0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
6 tayangan41 halaman

Pusat Konservasi Orang Utan Arsitektur Hijau

Diunggah oleh

Rio Tampaty
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
6 tayangan41 halaman

Pusat Konservasi Orang Utan Arsitektur Hijau

Diunggah oleh

Rio Tampaty
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

PERANCANGAN PUSAT KONSERVASI DAN REHABILLITASI

ORANG UTAN DENGAN PENDEKATAN ARSITEKTUR HIJAU

DI NUSANTARA, KAB. PANAJAM PASER UTARA

KALIMANTAN TIMUR

Disusun oleh :

Rio Tampaty

61200543

PROGRAM STUDI TEKNIK ARSITEKTUR FAKULTAS ARSITEKTUR


DAN DESAIN UNIVERSITAS KRISTEN DUTA WACANA YOGYAKARTA

2024
ABSTRAK

Pusat Konservasi Dan Rehabilitasi Orang Utan memiliki peran krusial dalam
melindungi dan merawat populasi orangutan yang terancam punah, perancangan
pusat suaka orangutan ini berlokasi di Kabupaten Panajam Paser Utara, Provinsi
Kalimantan Timur, dengan mengintegrasikan pendekatan arsitektur [Link]
ini bertujuan untuk menciptakan bangunan dan fasilitas yang ramah lingkungan,
mendukung keberlanjutan ekologis, serta meminimalkan dampak negatif terhadap
lingkungan alam sekitar. Desain pusat suaka ini menggabungkan elemen-elemen
arsitektur hijau seperti Conserving Energi, Working with Climate dan Respect for
user.

Melalui perancangan ini, diharapkan dapat memberikan inspirasi bagi pembangunan


pusat Konservasi dan Rehabilitasi orangutan di Nusantara, Kalimantan Timur,
dengan menggabungkan kebutuhan manusia dan pelestarian lingkungan. Penerapan
prinsip arsitektur hijau diharapkan dapat menciptakan lingkungan binaan yang
seimbang antara kebutuhan ekologi dan kesejahteraan manusia, menciptakan pusat
suaka yang berdaya guna dan berkelanjutan dalam jangka panjang.

Kata Kunci: Orang Utan, Arsitektur Hijau, Konservasi, Rehabilitasi, Kalimantan


Timur.

i
ABSTRACT

The Orangutan Conservation and Rehabilitation Center plays a crucial role in


protecting and caring for the endangered orangutan population. The design of this
orangutan sanctuary is located in the North Panajam Paser Regency, East
Kalimantan Province, integrating a green architecture approach. This approach
aims to create environmentally friendly buildings and facilities that support
ecological sustainability while minimizing negative impacts on the surrounding
natural environment. The design of the sanctuary incorporates green architecture
elements such as energy conservation, working with the climate, and respect for
users.

Through this design, it is hoped to inspire the construction of Orangutan


Conservation and Rehabilitation Centers throughout the Nusantara region,
specifically in East Kalimantan. The integration of human needs and environmental
preservation is emphasized. The implementation of green architecture principles is
expected to create a balanced built environment that meets both ecological needs and
human well-being, establishing a functional and sustainable sanctuary in the long
term.

Keywords: Orang Utan, Green Architecture, Conservation, Rehabilitation, East


Kalimantan.

ii
KEASLIAN PENULIS

Sejauh dari pengetahuan penelitian terdapat beberapa penelitian yang berhubungan,


yaitu:

Nama Judul Fokus Perancangan Perbedaan


Aji Redesain Pusat Merancang sarana prasarana • Lokasi
Tangkas Konservasi dan • Variabel
untuk kegiatan • Subjek
Perbowo Pusat Edukasi Di
(2021) Pulau Serangan, penyelamatan, penelitian, • Pendekatan
Denpasar Selatan
pusat informasi pendidikan,
Bali
dan wisata dengan
mengunakan metodoe lima
langgkah yang
menggunakan konsep
“Turtle Conservation and
Education Center” yang
didalam nya memiliki 4
aspek yaitu,
edukasi,ekologi,sosial
budaya, dan ekonomi.

Edwin Excel Perancangan Wisata Perancangan Wisata Edukasi • Lokasi


Efruan Edukasi dan • Variabel
dan Konservasi Biota Laut
(2022) Konservasi Biota Laut • Objek
di Kota Ambon dengan pendekatan ekologi • Subjek
• Pendekatan
futuristik sehingga
memperkenalkan konsep
edukasi modern, merancang
sebuah wisata laut alternatif
sebagai media konservasi di
wilayah Teluk Ambon

iii
DAFTAR ISI ..............................................................................................................IV
BAB 1 PENDAHULUAN ........................................................................................... 1
1.1 JUDUL ................................................................................................................... 1
1.2 ARTI JUDUL .......................................................................................................... 1
1.3 LATAR BELAKANG ............................................................................................... 1
1.4 RUMUSAN MASALAH ............................................................................................ 5
1.7 TUJUAN DAN SASARAN ......................................................................................... 6
1.6 METODE PENGUMPULAN DATA ............................................................................. 7
BAB II TINJAUAN LITERATUR ............................................................................ 7
2.1 PUSAT KONSERVASI DAN REHABILITASI ORANG UTAN ....................................... 7
2.1.1 Pengertian Pusat Konservasi Dan Rehabilitasi Orang Utan ....................... 7
2.1.2 Fungsi Pusat Konservasi Dan Rehabilitasi Orang Utan.............................. 8
2.1.3 Klasifikasi Konservasi .................................................................................. 8
2.1.4 Standar Fasilitas Konservasi ........................................................................ 9
2.2 TEORI PENDEKATAN ARSITEKTUR HIJAU ........................................................... 13
2.2.1 Pengertian Arsitektur Hijau........................................................................ 13
2.2.2 Prinsip Arsitektur Hijau ............................................................................. 14
2.3 TINJAUAN PRESEDEN .......................................................................................... 17
2.3.1 Sequis Center .............................................................................................. 17
2.3.2 The Panda Pavilion Zoo ............................................................................. 19
2.3.3 Great Ape House ......................................................................................... 23
2.4 Kesimpulan Preseden .................................................................................... 26
BAB III METODE PERANCANGAN .................................................................... 27
3.1 TINJAUAN LOKASI .............................................................................................. 27
3.1.1 Kondisi Administrarif Dan Geografi ......................................................... 27
3.1.2 Perda RTRW Kab. Panajam Paser Utara .................................................. 28
3.1.3 Perpres Kawasan Pengembangan Ibu Kota Nusantara (KPIKN).............. 30
3.1.4 Aspek Pemilihan Site .................................................................................. 32
3.1.5 Alternatif Site .............................................................................................. 32
3.2 KERANGKA ALUR PERANCANGAN ...................................................................... 33
3.3 ANALISIS PENDEKATAN DAN KRITERIA DESAIN ................................................. 34
3.3.1 Bentuk Bangunan dan Orientasi Bangunan ............................................... 34
3.3.2 Ruang Dalam dan Ruang Luar ................................................................... 34
3.3.3 Kandang Dalam dan Kandang Luar .......................................................... 34
3.3.4 Material ...................................................................................................... 34
DAFTAR PUSTAKA ................................................................................................ 35

iv
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Judul
Perancangan Konservasi & Rehabilitasi Orang Utan di Nusantara dengan
pendekatan Arsitektur Hijau
1.2 Arti Judul

Konservasi : Konservasi merujuk pada upaya perlindungan, pelestarian, dan


pengelolaan sumber daya alam, baik itu sumber daya hayati maupun sumber daya
non-hayati, agar dapat dipertahankan, dimanfaatkan secara berkelanjutan, dan
tidak mengalami penurunan kualitas atau kerusakan yang signifikan.

Rehabilitasi : Rehabilitasi merujuk pada proses atau upaya untuk mengembalikan,


memulihkan, atau meningkatkan kondisi fisik, fungsional, atau sosial suatu entitas
yang mengalami kerusakan, kecacatan, atau perubahan yang signifikan. Istilah ini
dapat diterapkan pada berbagai konteks, termasuk rehabilitasi fisik, rehabilitasi
lingkungan, dan rehabilitasi sosial.

Nusantara : Ibu kota negara Indonesia

1.3 Latar Belakang

Pemindahan ibukota negara adalah sebuah proyek besar yang diusulkan


oleh pemerintah untuk meningkatkan efisiensi administrasi, mengurangi
kepadatan penduduk di ibu kota yang lama, serta mengembangkan wilayah-
wilayah baru untuk pertumbuhan ekonomi dan pembangunan infrastruktur.
Pemindahan ibukota baru dilakukan di Provinsi Kalimantan Timur khusus nya di
Kabupaten Panajam Paser Utara. Kabupaten ini berbatasan dengan Kabupaten
Kutai Kartanegara di sebelah Utara, sebelah timur berbatasan dengan Selat
Makassar dan sebelah selatan berbatasan dengan Kabupaten Paser serta sebelah
barat berbatasan dengan Kabupaten Kutai Barat. Jumlah penduduk kabupaten ini

1
pada tahun 2020 berjumlah 181.349 jiwa, dengan kepadatan 54 jiwa/km2.
Penajam Paser Utara merupakan kabupaten hasil pemekaran dari Kabupaten Pasir
(kini Paser) pada tahun 2002. Sebagian dari daerah kabupaten ini dan Kabupaten
Kutai Kartanegara yaitu Kawasan Taman Hutan Raya Bukit Soeharto.
Dalam draf RUU IKN yang diterima CNBC Indonesia IKN di Kalimantan
Timur akan berada di atas wilayah tanah seluas 256.142 hektar dengan beberapa
batas wilayah. Jelas pasal 6 ayat (2) dikutip RUU IKN, Salah satu dampak dari
pembangunan ibukota negara baru, adalah perubahan besar dalam penggunaan
lahan dan perubahan lingkungan yang berdampak pada ekosistem alam, termasuk
suaka margasatwa yang terancam punah.
Wilayah pusat ibukota Negara (IKN) berada di bekas kawasan Hutan
Tanaman Industri, yang bukan merupakan hutan primer, Direktur Jendral
Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE) Kementrian LHK,
Wiranto dalam keterangan nya di Jakarta (23/02/2022) menyampaikan bahwa
pusat IKN bukanlah merupakan daerah sebaran alami orang utan. Apakah dengan
pernyataan seperti itu dapat menyelesaikan permasalahan ekosistem alam,
bagaimana dengan hewan lainnya yang terancam punah.

Jumlah spesies hewan


terancam punah di wilayah IKN (2020)

2
Tabel 1.1 Grafik Jumlah Spesies Hewan Terancam Punah di IKN
(Sumber : jurnal Bappenas Working Papers Volume 4 No. 1, 2021)

Data ini menunjukan bahwa ada 27 spesies hewan dengan kategori terancam punah di
wilayah IKN, dan terdapat 4 status dengan kategori sangat terancam punah, yaitu
Orang utan Kalimantan, bekantan, Owa kalawat, dan trenggiling. Sebelum adanya
fenomena pemindahan ibukota ke Kalimantan. Sudah banyak juga hewan yang di
kategorikan terancam punah akibat dari perburuan liar, penebangan hutan, dan
kebakaran hutan.

Gambar 1.1 Lokasi Pusat Ibukota Nusantara


(Sumber : google maps data peta 2023)

Pembangunan ibukota Negara merupakan upaya pemerintah untuk mengusung


pembangunan ekonomi yang inklusif, dengan menyebarluaskan magnet pertumbuhan
ekonomi baru sehingga tidak hanya bertumpu di pulau jawa semata demi
mewujudkan cita cita bangsa yaitu Indonesia maju 2045, dengan adanya magnet
pertumbuhan ekonomi baru otomatis akan mempengaruhi wilayah disekitarnya,
sebuah kota akan terus berkembang dan menyebar sesuai dengan teori perkembangan
kota, ada 2 teori yang menjadi konsen dalam hal ini, yang pertama yaitu teori
konstris di jelaskan menurut Ernest W Burgess dalam Introduction to the Science of
Sociology (1921), manusia punya kecendrungan alamiah untuk berada sedekat
mungkin dengan pusat kota. Dan yang kedua yaitu teori sektoral manusia cendrung
membangun aktivitas sedekat mungkin dengan jalur jalan utama. Dengan

3
meningkatnya sistem jaringan jalan dan lalu lintas, maka aktivitas akan meningkat
juga.

Yang menjadi konsentrasi saat ini bagaimana kedepannya dengan adanya


persebaran kota ini, bagaimana dengan nasib kehidupan ekosistem yang ada di sekitar
nya, tentu ini akan memberikan dampak yang sangat signifikan untuk ekosistem yang
ada. Seiring dengan proyek pembangunan ibukota negara, terjadi perubahan besar
dalam penggunaan lahan, termasuk deforestasi, penebangan hutan, dan konversi
lahan untuk keperluan pembangunan. Hal ini mengancam habitat alami banyak
spesies margasatwa yang telah lama tinggal di daerah tersebut.

Gambar 1.2 Endangered Animal Trenggiling


(Sumber : [Link])

Perubahan dalam pola penggunaan lahan dapat mengakibatkan konflik antara


manusia dan margasatwa. Ketika habitat alami berkurang, margasatwa terdorong
untuk mendekati permukiman manusia dalam pencarian makanan, yang seringkali
berujung pada konflik dan bahaya bagi kedua belah pihak. Provinsi Kalimantan
Timur merupakan rumah bagi sejumlah besar spesies margasatwa yang terancam
punah, seperti orangutan kalimantan, bekantan, trenggiling, dan owa kalawat.
Pembangunan ibukota negara baru dapat memperparah risiko kepunahan spesies-
spesies berharga ini.

4
Gambar 1.3 Endangered Animal Owa kalawat
(Sumber : [Link])

Konservasi dan Perlindungan sangat di perlukan dalam menghadapi dampak negatif


dari pembangunan ibukota negara, diperlukan upaya serius untuk melindungi dan
melestarikan suaka margasatwa yang tersisa. Untuk merespon fenomena dan
permasalahan ini direspon dengan perancangan Pusat Konservasi dan Rehabilitasi
berbasis In Situ sebagai langkah nyata dalam pelestarian spesies margasatwa
terancam punah. Dengan menerapkan prinsip arsitektur hijau yang mengedepankan
sustainability dengan memperhatikan aspek lingkungan sekitar agar tetap terjaga
dengan meminimalisir kerusakan lingkungan akibat pembangunan Pusat Konservasi
dan Rehabilitasi. Pusat Konservasi dan Rehabitasi Ini juga dapat menjadi sarana
untuk melibatkan masyarakat lokal dalam upaya konservasi dan mengintegrasikan
pembangunan berkelanjutan dalam pembangunan infrastruktur. Upaya ini tidak hanya
akan membantu melindungi keanekaragaman hayati yang terancam punah di wilayah
ini tetapi juga memberikan solusi berkelanjutan untuk menjaga keseimbangan antara
pembangunan dan pelestarian alam.

1.4 Rumusan Masalah

1.4.1. Permasalahan Fungsional

a. Bagaimana merencanakan kebutuhan ruang yang optimal dalam


sebuah fasilitas konservasi dan rehabilitasi yang mampu memberikan
kenyamanan bagi pengguna yang dapat mendukung aktivitas

5
konservasi dengan menyediakan fasilitas penelitian, kesehatan,
pelatihan dan pendidikan ?
b. Bagaimana merencanakan pengelolaan kebutuhan ruang yang optimal
untuk mendukung kehidupan suaka di dalam Pusat Konservasi dan
Rehabilitasi ?
1.4.2. Permasalahan Arsitektural
a. Bagaimana merancang bangunan yang berkelanjutan yang mampu
menyediakan fasilitas untuk mendukung kegiatan konservasi, dengan
memperhatikan aspek lingkungan dengan pendekatan Arsitektur
Hijau?

1.5 Tujuan dan Sasaran

Merancang Sanctuary dengan fasilitas yang dapat mendukung proses rehabilitasi


dan konservasi satwa terancam punah bagi lanskap disekitaran IKN untuk
keberlangsungan ekosistem alam. Dengan sasaran sebagai berikut :

1. Sasaran bagi penulis


a) Untuk mempelajari penerapan Arsitektur Hijau terhadap objek desain
yang menjadi fokus untuk menyelesaikan permasalahan dalam
ekosistem alam.
b) Untuk mempelajari penerapan desain yang berkelanjutan.
c) Untuk mempelajari penerapan material dan desain yang dapat
diimplementasikan terhadap Pusat Konservasi dan Rehabilitasi.
2. Sasaran bagi masyarakat
a) Untuk menjadi gambaran dan wawasan bagaimana cara untuk menjaga
keberlangsungan ekosistem alam secara arsitektur.
3. Sasaran bagi pemerintah
a) Untuk menjadi gambaran dan inspirasi terhadap pemerintah
bagaimana rancangan sebuah Pusat Konservasi dan Rehabilitasi yang

6
dapat memberikan dampak yang luas bagi sosial maupun ekosistem
alam.

1.6 Metode Pengumpulan Data

A. Data Primer

• Observasi, yaitu metode pengumpulan data dan survei lapangan secara tidak
langsung untuk melihat kondisi eksisting site, aktivitas sekitar site, batasan
site dengan lingkungan sekitar, transportasi, dan sirkulasi
• Dokumentasi dari hasil yang didapatkan ketika melakukan kunjungan Site.

B. Data Sekunder

• Literatur konservasi dan rehabilitasi satwa


• Studi analisa pendekatan ruang melalui literatur dan standar yang ada
• Studi preseden

BAB II

TINJAUAN LITERATUR

2.1 Tinjauan Umum Pusat Konservasi dan Rehabilitasi Orang Utan

2.1.1 Pengertian Pusat Konservasi dan Rehabilitasi Orang Utan

Pusat Konservasi dan Rehabilitasi orangutan, sebagai fasilitas yang didirikan


secara khusus, berfungsi sebagai tempat perlindungan dan perawatan bagi
orangutan yang mengalami kebutuhan mendesak. Orangutan, sebagai primata
yang terancam punah, menempati posisi yang memerlukan perlindungan
khusus untuk memastikan kelangsungan hidupnya. Melalui pendirian pusat
suaka ini, tujuannya adalah menciptakan lingkungan yang aman dan
mendukung, memenuhi segala kebutuhan hidup orangutan, dan menyediakan

7
perawatan medis sesuai kebutuhan spesifik yang mungkin dihadapi oleh
individu-individu tersebut. Dengan demikian, pusatt Konservasi dan
Rehabilitasi ini bukan hanya sebagai tempat perlindungan fisik, tetapi juga
sebagai wadah yang berkomitmen untuk menyelamatkan, merawat, dan
mendukung proses pemulihan orangutan yang rentan dan terancam tersebut.

2.1.2 Fungsi Pusat Konservasi dan Rehabilitasi Orang Utan

Untuk menyediakan tempat perlindungan Orangutan dan hewan lainnya


dengan memberikan fasilitas dan pengelolaan yang memenuhi prinsip
kesejahteraan satwa terutama bagi Orangutan yang telah ditetapkan tidak
dapat dilepasliarkan ke habitat alaminya karena alasan tertentu.

2.1.3 Klasifikasi Konservasi


Berdasarkan metode yang dipilih untuk melakukan usaha-usaha perlindungan,
konservasi terbagi menjadi 2 jenis yaitu konservasi in situ dan ex situ dengan
pengertian sebagai berikut ( hutanpedia 2022 ) :
1) In situ :
Konservasi In Situ adalah konservasi flora, fauna dan ekosistem yang
dilakukan di dalam habitat aslinya (di dalam kawasan) agar tetap utuh dan
segala proses kehidupan yang terjadi berjalan secara alami. Kegiatan ini
meliputi perlindungan contoh-contoh perwakilan ekosistem darat dan laut
serta flora-fauna di dalamnya. Konservasi In Situ dilakukan dalam bentuk
kawasan suaka alam (cagar alam, suaka marga satwa), zona inti taman
nasional dan hutan lindung.

Tujuan konservasi In Situ yaitu menjaga keutuhan dan keaslian jenis


tumbuhan dan satwa beserta ekosistemnya secara alami melalui proses
evolusinya. Perluasan kawasan sangat dibutuhkan dalam upaya memelihara
proses ekologi yang esensial, menunjang sistem penyangga kehidupan,

8
mempertahankan keanekaragaman genetik dan menjamin pemanfaatan jenis
secara lestari dan berkelanjutan.

2) Ex situ :
Konservasi Ex Situ (di luar kawasan) adalah upaya konservasi yang dilakukan
dengan menjaga dan mengembangbiakkan jenis tumbuhan dan satwa di luar
habitat alaminya dengan cara pengumpulan jenis, pemeliharaan dan budidaya
(penangkaran). Tempat-tempat konservasi Ex Situ dilakukan pada tempat-
tempat seperti kebun binatang, kebun botani, taman hutan raya, kebun raya,
penangkaran satwa, taman safari, taman kota dan taman burung.

Metode yang digunakan pada bentuk konservasi ini dengan cara


memanipulasi objek yang dilestarikan untuk dimanfaatkan dalam upaya
pengkayaan jenis, terutama yang hampir mengalami kepunahan dan bersifat
unik. Cara konservasi Ex Situ dianggap sulit dilaksanakan dengan
keberhasilan tinggi disebabkan jenis yang dominan terhadap kehidupan
alaminya sulit beradaptasi dengan lingkungan buatan.

2.1.4 Standar Fasilitas Konservasi


1. Menurut ( PERATURAN MENTERI KEHUTANAN REPUBLIK
INDONESIA Nomor : P.31/Menhut-II/2012 TENTANG LEMBAGA
KONSERVASI ) terdapat standarisasi terkait dengan fasilitas konservasi
sesuai dengan bentuk
konservasi yang di lakukan, sebgai berikut :

Kriteria Pusat Penyelamatan Satwa sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4


huruf a, terdiri atas :
a. Jenis koleksi satwa yang dilindungi dan/atau satwa asing;
b. Pengelolaan koleksi bersifat sementara atau tidak menetap permanen;

9
c. Memiliki sarana pemeliharaan dan perawatan satwa, sekurang-
kurangnya terdiri atas:
1) kandang pemeliharaan;
2) kandang habituasi;
3) kandang transport yang sesuai dengan jenis satwa;
4) naungan; dan
5) prasarana pendukung pengelolaan satwa yang lain (gudang pakan);
d. Memiliki fasilitas kesehatan minimal yang berfungsi sebagai karantina
dan klinik;
e. Memiliki tenaga kerja permanen sesuai bidang keahliannya,
sekurangkurangnya terdiri atas:
1) dokter hewan;
2) tenaga paramedis;
3) perawat satwa (animal keeper);
4) tenaga keamanan; dan
5) tenaga administrasi.
f. Memiliki fasilitas kantor pengelola;
g. Memiliki fasilitas pengelolaan limbah

Kriteria Pusat Rehabilitasi Satwa sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 huruf


c, terdiri atas :
a. Jenis koleksi terdiri dari satwa tertentu yang dilindungi;
b. Memiliki sarana pengadaptasian, sekurang-kurangnya terdiri atas:
1) tempat pengadaptasian; dan
2) perlengkapan pengadaptasian.
c. Memiliki sarana pemeliharaan dan perawatan satwa, sekurang-
kurangnya terdiri atas:
1) kandang pemeliharaan;
2) kandang habituasi;

10
3) kandang transport yang sesuai dengan jenis satwa;
4) naungan;
5) gudang pakan; dan
6) prasarana pendukung pengelolaan satwa yang lain.
d. memiliki fasilitas kesehatan, sekurang-kurangnya terdiri atas:
1) karantina;
2) klinik; dan
3) koleksi obat.
e. memiliki tenaga kerja permanen sesuai bidang keahliannya,
sekurangkurangnya terdiri atas:
1. Dokter hewan;
2. Tenaga paramedis;
3. Perawat satwa (animal keeper);
4. Tenaga keamanan; dan
5. Tenaga administrasi.
f. Memiliki fasilitas kantor pengelola; dan
g. Memiliki fasilitas pengolahan sampah

2. Menurut Global Federation of Animal Sanctuaries (2013) Standar untuk kera


besar sebagai berikut :
a. Banyak faktor yang memengaruhi kebutuhan ruang minimum untuk
sekelompok kera besar, termasuk, tetapi tidak terbatas pada: ukuran kelompok,
komposisi kelompok, dan kompleksitas kandang. Berikut adalah persyaratan
minimum. Fasilitas seharusnya menyediakan ruang sebanyak mungkin dan/atau
praktis.

b. Pusat perlindungan hewan yang hanya memenuhi persyaratan minimum


untuk ruang kandang menggunakan penyelenggaraan lingkungan tambahan,

11
berfokus pada latihan fisik dan mental daripada makanan, untuk menggantikan
ruang dan kompleksitas yang dikurangi.

c. Kandang outdoor untuk kera besar memiliki ukuran minimum 5.000 kaki
persegi (464,5 m2) per 5 kera besar, dengan tambahan 250 kaki persegi (23,2
m2) untuk setiap individu tambahan. Bentuk kandang dapat bervariasi untuk
mengambil fitur alami di lanskap seperti formasi batu, bukit, dan pohon, dan
untuk kandang beratap harus ada dimensi vertikal minimum 20 kaki (6 m).
Ruang ini mencakup setidaknya satu pintu transfer hewan yang mengarah ke
kandang dalam.

d. Ruang indoor siang/malam untuk kera besar memiliki setidaknya dua


'ruangan' atau satu ruangan dalam dan satu halaman perpindahan untuk
kelompok kera yang kompatibel. Dimensi ruangan bergantung pada tujuan yang
dimaksud dan/atau durasi penahanan. Satu ruangan dengan dimensi minimum
200 kaki persegi (18,6 m2) per pasangan yang kompatibel, dengan tambahan 50
kaki persegi (4,6 m2) per hewan tambahan.

• Disarankan tinggi vertikal minimum 15 kaki (4,6 m), dengan perabot


dan/atau jalur kucing yang memungkinkan penggunaan ruang vertikal.
• Ruangan saling terhubung tanpa membuat 'jalan buntu' untuk
memungkinkan kebebasan pergerakan bagi individu yang lebih rendah.
• Ruangan mencakup setidaknya satu pintu transfer ke kandang outdoor.
• Jika memungkinkan, kera besar yang terpisah memiliki akses visual dan
taktil ke anggota kelompok untuk memfasilitasi reintroduksi.

e. Halaman perpindahan untuk kera besar seharusnya memiliki ukuran


minimum 200 kaki persegi (18,6 m2) per pasangan yang kompatibel, dengan

12
tambahan 50 kaki persegi (4,6 m2) per hewan tambahan. Dimensi vertikal
minimum 15 kaki (4,6 m).
• Disarankan agar ini termasuk setidaknya dua (2) pintu ke kandang
dalam untuk mencegah individu dominan menghalangi akses ke tempat
teduh, matahari, makanan, ruang yang diinginkan, mitra sosial, atau
item pengkayaan lainnya.
• Halaman perpindahan beratap atau memiliki atap jala karena ukuran
kecil kandang dan jarak lompat kera besar.
• Fasilitas mencakup beberapa sub-kandang sehingga kera dapat
dipindahkan untuk memungkinkan segregasi sementara individu atau
subkelompok dan untuk akses staf yang aman ke kandang untuk
pembersihan, pemeliharaan, dll.

2.2 Teori Pendekatan Arsitektur Hijau

2.2.1 Pengertian Arsitektur Hijau


Green Architecture adalah sebuah proses perancangan dalam
mengurangi dampak lingkungan yang kurang baik, meningkatkan
kenyamanan manusia dengan meningkatkan Efisiensi, Pengurangan
penggunaan sumberdaya energi, pemakaian lahan, dan pengolahan
sampah efektif dalam tataran arsitektur. (Kwok, Alison G & Grondzik,
Walter T. 2007. )

Tujuan utama dari arsitektur hijau adalah menciptakan desain


ekologis, arsitektur yang ramah lingkungan, dan pembangunan
berkelanjutan. Implementasi arsitektur hijau dapat dilakukan dengan
meningkatkan efisiensi penggunaan energi, air, dan bahan-bahan yang
mengurangi dampak bangunan terhadap kesehatan. Proses
perancangan arsitektur hijau mencakup aspek tata letak, konstruksi,
operasi, dan pemeliharaan bangunan.

13
2.2.2 Prinsip Arsitektur Hijau
Prinsip-prinsip Arsitektur Hijau menurut Brenda dan Robert Vale,
1991, Green Architecture Design fo Sustainable Future :

1. Conserving Energy (Hemat Energi)


Desain bangunan harus mampu memodifikasi iklim dan dibuat
beradaptasi dengan lingkungan bukan merubah lingkungan
yang sudah ada.

Lebih jelasnya dengan memanfaatkan potensi matahari sebagai


sumber energi. Cara mendesain bangunan agar hemat energi,
antara lain:
• Bangunan dibuat memanjang dan tipis untuk
memaksimalkan pencahayaan dan menghemat energi
listrik.
• Memanfaatkan energi matahari yang terpancar dalam
bentuk energi thermal sebagai sumber listrik dengan
menggunakan alat Photovaltai yang diletakkan di atas
atap. Sedangkan atap dibuat miring dari atas ke bawah
menuju dinding timur-barat atau sejalur dengan arah
peredaran matahari untuk mendapatkan sinar matahari
yang maksimal.
• Memasang lampu listrik hanya pada bagian yang
intensitasnya rendah. Selain itu juga menggunakan alat
kontrol pengurangan intensitas lampu otomatis
sehingga lampu hanya memancarkan cahaya sebanyak
yang dibutuhkan sampai tingkat terang tertentu.

14
• Menggunakan Sunscreen pada jendela yang secara
otomatis dapat mengatur intensitas cahaya dan energi
panas yang berlebihan masuk ke dalam ruangan.
• Mengecat interior bangunan dengan warna cerah tapi
tidak menyilaukan, yang bertujuan untuk meningkatkan
intensitas cahaya..
• Bangunan tidak menggunkan pemanas buatan, semua
pemanas dihasilkan oleh penghuni dan cahaya matahari
yang masuk melalui lubang ventilasi.
• Meminimalkan penggunaan energi untuk alat pendingin
(AC) dan lift

2. Working with Climate (memanfaatkan kondisi dan sumber


energi alami)
Melalui pendekatan green architecture bangunan beradaptasi
dengan lingkungannya. Hal ini dilakukan dengan
memanfaatkan kondisi alam, iklim dan lingkungannya sekitar
ke dalam bentuk serta pengoperasian bangunan, misalnya
dengan cara:
• Orientasi bangunan terhadap sinar matahari.
• Menggunakan sistem air pump dan cros ventilation
untuk mendistribusikan udara yang bersih dan sejuk ke
dalam ruangan.
• Menggunakan tumbuhan dan air sebagai pengatur
iklim.
• Menggunakan jendela dan atap yang sebagian bisa
dibuka dan ditutup untuk mendapatkan cahaya dan
penghawaan yang sesuai kebutuhan.

15
3. Respect for Site (Menanggapi keadaan tapak pada bangunan)
Perencanaan mengacu pada interaksi antara bangunan dan
tapaknya. Hal ini dimaksudkan keberadan bangunan baik dari
segi konstruksi, bentuk dan pengoperasiannya tidak merusak
lingkungan sekitar.
• Mempertahankan kondisi tapak dengan membuat
desain yang mengikuti bentuk tapak yang ada.
• Luas permukaan dasar bangunan yang kecil, yaitu
pertimbangan mendesain bangunan secara vertikal.
• Menggunakan material lokal dan material yang tidak
merusak lingkungan.

4. Respect for User (Memperhatikan pengguna bangunan)


Kebutuhan akan green architecture harus memperhatikan
kondisi pemakai yang didirikan di dalam perencanaan dan
pengoperasiannya.

5. Limitting New Resources (Meminimalkan Sumber Daya Baru)


Mengoptimalkan material yang ada dengan meminimalkan
penggunaan material baru, dimana pada akhir umur bangunan
dapat digunakan kembali unutk membentuk tatanan arsitektur
lainnya.

6. Holistic
Memiliki pengertian mendesain bangunan dengan menerapkan
5 poin di atas menjadi satu dalam proses perancangan. Prinsip-
prinsip green architecture pada dasarnya tidak dapat

16
dipisahkan, karena saling berhubungan satu sama lain. Tentu
secara parsial akan lebih mudah menerapkan prinsip-prinsip
tersebut. Oleh karena itu, sebanyak mungkin dapat
mengaplikasikan green architecture yang ada secara
keseluruhan sesuai potensi yang ada di dalam site

2.3 Tinjauan Preseden

2.3.1 Sequis Center

Architects: -

Lokasi : Jakarta, Indonesia

Area : 13.000 m2

Gambar 2.1 Sequis Center

(Sumber : SGPC)

Sequis Center merupakan bangunan kantor sewa berlokasi di Kawasan Business


District SCBD. Diantara beberapa bangunan disekitar, Sequis Center merupakan
salah satu bangunan yang menerapkan konsep hijau dimana dikenal dengan istilah
green construction.

17
Menurut CEO Fairpont, Jusuf Halimi (2015) bangunan ini meraih Gold Green
Buildingkarena efisiensi penghematan energi serta penghematan air. Analisa data
dari pengumpulandata yang telah dilakukan dengan mengevaluasi bangunan Sequis
Center menggunakan prinsip-prinsip Arsitektur Hijau menurut Brenda dan Robert
Vale(1991), adalah sebagai berikut:

1. Conserving Energy
• Bengunan ini menggunakan secondary skin menyerupai sarang lebah
pada fasad dimana hal ini berfungsi me-reduce panas matahari dari
luar masuk ke dalam bangunan. Selain itu juga menggunakan
perangkat bangunan ramah lingkungan dan efisien seperti penggunaan
lampu LED.
• Penghematan air menggunakan kran air otomatis dan hemat air
• Bentuk bangunan dibuat seperti daun sehingga panjang dan tipis untuk
memaksimalkan penggunaan energi dalam segi penghawaan dan
pengcahayaan
2. Respect for site
• Menggunakan bahan material ramah lingkungan seperti penggunaan
beton ringan, cat “water base” berbahan non VOC ( volatile organic
compounds ), penggunaan pipa yang bahan tidak beracun, tahan karat,
serta tidak berbau
3. Working with climate
• Memanfaatkan tumbuhan untuk membuat kesan sejuk dan penggunaan
secondary skin untuk cahaya luar masuk kedalam bangunan
4. Respect for user
• Sequis Center adalah bangunan yang berfokus pada manusia.
Bangunan ini sudah mempertimbangkan pengurangan operating
costuntuk penyewa, salah satunya dengan sistem air yang di sirkulasi
ulang serta penggunaan vegetasi alami. Fasad bangunan ini dibuat

18
berlapis ganda guna mengontrol dan meminimalisir tingkat radiasi
yang masuk. Selain itu, sistemperedupan dan pencahayaan sensor
gerak yang efektif dimanfaatkan juga oleh Sequis Center guna
mengurangi penggunaan konsumsi listrik.

2.3.2 The Panda Pavilions Zoo

Architects: EID Architecture

Lokasi : Chengdu, China 2021

Area : 12809m2

Gambar 2.2 The Panda Pavilions zoo


(Sumber : [Link].)

• Konsep Arsitektur

19
Gambar 2.3 The Panda Pavilions zoo
(Sumber : [Link].)

Paviliun panda ini bertujuan untuk mendorong kolaborasi lintas disiplin


sebagai pusat perawatan bagi panda. Desainnya terstruktur mengelilingi empat
halaman lingkaran terbuka yang berfungsi sebagai taman bermain luar untuk
panda, sambil menciptakan koneksi berkelanjutan dengan alam. Dengan fokus
pada pendidikan, hiburan, dan inspirasi, paviliun panda ini dirancang untuk
memberikan pengalaman budaya yang unik, menggabungkan unsur
penelitian, pendidikan, seni, dan hiburan.

Gambar 2.4 Konsep Desain


(Sumber : [Link].)

Prinsip desain ini menekankan eksploitasi topografi lokasi untuk menciptakan


pengalaman kunjungan yang lebih intens dan imersif. Mungkin melibatkan
penempatan atraksi atau area kegiatan hewan yang mengikuti bentuk alami
dari lahan. Dengan demikian, para pengunjung dapat merasakan hubungan
yang lebih organik dengan lingkungan dan hewan, dengan potensi untuk
mengurangi dampak negatif yang biasanya terkait dengan batasan tradisional,
yang dapat berpengaruh buruk terhadap pengunjung dan hewan.

20
Gambar 2.5 Konsep Desain
(Sumber : [Link].)

Kontrol Jarak Sesuai Kebutuhan:


Berfokus pada pengaturan jarak antara elemen-elemen dalam desain untuk
memenuhi kebutuhan, mencakup jarak antar paviliun, jarak antar zona
aktivitas panda, dan jarak antar fasilitas, terdapat jarak yang beragam antar
paviliun dengan jarak minumal 55 m – 110 m. Tujuannya untuk menciptakan
pengalaman ruang yang nyaman, efisien, dan sesuai dengan fungsional

Pemisahan Area Kegiatan untuk Setiap Panda:


Membagi area aktivitas untuk setiap panda secara terpisah. Hal ini
memperhitungkan kebutuhan setiap panda, seperti area bermain, tempat
tinggal, dan fasilitas lainnya. Pendekatan ini dapat meningkatkan
kesejahteraan hewan dan memastikan bahwa setiap panda memiliki ruang
yang memadai dan sesuai dengan kebutuhan.

Menghubungkan Paviliun untuk Melengkapi Rute Kunjungan:


Fokus pada integrasi antar paviliun untuk membentuk rute kunjungan yang
terpadu. Ini melibatkan desain jalur yang memungkinkan pengunjung untuk
mengalami seluruh kompleks paviliun dengan alur yang terarah.

• Detail Arsitektural

21
Fasad pada cincin tersebut menggunakan material lembaran alumunium
dengan finishing serat kayu, tabung alumunium dengan finishing serat kayu,
dan kaca laminasi berwarna putih

Gambar 2.6 Konsep Fasad


(Sumber : [Link].)

• Zonasi dan sirkulasi

Gambar 2.7 Konsep Sirkulasi


(Sumber : [Link].)

Pada setiap paviliun memilki alur sirkulasi yang sama, yaitu mengitari
bangunan dengan atraksi yang berbeda, pada akhirnya semua akan menuju
tempat yang lebih tinggi untuk melihat atraksi panda di taman terbuka.

22
Gambar 2.8 Konsep Zonasi
(Sumber : [Link].)

Pembagian zona dilakukan berdasarkan jenis kegiatan yang dilakukan di


dalam Paviliun panda, pada zona hijau merupakan area tempat stok bambu,
pada zona biru merupakan kantor pengelola, pada zona kuning terdapat
tempat tinggal indoor bagi panda, dan pada zona merah terdapat ruangan
bermain panda, semua ruang dihubungkan dengan koridor dimana
pengunjung dapat mengakses dan melihat secara transparan kegiatan panda
yang ada di dalam maupun di luar.

2.3.3 Great Ape House

Architects: Hascher Jehle Architektur

Lokasi : Stuttgart, Germany 2013

Area : 3154m2

23
Gambar 2.9 Great Ape House
(Sumber : [Link].)

• Konsep Arsitektur

Gambar 2.10 Konsep desain


(Sumber : [Link].)

Desain lanskap ini menitikberatkan pada dua tema utama: 'crest' (puncak),
yang didefinisikan sebagai ujung atau tepian pada struktur bangunan, dan
'forest' (hutan), yang mencakup integrasi elemen alam atau hutan baik di
dalam maupun di luar ruangan.

Gambar 2.11 Konsep desain


(Sumber : [Link].)

24
Konsep 'Hutan' diimplementasikan melalui penggunaan atap struktur baja
pada corral luar, menciptakan hutan buatan yang tidak hanya memiliki fungsi
statis, tetapi juga berperan sebagai palang monyet untuk kandang. Hal ini
memberikan ilusi kepada pengunjung bahwa mereka berada di hadapan suatu
hutan.

• Detail Arsitektur

Gambar 2.12 Konsep desain


(Sumber : [Link].)

Ventilasi alami dan ventilasi silang, Atap hijau sebagai pelindung panas
dimusim panas, pendinginan melalui penguapan, dan meningkatkan iklim
mikro di bulan-bulan musim panas.

• Zonasi dan sirkulasi

Gambar 2.13 Konsep desain


(Sumber : [Link].)

25
Pembagian zona dilakukan berdasarkan jenis kegiatan yang dilakukan di
dalam Rumah Gorila, pada zona hijau merupakan area publik sperti wc
umum, pada zona kuning merupakan kantor pengelola, pada zona merah
terdapat tempat tinggal indoor bagi gorila, dan pada zona area hijau terbuka
terdapat ruangan outdoor untuk gorila, semua ruang dihubungkan dengan
koridor dimana pengunjung dapat mengakses dan melihat secara transparan
kegiatan gorila yang ada di dalam maupun di luar.

2.4 Kesimpulan Preseden


2.4.1 Kesimpulan Terkait Tipologi

Learning The Panda Pavilions Great Ape House


Point Zoo
Bentukan Bentukan massa Bentukan massa membentuk
massa terinspirasi dari landskap ‘crest’ dengan konsep
alam sekitar dan menggabungkan antara
memadukan unsur bangunan dan alam
kepercayaan China yaitu
yin dan yang
Sirkulasi Menggunakan sirkulasi Sirkulasi memiliki jenis
dalam linear radial yaitu jaringan dengan sirkulasi
bangunan memutar dari titik start yang menghubungkan antar
ke akhir ruang
Konsep Menggunakan metode Menggunakan metode
penangkaran pengangkaran indoor dan penangkaran indoor dan
outdoor disesuaikan outdoor disesuaikan dengan
dengan jenis kegiatan jenis kegiatan yang

26
yang di lakukan dilakukan, tetapi outdoor
juga memiliki semacam
pelingkub jaring.
Fasilitas Terdapat fasilitas Terdapat fasilitas
pendukung perawatan,pendidikan, perawatan, pendidikan,
pertunjukan,penelitian, ruang pameran,
pendidikan, dan ruang
pameran

Tabel 2.1 kesimpulan preseden


(Sumber :Analisa pribadi 2024)

2.4.2 Kesimpulan Terkait Pendekatan

Berdasarkan analisis yang dilakukan maka benar adanya jika Sequis Center
menerapkan arsitektur hijau dimana bangunan ini bersifat berkelanjutan, ramah
lingkungan sekitar,serta dapat menyesuaikan dengan kondisi lingkungan di
sekitarnya.

BAB III

METODE PERANCANGAN

3.1 Tinjauan Lokasi

3.1.1 Kondisi Administratif dan Geografi

27
Gambar 3.1 Peta Panajam Paser Utara
(Sumber : [Link]

Penajam Paser Utara adalah sebuah kabupaten di provinsi Kalimantan


Timur, Indonesia. Ibu kotanya terletak di Penajam. Kabupaten ini berbatasan
dengan Kabupaten Kutai Kartanegara di sebelah Utara, sebelah timur
berbatasan dengan Selat Makassar dan sebelah selatan berbatasan dengan
Kabupaten Paser serta sebelah barat berbatasan dengan Kabupaten Kutai
Barat. Jumlah penduduk kabupaten ini pada tahun 2020 berjumlah 181.349
jiwa, dengan kepadatan 54 jiwa/km2. Penajam Paser Utara merupakan
kabupaten hasil pemekaran dari Kabupaten Pasir (kini Paser) pada tahun
2002. Sebagian dari daerah kabupaten ini dan Kabupaten Kutai Kartanegara
yaitu Kawasan Taman Hutan Raya Bukit Soeharto telah ditunjuk oleh
Presiden Joko Widodo untuk dijadikan lokasi Ibukota Negara (IKN) baru dan
telah memiliki payung hukum, seperti halnya Jonggol, Bogor yang ditunjuk
sebagai kandidat Ibukota Negara (IKN) oleh Presiden Soeharto pada tahun
1994, tetapi kandas bersamaan dengan runtuhnya rezim Orde Baru.
Rencananya lokasi pusat pemerintahan negara akan berdiri di Kecamatan
Sepaku yang secara geografis berdekatan dengan Kota Balikpapan

3.1.2 Perda RTRW Kab. Panajam Paser Utara 2013-2033

28
Gambar 3.2 Peta Rencana Pola Ruang Wilayah Ibu kota Nusantara
(Sumber : [Link]

Tujuan Penataan Ruang Pasal 1

Ruang lingkup wilayah perencanaan tata ruang dalam RTRW Kabupaten

daerah dalam pengertian wilayah administrasi yang meliputi 4 (empat)

Kecamatan, yaitu: Kecamatan Penajam, Waru, Babulu, Sepaku.

Kebijakan Penataan Ruang Pasal 3

(1) Untuk mewujudkan tujuan penataan ruang wilayah sebagaimana dimaksud

dalam Pasal 2 disusun kebijakan penataan ruang wilayah.

(2) Kebijakan penataan ruang wilayah sebagaimana dimaksud pada ayat (1)

meliputi:

a. pengembangan kawasan agribisnis berbasis potensi lokal;


b. pengembangan industri lokal dan agroindustri yang berdaya saing
berpotensi yang berwawasan lingkungan;
c. pengembangan perikanan tangkap dengan memperhatikan aspek
ekologis;
d. pengembangan potensi pertambangan yang berlandaskan pada aspek
keseimbangan ekologis dan sosial budaya lingkungan sekitar
e. pengembangan pengaturan resiko pada kawasan rawan bencana;
f. pengembangan prasarana wilayah dan prasarana lingkungan; dan
g. pengendalian secara ketat pada kawasan lindung dengan berbasis
pembangunan berkelanjutan.
h. peningkatan fungsi kawasan untuk pertahanan dan keamanan
negara.

29
Dalam Peraturan tersebut, terdapat 1 kebijakan kawasan lindung
dengan berbasis pembangunan berkelanjutan, Dimana dalam strategi
penataan ruang pada pasal 4 disebutkan bahwa :
a. memantapkan fungsi kawasan tahura dan hutan lindung;
b. meningkatkan kualitas kawasan resapan air;
c. memantapkan kawasan perlindungan setempat;
d. memantapkan fungsi dan nilai manfaatnya pada kawasan suaka
alam,pelestarian alam, dan cagar budaya;
e. menghindari kawasan rawan bencana sebagai kawasan terbangun
f. memantapkan wilayah kawasan lindung geologi

3.1.3 Perpres Kawasan Pengembangan Ibu Kota Nusantara (KPIKN)


Untuk mencapai KPI yang telah ditetapkan, disusun arahan perencanaan
ruang di Wilayah Ibu Kota Nusantara maupun daerah sekitar yang berbatasan
langsung dengan merujuk pada kebijakan yang dihasilkan dari kajian berbagai
aspek. Setiap aspek kebijakan diterjemahkan ke dalam dengan strategi
penataan ruang seperti tercantum pada Tabel berikut :

Prinsip Deskripsi Kebijakan Strategi


KPI Penataan Ruang
Selaras >75% dari Lingkungan : l. Moratorium izin baru usaha
dengan 256.142 Pencegahan perkebunan dan tambang pada
alam hektare area deforestasi kawasan hutan dan area berhutan.
untuk ruang 2. Mencabut atau tidak
hijau memperpanjang izin eksisting
(65%area penggunaan kawasan hutan
dilindungi (perkebunan dan pertambangan).
dan l0% Lingkungan : Mengakomodasi koridor satwa

30
produksi Konservasi dan kawasan denga.n nilai
pangan) keanekaraga keanekaragaman hayati tinggi ke
man hayati dalam penataan ruang.
Lingkungan : Mengakomodasi kawasan
Konservasi konservasi in-situ ke dalam
in-situ penataan ruang, antara lain:
eksisting dan kawasan hutan (termasuk Taman
yang Hutan Raya Bukit Soeharto),
direncanakan kawasan hutan bakau, koridor
di wilayah satwa, dan taman.
Ibukota
Nusantara
Lingkungan : 1. Meningkatkan peran konservasi
Konservasi ex-situ seperti yayasan Borneo
in-situ Orangutan Survival (BOS)
eksisting dan Samboja Lestari (BOSF), Yayasan
yang Jejak Pulang, dan Pusat Suaka
direncanakan Orangutan (PSO) Arsari.
di wilayah 2. Mengembangkan konservasi
Ibukota ex-situ yang potensial diwilayah
Nusantara Ibukota Nusantara, antara lain :
a. Pusat penyelamatan satwa
b. Pusat rehabilitasi satwa

Tabel 3.1 perpres strategi penataan ruang


(Sumber : [Link]

31
3.1.4 Aspek Pemilihan Site
Pemilihan lokasi perancangan didasarkan pada beberapa pertimbangan yang
perlu diperhatikan untuk merancang Pusat suaka orang utan aspek aspek
tersebut merupakan :

Pertimbangan Penjelasan
Tata guna Perancangan Pusat suaka harus sesuai dengan peraturan
lahan RTRW dan Perpres agar sesuai dengan regulasi dan
rencana yang sudah ditetapkan pemerintah.
Akses Lokasi site memiliki jalur akses eksisting yang dapat
digunakan sebagai jalur sirkulasi kendaraan dan memiliki
konseksi akses jaringan telekomunikasi.
Topografi Keadaan eksisting topografi sangat penting karena
menentukan penggunaan material dan struktur, topografi
yang diharapkan adalah topografi dengan kondisi tanah
keras dan dekat dengan air
Luas area Ketersediaan lahan dalam mencukupi kebutuhan bangunan

Tabel 3.2 perpres strategi penataan ruang


(Sumber : [Link]

3.1.5 Alternatif Site


Berdasarkan aspek pertimbangan tersebut, terdapat 1 site utama yang dapat di
pertimbangkan sebagai lokasi perancangan Wild Life Sanctuary, lokasi
tersebut berada di Panajam paser utara :

1. Site utama terletak di Pulau Kelawasan, Penajam utara, Kalimantan timur,


dengan luas lahan 247 hektar. Pemilihan lokasi dikarenakan Yayasan
Arsari dipercaya oleh otorita IKN mengelola pulau kelawasan yang akan

32
di bangun pusat konservasi Orang Utan IKN dengan luas lahan 247
hektar.

Gambar 3.4 Site Pulau Kelawasan, Maridan, Sepaku


(Sumber : Google maps 2024)

3.2 Kerangka Alur Perancangan

Gambar 3.5 Kerangka alur perancangan


(Sumber : Analisis pribadi,2024)

33
3.3 Analisis Pendekatan dan Kriteria Desain

3.3.1 Bentuk Bangunan dan Orientasi Bangunan


Pada perancangan Pusat Konservasi dan Rehabilitasi menerapkan
arsitektur Hijau dimana nantinya bentuk bangunan akan merespon
eksisting pada site, akan dibuat tipis dan memanjang untuk mencapai
“Conserving Energy” dan Orientasi bangunan menyesuaikan dengan
site tapak, dengan memperhatikan aspek aspek seperti aksesbilitas dan
arah mata angin agar menciptakan kenyamanan bagi hewan maupun
manusia dan juga untuk mencapai prinsip dari arsitektur hijau
“Working with Climate”

3.3.2 Ruang Dalam dan Ruang Luar


Ruang dalam menyesuaikan kebutuhan dan fungsi dari bangunan
dimana nantinya akan menghadirkan konsep alam di ruangan,
menciptakan kesan ruang leluasa dipandang. Untuk ruang luar
dilengkapi dengan penataan landscape dan transparansi.

3.3.3 Kandang Dalam dan Kandang Luar


Kandang dalam menyesuaikan kebutuhan dan fungsi dari satwa
dimana nantinya akan menghadirkan konsep alam di dalam kandang,
dan diberikan fasilitas bermain agar hewan tetap sejahtra.
Pada kandang luar memiliki opsi jaring baja dan dibiarkan terbuka,
pertimbangan ini disesuaikan dengan kriteria hewan yang ada

3.3.4 Material
Meminimalkan penggunaan material baru, menggunakan material
fabrikasi untuk meminimalisir dampak lingkungan, dan menggunakan
cat bebas VOC untuk mencpai “Respect for Site”

34
DAFTAR PUSTAKA

[Link]
dan-pengelolaan-kawasan-lindung-di-ikn

[Link]
02014%20%[Link]

[Link]
[Link]

[Link]
[Link]

[Link]
Sanctuary

JURNAL eDIMENSI ARSITEKTUR Vol. IX, No. 1, (2021), 937 – 944 BALAI
KONSERVASI DAN REHABILITASI ORANG UTAN DI TAMAN NASIONAL
KUTAI

JURNAL eDIMENSI ARSITEKTUR Vol II, No. 1 (2014), 321-327


FASILITAS EKOWISATA ORANG UTAN DI SAMBOJA, KALTIM
EID Architecture. (n.d.). THE PANDA PAVILIONS AT CHENGDU RESEARCH
BASE OF GIANT PANDA BREEDING. Retrieved September 8, 2020 from
[Link]

Russon, A. E. (2009). Orangutan rehabilitation andreintroduction. Orangutans:


Geographic variation in behavioral ecology and conservation. 327-350

35
[Link]
architektur/53f662adc07a80096200066c-great-ape-house-hascher-jehle-architektur-
net-structure?next_project=no

Pemerintah Indonesia. Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi


Sumberdaya Alam Hayati dan Ekosistem.

Global Federation of Animal Sanctuaries Standards For Great Ape Sanctuaries


Version: January, 2013

Jurnal bappenas working papers volume 4 no. 1, 2021 PERSEBARAN SATWA


LANSDSCAPE IKN

[Link] PENARAPAN
ARSITEKTUR HIJAU PADA SEQUIS CENTER JAKARTA

36

Anda mungkin juga menyukai