0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
3 tayangan8 halaman

Asuhan Keperawatan Gangguan Harga Diri

Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
3 tayangan8 halaman

Asuhan Keperawatan Gangguan Harga Diri

Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

Laporan Pendahuluan (LP)

Kelompok Diagnosis Risiko


ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN DENGAN MASALAH
GANGGUAN KONSEP DIRI: HARGA DIRI

Disusun oleh:
HANIF PRASETYANINGTYAS
201510201133

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN


FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS ‘AISYIYAH
YOGYAKARTA
2018
A. Masalah Keperawatan

Gangguan konsep diri: harga diri

DATA:

Berdasarkan studi pendahuluan berupa wawancara pada tanggal 1

September 2018 dengan pengelola program kesehatan jiwa Puskesmas Jetis II

Bantul, didapatkan gejala yang muncul pada pasien gangguan jiwa yaitu

menarik diri, kontak mata kurang, mengkritik diri sendiri, tidak berani

menikah, malu, percaya diri kurang, pesimis, serta apatis. Menurut Pangga

dan Suryaka (2014), pasien dengan gejala-gejala di atas, apabila tidak

mendapatkan penanganan yang tepat akan mengakibatkan timbulnya risiko

menciderai diri, orang lain dan lingkungan.

B. Proses Terjadinya

1. Pengertian

Harga diri adalah tingkat penilaian atau evaluasi seseorang

terhadap dirinya sendiri secara positif dan juga sebaliknya dapat

menghargai secara negatif (Lerner dan Spainer, 1980 dalam Ghufron &

Risnawita, 2012). Harga diri menggambarkan sejauh mana individu

menilai dirinya sebagai orang yang berkemampuan, berarti, berharga, dan

kompeten (Jasmadi & Azzama, 2016).

Harga diri diperoleh dari diri sendiri dan dari orang lain. Harga

diri dibentuk sejak kecil dari adanya penerimaan dan perhatian serta akan

meningkat sesuai meningkatnya usia. Biasanya harga diri rentan

terganggu pada masa pubertas (Yusuf, Fitryasari & Nihayati, 2015).

Seseorang yang berhasil mencapai cita-citanya akan menumbuhkan

perasaan harga diri yang tinggi (Muhith, 2015 dalam Hajar, 2017).

1
2. Karakteristik Harga Diri

a. Harga Diri Tinggi

Harga diri tinggi adalah kondisi pribadi positif, yang akan

memunculkan sikap yang baik dalam berinteraksi dengan orang lain

(Srisayekti et al., 2015). Branden (1987, dalam Ghufron dan

Risnawita, 2012) menyebutkan orang dengan harga diri tinggi

memiliki karakteristik mampu menanggulangi kesengsaraan hidup;

tabah; ulet; mampu melawan kegagalan, kekalahan, keputusasaan;

lebih berambisi; menjadikan keterbatasan sebagai sarana berkembang;

dapat membina hubungan interpersonal; dan lebih bahagia dalam

menghadapi realitas.

b. Harga Diri Rendah

Harga diri rendah yaitu perasaan negatif terhadap diri sendiri

tentang makna diri (Hajar, 2017). Menurut Fitria, Sriati, dan

Hernawaty (2013), karakteristik individu dengan harga diri rendah

adalah perasaan malu terhadap diri sendiri, menyalahkan diri sendiri,

mengkritik diri sendiri, merendahkan martabat diri sendiri, gangguan

hubungan sosial, menarik diri, percaya diri kurang, sukar mengambil

keputusan, mencederai diri, mudah marah/tersingung, apatis, putus

asa, pesimis menghadapi hidup, serta kegagalan menjalankan peran.

3. Faktor Predisposisi

Menurut Yusuf, Fitryasari, dan Nihayati (2015), faktor

predisposisi harga diri antara lain penolakan; kurang penghargaan; pola

asuh overprotektif, otoriter, tidak konsisten, terlalu dituruti, terlalu

2
dituntut; persaingan antar keluarga; kesalahan dan kegagalan berulang,

tidak mampu mencapai standar.

4. Masalah Keperawatan

Masalah keperawatan yang mungkin timbul pada seseorang

dengan gangguan harga diri adalah gangguan harga diri rendah kronik

atau situasional, keputusasaan, isolasi sosial menarik diri, dan risiko

perilaku kekerasan (Dalami et, al., 2009). Gangguan harga diri rendah

kronik adalah evaluasi diri atau perasaan negatif tentang diri sendiri atau

kemampuan diri yang berlangsung lama. Sedangkan harga diri rendah

situasional yaitu munculnya persepsi negatif tentang makna diri sebagai

respon terhadap situasi saat ini (NANDA, 2015-2017).

C. Pohon Masalah

D. Tindakan Keperawatan

1. Tujuan

a. Tujuan Umum

Klien dapat berhubungan dengan orang lain secara optimal

3
b. Tujuan Khusus

1) Klien dapat membina hubungan saling percaya

2) Klien dapat mengidentifikasi kemampuan dan aspek positif yang

dimiliki

3) Klien dapat menilai kemampuan yang digunakan

4) Klien dapat merencanakan kegiatan sesuai dengan kemampuan

yang dimiliki

5) Klien dapat melakukan kegiatan sesuai kemampuannya

6) Klien dapat memanfaatkan sistem pendukung yang ada.

2. Intervensi Keperawatan

a. Tahap Persiapan

Peneliti membaca rekam medis, cuci tangan, dan setting tempat

(Rahmat, 2015).

b. Prosedur Interaksi

1) Posisi peneliti dan pasien adalah posisi interview (Queensland

Government, 2003 dalam Rahmat, 2015).

2) Prosedur kerja pengkajian konsep diri:

a) Tahap Pre Interaksi

Merupakan tahap dimana peneliti belum bertemu dengan

pasien. Pada tahap ini peneliti mengumpulkan data tentang

pasien; mengeksplorasi perasaan, fantasi, dan ketakutan diri;

menganalisis kemampuan dan keterbatasan diri; dan membuat

rencana pertemuan dengan pasien (Direja, 2011).

b) Tahap Orientasi

4
Merupakan tahap dimana peneliti bertemu dengan pasien.

Pada tahap ini peneliti memberi salam; perkenalan diri;

menanyakan nama pasien; menanyakan perasaan pasien;

menunjukkan kepercayaan, penerimaan, dan keterbukaan;

kemudian menjelaskan kegiatan yang akan dilakukan yaitu

pengkajian konsep diri dan kegiatan TAKS; menjelaskan

tujuan kegiatan; menjelaskan waktu yang diperlukan untuk

kegiatan; dan menjaga kerahasiaan (Machfoedz, 2009).

c) Tahap Kerja

Tahap dimana peneliti memulai kegiatan. Peneliti memberi

kesempatan pasien untuk bertanya mengenai pelaksanaan

kegiatan; memulai kegiatan pengkajian dengan cara yang

baik; dan mengkaji tentang harga diri pasien sesuai dengan

rencana (Machfoedz, 2009).

d) Tahap Terminasi

Tahap dimana peneliti akan menghentikan interaksinya

dengan pasien. Pada tahap ini peneliti menyimpulkan hasil

kegiatan berupa evaluasi hasil dan proses. Kemudian

mengeksplorasi perasaan penolakan, marah, kehilangan,

sedih, serta perilaku lain. Selanjutnya peneliti memberikan

reinforcement positif, merencanakan tindakan selanjutnya

dengan pasien, melakukan kontrak waktu, dan mengakhiri

kegiatan dengan baik (Machfoedz, 2009).

5
DAFTAR PUSTAKA

Dalami, Ermawati dkk. 2009. Asuhan Keperawatan Jiwa dengan Masalah


Psikososial. Jakarta: Trans Info Media.

Direja, Ade H.S. 2011. Buku Ajar Asuhan Keperawatan Jiwa. Yogyakarta: Nuha
Medika.

Fitria, Nita dkk. 2013. Laporan Pendahuluan tentang Masalah Psikososial. Jakarta:
Salemba Medika.

Ghufron, M. Nur dan Rini Risnawita S. 2012. Teori-teori Psikologi. Yogyakarta: Ar-
Ruzz Media.

Hajar, Siti. 2017. Hubungan Harga Diri dengan Kualitas Hidup Narapidana di
Lembaga Pemasyarakatan Narkotika Kelas IIA Yogyakarta. Yogyakarta:
Skripsi Tidak dipublikasikan Universitas ‘Aisyiyah Yogyakarta.

Jasmadi dan Aulia Azzama. 2016. Hubungan Harga Diri dengan Perilaku Konsumtif
Remaja di Banda Aceh. Jurnal Psikoislamedia Universitas Islam Negeri Ar
Raniry Banda Aceh. 1 (2).

Machfoedz, Mahmud. 2009. Komunikasi Keperawatan: Komunikasi Terapeutik.


Yogyakarta: Ganbika.

NANDA Internasional. 2016. Diagnosis Keperawatan Definisi & Klasifikasi 2015-


2017. Jakarta: EGC.

Pangga, A. Dwi dan Edy Suryaka. 2014. Pengaruh Strategi Pelaksaan Komunikasi
pada Pasien Harga Diri Rendah Terhadap Kemampuan Pasien dalam
Meningkatkan Harga Diri. Jurnal Kesehatan Universitas Muhammadiyah
Semarang.

Rahmat, Ibrahim. 2015. Modul Pedoman Pengkajian Konsep Diri (PPKD).


Yogyakarta: Betha Grafika Yogyakarta.

Srisayekti, Wilis dkk. 2015. Harga Diri (Self Esteem) Terancam dan Perilaku
Menghindar. Jurnal Psikologi Universitas Padjadjaran. 42 (2). 141-156.

Yusuf, A.H. dkk. 2015. Buku Ajar Keperawatan Kesehatan Jiwa. Jakarta: Salemba
Medika.

6
7

Anda mungkin juga menyukai