PROGRAM
MANAJEMEN RISIKO TERINTEGRASI
RSUD EKA CANDRARINI
PEMERINTAH KOTA SURABAYA
Jalan Medokan Asri Tengah, Blok RL V Surabaya 60293
Telepon (031) 8439473 callcenter 1500655
Laman [Link], Pos-el : rsud_eka_candrarini@[Link]
KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Allah SWT atas berkat rahmat dan ridho-Nya
dapat tersusun Program Manajemen Resiko Terintregasi RSUD Eka
Candrarini Surabaya.
Program Manajemen Resiko Terintregasi ini diharapkan dapat memberi
gambaran kepada para pembaca mengenai Manajemen Resiko
Terintregasi RSUD Eka Candrarini Surabaya.
Akhir kata besar harapan kami Program Manajemen Resiko
Terintregasi ini dapat diterima dan kami menyadari bahwa penyusunan
program ini masih banyak kekurangan.
KETUA KOMITE MUTU Plt Direktur
dr. Edwin Nugroho Njoto, SpPD, drg. Bisukma Kurniawati,[Link]
MIPH, MHM Pembina Tk. I
NIP. - NIP.196803031993032
BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Manajemen risiko merupakan disiplin ilmu yang luas. Seluruh bidang
pekerjaan di dunla inl pasti menerapkannya sebagai sesuatu yang sangat
penting. Makin besar risiko suatu pekerjaan, makin besar pula perhatian
yang diberikan kepada aspek manajemen risiko ini. Rumah sakit sebagai
sebuah institusi dengan aktifitas yang penuh dengan berbagai risiko
keselamatan, juga sudah selayaknya menerapkan hal ini.
Pemahaman manajemen risiko sangat bergantung kepada dari sudut
pandang mana seseorang melihatnya. Dalam bidang kesehatan dan
keselamatan lebih dlartikan sebagal pengendallan risiko salah satu plhak
(pasien atau masyarakat) oleh pihak yang Iain (pemberi layanan).
Sementara di dalam suatu komunitas pemberi layanan kesehatan itu
sendiri, yaitu pengelola rumah sakit dan para tenaga kesehatanny4 harus
diartikan sebagai suatu upaya kerjasama berbagai pihak untuk
mengendalikan risiko bersama.
The Joint Commission on Accreditation of Healthcare Organizations
(JCAHO) memberikan pengertian manajemen risiko sebagai aktivitas
klinik dan administratif yang dilakukan oleh rumah sakit untuk
melakukan identifikasi, evaluasi dan pengurangan risiko terjadinya
cedera atau kerugian pada pasient personil, pengunjung dan rumah sakit
itu sendiri. Kegiatan tersebut meliputi identifikasi risiko hukum (legal
risk), memprioritaskan risiko yang teridentifikasi, menentukan respons
rumah sakit terhadap risiko, mengelola suatu kasus risiko dengan tujuan
meminimalkan kerugian (risk control), membangun upaya pencegahan
risiko yang etektif dan mengelola pembiayaan risiko yang adekuat (risk
financing).
Manajemen risiko yang komprehensif meliputi seluruh aktivitas rumah
sakit, baik operasional maupun yang bersifat klinis, oleh karena risiko
dapat muncul dari kedua bidang tersebut. Bahkan akhir-akhir ini
meliputi pula risiko yang berkaitan dengan managed care dan risiko
kapitasi, merger dan akuisisi, risiko kompensasi ketenagakerjaan,
corporate compliance dan etik organisasi.
Setiap upaya medik umumnya mengandung risiko, sebagian di
antaranya berisiko ringan atau hampir tidak berarti secara klinis. Namun
tidak sedikit pula yang memberikan konsekuensi medik yang cukup
berat.
Rumah Sakit Umum Daerah Eka Candrarini adalah salah satu rumah
sakit di Surabaya yang memberikan pelayanan langsung khususnya
pelayanan kesehatan pada ibu dan anak. Dalam upaya memberikan
pelayanannya, rumah sakit dituntut memberikan pelayanan sebaik-
baiknya. Hal tersebut didasarkan bahwa tuntutan masyarakat terhadap
pelayanan yang lebih baik, lebih ramah dan lebih bermutu seiring dengan
meningkatnya tingkat pendidikan dan sosial ekonomi masyarakat.
Meningkatnya tuntutan dapat dilihat dengan munculnya kritik-kritik
baik secara langsung maupun tidak langsung terhadap pelayanan yang
diberikan.
Rumah Sakit Umum Daerah Eka Candrarini menyadari bahwa dalam
memberikan pelayanan baik medis maupun non medis mempunyai
risiko-risiko. Risiko didefinisikan sebagai kemungkinan sesuatu terjadi
atau potensi bahaya yang terjadi yang dapat memberikan pengaruh
kepada hasil akhir. Risiko yang dicegah berupa risiko klinis dan risiko
non klinis. Risiko klinis adalah risiko yang dikaitkan langsung dengan
layanan medis maupun layanan Iain yang dialami pasien selama di
rumah sakit. Sementara risiko non medis ada yang berupa risiko bagi
organisasi maupun risiko finansial. Risiko organisasl adalah yang
berhubungan langsung dengan komunikasl, produk layanan, proteksi
data, sistem informasi dan semua risiko yang dapat mempengaruhi
pencapaian organisasi. Risiko finansial adalah risiko yang dapat
mengganggu kontrol finansial yang efektif, salah satunya adalah sistem
yang harusnya dapat menyediakan pencatatan akuntansi yang baik.
Manajemen Risiko dalam pelayanan kesehatan merupakan upaya
untuk mereduksi Kejadian Tidak Diharapkan (KTD), apabila hal ini terjadi
akan merupakan beban tersendiri, terlepas dari KTD tersebut karena
risiko yang melekat ataupun memang setelah dianalisis karena adanya
error atau negligence dalam pelayanan. Apabila KTD sudah terjadi, beban
pelayanan tidak hanya pada Sisi finansial semata, namun beban
psikologis dan sosial kadang-kadang terasa leblh berat.
Untuk mencegah KTD dan menempatkan risiko KTD secara
proporsional beberapa pendekatan dapat dilakukan pada sumber
penyebab itu sendiri, baik pada faktor manusianya (pasien dan tenaga
kesehatannya)t maupun dari Sisi organisasinya. Dari Sisi organisasi,
konsep intervensi organisasi pendekatan pada sistem (sarana) pelayanan
kesehatan memerlukan penanganan khusus namun akan jauh lebih
antisipatif dalam mengelola rlslko kemungklnan terjadlnya KYD.
Sehlngga manajemen risiko melalui konsep pengelolaan pada sistem
pelayanan kesehatan merupakan metode yang banyak dikembangkan
akhir-akhir ini.
Manajemen risiko antara Iain meliputi :
1. Manajemen pengobatan / pelayanan pasien
2. Risiko jatuh
3. Pengendalian infeksi
4. Gizi
5. Risiko Peralatan
Risiko sebagai akibat kondisi yang sudah lama berlangsung Rumah
Sakit menggunakan pendekatan proaktif dalam melaksanakan
manajemen risiko. Komponen-komponen dalam manajemen risiko antara
Iain :
1 Identifikasi risiko
2 Prioritas risiko
3 Pelaporan risiko
4 Manajemen risiko, termasuk analisis risiko
5 Manajemen terkait tuntutan (klaim)
B. TUJUAN
1. Tujuan Umum
Meningkatnya mutu pelayanan kesehatan dan keselamatan pasien
rumah sakit melalui program peningkatan mutu dan keselamatan paslen.
2. Tujuan Khusus
a. Terciptanya budaya keselamatan pasien dl Rumah Sakit Umum
Daerah Eka Candrarini.
b. Meningkatkan akuntabilitas.
c. Menurunnya Kejadian Tidak Diharapkan (KTD).
d. Terlaksananya program-program pencegahan sehingga tidak terjadi
pengulangan Kejadian Tidak Diharapkan (KTD).
e. Meminimalisir risiko yang mungkin terjadi di masa mendatang.
Dengan adanya antisipasi risiko, apabila terjadi insiden sudah
terdapat alternatif penyelesaiannya.
f. Melindungi pasien, karyawan, pengunjung dan pemangku
kepentingan lainnya.
BAB II
KEGIATAN POKOK DAN RINCIAN KEGIATAN
A. Menentukan Panduan & Kebijakan
Konteks dimana proses manajemen risiko dijalankan, tertuang dalam
kerangka acuan/panduan manajemen risiko. Kebijakan manajemen
risiko selain memuat definisi, ruang lingkup, tujuan, proses, ketetapan
dampak dan kekerapan, terdapat juga kriteria risiko. Manajemen risiko
memberikan kontribusi kepada good corporate govemance, dengan
memperkecil kerugian (jika risiko berdampak negatif) dan memperbesar
peluang (jika risiko berdampak positif).
Manajemen risiko tidak hanya menjadi kewenangan dari direktur,
namun juga menjadi tanggung jawab seluruh unit. Dengan demikian
diharapkan setiap individu merasa bertanggung jawab atas risiko yang
timbul di dalam pelaksanaan tugasnya, sehingga risiko tidak hanya
menjadi tanggung jawab panitia keselamatan pasien rumah sakit saja.
Hal ini tampak sebagai upaya menanamkan budaya sadar risiko pada
setiap individu di rumah sakit, yang merupakan hal terpenting dalam
penerapan manajemen risiko.
Penerapan manajemen risiko sangat diperlukan untuk meminimalkan
risiko, mencegah kejadian yang tidak diharapkan, dan tentunya untuk
keselamatan pasien, staf dan lingkungan rumah sakit. Tujuan
manajemen risiko terdapat dalam kerangka acuan/panduan manajemen
risiko, yang berisi definisi, ruang lingkup dan tujuan dari manajemen
risiko. Terdapat juga ketetapan mengenai skor dampak dan kekerapan,
serta kriteria risiko untuk menjalankan manajemen risiko. Panduan
mengenai manajemen risiko dibuat oleh Panltia Keselamatan Pasien
Rumah Saklt (KPRS). Panduan Praktik Klinik (PPK) dan Standar Prosedur
Operasional (SPO) rumah sakit harus dibuat untuk meminimalkan risiko.
Direktur rumah sakit memiliki tanggung jawab tertinggi terhadap
pelaksanaan manajemen risiko. Direktur rumah sakit juga melakukan
pemantauan dan pengambilan keputusan.
B. Identifikasi Risiko
Pemahaman dasar mengenai risiko sangat penting agar seseorang
dapat melakukan identifikasi maupun menilai risiko. Penerapan proses
manajemen risiko perlu melibatkan dan disosialisasikan kepada seluruh
staf rumah sakit tidak terkecuali dokter untuk melakukan identifikasi
dan analisist
Identifikasi risiko dilakukan melalui proses pelaporan terhadap suatu
risiko maupun kejadian. Dilakukan oleh semua staf yang melakukan,
melihat maupun mendengar suatu risiko atau kejadian. Proses
pelaporan tersebut disosialisasikan kepada semua staf baru dalam
program orientasi umum. Identifikasi dilakukan melalui kegiatan audit
mutu internal, pemantauan indikator mutu, indikator keselamatan
pasien, audit medik, diskusi kasus, survei kepuasan pelanggan, check
list, FMEA dan insiden report.
Dalam seluruh kegiatan identifikasi risiko selalu ditekankan 3 (tiga)
hal yaitu no blame, no name and no shame, sehingga bukan orangnya
yang ditekankan dalam suatu kejadian namun lebih pada sistemnya.
Adalah penting menanamkan budaya tidak menyalahkan dan
mempermalukan oleh karena setiap manusia memang dapat saja
melakukan suatu kesalahan setiap hari. Namun terlebih dari pada itu,
adalah penting untuk melihat apakah kesalahan tersebut merupakan
kelalaian yang timbul oleh karena kompleksitas sistem yang kurang
mendukung. Selain itu dengan mempermalukan dan menyalahkan,
pelaporan akan sulit diperoleh karena adanya kekhawatiran dan
ketakutan untuk melaporkan sehingga langkah awal dari manajemen
risiko tidak dapat dijalankan. Untuk itu, berbagai pendekatan
menggunakan kombinasi metode harus digunakan untuk meningkatkan
proses indentifikasi terhadap risiko dan hazards.
C. Analisis dan Penilaian Risiko
Analisis masalah dilakukan oleh masing-masing unit. Selain itu
dilakukan analisa untuk mengetahui peringkat risiko / kejadian dengan
menggunakan kriteria yang telah ditetapkan oleh rumah sakit. Kriteria
tersebut tercantum dalam lembar pelaporan insiden maupun dalam risk
register. Dalam lembar pelaporan insiden, terdapat tabel kriteria untuk
PENILAIAN PROBABILITAS /FREKUENSI / LIKELIHOOD
Level Frekuensi Kejadian actual
1 Jarang Dapat terjadi dalam lebih dari 5 tahun
2 Tidak biasa Dapat terjadi dalam 2 – 5 tahun Dapat
3 Kadang-kadang terjadi tiap 1 – 2 tahun
4 Kemungkinan Dapat terjadi beberapa kali dalam setahun
5
Sering Terjadi dalam minggu / bulan
konsekuensi kejadian serta kekerapan/ probabilitas kejadian.
Penilaian risiko merupakan proses menganalisa tingkat resiko,
pertimbangan tingkat bahaya dan mengevaluasi apakah sumber bahaya
dapat dikendalikan atav tidakt dengan memperhitungkan segala
kemungkinan yang terjadi. Indikator yang bisa dijadikan dasar penilaian
di area kritis antara lain :
1. Adanya penilaian risiko untuk setiap bahaya yang ada.
2. Terdapat risk matrix.
Untuk mengidentifikasi potensi kerugian gunakan tabel matriks
kualitatif. Menentukan Nilai probabilitas kerugian menggunakan 3
kategori: Critical, Very Serious dan Less Serious.
Analisa matriks grading risiko (KKP-RS, 2008) : Penilaian matriks
risiko adalah suatu metode analisa kualitatif untuk menentukån derajat
risiko suatu insiden berdasarkan dampak dan probabilitasnya.
1. Dampak (Consequences)
Penilaian dampak / akibat suatu insiden adalah seberapa berat akibat
yang dialami pasien mulai dari tidak ada cedera sampai meninggal.
2. Probabilitas / Frekuensi / Likelihood
Penilaian tingkat probabilitas/frekuensi risiko adalah seberapa
seringnya insiden tersebut terjadi.
Table 1
Table 2
Setelah nilai dampak dan probabilitas diketahui, dimasukkan dalam
Tabel Matriks Grading Risiko untuk menghitung skor risiko dan mencari
warna bands risiko.
D. Skor Risiko
1. Cara menghitung skor risiko
Untuk menentukan skor risiko digunakan matriks grading risiko (tabel
3)
a. Tetapkan frekuensi pada kolom kiri
b. Tetapkan dampak pada baris ke arah kanan,
c. Tetapkan warna bandsnya, berdasarkan pertemuan antara
frekuensi dan dampak.
2. Bands Risiko
Bands risiko adalah derajat risiko yang digambarkan dalam empat
warna yaitu : Biru, Hijau, Kuning dan Merah. Warna "bands" akan
menentukan
SKOR RISIKO = Dampak X Probabilitas investigasi yang
akan dilakukan
Bands biru : Rendah / Low
Bands hijau : Sedang / Moderate
PENILAIAN DAMPAK KLINIS / KONSEKUENSI / SEVERITY
Level DESKRIPSI CONTOH DESKRIPSI
1 Tdk Signifikan Tidak ada cedera
2 Cedera ringan missal, luka lecet
Minor Dapat diatasi dengan pertolongan pertama,
3 Cedera sedang missal, luka robek
Berkurangnya fungsi motorik / sensorik / psikologis atau
Moderate intelektual secara reveibel dan tidak berhubungan dengan
penyakit yang mendasarinya
Setiap kasus yang memperpanjang perawatan
4 Cedera luas / berat missal, cacat, lumpuh permanen
Majo (motorik, sensorik, psikologis, intelektual) /irreveibel,tidak
berhubungan dengan penyakit yang mendasarinya
r
5 Kematian yang tidak berhubungan dengan perjalanan
Katastropik
penyakit yang mendasarinya
Bands kuning : Tinggi / High
Bands merah : Sangat tinggi / Extreme
WARNA BANDS : HASIL PERTEMUAN ANTARA NILAI DAMPAK YANG
DIURUT KEBAWAH DAN NILAI PROBABILITAS YANG DIURUT KE
SAMPING KANAN
Contoh : Pasien jatuh dari tempat tidur dan meninggal, kejadian seperti
ini di RS X terjadi pada 2 tahun yang lalu
Nilai dampak : 5 (katastropik) karena pasien meninggal
Nilai probabilitas : 3 (mungkin terjadi) karena pernah terjadi 2 thn lalu
Skoring risiko : 5 x 3 = 15
Warna Bands : Merah (ekstrim)
TABEL 3
Tingkat Resiko Skor Risiko Warna Risiko
Ekstrim (15-25) Merah
Tinggi (8-12) Kuning
Sedang (4-6) Hijau
Rendah (1-3) Biru
MATRIKS GRADING RISIKO
TABEL 4
Level / Brands Tindakan
Ekstrim (sanat tinggi) Risiko ekstrim, dilakukan RCA
paling lama 45 hari
High (tinggi) Risiko tinggi, dilakukan RCA
paling lama 45 hari, kaji dengan
detail & perlu tindakan segera
serta membutuhkan perhatian top
manajemen
Moderator (sedang) Risiko sedang, dilakukan
investigasi sederhana paling lama
2 minggu. Manajer / pimpinan
klinis sebaiknya menilai dampak
terhadap biaya dan kelola risiko.
Low (rendah) Risiko rendah, dilakukan
investigasi sederhana paling lama
1 minggu diselesaikan dengan
prosedur rutin.
TINDAKAN SESUAI TINGKAT DAN BRANDS RISIKO
3. Adanya risk profile atau risk mapping :
Misalnya : diruang ICU harus ada pemetaan jenis kuman yang
berkembang. Manajemen risiko antara Iain meliputi :
a. Manajemen pengobatan I pelayanan pasien
b. Risiko jatuh
c. Pengendalian infeksi
d. Gizi
e. RIslko Peralatan
f. Risiko sebagai akibat kondisi yang sudah lama berlangsung Dalam
menganalisis manajemen risiko di atas, rumah sakit menggunakan
suatu alat analisis proaktif akibat kejadian yang dapat berakhir
dengan proses risiko yang juga kritikal yaitu proses Failure Mode
and Effects Analysis (FMEA).
E. Evaluasi Risiko
Konsekuensi Potensial
Frekuensi
/ Likelihood Insignificant Minor Moderate Major Catastropic
1 2 3 4 5
Sangat Sering Terjadi
(Tiap mgg /bln) Sedang Sedang Tinggi Extreme Extreme
5
Sering terjadi
(Beberapa x /thn) Sedang Sedang Tinggi Extreme Extreme
4
Mungkin terjadi
Rendah Sedang Tinggi Extreme Extreme
(1-2 thn/x)
3
Jarang terjadi (2-
5 thn/x) Rendah Rendah Sedang Tinggi Extreme
2
Sangat jarang sekali
(>5 thn/x) Rendah Rendah Sedang Tinggi Extreme
1
Berdasarkan hasll analisis risiko, dilakukan evaluasi risiko yang dapat
membantu untuk memutuskan diterima atau tidaknya suatu risiko,
menentukan prioritas risiko dan menjadi masukan bagi penanganan
risiko. Kriteria untuk pengambilan keputusan dalam evaluasi risiko
haruslah konsisten dengan konteks eksternal, internal dan definisi
manajemen risiko yang telah ditetapkan oleh organisasi. Terdapat 4
(empat) dimensi risiko klinis di pelayanan kesehatan yang perlu
diperhatikan yaitu dimensi operaslonal, dimensi keuangan, dimensi
politik dan dimensl legal. Dalam memutuskan risiko dapat diterima atau
tidak, kriteria evaluasi yang dibuat harus mempertimbangkan dari
berbagai sisi, selain tingkat dampak maupun kemungkinan yang timbul
termasuk toleransi terhadap risiko.
Evaluasi risiko dilakukan berdasarkan kriteria yang telah ditentukan
oleh rumah sakit. Tingkat risiko atau kejadian yang ditemukan saat
analisis menjadi acuan untuk menetapkan prioritas risiko serta
pelaporan yang perlu dilakukan terkalt dengan rislko tersebut. Jika risiko
tergolong ekstrim, hal ini menjadi sangat prioritas sehingga perlu
dilakukan kegiatan RCA secepatnya dan pelaporan perlu disampaikan
kepada direktur. Diterima atau tidaknya suatu risiko, selain dilihat dari
konsekuensi, kekerapan maupun tingkatannya, dilihat juga beberapa
dimensl yang menjadi dasar pertimbangan. Dengan memperhatikan
keselamatan pasien, image rumah sakit, serta biaya yang dikeluarkan,
Direktur rumah sakit menetapkan risiko prioritas yang akan dianalisis
secara proaktif.
1. Pengelolaan Risiko
Dalam pengelolaan risiko, terdapat beberapa pilihan yang dapat
diambil. Salah satunya adalah melalul proses pencegahan dan
pengurangan risiko. Keberhasilan pengelolaan risiko tidak hanya sampai
pada kegiatan pengurangan risiko. Meski kegiatan pengurangan risiko
telah dilakukan, tetap sosialisasi, monitoring serta audit perlu
dilaksanakan agar tidak terjadi peningkatan risiko ataupun
pengulangan kejadian. Jika terjadi suatu kejadian sentinel, kejadian
tersebut harus dituntaskan dan tidak boleh terjadi kembali. Kunci
keberhasilan dari seluruh upaya pengurangan risiko di rumah sakit
adalah kepemlmplnan.
2. Monitoring dan Review
Monitoring dan review merupakan pemantauan rutin dengan
membandingkan kinerja proses manajemen risiko dengan harapan yang
ingin dicapai dan meninjau ulang secara berkala kegiatan manajemen
risiko yang telah dilakukan. Monitoring dan review dapat dilakukan
melalui pemantauan indikator mutu yang ditetapkan, peninjauan ulang
terhadap penanganan risiko maupun kejadian yang dilaporkan,
peninjauan standar pelayanan medik maupun standar operasional,
pelatihan, peringatan, dan Iain-Iain.
Segala sesuatu yang menjadi risiko perlu dipantau secara terus
menerus. Monitoring dan review terhadap suatu risikol kejadian
dilakukan dalam setiap proses manajemen risiko dan pelaksanaan
monitoring dan review terhadap risiko tersebut dapat berjalan dengan
baik jika dilaksanakan dengan kedisiplinan. Sedangkan data
pencapaian dari pelaporan tersebut dijadikan salah satu indikator
terhadap keberhasilan proses monitoring dan review itu sendiri.
F. Cara Melaksanakan Kegiatan
1. Melaksanakan program, meliputi :
a. Identifikasi Risiko
b. Menetapkan Prioritas Risiko
c. Pelaporan tentang Risiko
d. Manajemen Risiko
e. Penyelidikan KTD, melalui kegiatan Root Cause Analysis (RCA) dan
Failure Mode Effect Analysis (FMEA)
f. Manajemen dari hal Iain yang terkait
2. Melaksanakan program pengawasan manajemen risiko fasilitas /
lingkungan rumah sakit, meliputi :
a. Merencanakan semua aspek dari program
b. Melaksanakan program
c. Merencanakan pendidikan dan pelatihan kompetensi manajemen
risiko
d. Memonitor dan melaksanakan uji coba program
e. Evaluasi dan revisi program secara berkala
f. Membuat laporan tahunan tentang pencapaian program
g. Menyelenggarakan pengorganisasian dan pengelolaan secara
konsisten dan terus menerus
3. Melaksanakan koordinasi dengan Panitia Kesehatan dan
Keselamatan Kerja Rumah Sakit (K3RS) dalam hal menyusun
perencanaan pengelolaan risiko fasllitas / lingkungan, mellputi :
a. Keselamatan
b. Keamanan
c. Bahan Berbahaya
d. Manajemen Emergensi
e. Pengamanan Kebakaran
f. Peralatan Medis
g. Sistem Utilitas
G. Sasaran
1. Direktur
2. Panitia Keselamatan Pasien Rumah Sakit (KPRS)
3. Panitia Pengendalian dan Pencegahan Infeksi (PPI)
4. Panitia Kesehatan dan Keselamatan Kerja Rumah Sakit (K3RS)
5. Seluruh staf dan karyawan baik medis maupun non medis.
BAB III
PENJADWALAN DAN EVALUASI KEGIATAN
A. Kegiatan
Tahun 2025
Keterangan :
**) FMEA dilaksanakan sekali dalam setahun secara proaktif
***) Laporan tahunan dilaporkan pada tahun berikutnya
B. Evaluasi Pelaksanaan Kegiatan Dan Pelaporan
1. Evaluasi Pelaksanaan Kegiatan
Evaluasi dilaksanakan setiap tahun sekali pada bulan Desember
Jenis Kegiatan Evaluasi
1 Melaksanakan program manajemen risiko
- Identifikasi Risiko
- Menetapkan Prioritas Risiko
- Pelaporan tentang Risiko ***)
- Manajemen Risiko
- Penyelidikan KTD
- Root Cause Analysis (RCA) *)
- Fajlure Mode Effect Analysis (FMEA) t')
2 Melaksanakan program pengawasan manajemen
risiko fasilitas / lingkungan rumah sakit
- Merencanakan semua aspek dari program
- Melaksanakan program
- Merencanakan pendidikan dan pelatihan
kompetensi manajemen risiko
Memonitor dan evaluasi program
- Evaluasi dan revisi program secara berkala
- Membuat laporan tahunan tentang pencapaian
program ***)
3 Melaksanakan koordinasi dengan Panitia
Kesehatan dan Keselamatan Kerja Rumah Sakit
(K3RS) dalam hal menyusun perencanaan
pengelolaan risiko fasilitas / lingkungan
2. Pelaporan evaluasi kegiatan
Pelaporan dilakukan pada awal bulan Januari tahun berikutnya.
C. Pencatatan, Pelaporan Dan Evaluasi
1. Pencatatan dan dokumentasi kegiatan dilaksanakan oleh Panitia
Keselamatan Pasien Rumah Sakit.
2. Melaksanakan monitorlng dan koordlnasl terhadap hasil laporan.
3. Panitia Keselamatan Pasien Rumah Sakit merangkum seluruh
kegiatan manajemen risiko berupa laporan evaluasi kegiatan yang
ditujukan kepada Direktur.
4. Laporan Program ditujukan kepada Direktur Rumah Sakit RSUD Eka
Candrarini
5. İsi Laporan
a. Kegiatan sesuai program kerja;
b. Kegiatan yang telah dilaksanakan;
c. Apakah kegiatan sesuai jadwal;
d. insiden keselamatan pasien rumah sakit yang terjadi, jenis insiden,
akibat insiden;
e. Hambatan yang menyebabkan program kerja tidak dapat
dilaksanakan atau tidak sesuai jadwal;
f. Hal-hal lain yang dianggap perlu untuk dilaporkan;
g. Usulan dan rekomendasi kepada Direktur.
BAB III
PENUTUP
Keselamatan pasien harus dilihat dari sudut pandang resiko klinis.
sekalipun staf medis rumah sakit sesuai kompetensinya memberikan
pelayanan berdasarkan standar profesi dan standar pelayanan, Namun
potensi risiko tetap ada sehingga pasien tetap berpotensi mengalami
cedera.
Manajemen risiko sebagai salah satu kegiatan yang dilakukan dalam
menjamin keselamatan pasien menjadi salah satu prioritas ułama dalam
pelaksanaan pelayanan di seluruh unit pelayanan rumah sakit oleh
karena iłu perlu disusun suatu program manajemen risiko di RSUD Eka
Candrarini Surabaya yang akan menjadi panduan bagi Seluruh unit
pelayanan dalam melakukan manajemen risiko Di instalasi masing-
masing dan menjadi acuan rumah sakit dalam melakukan manajemen
risiko baik klinik maupun manajerial.