Kebersamaan Allah dalam Pengawasan dan Ilmu
Kebersamaan Allah dalam Pengawasan dan Ilmu
(ertinya)
Dia lah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, kemudian Ia
beristiwa di atas Arasy; Ia mengetahui apa yang masuk ke bumi serta apa yang keluar
daripadanya; dan apa yang diturunkan dari langit serta apa yang naik padanya. Dan
Ia tetap bersama-sama kamu di mana sahaja kamu berada, dan Allah Maha Melihat akan
apa yang kamu kerjakan.
[QS al-Hadid: 4]
Dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu
kerjakan.
(Al-Hadid: 4)
Yakni Dia Maha Mengawasi kalian lagi Maha Menyaksikan semua amal kalian di mana pun
kalian berada, baik di daratan ataupun di lautan, baik di malam ataupun siang hari,
baik di dalam rumah maupun di tengah hutan. Semuanya itu bagi ilmu Allah sama saja
dan berada di bawah penglihatan dan pendengaran-Nya. Maka Dia mendengar pembicaraan
kalian dan melihat tempat kalian dan mengetahui rahasia dan apa yang dibisikkan
oleh kalian, seperti yang diterangkan dalam ayat lain melalui firman-Nya:
Ingatlah, sesungguhnya (orang munafik itu) memalingkan dada mereka untuk
menyembunyikan diri darinya (Muhammad). Ingatlah, di waktu mereka menyelimuti
dirinya dengan kain. Allah mengetahui apa yang mereka sembunyikan dan apa yang
mereka lahirkan, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala isi hati.
(Hud: 5)
Dan firman Allah Swt. lainnya yang menyebutkan:
Sama saja (bagi Tuhan), siapa di antaramu yang merahasiakan ucapannya dan siapa
yang berterus terang dengan ucapan itu, dan siapa yang bersembunyi di malam hari
dan yang berjalan (menampakkan diri) di siang hari.
(Ar-Ra'd: 10)
Maka tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Dia, dan tidak ada Penguasa (Rabb)
selain Dia. Di dalam kitab sahih disebutkan bahwa Rasulullah Saw. bersabda kepada
Malaikat Jibril saat Jibril menanyakan kepadanya tentang ihsan:
Hendaklah engkau sembah Allah seakan-akan engkau melihat-Nya; dan jika engkau tidak
melihat-Nya, maka sesungguhnya Dia melihatmu.
Al-Hafiz Abu Bakar Al-Isma'ili telah meriwayatkan melalui hadis Nasr ibnu Khuzaimah
ibnu Junadah ibnu Mahfuz ibnu Alqamah, bahwa telah menceritakan kepadaku ayahku,
dari Nasr ibnu Alqamah, dari saudaranya (yaitu Abdur Rahman ibnu Amir) yang
mengatakan bahwa Umar pernah bercerita bahwa seorang lelaki datang kepada Nabi
Saw., lalu berkata, "Bekalilah aku dengan hikmah yang akan kuamalkan sepanjang
hayat dikandung badan." Maka Nabi Saw. bersabda: Malulah kamu kepada Allah
sebagaimana malumu kepada seorang yang saleh dari kalangan kaum kerabatmu yang
selamanya tidak berpisah darimu.
Hadis ini garib.
Abu Na'im telah meriwayatkan pula melalui hadis Abdullah ibnu Alawaih Al-Amiri
secara marfu':
Ada tiga hal yang bila dikerjakan pelakunya berarti telah merasakan manisnya iman,
yaitu jika ia selalu beribadah kepada Allah dalam kesendiriannya, dan menyerahkan
zakat hartanya dengan hati yang tulus ikhlas setiap tahunnya, dan tidak membayarnya
dengan ternak yang sudah tua, ternak yang buruk, ternak yang cacat parah, dan tidak
pula ternak yang sakit, tetapi dari standar harta yang dimilikinya dan menyucikan
dirinya. Lalu ada seorang lelaki bertanya, "Wahai Rasulullah, apakah yang dimaksud
dengan pengertian seseorang menyucikan dirinya?" Rasulullah Saw. menjawab: Bila dia
selalu merasakan bahwa Allah selalu bersamanya di mana pun ia berada.
Na'im ibnu Hammad rahimahullah mengatakan, telah menceritakan kepada kami Usman
ibnu Sa'Md ibnu Kasir ibnu Dinar Al-Himsi, dari Muhammad ibnu Muhajir, dari Urwah
ibnu Ruwayyim, dari Abdur Rahman ibnu Ganam, dari Ubadah ibnus Samit yang
mengatakan bahwa Rasulullah Saw. pernah bersabda: Sesungguhnya iman yang paling
utama ialah bila engkau mengetahui bahwa Allah selalu bersamamu di mana pun engkau
berada.
Hadis ini garib.
Dan tersebutlah bahwa Imam Ahmad rahimahullah mengucapkan kedua bait syair berikut:
Jika di suatu hari engkau merasa sendirian, maka janganlah kamu anggap dirimu
sendirian, tetapi resapilah oleh dirimu bahwa kamu berada dalam pengawasan Tuhan
Yang Maha Mengawasi. Dan jangan sekali-kali kamu mengira Allah lalai dalam suatu
saat, dan jangan pula beranggapan bahwa apa yang engkau sembunyikan itu tidak
kelihatan (oleh-Nya).
- Tafsir Ibnu Katsir
Makna �kebersamaan� (ma�iyyah) Allah di dalam ini bukanlah kebersamaan secara dzat
Allah dengan makhluk kerana Maha suci Allah daripada bercampur gaul dengan para
makhluk-Nya.
Sebaliknya apa yang dikehendaki oleh ayat ini adalah kebersamaan Allah dengan ilmu-
Nya di mana Allah memerhatikan, menyaksikan dan mengetahui segala tindak-tanduk
makhluk-Nya sebagaimana yang disebutkan oleh ahli tafsir. Berkata al-Imam al-Qasimi
rahimahullah berkenaan dengan maksud bagi kalimah �ma�iyyah�
Pertama: Kebersamaan Allah secara umum dan meliputi semua orang sebagaimana yang
disebut di dalam firman-Nya:
Dialah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa kemudian Dia bersemayam di
atas �Arasy. Dia mengetahui apa yang masuk ke dalam bumi dan apa yang keluar
daripadanya dan apa yang turun dari langit dan apa yang naik kepada-Nya dan Dia
beserta kalian di mana pun kalian berada. Dan Allah Maha Melihat apa yang kalian
kerjakan.
[Surah al-Hadid: 4]
Kebersamaan Allah di dalam ayat ini meliputi semua makhluk-Nya. Tidak ada satu
makhluk yang ada melainkan Allah sentiasa bersamanya, mengetahuinya, menguasainya,
mendengarnya, melihatnya dan sebagainya.
Kedua: Kebersamaan Allah yang khusus adalah kebersamaan yang menjurus kepada
pemberian pertolongan, kemenangan dan membantu memberikan kekuatan dan ketabahan.
Keadaan ini khusus untuk para rasul dan pengikut-pengikut mereka sahaja, tidak
kepada setiap orang akan tetapi kepada orang-orang tertentu sahaja.
Walau bagaimanapun, kebersamaan Allah dalam kedua-dua bentuk ini tidaklah bermaksud
Allah bersama manusia di tempat mereka, akan tetapi Dia bersama manusia dalam
keadaan Dia masih berada di langit �Arasy-Nya. Keadaan seperti ini bukanlah suatu
yang mustahil kerana kebiasaannya sesuatu yang berada di atas akan sentiasa bersama
anda. Tidakkah anda pernah mendengar orang Arab berkata: ketika kami berjalan,
bulan selalu mengikuti kami.
Allah berada atas segala sesuatu, beristiwa� di atas Arsy-Nya. Walaupun begitu, Dia
menguasai segala sesuatu dan bersama dengan setiap insan. Walau Dia hanya satu,
namun Dia mengetahui keadaanmu, menguasaimu, mendengarmu dan sebagainya.
Allah Azza wa Jalla menceritakan tentang kekasih-Nya Nabi Ibrahim a.s. bahwa
sesungguhnya setelah Allah menolongnya dari kejahatan kaumnya dan ia merasa putus
asa dari keimanan kaumnya, padahal mereka telah menyaksikan mukjizat-mukjizat yang
besar. Maka Ibrahim a.s. hijrah dari kalangan mereka seraya berkata:
"Sesungguhnya aku pergi menghadap kepada Tuhanku, dan Dia akan memberi petunjuk
kepadaku. Ya Tuhanku, anugerah�kanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-
orang yang saleh.� (Ash-Shaffat: 99-100)
- Tafsir Ibnu Katsir
�Pelaku bid�ah dan penyimpangan berhujjah dengan firman Allah �Azza wa Jalla : �dan
Kami lebih dekat kepadanya dari pada urat lehernya� (QS. Qaaf : 16). Dan Dia
bersama kamu di mana saja kamu berada� (QS. Al-Hadiid : 4), �Tiada pembicaraan
rahasia antara tiga orang, melainkan Dia-lah yang keempatnya�... hingga sampai ayat
: 'Dia ada bersama mereka di mana pun mereka berada� (QS. Al-Mujaadilah : 7), dan
yang semisalnya dari ayat-ayat mustasyaabihaat. Maka dikatakan : Yang dimaksud dari
ayat tersebut adalah Ilmu Allah, karena Allah ta�ala berada di atas �Arsy-Nya, di
atas langit-langit yang tujuh lagi tinggi. Dan Allah mengetahui itu semuanya. Allah
terpisah dari makhluk-Nya. Tidak ada tempat yang luput dari ilmu-Nya� [Thabaqaatul-
Hanaabilah, 1/32].
�Dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada� (QS. Al-Hadiid : 4). Kami tidak
mena�wilkannya, karena ayat tersebut memang menunjukkan bahwa yang dimaksudkan
adalah ilmu, karena Allah ta�ala berfirman di akhir ayat : �dan Dia Maha
Mengetahui segala sesuatu�
Makna �kebersamaan� (ma�iyyah) Allah di dalam ini bukanlah kebersamaan secara dzat
Allah dengan makhluk kerana Maha suci Allah daripada bercampur gaul dengan para
makhluk-Nya.
Sebaliknya apa yang dikehendaki oleh ayat ini adalah kebersamaan Allah dengan ilmu-
Nya di mana Allah memerhatikan, menyaksikan dan mengetahui segala tindak-tanduk
makhluk-Nya sebagaimana yang disebutkan oleh ahli tafsir. Berkata al-Imam al-Qasimi
rahimahullah berkenaan dengan maksud bagi kalimah �ma�iyyah� dalam ayat-ayat di
atas: [2]
Carlinus Zainuddin
Coba awak jgn takwil makna ayat ini.
�Dan Dia bersama kamu di mana
saja kamu berada.� (QS. al-Hadid : 4). Ayat ini menegaskan bahwa Allah
subhanahu wa ta�ala bersama kita di bumi, bukan ada di langit. Dalam ayat lain
Allah subhanahu wa ta�ala berfirman?:
�Dan Ibrahim berkata, �Sesungguhnya aku pergi menuju Tuhanku (Palestina),
yang akan memberiku petunjuk.� (QS. al-Shaffat : 99).
Dalam ayat ini, Nabi Ibrahim alaihissalam berkata akan pergi menuju Tuhannya,
padahal Nabi Ibrahim alaihissalam pergi ke Palestina. Dengan demikian, secara
literal ayat ini menunjukkan bahwa Allah subhanahu wa ta�ala bukan ada di
langit, tetapi ada di Palestina.
�Anas bin Malik radhiyallahu �anhu berkata, �Bahwa Nabi shallallahu �alaihi wa
sallam melihat dahak di arah kiblat, lalu beliau menggosoknya dengan
tangannya, dan beliau kelihatannya tidak menyukai hal itu. Lalu beliau bersabda:
�Sesungguhnya apabila salah seorang kalian berdiri dalam shalat, maka ia
sesungguhnya berbincang-bincang dengan Tuhannya, atau Tuhannya ada di
antara dirinya dan kiblatnya. Oleh karena itu, janganlah ia meludah ke arah
kiblatnya, akan tetapi meludahlah ke arah kiri atau di bawah telapak kakinya.�
(HR. al-Bukhari [405]).
Hadits ini menegaskan bahwa Allah subhanahu wa ta�ala ada di depan orang
yang sedang shalat, bukan ada di langit. Hadits ini jelas lebih kuat dari hadits
riwayat Muslim, karena hadits ini riwayat al-Bukhari.
Hadits ini menegaskan bahwa Allah subhanahu wa ta�ala ada di depan orang
yang sedang shalat, bukan ada di langit atau diPalestin. Hadits ini jelas lebih
kuat dari hadits
riwayat Muslim, karena hadits ini riwayat al-Bukhari.
Sekiranya ayat2 AlQuran dan hadis2 itu tidak ditakwil oleh ulama khalaf maka apa
agaknya kesudahan dari pemahaman mereka yang tidak ada dasar ilmu tauhid pada
Allah?
***
Mentauhidkan Allah Ta�ala dalam penetapan nama dan sifat Allah, yaitu sesuai dengan
yang Ia tetapkan bagi diri-Nya dalam Al Qur�an dan Hadits Rasulullah
shallallahu�alaihi wasallam. Cara bertauhid asma wa sifat Allah ialah dengan
menetapkan nama dan sifat Allah sesuai yang Allah tetapkan bagi diriNya dan
menafikan nama dan sifat yang Allah nafikan dari diriNya, dengan tanpa tahrif,
tanpa ta�thil dan tanpa takyif (Lihat Syarh Tsalatsatil Ushul).
****
+++
Tahrif adalah memalingkan makna ayat atau hadits tentang nama atau sifat Allah dari
makna zhahir-nya menjadi makna lain yang batil. Sebagai misalnya kata �istiwa� yang
artinya �bersemayam� dipalingkan menjadi �menguasai�.
Takyif adalah menggambarkan hakikat wujud Allah. Padahal Allah sama sekali tidak
serupa dengan makhluknya, sehingga tidak ada makhluk yang mampu menggambarkan
hakikat wujudnya. Misalnya sebagian orang berusaha menggambarkan bentuk tangan
Allah,bentuk wajah Allah, dan lain-lain.
Adapun penyimpangan lain dalam tauhid asma wa sifat Allah adalah tasybih dan
tafwidh.
�Tidak ada sesuatupun yang menyerupai Allah. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar Lagi
Maha Melihat� (QS. Asy Syura: 11)
Kemudian tafwidh, yaitu tidak menolak nama atau sifat Allah namun enggan menetapkan
maknanya. Misalnya sebagian orang yang berkata �Allah Ta�ala memang ber-istiwa di
atas �Arsy namun kita tidak tahu maknanya. Makna istiwa kita serahkan kepada
Allah�. Pemahaman ini tidak benar karena Allah Ta�ala telah mengabarkan sifat-
sifatNya dalam Qur�an dan Sunnah agar hamba-hambaNya mengetahui. Dan Allah telah
mengabarkannya dengan bahasa Arab yang jelas dipahami. Maka jika kita berpemahaman
tafwidh maka sama dengan menganggap perbuatan Allah mengabarkan sifat-sifatNya
dalam Al Qur�an adalah sia-sia karena tidak dapat dipahami oleh hamba-Nya.
Dari hadis dibawah ini. Tanpa ditakwilkan maka apakah yang diertikan tentang Allah?
Diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a., beliau berkata, telah bersabda Rasulullah saw,
sesungguhnya Allah Azza wa Jalla kelak dihari kiamat akan berfirman, �Wahai anak
cucu Adam, aku sakit dan kamu tidak menjengukku�, ada yang berkata, �Wahai Tuhanku,
bagaimana kami menjenguk-Mu sedangkan Engkau adalah Tuhan Semesta Alam�, Allah
berfirman, �Tidakkah engkau tahu, sesungguhnya hambaku yang bernama Fulan sakit,
dan kamu tidak menjenguknya? Tidakkah engkau tahu, sesungguhnya jika kamu
menjenguknya, engkau akan mendapatiku didekatnya."
Carlinus Zainuddin
Carlinus Zainuddin
Puak Wahhabi cakap, Allah tidak sama dgn mahklok. Namun puak ini juga yang
berkeyakinan bahawa Allah ada diArasy dan dudok diKursi. Tapi adanya Allah diArasy
dan dudoknya Allah tidak saperti mahklok.
Mereka sudah menjisimkan Allah kemudian menyatakan Allah tidak saperti makhlok.
Bukankah mahklok itu berjisim dan memerlukan tempat? Yaitu sama saperti Allah yang
perlu pada tempat!
Puak Wahhabi sememangnya keliru dengan keyakinan mereka dan mereka mahu orang lain
turut sama saperti mereka.
Siapa kata Allah dudok diKursi? Siapa menjisimkan Allah? Siapa kata Allah perlu
pada tempat?
Jangan menuduh tanpa bukti.
405 . Dari Ana s bahwa Nabi SA W melihat daha k di bagian kiblat, mak a hal itu
terasa berat baginya (tidak disukai) hingga terlihat pada wajahnya. Beliau berdiri
lalu menggosok dengan tangannya dan bersabda, "Salah seorang di antara kalian
apabila berdiri dalam shalat, sesungguhnya ia bermunajat kepada Tuhannya -atau
sesungguhnya Tuhannya berada di antara dia dengan kiblat- maka janganlah salah
seorang di antara kalian meludah ke arah kiblat, tetapi di sebelah kirinya atau di
bawah kedua kakinya." Kemudia n beliau SA W mengambi l ujung selendangnya lalu
meludah padanya. Lalu menggosok sebagiannya pada sebagian yang lain seraya
bersabda, "Atau ia melakukan seperti ini."
Keterangan Hadits:
(Bab menggoso k ludah dengan tangan di masjid) yakni sama saja menggunaka n alat
ataupun tidak. Namu n Al Ismaili mengomentari hal itu
dengan mengatakan, "Sabda beliau, tJ~�� i��ki (lalu menggosok dengan
tangannya), yakni beliau melakukan hal itu sendiri namu n bukan berarti
beliau menggosok dahak dengan tangannya langsung. Pernyataan ini didukung oleh
hadits lain yang mengatakan bahwa beliau SA W menggosoknya dengan kayu." Demikian
perkataan Al Ismaili. Sementara Imam Bukhari berpandangan sesuai cakupan lafazh, di
samping tidak tertutup kemungkinan bila peristiwa ini terjadi lebih dari sekali.
Hadits beliau SA W menggoso k dahak dengan sepotong kayu dinukil oleh Ab u Daud
dari hadits Jabir.
Maksud "di arah kiblat" adalah tembok yang berada di arah kiblat.
^6 J* {hingga terlihat) yakni tampa k di wajahnya perasaan berat (tidak suka).
Dalam riwayat An-Nasa' i dikatakan, "Beliau marah hingga
wajahnya nampak merah." Sementara dalam riwayat Imam Bukhari di bagian "Al Adab "
dari hadits Ibnu Uma r disebutkan, "Maka beliau marah kepada orang yang berada di
masjid."
bantahan bagi mereka yang berpandangan bahwa Dzat Allah SW T berada di atas Arsy."2
Ulat (kausa hukum) yang disebutkan dalam hadits di atas berindikasi bahwa meludah
ke arah kiblat hukumny a haram, baik di masjid maupun di luar masjid, terutama bagi
orang yang shalat. Tidak sepantasnya terjadi dalam masalah itu perselisihan tentang
apakah tidak disukainya meludah di masjid berindikasi haram atau sekedar menyalahi
perbuatan yang lebih utama?
Dalam kitab Shahih Ibnu Khuzaimah dan Shahih Ibnu Hibban dari hadits Hudzaifah
dengan jalur marfiC (sampai pada Nabi SAW )
disebutkan, 44* js? 'f y. ^�'r i\�r-> J��J j � � (Barangsiapa
meludah ke arah kiblat akan datang para hari Kiamat sementara ludahnya berada di
antara kedua matanya). Dalam riwayat Ibnu
Khuzaimah dari hadits Ibnu Uma r dengan jalur marfu' dikatakan, c��J'
<4^rj J� } iiCSi H\jfJi\ L^-'Cfi (Orang yang meludah ke arah kiblat akan
dibangkitkan pada hari Kiamat sedangkan ludahnya berada di
wajahnya). Dalam riwayat Abu Daud dan Ibnu Hibban dari hadits Sa'ib bin Khallad
dikatakan, "Sesungguhnya seorang laki-laki mengimami suatu kaum lalu meludah ke
arah kiblat. Ketika selesai shalat maka Rasulullah SA W bersabda, 'Janganlah ia
shalat mengimami kalian'." (Al Hadits). Dalam hadits itu juga disebutkan,
"Sesungguhnya engkau telah menyakiti Allah dan Rasul-Nya."
� C � c � � i ji (atau di bawah kakinya) Yakni kaki kirinya, seperti
disebutkan dalam hadits Abu Hurairah setelah bab ini. Ditambahkan jug a
melalui jalur Hammam dari Abu Hurairah, "Lalu hendaklah menutupinya dengan tanah",
seperti akan disebutkan setelah empat bab berikut.
iJ'Je J�'A p�' (kemudian beliau mengambil ujung selendang-nya... dan seterusnya) di
sini terdapat penjelasan melalui praktek (peragaan) agar lebih meresap ke dalam
hati pendengar. Makna lahiriah lafazh, "atau melakukan seperti inf \ adalah
seseorang bebas memilih di antara apa yang disebutkan. Tetapi akan disebutkan
setelah empat bab kemudian, bahwasanya Imam Bukhari memahami tindakan akhir ini
apabila dalam kondisi terdesak untuk meludah. Dengan demikian, makna kata "atau"
dalam hadits itu menurut pandangan beliau untuk menjelaskan macam-macam tindakan
yang ditempuh, Wallahu a'lam.
****
' Dalam hadits di atas tidak ada bantahan terhadap mereka yang berpandangan bahwa
Allah istiwa' di atas Arsy, sebab nash-nash Al Qur'an maupun hadits dalam
menetapkan istiwa' Allah Azza wa Jalla di atas Arsy muhkam, qath'i (bersifat pasti)
serta sangat jelas tidak mengandung kemungkinan untuk ditakwilkan. Golongan ahlu
Sunnah telah sepakat untuk menerimanya serta beriman dengan lafazh yang menjadi
makna wajah itu sendiri, menurut apa yang sesuai bagi Allah Azza wa Jalla tanpa
diserupakan dengan ciptaan-Nya. Adapun sabda beliau SA W dalam hadits, ''Karena
sesungguhnya Allah di arah wajahnya apabila ia shalat" dan dalam lafazh lain,
"Karena sesungguhnya Rabb-nya di antara ia dengan kiblat", adalah lafazh yang
memiliki banyak makna sehingga wajib ditafsirkan berdasarkan kandungan nash-nash
yang muhkam, sebagaimana telah diisyaratkan oleh Ibnu Abdil Barr. Tidak boleh
memahami hadits ini dengan pemahaman yang bertentangan dengan kandungan nash-nash
qath'i dan muhkan yang menetapkan adanya istiwa'.
*******
Telah bersabda Rasulullah SAW, sesungguhnya Allah Azza wa Jalla kelak di hari
kiamat akan berfirman, �Wahai anak cucu Adam, aku sakit dan kamu tidak
menjengukku�, ada yang berkata, �Wahai Tuhanku, bagaimana kami menjenguk-Mu
sedangkan Engkau adalah Tuhan Semesta Alam�, Allah berfirman, �Tidakkah engkau
tahu, sesungguhnya hambaku yang bernama Fulan sakit, dan kamu tidak menjenguknya?
Tidakkah engkau tahu, sesungguhnya jika kamu menjenguknya, engkau akan mendapatiku
didekatnya.
Wahai anak cucu adam, aku meminta makanan kepadamu, namun kamu tidak memberiku
makanan kepada-Ku�, ada yang berkata, �Wahai Tuhanku, bagaimana kami dapat memberi
makan kepada-Mu sedangkan Engkau adalah Tuhan Semesta Alam?� Allah Subhanahu wa
ta�ala berfirman, �Tidakkah engkau tahu, sesungguhnya hambaku fulan meminta
makanan, dan kemudian kalian tidak memberinya makanan? Tidakkah engkau tahu,
seandainya engkau memberinya makanan, benar-benar akan kau dapati perbuatan itu di
sisi-Ku.
Wahai anak cucu adam, Aku meminta minum kepadamu, namun engkau tidak memberi-Ku
minum�, ada yang berkata, �Wahai Tuhanku, bagaimana kami memberi minum kepada-Mu
sedangkan Engkau adalah Tuhan Semesta Alam?� Allah Subhanahu wa ta�ala berfirman,
�Seorang hambaku yang bernama fulan meminta minum kepadamu, namun tidak engkau beri
minum, tidakkah engkau tahu, seandainya engkau memberi minum kepadanya, benar �
benar akan kau dapati (pahala) amal itu di sisi-Ku�
(HR Muslim)
Tambahan dari Al-Akh Abu Mushlih:
Allah Ta�ala bersemayam di atas Arsy. Di dalam ayat disebutkan Ar-Rahmaanu �alal
�arsyistawaa. Secara bahasa istiwa� itu memiliki empat makna yaitu:
�ala (tinggi)
Irtafa�a (terangkat)
Sho�uda (naik)
Istaqarra (menetap)
Sehingga makna Allah istiwa� di atas �Arsy ialah menetap tinggi di atas �Arsy.
Sedangkan makna �Arsy secara bahasa ialah: Singgasana Raja. Adapun �Arsy yang
dimaksud oleh ayat ialah sebuah singgasana khusus milik Allah yang memiliki pilar-
pilar yang dipikul oleh para malaikat. Sebagaimana disebutkan di dalam ayat yang
artinya, �Dan pada hari itu delapan malaikat memikul arsy.� Dan Allah sama sekali
tidak membutuhkan �Arsy, tidak sebagaimana halnya seorang raja yang membutuhkan
singgasananya sebagai tempat duduk.
Demikianlah yang diterangkan oleh para ulama. Satu hal yang perlu diingat pula
bahwa bersemayamnya Allah tidak sama dengan bersemayamnya makhluk. Sebab Allah
berfirman yang artinya, �Tidak ada sesuatupun yang serupa persis dengan Allah, dan
Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat.� (QS. Asy-Syura: 11). Oleh sebab itu, tidak
sama bersemayamnya seorang raja di atas singgasananya dengan bersemayamnya Allah di
atas arsy-Nya. Inilah keyakinan yang senantiasa dipegang oleh para ulama terdahulu
yang shalih serta para pengikut mereka yang setia hingga hari kiamat. Wallahu a�lam
bish showaab (silakan baca kitab-kitab Syarah Aqidah Wasithiyah dan kitab-kitab
aqidah lainnya).
***
- Kebersamaan Allah yang dimaksudkan dalam QS. Al-Hadiid ayat 4 adalah kebersamaan
dengan ilmu-Nya, karena ilmu-Nya meliputi segala sesuatu.
� Pertama: Kebersamaan Allah secara umum dan meliputi semua orang sebagaimana
yang disebut di dalam firman-Nya:
Dialah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa kemudian Dia bersemayam di
atas �Arasy. Dia mengetahui apa yang masuk ke dalam bumi dan apa yang keluar
daripadanya dan apa yang turun dari langit dan apa yang naik kepada-Nya dan Dia
beserta kalian di mana pun kalian berada. Dan Allah Maha Melihat apa yang kalian
kerjakan. [Surah al-Hadid: 4]
Tidakkah kamu perhatikan, bahwa sesungguhnya Allah mengetahui apa yang ada di
langit dan di bumi? Tiada pembicaraan rahsia antara tiga orang, melainkan Dia-lah
keempatnya.
Dan tiada (pembicaraan antara) lima orang, melainkan Dia-lah keenamnya. Dan tiada
(pula) pembicaraan antara jumlah yang kurang dari itu atau lebih banyak, melainkan
Dia berada bersama mereka di mana pun mereka berada.
Kemudian Dia akan memberitahukan kepada mereka pada hari kiamat apa yang telah
mereka kerjakan. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui segala sesuatu. [Surah al-
Mujadalah: 7]
Kebersamaan Allah di dalam ayat ini meliputi semua makhluk-Nya. Tidak ada satu
makhluk yang ada melainkan Allah sentiasa bersamanya, mengetahuinya, menguasainya,
mendengarnya, melihatnya dan sebagainya.
Walau bagaimanapun, kebersamaan Allah dalam kedua-dua bentuk ini tidaklah bermaksud
Allah bersama manusia di tempat mereka, akan tetapi Dia bersama manusia dalam
keadaan Dia masih berada di langit �Arasy-Nya. Keadaan seperti ini bukanlah suatu
yang mustahil kerana kebiasaannya sesuatu yang berada di atas akan sentiasa bersama
anda. Tidakkah anda pernah mendengar orang Arab berkata: ketika kami berjalan, bula
selalu mengikuti kami.
Setiap orang tahu bahawa bulan berada di langit, orang Arab berkata: ketika kami
berjalan, bintang-bintang itu berada di langit. Lalu apa pendapat anda tentang Dia
yang Maha Mencipta, sedangkan Dia berada atas segala sesuatu, beristiwa� di atas
singgahsana-Nya. Walaupun begitu, Dia menguasai segala sesuatu dan bersama dengan
setiap insan. Walau Dia hanya satu, namun Dia mengetahui keadaanmu, menguasaimu,
mendengarmu dan sebagainya.
Diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a., beliau berkata, telah bersabda Rasulullah
saw, sesungguhnya Allah Azza wa Jalla kelak dihari kiamat akan berfirman, �Wahai
anak cucu Adam, aku sakit dan kamu tidak menjengukku�, ada yang berkata, �Wahai
Tuhanku, bagaimana kami menjenguk-Mu sedangkan Engkau adalah Tuhan Semesta Alam�,
Allah berfirman, �Tidakkah engkau tahu, sesungguhnya hambaku yang bernama Fulan
sakit, dan kamu tidak menjenguknya? Tidakkah engkau tahu, sesungguhnya jika kamu
menjenguknya, engkau akan mendapatiku didekatnya. Wahai anak cucu adam, aku meminta
makanan kepadamu, namun kamu tidak memberiku makanan kepada-Ku�, ada yang berkata,
�Wahai Tuhanku, bagaimana kami dapat memberi makan kepada-Mu sedangkan Engkau
adalah Tuhan Semesta Alam?� Allah Subhanahu wa ta�ala berfirman, �Tidakkah engkau
tahu, sesungguhnya hambaku fulan meminta makanan, dan kemudian kalian tidak
memberinya makanan? Tidakkah engkau tahu, seandainya engkau memberinya makanan,
benar-benar akan kau dapati perbuatan itu di sisi-Ku. Wahai anak cucu adam, Aku
meminta minum kepadamu, namun engkau tidak memberi-Ku minum� , ada yang berkata,
�Wahai Tuhanku, bagaimana kami memberi minum kepada-Mu sedangkan Engkau adalah
Tuhan Semesta Alam?� Allah Subhanahu wa ta�ala berfirman, �Seorang hambaku yang
bernama fulan meminta minum kepadamu, namun tidak engkau beri minum, tidakkah
engkau tahu, seandainya engkau memberi minum kepadanya, benar � benar akan kau
dapati (pahala) amal itu di sisi-Ku� (Hadist diriwayatkan oleh Muslim.)
Sahih: Sebahagian hadis daripada Abu Hurairah radiallahu �anhu, dikeluarkan oleh
al-Bukhari (al-Adab al-Mufrad), Muslim, Ibn Hibban, al-Baihaqi (Syu�abu al-Iman)
dan lain-lain, lihat Sahih Muslim � no: 2569 (Kitab al-Birr, Bab Keutamaan melawat
orang sakit).