Fluida adalah sub-himpunan dari fase benda, termasuk cairan, gas, plasma,
dan padat plastik.
Fluida memiliki sifat tidak menolak terhadap perubahan bentuk dan kemampuan
untuk mengalir (atau umumnya kemampuannya untuk mengambil bentuk dari
wadah mereka). Sifat ini biasanya dikarenakan sebuah fungsi dari
ketidakmampuan mereka mengadakan tegangan geser (shear stress)
dalam ekuilibrium statik. Konsekuensi dari sifat ini adalah hukum Pascalyang
menekankan pentingnya tekanan dalam mengarakterisasi bentuk fluid. Dapat
disimpulkan bahwa fluida adalah zat atau entitas yang terdeformasi secara
berkesinambungan apabila diberi tegangan geser walau sekecil apapun tegangan
geser itu.
Fluid dapat dikarakterisasikan sebagai:
Fluida Newtonian
Fluida Non-Newtonian
- bergantung dari cara "stress" bergantung ke "strain" dan turunannya.
Fluida juga dibagi menjadi cairan dan gas. Cairan membentuk permukaan bebas
(yaitu, permukaan yang tidak diciptakan oleh bentuk wadahnya), sedangkan gas
tidak.
Setiap zat cair mempunyai karakteristik yang khas, berbeda satu zat cair dengan zat
cair yang lain. Oli mobil sebagai salah satu contoh zat cair dapat kita lihat lebih
kental daripada minyak kelapa. Apa sebenarnya yang membedakan cairan itu
kental atau tidak. Kekentalan atau viskositas dapat dibayangkan sebagai peristiwa
gesekan antara satu bagian dan bagian yang lain dalam fluida. Dalam fluida yang
kental kita perlu gaya untuk menggeser satu bagian fluida terhadap yang lain.
Di dalam aliran kental kita dapat memandang persoalan tersebut seperti tegangan
dan regangan pada benda padat. Kenyataannya setiap fluida baik gas maupun zat
cair mempunyai sifat kekentalan karena partikel di dalamnya saling menumbuk.
Bagaimana kita menyatakan sifat kekentalan tersebut secara kuantitatif atau
dengan angka, sebelum membahas hal itu kita perlu mengetahui bagaimana cara
membedakan zat yang kental dan kurang kental dengan cara kuantitatif. Salah satu
alat yang digunakan untuk mengukur kekentalan suatu zat cair adalah
viskosimeter.
Apabila zat cair tidak kental maka koefesiennya sama dengan nol sedangkan pada
zat cair kental bagian yang menempel dinding mempunyai kecepatan yang sama
dengan dinding. Bagian yang menempel pada dinding luar dalam keadaan diam
dan yang menempel pada dinding dalam akan bergerak bersama dinding tersebut.
Lapisan zat cair antara kedua dinding bergerak dengan kecepatan yang berubah
secara linier sampai V. Aliran ini disebut aliran laminer.
Aliran zat cair akan bersifat laminer apabila zat cairnya kental dan alirannya tidak
terlalu cepat. Kita anggap gambar di atas sebagai aliran sebuah zat cair dalam pipa,
sedangkan garis alirannya dianggap sejajar dengan dinding pipa. Karena adanya
kekentalan zat cair yang ada dalam pipa, maka besarnya kecepatan gerak partikel
yang terjadi pada penampang melintang tidak sama besar. Keadaan tersebut terjadi
dikarenakan adanya gesekan antar molekul pada cairan kental tersebut, dan pada
titik pusat pipa kecepatan yang terjadi maksimum.
Gambar II.1 Arus Laminer
Akibat lain adalah kecepatan rata-rata partikel lebih kecil daripada kecepatan
partikel bila zat cairnya bersifat tak kental. Hal itu terjadi akibat adanya gesekan
yang lebih besar pada zat cair yang kental.
Jika aliran kental dan tidak terlalu cepat maka aliran tersebut bersifat laminer dan
disebut turbulen jika terjadi putaran/pusaran dengan kecepatan melebihi suatu
harga tertentu sehingga menjadi kompleks dan pusaran-pusaran itu dinamakan
vortex.
h . r4 . t . P
= ……………(1)
8V.L
Persamaan diatas dinamakan persamaan stokes, merupakan salah satu rumus untuk
mengukur viskositas cairan dimana:
V = Volume cairan
r = Jari - jari tabung kapiler
t = Waktu mengalir melalui tabung kapiler
P = Tekanan
L = Panjang aliran terhadap tekanan t
Untuk menentukan viskositas suatu cairan dengan persamaan diatas tidak terlalu
penting untuk mengukur semua kuantitas yang ada bila satu viskositas dari
beberapa cairan referensi yaitu air yang telah diketahui secara tepat.
dua caran yaitu :Dua cairan yang berbeda bila diukur waktu alirannya pada
volume yang sama dan melalui kapiler yang sama maka menurut persamaan
pouseville, perbandingan dari
.P1.r4.t1.8.V.L1
= …………( 2 )
.P2.r4.t22 8.V.L.
Dari persamaan diatas dapat diketahui bahwa P1 dan P2 berbanding lurus dengan
massa jenis atau densitas kedua cairan (P1 dan P2), maka persamaan diatas dapat
ditulis sebagai :
1 P1 . t1
= …………..( 3 )
2 P2 . t2
Viskositas Ostwald adalah cara yang paling baik untuk mengukur kuantitas t1 dan
t2 (lihat gambar).
Mulut
Penyumbat T
S
Gambar. II.2 Viskositas Ostwald
dihitung sesuai persamaanSuatu kuantitas tertentu zat cair yang dikenalkan
dalam viskositas di sebuah tabung termostat dan kemudian ditarik oleh sulfon
kedalam bulb sampai cairan berada di ketinggian tepat berada diatas permukaan ‘a’
kemudian dibiarkan turun sampai ‘b’. Waktu yang diperlukan dari posisi a ke
posisi b diukur, lalu
pertama. Persamaan pertama tidaklah sempurna dan dikoreksi dengan persamaan
sebagai berikut : = x.t - 0,12/t
x = Konstanta yang tergantung pada volume cairan, jari-jari kapiler, panjang pipa,
gravitasi dan lain-lain
t = Waktu yang terukur
dapat pula menggunakan metode viskositas bola jatuh.Selain dengan metode
viskositas Ostwald untuk menghitung
Pada viskositas bola jatuh caranya adalah pertama-tama kita masukkan suatu
cairan (yang akan diukur viskositasnya) kedalam sebuah tabung. Lalu sebuah bola
kecil (dengan massa jenis dan diameter diketahui) dijatuhkan diatas permukaan
cairan (Vo = nol). Gerakan bola mula-mula turun dipercepat sampai jarak tertentu
setelah itu gerakan bola menjadi beraturan. Selama pergerakan bola mengalami
gaya gesek (Fr) dan gaya apung (Fa). Mula-mula Fr = m.a kemudian F(y) = 0 (y =
konstan) sehingga W = Fa + Fr (sesuai dengan gambar II.3)
Gambar. II.3 Viskositas bola jatuh
menurut dalil Stokes :Pada kecepatan konstan, gaya gesek bergantung pada
.r.v.Fr = G.
dimana : Fr = Gaya gesek
= Koefisien viskositas
r = Jari-jari bola
v = Kecepatan konstan
G r v cair) = G bola - ( r3 = mg = 4/3
Jadi menurut dalil stokes koefisien viskositas dihitung dengan rumus :
Untuk bola kebawah :
bol2 g r2 (cair)a -
=
g.v
Untuk bola keatas :
bola)cair - 2 g r2 (
=
g.v
Dari persamaan diatas dapat diturunkan persamaan apabila r bola dibanding r
tabung tidak terlalu kecil maka akan diberi ralat :
Fr = (1+1,36 r/B) dengan r = jari-jari tabung sebelah dalam
Sehingga persamaan diatas menjadi :
cair)bola - N . (
=
F.v
dimana N = 2 r2 g/9
Kesamaan dan Perbedaan Macam-Macam Fluida
Macam - Macam Fluida, yaitu :
- Gas
- Zat cair
Kesamaan kedua jenis fluida tersebut :
1. Zat cair dan gas tidak melawan terhadap perubahan bentuk
2. Zat cair dan gas tidak mengadakan reaksi terhadap gaya geser
Perbedaaan kedua jenis fluida tersebut :
1. Zat cair mempunyai muka air bebas dan gas tidak memiliki permukaan bebas
2. Zat cair hanya akan mengisi volume yang diperlukan sedangkan gas akan mengisi
seluruh ruangan
3. Zat cair tak termampatkan sedangkan gas dapat termampatkan
Saat ini terdapat beberapa model pengukuran Viskositas dan secara garis besar
dapat digolongkan sbb. :
1. Falling ball viscometer, mendapatkan nilai viskositas dengan cara mengukur waktu
yang dibutuhkan oleh suatu bola jatuh melalui sample pada jarak tertentu.
2. Cup-type Viscometer, mendapatkan nilai viskositas dengan mengukur waktu yang
diperlukan oleh suatu sample untuk mengalir pada suatu celah sempit (orifice).
3. Vibro Viscometer, mendapatkan nilai viskositas dengan cara mengendalikan
amplitudo sebuah pelat sensor yang dicelupkan ke dalam sample dan mengukur
arus listrik yang diperlukan untuk menggerakkan sensor tersebut.
4. Capillary Tube Viscometer, mendapatkan nilai viskositas dengan cara membiarkan
sample mengalir di dalam sebuah pipa kapiler dan mengukur beda tekanan di
kedua ujung kapiler tersebut.
5. Rotational Viscometer, mendapatkan nilai viskositas dengan mengukur gaya puntir
sebuah rotor silinder (spindle) yang dicelupkan ke dalam sample.
Dalam kesempatan ini akan kita pelajari dasar-dasar pengukuran viskositas dengan
methode Rotational. Pada methode ini sebuah spindle dicelupkan ke dalam cairan
yang akan diukur viskositasnya. Gaya gesek antara permukaan spindle dengan
cairan akan menentukan tingkat viskositas cairan.
Seperti tampak pada gambar di atas, sebuah spindle dimasukkan ke dalam cairan
dan diputar dengan kecepatan tertentu. Bentuk dari spindle dan kecepatan putarnya
inilah yang menentukan Shear Rate, yang telah dijelaskan pada artikel sebelumnya.
Sebagai contoh Viscometer yang menggunakan prinsip ini adalah : Viscometer
Model : LVDV-II Pro salah satu viscometer keluaran dari Brookfield Engineering
Laboratories, USA. Saat ini viscometer model rotational keluaran Brookfield ini
paling banyak dipakai di pasaran.
Viscometer LVDV-II Pro (Brookfield)
Kita ketahui sebelumnya bahwa untuk cairan-cairan yang tergolong dalam kategori
Non Newtonian hasil pembacaan Viskositas dipengaruhi oleh Shear Rate, dalam
hal ini dinyatakan oleh bentuk geometri spindle serta kecepatan putarnya. Oleh
karena itu untuk membuat sebuah report Viskositas dengan methode pengukuran
Rotational harus dipenuhi beberapa hal sbb. :
Jenis Spindle
Kecepatan putar Spindle
Type Viscometer
Suhu sample
Shear Rate (bila diketahui)
Lama waktu pengukuran (bila jenis sample-nya Time Dependent)
Yang dimaksud dengan Time Dependent sample adalah jenis cairan yang nilai
viskositasnya berubah seiring dengan lama waktu pengukuran.