KATA PENGANTAR
Puji syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa, atas limpahan rahmat dan
karunia-Nya sehingga e-Modul Pelatihan Pembinaan Kebugaran Jasmani
ini dapat disusun dan disajikan sebagai upaya strategis dalam mendukung
peningkatan derajat kesehatan masyarakat Indonesia melalui gaya hidup
aktif dan bugar.
e-Modul ini mencakup sembilan mata pelatihan yang dirancang secara
komprehensif dan aplikatif, yaitu:
1. Kebijakan Penyelenggaraan Kesehatan Olahraga
2. Pengantar Kesehatan Olahraga
3. Penilaian Kebugaran Jasmani
4. Program Latihan Fisik sesuai Kaidah Kesehatan pada Orang Sehat
5. Program Pembinaan Kebugaran Jasmani Anak Sekolah
6. Program Pembinaan Kebugaran Jasmani Pekerja
7. Program Pembinaan Kebugaran Jasmani Calon Jemaah Haji
8. Pencegahan dan Pertolongan Pertama pada Cedera Olahraga
9. Penyelenggaraan Kesehatan Olahraga di Puskesmas
Kesembilan topik ini dirancang untuk membekali peserta dengan
pemahaman dan keterampilan praktis dalam merancang, melaksanakan,
dan mengevaluasi program kebugaran jasmani di berbagai segmen
masyarakat. Modul ini diharapkan dapat meningkatkan kapasitas individu
sekaligus memperkuat kolaborasi lintas sektor guna menciptakan
lingkungan yang mendukung aktivitas fisik berkelanjutan.
Kami menyampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah
berkontribusi dalam penyusunan modul ini. Semoga menjadi rujukan yang
bermanfaat dalam pelaksanaan program kesehatan olahraga, serta
menginspirasi masyarakat Indonesia untuk hidup lebih sehat, aktif, dan
produktif.
Jakarta, Juli 2025
Tim Penyusun
MP.8 – Pencegahan dan Pertolongan Pertama pada Cedera Olahraga | ii
DAFTAR ISI
Kata Pengantar ...................................................................... ii
Daftar isi ................................................................................. iii
A. Tentang Modul ini ............................................................. 1
Deskripsi Singkat ......................................................... 1
Tujuan Pembelajaran ................................................... 2
Materi Pokok ................................................................ 3
B. Kegiatan Belajar ................................................................ 4
Materi Pokok 1 ............................................................. 4
Materi Pokok 2 ............................................................. 36
Daftar Pustaka ........................................................................ 53
MP.8 – Pencegahan dan Pertolongan Pertama pada Cedera Olahraga | iii
Cedera pada olahraga biasanya terjadi pada sistem otot dan
sendi atau organ lain yang dapat menyebabkan gangguan fungsi
sistem tersebut. Cedera olahraga menjadi masalah penting yang
harus dipahami oleh orang yang akan melakukan latihan fisik dan
olahraga, karena cedera olahraga dapat diprediksi dan dicegah. Jadi
setiap orang yang akan melakukan latihan fisik atau olahraga perlu
mengetahui cara dan aturannya dengan seksama sebagai upaya
pencegahan cedera.
Prinsip pertolongan pertama pada cedera olahraga tidak
berbeda dengan pertolongan pertama akibat kasus lain. Modul ini
menerangkan tentang pencegahan dan pertolongan pertama pada
cedera olahraga. Peserta akan mendapat pengetahuan tentang cara
mencegah cedera dan memulai olahraga dengan aman, termasuk
pengetahuan singkat tentang cedera olahraga yang sering terjadi di
lapangan serta penatalaksanaannya.
1 | Pencegahan dan Pertolongan Pertama pada Cedera Olahraga
Hasil Belajar
Setelah mengikuti mata pelatihan ini, peserta mampu menjelaskan
pencegahan dan pertolongan pertama pada cedera olahraga.
Indikator Hasil Belajar
Setelah mengikuti mata pelatihan ini, peserta mampu:
1. Menjelaskan konsep cedera olahraga
2. Menjelaskan tatalaksana pertolongan pertama pada cedera
olahraga
MP.8 – Pencegahan dan Pertolongan Pertama pada Cedera Olahraga |2
Materi pokok dan sub materi pokok pada mata pelatihan ini adalah:
1. Konsep Cedera Olahraga
a. Definisi, penyebab, dan jenis cedera olahraga
b. Pecegahan cedera olahraga
2. Tatalaksana Pertolongan Pertama pada Cedera Olahraga
a. Metode Rest, Ice, Comperession, Elevation (RICE)
b. Metode lainnya
c. Mekanisme rujukan
MP.8 – Pencegahan dan Pertolongan Pertama pada Cedera Olahraga |3
KONSEP CEDERA OLAHRAGA
Menurut WHO, cedera didefinisikan sebagai kerusakan fisik yang
terjadi ketika tubuh mengalami penurunan energi secara tiba-tiba
melebihi ambang batas toleransi fisiologis, atau ketika terjadi
kekurangan elemen penting seperti oksigen. Dalam konteks
olahraga, ini mencakup gangguan pada otot, tendon, ligamen, sendi,
atau tulang akibat aktivitas fisik berlebihan atau kecelakaan.
Indikator Hasil Belajar
Setelah mengikuti materi pokok ini, peserta mampu menjelaskan
konsep cedera olahraga.
Sub Materi Pokok
Berikut ini adalah sub materi pokok 1:
a. Definisi atau pengertian, penyebab, dan jenis cedera olahraga
b. Pencegahan cedera olahraga
4 | Pencegahan dan Pertolongan Pertama pada Cedera Olahraga
Hai, Sahabat Bugar!
Sudahkah kamu memahami apa itu cedera olahraga dan
mengapa penting bagi kita untuk mengenalinya?
👉 Yuk, kita gali lebih dalam!
Mari pelajari bersama materi tentang Konsep Cedera Olahraga.
Dengan pemahaman yang tepat, kita bisa lebih siap dalam
mencegah dan menangani cedera secara bijak.
A. Definisi, Penyebab, dan Jenis Cedera Olahraga
1. Definisi
Cedera olahraga adalah cedera pada otot dan rangka tubuh
yang disebabkan oleh kegiatan olahraga, pada saat
berolahraga.
Cedera atau luka adalah sesuatu kerusakan pada struktur atau
fungsi tubuh yang dikarenakan suatu paksaan atau tekanan
fisik maupun kimiawi.
Cedera olahraga adalah cedera saat melakukan aktivitas
olahraga: olahraga kompetisi, rekreasi serta dapat terjadi, baik
pada atlet, atlet rekreasional, maupun masyarakat.
Cedera olahraga jika tidak ditangani dengan cepat dan benar
dapat mengakibatkan gangguan atau keterbatasan fisik. Bagi
5 | Pencegahan dan Pertolongan Pertama pada Cedera Olahraga
atlet cedera ini bisa mengakbatkan istirahat yang cukup lama
dan mungkin harus pensiun dini.
Cedera olahraga seringkali direspon oleh tubuh dengan tanda
radang yang terdiri dari:
a. Rubor (merah)
b. Tumor (bengkak)
c. Kalor (panas)
d. Dolor (nyeri)
e. Functio laesa (penurunan fungsi)
Saat terjadi cedera, pembuluh darah mengalami vasodilatasi
atau melebar, untuk meningkatkan aliran nutrisi dan oksigen ke
area terdampak guna mendukung proses penyembuhan.
a. Pelebaran pembuluh darah menyebabkan area cedera
tampak lebih merah (rubor).
b. Cairan darah yang mengalir ke lokasi cedera merembes
keluar dari kapiler ke ruang antarsel, sehingga
menimbulkan pembengkakan (tumor).
c. Dengan suplai nutrisi dan oksigen, metabolisme di lokasi
cedera meningkat, menghasilkan sisa panas dari proses
metabolik. Hal ini menyebabkan area cedera terasa lebih
panas (kalor) dibandingkan bagian tubuh lainnya.
d. Akumulasi sisa metabolisme dan zat kimia di lokasi cedera
merangsang ujung-ujung saraf, sehingga menimbulkan
rasa nyeri (dolor). Nyeri juga dapat dipicu oleh tekanan
akibat pembengkakan di area cedera.
MP.8 – Pencegahan dan Pertolongan Pertama pada Cedera Olahraga |6
e. Rubor, tumor, kalor, dan dolor akan menyebabkan
penurunan fungsi organ atau sendi di area cedera, kondisi
yang dikenal sebagai functio laesa
2. Penyebab
Cedera olahraga dapat disebabkan oleh berbagai faktor,
antara lain kesalahan dalam metode latihan, kelainan struktural
tubuh, serta kelemahan fisiologis pada jaringan penyokong
seperti tendon, ligamen, dan otot.
Cedera olahraga dapat terjadi akut/mendadak maupun
kronis/menahun,
a. Cedera akut terjadi segera setelah atau saat latihan, dan
umumnya ditandai dengan bengkak, kemerahan, rasa
panas, nyeri, serta gangguan fungsi pada organ yang
cedera.
b. Cedera kronis merupakan cedera yang berulang; biasanya
bermula dari cedera akut yang belum pulih sepenuhnya,
namun individu sudah kembali berolahraga sehingga
memperparah kondisi. Penanganan kedua jenis cedera ini
tentu berbeda.
Penyebab Cedera:
a. Atlet atau pelaku olahraga pemula yang belum
berpengalaman
b. Kurangnya pemanasan dan pendinginan sebelum dan
sesudah aktivitas
c. Teknik latihan atau gerakan yang tidak tepat
MP.8 – Pencegahan dan Pertolongan Pertama pada Cedera Olahraga |7
d. Permainan kasar (foul play) serta peran wasit, pelatih,
atau instruktur yang tidak kompeten
e. Kelelahan (fatigue) atau kondisi fisik yang tidak bugar
f. Cedera olahraga sebelumnya yang tidak tertangani
dengan baik
g. Kondisi lapangan atau cuaca yang buruk
h. Peralatan olahraga yang rusak atau tidak memadai
Contoh Risiko terjadinya Cedera:
Faktor Risiko Contoh
Kurangnya pemanasan dan Langsung berlari tanpa
pendinginan peregangan otot sebelumnya
Teknik latihan yang salah Posisi lutut tidak sejajar saat
melakukan squat
Peralatan yang tidak Sepatu olah raga aus atau tidak
memadai sesuai dengan jenis aktivitas
Lingkungan latihan yang Lapangan licin, permukaan tidak
buruk rata, atau pencahayaan minim
Kelelahan fisik (fatigue) Terus berlatih tanpa istirahat
yang cukup
Cedera sebelumnya yang Kembali berolahraga sebelum
belum pulih cedera lutut sembuh total
Kurangnya pengawasan Latihan beban tanpa
atau instruktur pendamping yang memahami
teknik yang benar
Faktor individu Kelemahan otot inti, kelainan
postur, atau fleksibilitas yang
rendah
Tabel ini disusun berdasarkan sintesis dari berbagai sumber seperti An-
Nur Blog, HaloSehat, dan artikel Risiko Cedera pada Atlet dari
SainsTekno. (copilot)
MP.8 – Pencegahan dan Pertolongan Pertama pada Cedera Olahraga |8
Gambar 1. Diagram Faktor risiko potensial yang terlibat dalam
penyebab cedera olahraga
(sumber: (PDF) Injuries in Youth Sports: Epidemiology, Risk Factors and Prevention)
3. Jenis
Cedera olahraga yang umum terjadi meliputi cedera pada kulit,
otot, tulang, dan sendi, antara lain:
a. Cedera pada kulit: seperti luka lecet, blister (melepuh),
luka robek, dan memar.
b. Cedera pada otot: seperti robekan otot dan perdarahan
dalam otot dengan berbagai tingkat (grade) keparahan.
c. Cedera pada tulang: seperti fraktur atau patah tulang
terbuka maupun tertutup.
d. Cedera pada sendi: seperti terkilir dalam berbagai gradasi
dan dislokasi.
MP.8 – Pencegahan dan Pertolongan Pertama pada Cedera Olahraga |9
Gambar 2: Kondisi cedera pada atlet
(sumber: Pixabay dan [Link])
Sprain:
ligamen
Strain: otot
Cedera
jaringan lunak
Contusion:
otot
Cedera Laceration:
musculoskeletal Kulit
Dislocation:
sendi
Cedera
jaringan keras
Fracture:
tulang
Gambar 3: Diagram Klasifikasi Cedera Muskuloskeletal
(sumber: Knight KL, 2010)
MP.8 – Pencegahan dan Pertolongan Pertama pada Cedera Olahraga | 10
Sprain
Sprain adalah cedera yang terjadi akibat peregangan berlebih
atau robekan pada ligamen (jaringan penghubung antar
tulang) atau kapsul sendi, yang berfungsi menjaga stabilitas
sendi. Kerusakan pada struktur ini dapat menyebabkan
ketidakstabilan sendi.
Gejala:
• Nyeri pada sendi yang terkena
• Inflamasi atau peradangan,
• Keterbatasan dalam menggerakkan sendi
Pencegahan:
• Melakukan pemanasan yang cukup sebelum aktivitas.
• Melakukan peregangan (stretching) dengan teknik yang
tepat
Contoh ligamen yang rentan mengalami sprain:
ACL, PCL, MCL, LCL (pada lutut), serta ATFL dan PTFL
(pada pergelangan kaki)
Gambar 4: sprain pada pergelangan kaki
(sumber: Pixabay, [Link])
MP.8 – Pencegahan dan Pertolongan Pertama pada Cedera Olahraga | 11
Tingkatan Sprain (Cedera Ligamen)
Grade 1 (Ringan):
• Terjadi overstretching atau robekan minimal pada ligamen
tanpa menyebabkan ketidakstabilan sendi.
• Dapat muncul sedikit hematoma dalam ligamentum,
dengan hanya beberapa serabut ligamen yang
mengalami kerusakan/ putus.
• Gejala meliputi nyeri tekan, pembengkakan, dan rasa
tidak nyaman pada area cedera.
• Umumnya cukup diatasi dengan istirahat karena dapat
sembuh secara spontan.
• Minimal atau tanpa kehilangan fungsi atau kemampuan
menahan berat badan
Grade 2 (Sedang):
• Cedera sebagian (parsial) pada ligamen, di mana lebih
banyak serabut ligamentum yang putus, tetapi lebih dari
separuh masih utuh.
• Gejala mencakup nyeri signifikan, pembengkakan, efusi
(penumpukan cairan di sendi), serta keterbatasan dalam
menggerakkan sendi.
• Timbul instabilitas sendi derajat ringan hingga sedang dan
gangguan fungsi sendi.
• Penanganan melibatkan tindakan imobilisasi untuk
membatasi pergerakan area cedera.
• Muncul kesulitan dalam menopang berat badan.
MP.8 – Pencegahan dan Pertolongan Pertama pada Cedera Olahraga | 12
Grade 3 (Berat):
• Terjadi robekan total pada seluruh ligamen sehingga
kedua ujung ligamen terpisah sepenuhnya.
• Persendian menjadi sangat nyeri, membengkak, serta
mengalami hemartrosis (perdarahan dalam sendi).
• Gerakan menjadi sangat terbatas dan abnormal,
menandakan kehilangan fungsi dan stabilitas sendi
secara signifikan.
• Penderita tidak mampu menahan berat badan.
Gambar 5: Tingkatan Cedera Ligamen pada kaki
(sumber: [Link])
Cedera Ligamen pada Lutut
Cedera ligamen lutut merupakan cedera yang umum terjadi
pada pemain sepak bola dan bola basket. Cedera ini
biasanya disebabkan oleh:
● Benturan langsung pada lutut, seperti dalam duel atau
tabrakan antar pemain
MP.8 – Pencegahan dan Pertolongan Pertama pada Cedera Olahraga | 13
● Gerakan memutar secara tiba-tiba (twisting injury),
terutama saat mendarat atau berputar pada kecepatan
tinggi
Gambar 6: Cedera Ligamen pada lutut
(sumber: [Link]
Cedera Ligamen Lutut:
1. ACL (Anterior Cruciate Ligament)
Cedera ACL merupakan salah satu cedera lutut yang
paling umum terjadi, khususnya pada atlet olahraga
seperti sepak bola, basket, dan voli. Karakteristik cedera
ini antara lain:
• Terjadi akibat hiperekstensi lutut atau benturan dari
sisi samping yang menyebabkan tekanan berlebih
pada ligamen.
• Dapat juga disebabkan oleh gerakan pivoting atau
twisting secara tiba-tiba saat kaki bertumpu di tanah.
• Atlet sering kali merasakan bunyi “pop” pada saat
cedera terjadi.
• Pembengkakan biasanya muncul dalam waktu 2–3
jam setelah kejadian.
MP.8 – Pencegahan dan Pertolongan Pertama pada Cedera Olahraga | 14
• Umumnya, atlet mengalami ketidakmampuan untuk
melanjutkan pertandingan karena instabilitas lutut dan
nyeri yang signifikan.
Gambar 7: Cedera ACL
(sumber: Pixabay, [Link])
2. PCL (Posterior Cruciate Ligament)
• Umumnya terjadi akibat benturan langsung dari arah
depan lutut, seperti saat lutut terbentur dashboard
mobil dalam kecelakaan.
• Pembengkakan muncul dalam 2–3 jam, namun
biasanya lebih ringan dibanding cedera ACL.
3. MCL (Medial Collateral Ligament)
• Disebabkan oleh benturan ke arah sisi luar lutut, yang
menyebabkan tekanan berlebihan pada sisi dalam
sendi.
• Lutut terasa tertekuk ke dalam, sering disertai sensasi
bunyi “pop” saat cedera terjadi.
• Pembengkakan minimal, tetapi dapat menyebabkan
nyeri tekan di sisi dalam lutut.
MP.8 – Pencegahan dan Pertolongan Pertama pada Cedera Olahraga | 15
4. LCL (Lateral Collateral Ligament)
● Terjadi akibat benturan ke arah dalam lutut, yang
memberikan tekanan pada sisi luar sendi.
● Sering terjadi bersamaan dengan cedera ACL atau
PCL, terutama saat terjadi trauma kompleks pd lutut.
Cedera Ligamen Pergelangan Kaki (Ankle Sprain)
Ligamen utama pada pergelangan kaki terdiri dari:
1. Ligamen medial – dikenal sebagai kompleks deltoid,
berstruktur kuat dan menyokong sisi dalam pergelangan
kaki.
2. Ligamen lateral – terdiri dari tiga ligamen kecil yang
rentan cedera, terutama pada gerakan inversi.
3. Ligamen sindesmotik – menghubungkan tulang tibia dan
fibula, menjaga kestabilan struktur atas pergelangan kaki.
Sebagian besar cedera pergelangan kaki terjadi ketika jari-
jari kaki mengarah ke bawah, karena posisi ini membuat sendi
pergelangan kaki menjadi paling tidak stabil.
• Inversi → umumnya menyebabkan cedera pada ligamen
lateral.
• Eversi → dapat menyebabkan cedera pada ligamen
medial (deltoid).
Gambar 8: Cedera
Ligamen Pergelangan
Kaki
(sumber: [Link])
MP.8 – Pencegahan dan Pertolongan Pertama pada Cedera Olahraga | 16
STRAIN (Cedera Otot dan Tendon)
● Strain adalah cedera yang terjadi akibat penguluran atau
robekan pada struktur muskulo-tendinous, yaitu jaringan
otot dan tendon.
● Cedera ini disebabkan oleh tarikan atau ketegangan
berlebihan pada serat otot, yang melebihi batas elastisitas
normal sehingga menyebabkan robekan sebagian atau
seluruhnya pada serat otot.
● Strain paling sering terjadi pada kelompok otot berikut:
Groin muscles (otot paha bagian dalam), Hamstring, Otot
quadriceps, Otot biceps.
Gambar 9: Perbedaan Strain dan Sprain
(sumber [Link])
Strain pada Hamstring
● Merupakan salah satu cedera otot paling umum pada
pemain sepak bola, terutama saat berakselerasi atau
menendang.
● Risiko meningkat pada olahraga yang mengandalkan
kecepatan tinggi dan pergerakan eksplosif, seperti sprint,
lari cepat, atau lompat jauh.
MP.8 – Pencegahan dan Pertolongan Pertama pada Cedera Olahraga | 17
● Cedera ini dapat menyebabkan hilangnya waktu bermain
yang signifikan, tergantung tingkat keparahannya (Grade
I–III).
Gambar 10: Strain pada Hamstring (sumber: copilot)
Penyebab Umum Cedera Hamstring
Cedera pada otot hamstring dapat disebabkan oleh berbagai
faktor yang meningkatkan risiko robekan atau ketegangan
berlebih pada serat otot, antara lain:
● Beban berlebih pada otot hamstring, terutama saat
melakukan aktivitas eksplosif seperti sprint atau lompat
● Ketidakseimbangan kekuatan otot antara sisi kanan dan
kiri tubuh
● Kelemahan otot hamstring, yang membuatnya tidak
mampu menahan beban secara optimal
● Kekakuan otot hamstring, yang menurunkan fleksibilitas
dan meningkatkan risiko cedera saat aktivitas dinamis
MP.8 – Pencegahan dan Pertolongan Pertama pada Cedera Olahraga | 18
● Pemanasan yang tidak memadai sebelum latihan atau
pertandingan
● Faktor usia, karena elastisitas otot dan tendon cenderung
menurun seiring bertambahnya usia.
Gambar 11: Cedera Hamstring (sumber: Pixabay)
Shin Splints (Nyeri Tulang Kering)
• Shin splints adalah kondisi berupa rasa nyeri pada kaki
bagian bawah, khususnya di sekitar tulang kering (tibia),
yang sering terjadi akibat aktivitas olahraga berlebihan
(overuse), seperti lari dan lompat.
• Terdapat dua jenis shin splints, yaitu:
o Anterior Shin Splints: nyeri terasa pada bagian
depan (anterior) tulang tibia.
o Posterior Shin Splints: nyeri terasa pada bagian
dalam (medial) kaki di sepanjang sisi tulang tibia.
• Kondisi ini umumnya disebabkan oleh robekan mikro pada
otot-otot kaki bagian bawah yang berdekatan atau
melekat pada tulang tibia akibat tekanan atau beban
berulang.
MP.8 – Pencegahan dan Pertolongan Pertama pada Cedera Olahraga | 19
Gambar 12: Shin Splints (sumber: [Link])
Cedera Meniskus
Cedera meniskus umumnya terjadi akibat gerakan memutar
(twisting) saat kaki sedang menapak atau menopang berat
badan (weight bearing). Robekan pada meniskus sering kali
menimbulkan gejala minimal pada awalnya, sehingga dapat
luput dari penanganan dini.
Keluhan yang umum dialami meliputi:
● Nyeri mendadak pada lutut, terutama saat aktivitas fisik
● Pembengkakan yang muncul dalam 12–24 jam setelah
cedera
● Nyeri saat melakukan gerakan jongkok (squat)
● Kesulitan meluruskan lutut secara penuh
● Sensasi “mengunci” pada lutut, di mana sendi seperti
tertahan dalam posisi fleksi
MP.8 – Pencegahan dan Pertolongan Pertama pada Cedera Olahraga | 20
Gambar 13: Cedera Meniskus (sumber: [Link])
Cedera Tendon Achilles
• Cedera pada tendon Achilles merupakan salah satu jenis
cedera yang paling umum terjadi pada atlet, terutama
dalam olahraga yang melibatkan lari, lompat, atau
perubahan arah secara mendadak.
• Cedera ini termasuk sulit dalam proses perawatan dan
penyembuhannya, karena tendon memiliki suplai darah
yang terbatas.
• Tingkat keparahan cedera bervariasi, mulai dari tendinitis
ringan (peradangan pada tendon) hingga ruptur total
(putusnya tendon secara menyeluruh).
Gambar 14: Tendon Achilles
(sumber: [Link])
MP.8 – Pencegahan dan Pertolongan Pertama pada Cedera Olahraga | 21
Fraktur (Patah Tulang)
• Fraktur adalah kondisi ketika tulang mengalami keretakan
atau patah, dan umumnya terjadi akibat benturan
langsung, baik karena kontak dengan pemain lain
maupun dengan permukaan keras (kontak maupun non-
kontak).
• Fraktur stres (stress fracture) dapat terjadi akibat
tekanan atau beban berulang secara terus-menerus
melebihi kapasitas kekuatan tulang.
• Kelemahan pada struktur tulang sering dialami oleh
atlet yang melakukan aktivitas berintensitas tinggi dan
repetitif, seperti lari jarak jauh, ski, mendaki gunung,
serta oleh personel militer. Fraktur tipe ini dikenal
dengan sebutan march fracture.
Gambar 15: Fraktur pada kaki (sumber: [Link])
Fraktur Klavikula (Collar Bone)
● Fraktur klavikula umumnya terjadi akibat benturan
langsung pada bahu atau jatuh dengan posisi tangan
dalam keadaan terbuka (outstretched).
● Lokasi fraktur paling sering terjadi pada bagian tengah
tulang klavikula.
MP.8 – Pencegahan dan Pertolongan Pertama pada Cedera Olahraga | 22
● Penanganan awal di lapangan meliputi:
✔ Imobilisasi menggunakan broad arm sling untuk
menopang lengan
✔ Pemberian analgesik (penghilang nyeri) untuk
mengurangi ketidaknyamanan
Gambar 16: Fraktur Klavikula (sumber: [Link])
Fraktur Pergelangan Tangan (Wrist Fracture)
● Fraktur pergelangan tangan umumnya terjadi akibat jatuh
dengan posisi tangan terentang ke depan (outstretched
hand) untuk menahan tubuh.
● Tanda dan gejala yang sering muncul meliputi:
1. Nyeri akut pada pergelangan tangan
2. Pembengkakan di area pergelangan tangan
3. Tekanan nyeri (tenderness) saat disentuh atau
digerakkan
● Dalam banyak kasus, timbul deformitas pada pergelangan
tangan yang dikenal sebagai “dinner-fork deformity”—
yakni tampilan pergelangan tangan yang menyerupai
bentuk punggung garpu makan akibat pergeseran posisi
tulang.
MP.8 – Pencegahan dan Pertolongan Pertama pada Cedera Olahraga | 23
Gambar 17: Fraktur Pergelangan Tangan
(sumber: [Link])
Fraktur / Dislokasi Jari
● Cedera ini sangat sering terjadi, terutama pada penjaga
gawang (kiper) dalam olahraga seperti sepak bola atau
bola tangan.
● Dalam beberapa kasus, pemain masih dapat melanjutkan
pertandingan setelah dilakukan proteksi yang memadai
pada area cedera.
● Mallet finger terjadi akibat benturan langsung pada ujung
jari dalam posisi terentang penuh (fully extended), yang
menyebabkan kerusakan pada tendon ekstensor.
Keluhan yang umumnya dialami:
● Nyeri dan pembengkakan pada jari
● Kesulitan atau ketidakmampuan untuk meluruskan jari
secara sempurna (loss of active extension)
MP.8 – Pencegahan dan Pertolongan Pertama pada Cedera Olahraga | 24
Gambar 18: Dislokasi jari (sumber: [Link])
Dislokasi Bahu (Shoulder Dislocation)
● Terdapat dua jenis dislokasi bahu:
1. Anterior (maju) – merupakan tipe yang paling umum
terjadi (sekitar 96%)
2. Posterior (mundur) – lebih jarang ditemukan, biasanya
akibat trauma spesifik atau kejang otot
● Dislokasi bahu umumnya terjadi ketika atlet jatuh dengan
posisi tangan terentang ke depan (outstretched hand)
atau akibat benturan langsung pada bahu.
Temuan klinis yang sering dijumpai:
● Rentang gerak (ROM) bahu terbatas
● Nyeri saat menggerakkan lengan
● Riwayat dislokasi sebelumnya juga menjadi faktor risiko
kekambuhan, terutama pada atlet
Gambar 19: Dislokasi Bahu
(sumber: [Link])
MP.8 – Pencegahan dan Pertolongan Pertama pada Cedera Olahraga | 25
Fraktur Tibia/Fibula
Fraktur pada tibia atau fibula umumnya terjadi akibat
benturan keras, misalnya saat tackling dalam olahraga.
Terdapat dua jenis fraktur berdasarkan kondisi kulit:
1. Fraktur tertutup
Tidak disertai perdarahan atau luka terbuka pada
permukaan kulit.
2. Fraktur terbuka
Terjadi ketika fraktur disertai luka terbuka pada kulit,
sehingga tulang dapat terpapar langsung. Kondisi ini
membutuhkan penanganan segera, termasuk
pembersihan luka dan pemberian antibiotik intravena (IV)
untuk mencegah infeksi.
Gambar 20: Fraktur Tibia (sumber: [Link])
Fraktur Pergelangan Kaki (Ankle Fracture)
● Jenis fraktur pergelangan kaki sangat bergantung pada
posisi kaki saat cedera terjadi dan arah gaya yang
dikenakan pada saat itu.
MP.8 – Pencegahan dan Pertolongan Pertama pada Cedera Olahraga | 26
● Cedera ini dapat disebabkan oleh:
1. Jatuh ke samping, yang menyebabkan kaki tertekuk
atau terpelintir
2. Gerakan memutar mendadak (twisting injuries)
Manifestasi klinis yang umum dijumpai:
● Nyeri tekan (tenderness), pembengkakan, dan memar di
sekitar pergelangan kaki
● Deformitas (bentuk abnormal) pada pergelangan kaki
yang terkena
Penilaian Cedera
Pastikan cedera tidak membahayakan nyawa atlit:
lakukan monitoring ABC (Airway, Breathing,
Circulation)
Penilaian cedera - awal: STOP
Penilaian cedera – detail: TOTAPS
Penanganan Cedera:
PRICER, NO HARM, PEACE & LOVE
MP.8 – Pencegahan dan Pertolongan Pertama pada Cedera Olahraga | 27
Level of Injury Priority
1. Injured that pose an immediate threat to life airway
obstruction Cardiac arrest Uncontrolled bleeding
2. Urgent injuries that are potential threats to life or limb-
Head injury Serious limb injures to the blood vessel or
nerve Uncontrolled bleeding
3. The most common type Mild limb injuries:
sprain/strain Cuts, bruises, Uncontrolled bleeding
B. Pencegahan Cedera Olahraga
Pentingnya Pencegahan Cedera
Pencegahan cedera olahraga dapat dilakukan melalui persiapan
yang matang, antara lain:
1. Metode latihan yang terstruktur, meliputi: pemanasan, latihan
inti, dan pendinginan
2. Teknik gerakan yang benar dan efisien
3. Pemeriksaan kesehatan fisik dan mental secara berkala
4. Penyediaan sarana dan prasarana pelindung yang memadai
sesuai jenis olahraga
Strategi Pencegahan Cedera
1. Lakukan pemanasan dan peregangan sebelum latihan atau
pertandingan.
2. Akhiri aktivitas dengan pendinginan untuk membantu
pemulihan otot.
MP.8 – Pencegahan dan Pertolongan Pertama pada Cedera Olahraga | 28
3. Kenakan alat pelindung sesuai jenis olahraga (misalnya
pelindung lutut, helm, mouthguard).
4. Terapkan sistem latihan yang tepat dan bertahap.
5. Junjung tinggi prinsip fair play untuk menghindari kontak
berbahaya.
6. Gunakan teknik gerakan yang benar sesuai aturan.
7. Terapkan metode latihan yang sesuai dengan usia dan
kemampuan individu.
8. Pastikan lingkungan bermain aman dari risiko cedera.
9. Lakukan pemeriksaan prapartisipasi untuk menilai
kesiapan fisik.
10. Rencanakan minimal satu hari libur per minggu untuk
pemulihan tubuh.
11. Hentikan aktivitas segera jika muncul rasa nyeri atau
ketidaknyamanan.
12. Susun dan jalankan rencana hidrasi yang memadai
sebelum, selama, dan setelah berolahraga.
Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Terjadinya Cedera
Olahraga
Kesehatan olahraga mencakup berbagai aspek, seperti
persiapan, latihan fisik, pencegahan cedera dan penyakit,
diagnosis, serta penanganan gangguan yang terjadi selama atau
setelah aktivitas olahraga. Untuk mengurangi risiko cedera,
diperlukan persiapan yang baik dan matang sebelum melakukan
aktivitas fisik.
Cedera olahraga dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor, yang
secara umum terbagi menjadi dua kelompok besar:
MP.8 – Pencegahan dan Pertolongan Pertama pada Cedera Olahraga | 29
1. Faktor instrinsik
Faktor intrinsik mencerminkan kondisi internal atlet yang
dapat meningkatkan risiko cedera, antara lain:
a. Usia
b. Jenis kelamin
c. Komposisi tubuh (misalnya Indeks Massa Tubuh/IMT dan
persentase lemak tubuh)
d. Kondisi kesehatan, seperti kondisi medis yang tidak
optimal, faktor predisposisi, riwayat cedera sebelumnya,
serta instabilitas sendi
e. Tingkat kebugaran jasmani, termasuk daya tahan
kardiovaskular dan kekuatan otot
f. Faktor anatomi, seperti postur tubuh yang tidak seimbang
g. Teknik permainan, seperti kesalahan dalam gerakan atau
tahapan latihan yang tidak sesuai
h. Faktor psikologis, seperti stres, kecemasan, atau
kurangnya konsentrasi
2. Faktor Ekstrinsik
Faktor-faktor luar yang berpotensi memicu cedera selama
aktivitas olahraga, meliputi:
a. Karakteristik olahraga, misalnya olahraga kontak seperti
sepak bola atau non-kontak seperti renang
b. Kondisi sarana dan prasarana, seperti fasilitas yang
tidak memadai, pencahayaan yang kurang, atau
perlengkapan yang tidak sesuai
c. Faktor lingkungan dan cuaca, seperti suhu ekstrem,
kelembapan tinggi, atau permukaan lapangan yang licin
MP.8 – Pencegahan dan Pertolongan Pertama pada Cedera Olahraga | 30
Pencegahan Cedera Olahraga
Pencegahan cedera olahraga dapat dilakukan melalui persiapan
yang optimal, antara lain meliputi:
1. Metode latihan yang tepat, termasuk pemanasan, latihan inti,
dan pendinginan
2. Penerapan teknik gerakan yang baik dan benar sesuai cabang
olahraga
3. Pemeriksaan kesehatan fisik dan mental secara berkala
4. Penyediaan sarana dan prasarana pelindung untuk
mengurangi risiko cedera
5. Penggunaan peralatan olahraga yang sesuai dengan
karakteristik masing-masing cabang olahraga
6. Partisipasi aktif dan pemeriksaan kesehatan rutin sebelum
mengikuti kegiatan olahraga:
a. Persiapan Individu
1) Melakukan pemeriksaan prapartisipasi dan
pemeriksaan kesehatan rutin secara berkala
2) Berolahraga sesuai kondisi kesehatan dan tingkat
kebugaran
3) Menjaga asupan gizi seimbang dan kecukupan hidrasi
sebelum, selama, dan setelah berolahraga
b. Perlengkapan
1) Pakaian olahraga sebaiknya menyerap keringat,
nyaman digunakan, tidak terlalu ketat atau longgar,
agar tidak mengganggu ruang gerak. Untuk beberapa
cabang olahraga seperti renang, dianjurkan
menggunakan pakaian ketat berbahan elastis/stretch
agar tetap menunjang pergerakan tubuh.
MP.8 – Pencegahan dan Pertolongan Pertama pada Cedera Olahraga | 31
2) Alas kaki harus digunakan untuk semua aktivitas
olahraga luar ruang atau di lapangan, dengan ukuran
pas dan sol yang tidak licin. Kini telah tersedia sepatu
khusus yang dirancang sesuai jenis cabang olahraga.
3) Gunakan alat pelindung sesuai kebutuhan olahraga,
seperti helm (bersepeda), pelindung lutut, kacamata
renang, sarung tangan kiper, brace, dan supporter
lainnya.
c. Peralatan Olahraga
1) Alat olahraga harus aman digunakan dan tidak
berpotensi menimbulkan cedera, misalnya:
✔ Rem sepeda dalam kondisi baik dan ban berisi
udara cukup
✔ Penggunaan raket dan bola sesuai spesifikasi
olahraga masing-masing
2) Jika menggunakan matras, pastikan matras berkualitas
baik dan tidak licin
d. Fasilitas Olahraga
1) Kondisi tempat olahraga (lapangan) harus aman: tidak
becek, tidak bergelombang, tidak miring, bebas dari
bebatuan, agar meminimalkan risiko jatuh atau keseleo
2) Singkirkan benda berbahaya dari area latihan, seperti
kaleng bekas, pecahan kaca, atau sampah tajam
lainnya
MP.8 – Pencegahan dan Pertolongan Pertama pada Cedera Olahraga | 32
Mengurangi Risiko Cedera Olahraga
Upaya untuk mengurangi risiko cedera dapat dilakukan melalui
pemeriksaan prapartisipasi dan optimalisasi kondisi fisik serta
psikologis atlet.
1. Pemeriksaan Prapartisipasi, meliputi:
a. Pemeriksaan fleksibilitas tubuh
b. Pemeriksaan komposisi tubuh (seperti IMT, persentase
lemak) dan biomekanika gerak
c. Evaluasi daya tahan dan kekuatan otot
d. Penilaian postur tubuh
e. Penilaian stres emosional yang berkaitan dengan aktivitas
olahraga
2. Faktor Fisik Pendukung Pencegahan Cedera
Risiko cedera dapat diminimalkan melalui:
a. Keseimbangan antara panjang dan kekuatan otot
b. Postur tubuh yang baik dan stabil
c. Fungsi sendi yang optimal
MP.8 – Pencegahan dan Pertolongan Pertama pada Cedera Olahraga | 33
1. Cedera olahraga dapat terjadi saat melakukan aktivitas fisik, baik
dalam bentuk kompetisi maupun rekreasi, dan dapat dialami oleh
atlet profesional maupun masyarakat umum. Cedera ini dapat
mengenai berbagai jaringan tubuh, seperti kulit, otot, tulang, dan
sendi.
2. Pencegahan cedera olahraga dapat dilakukan melalui persiapan
yang optimal, antara lain dengan:
✔ Melakukan pemanasan yang cukup
✔ Menerapkan teknik gerakan olahraga yang benar
✔ Menggunakan sarana dan prasarana yang sesuai dengan
jenis olahraga yang dilakukan
“Hebat, Sahabat Bugar!
Setelah memahami Konsep Cedera Olahraga, kini saatnya
melangkah ke bagian yang tak kalah penting:
Tatalaksana Pertolongan Pertama saat Cedera terjadi.
💡 Yuk, ikuti materi selanjutnya dengan penuh semangat dan
rasa ingin tahu—karena dengan penanganan awal yang tepat,
kita bisa mencegah cedera menjadi lebih parah dan menjaga
keselamatan saat beraktivitas fisik”
MP.8 – Pencegahan dan Pertolongan Pertama pada Cedera Olahraga | 34
TATALAKSANA
PERTOLONGAN PERTAMA
PADA CEDERA OLAHRAGA
Tatalaksana pertolongan pertama pada cedera olahraga adalah
langkah awal yang dilakukan segera setelah terjadi cedera fisik saat
berolahraga, dengan tujuan untuk mengurangi dampak cedera,
mencegah kerusakan jaringan lebih lanjut, dan mempercepat proses
pemulihan.
Indikator Hasil Belajar
Setelah mengikuti mata pelatihan ini, peserta mampu menjelaskan
tatalaksana pertolongan pertama pada cedera olahraga.
Sub Materi Pokok
Berikut ini adalah sub materi pokok 2:
a. Metode rest, ice, comperession, elevation (RICE)
b. Metode lainnya
c. Mekanisme rujukan
Pencegahan Dan Pertolongan Pertama Pada Cedera Olahraga | 35
“Halo, Sahabat Bugar!
Sudah tahukah kamu bagaimana cara memberikan pertolongan
pertama yang tepat saat terjadi cedera olahraga?
Dan seberapa besar peran pentingnya dalam mencegah cedera
menjadi lebih parah?
✨ Yuk, kita pelajari bersama!
Mari simak penjelasan lengkapnya di bawah ini dan bersiaplah
menjadi pribadi yang lebih sigap, tanggap, dan aktif menjaga
keselamatan saat berolahraga. Semangat terus jaga kebugaran!”
Penanganan Cedera – Prinsip "No HARM" (Hari ke-1 hingga ke-
3 setelah cedera)
Untuk mempercepat pemulihan dan mencegah kondisi cedera
menjadi lebih parah, penting untuk menerapkan prinsip No HARM
dalam 48–72 jam pertama pascacedera.
No HARM merupakan akronim dari empat hal yang sebaiknya
dihindari setelah cedera:
✔ H = Heat (panas)
Jangan gunakan kompres hangat, mandi air panas, atau
salep panas, karena dapat meningkatkan perdarahan dan
pembengkakan.
36 | Pencegahan Dan Pertolongan Pertama Pada Cedera Olahraga
✔ A = Alcohol (alkohol)
Hindari konsumsi alkohol karena dapat memperlambat
proses penyembuhan dan meningkatkan pembengkakan.
✔ R = Running (berlari atau aktivitas fisik berat)
Jangan memaksakan berolahraga sebelum pulih karena bisa
memperparah cedera.
✔ M = Massage (pijatan langsung pada area cedera)
Hindari memijat area yang cedera dalam 72 jam pertama
karena bisa memperparah kerusakan jaringan.
A. Metode Rest – Ice – Comperession – Elevation (RICE)
RICE merupakan prinsip penanganan pertama pada cedera
olahraga yang memerlukan penanganan segera. Penanganan
cedera pada masa dini sangat signifikan fungsinya sebagai
faktor penentu lamanya proses kesembuhan cedera olahraga.
Masing-masing komponen di dalam RICE mempunyai peranan,
fungsi dan saling melengkapi sebagai bentuk tatalaksana
penanganan cedera.
Apabila terjadi ketidak optimalan salah satu komponen RICE
akan berefek pada lama dan proses penyembuhan cedera
tersebut. Dalam 48 jam pertama lakukan teknik RICE. RICE
singkatan dari Rest (istirahat), ice (es), Comperession
(pembebatan), dan Elevation (peninggian). Tujuan metode RICE
dilakukan untuk mengurangi pembengkakan dan mempercepat
penyembuhan nantinya.
MP.8 – Pencegahan dan Pertolongan Pertama pada Cedera Olahraga | 37
Rest: Istirahat
Peserta segera diistirahatkan saat setelah terjadi cedera
sehingga anggota tubuh tidak bergerak, tujuannya untuk
menghindari bertambahnya pembengkakan.
Rest (istirahat) adalah mengistirahatkan fungsi bagian
ekstremitas yang cedera untuk meminimalkan cedera. Istirahat
pada saat penanganan cedera olahraga bukan berarti tidak
melakukan aktivitas tetapi membatasi aktivitas (istirahat relative).
Pembatasan aktivitas diperlukan untuk melindungi jaringan yang
cedera dan memberikan kesempatan untuk penyembuhan,
tetapi tidak menghambat fungsi normal muskuloskeletal.
Istirahat sangat berarti untuk menghimpun tenaga ataupun
mengistirahatkan tubuh. Istirahat akan meminimalkan nyeri yang
di derita, mengurangi pembengkakan, menghindari gerakan
yang tidak diperbolehkan dan menjaga sistem otot (muscular),
sendi dan rangka (tulang) yang terlibat.
Gambar 22. Kaki cedera
(sumber: [Link]/Yamu Jay)
Gambar 23. Rest Gambar 24. Rest
menggunakan penyangga pada menggunakan
tubuh bagian atas penyangga pada tubuh
(sumber: [Link]/Aygul) bagian bawah (sumber:
[Link]/misaiasmg)
MP.8 – Pencegahan dan Pertolongan Pertama pada Cedera Olahraga | 38
Ice: Es
Sediakan kantong plastik berisikan es batu, kemudian bungkus
kantong es tersebut dengan handuk kecil. Gunakan kompres es
di sekitar cedera selama 10-15 menit tiap 1-2 jam pada hari
pertama, hari ke 2 selanjutnya selama 10-15 menit setiap 4 jam.
Lakukan sampai 3 hari (72 jam).
Pemberian es dapat mengurangi peradangan, menyempitkan
pembuluh darah ke area cedara, mengurangi pembengkakan
serta mengurangi rasa sakit.
Gambar 25. Mengurangi cedera pergelangan kaki dengan es
(sumber: [Link])
Compression: pembalutan atau pembebatan
Lakukan pembalutan atau pembebatan sederhana pada area
cedera dimulai dari distal atau bagian ujung dari area cedera
kearah proksimal atau mendekati badan.
Proses pembalutan dilakukan secara tumpang tindih setiap lapis
setengah dengan lapis sebelumnya. Balut kira-kira jarak satu
tangan diatas area cedera. Dalam pembalutan jangan terlalu
ketat karena dapat menghambat aliran [Link] terlalu longgar
tujuan pembebatan kurang efektif. Setelah selesai pembebatan
ujung cedera apakah masih bisa bergerak dan apakah nadi
MP.8 – Pencegahan dan Pertolongan Pertama pada Cedera Olahraga | 39
masih teraba Tujuan pembebatan adalah untuk mengurangi
pergerakan dan mengurangi pembengkakan.
Gambar 26. Pembebatan cedera (sumber: [Link]/Bru-nO)
Elevation: tinggikan
Tinggikan area cedera lebih tinggi dari aliran darah
tubuh/jantung dengan menggunakan bantal atau kursi. Elevasi
ini bertujuan untuk mengurangi tekanan dan aliran darah ke
daerah cedera mengurangi pembengkakan.
Gambar 27. Meninggikan posisi
kaki yang cedera
(sumber: [Link]/EyeEm
Mobile GmbH)
Kontraindikasi Penggunaan
Teknik RICE
Teknik RICE (Rest, Ice,
Compression, Elevation) tidak
disarankan dilakukan dalam situasi tertentu, seperti:
● Luka terbuka disertai perdarahan hebat
MP.8 – Pencegahan dan Pertolongan Pertama pada Cedera Olahraga | 40
● Fraktur terbuka atau patah tulang dengan tulang menembus
permukaan kulit
● Cedera yang melibatkan perdarahan internal berat atau
dislokasi parah (perlu evaluasi medis segera)
Pada kondisi-kondisi tersebut, penanganan medis darurat lebih
diutamakan sebelum dilakukan tindakan suportif seperti prinsip
RICE.
B. Metode Lainnya
Penanganan Cedera: PRICER
Gambar 28. Bagan Penangan Cedera PROCER
(sumber: PriHealth Physio – Injury Management Guidelines)
Penanganan Cedera: Prinsip PEACE & LOVE
● British Journal of Sports Medicine (BJSM) telah
memperkenalkan pendekatan terbaru dalam penanganan
cedera yang dikenal dengan istilah PEACE & LOVE.
● Konsep ini dikembangkan oleh dua fisioterapis asal Kanada,
Blaise Dubois dan Jean-François Esculier, sebagai
MP.8 – Pencegahan dan Pertolongan Pertama pada Cedera Olahraga | 41
pendekatan menyeluruh yang tidak hanya menekankan pada
fase perbaikan jaringan (healing), tetapi juga memperhatikan
aspek pemulihan jangka panjang dari cedera.
● PEACE merupakan prinsip yang diterapkan pada fase awal
cedera, sedangkan LOVE digunakan dalam fase lanjutan
pemulihan untuk mendukung proses kembali ke aktivitas.
PEACE – Fase Awal Penanganan (0–3 hari setelah cedera)
● P – Protection (Proteksi)
Hindari tumpuan atau aktivitas yang membebani area cedera
selama 1–3 hari untuk meminimalkan perdarahan dan
mencegah kerusakan jaringan lebih lanjut. Namun, periode
istirahat juga perlu dibatasi agar tidak mengurangi kekuatan
dan kualitas jaringan.
● E – Elevation (Elevasi)
Posisikan area cedera lebih tinggi dari jantung sesering
mungkin. Meskipun bukti ilmiahnya belum kuat, metode ini
tetap dianjurkan karena manfaatnya lebih besar dibanding
potensi risikonya.
● A – Avoid Anti-Inflammatory Modalities (Hindari Anti-
Inflamasi)
Hindari penggunaan obat anti-inflamasi dan kompres es
secara berlebihan. Studi terbaru menunjukkan bahwa es
dapat menghambat aliran darah dan memperlambat distribusi
zat penyembuh alami tubuh. Obat antiinflamasi pun berisiko
mengganggu regenerasi jaringan lunak jika digunakan tidak
bijak.
MP.8 – Pencegahan dan Pertolongan Pertama pada Cedera Olahraga | 42
● C – Compression (Kompresi)
Gunakan perban elastis atau kinesiotape untuk membantu
mengurangi pembengkakan. Meskipun masih menjadi bahan
perdebatan, kompresi sering terbukti efektif dalam
menurunkan edema sendi dan perdarahan jaringan setelah
cedera akut, khususnya pada pergelangan kaki.
● E – Education (Edukasi)
Edukasi pasien agar terlibat aktif dalam proses pemulihan
dan menghindari ketergantungan pada modalitas pasif
(seperti elektoterapi, terapi manual, atau akupunktur) yang
digunakan secara berlebihan.
LOVE – Fase Pemulihan Fungsional
● L – Load (Pembebanan)
Berikan beban latihan secara bertahap sesuai toleransi nyeri.
Pembebanan yang tepat dapat merangsang proses
penyembuhan, memperkuat jaringan, dan meningkatkan
kapasitas otot, ligamen, serta tendon.
● O – Optimism (Optimisme)
Dorong sikap positif dan keyakinan dalam proses
penyembuhan. Pikiran yang optimis terbukti berdampak
signifikan terhadap hasil pemulihan.
● V – Vascularisation (Vaskularisasi)
Lakukan aktivitas kardiovaskular ringan untuk memperlancar
sirkulasi darah dan mempercepat pemulihan jaringan
muskuloskeletal.
MP.8 – Pencegahan dan Pertolongan Pertama pada Cedera Olahraga | 43
● E – Exercise (Latihan)
Lanjutkan dengan latihan fungsional seperti penguatan otot
(strengthening), peregangan (stretching), dan latihan
proprioseptif untuk memulihkan mobilitas, keseimbangan,
dan kekuatan.
Luka lecet
Luka di permukaan kulit dengan terkelupasnya lapisan kulit
terluar. Biasanya disebabkan pergeseran dengan benda keras.
Penanganannya kulit di sekitar luka dibersihkan. Kalau pada luka
banyak tanah/ kotoran lainnya, maka luka dibersihkan dengan air
bersih/steril dan sabun. Jika luka bersih dapat langsung diberi
disinfektan. Luka ditutup dengan kain kasa steril bila ada beri
salep antibiotik.
Blister
Bila terjadi pergeseran kulit secara mekanis sering terjadi blister
atau melepuh. Biasanya terjadi pada telapak kaki atau tangan.
Penanganannya dengan mengoles anti septik di blister dan area
sekitarnya, bila blister belum pecah tusuk dengan jarum steril
sehingga keluar cairannya kemudian oleskan antiseptik kembali
dan tutup dengan pleister.
Bila peserta tetap akan meneruskan latihan atau aktivitasnya
tutup dengan plester 3 lapis pertama pada area bister kemudian
di atas dan di bawah bleister.
MP.8 – Pencegahan dan Pertolongan Pertama pada Cedera Olahraga | 44
Luka terbuka atau robek
Luka terbuka mengenai mengenai jaringan dibawah kulit.
Disertai pecahnya pembuluh darah. Biasanya oleh karena
benturan. Apabila lukanya kecil, lakukan seperti
penangananseperti luka lecet. Apabila lukanya agak besar dan
sampai mengenai jaringan dibawah kulit agak dalam atau
menyebabkan perdarahan yang banyak,prinsippenanganannya
yaitu hentikan perdarahan, bersihkan luka dengan air steril atau
dengan antiseptik kemudian dilakukan penutupan luka atau
pembalutan. Bila diperlukan penjahitan luka bawa kepuskesmas
terdekat.
Memar
Pada luka tertutup kadang-kadang tidak ada robekan akan tetapi
ada perdarahan pada pembuluh darah kecil/kapilerdibawah kulit.
Ditandai dengan rasa nyeri , warna kebiruan pada area cedera.
Sering terjadi oleh karena benturan.
Penanganannya pada hari pertama lakukan kompres es 10-15
menit tiap jam.
Hindari benturan di area cedera pada latihan selanjutnya. Tidak
boleh dikompres dengan air panas. Tidak diperkenankan area
cedera diurut ataupun [Link] tersebut akan menambah
perdarahan di area cedera. Setelah 48 jam baru diperbolehkan
kompres air hangat atau digosok.
Cedera Sendi dan Otot: Kram Otot
Kram otot adalah kontraksi tiba-tiba dan tidak terkontrol pada
sekelompok otot yang menyebabkan ketegangan berlebihan,
MP.8 – Pencegahan dan Pertolongan Pertama pada Cedera Olahraga | 45
nyeri, dan rasa tidak nyaman. Kondisi ini umumnya terjadi ketika
otot belum siap untuk berkontraksi, seperti pada saat kurang
pemanasan sebelum aktivitas fisik.
Penyebab Kram Otot
Beberapa faktor yang dapat memicu terjadinya kram otot antara
lain:
● Kekurangan cairan dan mineral (seperti natrium,
kalium, dan magnesium)
● Kurangnya pemanasan atau peregangan otot sebelum
melakukan aktivitas fisik
● Berat badan berlebih, yang memberikan tekanan ekstra
pada otot dan sendi
● Usia lanjut, karena elastisitas otot dan fungsi
neuromuskular menurun seiring bertambahnya usia
● Riwayat kram dalam keluarga, yang menunjukkan
kemungkinan faktor genetik
Penanganan Kram Otot
Langkah-langkah penanganan kram otot meliputi:
1. Segera hentikan aktivitas fisik yang sedang dilakukan.
2. Lakukan peregangan pasif secara perlahan pada otot yang
mengalami kram. Regangkan otot yang kram secara
perlahan ke arah berlawanan dari kontraksi.
3. Berikan pijatan lembut untuk membantu relaksasi otot yang
tegang.
4. Kompres area kram dengan air hangat guna meningkatkan
aliran darah dan mengurangi kekakuan selama 15 – 20 menit.
MP.8 – Pencegahan dan Pertolongan Pertama pada Cedera Olahraga | 46
5. Jika nyeri sangat hebat, dapat diberikan semprotan Chlor
Ethyl untuk efek anestesi lokal sementara.
6. Pastikan asupan cairan tubuh tercukupi dengan
memberikan air mineral yang cukup, terutama jika kram
terjadi akibat dehidrasi.
Gambar 31 Kram Otot
(sumber [Link]
nyeri-tungkai-bawah)
Cedera pada otot dan sendi
Penyebab cedera pada otot dan sendi biasanya karena
penggunaan berlebihan berupa gerakan berulang yang
berlebihan atau gerakan terlalu cepat karena trauma/ rudapaksa
dengan bermacam-macam akibatnya.
Cedera otot, sendi atau tendon/ligamen biasanya ditandai
dengan rasa nyeri sesuai gerakan otot yang cedera, misalnya
terkilir, keseleo, perdarahan dalam otot/lebam karena benturan
keras atau curiga terjadinya fraktur/patah tulang tertutup.
Cedera sendi/dislokasi
Cedera sendi akan menyebabkan perubahan bentuk sendi yang
tampak berbeda dengan sendi yang lain. Penanganannya
MP.8 – Pencegahan dan Pertolongan Pertama pada Cedera Olahraga | 47
dengan teknik RICE, kemudian segera dibawa ke rumah sakit
terdekat.
Cedera pada tulang dapat terjadi dalam beberapa bentuk berikut:
1. Patah tulang terbuka, yaitu kondisi saat tulang yang patah
menembus kulit dan menyebabkan robekan serta perdarahan
keluar dari tubuh.
2. Patah tulang tertutup, di mana tulang patah tanpa disertai
robekan pada kulit, tetapi tetap menimbulkan nyeri dan
pembengkakan.
3. Kecurigaan fraktur, yaitu dugaan awal adanya patah tulang
berdasarkan gejala seperti nyeri hebat, pembengkakan,
perubahan bentuk, atau keterbatasan gerak meskipun belum
terlihat jelas secara visual.
Biasanya gejalanya adalah bengkak, nyeri kalau digerakkan
serta ada perubahan bentuk tulang. Pasien tidak boleh
melakukan bergerak dan segera dibawa ke rumah sakit.
Penanganan sebelum dibawa ke rumah sakit pada fraktur
tertutup yaitu dengan teknik RICE untuk mengurangi
pembengkakan dan mempercepat penyembuhan.
Hal yang perlu dihindari
Hal-hal yang perlu dihindari olahraga untuk mencegah terjadinya
cedera yang lebih parah yaitu metode HARM merupakan
singkatan dari:
• Heat (panas) tujuannya supaya perdarahan tidak
bertambah
MP.8 – Pencegahan dan Pertolongan Pertama pada Cedera Olahraga | 48
• Alcohol (alkohol) tujuannya agar tidak bertambah bengkak
• Running (berlari) tujuannya agar tidak memperburuk
cedera
• Massage (pijat) pada 48-72 jam pertama karena
pemijatan akan menyebabkan bertambahnya perdarahan
dan bengkak. Setelah 3 hari cedera baru boleh dilakukan
pemijatan.
C. Mekanisme Rujukan
Rujukan adalah penyerahan tanggung jawab dari satu pelayanan
kesehatan ke pelayanan kesehatan yang lain. Rujukan dilakukan
bila penanganan cedera di tempat cedera memerlukan fasilitas
kesehatan yang lebih lengkap. Rujukan dilakukan bagi pasien
yang perlu pertolongan kegawat daruratan, seperti gangguan
kesadaran, perdarahan, patah tulang. Selain itu rujukan dapat
dilakukan untuk pemeriksaan penunjang lainnya, seperti sinar X,
USG, dll.
Bila terjadi cedera luka terbuka perlu dijahit atau perdarahan
yang tidak berhenti, patah tulang atau curiga patah tulang harus
dirujuk ke dokter atau rumah sakit terdekat untuk dilakukan
pemeriksaan dan tindakan lanjutan seperti sinar X, USG atau
lainnya guna penanganan selanjutnya.
Perlu diperhatikan dalam 48 jam pertama. Jangan mengunakan
kompres panas atau krim panas dan jangan lakukan pemijatan.
MP.8 – Pencegahan dan Pertolongan Pertama pada Cedera Olahraga | 49
Tujuan Rujukan Cedera
● Memberikan pertolongan kegawatdaruratan secepat
mungkin.
● Memastikan pasien mendapatkan pemeriksaan penunjang
yang memadai seperti foto Rontgen (Ro), USG, MRI, dan
lainnya, sesuai indikasi medis.
Langkah-langkah Rujukan
1. Tahap Persiapan
Hal-hal yang harus dipastikan sebelum merujuk pasien:
a. Tenaga kesehatan pendamping yang kompeten dan siap
siaga
b. Peralatan medis yang diperlukan untuk mendukung
keselamatan selama perjalanan
c. Pendamping keluarga pasien untuk mendukung aspek
non-medis dan administratif
d. Obat-obatan esensial yang mungkin dibutuhkan selama
proses rujukan
e. Kendaraan yang memadai (seperti ambulans) yang
menjamin kenyamanan dan keamanan pasien dalam
waktu tempuh yang efisien
f. Ketersediaan dana untuk mendukung proses rujukan jika
diperlukan
MP.8 – Pencegahan dan Pertolongan Pertama pada Cedera Olahraga | 50
2. Tahap Pelaksanaan
a. Surat Pengantar Rujukan sesuai format dan standar yang
berlaku
b. Penghantaran pasien dengan kendaraan medis seperti
ambulans yang dilengkapi peralatan kegawatdaruratan
dasar
c. Menjaga kondisi umum pasien tetap stabil sepanjang
perjalanan menuju fasilitas rujukan
“Sahabat Bugar, selamat!
Kamu telah menyelesaikan mata pelatihan tentang pencegahan
dan pertolongan pertama pada cedera olahraga.
Menarik, bukan? Ternyata, mencegah cedera dan mengetahui
langkah pertolongan pertama sangatlah penting.
Yuk, mulai terapkan langkah-langkah pencegahan sejak
sekarang! Karena tubuh yang sehat dan siap adalah kunci
utama menikmati olahraga dengan aman, nyaman, dan
menyenangkan”
MP.8 – Pencegahan dan Pertolongan Pertama pada Cedera Olahraga | 51
1. Tatalaksana pertologan pertama pada cedera olahraga salah
satunya metode rest, ice, compression, dan elevation (RICE).
Rrest; mengistirahatkan bagian yang cedera. Ice; dengan cara
peberian es pada daerah cedera, guna mengurangi
pembengkakan. Compression; melakukan pembebatan pada
daerah cedera, dalam melakukan pembalutan jangan terlalu
ketat karena dapat menghambat aliran darah. Elevation;
meninggikan area cedera untuk mengirangi tekanan dan aliran
darah ke daerah cedera untuk mengurangi pembengkakan.
RICE tidak boleh dilakukan pada kondisi luka terbuka,
perdarahan yang banyak, dan fraktur terbuka
2. Metode lain yang dapat dilakukan PEACE & LOVE (protection,
elevation, compression, education, and load, optimism,
vaskularisation, exercise). Hal yang perlu dihindari saat olahraga
untuk mencegah terjadinya cedera yang lebih parah dengan cara
melakukan HARM (head, alcohol, running, massage). Tindakan
memijat pada 4 – 72 jam pertama, karena pemijatan dapat
menyebabkan bertambahnya perdarahan dan bengkat.
3. Rujukan dilakukan bila penanganan cedera memerlukan fasilitas
Kesehatan yang lebih lengkap. Rujukan bertujuan untuk
pertolongan kegawat daruratan, dan pemeriksaan penunjang
lainnya seperti rongent, USG, dan lain-lain.
MP.8 – Pencegahan dan Pertolongan Pertama pada Cedera Olahraga | 52
1. Herrera E, Sandoval MC, Camargo DM, Salvini TF. Effect of
walking and resting after three cryotherapy modalities on the
recovery of sensory and motor nerve conduction velocity in
healthy subjects. Brazilian Journal of Physical Therapy. 2011.
2. Michel PJ, Peter AA, Leendert B, Lieke W, Niek DC, Gino MMj.
What is the evidence for rest, ice, compression and elevation
therapy in the treatment of ankle sprains in adults. Journal of
Atheletic Training. 2012;47(4):435-443.
3. Brukner, P., & Khan, K. (2012). Brukner & Khan’s Clinical Sports
Medicine (4th ed.). McGraw-Hill.
4. Knight KL. Immediate care of acute traumatic injuries. Dalam
Cryotherapy in sport injury management. Champaign: Human
Kinetics. 2010. P:85-98.
5. Anderson B. RICE - The First Steps. 2009. Diunduh dari
[Link] [Link]/[Link] pada tanggal 23
Februari 2021.
53 | MP.8 – Pencegahan dan Pertolongan Pertama pada Cedera Olahraga
TIM PENYUSUN MODUL
1. Direktorat Promosi Kesehatan dan Kesehatan Komunitas
Kemenkes, dll (mohon tuliskan yg menyusun modul ini).
2. Perhimpunan Dokter Spesialis Kesehatan Olahraga (PDSKO)
3. Balai Besar Pelatihan Kesehatan Jakarta:
a. Ns. Sri Suprapti, [Link]., MMRS
b. Agus Ronaldi, SKM., MAP
c. Kenya Puspita Lindri, [Link]., MKM
MP.8 – Pencegahan dan Pertolongan Pertama pada Cedera Olahraga | 54