0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
22 tayangan69 halaman

Meningkatkan Hasil Belajar IPAS SD

proposal

Diunggah oleh

Talia Mardivani
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
22 tayangan69 halaman

Meningkatkan Hasil Belajar IPAS SD

proposal

Diunggah oleh

Talia Mardivani
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

UPAYA MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA PADA MATA PELAJARAN IPAS

TOPIK MEMAKAN DAN DIMAKAN DENGAN MENGGUNAKAN MODEL

PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE MAKE A MATCH DAN MEDIA INTERAKTIF

ANIMASI DI KELAS V SDN 12 PALANGKA

Dosen Pengampu: Dr. Diplan, [Link], [Link]

PROPOSAL

Oleh:

Talia Mardivani

(223020212115)

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR

JURUSAN ILMU KEOLAHRAGAAN DAN PENDIDIKAN DASAR

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS PALANGKA RAYA

2025

i
DAFTAR ISI

BAB I PENDAHULUAN..................................................................................................

1. Latar Belakang ........................................................................................................

2. Fokus Penelitian......................................................................................................

3. Rumusan Masalah....................................................................................................

4. Tujuan Masalah........................................................................................................

5. Manfaat Penelitian...................................................................................................

BAB II KAJIAN PUSTAKA.............................................................................................

A. Teori dan Pustaka.....................................................................................................

1. Teori Belajar......................................................................................................

2. Hasil Belajar......................................................................................................

3. Model Pembelajaran..........................................................................................

4. Model Pembelajaran Kooperatif........................................................................

5. Media Pembelajaran..........................................................................................

6. Media Interaktif Animasi...................................................................................

7. Mata Pelajaran IPAS..........................................................................................

8. Materi IPAS yang di Aplikasikan Pada Penelitian.............................................

B. Kretngka Berfikir.....................................................................................................

C. Penelitian yang Relevan..........................................................................................

BAB III METODE PENELITIAN......................................................................................

A. Tempat Penelitian....................................................................................................

1. Tempat Penelitian..............................................................................................

2
2. Waktu Penelitian................................................................................................

B. Metode Penelitian....................................................................................................

C. Prosedur Penelitian..................................................................................................

D. Sumber Data............................................................................................................

1. Data Primer........................................................................................................

2. Data Skunder.....................................................................................................

E. Teknik Pengumpulan Data.......................................................................................

1. Teknik Pengeumpulan Data...............................................................................

2. Instrumen Pengumpulan data............................................................................

F. Validasi Data............................................................................................................

G. Teknik Analisis Data................................................................................................

H. Analisis Data Kualitatif...........................................................................................

I. Analisis Data Kuantitatif.........................................................................................

3
BAB I

PENDAHULUAN

1. Latar Belakang

Dalam Perundang-undangan tentang Sistem Pendidikan No.20 tahun 2003, mengatakan

bahwa Pendidikan merupakan “usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar

dan pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki

kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia serta

keterampilan yang diperlukan dirinya dan masyarakat”.

Pendidikan merupakan faktor utama dalam membentuk kualitas sumber daya manusia dan

menentukan kemajuan suatu bangsa. Pendidikan di Tingkat dasar menjadi pondasi bagi

perkembangan kognitif, afektif, dan psikomotorik anak. Melalui Pendidikan, siswa tidak hanya

memperoleh pengetahuan akademik, tetapi juga keterampilan sosial, emosional, serta karakter

yang mandiri dan bertanggung jawab. Oleh karena itu, pembelajaran di sekolah dasar harus

dirancang secara optimal agar siswa dapat memahami konsep-konsep dasar dengan baik dan

mengembangkan potensi mereka secara maksimal.

Belajar adalah suatu proses perubahan kepribadian seseorang dimana perubahan tersebut

dalam bentuk peningkatan kualitas perilaku, seperti peningkatan pengetahuan, keterampilan,

daya pikir, pemahaman, sikap, dan berbagai kemampuan lainnya. Menurut pendapat [Link]

(dalam Sukantin, dkk 2022:919), mendefinisikan belajar sebagai perubahan kelakuan, pengalam

dan latihan. Jadi belajar membawa suatu perubahan pada diri seseorang yang belajar. Perubahan

ini tidak hanya mengenai sejumlah pengalaman, pengetahuan, melainkan juga membentuk

kecakapan, kebiasaan, sikap, pengertian, minat, penyesuaian diri.

4
Pembelajaran pada hakekatnya adalah proses interaksi antara peserta didik dengan

lingkungannya, sehingga terjadi proses perubahan perilaku ke arah yang lebih baik. Dan tugas

guru adalah mengkoordinasikan lingkungan agar menunjang terjadinya perubahan perilaku bagi

peserta didik. Pembelajaran juga dapat diartikan sebagai usaha sadar pendidik untuk membantu

peserta didik agar mereka dapat belajar sesuai dengan kebutuhan dan minatnya. Di sini pendidik

berperan sebagai fasilisator yang menyediakan fasilitas dan menciptakan situasi yang

mendukung peningkatan kemauan belajar peserta didik.

Dalam satuan pembelajaran guru tidak hanya mendidik dan mengamati peserta didik, guru

juga mendesain kegiatan sesuai kurikulum yang berlaku. Peraturan Pemerintahan Republik

Indonesia Nomor 13 tahun2015 pasal I ayat 15 kurikulum adalah seperangkat rencana dan

pengetahuan mengenai tujuan, isi, dan bahan pelajar serta bahan yang digunakan sebagai

pedoman penyelenggaraan kegiatan pelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu.

Proses pembelajaran adalah rangkaian kegiatan belajar yang dilakukan peserta didik.

Kegiatan pendidikan yang dilakukan oleh peserta didik di bawah arahan guru. Tugas guru adalah

menentukan tujuan yang dicapai dalam proses pendidikan. Untuk mencapai tujuan pembelajaran,

pendidik perlu merancang berbagai pengalaman belajar. Pengalaman belajar di sini adalah segala

sesuatu yang dimiliki oleh peserta didik sebagai hasil dari proses belajar (Learning Experience).

Saat ini kurikulum pendidikan yang berlaku di Indonesia adalah kurikulum merdeka,

Kurikulum Merdeka disebut juga dengan Kurikulum Prototipe. Kurikulum ini adalah Kurikulum

yang fleksibel. Selain itu, kurikulum ini juga fokus terhadap materi esensial, pengembangan

karakter serta kompetensi peserta didik. Salah satu karakteriktik kurikulum merdeka untuk

menerapkan metode pembelajaran yang lebih interaktif dan kolaboratif. Kurikulum merdeka juga

dinilai lebih fleksibel dibanding kurikulum sebelumnya. Artinya, tenaga pengajar, peseta didik

5
dan sekolah lebih Merdeka dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran disekolah. Kurikulum

Merdeka juga membebaskan pengajar untuk menggunakan perangkat ajar yang cukup banyak,

mulai dari asesmen literasi, modul ajar, buku teks, dan lainnya (Lestari, dkk, 2023:86).

Jadi guru memiliki hak untuk memiliki berbagai perangkat ajar sehingga pembelajaran dapat

disesuaikan dengan kebutuhan belajar dan minat peserta didik. Pembelajaran dari kurikulum

merdeka adalah untuk meningkatkan kualitas pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan dan

minat peserta didik. Mengembangkanpemahaman, mendorong kreativitas, dan inovasi peserta

didik dalam menyelesaikan tugas, agar peserta didik lebih bergairah saat belajar mereka dapat

berkomunikasi dalam situasi nyata seperti bercerita, betanya, menulis dan berdiskusi dalam

mempelajari pelajaran agar tumbuh keterampilan sosial melalui kerjasama.

Berdasarkan observasi yang dilakukan peneliti pada Sekolah Dasar Negeri 12 Palangka kelas

V di Kota Palangka Raya, ditemukan masalah dalam kegiatan belajar mengajar. Pada saat

pembelajaran IPAS dengan topik memakan dan di makan, guru menggukaan model konvensional

dalam proses pembelajaran serta metode dan media pembelajaran yang kurang bervariasi.

Terlihat juga pada saat guru menerangkan pembelajaran ada peserta didik yang tidak

memperhatikan materi yang disampaikan. Peserta didik sering berbicara dengan temannya, dan

merasa bosan karena proses pembelajaran masih didominasi oleh guru. Sehingga pembelajaran

cenderung berlangsung satu arah, hal ini mengakibatkan peserta didik kurang bersemangat untuk

belajar dengan begitu akan mengakibatkan peserta didik kurang dalam pemahaman.

Pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam dan Sosial (IPAS) khususnya pada topik memakan dan

dimakan, disekolah ini terkesan tidak menarik bagi siswa terlebih lagi bagi siswa yang memang

tidak menyukai pelajaran tersebut. Jadi peserta didik akan lebih sulit dalam mencerna informasi

yang diberikan oleh guru. Hal ini menyebabkan kurangnya kesiapan peserta didik untuk

6
menerima pelajaran sehingga mempengaruhi aspek-aspek seperti motivasi, minat, kebiasaan

belajar, kepercayaan diri, dan aspirasi. Peserta didik menganggap pelajaran IPAS adalah

pelajaran yang bersifat hafalan, teori yang jarang sekali ada prakteknya. Situasi ini semakin

buruk ketika guru mengajar secara monoton dan terlalu teoritis, ditambah lagi dengan minimnya

sarana belajar serta materi kurikulum IPAS yang membebani. Semua ini menjadi faktor utama

yang menyebabkan kesulitan belajar siswa pada saat proses pembelajaran, sehingga hasil belajar

siswa di kelas V khususnya pada pembelajaran IPAS topik memakan dan dimakan tergolong

rendah.

Oleh karena itu, perlu adanya strategi pembelajaran untuk meningkatkan pemahaman peserta

didik dalam belajar, dan strategi tersebut dapat menigkatkan hasil belajar siswa. Jadi peneliti

mencoba menggunakan Model pembelajaran kooperatif Tipe Make A Match dan Media

Pembelajaran Interaktif animasi sebagai bantuan dalam proses belajar mengajar. Model

pembelajaran kooperatif tipe Make a Match merupakan suatu model pembelajaran yang

mengajak peserta didik mencari jawaban atas suatu pertanyaan atau pasangan dari suatu konsep

melalui suatu permainan kartu pasangan. Make a Match (mencari pasangan) merupakan model

yang dikembangkan pertama kali oleh Lorna Curran pada tahun 1994. Make a match ini

merupakan model yang mengajarkan siswa untuk dapat aktif dalam mencari/ mencocokan

jawaban dan disiplin terhadap waktu yang telah ditentukan. Make a match saat ini merupakan

salah satu strategi penting dalam ruang kelas. Tujuan dari strategi ini anatra lain: pendalaman

materi, penggalian materi, dan edutainment (Sulistio & Haryanti, 2022:56).

Media pembelajaran interaktif juga merupakan media pembelajaran yang dapat digunakan

untuk mendingkatkan interaksi siswa dan mendorong siswa agar lebih aktif pada saat

kegiatan pembelajaran. Hal utama untuk meningkatkan media pembelajaran adalah

7
teknologi. Teknologi dapat memungkinkan pembelajaran yang lebih efektif,

menyenangkan, dan efisien dibandingkan dengan pembelajaran konvensional.

Penggunaan media pembelajaran yang menggunakan teknologi banyak menjadi pusat

perhatian oleh para pendidik adalah media pembelajaran video animasi.

Video animasi sebagai salah satu media pembelajaran interaktif yang berkaitan dengan

teknologi memiliki banyak sekali manfaat dalam kegiatan pembelajaran. Video animasi

merupakan media yang di dalamnya terdapat informasi yang disampaikan secara visula dan

interaktif karena di dalamnya menggabungkan elemen warna, gerak, suara, dan gambar sehingga

dapat membuat pengalaman belajar yang menyenangkan. Vidio animasi merupakan media

pembelajaan yang menarik dan berbeda, sehingga membuat peserta didik termotivasi dalam

mengikuti pembelajaran. Media vidio animasi dapat memberikan respon baik kepada

peserta didik. Vidio animasi membuat suasana pembelajaran menjadi menyenangkan dan

suasana baru yang dirasakan oleh peserta didik dalam kegiatan pembelajaran (Rosmana, dkk,

2024:1470).

Media vidio animasi memudahkan peserta didik untuk memahami materi yang

dipelajari, karena dengan sajian materi yang bervariasi dapat membuat peserta didik

tertarik dan fokus untuk mengikuti kegiatan pembelajaran. Media pembelajaran yang baik dan

tepat sesuai dengan karakteristik peserta didik, memudah untuk mencapai tujuan

pembelajaran. Membuat peserta didik tertarik dantermotivasi dalam kegiatan pembelajaran

dapat meningkatkan hasil belajar peserta didik. Media vidio animasi apat membantu pesrta

didik yang awal mulanya mereka berfikir secara abstrak terhadap materi menjadi konkret, jelas

dan mudah untuk dipahami, (Rosmana, dkk, 2024:1474).

8
Menggunkan media vidio animasi dapat berdampak positif pada semangat belajar

peserta didik. Penggunakan media vidio animasi juga dapat membantu guru untuk

memudahkan menyampaikan materi yang bermakna. Media vidio animasi dapat

menginspirasi peserta didik terhadap materi yang dipelajari dan membuat peserta didik

lebih fokus. Dapat disimpulkan bahwa pemanfaatan media vidio animasi dapat

meningkatkan motivasi dan semangat belajar siswa.

Berdasarkan penjelasan di atas peneliti tertarik melakukan penelitian yang berjudul "upaya

meningkatkan hasil belajar siswa pada mata pelajaran IPAS topik memakan dan dimakan

dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe make a match dan media interaktif

animasi di kelas V SDN 12 Palangka”.

2. Fokus Penelitian

Berdasarkan latar belakang dan identifikasi masalah yang telah dipaparkan di atas, maka

masalah penelitian ini difokuskan pada beberapa hal bertikut ini:

1. Model Pembelajan kooperatif tipe make a match yang digunakan dalam kegiatan

pembelajaran IPAS kelas V hanya pada topik memakan dan dimakan.

2. Penelitian ini difokuskan hanya pada masalah penggunaan Model Pembelajaran

kooperatif tipe make a match untuk meningkatkan hasil belajar pada topik memakan dan

dimakan, untuk siswa kelas V SDN 12 Palangk Kota Palangkaraya tahun pelajaran 2025.

3. Media interaktif animasi yang digunakan dalam kegiatan pembelajaran IPAS kelas V

hanya pada materi rantai makan.

4. Penelitian ini difokuskan hanya pada masalah penggunaan media interaktif animasi untuk

meningkatkan hasil belajar pada topik memakan dan dimakan, untuk siswa kelas V SDN

12 Palangka Kota Palangkaraya tahun pelajaran 2025.

9
5. Kompetensi Dasar yang ingin dicapai adalah :

1 Mengetahui tumbuhan/hewan memerlukan makanan

2 Mengetahui pristiwa makan dan di makan antar makhluk hidup

Untuk memenuhi ketercapaian tersebut, sebuah upaya guru adalah dengan menggunakan

Model pembelajaran kooperatif tipe make a match dan media interaktif animasi pada mari rantai

makanan.

3. Rumusan Masalah

1. Bagaimanakah aktivitas belajar peserta didik SDN 12 Palangka kelas V menggunakan

model pembelajaran kooperatif tipe make a match dan media interaktif animasi pada

mata pelajaran IPAS topik memakan dan dimakan?

2. Apakah ada peningkatan hasil belajar peserta didik kelas V SDN 12 Palangka

menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe make a match dan media interaktif

animasi pada mata pelajaran IPAS topik memakan dan dimakan?

4. Tujuan masalah

1. Untuk mendeskripsikan aktivitas belajar peserta didik SDN 12 Palangka kelas V

menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe make a match dan media interaktif

animasi pada pembelajaran IPAS topik memakan dan dimakan.

2. Untuk meningkatkan hasil belajar peserta didik kelas V SDN 12 Palangka menggunakn

model pembelajaran kooperatif tipe make a match dan media interaktif animasi.

5. Manfaat penelitian

Penelitian ini diharapkan dapat memberi manfaat dan kontribusi bagi siswa, guru, pihak

sekolah dan peneliti lain.

10
a. Manfaat Teoretis

Manfaat teoretis yang diambil adalah untuk mendapatka teori baru tentang peningkatan hasil

belajar siswa pada mata pelajaran IPAS dikelas V melalui model Pembelajaran kooperatif tipe

make a match dan media interaktif animasi, sehingga dapat menambah wawasan berpikir untuk

dijadikan dasar bertindak bagi insan pendidik dan dunia kependidikan pada umumnya.

b. .Manfaat Praktis

1. Bagi kepala sekolah, hasil penelitian dapat membantu meningkatkan pembinaan

profesional dan supervisi kepada para guru secara lebih efektif, efisien dan kreatif

terhadap model pembelajaran dan penggunaan media pada peserta didik.

2. Bagi para guru, hasil penelitian dapat menjadi bahan pertimbangan guna melakukan

pembenahan serta koreksi diri untuk mengembangkan profesionalisme dalam

pelaksanaan tugas profesinya saat mengajar guru juga harus lebih efektif, efisien dan

kreatif terhadap model pembelajaran dan penggunaan media pada peserta didik.

3. Bagi peneliti, dapat memberikan pengalaman dalam merencanakan untuk membahas

penggunaan Model Pembelajaran kooperatif tipe make a match dan media interaktif

animasi.

4. Bagi peserta didik diharapkan kajian dalam penelitian ini dapat memberikan sedikit ilmu

dalam mencetak lulusan yang berkualitas, berilmu, selalu kreatif dan menemukan hal

baru dan memberikan suasana baru dalam proses pembelajaran sehingga peserta didik

lebih aktif dan menumbuhkan kreativitas dalam proses pembelajaran.

11
BAB II

KAJIAN PUSTAKA

A. Teori dan Pustaka

1. Teori Belajar

a. Pengertian Belajar

Menurut Akhiruddin, dkk (2020:12), belajar merupakan proses penting bagi perubahan

perilaku setiap orang, mencakup segala sesuatu yang dipikirkan dan dikerjakan oleh seseorang.

Belajar memegang peranan penting dalam perkembangan, kebiasaan, sikap, keyakinan, tujuan,

kepribadian, dan bahkan persepsi seseorang.

Belajar adalah suatu proses yang dilalui oleh seorang individu untuk memperoleh

pengetahuan-pengetahuan baru dari yang awalnya tidak tahu menjadi tahu, dari yang tidak

mengerti menjadi paham. Belajar merupakan metamorfosis pada manusia yang disebabkan oleh

pengalaman ( Juliana, dkk, 2023:69).

Belajar merupakan kegiatan yang paling pokok dan penting dalam keseluruhan proses

pendidikan. dalam pengertian sempit, belajar dimaksudkan sebagai usaha penguasaan materi

ilmu pengetahuan yang merupakan sebagian kegiatan menuju terbentuknya kepribadian

seutuhnya. Adapun dalam pengertian luas, belajar dapat diartikan sebagai kegiatan psikofisik

menuju ke perkembangan pribadi seutuhnya. (Sardiman dalam Widayanti, 2022:1).

Menurut Wahab & Rosnawati (2021:1), belajar merupakan suatu proses usaha sadar yang

dilakukan oleh individu untuk suatu perubahan sikap dan Perilaku dari tidak tahu menjadi tahu,

12
dari tidak memiliki sikap menjadi bersikap benar, dari tidak terampil menjadi terampil

melakukan sesuatu. Belajar dapat diartikan sebagai aktifitas mental atau (psikhis) yang terjadi

karena adanya interaksi aktif antara individu dengan lingkungannya yang menghasilkan

perubahan-perubahan yang bersifat relatif tetap dalam aspek-aspek: kognitif, afektif dan

psikomotor.

Maka dapat dikatakan bahwa, belajar merupakan proses sadar yang sangat penting dalam

kehidupan individu, karena menjadi dasar bagi perubahan perilaku, sikap, dan kemampuan

seseorang. Proses ini melibatkan aktivitas mental dan fisik yang terjadi melalui interaksi aktif

dengan lingkungan, yang menghasilkan perubahan yang relatif menetap dalam aspek kognitif

(pengetahuan), afektif (sikap), dan psikomotor (keterampilan). Belajar tidak hanya sebatas

penguasaan materi, tetapi juga mencakup pembentukan kepribadian secara utuh sebagai bagian

dari proses pendidikan.

b. Ciri-Ciri Belajar

Mardicko (2022: 5484), mengungkapkan beberapa ciri-ciri belajar yaitu:

1. Adanya perubahan baru dalam hal kognitif, afektif dan psikomotor.

2. Perubahan tidak bersifat sesaat atau relatif permanen. Maka perubahan yang

sudah terjadi harus selalu diulang-ulang.

3. Perubahan tidak terjadi secara tiba-tiba namun berasal dari latihan dan

pengalaman. Bukan berasal dari perubahan fisik (kematangan), insting

ataupun adanya pengaruh yang mengakibatkan perubahan perilaku.

4. Ada waktu yang dibutuhkan untuk memperoleh perubahan. Maka dibutuhkan

juga pengulangan.

13
Menurut Djamarah (dalam Lestari & Hudaya 2018:49), ada beberapa ciri-ciri belajar yaitu:

1. Perubahan yang terjadi secara sadar.

2. Perubahan dalam belajar bersifat fungsional.

3. Perubahan dalam belajar bersifat positif dan aktif.

4. Perubahan dalam belajar bukan bersifat sementara.

5. Perubahan dalam belajar bertujuan dan terarah.

6. Perubahan mencakup seluruh aspek.

Ciri-ciri belajar menurut (Setiawati, 2018: 33) adalah sebagai berikut :

a. Adanya kemampuan baru atau perubahan. Perubahan tingkah laku bersifat

pengetahuan (kognitif), keterampilan (psikomotorik), maupun nilai dan sikap (afektif).

b. Perubahan itu tidak berlangsung sesaat saja melainkan menetap atau dapat disimpan.

c. Perubahan itu tidak terjadi begitu saja melainkan harus dengan usaha. Perubahan

terjadi akibat interaksi dengan lingkungan.

d. Perubahan tidak semata-mata disebabkan oleh pertumbuhan fisik/ kedewasaan, tidak

karena kelelahan, penyakit atau pengaruh obat-obatan.

Belajar merupakan proses yang ditandai oleh perubahan perilaku yang sadar, bertujuan, dan

mencakup seluruh aspek individu, yaitu kognitif, afektif, dan psikomotor. Perubahan ini tidak

terjadi secara tiba-tiba, melainkan melalui latihan, pengalaman, dan interaksi yang berkelanjutan

dengan lingkungan. Selain itu, perubahan hasil belajar bersifat positif, aktif, fungsional, dan

relatif permanen, sehingga perlu diperkuat melalui pengulangan dan pembiasaan. Belajar juga

bukan hasil dari kematangan fisik atau pengaruh sesaat, melainkan merupakan hasil usaha

individu dalam proses perkembangan dirinya.

14
2. Hasil Belajar

a. Pengertian Hasil Belajar

Menurut Rahman (2021:298), hasil belajar merupakan hasil yang telah dicapai oleh siswa

setelah mengikuti kegiatan belajar. Hasil yang dicapai oleh siswa tersebut bisa berupa

kemampuan-kemampuan, baik yang berkenaan dengan aspek pengetahuan, sikap, maupun

keterampilan yang dimiliki oleh siswa setelah ia menerima pengalaman belajar.

Hasil belajar adalah sebagai terjadinya perubahan tingkah laku pada diri seseorang yang

dapat diamati dan diukur bentuk pengetahuan, sikap dan keterampilan. Perubahan tersebut dapat

diartikan sebagaimterjadinya peningkatan dan pengembangan yang lebih baik dari sebelumnya

dan yang tidak tahu menjadi tahu (Hamalik dalam Fernando, dkk, 2024:66).

Hasil belajar menurut Sudjana (dalam Djonomiarjo 2019:42), adalah kemampuan yang

dimiliki siswa setelah ia menerima pengalaman belajarnya. Jadi hasil belajar merupakan suatu

kemampuan atau keterampilan yang dimiliki oleh siswa setelah siswa tersebut mengalami

aktivitas belajar.

Berdasarkan penjelasan diats dapat di simpulkn bahwa, hasil belajar adalah kemampuan

yang diperoleh siswa sebagai cerminan dari usaha dan proses belajar yang telah dijalani dalam

kurun waktu tertentu. Hasil ini mencakup penilaian terhadap aspek pengetahuan, sikap, dan

keterampilan, serta terlihat dari perubahan perilaku siswa. Oleh karena itu, hasil belajar menjadi

indikator penting dalam menilai keberhasilan proses pembelajaran.

b. Faktor-Faktor yang Mempengarui Hasil Belajar

15
Menurut Damayanti (2022:102-103), ada dua faktor yang mempengaruhi hasil belajar siswa

yaitu:

1. faktor internal

Merupakan faktor yang berasal dari dalam diri peserta didik yang meliputi aspek

fisiologis (jasmani) seperti pendengaran, pengelihatan, kebugaran anggota tubuh, kondisi

kesehatan tubuh, dan psikologis (rohani) seperti kesadaran, perhatian, dan minat.

2. faktor eksternal

Faktor yang berasal dari luar yakni kondisi lingkungan disekitar siswa. Faktor eksternal ini

juga terdiri dari dua aspek yaitu, aspek sosial (lingkungan keluarga, guru, dan teman) dan aspek

nonsosial (kondisi gedung dan letak tempat belajar/kelas serta fasilitas penunjang lainnya).

Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi hasil belajar siswa menurut (Marlina,dkk. 2021:

68-72) antara lain:

a. Faktor Internal.

1. Minat

Minat merupakan sesuatu yang penting, dan harus dimiliki ketika kita akan melakukan

sesuatu. Jika seseorang tidak memiliki minat yang tinggi dalam suatu hal, maka ia akan

kesulitan dan tidak tertarik untuk melakukannya.

2. Bakat

Pada dasarnya setiap manusia memiliki bakat pada suatu bidang tertentu dengan kualitas

yang berbeda-beda.

3. Motivasi

16
Motivasi merupakan serangkain usaha untuk untuk menyiapkan kondisi–kondisi tertentu,

sehingga seseorang mau dan ingin melakukan [Link] merupakan hal yang

penting dan haus dimiliki oleh setiap siswa agar seorang siswa semangat dalam

belajar.

4. Cara Belajar

Cara belajar adalah sebuah strategi yang dilakukan siswa agar lebih memahami

materi yang dijelaskan tentunya dengan cara belajar yang disenangi oleh siswa tersebut.

b. Faktor Eksternal

1. Lingkungan Sekolah

Lingkungan sekolah merupakan tempat dimana para peserta didik melakukan kegiatan

belajar. Dalam lingkungan sekolah terdapat guru dan kepala sekolah. Peran guru sangat

penting dalam proses pembelajaran, dimana guru harus memberikan penjelasan

terkait sebuah materi yang terkadang materi tersebut membutuhkan alat peraga agar

siswa mudah untuk memahami materi yang diajarkan. Selanjutnya adalah kepala

sekolah, peran kepada sekolah yaitu sebagai ketua atau pemimpin yang bertanggung

jawab dan berperan penting dalam memajukan sebuah sekolah. Salah satu tugas

kepala sekolah yaitu menyediakan fasilitas yang cukup untuk guru dan peserta

didiknya.

2. Lingkungan Keluarga

Lingkungan keluarga merupakan pengaruh utama dan utama bagi kehidupan,

pertumbuhan dan perkembangan seseorang. Pola asuh orang tua atau pola pengasuhan

dari orang tua terhadap anak ternyata juga mempunyai pengaruh positif dan signifikan

terhadap hasil belajar siswa.

17
Jadi hasil belajar siswa dipengaruhi oleh dua faktor utama, yaitu faktor internal dan faktor

eksternal. Faktor internal mencakup minat, bakat, motivasi, dan cara belajar siswa yang berperan

penting dalam menentukan keberhasilan belajar. Sementara itu, faktor eksternal meliputi

lingkungan sekolah dan keluarga. Lingkungan sekolah, termasuk peran guru dan kepala sekolah,

serta ketersediaan fasilitas, sangat mendukung proses pembelajaran. Sedangkan lingkungan

keluarga, terutama pola asuh orang tua, juga berpengaruh besar terhadap perkembangan dan hasil

belajar siswa.

3. Model Pembelajaran

a. Pengertian Model Pembelajaran

Menurut Trianto (dalam silphy & Octavia, 2020:12), model pembelajaran adalah suatu

perencanaan atau pola yang digunakan sebagai pedoman dalam merencanakan pembelajaran di

kelas atau pembelajaran tutorial. Model pembelajaran mengacu pada pendekatan pembelajaran

yang akan digunakan, termasuk di dalamnya tujuan-tujuan pengajaran, tahap-tahap dalam

kegiatan pembelajaran, lingkungan pembelajaran dan pengelolaan kelas.

Sarumaha (dalam Martiman, dkk, 2023:5) berpendapat bahwa, model pembelajaran

adalah suatu perencanaan atau suatu pola yang digunakan sebagai pedoman dalam merencanakan

pembelajaran dikelas atau pembelajaran dalam tutorial. Model pembelajaran mengacu pada

pendekatan pembelajaran yang akan digunakan, termasuk didalamnya tujuan-tujuan pengajaran,

tahap-tahap dalam kegiatan pembelajaran, lingkungan pembelajaran, dan pengelolaan kelas.

Model pembelajaran merupakan gambaran atau deskripsi prosedur pembelajaran,

lingkungan belajar beserta penggunaan perangkat pembelajaran lainnya yang tersusun secara

sistematis sehingga dapat menggambarkan sebuah kegiatan pembelajaran langkah demi langkah.

18
Model pembelajaran terbentuk apabila pendekatan, strategi dan metode teknik bahkan taktik

sudah terangkai menjadi satu kesatuan utuh (Hendracita, 2021:2).

Oleh karena itu dapat di simpulkan bawah, model pembelajaran merupakan suatu

perencanaan atau pola sistematis yang digunakan sebagai pedoman dalam merancang dan

melaksanakan kegiatan pembelajaran di kelas atau tutorial. Model ini mencakup pendekatan,

tujuan pengajaran, tahapan kegiatan, lingkungan belajar, serta pengelolaan kelas. Model

pembelajaran terbentuk dari perpaduan antara pendekatan, strategi, metode, teknik, dan taktik

yang dirancang secara terpadu untuk mencapai tujuan pembelajaran secara efektif.

b. Ciri-Ciri Model Pembelajaran

Pada hakikatnya istilah model pembelajaran ini memiliki makna yang begitu luas dari

pada pendekatan, strategi, metode, atau prosedur. Beragamnya model pembelajaran yang bisa

guru atau tenaga pendidik pilih dan digunakan yang sesuai dan efisien guna mencapai tujuan

pembelajaran yang dikehendaki.

Model pembelajaran ini memiliki ciri-ciri sebagaimana dikemukakan Rusman (dalam

Ahyar, dkk, 2021:9) sebagai berikut:

1. Bersumber pada teori pendidikan serta teori belajar dari para pakar tertentu. Sebagai

contoh, model riset kelompok yang disusun oleh Herbert Thelen serta bersumber pada

teori John Dewey. Model ini dirancang dan didesain guna melatih partisipasi dalam

kelompok secara demokratis.

19
2. Memiliki misi ataupun tujuan pembelajaran tertentu. Misalnya model berfikir induktif

dirancang guna meningkatkan proses berfikir induktif.

3. Bisa dijadikan sebagai pedoman ataun acuan untuk melakukan perbaikan dan

pengembangan dalam kegiatan belajar mengajar di kelas. Sebagai contoh model Synectic

yang kemudian dirancang untuk memperbaiki kreativitas dalam pelajaran mengarang.

4. Memiliki bagian-bagian model dalam pelaksanaan, yaitu: (1) urutan langkah-langkah

pembelajaran (syntax), (2) adanya prinsip-prinsip reaksi, (3) sistem sosial, dan (4) sistem

pendukung. Keempat bagian tersebut ialah pedoman praktis yang bisa digunakan oleh

guru dalam melaksanakan suatu model pembelajaran.

5. Memiliki dampak sebagai akibat dari hasil terapan model pembelajaran. Beberapa

Dampak yang dimaksud adalah sebagai berikut: (1) dampak pembelajaran, yaitu hasil

dari proses pembelajaran yang dapat diukur dan (2) dampak pengiring, yaitu hasil belajar

jangka panjang.

6. Membuat persiapan mengajar (desain instruksional) dengan berpedoman pada model

pembelajaran yang dipilihnya.

Kardi (dalam Rifa, dkk, 2022:5), mengatakan jika model pembelajaran memiliki ciri khusus

yang membedakan dengan strategi, metode atau prosedur. Ciri-ciri tersebut antara lain:

1. Model pembelajaran merupakan rasional teoretik logis yang disusun oleh para pencipta

atau pengembangnya.

2. Berupa landasan pemikiran mengenai apa dan bagaimana peserta didik akan belajar

(memiliki tujuan belajar dan pembelajaran yang ingin dicapai).

20
3. Tingkah laku pembelajaran yang diperlukan agar model tersebut dapat dilaksanakan

dengan berhasil; dan lingkungan belajar yang diperlukan agar tujuan pembelajaran itu

dapat tercapai.

c. Fungsi Model Pembelajaran

Model pembelajaran tidak hanya berfungsi untuk mengubah perilaku siswa sesuai dengan

apa yang diharapkan, tetapi juga berfungsi untuk mengembangkan dan memperbaiki berbagai

aspek kemampuan yang bersangkutan dengan proses pembelajaran. Pada dasarnya model

pembelajaran memiliki fungsi sebagai pedoman atau acuan bagi para perancang pembelajaran

dan para guru dalam melaksanakan aktivitas pembelajaran. Ini menandakan bahwa ketika sebuah

model pembelajaran diterapkan maka secara otomatis model pembelajaran akan menjadi

instrumen bagi para pendidik untuk menggerakan aktivitas pembelajaran (Ahyar, dkk, 2021:10)

Selanjutnya terdapat beberapa fungsi yang amat penting yang seharusnya dimiliki oleh

sebuah model pembelajaran sehingga mampu memperbaiki dan mengembangkan aktivitas

pembelajaran bagi pencipta desain pembelajaran dan pendidik untuk memutuskan strategi dan

pelaksanaan kegiatan pembelajaran agar tujuan pembelajaran bisa diraih dengan sukses. Adapun

fungsi dari model pembelajaran menurut Rosdiani (dalam Ahyar, 2021:11) adalah sebagai

berikut:

1. Bimbingan. Suatu model pembelajaran harus menjadi pedoman atau acuan bagi guru dan

siswa mengenai apa yang seharusnya dilakukan, memiliki desain instruksional yang

komprehensif dan mampu membawa guru dan siswá ke arah tujuan pembelajaran yang

hendak dicapai.

21
2. Mengembangkan Kurikulum. Model pembelajaran juga bisa membantu dan

mengembangkan kurikulum pembelajaran pada setiap kelas atau tahapan pendidikan.

3. Spesifikasi alat Pelajaran. Model pembelajaran menjadi salah satu instrumen pengajaran

yang bisa membantu guru dalam membawa peserta didik kepada perubahan-perubahan

perilaku yang dikehendaki.

4. Memberikan masukan dan perbaikan terhadap Pengajaran. Model pembelajaran juga

dapat membantu untuk meningkatkan aktivitas dalam proses belajar mengajar sekaligus

meningkatkan hasil belajar siswa.

4. Model Pembelajaran Kooperatif (Cooperative Learning)

Model pembelajaran kooperatif (cooperative learning), merupakan salah satu model

pembelajaran yang menggunakan pembagian kelompok selama proses pembelajaran dengan

tujuan sesama peserta didik dapat saling bertukar pendapat dalam kelompok yang telah

dibagi, karena biasanya peserta didik akan lebih nyaman saat mengutarakan pemikiran

ataupendapat pada teman sebaya daripada bertanya kepada guru. Namun peran guru tetap

dibutuhkan dalam model ini, untuk memonitor peserta didik selama proses pembagian

kelompok, membimbing diskusi, dan penyampaian hasil diskusi peserta didik di kelas (Shamdani

dalam Putri, dkk, 2024:2).

Selanjutnya menurut Amalia, dkk (2023:11), model pembelajaran kooperatif adalah

kegiatan pembelajaran dengan cara berkelompok untuk bekerja sama saling membantu

menginstruksi konsep, menyelesaikan persoalan, atau inkuiri. Pembelajaran kooperatif adalah

kerangka konseptual rangkaian kegiatan belajar yang dilakukan oleh peserta didik dalam

kelompok- kelompok tertentu untuk mencapai tujuan pembelajaran yang telah dirumuskan.

22
Kelompok-kelompok tersebut bekerja sama untuk mencapai tujuan pembelajaran. Pembelajaran

kooperatif ini termasuk sebuah strategi pembelajaran yang melibatkan siswa yang bekerja secara

kolaborasi untuk mencapai tujuan bersama.

Jadi dapat di simpulkan bahwa, model pembelajaran kooperatif adalah metode

pembelajaran yang menekankan kerja sama dalam kelompok, di mana peserta didik saling

membantu dan berdiskusi untuk memahami konsep, menyelesaikan masalah, atau melakukan

inkuiri. Dalam model ini, siswa lebih nyaman mengemukakan pendapat kepada teman sebaya,

namun guru tetap berperan penting sebagai pembimbing dan pemantau proses pembelajaran.

Tujuannya adalah untuk mencapai tujuan pembelajaran secara bersama-sama melalui kerja tim

yang efektif.

a. Sintaks Model Pembelajaran kooperatif

Model pembelajaran kooperatif memiliki sintaks atau langkah-langkah yang harus

dilakukan semuanya tanpa terkecuali (Putri, dkk, 2024:3-4). Berikut ini sintaks dari model

pembelajaran kooperatif (cooperative learning).

a. Menyampaikan tujuan dan memotivasi peserta didik

Guru memberikan atau menyampaikan semua tujuan pembelajaran yang akan dicapai

selama proses pembelajarandan memotivasi siswa. Tujuannya adalah untuk

memberikan pemahaman kepada siswa tentang tujuan yang akan dicapai dan

memberikan kata-kata nasehat agar dapat menumbuhkan rasa semangat siswa.

b. Menyajikan informasi

Langkah kedua yaitu menyajikan atau menyampaikan informasi, disini guru

menyampaikan topik pembelajaran kepada siswanya lewat bahan bacaan.

23
c. Mengorganisasikan peserta didik dalam kelompok belajar

Setelah guru menyampaikan tujuan dan motivasi serta memberikan informasi atau

materi pembelajaran langkah yang berikutnya membagi peserta didik dalam

kelompok belajar. Seperti yang sudah dijelaskan di awal bahwa model

cooperative learningmemfokuskan proses pembelajaran dengan membagi peserta

didik ke dalam kelompok-kelompok belajar, yang bisa berisi 4-6 orang. Jadi guru

dapat menentukan kelompok belajar peserta didik atau membiarkan peserta didik

menentukan sendiri kelompoknya tetapi masih dalam pengawasan dan bimbingan

guru.

d. Membimbing kelompok bekerja dan belajar

Langkah yang keempat adalah memberikan bimbingan kepada kelompok belajar yang

telah ditentukan. Guru memberi waktu diskusi kepada peserta didik namun tidak

seutuhnya lepas tangan, tetap memberikan bimbingan mengenai materi yang telah

dibagikan, sehingga peserta didik tetap mendapatkan peran guru ketika mereka

melaksanakan proses pembelajaran.

e. EvaluasiMelakukan

evaluasi terhadap pemahaman peserta didik tentang beragam materi pembelajaran

atau mengadakan sesi di mana kelompok-kelompok siswa mempresentasikan

hasil kerja mereka.

f. Memberikan apresiasi

Menghargai usaha dan pencapaian merupakan tindakan penting, dimana guru

berupaya menemukan berbagai cara untuk memberikan apresiasi, baik terhadap usaha

maupun hasil yang dicapai oleh individu maupun kelompok.

24
b. Tujuan Pembelajaran Kooperatif

Menurut Hasanah (2021:3-4), Pembelajaran kooperatif yaitu model pembelajaran yang

menggunakan sistem belajar secara berkelompok yang bertujuan siswa bisa mencapai tujuan

pembelajaran yaitu sebagai berikut:

a. Hasil belajar akademik

Dalam belajar kooperatif dikembangkan untuk mencakup beragam tujuan sosial, juga

memperbaiki prestasi siswa atau tugas-tugas hasil belajar akademis. Di samping

mengubah norma yang berhubungan dengan hasil belajar, pembelajaran kooperatif dapat

memberi keuntungan baik pada siswa kelompok bawah maupun kelompok atas yang

bekerja sama menyelesaikan tugas-tugas akademik.

b. Penerimaan Terhadap Perbedaan Individu

Tujuan lainnya ialah penerimaan secara luas dari orang-orang yang berbeda berdasarkan

ras, budaya, kelas sosial, kemampuan, dan ketidak mampuannya. Pembelajaran

kooperatif memberi peluang bagi siswa dari berbagai latar belakang dan kondisi untuk

bekerja dengan saling bergantung pada tugas-tugas akademik dan melalui struktur

penghargaan kooperatif akan belajar saling menghargai terhadap perbedaan individu satu

sama lain.

c. Perkembangan keterampilan sosial.

Tujuan penting ketiga dalam pembelajaran kooperatif yaitu mengajarkan kepada siswa

keterampilan bekerja sama dan kolaborasi. Bekerja sama dengan teman satu kelompok

dalam menyelasaikan tugas dan masalah terkait pembelajaran. Agar peserta didik dapat

melatih keterampilan sosialnya, ketrampilan dalam berinteraksi dan bersosialisasi dengan

sesamanya.

25
Jadi, Pembelajaran kooperatif adalah model pembelajaran yang menekankan kerja

kelompok untuk mencapai tujuan pembelajaran. Model ini bertujuan meningkatkan hasil

belajar akademik, menumbuhkan penerimaan terhadap perbedaan individu, serta

mengembangkan keterampilan sosial siswa melalui kerja sama dan interaksi antar

anggota kelompok.

c. Tipe-Tipe Pembelajaran Kooperatif

Menurut Tabrani & Amin (2023:206-208), Ada beberapa jenis tipe pembelajaran dalam

pembelajaran kooperatif, meskipun pada hakikatnya prinsip dasar dari pembelajaran kooperatif

tidak berubah. Tipe-tipe tersebut adalah;

a. Student Teams Achievement Division (STAD)

STAD dikembangkan oleh Robert Slavin dan teman-temannya di Universitas John

Hopkin. Slavin memaparkan bahwa gagasan utama di belakang STAD adalah memacu

siswa agar saling mendorong dan membantu satu sama lainnya untuk menguasai

ketrampilan yang diajarkan guru. Adapun langkah - langkah pembelajaran kooperatif tipe

STAD adalah sebagai berikut:

 Penyampaian tujuan dan motivasi

 Pembagian kelompok

 Presentasi dari guru

 Kegiatan belajar dalam tim

 Kuis (evaluasi)

 Penghargaan Prestasi Tim

b. Jigsaw

26
Arti jigsaw dalam bahasa Inggris adalah gergaji ukir dan ada juga yang menyebutnya

dengan istile puzzle, yaitu sebuah teka-teki dengan menyusung potongan- potongan

gambar. Tipe jigsaw mengambil pola cara kerja gergaji (zigzag) dimana siswa melakukan

sebuah kegiatan belajar dengan bekerja sama dengan siswa lain untuk mencapai tujuan

bersama Adapun langkah - langkahnya sebagai berikut;

 Siswa dikelompokkan dengan anggota + 4 orang.

 Tiap orang dalam tim diberi materi dan tugas yang berbeda.

 Anggota dari tim yang berbeda dengan materi atau tugas yang sama membentuk

kelompok baru (tim ahli).

 Setelah kelompok ahli berdiskusi, mereka kembali kekelompok semula untuk

menjelaskan kepada anggota kelompok tentang materi yang telah mereka

diskusikan.

 Tiap tim ahli mempresentasikan hasil diskusi.

 Pembahasan.

 Penutup

c. Investigasi Kelompok (group investigation)

Group investigation (GI) dikembangkan oleh Shlomo sharan dan Yael Sharan di

Universitas Tel Aviv, Israel. Belajar kooperatif dengan teknik Gl sangat cocok untuk

bidang kajian yang memerlukan kegiatan studi proyek terintegrasi yang mengarah pada

kegiatan perolehan analisis dan sintesis informasi dalam upaya untuk memecahkan

masalah. Menurut Slavin, belajar kooperatif GI sangat ideal diterapkan dalam

pembelajaran Biologi (IPA).

27
Adapun langkah - langkah Gl dalam pembelajaran secara umum dapat dibagi menjadi

enam langkah:

 Mengidentifikasi topic dan mengorganisasi siswa kedalam kelompok. Dalam hal

ini kelompok ditentukan oleh siswa itu sendiri yang beranggotakan 2-6 orang dan

siswa bebas memilih subtopic dari keseluruhan pokok bahasan.

 Merencanakan Tugas tugas-tgas belajar, yang meliputi apa yang diselididki,

bagaimana melakukannya, siapa yang bertugas (pembagian kerja), untuk tujuan

apa topic tersebut di investigasi.

 Melaksanakan investigasi

 Menyiapkan laporan akhir

 Mempresentasikan laporan akhir, dalam implementasinya tugas kelompoNain

melakukan evaluasi sajian kelompok tersebut.

 Evaluasi

d. Make a Match (membuat pasangan)

Make a match dikembangkan oleh Lorna Curran. Penerapan make a match dimulai dengan

teknik, yaitu siswa disuruh mencari pasangan kartu yang merupakan soal atau jawaban sebelum

batas waktu yang ditentukan, siswa yang terlebih dulu menemukan pasangan kartunya, maka

diberikan poin tertinggi. Adapun langkah-langkahnya sebagai berikut;

 Guru menyiapkan beberapa kartu yang berisi beberapa topic yang cocok untuk sesi

review yang mana satu satu kartu berupa soal dan satunya lagi jawaban.

 Setiap siswa mendapat satu kartu dan memikirkan jawaban atau soal kartu yang

dipegang.

28
 Siswa mencari pasangan yang mempunyai kartu yang cocok dengan kartunya (kartu soal

atau kartu jawaban).

 Siswa yang dapat mencocokkan kartunya sebelum batas watu diberi poin.

 Setelah satu babak, kartu di acak lagi agar setiap siswa mendapat kartu yang berbeda

dengan sebelumnya.

 Kesimpulan.

e. Team Games Tournament (TGT)

Menurut Saco, dalam TGT siswa memainkan permainan dengan anggota - anggota tim

lain untuk memperoleh skor bagi tim mereka masing-masing. Pembelajaran kooperatif

tipe TGT terdiri dari lima langkah dalam pembelajaran, yaitu;

 Penyajian kelas

 Belajar dalam kelompok

 Permainan

 Pertandingan

 Penghargaan kelompok

f. Student Facilitator and Explaining (SFE)

Student Facilitator and Explaining (SFE) merupakan tipe pembelajaran dimana siswa

belajar mempresentasikan ide pada rekan siswanya yang lain. Teknik ini efektif untuk

melatih siswa berbicara dan menyampaikan ide/ gagasannya sendiri. Adapun langkah-

langkah SFE dalam pembelajaran adalah;

 Guru menyampaikan kompetensi yang ingin dicapai.

 Guru menyajikan garis-garis besar pembelajaran.

 Siswa menjelaskan kepada siswa yang lainnya secara bergiliran.

29
 Guru memberikan penguatan terhadap ide siswa.

 menerangkan menyimpulkan materi pembelajaran.

 Evaluasi.

g. Team Assisted Individualization (TAI)

Pembelajaran kooperatif tipe TAI (Team Assisted Individualization) ini dikembangkan oleh

Slavin. Menurut Slavin (dalam Tabrani & Amin, 2023:208) tipe ini mengkombinasikan

keunggulan pembelajaran kooperatif dan pembelajaran individual. Tipe ini dirancang untuk

mengatasi kesulitan belajar siswa secara individual. Oleh karena itu kegiatan

pembelajarannya lebih banyak digunakan untuk pemecahan masalah, ciri khas pada model

pembelajaran TAI ini adalah setiap siswa secara individual belajar materi pembelajaran yang

sudah dipersiapkan oleh guru. Hasil belajar individual dibawa ke kelompok- kelompok untuk

didiskusikan dan saling dibahas oleh anggota kelompok, dan semua anggota kelompok

bertanggung jawab atas keseluruhan jawaban sebagai tanggung jawab bersama.

 Guru memberikan tugas kepada siswa untuk mempelajari materi pembelajaran

secara individual yang sudah dipersiapkan oleh guru.

 Guru memberikan kuis (pretest) secara individual kepada siswa untuk

mendapatkan skor dasar atau skor awal.

 Guru membentuk beberapa kelompok. Setiap kelompok terdiri dari 4-5 siswa

dengan kemampuan yang berbeda-beda baik tingkat kemampuan (tinggi, sedang

dan rendah) Jika mungkin anggota kelompok berasal dari ras, budaya, suku yang

berbeda serta kesetaraan jender.

30
 Hasil belajar siswa secara individual didiskusikan dalam kelompok. Dalam

diskusi kelompok, setiap anggota kelompok saling memeriksa jawaban teman satu

kelompok.

 Guru memfasilitasi siswa dalam membuat rangkuman, mengarahkan, dan

memberikan penegasan pada materi pembelajaran yang telah dipelajari.

 Guru memberikan kuis (posttest) kepada siswa secara individual;

 Guru memberi penghargaan pada kelompok berdasarkan perolehan nilai

peningkatan hasil belajar individual dari skor dasar ke skor kuis berikutnya

(terkini).

d. Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Make a Match

Ririantika, dkk (2020:2) berpendapat bahwa, model pembelajaran kooperatif tipe make a

match adalah sistem pembelajaran yang mengutamakan penanaman kemampuan sosial terutama

kemampuan bekerja sama, kemampuan berinteraksi di samping kemampuan berpikir cepat

melalui permainan mencari pasangan dengar dibantu kartu. Sedangkan menurut Suryanto (dalam

Rasul, 2020:73), model make a match adalah model pembelajaran dimana guru menyiapkan

kartu yang berisi soal atau permasalahan dan menyiapkan kartu jawaban kemudian siswa

mencari pasangan kartunya.

Gusrayani (dalam Anika & Fajar, 2020:81), menyatakan bahwa model pembelajaran

Kooperatif tipe make a match merupakan model pembelajaran yang melatih ketelitian,

kecermatan, ketepatan serta kecepatan dalam mencocokan kartu. Pembelajaran dengan model

make a match memberikan kesempatan kepada siswa untuk membagi ide-ide dan

mempertimbangkan jawaban yang paling tepat, sehingga menjadikan kelas lebih kondusif, aktif,

31
dan siswa semakin semangat dalam belajar, hingga diperoleh hasil belajar yang memuaskan dan

pembelajaran menjadi lebih efektif.

Model pembelajaran kooperatif tipe make a match adalah suatu pembelajaran yang

mencari pasangan sambil berjalan dengan menggunakan media kartu yang masing-masing kartu

berisi kartu pertanyaan serta kartu jawaban (Fitri & Dewi, 2020:285).

Berdasarkan penjelasan diatas, model pembelajaran kooperatif tipe make a match adalah

metode pembelajaran yang menekankan kerja sama sosial, interaksi antar siswa, dan kemampuan

berpikir cepat melalui aktivitas mencocokkan kartu soal dan jawaban. Model ini melatih

ketelitian, kecermatan, ketepatan, dan kecepatan siswa, serta mendorong mereka untuk berbagi

ide dan memilih jawaban terbaik. Hasilnya, pembelajaran menjadi lebih aktif, menyenangkan,

efektif, dan dapat meningkatkan hasil belajar siswa.

Langkah-Langkah Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Make a Match

Menurut Emalinda & Mabruria (2023:30-31), Penerapan make a match dimulai dengan

teknik, yaitu siswa disuruh mencari pasangan kartu yang merupakan soal atau jawaban sebelum

batas waktu yang ditentukan, siswa yang terlebih dulu menemukan pasangan kartunya, maka

diberikan poin tertinggi. Adapun langkah-langkahnya sebagai berikut;

1. Persiapan Kartu oleh Guru

 Guru menyiapkan beberapa kartu yang berisi konsep, pertanyaan, atau topik

tertentu yang sesuai untuk sesi pembelajaran atau review.

 Setiap kartu memiliki pasangan yang sesuai, misalnya soal dan jawaban atau

pertanyaan dan definisi.

32
2. Pembagian Kartu kepada Siswa

 Setiap siswa mendapatkan satu buah kartu secara acak.

 Kartu tersebut bisa berupa soal atau jawaban.

3. Pencarian Pasangan

 Siswa mencari pasangan yang memiliki kartu yang cocok dengan kartunya.

 Proses ini mendorong interaksi dan diskusi antar siswa untuk menemukan

pasangan yang tepat.

4. Diskusi dan Klarifikasi

 Setelah menemukan pasangan, siswa berdiskusi untuk memastikan kecocokan

kartu mereka.

 Guru dapat memberikan klarifikasi atau penjelasan tambahan jika diperlukan.

5. Presentasi Hasil

 Beberapa pasangan siswa diminta untuk mempresentasikan hasil pencocokan

mereka di depan kelas.

 Hal ini bertujuan untuk memperkuat pemahaman dan memberikan kesempatan

bagi siswa lain untuk belajar dari pasangan tersebut.

6. Evaluasi dan Refleksi

 Guru memberikan umpan balik terhadap aktivitas yang telah dilakukan.

33
 Siswa diajak untuk merefleksikan proses pembelajaran dan pemahaman mereka

terhadap materi.

e. Kelebihan dan Kekurangan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Make a Match

Huda (dalam Fitri & Dewi, 2020:284-285), menyatakan bahwa pembelajaran kooperatif

ini memiliki kelebihan serta kelemahan,

a. Kelebihan model pembelajaran kooperatif tipe make a match ini yaitu:

1. Dapat meningkatkan aktivitas belajar siswa baik kognitif maupun fisik;

2. Karena ada unsur permainan, model pembelajaran ini sangat menyenangkan;

3. Meningkatkan pemahaman siswa terhadap materi yang dipelajari dan dapat

meningkatkan motivasi belajar siswa;

4. Efektif sebagai sarana melatih keberanian siswa untuk tampil presentasi; dan

Efektif melatih kedisiplinan siswa menghargai waktu untuk belajar.

b. Adapun kelemahan model kooperatif tipe make a match yaitu :

1. jika model pemelajaran ini tidak dipersiapkan dengan baik, akan banyak waktu yang

terbuang;

2. Pada awal-awal penerapan model pembelajaran ini, banyak siswa yang akan malu

berpasangan dengan lawan jenisnya;

3. Jika guru tidak mengarahkan siswa dengan baik, akan banyak siswa yang kurang

memperhatikan pada saat presentasi pasangan;

4. Guru harus hati-hati dan bijaksana saat memberi hukuman pada siswa yang tidak

mendapat pasangan , karena mereka bisa malu;

34
5. Menggunakan model pembelajaran ini secara terus-menerus akan menimbulkan

kebosanan.

5. Media Pembelajaran

a. Pengertian Media Pembelajaran

Menurut (Daniyati,dkk 2023: 283) media pembelajaran adalah segala sesuatu yang

dapat menyampaikan pesan melalui berbagai saluran, seperti merangsang pikiran, perasaan, dan

kemauan siswa sehingga dapat mendorong terciptanya proses belajar yang efektif untuk

menambah informasi baru pada diri siswa sehingga tujuan pembelajaran dapat tercapai dengan

baik. Sedangkan menurut (Wardani,dkk 2024: 135) mengatakan bahawa media pembelajaran

harus dapat berfungsi sebagai alat komunikasi dalam penyampaian materi pelajaran. Agar

hasil inovasi media pembelajaran dapat berjalan maksimal sesuai dengan tujuan yang

diinginkan, maka terdapat beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam inovasi yaitu

rasional teoritis, landasan pemikiran pembelajaran dan lingkungan belajar.

Media pembelajaran adalah salah satu faktor yang berperan penting dalam proses belajar

dan mengajar. Dalam pembelajaran guru biasanya menggunakan media pembelajaran

sebagai perantara dalam menyampaikan materi agar dapat dipahami oleh peserta didik.

Pemakaian media pembelajaran dalam proses belajar mengajar dapat mengembangkan

minat serta keinginan yang baru, membangkitkan motivasi bahkan membawa pengaruh

psikologis terhadap pembelajaran (Wulandari,dkk 2023: 3929).

Menurut Saleh, dkk (2023:6) Media pembelajaran pada hakekatnya adalah sarana

penyampaian informasi dari komunikator (guru) kepada komunikan (siswa) sebagai penerima.

35
Jika lingkungan belajar dirancang secara sistematis akan dapat mencapai tujuan pembelajaran

dengan optimal.

Jadi, media pembelajaran merupakan sarana penting dalam proses belajar mengajar yang

berfungsi sebagai alat komunikasi untuk menyampaikan materi secara efektif. Media ini mampu

merangsang pikiran, perasaan, dan kemauan siswa sehingga dapat meningkatkan motivasi, minat

belajar, serta membantu pencapaian tujuan pembelajaran. Agar inovasi media pembelajaran

berjalan maksimal, perlu didasari oleh landasan teoritis, pemikiran pembelajaran, dan lingkungan

belajar yang sesuai.

b. Jenis-Jenis Media Pembelajaran

Kholifah (2021: 15-16) menjelaskan bahwa jenis-jenis media pembelajaran antara lain:

a. Media Audio

Media audio merupakan media yang hanya dapat di dengar dengan menggunakan indera

pendengaran saja, seperti radio dan juga [Link] digunakan untuk memutar cerita

ataupun lagu untuk anak anak, supaya anak dapat menyimak, mendengarkan atau meniru

cerita dan juga lagu yang diputarkan.

b. Media Visual

Media visual yaitu media yang hanya mengandalkan indra pengelihtan. Dengan

menggunakan pengelihatannya seorang anak akan bisa mengetahui tentang sesuatu yang

dipelajari, seperti gambar, media grafis, model.

c. Media Audio Visual

Media audio visual mempunyai unsur suara juga unsur gambar. Jenis media ini ada audio

visual diam dan audio visual gerak. Audio visual diam menampilkan suara dan juga

gambar seperti film bingkai, film rangkai suara dan cetak suara, sedangkan audio visual

36
gerak menampilkan suara juga gambar yang bergerak seperti film suara dan juga video

kaset

d. Media Lingkungan

Media lingkungan dalam proses perkembangan anak dikenalkan atau dibawa ke suatu

tempat yang bisa mempengaruhi pertumbuhan dan juga perkembangannya.

e. Media Permainan

Media permaian ini merupakan media yang sangat disukai oleh anak. Permainan

merupakan suatu benda yang biasa digunakan anak sebagai sarana bermain dalam rangka

mengembangkan kreatifitas dan juga segala potensi yang dimiliki oleh anak.

6. Media Interaktif Animasi

a. Pengertian Media Interaktif Animasi

Rahmawati (dalam Krisdayanti, dkk (20203:1928) menyatakan, Media interaktif biasanya

mengacu pada produk dan layanan digital pada sistem berbasis komputer yang merespon

tindakan pengguna dengan menyajikan konten seperti teks, gambar bergerak, animasi, video,

audio, dan video game. Media animasi adalah media berupa gambar yang bergerak disertai

dengan suara dan merupakan perkembangan dari IPTEK.

Media interaktif animasi merupakan media pembelajaran yang berisi kumpulan gambar

yang diolah sedemikian rupa sehingga menghasilkan gerakan dan dilengkapi dengan audio

sehingga berkesan hidup serta menyimpan pesan-pesan pembelajaran. Media interaktif animasi

dapat dijadikan sebagai perangkat yang siap kapanpun digunakan untuk menyampaikan materi

pelajaran.

37
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), media interaktif adalah alat perantara

atau penghubung berkaitan dengan komputer yang bersifat saling melakukan aksi antar-

hubungan dan saling aktif. Sedangkan menurut Tejo (dalam Amatullah, dkk, 2022: 246), media

interaktif merupakan sistem media penyampaian yang menyajikan materi video rekaman dengan

pengendalian komputer kepada penonton (siswa) yang tidak hanya mendengar dan melihat video

dan suara, tetapi juga memberikan respon yang aktif dan respon itu yang menentukan kecepatan

dan sekuensi penyajian.

Menurut Limbong, dkk (2022:29), media pembelajaran interaktif adalah media yang

didesain untuk meningkatkan motivasi, keterampilan dan gairah belajar siswa secara aktif

melalui komputer dengan kombinasi visual, audio, teks, grafik, dan video serta animasi sesuai

dengan yang dikehendaki siswa. Adanya media pembelajaran interaktif dapat mengembangkan

berbagai gaya belajar siswa sesuai dengan keinginannya seperti siswa yang memiliki gaya

belajar auditorial, visual maupun kinestetik. Sehingga para siswa dapat memilih media yang

sesuai dengan gaya belajar yang sesuai dengan keinginan dan keterampilan yang dimiliki siswa.

Berdasaran Penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa, media interaktif animasi adalah

media pembelajaran berbasis komputer yang menyajikan konten dinamis seperti teks, gambar

bergerak, animasi, audio, dan video, serta memungkinkan interaksi aktif antara pengguna dan

media. Media ini dirancang untuk meningkatkan motivasi, keterampilan, dan minat belajar siswa

dengan menyesuaikan penyajian materi sesuai gaya belajar masing-masing, baik visual,

auditorial, maupun kinestetik. Dengan fitur interaktif dan fleksibilitasnya, media ini efektif

digunakan sebagai sarana pembelajaran modern yang responsif dan menarik.

c. Pengaruh Penggunaan Media Interaktif Animasi

38
Susanti, dkk (2024:128) dalam studi literatur mereka menyimpulkan bahwa media video

animasi interaktif dapat menyajikan materi pembelajaran dengan cara yang menarik dan

menyenangkan, sehingga meningkatkan minat belajar siswa SD.

Faisal, dkk (2023:19) menemukan bahwa penggunaan media animasi dalam pembelajaran

memiliki pengaruh signifikan terhadap peningkatan hasil belajar dan motivasi siswa. Media

animasi membantu siswa memahami konsep yang kompleks melalui visualisasi yang menarik.

Selanjutnya, Pratiwi & Kasriman (2022:25) mengembangkan media video animasi interaktif

untuk mata pelajaran IPAS kelas V mengenai topik memakan dan dimakan. Hasil penelitian

menunjukkan bahwa media ini sangat layak digunakan dan membantu siswa dalam memahami

materi melalui visualisasi yang menarik.

Dari berbagai penelitian di atas, dapat disimpulkan bahwa tujuan utama penggunaan media

interaktif animasi dalam pembelajaran meliputi:

 Meningkatkan minat dan motivasi belajar siswa.

 Menyajikan materi pembelajaran dengan cara yang menarik dan menyenangkan.

 Meningkatkan hasil belajar dan pemahaman konsep melalui visualisasi.

 Meningkatkan aktivitas dan keterlibatan siswa dalam proses pembelajaran.

 Meningkatkan efektivitas pembelajaran melalui penggunaan media yang valid dan

praktis.

d. Kelebihan dan kelemahan Media Interktif Animsi

Menurut Amiruddin, dkk (2024:78-79), ada beberapa kelebihan dan kelemahan penggunaan

media interaktif animasi yaitu:

a. Kelebihan Media Interaktif Animasi

39
1. Meningkatkan Minat dan Motivasi Belajar

Tampilan visual yang menarik dan dinamis membuat siswa lebih tertarik untuk belajar.

2. Mempermudah Pemahaman Konsep Abstrak

Konsep yang sulit (misalnya gerak planet, rantai makanan, atau sistem tubuh) dapat

divisualisasikan secara lebih konkret.

3. Mendukung Gaya Belajar Visual dan Kinestetik

Cocok untuk siswa yang belajar lebih baik melalui gambar, warna, gerakan, atau interaksi

langsung.

4. Interaktif dan Mendorong Partisipasi Aktif

Siswa dapat berinteraksi langsung dengan konten (klik, geser, menjawab soal), sehingga

terlibat aktif dalam proses belajar.

5. Dapat Diakses Kapan Saja dan Di Mana Saja

Jika berbasis digital dan online, media ini bisa digunakan untuk pembelajaran jarak jauh

atau mandiri

b. Kelemahan Media Interaktif Animasi

1. Ketergantungan pada Perangkat dan Teknologi

Membutuhkan perangkat seperti komputer/tablet dan koneksi internet yang stabil; tidak

semua sekolah memiliki fasilitas ini.

2. Waktu dan Biaya Pengembangan Tinggi

Membuat media animasi interaktif berkualitas membutuhkan waktu, keahlian teknis, dan

biaya yang tidak sedikit.

3. Potensi Distraksi

40
Animasi yang terlalu ramai atau tidak fokus pada materi inti dapat mengalihkan perhatian

siswa dari tujuan belajar.

4. Tidak Cocok untuk Semua Materi

Beberapa materi mungkin lebih efektif diajarkan melalui diskusi langsung, praktik nyata,

atau metode lain.

5. Kurangnya Interaksi Sosial

Jika digunakan secara individu dan terlalu sering, bisa mengurangi interaksi langsung

antara guru dan siswa.

7. Mata Pelajaran IPAS

a. Pengertian IPAS

Menurut Ramdhany, dkk (2024:225), Pembelajaran IPAS adalah Ilmu Pengetahuan Alam

dan Sosial (IPAS) adalah ilmu pengetahuan yang mengkaji tentang makhluk hidup dan benda

mati di alam semesta serta interaksinya, dan mengkaji kehidupan manusia sebagai individu

sekaligus sebagai makhluk sosial yang berinteraksi dengan lingkungannya. Kegiatan

pembelajaran IPAS yang dilakukan oleh guru dalam mencapai tujuan pembelajaran tidak

dapat terpisahkan dari strategi dan model pembelajaran yang digunakan.

Ilmu Pengetahuan Alam dan Sosial (IPAS) merupakan ilmu pengetahuan yang mempelajari

tentang makhluk tak hidup (abiotik) dan makhluk hidup (biotik) di alam semesta dan

interaksinya, serta mempelajari kehidupan manusia selaku individu sekaligus selaku insan sosial

yang berhubungan dengan lingkungan. Pada kurikulum KTSP dan beberapa kurikulum

terdahulu, terdapat mata pelajaran IPA dan IPS, kedua mata pelajaran tersebut diajarkan secara

terpisah. Pada kerikulum 2013 kedua mata pelajaran diajarkan secara bersama dalam tema

41
pembelajaran tertentu. Pada kurikulum merdeka IPA dan IPS dilebur menjadi satu mata pelajaran

yaitu IPAS (Susilowati, 2023:189).

Tujuan peserta didik mempelajari IPAS supaya peserta didik dapat meningkatkan dirinya

sehingga sesuai dengan Profil Pelajar Pancasila serta dapat meningkatkan ketertarikkan dan rasa

ingin tahu peserta didik untuk mempelajari peristiwa di kehidupan mayarakat; menguasai alam

semesta serta keterkaitannya dengan kehidupan manusia; berperan aktif dalam melindungi,

menjaga, melestarikan lingkungan alam, mengatur sumber energi alam serta lingkungan dengan

bijaksana; meningkatkan keahlian inkuiri untuk mengenali, merumuskan sampai menuntaskan

permasalahan lewat aksi nyata.

Jadi dapat di simpulkan bahwa, Pembelajaran IPAS (Ilmu Pengetahuan Alam dan Sosial)

adalah integrasi dari ilmu alam dan sosial yang mempelajari makhluk hidup, benda mati, serta

interaksinya dengan lingkungan, termasuk kehidupan manusia sebagai individu dan makhluk

sosial. Dalam Kurikulum Merdeka, IPAS menyatukan mata pelajaran IPA dan IPS yang

sebelumnya diajarkan secara terpisah, untuk menciptakan pendekatan pembelajaran yang lebih

terpadu dan kontekstual sesuai dengan perkembangan kurikulum.

b. Topik Memakan dan Dimakan (Rantai Makanan) Pada Mata Pelajaran IPAS

Muflihah (2024:140) Berpendapat bahwa, rantai makanan atau dikenal juga sebagai jaring-

jaring makanan merupakan konsep fundamental dalam ilmu pengetahuan alam yang memahami

hubungan kompleks antara berbagai organisme dalam ekosistem. Dalam kajian ilmu biologi,

topik ini menjadi bagian integral dalam pembelajaran tentang interaksi antar makhluk hidup dan

lingkungannya. Salah satu bidang studi yang membahas secara khusus mengenai rantai makanan

adalah Ilmu Pengetahuan Alam Sekolah (IPAS), yang memfokuskan pada pemahaman proses

42
makan dan dimakan dalam ekosistem. Rantai makanan bukan hanya sekadar urutan konsumsi

makanan, tetapi juga mencakup transfer energi dan nutrisi antar berbagai tingkat trofik dalam

suatu komunitas ekologi. Pentingnya pemahaman akan rantai makanan tidak hanya terletak pada

konteks keilmuan, tetapi juga relevan dalam konteks konservasi alam dan keberlanjutan

ekosistem. Melalui pemahaman yang lebih mendalam tentang bagaimana organisme saling

berinteraksi dalam mencari makanan, kita dapat mengenali pola-pola yang mempengaruhi

stabilitas ekosistem dan melindungi keanekaragaman hayati.

Sebagai konsep dasar, rantai makanan membantu kita memahami bahwa semua organisme

dalam ekosistem saling terkait satu sama lain. Dalam setiap ekosistem, terdapat serangkaian

hubungan trofik yang menggambarkan aliran energi dan materi dari satu organisme ke organisme

lainnya. Misalnya, tumbuhan menggunakan energi matahari untuk melakukan fotosintesis dan

menghasilkan makanan organik. Kemudian, hewan pemakan tumbuhan atau herbivora akan

memakan tumbuhan tersebut. Proses ini dilanjutkan oleh hewan pemakan daging atau karnivora

yang memangsa herbivora. Selain itu, ada juga organisme yang disebut omnivora, yang dapat

memakan tumbuhan dan hewan. Namun, dalam kenyataannya, rantai makanan tidak selalu lurus

dan sederhana. Dalam ekosistem yang kompleks, terdapat jaringan makanan yang lebih rumit, di

mana satu organisme dapat menjadi mangsa bagi beberapa pemangsa sekaligus atau bahkan

dapat beralih peran dalam rantai makanan. Hal ini memperlihatkan bahwa ekosistem tidaklah

statis, tetapi terus berubah dan beradaptasi dalam menjaga keseimbangan alam.

8. Materi IPAS yang di Aplikasikan dalam Penelitian

43
B. Kerangka Berpikir

Permasalahan utama yang dihadapi dalam penelitian ini adalah rendahnya hasil belajar siswa

pada mata pelajaran IPAS topik memakan dan di makan di kelas V SDN 12 Palangka.

Berdasarkan hasil observasi awal, ditemukan bahwa sebagian besar siswa mengalami kesulitan

dalam memahami konsep rantai makanan, ditandai dengan partisipasi yang rendah selama proses

pembelajaran dan hasil evaluasi yang belum mencapai Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM).

44
Rendahnya hasil belajar ini diduga disebabkan oleh beberapa faktor, seperti kurangnya

keterlibatan siswa dalam proses pembelajaran, metode yang digunakan cenderung bersifat

konvensional, serta minimnya penggunaan media pembelajaran yang menarik dan interaktif.

Kondisi ini menyebabkan siswa kurang termotivasi dan kurang memahami materi secara

mendalam.

Untuk mengatasi permasalahan tersebut, peneliti memandang perlu diterapkannya

strategi pembelajaran yang lebih inovatif. Salah satu alternatif solusi yang diajukan adalah

penggunaan model pembelajaran kooperatif tipe Make a Match yang dikombinasikan dengan

media interaktif berbasis animasi. Model Make a Match mendorong siswa untuk aktif terlibat

dalam proses pencarian pasangan kartu yang berisi pertanyaan dan jawaban, sehingga

menciptakan suasana belajar yang menyenangkan dan kolaboratif. Sementara itu, media animasi

interaktif dapat membantu menyajikan konsep rantai makanan secara visual dan dinamis,

sehingga lebih mudah dipahami oleh siswa.

Berdasarkan analisis tersebut, hipotesis tindakan yang diajukan adalah bahwa

penggunaan model pembelajaran kooperatif tipe Make a Match dengan bantuan media interaktif

animasi akan meningkatkan hasil belajar siswa. Melalui implementasi tindakan ini, diharapkan

siswa menjadi lebih aktif, tertarik mengikuti pembelajaran, memahami materi dengan lebih baik,

dan pada akhirnya menunjukkan peningkatan dalam hasil belajar mereka.

Kondisi Awal
Metode dan Media Pembelajaran
Yang Kurang Bervariasi
45
Tindakan
Pembelajaran Dengan Penggunaan
Model Cooperative Learning Tipe Make
A Match Berbantuan Media Interaktif
Animasi

Kondisi Akhir
Hasil Belajar Siswa Pada Mata
Pelajaran IPAS Topik Memakan Dan
Dimakan Meningkat

C. Penelitian yang Relevan

N Nama Judul Perbedaan Persamaan


O
1 Sofia Pengaruh  Lokasi penelitian  Subjek penelitian
Ariani Media dilaksanakan di sama -sama di
Simamora, Interaktif SD SwastaIra tujukan untuk siswa
(2024) Animasi Medan, kelas V SD
terhadap hasil sedangkan  Media yang di
belajar siswa penelitian yang gunakan yaitu
mata akan di media interaktif
pelajaran laksanakan di anminasi
IPAS di kelas SDN 12  Penelitian ini sama-
V SD Swasta Palangka. sama untuk melihat
Ira Medan  Penelitian ini hasil belajar siswa
tidak
menggunakan
model
pembelajaran,
sedangkan
penelitian yang

46
akan di
laksanakan
menggunakan
model
pembelajaran
Kooperatif tipe
Make a Match.
 Metode penelitian
ini menggunakan
metode
eksperimen,
sedangkan
penelitian yang
akan di
laksanakan
menggunakan
metode PTK.
2 Nisrina Penerapan  Subjek Penelitian Sama –
Kamila, Model penelitian di sama menggunkan
(2024) pembelajaran tujuan untuk model pembelajaran
Kooperatif siswa kelas IV, Kooperatif tipe
tipe Make a Sedangkan Make a Match
Match  penelitian yang Sama-sama
Berbantuan akan di menggunakan
media laksanakan media interaktif
Interaktif subjeknya siswa animasi
Animasi kelas V SD. Metode penelitian
Untuk yang digunakan
Meningkatkan sama-sama
Hasil Belajar menggunakan
Siswa Kelas metode penelitian
IV SD Mata PTK
Pelajaran Penelitian ini sama-
IPAS sama melihat hasil
belajar siswa.
Sama-sama meneliti
pembelarajan IPAS
3 Dina Pengaruh  Penelitian ini  Penelitian ini sama-
Rustanti, Model tidak sama menggunakan
(2024) Pembelajaran menggunakan model pembelajaran
Kooperatif media Kooperatif
Tipe Make A pembelajaran,  Penelitian ini sam-
Match sedangkan sama untuk melihat
Terhadap penelitian yang hasl belajar siwa.
Hasil Belajar akan dilaksakan  Peneltian ini sama-
Siswa Pada mengunakan sama meneliti

47
Mata media Interaktif pembelajaran IPAS
Pelajaran Animasi.
IPAS Di  Lokasi penelitian
Kelas IV ini dilaksanakan
SDN 17 di SD 17 Rejang
Rejang Lebong,
Lebong sedangkan lokasi
penelitian yang
akan
dilaksanakan di
SDN 12
Palangka.
 Subjek penelitian
ini di tujukan
untuk siswa kelas
IV, sedangkan
penelitian yang
akan
dilaksanakan di
tujukan untuk
siswa kelAs V.
 Metode
penelitian ini
menggunakan
metode
eksperimen,
sedngkan
penelotian yang
akan di laksnakan
menggunakan
metode penelitian
PTK.
BAB III

METODE PENELITIAN

A. Tempat Penelitian dan Waktu Penelitian

1. Tempat Penelitian

Lokasi penelitian merupakan tempat objek penelitian dimana nantinya peneliti

melaksanakan kegiatan penelitian. Lokasi penelitian ini dilaksanakan pada SDN 12 PALANGKA

48
yang beralamat di Jl. Kinibalu. Kota Palangka Raya. Prov. Kalimantan Tengah dengan subjek

penelitian siswa kelas V yang berjumlah 21 orang siswa.

2. Waktu Penelitian

No Bulan

Kegiatan April Mei Juni

1 2 3 4 5 1 2 3 4 5 1 2 3 4 5

1 Membuat Proposal

2 Konsultasi Pembimbing 1 & 2

3 Seminar Proposal

4 Revisi

5 Membuat Izin Penelitian

6 Penelitian Di SD

7 Siklus I

8 Merancang Siklus II

9 Revisi & Bimbingan Bab 4

&5

10 Revisi

49
11 Membuat Surat Izin Ujian

12 Ujian Skripsi

B. Metode Penelitian

Metode penelitian pada dasarnya merupakan cara ilmiah untuk mendapatkan data dengan

tujuan dan kegunaan tertentu. Jadi metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah

penelitian tindakan kelas (PTK).

Menurut Diplan dan Setiawan (2018:10) Penelitian tindakan kelas merupakan “Suatu jenis

penelitian yang dilakukan oleh guru untuk memecahkan masalah pembelajaran di kelasnya”.

Berdasarkan pendapat ahli penelitian tindakan kelas (PTK) adalah penelitian guru dalam

memecahkan masalah di kelas.

Menurut Kemmis (1988) dalam Muhammad Djajadi (2019:1) menyatakan bahwa penelitian

tindakan adalah suatu bentuk penelitian refleksi diri yang dilakukan oleh para partisipan dalam

situasi-situasi sosial (termasuk pendidikan) untuk memperbaiki praktik yang dilakukan sendiri.

Dengan demikian, akan diperoleh pemahaman yang komprehensif mengenai praktik dan situasi

di mana praktik tersebut dilaksanakan.

Latief dalam Agus DM. (2018) PTK adalah satu rancangan penelitian yang dirancang khusus

untuk peningakatan kualitas praktek pembelajaran di kelas. Peneliti dalam PTK adalah guru yang

ingin meningkatkan kualitas pembelajaran di kelasnya. Dengan demikian guru yang melakukan

penelitian tindakan kelas berperan ganda, yaitu sebagai guru dan sebagai peneliti (teacher-

researcher).

50
Berdasarkan penjelasan diatas dapat di simpulkan bahwa, Penelitian Tindakan Kelas (PTK)

adalah bentuk penelitian yang dilakukan oleh guru untuk mengatasi permasalahan dalam proses

pembelajaran di kelas. PTK bersifat reflektif dan partisipatif, bertujuan untuk memperbaiki

praktik pembelajaran secara langsung melalui tindakan yang dirancang dan diterapkan dalam

situasi kelas, sehingga menghasilkan pemahaman yang lebih mendalam tentang proses dan

situasi pembelajaran.

C. Prosedur Penelitian

Prosedur Penelitian Tindakan Kelas ini di awali dengan perencanaan, pelaksanaan,

pengamatan, dan refleksi pada siklus I dan siklus II, yaitu sebagai berikut:

Siklus I

1. Tahap Perencanaan (planning)

Pada tahap perencanaan penelitian menyiapkan semua hal yang berkaitan dengan penelitian,

yaitu :

51
a. Menyusun Modul ajar dengan guru kelas V SDN 12 PALANGKA siklus I.

b. Menyiapkan sarana dan prasarana, yaitu bahan ajar yang digunakan, media belajar

( Media Interaktif Animasi) dan lembar kerja siswa (LKS), dan menerapkan model

pembelajaran Kooperatif saat pembelajaran berlangsung.

c. menyiapkan lembar observasi aktivitas guru dan siswa.

2. Tahap Tindakan (Action)

Pada tahap ini, guru akan melaksanakan kegiatan pembelajaran dengan melakukan kegiatan

yang ada pada modul ajar yang sudah direncanakan, yaitu:

a. Apresepsi dan motivasi.

b. Menyampaikan tujuan pembelajaran yang akan dicapai.

c. Menerapkan Model pembelajaran Kooperatif dan Media Interaktif Animasi proses

pembelajaran.

3. Tahap Pengamatan (Observing)

Pada tahap ini peneliti melakukan pengamatan dengan menggunakan lembar observasi saat

proses pembelajaran dengan menerapkan Model pembelajaran Kooperatif dan Media Interaktif

Animasi pada mata pelajarn IPAS topik Memakan dan di makan yaitu mencatat dan mengamati

aktivitas guru dan siswa saat proses pembelajaran berlangsung pada siklus I.

4. Tahap Refleksi (Reflecting)

Ditahap ini peneliti telah memperoleh data dari hasil pelaksanaan dan pengamatan yang telah

dilakukan. Maka dari itu, peneliti melakukan refleksi sebagai berikut:

52
a. Merefleksi proses pembelajaran yang telah dilaksanakan pada siklus I

b. Mencatat kendala atau masalah apa yang terjadi selama proses pembelajaran berlangsung

c. Memperbaiki pelaksanaan tindakan yang telah digunakan pada siklus selanjutnya.

Siklus II

1. Tahap Perencanaan (planning)

Pada tahap perencanaan penelitian menyiapkan semua hal yang berkaitan dengan penelitian,

yaitu :

a. Menyusun Modul ajar dengan guru kelas V SDN 12 PALANGKA siklus II.

b. Menyiapkan sarana dan prasarana, yaitu bahan ajar yang digunakan, media belajar

(Media Interaktif Animasi) dan lembar kerja siswa (LKS), dan menerapkan model

pembelajaran Problem Baced Learning saat pembelajaran berlangsung.

c. Menyiapkan lembar observasi aktivitas guru dan siswa.

2. Tahap Pelaksanaan (Action)

Pada tahap pelaksanaan siklus II, guru melakukan proses pembelajaran yang terdapat pada

modul ajar yang telah dilakukan disiklus I. Hal ini sama dengan yang dilakukan disiklus I hanya

saja melakukan perbaikan atas kekurangan yang terjadi disiklus I.

3. Tahap Pengamatan (Observation)

Pada tahap ini merupakan tahap yang sama seperti sikius I, tetapi disiklus II ini peneliti

melakukan pengamatan lagi bagaimana aktivitas guru dan siswa dalam proses pembelajaran

53
menggunakan model pembelajaran Kooperatif dan Media Interaktif Animasi materi memakan

dan dimakan SDN 12 PALANGKA.

4. Tahap Refleksi (Reflection)

Pada tahap refleksi siklus II ini peneliti juga melakukan refleksi pada pelaksanaan kegiatan

seperti siklus I, yaitu:

a. Peneliti melakukan refleksi pelaksanaan kegiatan pada siklus II,seperti yang dilakukan

disiklus I.

b. Peneliti membuat kesimpulan dari keseluruhan kegiatan pembelajaran.

D. Sumber Data

1. Data primer

Data primer adalah semua data yang dikumpulkan langsung oleh peneliti dari sumber

utamanya. Adapun yang menjadi sumber data primer dalam penelitian ini adalah hasil observasi

selama penelitian dan wawancara bersama kepala sekolah dan wali kelas.

2. Data sekunder

Data Sekunder adalah semua data yang dikumpulkan oleh peneliti sebagai penunjang sumber

data primer. Data sekunder yang dimaksud di dalam penelitian ini adalah data dari hasil tes

evaluasi siswa.

E. Teknik Pengumpulan Data

Sugiyono (2019:455) berpendapat bahwa, teknik pengumpulan data merupakan langkah yang

paling utama dalam penelitian, karena tujuan utaman dari penelitian adalah mendapatkan data.

54
Tanpa mengetahui teknik pengumpulan data, peneliti tidak akan mendapatkan data yang

memenuhi standar data yang ditetapkan.

1. Teknik Pengumpulan Data

Menurut Diplan dan Setiawan (2018: 68) tentang teknik pengumpulan data, bahwa Salah satu

tanggung jawab peneliti yaitu mengumpulkan data meskipun dalam penelitian tindakan kelas ada

kolaboratif tetapi tanggung jawab penuh pengumpulan data dilakukan oleh peneliti.

Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini melalui tes dan observasi. Tes digunakan

untuk mengukur kemampuan kognitif. Sedangkan observasi digunakan untuk memperoleh data

tentang aktivitas siswa dan guru selama mengikuti pembelajaran.

2. Instrument Pengumpulan Data

Instrumen pengumpulan data adalah alat yang digunakan untuk mengukur data yang hendak

dikumpulkan. Instrumen pengumpulan data ini pada dasarnya tidak terlepas dari metode

pengumpulan data. Bila metode pengumpulan datanya adalah depth interview (wawancara

mendalam), instrumennya adalah pedoman wawancara terbuka/tidak terstruktur, ( Alhamid, T &

Anufia, B, 2019)

Menurut Diplan dan Setiawan (2018:66-67) tentang instrumen pengumpulan data,

menyatakan bahwa: "Instrumen biasa dikatakan sebagai alat pengukuran yang digunakan untuk

membuktikan bahwa tindakan yang dilakukan sudah baik apakah masih memerlukan perbaikan".

a. Observasi

Instrumen observasi ini digunakan untuk melihat aktivitas guru dan keaktifan siswa selama

proses pembelajaran berlangsung ketika guru menggunakan model pembelajaran Kooperatif dan

55
media Interaktif Animasi. Pada instrumen pengumpulan data dengan menggunakan observasi,

maka disusunlah kisi-kisi observasi sebagai berikut.

Tabel Kisi-Kisi Observasi Aktivitas Guru

No Aspek yang diamati Skor

1 2 3 4

Kegiatan awal

1. a) Mengucapkan salam dan berdoa

2. b) Mengecek kehadiran siswa

3. c) Mengingatkan materi sebelumnya

4. d) Menyampaikan tujuan pembelajaran

5. e) Memutar media interaktif animasi (video animasi)

tentang rantai makanan.

6. f) Guru melakukan tanya jawab untuk menggali

pengetahuan siswa.

Kegiatan Inti

7. a) Guru menjelaskan konsep rantai makana secara singkat

dengan bantuan animasi

8. b) Guru memberikan arahan kepada siswa terkait permaian

mencari pasangan dari kartu yang sudah di sediakan oleh

guru

9. c) Guru membagikan kartu berisi pertanyaan dan jawaban

secara acak kepada seluruh siswa.

56
10. d) Guru mengarahkan siswa berjalan berkeliling untuk

mecari pasangan kartu yang cocok dengan kartu yang di

pegang oleh siswa.

11. e) Guru meminta Siswa yang telah menemukan pasangan

dari kartu yang benar duduk bersama.

12. f) Guru meminta Setiap pasangan akan menjelaskan isi dari

kartu tersebut di depan kelas.

13 g) Guru memberikan apresiasi dan penguatan terhadap

jawaban dari siswa.

Kegiatan Penutup

14. a) Menyimpulkan bersama siswa hasil pembelajaran

15. b) Guru memberikan soal posttest kepada siswa

16. c) Memberikan apresiasi kepada siswa

17. d) Guru mengajak siswa untuk berdoa menutup

pembelajaran.

18. e) Menutup pelajaran dengan mengucapkan salam

Jumlah

Total Skor

Keterangan skor:

1-1,99 = Kurang baik

2-2,99 = Cukup Baik

3-3,49 = Baik

3,5-4 = Sangat Baik

57
Tabel 3 Kisi-Kisi Obsevasi Aktivitas Siswa

No Aspek yang diamati Skor

1 2 3 4

Kegiatan awal

1. a. Menjawab salam dan Berdoa bersama menurut

agama dan kepercayaan masing-masing

2. b. Mengkonfirmasi kehadiran dengan mengangkat

tangan saat guru mengabsensi

3. c. Siswa mengingat materi sebelumnya

4. d. Mendengarkan dan menyimak tujuan

pembelajaran yang disampaikan guru

5. e. Menyimak video nimsi yang di tanyangkn guru

terkait materi rantai makanan.

6. Siswa menjawab pertanyaan dari guru.

Jumlah

Kegiatan Inti

7. a. Siswa menyimak penjelasan dari guru terkait

materi pembelajaran

8. b. Siswa menyimak arahan dari guru tentang cara

bermain permainan kartu berpasangan.

9. c. Siswa duduk dengan tertip sembari menunggu

guru membagikan kartu tersebut

58
10. d. Siswa berkelilig mencari pasangan dari kartu

masing-masing.

11. e. Siswa yang sudah menemukan pasangan dari

kartunya duduk bersama

12. f. Siswa bersama pasangannya menjelaskan isi dari

kartu tersebut di depan kels

13. g. Respon siswa

Jumlah

Kegiatan Penutup

14. a. Siswa dan guru menyimpulkan hasil pembelajaran

bersama-sama

15. b. Siswa mengerjakan soal posttest

16. c. Respon siswa

17. d. Siswa bersama guru menutup pelajaran dengan

doa

18. e. Siswa menjawab salam dari guru

Jumlah

Total Skor

Keterangan skor:

1-1,99 = Kurang baik

2-2,99 = Cukup Baik

59
3-3,49 = Baik

3,5-4 = Sangat Baik

b. Tes

Intrumen tes dalam penelitian ini dilakukan dengan pretest dan posttest, Teknik tes tertulis

dalam bentuk essai yang diberikan pada awal penelitian dan pada akhir tindakan sebagai bukti

yang menunjukkan ada atau tidak adanya peningkatan hasil belajar pada siswa dalam

pembelajaran IPAS dengan menggunakan model pembelajaran problem based learing berbantuan

media diorama siklus air.

Menurut Wiratna dalam Febriany (2019:85) mengemukakan bahwa pengertian instrument tes

yaitu:

“Instrumen tes digunakan untuk mengukur ada atau tidaknya serta besarnya kemampuan

objek yang kita teliti. Tes dapat digunakan untuk mengukur kemampuan dasar maupun

pencapaian atau prestasi tes IQ, minat, bakat dan sebagainya”.

Instrumen tes dalam penelitian ini menggunakan evaluasi dalam bentuk soal esaai, maka

disusunlah kisi-kisi tes sebagai berikut.

Tabel Kisi-Kisi Tes Evaluasi Siswa

No Kompetensi Dasar Indikator Skor

1 3.2 3.2.1 4 3 2 1

Menganalisis hubungan Mengidentifikasi peran setiap makhluk hidup

ntar komponen ekosistem dalam rantai makanan (produsen, konsumen

dan jaring-jaring tingkat I, Konsumen tingkat II, dekomposer).

makanan di lingkungan 3.2.2

sekitar. Menjelaskan Pengertian rantai makanan

60
4.2 3.2.3

Membuat karya tentang Menyebutkan contoh-contoh rantai makanan.

konsep jaring-jaring 3.2.4

makanan dalam suatu Mengurutkan makhluk hidup berdasarkan

ekosistem. perannya dalam suatu rantai makan yang

diberikan.

3.2.5

Menggambarkan skema sederhana suatu

rantai makanan dengan benar

3.2.6

Menganalisis akibat yang terjadi jika salah

satu komponen dalam rantai makanan hilang

atau berkurang.

3.2.7

Menjelaskan perbedaan antar produsen dan

konsumen.

3.2.8

Memberikan contoh dampak kegiatan

manusia terhadap keseimbangan ratai

makanan.

3.2.9

Menjelaskan pentingnya menjaga

keseimbangan rantai makanan bagi

61
kelangsungan hidup makhluk hidup

4.2.1

Menyajikan hasil pengamatan tentang contoh

rantai makanan alam bentuk gambar atau

bagan.

4.2.2

Menjelaskan secara lisan atau tulisan tentang

rantai makanan yang telah di buat.

Keterangan skor:

1-1,99 = Kurang baik

2-2,99 = Cukup Baik

3-3,49 = Baik

3,5-4 = Sangat Baik

F. Validasi Data

Validasi data adalah proses pengesahan data dengan memastikan dan memperbaiki data

sehingga data valid atau telah memenuhi aturan validasi data (Santoso, A.,dkk. (2023). Sugiyono.

(2019) mengatakan validasi data adalah proses pemeriksaan terhadap akurasi, kelengkapan, dan

konsistensi data untuk memastikan bahwa data tersebut memenuhi standar kualitas yang

ditetapkan sebelum digunakan untuk analisis lebih lanjut. Validasi data dalam penelitian

kualitatif dapat dilakukan melalui pendekatan triangulasi yang mengintegrasikan tiga metode

pengumpulan data, yaitu observasi, tes, dan dokumentasi. Daruhadi, G., & Sopiati, P. (2024)

mengatakan keabsahan data dalam penelitian kualitatif mengacu pada tingkat kepercayaan yang

dapat diberikan terhadap interpretasi peneliti atas data yang dikumpulkan.

62
G. Teknik Analisis Data

Menurut Jakni (2017:79) mengemukakan bahwa “Teknik analisis data dalam PTK dapat

dikelompokkan menjadi dua sesuai dengan jenis data penelitian yang diperoleh, yaitu Teknik

analisis data kualitatif dan Teknik analisis data kuantitatif”.

Menurut Crewell, Jhon dalam Diplan dan Setiawan (2018:36) menyatakan bahwa:

“Penelitian Mixed Methods adalah pendekatan untuk menyelidiki kombinasi atau asosiasi

antara bentuk kualitatif dan kuantitatif. Itu meliputi asumsi filosofi, menggunakan

pendekatan kualitatif dan kuantitatif, dan menggabungkan kedua pendekatan dalam

belajar. Itu mengumpulkan kedua pendekatan dua-duanya jadi lebih kuat dalam belajar

adalah lebih besar daripada pendekatan kualitatif atau kuantitatif”.

Febriani, E. [Link] (2023) teknik pengumpulan data dalam PTK terbagi menjadi dua macam,

yakni pengumpulan data secara kualitatif (deskriptif) dan pengumpulan data secara kuantitatif

(berdasarkan jumlah).

Jadi, metode kombinasi inilah yang nantinya akan digunakan dalam menentukan keberhasilan

dari penerapan model pembelajaran Kooperatif tipe make a match dan media animasi interaktif.

H. Analisis Data Kualitatif

Menurut Diplan dan Setiawan (2018:56) data kualitatif yaitu “Data yang didapat dari

observasi mengenai aktifitas ataupun perilaku yang muncul saat dimunculkan pada saat

penelitian”.

Data kualitatif diperoleh dari hasil observasi untuk mengetahui kelebihan dan kekurangan

pembelajaran yang sedang dilakukan. Data kualitatif ini diperoleh dari aktivitas guru terhadap

siswa dan aktivitas siswa terhadap guru selama proses belajar mengajar tersebut berlangsung,

dengan menggunakan penerapan model pembelajaran Kooperatif dan media interaktif animasi.

63
I. Analisis Data Kuantitatif

Menurut Diplan dan Setiawan (2018:56) mengemukakan bahwa:

“Data yang berbentuk angka. Data kuantitatif didapat dari tes, skala, angket yang

diberikan kepada siswa. Data yang didapat dianalisis secara deskriptif dengan

menggunakan statistik deskriptif. Misalnya: mencari rata-rata nilai siswa, presentase

keberhasilan belajar, hasil analisis skala emosi dan lain-lain”.

Data kuantitatif diperoleh dari evaluasi yang dilakukan pada setiap pertemuan pembelajaran.

Hasil tes siswa ini dianalisis secara kuantitatif. Pada akhir setiap siklus dihitung nilai rata-ratanya

dari setiap siklus pada pembelajaran satu dan dua dijumlahkan dan di bagi dua kemudian

dideskripsikan hasil rata-rata tes siswa tersebut.

Adapun cara untuk menghitung nilai rata-rata (mean) dan menghitung ketuntasan secara

klasikal adalah sebagai berikut:

a. Menghitung nilai rata-rata (mean) kelas dengan rumus:

Adapun mencari rata-rata menurut Diplan dan Setiawan (2018: 182) dapat menggunakan

rumus sebagai berikut:

M=Σx : n

Keterangan :

M = Nilai rata-rata kelas

ΣX = Total nilai yang diperoleh siswa

N = Jumlah siswa

Dengan kriteria sebagai berikut:

90-100 = Sangat tercapai

80-89,99 = Tercapai

64
70-79,99 = Cukup tercapai

60-69,99 = Kurang tercapai

0-59,99 = Sangat kurang tercapai

b. Menghitung presentase ketuntasan secara klasikal dengan rumus:

Adapun rumus untuk menghitung presentase ketuntasan secara klasikal, dimana indikator

ketuntasan belajar yang ditentukan yakni 85% dari nilai KKM 70 dengan rumus sebagai berikut:

ΤΒ = Σ S ≥70 : n x 100%

Keterangan :

TB = Ketuntasan Belajar klasikal minimal 85%

Σ S = Jumlah siswa yang diperoleh nilai besar dari atau sama dengan 70

n = Jumlah siswa

100% = Bilangan tetap presentase

(Segara dalam Febriany, 2019:92)

J. Kriteria Keberhasilan Penelitian

1. Kriteria keberhasilan penelitian secara kuantitatif

a. Hasil belajar siswa pada mata pelajaran IPAS mencapai Kriteria Ketuntasan Minimal

(KKM) yaitu 70 dan hasil belajar secara ketuntasan klasikal siswa mencapai 85%.

2. Kriteria keberhasilan penelitian secara Kualitatif

a. Aktivitas belajar guru dikatakan berhasil jika guru mencapai kategori baik dan

aktivitas belajar siswa dikatakan berhasil jika siswa mencapai kategori baik.

65
DAFTAR PUSTAKA

Asyafah, A. (2019). Menimbang model pembelajaran (kajian teoretis-kritis atas model

pembelajaran dalam pendidikan islam). TARBAWY: Indonesian Journal of Islamic

Education, 6(1), 19-32.

Amalia, L., Astuti, D. A., Istiqomah, N. H., Hapsari, B., & Daniar, A. S. (2023). Model

Pembelajaran Kooperatif. Cahya Ghani Recovery.

66
Al Muflihah, N., & Nuruddin, M. (2024). Pengembangan Media Komik Digital Pada Mata

Pelajaran IPAS Topik Memakan Dan Dimakan (Rantai Makanan) Kelas V Di SDN

Jatirejo. IJPSE Indonesian Journal of Primary Science Education, 5(1), 137-146.

Djonomiarjo, T. (2020). Pengaruh model problem based learning terhadap hasil belajar. Aksara:

Jurnal Ilmu Pendidikan Nonformal, 5(1), 39-46.

Damayanti, A. (2022, June). Faktor-faktor yang mempengaruhi hasil belajar peserta didik mata

pelajaran Ekonomi kelas X SMA Negeri 2 Tulang Bawang Tengah. In Prosiding Seminar

Nasional Pendidikan Ekonomi, l( 1), 99-108).

Diplan, Setiawan. M. A (2018) Penelitin Tindakan Kelas Jawa Tengah: CV Samu Untung.

Ermalinda, E., & Mabruria, A. (2023). Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Make A

Match Dalam Meningkatkan Keaktifan Belajar Siswa Pada Mata Pelajaran Pendidikan

IPA Banyuasin. Muhafadzah, 4(1), 28-37.

Mardicko, A. (2022). Belajar dan Pembelajaran. Jurnal Pendidikan Dan Konseling (JPDK), 4(4),

5482-5492.

Putri, K. M. F., Ranti, L. R., & Ringkat, G. H. F. (2024). Artikel Model Pembelajaran

Cooperative Learning. Dewantara: Jurnal Pendidikan Sosial Humaniora, 3(3), 01-06.

Rahman, S. (2022, January). Pentingnya motivasi belajar dalam meningkatkan hasil belajar.

In Prosiding Seminar Nasional Pendidikan Dasar.

Ririantika, R., Usman, M., Aswadi, A., & Sakkir, G. (2020). Penerapan model pembelajaran tipe

“make a match” terhadap hasil belajarbahasa indonesia. Cakrawala Indonesia, 5(1), 1-6.

Rasul, A. (2021). Pengaruh Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Make A Match Terhadap

Motivasi dan Hasil Belajar Matematika pada Siswa Kelas VII SMP Yapis

Timika. Mandalika Mathematics and Educations Journal, 3(1), 65-75.

67
Ramdhany, T. Y., Akbar, A., & Sumayana, Y. (2024). Peningkatan Aktivitas Dan Hasil Belajar

IPAS Pada Materi Keragaman Budaya Dengan Menggunakan Model Pembelajaran

Kontekstual Terbimbing. Sebelas April Elementary Education, 3(3), 224-236.

Sarumaha, M. S., Laiya, R. E., RE, M., Zagoto, A., Sarumaha, M., Harefa, D.,& Telaumbanua, T.

(2023). Model-Model Pembelajaran. CV Jejak (Jejak Publisher).

Susilowati, D. (2023). Peningkatan keaktifan belajar peserta didik melalui implementasi metode

eksperimen pada mata pelajaran ipas. Khazanah Pendidikan, 17(1), 186-196.

Tabrani, T., & Amin, M. (2023). Model pembelajaran cooperative learning. Jurnal Pendidikan

Dan Konseling (JPDK), 5(2), 200-213.

68
69

Anda mungkin juga menyukai