Makalah
Pembelajaran Mandiri
Self Regulated Learning (Pedagogi)
Dosen Pengampu:
Dr. Pujiriyanto [Link].
Oleh:
Reza Maulana (24011140034)
MAGISTER TEKNOLOGI PEMBELAJARAN
FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA
2025
KATA PENGANTAR
Puji syukur saya panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa karena atas berkat dan
rahmat-Nya saya dapat menyelesaikan makalah tentang Self Regulated Learning yang
diampu oleh Dr. Pujiriyanto [Link]. Adapun tujuan dari pembuatan makalah ini adalah
untuk memenuhi tugas saya dalam mata kuliah Pembelajaran Mandiri. Tidak lupa saya
mengucapkan terima kasih terhadap bantuan dari pihak yang telah berkontribusi dengan
memberikan sumbangan baik pikiran maupun materi.
Bagi saya, sebagai Penyusun merasa bahwa masih banyak kekurangan dalam
penyusunan makalah ini. Hal ini dikarenakan keterbatasan pengetahuan dan pengalaman
kami. Untuk itu saya sangat mengharap kritik dan saran yang membangun dari pembaca
demi kesempurnaan makalah ini.
Yogyakarta, 03 September 2025
Penyusun
ii
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR .................................................................................................... ii
DAFTAR ISI .................................................................................................................. iii
BAB I : PENDAHULUAN ............................................................................................. 1
A. Latar Belakang ...................................................................................................... 1
B. Rumusan Masalah ................................................................................................ 2
C. Tujuan ................................................................................................................... 2
BAB II : PEMBAHASAN .............................................................................................. 3
A. Konsep Self-Regulated Learning (SRL)............................................................... 3
B. Desain Pembelajaran untuk Mendukung Self-Regulated Learning (SRL)........... 4
C. Prinsip Umum dan Situasi dalam Self-Regulated Learning (SRL) ...................... 6
BAB III : PENUTUP ...................................................................................................... 9
A. Kesimpulan ........................................................................................................... 9
B. Rekomendasi ...................................................................................................... 10
DAFTAR PUSTAKA ................................................................................................... 11
iii
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Paradigma pendidikan di Indonesia mengalami perubahan signifikan dari pendekatan
teacher-centered learning menuju student-centered learning. Jika pada teacher-centered
learning, guru menjadi pusat utama informasi dan siswa hanya berperan sebagai penerima
pasif, maka pada student-centered learning, siswa justru ditempatkan sebagai subjek aktif
yang terlibat dalam proses pembelajaran. Pergeseran paradigma ini mendorong
peningkatan kemandirian belajar, keterampilan berpikir kritis, hingga kreativitas siswa.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar guru SMA di Bandar Lampung
memahami konsep student-centered learning dan telah mengimplementasikannya dalam
pembelajaran bahasa Indonesia, sehingga mampu meningkatkan keterampilan abad ke-
21, khususnya kreativitas, kolaborasi, dan komunikasi (Widodo, Sumarta, & Samhati,
2025)
Perubahan tersebut semakin relevan dengan tantangan era informasi, di mana peserta
didik dihadapkan pada fenomena information overload. Situasi ini menuntut adanya
literasi digital yang baik agar siswa mampu menyaring, mengelola, dan memanfaatkan
informasi secara tepat. Literasi digital yang kuat terbukti berkontribusi pada penguatan
Self-Regulated Learning. Penelitian Bajuri & Permana (2023) menemukan adanya
korelasi positif yang signifikan antara literasi digital dengan Self-Regulated Learning
pada mahasiswa Administrasi Publik Universitas Siliwangi, dengan koefisien korelasi
Pearson sebesar 0,655 (Bajuri & Permana, 2023). Hasil lain juga ditunjukkan oleh
penelitian di SMK Negeri 1 Karanganyar yang menyimpulkan bahwa Self-Regulated
Learning berpengaruh positif dan signifikan terhadap motivasi berprestasi siswa,
meskipun literasi digital secara parsial tidak berpengaruh signifikan (Sari, Subarno, &
Akbarini, 2024).
Selain itu, penguatan Self-Regulated Learning juga sejalan dengan arah kebijakan
pendidikan di Indonesia melalui implementasi Kurikulum Merdeka yang menekankan
fleksibilitas belajar dan kemandirian siswa. Kurikulum ini mendorong siswa untuk lebih
1
aktif dalam merencanakan, melaksanakan, dan mengevaluasi pembelajaran mereka
sendiri. Penelitian Amiruddin dkk. (2023) menegaskan bahwa prinsip SCL dalam
Kurikulum Merdeka dimediasi sepenuhnya oleh active learning dan pembelajaran hybrid,
sehingga mendorong perkembangan SRL, self-directed learning (SDL), serta self-
determined learning (SDET) sebagai bekal untuk lifelong learning (Amiruddin,
Baharuddin, Takbir, & Setialaksana, 2023). Dengan demikian, SRL dapat dipandang
sebagai fondasi penting dalam menyiapkan peserta didik menghadapi dinamika masa
depan yang menuntut kemampuan belajar sepanjang hayat.
B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana konsep self-regulated learning (SRL) dan dimensi-dimensi yang
ditekankan?
2. Bagaimana desain pembelajaran dapat mendukung penguatan SRL?
3. Bagaimana prinsip umum dan situasi keterlibatan (engagement) siswa dapat
mendukung terciptanya SRL dalam pembelajaran?
C. Tujuan
1. Mendeskripsikan konsep SRL beserta dimensi kognitif, motivasi, dan perilaku
yang mendasarinya.
2. Menganalisis desain pembelajaran yang dapat mengembangkan kemampuan SRL
siswa.
3. Menguraikan prinsip umum serta situasi keterlibatan (engagement) siswa dalam
mendukung pembelajaran berbasis SRL.
2
BAB II
PEMBAHASAN
A. Konsep Self-Regulated Learning (SRL)
Self-Regulated Learning (SRL) adalah konsep pembelajaran di mana peserta didik
aktif mengelola, mengontrol, dan mengevaluasi proses belajarnya sendiri—mulai dari
merancang tujuan hingga menyesuaikan strategi belajar agar berhasil mencapai tujuan
tersebut. Menurut Zimmerman (2002), SRL merupakan proses aktif yang melibatkan self-
generated thoughts, emotions, and behaviors yang diarahkan secara sistematis untuk
mencapai tujuan pembelajaran.
Zimmerman (2002) menjelaskan bahwa SRL terdiri atas tiga fase utama yang
membentuk suatu siklus regulasi diri:
1. Forethought Phase (Tahap Perencanaan)
Pada fase ini peserta didik melakukan persiapan sebelum memulai belajar. Ada
dua komponen penting:
a. Task Analysis : meliputi penetapan tujuan yang jelas (goal setting) serta
perencanaan strategi belajar yang sesuai. Tujuan yang spesifik akan membantu
peserta didik mengarahkan fokus dan mengukur keberhasilan.
b. Self-Motivational Beliefs : mencakup keyakinan diri (self-efficacy), orientasi
tujuan, harapan hasil, serta minat intrinsik. Keyakinan positif ini memengaruhi
sejauh mana peserta didik mau berusaha dan bertahan menghadapi tantangan.
2. Performance Phase (Tahap Pelaksanaan)
Fase ini terjadi saat proses belajar berlangsung. Komponen utamanya adalah:
a. Self-Control : penggunaan strategi belajar seperti pengelolaan waktu,
pengaturan lingkungan belajar, imagery, dan self-instruction. Strategi ini
membantu menjaga konsistensi dalam menjalankan rencana belajar.
b. Self-Observation : pemantauan diri melalui pencatatan kemajuan, memonitor
konsentrasi, serta melakukan self-recording. Dengan ini, peserta didik bisa
menyadari kelemahan maupun kemajuan saat belajar.
3. Self-Reflection Phase (Tahap Refleksi Diri)
3
Setelah pembelajaran selesai, peserta didik masuk pada fase evaluasi. Ada dua
aspek utama:
a. Self-Judgment : penilaian terhadap hasil belajar berdasarkan kriteria yang
ditentukan. Termasuk di dalamnya membandingkan hasil aktual dengan tujuan
yang telah ditetapkan sebelumnya.
b. Self-Reaction : respon terhadap hasil belajar, yang bisa berupa kepuasan dan
peningkatan motivasi, atau sebaliknya, ketidakpuasan yang memunculkan
strategi baru untuk perbaikan.
Ketiga fase ini saling berkaitan dan membentuk suatu siklus berulang. Artinya, refleksi
pada tahap akhir akan memengaruhi perencanaan pada tahap berikutnya. Dengan siklus
ini, peserta didik dapat mengembangkan keterampilan belajar yang adaptif, konsisten,
dan berkelanjutan (Zimmerman, 2002).
Proses regulasi diri yang dikemukakan Zimmerman (2002) menunjukkan bahwa
pembelajar memerlukan dukungan dalam merencanakan, melaksanakan, sekaligus
merefleksikan kegiatan belajarnya. Hal ini menegaskan bahwa desain pembelajaran yang
efektif tidak cukup hanya menyajikan materi, tetapi juga harus menyediakan struktur,
strategi, dan kesempatan refleksi yang mendukung setiap fase Self-Regulated Learning.
Misalnya, pada fase forethought, desain pembelajaran dapat membantu dengan
menyertakan tujuan pembelajaran yang jelas dan aktivitas perencanaan belajar. Pada fase
performance, peserta belajar dapat difasilitasi dengan instruksi eksplisit, umpan balik,
atau tugas berbasis proyek. Sedangkan pada fase self-reflection, pembelajaran perlu
menyediakan ruang evaluasi diri, diskusi reflektif, atau penilaian formatif.
Dengan demikian, struktur Self-Regulated Learning yang bersifat proses terus-
menerus menjadi landasan penting dalam merancang desain pembelajaran yang
mendukung terbentuknya kemandirian belajar peserta.
B. Desain Pembelajaran untuk Mendukung Self-Regulated Learning (SRL)
Desain pembelajaran berperan penting dalam mengembangkan keterampilan Self-
Regulated Learning pada peserta didik. Self-Regulated Learning dipahami sebagai
kemampuan siswa untuk merencanakan, memantau, dan mengevaluasi proses belajarnya
4
secara mandiri (Zimmerman, 2002). Dalam konteks abad ke-21, kemampuan ini sangat
relevan karena menuntut siswa untuk lebih mandiri, kritis, dan adaptif terhadap
perubahan lingkungan belajar yang dinamis (Panadero, 2017). Oleh karena itu, desain
pembelajaran yang diarahkan pada penguatan Self-Regulated Learning perlu disusun
secara sistematis, mencakup tujuan pembelajaran, strategi pembelajaran, peran guru, serta
lingkungan belajar yang mendukung.
Desain pembelajaran yang berorientasi pada Self-Regulated Learning umumnya
mencakup beberapa komponen utama, yaitu:
1. Penetapan Sasaran dan Tujuan Belajar
Tahap awal dalam desain Self-Regulated Learning adalah membantu siswa
menetapkan sasaran belajar yang jelas dan terukur. Sasaran ini tidak hanya terkait
dengan capaian akademik, tetapi juga dengan pengembangan keterampilan belajar
mandiri. Menurut Pintrich (2004), tujuan belajar yang jelas membantu siswa dalam
memfokuskan usaha, meningkatkan motivasi, serta memberi arah pada proses
regulasi diri.
2. Perancangan Struktur Kegiatan Belajar
Desain pembelajaran harus menyusun alur kegiatan yang mendorong siswa untuk
berlatih perencanaan, pengorganisasian, dan refleksi. Aktivitas seperti penyusunan
jadwal belajar, pencatatan kemajuan, hingga pembuatan portofolio dapat
memperkuat siklus perencanaan–monitoring–refleksi yang menjadi inti Self-
Regulated Learning (Zimmerman, 2002).
3. Integrasi Strategi Metakognitif, Motivasi dan Perilaku
Pembelajaran yang mendukung self-regulated learning sebaiknya memfasilitasi
siswa menggunakan strategi metakognitif seperti perencanaan, pemantauan, dan
evaluasi, sekaligus strategi motivasional seperti self-efficacy dan regulasi emosi.
Pintrich (2004) menegaskan bahwa regulasi belajar tidak hanya terbatas pada
kognisi, melainkan juga mencakup regulasi motivasi/afeksi, perilaku, serta
konteks. Oleh karena itu, desain pembelajaran yang efektif adalah yang memberi
5
ruang bagi siswa untuk mengelola secara bersamaan aspek kognitif, motivasional,
dan perilaku dalam mencapai tujuan belajarnya.
4. Lingkungan Belajar dan Dukungan Guru
Lingkungan belajar yang kondusif bukan hanya menyediakan fasilitas belajar,
tetapi juga menciptakan iklim yang mendukung kemandirian. Guru memiliki peran
penting sebagai fasilitator yang memberikan scaffolding, modeling, serta umpan
balik konstruktif. Moos & Ringdal (2012) menunjukkan bahwa dukungan guru
yang tepat dapat memperkuat proses internalisasi keterampilan regulasi diri,
sehingga siswa dapat lebih percaya diri dalam mengelola motivasi, perhatian, dan
strategi belajarnya.
5. Assesmen Formatif dan Reflektif
Asesmen dalam desain Self-Regulated Learning tidak semata-mata menilai hasil,
tetapi juga memfokuskan pada proses belajar. Teknik asesmen formatif, reflektif
jurnal, maupun self-assessment dapat membantu siswa mengenali kemajuan
sekaligus area yang perlu diperbaiki (Panadero, 2017). Hal ini membuat siswa
lebih sadar akan proses belajarnya sendiri dan mampu merancang strategi lanjutan.
Dengan demikian, desain pembelajaran untuk Self-Regulated Learning menekankan
keseimbangan antara kemandirian siswa dan dukungan eksternal yang diberikan oleh
guru. Rancangan yang baik tidak hanya membantu siswa mencapai hasil akademik, tetapi
juga membekali mereka dengan keterampilan regulasi diri yang berkelanjutan. Hal ini
menjadikan desain pembelajaran Self-Regulated Learning relevan sebagai strategi
pendidikan jangka panjang yang membentuk peserta didik adaptif, reflektif, dan mandiri
dalam menghadapi tantangan belajar.
C. Prinsip Umum dan Situasi dalam Self-Regulated Learning (SRL)
Dasar pemikiran tentang self-regulated learning dikemukakan oleh Zimmerman
(2002) yang menjelaskan bahwa self-regulated learning merupakan proses siklus yang
mencakup tiga fase: forethought, performance, dan self-reflection. Ketiga fase ini
menegaskan bahwa belajar bukanlah aktivitas pasif, melainkan proses aktif di mana
peserta didik menetapkan tujuan, memilih strategi, serta merefleksikan hasilnya.
6
Pintrich (2004) memperluas konsep tersebut dengan menekankan bahwa regulasi
belajar tidak hanya mencakup aspek kognitif, tetapi juga motivasi, perilaku, serta konteks
sosial. Dengan kata lain, keberhasilan belajar tidak cukup ditentukan oleh “apa yang
dipikirkan” siswa, tetapi juga oleh “apa yang dirasakan” dan “bagaimana mereka
berinteraksi dengan lingkungannya”.
Prinsip self-regulated learning dapat dipahami melalui beberapa aspek berikut, yang
saling melengkapi:
1. Otonomi dan tanggung jawab belajar
Peserta didik diarahkan untuk mengelola proses belajarnya sendiri. Hal ini sejalan
dengan kebutuhan abad 21 di mana kemandirian menjadi bekal utama (Panadero,
2017) Contohnya, siswa yang mampu menentukan jadwal belajar mandiri
biasanya lebih konsisten dalam mencapai target akademik.
2. Refleksi dan evaluasi diri
Refleksi tidak hanya menjadi aktivitas akhir, tetapi juga sarana untuk
memperbaiki strategi di masa depan(Zimmerman, 2002). Di sini terlihat bahwa
kegagalan justru bisa berfungsi sebagai umpan balik, bukan hambatan.
3. Keterhubungan dengan motivasi berprestasi dan literasi digital
Dalam konteks pembelajaran modern, keterampilan mengatur diri sangat terkait
dengan akses dan pemanfaatan teknologi (Bajuri & Permana, 2023). Siswa
dengan literasi digital baik cenderung lebih fleksibel dalam mengatur sumber
belajar, misalnya memilih antara video pembelajaran atau forum diskusi daring.
4. Kolaborasi dengan pembelajaran berpusat pada siswa
SRL bukan berarti belajar secara terisolasi, melainkan tetap memerlukan ruang
kolaborasi yang menumbuhkan tanggung jawab bersama (Amiruddin dkk., 2023).
Hal ini menegaskan bahwa belajar mandiri tetap bisa berjalan dalam kerangka
interaksi sosial.
7
Temuan terbaru memperkuat landasan tersebut. Matitaputty dkk. (2025) menunjukkan
bahwa SRL secara signifikan berkontribusi terhadap hasil belajar IPS, khususnya ketika
dipadukan dengan resiliensi akademik. Artinya, kemampuan mengatur diri akan lebih
kuat jika siswa juga memiliki daya tahan psikologis menghadapi tekanan belajar.
Engagement dipandang sebagai elemen penting dalam SRL yang mencakup
keterlibatan kognitif, emosional, dan perilaku (Pintrich, 2004). Tanpa keterlibatan,
regulasi diri cenderung berhenti pada niat tanpa terwujud dalam tindakan nyata.
Beberapa faktor yang memengaruhi engagement antara lain:
1. Peran guru dan lingkungan kelas
Guru yang mampu menciptakan iklim kelas positif akan mendorong siswa lebih
berani mengambil kendali belajar (Moos & Ringdal, 2012).
2. Literasi digital dan budaya belajar modern
Semakin tinggi literasi digital, semakin luas kesempatan siswa untuk
menyesuaikan strategi belajarnya (Bajuri & Permana, 2023).
3. Implementasi pembelajaran berpusat pada siswa
Model ini memberi ruang bagi siswa untuk mengatur tujuan dan strategi belajar
mereka sendiri (Amiruddin dkk., 2023).
Dalam konteks pembelajaran jarak jauh, Arrafii, Sumarsono, & Suadiyatno (2025)
menemukan bahwa strategi self-regulated learning yang paling sering digunakan siswa
adalah environment structuring, misalnya menyiapkan ruang belajar yang kondusif.
Namun, strategi seperti help-seeking masih jarang dilakukan. Hal ini menunjukkan
adanya kecenderungan belajar secara individual, meski interaksi sosial juga penting untuk
menjaga keberlanjutan engagement.
Engagement yang tinggi berimplikasi pada meningkatnya motivasi intrinsik dan hasil
belajar (Zimmerman, 2002). Sebaliknya, engagement yang rendah akan mengganggu
siklus regulasi diri, sehingga siswa mudah menyerah pada hambatan (Panadero, 2017).
Oleh karena itu, menjaga engagement bukan sekadar tambahan, melainkan syarat penting
agar strategi self-regulated learning benar-benar memberi dampak nyata.
8
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Berdasarkan uraian pembahasan, dapat disimpulkan beberapa hal penting:
1. Self-Regulated Learning merupakan kemampuan kunci yang memungkinkan
peserta didik merencanakan, melaksanakan, dan mengevaluasi proses belajar
mereka secara mandiri. Siklus SRL yang terdiri atas fase forethought,
performance, dan self-reflection menjadi kerangka penting dalam memahami
regulasi diri.
2. Desain pembelajaran memiliki peran sentral dalam menguatkan SRL, terutama
melalui penetapan tujuan yang jelas, struktur kegiatan yang mendorong refleksi,
integrasi strategi metakognitif dan motivasional, serta asesmen formatif.
Dukungan guru sebagai fasilitator menjadi elemen penting untuk membangun
kemandirian siswa.
3. Prinsip umum Self-Regulated Learning mencakup otonomi belajar, refleksi diri,
integrasi dengan literasi digital, serta kolaborasi dalam kerangka student-centered
learning. Prinsip-prinsip ini menegaskan bahwa regulasi diri tidak hanya bersifat
kognitif, melainkan juga menyentuh dimensi motivasi, emosi, dan sosial.
4. Engagement siswa baik kognitif, emosional, maupun perilaku—menjadi faktor
penguat Self-Regulated Learning. Engagement yang tinggi terbukti meningkatkan
motivasi intrinsik dan hasil belajar, sementara engagement yang rendah
melemahkan siklus regulasi diri.
Konteks pendidikan Indonesia, dengan penerapan Kurikulum Merdeka dan tuntutan
literasi digital, semakin menegaskan urgensi penguatan Self-Regulated Learning. Dengan
demikian, Self-Regulated Learning dapat dipandang sebagai fondasi penting dalam
menyiapkan peserta didik menghadapi dinamika abad ke-21 yang menuntut kemampuan
belajar sepanjang hayat.
9
B. Rekomendasi
Merujuk pada temuan dan pembahasan, rekomendasi yang dapat diajukan adalah
sebagai berikut:
1. Bagi guru
a. Perlu merancang pembelajaran yang tidak hanya menekankan pencapaian
hasil, tetapi juga menumbuhkan proses regulasi diri siswa melalui
perencanaan, monitoring, dan refleksi.
b. Peran guru sebagai fasilitator dan pemberi umpan balik konstruktif
menjadi penting agar siswa lebih percaya diri dalam mengatur strategi
belajarnya.
2. Bagi peserta didik
a. Disarankan untuk mengembangkan keterampilan SRL melalui kebiasaan
menetapkan tujuan belajar, memanfaatkan literasi digital secara produktif,
serta melakukan refleksi diri secara konsisten.
b. Engagement perlu ditumbuhkan tidak hanya secara individual, tetapi juga
melalui kolaborasi dengan teman sebaya.
3. Bagi institusi pendidikan
a. Perlu meneguhkan implementasi Kurikulum Merdeka dengan
menyediakan ruang fleksibel bagi siswa dalam mengatur pembelajarannya
sendiri.
b. Lingkungan belajar, baik fisik maupun digital, perlu dirancang kondusif
agar mendukung penggunaan strategi SRL yang beragam.
4. Bagi peneliti selanjutnya
a. Penting untuk mengeksplorasi lebih lanjut keterkaitan SRL dengan faktor-
faktor lain seperti resiliensi akademik, motivasi berprestasi, maupun
efektivitas literasi digital, sehingga strategi penguatan SRL dapat disusun
lebih komprehensif.
10
DAFTAR PUSTAKA
Amiruddin, Baharuddin, F. R., Takbir, & Setialaksana, W. (2023). May student-centered
principles affect active learning and its counterpart? An empirical study of
Indonesian curriculum implementation. SAGE Open, 13(4). SAGE Publications Inc.
Arrafii, M., Sumarsono, D., & Suadiyatno, T. (2025). Self-regulated learning strategies in
distance education: Insights from Indonesia. Journal of Pedagogical Sociology and
Psychology. Journal of Pedagogical Research.
Bajuri, D., & Permana, U. (2023). Self-Regulated Learning Mahasiswa Adminitrasi
Publik dan Hubungannya Dengan Digital Literacy Skills. Jurnal Educatio FKIP
UNMA, 9(2), 865–873. Universitas Majalengka.
Matitaputty, J. K., Judijanto, L., Al-Fiqri, Y., Ima, W., Fadli, M. R., Rumawatine, Z., &
Sopacua, J. (2025). The Effect of Academic Resilience and Self-Regulated Learning
on Students’ Social Studies Learning Outcomes. International Electronic Journal of
Elementary Education , 17(4), 529–539. Kura Publishing House.
Moos, D. C., & Ringdal, A. (2012). Self-Regulated Learning in the Classroom: A
Literature Review on the Teacher’s Role. Education Research International,
2012(1), 423284. John Wiley & Sons, Ltd. Diambil dari
[Link]
Panadero, E. (2017). A Review of Self-regulated Learning: Six Models and Four
Directions for Research. Frontiers in Psychology, Volume 8-2017. Diambil dari
[Link]
2
Pintrich, P. R. (2004). A Conceptual Framework for Assessing Motivation and Self-
Regulated Learning in College Students. Educational Psychology Review, 16(4),
385–407. Diambil dari [Link]
Sari, W. D. P., Subarno, A., & Akbarini, N. R. (2024). Pengaruh self regulated learning
dan literasi digital terhadap motivasi berprestasi siswa MPLB SMKN 1
11
Karanganyar. JIKAP (Jurnal Informasi dan Komunikasi Administrasi Perkantoran),
8(1), 7. Universitas Sebelas Maret.
Widodo, M., Sumarta, I. W. A., & Samhati, S. (2025). Teachers’ Perceptions on the
Implementation of Student-Centered Learning in Indonesian Language Learning to
Improve 21st Century Skills Among High School Students. Disastra: Jurnal
Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, 7(2), 399. Institut Agama Islam Negeri
(IAIN) Bengkulu.
Zimmerman, B. (2002). Becoming a Self-Regulated Learner: An Overview. Theory Into
Practice, 41, 64–70.
12