Pusat Konservasi Orang Utan Arsitektur Hijau
Pusat Konservasi Orang Utan Arsitektur Hijau
KALIMANTAN TIMUR
Disusun oleh :
Rio Tampaty
61200543
2024
ABSTRAK
Pusat Konservasi Dan Rehabilitasi Orang Utan memiliki peran krusial dalam
melindungi dan merawat populasi orangutan yang terancam punah, perancangan
pusat suaka orangutan ini berlokasi di Kabupaten Panajam Paser Utara, Provinsi
Kalimantan Timur, dengan mengintegrasikan pendekatan arsitektur [Link]
ini bertujuan untuk menciptakan bangunan dan fasilitas yang ramah lingkungan,
mendukung keberlanjutan ekologis, serta meminimalkan dampak negatif terhadap
lingkungan alam sekitar. Desain pusat suaka ini menggabungkan elemen-elemen
arsitektur hijau seperti Conserving Energi, Working with Climate dan Respect for
user.
i
ABSTRACT
ii
KEASLIAN PENULIS
iii
DAFTAR ISI ..............................................................................................................IV
BAB 1 PENDAHULUAN ........................................................................................... 1
1.1 JUDUL ................................................................................................................... 1
1.2 ARTI JUDUL .......................................................................................................... 1
1.3 LATAR BELAKANG ............................................................................................... 1
1.4 RUMUSAN MASALAH ............................................................................................ 5
1.7 TUJUAN DAN SASARAN ......................................................................................... 6
1.6 METODE PENGUMPULAN DATA ............................................................................. 7
BAB II TINJAUAN LITERATUR ............................................................................ 7
2.1 PUSAT KONSERVASI DAN REHABILITASI ORANG UTAN ....................................... 7
2.1.1 Pengertian Pusat Konservasi Dan Rehabilitasi Orang Utan ....................... 7
2.1.2 Fungsi Pusat Konservasi Dan Rehabilitasi Orang Utan.............................. 8
2.1.3 Klasifikasi Konservasi .................................................................................. 8
2.1.4 Standar Fasilitas Konservasi ........................................................................ 9
2.2 TEORI PENDEKATAN ARSITEKTUR HIJAU ........................................................... 13
2.2.1 Pengertian Arsitektur Hijau........................................................................ 13
2.2.2 Prinsip Arsitektur Hijau ............................................................................. 14
2.3 TINJAUAN PRESEDEN .......................................................................................... 17
2.3.1 Sequis Center .............................................................................................. 17
2.3.2 The Panda Pavilion Zoo ............................................................................. 19
2.3.3 Great Ape House ......................................................................................... 23
2.4 Kesimpulan Preseden .................................................................................... 26
BAB III METODE PERANCANGAN .................................................................... 27
3.1 TINJAUAN LOKASI .............................................................................................. 27
3.1.1 Kondisi Administrarif Dan Geografi ......................................................... 27
3.1.2 Perda RTRW Kab. Panajam Paser Utara .................................................. 28
3.1.3 Perpres Kawasan Pengembangan Ibu Kota Nusantara (KPIKN).............. 30
3.1.4 Aspek Pemilihan Site .................................................................................. 32
3.1.5 Alternatif Site .............................................................................................. 32
3.2 KERANGKA ALUR PERANCANGAN ...................................................................... 33
3.3 ANALISIS PENDEKATAN DAN KRITERIA DESAIN ................................................. 34
3.3.1 Bentuk Bangunan dan Orientasi Bangunan ............................................... 34
3.3.2 Ruang Dalam dan Ruang Luar ................................................................... 34
3.3.3 Kandang Dalam dan Kandang Luar .......................................................... 34
3.3.4 Material ...................................................................................................... 34
DAFTAR PUSTAKA ................................................................................................ 35
iv
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Judul
Perancangan Konservasi & Rehabilitasi Orang Utan di Nusantara dengan
pendekatan Arsitektur Hijau
1.2 Arti Judul
1
pada tahun 2020 berjumlah 181.349 jiwa, dengan kepadatan 54 jiwa/km2.
Penajam Paser Utara merupakan kabupaten hasil pemekaran dari Kabupaten Pasir
(kini Paser) pada tahun 2002. Sebagian dari daerah kabupaten ini dan Kabupaten
Kutai Kartanegara yaitu Kawasan Taman Hutan Raya Bukit Soeharto.
Dalam draf RUU IKN yang diterima CNBC Indonesia IKN di Kalimantan
Timur akan berada di atas wilayah tanah seluas 256.142 hektar dengan beberapa
batas wilayah. Jelas pasal 6 ayat (2) dikutip RUU IKN, Salah satu dampak dari
pembangunan ibukota negara baru, adalah perubahan besar dalam penggunaan
lahan dan perubahan lingkungan yang berdampak pada ekosistem alam, termasuk
suaka margasatwa yang terancam punah.
Wilayah pusat ibukota Negara (IKN) berada di bekas kawasan Hutan
Tanaman Industri, yang bukan merupakan hutan primer, Direktur Jendral
Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE) Kementrian LHK,
Wiranto dalam keterangan nya di Jakarta (23/02/2022) menyampaikan bahwa
pusat IKN bukanlah merupakan daerah sebaran alami orang utan. Apakah dengan
pernyataan seperti itu dapat menyelesaikan permasalahan ekosistem alam,
bagaimana dengan hewan lainnya yang terancam punah.
2
Tabel 1.1 Grafik Jumlah Spesies Hewan Terancam Punah di IKN
(Sumber : jurnal Bappenas Working Papers Volume 4 No. 1, 2021)
Data ini menunjukan bahwa ada 27 spesies hewan dengan kategori terancam punah di
wilayah IKN, dan terdapat 4 status dengan kategori sangat terancam punah, yaitu
Orang utan Kalimantan, bekantan, Owa kalawat, dan trenggiling. Sebelum adanya
fenomena pemindahan ibukota ke Kalimantan. Sudah banyak juga hewan yang di
kategorikan terancam punah akibat dari perburuan liar, penebangan hutan, dan
kebakaran hutan.
3
meningkatnya sistem jaringan jalan dan lalu lintas, maka aktivitas akan meningkat
juga.
4
Gambar 1.3 Endangered Animal Owa kalawat
(Sumber : [Link])
5
konservasi dengan menyediakan fasilitas penelitian, kesehatan,
pelatihan dan pendidikan ?
b. Bagaimana merencanakan pengelolaan kebutuhan ruang yang optimal
untuk mendukung kehidupan suaka di dalam Pusat Konservasi dan
Rehabilitasi ?
1.4.2. Permasalahan Arsitektural
a. Bagaimana merancang bangunan yang berkelanjutan yang mampu
menyediakan fasilitas untuk mendukung kegiatan konservasi, dengan
memperhatikan aspek lingkungan dengan pendekatan Arsitektur
Hijau?
6
dapat memberikan dampak yang luas bagi sosial maupun ekosistem
alam.
A. Data Primer
• Observasi, yaitu metode pengumpulan data dan survei lapangan secara tidak
langsung untuk melihat kondisi eksisting site, aktivitas sekitar site, batasan
site dengan lingkungan sekitar, transportasi, dan sirkulasi
• Dokumentasi dari hasil yang didapatkan ketika melakukan kunjungan Site.
B. Data Sekunder
BAB II
TINJAUAN LITERATUR
7
perawatan medis sesuai kebutuhan spesifik yang mungkin dihadapi oleh
individu-individu tersebut. Dengan demikian, pusatt Konservasi dan
Rehabilitasi ini bukan hanya sebagai tempat perlindungan fisik, tetapi juga
sebagai wadah yang berkomitmen untuk menyelamatkan, merawat, dan
mendukung proses pemulihan orangutan yang rentan dan terancam tersebut.
8
mempertahankan keanekaragaman genetik dan menjamin pemanfaatan jenis
secara lestari dan berkelanjutan.
2) Ex situ :
Konservasi Ex Situ (di luar kawasan) adalah upaya konservasi yang dilakukan
dengan menjaga dan mengembangbiakkan jenis tumbuhan dan satwa di luar
habitat alaminya dengan cara pengumpulan jenis, pemeliharaan dan budidaya
(penangkaran). Tempat-tempat konservasi Ex Situ dilakukan pada tempat-
tempat seperti kebun binatang, kebun botani, taman hutan raya, kebun raya,
penangkaran satwa, taman safari, taman kota dan taman burung.
9
c. Memiliki sarana pemeliharaan dan perawatan satwa, sekurang-
kurangnya terdiri atas:
1) kandang pemeliharaan;
2) kandang habituasi;
3) kandang transport yang sesuai dengan jenis satwa;
4) naungan; dan
5) prasarana pendukung pengelolaan satwa yang lain (gudang pakan);
d. Memiliki fasilitas kesehatan minimal yang berfungsi sebagai karantina
dan klinik;
e. Memiliki tenaga kerja permanen sesuai bidang keahliannya,
sekurangkurangnya terdiri atas:
1) dokter hewan;
2) tenaga paramedis;
3) perawat satwa (animal keeper);
4) tenaga keamanan; dan
5) tenaga administrasi.
f. Memiliki fasilitas kantor pengelola;
g. Memiliki fasilitas pengelolaan limbah
10
3) kandang transport yang sesuai dengan jenis satwa;
4) naungan;
5) gudang pakan; dan
6) prasarana pendukung pengelolaan satwa yang lain.
d. memiliki fasilitas kesehatan, sekurang-kurangnya terdiri atas:
1) karantina;
2) klinik; dan
3) koleksi obat.
e. memiliki tenaga kerja permanen sesuai bidang keahliannya,
sekurangkurangnya terdiri atas:
1. Dokter hewan;
2. Tenaga paramedis;
3. Perawat satwa (animal keeper);
4. Tenaga keamanan; dan
5. Tenaga administrasi.
f. Memiliki fasilitas kantor pengelola; dan
g. Memiliki fasilitas pengolahan sampah
11
berfokus pada latihan fisik dan mental daripada makanan, untuk menggantikan
ruang dan kompleksitas yang dikurangi.
c. Kandang outdoor untuk kera besar memiliki ukuran minimum 5.000 kaki
persegi (464,5 m2) per 5 kera besar, dengan tambahan 250 kaki persegi (23,2
m2) untuk setiap individu tambahan. Bentuk kandang dapat bervariasi untuk
mengambil fitur alami di lanskap seperti formasi batu, bukit, dan pohon, dan
untuk kandang beratap harus ada dimensi vertikal minimum 20 kaki (6 m).
Ruang ini mencakup setidaknya satu pintu transfer hewan yang mengarah ke
kandang dalam.
12
tambahan 50 kaki persegi (4,6 m2) per hewan tambahan. Dimensi vertikal
minimum 15 kaki (4,6 m).
• Disarankan agar ini termasuk setidaknya dua (2) pintu ke kandang
dalam untuk mencegah individu dominan menghalangi akses ke tempat
teduh, matahari, makanan, ruang yang diinginkan, mitra sosial, atau
item pengkayaan lainnya.
• Halaman perpindahan beratap atau memiliki atap jala karena ukuran
kecil kandang dan jarak lompat kera besar.
• Fasilitas mencakup beberapa sub-kandang sehingga kera dapat
dipindahkan untuk memungkinkan segregasi sementara individu atau
subkelompok dan untuk akses staf yang aman ke kandang untuk
pembersihan, pemeliharaan, dll.
13
2.2.2 Prinsip Arsitektur Hijau
Prinsip-prinsip Arsitektur Hijau menurut Brenda dan Robert Vale,
1991, Green Architecture Design fo Sustainable Future :
14
• Menggunakan Sunscreen pada jendela yang secara
otomatis dapat mengatur intensitas cahaya dan energi
panas yang berlebihan masuk ke dalam ruangan.
• Mengecat interior bangunan dengan warna cerah tapi
tidak menyilaukan, yang bertujuan untuk meningkatkan
intensitas cahaya..
• Bangunan tidak menggunkan pemanas buatan, semua
pemanas dihasilkan oleh penghuni dan cahaya matahari
yang masuk melalui lubang ventilasi.
• Meminimalkan penggunaan energi untuk alat pendingin
(AC) dan lift
15
3. Respect for Site (Menanggapi keadaan tapak pada bangunan)
Perencanaan mengacu pada interaksi antara bangunan dan
tapaknya. Hal ini dimaksudkan keberadan bangunan baik dari
segi konstruksi, bentuk dan pengoperasiannya tidak merusak
lingkungan sekitar.
• Mempertahankan kondisi tapak dengan membuat
desain yang mengikuti bentuk tapak yang ada.
• Luas permukaan dasar bangunan yang kecil, yaitu
pertimbangan mendesain bangunan secara vertikal.
• Menggunakan material lokal dan material yang tidak
merusak lingkungan.
6. Holistic
Memiliki pengertian mendesain bangunan dengan menerapkan
5 poin di atas menjadi satu dalam proses perancangan. Prinsip-
prinsip green architecture pada dasarnya tidak dapat
16
dipisahkan, karena saling berhubungan satu sama lain. Tentu
secara parsial akan lebih mudah menerapkan prinsip-prinsip
tersebut. Oleh karena itu, sebanyak mungkin dapat
mengaplikasikan green architecture yang ada secara
keseluruhan sesuai potensi yang ada di dalam site
Architects: -
Area : 13.000 m2
(Sumber : SGPC)
17
Menurut CEO Fairpont, Jusuf Halimi (2015) bangunan ini meraih Gold Green
Buildingkarena efisiensi penghematan energi serta penghematan air. Analisa data
dari pengumpulandata yang telah dilakukan dengan mengevaluasi bangunan Sequis
Center menggunakan prinsip-prinsip Arsitektur Hijau menurut Brenda dan Robert
Vale(1991), adalah sebagai berikut:
1. Conserving Energy
• Bengunan ini menggunakan secondary skin menyerupai sarang lebah
pada fasad dimana hal ini berfungsi me-reduce panas matahari dari
luar masuk ke dalam bangunan. Selain itu juga menggunakan
perangkat bangunan ramah lingkungan dan efisien seperti penggunaan
lampu LED.
• Penghematan air menggunakan kran air otomatis dan hemat air
• Bentuk bangunan dibuat seperti daun sehingga panjang dan tipis untuk
memaksimalkan penggunaan energi dalam segi penghawaan dan
pengcahayaan
2. Respect for site
• Menggunakan bahan material ramah lingkungan seperti penggunaan
beton ringan, cat “water base” berbahan non VOC ( volatile organic
compounds ), penggunaan pipa yang bahan tidak beracun, tahan karat,
serta tidak berbau
3. Working with climate
• Memanfaatkan tumbuhan untuk membuat kesan sejuk dan penggunaan
secondary skin untuk cahaya luar masuk kedalam bangunan
4. Respect for user
• Sequis Center adalah bangunan yang berfokus pada manusia.
Bangunan ini sudah mempertimbangkan pengurangan operating
costuntuk penyewa, salah satunya dengan sistem air yang di sirkulasi
ulang serta penggunaan vegetasi alami. Fasad bangunan ini dibuat
18
berlapis ganda guna mengontrol dan meminimalisir tingkat radiasi
yang masuk. Selain itu, sistemperedupan dan pencahayaan sensor
gerak yang efektif dimanfaatkan juga oleh Sequis Center guna
mengurangi penggunaan konsumsi listrik.
Area : 12809m2
• Konsep Arsitektur
19
Gambar 2.3 The Panda Pavilions zoo
(Sumber : [Link].)
20
Gambar 2.5 Konsep Desain
(Sumber : [Link].)
• Detail Arsitektural
21
Fasad pada cincin tersebut menggunakan material lembaran alumunium
dengan finishing serat kayu, tabung alumunium dengan finishing serat kayu,
dan kaca laminasi berwarna putih
Pada setiap paviliun memilki alur sirkulasi yang sama, yaitu mengitari
bangunan dengan atraksi yang berbeda, pada akhirnya semua akan menuju
tempat yang lebih tinggi untuk melihat atraksi panda di taman terbuka.
22
Gambar 2.8 Konsep Zonasi
(Sumber : [Link].)
Area : 3154m2
23
Gambar 2.9 Great Ape House
(Sumber : [Link].)
• Konsep Arsitektur
Desain lanskap ini menitikberatkan pada dua tema utama: 'crest' (puncak),
yang didefinisikan sebagai ujung atau tepian pada struktur bangunan, dan
'forest' (hutan), yang mencakup integrasi elemen alam atau hutan baik di
dalam maupun di luar ruangan.
24
Konsep 'Hutan' diimplementasikan melalui penggunaan atap struktur baja
pada corral luar, menciptakan hutan buatan yang tidak hanya memiliki fungsi
statis, tetapi juga berperan sebagai palang monyet untuk kandang. Hal ini
memberikan ilusi kepada pengunjung bahwa mereka berada di hadapan suatu
hutan.
• Detail Arsitektur
Ventilasi alami dan ventilasi silang, Atap hijau sebagai pelindung panas
dimusim panas, pendinginan melalui penguapan, dan meningkatkan iklim
mikro di bulan-bulan musim panas.
25
Pembagian zona dilakukan berdasarkan jenis kegiatan yang dilakukan di
dalam Rumah Gorila, pada zona hijau merupakan area publik sperti wc
umum, pada zona kuning merupakan kantor pengelola, pada zona merah
terdapat tempat tinggal indoor bagi gorila, dan pada zona area hijau terbuka
terdapat ruangan outdoor untuk gorila, semua ruang dihubungkan dengan
koridor dimana pengunjung dapat mengakses dan melihat secara transparan
kegiatan gorila yang ada di dalam maupun di luar.
26
yang di lakukan dilakukan, tetapi outdoor
juga memiliki semacam
pelingkub jaring.
Fasilitas Terdapat fasilitas Terdapat fasilitas
pendukung perawatan,pendidikan, perawatan, pendidikan,
pertunjukan,penelitian, ruang pameran,
pendidikan, dan ruang
pameran
Berdasarkan analisis yang dilakukan maka benar adanya jika Sequis Center
menerapkan arsitektur hijau dimana bangunan ini bersifat berkelanjutan, ramah
lingkungan sekitar,serta dapat menyesuaikan dengan kondisi lingkungan di
sekitarnya.
BAB III
METODE PERANCANGAN
27
Gambar 3.1 Peta Panajam Paser Utara
(Sumber : [Link]
28
Gambar 3.2 Peta Rencana Pola Ruang Wilayah Ibu kota Nusantara
(Sumber : [Link]
(2) Kebijakan penataan ruang wilayah sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
meliputi:
29
Dalam Peraturan tersebut, terdapat 1 kebijakan kawasan lindung
dengan berbasis pembangunan berkelanjutan, Dimana dalam strategi
penataan ruang pada pasal 4 disebutkan bahwa :
a. memantapkan fungsi kawasan tahura dan hutan lindung;
b. meningkatkan kualitas kawasan resapan air;
c. memantapkan kawasan perlindungan setempat;
d. memantapkan fungsi dan nilai manfaatnya pada kawasan suaka
alam,pelestarian alam, dan cagar budaya;
e. menghindari kawasan rawan bencana sebagai kawasan terbangun
f. memantapkan wilayah kawasan lindung geologi
30
produksi Konservasi dan kawasan denga.n nilai
pangan) keanekaraga keanekaragaman hayati tinggi ke
man hayati dalam penataan ruang.
Lingkungan : Mengakomodasi kawasan
Konservasi konservasi in-situ ke dalam
in-situ penataan ruang, antara lain:
eksisting dan kawasan hutan (termasuk Taman
yang Hutan Raya Bukit Soeharto),
direncanakan kawasan hutan bakau, koridor
di wilayah satwa, dan taman.
Ibukota
Nusantara
Lingkungan : 1. Meningkatkan peran konservasi
Konservasi ex-situ seperti yayasan Borneo
in-situ Orangutan Survival (BOS)
eksisting dan Samboja Lestari (BOSF), Yayasan
yang Jejak Pulang, dan Pusat Suaka
direncanakan Orangutan (PSO) Arsari.
di wilayah 2. Mengembangkan konservasi
Ibukota ex-situ yang potensial diwilayah
Nusantara Ibukota Nusantara, antara lain :
a. Pusat penyelamatan satwa
b. Pusat rehabilitasi satwa
31
3.1.4 Aspek Pemilihan Site
Pemilihan lokasi perancangan didasarkan pada beberapa pertimbangan yang
perlu diperhatikan untuk merancang Pusat suaka orang utan aspek aspek
tersebut merupakan :
Pertimbangan Penjelasan
Tata guna Perancangan Pusat suaka harus sesuai dengan peraturan
lahan RTRW dan Perpres agar sesuai dengan regulasi dan
rencana yang sudah ditetapkan pemerintah.
Akses Lokasi site memiliki jalur akses eksisting yang dapat
digunakan sebagai jalur sirkulasi kendaraan dan memiliki
konseksi akses jaringan telekomunikasi.
Topografi Keadaan eksisting topografi sangat penting karena
menentukan penggunaan material dan struktur, topografi
yang diharapkan adalah topografi dengan kondisi tanah
keras dan dekat dengan air
Luas area Ketersediaan lahan dalam mencukupi kebutuhan bangunan
32
di bangun pusat konservasi Orang Utan IKN dengan luas lahan 247
hektar.
33
3.3 Analisis Pendekatan dan Kriteria Desain
3.3.4 Material
Meminimalkan penggunaan material baru, menggunakan material
fabrikasi untuk meminimalisir dampak lingkungan, dan menggunakan
cat bebas VOC untuk mencpai “Respect for Site”
34
DAFTAR PUSTAKA
[Link]
dan-pengelolaan-kawasan-lindung-di-ikn
[Link]
02014%20%[Link]
[Link]
[Link]
[Link]
[Link]
[Link]
Sanctuary
JURNAL eDIMENSI ARSITEKTUR Vol. IX, No. 1, (2021), 937 – 944 BALAI
KONSERVASI DAN REHABILITASI ORANG UTAN DI TAMAN NASIONAL
KUTAI
35
[Link]
architektur/53f662adc07a80096200066c-great-ape-house-hascher-jehle-architektur-
net-structure?next_project=no
[Link] PENARAPAN
ARSITEKTUR HIJAU PADA SEQUIS CENTER JAKARTA
36