1 Ilham Tri Cahyono et al., Pemantauan Perubahan Penutupan Lahan Menggunakan Aplikasi SIG..................
TEKNOLOGI PERTANIAN
PEMANTAUAN PERUBAHAN PENUTUPAN LAHAN MENGGUNAKAN APLIKASI SISTEM
INFORMASI GEOGRAFIS DI TAMAN NASIONAL BALURAN
MONITORING LANDCOVER CHANGE USING GEOGRAPHICAL INFORMATION SYSTEM APPLICATION IN
BALURAN NATIONAL PARK
Ilham Tri Cahyono1), Hamid Ahmad, Elida Novita
Lab. Teknik Pengendalian dan Konservasi Lingkungan (Lab. TPKL), FTP – UNEJ
Jl. Kalimantan no. 37 Kampus Tegalboto, Jember, 68121
1)E-mail : cahyo_2523@[Link]
Abstract
The purpose of this research is create a digital map using Quantum GIS software to searching a difference between
landcover area from 2008 until 2014. Spatial data gained from ground-check and georeference every landcover area at
Baluran National Park and also recommend new rehabilitation zone based on landcover change monitoring result. Stages
of research consist of observation image and inventory map of National Park, taking field data using transect method, and
data analysis using rate of land area changes and wide suitability rehabilitation zone formula. Based on mapping and
analysis result knowable that acacia invasion form landcover which have highest rate of change that is 2% for 6 year.
Obtained also rehabilitation zone recommend area based on rate of change landcover acacia invasion that is 4040,61 ha
with suitability rehabilitation zone achieve 16,16%.
Key words: Quantum GIS, Baluran National Park, acacia invasion, rehabilitation zone.
PENDAHULUAN memanipulasi, menganalisis dan menampilkan semua bentuk
informasi yang bereferensi geografi (Astrini, 2012).
Taman Nasional merupakan suatu kawasan pelestarian alam
Berdasarkan hal tersebut maka perlu dilakukan penelitian
yang meliputi daratan maupun perairan dan mempunyai ekosistem
mengenai perubahan tutupan lahan sehingga dapat menganalisis
asli, serta dikelola dengan sistem zonasi. Taman Nasional Baluran
dinamika perubahan penutupan lahan yang terjadi dan membantu
(TNB) sendiri merupakan kawasan konservasi yang memiliki luas
Balai Taman Nasional Baluran untuk mengambil langkah dalam
sekitar 25.000 ha dan sumberdaya alam yang sangat besar serta
penyelesaian masalah tersebut.
memiliki potensi keanekaragaman hayati cukup tinggi, baik flora,
fauna maupun ekosistemnya, termasuk keindahan panorama
alamnya. Ditinjau dari status kawasan, TNB memiliki 3 fungsi
utama yaitu fungsi perlindungan sistem penyangga kehidupan, METODOLOGI PENELITIAN
pengawetan keanekaragaman jenis tumbuhan dan satwa serta 3.1 Tempat dan Waktu Penelitian
pemanfaatan secara lestari Sumber Daya Alam Hayati (SDAH)
beserta ekosistemnya, yang dapat dimanfaatkan untuk tujuan Penelitian ini dilakukan pada bulan September 2013 sampai
penelitian, ilmu pengetahuan, pendidikan, menunjang budidaya, bulan Agustus 2014 di kawasan Taman Nasional Baluran (TNB),
budaya, rekreasi dan pariwisata (Widodo et al., 2013). Kec. Banyuputih, Kabupaten Situbondo.
Ada beberapa faktor yang berpengaruh dalam penentuan 3.2 Alat dan Bahan Penelitian
zonasi diantaranya pemantauan kondisi fisik TN Baluran (Tim Alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah GPS (Global
PHKA Baluran, 2012). Untuk pemantauan kondisi fisik Baluran, Positioning System); 1 set komputer (PC); Recorder ; kamera
dapat dilakukan dengan memantau perubahan tiap tutupan lahan digital; alat tulis..
yang ada di TN Baluran. Kestabilan penutupan lahan merupakan
unsur penting dalam melestarikan kawasan untuk menunjang Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah : Peta rupa
kelanjutan konservasi Baluran. Perubahan penutupan lahan dapat bumi Taman Nasional Baluran, Peta batas kawasan TN Baluran,
menyebabkan terganggunya keseimbangan ekosistem di kawasan Peta Citra satelit melalui Google Earth Tahun 2014, Peta
TN Baluran, Sehingga menghambat tujuan pengelolaan konservasi Penutupan Lahan 2008 dan Peta Zonasi Taman nasional Baluran
. Perkembangan perubahan lahan yang terjadi di kawasan TN 2012.
Baluran sebagai salah satu dasar pengelolaan kawasan dapat
dilihat dengan menggunakan teknologi sebagai alat monitor
terhadap perubahan tutupan lahan. Teknologi yang dapat
digunakan adalah aplikasi Sistem Informasi Geografis (SIG). SIG
adalah kumpulan yang terorganisir dari perangkat keras komputer,
perangkat lunak, data geografi dan personil yang dirancang secara
efisien untuk memperoleh, menyimpan, memperbaharui,
Berkala Ilmiah TEKNOLOGI PERTANIAN. Volume 1, Nomor 1, 2015
1 Ilham Tri Cahyono et al., Pemantauan Perubahan Penutupan Lahan Menggunakan Aplikasi SIG.................. 2
1. Pembuatan peta digital yang dapat ditampilkan seperti diagram
alir di bawah ini :
3.3 Tahapan Penelitian
Gambar 3.2 Diagram Alir Proses Pembuatan Peta Digital
2. Pemotongan data digital
Pemotongan data digital bertujuan untuk menetukan batas
wilayah yang akan diteliti. Pemotongan dilakukan dengan
memotong data citra yang sudah terkoreksi untuk mendapatkan
wilayah lokasi penelitian.
3. Klasifikasi data digital
Klasifikasi data digital merupakan kegiatan untuk
menentukan kelas - kelas yang terdapat pada peta penutupan lahan
tahun 2008 hasil pengukuran milik TN Baluran. Kelas - kelas
tersebut menunjukkan kategori - kategori lahan dan didasarkan
pada warna yang tampak dalam data peta penutupan lahan.
Klasifikasi dilakukan dengan cara mengelompokkan rona yang
sama pada citra satelit google earth ke dalam kelas - kelas
tertentu. Kegiatan klasifikasi diambil melalui hasil ground check
yaitu hutan mangrove, invasi akasia, savana, hutan primer, hutan
sekunder, belukar, hutan tanaman, dan lahan pertanian. Penentuan
kelas-kelas berdasarkan dokumen spasial milik TN Baluran dan
peta hasil klasifikasi ini dapat dijadikan acuan saat pengambilan
data di lapangan. Kelas-kelas yang didefinisikan menunjukkan
Gambar 3.1 Diagram Alir Tahapan Penelitian jenis penutupan lahan yang ada di lapangan dan hasil dari
klasifikasi citra ini adalah peta penutupan lahan.
3.4 Metode Pengambilan Data 4. Analisis perubahan penutupan lahan
Dalam penelitian ini terdapat dua data yang digunakan yakni Perubahan penutupan lahan dilakukan dengan menghitung
data spasial dan data atribut. selisih luas masing-masing tipe penutupan lahan dan dianalisis
secara deksriptif, sedangkan untuk menghitung laju perubahan
a. Data Spasial penutupan lahan menurut Yusri, (2011) menggunakan rumus
Data spasial diambil melalui data penginderaan jauh berikut:
menggunakan metode ground check di setiap tutupan lahan
vegetasi. Dari data yang telah terkumpul dilakukan pengolahan
dengan menggunakan metode sistem informasi geografis. Software
yang digunakan merupakan software open source Quantum GIS
yang lebih mudah dipahami.
b. Data Atribut
Data ini meliputi data studi literatur terhadap laporan-
laporan yang dikeluarkan oleh pihak TN Baluran serta wawancara
dengan beberapa informan salah satunya Bapak Yusuf Sabarno 5 Analisis kesesuaian zona rehabilitasi
(Koordinator Tim Pengendali Ekosistem Hutan TN Baluran) dan
Bapak Suwono selaku Ahli Sistem Informasi Geografis (SIG) di Analisis kesesuaian zona rehabilitasi dibuat menggunakan
lokasi penelitian untuk mengetahui informasi perubahan hasil laju perubahan tutupan lahan yang luasannya mengalami
penutupan lahan yang pernah terjadi serta wawancara terhadap penurunan dalam periode 2008 – 2014 kemudian hasil shape file
kelompok masyarakat di dalam kawasan konservasi, serta para dari tutupan lahan tersebut dioverlay dengan peta zonasi yang
pihak yang relevan seperti masyarakat penyangga dan stakeholder sudah ada sebelumnya untuk mengevaluasi luasan dan letak zonasi
lokal. yang telah ada. Besar luasan tutupan lahan yang mengalami
perubahan signifikan pada laju perubahannya, menurut Widyartha
3.5 Analisis Data (2006), luas bisa tercover dengan cara sebagai berikut :
Analisis data pada penelitian ini meliputi :
3.5.1 Analisis Data Spasial.
Berkala Ilmiah TEKNOLOGI PERTANIAN. Volume 1, Nomor 1, 2015
1 Ilham Tri Cahyono et al., Pemantauan Perubahan Penutupan Lahan Menggunakan Aplikasi SIG.................. 3
Data hasil luas diatas kemudian di overlay kembali pada untuk memudahkan peneliti. Pengecekan di lapang dianjurkan
peta kawasan Taman Nasional yang sudah ada sebelumnya untuk sesuai arahan petugas TNB untuk mencapasi akses di setiap
mendapatkan zona rehabilitasi yang baru berdasarkan pemantauan tutupan lahan yang akan di cek kondisinya di lapang.
perubahan tutupan lahan vegetasi periode tahun 2008-2014.
Berikut peta hasil pengecekan lapang hasil digitasi ulang
HASIL DAN PEMBAHASAN menggunakan software quantum GIS :
4.1 Kondisi Umum Kawasan
Taman Nasional Baluran merupakan kawasan Konservasi
Sumberdaya Alam, yang berarti di dalam kawasan Taman
Nasional Baluran terdapat pengelolaan sumberdaya alam hayati
yang pemanfaatannya dilakukan secara bijaksana, untuk menjamin
kesinambungan persediaannya dengan tetap memelihara dan
meningkatkan kualitas keanekaragaman dan nilainya. Kawasan
TN Baluran secara geografis berada di koordinat 7°55'17.76"S dan
114°23'15.27"E dan terletak di Kecamatan Banyuputih, Kabupaten
Situbondo, Propinsi Jawa Timur dengan batas-batas wilayah
sebelah utara Selat Madura, sebelah timur Selat Bali, sebelah
selatan Sungai Bajulmati, Desa Wonorejo dan sebelah barat
Sungai Klokoran, Desa Sumberanyar. Dari segi pengelolaan
kawasan TN Baluran dibagi menjadi dua Seksi Pengelolaan
Taman Nasional, yaitu: Seksi Pengelolaan Taman Nasional
Wilayah I Bekol, meliputi Resort Bama, Lempuyang dan
Perengan. Seksi Pengelolaan Taman Nasional Wilayah II
Karangtekok meliputi Resort Watu Numpuk, Labuhan Merak dan
Gambar 4.1 Peta Titik Pengecekan Penutupan Lahan
Bitakol (Tim PHKA Baluran, 2012).
4.3 Klasifikasi Penutupan Lahan Vegetasi TN Baluran
4.2 Identifikasi Tutupan Lahan
Untuk mengklasifikasi tiap tutupan lahan vegetasi dalam
Untuk identifikasi tutupan lahan ini dilakukan dengan
menggunakan peta citra satelit untuk mendapatkan gambaran bentuk data digital, peneliti menggunakan google earth dengan
tutupan vegetasi asli yang ada di kawasan TN. Baluran. Akan tanggal akses 5 Juni 2014. Melalui google earth, tiap tutupan
tetapi pihak Balai TN. Baluran sudah membuat peta tutupan lahan lahan vegetasi dapat dilihat secara lebih jelas dalam bentuk visual
terbaru tahun 2013, oleh karena itu peneliti mengolah peta yang dengan kunci interpretasi tipe penutupan vegetasi pada google
didapat dari Balai TNB menggunakan software Quantum-GIS earth.
yang disesuaikan menurut warna, pola dan bentuk sesuai yang Kunci interpretasi visual dari google earth menggunakan
terlihat pada peta. Peta tutupan lahan terbaru yang dimiliki TNB ketinggian 50 meter di atas permukaan tanah. Metode ini
merupakan peta yang pembuatanya menggunakan aplikasi NVDI merupakan penafsiran citra satelit secara visual yang dilakukan
(Normalized Defference Vegetation Index). Aplikasi ini secara manual tanpa menghitung nilai spasial yang terkandung di
merupakan cara yang digunakan untuk mengidentifikasi vegetasi dalam citra satelit tersebut. Setelah penafsiran secara visual lokasi
tanaman yang memanfaatkan nilai pantulan hijau daun yang TN Baluran, kawasan Taman Nasional Baluran diunduh
terlihat dari atas, sehingga cara ini hanya bisa menggambarkan menggunakan software easy google downloader dan lokasi hasil
kondisi tutupan lahan yang terlihat dari atas saja. Nilai pantulan pengecekan dipindah ke format shp file ke dalam software
hijau daun merupakan kunci untuk menentukan kondisi tutupan Quantum GIS untuk pengolahan data digital. Berikut gambar
lahan, jadi semakin hijau permukaan yang ada pada peta maka melakukan pin download di google earth :
kondisinya akan terbaca sangat lebat dan semakin pudar warnanya
maka akan terbaca jarang ada tanaman di kawasan tersebut. Maka
dari itu, penelitian ini dilakukan untuk melihat apakah hasil yang
didapatkan dari peta tutupan lahan itu sama jika dibandingkan
dengan kondisi tutupan lahan yang dilakukan dengan cara analisis
di lapang secara langsung. Analisis yang dilakukan yaitu
peninjauan dan pengambilan sampel secara langsung yang
disesuaikan dengan peta tutupan lahan yang didapat dari TNB.
Untuk memudahkan pengambilan sampel pada saat
penelitian, peta tutupan lahan dari TNB didigitasi ulang dan
dibedakan sesuai tutupan lahan yang ada. Dari hasil digitasi,
didapatkan 8 tutupan lahan, yaitu hutan primer, hutan sekunder,
hutan jati/tanaman, hutan savana, hutan akasia, hutan semak
belukar, hutan mangrove dan ladang penduduk (EKS HGU). Dari
8 tutupan lahan tersebut dibuat peta hasil pengecekan lapang
Berkala Ilmiah TEKNOLOGI PERTANIAN. Volume 1, Nomor 1, 2015
1 Ilham Tri Cahyono et al., Pemantauan Perubahan Penutupan Lahan Menggunakan Aplikasi SIG.................. 4
Gambar 4.2 Hasil Pin di Google Earth. Berdasarkan hasil Tabel 4.1 dapat disimpulkan bahwa laju
perubahan invasi akasia merupakan yang terbesar dengan
perubahan sebesar 2%. Mengingat invasi akasia sangat
4.4 Penutupan Lahan Vegetasi TN Baluran Tahun 2008 dan mengganggu ekosistem lain terutama savana maka zona
Tahun 2014 rehabilitasi yang akan dibuat berdasarkan invasi akasia yang
terletak di daerah savana.
Hasil georeferencing peta kerja TN Baluran tahun 2008 dan
penafsiran citra google earth tahun 2014 menggunakan software 4.4 Rekomendasi Zona Rehabilitasi Berdasarkan Laju
open source Quantum GIS Valmiera 2.2 terdapat pada gambar Perubahan Tutupan Lahan Vegetasi
berikut : Setelah mendigitasi ulang peta zona rehabilitasi terdahulu
dilakukan overlay peta zona rekomendasi berdasarkan invasi
akasia yang terdapat di savana pada peta berikut ini :
Gambar 4.3 Peta Penutupan Lahan 2008
Gambar 4.5 Peta Rekomendasi Zona Rehabilitasi
Luasan kawasan yang berdasarkan peta diatas sebesar
3674,80 ha. Kawasan tersebut meliputi zona rehabilitasi yang
sudah ada sebelumnya sampai savana bekol. Luas zona rehabilitasi
sebelumnya adalah 365,81 ha. Jadi luasan yang belum tercakup
zona rehabilitasi sangat besar jika dibandingkan dengan luasan
yang ditetapkan sebelumnya. Zona rehabilitasi yang optimal
adalah zona dimana luas dan letaknya sesuai dengan tujuan
pembuatan zona rehabilitasi, salah satunya yaitu untuk
merehabilitasi kawasan yang sudah rusak akibat gangguan
manusia maupun alam dalam hal ini adalah invasi akasia di savana
sehingga memerlukan penanganan secara berkala (Widyartha,
2006). Zona rehabilitasi yang diharapkan lebih optimal fungsinya
adalah gabungan antara zona rehabilitasi dengan zona rekomendasi
yang dibuat berdasarkan laju perubahan tutupan lahan invasi
Gambar 4.4 Peta Penutupan Lahan 2014
akasia. Zona rekomendasi digabung dengan zona rehabilitasi,
4.6 Perubahan Penutupan Lahan Vegetasi TN Baluran 2008 - maka akan didapatkan zona gabungan yang diharapkan lebih baik
2014. dari zona sebelumnya. Berikut peta rekomendasi hasil gabungan
dengan zona yang lain :
Perubahan penutupan lahan merupakan keadaan suatu lahan
karena suksesi alam dan manusia mengalami kondisi yang
berubah pada waktu yang berbeda. Berdasarkan hasil interpretasi
Peta Penutupan Lahan tahun 2008 dan Peta hasil olahan tahun
2014, dapat diketahui bahwa terjadi perubahan luas tiap tutupan
lahan di kawasan TN Baluran. Berikut Tabel laju perubahan
periode 2008-2014.
Tabel 4.1 Laju Perubahan Penutupan Lahan
Gambar 4.6 Peta Hasil Zonasi terbaru Hasil Rekomendasi
Berkala Ilmiah TEKNOLOGI PERTANIAN. Volume 1, Nomor 1, 2015
1 Ilham Tri Cahyono et al., Pemantauan Perubahan Penutupan Lahan Menggunakan Aplikasi SIG.................. 5
Setelah proses overlay, maka zona rehabilitasi memiliki luas
4040,61 ha dan letak yang berbeda dengan zona rehabilitasi yang
lama. Kesesuaian zona rehabilitasi mencapai 16,16%. Zona
rehabilitasi yang baru menempati zona rimba pada zonasi
terdahulu. Pola zona rehabilitasi mengikuti luasan invasi akasia
yang terdapat di savana.
Tabel 4.2 Rekomendasi Luas Zonasi Terbaru di Taman
Nasional Baluran
Zonasi baru ini berbeda dengan zonasi yang terdahulu baik
dari luasannya maupun letaknya. Zona yang mengurangi
pengurangan luas kawasannya hanya zona rimba sedangkan zona
lainnya tidak berubah.
UCAPAN TERIMA KASIH
Peneliti mengucapkan banyak terima kasih kepada Bapak
Hamid Ahmad dan Ibu Elida Novita yang sudah memberikan
arahan dan masukan mengenai penelitian ini, serta semua pihak
yang telah mendukung dan membantu dalam pelaksanaan
penelitian.
DAFTAR PUSTAKA
Astrini, R. 2012. Modul Pelatihan Quantum GIS Tingkat Dasar.
Mataram : BAPPEDA Provinsi NTB.
Tim PHKA Baluran. 2012. Revisi Zonasi Taman Nasional
Baluran. Situbondo : Balai Taman Nasional Baluran.
Widada, Mulyati, S., dan Kobayashi, H. 2006. Sekilas tenteng
Konservasi Sumberdaya Alam Hayati dan
Ekosistemnya. Jakarta: Ditjen PHK-JICA.
Widodo, S., Novita, E., dan Susiati, L.P. 2013. “Valuasi Ekonomi
dan Analisis Strategi Pengolahan Taman Nasional
Baluran Jawa Timur” Tidak Diterbitkan. Laporan
Penelitian. Jember. Lembaga Penelitian Universitas
Jember.
Widyartha, M. 2006. Evaluasi Luas Dan Letak Zona Inti Melalui
Pendekatan Distribusi Banteng (Bos Javanicus) Dan
ajag (Cuon alpinus) Di Taman Nasional Baluran.
Yogyakarta. Universitas Gadjah Mada.
Yusri, A. 2011. Perubahan Penutupan Lahan Dan Analisis Faktor
Penyebab Perambahan Kawasan Taman Nasional
Gunung Ciremai. Bogor : Institut Pertanian Bogor.
Berkala Ilmiah TEKNOLOGI PERTANIAN. Volume 1, Nomor 1, 2015