Guilty
Ini semua berawal dari pertemuan itu. Aku tak tahu-menahu bagaimana perasaan ini bisa
tercipta? Aku tak tahu, bahkan aku tak berusaha mencari tahu, ya memang karena aku tak peduli.
Namun lama-kelamaan, aku terganggu, ya sangat terganggu. Perempuan itu, dulu aku tak
menyukainya, dulu aku tak senang melihatnya, dulu aku tak tahan berada di dekatnya, tapi kenapa?
Kenapa aku menjadi seperti ini!? perempuan yang aneh, tapi kata teman-temanku akulah yang
aneh. Perasaan yang aneh...
Aku, ya aku, kata teman-temanku aku itu adalah orang yang over. Berlebihan, mungkin
benar dan mungkin juga salah. Hanya saja, aku tak menganggap diriku seperti apa yang mereka
katakan. Namun aku sadar, bilamana aku terlalu merasa dengan apa yang aku rasakan. Ya seperti
Caring too Much, Loving too Much, atau juga Hating too Much. Tak salah memang mereka, tapi
aku tak mau mengakuinya. Entah kenapa, yang jelas aku tak mau mengakuinya, aku membencinya
tapi entah itu juga tentang diriku.
Bertemu dengannya, membuatku merasa utuh. Febbie Anne Vionita, nama itu masih saja
bergema dalam kepalaku. Setiap pagi aku selalu mendengarnya, entah darimana, yang pasti aku
terus merasa ada yang mengatakan nama itu. Entah karena penyesalan atau hanya imajinasiku yang
berharap dia di sisiku, aku tak tahu!
“Julius!”
“Oi!”
“Yaelah, pagi-pagi udah ngalamun aja lu”
“Kenapa sih, teriak-teriak ga jelas bangsat!”
“Ya gue khawatir kalo lu kesambet roh-nya batu Ponari”
“Anjing!”
“Hahaha, bergerak tolol, pagi-pagi udah ngalamun ga jelas”
“Huft”
Andrew Lonuigge, temanku yang blasteran Bali-Tegal membuyarkan suara-suara tak jelas
yang sedari aku bangun mengusik kepalaku. Andrew dan aku tinggal bersama di kontrakan, kota
Pelajar. Sejak semester 4, aku dan Andrew hidup bersama hingga lulus dan bekerja dalam
perusahaan yang berbeda. Jika diakumulasikan, aku dan Andrew sudah hidup bersama selama 4
tahun terakhir. Akupun tahu kebejatan Andrew yang selalu membawa pulang perempuan teler
setiap malam minggu, bahkan kemuliaannya yang selalu taat kegereja setiap minggu.
“Febbie lagi?” tebak Andrew
“Hooh”
“Kenapa? Bukannya lu kemarin udah janji ama gue?”
“Ya ga bisa langsung ilang gitu aja Ndrew”
“Lah, nyatanya gue bisa langsung ngelupain Dewi, Nyet”
“Anjing, gue ga kek lu yang cuma deketin cewe karena nafsuan!”
PLAK! Kepalaku digampar remot AC oleh Andrew.
“Emang biadab, bisa ga sih lu Ndrew ga main gampar”
“Hahaha, lagian lu ngatain gue nafsuan”
“Ya mau gimana lagi, adab lu aja biadab”
“Yaudah, daripada terus-terusan kepikiran, gimana kalo lu nanti ikut gue? Besokkan
minggu juga lu libur, mending healing ama gue, Ius”
“Tapikan Nyet, gue kan ga minum”
“Dari dulu aja lu gitu terus, SOK ALIM! Ayolah, daripada setiap pagi gue liat lu ling-lung
kek orang kesambet roh-nya Malin Kundang”
“Andrew Lounigge yang mukanya mirip ketiaknya Adam Levine, gue ini muslim, dan di
Islam, minum khmer atau sesuatu yang memabukkan itu har—“
“—ram! Ah banyak cing-cong lu, orang ga pernah sholat juga kan lu? Gitu aja sok muslim
yang taat!”
“Idih, yaudah deh gas aja yuk, daripada gabut di sini sendiri”
“Nah gitu dong semangat anak muda!!!”
Sore itu, aku dan Andrew pergi ke Bar yang terkenal di Jogja, yakni Liquid. Bar yang
berada di Jalan Magelang kilometer 5 itu memang menjadi Bar yang sering Andrew kunjungi
selama di Jogja. Tepat jam 21.00 aku dan Andrew sampai di Liquid. Aku membuka pintu mini-
cooper Andrew dan berjalan keluar layaknya Liquidholic yang berlalu lalang di pintu masuknya.
Tak lama setelah aku berjalan santai ke pintu masuk Liquid, Andrew merangkulku dari belakang.
“Lu mau Open berapa?” bisiknya seraya merangkulku.
“Yang 3 juta aja, gue perdana dari sekian purnama lho”
“Lu yang traktirkan?”
“Hah!? Oi, kan elu yang ajak gue kesini! Masa gue juga yang nraktir!!!”
“Jangan bilang lu ga bawa dompet”
“Gausah ngalor-ngidul bangsattt!!!” aku memukul pelan pipi Andrew, namun dia dengan
cepat menangkap tangan kananku.
“Sssstttt, diem dulu, nanti gue kasih liat yang harusnya mesti lu lihat”
“Hah? Apaan?” tukasku kaget.
“Udah diem aja, nanti lu tahu. Ayo ah, keburu malem!”
Selepasnya, Andrew melepaskan tangan kiri yang tadi menangkap tangan kananku. Aku
pun segera menyusul Andrew yang masuk ke Bar dahulu. Aku tak perlu membayar tiket untuk
masuk ke Bar, karena Andrew sudah membayarkannya untukku. Setelahnya, giliranku lah yang
membayar biaya Open-Table kepada Barista.
Jarum pendek dari jam tanganku sudah menunjuk angka 1. Kulihat Andrew masih bisa
berdiri dengan normal, sedangkan aku tergeletak seperti tak bernyawa di depannya. Aku masih
bisa mengingatnya, sebelum akhirnya aku terbang di dasar langit. Saat kumembuka mata, aku
sudah di sofa sebuah Apartemen yang tak kukenali, sendirian. Memang bangsat si Andrew
Lonuigge, dia pasti meninggalkanku disini saat aku tepar tadi malam! Aku celingak-celinguk
melihat sekitarku, yang kutemukan hanya isian normal sebuah apartemen kelas atas yang sudah
berantakan, dan ditambah celana dalam wanita berwarna pink dengan merk Victoria yang
berserakan di atas Queens Bed mahal.
“Yo, sudah bangunkah kawanku?” suara yang kukenali, sangat kukenali.
“Hei, Bangsat!!!”
“Ssstttttt!!!! Jaga suaramu Jul” balas Andrew.
“I don’t give a fuck about i---“ aku terkejut mendengar suara cempreng yang berteriak dari
kamar mandi Apartemen.
“Mas Andreee, tolong ambilin CD aku dong”
Aku terdiam beberapa saat setelah mendengar suara wanita di kamar mandi itu. Aku
menatap Andrew dalam-dalam, mengisyaratkan beberapa pertanyaan. Seakan sudah mengetahui
apa yang ingin aku tanyakan, Andrew tersenyum dan mengatakan “Biasa”. Setelah mengetakan
itu, Andrew sigap dan mengambil CD bermerk Victoria itu dan menyerahkannya ke kamar mandi.
Setelah wanita bungkusan Andrew meninggalkan Apartemen yang disewanya. Andrew
lekas duduk di sampingku yang setengah mengantuk dan pusing.
“Jul, tadi saat tidur lu mimpi apa?”
“Emangnya kenapa? Gue ngigau lagi?”
“Yee, kalo itu mah udah kebiaasan lu, cuma tadi lu ngigau dicekek”
“Hah!”
“Hah-Heh-Hah-Heh, beneran lu kek dicekek orang, mimpi apa lu tadi?”
“Ga tahu gue Drew, cuma gue liat Febbie di tengah kabut terus tiba-tiba dia ilang, gue
serasa dicekek kabutnya itu”
“Hmmm, berarti lu itu masih merasa bersalah”
“Ah ngga ah, gue aja dah dimaafin orang tuanya kok”
“Gue dah tahu kalo lu dimaafin sama orang tuanya, tapi lu itu masih menyalahkan diri lu
sendiri atas apa yang menimpa Febbie, Jul”
“Jul, tahu ga? Ada pepatah yang bunyinya ‘Perhaps you love a thing, and it bad for you’
tahu ga?” tambah Andrew.
“Ya gue tahulah, lu kira gue gob---“
“Kalo lu tahu, berarti lakuin aja. Yang ketemu lu itu bukan Febbie, itu cuma imajinasimu
doang kok”
“Ya tapi itu nyata banget Ndrew, dia nyata, dia menyalahkan aku Ndrew”
“Iya, itu nyata makanya lu terlalu takut untuk melupakannya”
“Maksud lu?”
“Maksud gue, perasaan bersalah lu atas kematian Febbie itu nyata!”
Aku terdiam seakan perkataan Andrew merobohkan semua argumentasiku. Febbie,
perempuan anggun yang mati karena ditikam sekelompok preman suruhan musuhku dahulu.
Kukira aku sudah melupakan kenangan itu, namun setelah satu tahun kematiannya, aku didatangi
Febbie saat aku lembur kerja. Matanya merah melototiku, tubuhnya yang berlumuran darah
bergetar hebat, mulutnya terus mencaciku seakan akulah yang membunuhnya.
“Julius, gue kasih tahu ya, terkadang semua hal yang datang itu tak selalu seperti yang kita
bayangkan, dan tak semuanya harus kita ambil. Yang perlu kita lakukan hanyalah menerimanya,
jangan terlalu memikirkannya hingga terjebak pada suatu ketidak-pastian yang pilu”
“Penyesalan itu selalu datang tepat disaat kita merasa bersalah, makanya let it flow aja
karena kita harus terus hidup dan terus melupakan. Kita itu manusia, makanya perasaan bersalah
itu pasti kita rasakan, yang harus kita lakukan ialah melupakan itu. Agar kita terus hidup tanpa
dibayangi masa lalu”
Kata-kata Julius terlalu berterus terang, hingga air mataku terus mengalir membuat basah
kedua pipiku.
“Idih, malah nangis, cengeng banget sih lu, ingat lu itu mantan komandan KHM!”
“Bangsat!!! Ahahahaha, tapi makasih ya Ndrew, mungkin lu benar. Gue cuma
berhalusinasi karena perasaan yang terlalu gue pikirin”
“Ahahaha, yaudah sok lu mandi terus kita pulang”
‘Lah, lu sewa Apartemen ini kan? Langsung pulang? sayang uang Ndrew”
“Bukan tolol, ini Apartemen bokap gue. Gih sono mandi keburu airnya jadi batu!”
“OALAH, oke deh gue mandi”
Setelah jarum jam menunjuk angka 11. Aku dan Andrew langsung pulang ke kontrakan
kami tercinta.