Pharmacon Journal, Vol 1 (2), 2024
[Link]
ISSN: 3032-7970
Pengaruh Pelayanan, Sumber Daya Manusia, Sarana dan Prasarana
Terhadap Beberapa Apotek di Kota Jambi
Hary Saputra, Fefri Ferriyanti
Program Studi Farmasi Progam Sarjana STIKES Keluarga Bunda Jambi, Alamat: [Link] Hasanuddin,
RT.43 [Link] Bakung, Paal Merah, Provinsi Jambi
Email: harrysaputra0712@[Link] Perriantyf@[Link]
Abstrak
Pada penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik responden berdasarkan jenis kelamin, usia,
jabatan, lama kerja di apotek, pekerjaan selain di apotek, hari kerja dalam seminggu, jam kerja per hari,
keberadaan apoteker pendamping, mengetahui hasil dan kesesuaian analisis kualitas pelayanan, sumber
daya manusia, sarana serta prasarana pada beberapa apotek di kota [Link] pengambilan sampel
yaitu purposive sampling. Kriteria inklusi yaitu apotek sudah berdiri lebih dari 5 tahun dan Apoteker
yang berstatus Apoteker Penanggungjawab Apotek yang bersedia berperan melakukan pengisian
kuisioner. Hasil penelitian diperoleh data responden berjenis kelamin perempuan ada 24 orang (80%),
seluruh responden berusia 26 - 35 tahun, posisi sebagai APA (100%), masa kerja sebagian besar (70%)1
- 5 tahun, sebagian besar bekerja 3 - 5 hari per minggu (77%) dan mempunyai jam kerja 4 - 6 jam (100%)
dalam sehari serta memiliki pekerjaan lain. Sumber daya manusia, sarana dan prasarana serta kualitas
pelayanan Apoteker di apotek 100% sudah terlaksana dan sesuai dengan standar. Apotek hendaknya
dapat menjaga pelaksanaan pelayanan kefarmasian yang sudah sesuai dengan standar Peraturan Menteri
Kesehatan Nomor 73 Tahun 2016. Pengelolaan sumber daya manusia serta penyediaan sarana dan
prasarana dapat ditingkatkan lagi terutama pada era digitalisasi.
Kata Kunci: Kualitas Pelayanan, Sumber Daya Manusia, Sarana dan Prasarana
Abstract
This study aims to determine the characteristics of respondents based on gender, age, position, length
of time working in a pharmacy, work other than in a pharmacy, working days in a week, working hours
per day, presence of accompanying pharmacists, knowing the results and suitability of service quality
analysis, resources people, facilities and infrastructure at several pharmacies in the city of Jambi. The
sampling technique was purposive sampling. The inclusion criteria are that the pharmacy has been
established for more than 5 years and the pharmacist has the status of Pharmacist in Charge of the
Pharmacy who is willing to play a role in filling out the questionnaire. The research results showed that
there were 24 female respondents (80%), all respondents were aged 26 - 35 years, the position was APA
(100%), the working period of most (70%) was 1 - 5 years, most worked 3 - 5 days per week (77%) and
work 4 - 6 hours (100%) a day and have another job. Human resources, facilities and infrastructure as
well as the quality of pharmacist service in pharmacies are 100% implemented and in accordance with
standards. Pharmacies should be able to maintain the implementation of pharmaceutical services in
accordance with the standards of Minister of Health Regulation Number 73 of 2016.
Keywords: Quality of Service. Human Resources. Facilities and Infrastructure.
PENDAHULUAN
Kualitas layanan merupakan refleksi persepsi evaluatif konsumen terhadap pelayanan yang
diterima pada suatu waktu tertentu. Kualitas pelayanan ditentukan berdasarkan tingkat pentingnya pada
dimensidimensi pelayanan.. Kualitas sebuah produk serta pelayanan yang bagus memiliki dampak yang
besar terhadap kepuasan pelanggan. Kualitas pelayanan merupakakan sebuah keadaan yang dinamis dan
saling berkaitan dengan faktor produk, faktor layanan, dan faktor sumber daya manusia. Selain itu proses
sertalingkungan yang dapat memenuhi serta mengunggulkan faktor kualitas pelayanan yang diinginkan
Kualitas pelayanan bisa diartikan menjadi taraf kepuasan pelanggan yang didapat dengan cara
pembandingan beberapa faktor pelayanan yang sejenis, sehingga memungkinkan pelanggan untuk
mendapatkan hasil perbandingan tingkat kualitas pelayanan yang didapat pada beberapa perusahaan.
Manajemen Sumber Daya Manusia diperlukan untuk meningkatkan efektivitas sumber daya
manusia dalam [Link] adalah memberikan kepada organisasi satuan kerja yang efektif.
Untuk mencapai tujuan ini, studi tentang manajemen personalia akan menunjukkan bagaimana
seharusnya perusahaan mendapatkan, mengembangkan, menggunakan, mengevaluasi, dan memelihara
karyawan dalam jumlah (kuantitas) dan tipe (kualitas) Pengelolaan SDM modern tidak lagi hanya
terfokus pada pencapaian tujuan perusahaan, tetapi juga harus mampu berpikir seiring dengan
pengembangan kemampuan perusahaan.
Berdasarkan UU RI No. 28, Tahun 2002 tentang bangunan, bangunan yang mengacu pada benda
fisik yang terlihat dengan mata atau dirasakan oleh panca indera serta dikenali oleh pasien, infrastruktur,
yang mengacu pada benda atau jaringan atau fasilitas yang membuat fasilitas yang ada berfungsi
sebagaimana mestinya Apa yang diharapkan dari sebuah rumah sakit memerlukan perhatian khusus
terhadap keselamatan, kesehatan, kenyamanan dan kemudahan (Presiden Republik Indonesia, 2002).
Apotek adalah sarana pelayanan kesehatan untuk membantu meningkatkan kesehatan bagi
masyarakat, apotek juga sebagai tempat praktik tenaga profesi apoteker dalam melakukan pekerjaan
kefarmasian. Pelayanan kefarmasian merupakan subsistem dari pengobatan yang orientasinya langsung
kepada pasien. Layanan medis tersebut memandupasien dalam kehidupan sehari – hari / gaya hidup yang
saling mendukung perawatan pasien agar sukses,memantau hasil pasien, dan bekerja dengan profesional
lain untuk mendapatkan kualitas hidup optimal. (Badu et al., 2019).
Permenkes 2016 Nomor 73 mengenai standar pelayanan kefarmasian, apoteker harus
mempertahankan kemampuan menawarkan serta melaksanakan pelayanan dengan maksimal, membuat
keputusan yang tepat, kemampuan komunikasi antara anggota profesi, memposisikan diri sebagai
pemimpin, menjaga kedisiplinan, keahlian dalam memimpin. Menggunakan sumber daya secara
kompeten, belajar terus menerus sepanjang menjalankan keprofesiannya dan membantu dalam kegiatan
pelatihan – pelaihan serta memiliki kemampuan meluangkan setiap kesempatan dalam meningkatkan
keilmuannya (Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2016).
Apoteker adalah seorang profesional yang memberikan pelayanan kefarmasian pada apotek dan
memumpuni kualifikasi: 1) Mampu menyediakan serta memberikan pelayanan secara baik. Dalam
memberikan pelayanan, apotek harus mampu mengintegrasikan pelayanan ke dalam sistem kesehatan
total untuk menciptakan sistem kesehatan yang berkelanjutan; 2)Memiliki kemampuan untuk
mengambil keputusan secara profesional yang tepat berdasarkan potensi, efektivitas dan efisiensi
penggunaan obat dan alat kesehatan; 3) Mampu berkomunikasi dengan baik terhadap pasien dan tenaga
kesehatan lainnya, baik secara verbal maupun nonverbal, serta menggunakan bahasa yang sesuai dengan
pendengarannya;4) Menempatkan diri sebagai pimpinan dalam situasi multidisipliner, yang mampu
membuat keputusan yang benar dan efektif, mengkomunikasikannya dan mengelola hasil dari keputusan
tersebut; 5) Tetap belajar selama berkarier, baik pada jalur formal maupun informal sepanjang kariernya,
sehingga ilmu dan keterampilan yang dipunyai selalu baru (up to date); 6) Kemampuan mengelola
sumber daya secara efektif dalam pengelolaan sumber daya manusia, fisik, anggaran dan informasi juga
harus mampu mengelola dan memimpin orang lain dalam tim perawatan Kesehatan; dan 7) Membantu
memberikan pelatihan dan memberikan kesempatan untuk meningkatkan pengetahuan (Kementerian
Kesehatan RI, 2004).
Standar pelayanan kefarmasian bagi apotek menjadi dasar pengelolaan pelayanan kefarmasian.
Apoteker bertanggung jawab mutlak untuk memberikan segala informasi medis kepada pasien maupun
masyarakat. Beberapa penelitian yang sebelumnya dilakukan di beberapa kota sesuai Permenkes No. 35
yang mengatur tentang standar pelayanan farmasi obat (2014) menghasilkan data tentang pelayanan
kesehatan yang dilakukan oleh apoteker memiliki nilai yang tidak sesuai dengan standar (Amalia, 2019).
Apoteker perlu meningkatkan tingkat pengetahuan, perilaku, dan keterampilan dalam
keprofesiannya untuk berinteraksi secara tepat bersama pasien . Bentuk – bentuk interaksi yang dapat
dilakukan antara lain tidak terbatas pada kegiatan melakukan sosialisasi, pemantauan penyalahgunaan
narkoba sehingga dapat diketahui keberadaannya dan didokumentasikan secara baik. Apotek harus
selalu memahami dan menyadari kemungkinan - kemungkinan kesalahan medis yang dapat terjadi
selama proses pemberian pelayanan. Untuk mengantisipasi hal tersebut diatas apoteker harus mengikuti
standar – standar yang telah ditetapkan oleh pemerintah. Apoteker harus dapat berkomunikasi secara
efektif dengan tenaga kesehatan lain dalam pemberian resep dalam rangka terapi dalam meningkatkan
penggunaan jamu atau obat tradisional sehingga apoteker dapat mengelola pelayanan medis dengan
baik. Standar Pelayanan Kefarmasian Kefarmasian meliputi standar penyelenggaraan obat, alat – alat
kesehatan serta bahan - bahan habis pakai medis, serta pelayanan dalam pelaksanaan farmasi klinik.
Pemberian layanan apotek harus sama – sama dilaksanakan oleh seluruh staf, ruang daninfrastruktur
(Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2016).
Permasalahan atau rumusan masalah padapenelitian ini yaitu bagaimana karakteristik responden
yang berdasar pada jenis kelamin, umur, jabatan, lama bekerja di apotek, pekerjaan lainnya, hari kerja
perminggu, jam kerja perhari, waktu kehadiran. tentang Asisten Apoteker, Analisis Kualitas Pelayanan,
SDM, Sarana dan Prasarana di beberapa Apotek Kota Jambi dan Analisis Kesesuaian Kualitas Pelayanan,
SDM, Sarana dan Prasarana di beberapa Apotek Kota Jambi berdasarkan Permenkes Tahun 2016 No. 73.
Tujuan pada penelitian adalah untuk mengetahui karakteristik responden yang berdasar pada jenis
kelamin, umur, jabatan pekerjaan, lama kerja di Apotek, pekerjaan selain di Apotek, hari kerja dalam
seminggu, jam kerja per hari, keberadaan apoteker pendamping, mengetahui hasil analisis kualitas
pelayanan, sumber daya manusia, sarana serta prasarana pada beberapa Apotek di Kota Jambi dan
mengetahui kesesuaian analisis kualitas pelayanan, sumber daya manusia, sarana prasarana pada
beberapa Apotek Kota Jambi berdasar atas Permenkes No. 73 tahun 2016.
METODE
Pada penelitian ini instrumen yang digunakan adalah kuesioner berisikan beberapa pertanyaan.
Kuesioner merupakan cara mendapatkan data yang dilakukan dengan berkomunikasi dengan sumber
data. Kuesioner adalah salah satu alat penelitian ilmiah yang banyak digunakan dalam penelitian sosial,
seperti penelitian sumber daya manusia, penelitian pemasaran dan perilaku, dan keuangan perilaku.
Bahan penelitian berupa hasil kuesioner yang diberikan langsung kepada apoteker di beberapa
Apotek diKota Jambi Bulan Januari 2024. Teknik pengambilan sampel pada penelitian yaitu purposive
sampling. Purposive sampling adalah teknik pengumpulan data dimana sampel ditentukan berdasarkan
pertimbangan tertentu. Tujuannya untuk menentukan sampel suatu penelitian yang didasarkan atas
kriteria – kriteria tertentu agar sampel yang didapat memenuhi tujuan di dalam penelitian (Sugiyono,
2010). Data yang dihasilkan dievaluasi secara deskriptif dalam bentuk nilai persentase serta disajikan
dalam tabel.
Kriteria Inklusi yang ditentukan oleh peneliti pada penelitian ini adalah apotek sudah berdiri lebih
dari 5 tahun, pemilik sarana apotek adalah apoteker, dan apoteker yang berstatus Apoteker
Penanggungjawab Apotek di beberapa apotek kota jambi yang bersedia berperan serta dalampenelitian
kuisioner.
HASIL dan PEMBAHASAN
Tabel 1. Karakteristik Responden
Karakteristik Kriteria Jumlah Persentase
Laki – laki 6 20
Jenis kelamin Perempuan 24 80
Usia 26 – 35 thn 30 100
Posisi di apotek APA 30 100
1 – 5 thn 21 70
Lama kerja di apotek saat ini 6 – 10 thn 9 30
Ya 25 80
Memiliki pekerjaan lain Tidak 5 20
1 – 3 hari 7 23
Hari kerja dalam seminggu 3 – 5 hari 23 77
Jam kerja per hari 4 – 6 jam 30 100
Keberadaan Apoteker Punya 30 100
Pendamping Tidak punya 0 0
Sumber : Data hasil olahan (2024)
Berdasarkan tabel 1, responden yang berjenis kelamin perempuan ada 24 orang (80%), seluruh
responden berusia 26-35 tahun, rentang usia yang tercantum pada tabel adalah rentang usia dari Depkes.
Responden mempunyai posisi sebagai APA (100%). Masa kerja responden sebagian besar (70 %) 1 - 5
tahun, masa kerja yang relatif baru ini dikarenakan berpindah-pindah tempat kerja mencari yang sesuai
dengan kenyamanan. Responden memiliki pekerjaan lain, pekerjaan lainnya yaitu 12 orang sebagai ASN
dan 2 orang sebagai apj di rumah sakit umum daerah, 8 Dosen, 3 Guru, dan 2 di klinik.
Kondisi kerja dilihat dari hari kerja dan jam kerja: sebagian besar bekerja 3 - 5 hari per minggu
(76 %) dan mempunyai jam kerja 4 - 6 jam (100%) dalam sehari. Beberapa apoteker tidak bekerja secara
penuh waktu, hal itu disebabkan dari berbagai faktor misalnya hamper seluruh apoteker biasanya bukan
pemilik sarana apotek (PSA), tetapi hanya sebagai apoteker penanggung jawab, sehingga berkerja paruh
waktu. Kedua, kekurangan apoteker. bekal bekal ilmu dan keahilan untuk bekerja di apotek memicu
pemikiran mereka sehingga apoteker yang bekerja terasa santai dan tidak memerlukan jam kerja panjang
atau jadwal kunjungan apoteker yang tidak pasti / teratur.
Pada peraturan jam kerja Apoteker dalam Dinas Kesehatan dijelaskan bahwa jam kerja apoteker
yang berpraktek di 2 (dua) sarana pelayanan kefarmasian adalah minimal 2 (dua) jam dalam sehari
selama 5 (lima) hari kerja atau minimal 10 (sepuluh jam dalam seminggu untuk tiap sarana pelayanan
kefarmasian. Jam kerja apoteker juga dihitung dalam waktu 5 tahun untuk dijadikan sebagai laporan
untuk mengajukan resertifikasi apoteker yang memiliki persyaratan wajib minimal 2.000 jam pelatihan
profesional kumulatif selama 5 (lima) tahun, proporsional (KFN, 2014).
Pengaturan ini sudah sesuai dengan UU Tahun 2003 No 13 yang mengatur mengenai
Ketenagakerjaan . Peraturan tentang ketenagakerjaan telah diatur khusus pada pasal 77 yang berisi
tentang kewajiban setiap pengusaha untuk mengikuti regulasi waktu kerja. Peraturan waktu kerja ini
terdiri dari dua sistem, yaitu 7 jam kerja sehari atau 40 jam kerja seminggu selama 6 hari kerja periode
1 minggu; atau 8 jam kerja sehari atau 40 jam kerja dalam seminggu selama 5 hari kerja periode 1
minggu atau 40 jam dalam 1 minggu (DPR RI, 2003).
Tabel 2. Sumber Daya Manusia
Y Tidak
Keterangan Jml % %
Jml
Apoteker, Apoteker pendamping dan tenaga teknis kefarmasian telah
memenuhi persyaratan resmi sesuai dengan ketentuan peraturan 30 100 0 0
perundang-undangan.
Menggunakan atribut praktik 30 100 0 0
Mengikuti pendidikan berkelanjutan 30 100 0 0
Apoteker mampu mengidentifikasi kebutuhan akan pengembangan diri 30 100 0 0
Apoteker, Asisten Apoteker, dan Tenaga teknis kefarmasian mematuhi
peraturan perundang-undangan, sumpah apoteker, peraturan profesi 30 100 0 0
yang berlaku.
Sumber : Data hasil olahan (2024)
Hasil tabel 2 terlihat bahwa pengelolaan sumber daya manusia, sudah terlaksana pada setiap
apotek dan sudah sesuai Permenkes Nomor 73, Tahun 2016. Sumber daya manusia pelayanan
kefarmasian diperlukan dalam pelaksanaan pelayanan. Permenkes No 73 tahun 2016 memberikan acuan
untuk pencapaian sumber daya yang memadai. Menurut peraturan perundang - undangan yang masih
berlaku di Indonesia, apotek yang buka harus dikelola oleh seorang apoteker profesional. Apoteker dan
tenaga teknis kefarmasian yang memberikan pelayanan harus mampu menawarkan dan menjalankan
pelayanan kefarmasian secara baik, membuat keputusan secara tepat, kemampuan komunikasi antara
anggota profesi apoteker, memposisikan sebagai seorang pemimpin dalam keadaan menegakkan
disiplin, kemampuan pengelolaan sumber daya manusia dengan efektif untuk berhasil dalam
melanjutkan pembelajaran sepanjang karirnya, dan membantu memberikan pelatihan dan kesempatan
untuk menambah pengetahuan (Elmiawati Latifah, 2013).
Hasil penelitian menunjukkan semua apotek sudah mengelola sumber daya sesuai standar
pelayanan. apoteker, apoteker pendamping dan tenaga teknis kefarmasian di semua apotek sudah
memenuhi persyaratan secara administrasi dan sudah sesuai dengan aturan perundang - undangan.
Demikian juga kepatuhan terhadap aturan penggunaan atribut saat bekerja, perundang - undangan,
sumpah terhadap apoteker, serta standar profesi yang berlaku sudah dijalankan. Sumber daya manusia
di semua apotek mengikuti pendidikan berkelanjutan dan mempunyai kemampuan untuk
mengidentifikasi kebutuhan akan pengembangan diri.
Setiap apotek di Kota Jambi memiliki sarana dan prasarana dalam menjalankan pelayanan dalam
kefarmasian. Sarana serta prasarana apotek dapat meningkatkan dan menjamin mutu terhadap sediaan
farmasi, alat- alat kesehatan dan bahan - bahan medis habis pakai serta kelancaran dalam praktik
pelayanan kefarmasian (Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2016). Sarana prasarana dalam
pelayanan dalam kefarmasian meliputi ruang yang berkaitan dengan resep, obat, konseling serta
penyimpanan. Hasil pengolahan jawaban responden adalah sebagai berikut:
Tabel 3. Sarana dan Prasarana
Y Tid k
KETERANGAN
Jml % Jml %
Terdapat ruangan penerimaan resep 30 100 0 0
Terdapat ruangan pelayanan resep dan peracikan 30 100 0 0
Terdapat ruangan penyerahan obat 30 100 0 0
Terdapat ruangan konseling 30 100 0 0
Terdapat ruangan penyimpanan sediaan farmasi, alat
30 100 0 0
kesehatan dan bahan medis habis pakai
Terdapat ruangan arsip 30 100 0 0
Sumber : Data Hasil olahan (2024)
Tabel 3 menunjukkan bahwa semua apotek mempunyai ruang layanan resep dan peracikan serta
ruang konsultasi. Persentase sarana prasarana yang ada di dalam apotek sudah 100% memenuhi
persyaratan yang tercantum pada Permenkes No. 73 Tahun 2016. Semua apotek memiliki ruangan
penerimaan resep, ruangan resep dan meracik obat, ruangan distribusi obat - obatan, ruangan konsultasi,
penyimpanan obat, alat - alat kesehatan serta perbekalan kesehatan, dan setiap apotek di kota Semarang
juga memiliki ruang filing.
Berdasarkan ketentuan yang berlaku, sarana dan prasarana pada apotek haruslah lengkap dan
sesuai dengan apa yang dipersyaratkan agar apotek dapat dikatakan lengkap dan memenuhi kriteria.
Karena sarana prasarana yang memadai didalam apotek sangat diperlukan demi kenyamanan konsumen
maupun pasien yang datang berkunjung. Pelayanan dalam kefarmasian mencakup sarana serta
prasarana, setiap apotek harus memiliki ruangan yang digunakan untuk konsultasi minimal ada satu
buah meja dan satu buah kursi konsultasi sehingga memudahkan apoteker dalam menginformasikan
pengobatan kepada pasien.
SIMPULAN
Karakte responden di beberapa Apotek Kota Jambi periode Januari 2024, responden yang
berjenis kelamin perempuan ada 24 orang (80%), seluruh responden berusia 26 - 35 tahun. Responden
mempunyai posisi sebagai APA(100%). Masa kerja responden sebagian besar (76 %) 1 - 5 tahun,
sebagian besar bekerja 3 - 5 hari perminggu (76 %) dan mempunyai jam kerja 4 - 6 jam (100%) dalam
sehari. Sumber daya manusia, saranadan prasarana yang berada di apotek 100% sudah terlaksana
sesuai dengan standar yang berlaku. Kualitas layanan apoteker pada beberapa apotek di kota Jambi
100% memenuhi standar.
Permenkes No.73 Tahun 2016 harus dijadikan standar untuk setiap Apotek di kota jambi. Di era
digital ini Pengelolaan sumber daya manusia serta penyediaan sarana dan prasarana dapat ditingkatkan
lagi sesuai dengan perkembangan zaman.
DAFTAR PUSTAKA
Badu, N. S., Lolo, W. A., & Jayanto, I. (2019). Kesesuaian Penerapan Standar Pelayanan Kefarmasian
Di Apotek Milik Bumn Wilayah Kota Manado. Pharmacon, 8(3), 695.
[Link]
Chandra, F. T. dan G. (2016). Service, quality and satisfaction (4th ed.). CV Andi Offset.
DPR RI. (2003). UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 13 TAHUN 2003 TENTANG
KETENAGAKERJAAN.
Elmiawati Latifah, et al. (2013). Pelayanan Kefarmasian Apotek. Journal of Chemical Information and
Modeling, 53(9), 1689–1699.
Isti Pujihastuti. (2010). Isti Pujihastuti Abstract. Prinsip Penulisan Kuesioner Penelitian, 2(1), 43–56.
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2016). PERATURAN MENTERI KESEHATAN
REPUBLIK INDONESIA NOMOR 73 TAHUN 2016. STANDAR PELAYANAN
KEFARMASIAN DI APOTEK. Kemenkes RI.
Kementerian Kesehatan RI. (2004). Kepmenkes No. 1027 Th. 2004 : Standar Pelayanan Kefarmasian
Di Apotek. Departemen Kesehatan Republik Indonesia.
Kementerian Kesehatan RI. (2016). Permenkes Nomor 73 Tahun 2016: Standar Pelayanan Kefarmasian
di Apotek. In Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia. Departemen Kesehatan Republik
Indonesia.
Kepmenkes. (2004). Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomer
1027/Menkes/Sk/IX/2004. 2004, 352.
Komite Farmasi Nasional. (2014). PEDOMAN RE-SERTIFIKASI APOTEKER Dan PENENTUAN
NILAI SATUAN KREDIT PARTISIPASI ( SKP ).
Prabandari, S. (2018). Gambaran Manajemen Standar Pelayanan Kefarmasian Di Apotek Permata Kota
Tegal. Jurnal Para Pemikir, 7(1), 202–208.
Presiden Republik Indonesia. (2002). Undang-Undang Republik Indonesia tentang Bangunan Gedung.
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 28 Tahun 2002 Tentang Bangunan Gedung, 1, 1–5.
Sugiyono. (2010). Metode penelitian pendidikan : pendekatan kuantitatif, kualitatif, dan R&D.
ALFABETA, Indonesia.