0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
4 tayangan34 halaman

K3LH dan APD dalam Otomotif SMK

Diunggah oleh

suparmansyah28
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
4 tayangan34 halaman

K3LH dan APD dalam Otomotif SMK

Diunggah oleh

suparmansyah28
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

MODUL AJAR

MATA PELAJARAN DASAR-DASAR OTOMOTIF

KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA SERTA LINGKUNGAN HIDUP

DAN ALAT PELINDUNG DIRI

DISUSUN OLEH:

1. Winda Santika,[Link]
2. Ardiansyah, [Link]
3. Ade Saputra, [Link]
4. Suparmansyah, [Link]
5. Shellina G itta, [Link]
6. Fredo Elvero, [Link]

DINAS PENDIDIKAN PROVINSI SUMATERA SELATAN

SMK NEGERI 2 SEKAYU

TAHUN 2025
Nama Sekolah : SMK Negeri 2 Sekayu
Kelas/Program : X / Teknik Otomotif
Semester : Ganjil
Alokasi Waktu : 1 x 2 JP
Tahun Pelajaran : 2025/2026

Judul Elemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja serta Lingkungan


Hidup dan Budaya Kerja (K3LH-BI)

Deskripsi Lingkup pembelajaran meliputi prosedur K3LH,


Penggunaan Alat Pelindung Diri (APD)

Kelas X

Alokasi Waktu 90 menit

Jumlah Pertemuan 1 kali pertemuan

Fase Capaian E

Capaian Pembelajaran Pada akhir fase E, peserta didikk mampu Keselamatan


dan Kesehatan Kerja serta Lingkungan Hidup dan
budaya kerja (K3LH-BI) pada kehidupan sehari-hari
maupun implementasinya dalam kegiatan pembelajaran,
untuk menghasilkan beberapa solusi dalam menghadapi
berbagai

persoalan.

8 Dimensi profil lulusan Setelah melakukan pembelajaran ini siswa diharapkan


memiliki 8 dimensi profil kelulusan yang meliputi yaitu 1.
Keimanan dan ketakwaan kepada Tuhan yang Maha
Esa, [Link], 3. Berpikir kritis, 4. Kreativitas, 5.
Kolaborasi, 6. Kemandirian, 7. Komunikasi, 8. Kesehatan
Lingkungan Lingkungan yang digunakan untuk pembelajaran meliputi
Pembelajaran ruang kelas, bengkel otomotif dan lingkungan kerja

Tujuan Pembelajaran  Peserta didik mampu menerapkan prosedur


K3LH sesuai peraturan yang berlaku
 Peserta didik mampu menyebutkan macam-
macam APD dan fungsinya
 Peserta didik mampu melaksanakan
penggunaan Alat Perlindungan diri
 Peserta didik mampu mengidentifikasi bahaya
di tempat kerja

Profil Pelajar Pancasil Beriman, Bertakwa kepada Tuhan Yang Mahan Esa,
gotong royong dan

berakhlak Mulia, Mandiri, Bernalar Kritis, dan Kreatif.

Pendekatan Deep Learning

Model Pembelajaran Problem Based Learning

Model Pembelajaran Kombinasi

PERTEMUAN 1 (2 X 45 Menit )

Kegiatan Awal (10 Menit)


1. Peserta didik mengucapkan salam
2. Peserta didik guru memulai dengan berdoa dipimpin oleh ketua kelas.
3. Peserta didik disapa dan melakukan presensi kehadiran.
4. Guru menyampaikan tujuan yang akan di capai dalam pembelajaran.
5. Guru memberikan apersepsi
6. Peserta didik dan guru berdiskusi melalui pertanyaan pemantik:
a. Apa yang dimaksud dengan K3LH ?
b. Apa makna lambang k3 ?
Kegiatan Inti (70 Menit)
1. Peserta didik mendapatkan pemaparan dari guru secara umum tentang
Keselamatan dan Kesehatan Kerja serta Lingkungan Hidup dan Budaya
Kerja (K3LH-BI) dan pengetahuan dari alat pelindung diri
2. Dengan metode tanya jawab guru memberikan pertanyaan mengenai:
a. Apa itu alat pelindung diri
b. Alat pelindung diri yang sering digunakan di bengkel otomotif
3. Guru mengajak siswa melakukan sedikit kegiatan ice breaking agar siswa
tidak merasa tegang dan mengantuk.
4. Peserta didik di bimbing oleh guru membentuk kelompok diskusi
5. Guru membagikan Lembar Kerja Siswa (LKPD) kepada masing-masing
kelompok
6. Peserta didik diberikan kesempatan untuk melakukan studi pustaka
(browsing) guna mengeksplorasi
a. Pengertian alat pelindung diri
b. Alat pelindung diri yang sering digunakan di bengkel otomotif
c. Contoh kecelakaan kerja
d. Sebab kecelakaan kerja
7. Peserta didik diminta melaporkan hasil studinya dan kemudian bersama-
sama dengan dibimbing oleh guru mendiskusikan hasil laporannya di depan
kelas.
8. Secara kolaborasi (bergantian di kelas) peserta didik menyebutkan Alat
Pelindung Diri beserta fungsinya dengan memaparkan cara penggunaan alat
pelindung diri yang sering digunakan di bengkel
9. Peserta didik di minta menyimpulkan hasil diskusi kelompok
[Link] didik diminta untuk mengerjakan soal Latihan.
[Link] didik di bimbing oleh guru melakukan refleksi terhadap pembelajaran
yang telah dilakukan
[Link] didik dan guru menyimpulkan materi pembelajaran yang telah
dilakukan
[Link] didik mendengarkan informasi dari guru tentang pembelajaran yang
akan dilakukan pada pertemuan berikutnya.
Kegiatan Penutup ( 10 Menit)
1. Peserta didik dapat menanyakan hal yang tidak dipahami pada guru
2. Peserta didik mengomunikasikan kendala yang dihadapi
3. Peserta didik menerima apresiasi dan motivasi dari guru.
4. Peserta didik dapat melakukan/ memberikan penilaian baik dalam bentuk
narasi/ gambar/ emotikon tertentu
5. Doa
6. Salam
Refleksi
1. Apakah ada kendala pada kegiatan pembelajaran?
2. Apakah semua siswa aktif dalam kegiatan pembelajaran?
3. Apa saja kesulitan siswa yang dapat diidentifikasi pada kegiatan
pembelajaran?
4. Apakah siswa yang memiliki kesulitan ketika berkegiatan dapat teratasi
dengan baik?
5. Apa level pencapaian rata-rata siswa dalam kegiatan pembelajaran ini?
6. Apakah seluruh siswa dapat dianggap tuntas dalam pelaksanaan
pembelajaran?
7. Apa strategi agar seluruh siswa dapat menuntaskan kompetensi?
Referensi
a. Fahrul Anam. 2021. Dasar-Dasar Otomotif Jakarta: Pusat Kurikulum dan
Perbukuan Balitbang Kemendikbudristek.
b. Ketut Ima Ismara dkk (2018), Keselamatan dan Kesehatan Kerja dalam
Lomba Kompetensi Siswa SMK, Yogyakarta:UNY Press
c. International Labour Organization (2013), Keselamatan dan Kesehatan Kerja
di Tempat Kerja, Jakarta

Lembar Kegiatan
1. Praktik kolaboratif
2. Lembar aktivitas siswa
3. Soal-soal Latihan

RINGKASAN MATERI
APA ITU KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA SERTA LINGKUNGAN
HIDUP (K3LH)

PERHATIKAN GAMBAR BERIKUT INI

A. PROSEDUR K3

Keselamatan dan kesehatan kerja serta lingkungan hidup dapat di


artikan sebagai keselamatan dan kesehatan kerja menyangkut berbagai
unsur yang terlibat dalam kegiatan aktifitas kerja seperti orang yang
melakukan kegiatan kerja, benda, alat dan barang yang dikerjakan, mesin
yang digunakan serta lingkungan hidup (manusia tumbuhan hewan dan
lainya).

Dalam setiap melakukan pekerjaan pasti terdapat potensi bahaya


yang mengancam seseorang. K3LH biasanya di terapkan dalam perusahaan
yang memiliki karyawan dengan tujuan setiap karyawan dapat melakukan
kegiatan aktifitas yang aman dan sehat sehingga dapat melaksanakan kerja
secara efektif dan efisien. Apabila tempat kerja penuh dengan potensi
bahaya tidak terorganisir maka akan terjadi kerusakanan dan karyawan akan
banyak yang sakit baik karena penyakit yang timbul atau kecelakaan kerja
akibatnya karyawan kehilangan pendapatan dan perusahaan mengalami
kerugian akibat kurangnya produktivitas.

Berbagai upaya dilakukan untuk mengurangi kerugian akibat yang


timbul dari kecelakaan dan gangguan kesehatan di tempat kerja seperti
membuat standart hukum baik nasional maupun international yang
mencangkup kesepakatan yang luas antara pengusaha/pengurus, pekerja
dan pemerintah untuk menurunkan resiko kecelakaan dan penyakit akibat
pekerjaan

Di indonesia angka kecelakaan kerja sangat tinggi seperti diberitakan


pada laman online menyebutkan bahwa angka kecelakaan kerja yang terjadi
lebih dari 150.000 kasus, angka kecelakaan kerja di ambil dari data klaim
yang diajukan pekerja sebagai peserta BPJS ketenagakerjaan, artinya angka
kecelakaan kerja yang sesungguhnya lebih besar karena tidak semua
tenaga kerja menjadi peserta BPJS Ketenagakerjaan.

Gambar 5.2 Ilustrasi kecelakaan kerja


Sumber: [Link] kecelakaan- kerja/

Sasaran utama K3LH untuk pencegahan kerugian dari kejadian


kecelakaan seperti, cacat, kematian, atau kerusakan lainya sebagai akibat
dari kecelakaan kerja. Kecelakaan kerja tidak terjadi secara tiba-tiba dan
kebetulan melainkan ada faktor penyebabnya, kecelakaan tersebut dapat
dicegah dengan mencari penyebabnya. Dengan mengetahui penyebab
kecelakaan maka kecelakaan kerja dapat di cegah.

Gambar 5.3 Simbol peringatan bahaya


Sumber : [Link] penjelasannya/

Kecelakaan kerja yaitu kejadian yang tidak diharapkan, tidak


disangka/diduga yang mengakibatkan kerugian kerugian material atau moril
bagi yang mengalaminya. Kerugian akibat terjadinya kecelakaan antara lain :

 Kerusakan dan kekacauan pada (alat bahan, mesindan


barang/benda yang dikerjakan serta lingkungan kerja)
 Kesedihan dan gangguan psikologi
 Cidera dan cacat
 Kematian

Jenis kecelakaan yang sering terjadi pada saat bekerja langsung antara
lain : Terkena sengatan arus listrik, Tersambar petir, Tertimpa benda jatuh,
Tertumbuk atau terkena benda, terpleset, terjatuh, terjepit oleh benda kerja,
gerakan yang melebihi kemampuan, pengaruh suhu tinggi, Kontak dengan
bahan-bahan berbahaya dan lain sebagainya.

Kecelakaan kerja biasanya terjadi karena dua faktor utama yaitu tindakan
pekerja yang ceroboh dan kondisi alat/tempat yang sudah rusak atau tidak
aman
1) Tindakan pekerja yang ceroboh (Unsafe acts)

Kondisi kecelakaan yang terjadi karena kesalahan dari manusia itu


sendiri, faktor tindakan kesalahan dari seorang pekerja antara lain :

 Kurangnya pengetahuan dan keterampilan


 Keletihan dan kelesuan
 Sikap dan tingkah laku yang tidak aman seperti tidak disiplin, bercanda
dan berkelakar berlebihan)

2) Kondisi tidak aman (Unsafe conditions)

Yaitu kecelakaan kerja yang dipengaruhi oleh peralatan dan tempat


kerja yang tidak aman, antara lain :

 Alat yang sudah rusak


 Lingkungan yang berbahaya
 Bahan, Mesin dan perlengkapan kerja
 Proses pekerjaan yang salah
 Sifat pekerjaan yang berat

Prosedur K3LH merupakan serangkain peraturan yang dibentuk oleh


suatu organisasi atau perusahaan untuk mengatur langkah-langkah kerja
pada proses kegiatan produksi atau aktifitas lainya guna menjamin
keselamatan dan kesehatan kerja serta lingkungan. Prosedur K3LH dalam
kegiatan sehari-hari dapat di contohkan pada saat kalian mengendarai
sepeda motor, prosedur yang dilakukan antara lain :

 Pemeriksaan kondisi mesin, sebelum menjalankan mesin pasti terlebih


dahulu menghidupkan mesin dengan dengan memeriksa dari
kemungkinan adanya kerusakan.
 Pemeriksaan peralatan isyarat, yaitu pemeriksaan pada lampu tanda
belok, lampu depan, lampu belakang, isayarat bunyi (klakson) dan lain
sebagainya.
 Pemerikasaan sistem rem dan kaca spion.
 Persiapan alat-alat keselamatan berkendara seperti helm, sepatu
sarung tangan, masker, surat-surat pendukung seperti Surat Ijin
Mengemudi (SIM) dan Surat Tanda Nomor Kendaraan (STNK).
 Patuhi rambu-rambu lalu lintas pada saat berkendara seperti lampu
lalu lintas (Traffic Light), marka jalan dan lain sebagainya

Dengan adanya prosedur tersebut maka kalian akan selamat sampai


tujuan.

Gambar 5.4 Prosedur K3LH mengendarai sepeda motor Sumber :


[Link] PX8IThWZDLw/VOrIoUidRrI/AAAAAAAAGYE/O7HzsfFLYic/
s1600/[Link]

Prosedur K3LH pada penggunaan mesin gerinda tangan, sebelum


melakukan pekerjaan kalian harus mengenal dahulu tentang mesin gerinda
tangan, karena mesin gerinda tangan di pasaran terdapat banyak jenisnya
contoh tombol untuk menghidupkan mesin letaknya kadang berbeda-
bedacdan fungsi mesin gerinda tangan juga digunakan untuk mengikis
benda karja atau memotong benda kerja. Berikut contoh prosedur K3LH
untuk mesin gerinda tangan :

 Sebelum memasang piringan batu gerinda periksalah dari


kemungkinan terdapat keretakan.
 Pemasangan batu gerinda harus lurus dan center pada porosnya dan
flens.
 Penguncian batu gerinda di kencangkan secara merata tanpa adanta
hentakan menggunakan kunci khusus.
 Dalam melakukan pengerindaan mesin harus dilengkapi tutup
pelindung pada bagian yang berputar.
 Dalam melakukan pekerjaan harus menggunakan alat keselamatan
kerja seperti sepatu, pakaian kerja dan kacamata.
 Lakukanlah penggerindaan dengan berlahan-lahan serta posisi
tangan tepat pada batang pemegang yang disediakan.
 Bersihkan alat dan tempat kerja setelah di gunakan.
 Apabila dalam pengoperasian mesin belum ahli maka lakukan
penyesuain terlebih dahulu terhadap getaran yang di timbulkan oleh
mesin gerinda tersebut.

B. Alat Pelindung Diri (APD)

Alat Pelindung Diri (APD) yaitu suatu alat atau komponen alat yang
digunakan untuk memberikan perlindungan ekstra pada seseorang yang
melakukan kegiatan dari risiko kecelakaan yang lebih besar. APD dalam
keselamatan kerja wajib diterapkan bagi siapa saja yang melakukan kegiatan
guna menjamin keamanan dari risiko kecelakaan yang mungkin terjadi.

Penggunaan APD disesuaikan dengan kebutuhan dan tingkat bahaya


serta risiko yang ada saat melakukan kegiatan oleh pekerja dan orang yang
ada di lingkungan kerja, sehingga proses kerja dapat berlangsung dengan
aman dan nyaman oleh semua orang dan lingkunganya.

Dalam penggunaan APD yang kurang tepat juga dapat mengakibatkan


risiko kecelakaan, sebagai contoh seorang pekerja mengoperasikan mesin
bor dengan menggunakan sarung tangan dari bahan yang dapat terlilit
putaran mesin bor tersebut, dengan kata lain penggunaan APD yang kurang
tepat justru dapat menimbulkan risiko kecelakaan.
Gambar 5.5 Alat safety/APD

Pada pelaksanaanya penggunaan APD di lambangkan dengan rambu-


rambu pada area atau lingkungan yang wajib memakai peralatan APD
tersebut. Beberapa simbol rambu- rambu penggunaan APD seperti gambar
di bawah ini.
Gambar 5.6 Simbol penggunaan APD Sumber :
[Link]
7/01/16/[Link]

C. BAHAYA DI TEMPAT KERJA

Potensi Bahaya merupakan segala hal yang dapat memungkinkan


terjadinya suatu insiden/kejadian sehingga mengakibatkan pada kerugian.
Kegiatan dalam melaksanakan keselamatan dan kesehatan kerja yaitu untuk
mencegah kecelakaan yang terjadi pada pekerja dengan mencari penyebab
dan dampak yang di timbulkan.

Gambar 5.8 Peringatan Kecelakaan Kerja


Sumber : [Link]

Dalam melakukan pekerjaan kita tidak mungkin mengetahui semua


potensi bahaya. Terkadang kecelakaan kerja terjadi akibat dari hal-hal yang
kecil, contoh pada saat melekukan pekerjaan yang menggunakan tangga,
ternyata tangga tersebut tidak stabil maka kita akan berpikir ulang untuk
menaiki tangga tersebut karena mengingat resiko yang terjadi, namun dalam
bengkel otomotif sering sekali dalam mengerjakan sesuatu kita meletakan
alat atau komponen di lantai yang mengkibatkan kemungkinan orang yang
menginjek dapat terpleset dan jatuh. Risiko yang terjadi bisa tinggi dan bisa
rendah tergantung tingkat bahaya yang ada. Pada kasus terpleset kunci
dilantai resiko cideranya tergantung anggota tubuh mana yang jatuh
kelantai? Atau bahkan terpleset menabrak mesin yang bergerak?

Potensi bahaya keselamatan dan kesehatan kerja didasarkan pada dampak


korban dapat di bagi menjadi empat bagaian yaitu :

Kategori A Kategori B Kategori C Kategori D

 Bahaya kimia  Kebakaran  Air Minum  Pelecehan


 Bahaya biologi  Listrik  Toilet Kekerasan di
 Bahaya fisik  bahaya dan sanitasi tempat kerja
 Bahaya Mekanikal  Ruang  Terinfeksi
ergonomis  House makan atau HIV/AIDS
 bahaya keeping Kantin  Narkoba di
lingkungan  P3K di tempat kerja
tempat kerja
 Transportasi

Potensi bahaya dapat menimbulkan risiko dampak langsung pada


kategori A antara lain :

1. Potensi bahaya kerja kategori A


a. Bahaya faktor kimia

Bahan kimia yang berbahaya antara lain : debu, uap gas, zat kimia
(antiseptik, aerosol, insektisida), bahan radioaktif, limbah, dan lain-lain.
Bahan kimia ini masuk ke organ tubuh yang biasanya melalui 3 cara yaitu :

 Menghirup
Pada saat bernafas udara yang mengandung debu, asap, gas atau
uap dapat masuk ke tubuh.
 Menelan

Makanan yang terkontaminasi atau makan dengan tangan yang


terkontaminasidapat menyebabkan masuknya bahan berbahaya kedalam
tubuh.

Gambar 5.9 Bahaya bahan kimia


Sumber : [Link] bahan-kimia- [Link]

 Kontak invasif atau penyerapan kulit


Zat berbahaya dapat masuk melalui pori-pori kulit atau melelui luka
dan lecet pada kulit.

b. Bahaya faktor biologi

Bahaya yang timbul dari mahluk hidup di tempat kerja yang dapat
menimbulkan gangguan kesehatan seperti : bakteri, jamur, virus, kuman,
hewan berbahaya (serangga, nyamuk, ular, kalajengking dll)

c. Bahaya faktor fisik

Bahaya yang berbentuk fisik di tempat kerja antara lain


penerangan,kebisingan, suhu, getaran, gelombang mikro, sinar ultra ungu
dan lain sebagainya.
Gambar 5.10 Bahaya faktor fisik
Sumber : [Link] untuk- setiap-industri/

 Kebisingan

Segala suara yang berlebihan terjadi secara terus menerus dapat


mengakibatkan rusaknya jaringan saraf pada pendengaran. Nilai ambang
batas suara yang dijinkan dalam bekerja sekitar 85 dB selama 8 jam sehari.

Gambar 5.11 Pemakaian alat penutup telinga Sumber :


[Link] Kebisingan-Ini-7-Elemen-Program-
Konservasi-Pendengaran- yang-Harus-Anda-Ketahui

 Penerangan

Penerangan yang terlalu kurang dapat menyebabkan kerusakan pada


jaringan penglihatan. Penerangan yang terlalu berlebihan dapat
mengakibatkan kesilauan dan dapat mengakibatkan kecelakaan kerja.

 Getaran

Getaran yang timbul dari alat/mesin dapat mengakibatkan nyeri


punggung dan nyeri otot pada pekerja, batasan getaran yang diijinkan

sekitar 4 m/detik2.
 Suhu (iklim kerja)
Pada saat bekerja suhu yang terlalu tinggi dan terlalu rendah dapat
menyebabkan ketidak nyamanan bagi perkeja, suhu nyaman untuk bekerja

antara 21 0C samapai 30 0C.

 Radiasi
Radiasi yang sering ditemui di tempat kerja antata lain gelombang
mikro pada gelombang radio, televisi, radar dan telephone. Sedangkan di
beberapa tempat kerja terdapat radiasi sinar ultra ungu seperti laslistrik,
lampu ultra violet dan lain sebagainya.

Gambar 5.12 Simbol bahaya radiasi


Sumber : [Link] kerja-radiasi/

d. Bahaya ergonomi

Bahaya yang disebabkan karena ketidak sesuaian desain lingkungan


kerja dan tempat kerja, Misalnya : duduk dengan bentuk kursi yang tidak
sesuai dengan tubuh dalam jangka waktu yang lama atau alat kerja tidak
sesuai dengan tubuh praktikan.

e. Bahaya psikologi

Bahaya yang dapat memberikan dampak mental pekerja seperti


kekerasan di tempat kerja, kelebihan beban kerja, kelelahan, tidak adanya
prosedur kerja, kurangnya motivasi dan lain sebagainya sehingga dapat
menimbulkan terjadinya stress.
Gambar 5.13 Ilustrasi stres Sumber : [Link]
cara-mudah-mengelola- stres-yang-bisa-dilakukan-sehari- hari-termasuk-bermain-di-alam-
terbuka

Tanggapan tubuh yang mendapat perlakuan berlebih memicu


timbulnya emosional yang tinggi seperti cemas, gelisah, gangguan
kepribadian, penyimpangan seksual dan lain sebagainya.

2. Potensi bahaya kategori B


Potensi bahaya kategori B meliputi :
a. Kebakaran
Kebakaran yang besar dapat melumpuhkan kegiatan kerja dan
menimbulkan kerugian pada jiwa, alat produsi dan pencemaran lingkungan
kerja. Untuk mencegah kebakaran dapat dilakukan upaya
1) Pengendalian sumber bahan yang mudah terbakar Pengendalian
sumber bahan yang mudah terbakar dengan membuatkan tempat
yang tertutup.
2) Pengadaan alat deteksi, alat pemadam dan sarana evakuasi.
3) Penyelenggaraan palatihan kebakaran secara rutin

b. Listrik

Kecelakaan diakibatkan sengatan listrik biasanya disebabkan oleh :

 Peralatan listrik instalasinya tidak aman


 Tempat kerja yang tidak aman
 Praktik kerja tidak aman
Dimana pekerja tidak menggunakan peralatan perlindungan diri yang
sesuai, seperti tidak menggunakan sepatu kerja sarung tangan dan lain
sebagainya.

c. Bahaya mekanikal

Bahaya mekanikal biasanya terjadi pada peralatan atau mesin yang berputar
tanpa adanya pelindungan pada bagian tersebut.

d. Bahaya house keeping

Yaitu bahaya yang timbul karena adanya perawatan yang buruk pada
peralatan atau mesin. Sehingga dapat menyebabkan kecelakaan kerja

3. Potensi bahaya kategori C


Fasilitas kesehatan kerja sering diabaikan karena tidak memiliki dampak
langsung pada pekerja, fasilitas yang dibutuhkan antara lain :
 Air minum
Syarat air minum yang baik antara lain : tidak berbau, tidak berwarna
dan tidak mengandung bakteri.
 Toilet dan fasilitas cuci tangan
Toilet merupakan kebutuhan mendasar dalam tempat kerja dengan
jumlah orang yang banyak, fasilitas toilet harus mudah dijangkau dan
menghindari berjalan jauh untuk menuju tempat tersebut. Toilet juga harus
dipisahkan antara toilet laki-laki dan perempuan dengan jumlah toilet
terhadap pekerja sebagai berikut :

Jumlah pekerja Kebutuhan toilet


1 – 15 1 kakus
16 – 30 2 kakus
31 – 45 3 kakus
46 – 60 4 kakus
61 – 80 5 kakus
81 – 100 6 kakus
 Kantin atau tempat makan
Kantin akan menunjang kenyamanan pekerja, sehingga semangat
kerja akan terbentuk dan produktifitas akan meningkat. Kantin harus terletak
jauh dari tempat kerja untuk menghindari terkontaminasi dari debu, kotoran,
dan zat berbahaya.
4. Potensi bahaya kategori D
Potensi bahaya kategori ini menyangkut risiko psikologis perkerja,
dimana pekerja harus merasa aman dan dihormati. Potensi bahay yang
mungkin terjadi antara lain adanya intimidasi, pelecehan dan penganiayaan.
Pelecehan dan kekerasan yang sering terjadi antara lain :
 Berteriak, mengejek dan mengolok-olok
 Mengancam
 Memukul dan mendorong
 Pelecehan seksual
Pelecahan seksual bukan hanya penyerangan dan pemerkosaan
namun beberapa pelecehan seksual ringan yang dianggap biasa dalam
berprilaku antara lain :
 Pelecehan fisik ( menyentuh, mencium, menepuk, dan mencubit dengan
cara seksual.
 Pelecehan verbal, ( komentar tentang bagian badan seseorang
dengan penghinaan dan merendahkan)
 Pelecehan tertulis atau grafik (menampilkan kontent pornografi baik
langsung maupun melalui pesan, email dan bentuk komunikasi lainya.
 Penyalah gunaan wewenang (meminta melakukan hubunganseksual
dengan imbalan upah, kenaikan jabatan kerja dan lain sebagainya.

D. PROSEDUR DALAM KEADAAN DARURAT


Prosedur dalam keadaan darurat merupakan tata cara atau pedoman
selama melakukan kegiatan kerja dalam menanggulangi suatu keadaan
berbahaya dengan maksud mencegah atau mengurangi kerugian yang lebih
besar.
Setiap instansi atau perusahaan dalam membuat prosedur keadaan
darurat memperhatikan beberapa aspek diantaranya :
1. Mengidentifikasi bahaya dan mengkategorikan jenis- jenis bahaya dari
kemungkinan terjadinya kecelakaan kerja.
2. Menyediakan dan mempersiapkan perlengkapan keadaan darurat,
mualia dari Standar Operasional Prosedur (SOP) pemakaian alat,
penyediaan Alat Pemadam Api Ringan (APAR), alarm kebakaran, alat
P3K, pembuatan jalur evakuasi dan assembly point.
3. Membuat tim tanggap darurat K3LH dari seluruh aspek golongan dari
karyawan.
4. Merencanakan dan membuat peraturan prosedur tanggap darurat
serta mensosialisasikan prosedur tersebut kepada seluruh karyawan.
5. Merencanakan dan mengadakan pelatihan keadaan darurat.

Kategori keadaan darurat dapat dikelompokan menjadi tiga bagian yaitu :


 Keadaan darurat kategori I
Yaitu keadan darurat yang berpotensi mengancam nyawa manusia
dan hilangnya aset akibat kecelakaan kerja. Kecelakaan pada kategori ini
merupakan kecelakaan skala kecil yang ditimbulkan oleh satu sumber atau
kerusakan korban dan benda hanya terbatas.
 Keadaan darurat Kategori II
Merupakan keadaan darurat yang di timbulkan karena kecelakaan
besar dimana semua petugas tim dengan peralatan pencegahan tidak
mampu mengendalikan keadaan tersebut, sehingga mengakibatkan banyak
korban dan harus meminta bantuan dari luar.
 Keadaan darurat Kategori III
Merupakan keadaan darurat yang ditimbulkan karena suatu hal yang sangat
besar seperti bencana yang dahsyat sehingga memerlukan bantuan dan
kordinasi pada tingkat nasional bahkan internasional.

E. BUDAYA KERJA SAFETY TALK


Budaya kerja safety talk adalah suatu kebiasaan yang direncanakan
dalam bentuk pertemuan yang dilakukan oleh pekerja/karyawan untuk
membicarakan tentang berbagai hal terkait pekerjaan yang dilakukan,
budaya ini biasanya dilakukan rutin setiap hari atau beberapa hari sekali
sebelum dan sedudah melakukan perkerjaan dengan durasi yang singkat
sekitar 5 sampai 10 menit.
Budaya kerja safety talk ada yang menyebut dengan toolbox meeting,
biasanya digunakan untuk mengingatkan karyawan mengenai pentingnya
keselamatan serta kesehatan kerja sehingga pengendalian bahaya dapat
dikenali. Walaupun safety talk dilakukan secara singkat hanya beberapa
menit namun hal ini dapat meningkatkan kedisiplinan terhadap peraturan
dan prosedur K3LH, sehingga potensi bahaya dapat di kendalikan.
Berikut langkah-langkah dalam melakukan safety talk yang sebaiknya
dilakukan.
1. Persiapan (Prepare)
Merupakan langkah sebelum penyampaian dengan cara memikirkan,
membaca, menulis, dan mempraktekan sebelum menyampaikan.
2. Penyampaian dengan tepat (pinpoint)
Yaitu dalam penyampaian menggunakan bahasa yang
sederhana mudah dimengerti dan fokus pada apa yang di bahas.

3. Penyampaian langsung (personalize)

Adalah langkah penyampaian secara langsung di hadapan personel


karyawan

4. Penggambaran (picturize)

Merupakan langkah penggambaran terhadap apa saja yang di sampaiakan.

5. Pemastian (prescribe)

Merupakan langkah yang dilakukan apabila sudah melakukan penyampaian


sudah tepat dan diterima dengan benar oleh pendengar.

F. BUDAYA KERJA 5R/5S


Setiap perusahaan tentunya mengharapkan memiliki lingkungan kerja
yang bersih, rapi, dan tiap individunya mempunyai konsistensi dan disiplin
diri yang baik, sehingga mampu menciptakan tingkat efisiensi dan
produktivitas yang diharapkan perusahaan. Akan tetapi pada kenyataannya,
kondisi yang diharapkan tersebut sulit terjadi di setiap perusahaan. Banyak
sekali perusahaan diluar sana mengeluh terhadap banyaknya waktu yang
terbuang hanya untuk mencari data dan atau sarana yang lupa
penempatannya. Hal tersebutlah yang terkadang membuat tempat kerja
berasa kurang nyaman.

Gambar 5.19 Budaya 5R

Beberapa permasalahan diatas merupakan sebagian kecil dari


banyaknya permasalahan yang ada di dunia kerja. Oleh karena hal tersebut,
perlu adanya budaya kerja dunia industri yang merupakan metode
sederhana untuk melakukan penataan dan pembersihan tempat kerja.
Budaya kerja sendiri merupakan adaptasi dari program 5S (Seiri, Seiton,
Seiso, Seiketsu dan Shitsuke) atau dalam bahasa kita dikenal dengan istilah
5R (Ringkas, Rapi, Resik, Rawat dan Rajin) yang merupakan metode yang
dikembangkan oleh jepang dan sudah banyak digunakan oleh Negara
diseluruh penjuru dunia. Hal tersebut terbukti meningkatkan efisiensi dan
megurangi permasalahan yang ada pada dunia industri.
1. Pengertian 5R/5S
5R/5S merupakan prosedur yang mengatur bagaimana seorang individu
memperlakukan tempat kerjanya secara baik. Apabila tempat kerja rapi,
bersih dan enak dipandang, bekerja baik individu maupun kelompok dapat
tercipta lebih mudah. Dengan kata lain, sasaran pokok industri lebih mudah
dicapai yaitu efisiensi, produktivitas, kualitas dan keselamatan kerja.
Gambar 5.20 Pengertian 5R/5S
Sumber : [Link] [Link]

5S/5R juga mempunyai nama yang berbeda-beda seperti 5P atau 5 K,


namun intinya adalah sama.

Gambar 5.21 nama lain 5R/5S


Sumber : [Link] 5s-seiri-seiton- [Link]

2. Tujuan 5R/5S
a. Menjamin proses kerja berjalan lancar
b. Menjamin agar tiap sumber produksi dapat dipakai secara umum &
efisien
c. Mewujudkan perusahaan bercitra positif di mata pelanggan/customer
d. Melatih manusia pekerja yang mampu mandiri mengelola
pekerjaannya
e. Mewujudkan tempat kerja yang nyaman dan pekerjaan
yang menyenangkan
3. Masalah akibat tidak adanya 5R
a. Adanya pemborosan waktu karena alat-alat rusak akibat dari kurang
pemeliharaan
b. Adanya pemborosan waktu akibat sulit mencari barang dan tidak siap
memakai peralatan kerja
c. Sering terjadi cacat/kesalahan pada hasil kerja

Gambar 5.22 Kekacauan di pabrik


Sumber : [Link]

4. Penerapan 5R/5S

a. Ringkas/seiri
Merupakan prinsip yang menjelaskan bahwa ringkas adalah
mengetahui barang mana yang seharusnya disimpan dan yang sudah
tidak memiliki manfaat. Pada intinya, ringkas adalah membuang yang
tidak perlu dan menyimpan yang diperlukan.
b. Rapi/seiton
Merupakan prinsip yang menjelaskan bahwa rapi adalah menyimpan
barang sesuai dengan tempatnya. Kerapian adalah konsistensi saat
kita meletakkan dan mengambilnya kembali pada saat diperlukan
dengan cepat dan mudah. Perusahaan perlu membuat SOP
peletakkan barang-barang demi terciptanya efisiensi waktu dalam
bekerja.
Gambar 5.23 Ilustrasi rapi
Sumber : [Link] fact/bayu/10-kumpulan- foto-benda-yang-
ditata-rapi-ini- akan-menginspirasimu-beberes-1

c. Resik/seiso
Merupakan prinsip yang menjelaskan bahwa resik/bersih harus
menjadi kebiasaan dan dilaksanakan oleh setiap orang/ mulai dari
bawahan hingga atasan tanpa terkecuali.

Gambar 5.24 Ilustrasi bersih


Sumber : [Link] jelang-lebaran- 1124008

d. Rawat/seiketsu
Merupakan prinsip yang menjelaskan bahwa rawat adalah menjaga
eksistensi hasil yang telah diwujudkan pada 4R sebelumnya dengan
membuat standarisasi atau membakukannya.
e. Rajin/shitsuke
Merupakan prinsip yang menjelaskan bahwa rajin adalah kebiasaan
baik yang harus dibudayakan ditempat kerja. Rajin diupayakan
menjadi kebiasaan mulai dari masing-masing individu untuk menjaga
& meningkatkan eksistensi yang telah tercapai di tempat kerja.

5. Sasaran 5R/5S
Kebiasaan secara fisik seperti resik, rapi dan ringkas mewujudkan
terciptanya kebiasaan mental meliputi rajin dan rawat. Maka dari itu
terciptalah 5R di lingkungan kerja.
Bila 5R dijadikan budaya, maka akan tercipta kemudahan dalam
bekerja. Setiap kemudahan yang tercipta menjadi syarat tumbuhnya
efisiensi, produktivitas, kualitas dan keselamatan. Penerapan 5R di ruang
praktik harus memperhatikan hal berikut :
a. Partisipasi semua individu dalam tempat kerja
b. Adanya komitmen dalam manajemen
c. Menjadi kesadaran setiap individu
d. Konsistensi penerapan 5R
e. Sejalan dan seimbang dengan program kualitas lainnya.
RANGKUMAN
Keselamatan dan kesehatan kerja serta lingkungan hidup dapat di
artikan sebagai keselamatan dan kesehatan kerja menyangkut berbagai
unsur yang terlibat dalam kegiatan aktifitas kerja seperti orang yang
melakukan kegiatan kerja, benda, alat dan barang yang dikerjakan, mesin
yang digunakan serta lingkungan hidup (manusia tumbuhan hewan dan
lainya).
Alat Pelindung Diri (APD) yaitu suatu alat atau komponen alat yang
digunakan untuk memberikan perlindungan ekstra pada seseorang yang
melakukan kegiatan dari risiko kecelakaan yang lebih besar. APD dalam
keselamatan kerja wajib diterapkan bagi siapa saja yang melakukan kegiatan
guna menjamin keamanan dari risiko kecelakaan yang mungkin terjadi.
Penggunaan APD disesuaikan dengan kebutuhan dan tingkat bahaya serta
risiko yang ada saat melakukan kegiatan oleh pekerja dan orang yang ada di
lingkungan kerja, sehingga proses kerja dapat berlangsung dengan aman
dan nyaman oleh semua orang dan lingkunganya.
Potensi Bahaya merupakan segala hal yang dapat memungkinkan
terjadinya suatu insiden/kejadian sehingga mengakibatkan pada kerugian.
Kegiatan dalam melaksanakan keselamatan dan kesehatan kerja yaitu untuk
mencegah kecelakaan yang terjadi pada pekerja dengan mencari penyebab
dan dampak yang di timbulkan.
Prosedur dalam keadaan darurat merupakan tata cara atau pedoman
selama melakukan kegiatan kerja dalam menanggulangi suatu keadaan
berbahaya dengan maksud mencegah atau mengurangi kerugian yang lebih
besar.
Budaya kerja safety talk adalah suatu kebiasaan yang direncanakan
dalam bentuk pertemuan yang dilakukan oleh pekerja/karyawan untuk
membicarakan tentang berbagai hal terkait pekerjaan yang dilakukan,
budaya ini biasanya dilakukan rutin setiap hari atau beberapa hari sekali
sebelum dan sedudah melakukan perkerjaan dengan durasi yang singkat
sekitar 5 sampai 10 menit.
5R/5S merupakan prosedur yang mengatur bagaimana seorang
individu memperlakukan tempat kerjanya secara baik. Apabila tempat kerja
rapi, bersih dan enak dipandang, bekerja baik individu maupun kelompok
dapat tercipta lebih mudah. Dengan kata lain, sasaran pokok industri lebih
mudah dicapai yaitu efisiensi, produktivitas, kualitas dan keselamatan kerja.

SOAL LATIHAN PERTEMUAN 1


Essay:
1. Identifikasikan alat pelindung diri?
2. Jelaskan macam APD yang sering digunakan di bengkel otomotif?
LEMBAR AKTIVITAS PRAKTIK 1 (LKPD)
Instruksi:

Kerjakan secara berkelompok yang terdiri dari 4 orang

Masing-masing anggota kelompok mencari jenis APD beserta fungsinya!

Nama Kelompok : ...............................................

Anggota Kelompok : 1. .................................... 3. ....................................

2. .................................... 4. ....................................

Kelas : ...............

No. Nama APD Fungsinya


1.

2.

3.

4.

a. Tuliskan Contoh kecelakaan kerja di bengkel otomotif (2 contoh)


b. Jelaskan Sebab kecelakaan kerja (sumber manusia dan lingkungan) !
RUBRIK ASESMEN PRESENTASI HASIL AKTIVITAS PRAKTIK 1 (LKPD)

ASPEK Belum Kompe Cukup Kompet Kompeten (8-9) Sangat


ten en Kompeten
(0-6) (6-7)
(10)
Proses Peserta didik Peserta didik Peserta didik Peserta didik
tidak
penyusunan terlibat terlibat dalam terlibat dalam Terlibat dalam
dalam
jawaban dari jawaban penyusunan penyusunan penyusunan
jenis APD APD dari jawaban dari jawaban dari jawaban dari
jenis
jenis APD namun jenis APD secara jenis APD secara
kurang aktif aktif tetapi aktif dan terbuka
menutup diri untuk diskusi
untuk diskusi

Prose present Peserta didik tidak Peserta didik Peserta didik Peserta
asi
s hasil mampu mampu mampu didik
mempresentasikan mempresentasik mempresentasik mampu
hasil an hasil an hasil mempresentasi
kan hasil
penyusunan penyusunan penyusunan
jawaban dari jenis jawaban dari jawaban dari penyusunan
APD jenis APD jenis APD jawaban dari
namun dengan dengan sikap jenis APD
sikap yang yang baik dengan sikap
kurang baik namun yang baik
tidak dan
mampu mampu
berdiskusi berdiskusi
Hasil Peserta didik tidak Peserta didik Peserta didik Peserta
penyusunan menyusun jawaban kurang mampu mampu didik
jawaban dari dari jenis APD mengidentifikasi mengidentifikasi mampu
jenis APD permasalahan permasalahan mengidentifikasi
dan tetapi tidak permasalahan
kurang mampu dan
menyusun menyusun
mampu jawaban jawaban jawaban dari
dari jenis APD dari jenis jenis
dengan baik APD APD
dengan baik dengan baik
atau
sebaliknya
INSTRUMEN PENILAIAN: PROSES DAN PRODUK
Keterangan :
 Siswa yang belum kompeten maka harus mengikuti pembelajaran remediasi.
 Siswa yang cukup kompeten diperbolehkan untuk memperbaiki pekerjaannya
sehingga mencapai level kompeten

RUBRIK ASESMEN PRESENTASI HASIL AKTIVITAS PRAKTIK 2 INSTRUMEN


PENILAIAN: PROSES DAN PRODUK
ASPEK Belum Kompeten Cukup Kompeten Kompeten (8-9) Sangat Kompeten
(0-6) (6-7)
(10)

Proses Peserta didik tidak Peserta didik Peserta didik Peserta didik terlibat
penyusunan terlibat dalam terlibat dalam terlibat dalam dalam penyusunan
jawaban dari jawaban dari jenis penyusunan penyusunan jawaban dari jenis
jenis alat alat prosedur jawaban dari jenis jawaban dari jenis alat prosedur darurat
prosedur darurat alat prosedur alat prosedur secara aktif dan
darurat darurat secara aktif terbuka untuk diskusi
darurat namun tetapi menutup diri
kurang aktif untuk diskusi

Proses Peserta didik tidak


Peserta didik Peserta didik Peserta didik
presentasi
mampu mampu mampu mampu
hasil
mempresentasikan mempresentasikan mempresentasikan mempresentasikan
hasil hasil hasil hasil

penyusunan penyusunan penyusunan penyusunan jawaban


jawaban dari jenis jawaban dari jenis jawaban dari jenis dari jenis alat
alat prosedur alat prosedur alat prosedur prosedur
darurat darurat darurat darurat
namun dengan dengan sikap yang dengan sikap yang
sikap yang kurang baik namun tidak baik dan mampu
baik mampu berdiskusi
berdiskusi
Hasil Peserta didik tidak Peserta didik Peserta didik Peserta didik
penyusunan menyusun jawaban kurang mampu mampu mampu
jawaban dari dari jenis alat mengidentifikasi mengidentifikasi mengidentifikasi
jenis alat prosedur darurat permasalahan permasalahan permasalahan
prosedur dan
darurat dan kurang tetapi tidak menyusun

mampu jawaban mampu jawaban dari jenis


dari jenis alat menyusun jawaban alat prosedur darurat
prosedur dari jenis alat dengan baik
prosedur darurat
darurat dengan baik
dengan baik atau sebaliknya
Keterangan :
Siswa yang belum kompeten maka harus mengikuti pembelajaran remediasi.
Siswa yang cukup kompeten diperbolehkan untuk memperbaiki pekerjaannya
sehingga mencapai level kompeten

B. Asesmen Kognitif

Identifikasi Pertanyaan Kemungki Skor Rencana Tindak Lanjut


materi yang nan (Kategori
akan Jawaban )
diujikan
Peserta Jelaskan APD Helm, Paham Pembelajaran dapat dilanjutkan ke
apa saja yang sarung
utuh unit berikutnya.
didik mampu digunakan di tangan,
Paham Mengamati dan memberikan
membedakan bengkel wearpack
sebagian pertanyaan pada saat presentasi.
jenis kendaraan ringan sepatu
Jika peserta didik tidak mampu
– jenis APD dan safety
menjawab makaguru
cara
memberikan
penggunaannya
pembelajaran
Remedial

Tidak Mengamati dan memberikan


paham pertanyaan pada saat presentasi.
Jika peserta didik tidak mampu
menjawab makaguru
memberikan
pembelajaran
Remedial

Jelaskan APD Wearpack, Paham Pembelajaran dapat dilanjutkan ke


apa saja yang sepatu utuh unit berikutnya.
digunakan di safety,
Paham Mengamati dan memberikan
bengkel sepeda sarung
sebagian pertanyaan pada saat presentasi.
motor tangan
Jika peserta didik tidak mampu
menjawab makaguru
memberikan
pembelajaran

Remedial
Tidak Mengamati dan memberikan
paham pertanyaan pada saat presentasi.
Jika peserta didik tidak mampu
menjawab makaguru
memberikan
pembelajaran

Remedial

PEMBELAJARAN REMIDIASI
Siswa melakukan:
 Penggunaan APD lengkap
 Prosedur keadaan darurat

REFLEKSI

Setelah membaca materi tentang kesehatan dan keselamatan kerja, silahkan


kalian tuliskan kesan terhadap materi yang telah dipelajari kemudian carilah materi
yang sekiranya kurang kalian pahami melalui media online.

Mengetahui, Sekayu, Juli 2025


Kepala Sekolah, Guru Mata Pelajaran

Davis, S. Pd., [Link] Winda Santika, S. Pd.


NIP. NIP. 199012282023212037

Anda mungkin juga menyukai