BAB II
LANDASAN TEORI
2. 1 Teori Kinerja Karyawan
2.1.1. Pengertian Kinerja
Perusahaan dalam merealisasikan tujuannya membutuhkan prestasi dari
faktor – faktor produksi yang terdapat dalam organisasinya, terutama dalam
kinerja dari para karyawannya. Dalam kenyataannya salah satu masalah utama
yang menjadi fokus perhatian perusahaan adalah masalah kinerja dan
produktivitas sumber daya manusia. Demi tercapai tujuan perusahaan, sebagai
perusahaan yang mengharapkan kinerja yang terbaik dari para karyawannya,
faktor penentu dari keberhasilan perusahaan adalah karyawan yang mempunyai
tingkat kinerja yang tinggi.
Kinerja merupakan suatu yang dinilai dari apa yang dilakukan oleh seorang
karyawan. Dalam kerjanya dengan kata lain. Dengan kata lain, kinerja individu
adalah bagaimana seorang karyawan melaksanakan pekerjaannya untuk kerjanya.
Kinerja karyawan yang meningkat akan turut mempengaruhi organisasi sehingga
tujuan organisasi yang telah ditentukan dapat dicapai. Berikut ini adalah definisi –
definisi tentang kinerja karyawan menurut beberapa ahli :
1. Menurut Mangkunegara (2011)
Kinerja adalah hasil kerja secara kualitas dan kuantitas yang
dicapai oleh seorang karyawan dalam melaksanakan tugasnya sesuai
dengan tanggung jawab yang diberikan kepadanya
8
9
2. Menurut Hasibuan (2012)
Kinerja adalah suatu hasil yang dicapai oleh seseorang dalam
melaksanakan tugas – tugas yang dibebankan kepadanya.
Berdasarkan pengertian di atas, maka dapat disimpulkan bahwa kinerja
karyawan adalah hasil kerja seorang karyawan. Dalam suatu proses atau
pelaksanaan tugasnya sesuai dengan tanggung jawabnya dan seberapa banyak
pengaruhya terhadap pencapaian tujuan organisasi.
Faktor – faktor yang mempengaruhi kinerja karyawan yaitu karakteristik
karyawan yang meliputi pengetahuan, keterampilan, kemampuan, motivasi, sikap
dan kepribadian karyawan. Input mengacu pada instruksi yang memberitahu
karyawan tentang apa, bagaimana, dan kapan pelaksanaan. Output merujuk
kepada standar kinerja. Konsekuensi merupakan insentif yang mereka terima
karena kinerja yang baik. Umpan balik merupakan informasi yang karyawan
terima selama mereka bekerja.
Kinerja apabila dikaitkan dengan performance sebagaibenda (noun), maka
pengertian performance atau kinerja adalah hasil kerja yang dapat dicapai oleh
seseorang atau kelompok orang dalam suatu perusahaaan sesuai dengan
wewenang dan tanggung jawab masing-masing dalam upaya pencapaian tujuan
perusahaan secara ilegal, tidak melnggar hukum dan tidak bertentangan dengan
moral dan etika (Harsuko 2011).
Pengertian kinerja (prestasi kerja) adalah hasil kerja secara kualitas dan
kuantitas yang dicapai oleh seseorang karyawan dalam melaksanakan fungsinya
10
seseuai dengan tanggung jawab yang diberikan kepadanya. Performance atau
kinerja merupakan hasil atau keluaran dari suatu proses (Nurlaila, 2010,71)
Menurut pendekatan perilaku dalam manajemen, kinerja adalah kuantitas atau
kualitas sesuatu yang dihasilkan atau jasa yang diberikan oleh seseorang yang
melakukan pekerjaan (Luthans, 2005:165)
Kinerja merupakan prestasi kerja, yaitu perbandingan antara hasil kerja
standar yang ditetapkan . Kinerja adalah hasil kerja baik secara kualitas maupun
kuantitas yang dicapai oleh seseorang dalam melaksanakan tugas sesuai tanggung
jawab yang diberikan .Kinerja adalah hasil atau tingkatan keberhasilan seseorang
secara keseluruhan selama periode tertentu dalam melaksanakan tugas
dibandingkan dengan berbagai kemungkinan, seperti standar hasil kerja, target
atau sasaran atau kriteria yang telah ditentukan terlebih dahulu telah disepakati
bersama (Rivai dan Basri, 2005:50)
Sedangkan Mathis dan Jackson (2006:65) menyatakan bahwa kinerja pada
dasarnya adalah apa yang dilakukan atau tidak dilakukan karyawan. Manajemen
kinerja adalah keseluruhan kegiatan yang dilakukan untuk meningkatkan kinerja
perusahaan atau organisasi, termasuk kinerja masing-masing individu dan
kelompok kerja di perusahaan tersebut. Kinerja merupakan hasil kerja dari
tingkah laku. Pengertian kinerja ini mengaitkan antara hasil kerja dengan tingkah
laku. Sebagai tingkah laku, kinerja merupakan aktivitas manusia yang diarahkan
pada pelaksanaan tugas organisasi yang dibebankan kepadanya.
11
Dilihat dari sudut pandang ahli yang lain, kinerja adalah banyak nya upaya
yang dikeluarkan individu pada pekerjaannya (Robbins, 2011). Sementara itu
menurut Bernadi & Russel 2001 (dalam Riani 2011) performasi adalah catatan
yang dihasilkan dari fungsi suatu pekerjaan tertentu atau kegiatan selama periode
waktu tertentu.
Menurut Sinambela, dkk (2012) mengemukakan bahwa kinerja karyawan
didefinisikan sebagai kemampuan karyawan dalam melakukan sesuatu keahlian
tertentu. Kinerja karyawan sangatlah perlu, sebab dengan kinerja ini akan
diketahui seberapa jauh kemampuan karyawan dalam melaksanakan tugas yang
dibebankan kepadanya. Untuk di perlukan penentuan kriterian yang jelas dan
terukur serta ditetapkan secara bersama-sama yang dijadikan sebagai acuan
Menurut Simamora (2008), kinerja karyawan adalah tingkat terhadap mana
para karyawan mencapai persyaratan-persyaratan [Link] kerja karyawan
secara langsung mempengaruhi kinerja perusahaan. Guna mendapatkan kontribusi
karyawan yang optimal, manajemn harus memahami secara mendalam strategi
untuk mengelola, mengukur, dan meningkatkan kinerja, yang dimulai terlebih
dahulu dengan menentukan tolak ukur kinerja. Ada beberapa syarat tolak ukur
kinerja yang baik, yaitu :
1. Tolak ukur yang baik, haruslah mampu diukur dengan cara yang dapat
dipercaya
2. Tolak ukur yang baik, harus mampu membedakan individu-individi sesuai
dengan kinerja mereka
12
3. Tolak ukur yang baik, harus sensitif terhadap masukan dan tindakan-
tindakan dari pemegang jabatan
4. Tolak ukur yang bail, harus dapat diterima oleh individu yang mengetahui
kinerjanya sedang dinilai.
5. Tolak ukur yang baik, harus dapat diterima oleh individu mengetahui
kinerjanya sedang dinilai.
2.1.2 Metode Penilaian Kinerja Karyawan
Menurut Hasibuan (2012) metode penilaian kinerja karyawan dapat
dikelompokkan menjadi dua bagian, yaitu metode tradisional dan metode modern
yang akan dijelaskan sebagai berikut :
1. Metode Tradisional
Metode ini merupakan metode tertua dan paling sederhana untuk
menilai kinerja karyawan dan diterapkan secara tidak sistematis
maupun dengan sistematis.
Yang termasuk ke dalam metode tradisional adalah :
a. Rating Scale
Metode ini merupakan metode penilaian yang paling tua dan
banyak digunakan, dimana penilaian yang dilakukan oleh atasan
untuk mengukur karakteristik, misalnya mengenai inisiatif,
ketergantungan, kematangan, dan kontribusinya terhadap tujuan
kerja.
b. Employee Comparation
13
Metode ini metode penilaian yang dilakukan dengan cara
membandingkan antara seorang pekerjaan dengan pekerjaan lainnya.
Metode ini terdiri dari :
1. Alternation Ranking
Metode ini merupakan metode penilaian dengan cara
mengurut peringkat (rangking) karyawan dimulai dari yang
terendah sampai yang tertinggi atau dari yang terendah sampai
dengan yang tertinggi, berdasarkan kemampuan yang dimilikinya.
2. Paired Comparation
Metode ini merupakan metode penilaian dengan cara seorang
karyawan dibandingkan dengan seluruh karyawan lainnya, sehingga
terdapat berbagai alternative keputusan yang akan diambil. Metode ini
dapat digunakan untuk jumlah karyawan yang sedikit.
3. Porced Comparation (grading)
Metode ini sama dengan paired comparation tetapi digunakan
untuk jumlah karyawan yang banyak. Pada metode ini suatu definisi
yang jelas untuk setiap kategori telah dibuat dengan seksama.
c. Check List
Metode ini, penilai tidak perlu menilai tetapi hanya perlu
memberikan masukan atau informasi bagi penilaian yang
dilakukan oleh bagian personalia. Penilaian tinggal memilih
kalimat atau kata-kata yang menggambarkan kinerja dan
karakteristik setiap individu karyawan, baru melaporkan kepada
14
bagian personalia untuk menetapkan bobot nilai, indeks nilai, dan
kebijaksanaan selanjutnya bagi karyawan bersangkutan.
d. Freefrom Eassy
Dengan metode ini penilai diharuskan membuat karangan yang
berkenaan dengan orang atau karyawan yang sedang dinilainya.
e. Critical Incident
Dengan metode ini penilai harus mencatat semua kejadian mengenai
tingkah laku bawahannya sehari – hari yang kemudian dimasukkan
ke dalam buku catatan khusus yang terdiri dari berbagai macam
kategori tingkah laku bawahannya. Misalnya mengenai inisiatif,
kerjasama, dan keselamatan.
2. Metode Modern
Metode ini merupakan perkembangan dari metode tradisional dalam
menilai kinerja karyawan. Yang termasuk ke dalam metode ini adalah
a. Assement Center
Metode ini biasanya dilakukan dengan pembentukan tim penilaian
khusus. Cara penilaian tim dilakukan dengan wawancara,
permainan bisnis, dan lain – lain. Nilai indeks kinerja setiap
karyawan adalah rata – rata bobot dari tim penilai. Indeks kinerja
dengan cara ini diharapkan akan lebih baik dan objektif karena
dilakukan beberapa anggota tim.
b. Managemen By Objective (MBO=MBS)
15
Dalam metode ini karyawan langsung diikutsertakan dalam
perumusan dan pemutusan persoalan dengan memperhatikan
kemampuan bawahan dalam menentukan sasarannya masing-
masing yang ditekankan pada pencapaian sasaran perusahaan.
c. Human Asset Accounting
Dalam metode ini, faktor pekerjaan dinilai sebagai individu modal
jangka panjang sehingga sumber tenaga kerja dinilai dengan cara
membandingkan terhadap variable-variabel yang dapat
mempengaruhi keberhasilan perusahaan. Jika biaya untuk
tenaga kerja meningkat laba pun akan meningkat. Maka
peningkatan tenaga kerja tersebut telah berhasil.
2.1.3 Indikator – indikator Penilaian Kinerja Menurut Hasibuan (2012)
Salah satu indikator yang dapat dijadikan gambaran kinerja seorang
karyawan dari ukuran yang dinilai secara tangible (kualitas, kuantitas, waktu) dan
intangible (sasaran yang tidak dapat ditetapkan alat ukur atau standar) adalah
sebagai berikut :
1. Kesetian
Mencerminkan kesediaan karyawan menjaga dan membela
organisasi di dalam maupun di luar pekerjaan.
2. Kualitas dan kuantitas kerja
Merupakan hasil kerja baik kualitas maupun kuantitas yang dapat
dihasilkan karyawan tersebut dari uraian pekerjaannya.
16
3. Kejujuran
Kejujuran dalam melaksanakan tugas-tugas memenuhi perjanjian baik bagi
dirinya sendiri maupun orang lain.
4. Kedisiplinan
Mencerminkan kepatuhan karyawan dalam mematuhi peraturan-
peraturan yang ada dan melakukan pekerjaannya sesuai dengan instruksi
yang diberikan kepadanya.
5. Kreativitas
Kemampuan karyawan dalam mengembangkan kreativitasnya untuk
menyelesaikan pekerjaannya, sehingga lebih berdaya guna dan berhasil guna.
6. Kerjasama
Kesediaan karyawan berprestasi dan bekerja sama dengan karyawan
lainnya secara vertikal dan horizontal didalam maupun diluar pekerjaannya.
7. Kepemimpinan
Merupakan kemampuan untuk memimpin, berpengaruh, mempunyai
pribadi yang kuat, dihormati, berwibawa, dan dapat memotivasi orang lain
atau bawahannya untuk bekerja secara efektif.
8. Kepribadian
Sikap perilaku, kesopanan, periang, memberikan kesan yang
menyenangkan, memperlihatkan sikap yang baik, serta berpenampilan
simpatik dan wajar.
17
9. Prakarsa
Kemampuan berfikiran yang original dan berdasarkan inisiatif sendiri
untuk menganalisis, menilai, menciptakan, memberikan alasan, dan
mendapatkan kesimpulan penyelesaian masalah yang dihadapinya.
10. Kecakapan
Merupakan kecakapan karyawan dalam menyatukan dan
menyelaraskan bermacam-macam elemen yang semuanya terlibat didalam
penyusunan kebijaksanaan dan di dalam situasi manajemen.
2.1.4 Kriteria-Kriteria Kinerja
Kriteria kinerja adalah dimensi-dimensipengevaluasian kinerja seseorang
pemegang jabatan, satu tim, dan satu unit kerja. Secara bersama-sama dimensi itu
merupakan harapan kinerja yang berusaha dipenuhi oleh individu dan tim guna
mencapai strategi organisasi. Menurut Schuler dan Jackson 2004 ( dalam Harsuko
2011) bahwa ada 3 jenis dasar kriteria kinerja yaitu :
1. Kriteria berdasarkan sifat memusatkan diri pada karakteristik pribadi
seseorang karyawan. Loyalitas, keandalan, kemampuan berkomunikasi, dan
keterampilan memimpin merupakan sifat-sifat yang sering di nilai selama
proses penilaian. Jenis kriteria ini memusatkan diri pada bagaimana
seseorang, bukan apa yang dicapai atau tidak dicapai seseorang dalam
pekerjaannya
2. Kriteria berdasarkan prilaku terfokus pada bagaimana pekerjaan dilaksanakan
kriteria semacam ini penting sekali bagi pekerjaan yang membutuhkan
18
hubungan antar personal. Sebagai contoh apakah SDM nya ramah atau
menyenangkan
3. Kriteria berdasarkan hasil, kriteria ini semakin populer dengan makin
ditekannya produktifitas dan daya saing internatsional. Kriteria ini berfokus
pada apa yang telah dicapai atau dihasilkan ketimbang bagaimana sesuatu
dicapai atau dihasilkan.
Menurut Bernandin & Russel (2001 dalam Riani 2011) kriteria yang
digunakan untuk menilai kinerja karyawan adalah sebagai berikut :
1. Quantity of Work (Kuantitas kerja): jumlah kerja yang dilakukan dalam suatu
periode yang ditentukan.
2. Quality of Work (Kualitas kerja): kualitas kerja yang dicapai berdasarkan
syarat-syarat kesesuaian yang ditentukan
3. Job Knowledge (Pengetahuan pekerjaan): luasnya pengetahuan mengenai
pekerjaan dan keterampilannya.
4. Creativeness (Kreatifitas): keaslian gagasan-gagasan yang dimunculkan dan
tindakan-tindakan untuk menyelesaikan persoalan-persoalan yang timbul.
5. Cooperation (Kerja sama): kesediaan untuk bekerja sama dengan orang lain
atau sesama anggota organisasi
6. Dependability (Ketergantungan): kesadaran untuk mendapatkan kepercayaan
dalam hal kehadiran dan penyelesaian kerja
7. Initiative (Inisiatif): semangat untuk melaksanakan tugas-tugas baru dan dalam
memperbesar tanggung jawabnya.
19
8. Personal Qualities ( Kualitas personal); menyangkut kepribadian,
kepemimpinan, keramah-tamahan dan integritas pribadi
2.1.5 Faktor-faktor yang mempengaruhi kinerja
1. Efektifitas dan Efisiensi
Bila suatu tujuan tertentu akhirnya bisa dicapai, kita boleh mengatakan bahwa
kegiatan tersebut efektif tetapi apabila akibat-akibat yang tidak dicari kegiatan
menilai yang penting dari hasil yang dicapai sehingga mengakibatkan kepuasan
walaupun efektif dinamakan tidak efisien. Sebaliknya, bila akibat yang dicari-
cari tidak penting atau remeh maka kegiatan tersebut efisien (Prawirosentono,
2008:27).
2. Otoritas (Wewenang)
Otoritas menurut adalah sifat dari suatu komunikasi atau perintah dalam suatu
organisasi formal yang dimiliki seorang anggota organisasi kepada anggota
yang lain untuk melakukan suatu kegiatan kerja sesuai dengan kontribusinya
(Prawirosentono, 2008:27). Perintah tersebut mengatakan apa yang boleh
dilakukan dan yang tidak boleh dalam organisasi tersebut.
3. Disiplin
Disiplin adalah taat kepada hukum dan peraturan yang berlaku
(Prawirosentono, 2008:27). Jadi, disiplin karyawan adalah kegiatan karyawan
yang bersangkutan dalam menghormati perjanjian kerja dengan organisasi
dimana dia bekerja
20
4. Inisiatif
Inisiatif yaitu berkaitan dengan daya pikir dan kreatifitas dalam membentuk ide
untuk merencanakan sesuatu yang berkaitan dengan tujuan organisasi.
d. Penilaian Kinerja
Pada prinsipnya penilaian kinerja adalah merupakan cara
pengukurankontribusi-kontribusi dari individu dalam instansi yang dilakukan
terhadap organisasi. Nilai penting bagi penilaian kinerja adalah menyangkut
penentuan tingkat kontribusi individu atau kinerja yang diekspresikan dalam
penyelesaian tugas-tugas yang menjadi tanggung jawabnya.
Penilaian kinerja adalah untuk mengetahui seberapa produktif seorang
karyawan dan apakah ia bisa berkinerja sama atau lebih efektif pada masa yang
akan datang, sehingga karyawan, organisasi dan masyrakat memperoleh manfaat.
Tujuan dan pentingnya penilaian kinerja berdasarkan sebuah studi yang dilakukan
akhir-akhir ini mengindentifikasikan dua puluh macam tujuan informasi kinerja
yang berbeda-beda, yang dikelompokkan dalam 4 kategori, yaitu :
1. Evaluasi yang menekankan perbandingan antar orang
2. Pengembangan yang menekankan perubahan-perubahan dalam diri seseorang
dengan berjalannya waktu
3. Pemeliharaan sitem, dan Dokumentasi keputusan-keputusan sumber daya
manusia.
2.1.6 Tujuan penilaian kinerja
Tujuan penilaian kinerja menurut Riani (2013) terdapat pendekatan ganda
terhadap tujuan penilaian prestasi kerja sebagai berikut :
21
1. Tujuan Evaluasi
Hasil-hasil penilaian prestasi kerja digunakan sebagai dasar bagi evaluasi
reguler terhadap prestasi anggota-anggota organisasi, yang meliputi :
a. Telaah Gaji
Keputusan-keputusan kompensasi yang mencangkup kenaikan merit-pay,
bonus dan kenaikan gaji lainnya merupakan salah satu tujuan utama
penilaian prestasi kerja.
b. Kesempatan Promosi
Keputusan-keputusan penyusunan karyawan yang berkenaan dengan
promosi, demosi, transfer dan pemberhentian karyawan merupakan tujuan
kedua dari penilaian prestasi kerja.
2. Tujuan Pengembangan
a. Informasi yang dihasilkan oleh sistem penilaian kerja dapat digunakan
untuk mengembangkan pribadi anggota-anggota organisasi.
b. Mengukuhkan dan menopang prestasi kerja. Umpan balik prestasi kerja
(permofmance feedback) merupakan kebutuhan pengembangan yang
utama karena hampir semua karyawan ingin mengetahui hasil penilaian
yang dilakukan
Meningkatkan prestasi kerja. Tujuan penilaian prestasi kerja juga untuk
memberikan pedoman kepada karyawan bagi peningkatan prestasi kerja di masa
yang akan datang.
22
2. 2 Teori kompensasi
2.2.1 Pengertian kompensasi
Pengertian Kompensasi merupakan pengeluaran dan biaya bagi
perusahaan. Perusahaan mengharapkan pengeluaran dan biaya kompensasi ini
memperoleh imbalan prestasi kerja yang lebih besar dari karyawan supaya
perusahaan tersebut mendapakan laba yang terjamin. Ada beberapa pendapat ahli
tentang pengertian kompensasi yang dapat diberikan.
Menurut Hasibuan (2009:118) kompensasi adalah: Semua pendapatan yang
berbentuk uang atau barang langsung atau tidak langsung yang diterima karyawan
sebagai imbalan atas jasa yang diberikan pada [Link] Menurut
Dessler (2006:85) kompensasi adalah: semua bentuk upah atau imbalan yang
berlaku bagi karyawan dan muncul dari pekerjaan mereka, dan mempunyai dua
komponen. Ada pembayaran keuangan langsung dalam bentuk upah, gaji,
insentif, komisi, dan bonus, dan ada pembayaran yang tidak langsung dalam
bentuk tunjangan keuangan seperti uang asuransi dan uang liburan yang
dibayarkan oleh majikan.
Dalam bukunya heidjrachman (2012:138) kompensasi adalah suatu
penerimaan sebagai suatu imbalandari pemberian kerja kepada penerima kerja
untuk suatu pekerjaan atau jasa yang telah dilakukan, dan berfungsi sebagai
jaminan kelangsungan kehidupan yang layak bagi kemanusiaan dan dinilai dalam
bentuk uang yang ditetapkan menurut suatu persetujuan, undang-undang
peraturan dan dibayarkan atas dasar suatu perjanjian kerja antara pemberi kerja
dan penerima kerja.
23
Dan kompensasi langsung merupakan imbalan jasa kepada pegawai yang
diterima secara langsung, rutin atau periodik karena yang bersangkutan telah
memberikan bantuan/sumbangan untuk mencapai tujuan organisasi (Ruky,
2006:10) kompensasi inilah yang akan dipergunakan karyawan itu untuk
memenuhi kebutuhannya. Besarnya kompensasi menerima status, pengakuan, dan
tingkat pemenuhan kebutuhan yang dinikmati oleh karyawan bersama
keluarganya.
Jika kompensasi yang diterima karyawan semakin besar maka jabatannya
semakin tinggi. Setatusnya semakin baik dan pemenuhan kebutuhan yang
dinikmatinya akan semakin banyak pula. Disinilah letak pentingnya kompensasi
bagi karyawan sebagai seorang penjual tenaga (fisik dan pikiran). Dari uraian
tersebut dapat dijelaskan bahwa kompensasi adalah sesuatu yang diberikan
perusahaan kepada karyawan sebagai balas jasa mereka dan kompensasi tersebut
dapat dinilai dengan uang atau tanpa uang dan mempunyai kecenderungan yang
tetap.
2.2.1 Tujuan Pemberian Kompensasi
Pemberian kompensasi bertujuan sebagai berikut:
1. Pemenuhan kebutuhan. Karyawan menerima kompensasi berupa upah,
gaji atau bentuk lainnya adalah untuk dapat memenuhi kebutuhan
hidupnya sehari-hari atau dengan kata lain, kebutuhan ekonominya.
Dengan adanya kepastian menerima upah atau gaji tersebut secara
periodik, bararti adanya jaminan ’’economic security” bagi dirinya dan
keluarganya yang menjadi tanggunganya.
24
2. Meningkatkan produktifitas kerja. Pemberian kompensasi yang semakin
baik akan mendorong karyawan bekerja secara produktif.
3. Memajukan organisasi atau perusahaan. Semakin berani suatu perusahaan
atau organisasi membarikan kompensasi yang tinggi, semakin
menunjukkan betapa makin suksesnya suatu perusahaan sebab pemberian
kompensasi yang tinggi hanya mungkin apabila pendapatan perusahaan
yang digunakan untuk itu makin besar.
4. Menciptakan keseimbangan dan keadilan. Ini berarti pemberian
kompensasi berhubungan dengan persyaratan yang harus dipenuhi oleh
karyawan pada jabatan sehingga tercipta keseimbangan antara “input“
(syarat-syarat) dan “output“.
Sedangkan dalam bukunya Sedarmayanti (2009:24) tujuan sistem
kompensasi dalam suatu organisasi harus diatur agar merupakan sistem yang baik
dalam organisasi. Adapun tujuan sistem kompensasi yang baik antara lain yaitu
sebagai berikut:
1. Menghargai prestasi kerja
Pemberian kompensasi yang memadai adalahsuatu pengahargaan organisasi
terhadap prestasi kerja para pegawainya. Hal tersebut akan mendorong kinerja
pegawai yang sesuai dengan yang diinginkan organisasi.
2. Menjamin keadilan
Dengan adanya sistem kompensasi yang baik akan menjamin adanya
keadilan diantara pegawai dalam organisasi. Masing-masing pegawai akan
25
memperoleh imbalan yang sesuai dengan tugas, fungsi, jabatan, dan prestasi
kerjanya.
3. Mempertahankan pegawai
Dengan sistem kompensasi yang baik para pegawai akan lebih betah atau
bertahan bekerja pada organisasi itu. Hal ini berarti mencegah keluarnya pegawai
dari organisasi untuk mencari pekerjaan yang lebih menguntungkan.
4. Memperoleh pegawai yang bermutu
Dengan sistem kompensasi yang baik akan menarik lebih banyak calon
pegawai, dengan banyaknya pelamar atau calon pegawai maka peluang untuk
memilih pegawai yang bermutu akan lebih banyak.
5. Pengendalian biaya
Dengan sistem kompensasi yang baik akan mengurangi seringnya
pelaksanaan rekruitmen sebagai akibat dari makin seringnya pegawai yang keluar
mencari pekerjaan yang lebih menguntungkan. Hal ini berarti penghematan biaya
untuk rekruitmen dan seleksi calon pegawai baru.
6. Memenuhi peraturan
Sistem administrasi kompensasi yang baik merupakan suatu tuntutan suatu
organisasi yang baik dituntut untuk memiliki sistem administrasi kompensasi
yang baik.
2.2.3 Fungsi Kompensasi
Adapun fungsi pemberian kompensasi menurut Martoyo (2007:128) antara
lain yaiu:
a. Pengalokasian sumber daya manusia secara efisien
26
Fungsi ini menunjukkan bahwa pembeian kompensasi yang cukup baik
pada karyawan yang berpresasi baik akan mendorong para karyawan untuk
bekarja lebih baik kearah pekerjaan yang lebih produktif. Dengan kata lain ada
kecenderungan para karyawan dapa bergeser atau berpindah dari yang
kompensasinya rendah ketempat kerja yang kompensasinya inggi dengan cara
menunjukkan prestasi kerja yang lebih baik.
b. Mendorong stabilitas dan pertumbuhan ekonomi
Sebagai akibat aplikasi dan penggunaan sumber daya manusia, dalam
organisasi yang bersangkutan secara efisien dan efektif tersebut maka dapat
diharapkan bahwa sistem pemberian kompensasi tersebut secara langsung dapat
memberikan stabilitas organisasi dan secara tidak langsung ikut andil dalam
mendorong stabilisasi dan pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan.
c. Penggunaan sumberdaya manusia secara lebih efisien dan efektif
Dengan pemberian kompensasi yang tinggi kepada karyawan mengandung
implikasi bahwa organisasi akan menggunakan tenaga kerja karyawan dengan
seefisien mungkin. Sebab dengan cara demikian organisasi yang bersangkutan
akan memperoleh manfaat dan keuntungan semaksimal mungkin. Disinilah
produktifitas karyawan sangat menenukan.
2.2.4 Bentuk-Bentuk Kompensasi
1. Kompensasi Langsung
Sampai saat ini pengertian kompensasi langsung masih mengunakan istilah
administrasi gaji dan upah, adapun pengertian dari kompensasi secara terpisah
diungkapkan oleh Dessler (2006:89) ”kompensasi dengan pembayaran keuangan
27
langsung dalam bentuk upah gaji, insentif, komisi dan bonus” tetapi menurut
Hasibuan (2009:133) ”kompensasi dibedakan menjadi dua macam yaitu:
kompensasi langsung yang berupa gaji, upah, dan upah insentif, komisi dan
bonus.
Dari penjelasan diatas kompensasi langsung merupakan bagian dari
kompensasi secara keseluruan yang pembayaranya pada umumnya mengunakan
uang, dan langsung terkait dengan dengan prestasi kerja yang dapat berbentuk
gaji, upah, insentif, komisi dan bonus (Dharma, 2008:185).
Dan pengertian bentuk-bentuk kompensasi langsung adalah:
1) Gaji
Gaji adalah balas jasa dalam bentuk uang yang diterima karyawan sebagai
konsekuensi dari kedudukanya sebagai seorang karyawan yang memberikan
sumbangan tenaga dan pikiran dalam mencapai tujuan perusahaan. Dapat juga
dikatakan sebagai bayaran tetap yang diterima seseorang dari keanggotaannya
dalam sebuah perusahaan.
2) Upah
Upah merupakan imbalan financial langsung yang dibayarkan kepada
karyawan berdasarkan jam kerja, jumlah barang yang dihasilkan atau banyaknya
pelayanan yang diberikan. Jadi tidak seperti gaji yang jumlahnya relatif tetap,
besarnya upah dapat berubah-ubah tergantung pada keluaran dan dihasilkan.
3) Insentif/Bonus
Insentif merupakan imbalan langsung yang dibayarkan kepada karyawan
karena kinerja melebihi standar yang ditentukan. Insentif merupakan bentuk lain
28
dari upah langsung diluar upah dan gaji yang merupakan kompensasi tetap, yang
biasa disebut kompensasi berdasarkan kinerja (pay for performance plan). (Rivai,
2010:360)
Sedangkan dalam bukunya ruky (2006:10) kompensasi langsung
diantaranya yaitu:
a. Upah/Gaji pokok
b. Tunjangan tunai sebagai suplemen upah/gaji yang diterima setiap
bulan atau minggu.
c. Tunjangan Hari Raya Keagamaan dan gaji ke-14,15 dst.
d. Bonus yang dikaitkan atau tidak dikaitkan dengan prestasi kerja
atau kinerja perusahaan.
e. Insentif sebagai penghargaan untuk prestasi termasuk komisi bagi
tenaga penjualan.
f. Segala jenis pembagian catu/(in natura/in kind) yang diterima
rutin.
2. Kompensasi Tak Langsung
Selain kompensasi langsung, kompensasi tak langsung juga mempunyai
peranan yang tak kalah pentingnya untuk meningkatkan kinerja karyawan.
Menurut Dessler (2006:85) yaitu ”Semua pembayaran keuangan tak langsung
yang diterima oleh seorang karyawan untuk melanjutkan pekerjaan dengan
perusahaan. Dan pembagian kompensasi tak lansung dalam tunjangan keuangan,
tunjangan hari raya, kesejahteraan karyawan jamsostek dan pelayanan kesehatan.
29
1) Kompensasi tidak langsung (fringe benefit)
Fringe benefit merupakan kompensasi tambahan yang diberikan
berdasarkan kebijakan perusahaan terhadap semua karyawan sebagai upaya
meningkatkan kesejahteraan para karyawan.
2) Tunjangan Karyawan (employee benefit)
Tunjangan adalah pembayaran (payment) dan jasa yang melengkapi gaji
pokok dan perusahaan membayar semua atau sebagian dari tunjangan ini
(Simamora, 2006:442). Dan lebih lanjutnya simamora (2006:541) tunjangan
karyawan dibagi tiga yaitu:
1. Tunjangan yang menghasilkan penghasilan (income) seperti tunjangan
keamanan sosial dan pensiun mengantikan penghasilan pada waktu
pensiun, kontinuitas gaji dan program bagi yang tidak mampu atau
cacat yang jangka pendek dan jangka panjang menggantikan
penghasilan yang hilang karena sakit atau cacat.
2. Tunjangan yang memberikan peningkatan rasa aman bagi kalangan
karyawan dengan membayar pengeluaran ekstra atau luar biasa yang
dialami karyawan secara tidak diduga seperti perawatan gigi dan
kesehatan termasuk ke dalam kategori.
3. Program tunjangan yang dapat dipandang sebagai kesempatan bagi
karyawan. Hal ini dapat meliputi mulai dari pembayaran biaya kuliah
sampai liburan dan hari besar. Tunjangan ini berkaitan dengan kualitas
kehidupan karyawan yang terpisah.
30
4. Fasilitas adalah tunjangan yang diterima oleh eksekutif yang dikaitkan
dengan posisi dan status mereka diperusahaan (Simamora, 2006:549).
2. 3 Teori Semangat kerja
2.3.1 Pengertian Semangat Kerja
Hasley (2008) menyatakan bahwa semangat kerja atau moral kerja itu
adalah sikap kesediaan perasaan yang memungkinkan seorang karyawan untuk
menghasilkan kerja yang lebih banyak dan lebih tanpa menambah keletihan, yang
menyebabkan karyawan dengan antusias ikut serta dalam kegiatan-kegiatan dan
usaha-usaha kelompok sekerjanya, dan membuat karyawan tidak mudah kena
pengaruh dari luar, terutama dari orang-orang yang mendasarkan sasaran mereka
itu atas tanggapan bahwa satu-satunya kepentingan pemimpin perusahaan itu
terhadap dirinya untuk memperoleh keuntungan yang sebesar-besarnya darinya
dan memberi sedikit mungkin.
Sedangkan Siswanto (2007, p.35), mendefinisikan semangat kerja sebagai
keadaan psikologis seseorang. Semangat kerja dianggap sebagai keadaan
psikologis yang baik bila semangat kerja tersebut menimbulkan kesenangan yang
mendorong seseorang untuk bekerja dengan giat dan konsekuen dalam mencapai
tujuan yang ditetapkan oleh perusahaan. Menurut Nitisemito (2008, p.56), definisi
dari semangat kerja adalah kondisi seseorang yang menunjang dirinya untuk
melakukan pekerjaan lebih cepat dan lebih baik di dalam sebuah perusahaan.
2.3.2 Aspek-aspek Semangat Kerja
Aspek-aspek semangat kerja perlu untuk dipelajari karena aspek-aspek ini
mengukur tinggi-rendahnya semangat kerja. Menurut Maier (2005, p.180),
31
seseorang yang memiliki semangat kerja tinggi mempunyai alasan tersendiri
untuk bekerja yaitu benar-benar menginginkannya. Hal ini mengakibatkan orang
tersebut memiliki kegairahan kualitas bertahan dalam menghadapi kesulitan untuk
melawan frustasi, dan untuk memiliki semangat berkelompok. Menurut Maier
(2005, p.184), ada empat aspek yang menunjukkan seseorang mempunyai
semangat kerja yang tinggi, yaitu:
1. Kegairahan Seseorang yang memiliki kegairahan dalam bekerja berarti
juga memiliki motivasi dan dorongan bekerja. Motivasi tersebut akan
terbentuk bila seseorang memiliki keinginan atau minat dalam
mengerjakan pekerjaannya. Yang lebih dipentingkan oleh karyawan
adalah seharusnya bekerja untuk organisasi bukan lebih mementingkan
pada apa yang mereka dapat. Seseorang akan dikatakan memiliki
semangat kerja buruk apabila lebih mementingkan gaji daripada bekerja.
Oleh karena itu tidak mengherankan bahwa seseorang dengan gaji yang
tinggi masih juga berkeinginan untuk pindah bekerja di tempat lain.
Seseorang yang benar-benar ingin bekerja, akan bekerja dengan baik
meskipun tanpa pengawasan dari atasannya dan juga mereka akan
bekerja bukan karena perasaan takut tetapi lebih pada dorongan dari
dalam dirinya untuk kerja yang tinggi akan menganggap bekerja sebagai
sesuatu hal yang menyenangkan bukan hal yang menyengsarakan.
2. Kekuatan untuk melawan frustasi Aspek ini menunjukkan adanya
kekuatan seseorang untuk selalu konstruktif walaupun sedang mengalami
kegagalan yang ditemuinya dalam bekerja. Seseorang yang memiliki
32
semangat kerja yang tinggi tentunya tidak akan memilih sikap yang
pesimis apabila menemui kesulitan dalam pekerjaannya. Adanya
semangat kerja yang tinggi ditimbulkan karena adanya kesempatan yang
diberikan oleh perusahaan untuk mendapatkan ijin ketika menderita sakit.
3. Kualitas untuk bertahanAspek ini tidak langsung menyatakan seseorang
yang mempunyai semangat kerja yang tinggi maka tidak mudah putus
asa dalam menghadapi kesukaran-kesukaran di dalam pekerjaannya. Ini
berarti adanya ketekunan dan keyakinan penuh dalam dirinya. Gaji
ataupun insentif yang tinggi yang diberikan oleh perusahaan mampu
meningkatkan semangat kerja karyawan, dan berpikir panjang jika ingin
keluar dari perusahaan. Tunjangan serta fasilitas yangdiberikan oleh
perusahaan mampu merangsang semangat kerja karyawan untuk bekerja
dengan sungguh-sungguh.
Keyakinan ini menunjukkan bahwa seseorang yang mempunyai energi dan
kepercayaan untuk memandang masa yang akan datang dengan baik, hal inilah
yang meningkatkan kualitas untuk bertahan. Ketekunan mencerminkan seseorang
memiliki kesungguhan dalam bekerja. Sehingga tidak menganggap bahwa bekerja
bukan hanyamenghabiskan waktu saja, melainkan sesuatu yang penting.
Semangat kelompok menggambarkan hubungan antar karyawan. Dengan
adanya semangat kerja maka karyawan akan saling bekerja sama, tolong-
menolong, dan tidak saling bersaing untuk menjatuhkan. Semangat kerja
menunjukkan adanya kesediaan untuk bekerja sama dengan orang lain agar orang
lain dapat mencapai tujuan bersama. Lingkungan kerja yang baik, menciptakan
33
suasana kerja yang baik pula, kebersamaan diantara karyawan dengan membagi
pekerjaan secara adil mampu meningkatkan semangat kerjabagi karyawan itu
sendiri.
2.4 Teori Etos Kerja
2.4.1 Pengertian Etos Kerja
Menurut Gregory (2007) sejarah membuktikan negara yang dewasa ini
menjadi negara maju, dan terus berpacu dengan teknologi/informasi tinggi pada
dasarnya dimulai dengan suatu etos kerja yang sangat kuat untuk berhasil. Maka
tidak dapat diabaikan etos kerja merupakan bagian yang patut menjadi perhatian
dalam keberhasilan suatu perusahaan, perusahaan besar dan terkenal telah
membuktikan bahwa etos kerja yang militan menjadi salah satu dampak
keberhasilan perusahaannya. Etos kerja seseorang erat kaitannya dengan
kepribadian, perilaku, dan karakternya. Setiap orang memiliki internal being yang
merumuskan siapa dia. Selanjutnya internal being menetapkan respon, atau reaksi
terhadap tuntutan external. Respon internal being terhadap tuntutan external dunia
kerja menetapkan etos kerja seseorang (Siregar, 2006 : 25)
Etos berasal dari bahasa yunani ethos yakni karakter, cara hidup,
kebiasaan seseorang, motivasatau tujuan moral seseorang serta pandangan dunia
mereka, yakni gambaran, cara bertindak ataupun gagasan yang paling
komprehensif mengenai tatanan. Dengan kata lain etos adalah aspek evaluatif
sebagai sikap mendasar terhadap diri dan dunia mereka yang direfleksikan dalam
kehidupannya (Khasanah, 2011:8).
34
Etos kerja dapat diartikan sebagai konsep tentang kerja atau paradigma
kerja yang diyakini oleh seseorang atau sekelompok orang sebagai baik dan benar
yang diwujudnyatakan melalui perilaku kerja mereka secara khas (Sinamo,
2006,2).
Menurut Toto Tasmara, (2009) Etos kerja adalah totalitas kepribadian
dirinya serta caranya mengekspresikan, memandang, meyakini dan memberikan
makna ada sesuatu, yang mendorong dirinya untuk bertindak dan meraih amal
yang optimal sehingga pola hubungan antara manusia dengan dirinya dan antara
manusia dengan makhluk lainnya dapat terjalin dengan baik. Etos kerja
berhubungan dengan beberapa hal penting seperti:
1. Orientasi ke masa depan, yaitu segala sesuatu direncanakan dengan baik,
baik waktu, kondisi untuk ke depan agar lebih baik dari kemarin.
2. Menghargai waktu dengan adanya disiplin waktu merupakan hal yang
sangat penting guna efesien dan efektivitas bekerja.
3. Tanggung jawab, yaitu memberikan asumsi bahwa pekerjaan yang
dilakukan merupakan sesuatu yang harus dikerjakan dengan ketekunan
dan kesungguhan.
4. Hemat dan sederhana, yaitu sesuatu yang berbeda dengan hidup boros,
sehingga bagaimana pengeluaran itu bermanfaat untuk kedepan.
5. Persaingan sehat, yaitu dengan memacu diri agar pekerjaan yang
dilakukan tidak mudah patah semangat dan menambah kreativitas diri.
35
Secara umum, etos kerja berfungsi sebagai alat penggerak tetap perbuatan dan
kegiatan individu sebagai seorang pengusaha atau manajer. Menurut A. Tabrani
Rusyan, (2005) fungsi etos kerja adalah:
1. pendorang timbulnya perbuatan
2. penggairah dalam aktivitas
3. penggerak, seperti; mesin bagi mobil, maka besar kecilnya motivasi yang
akan menentukan cepat lambatnya suatu perbuatan.
2.4.2 Cara Menumbuhkan Etos Kerja :
1. Menumbuhkan sikap optimis :
a. Mengembangkan semangat dalam diri
b. Peliharalah sikap optimis yang telah dipunyai
c. Motivasi diri untuk bekerja lebih maju
2. Jadilah diri anda sendiri
a. Lepaskan impian
b. Raihlah cita-cita yang anda harapkan
3. Keberanian untuk memulai :
a. Jangan buang waktu dengan bermimpi
b. Jangan takut untuk gagal
c. Merubah kegagalan menjadi sukses
4. Kerja dan waktu :
a. Menghargai waktu (tidak akan pernah ada ulangan waktu)
b. Jangan cepat merasa puas
5. Kosentrasikan diri pada pekerjaan :
36
a. Latihan berkonsentrasi
b. Perlunya beristirahat
6. Bekerja adalah sebuah panggilan Tuhan (Khasanah, 2011)
Aspek Kecerdasan yang Perlu Dibina dalam Diri, untuk Meningkatkan Etos Kerja
1. Semangat : keinginan untuk bekerja.
2. Kemauan : apa yang diinginkan atau keinginan, kehendak dalam bekerja.
3. Komitmen : perjanjian untuk melaksanakan pekerjaan (janji dalam
bekerja).
4. Inisiatif : usaha mula-mula, prakarsa dalam bekerja.
5. Produktif : banyak menghasilkan sesuatu bagi perusahaan.
6. Peningkatan : proses, cara atau perbuatan meningkatkan usaha, kegiatan
dan sebagainya dalam bekerja.
7. Wawasan : konsepsi atau cara pandang tentang bekerja.
2.5 Teori Tanggung jawab kerja
2.5.1 Pengertian Tanggung Jawab
Tanggung jawab menurut kamus bahasa indonesia adalah keadaan wajib
menaggung segala [Link] bertanggung jawab menurut kamus
umum bahasa indonesia adalah berkewajiban menaggung, memikul,menanggung
segala sesuatunya,dan menanggung akibatnya. Tanggung jawab adalah kesadaran
manusia akan tingkah laku atau perbuatannya yang di sengaja maupun yang tidak
di sengaja, tanggung jawab juga berarti berbuat sebagai perwujudan kesadaran
akan kewajiban. Tanggung jawab itu bersifat kodrati, artinya sudah menjadi
37
bagian hidup manusia ,bahwa setiap manusia di bebani dengan tangung
[Link] di kaji tanggung jawab itu adalah kewajiban yang harus di pikul
sebagai akibat dari perbuatan pihak yang berbuat. Tanggung jawab adalah ciri
manusia yang [Link] merasa bertanggung jawab karena ia menyadari
akibat baik atau buruk perbuatannya itu, dan menyadari pula bahwa pihak lain
memerlukan pengadilan atau pengorbanan .
2.5.2 Macam macam tanggung jawab
Manusia itu berjuang memnuhi keperluannya sendiri dan untuk keperluan
orang [Link] usahanya manusia juga menyadari bahwa ada kekuatan lain yang
ikut menentukan yaitu kekuasaan [Link] denikian tanggung jawab itu dapat
di bedakan menurut keadaan manusia atau hubungan yang di [Link] dasar
ini, lalu di kenal beberapa jenis tanggung jawab, yaitu:
1. Tanggung jawab terhadap diri sendiri
Tanggung jawab terhadap didir sendiri menuntut kesadaran setiap orang untuk
memenuhi kewajibannya sendiri daam mengembangkan keperibadian senbgai
manusia pribadi. Contohnya: Nurul membaca sambil [Link] senentar-
bentar ia meliaht jalan, tetap juga ia lengah, dan terperosok kesebuah lobang,
kakinya terkilir, ia menyesali dirinya sendiri akan kejadian [Link] harus beristrahat
di rumah beberapa hari. Konsekuensi tinggal di rumah beberapa hari merupakan
tanggung jawab sendiri akan kelengahannya.
38
2. Tanggung jawab terhadap keluarga
Keluarga merupakan masyarakat kecil, tiap anggota keluarga wajib
bertanggung jawab kepada [Link] jawab ini menyangkut nama
baik keluarga. Tetapi tanggung jawab juga merupakan kesejaterahaan,
keselamatan, pendidikan dan kehidupan
3. Tanggung jawab terhadap masyarakat
Pada hakekatnya manusia tidak bisa hidup tanpa bantuan manusia lain,
selain dengan keduduknnya sebagai mahluk social, karena membutuhkan manusia
lain maka ia harus berkomunikasi dengan manusia lain tersebut.
2.6 Penelitian Terdahulu
Penelitian terdahulu yang pernah dilakukan terkait dengan kompensasi,
semangat kerja, etos kerja dan tanggung jawab kerja terhadap kinerja karyawan
adalah sebagai berikut dalam tabel penelitian terdahulu.
Tabel 2.1 Penelitian Terdahulu
Nama METODE
JUDUL HASIL PENELITIAN
Tahun PENELITIAN
Heru Pengaruh Uji Validasi, uji semangat kerja Vertikal
Triyanto semangat realibilitas , Secara Simultan berpengaruh
(2014) Kerja terhadap Regresi linear terhadap kinerja karywan
kinerja berganda , Uji F, Pada [Link] Pokphand
pegawai di Uji T, Uji Jaya farm unit 7 Jombang
[Link] Dominan semangat kerja Vertikal
Pokphand Secara Parsial berpengaruh
Jaya farm unit terhadap kinerja karywan
7 Jombang Pada [Link] Pokphand
Jaya farm unit 7 Jombang
semangat kerja Keatas
erpengaruh Positif terhadap
39
kinerja karywan Pada
[Link] Pokphand Jaya
farm unit 7
Sadiyo Uji korelasi Analisi regresi Kompensasi Berpengaruh
(2014) kompensasi berganda, uji Positif dan signifikan
dan etos kerja parsial dan uji Terhadap Kinerja Guru
terhadap simultan Etos kerja Tidak berpengaruh
kinerja guru Terhadap Kinerja Guru
dimoderasi
oleh
kepemimpinan
kepala sekolah
2.7 Kerangka Pemikiran
Kerangka pemikiran terjadi pada dasarnya merupakan review atau tinjauan
pustaka yang dituangkan dalam bentuk skema serta mencerminkan keterkaitan
antara variabel yang diteliti.
(X1)
KOMPENSASI
(X2)
SEMANGAT
(Y)
KERJA
(X3) KINERJA
KARYAWAN
ETOS KERJA
(X4)
TANGGUNG
JAWAB KERJA
Keterangan :
X1 = sebagai variabel independent
40
X2 = sebagai variabel independent
X3 = sebagai variabel independent
X4 = sebagai variabel independent
Y = sebagai variabel dependent
6. Hipotesa Penelitian
Berdasarkan perumusan masalah, tujuan penelitian, telaah pustaka, dan
kerangka pemikiran, maka dapat disusun hipotesis penelitian adalah sebagai
berikut:
1. Terdapat pengaruh antara kompensasi terhadap kinerja karyawan
PT. Suntech Plastic Industries Batam
2. Terdapat pengaruh antara semangat kerja terhadap kinerja karyawan
PT. Suntech Plastic Industries Batam
3. Terdapat pengaruh antara etos kerja terhadap kinerja karyawan
PT. Suntech Plastic Industries Batam
4. Terdapat pengaruh antara tanggung jawab kerja terhadap kinerja karyawan
PT. Suntech Plastic Industries Batam
5. Terdapat pengaruh antara kompensasi, semangat kerja, etos kerja, dan
tanggung jawab kerja secara bersama-sama terhadap kinerja karyawan
PT. Suntech Plastic Industries Batam.