0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
6 tayangan13 halaman

Keunikan Musik Tradisional Tingkilan

Good

Diunggah oleh

ozero9339
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai ODT, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
6 tayangan13 halaman

Keunikan Musik Tradisional Tingkilan

Good

Diunggah oleh

ozero9339
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai ODT, PDF, TXT atau baca online di Scribd

ALAT MUSIK TRADISIONAL TINGKILAN

PROVINSI KALIMANTAN TIMUR

DISUSUN OLEH :

NAMA : Grace Aurelia Sianipar


KELAS : XII A
GURU PEMBIMBING : Junianto Sitanggang [Link]

SMA S LKMD KANDIS


T.P 2025/2026
DAFTAR ISI
BAB I PENDAHULUAN................................................................................1
A. LATAR BELAKANG.............................................................................1
B. Rumusan Masalah...................................................................................2
C. Tujuan.....................................................................................................2
BAB II PEMBAHASAN.................................................................................3
A. Alat Musik Tingkilan..............................................................................3
B. Sejarah dan Perkembangan Tingkilan.....................................................4
C. Ciri khas Alat Musik Tingkilan dan Musik yang Digunakan dalam
Tingkilan.................................................................................................5
D. Upaya Pelestarian Tingkilan di Era Modern...........................................7
BAB III PENUTUP.........................................................................................9
A. KESIMPULAN......................................................................................9
B. SARAN..................................................................................................9
LAMPIRAN...................................................................................................10
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Indonesia merupakan negara yang kaya akan seni dan budaya, yang tersebar dari
Sabang sampai Merauke. Keberagaman ini menjadi identitas nasional yang tidak ternilai
harganya. Setiap daerah memiliki kesenian khas yang mencerminkan nilai-nilai kehidupan,
adat istiadat, serta filosofi masyarakat setempat. Salah satu bentuk kekayaan budaya
tersebut adalah seni musik tradisional, yang tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi
juga sebagai media penyampaian pesan, ajaran moral, bahkan kritik sosial. Salah satu
kesenian musik tradisional yang menarik untuk dikaji lebih dalam adalah Tingkilan, yang
berasal dari daerah Kutai, Kalimantan Timur.
Tingkilan merupakan seni musik rakyat yang khas dan unik karena memadukan alat
musik gambus, gendang, dan kadang biola, dengan syair-syair yang berisi pesan-pesan
kehidupan. Lirik dalam pertunjukan Tingkilan umumnya menggunakan bahasa Kutai atau
Melayu, dan berbentuk pantun atau syair yang disampaikan secara spontan maupun
terstruktur. Kekuatan utama dari Tingkilan terletak pada pesan moral yang disampaikan
secara halus namun menyentuh, sering kali dengan gaya bahasa yang puitis dan humoris.
Seiring perkembangan zaman dan maraknya pengaruh budaya modern, eksistensi
kesenian tradisional seperti Tingkilan mulai mengalami tantangan. Generasi muda
cenderung lebih akrab dengan budaya populer dan musik modern, sehingga kesenian lokal
perlahan mulai ditinggalkan. Padahal, di balik kesederhanaannya, Tingkilan menyimpan
nilai-nilai luhur yang mencerminkan kearifan lokal masyarakat Kutai, serta memperkaya
khasanah budaya nasional.
Oleh karena itu, penting untuk melakukan pengkajian dan pelestarian terhadap seni
musik Tingkilan agar tidak punah dan tetap dikenal oleh generasi mendatang. Melalui
makalah ini, penulis berupaya mengangkat kembali eksistensi Tingkilan sebagai bagian
dari warisan budaya daerah yang memiliki nilai estetika, historis, dan edukatif. Penelitian
dan dokumentasi terhadap kesenian ini diharapkan dapat menumbuhkan rasa cinta terhadap
budaya lokal sekaligus menjadi bentuk konkret dalam upaya pelestarian budaya bangsa.
1

B. Rumusan Masalah
a. Apa yang dimaksud dengan Tingkilan?
b. Bagaimana sejarah dan perkembangan Tingkilan?
c. Apa saja ciri khas dan Alat Musik yang Digunakan dalam Tingkilan?
d. Bagaimana upaya pelestarian Tingkilan di era modern?

C. TUJUAN
1. Mengetahui pengertian dan asal-usul Tingkilan.
2. Menjelaskan ciri khas dan bentuk pertunjukan Tingkilan.
3. Menumbuhkan rasa cinta budaya lokal.
4. Menggali upaya pelestarian kesenian daerah.
2

BAB II
PEMBAHASAN
A. Alat Musik Tingkilan
Tingkilan adalah salah satu bentuk kesenian tradisional berupa musik rakyat
yang berasal dari Kalimantan Timur, khususnya dari suku Kutai. Tingkilan
merupakan kesenian yang menyatukan antara musik, syair, dan pesan-pesan moral
dalam bentuk hiburan rakyat. Nama “Tingkilan” sendiri berasal dari istilah dalam
bahasa Kutai yang merujuk pada bentuk berbalas pantun atau saling menyampaikan
pesan secara musikal. Seni ini menjadi salah satu identitas budaya masyarakat
Kutai yang memiliki nilai artistik dan kultural yang tinggi.
Dalam pertunjukannya, Tingkilan biasanya dimainkan oleh beberapa orang,
dengan seorang penyanyi utama dan musisi pengiring. Alat musik yang umum
digunakan antara lain adalah gambus (alat musik petik mirip gitar yang dipengaruhi
budaya Timur Tengah), gendang, dan kadang-kadang biola sebagai pelengkap
harmonisasi nada. Lirik-lirik lagu dalam pertunjukan Tingkilan umumnya berisi
pantun, syair, atau bait berima yang dilantunkan dalam bahasa Kutai atau Melayu,
dengan isi yang mencakup berbagai tema seperti nasihat kehidupan, kritik sosial,
kisah cinta, sindiran, bahkan humor.
Ciri khas utama dari Tingkilan adalah gaya penyampaian syair yang mengalir,
komunikatif, dan bersifat spontan. Para pemain Tingkilan sering kali
menyampaikan lirik secara improvisasi, terutama ketika berbalas pantun antara
penyanyi laki-laki dan perempuan. Hal ini membuat setiap pertunjukan Tingkilan
menjadi unik dan tidak selalu sama, karena dipengaruhi oleh suasana, audiens, dan
kreativitas para pemainnya.
Namun, dalam perkembangan zaman yang semakin modern, eksistensi
Tingkilan mulai tergerus oleh budaya populer. Generasi muda lebih akrab dengan
musik digital dan tren global, sehingga banyak yang tidak mengenal atau
memahami kesenian daerahnya sendiri. Oleh karena itu, penting untuk terus
memperkenalkan, mengajarkan, dan melestarikan Tingkilan sebagai warisan
budaya yang berharga. Dengan demikian, seni Tingkilan dapat tetap hidup dan
menjadi bagian dari identitas kultural masyarakat Kutai dan Indonesia secara
umum.

B. Sejarah dan Perkembangan Tingkilan


Tingkilan memiliki akar sejarah yang cukup panjang sebagai bagian dari budaya lisan
masyarakat Kutai di Kalimantan Timur. Kesenian ini dipercaya telah berkembang sejak
awal abad ke-20 dan tumbuh secara organik di tengah kehidupan masyarakat pesisir dan
pedalaman Kutai. Pada masa itu, Tingkilan dimainkan sebagai hiburan rakyat dalam
berbagai acara seperti pernikahan, syukuran, pesta panen, dan kegiatan sosial lainnya.
Seiring waktu, kesenian ini tidak hanya menjadi sarana hiburan semata, tetapi juga alat
komunikasi sosial yang efektif.
Awalnya, bentuk sederhana dari Tingkilan hanya berupa nyanyian berpantun yang
dilakukan secara berbalas antara dua orang atau lebih, dengan iringan alat musik
tradisional seadanya seperti gendang atau petikan alat musik petik yang menyerupai
gambus. Lirik-lirik yang dilantunkan umumnya bersifat improvisasi, namun tetap memuat
struktur pantun dengan irama dan rima yang khas. Dalam banyak hal, pantun-pantun yang
dibawakan menyampaikan nilai moral, pesan-pesan kehidupan, sindiran halus, hingga
kisah percintaan, membuatnya sangat relevan dengan kehidupan sehari-hari masyarakat
saat itu.
Pengaruh budaya luar juga turut memperkaya bentuk dan musikalitas Tingkilan. Alat
musik gambus, misalnya, merupakan instrumen yang berasal dari Timur Tengah dan mulai
diperkenalkan ke Nusantara melalui jalur perdagangan dan dakwah Islam. Penggabungan
antara instrumen gambus dengan gendang dan biola menciptakan ciri khas tersendiri pada
musik Tingkilan yang menjadikannya unik dibandingkan kesenian daerah lainnya.
Perkembangan Tingkilan terus berlanjut hingga memasuki era kemerdekaan Indonesia.
Pada masa ini, seni Tingkilan mulai tampil dalam acara-acara kenegaraan dan perayaan
Hari Besar Nasional, khususnya di wilayah Kalimantan Timur. Bahkan beberapa seniman
lokal menciptakan lagu-lagu Tingkilan yang direkam dan disebarluaskan melalui radio
daerah, sehingga menambah popularitasnya di kalangan masyarakat umum.
Namun, memasuki era modern dan globalisasi, kesenian Tingkilan mulai mengalami
penurunan minat, khususnya di kalangan generasi muda. Masuknya budaya populer dan
musik modern dari luar membuat Tingkilan dianggap kuno dan kurang relevan. Banyak
anak muda lebih tertarik pada musik digital seperti pop, dangdut, atau K-Pop daripada
kesenian tradisional daerahnya sendiri. Akibatnya, keberadaan Tingkilan mulai
terpinggirkan.

Meskipun begitu, berbagai upaya pelestarian telah dilakukan oleh seniman daerah,
pemerintah, dan komunitas budaya. Tingkilan kembali dipentaskan dalam festival seni
daerah, lomba antar pelajar, dan acara-acara kebudayaan nasional. Beberapa sekolah dan
sanggar seni juga mulai memasukkan Tingkilan dalam kurikulum muatan lokal untuk
memperkenalkan budaya ini sejak dini kepada pelajar. Selain itu, adanya digitalisasi dan
dokumentasi pertunjukan Tingkilan dalam bentuk video maupun audio juga membantu
mengenalkan kesenian ini ke audiens yang lebih luas melalui media sosial dan internet.
Dengan segala tantangan dan hambatannya, Tingkilan tetap menjadi salah satu simbol
kebudayaan masyarakat Kutai yang mencerminkan kearifan lokal, identitas budaya, dan
kekayaan seni tradisional Indonesia. Upaya pelestarian yang berkelanjutan sangat penting
untuk memastikan bahwa seni ini tidak hanya menjadi kenangan masa lalu, tetapi juga bisa
hidup di masa kini dan masa depan.

C. Ciri khas Alat Musik Tingkilan dan Musik yang Digunakan dalam
Tingkilan
1. Ciri Khas Tingkilan
Tingkilan memiliki sejumlah ciri khas yang membedakannya dari
jenis musik tradisional lainnya di Indonesia. Ciri-ciri tersebut tidak
hanya tampak dari segi musikalitas, tetapi juga dari isi lirik, bahasa yang
digunakan, serta gaya pertunjukannya. Adapun ciri khas Tingkilan
antara lain:
a. Lirik Berbentuk Pantun atau Syair
Lirik dalam pertunjukan Tingkilan umumnya menggunakan
bentuk pantun dua atau empat baris yang berima dan berirama.
Pantun ini dapat berupa nasihat, pesan moral, cerita cinta,
hingga kritik sosial yang dibungkus secara halus. Penggunaan
pantun memberikan kesan sastra dan estetika tersendiri, karena
pemain Tingkilan harus mampu mengolah kata dengan baik.

b. Menggunakan Bahasa Daerah (Kutai atau Melayu)


Lirik Tingkilan hampir selalu disampaikan dalam bahasa
Kutai atau kadang dalam bahasa Melayu lokal, yang menjadi
identitas kuat dari budaya asalnya. Penggunaan bahasa daerah
memperkuat nuansa tradisional serta mempererat hubungan
antara pertunjukan dengan masyarakat setempat.

c. Gaya Bertutur atau Berbalas Pantun


Salah satu keunikan Tingkilan adalah adanya dialog atau
saling berbalas pantun antara dua penyanyi, biasanya laki-laki
dan perempuan. Hal ini membuat pertunjukan terasa interaktif
dan komunikatif, seolah menciptakan percakapan musikal
yang spontan namun penuh makna.
d. Irama yang Mengalun dan Ritmis
Musik Tingkilan memiliki irama khas yang mengalun pelan
namun ritmis, membuat suasana pertunjukan terasa syahdu
namun tetap menarik. Irama ini sangat dipengaruhi oleh alat
musik pengiring seperti gambus dan gendang, serta cara
penyampaian vokalnya yang lembut dan kadang diselingi nada
humoris.
e. Improvisasi dan Kebebasan Ekspresi
Banyak bagian dalam pertunjukan Tingkilan dilakukan
secara improvisasi, terutama dalam menciptakan pantun atau
dialog lisan. Hal ini menuntut pemain untuk cerdas dalam
berbahasa, kreatif dalam menyusun lirik, serta tanggap
terhadap respons dari lawan pantun atau penonton.

2. Alat Musik yang Digunakan dalam Tingkilan


Tingkilan menggunakan perpaduan alat musik yang sederhana, tetapi
mampu menciptakan nuansa musik yang khas dan harmonis. Berikut
adalah alat-alat musik yang biasa digunakan:
a. Gambus
Gambus adalah alat musik petik yang mirip dengan gitar,
namun berasal dari pengaruh musik Arab. Gambus memiliki
suara khas yang lembut dan mendayu, menjadi alat utama
dalam mengiringi syair-syair Tingkilan. Nada-nadanya
membantu menciptakan suasana emosional dan mendalam
dalam lagu.
b. Gendang
Gendang berfungsi sebagai pengatur ritme dan tempo
dalam pertunjukan Tingkilan. Bunyi gendang memberi ketukan
yang dinamis dan memberikan nyawa pada iringan musik.
Gendang juga digunakan untuk menyesuaikan tempo saat
terjadi dialog pantun antara pemain.

c. Biola (opsional)
Dalam beberapa pertunjukan modern, biola ditambahkan
untuk memperkaya melodi dan memberikan kesan lebih
romantis atau dramatis pada lagu Tingkilan. Meski bukan alat
tradisional utama, biola sering digunakan oleh kelompok
seniman untuk memberikan variasi musik.
Dengan kombinasi alat musik tersebut dan ciri khas dalam lirik serta penyampaiannya,
Tingkilan menjadi bentuk kesenian yang penuh nilai seni, budaya, dan sastra. Kekuatan
utama Tingkilan bukan hanya pada musiknya, tetapi juga pada kemampuan menyampaikan
pesan secara estetis dan menyentuh perasaan pendengar.

D. Upaya Pelestarian Tingkilan di Era Modern


Di tengah gempuran budaya global dan pesatnya perkembangan teknologi, banyak
kesenian tradisional Indonesia yang mulai terpinggirkan dan terancam punah, termasuk
kesenian Tingkilan dari Kutai, Kalimantan Timur. Generasi muda saat ini lebih akrab
dengan musik modern seperti pop, K-Pop, EDM, atau hip-hop, sementara kesenian
tradisional seperti Tingkilan kurang diminati dan bahkan mulai dilupakan. Padahal,
Tingkilan memiliki nilai seni, budaya, dan moral yang sangat tinggi serta menjadi bagian
penting dari identitas budaya lokal masyarakat Kutai.
Oleh karena itu, upaya pelestarian Tingkilan di era modern menjadi tanggung jawab
bersama, baik oleh pemerintah, masyarakat, lembaga pendidikan, hingga pelaku seni
budaya. Berikut adalah berbagai bentuk upaya pelestarian yang dapat dilakukan:
1. Dokumentasi dan Digitalisasi
Salah satu cara efektif dalam menjaga eksistensi Tingkilan adalah melalui dokumentasi
dan digitalisasi. Lagu-lagu dan pertunjukan Tingkilan perlu direkam dalam bentuk video,
audio, dan tulisan, kemudian disebarluaskan melalui platform digital seperti YouTube,
Spotify, Instagram, dan TikTok. Hal ini bertujuan agar Tingkilan dapat lebih mudah diakses
oleh masyarakat luas, terutama generasi muda yang aktif di dunia digital. Digitalisasi juga
penting untuk mencegah hilangnya rekaman-rekaman lisan dan musikal Tingkilan yang
selama ini hanya diwariskan secara turun-temurun tanpa catatan tertulis.

2. Memasukkan Tingkilan ke Dalam Kurikulum Muatan Lokal


Pemerintah daerah dan sekolah-sekolah di Kalimantan Timur dapat menjadikan
Tingkilan sebagai bagian dari mata pelajaran muatan lokal, terutama dalam pendidikan seni
budaya. Dengan begitu, siswa dapat mempelajari sejarah, nilai-nilai, dan teknik
pertunjukan Tingkilan sejak dini. Pelajaran ini bisa dipraktikkan dalam bentuk berbalas
pantun, pelatihan bermain gambus, atau menyusun lirik pantun berbahasa daerah. Upaya
ini tidak hanya melestarikan seni tradisional, tetapi juga membangun kebanggaan lokal dan
rasa cinta terhadap budaya daerah.
3. Festival dan Lomba Tingkilan
Mengadakan festival budaya daerah atau lomba Tingkilan antar sekolah, antar
kampung, atau antar komunitas merupakan langkah strategis untuk memperkenalkan dan
mempopulerkan Tingkilan. Festival semacam ini dapat menjadi ajang bagi para seniman
muda untuk menunjukkan bakat mereka, sekaligus menjadi sarana edukasi bagi
masyarakat umum. Festival juga dapat menarik perhatian wisatawan dan pecinta budaya
dari luar daerah, sehingga Tingkilan bisa dikenal secara nasional bahkan internasional.
4. Kolaborasi dengan Musik Modern
Untuk menjangkau audiens yang lebih luas, seniman Tingkilan dapat melakukan inovasi
musik dengan cara menggabungkan unsur tradisional Tingkilan dengan musik modern,
seperti pop, akustik, atau elektronik. Kolaborasi ini bertujuan agar Tingkilan tetap relevan
dengan selera musik masa kini, namun tanpa meninggalkan akar budayanya. Misalnya,
lirik pantun khas Tingkilan bisa dibalut dengan irama musik akustik modern, atau
ditampilkan dalam video pendek yang menarik di media sosial.
5. Dukungan Pemerintah dan Komunitas Budaya
Pemerintah daerah harus memberikan fasilitas, pelatihan, insentif, dan ruang
pertunjukan bagi seniman Tingkilan agar mereka dapat terus berkarya dan
mengembangkan kreativitasnya. Selain itu, komunitas budaya lokal juga dapat membentuk
sanggar seni Tingkilan yang aktif mengadakan latihan, pertunjukan, dan workshop untuk
umum. Dengan adanya dukungan konkret dari berbagai pihak, seniman Tingkilan akan
lebih semangat untuk melanjutkan dan menularkan pengetahuan mereka kepada generasi
penerus.

BAB III
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Tingkilan merupakan salah satu bentuk seni musik tradisional yang berasal dari suku
Kutai di Kalimantan Timur. Kesenian ini menjadi warisan budaya yang sangat penting
karena memadukan unsur musik, sastra, dan pesan moral dalam bentuk pantun atau syair
yang dibawakan secara lisan dan musikal. Ciri khas utama Tingkilan terletak pada
penggunaan alat musik seperti gambus, gendang, dan kadang biola, serta lirik-lirik yang
berbahasa daerah dan disampaikan secara berbalas atau dialogis. Hal ini menjadikan
Tingkilan tidak hanya sebagai hiburan, tetapi juga sebagai sarana komunikasi sosial dan
pengajaran nilai-nilai kehidupan.
Secara historis, Tingkilan berkembang dari bentuk hiburan rakyat dalam acara adat dan
pesta, lalu meluas menjadi bagian dari budaya sehari-hari masyarakat Kutai. Dalam
perjalanan waktu, kesenian ini mengalami pasang surut, terutama ketika pengaruh budaya
modern semakin kuat. Generasi muda mulai kehilangan minat terhadap kesenian daerah,
sehingga eksistensi Tingkilan pun mulai memudar.
Namun demikian, berbagai upaya pelestarian telah dilakukan untuk menjaga
kelangsungan hidup Tingkilan. Mulai dari dokumentasi digital, pengajaran di sekolah,
festival budaya, hingga kolaborasi dengan musik modern, semuanya bertujuan untuk
menjadikan Tingkilan tetap relevan di tengah perubahan zaman. Peran aktif pemerintah,
seniman lokal, masyarakat, dan institusi pendidikan sangat dibutuhkan agar kesenian ini
tetap hidup dan dapat diwariskan ke generasi berikutnya.
Dengan mengenal dan melestarikan Tingkilan, kita tidak hanya menjaga warisan budaya
lokal, tetapi juga memperkuat identitas bangsa Indonesia sebagai negara yang kaya akan
nilai-nilai budaya dan kearifan lokal. Tingkilan adalah cerminan kehidupan masyarakat
Kutai yang sederhana namun penuh makna—sebuah seni yang patut dihargai dan dijaga
keberadaannya.

B. SARAN
Pelestarian Tingkilan perlu melibatkan berbagai pihak, seperti pemerintah, sekolah,
seniman, dan masyarakat. Generasi muda juga harus didorong untuk mencintai dan
mempelajari seni tradisional. Dengan cara ini, Tingkilan bisa terus berkembang dan tidak
hilang ditelan modernisasi.

LAMPIRAN
10

Anda mungkin juga menyukai