yang ingin berhasil dalam mencapai tujuan.
Moenir (2009: 182) mengemukakan pentingnya disiplin dalam suatu kegiatan.
Disiplin merupakan salah satu faktor dalam keberhasilan suatu kegiatan. Perlu
diketahui bahwa berhasilnya suatu usaha sangat ditentukan oleh tiga faktor, yaitu :
kesungguhan, disiplin dan keahlian. Salah satu faktor tidak ada maka hasil
kegiatannya akan menurun baik kualitas maupun kuantitasnya. Oleh karena itu
usaha mendisiplinkan karyawan harus mendapat perhatian yang sungguh-
sungguh.
Sejalan dengan pendapat di atas, Yuwono (2010: 181) mengemukakan
bahwa dalam setiap organisasi disiplin diperlukan agar jangan sampai ada
keteledoran atau kelalaian dan pemborosan dalam melakukan suatu kegiatan.
Disiplin akan membantu memberikan jaminan bahwa pekerjaan dapat
berlangsung secara terus menerus secara kontinyu dan target dapat tercapai sesuai
jangka waktu yang telah ditentukan.
Disiplin disini sangat penting dalam suatu organisasi, baik perusahaan atau
organisasi pemerintahan untuk menciptakan produktivitas yang tinggi dan prestasi
kerja sebagaimana dikemukakan Musanef (2005:181) bahwa disiplin juga tidak
kalah pentingnya dengan prinsip-prinsip lainnya, atinya setiap karyawan selalu
mempengaruhi hasil prestasi kerja. Oleh karena itu dalam setiap anggota perlu
ditegakkan disiplinnya. Melalui disiplin yang tinggi produktivitas kerja pada
21
pokoknya dapat ditingkatkan. Oleh sebab itu ditanamkan kepada setiap karyawan
disiplin yang sebaiknya.
The Liang Gie (2006: 96) mengemukakan, “Disiplin adalah suatu keadaan
dapat dikatakan tertib dimana orang-orang yang tergabung dalm sutu organisasi
tunduk kepada peraturan dengan senang hati”. Dalam hal ini disiplin akan berjalan
dengan baik dan lancer apabila masing-masing anggota (karyawan) melaksanakan
dengan penuh kesadaran bukan karena adanya unsure paksaan dari pihak
pimpinan. Sebab pada dasarnya atau kenyataannya karyawan dalam melaksanakan
kegiatan sehari-hari tidak mungkin diawasi secara terus menerus karena
menimbulkan suasana yang kaku dan karyawan akan merasa tertekan.
Soegeng (2009: 23) mengemukakan “disiplin adalah suatu kondisi yang
tercipta dan terbentuk melalui proses dari serangkaian perilaku yang menunjukkan
nilai-nilai ketaatan, kepatuhan, kesetiaan, keteraturan dan atau ketertiban”.
Disiplin mempunyai tiga aspek, yaitu :
1. Sikap mental (mental attitude), yang merupakan sikap taat dan tertib
sebagai hasil atau pengembangan dari latihan, pengendalian pikiran dan
pengendalian watak.
2. Pemahaman yang baik mengenai system aturan perilaku, norma, criteria
dan standar yang sedemikian rupa, sehingga pemahaman tersebut
menumbuhkan pengertian yang mendalam atau kesadaran, bahwa ketaatan
akan aturan, norma, criteria dan standar tadi merupakan syarat mutlak
untuk mencapai keberhasilan.
22
3. Sikap kelakuan yang secara wajar menunjukkan kesungguhan hati, untuk
mentaati segala hal secara cermat dan tertib.
Disiplin itu lahir, tumbuh dan berkembang dari sikap seseorang di dalam
system nilai budaya yang telah ada di dalam masyarakat. Terdapat unsure pokok
yang membentuk disiplin, pertama sikap yang telah ada pada diri manusia dan
system nilai budaya yang ada pada masyarakat. Sikap atau attitude tadi
merupakan unsure yang hidup di dalam jiwa manusia yang harus mampu bereaksi
terhadap lingkungannya, dapat berupa tingkah laku atau pemikiran. Sedangkan
system nilai budaya (Cultural value system) merupakan bagian dari budaya yang
berfungsi sebagai petunjuk atau pedoman atau penuntun bagi kelakuan manusia.
Sikap mental seseorang terhadap nilai budaya yang ada disekitarnya dapat
dibentuk dan dikembangkan dengan berbagai cara, yaitu melalui jalur-jalur :
a. Pendidikan informal didalam keluarga, pendidikan formal di sekolah dan
atau pendidikan non formal yang ada di dalam masyarakat.
b. Latihan-latihan yang terutama menekankan pada pembentukan kebiasaan
untuk bersikap patuh dan taat, yang dapat membentuk semangat
penguasaan diri dan pengendalian diri.
c. Penanaman pengaruh dalam bentuk pemberian keteladanan atau panutan,
koreksi, ganjaran, pujian atau penghargaan serta pengendalian.
Disiplin yang mantap pada hakikatnya akan tumbuh dan terpancar dari
hasil kesadaran manusia. Disiplin yang tidak bersumber dari hati nurani manusia
akan menghasilkan disiplin yang lemah dan tidak bertahan lama. Disiplinnya
tidak hidup tetapi mati. Disiplin tidak menjadi langgeng dan akan lekas pudar.
23
Disiplin yang tumbuh dari atas kesadaran diri, yang demikian itulah yang
diharapkan selalu tertanam dalam setiap diri karyawan.
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa disiplin adalah suatu sikap
seseorang yang patuh dan taat terhadap norma dan peraturan yang telah
ditetapkan. Disiplin melatih sikap mental yang mengandung kerelaan untuk
mematuhi segala peraturan dan ketentuan yang berlaku dalam pelaksanaan tugas
dan tanggung jawab. Disiplin merupakan ekspresi kedewasaan sebagai suatu sikap
tanggung jawab terhadap tingkah laku sendiri.
Sedangkan dalam hubungannya dengan pekerjaan, Siswanto (2007: 278)
mengemukakan bahwa disiplin kerja sebagai suatu sikap menghormati, patuh dan
taat terhadap peraturan-peraturan yang berlaku baik yang tertulis atau yang tidak
tertulis serta sanggup menjalankannya dan tidak mengelak untuk menerima
sanksi-sanksi apabila ia melanggar tugas dan wewenang yang diberikan
kepadanya.
Disiplin kerja pada dasarnya menunjukkan suatu sikap seseorang yang
menjadi anggota organisasi. Sikap tersebut berupa ketaatan terhadap ketentuan
dan aturan yang ada, seperti yang dikemukakan Atmosudirdjo (2005: 96) bahwa
disiplin adalah suatu sikap ketaatan kepada lembaga atau organisasi beserta apa
yang menjadi ketentuan-ketentuannya tanpa memakai atau menggunakan
pemaksaan hanya berdasarkan keinsyafan dan kesadaran bahwa adanya ketaatan
semacam itu sudah merupakan ketentuan dari tujuan dari suatu organisasi dan
perusahaan.
24
Di pihak lain Wursanto (2009:146) mendukung pendapat diatas, dengan
mengatakan bahwa disiplin kerja merupakan suatu cara dan gaya hidup yang tertib
dan teratur yang dikasiatkan oleh pengendalian diri sebagai kenampakan dari
kesadaran dan keyakinan, identitas dan tujuan serta sebagai kenampakan diri
terhadap penghayatan dan nilai-nilai tertentu yang telah membudaya dalam diri.
Disiplin erat kaitannya dengan moral yang melekat pada diri seseorang
untuk mewujudkannya perlu peraturan yang harus ditaati dan dilaksanakan
dengan penuh kesadaran dan tanggung jawab tanpa adanya paksaan dari pihak
atasan.
Disiplin dalam suatu organisasi pada dasarnya untuk memberikan jaminan
bahwa pekerjaan dapat berlangsung lancer tanpa terjadi keteledoran, kelalaian,
kelambatan maupun pemborosan dan sehingga kontinuitas organisasi atau
perusahaan dapat berlangsung terus.
Dalam rangka menumbuhkan dan mengembangkan disiplin diperlukan
suatu kesadaran dari para anggota organisasi, seperti yang dikemukakan oleh
Moenir (2008:182), “Bahwa dalam hal disiplin apapun obyeknya terdapat tiga
faktor yang berfungsi menumbuhkan dan selanjutnya memelihara disiplin ialah
kesadaran, keteladanan, adanya ketaatan pengaturan.”
Faktor kesadaran disini merupakan faktor utama, sedangkan keteladanan
dan ketaatan merupakan faktor penyerta dan penguat terhadap faktor utama.
Keteladanan dan pengaturan tidak akan mampu bertahan tanpa dilandasi oleh
kesadaran, sebaliknya jika sudah ada kesadaran maka keteladanan dan ketaatan
25
pengaturan akan memperkuat sikap disiplin seseorang. Seseorang atau suatu
kelompok dapat dipaksakan untuk berdisiplin namun yang lebih baik adalah
disiplin ayng timbul dari kesadaran, keinsyafan dan pengertian yang baik
mengenai tujuan serta loyal kepada atasan.
Martoyo (2007: 13) mengemukakan faktor-faktor yang mempengaruhi
pembinaan disiplin adalah : 1) Motivasi, 2) Kesejahteraan, 3) Kepemimpinan,
4) Pendidikan dan Latihan dan 5) Penegakan disiplin lewat hukum. Penerapan
disiplin kerja terhadap karyawan diharapkan akan menumbuhkan perasaan bahwa
dirinya sebagai pelaksana mempunyai peranan penting, karena mereka sadar
bahwa hal tersebut merupakan kunci keberhasilan dalam menunaikan tugas dan
tanggung jawab masing-masing sehingga mendorong setiap karyawan untuk
berusaha memahami seluk-beluk bidang pekerjaannya sebagai bagian yang ikut
berperan menentukan keberhasilan perusahaan atau produktivitas perusahaan.
Kesadaran tersebut akan mengembangkan sikap disiplin positif yang
perwujudannya berupa kesediaan berpartisipasi secara maksimal dalam
melaksanakan beban kerja bersama dengan karyawan lainnya.
2.3. Teori Gaya Kepemimpinan
2.3.1 Pengertian Gaya Kepemimpinan
Dalam setiap kegiatan manusia yang dilakukan bersama untuk mencapai
tujuan selalu membutuhkan kepemimpinan. Hal tersebut karena adanya
keterbatasan-keterbatasan dan kelebihan-kelebihan tertentu pada manusia.
Demikian pula dalam suatu organisasi keberadaan pimpinan sangat penting,
26
karena tanpa adanya pemimpin suatu organisasi hanyalah kumpulan orang-orang
atau mesin yang tidak teratur.
Sukses atau kegagalan suatu organisasi mencapai tujuan yang telah
ditentukan tergantung atas kemampuan para anggota, pimpinannya untuk
menggerakkan sumber-sumber dan alat-alat tersebut sehingga penggunaannya
berjalan dengan efisien, ekonomis dan efektif.
Jadi keberhasilan yang dialami sebagian besar organisasi ditentukan oleh
kualitas kepemimpinan yang dimiliki orang-orang yang diserahi tugas memimpin
dalam organisasi, yaitu kemampuan pemimpin untuk mempengaruhi bawahannya,
atau karyawan agar bekerja seperti yang ditentukan oleh organisasi. Hal ini
sejalan dengan apa yang dikemukakan oleh Koentjaraningrat seperti yang dikutip
oleh Soerjono Soekanto (2007: 318), “Kepemimpinan adalah kemampuan
seseorang untuk mempengaruhi orang lain sehingga orang lain itu bertingkah laku
sebagaimana yang dikehendaki pemimpin tersebut.”
Menurut Charles Z. Keating terjemahan A.M. Mangunhardjana (2006: 78),
“Kepemimpinan merupakan suatu proses dengan berbagai cara mempengaruhi
orang atau kelompok orang untuk mencapai tujuan bersama.” Sedangkan
Mcfarland dalam tulisan Soewarno Handayaningrat (2005: 64) memberikan
defenisi sebagai berikut :
Kepemimpinan sebagai suatu proses dimana pimpinan digambarkan akan
memberikan perintah atau pengarahan, bimbingan atau mempengaruhi pekerjaan
orang lain dalam memilih atau mencapai tujuan yang ditetapkan.
27
Di pihak lain Moerni (2008: 232) memberikan defenisi tentang
kepemimpinan secara lebih lengkap yakni :
Kepemimpinan pada dasarnya mempunyai pokok pengertian sebagai sifat,
kemauan, proses atau konsep yang dimiliki seseorang sedemikian rupa sehingga
telah diikuti, dipatuhi dan dihormati serta disayangi oleh orang lain itu sehingga
bersedia dengan penuh keikhlasan melakukan kegiatan atau perbuatan yang
dikehendaki seseorang tersebut.
Dari berbagai pengertian mengenai kepemimpinan dapat disimpulkan
bahwa kepemimpinan adalah proses mempengaruhi orang lain, bawahan atau
kelompok dengan cara memberi perintah mengarahkan, membimbing sehingga
orang lain atau bawahannya bersedia dengan ikhlas melakskaryawanan perbuatan
atau kegiatan yang dikehendaki dalam mencapai tujuan bersama. Jadi dalam
kepemimpinan terdapat unsur-unsur : 1) kemampuan mempengaruhi orang lain, 2)
kemampuan mengarahkan, membimbing, memberi perintah dan 3) untuk
mencapai tujuan organisasi atau kelompok.
Dalam konsep kepemimpinan untuk mewujudkan organisasi yang efektif
dan efesien maka diharapkan tiap-tiap pemimpin memiliki kemampuan
kepemimpinan. Yang dimaksud kepemimpinan menurut Yuwono (2008: 5) tidak
lain pada hakikatnya adalah kemampuan seseorang pemimpin untuk mengajak
orang bekerjasama melakukan kegiatan-kegiatan tertentu dalam rangka mencapai
tujuan, secara efektif dan efisien dalam suasana bekerja yang menyenangkan.
Dengan demikian jelas bahwa di dalam kepemimpinan di butuhkan
perilaku pemimpin yang dapat bekerjasama secara harmonis dengan bawahannya,
28
dapat menciptakan iklim dan suasana kerja kondusif penuh kekeluargaan, saling
menghargai dan menempatkan bawahan sebaik-baiknya.
Dalam mempelajari masalah kepemimpinan para ahli menggunakan
beberapa pendekatan. Stoner seperti dikutip Puworto (2006:23) mengemukakan
bahwa, “Pendekatan kepemimpinan dibedakan menjadi lima macam, yaitu
pendekatan sifat, perilaku, kontingensi, path goal dan teori kepemimpinan
situasional.” Sedangkan carrol dan Tossi merangkum menjadi tiga macam
pendekatan yaitu, “Pendekatan kesifatan, pendekatan perilaku, pendekatan
situasional.”
Pendapat Carrol dan Tossi ini sejalan dengan pendapat handoko (2009:
295) bahwa penelitian teori-teori kepemimpinan dapat diklasifikasikan menjadi,
“Pendekatan kesifatan, pendekatan perilaku, pendekatan situasional.” Pendekatan
“kesifatan” memandang kepemimpinan sebagai suatu kombinasi sikap-sikap
kepemimpinan yang tampak. Pendekatan “perilaku” bermaksud mengidentifikasi
perilaku-perilaku (behavior) pribadi yang berhubungan dengan kepemimpinan
efektif, sedangkan pendekatan “situasinal” menganggap bahwa kondisi yang
menentukan efektivitas kepemimpinan dengan situasi tertentu.
Pengertian perilaku kepemimpinan mengacu kepada pendekatan perilaku,
yakni perilaku yang berlandaskan pemikiran bahwa keberhasilan dan kegagalan
pemimpin ditentukan oleh gaya bersikap dan bertindak yang bersangkutan.
Gaya bersikap dan bertindak akan nampak dari cara memberi tugas, cara
memberi perintah, berkomunikasi, membuat keputusan, cara mendorong semangat
bawahan, menegakkan disiplin, cara mengawasi. (Sutarto, 2009: 64) sedangkan
29
Hersey (2010: 33) mengatakan, “Tingkah laku pemimpin adalah apa yang
dikatakan dan dilakukan seorang pemimpin.”
Pendekatan inilah yang melahirkan berbagai teori kepemimpinan, salah
satunya perilaku kepemimpinan yang dikemukakan oleh para peneliti Universitas
Ohio Staff peneliti dari universitas Ohio merumuskan kepemimpinan sebagai
suatu perilaku seorang individu ketika melakukan kegiatan pengarahan suatu
group kearah pencapaian tujuan tertentu. Menurut hasil penelitian yang mereka
lakukan dapat dibedakan adanya dua macam perilaku kepemimpinan, yaitu
“Ínitiating Structure (struktur tugas) dan Consideration (tenggang rasa).”
Pusat penelitian Universitas michigan melakukan penelitian untuk
mempelajari masalah kepemimpinan. Dari penelitiannya ditemukan adanya dua
macam perilaku kepemimpinan, yaitu “The Job centered (terpusat pada pekerjaan)
dan The Employee Centered (terpusat pada pegawai).”
Perilaku kepemimpinan yang terpusat pada pekerjaan mempunyai ciri
yang sama dengan perilaku struktur tugas dan perilaku kepemimpinan terpusat
pada pegawai mempunyai ciri yang sama dengan perilaku tenggang rasa. Pada
beberapa buku dimensi kepemimpinan ini berbeda kalimatnya tetapi didefenisikan
sama.
Initiating structure adalah hal yang menunjukkan perilaku kepemimpinan
dalam menentukan hubungan kerja antara dirinya dengan yang dipimpin dan
usahanya dalam menciptakan pola organisasi, saluran komunikasi dan prosedur
kerja yang jelas.
30
Consderation adalah hal yang menggambarkan perilaku kepemimpinan
yang menunjukkan kesetiakawanan, besahabat, saling percaya dan kehangatan
dalam hubungan kerja antara pimpinan dan anggota staffnya. Wahyosumidjo
(2007: 62) memberi defenisi tentang konsiderasi:
Konsiderasi adalah perilaku kepemimpinan yang cenderung kearah
kepentingan bawahan, sedang struktur inisiasi adalah perilaku kepemimpinan
yang lebih mementingkan tujuan organisasi dari pada kepentingan bawahan.
2.3.2 Jenis Gaya Kepemimpinan Yang Pokok
Adapun gaya-gaya kepemimpinan yang pokok atau dapat disebut ekstrim
ada tiga, yaitu Otokratis, Laissez faire, Demokratis.
1. Otokratis
Dalam kepemimpinan otokratis pemimpin bertindak sebagai diktator
terhadap anggota-anggota kelompok. Baginya memimpin adalah menggerakkan
dan memaksakan kelompok, penafsirannya sebagai pemimpin tidak lain adalah
menunjukkan dan memberi perintah, kewajiban anggota hanyalah mengikuti dan
menjalankan, tidak boleh membantah dan mengajukan saran.
Kekuasaan yang demikian ini akan dapat menimbulkan sikap menyerah
tanpa kritik, sikap “Asal bapak senang” atau sikap “sendika dawuh” terhadap
pimpinan dan cenderung untuk mengabaikan perintah dan tugas jika tidak ada
pengawasan lansung. Dominasi yang berlebihan mudah menghidupkan oposisi
terhadap pemimpin atau menimbulkan sifat-sifat agresif pada anggota kelompok
terhadap pemimpinnya.
2. Laissez Faire
31
Dalam kepemimpinan ini sebenarnya pemimpin tidak memberikan
pimpinan. Tipe ini diartikan sebagai membiarkan orang-orang berbuat sekehendak
hatinya. Pemimpin sama sekali tidak memberikan kontrol atau koreksi terhadap
anggota-anggota kelompok.
Tingkat keberhasilan organisasi atau lembaga yang dipimpinnya semata-
mata disebabkan karena kesadaran dan dedikasi beberapa anggota kelompok dan
bukan pengaruh dari pimpinannya.
3. Kepemimpinan Demokratis.
Kepemimpinan ini menempatkan manusia sebagai faktor utama dan
terpenting dalam setiap kelompok atau organisasi. Kepemimpinan ini diwujudkan
dalam dominasi perilaku sebagai pelindung, penyelamat serta cenderung
memajukan dan mengembangkan organisasi, diwarnai dengan usaha mewujudkan
hubungan manusiawi yang efektif berdasarkan prinsip saling menghormati,
menghargai satu dengan yang lain. Tidak ada rasa tertekan atau takut, namun
pemimpin selalu dihormati dan disegani secara wajar sebagai anggota biasa, dia
tidak pernah memberikan perintah tanpa alasan yang jelas atau menjelaskan
pentingnya masalah, juga selalu mendiskusikan semua masalah dengan
kelompoknya serta memperlakukan bawahannya sebagai kawan kerja.
Menurut Robert Tannembaum dan Warren A. Schmid yang dikutip oleh
Thoha mengatakan bahwa “ Kepemimpinan yang Otokratis tekanan orientasinya
di arahkan pada tugas, sedangkan kepemimpinan yang demokratis tekan
orientasinya diarahkan pada hubungan pemimpin dengan yang dipimpinnya.
32
Dengan demikian kepemimpinan yang demokratis adalah cenderung
berorientasi bawahan atau sama dengan peilaku perhatian (konsiderasi). Perilaku
kepemimpinan berorientasi bawahan atau demokratis menimbulkan situasi kerja
yang kekeluargaan dan kondusif. Disiplin yang tinggi bukan disebabkan oleh
ancaman atau sanksi, tetapi brsumber dari kesadaran masing-masing yang secara
positif menunjang pada peningkatan kualitas dalam bekerja atau
melakskaryawanan kegiatan. Bila kesadaran ada maka setiap perintah atau
instruksi yang diberikan terasa sebagai ajakan untuk berbuat suatu bagi
kepentingan bersama. Hal ini sejalan dengan pendapat Kartini Kartono, Di bawah
kepemimpinan yagn demokratis terdapat disiplin kerja dan ketepatan kerja yang
lebih tinggi.
dilakukan dalam menegakkan kedisiplinan perlu adanya teladan pimpinan.
Berdasarakan penjelasan di atas, maka dapat disimpulkan bahwa gaya
kepemimpinan atasan adalah gaya bersikap dan bertindak seorang atasan yang
nampak dari; 1) cara memberi tugas, 2) cara memberi perintah, 3) membuat
keputusan, 4) cara mendorong semangat bawahan, dan 5) menegakkan disiplin.
2.4. Teori Motivasi
2.4.1 Pengertian Motivasi
pengertian motivasi sebagai proses mempengaruhi atau mendorong dari
luar terhadap seseorang atau kelompok kerja agar mereka mau melaksanakan
sesuatu yang telah ditetapkan. Motivasi merupakan kondisi atau energy yang
menggerakan diri karyawan yang terarah atau tertuju untuk mencapai tujuan
organisasi [Link] mental karyawan yang pro dan positif terhadap
33
situasi kerja itulah yang memperkuat motivasi kerjanya untuk mencapai motivasi
kerja maksimal.
Sedangkan menurut Hasibuan Malayu S.P dalam Sunyoto Danang
(2012:191) motivasi adalah suatu perangsang keinginan daya gerak kemauan
bekerja seseorang, setiap motif mempunyai tujuan tertentu yang ingin dicapai.
a. Tujuan Motivasi
Menurut Sunyoto Danang (2012:198) tujuan motivasi antara lain :
1) Mendorong gairah dan semangat kerja karyawan
2) Meningkatkan moral dan kepuasan kerja karyawan
3) Meningkatkan produktivitas kerja karyawan
4) Mempertahankan loyalitas dan kestabilan karyawan perusahaan
5) Menciptakan suasana dan hubungan kerja yang baik.
2.4.2 Jenis-jenis Teori Motivasi
Menurut Husein Umar dalam Sunyoto Danang (2012:192) teori motivasi
pada dasarnya dibedakan menjadi dua, yaitu teori motivasi kepuasan dan teori
motivasi proses.
1) Teori kepuasan (content theory)
Teori ini mendasarkan pada factor-faktor kebutuhan dan kepuasan individu
sehingga mereka mau melakukan aktivitasnya, jadi mengacu pada diri seseorang.
Teori ini mencoba mencari tahu tentang kebutuhan apa yang dapat memuaskan
dan yang dapat mendorong semangat kerja seseorang. Teori ini di bagi lagi
menjadi 3 bagian:
A. Teori kebutuhan
34
Menurut ini kebutuhan dan kepuasan pekerja identik dengan kebutuhan
biologis dan psikologis, yaitu berupa material maupun [Link] teori
ini adalah bahwa manusia merupakan mahkluk yang keinginannya tak terbatas,
alat motivasinya adalah kepuasan yang belum terpenuhi serta kebutuhannya
berjenjang.
B. Teori ERG (Existence, Relatedness, and Growht) dari Clayton Alfeder.
Sebagaimana halnya teori-teori kebutuhan, teori ERG dari Calyton Alfeder
sependapat bahwa orang cenderung meningkat kebutuhannya sejalan dengan
terpuaskannya kebutuhan di bawahnya.
C. Teori motivasi prestasi
Teori ini menyatakan bahwa seseorang bekerja memiliki energy potensial
yang dapat dimanfaatkan tergantung pada dorongan motivasi, situasi, dan peluang
yang ada.
2) Teori motivasi proses (process theory of motivation)
Teori ini berusaha agar setiap karyawan mau bekerja giat sesuai dengan
harapan. Daya penggerak yang memotivasi semangat kerja terkandung dari
harapan yang akan diperolehnya. Jika harapan menjadi kenyataan maka karyawan
cenderung akan menigkatkan kualitas kerjanya, begitu pula sebaliknya. Ada 3
macam teori proses yang utama. antara lain:
(a) Teori harapan (expectancy theory)
Teori ini dikemukakan oleh Victor H. Vroom yang mengatakan bahwa
seseorang bekerja untuk merealisasikan harapan-harapan dari pekerjaan itu. Teori
ini di dasarkan pada 3 komponen, yaitu:
35
1. Harapan, adalah suatu kesempatan yang disediakan dan akan terjadi
karena perilaku.
2. Nilai (value) merupakan nilai yang di akibatkan oleh perilaku tertentu.
3. Peraturan, yaitu besarnya probalitas jika bekerja secara efektif maka akan
mengarah ke hasil-hasil yang menguntungkan.
(b) Teori keadilan
Dalam hal ini suatu keadilan merupakan daya penggerak yang memotivasi
semangat kerja seseorang, jadi atasan harus bertindak adil terhadap semua
bawahannya secara objektif. Dalam teori keadilan, masukan (inputs) meliputi
factor-faktor seperti, tingkat pendidikan, keahlian, upaya, masa kerja, kepangkatan
dan produktivitas kerja. Sedangkan hasil (outcome) adalah semua imbalan yang
dihasilkan dari pekerjaan seseorang seperti : gaji, promosi, penghargaan, prestasi
dan status.
(c) Teori penguatan
Ada tiga jenis penguatan yang dapat dipergunakan manajer untuk
memodifikasi motivasi karyawan, yaitu:
1. Penguatan positif, bias penguat premier seperti minuman dan makanan
yang memuaskan kebutuhan biologis, ataupun penguatan sekunder seperti
penghargaan berwujud hadiah, promosi dan uang.
2. Penguatan negative, dimana individu akan mempelajari perilaku yang
membawa konsekuensi tidak menyenangkan dan kemudian menghindari
perilaku tersebut dimasa mendatang.
36
3. Hukuman, penerapan hukuman dimaksudkan untuk mengurangi atau
menghilangkan kemungkinan perilaku yang tidak diinginkan akan diulang
kembali.
2.4.3 Langkah-langkah Memotivasi
Menurut Danang Sunyoto (2012:198) dalam memotivasi bawahan, ada
beberapa petunjuk atau langkah-langkah yang perlu diperhatikan oleh setiap
pimpinan, yaitu:
1) Pemimpin harus tahu apa yang harus dilakukan oleh bawahan.
2) Pemimpin harus berorientasi kepada kerangka acuan orang.
3) Tiap orang berbeda-beda di dalam memuaskan kebutuhan.
4) Setiap pemimpin harus memberikan contoh yang baik bagi
karyawan.
5) Pemimpin mampu mempergunakan keahlian dalam berbagai bentuk.
6) Pemimpin harus berbuat dan berlaku realistis.
2.4.4 Faktor-faktor yang mempengaruhi motivasi kerja
Faktor-faktor yang mempengaruhi motivasi kerja menurut Pasualang,
Harbani (2010:152) yaitu :
1) Faktor eksteren
(a) Kepemimpinan
(b) Lingkungan kerja yang menyenangkan
(c) Komposisi yang memadai
(d) Adanya penghargaan akan prestasi
(e) Status dan tanggung jawab
37
2) Faktor interen
(a) Kematangan pribadi
(b) Tingkat pendidikan
(c) Keinginan dan harapan pribadi
(d) Kebutuhan terpenuhi
(e) Kelemahan dan keborosan
(f) Kepuasan kerja
Berdasarkan pendapat diatas bahwa yang mempengaruhi motivasi kerja
yaitu faktor eksteren dan interen. Faktor eksteren yang mempengaruhi motivasi
kerja kondisi linkungan kerja, kepemimpinan, status dan [Link] interen
kebutuhan terpenuhi, tingkat pendidikan dan kepuasan kerja.
2.5 Teori Tanggung Jawab
Tanggung jawab menurut kamus bahasa indonesia adalah, keadaan wajib
menaggung segala sesuatunya. Sehingga bertanggung jawab menurut kamus
umum bahasa indonesia adalah berkewajiban menaggung, memikul,menanggung
segala sesuatunya, dan menanggung akibatnya. Tanggung jawab adalah kesadaran
manusia akan tingkah laku atau perbuatannya yang di sengaja maupun yang tidak
di [Link] jawab juga berarti berbuat sebagai perwujudan kesadaran
akan kewajiban.
Tanggung jawab itu bersifat kodrati,artinya sudah menjadi bagian hidup
manusia ,bahwa setiap manusia di bebani dengan tangung [Link] di kaji
tanggung jawab itu adalah kewajiban yang harus di pikul sebagai akibat dari
38
perbuatan pihak yang [Link] jawab adalah cirri manusia yang
[Link] merasa bertanggung jawab karena ia menyadari akibat baik atau
buruk perbuatannya itu, dan menyadari pula bahwa pihak lain memerlukan
pengadilan atau pengorbanan .
Manusia bertanggungjawab terhadap tindakan mereka. Manusia
menanggung akibat dari perbuatannya dan mengukurnya pada berbagai norma. Di
antaranya adalah nurani sendiri, standar nilai setiap pribadi. Norma-norma nilai
ini dapat dibentuk dengan berbagai macam cara.
Kehidupan bersama antar manusia membentuk norma selanjutnya, yakni
aturan-aturan, hukum-hukum yang dibutuhkan suatu masyarakat tertentu. Dalam
negara-negara modern aturan-aturan atau hukum-hukum tersebut termaktub dalam
sebuah sistem hukum dan sama bagi semua warga. Apabila aturan-aturan ini
dilanggar yang bersangkutan harus memperoleh hukuman atau sanksi. Jika ia
misalnya merugikan hak milik orang lain maka ia menurut Kitab Hukum Federal
Jerman wajib mengganti kerugian yang ditimbulkan. Pengadilan dapat
menghukum sikap yang bersalah (pelanggaran) berdasarkan KUHP.
a. Tanggung jawab dan Individu
Pada hakikatnya hanya masing-masing individu yang dapat
[Link] mereka yang memikul akibat dari perbuatan
[Link] karenanya, istilah tanggungjawab pribadi atau tanggungjawab
sendiri sebenarnya “mubajir”.Suatu masyarakat yang tidak mengakui bahwa
setiap individu mempunyai nilainya sendiri yang berhak diikutinya tidak mampu
39
menghargai martabat individu tersebut dan tidak mampu mengenali hakikat
kebebasan.
Friedrich August von Hayek
Semua bentuk dari apa yang disebut dengan tanggungjawab kolektif
mengacu pada tanggungjawab individu. Istilah tanggungjawab bersama umumnya
hanyalah digunakan untuk menutup-nutupi tanggungjawab itu sendiri.
Dalam tanggungjawab politis sebuah masalah jelas bagi setiap pendelegasian
kewenangan (tanggungjawab).Pihak yang disebut penanggungjawab tidak
menanggung secara penuh akibat dari keputusan [Link] mereka yang
paling besar adalah dibatalkan pemilihannya atau pensiun [Link] sisanya
harus ditanggung si pembayar [Link] itulah para penganut liberal
menekankan pada subsidiaritas, pada keputusan-keputusan yang sedapat mungkin
ditentukan di kalangan rakyat yang notabene harus menanggung akibat dari
keputusan tersebut.
b. Tanggung jawab dan kebebasan
Kebebasan dan tanggungjawab tidak dapat [Link] yang dapat
bertanggungjawab terhadap tindakannya dan mempertanggungjawabkan
perbuatannya hanyalah orang yang mengambil keputusan dan bertindak tanpa
tekanan dari pihak manapun atau secara [Link] menghendaki satu
bentuk kehidupan bersama yang memungkinkan manusianya untuk membuat
keputusan sendiri tentang hidup mereka.
40
Karena itu bagi suatu masyarakat liberal hal yang mendasar adalah bahwa
setiap individu harus mengambilalih [Link] merupakan kebalikan dari
konsep sosialis yang mendelegasikan tanggungjawab dalam ukuran seperlunya
kepada masyarakat atau [Link] berarti tanggungjawab; Itulah
sebabnya mengapa kebanyakan manusia takut terhadapnya.
George Bernard ShawPersaingan yang merupakan unsur pembentuk setiap
masyarakat bebas baru mungkin terjadi jika ada tanggungjawab individu. Seorang
manusia baru akan dapat menerapkan seluruh pengetahuan dan energinya dalam
bentuk tindakan yang efektif dan berguna jika ia sendiri harus menanggung akibat
dari perbuatannya, baik itu berupa keuntungan maupun kerugian. Justru di sinilah
gagalnya ekonomi terpimpin dan masyarakat sosialis: secara resmi memang
semua bertanggungjawab untuk segala sesuatunya, tapi faktanya tak seorangpun
bertanggungjawab. Akibatnya masih kita alami sampai sekarang.
c. Tanggung jawab sosial
Dalam diskusi politik sering disebut-sebut istilah tanggungjawab
[Link] ini dianggap sebagai bentuk khusus, lebih tinggi dari tanggungjawab
secara [Link] berbeda dari penggunaan bahasa yang ada, tanggungjawab
sosial dan solidaritas muncul dari tanggungjawab pribadi dan sekaligus menuntut
kebebasan dan persaingan dalam ukuran yang tinggi.
Untuk mengimbangi “tanggungjawab sosial” tersebut pemerintah
membuat sejumlah sistem, mulai dari Lembaga Federal untuk Pekerjaan sampai
asuransi dana pensiun yang dibiayai dengan uang pajak atau sumbangan-
sumbangan paksaan. Institusi yang terkait ditentukan dengan keanggotaan
41
[Link] itu institusi-institusi tersebut tidak mempunyai kualitas moral
organisasi yang bersifat sukarela. Orang yang terlibat dalam organisasi-organisasi
seperti ini adalah mereka yang melaksanakan tanggungjawab pribadi untuk diri
sendiri dan orang [Link] umum semua birokrat adalah perlindungan
sebagai ganti [Link] Horber
Pada akhirnya tidak ada yang bertanggungjawab atas dampak-dampak dari
penagaruh politik terhadap keamanan [Link] ditanggung oleh pembayar
pajak dan penerima jasa.
2.6 Penelitian Terdahulu
Penelitian terdahulu yang pernah dilakukan terkait dengan Pengaruh disiplin
kerja, gaya kepemimpinan, motivasi dan tanggung jawab Terhadap kinerja
karyawan adalah sebagai berikut dalam tabel penelitian terdahulu.
2.6.1 Martha Wisudawati (Uneversitas Negeri Semarang, 2011)
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan Martha Wisudawati
(Uneversitas Negeri Semarang, 2011) terdapat pengaruh yang signifikan antara
disiplin kerja terhadap kinerja kerja pegawai pada Dinas Pendidikan dan
Kebudayaan Propinsi Jawa Tengah. Hal ini dapat dilihat pada pengujian hipotesis
dengan analisis varian diperoleh Fhitung = 65,704 dan Ftabel = 3,955 pada taraf
signifikansi 5% dengan dk = 86, karena F hitung > Ftabel maka dapat disimpulkan
bahwa persamaan regresi yang diperoleh tersebut signifikan dan hipotesis (Ha)
yang berbunyi “Ada pengaruh positif antara disiplin kerja terhadap kinerja
42
pegawai pada Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Propinsi Jawa Tengah”
Diterima.
2.6.2 Wajdi (2010)
Begitu juga penelitian yang dilakukan Wajdi mengenai mengenai
Pengaruh Kepemimpinan dan Motivasi Terhadap kinerja Kerja Anggota Badan
Perwakilan Desa (BPD) di Kecamatan Ngadirojo Kabupaten Wonogiri
menunjukkan bahwa penyebaran data dengan tingkat frekuensi sebesar 238 atau
37,77% memberikan jawaban setuju, tingkat frekuensi sebesar 226 atau 35,87%
cukup setuju. Hal ini menggambarkan bahwa kinerja kerja pegawai dapat
dikatakan cukup tinggi.
2.6.3 Nasution (2009)
Sementara hasil penelitian yang dilakukan oleh Nasution Fakultas
Ekonomi Universitas Sumatra Utara (2009) mengenai Pengaruh tanggung jawab
karyawan Terhadap kinerja Kerja pada PT. Pangan Sari Utama Medan bahwa
tingkat korelasi atau hubungan antara variabel program tanggung jawab karyawan
terhadap kinerja kerja adalah hubungan yang tinggi. Nilai koefisien determinasi
(R2 ) hasil regresi sebesar 0,485 artinya bahwa variabel tanggung jawab karyawan
akan menyebabkan perubahan kinerja kerja karyawan PT. Pangan Sari Utama
Medan sebesar 48,5% sedangkan sisanya sebesar 51,5% merupaka konstribusi
variabel lain. Penelitian ini mempunya persamaan dengan penelitian terdahulu
yaitu sama-sama mengkaji masalah kinerja kerja, Oleh karena itu, merujuk pada
penelitian-penelitian terdahulu peneliti ingin mengkaji hal-hal yang terkait dengan
43
peningkatan kinerja kerja dengan meneliti faktor-faktor yang berpengaruh
terhadap kinerja kerja sebagai bahan kajian untuk melengkapi penelitian-
penelitian terdahulu.
2.6.4 Zulham (2008)
Penelitian terdahulu yang berkaitan tentang iklim organisasi, etos kerja
dan kinerja adalah Analisis Pengaruh gaya kepemimpinan dan disiplin Kerja
terhadap Kinerja Pegawai Fakultas Ekonomi Universitas Sumatera Utara Medan
yang dilakukan oleh Zulham (2008). Adapun tujuan dari penelitian tersebut
adalah untuk mengetahui dan menganalisis pengaruh gaya kepemimpinan dan
disiplin kerja terhadap kinerja pegawai Fakultas Ekonomi Sumatera Utara Medan.
Populasi yang digunakan dalam penelitian tersebut adalah 65 orang. Teknik
pengumpulan sampel yang digunakan adalah sampel jenuh (sensus). Sehingga,
dengan menggunakan metode tersebut diperoleh hasil jumlah sampel sama dengan
jumlah populasi yaitu 65 orang pegawai Fakultas Ekonomi Universitas Sumatera
Utara. Setelah dilakukan uji statistik dan uji parsial, maka diperoleh hasil bahwa
secara bersamaan variabel gaya kepemimpinan dan disiplin kerja apabila
diarahkan ke arah yang lebih baik maka akan meningkatkan kinerja karyawan
secara signifikan.
2.7 Kerangka Pemikiran
Variable yang di pergunakan dalam penilitian ini adalah variable disiplin
kerja, kerjasama, tanggung jawab dan loyalitas kerja sebagai pariabel bebas,
44
sedangkan variabel dipendennya adalah Kinerja Kerja Karyawan .hubungan
anatara variabel secara skematik dapat dilihat pada gambar berikut:
Gambar 2.1 Kerangka Pemikiran
Disiplin Kerja
( X1 )
Kinerja Karyawan
Gaya kepemimpinan
(Y)
( X2 )
Motivasi
( X3)
Tanggung jawab Kerja
( X4)
2.8 Hipotesa
Berdasarkan rumusan masalah yang telah dijelaskan diatas, maka dapat
ditarik suatu hipotesa sebagai berikut :
1. Terdapat pengaruh Disiplin kerja terhadap Kinerja Karyawan Pada
PT. Bank Tabungan Negara ,Tbk Kantor Cabang Batam.
2. Terdapat pengaruh gaya kepemimpinan terhadap Kinerja Karyawan
Pada PT. Bank Tabungan Negara ,Tbk Kantor Cabang Batam.
45
3. Terdapat pengaruh Motivasi terhadap Kinerja Karyawan Pada PT.
Bank Tabungan Negara ,Tbk Kantor Cabang Batam.
4. Terdapat pengaruh Tanggung Jawab kerja terhadap Kinerja Karyawan
Pada PT. Bank Tabungan Negara ,Tbk Kantor Cabang Batam.
5. Terdapat pengaruh disiplin kerja, gaya kepemimpinan , motivasi dan
tanggung jawab kerja secara bersama–sama terhadap Kinerja
Karyawan Pada PT. Bank Tabungan Negara ,Tbk Kantor Cabang
Batam.