Meningkatkan Hasil Belajar IPAS SD
Meningkatkan Hasil Belajar IPAS SD
PROPOSAL
Oleh:
Talia Mardivani
(223020212115)
2025
i
DAFTAR ISI
BAB I PENDAHULUAN..................................................................................................
2. Fokus Penelitian......................................................................................................
3. Rumusan Masalah....................................................................................................
4. Tujuan Masalah........................................................................................................
5. Manfaat Penelitian...................................................................................................
1. Teori Belajar......................................................................................................
2. Hasil Belajar......................................................................................................
3. Model Pembelajaran..........................................................................................
5. Media Pembelajaran..........................................................................................
B. Kretngka Berfikir.....................................................................................................
A. Tempat Penelitian....................................................................................................
1. Tempat Penelitian..............................................................................................
2
2. Waktu Penelitian................................................................................................
B. Metode Penelitian....................................................................................................
C. Prosedur Penelitian..................................................................................................
D. Sumber Data............................................................................................................
1. Data Primer........................................................................................................
2. Data Skunder.....................................................................................................
F. Validasi Data............................................................................................................
3
BAB I
PENDAHULUAN
1. Latar Belakang
bahwa Pendidikan merupakan “usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar
dan pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki
kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia serta
Pendidikan merupakan faktor utama dalam membentuk kualitas sumber daya manusia dan
menentukan kemajuan suatu bangsa. Pendidikan di Tingkat dasar menjadi pondasi bagi
perkembangan kognitif, afektif, dan psikomotorik anak. Melalui Pendidikan, siswa tidak hanya
memperoleh pengetahuan akademik, tetapi juga keterampilan sosial, emosional, serta karakter
yang mandiri dan bertanggung jawab. Oleh karena itu, pembelajaran di sekolah dasar harus
dirancang secara optimal agar siswa dapat memahami konsep-konsep dasar dengan baik dan
Belajar adalah suatu proses perubahan kepribadian seseorang dimana perubahan tersebut
daya pikir, pemahaman, sikap, dan berbagai kemampuan lainnya. Menurut pendapat [Link]
(dalam Sukantin, dkk 2022:919), mendefinisikan belajar sebagai perubahan kelakuan, pengalam
dan latihan. Jadi belajar membawa suatu perubahan pada diri seseorang yang belajar. Perubahan
ini tidak hanya mengenai sejumlah pengalaman, pengetahuan, melainkan juga membentuk
4
Pembelajaran pada hakekatnya adalah proses interaksi antara peserta didik dengan
lingkungannya, sehingga terjadi proses perubahan perilaku ke arah yang lebih baik. Dan tugas
guru adalah mengkoordinasikan lingkungan agar menunjang terjadinya perubahan perilaku bagi
peserta didik. Pembelajaran juga dapat diartikan sebagai usaha sadar pendidik untuk membantu
peserta didik agar mereka dapat belajar sesuai dengan kebutuhan dan minatnya. Di sini pendidik
berperan sebagai fasilisator yang menyediakan fasilitas dan menciptakan situasi yang
Dalam satuan pembelajaran guru tidak hanya mendidik dan mengamati peserta didik, guru
juga mendesain kegiatan sesuai kurikulum yang berlaku. Peraturan Pemerintahan Republik
Indonesia Nomor 13 tahun2015 pasal I ayat 15 kurikulum adalah seperangkat rencana dan
pengetahuan mengenai tujuan, isi, dan bahan pelajar serta bahan yang digunakan sebagai
Proses pembelajaran adalah rangkaian kegiatan belajar yang dilakukan peserta didik.
Kegiatan pendidikan yang dilakukan oleh peserta didik di bawah arahan guru. Tugas guru adalah
menentukan tujuan yang dicapai dalam proses pendidikan. Untuk mencapai tujuan pembelajaran,
pendidik perlu merancang berbagai pengalaman belajar. Pengalaman belajar di sini adalah segala
sesuatu yang dimiliki oleh peserta didik sebagai hasil dari proses belajar (Learning Experience).
Saat ini kurikulum pendidikan yang berlaku di Indonesia adalah kurikulum merdeka,
Kurikulum Merdeka disebut juga dengan Kurikulum Prototipe. Kurikulum ini adalah Kurikulum
yang fleksibel. Selain itu, kurikulum ini juga fokus terhadap materi esensial, pengembangan
karakter serta kompetensi peserta didik. Salah satu karakteriktik kurikulum merdeka untuk
menerapkan metode pembelajaran yang lebih interaktif dan kolaboratif. Kurikulum merdeka juga
dinilai lebih fleksibel dibanding kurikulum sebelumnya. Artinya, tenaga pengajar, peseta didik
5
dan sekolah lebih Merdeka dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran disekolah. Kurikulum
Merdeka juga membebaskan pengajar untuk menggunakan perangkat ajar yang cukup banyak,
mulai dari asesmen literasi, modul ajar, buku teks, dan lainnya (Lestari, dkk, 2023:86).
Jadi guru memiliki hak untuk memiliki berbagai perangkat ajar sehingga pembelajaran dapat
disesuaikan dengan kebutuhan belajar dan minat peserta didik. Pembelajaran dari kurikulum
merdeka adalah untuk meningkatkan kualitas pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan dan
didik dalam menyelesaikan tugas, agar peserta didik lebih bergairah saat belajar mereka dapat
berkomunikasi dalam situasi nyata seperti bercerita, betanya, menulis dan berdiskusi dalam
Berdasarkan observasi yang dilakukan peneliti pada Sekolah Dasar Negeri 12 Palangka kelas
V di Kota Palangka Raya, ditemukan masalah dalam kegiatan belajar mengajar. Pada saat
pembelajaran IPAS dengan topik memakan dan di makan, guru menggukaan model konvensional
dalam proses pembelajaran serta metode dan media pembelajaran yang kurang bervariasi.
Terlihat juga pada saat guru menerangkan pembelajaran ada peserta didik yang tidak
memperhatikan materi yang disampaikan. Peserta didik sering berbicara dengan temannya, dan
merasa bosan karena proses pembelajaran masih didominasi oleh guru. Sehingga pembelajaran
cenderung berlangsung satu arah, hal ini mengakibatkan peserta didik kurang bersemangat untuk
belajar dengan begitu akan mengakibatkan peserta didik kurang dalam pemahaman.
Pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam dan Sosial (IPAS) khususnya pada topik memakan dan
dimakan, disekolah ini terkesan tidak menarik bagi siswa terlebih lagi bagi siswa yang memang
tidak menyukai pelajaran tersebut. Jadi peserta didik akan lebih sulit dalam mencerna informasi
yang diberikan oleh guru. Hal ini menyebabkan kurangnya kesiapan peserta didik untuk
6
menerima pelajaran sehingga mempengaruhi aspek-aspek seperti motivasi, minat, kebiasaan
belajar, kepercayaan diri, dan aspirasi. Peserta didik menganggap pelajaran IPAS adalah
pelajaran yang bersifat hafalan, teori yang jarang sekali ada prakteknya. Situasi ini semakin
buruk ketika guru mengajar secara monoton dan terlalu teoritis, ditambah lagi dengan minimnya
sarana belajar serta materi kurikulum IPAS yang membebani. Semua ini menjadi faktor utama
yang menyebabkan kesulitan belajar siswa pada saat proses pembelajaran, sehingga hasil belajar
siswa di kelas V khususnya pada pembelajaran IPAS topik memakan dan dimakan tergolong
rendah.
Oleh karena itu, perlu adanya strategi pembelajaran untuk meningkatkan pemahaman peserta
didik dalam belajar, dan strategi tersebut dapat menigkatkan hasil belajar siswa. Jadi peneliti
mencoba menggunakan Model pembelajaran kooperatif Tipe Make A Match dan Media
Pembelajaran Interaktif animasi sebagai bantuan dalam proses belajar mengajar. Model
pembelajaran kooperatif tipe Make a Match merupakan suatu model pembelajaran yang
mengajak peserta didik mencari jawaban atas suatu pertanyaan atau pasangan dari suatu konsep
melalui suatu permainan kartu pasangan. Make a Match (mencari pasangan) merupakan model
yang dikembangkan pertama kali oleh Lorna Curran pada tahun 1994. Make a match ini
merupakan model yang mengajarkan siswa untuk dapat aktif dalam mencari/ mencocokan
jawaban dan disiplin terhadap waktu yang telah ditentukan. Make a match saat ini merupakan
salah satu strategi penting dalam ruang kelas. Tujuan dari strategi ini anatra lain: pendalaman
Media pembelajaran interaktif juga merupakan media pembelajaran yang dapat digunakan
untuk mendingkatkan interaksi siswa dan mendorong siswa agar lebih aktif pada saat
7
teknologi. Teknologi dapat memungkinkan pembelajaran yang lebih efektif,
Video animasi sebagai salah satu media pembelajaran interaktif yang berkaitan dengan
teknologi memiliki banyak sekali manfaat dalam kegiatan pembelajaran. Video animasi
merupakan media yang di dalamnya terdapat informasi yang disampaikan secara visula dan
interaktif karena di dalamnya menggabungkan elemen warna, gerak, suara, dan gambar sehingga
dapat membuat pengalaman belajar yang menyenangkan. Vidio animasi merupakan media
pembelajaan yang menarik dan berbeda, sehingga membuat peserta didik termotivasi dalam
mengikuti pembelajaran. Media vidio animasi dapat memberikan respon baik kepada
peserta didik. Vidio animasi membuat suasana pembelajaran menjadi menyenangkan dan
suasana baru yang dirasakan oleh peserta didik dalam kegiatan pembelajaran (Rosmana, dkk,
2024:1470).
Media vidio animasi memudahkan peserta didik untuk memahami materi yang
dipelajari, karena dengan sajian materi yang bervariasi dapat membuat peserta didik
tertarik dan fokus untuk mengikuti kegiatan pembelajaran. Media pembelajaran yang baik dan
tepat sesuai dengan karakteristik peserta didik, memudah untuk mencapai tujuan
dapat meningkatkan hasil belajar peserta didik. Media vidio animasi apat membantu pesrta
didik yang awal mulanya mereka berfikir secara abstrak terhadap materi menjadi konkret, jelas
8
Menggunkan media vidio animasi dapat berdampak positif pada semangat belajar
peserta didik. Penggunakan media vidio animasi juga dapat membantu guru untuk
menginspirasi peserta didik terhadap materi yang dipelajari dan membuat peserta didik
lebih fokus. Dapat disimpulkan bahwa pemanfaatan media vidio animasi dapat
Berdasarkan penjelasan di atas peneliti tertarik melakukan penelitian yang berjudul "upaya
meningkatkan hasil belajar siswa pada mata pelajaran IPAS topik memakan dan dimakan
dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe make a match dan media interaktif
2. Fokus Penelitian
Berdasarkan latar belakang dan identifikasi masalah yang telah dipaparkan di atas, maka
1. Model Pembelajan kooperatif tipe make a match yang digunakan dalam kegiatan
kooperatif tipe make a match untuk meningkatkan hasil belajar pada topik memakan dan
dimakan, untuk siswa kelas V SDN 12 Palangk Kota Palangkaraya tahun pelajaran 2025.
3. Media interaktif animasi yang digunakan dalam kegiatan pembelajaran IPAS kelas V
4. Penelitian ini difokuskan hanya pada masalah penggunaan media interaktif animasi untuk
meningkatkan hasil belajar pada topik memakan dan dimakan, untuk siswa kelas V SDN
9
5. Kompetensi Dasar yang ingin dicapai adalah :
Untuk memenuhi ketercapaian tersebut, sebuah upaya guru adalah dengan menggunakan
Model pembelajaran kooperatif tipe make a match dan media interaktif animasi pada mari rantai
makanan.
3. Rumusan Masalah
model pembelajaran kooperatif tipe make a match dan media interaktif animasi pada
2. Apakah ada peningkatan hasil belajar peserta didik kelas V SDN 12 Palangka
menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe make a match dan media interaktif
4. Tujuan masalah
menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe make a match dan media interaktif
2. Untuk meningkatkan hasil belajar peserta didik kelas V SDN 12 Palangka menggunakn
model pembelajaran kooperatif tipe make a match dan media interaktif animasi.
5. Manfaat penelitian
Penelitian ini diharapkan dapat memberi manfaat dan kontribusi bagi siswa, guru, pihak
10
a. Manfaat Teoretis
Manfaat teoretis yang diambil adalah untuk mendapatka teori baru tentang peningkatan hasil
belajar siswa pada mata pelajaran IPAS dikelas V melalui model Pembelajaran kooperatif tipe
make a match dan media interaktif animasi, sehingga dapat menambah wawasan berpikir untuk
dijadikan dasar bertindak bagi insan pendidik dan dunia kependidikan pada umumnya.
b. .Manfaat Praktis
profesional dan supervisi kepada para guru secara lebih efektif, efisien dan kreatif
2. Bagi para guru, hasil penelitian dapat menjadi bahan pertimbangan guna melakukan
pelaksanaan tugas profesinya saat mengajar guru juga harus lebih efektif, efisien dan
kreatif terhadap model pembelajaran dan penggunaan media pada peserta didik.
penggunaan Model Pembelajaran kooperatif tipe make a match dan media interaktif
animasi.
4. Bagi peserta didik diharapkan kajian dalam penelitian ini dapat memberikan sedikit ilmu
dalam mencetak lulusan yang berkualitas, berilmu, selalu kreatif dan menemukan hal
baru dan memberikan suasana baru dalam proses pembelajaran sehingga peserta didik
11
BAB II
KAJIAN PUSTAKA
1. Teori Belajar
a. Pengertian Belajar
Menurut Akhiruddin, dkk (2020:12), belajar merupakan proses penting bagi perubahan
perilaku setiap orang, mencakup segala sesuatu yang dipikirkan dan dikerjakan oleh seseorang.
Belajar memegang peranan penting dalam perkembangan, kebiasaan, sikap, keyakinan, tujuan,
Belajar adalah suatu proses yang dilalui oleh seorang individu untuk memperoleh
pengetahuan-pengetahuan baru dari yang awalnya tidak tahu menjadi tahu, dari yang tidak
mengerti menjadi paham. Belajar merupakan metamorfosis pada manusia yang disebabkan oleh
Belajar merupakan kegiatan yang paling pokok dan penting dalam keseluruhan proses
pendidikan. dalam pengertian sempit, belajar dimaksudkan sebagai usaha penguasaan materi
seutuhnya. Adapun dalam pengertian luas, belajar dapat diartikan sebagai kegiatan psikofisik
Menurut Wahab & Rosnawati (2021:1), belajar merupakan suatu proses usaha sadar yang
dilakukan oleh individu untuk suatu perubahan sikap dan Perilaku dari tidak tahu menjadi tahu,
12
dari tidak memiliki sikap menjadi bersikap benar, dari tidak terampil menjadi terampil
melakukan sesuatu. Belajar dapat diartikan sebagai aktifitas mental atau (psikhis) yang terjadi
karena adanya interaksi aktif antara individu dengan lingkungannya yang menghasilkan
perubahan-perubahan yang bersifat relatif tetap dalam aspek-aspek: kognitif, afektif dan
psikomotor.
Maka dapat dikatakan bahwa, belajar merupakan proses sadar yang sangat penting dalam
kehidupan individu, karena menjadi dasar bagi perubahan perilaku, sikap, dan kemampuan
seseorang. Proses ini melibatkan aktivitas mental dan fisik yang terjadi melalui interaksi aktif
dengan lingkungan, yang menghasilkan perubahan yang relatif menetap dalam aspek kognitif
(pengetahuan), afektif (sikap), dan psikomotor (keterampilan). Belajar tidak hanya sebatas
penguasaan materi, tetapi juga mencakup pembentukan kepribadian secara utuh sebagai bagian
b. Ciri-Ciri Belajar
2. Perubahan tidak bersifat sesaat atau relatif permanen. Maka perubahan yang
3. Perubahan tidak terjadi secara tiba-tiba namun berasal dari latihan dan
juga pengulangan.
13
Menurut Djamarah (dalam Lestari & Hudaya 2018:49), ada beberapa ciri-ciri belajar yaitu:
b. Perubahan itu tidak berlangsung sesaat saja melainkan menetap atau dapat disimpan.
c. Perubahan itu tidak terjadi begitu saja melainkan harus dengan usaha. Perubahan
Belajar merupakan proses yang ditandai oleh perubahan perilaku yang sadar, bertujuan, dan
mencakup seluruh aspek individu, yaitu kognitif, afektif, dan psikomotor. Perubahan ini tidak
terjadi secara tiba-tiba, melainkan melalui latihan, pengalaman, dan interaksi yang berkelanjutan
dengan lingkungan. Selain itu, perubahan hasil belajar bersifat positif, aktif, fungsional, dan
relatif permanen, sehingga perlu diperkuat melalui pengulangan dan pembiasaan. Belajar juga
bukan hasil dari kematangan fisik atau pengaruh sesaat, melainkan merupakan hasil usaha
14
2. Hasil Belajar
Menurut Rahman (2021:298), hasil belajar merupakan hasil yang telah dicapai oleh siswa
setelah mengikuti kegiatan belajar. Hasil yang dicapai oleh siswa tersebut bisa berupa
Hasil belajar adalah sebagai terjadinya perubahan tingkah laku pada diri seseorang yang
dapat diamati dan diukur bentuk pengetahuan, sikap dan keterampilan. Perubahan tersebut dapat
diartikan sebagaimterjadinya peningkatan dan pengembangan yang lebih baik dari sebelumnya
dan yang tidak tahu menjadi tahu (Hamalik dalam Fernando, dkk, 2024:66).
Hasil belajar menurut Sudjana (dalam Djonomiarjo 2019:42), adalah kemampuan yang
dimiliki siswa setelah ia menerima pengalaman belajarnya. Jadi hasil belajar merupakan suatu
kemampuan atau keterampilan yang dimiliki oleh siswa setelah siswa tersebut mengalami
aktivitas belajar.
Berdasarkan penjelasan diats dapat di simpulkn bahwa, hasil belajar adalah kemampuan
yang diperoleh siswa sebagai cerminan dari usaha dan proses belajar yang telah dijalani dalam
kurun waktu tertentu. Hasil ini mencakup penilaian terhadap aspek pengetahuan, sikap, dan
keterampilan, serta terlihat dari perubahan perilaku siswa. Oleh karena itu, hasil belajar menjadi
15
Menurut Damayanti (2022:102-103), ada dua faktor yang mempengaruhi hasil belajar siswa
yaitu:
1. faktor internal
Merupakan faktor yang berasal dari dalam diri peserta didik yang meliputi aspek
kesehatan tubuh, dan psikologis (rohani) seperti kesadaran, perhatian, dan minat.
2. faktor eksternal
Faktor yang berasal dari luar yakni kondisi lingkungan disekitar siswa. Faktor eksternal ini
juga terdiri dari dua aspek yaitu, aspek sosial (lingkungan keluarga, guru, dan teman) dan aspek
nonsosial (kondisi gedung dan letak tempat belajar/kelas serta fasilitas penunjang lainnya).
Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi hasil belajar siswa menurut (Marlina,dkk. 2021:
a. Faktor Internal.
1. Minat
Minat merupakan sesuatu yang penting, dan harus dimiliki ketika kita akan melakukan
sesuatu. Jika seseorang tidak memiliki minat yang tinggi dalam suatu hal, maka ia akan
2. Bakat
Pada dasarnya setiap manusia memiliki bakat pada suatu bidang tertentu dengan kualitas
yang berbeda-beda.
3. Motivasi
16
Motivasi merupakan serangkain usaha untuk untuk menyiapkan kondisi–kondisi tertentu,
sehingga seseorang mau dan ingin melakukan [Link] merupakan hal yang
penting dan haus dimiliki oleh setiap siswa agar seorang siswa semangat dalam
belajar.
4. Cara Belajar
Cara belajar adalah sebuah strategi yang dilakukan siswa agar lebih memahami
materi yang dijelaskan tentunya dengan cara belajar yang disenangi oleh siswa tersebut.
b. Faktor Eksternal
1. Lingkungan Sekolah
Lingkungan sekolah merupakan tempat dimana para peserta didik melakukan kegiatan
belajar. Dalam lingkungan sekolah terdapat guru dan kepala sekolah. Peran guru sangat
terkait sebuah materi yang terkadang materi tersebut membutuhkan alat peraga agar
siswa mudah untuk memahami materi yang diajarkan. Selanjutnya adalah kepala
sekolah, peran kepada sekolah yaitu sebagai ketua atau pemimpin yang bertanggung
jawab dan berperan penting dalam memajukan sebuah sekolah. Salah satu tugas
kepala sekolah yaitu menyediakan fasilitas yang cukup untuk guru dan peserta
didiknya.
2. Lingkungan Keluarga
pertumbuhan dan perkembangan seseorang. Pola asuh orang tua atau pola pengasuhan
dari orang tua terhadap anak ternyata juga mempunyai pengaruh positif dan signifikan
17
Jadi hasil belajar siswa dipengaruhi oleh dua faktor utama, yaitu faktor internal dan faktor
eksternal. Faktor internal mencakup minat, bakat, motivasi, dan cara belajar siswa yang berperan
penting dalam menentukan keberhasilan belajar. Sementara itu, faktor eksternal meliputi
lingkungan sekolah dan keluarga. Lingkungan sekolah, termasuk peran guru dan kepala sekolah,
keluarga, terutama pola asuh orang tua, juga berpengaruh besar terhadap perkembangan dan hasil
belajar siswa.
3. Model Pembelajaran
Menurut Trianto (dalam silphy & Octavia, 2020:12), model pembelajaran adalah suatu
perencanaan atau pola yang digunakan sebagai pedoman dalam merencanakan pembelajaran di
kelas atau pembelajaran tutorial. Model pembelajaran mengacu pada pendekatan pembelajaran
adalah suatu perencanaan atau suatu pola yang digunakan sebagai pedoman dalam merencanakan
pembelajaran dikelas atau pembelajaran dalam tutorial. Model pembelajaran mengacu pada
lingkungan belajar beserta penggunaan perangkat pembelajaran lainnya yang tersusun secara
sistematis sehingga dapat menggambarkan sebuah kegiatan pembelajaran langkah demi langkah.
18
Model pembelajaran terbentuk apabila pendekatan, strategi dan metode teknik bahkan taktik
Oleh karena itu dapat di simpulkan bawah, model pembelajaran merupakan suatu
perencanaan atau pola sistematis yang digunakan sebagai pedoman dalam merancang dan
melaksanakan kegiatan pembelajaran di kelas atau tutorial. Model ini mencakup pendekatan,
tujuan pengajaran, tahapan kegiatan, lingkungan belajar, serta pengelolaan kelas. Model
pembelajaran terbentuk dari perpaduan antara pendekatan, strategi, metode, teknik, dan taktik
yang dirancang secara terpadu untuk mencapai tujuan pembelajaran secara efektif.
Pada hakikatnya istilah model pembelajaran ini memiliki makna yang begitu luas dari
pada pendekatan, strategi, metode, atau prosedur. Beragamnya model pembelajaran yang bisa
guru atau tenaga pendidik pilih dan digunakan yang sesuai dan efisien guna mencapai tujuan
1. Bersumber pada teori pendidikan serta teori belajar dari para pakar tertentu. Sebagai
contoh, model riset kelompok yang disusun oleh Herbert Thelen serta bersumber pada
teori John Dewey. Model ini dirancang dan didesain guna melatih partisipasi dalam
19
2. Memiliki misi ataupun tujuan pembelajaran tertentu. Misalnya model berfikir induktif
3. Bisa dijadikan sebagai pedoman ataun acuan untuk melakukan perbaikan dan
pengembangan dalam kegiatan belajar mengajar di kelas. Sebagai contoh model Synectic
pembelajaran (syntax), (2) adanya prinsip-prinsip reaksi, (3) sistem sosial, dan (4) sistem
pendukung. Keempat bagian tersebut ialah pedoman praktis yang bisa digunakan oleh
5. Memiliki dampak sebagai akibat dari hasil terapan model pembelajaran. Beberapa
Dampak yang dimaksud adalah sebagai berikut: (1) dampak pembelajaran, yaitu hasil
dari proses pembelajaran yang dapat diukur dan (2) dampak pengiring, yaitu hasil belajar
jangka panjang.
Kardi (dalam Rifa, dkk, 2022:5), mengatakan jika model pembelajaran memiliki ciri khusus
yang membedakan dengan strategi, metode atau prosedur. Ciri-ciri tersebut antara lain:
1. Model pembelajaran merupakan rasional teoretik logis yang disusun oleh para pencipta
atau pengembangnya.
2. Berupa landasan pemikiran mengenai apa dan bagaimana peserta didik akan belajar
20
3. Tingkah laku pembelajaran yang diperlukan agar model tersebut dapat dilaksanakan
dengan berhasil; dan lingkungan belajar yang diperlukan agar tujuan pembelajaran itu
dapat tercapai.
Model pembelajaran tidak hanya berfungsi untuk mengubah perilaku siswa sesuai dengan
apa yang diharapkan, tetapi juga berfungsi untuk mengembangkan dan memperbaiki berbagai
aspek kemampuan yang bersangkutan dengan proses pembelajaran. Pada dasarnya model
pembelajaran memiliki fungsi sebagai pedoman atau acuan bagi para perancang pembelajaran
dan para guru dalam melaksanakan aktivitas pembelajaran. Ini menandakan bahwa ketika sebuah
model pembelajaran diterapkan maka secara otomatis model pembelajaran akan menjadi
instrumen bagi para pendidik untuk menggerakan aktivitas pembelajaran (Ahyar, dkk, 2021:10)
Selanjutnya terdapat beberapa fungsi yang amat penting yang seharusnya dimiliki oleh
pembelajaran bagi pencipta desain pembelajaran dan pendidik untuk memutuskan strategi dan
pelaksanaan kegiatan pembelajaran agar tujuan pembelajaran bisa diraih dengan sukses. Adapun
fungsi dari model pembelajaran menurut Rosdiani (dalam Ahyar, 2021:11) adalah sebagai
berikut:
1. Bimbingan. Suatu model pembelajaran harus menjadi pedoman atau acuan bagi guru dan
siswa mengenai apa yang seharusnya dilakukan, memiliki desain instruksional yang
komprehensif dan mampu membawa guru dan siswá ke arah tujuan pembelajaran yang
hendak dicapai.
21
2. Mengembangkan Kurikulum. Model pembelajaran juga bisa membantu dan
3. Spesifikasi alat Pelajaran. Model pembelajaran menjadi salah satu instrumen pengajaran
yang bisa membantu guru dalam membawa peserta didik kepada perubahan-perubahan
dapat membantu untuk meningkatkan aktivitas dalam proses belajar mengajar sekaligus
tujuan sesama peserta didik dapat saling bertukar pendapat dalam kelompok yang telah
dibagi, karena biasanya peserta didik akan lebih nyaman saat mengutarakan pemikiran
ataupendapat pada teman sebaya daripada bertanya kepada guru. Namun peran guru tetap
dibutuhkan dalam model ini, untuk memonitor peserta didik selama proses pembagian
kelompok, membimbing diskusi, dan penyampaian hasil diskusi peserta didik di kelas (Shamdani
kegiatan pembelajaran dengan cara berkelompok untuk bekerja sama saling membantu
kerangka konseptual rangkaian kegiatan belajar yang dilakukan oleh peserta didik dalam
kelompok- kelompok tertentu untuk mencapai tujuan pembelajaran yang telah dirumuskan.
22
Kelompok-kelompok tersebut bekerja sama untuk mencapai tujuan pembelajaran. Pembelajaran
kooperatif ini termasuk sebuah strategi pembelajaran yang melibatkan siswa yang bekerja secara
pembelajaran yang menekankan kerja sama dalam kelompok, di mana peserta didik saling
membantu dan berdiskusi untuk memahami konsep, menyelesaikan masalah, atau melakukan
inkuiri. Dalam model ini, siswa lebih nyaman mengemukakan pendapat kepada teman sebaya,
namun guru tetap berperan penting sebagai pembimbing dan pemantau proses pembelajaran.
Tujuannya adalah untuk mencapai tujuan pembelajaran secara bersama-sama melalui kerja tim
yang efektif.
dilakukan semuanya tanpa terkecuali (Putri, dkk, 2024:3-4). Berikut ini sintaks dari model
Guru memberikan atau menyampaikan semua tujuan pembelajaran yang akan dicapai
memberikan pemahaman kepada siswa tentang tujuan yang akan dicapai dan
b. Menyajikan informasi
23
c. Mengorganisasikan peserta didik dalam kelompok belajar
Setelah guru menyampaikan tujuan dan motivasi serta memberikan informasi atau
didik ke dalam kelompok-kelompok belajar, yang bisa berisi 4-6 orang. Jadi guru
dapat menentukan kelompok belajar peserta didik atau membiarkan peserta didik
guru.
Langkah yang keempat adalah memberikan bimbingan kepada kelompok belajar yang
telah ditentukan. Guru memberi waktu diskusi kepada peserta didik namun tidak
seutuhnya lepas tangan, tetap memberikan bimbingan mengenai materi yang telah
dibagikan, sehingga peserta didik tetap mendapatkan peran guru ketika mereka
e. EvaluasiMelakukan
f. Memberikan apresiasi
berupaya menemukan berbagai cara untuk memberikan apresiasi, baik terhadap usaha
24
b. Tujuan Pembelajaran Kooperatif
menggunakan sistem belajar secara berkelompok yang bertujuan siswa bisa mencapai tujuan
Dalam belajar kooperatif dikembangkan untuk mencakup beragam tujuan sosial, juga
mengubah norma yang berhubungan dengan hasil belajar, pembelajaran kooperatif dapat
memberi keuntungan baik pada siswa kelompok bawah maupun kelompok atas yang
Tujuan lainnya ialah penerimaan secara luas dari orang-orang yang berbeda berdasarkan
kooperatif memberi peluang bagi siswa dari berbagai latar belakang dan kondisi untuk
bekerja dengan saling bergantung pada tugas-tugas akademik dan melalui struktur
penghargaan kooperatif akan belajar saling menghargai terhadap perbedaan individu satu
sama lain.
Tujuan penting ketiga dalam pembelajaran kooperatif yaitu mengajarkan kepada siswa
keterampilan bekerja sama dan kolaborasi. Bekerja sama dengan teman satu kelompok
dalam menyelasaikan tugas dan masalah terkait pembelajaran. Agar peserta didik dapat
sesamanya.
25
Jadi, Pembelajaran kooperatif adalah model pembelajaran yang menekankan kerja
kelompok untuk mencapai tujuan pembelajaran. Model ini bertujuan meningkatkan hasil
mengembangkan keterampilan sosial siswa melalui kerja sama dan interaksi antar
anggota kelompok.
Menurut Tabrani & Amin (2023:206-208), Ada beberapa jenis tipe pembelajaran dalam
pembelajaran kooperatif, meskipun pada hakikatnya prinsip dasar dari pembelajaran kooperatif
Hopkin. Slavin memaparkan bahwa gagasan utama di belakang STAD adalah memacu
siswa agar saling mendorong dan membantu satu sama lainnya untuk menguasai
ketrampilan yang diajarkan guru. Adapun langkah - langkah pembelajaran kooperatif tipe
Pembagian kelompok
Kuis (evaluasi)
b. Jigsaw
26
Arti jigsaw dalam bahasa Inggris adalah gergaji ukir dan ada juga yang menyebutnya
dengan istile puzzle, yaitu sebuah teka-teki dengan menyusung potongan- potongan
gambar. Tipe jigsaw mengambil pola cara kerja gergaji (zigzag) dimana siswa melakukan
sebuah kegiatan belajar dengan bekerja sama dengan siswa lain untuk mencapai tujuan
Tiap orang dalam tim diberi materi dan tugas yang berbeda.
Anggota dari tim yang berbeda dengan materi atau tugas yang sama membentuk
diskusikan.
Pembahasan.
Penutup
Group investigation (GI) dikembangkan oleh Shlomo sharan dan Yael Sharan di
Universitas Tel Aviv, Israel. Belajar kooperatif dengan teknik Gl sangat cocok untuk
bidang kajian yang memerlukan kegiatan studi proyek terintegrasi yang mengarah pada
kegiatan perolehan analisis dan sintesis informasi dalam upaya untuk memecahkan
27
Adapun langkah - langkah Gl dalam pembelajaran secara umum dapat dibagi menjadi
enam langkah:
ini kelompok ditentukan oleh siswa itu sendiri yang beranggotakan 2-6 orang dan
Melaksanakan investigasi
Evaluasi
Make a match dikembangkan oleh Lorna Curran. Penerapan make a match dimulai dengan
teknik, yaitu siswa disuruh mencari pasangan kartu yang merupakan soal atau jawaban sebelum
batas waktu yang ditentukan, siswa yang terlebih dulu menemukan pasangan kartunya, maka
Guru menyiapkan beberapa kartu yang berisi beberapa topic yang cocok untuk sesi
review yang mana satu satu kartu berupa soal dan satunya lagi jawaban.
Setiap siswa mendapat satu kartu dan memikirkan jawaban atau soal kartu yang
dipegang.
28
Siswa mencari pasangan yang mempunyai kartu yang cocok dengan kartunya (kartu soal
Siswa yang dapat mencocokkan kartunya sebelum batas watu diberi poin.
Setelah satu babak, kartu di acak lagi agar setiap siswa mendapat kartu yang berbeda
dengan sebelumnya.
Kesimpulan.
Menurut Saco, dalam TGT siswa memainkan permainan dengan anggota - anggota tim
lain untuk memperoleh skor bagi tim mereka masing-masing. Pembelajaran kooperatif
Penyajian kelas
Permainan
Pertandingan
Penghargaan kelompok
Student Facilitator and Explaining (SFE) merupakan tipe pembelajaran dimana siswa
belajar mempresentasikan ide pada rekan siswanya yang lain. Teknik ini efektif untuk
melatih siswa berbicara dan menyampaikan ide/ gagasannya sendiri. Adapun langkah-
29
Guru memberikan penguatan terhadap ide siswa.
Evaluasi.
Pembelajaran kooperatif tipe TAI (Team Assisted Individualization) ini dikembangkan oleh
Slavin. Menurut Slavin (dalam Tabrani & Amin, 2023:208) tipe ini mengkombinasikan
keunggulan pembelajaran kooperatif dan pembelajaran individual. Tipe ini dirancang untuk
mengatasi kesulitan belajar siswa secara individual. Oleh karena itu kegiatan
pembelajarannya lebih banyak digunakan untuk pemecahan masalah, ciri khas pada model
pembelajaran TAI ini adalah setiap siswa secara individual belajar materi pembelajaran yang
sudah dipersiapkan oleh guru. Hasil belajar individual dibawa ke kelompok- kelompok untuk
didiskusikan dan saling dibahas oleh anggota kelompok, dan semua anggota kelompok
Guru membentuk beberapa kelompok. Setiap kelompok terdiri dari 4-5 siswa
dan rendah) Jika mungkin anggota kelompok berasal dari ras, budaya, suku yang
30
Hasil belajar siswa secara individual didiskusikan dalam kelompok. Dalam
diskusi kelompok, setiap anggota kelompok saling memeriksa jawaban teman satu
kelompok.
peningkatan hasil belajar individual dari skor dasar ke skor kuis berikutnya
(terkini).
Ririantika, dkk (2020:2) berpendapat bahwa, model pembelajaran kooperatif tipe make a
match adalah sistem pembelajaran yang mengutamakan penanaman kemampuan sosial terutama
melalui permainan mencari pasangan dengar dibantu kartu. Sedangkan menurut Suryanto (dalam
Rasul, 2020:73), model make a match adalah model pembelajaran dimana guru menyiapkan
kartu yang berisi soal atau permasalahan dan menyiapkan kartu jawaban kemudian siswa
Gusrayani (dalam Anika & Fajar, 2020:81), menyatakan bahwa model pembelajaran
Kooperatif tipe make a match merupakan model pembelajaran yang melatih ketelitian,
kecermatan, ketepatan serta kecepatan dalam mencocokan kartu. Pembelajaran dengan model
make a match memberikan kesempatan kepada siswa untuk membagi ide-ide dan
mempertimbangkan jawaban yang paling tepat, sehingga menjadikan kelas lebih kondusif, aktif,
31
dan siswa semakin semangat dalam belajar, hingga diperoleh hasil belajar yang memuaskan dan
Model pembelajaran kooperatif tipe make a match adalah suatu pembelajaran yang
mencari pasangan sambil berjalan dengan menggunakan media kartu yang masing-masing kartu
berisi kartu pertanyaan serta kartu jawaban (Fitri & Dewi, 2020:285).
Berdasarkan penjelasan diatas, model pembelajaran kooperatif tipe make a match adalah
metode pembelajaran yang menekankan kerja sama sosial, interaksi antar siswa, dan kemampuan
berpikir cepat melalui aktivitas mencocokkan kartu soal dan jawaban. Model ini melatih
ketelitian, kecermatan, ketepatan, dan kecepatan siswa, serta mendorong mereka untuk berbagi
ide dan memilih jawaban terbaik. Hasilnya, pembelajaran menjadi lebih aktif, menyenangkan,
Menurut Emalinda & Mabruria (2023:30-31), Penerapan make a match dimulai dengan
teknik, yaitu siswa disuruh mencari pasangan kartu yang merupakan soal atau jawaban sebelum
batas waktu yang ditentukan, siswa yang terlebih dulu menemukan pasangan kartunya, maka
Guru menyiapkan beberapa kartu yang berisi konsep, pertanyaan, atau topik
Setiap kartu memiliki pasangan yang sesuai, misalnya soal dan jawaban atau
32
2. Pembagian Kartu kepada Siswa
3. Pencarian Pasangan
Siswa mencari pasangan yang memiliki kartu yang cocok dengan kartunya.
Proses ini mendorong interaksi dan diskusi antar siswa untuk menemukan
kartu mereka.
5. Presentasi Hasil
33
Siswa diajak untuk merefleksikan proses pembelajaran dan pemahaman mereka
terhadap materi.
Huda (dalam Fitri & Dewi, 2020:284-285), menyatakan bahwa pembelajaran kooperatif
4. Efektif sebagai sarana melatih keberanian siswa untuk tampil presentasi; dan
1. jika model pemelajaran ini tidak dipersiapkan dengan baik, akan banyak waktu yang
terbuang;
2. Pada awal-awal penerapan model pembelajaran ini, banyak siswa yang akan malu
3. Jika guru tidak mengarahkan siswa dengan baik, akan banyak siswa yang kurang
4. Guru harus hati-hati dan bijaksana saat memberi hukuman pada siswa yang tidak
34
5. Menggunakan model pembelajaran ini secara terus-menerus akan menimbulkan
kebosanan.
5. Media Pembelajaran
Menurut (Daniyati,dkk 2023: 283) media pembelajaran adalah segala sesuatu yang
dapat menyampaikan pesan melalui berbagai saluran, seperti merangsang pikiran, perasaan, dan
kemauan siswa sehingga dapat mendorong terciptanya proses belajar yang efektif untuk
menambah informasi baru pada diri siswa sehingga tujuan pembelajaran dapat tercapai dengan
baik. Sedangkan menurut (Wardani,dkk 2024: 135) mengatakan bahawa media pembelajaran
harus dapat berfungsi sebagai alat komunikasi dalam penyampaian materi pelajaran. Agar
hasil inovasi media pembelajaran dapat berjalan maksimal sesuai dengan tujuan yang
diinginkan, maka terdapat beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam inovasi yaitu
Media pembelajaran adalah salah satu faktor yang berperan penting dalam proses belajar
sebagai perantara dalam menyampaikan materi agar dapat dipahami oleh peserta didik.
minat serta keinginan yang baru, membangkitkan motivasi bahkan membawa pengaruh
Menurut Saleh, dkk (2023:6) Media pembelajaran pada hakekatnya adalah sarana
penyampaian informasi dari komunikator (guru) kepada komunikan (siswa) sebagai penerima.
35
Jika lingkungan belajar dirancang secara sistematis akan dapat mencapai tujuan pembelajaran
dengan optimal.
Jadi, media pembelajaran merupakan sarana penting dalam proses belajar mengajar yang
berfungsi sebagai alat komunikasi untuk menyampaikan materi secara efektif. Media ini mampu
merangsang pikiran, perasaan, dan kemauan siswa sehingga dapat meningkatkan motivasi, minat
belajar, serta membantu pencapaian tujuan pembelajaran. Agar inovasi media pembelajaran
berjalan maksimal, perlu didasari oleh landasan teoritis, pemikiran pembelajaran, dan lingkungan
Kholifah (2021: 15-16) menjelaskan bahwa jenis-jenis media pembelajaran antara lain:
a. Media Audio
Media audio merupakan media yang hanya dapat di dengar dengan menggunakan indera
pendengaran saja, seperti radio dan juga [Link] digunakan untuk memutar cerita
ataupun lagu untuk anak anak, supaya anak dapat menyimak, mendengarkan atau meniru
b. Media Visual
Media visual yaitu media yang hanya mengandalkan indra pengelihtan. Dengan
menggunakan pengelihatannya seorang anak akan bisa mengetahui tentang sesuatu yang
Media audio visual mempunyai unsur suara juga unsur gambar. Jenis media ini ada audio
visual diam dan audio visual gerak. Audio visual diam menampilkan suara dan juga
gambar seperti film bingkai, film rangkai suara dan cetak suara, sedangkan audio visual
36
gerak menampilkan suara juga gambar yang bergerak seperti film suara dan juga video
kaset
d. Media Lingkungan
Media lingkungan dalam proses perkembangan anak dikenalkan atau dibawa ke suatu
e. Media Permainan
Media permaian ini merupakan media yang sangat disukai oleh anak. Permainan
merupakan suatu benda yang biasa digunakan anak sebagai sarana bermain dalam rangka
mengembangkan kreatifitas dan juga segala potensi yang dimiliki oleh anak.
mengacu pada produk dan layanan digital pada sistem berbasis komputer yang merespon
tindakan pengguna dengan menyajikan konten seperti teks, gambar bergerak, animasi, video,
audio, dan video game. Media animasi adalah media berupa gambar yang bergerak disertai
Media interaktif animasi merupakan media pembelajaran yang berisi kumpulan gambar
yang diolah sedemikian rupa sehingga menghasilkan gerakan dan dilengkapi dengan audio
sehingga berkesan hidup serta menyimpan pesan-pesan pembelajaran. Media interaktif animasi
dapat dijadikan sebagai perangkat yang siap kapanpun digunakan untuk menyampaikan materi
pelajaran.
37
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), media interaktif adalah alat perantara
atau penghubung berkaitan dengan komputer yang bersifat saling melakukan aksi antar-
hubungan dan saling aktif. Sedangkan menurut Tejo (dalam Amatullah, dkk, 2022: 246), media
interaktif merupakan sistem media penyampaian yang menyajikan materi video rekaman dengan
pengendalian komputer kepada penonton (siswa) yang tidak hanya mendengar dan melihat video
dan suara, tetapi juga memberikan respon yang aktif dan respon itu yang menentukan kecepatan
Menurut Limbong, dkk (2022:29), media pembelajaran interaktif adalah media yang
didesain untuk meningkatkan motivasi, keterampilan dan gairah belajar siswa secara aktif
melalui komputer dengan kombinasi visual, audio, teks, grafik, dan video serta animasi sesuai
dengan yang dikehendaki siswa. Adanya media pembelajaran interaktif dapat mengembangkan
berbagai gaya belajar siswa sesuai dengan keinginannya seperti siswa yang memiliki gaya
belajar auditorial, visual maupun kinestetik. Sehingga para siswa dapat memilih media yang
sesuai dengan gaya belajar yang sesuai dengan keinginan dan keterampilan yang dimiliki siswa.
Berdasaran Penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa, media interaktif animasi adalah
media pembelajaran berbasis komputer yang menyajikan konten dinamis seperti teks, gambar
bergerak, animasi, audio, dan video, serta memungkinkan interaksi aktif antara pengguna dan
media. Media ini dirancang untuk meningkatkan motivasi, keterampilan, dan minat belajar siswa
dengan menyesuaikan penyajian materi sesuai gaya belajar masing-masing, baik visual,
auditorial, maupun kinestetik. Dengan fitur interaktif dan fleksibilitasnya, media ini efektif
38
Susanti, dkk (2024:128) dalam studi literatur mereka menyimpulkan bahwa media video
animasi interaktif dapat menyajikan materi pembelajaran dengan cara yang menarik dan
Faisal, dkk (2023:19) menemukan bahwa penggunaan media animasi dalam pembelajaran
memiliki pengaruh signifikan terhadap peningkatan hasil belajar dan motivasi siswa. Media
animasi membantu siswa memahami konsep yang kompleks melalui visualisasi yang menarik.
Selanjutnya, Pratiwi & Kasriman (2022:25) mengembangkan media video animasi interaktif
untuk mata pelajaran IPAS kelas V mengenai topik memakan dan dimakan. Hasil penelitian
menunjukkan bahwa media ini sangat layak digunakan dan membantu siswa dalam memahami
Dari berbagai penelitian di atas, dapat disimpulkan bahwa tujuan utama penggunaan media
praktis.
Menurut Amiruddin, dkk (2024:78-79), ada beberapa kelebihan dan kelemahan penggunaan
39
1. Meningkatkan Minat dan Motivasi Belajar
Tampilan visual yang menarik dan dinamis membuat siswa lebih tertarik untuk belajar.
Konsep yang sulit (misalnya gerak planet, rantai makanan, atau sistem tubuh) dapat
Cocok untuk siswa yang belajar lebih baik melalui gambar, warna, gerakan, atau interaksi
langsung.
Siswa dapat berinteraksi langsung dengan konten (klik, geser, menjawab soal), sehingga
Jika berbasis digital dan online, media ini bisa digunakan untuk pembelajaran jarak jauh
atau mandiri
Membutuhkan perangkat seperti komputer/tablet dan koneksi internet yang stabil; tidak
Membuat media animasi interaktif berkualitas membutuhkan waktu, keahlian teknis, dan
3. Potensi Distraksi
40
Animasi yang terlalu ramai atau tidak fokus pada materi inti dapat mengalihkan perhatian
Beberapa materi mungkin lebih efektif diajarkan melalui diskusi langsung, praktik nyata,
Jika digunakan secara individu dan terlalu sering, bisa mengurangi interaksi langsung
a. Pengertian IPAS
Menurut Ramdhany, dkk (2024:225), Pembelajaran IPAS adalah Ilmu Pengetahuan Alam
dan Sosial (IPAS) adalah ilmu pengetahuan yang mengkaji tentang makhluk hidup dan benda
mati di alam semesta serta interaksinya, dan mengkaji kehidupan manusia sebagai individu
pembelajaran IPAS yang dilakukan oleh guru dalam mencapai tujuan pembelajaran tidak
Ilmu Pengetahuan Alam dan Sosial (IPAS) merupakan ilmu pengetahuan yang mempelajari
tentang makhluk tak hidup (abiotik) dan makhluk hidup (biotik) di alam semesta dan
interaksinya, serta mempelajari kehidupan manusia selaku individu sekaligus selaku insan sosial
yang berhubungan dengan lingkungan. Pada kurikulum KTSP dan beberapa kurikulum
terdahulu, terdapat mata pelajaran IPA dan IPS, kedua mata pelajaran tersebut diajarkan secara
terpisah. Pada kerikulum 2013 kedua mata pelajaran diajarkan secara bersama dalam tema
41
pembelajaran tertentu. Pada kurikulum merdeka IPA dan IPS dilebur menjadi satu mata pelajaran
Tujuan peserta didik mempelajari IPAS supaya peserta didik dapat meningkatkan dirinya
sehingga sesuai dengan Profil Pelajar Pancasila serta dapat meningkatkan ketertarikkan dan rasa
ingin tahu peserta didik untuk mempelajari peristiwa di kehidupan mayarakat; menguasai alam
semesta serta keterkaitannya dengan kehidupan manusia; berperan aktif dalam melindungi,
menjaga, melestarikan lingkungan alam, mengatur sumber energi alam serta lingkungan dengan
Jadi dapat di simpulkan bahwa, Pembelajaran IPAS (Ilmu Pengetahuan Alam dan Sosial)
adalah integrasi dari ilmu alam dan sosial yang mempelajari makhluk hidup, benda mati, serta
interaksinya dengan lingkungan, termasuk kehidupan manusia sebagai individu dan makhluk
sosial. Dalam Kurikulum Merdeka, IPAS menyatukan mata pelajaran IPA dan IPS yang
sebelumnya diajarkan secara terpisah, untuk menciptakan pendekatan pembelajaran yang lebih
b. Topik Memakan dan Dimakan (Rantai Makanan) Pada Mata Pelajaran IPAS
Muflihah (2024:140) Berpendapat bahwa, rantai makanan atau dikenal juga sebagai jaring-
jaring makanan merupakan konsep fundamental dalam ilmu pengetahuan alam yang memahami
hubungan kompleks antara berbagai organisme dalam ekosistem. Dalam kajian ilmu biologi,
topik ini menjadi bagian integral dalam pembelajaran tentang interaksi antar makhluk hidup dan
lingkungannya. Salah satu bidang studi yang membahas secara khusus mengenai rantai makanan
adalah Ilmu Pengetahuan Alam Sekolah (IPAS), yang memfokuskan pada pemahaman proses
42
makan dan dimakan dalam ekosistem. Rantai makanan bukan hanya sekadar urutan konsumsi
makanan, tetapi juga mencakup transfer energi dan nutrisi antar berbagai tingkat trofik dalam
suatu komunitas ekologi. Pentingnya pemahaman akan rantai makanan tidak hanya terletak pada
konteks keilmuan, tetapi juga relevan dalam konteks konservasi alam dan keberlanjutan
ekosistem. Melalui pemahaman yang lebih mendalam tentang bagaimana organisme saling
berinteraksi dalam mencari makanan, kita dapat mengenali pola-pola yang mempengaruhi
Sebagai konsep dasar, rantai makanan membantu kita memahami bahwa semua organisme
dalam ekosistem saling terkait satu sama lain. Dalam setiap ekosistem, terdapat serangkaian
hubungan trofik yang menggambarkan aliran energi dan materi dari satu organisme ke organisme
lainnya. Misalnya, tumbuhan menggunakan energi matahari untuk melakukan fotosintesis dan
menghasilkan makanan organik. Kemudian, hewan pemakan tumbuhan atau herbivora akan
memakan tumbuhan tersebut. Proses ini dilanjutkan oleh hewan pemakan daging atau karnivora
yang memangsa herbivora. Selain itu, ada juga organisme yang disebut omnivora, yang dapat
memakan tumbuhan dan hewan. Namun, dalam kenyataannya, rantai makanan tidak selalu lurus
dan sederhana. Dalam ekosistem yang kompleks, terdapat jaringan makanan yang lebih rumit, di
mana satu organisme dapat menjadi mangsa bagi beberapa pemangsa sekaligus atau bahkan
dapat beralih peran dalam rantai makanan. Hal ini memperlihatkan bahwa ekosistem tidaklah
statis, tetapi terus berubah dan beradaptasi dalam menjaga keseimbangan alam.
43
B. Kerangka Berpikir
Permasalahan utama yang dihadapi dalam penelitian ini adalah rendahnya hasil belajar siswa
pada mata pelajaran IPAS topik memakan dan di makan di kelas V SDN 12 Palangka.
Berdasarkan hasil observasi awal, ditemukan bahwa sebagian besar siswa mengalami kesulitan
dalam memahami konsep rantai makanan, ditandai dengan partisipasi yang rendah selama proses
pembelajaran dan hasil evaluasi yang belum mencapai Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM).
44
Rendahnya hasil belajar ini diduga disebabkan oleh beberapa faktor, seperti kurangnya
keterlibatan siswa dalam proses pembelajaran, metode yang digunakan cenderung bersifat
konvensional, serta minimnya penggunaan media pembelajaran yang menarik dan interaktif.
Kondisi ini menyebabkan siswa kurang termotivasi dan kurang memahami materi secara
mendalam.
strategi pembelajaran yang lebih inovatif. Salah satu alternatif solusi yang diajukan adalah
penggunaan model pembelajaran kooperatif tipe Make a Match yang dikombinasikan dengan
media interaktif berbasis animasi. Model Make a Match mendorong siswa untuk aktif terlibat
dalam proses pencarian pasangan kartu yang berisi pertanyaan dan jawaban, sehingga
menciptakan suasana belajar yang menyenangkan dan kolaboratif. Sementara itu, media animasi
interaktif dapat membantu menyajikan konsep rantai makanan secara visual dan dinamis,
penggunaan model pembelajaran kooperatif tipe Make a Match dengan bantuan media interaktif
animasi akan meningkatkan hasil belajar siswa. Melalui implementasi tindakan ini, diharapkan
siswa menjadi lebih aktif, tertarik mengikuti pembelajaran, memahami materi dengan lebih baik,
Kondisi Awal
Metode dan Media Pembelajaran
Yang Kurang Bervariasi
45
Tindakan
Pembelajaran Dengan Penggunaan
Model Cooperative Learning Tipe Make
A Match Berbantuan Media Interaktif
Animasi
Kondisi Akhir
Hasil Belajar Siswa Pada Mata
Pelajaran IPAS Topik Memakan Dan
Dimakan Meningkat
46
akan di
laksanakan
menggunakan
model
pembelajaran
Kooperatif tipe
Make a Match.
Metode penelitian
ini menggunakan
metode
eksperimen,
sedangkan
penelitian yang
akan di
laksanakan
menggunakan
metode PTK.
2 Nisrina Penerapan Subjek Penelitian Sama –
Kamila, Model penelitian di sama menggunkan
(2024) pembelajaran tujuan untuk model pembelajaran
Kooperatif siswa kelas IV, Kooperatif tipe
tipe Make a Sedangkan Make a Match
Match penelitian yang Sama-sama
Berbantuan akan di menggunakan
media laksanakan media interaktif
Interaktif subjeknya siswa animasi
Animasi kelas V SD. Metode penelitian
Untuk yang digunakan
Meningkatkan sama-sama
Hasil Belajar menggunakan
Siswa Kelas metode penelitian
IV SD Mata PTK
Pelajaran Penelitian ini sama-
IPAS sama melihat hasil
belajar siswa.
Sama-sama meneliti
pembelarajan IPAS
3 Dina Pengaruh Penelitian ini Penelitian ini sama-
Rustanti, Model tidak sama menggunakan
(2024) Pembelajaran menggunakan model pembelajaran
Kooperatif media Kooperatif
Tipe Make A pembelajaran, Penelitian ini sam-
Match sedangkan sama untuk melihat
Terhadap penelitian yang hasl belajar siwa.
Hasil Belajar akan dilaksakan Peneltian ini sama-
Siswa Pada mengunakan sama meneliti
47
Mata media Interaktif pembelajaran IPAS
Pelajaran Animasi.
IPAS Di Lokasi penelitian
Kelas IV ini dilaksanakan
SDN 17 di SD 17 Rejang
Rejang Lebong,
Lebong sedangkan lokasi
penelitian yang
akan
dilaksanakan di
SDN 12
Palangka.
Subjek penelitian
ini di tujukan
untuk siswa kelas
IV, sedangkan
penelitian yang
akan
dilaksanakan di
tujukan untuk
siswa kelAs V.
Metode
penelitian ini
menggunakan
metode
eksperimen,
sedngkan
penelotian yang
akan di laksnakan
menggunakan
metode penelitian
PTK.
BAB III
METODE PENELITIAN
1. Tempat Penelitian
melaksanakan kegiatan penelitian. Lokasi penelitian ini dilaksanakan pada SDN 12 PALANGKA
48
yang beralamat di Jl. Kinibalu. Kota Palangka Raya. Prov. Kalimantan Tengah dengan subjek
2. Waktu Penelitian
No Bulan
1 2 3 4 5 1 2 3 4 5 1 2 3 4 5
1 Membuat Proposal
3 Seminar Proposal
4 Revisi
6 Penelitian Di SD
7 Siklus I
8 Merancang Siklus II
&5
10 Revisi
49
11 Membuat Surat Izin Ujian
12 Ujian Skripsi
B. Metode Penelitian
Metode penelitian pada dasarnya merupakan cara ilmiah untuk mendapatkan data dengan
tujuan dan kegunaan tertentu. Jadi metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah
Menurut Diplan dan Setiawan (2018:10) Penelitian tindakan kelas merupakan “Suatu jenis
penelitian yang dilakukan oleh guru untuk memecahkan masalah pembelajaran di kelasnya”.
Berdasarkan pendapat ahli penelitian tindakan kelas (PTK) adalah penelitian guru dalam
Menurut Kemmis (1988) dalam Muhammad Djajadi (2019:1) menyatakan bahwa penelitian
tindakan adalah suatu bentuk penelitian refleksi diri yang dilakukan oleh para partisipan dalam
situasi-situasi sosial (termasuk pendidikan) untuk memperbaiki praktik yang dilakukan sendiri.
Dengan demikian, akan diperoleh pemahaman yang komprehensif mengenai praktik dan situasi
Latief dalam Agus DM. (2018) PTK adalah satu rancangan penelitian yang dirancang khusus
untuk peningakatan kualitas praktek pembelajaran di kelas. Peneliti dalam PTK adalah guru yang
ingin meningkatkan kualitas pembelajaran di kelasnya. Dengan demikian guru yang melakukan
penelitian tindakan kelas berperan ganda, yaitu sebagai guru dan sebagai peneliti (teacher-
researcher).
50
Berdasarkan penjelasan diatas dapat di simpulkan bahwa, Penelitian Tindakan Kelas (PTK)
adalah bentuk penelitian yang dilakukan oleh guru untuk mengatasi permasalahan dalam proses
pembelajaran di kelas. PTK bersifat reflektif dan partisipatif, bertujuan untuk memperbaiki
praktik pembelajaran secara langsung melalui tindakan yang dirancang dan diterapkan dalam
situasi kelas, sehingga menghasilkan pemahaman yang lebih mendalam tentang proses dan
situasi pembelajaran.
C. Prosedur Penelitian
pengamatan, dan refleksi pada siklus I dan siklus II, yaitu sebagai berikut:
Siklus I
Pada tahap perencanaan penelitian menyiapkan semua hal yang berkaitan dengan penelitian,
yaitu :
51
a. Menyusun Modul ajar dengan guru kelas V SDN 12 PALANGKA siklus I.
b. Menyiapkan sarana dan prasarana, yaitu bahan ajar yang digunakan, media belajar
( Media Interaktif Animasi) dan lembar kerja siswa (LKS), dan menerapkan model
Pada tahap ini, guru akan melaksanakan kegiatan pembelajaran dengan melakukan kegiatan
pembelajaran.
Pada tahap ini peneliti melakukan pengamatan dengan menggunakan lembar observasi saat
proses pembelajaran dengan menerapkan Model pembelajaran Kooperatif dan Media Interaktif
Animasi pada mata pelajarn IPAS topik Memakan dan di makan yaitu mencatat dan mengamati
aktivitas guru dan siswa saat proses pembelajaran berlangsung pada siklus I.
Ditahap ini peneliti telah memperoleh data dari hasil pelaksanaan dan pengamatan yang telah
52
a. Merefleksi proses pembelajaran yang telah dilaksanakan pada siklus I
b. Mencatat kendala atau masalah apa yang terjadi selama proses pembelajaran berlangsung
Siklus II
Pada tahap perencanaan penelitian menyiapkan semua hal yang berkaitan dengan penelitian,
yaitu :
a. Menyusun Modul ajar dengan guru kelas V SDN 12 PALANGKA siklus II.
b. Menyiapkan sarana dan prasarana, yaitu bahan ajar yang digunakan, media belajar
(Media Interaktif Animasi) dan lembar kerja siswa (LKS), dan menerapkan model
Pada tahap pelaksanaan siklus II, guru melakukan proses pembelajaran yang terdapat pada
modul ajar yang telah dilakukan disiklus I. Hal ini sama dengan yang dilakukan disiklus I hanya
Pada tahap ini merupakan tahap yang sama seperti sikius I, tetapi disiklus II ini peneliti
melakukan pengamatan lagi bagaimana aktivitas guru dan siswa dalam proses pembelajaran
53
menggunakan model pembelajaran Kooperatif dan Media Interaktif Animasi materi memakan
Pada tahap refleksi siklus II ini peneliti juga melakukan refleksi pada pelaksanaan kegiatan
a. Peneliti melakukan refleksi pelaksanaan kegiatan pada siklus II,seperti yang dilakukan
disiklus I.
D. Sumber Data
1. Data primer
Data primer adalah semua data yang dikumpulkan langsung oleh peneliti dari sumber
utamanya. Adapun yang menjadi sumber data primer dalam penelitian ini adalah hasil observasi
selama penelitian dan wawancara bersama kepala sekolah dan wali kelas.
2. Data sekunder
Data Sekunder adalah semua data yang dikumpulkan oleh peneliti sebagai penunjang sumber
data primer. Data sekunder yang dimaksud di dalam penelitian ini adalah data dari hasil tes
evaluasi siswa.
Sugiyono (2019:455) berpendapat bahwa, teknik pengumpulan data merupakan langkah yang
paling utama dalam penelitian, karena tujuan utaman dari penelitian adalah mendapatkan data.
54
Tanpa mengetahui teknik pengumpulan data, peneliti tidak akan mendapatkan data yang
Menurut Diplan dan Setiawan (2018: 68) tentang teknik pengumpulan data, bahwa Salah satu
tanggung jawab peneliti yaitu mengumpulkan data meskipun dalam penelitian tindakan kelas ada
kolaboratif tetapi tanggung jawab penuh pengumpulan data dilakukan oleh peneliti.
Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini melalui tes dan observasi. Tes digunakan
untuk mengukur kemampuan kognitif. Sedangkan observasi digunakan untuk memperoleh data
Instrumen pengumpulan data adalah alat yang digunakan untuk mengukur data yang hendak
dikumpulkan. Instrumen pengumpulan data ini pada dasarnya tidak terlepas dari metode
pengumpulan data. Bila metode pengumpulan datanya adalah depth interview (wawancara
Anufia, B, 2019)
menyatakan bahwa: "Instrumen biasa dikatakan sebagai alat pengukuran yang digunakan untuk
membuktikan bahwa tindakan yang dilakukan sudah baik apakah masih memerlukan perbaikan".
a. Observasi
Instrumen observasi ini digunakan untuk melihat aktivitas guru dan keaktifan siswa selama
proses pembelajaran berlangsung ketika guru menggunakan model pembelajaran Kooperatif dan
55
media Interaktif Animasi. Pada instrumen pengumpulan data dengan menggunakan observasi,
1 2 3 4
Kegiatan awal
pengetahuan siswa.
Kegiatan Inti
guru
56
10. d) Guru mengarahkan siswa berjalan berkeliling untuk
Kegiatan Penutup
pembelajaran.
Jumlah
Total Skor
Keterangan skor:
3-3,49 = Baik
57
Tabel 3 Kisi-Kisi Obsevasi Aktivitas Siswa
1 2 3 4
Kegiatan awal
Jumlah
Kegiatan Inti
materi pembelajaran
58
10. d. Siswa berkelilig mencari pasangan dari kartu
masing-masing.
Jumlah
Kegiatan Penutup
bersama-sama
doa
Jumlah
Total Skor
Keterangan skor:
59
3-3,49 = Baik
b. Tes
Intrumen tes dalam penelitian ini dilakukan dengan pretest dan posttest, Teknik tes tertulis
dalam bentuk essai yang diberikan pada awal penelitian dan pada akhir tindakan sebagai bukti
yang menunjukkan ada atau tidak adanya peningkatan hasil belajar pada siswa dalam
pembelajaran IPAS dengan menggunakan model pembelajaran problem based learing berbantuan
Menurut Wiratna dalam Febriany (2019:85) mengemukakan bahwa pengertian instrument tes
yaitu:
“Instrumen tes digunakan untuk mengukur ada atau tidaknya serta besarnya kemampuan
objek yang kita teliti. Tes dapat digunakan untuk mengukur kemampuan dasar maupun
Instrumen tes dalam penelitian ini menggunakan evaluasi dalam bentuk soal esaai, maka
1 3.2 3.2.1 4 3 2 1
60
4.2 3.2.3
diberikan.
3.2.5
3.2.6
atau berkurang.
3.2.7
konsumen.
3.2.8
makanan.
3.2.9
61
kelangsungan hidup makhluk hidup
4.2.1
bagan.
4.2.2
Keterangan skor:
3-3,49 = Baik
F. Validasi Data
Validasi data adalah proses pengesahan data dengan memastikan dan memperbaiki data
sehingga data valid atau telah memenuhi aturan validasi data (Santoso, A.,dkk. (2023). Sugiyono.
(2019) mengatakan validasi data adalah proses pemeriksaan terhadap akurasi, kelengkapan, dan
konsistensi data untuk memastikan bahwa data tersebut memenuhi standar kualitas yang
ditetapkan sebelum digunakan untuk analisis lebih lanjut. Validasi data dalam penelitian
kualitatif dapat dilakukan melalui pendekatan triangulasi yang mengintegrasikan tiga metode
pengumpulan data, yaitu observasi, tes, dan dokumentasi. Daruhadi, G., & Sopiati, P. (2024)
mengatakan keabsahan data dalam penelitian kualitatif mengacu pada tingkat kepercayaan yang
62
G. Teknik Analisis Data
Menurut Jakni (2017:79) mengemukakan bahwa “Teknik analisis data dalam PTK dapat
dikelompokkan menjadi dua sesuai dengan jenis data penelitian yang diperoleh, yaitu Teknik
Menurut Crewell, Jhon dalam Diplan dan Setiawan (2018:36) menyatakan bahwa:
“Penelitian Mixed Methods adalah pendekatan untuk menyelidiki kombinasi atau asosiasi
antara bentuk kualitatif dan kuantitatif. Itu meliputi asumsi filosofi, menggunakan
belajar. Itu mengumpulkan kedua pendekatan dua-duanya jadi lebih kuat dalam belajar
Febriani, E. [Link] (2023) teknik pengumpulan data dalam PTK terbagi menjadi dua macam,
yakni pengumpulan data secara kualitatif (deskriptif) dan pengumpulan data secara kuantitatif
(berdasarkan jumlah).
Jadi, metode kombinasi inilah yang nantinya akan digunakan dalam menentukan keberhasilan
dari penerapan model pembelajaran Kooperatif tipe make a match dan media animasi interaktif.
Menurut Diplan dan Setiawan (2018:56) data kualitatif yaitu “Data yang didapat dari
observasi mengenai aktifitas ataupun perilaku yang muncul saat dimunculkan pada saat
penelitian”.
Data kualitatif diperoleh dari hasil observasi untuk mengetahui kelebihan dan kekurangan
pembelajaran yang sedang dilakukan. Data kualitatif ini diperoleh dari aktivitas guru terhadap
siswa dan aktivitas siswa terhadap guru selama proses belajar mengajar tersebut berlangsung,
dengan menggunakan penerapan model pembelajaran Kooperatif dan media interaktif animasi.
63
I. Analisis Data Kuantitatif
“Data yang berbentuk angka. Data kuantitatif didapat dari tes, skala, angket yang
diberikan kepada siswa. Data yang didapat dianalisis secara deskriptif dengan
Data kuantitatif diperoleh dari evaluasi yang dilakukan pada setiap pertemuan pembelajaran.
Hasil tes siswa ini dianalisis secara kuantitatif. Pada akhir setiap siklus dihitung nilai rata-ratanya
dari setiap siklus pada pembelajaran satu dan dua dijumlahkan dan di bagi dua kemudian
Adapun cara untuk menghitung nilai rata-rata (mean) dan menghitung ketuntasan secara
Adapun mencari rata-rata menurut Diplan dan Setiawan (2018: 182) dapat menggunakan
M=Σx : n
Keterangan :
N = Jumlah siswa
80-89,99 = Tercapai
64
70-79,99 = Cukup tercapai
Adapun rumus untuk menghitung presentase ketuntasan secara klasikal, dimana indikator
ketuntasan belajar yang ditentukan yakni 85% dari nilai KKM 70 dengan rumus sebagai berikut:
ΤΒ = Σ S ≥70 : n x 100%
Keterangan :
Σ S = Jumlah siswa yang diperoleh nilai besar dari atau sama dengan 70
n = Jumlah siswa
a. Hasil belajar siswa pada mata pelajaran IPAS mencapai Kriteria Ketuntasan Minimal
(KKM) yaitu 70 dan hasil belajar secara ketuntasan klasikal siswa mencapai 85%.
a. Aktivitas belajar guru dikatakan berhasil jika guru mencapai kategori baik dan
aktivitas belajar siswa dikatakan berhasil jika siswa mencapai kategori baik.
65
DAFTAR PUSTAKA
Amalia, L., Astuti, D. A., Istiqomah, N. H., Hapsari, B., & Daniar, A. S. (2023). Model
66
Al Muflihah, N., & Nuruddin, M. (2024). Pengembangan Media Komik Digital Pada Mata
Pelajaran IPAS Topik Memakan Dan Dimakan (Rantai Makanan) Kelas V Di SDN
Djonomiarjo, T. (2020). Pengaruh model problem based learning terhadap hasil belajar. Aksara:
Damayanti, A. (2022, June). Faktor-faktor yang mempengaruhi hasil belajar peserta didik mata
pelajaran Ekonomi kelas X SMA Negeri 2 Tulang Bawang Tengah. In Prosiding Seminar
Diplan, Setiawan. M. A (2018) Penelitin Tindakan Kelas Jawa Tengah: CV Samu Untung.
Ermalinda, E., & Mabruria, A. (2023). Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Make A
Match Dalam Meningkatkan Keaktifan Belajar Siswa Pada Mata Pelajaran Pendidikan
Mardicko, A. (2022). Belajar dan Pembelajaran. Jurnal Pendidikan Dan Konseling (JPDK), 4(4),
5482-5492.
Putri, K. M. F., Ranti, L. R., & Ringkat, G. H. F. (2024). Artikel Model Pembelajaran
Rahman, S. (2022, January). Pentingnya motivasi belajar dalam meningkatkan hasil belajar.
Ririantika, R., Usman, M., Aswadi, A., & Sakkir, G. (2020). Penerapan model pembelajaran tipe
“make a match” terhadap hasil belajarbahasa indonesia. Cakrawala Indonesia, 5(1), 1-6.
Rasul, A. (2021). Pengaruh Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Make A Match Terhadap
Motivasi dan Hasil Belajar Matematika pada Siswa Kelas VII SMP Yapis
67
Ramdhany, T. Y., Akbar, A., & Sumayana, Y. (2024). Peningkatan Aktivitas Dan Hasil Belajar
Sarumaha, M. S., Laiya, R. E., RE, M., Zagoto, A., Sarumaha, M., Harefa, D.,& Telaumbanua, T.
Susilowati, D. (2023). Peningkatan keaktifan belajar peserta didik melalui implementasi metode
Tabrani, T., & Amin, M. (2023). Model pembelajaran cooperative learning. Jurnal Pendidikan
68
69